Ruang Terbuka Hijau: Simbol Kota yang Hidup

Pepohonan yang lebat, kicauan burung-burung, serta kolam dengan air yang jernih mungkin sering dirindukan oleh penduduk perkotaan. Padahal “suasana yang hidup” seperti itu bukanlah milik hutan rimba maupun kawasan pedesaan saja, kota pun berhak untuk “hidup”. “Suasana hidup” pada suatu kota bahkan menjadi suatu indikator layak atau tidaknya kota tersebut untuk ditinggali. Melihat kota-kota di dunia yang ada saat ini, sebagian besar telah menjadi sangat padat serta lahan pun didominasi kawasan terbangun. Hal ini selain disebabkan tingkat kelahiran, diperburuk dengan besarnya angka urbanisasi. UN-Habitat pada tahun 2009 menyatakan bahwa dengan meningkatnya urbanisasi, penduduk kota menderita kepadatan, kebisingan, pencemaran udara, serta kurangnya ruang hijau dan tempat berkumpul komunal seperti taman, juga mengalami kenaikan tingkat stress dan penurunan kemampuan mental. Para ahli tata ruang, di antaranya Olembo dan Rham, berpendapat bahwa kurangnya ruang terbuka hijau memang hanyalah salah satu pertimbangan layaknya sebuah kota dihuni atau tidak namun berhubungan erat dengan isu perkotaan lainnya. Terdapat konsensus bahwa kualitas hidup perkotaan sangat bergantung pada kuantitas dan kualitas ruang terbuka hijau di dalam maupun di sekitarnya. RTH di Mata Undang-Undang Berdasarkan Undang-Undang No. 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang, tertulis bahwa Ruang Terbuka Hijau adalah area memanjang atau jalur dan/atau mengelompok, yang penggunaannya lebih bersifat terbuka, tempat tumbuh tanaman, baik yang tumbuh secara alamiah maupun yang sengaja ditanam. Dijelaskan lebih lanjut dalam Pasal 28 (a) bahwa ruang terbuka hijau terdiri dari ruang terbuka hijau publik dan ruang terbuka hijau privat. Selain itu proporsi ruang terbuka hijau pada wilayah kota paling sedikit 30% dari luas wilayah kota dimana 20% dari luas wilayah kota. Undang-undang ini juga menerangkan bahwa distribusi ruang terbuka hijau publik sebagaimana disesuaikan dengan sebaran penduduk dan hierarki pelayanan dengan memperhatikan rencana struktur dan pola ruang. Di dalam Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 1 Tahun 2007 Tentang Penataan Ruang Terbuka Hijau Kawasan Perkotaan disebutkan bahwa fungsi Ruang Terbuka Hijau Kawasan Perkotaan adalah sebagai pengamanan keberadaan kawasan lindung perkotaan, pengendali pencemaran dan kerusakan tanah, air dan udara, tempat perlindungan plasma nuftah dan keanekaragaman hayati, pengendali tata air, serta sarana estetika kota. Kondisi RTH Bandung Evida Artati, Kepala Bidang Ruang Terbuka Hijau dan Hutan Dinas Pemakaman dan Pertamanan Kota Bandung menyatakan bahwa hingga akhir 2010 terdapat total luas ruang terbuka hijau sebesar 10,10%, terdiri atas 6,09% privat dan 4,02% publik. Evida menjelaskan, “RTH publik meliputi taman-taman kota, RTH tegangan tinggi, RTH semapadan sungai, dan lain-lain, sedangkan RTH privat meliputi taman-taman di perkantoran, permukiman, dan industri. Hutan kota di PT Pindad, misalnya. Dalam hal ini Dinas Pertamanan memiliki tugas pokok dan fungsi di

sempadan sungai.600 m2. pipa gas dan pedestrian hutan kota daerah penyangga (buffer kawasan dan jalur hijau zone) lapangan udara. yaitu Taman Sukajadi.” Namun demikian diakui Evida bahwa kendala paling besar adalah minimnya anggaran untuk ruang terbuka hijau serta tidak adanya lahan publik. Evida mengungkapkan. total ruang terbuka hijau ini harus mencapai angka 40 %. penyediaan lahan menjadi kewenangan bersama Dinas Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (DPKAD) dan Dinas Tata Ruang dan Cipta Karya (Distarcip). penghijauan. hingga tahun 2013 nanti presentase ruang terbuka hijau Kota Bandung ditargetkan harus mencapai 16%. lahan bekas TPA yang sudah berhasil diubah menjadi RTH yaitu bekas TPA Pasir Impun dan TPA Cicabe. Di sisi lain.” Jenis-Jenis Ruang Terbuka Hijau Berdasarkan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 1 Tahun 2007 taman kota bentang alam seperti gunung. .803 m 2. dan hutan lindung taman atap (roof garden) cagar alam Di dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah. sedangkan TPA Cicabe berhasil diubah menjadi taman seluas 41. Ekstensifikasi atau penambahan RTH diutamakan melalui penyerahan aset dan menambah jalur-jalur hijau. dan sebagainya. pengawasan pengendalian pohon.” papar Evida.antaranya berupa pemeliharaan. di rooftop Balubur Town Square. “Dinas Pertamanan hanya mengisi ruang yang ada. median jalan. dan Taman Cikapayang. pantai. “Dinas Pemakaman dan Pertamanan berupaya mencapai angka tersebut melalui ekstensifikasi lahan ruang terbuka hijau. Selain itu. Taman Cibeunying Selatan. Taman Ahmad Yani. dianjurkan menggunakan wall garden atau roof garden. TPA Pasir Impun yang kini namanya menjadi Taman Abdi Negara ini memiliki luas 41. ekstensifikasi ruang terbuka hijau untuk privat diupayakan melalui pembangunan lahan ruang terbuka hijau dalam fasilitas sosial dan fasilitas umum. lahan pertanian perkotaan taman lingkungan perumahan kebun binatang jalur dibawah tegangan tinggi (SUTT dan permukiman dan SUTET) taman lingkungan pemakaman umum. perkantoran dan gedung situ dan rawa komersial taman hutan raya lapangan olah raga jalur pengaman jalan. lapangan upacara bukit. rel kereta api. penyediaan lahan sendiri bukan merupakan kewenangan Dinas Pemakaman dan Pertamanan.” Salah satu upaya penambahan lahan yang dilakukan yaitu mengubah lahan bekas SPBU dan bekas Tempat Pembuangan Akhir (TPA). “Khususnya untuk Kawasan Bandung Utara (KBU). bangunan. Hingga saat ini Dinas Pemakaman dan Pertamanan Kota Bandung telah berhasil mengubah lima lahan bekas SPBU menjadi ruang terbuka hijau. penataan taman dan jalur-jalur. Di samping itu. Jika lahan tidak memungkinkan. lereng dan lembah taman wisata alam parkir terbuka taman rekreasi kebun raya. Contohnya. Taman Pramuka.

Di sisi lain. dipengaruhi oleh konsep Garden City. Kondisi lain yang menurutnya memprihatinkan adalah kurangnya konsistensi dalam menangani permasalahan RTH ini. maka diperlukan sekitar 3. Kondisi yang ada sekarang belum sesuai dengan standar minimum itu. Bandung Sebagai Garden City Dalam karya ilmiah Budi Faisal dan Widyatri Atsary Rahmy yang berjudul “Bandung Green Network System”. . program pengembalian fungsi lahan SPBU menjadi RTH. Dalam hal ini. Palaguna direncanakan 40%-nya dibangun KDH (Koefisien Dasar Hijau). Mau penduduknya 2 juta atau 20 juta (persentasenya) 20% juga. Salah satu kasus yaitu lahan Babakan Siliwangi yang rencananya akan dibangun menjadi lahan komersial. Hal ini disebabkan karena penduduk Kota Bandung yang kian bertambah. Namun demikian terdapat tiga alasan untuk meninjau ulang kondisi ruang terbuka hijau yang ada sekarang. jangan diubah menjadi kawasan terbangun.500 m2. Potensi ini antara lain disebabkan oleh dua aspek.“ Bandung sebagai salah satu kota besar dalam kasus ini kesulitan untuk melakukan penambahan lahan. Jangan-jangan yang tidak termasuk kualifikasi RTH dihitung juga. Tanah tersebut dipelihara jangan dipakai untuk tujuan komersial atau hanya untuk menaikkan pendapatan daerah. Taman yang baru tidak 100% ruang terbuka hijau dan luasnya hanya sekitar 200-500 m2.” ujarnya menegaskan. “Padahal site itu dari awal diperuntukkan untuk kawasan komersial. lahan pertanian termasuk ruang terbuka hijau. Makanya.” Hal lain yang juga bisa diperdebatkan yaitu kebijakan bahwa ruang terbuka hijau yang minimum 20% dari total luas kota. 5 Tahun 2008.Perlu Ditinjau Ulang Denny Zulkaidi. Padahal kebutuhan penyediaan oksigen untuk 1 orang itu 35 m2 ruang terbuka hijau. undang-undang ini bisa jadi mediocre. Kesulitan lainnya berkaitan dengan status kepemilikan lahan. walikota tidak konsisten. “Pertama. Ia juga beropini bahwa pertambahan ruang terbuka hijau juga relatif tidak banyak dan tidak terlihat. jenisnya. Ia menegaskan. mengelompok atau di tempat-tempat tertentu. hutan kota kan memiliki standar luas hamparan minimum sebesar 2. harus dilihat sebarannya. yang dikenal dengan “Indische Koloniaale Stad” (Kota Kolonial). dijelaskan bahwa bentuk tata ruang kota Bandung tempo dulu. “Bagaimana pemerintah bilang ingin menghijaukan jika tanahnya bukan milik Pemkot?” tukas Denny. Kedua. Kalau memang serius yang punya sendiri dipelihara. sehingga kebutuhan yang diutamakan merupakan wilayah terbangun. “Ini khan (angkanya) statis.200 ha RTH. penasehat Ikatan Arsitek Lanskap Indonesia (IALI) Provinsi Jawa Barat menuturkan bahwa Bandung merupakan sebuah kota yang berpotensi mengetengahkan RTH. Tunjukkan contoh yang baik. Namun di sisi lain. Budi Faisal. Menurut Peraturan Menteri PU No. Dosen Teknik Planologi Institut Teknologi Bandung memaparkan bahwa dengan luas Kota Bandung yang mencapai 16. Tapi apakah sawah masuk juga?” kritiknya. “Misalnya saja. Ketiga. yaitu aspek kesejarahan dan aspek asek perencanaan.729 ha. bukan wilayah hijau. Dari sudut pandang arsitektur lanskap. harus dilihat inventorinya. Dalam hal ini Pemkot memasukkan lahan pertanian atau tidak? Kalau pertanian tanaman keras oke.

salah satunya dengan menjaga keseimbangan biodiversitas dalam kota. Di samping itu bentuk Cekungan Bandung ini juga dapat menyebabkan permasalahan polusi udara. Dengan adanya sistem jejaring hijau kota. jejaring hijau kota harus memerhatikan beberapa aspek. seperti lahan pertanian. lapisan udara yang penuh dengan polusi bisa naik ke atas pada siang hari. Kebun Binatang Bandung (dulunya Taman Botani). Hal lainnya yang patut mendapat perhaitan yaitu kondisi geologi Kota Bandung yang dikenal sebagai Cekungan Bandung. di antaranya kondisi Kota Bandung yang rawan banjir serta bentuknya yang seperti cekungan. badan air ini merupakan faktor penting selain vegetasi yang dapat berperan menurunkan suhu udara. Taman Maluku. namun sebaliknya memberikan akumulasi polusi bagi penduduk yang tinggal di dataran rendah pada malam hari. Apabila perencaan ruang terbuka hijau di kawasan Utara Bandung ini dilanjutkan hingga ke bagian selatan. Taman Lalu Lintas. dan ruang-ruang hijau lainnya. Bandung memiliki berbagai tipe ruang terbuka hijau yang didominasi oleh tamann-taman di Kawasan Bandung Utara (KBU). Kebon Bibit. perkebunan dan hutan.Konsepnya yakni pola penataan kota berbentuk lingkaran konsentris yang bagian wilayah-wilayahnya ditata berlapis-lapis melingkari pusat kota di bagian tengahnya. Dalam hal ini sistem jejaring hijau kota atau green network berperan dalam mewujudkan ruang-ruang terbuka hijau kota yang saling terhubung satu sama lain dan terintegrasi dengan lingkungan terbangun kota (urban fabric). ruang terbuka hijau Lembah Cikapundung. Kota Bandung memiliki banyak badan air. Taman Cilaki. Ia juga berfungsi sebagai pengendali banjir melalui optimalisasi resapan air limpasan permukaan akibat hujan. Dari aspek perencanaan. maka taman tersebut memenuhi salah satu kategori taman yang sehat. namun kembali turun di malam hari. Namun di sisi lain. Perencanaan jejaring hijau kota juga harus mempertimbangkan konektivitas dengan ruang-ruang hijau yang mendominasi area pegunungan tersebut. sehingga tergolong sebagai area rawan banjir. Dengan adanya bentuk cekungan ini. Pada masa itu. hampir seperti Taman Balai Kota. . Adapun lapisan terluar dikelilingi sabuk hijau yang juga terdiri dari lahan-lahan pertanian maupun hutan. Fauna yang dapat menjadi indikator adalah burung dan kupukupu. ruang terbuka hijau dapat berfungsi sebagai sarana migrasi fauna taman satu dengan taman lainnya. maka Bandung diperkirakan mampu mewujudkan presentase ruang terbuka hijau yang ideal. Kota Bandung dikelilingi oleh pegunungan yang berada di hampir semua sisinya. Taman Ganesha. Jika populasi burung dan kupu-kupu bermigrasi ke suatu taman. yaitu 30%. Hal ini dapat menyebabkan akumulasi polusi bagi penduduk yang tinggal di dataran tinggi pada siang hari. Pembangunan koridor-koridor penghubung antara jejaring hijau kota dan “sabuk hijau” pegunungan yang mengelilingi Kota Bandung dapat dilihat sebagai upaya mewujudkan ekologi kota yang berkelanjutan.

E. Keindahan taman kota Stockholm mampu memukau para arsitektur kota. serta melambangkan nilai budaya warga Stockholm. Swedia. Ia menyatakan. Kidder Smith. Terdapat 12 taman besar di Stockholm. menjadi habitat burung dan serangga langka. area-area hutan dan bekas ladang mencapai seperlima ruang terbuka Stockholm. kota ini tetap mempertahankan pembangunan kota melalui perencanaan yang komprehensif. Ekoparken yang merupakan taman nasional perkotaan pertama di dunia. masing-masing 200 hektar. Di sisi lain. salah satunya G. dan 1/3 sisanya ruang terbuka hijau. Perencanaan . area alami dan garis pantai. Jumlah ini sebanding dengan 1/3 total ruang terbuka hijau Stockholm. perencanaan merupakan proses yang kooperatif.Ilustrasi Cekungan Bandung Stockholm. serta 80% garis pantainya dapat diakses dan biasanya dilengkapi jalur pejalan kaki dan sepeda. tamantaman komunal. Sistem jejaring hijaunya terdiri atas lima komponen: koridor yang berhubungan. Taman-taman kota Stockholm…tidak memiliki bandingan baik di Eropa maupun Amerika Serikat. mungkin dapat merujuk pada Kota Stockholm. Terdapat beberapa strategi yang dapat dipetik dari perencanaan sistem ruang terbuka hijau Stockholm.” Area dataran Stockholm terdiri oleh sekitar 1/3 perkotaan. Selain menambah daya tarik. mencakup perencanaan pembangunan kota-kota satelit di sekitarnya. Bagi Stockholm. mereka bagian dari konsep hidup Swedia – konsep yang membutuhkan kontak dengan kebebasan alami untuk mengesampingkan pembatasan ruang oleh manusia. taman-taman komunal juga mencapai hampir sepertiga sistem ruang terbuka hijau Stockholm. “Taman-taman di Stockholm. 1/3 perairan. Bahkan pada periode pertumbuhan penduduk yang paling pesat. serta halaman perumahan. Pemerintah kota Stockholm juga mengadakan Program Halaman Hidup dan Hijau.670 hektar. ia juga memelihara biodiversitas alamiah wilayah. Swedia Berbicara mengenai ruang terbuka hijau kawasan perkotaan. memiliki total luas area 6. Ekoparken merupakan taman Swedia tipikal yang memiliki nilai ekologis. Penduduk atau pemilik properti diberikan bantuan dan dipandu untuk membuat halaman yang lebih hijaudan berkelanjutan. Stockholm memilii baji hijau regional yang terhubung dari taman kota sentral hingga pinggiran kota. jangkar. bukan sekedar koleksi jari-jemari hijau yang berikatan dari bagian pinggiran hingga ke tengah-tengah kota.

badanbadan publik. Stockholm tidak ragu melakukan investasi jangka panjang bagi kota maupun wilayahnya. .ini dilakukan berdasrkan proses berbasis konsensus yang diikuti oleh organisasi-organisasi swasta. perencanaan wilayah Stockholm harus memahami bahwa penyediaan ruang terbuka berarti membangun sarana rekreasi dan meningkatkan kenyamanan penduduk. bentuk. Terakhir. maka daerah alami dapat diselamatkan. area-area yang paling padat mendapat perhatian ekstra. Ketiga. Dengan adanya investasi jangka panjang bagi sistem transportasi massa yang matang. Kedua. Hal ini dilakukan tanpa melupakan penyediaan ruang terbuka hijau juga di area pinggiran tersebut. hanya 22% warga Stockholm yang memiliki kendaraan pribadi. Pihak yang berwenang melakukan perencanaan pembangunan yang detail berisi tipe. dan jadwal pembangunan area tersebut. serta seluruh warga kota. Melalui pemerataan jumlah penduduk dengan mengalihkan kepadatan ke area pinggiran.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful