Anda di halaman 1dari 14

LAPORAN PENDAHULUAN PERDARAHAN DILUAR HAID (ULKUS PADA PORTIO UTERI)

1.1 Pengertian Ulkus pada portio uteri merupakan perdarahan yang terjadi diluar haid dengan penyebab kelainan hormonal atau kelainan organ genitalia. Perdarahan terjadi dalam masa antara 2 haid. Perdarahan ini tampak terpisah dan dapat dibedakan dari haid, atau 2 jenis pendarahan ini menjadi sebab-sebab organik. Perdarahan dari uterus, tuba dan ovarium disebabkan oleh kelainan pada : a) serviks uteri, seperti polipus servisis uteri, erosi porsionis uteri, ulkus pada porsio uteri, karsinoma sevisis uteri. 1.2 Patologi Schroder pada tahun 1915, setelah penelitian histopatologik pada uterus dan ovarium pada waktu yang sama, menarik kesimpulan bahwa gangguan perdarahan yang dinamakan metropatia hemoragika terjadi karena persistensi folikel yang tidak pecah sehingga tidak terjadi ovulasi dan pembentukan korpus liteum. Akibatnya terjadilah hyperplasia endometrium karena stimulasi estrogen yang berlebihan dan terus menerus. Penjelasan ini masih dapat diterima untuk sebagian besar kasus-kasus perdarahan disfungsional. Pembagian endometrium dalam endometrium jenis non sekresi penting artinya, karena dengan demikian dapat dibedakan perdarahan yang anovulatoar dari yang uvoltoar, klasifikasi ini mempunyai nilai-nilai klinik karena kedua jenis perdarahan disfungsional ini mempunyai dasar etiologi yang berlainan dan memerlukan penanganan yang berbeda. Pada perdarahan disfungsional yang ovulatoar, gangguan dianggap berasal dari faktor-faktor neuromuscular, vasomotorik, atau hematoogik, yang mekanismenya belum seberapa di mengerti, sedangkan perdarahan anovulatoar biasanya dianggap bersumber pada gangguan endokrin.(Sarwono,2005) Gambaran klinik Perdarahan ovulatoar Perdarahan ini merupakan kurang lebih 10% dari perdarahan disfungsional dengan siklus pendek (polimenorea) atau panjang (oligomenorea), perdarahan ovulatoar perlu dilakukan kerokan pada masa mendekati haid. Jika karena perdarahan yang lama dan tidak teratur siklus haid tidak dikenali lagi. Perdarahan berasal dari endometrium tipe sekresi tanpa adanya sebab organik, maka harus dipikirkan sebagai etiologinya : 1. Korpus luteum persistens; dalam hal ini dijumpai perdarahan kadang-kadang bersamaan dengan ovarium membesar. Sindrom ini harus dibedakan dari kehamilan ektopik. 2. Insifisiensi korpus luteum dapat menyebabkan premenstrual spooting, menoragia atau polimenorea 3. Apopleksia uteri; pada wanita dengan hipertensi dapat terjadi pecahnya pembuluh darah dalam uterus.

4. Kelainan darah; seperti anemia, purpura trombositopenik, dan gangguan dalam mekanisme pembekuan darah. Perdarahan anovulatoar Stimulasi dengan estrogen menyebabkan tumbuhnya endometrium. Dengan menurunnya kadar estrogen di bawah tingkat tertentu, timbul perdarahan yang kadang-kadang bersifat siklis, kadang-kadang tidak teratur sama sekali. Fluktuasi kadar estrogen ada sangkut pautnya dengan jumlah folikel yang pada suatu waktu fungsional aktif. Gangguan lain yang ada hubungannya dengan haid : a. Premenstrual tension (Ketegangan prahaid) Keluhan pre menstruasi terjadi sekitar beberapa hari sebelum bahkan sampai saat menstruasi berlangsung. Gejala ini dijumpai pada wanita sekitar umur 30 sampai 45 tahun. Penyebab yang jelas tidak diketahui tetapi terdapat dugaan bahwa ketidak seimbangan antara estrogen dan progesteron. Dikemukakan bahwa dominasi "estrogen" merupakan penyebab dengan defisiensi fase luteal dan kekurangan produksi progesteron. Akibat dominasi estrogen terjadi retensi air dan garam, dan oedema pada beberapa tempat.

Gejala kliniknya dalam bentuk : Gangguan emosional- mudah tersinggung Sukar tidur, gelisah, sakit kepala Perut kembung, mual sampai muntah Payudara terasa tegang dan sakit Pada kasus yang lebih berat sering merasa tertekan

Diagnosis Perlu ditanyakan bagaimana mulainya perdarahan, apakah didahului oleh siklus yang pendek atau oleh oligomenorea/amenorea, sifat perdarahan (banyak atau sedikit-sedikit, sakit atau tidak), lama perdarahan dan sebagainya. Kecurigaan terhadap salah satu penyakit tersebut hendaknya menjadi dorongan untuk melakukan pemeriksaan dengan teliti kearah penyakit yang bersangkutan. Diagnosis Banding Ca Serviks.

Penanganan Pengeluaran darah pada perdarahan disfungsional sangat banyak, dalam hal ini penderita harus istirahat baring dan diberi transfuse darah. Setelah pemeriksaan ginekologik menunjukan bahwa perdarahan berasal dari uterus dan tidak ada abortus incomplete, perdarahan untuk sementara waktu dapat dipengaruhi dengan hormon steroid. Dapat diberikan : a. Estrogen dalam dosis tinggi, supaya kadarnya dalam darah meningkat dan perdarahan berhenti. Dapat diberikan secara intramuskulus dipriopionas estradiol 2,5 mg, atau benzoas estradiol1,5 mg, atau valeras estradiol 20 mg. keberatan terapi ini adalah bahwa setelah suntikan dihentikan, perdarahan timbul lagi. b. Progesteron: pertimbangan disini adalah bahwa sebagian besar perdarahan fungsional bersifat anovulatoar, sehingga pemberian progesterone mengimbangan pengaruh estrogen terhadap endometrium. Dapat diberikan kaproas hidrokksi-progesteron 125 mg, secara intramuscular, atau dapat diberikan per os sehari norethondrone 15 mg atau asetas medroksiprogesteron (Provera) 10 mg, yang dapat diulangi. Terapi ini berguna pada wanita dalam masa pubertas. Dalam menghadapimasalah ulkus portio, Bidan sebaiknya berkonsultasi ke puskesmas, Dokter ahli, atau Rumah Sakit untuk mendapatkan penanganan yang lebih sempurna. Kepada wanita diberikan KIE untuk siap melakukan pemeriksaan lebih lanjut.

LANDASAN ASKEB VARNEY Proses menejemen kebidanan menurut varney terdiri dari 7 langkah yang harus di laksanakan secara berurutan dan secara periodic perlu berulang-ulang sesuai dengan permasalahan pada mioma uteri. Penerapan 7 langkah varney yang memberikan asuhan kebidanan pada klien dengan ulkus pada portio. I. Pengumpulan Data Mengumpulkan data subyektif dan data obyektif berupa data focus yang di butuhkan untuk menilai keadaan ibu sesuai kondisinya menggunakan anamnesa, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan laboratorium. Jenis data yang dikumpulkan : A.Data Subyektif
1)

Biodata ibu dan suami a) Nama ibu Untuk mengetahui siapa yang akan kita beri asuhan dan lebih mudah untuk berkomunikasi. b) Nama suami Untuk mengetahui siapa penanggung jawab saat pemberian asuhan c) Umur ibu Untuk mengetahui faktor resiko yang menyebabkan terjadinya perdarahan di luar haid karena ulkus pada portio.

d)

Agama ibu dan suami Untuk mengetahui apakah ada kepercayaan dalam agamanya sehubungan dengan perdarahan di luar haid karena ulkus pada portio.

e)

Suku bangsa ibu Untuk mengetahui dari mana asal ibu berkaitan dengan bahasa yang digunakan untuk berkomunikasi dan kebiasaan-kebiasaan yang dianut

f)

Pendidikan ibu dan suami Untuk mengetahui tingkat pengetahuaan ibu dan suami sehingga memudahkan dalam pemberiaan informasi dan konseling. g) Pekerjaan ibu dan suami Untuk mengetahui tingkat aktivitas yang dilakukan oleh ibu dan suami dan pengaruhnya terhadap ekonomi keluarga sehingga memudahkan dalam penanganan perdarahan di luar haid karena ulkus pada portio yang sesuai dengan keadaan ekonomi keluarga ibu. h) Alamat ibu dan suami Untuk mengetahui tempat tinggal ibu dan suami serta lingkungan disekitar tempat tinggal ibu. i) No tlp/hp ibu dan suami Untuk memudahkan berkomunikasi sewaktu-waktu bila ada masalah. j) Golongan darah Untuk mengantisipasi bila sewaktu-waktu terjadi sesuatu masalah yang memerlukan donor. 2) Alasan datang Untuk mengetahui keluhan yang dirasakan ibu yang dapat menunjang diagnosa perdarahan diluar haid karena ulkus pada portio. Pasien dengan ulkus pada portio pada umumnya datang pada stadium lanjut, dimana didapatkan keluhan seperti keputihan disertai darah, keputihan yang berbau, perdarahan berkelanjutan, dan disertai metastase dimana stadium pengobatan ini tidak memuaskan. 3) Riwayat menstruasi Untuk mengetahui kapan pasien menarche, apakah siklus menstruasi ibu teratur atau tidak, mengetahui lama haid dan banyaknya pengeluaran darah saat haid, serta apakah ibu pernah mengalami dismenorhea atau tidak.

4) Riwayat perkawinan Untuk mengetahui berapa kali ibu menikah, lama perkawinan, umur ibu saat menikah serta apakah ibu sudah mempunyai anak atau belum.
5) Riwayat obstetri terdahulu

Untuk mengetahui jumlah anak yang dimiliki, umur kehamilan saat lahir, apakah ada penyulit saat hamil, tempat bersalin, penolong persalinan, berat badan bayi saat lahir jenis kelamin anak, jenis persalinan, apakah ada penyulit saat nifas, keadaan anak sekarang serta umur anak sekarang. 6) Riwayat KB Untuk mengetahui alat kontrasepsi apa saja yang pernah digunakan ibu sehingga dapat mengetahui apakah perdarahan diluar haid karena ulkus pada portio disebabkan oleh karena penggunaan alat kontrasepsi. Ulkus pada portio dapat terjadi pada pengguna IUD. 7) Riwayat ginekology Untuk mengetahui apakah ibu pernah atau sedang mengalami masalah dengan organ reproduksinya serta sejak kapan masalah dirasakan. Riwayat penyakit / kelainan gynecology serta pengobatannya dapat memberikan keterangan penting, terutama operasi yang pernah dialami. Apabila penderita pernah diperiksa oleh dokter lain tanyakan juga hasil-hasil pemeriksaan dan pendapat dokter itu. 8) Riwayat penyakit ibu Untuk mengetahui penyakit-penyakit yang pernah diderita ibu, apakah ibu mempunyai riwayat penyakit tertentu terutama yang berhubungan dengan alat reproduksi seperti infeksi, keputihan berbau dan gatal. Dalam hal ini perlu ditanyakan apakah penderita pernah menderita penyakit berat, penyakit TBC, penyakit jantung, penyakit ginjal, penyakit darah, DM, dan penyakit jiwa. 9) Riwayat penyakit keluarga

Riwayat penyakit keluarga perlu diketahui apakah pernah menderita tumor alat kandungan/tidak ataupun tumor di luar alat kandungan.

10) Riwayat bio-psiko-sosial-spiritual a) Biologis (1) Bernafas Untuk mengetahui apakah ibu ada keluhan saat bernafas atau tidak. (2) Pola nutrisi Untuk mengetahui status gizi ibu dan riwayat nutrisinya, pola nutrisi, jenis dan porsi makan ibu. (3) Eliminasi Untuk mengetahui apakah ada keluhan atau masalah dengan pola BAK maupun BAB. (4) Istirahat dan tidur Untuk mengetahui adakah gangguan pada pola tidur dan istirahat akibat keluhan yang dialami. (5) Aktifitas sehari-hari Untuk mengetahui aktifitas ibu sehari-hari, apakah ada keluhan saat beraktivitas. (6) Personal hygiene Untuk mengetahui bagaimana personal hygiene ibu apakah sudah menerapkan hygiene yang benar atau belum. Seperti selalu mengganti celana dalam setiap harinya dan tidak membiarkan pemakaian celana dalam yang lembab dikarenakan dapat mengundang kuman pathogen. Oleh karena itu kebersihan alat kelamin harus dijaga.

b) Psikologi Untuk mengkaji psikologis klien sehubungan dengan keluhan yang dirasakan. c) Sosial Untuk mengetahui interaksi ibu dengan masyarakat dilingkungan yang dirasakan pandangan masyarakat terhadap kondisi ibu dan ada tidaknya kebiasaan yang merugikan kesehatan, serta mengetahui bagaimana pengambilan keputusan dalam keluarga. d) Spiritual Untuk mengetahui bagaimana kebiasaan ibu dalam mendekatkan diri kepada tuhan serta kepercayaan yang dianut yang berkaitan dengan kesehatan. 11) Pengetahuan Untuk mengkaji pengetahuan ibu tentang hal-hal yang berkaitan dengan keluhan yang dirasakan, penyebab ibu mengalami keluhan yang dirasakan, serta pengetahuan ibu tentang cara mengatasi keluhannya.

b. Data obyektif 1) Pemeriksaan umum a) Keadaan umum Untuk mengetahui keadaan umum ibu, sejauh mana keluhan yang dirasakan ibu, mempengaruhi kondisi kesehatan ibu secara umum. b) Berat badan dan tinggi badan Untuk mengetahui pertambahan BB ibu,dan mengetahui TB ibu. c) TTV

Untuk mengetahui keadaan tekanan darah, suhu, nadi, respirasi sehubungan dengan keluhan yang dirasakan ibu

2) Pemeriksaan sistematis dan ginekologi a) Kepala dan leher Kepala Muka Mata Mulut : Untuk mengetahui bagaimana kebersihan dan struktur rambut : Untuk mengamati pada muka apakah ada oedema / pucat : Untuk mengetahui bagaimana warna konjungtiva dan sklera : Untuk mengetahui bagaimana keadaan mulut apakah lembab/kering, kemerahan/pucat Leher : Untuk mengetahui apakah ada pembesaran kelenjar limfe, pembesaran kelenjar tiroid maupun pembesaran vena jugularis b) Payudara Pemeriksaan payudara mempunyai arti penting bagi penderita wanita terutama dalam hubungan dengan diagnostik kelainan endokrin c) Abdomen Untuk mengetahui apakah ada luka bekas operasi, apakah ada pembesaran perut abnormal. d) Anogenital
1. Inspeksi vulva Pengeluaran cairan atau darah dari liang senggama, ada

perlukaan pada vulva, adakah pertumbuhan kondiloma akuminata, kista bartholini, abses bartholini maupun fibroma pada labia, perhatikan bentuk dan warna, adakah kelainan pada rerineum dan anus. b) Palpasi vulva Teraba tumor, benjolan maupun pembengkakan pada kelenjar bartholini. 2.Pemeriksaan Inspekulo, terdiri dari : a) Pemeriksaan vagina Adakah ulkus, pembengkakan atau cairan dalam vagina; adakah benjolan pada vagina. b) Pemeriksaan porsio uteri Adakah perlukaan, apakah tertutup oleh cairan/ lendir,

apakah mudah berdarah dan terdapat kelainan. c) Pengambilan cairan berasal dari ulkus vagina dan porsio uteri Pemeriksaan bakteriologis, pemeriksaan jamur dan pemeriksaan sitologi. 3.Pemeriksaan Dalam Pemeriksaan dalam untuk menentukan : a) Rahim Bagaimana posisi rahim, besar, pergerakan, dan konsistensi rahim, apakah ada nyeri saat pemeriksaan. b) Adneksa (daerah kanan kiri rahim) Pemeriksaan ini dilakukan dengan menggerakkan jari yang berada didalam fornix lateral dan tangan yang ada diluar bergerak ke samping uterus. c) Forniks posterior (kavum douglas) Pemeriksaan ini untuk mengetahui apakah terdapat nanah (infeksi) dan apakah forniks menonjol akibat perdarahan kavum abdominalis.

e) Ekstremitas atas bawah Untuk mengetahui apakah ada oedema, sianosis, pada kaki dan tangan, serta keadaan kuku apakah kemerahan ataukah pucat.

3) Pemeriksaan penunjang a) Pemeriksaan Swab vagina Dapat dilakukan pemeriksaan cairan vagina untuk mengetahui penyebab dari perdarahan karena ulkus pada portio tersebut.

1. Interpretasi data dasar, masalah dan kebutuhan Untuk merumuskan diagnosa berdasarkan dari pengumpulan data yang diperoleh dari klien langsung atau dari keluarga, pemeriksaan fisik serta pemeriksaan penunjang. Selain itu bertujuan untuk menentukan masalah yang dihadapi klien serta segala sesuatu yang dibutuhkan klien tanpa klien sadari atau klien butuhkan. Di sini kita menentukan diagnosa aktual, masalah, dan kebutuhan.
a. Jika dari hasil pemeriksaan, perdarahan diluar haid karena ulkus pada portio belum dapat

ditentukan secara pasti :

Diagnosa actual : Wanita umur ..th dengan (ulkus portio) Masalah : cemas, keputihan, bercak-bercak darah yang belum diketahui asalnya, nyeri abdomen, perih pada vagina. Kebutuhan : istirahat, personal hygiene, nutrisi, dukungan psikologis, informasi tentang penyakit yang diderita

2.

Identifikasi diagnose dan masalah potensial Diagnosa potensial : dapat terjadi Ca serviks

3.

Identifikasi akan tindakan segera, konsultasi, kolaborasi dan rujukan Mengidentifikasi berdasarkan diagnosa apakah kondisi klien memerlukan tindakan segera, konsultasi, kolaborasi maupun rujukan. Tindakan segera yang diperlukan biasanya seperti pemberian infuse apabila ibu mengalami perdarahan yang berat guna mencegah ibu mengalami syok hipovolemik dan pemberian analgetik untuk mencegah terjadinya syok neurogenik. Selain itu konsultasi dan kolaborasi dengan dokter Sp.OG diperlukan guna membantu dalam pengambilan keputusan yang terbaik untuk ibu. Apabila kasus ditemukan BPS, Puskesmas, Pustu dan sarana pelayanan kesehatan lain yang tidak memiliki fasilitas yang memadai harus dilakukan rujukan ke fasilitas yang lebih memadai.

5. Perencanaan Untuk mengetahui apa saja yang harus direncanakan berdasarkan diagnosa masalah dan kebutuhan klien. Pada perdarahan diluar haid karena ulkus pada portio perencanaan yang bisa dibuat antara lain: a. Jelaskan tentang hasil pemeriksaan kepada ibu dan pendamping

Rasionalisasi : ibu dan suami harus tahu hasil dari pemeriksaan yang dilakukan karena hasil pemeriksaan meliputi keadaan ibu yang akan memberikan ketenangan dan rasa nyaman yang nantinya akan mempengaruhi psikologis ibu dan merupakan salah satu hak klien yang harus dipenuhi.
b.

Berikan pengobatan ulkus pada portio dengan menggunakan yodium saat

pemeriksaan speculum. Rasionalisasi : yodium dapat membantu meringankan infeksi dan rasa nyeri yang ibu rasakan pada vaginanya. c. Beri KIE tentang penyebab keluhan yang dialami dan kemungkinan tindakan

yang akan dilakukan untuk menangani keluhan. Rasionalisasi : Dengan KIE ibu dapat mengetahui penyebab keluhan yang dialami dan kemungkinan tindakan yang akan dilakukan guna menangani keluhan ibu sehingga ibu dan keluarga dapat mempersiapkan diri dan segala sesuatu yang mungkin diperlukan untuk membantu menangani keluhan ibu. d. Berikan dukungan moral/support mental kepada ibu dan libatkan pendamping.

Rasionalisasi : Diperlukan support mental untuk membantu ibu dalam menghadapi penyakit yang diderita serta diperlukan pula peran pendamping. e. Anjurkan dan motivasi ibu untuk menjaga personal hygiene khususnya hygiene

pada daerah genital Rasionalisasi : Infeksi dan jamur. Oleh karena itu kebersihan alat kelamin harus dijaga. f. Lakukan konsultasi dan kolaborasi dengan dokter Sp.OG

Rasionalisasi : Apabila kasus ditemukan bidan di rumah sakit tempat ia bertugas bidan perlu melakukan konsultasi dan kolaborasi dengan dokter Sp.OG untuk dapat mengambil keputusan yang benar-benar tepat bagi klien. g. Lakukan rujukan ke pelayanan kesehatan yang lebih memadai

Rasionalisasi : Apabila kasus ditemukan di BPS, Puskesmas maupun Puskesmas Pembantu penanganan lebih lanjut dari mioma uteri ini akan didapatkan di fasilitas yang lebih memadai seperti di rumah sakit.

7. Pelaksanaan

Untuk melaksanakan perumusan perencanaan yang telah dibuat mengacu pada diagnosa, masalah dan kebutuhan yang sesuai dengan kondisi klien saat diberikan asuhan.

8.

Evaluasi

Untuk mengetahui hasil dari asuhan yang telah diberikan kepada klien yang mengacu pada pemecahan masalah dan perbaiki kondisi ibu evaluasi disesuaikan dengan pelaksanaan yang dilaksanakan.

DAFTAR PUSTAKA Manuaba. 1998. Penyakit Kandungan dan Keluarga Berencana Untuk Pendidikan Bidan. Jakarta : EGC. Mochtar, Rustam. 1998. Sinopsis Obstetri. Jakarta : EGC. Saifudin, Abdul Bari. 2006. Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo. http://www.infobunda.com/pages/articles/artikelshow.php?id=144&catid=7 Sarwono.2006. Ilmu Kebidanan.Yayasan Bina Pustaka : Jakarta http://www.ASKEB KB PATOLOGI Yunitapuspitasaris Blog. wordpress.com