Anda di halaman 1dari 16

LAPORAN TUGAS OBSERVASI PELAPISAN DAN PENGECATAN DI BENGKEL AUTO 168

Disusun untuk melengkapi tugas akhir mata kuliah Pelapisan dan Pengecatan semester VII

Oleh : 1. 2. 3. 4. 5. Dwi Pramono Eko Riyanto Eko Wijayanto Ilham Fahrudin Agung Murdianto NIM K 2508052 NIM K 2508053 NIM K 2508054 NIM K 2508059 NIM K 25080

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN TEKNIK MESIN JURUSAN PENDIDIKAN TEKNIK DAN KEJURUAN FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA 2011

KATA PENGANTAR 1

Puji syukur marilah senantiasa kita haturkan atas kehadirat Allah SWT yang senantiasa memberikan kelapangan kepada kita. Sehingga kami dapat menyelesaikan laporan observasi Mata Kuliah Pelapisan dan Pengecatan yang diampu oleh Bapak Parno S.Pd, S.T, M.M. yang merupakan salah satu syarat kelulusan dari mata kuliah Pelapisan dan Pengecatan. Pelapisan dan Pengecatan merupakan mata kuliah yang secara umum berisi materi tentang komponen sistem dalam suatu kendaran otomotif. Dalam realitasnya mahasiswa dituntut tidak hanya sekedar tahu mengenai masalah pelapisan dan pengecatan saja tetapi juga sedikit banyak mampu mengaplikasikan ilmu yang didapatkan. Terlebih diera yang berbasis kompetensi ini tiap individu mahasiswa harus senantiasa mampu mengikuti perkembangan didunia keteknikan. Oleh sebab itu, dilaksanakanlah program observasi bengkel guna sebagai sarana mengembangkan kemampuan mahasiswa. Laporan ini adalah hasil observasi lapangan yang dilaksanakan di bengkel bodi repair ( perbaikan bodi ) AUTO 168 yang beralamatkan Jl. Ahmad Yani No 383 Kerten-Surakarta. Dan akhirnya dengan kerja keras dan bantuan dari berbagai pihak laporan ini terselesaikan, untuk itu ucapan terima kasih ini kami tujukan kepada : 1. Ketua Jurusan Pendidikan Teknik Kejuruan, Drs. Sutrisno, S.T, M.Pd. atas izin observasi lapangan yang kami laksanakan 2. Manager Bengkel Bodi Repair AUTO 168 3. Dosen pengampu mata kuliah Pelapisan dan Pengecatan, Parno, S.Pd, S.T, M.M. atas bimbingannya 4. Teman teman PTM angkatan 2008 yang kami banggakan. Demikian, semoga laporan ini dapat menjadi salah satu sumber pengetahuan yang bermanfaat bagi mahsiswa atau pembaca. Kritik dan saran ynag bersifat konstruktif kami harapkan demi perbaikan kedepan. Akhir kata kami ucapkan terima kasih. Surakarta, 30 Desember 2011 Penulis DAFTAR ISI 2

COVER..........................................................................................................1 KATA PENGANTAR...................................................................................2 DAFTAR ISI..................................................................................................3 BAB I. BAB II. PENDAHULUAN.......................................................................4 TINJAUAN PUSTAKA..............................................................7

BAB III. METODE PENELITIAN.............................................................9 BAB IV. PERBAIKAN BODY KENDARAAN........................................10 BAB V. KESIMPULAN............................................................................18 DAFTAR PUSTAKA....................................................................................19 LAMPIRAN-LAMPIRAN............................................................................20

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Observasi Kendaraan merupakan sebuah inovasi dari sebuah sarana transportasi dimana dengan adanya kendaraan tersebut berbagai macam kegiatan manusia dapat terselesaikan dengan lebih efisien. Ditinjau dari ragamnya, kendaraan sangat banyak jenisnya tergantung fungsi, kebutuhan dan kondisi yang ada. Seringkali dalam penggunaannya pengguna menemui beberapa masalah dalam pemakaian kendaraan yang memungkinkan terjadinya kecelakaan. Kecelakaan tadi dapat mengakibatkan kerusakan, baik dalam skala ringan dan berat. Berdasarkan survey dilapangan kerusakan yang sering terjadi adalah pada bagian body kendaraan. Body adalah bagian terluar kendaraan yang berfungsi mengcovery kendaraan. Terbuat dari berbagai paduan logam dan serat sintetis. Guna meningkatkan kemampuan mahasiswa dalam kompetensi body kendaraan. Maka dilaksanakanlah observasi lapangan yang berfungsi secara langsung dapat memberikan gambaran tentang proses perbaikan body. B. Tujuan Observasi Observasi di bengkel body repair ini bertujuan : 1. Mahasiswa dapat mengetahui secara langsung proses perbaikan body. 2. Mahasiswa dapat mengeksplor pengetahuannya melalui berbagai kegiatan selama proses perbaikan. 3. Mahasiswa mengetahui kompetensi dan kebutuhan dunia kerja. 4. Menjembatani hubungan antara kampus dengan lingkungan luar kampus sehingga diharapkan dapat terjalin kerjasama yang saling menguntungkan. 5. Memenuhi tugas mata kuliah pelapisan dan pengecatan.

C. Dasar Pemilihan Tempat

Berdasarkan keputusan dosen pembimbing akademik mengenai tempat observasi dan pertimbangan di lapangan, kami mempunyai criteria yang menjadi acuan dalam pemilihan bengkel, antara lain : 1. lokasi bengkel yang terjangkau dan strategis. 2. Status bengkel tersebut. 3. Pemenuhan fasilitas dan syarat berdirinya bengkel. 4. Jaminan mutu terhadap hasil pengerjaan. 5. Proses pengerjaan yang relative cepat dan sesuai dengan prosedur perbaikan. D. Waktu Pelaksanaan Kegiatan observasi ini kami laksanakan pada tanggal 14 Desember 2011. E. Lokasi Observasi Dan Profil Bengkel Melihat Peluang Bisnis dibidang otomotif yang makin berkembang, maka pada akhir tahun 2006, Chandra Setyawan, SE selaku pemilik sekaligus Pimpinan Bengkel AUTO 168, mulai mendirikan Bengkel AUTO 168 pada bulan Agustus 2006. Pada awalnya berdiri bengkel hanya melayani Body Repair, seiring berjalannya waktu dan dengan pertimbangan untuk meningkatkan pelayanan kepada konsumen maka kami memberikan fasilitas lain yang dibutuhkan sebagian besar pemilik kendaraan. Selain Body Repair, Bengkel AUTO 168 juga melayani kebutuhan Sparepart, Cuci dan Salon Mobil, Variasi Mobil. Dan untuk memberikan pelayanan tambahan bagi konsumen yang ingin menyewa mobil untuk keperluan kantor maupun pribadi, kami hadirkan Auto 168 RENTCar. Setelah berjalan selama 5 tahun Bengkel AUTO 168 mengembangkan usaha dengan system Franchise yang di ambil oleh Jimmy Widjaja untuk wilayah Surakarta.

BAB II 5

TINJAUAN PUSTAKA Perkembangan teknologi, khususnya kendaraan bermotor terus berkembang. Kendaraan diciptakan sebagai alat bantu manusia dalam memenuhi kebutuhan transportasi sehari-hari. Ketika kendaraan digunakan, sangat mungkin terjadi kerusakan bodi yang tentunya juga tidak diinginkan. Kerusakan tersebut ada yang bersifat kecil seperti tergores, penyok atau juga kerusakan berat seperti rangka yang bengkok, bodi yang ringsek dan sebagainya. Setiap waktu, semakin banyak pula tumbuh bengkel perbaikan body kendaraan tersebut. Hal ini dapat dilihat dengan meningkatnya permintaan konsumen yang akan melakukan body repair. Permukaan pelat yang penyot diperbaiki dengan menggunakan dasar seperti palu dan dolly, peralatan hidrolik dan sebagainya. Untuk memperbaiki bagian yang rusak akibat tabrakan, kini teknisi lebih banyak menggunakan ketok dan tarik tanpa pemanasan. Hasilnya, selain kekuatan pelat tidak berubah permukaan catpun menjadi lebih cemerlang. 1. Kenteng/Ketok Kenteng adalah suatu tahapan awal dalam proses perbaikan body dimana langkah ini dilakukan guna mengembalikan bentuk rangka atau body kebentuk awal kendaraan sebelum kerusakan. Dalam proses kenteng ini, dilakukan berbagai jenis kegiatan tergantung teknik perbaikan yang dipakai seperti; pengelasan, pemukulan, proses tekan dengan alat hidrolik dll. 2. Pendempulan Pendempulan adalah proses pelapisan dengan menggunakan dempul untuk meratakan permukaan yang diperbaiki dengan bidang permukaan sekitarnya. Pada proses ini dempul dicampur dengan hardener yang berfungsi mempercepat keringnya hasil pendempulan. Dalam akhir proses ini dilakukan pengampelasan sebelum dilakukan langkah perbaikan selanjutnya. Alat dan bahan yang digunakan yaitu : a. Dempul dan hardener b. Amplas c. Skrap papan tempat mixing d. Sabun cream e. Plat alumunium f. Air. 6

3. Pengecatan Setelah perbaikan seluruh bodi selesai dilakukan, termasuk rangka maupun pintu, engine hood, atap, fender atau apapun yang mengalami kerusakan, yang diperbaiki melalui pengentengan atau perbaikan lainnya menggunakan berbagai alat yang diperlukan baik alat-alat tangan, alat hidrolik dan sebagainya, maka tiba saatnya sebuah kendaraan dipermanis dengan pengecatan untuk menimbulkan kesan manis. Kini, proses pengecatan membutuhkan ruangan khusus, yang dikenal dengan painting room (ruang cat). Bahan cat yang berkualitas tinggi, membutuhkan pula teknik dan pendukung yang baik. Pengecatan tidak bisa dilakukan di ruangan terbuka, karena sisa- sisa cat akan kembali melekat pada permukaan yang dicat, yang mengakibatkan permukaan cat tidak bisa halus. Debu dan binatang kecil yang hinggap sulit dihilangkan karena cat cepat mengering. Oleh karena itu, pengecatan dilakukan di ruang pengecatan yang memiliki sirkulasi udara yang bagus. Udara yang disaring, diisap dari luar akan kembali dikeluarkan lewat saluran lain. Sehingga terjadi perputaran udara. Kabut cat akan spontan terisap keluar sehingga tidak ada kesempatan menimpa permukaan yang baru dicat. Pekerjaan pengecatan dimulai dari pengamplasan permukaan bodi menggunakan amplas yang kasar, sampai dengan amplas halus. Jika diperlukan dilakukan pendempulan untuk memperoleh hasil yang maksimal. Pengecatan merupakan kegiatan praktik yang menyenangkan, karena merupakan pekerjaan terakhir sebelum kendaraan bisa digunakan. Sebelum pekerjaan pengecatan dimulai, terlebih dahulu persiapkan peralatan yang diperlukan. Seperti kompresor udara (sebagai sumber udara), slang-slang tekanan tinggi termasuk sambungansambungannya yang rapat, spray gun, kertas masking, baju khusus pengecatan, masker udara (untuk melindungi pernafasan kita) cat yang akan digunakan dan kelengkapannya, serta peralatan lainnya. Untuk melindungi komponen yang tidak akan dicat perlu dimasking terlebih dahulu. Kemudian kendaraan dibawa ke ruangan khusus pengecatan (spray booth). Hal ini dilakukan agar saat melakukan pengecatan, tidak terganggu oleh debu dan kotoran disekitar pengecatan. Selama melaksanakan pengecatan, diperlukan teknik pengecatan yang tepat, agar memperoleh hasil yang maksimal. Sebagai contoh, pencampuran warna harus tepat. Apalagi kita melakukan spot repainting atau nyepet, maka cat lama dengan cat baru juga harus sama. Selain itu, pengaturan jumlah cat dan udara harus tepat sehingga 7

menimbulkan campuran yang tepat. Jarak pengecatan juga harus disesuaikan dengan kondisi campuran cat dan thinnernya, overlapping pengecatan juga harus baik. Dengan menggunakan teknik yang tepat, maka hasil pengecatan akan maksimal. Setelah pengecatan selesai, maka kendaraan dibawa ke ruang khusus untuk dipanaskan. Pemanasan ini penting untuk mempercepat proses pengeringan cat. Sumber dari panas bisa menggunakan lampu pemanas biasa atau sekarang sudah banyak menggunakan ruangan pemanas oven.Setelah selesai pengecatan, agar kendaraan lebih mengkilap dan cat benar-benar rata, maka dilakukan polishing atau poles cat. Poles dapat dilakukan dengan menggunakan mesin, dapat juga menggunakan tangan. Khusus memoles kendaraan setelah selesai pengecatan, disarankan memoles dengan menggunakan mesin untuk menimbulkan kilau yang beraturan (melingkar). Proses polish juga bisa dilaksanakan tidak hanya sehabis pengecatan, akan tetapi bisa dilakukan apabila terdapat goresan yang terdapat pada cat, namun tidak terlalu dalam. Proses pengerjaannya sama dengan setelah pengecatan, sampai didapatkan hasil yang baik. (TEKNIK BODI OTOMOTIF, Gunadi,2008). 4. Pemolesan Pemolesan adalah proses pemolesan guna memperoleh hasil pengecatan yang maksimal. Proses ini biasa disebut proses finishing karena berada pada urutan terakhir dalam proses perbaikan. Alat dan bahan yang digunakan yaitu mesin poles dan compound. Istilah polishing dalam konteks ini adalah suatu proses pada pengecatan ulang pada sebagian fender sebagai akibat adanya gangguan pada cat lama. Polishing merupakan proses untuk permukaan yang dicat sehingga akan menjadi tampak seperti permukaan asli, yaitu yang tidak dicat. Dibandingkan dengan permukaan asli, permukaan yang dicat kembali mungkin saja berbeda dalam hal kilapan ata tekstur-nya. Tergantung pada kondisi dimana pekerjaan dilakukan, cacat misalnya bintik (seeds) atau meleleh (runs) dapat pula terjadi. Demikian pula tergantung pada teknik pengecatan yang digunakan, permukaan yang dicat dapat terlihat tidak rata. Oleh sebab itu apabila ada perbedaan diantara permukaan yang dicat kembali dengan permukaan aslinya, maka permukaan yang dicat kembali harus digosok (sanded) sehingga akan membentuk suatu sambungan yang kontinyu dengan permukaan yang tidak dicat kembali. Proses inilah yang disebut polishing. 8

BAB III METODE PENELITIAN A. Metode Pengumpulan Data Metode pengumpulan data yang kami gunakan dalam penyusunan laporan observasi pelapisan dan pengecatan ini adalah: 9

1. Survey yaitu pengumpulan data pada objek dengan cara pengamatan langsung tentang mekanisme kerja di bengkel. 2. Metode interview yaitu dengan cara mengadakan tanya jawab secara langsung dengan pihak bengkel khususnya pemilik dan para karyawan mengenai materi yang sedang dihadapi. 3. Metode kepustakaan yaitu pengumpulan data dengan cara melalui bukubuku literatur yang mendukung. B. Jenis Kerusakan Yang Terjadi Pada Chasis Dan Body Kendaraan Berdasarkan pengamatan dan interview dengan bapak metri selaku manajer harian pelaksana, beliau mengungkapkan beberapa kerusakan yang sering terjadi pada kendaraan antara lain : 1. Rusak / penyok di bagian tertentu akibat kecelakaan 2. Rusak karena kropos di bagian tertentu pada body mobil. 3. Usia kendaraan yang relative cukup lama sehingga memerlukan pembaharuan pada komponen chasis dan body. C. Pembatasan Masalah Kegiatan observasi yang kami laksanakan di Bengkel Body Repair AUTI 168 adalah memperoleh informasi mengenai semua hal yang bekaitan dengan proses perbaikan body kendaraan. Untuk lebih terperincinya batasan masalah mengenai observasi ini adalah sebagai berikut : 1. Langkah perbaikan kendaraan berdasarkan jenis kerusakan pada body dan chasis kendaraan. 2. Fasilitas (alat dan bahan). 3. Dan prosedur perbaikan. BAB IV PERBAIKAN CHASIS DAN BODY KENDARAAN A. Tahapan Langkah Pengerjaan Berdasarkan studi di lapangan, secara garis besar proses perbaikan chasis dan body kendaraan meliputi : 1. Identifikasi kerusakan 10

Yaitu proses penilaian dan pengkategorian kerusakan. Dimana identifikasi dilaksanakan secara visual. Alat yang dipakai dalam hal ini adalah camera digital, satu unit computer, kapur dan roll meter. Pertama mobil masuk bengkel langsung diidentifikasi kerusakannya. Kerusakan yang ada pada mobil dicatat dalam SOP. 2. Proses perbaikan rangka atau body (kenteng) Setelah identifikasi kerusakan, jika kerusakan cukup parah (peok) maka perlu dikenteng. Pengentengan ini menggunakan alat: palu, potongan besi, las listrik, dan pahat. Pengentengan ini bertujuan untuk mengembalikan body mobil seperti semula.

Gambar. salah satu kegiatan dalam proses kenteng Dalam proses kenteng ini, dilakukan berbagai jenis kegiatan tergantung teknik perbaikan yang dipakai seperti; pengelasan, pemukulan, proses tekan dengan alat hidrolik dll. 3. Pendempulan (Sanding) Pendempulan dilakukan setelah proses kenteng selesai. Bagian yang dikenteng perlu didempul. Adapun langkah-langkah pendempulan sebagai berikut: a. Body kendaraan yang akan didempul diamplas terlebih dahulu, tujuannya agar body kendaraan benar-benar sudah bersih. b. Persiapan bahan untuk mendempul antara lain: bahan dempul dengan hardener. Campur dan aduk keduanya sampai benar-benar tercampur. c. Kemudian proses pendempulan dimulai. Olesi body kendaraan dengan campuran dempul tersebut hingga merata dan dilakukan dengan cepat karena campuran tersebut sangat cepat mengering. d. Setelah selesai ampelas body yang didempul dengan ampelas 400, ampelas 800, dan apelas 1200 secara berturut-turut.

11

Gambar alat dalam proses pendempulan.

Gambar proses pendempulan 4. Proses Epoxy Setelah proses dempul selesai, lapisi area pendempulan dengan menggunakan poxy. Poxy bertujuan untuk menutup lapisan dempul agar dalam proses painting, cat bisa menempel dengan baik. Setelah selesai, ampelas body dengan menggunakan ampelas 2000. Yaitu proses

pelapisan dengan cat dasar pasca proses pendempulan. Berfungsi memberikan lapisan awal saat pengecatan sehingga ketika dilakukan proses pengecatan warna cat tidak meresap ke lapisan dempul. Alat dan bahan yang dipakai ialah spray gun, epoxy dan hardener.

12

Gambar bahan dan proses epoxy 5. Proses Pengecatan dan Penggantian Pada proses pengecatan ini, sada beberapa langkah yang harus ditempuh antara lain: a. Identifikasi warna Yaitu mencari dan meramu warna body sesuai dengan warna aslinya. Biasanya nama warna body terletak di bagian kap depan atau kap belakang mobil, ada juga yang letaknya di dasar pintu. b. Persiapan permukaan Proses ini sering disebut dengan masking, yaitu menutup bagian body yang tidak dicat dengan menggunakan masking paper. Proses masking bertujuan untuk melindungi bagian body yang tidak dicat. c. Pengecatan (painting) Sebelumnya, bersihkan body dengan menggunakan tackloth agar minyak ataupun kotoran yang menempel pada body hilang. Pengecatan dilakukan dalam ruang oven. Adapun langkahlangkah proses pengecatan sebagai berikut: 1) Semprotkan warna dasar pada body kendaraan dengan mengunakan spray gun. Tunggu sampai 15 menit hingga benar-benar kering. 2) Kemudian seprotkan lapisan kedua hingga merata, tunggu sampai 3-5 menit untuk lapisan ketiga. 3) Setelah selesai lapisi dengan pernis (clear) agar warna menjadi lebih mengkilap. 4) Setelah itu diamkan dalam ruang oven pada suhu antara 7075 derajat celcius. Gambar berbagai kegiatan dalam proses pengecatan. 6. Proses Polishing 13

Gambar mesin poles, compound dan hasil polishing. B. Hasil Observasi.

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan Dalam pelaksanaan observasi lapangan ini, kami menyimpulkan dalam proses prbaikan chasis dan body terdapat tahapan perbaikan kerusakan, yaitu: 1. Identifikasi kerusakan 2. Perbaikan rangka atau body 3. Pendempulan (sanding) 4. Epoxy 5. Pengecatan 6. Polishing Dalam pelaksanaannnya factor ketersediaan alat dan keahlian mekanik sangat menetukan terhadap kualitas hasil perbaikan. Disiplin dan hati-hati sangat berpengaruh terhadap kelancaran perbaikan. Dengan adanya observasi lapangan ini mahasiswa sedikit banyak telah memperoleh gambaran mengenai kebutuhan dan proses dilapangan. B. Saran 14

Berdasarkan hasil observasi, saran yang dapat kami berikan ialah : 1. Lebih ditingkatkan mengenai kesadaran bekerja sesuai prosedur pelaksanaan perbaikan. 2. Tetap berusaha mempertahankan kualitas pelyanan dan hasil pengerjaan.

DAFTAR PUSTAKA

Gunadi, 2008; TEKNIK BODI OTOMOTIF.

15

LAMPIRAN LAMPIRAN

16