Anda di halaman 1dari 20

Jurnal Ilmiah Bisnis dan Ekonomi ASIA

Vol. 3 No. 1. Desember 2008

RASIO KEUANGAN DALAM MEMPREDIKSI PERUBAHAN LABA DI MASA YANG AKAN DATANG (Studi Empiris pada Perusahaan yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia) Oleh: Anas Firman Adi & Fathorrahman *) ABSTRAKSI Penelitian ini menguji kegunaan rasio keuangan dalam memprediksi perubahan laba di masa yang akan datang. Pengujian dilakukan dengan menggunakan sampel random sebanyak 54 perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Dengan menggunakan metode pemilihan variabel stepwise regression dianalisis sejumlah 49 rasio keuangan untuk diketahui hubungan liniernya dengan perubahan laba satu tahun, dua tahun, dan tiga tahun yang akan datang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tujuh rasio keuangan terbukti signifikan untuk digunakan sebagai prediktor perubahan laba satu tahun yang akan datang. Meskipun secara umum hasil ini konsisten dengan beberapa temuan penelitian sebelumnya, akan tetapi secara individual rasio-rasio keuangan yang ditemukan di dalam penelitian ini masih menunjukkan inkonsistensi dengan temuan-temuan tersebut. Perluasan temuan penelitian ini adalah bahwa rasio keuangan ternyata juga signifikan dalam memprediksi perubahan laba dua tahun dan tiga tahun yang akan datang. Dengan mengulang aplikasi stepwise regression untuk masing-masing periode prediksi tersebut, diperoleh bukti statistik bahwa lima rasio keuangan signifikan untuk digunakan sebagai prediktor perubahan laba dua tahun yang akan datang, sedangkan untuk tiga tahun hanya dua rasio keuangan yang signifikan. Kecenderungan berkurangnya jumlah rasio keuangan yang bisa digunakan sebagai prediktor perubahan laba dengan semakin panjangnya periode prediksi juga diikuti dengan semakin kecilnya angka koefisien determinasi yang menunjukkan kemampuan penjajagan data (goodness of fit) yang semakin rendah. Kata Kunci: Rasio keuangan, prediksi perubahan laba, stepwise regression *) Dosen Tetap STIE ASIA Malang Latar Belakang Penelitian Analisis rasio keuangan merupakan instrumen analisis prestasi perusahaan yang menjelaskan berbagai hubungan dan indikator keuangan, yang ditujukan untuk menunjukkan perubahan dalam kondisi keuangan atau prestasi operasi di masa lalu dan membantu menggambarkan trend pola perubahan tersebut, untuk kemudian menunjukkan resiko dan peluang yang melekat pada perusahaan yang bersangkutan. Makna dan kegunaan rasio keuangan dalam praktek bisnis pada kenyataannya bersifat subjektif tergantung kepada untuk apa suatu analisis dilakukan dan dalam konteks apa analisis tersebut diaplikasikan (Helfert, 1991). Penelitian ini dimaksudkan untuk melakukan pengujian lebih lanjut temuan-temuan empiris mengenai rasio keuangan, khususnya yang

Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi ASIA Malang

Jurnal Ilmiah Bisnis dan Ekonomi ASIA

Vol. 3 No. 1. Desember 2008

menyangkut kegunaannya dalam memprediksi perubahan laba di masa yang akan datang. Pemilihan laba akuntansi sebagai fenomena yang diprediksi dalam penelitian ini didasari oleh alasan penelitian-penelitian sejenis masih relatif jarang dilakukan, khususnya di Indonesia. Jika rasio keuangan dapat dijadikan sebagai prediktor perubahan laba di masa yang akan datang, temuan ini tentu merupakan pengetahuan yang cukup berguna bagi para pemakai laporan keuangan yang secara real maupun potensial berkepentingan dengan suatu perusahaan. Sebaliknya, jika rasio keuangan ternyata tidak cukup signifikan dalam memprediksi perubahan laba di masa yang akan datang, hasil penelitian ini akan memperkuat bukti tentang inkonsistensi temuan-temuan empiris sebelumnya. Rumusan Masalah Berdasarkan uraian di atas, pertanyaan penelitian (research questions) di dalam penelitian ini adalah : 1. Apakah rasio keuangan dapat digunakan sebagai prediktor perubahan laba satu tahun yang akan datang? 2. Apakah rasio keuangan dapat digunakan sebagai prediktor perubahan laba dua tahun yang akan datang? 3. Apakah rasio keuangan dapat digunakan sebagai prediktor perubahan laba tiga tahun yang akan datang? 4. Apakah rasio keuangan yang dapat digunakan sebagai prediktor perubahan laba berbeda untuk satu tahun, dua tahun, dan tiga tahun yang akan datang? Tujuan Penelitian Sebagaimana telah dinyatakan sebelumnya, penelitian ini dimaksudkan untuk melakukan pengujian lebih lanjut temuan-temuan empiris tentang kegunaan rasio keuangan dalam memprediksi perubahan laba di masa yang akan datang. Secara definitif, penelitian ini ditujukan untuk : 1. Memberikan temuan empiris mengenai kegunaan rasio keuangan dalam memprediksi perubahan laba satu tahun yang akan datang. 2. Memberikan temuan empiris mengenai kegunaan rasio keuangan dalam memprediksi perubahan laba dua tahun yang akan datang. 3. Memberikan temuan empiris mengenai kegunaan rasio keuangan dalam memprediksi perubahan laba tiga tahun yang akan datang. 4. Memberikan temuan empiris mengenai perbedaan rasio-rasio keuangan yang dapat digunakan sebagai prediktor perubahan laba untuk satu tahun, dua tahun, dan tiga tahun yang akan datang. Tinjauan Literatur

Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi ASIA Malang

Jurnal Ilmiah Bisnis dan Ekonomi ASIA

Vol. 3 No. 1. Desember 2008

Landasan teoritis berkenaan dengan kegunaan rasio keuangan dalam memprediksi perubahan laba di masa yang akan datang, ditekankan landasan tradisi pemikiran akuntansi pada perkembangan yang terjadi di Amerika Serikat, disebabkan oleh adanya dinamika yang melatarbelakangi diskursus tersebut yang memang secara konkrit terjadi di sana. Tujuan Pelaporan Keuangan Didirikannya Financial Accounting Standard Board (FASB) yang menggantikan Accounting Principles Board (APB) sebagai lembaga penyusun standar akuntansi di Amerika Serikat pada awal tahun 1970-an dianggap sebagai revolusi yang terjadi dalam pemikiran akuntansi. Salah satu perubahan yang tercermin dalam proyek kerangka konseptual FASB adalah ditekankannya tujuan sosial yang luas dari pelaporan keuangan (Hendriksen, 1982). FASB (1978) melalui Statement of Financial Accounting Concepts No. 1 : Objectives of Financial Reporting by Business Enterprises dalam kaitan dengan tujuan sosial yang luas ini menyatakan : Financial reporting is not an end in itself but is intended to provide information that is useful in making business and economic decisions for making reasoned choises among alternative uses of scarse resources in the conduct of economic activities, ...Accordingly, the objectives of this Statement are affected by the economic, legal, political, and social environment in United States." Pelaporan keuangan juga harus mendorong efektivitas pasar modal dan pasar uang dalam mengalokasikan sumber daya yang langka di antara berbagai penggunaan yang kompetitif sehingga tercipta kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan (Hendriksen, 1982). Dalam kaitan ini pula, FASB (1978) menyatakan : "Financial reporting should provide information that is useful to present and potential investors and kreditors, and others users in making rational investment, credit, and similar decisions." Dari Statement tersebut tampak bahwa meskipun pelaporan keuangan memiliki tujuan sosial yang luas, akan tetapi orientasinya terletak pada investor dan kreditor, karena dengan memenuhi kebutuhan mereka maka hampir semua kebutuhan dari para pemakai eksternal lainnya akan terpenuhi. Setelah menetapkan tujuan sosial yang luas yang merupakan tujuan menyeluruh dari pelaporan keuangan, FASB juga menggariskan beberapa tujuan khusus yang salah satu di antaranya menyatakan bahwa pelaporan keuangan harus menyediakan informasi yang bermanfaat untuk menaksir arus kas di masa yang akan datang (Smith dan Skousen, 1987). FASB (1980) melalui Statement of Financial Accounting Concepts No. 2 : Qualitative Characteristics of Accounting Information menyatakan bahwa kualitas yang membedakan antara informasi yang "lebih baik" (lebih bermanfaat) dengan informasi yang "kurang baik" (kurang bermanfaat) terutama terletak pada kualitas relevansi dan keandalannya ditambah dengan beberapa karakteristik lainnya yang berlaku untuk kualitas tersebut. FASB mendefinisikan informasi yang relevan sebagai informasi yang akan mengakibatkan timbulnya perbedaan. Informasi yang relevan dapat memperteguh, atau sebaliknya,

Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi ASIA Malang

Jurnal Ilmiah Bisnis dan Ekonomi ASIA

Vol. 3 No. 1. Desember 2008

memperlemah pengharapan yang ada. Jadi, relevansi selalu dikaitkan dengan nilai umpan balik dan nilai prediktif (Smith & Skousen, 1994). Analisis Rasio Keuangan Analisis rasio keuangan hanyalah suatu titik awal dalam analisis keuangan perusahaan. Analisis rasio tidak memberikan banyak jawaban, kecuali menyediakan rambu-rambu tentang apa yang seharusnya diharapkan (Friedlob dan Plewa, 1996). Aplikasi analisis rasio keuangan dalam praktek bisnis serta pengkajian-pengkajian dan studi yang telah dilakukan mengantarkan kepada pemikiran untuk menjadikan rasio keuangan sebagai indikator yang fundamental dalam praktek bisnis dan ekonomi. Rasio keuangan juga telah digunakan sebagai independent and descriptive variable dalam studi ekonomi. Bahkan pernah terdapat kecenderungan untuk menggunakan rasio keuangan tunggal seperti ROI (Zainuddin dan Hartono, 1999). Gilman (1925) seperti yang dikutip oleh Horrigan (1968) menolak penggunaan rasio keuangan sebagai indikator fundamental dengan mengajukan beberapa alasan sebagai berikut : 1. Perubahan rasio keuangan sebenarnya merupakan angka yang tidak dapat diinterpretasikan karena pembilang dan penyebutnya bervariasi. 2. Pengukuran rasio keuangan merupakan pengukuran yang bersifat artifisial. 3. Rasio keuangan mengalihkan perhatian analis dari pandangan terhadap perusahaan secara komprehensif. 4. Keandalan rasio keuangan sebagai indikator sangat bervariasi di antara setiap rasio. Di tengah diskursus tentang batasan dan kegunaan rasio keuangan dalam praktek bisnis dan ekonomi, Gibson (1982) telah melakukan survey dalam rangka meneliti pendapat para eksekutif keuangan sehubungan dengan persoalan penting yang berkaitan dengan rasio keuangan di Amerika Serikat. Hasil penelitian menunjukkan adanya kesepakatan di antara para responden mengenai rasio-rasio keuangan mana yang dianggap penting, akan tetapi hal tersebut tidak diikuti oleh adanya konsensus mengenai metodologi penghitungannya. Meski terdapat keragaman pemaknaan mengenai urgensi analisis rasio keuangan dalam praktek bisnis dan ekonomi, namun kenyataannya, praktek bisnis masih mengaplikasikan analisis rasio ini sebagai salah satu model analisis keuangan, meskipun relevansinya tentu saja bersifat sangat subjektif, tergantung tujuan dan kepentingan analis. Rasio Keuangan dalam dan Perubahan Laba Winakor dan Smith menganalisis 21 rasio keuangan selama 10 tahun untuk menentukan rasio keuangan mana yang paling akurat dan bermanfaat sebagai indikator 10 tahun sebelum perusahaan mengalami kebangkrutan. Winakor dan Smith menyimpulkan bahwa rasio keuangan yang paling akurat dan bermanfaat sebagai indikator kebangkrutan adalah rasio Net Working Capital to Total Assets. Kelemahan studi Winakor dan Smith adalah tidak digunakannya control group berupa perusahaan-perusahaan yang tidak bangkrut (Zainuddin dan Hartono, 1999). Altman (1968) menggunakan sampel sebanyak Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi ASIA Malang 4

Jurnal Ilmiah Bisnis dan Ekonomi ASIA

Vol. 3 No. 1. Desember 2008

66 perusahaan, yang terdiri atas 33 perusahaan bangkrut dan 33 perusahaan yang tidak bangkrut. Dengan menggunakan multivariate discriminant analysis, menemukan bahwa rasio-rasio keuangan liquidity, solvency, dan profitability bermanfaat dalam memprediksi kebangkrutan perusahaan dengan tingkat keakuratan yang semakin menurun seiring dengan semakin lamanya periode prediksi. Sinkey (1978) melakukan penelitian tentang kegunaan rasio keuangan dalam memprediksi kondisi keuangan perusahaan perbankan, menggunakan multiple discriminant analysis dalam menguji perusahaan bank yang bermasalah, menganalisis 10 rasio keuangan dalam menguji sampel sebanyak 110 perusahaan perbankan dan memperoleh bukti bahwa rasio-rasio keuangan yang berguna sebagai prediktor kondisi keuangan perusahaan perbankan secara signifikan berbeda antara perusahaan perbankan yang bermasalah dengan perusahaan perbankan yang tidak bermasalah untuk periode prediksi empat tahun sebelum perusahaan perbankan mengalami masalah. Kegunaan rasio keuangan dalam memprediksi kebangkrutan perusahaan-perusahaan perbankan, juga telah dilakukan oleh Thomson (1991) yang menganalisis sampel sebanyak 1.736 perusahaan perbankan yang sukses dan 770 perusahaan yang bangkrut selama periode enam tahun dari tahun 1984 sampai dengan 1989. Dengan menggunakan logit regression, hasilnya menunjukkan bahwa kemungkinan perusahaan mengalami kebangkrutan adalah fungsi dari variabel yang berkaitan dengan solvency, termasuk rasiorasio capital, assets, management, earnings, dan liquidity (CAMEL) yang dimilikinya, ditemukan bahwa rasio CAMEL sebagai proxy variabel kondisi keuangan bank merupakan faktor signifikan yang berkaitan dengan kemungkinan kebangkrutan bank untuk periode empat tahun sebelum bank tersebut bangkrut. O'Conner (1973) melakukan penelitian untuk menguji kemampuan rasio keuangan dalam memprediksi keuntungan saham dengan menggunakan sampel sebanyak 127 perusahaan, menggunakan univariate dan multivariate analysis, yang menguji 10 rasio keuangan dan menunjukkan bahwa rasio keuangan tidak memiliki kemampuan untuk dijadikan prediktor keuntungan saham. Penelitian mengenai kegunaan rasio keuangan dalam memprediksi keuntungan saham secara lebih komprehensif telah dilakukan oleh Ou dan Penman (1989) menganalisis 68 rasio keuangan, bertujuan untuk menguji kegunaan analisis laporan keuangan dalam menaksir nilai perusahaan, hasilnya menunjukkan bahwa informasi akuntansi yang diindikasikan oleh rasio keuangan mengandung informasi fundamental yang tidak tercermin dalam harga saham. Perkembangan pendekatan positivistik dalam penyusunan teori akuntansi telah mendorong dilakukannya penelitian-penelitian yang menghubungkan rasio keuangan dengan berbagai fenomena akuntansi dan ekonomi. Beberapa penelitian berikut sangat relevan dijadikan sebagai landasan hipotesis penelitian ini, yaitu menghubungkan rasio keuangan dengan laba akuntansi. Penelitian yang menolak hipotesis bahwa laba akuntansi mengikuti pergerakan yang bersifat acak (random walk hypothesis) dilakukan oleh Freeman, dkk. (1982). Mereka menggunakan logit procedure untuk menganalisis kandungan prediktif rasio Rate of Return (ROR). Dengan menggunakan sampel sebanyak 31 perusahaan selama periode 32 tahun, menyimpulkan bahwa rasio ROR memiliki kandungan informasi yang bersifat prediktif terhadap perubahan laba. Ou (1990) menguji kekuatan dan kandungan informasi dari item data laporan keuangan selain laba (termasuk

Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi ASIA Malang

Jurnal Ilmiah Bisnis dan Ekonomi ASIA

Vol. 3 No. 1. Desember 2008

komponen laba) untuk memprediksi laba satu tahun yang akan datang. Hasilnya menunjukkan sebanyak 8 rasio keuangan terbukti signifikan sebagai prediktor laba. Penman (1992) melakukan penelitian terhadap 1.482 sampai dengan 1.677 perusahaan untuk periode 11 tahun dari tahun 1973 sampai dengan tahun 1983. Temuan empiris Penman menunjukkan bahwa laporan keuangan menyajikan informasi yang relevan untuk mengevaluasi perubahan laba. Lebih lanjut, Penman juga menunjukkan bahwa item laporan keuangan selain laba serta laporan keuangan beberapa tahun yang lalu berhubungan dengan persistensi perubahan laba. Machfoedz (1994) menganalisis sejumlah rasio keuangan dan menghubungkannya dengan perubahan laba di Indonesia. Dalam penelitian tersebut, Machfoedz menguji 47 rasio keuangan dengan menggunakan sampel perusahaan-perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia yang mempublikasikan laporan keuangannya dari tahun 1989 sampai dengan 1992. Dengan menggunakan MAXR-Procedure, hasilnya menunjukkan bahwa terdapat 13 rasio keuangan yang signifikan dalam memprediksi perubahan laba satu tahun yang akan datang. Zainuddin dan Hartono (1999) menguji kegunaan rasio keuangan dalam memprediksi perubahan laba yang didasarkan pada rasio CAMEL (Capital, Assets, Managements, Earnings, Liquidity). Penelitian tersebut dilakukan terhadap seluruh perusahaan perbankan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Pengujian dilakukan terhadap rasio keuangan, baik pada tingkat individual maupun pada tingkat construct (gabungan dari rasio-rasio individual yang dijadikan satu variabel). Dengan menggunakan analisis regresi untuk menganalisis rasio keuangan pada tingkat individual dan Analysis of Moment Structures (AMOS) untuk menganalisis pada tingkat construct, penelitian ini menunjukkan bahwa secara individual rasio keuangan tidak signifikan dalam memprediksi perubahan laba. Akan tetapi, pada tingkat construct rasio keuangan Capital, Assets, Earnings, dan Liquidity signifikan dalam memprediksi perubahan laba. Hipotesis Mengacu kepada review di atas, maka hipotesis nol (null hypothesis) yang diajukan dalam penelitian ini adalah : 1. Perubahan relatif rasio keuangan tidak berpengaruh secara signifikan terhadap perubahan laba satu tahun yang akan datang. 2. Perubahan relatif rasio keuangan tidak berpengaruh secara signifikan terhadap perubahan laba dua tahun yang akan datang. 3. Perubahan relatif rasio keuangan tidak berpengaruh secara signifikan terhadap perubahan laba tiga tahun yang akan datang. 4. Rasio-rasio keuangan yang dapat dijadikan sebagai prediktor perubahan laba tidak berbeda untuk satu tahun, dua tahun, dan tiga tahun yang akan datang.

Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi ASIA Malang

Jurnal Ilmiah Bisnis dan Ekonomi ASIA

Vol. 3 No. 1. Desember 2008

Metode Penelitian Penelitian ini didesain sebagai suatu studi empiris. Dalam rangka menguji hipotesis yang telah dirumuskan, yaitu untuk membuktikan kegunaan rasio keuangan dalam memprediksi perubahan laba di masa yang akan datang, penelitian ini pada dasarnya menguji hubungan linier antara variabel independen yaitu rasio-rasio keuangan yang dihitung perubahan relatifnya dengan perubahan laba untuk satu tahun, dua tahun, dan tiga tahun yang akan datang sebagai variabel dependen, sehingga model prediksinya adalah :

di mana :

Eti = 0 + 1 Fr1i + 2 Fr2i + .... + k Frki + I

(1)

Et Fr1, 2,...., k 0 1, 2, .., k


i

= perubahan laba untuk periode t = perubahan relatif rasio keuangan ke-1, 2, ...., k = intercept, perubahan laba yang diasumsikan jika tidak dihubungkan dengan perubahan relatif rasio keuangan = koefisien arah regresi rasio keuangan ke-1, 2, ..., k = Kesalahan residu = data observasi ke-i.

Hubungan yang diasumsikan di dalam desain penelitian ini mengikuti model linier. Asumsi ini didasari oleh alasan periode prediksi yang ditetapkan yang relatif pendek, yaitu untuk satu tahun, dua tahun, dan tiga tahun yang akan datang. Varialel dependen penelitian ini adalah perubahan laba. Perubahan laba yang digunakan dalam penelitian ini adalah perubahan laba relatif. Digunakannya angka laba relatif didasari alasan angka laba tersebut lebih representatif dibandingkan laba absolut yang dimaksudkan untuk menghindari pengaruh ukuran perusahaan (Machfoedz, 1994). Secara formal, penghitungan perubahan laba relatif adalah :

(2) di mana :

Ei,t
Ei,t Ei,t-1 i

= = = =

perubahan laba untuk periode t laba absolut pada periode yang dihitung angka perubahannya laba absolut pada periode satu tahun sebelumnya data observasi ke-i.

Indikator perubahan laba yang digunakan dalam penelitian ini adalah laba sebelum pajak, tidak termasuk item extra ordinary dan discontinued operation. Penggunaan laba sebelum pajak sebagai indikator perubahan laba dimaksudkan untuk menghindari pengaruh

Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi ASIA Malang

Jurnal Ilmiah Bisnis dan Ekonomi ASIA

Vol. 3 No. 1. Desember 2008

penggunaan tarif pajak yang berbeda antar periode yang dianalisis. Alasan mengeluarkan item extra ordinary dan discontinued operation dari laba sebelum pajak adalah untuk menghilangkan elemen yang mungkin meningkatkan perubahan laba yang tidak akan timbul dalam periode yang lainnya (Zainuddin dan Hartono, 1994). Variabel independen penelitian ini adalah perubahan relatif rasio keuangan. Alasan penggunaan angka relatif rasio keuangan ini juga dimaksudkan untuk menghindari pengaruh variasi besaran perusahaan, sehingga formula penghitungannya adalah :

(3) di mana :

Frt

Frt Fr(t-1 I

= = = =

perubahan relatif rasio keuangan untuk periode t rasio keuangan pada periode t rasio keuangan periode t 1 data observasi ke-i.

Rasio-rasio keuangan yang dimasukkan ke dalam analisis sebanyak 49 yang diambil dari beberapa textbook tentang analisis keuangan serta dari penelitian-penelitian sebelumnya terutama yang dilakukan oleh Machfoedz (1994). Populasi yang diteliti meliputi perusahaan manufaktur yang mempublikasikan laporan keuangan tahunannya di Pasar Modal. Pembatasan populasi yang hanya meliputi perusahaan-perusahaan yang go public dimaksudkan untuk menghindari pengaruh perbedaan karakteristik antara perusahaan yang go public dengan perusahaan yang tidak go public (Zainuddin dan Hartono, 1999). Dari populasi tersebut, mula-mula sampel diambil secara purposive, yaitu perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEJ) yang mempublikasikan laporan keuangannya pada tahun 1993, 1994, 1995, 1996, dan 1997. Kemudian, dari sampel yang memenuhi kriteria tersebut dipilih sampel acak (random) dengan menggunakan angka random sebanyak 62 perusahaan (50% dari jumlah populasi) untuk dijadikan sampel penelitian. Data penelitian ini adalah laba dan rasio keuangan yang tersedia dan dapat dihitung dari laporan keuangan. Dari laporan keuangan yang masuk ke dalam sampel, laporan keuangan tahun 1993 dan 1994 digunakan untuk menghitung perubahan relatif rasio keuangan. Laporan keuangan tahun 1994, 1995, 1996, dan 1997 digunakan untuk menghitung perubahan laba. Metode Analisis Dalam rangka menguji hubungan linier antara perubahan laba sebagai variabel dependen dengan perubahan relatif rasio-rasio keuangan sebagai variabel independen dilakukan pemilihan atas 49 rasio keuangan, sehingga diperoleh rasio-rasio keuangan yang secara signifikan dapat dijadikan sebagai prediktor perubahan laba. Metode pemilihan variabel yang digunakan adalah stepwise regression dengan kriteria seleksi pada tingkat

Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi ASIA Malang

Jurnal Ilmiah Bisnis dan Ekonomi ASIA

Vol. 3 No. 1. Desember 2008

alpha 10% dan kriteria eliminasi pada tingkat alpha 12,5%. Dengan metode ini, rasio-rasio keuangan yang telah dihitung perubahan relatifnya sebagai variabel independen mula-mula dipilih yang memiliki korelasi parsial terbesar untuk kemudian diuji tingkat signifikansi hubungannya dengan perubahan laba. Jika tingkat alphanya sama dengan atau lebih kecil dari kriteria seleksi 10% maka rasio keuangan tersebut akan dimasukkan ke dalam model prediksi. Langkah berikutnya dilakukan dengan cara yang sama dengan langkah pertama, hanya saja pada setiap langkah memasukkan satu variabel ke dalam model akan dilakukan pengujian atas model yang baru terbentuk tersebut. Jika pada sejumlah rasio keuangan yang telah dimasukkan terdapat rasio keuangan yang karena pengaruh rasio keuangan lainnya memiliki tingkat alpha di atas kriteria eliminasi 12,5%, maka rasio keuangan tersebut akan dihilangkan dari model prediksi. Langkah seleksi dan eliminasi ini akan dihentikan jika dari sekian banyak rasio keuangan yang belum dimasukkan sudah tidak ada lagi yang memiliki korelasi parsial dengan perubahan laba pada tingkat alpha yang sama dengan atau lebih kecil dari kriteria seleksi 10%, sedangkan model prediksi yang telah terbentuk sudah tidak lagi mengandung rasio keuangan yang memiliki tingkat alpha di atas kriteria eliminasi 12,5%. Di antara metode pemilihan variabel yang baku yang tersedia, stepwise regression relatif memiliki kelebihan karena dengan prosedur seleksi dan eliminasi yang dilakukan pada setiap langkahnya memungkinkan analisis secara detail atas variabel-variabel yang akhirnya dimasukkan ke dalam model prediksi, baik secara individual maupun gabungan dari variabel-variabel tersebut (Mendenhall dan Reinmuth, 1982). Hipotesis nol (null hypothesis) penelitian ini akan ditolak dalam arti terdapat hubungan yang signifikan antara rasio keuangan dengan perubahan laba di masa yang akan datang, jika setidaknya terdapat satu rasio keuangan yang terseleksi sebagai prediktor perubahan laba untuk masing-masing periode yang dianalisis. Sebaliknya hipotesis nol (null hypothesis) akan diterima dalam arti tidak terdapat hubungan yang signifikan antara rasio keuangan dengan perubahan laba di masa yang akan datang, jika tidak terdapat satu pun rasio keuangan yang terseleksi sebagai prediktor perubahan laba. Keseluruhan analisis dan pengujian statistik dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan alat bantu perangkat lunak SPSS 6.0 for Windows. Analisis Data dan Pembahasan Penelitian ini didasarkan pada data yang tersedia di dalam Indonesian Capital Market Directory tahun 1996, 1997, dan 1998, dan telah dikonfirmasikan validitasnya dengan Laporan Tahunan (Annual Report) yang dipublikasikan perusahaan yang terdapat pada Pusat Referensi Pasar Modal (PRPM) di Bursa Efek Indonesia. Berdasarkan pemilihan sampel yang telah dilakukan, diperoleh sampel sejumlah 62 perusahaan yang akan dimasukkan ke dalam analisis. Di antara 62 sampel tersebut, delapan perusahaan tidak mencatat akun Long-term Liability di dalam laporan keuangannya untuk tahun 1993 dan/atau 1994. Hal ini mengakibatkan penghitungan rasio keuangan yang melibatkan akun Long-term Liability dan penghitungan perubahan laba relatifnya memiliki angka pembilang nol, sehingga hasilnya menjadi tidak terdefinisikan. Delapan sampel ini kemudian dikeluarkan dari analisis, sehingga jumlah sampel yang dianalisis menjadi 54 perusahaan.

Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi ASIA Malang

Jurnal Ilmiah Bisnis dan Ekonomi ASIA

Vol. 3 No. 1. Desember 2008

Rasio Keuangan dan Perubahan Laba Satu Tahun yang Akan Datang Berdasarkan desain penelitian sebagaimana diuraikan pada bab sebelumnya, maka 49 rasio keuangan yang telah dihitung perubahan relatifnya untuk tahun 1994 diuji hubungan liniernya dengan perubahan laba untuk tahun 1995. Jika secara statistik ditemukan hubungan yang signifikan, maka rasio keuangan dianggap memiliki kegunaan untuk dijadikan sebagai prediktor perubahan laba satu tahun yang akan datang. Dengan menggunakan metode pemilihan variabel stepwise regression terseleksi tujuh rasio keuangan untuk dimasukkan ke dalam model regresi. Tujuh rasio keuangan tersebut disajikan dalam Tabel 1. Tabel 1 Rasio-Rasio Keuangan yang Terseleksi untuk Periode Prediksi Perubahan Laba Satu Tahun yang Akan Datang Multiple R : R Square : Adjusted R Square :
Variables CGSI CGSNS NSQA NSTR PBTSE WCNS WCTA (Constant)

0,77 0,59 0,52


b 1,19 -3,78 0,46 -0,86 -1,40 -0,44 1,01 0,33

Standard Error: F Value : Signif F :


t Value 4,776 -3,446 1,914 -2,768 -6,586 -2,408 3,428 2,496

0,754 9,294 0,000


Signif t 0,000 0,001 0,062 0,008 0,000 0,020 0,001 0,016

Dari analisis varians diperoleh R Square sebesar 0,59. Ini berarti kurang lebih 59% variasi perubahan laba satu tahun yang akan datang (terhadap nilai rata-ratanya) dapat dijelaskan dengan tujuh rasio keuangan yang terseleksi. Nilai F sebesar 9,294 dengan signifikansi pada tingkat alpha di bawah 1% menunjukkan bahwa setidaknya satu dari tujuh rasio keuangan yang terseleksi memiliki hubungan yang signifikan dengan perubahan laba satu tahun yang akan datang. Untuk dapat melakukan interpretasi statistik terhadap rasio keuangan secara individual terlebih dahulu harus diuji kemungkinan terjadinya multikolinieritas. Multikolinieritas terjadi jika dua atau lebih variabel independen berkorelasi satu sama lain (Mendenhall dan Reinmuth, 1982). Variabel yang menyebabkan

Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi ASIA Malang

10

Jurnal Ilmiah Bisnis dan Ekonomi ASIA

Vol. 3 No. 1. Desember 2008

multikolinieritas dapat dideteksi dari nilai tolerance yang lebih kecil dari 0,1 atau nilai VIF yang lebih besar dari 10 (Zainuddin dan Hartono, 1994). Besarnya nilai tolerance dan nilai VIF dari rasio-rasio keuangan yang terseleksi disajikan dalam Tabel 2. Tabel 2 Hasil Pengujian Kemungkinan Terjadinya Multikolinieritas
pada Rasio Keuangan untuk Periode Prediksi Satu Tahun

Variables CGSI CGSNS NSQA NSTR PBTSE WCNS WCTA

Tolerance Value 0,669 0,781 0,632 0,684 0,760 0,101 0,101

Variance Inflation Factor 1,495 1,280 1,583 1,463 1,317 9,923 9,862

Dari hasil pengujian tersebut tampak bahwa rasio-rasio keuangan yang terseleksi memiliki nilai tolerance yang lebih besar dari 0,1 dengan nilai VIF yang lebih kecil dari 10. Ini menunjukkan bahwa dari semua rasio keuangan tersebut tidak ada satu pun yang menyebabkan terjadinya multikolinieritas, sehingga dapat dilakukan interpretasi statistik terhadap rasio-rasio keuangan secara individual. Jika rasio-rasio keuangan yang terseleksi memiliki hubungan yang signifikan secara individual dengan perubahan laba satu tahun yang akan datang, maka rasio-rasio keuangan tersebut bisa digunakan sebagai prediktor perubahan laba untuk satu tahun yang akan datang. Parameter-parameter yang disajikan dalam Tabel 3 menunjukkan tiga rasio keuangan memiliki korelasi positif dengan perubahan laba satu tahun yang akan datang. Rasio-rasio keuangan tersebut meliputi : Cost of Goods Sold to Inventories (CGSI), Net Sales to Quick Assets (NSQA), dan Working Capital to Total Assets (WCTA). Empat rasio keuangan lainnya memiliki korelasi negatif dengan perubahan laba satu tahun yang akan datang, yaitu : Cost of Goods Sold to Net Sales (CGSNS), Net Sales to Trade Receivables (NSTR), Profit before Taxes to Shareholders' Equity (PBTSE), dan Working Capital to Net Sales (WCNS). Dari tujuh rasio keuangan tersebut, hanya satu yang "sedikit" konsisten dengan hasil penelitian Machfoedx (1994) yaitu rasio PBTSE. Dikatakan "sedikit" konsisten karena rasio keuangan yang ditemukan Machfoedx sebenarnya adalah Profit After Taxes to Shareholders' Equity (PATSE). Dengan menggunakan uji statistik t, rasio-rasio keuangan yang terseleksi berhubungan secara individual dengan perubahan laba satu tahun yang akan datang pada signifikansi dengan tingkat alpha lebih kecil atau sama dengan 6% dan lima di antaranya dengan tingkat alpha di bawah 1% (lihat Tabel 1). Ini berarti rasio-rasio keuangan tersebut memiliki hubungan yang signifikan secara individual dengan perubahan laba satu tahun yang akan datang. Dengan kata lain, hipotesis nol (null hypothesis) pertama penelitian ini

Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi ASIA Malang

11

Jurnal Ilmiah Bisnis dan Ekonomi ASIA

Vol. 3 No. 1. Desember 2008

ditolak yang berarti model regresi yang dihasilkan dalam analisis ini dapat digunakan sebagai model prediksi perubahan laba satu tahun yang akan datang. Rasio Keuangan dan Perubahan Laba DuaTahun yang Akan Datang Dalam rangka menguji hipotesis kedua, 49 rasio keuangan yang telah dihitung perubahan relatifnya untuk tahun 1994 diuji hubungan liniernya dengan perubahan laba tahun 1996. Aplikasi stepwise regression untuk periode prediksi perubahan laba dua tahun yang akan datang menghasilkan lima rasio keuangan yang terseleksi ke dalam model regresi. Lima rasio keuangan tersebut disajikan dalam Tabel 3. Analisis varians menunjukkan R Square sebesar 0,46 yang berarti bahwa kurang lebih 46% variasi perubahan laba dua tahun yang akan datang (terhadap nilai rata-ratanya) dapat dijelaskan oleh lima rasio keuangan yang terseleksi. Besarnya nilai F adalah 8,158 dengan signifikansi pada tingkat alpha di bawah 1%, menunjukkan paling sedikit satu dari lima rasio keuangan yang terseleksi memiliki hubungan yang signifikan dengan perubahan laba satu tahun yang akan datang. Tabel 3 Rasio-Rasio Keuangan yang Terseleksi untuk Periode Prediksi Perubahan Laba Dua Tahun yang Akan Datang Multiple R : R Square : Adjusted R Square : Variables CGSI CGSNS GPNS INS OPPBT (Constant) 0,68 0,46 0,40 b -2,21 36,05 8,69 -4,52 0,35 0,53 Standard Error: F - Value : Signif F : t - Value -1,722 5,384 3,721 -2,416 4,626 1,448 2,296 8,158 0,000 Signif t 0,092 0,000 0,001 0,020 0,000 0,154

Pengujian atas variabel yang mungkin menyebabkan multikolinieritas disajikan dalam Tabel 4.

Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi ASIA Malang

12

Jurnal Ilmiah Bisnis dan Ekonomi ASIA

Vol. 3 No. 1. Desember 2008

Tabel 4 Hasil Pengujian Kemungkinan Terjadinya Multikolinieritas pada Rasio Keuangan untuk Periode Prediksi Dua Tahun Variables CGSI CGSNS GPNS INS OPPBT Tolerance Value 0,236 0,195 0,192 0,179 0,771 Variance Inflation Factor 4,242 5,135 5,203 5,573 1,297

Pengujian tersebut memberikan nilai tolerance yang lebih besar dari 0,1 dan nilai VIF yang lebih kecil dari 10, sehingga semua rasio keuangan yang terseleksi tidak mengandung multikolinieritas dan dapat dianalisis secara individual. Pengujian statistik t menunjukkan semua rasio keuangan berhubungan secara individual dengan perubahan laba dua tahun yang akan datang pada tingkat signifikansi dengan tingkat alpha lebih kecil dari 10% (lihat Tabel 3). Rasio-rasio keuangan tersebut meliputi : Cost of Goods Sold to Inventories (CGSI), Cost of Goods Sold to Net Sales (CGSNS), Gross Profit to Net Sales (GPNS), Inventories to Net Sales (INS), dan Operating Profit to Profit before Taxes (OPPBT). Tiga dari lima rasio keuangan tersebut signifikan pada tingkat alpha di bawah 1%. Hasil pengujian ini menolak hipotesis nol (null hypothesis) kedua penelitian ini yang berarti bahwa rasio-rasio keuangan ternyata masih memiliki kegunaan prediktif terhadap perubahan laba dua tahun yang akan datang yang oleh karenanya temuan ini merupakan perluasan atas beberapa hasil penelitian sebelumnya. Rasio Keuangan dan Perubahan Laba Tiga Tahun yang Akan Datang Pengujian hipotesis ketiga juga dilakukan dengan memasukkan 49 rasio keuangan yang telah dihitung perubahan relatifnya untuk tahun 1994 ke dalam stepwise regression untuk diuji hubungan liniernya dengan perubahan laba tahun 1997. Akan tetapi, pengujian ini hanya dilakukan terhadap sampel sebanyak 50 perusahaan. Hal ini disebabkan empat perusahaan yang semula masuk ke dalam sampel tidak mempublikasikan laporan keuangannya untuk tahun 1997. Pengujian kegunaan rasio keuangan untuk memprediksi perubahan laba tiga tahun yang akan datang menghasilkan dua rasio keuangan yang akhirnya terseleksi ke dalam model regresi. Dua rasio keuangan tersebut disajikan dalam Tabel 5.

Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi ASIA Malang

13

Jurnal Ilmiah Bisnis dan Ekonomi ASIA

Vol. 3 No. 1. Desember 2008

Tabel 5 Rasio-Rasio Keuangan yang Terseleksi untuk Periode Prediksi Perubahan Laba Tiga Tahun yang Akan Datang Multiple R : R Square : Adjusted R Square : Variables IWC QATA (Constant) 0,46 0,21 0,18 b -21,97 -42,96 -6,82 Standard Error: F - Value : Signif F: t - Value -3,527 -2,154 -0,659 68,831 6,222 0,004 Signif t 0,001 0,036 0,513

Besarnya R Square menunjukkan kemampuan penjajagan data (goodness of fit) yang relatif rendah, yaitu hanya 21% dari variasi perubahan laba tiga tahun yang akan datang (terhadap nilai rata-ratanya) yang dapat dijelaskan oleh dua rasio keuangan yang terseleksi. Hal ini selain disebabkan oleh kemungkinan tidak dimasukkannya variabel lain yang berpengaruh (di luar 49 rasio keuangan yang telah dimasukkan) ke dalam analisis, juga bisa disebabkan oleh perilaku rasio-rasio keuangan yang dianalasis yang tidak lagi bisa dijajagi secara linier. Meskipun demikian, pengujian statistik F masih menghasilkan nilai F sebesar 6,222 dengan signifikansi pada tingkat alpha di bawah 1%. Hal ini menunjukkan setidaknya satu dari dua rasio keuangan yang terseleksi memiliki hubungan yang signifikan dengan perubahan laba tiga tahun yang akan datang. Pengujian atas variabel yang mungkin menyebabkan multikolinieritas disajikan dalam Tabel 6. Pengujian tersebut masih menunjukkan nilai tolerance yang lebih besar dari 0,1 dengan nilai VIF yang lebih kecil dari 10. Ini berarti dua rasio keuangan yang terseleksi dapat dianalisis secara individual. Tabel 6 Hasil Pengujian Kemungkinan Terjadinya Multikolinieritas pada Rasio Keuangan untuk Periode Prediksi Tiga Tahun Variables IWC QATA Tolerance Value 0,641 0,641 Variance Inflation Factor 1,560 1,560

Berdasarkan uji statistik t, dua rasio keuangan yang terseleksi berhubungan secara individual dengan perubahan laba tiga tahun yang akan datang pada signifikansi di bawah tingkat alpha 5%, yaitu Inventories to Working Capital (IWC) pada tingkat alpha 0,1% dan

Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi ASIA Malang

14

Jurnal Ilmiah Bisnis dan Ekonomi ASIA

Vol. 3 No. 1. Desember 2008

Quick Assets to Total Assets (QATA) pada tingkat alpha 3,6% (lihat Tabel 5). Hasil pengujian ini, terlepas dari kebaikan penjajagan data (goodness of fit) model ini yang relatif rendah, berhasil menolak hioptesis nol (null hypothesis) ketiga penelitian ini yang berarti rasio keuangan ternyata masih memiliki kegunaan prediktif atas perubahan laba untuk tiga tahun yang akan datang. Perbedaan Model Prediksi antar Periode Review atas hasil-hasil pengujian hipotesis pertama, kedua, dan ketiga penelitian ini menunjukkan bahwa model prediksi perubahan laba satu tahun, dua tahun, dan tiga tahun yang akan datang berbeda satu sama lain (lihat Tabel 7). Dari tabel tersebut tampak, meskipun rasio Cost of Goods Sold to Inventories (CGSI) dan Cost of Goods Sold to Net Sales (CGSNS) bisa digunakan sebagai prediktor perubahan laba untuk satu tahun dan dua tahun yang akan datang, akan tetapi arah korelasi kedua rasio tersebut berlawanan untuk masing-masing periode prediksi.
Tabel 7 Perbandingan Model Prediksi Perubahan Laba Satu Tahun, Dua Tahun, dan Tiga Tahun yang Akan Datang Variabel CGSI CGSNS GPNS INS IWC NSQA NSTR OPPBT PBTSE QATA WCNS WCTA + + + Arah Korelasi Dua Tahun Tiga Tahun + + -

Satu Tahun + -

Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi ASIA Malang

15

Jurnal Ilmiah Bisnis dan Ekonomi ASIA

Vol. 3 No. 1. Desember 2008

Terdapat pula kecenderungan semakin berkurangnya kemampuan penjajagan data (goodness of fit) yang diikuti oleh penurunan jumlah rasio keuangan yang bisa digunakan sebagai prediktor perubahan laba dengan semakin panjangnya periode prediksi. Hal ini sebagaimana telah disinggung sebelumnya mungkin disebabkan oleh tidak dimasukkannya variabel lain yang berpengaruh ke dalam analisis dan/atau menunjukkan semakin berkurangnya linieritas model prediksi seiring dengan semakin panjangnya periode prediksi. Dengan menghubungkan tujuh rasio keuangan prediktor perubahan laba satu tahun yang akan datang terhadap perubahan laba dua tahun dan tiga tahun yang akan datang, diperoleh angka-angka statistik sebagaimana disajikan dalam Tabel 8. Dari Tabel 8 tampak bahwa kemampuan penjajagan data (goodness of fit) model regresi juga semakin rendah dengan semakin panjangnya periode prediksi. Pengujian statistik F dan statistik t untuk periode prediksi perubahan laba tiga tahun yang akan datang bahkan menunjukkan tidak adanya signifikansi hubungan antara tujuh rasio keuangan yang dimasukkan ke dalam analisis dengan perubahan laba tiga tahun yang akan datang. Tabel 8 Aplikasi Model Prediksi Satu Tahun untuk Memprediksi Perubahan Laba Dua Tahun dan Tiga Tahun yang Akan Datang Hasil Analisis Varians Statistik 2 Tahun 3 Tahun Statistik 2 Tahun 3 Tahun Multiple R: R Square: Adj. R Sq.: 0,43 0,18 0,06 0,14 0,02 -0,14 Std. Error F-Value Signif F 2,883 1,475 0,200 81,118 0,114 0,997

Analisis Variabel Independen Individual Variabel CGSI CGSNS NSQA NSTR PBTSE Dua Tahun t-Value Signif t 0,470 0,641 2,540 -1,409 0,894 0,645 0,015 0,165 0,376 0,522 Tiga Tahun t-Value Signif. t 0,299 0,767 0,283 0,114 0,215 -0,052 0,779 0,910 0,831 0,959

Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi ASIA Malang

16

Jurnal Ilmiah Bisnis dan Ekonomi ASIA

Vol. 3 No. 1. Desember 2008

WCNS WCTA (Constant)

-1,147 1,240 1,226

0,257 0,221 0,226

-0,184 0,372 -0,598

0,855 0,712 0,553

Dari sini tampak, bahwa meskipun tasio-rasio keuangan secara statistik dapat digunakan sebagai prediktor perubahan laba, baik untuk satu tahun, dua tahun, maupun tiga tahun yang akan datang, akan tetapi model prediksi untuk masing-masing periode prediksi tersebut berbeda satu sama lain. Ini berarti hipotesis nol (null hypothesis) keempat penelitian ini juga berhasil ditolak.

Kesimpulan dan Implikasi Jika angka-angka statistik sebagaimana dibahas dalam bab sebelumnya harus digunakan sebagai dasar pengambilan kesimpulan, maka beberapa temuan penelitian ini dapat diringkaskan sebagai berikut : 1. Penelitian ini menemukan bukti secara statistik bahwa tujuh rasio keuangan dapat digunakan sebagai prediktor perubahan laba satu tahun yang akan datang. Temuan ini secara umum sesuai dengan temuan beberapa penelitian sebelumnya, meskipun secara mencolok masih menunjukkan inkonsistensi rasio-rasio keuangan individual yang terseleksi ke dalam model prediksi yang dihasilkan penelitian ini dibandingkan dengan penelitian-penelitian tersebut. Hal ini mungkin disebabkan oleh perbedaanperbedaan pada tataran prosedural dari penelitian-penelitian tersebut 2. Perluasan temuan penelitian ini adalah bahwa lima rasio keuangan ternyata juga dapat digunakan sebagai prediktor perubahan laba dua tahun yang akan datang. Temuan ini diperoleh dengan mengulang aplikasi metode pemilihan variabel stepwise regression untuk periode prediksi perubahan laba dua tahun yang akan datang. 3. Pengulangan aplikasi metode stepwise regression untuk periode prediksi perubahan laba tiga tahun yang akan datang juga berhasil menemukan bukti statistik bahwa dua rasio keuangan memiliki kegunaan prediktif terhadap perubahan laba tiga tahun yang akan datang, meskipun model prediksi yang dihasilkan untuk periode tiga tahun ternyata menunjukkan angka koefisien determinasi yang relatif kecil yang menunjukkan kemampuan penjajagan data (goodness of fit) yang relatif rendah. 4. Berdasarkan temuan-temuan tersebut di atas dapat diketahui pula adanya perbedaan model prediksi perubahan laba untuk satu tahun, dua tahun, dan tiga tahun yang

Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi ASIA Malang

17

Jurnal Ilmiah Bisnis dan Ekonomi ASIA

Vol. 3 No. 1. Desember 2008

akan datang. Selain itu, kemampuan penjajagan data (goodness of fit) juga semakin menurun yang diikuti oleh pengurangan jumlah rasio keuangan yang bisa digunakan sebagai prediktor perubahan laba seiring dengan semakin panjangnya periode prediksi. Apabila penelitian-penelitian sejenis masih dianggap perlu untuk dilanjutkan dalam kerangka penyusunan teori formal tentang analisis laporan keuangan, maka beberapa implikasi dari penelitian ini adalah : 1. Dengan masih relatif sedikitnya temuan-temuan empiris tentang kegunaan objektif rasio keuangan terhadap perubahan laba termasuk pengkayaan desain penelitiannya, maka replikasi penelitian ini dengan inovasi-inovasi sistematis perancangannya masih sangat penting untuk dilakukan, terutama untuk mendapatkan kepastian tentang konsistensi rasio-rasio keuangan individual yang bisa digunakan sebagai prediktor perubahan laba. 2. Kecenderungan menurunnya angka koefisien determinasi (goodness of fit) model prediksi yang diikuti oleh berkurangnya rasio-rasio keuangan yang bisa digunakan sebagai prediktor perubahan laba seiring dengan semakin panjangnya periode prediksi, selain memerlukan elaborasi hipotetis tentang variabel-variabel penyebab perubahan laba juga menuntut dilakukannya inovasi desain penelitian yang melampaui model linier. 3. Salah satu keterbatasan penelitian ini yang mendasarkan kepada time-series data adalah tidak dimasukkannya indikator-indikator ekonomi makro dalam desain penelitiannya. Terutama di negara berkembang seperti Indonesia, tingkat inflasi misalnya, merupakan variabel yang secara logis sangat berpengaruh terhadap angka-angka akuntansi sebagai data mentah penelitian ini. 4. Perluasan temuan penelitian ini, yakni adanya bukti statistik tentang kegunaan prediktif rasio keuangan terhadap perubahan laba dua tahun (dan tiga tahun) yang akan datang mengindikasikan fenomena yang "anomalis" menyangkut rasio Cost of Goods Sold to Inventories (CGSI) dan Cost of Goods Sold to Net Sales (CGSNS). Kedua rasio keuangan tersebut tampak memiliki kegunaan prediktif, baik terhadap perubahan laba satu tahun maupun dua tahun yang akan datang, akan tetapi dengan arah korelasi yang berlawanan antar periode prediksi. Hasil ini dikatakan anomalis karena sulit diinterpretasikan dengan penalaran yang logis meskipun bisa saja dijelaskan sebagai akibat dari perilaku perubahan laba akuntansi sebagai time series data yang tidak berkorelesai linier terhadap dua rasio keuangan tersebut seiring dengan berlalunya waktu. Akan tetapi, hasil tersebut telah mengingatkan penulis kepada kritik yang dilontarkan oleh Gilman (1925) sehubungan dengan kecenderungan penggunaan angka-angka rasio keuangan (termasuk angka perubahan relatifnya) sebagai indikator fundamental dalam praktek bisnis dan studi ekonomi (Lihat hal. 13). Hal ini secara lebih jauh berimplikasi kepada keharusan melakukan pengkajian-pengkajian teoritis yang lebih intensif terhadap rasio keuangan dan fenomena-fenomena akuntansi lainnya, bahkan sampai pada tataran yang bersifat metodologis. Kenyataannya, meskipun aplikasi pendekatan

Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi ASIA Malang

18

Jurnal Ilmiah Bisnis dan Ekonomi ASIA

Vol. 3 No. 1. Desember 2008

positivistik dalam akuntansi telah dikembangkan lebih dari dua dekade, bukankah belum terlihat kontribusi yang cukup bermakna yang telah diberikannya, baik pada dimensi teoritis maupun terhadap praktek akuntansi yang tengah berlangsung?

Daftar Pustaka Altman, E. I. 1968. "Financial Ratios, Discriminant Analysis, and the Prediction of Corporate Bankruptcy." Journal of Jinance (September) : 589 - 609. Brigham, E. F. 1991. Fundamentals of Financial Management. Sixth Edition, New York: Dryden Press. Dambolena I. G. dan S. J. Khoury.1980. "Ratio Stability and Corporate Failure." The Journal of Finance (September) : 1017 - 1026. FASB. 1978. Statement of Financial Accounting Concepts Ho. 1. Objectives of Jinancial Reporting by Business Enterprises. FASB. 1980. Statement of Financial Accounting Concepts No. 2, Qualitative Characteristics of Accounting Information. Freeman, R. N., J. A. Ohlson, dan S. M. Penman. 1982. Book Rate-of-Return and Prediction of Earnings Changes, Journal of Accounting Research (Autumn) : 639 653. Friedlob, G. T., dan F. J. Plewa, Jr. 1996. Understanding Balance Sheet. New York : John Willey and Sons, Inc. Fuad Hassan dan Koentjaraningrat. 1997. Beberapa Azas Metodologi Ilmiah, MetodeMetode Penelitian Masyarakat (Koentjaraningrat, Red.). Edisi Ketiga, Indonesia : PT Gramedia Pustaka Utama. Gibson, C. H. 1982. How Industry Perceived Financial Ratios, Management Accounting (April) : 13 - 19. Griffin, P. A. 1976. Competitive Information in the Stock Market : An Empirical Study on Earnings, Dividends, and Analyst Forecasts, Journal of Finance (May) : 631 650. Helfert, E. A. 1991. Analisis Laporan Keuangan (terj. Herman Wibowo), Edisi Ketujuh, Indonesia : Penerbit Erlangga. Hendriksen. 1982. Teori Akuntansi (terj. Marianus Sinaga). Jld. 1. Indonesia : Penerbit Erlangga. Houghton, K. A. 1984. Accounting Data and the Prediction of Business Failure : The Setting of Prior and Age of Data. Journal of Accounting Research (Spring) : 361 368. Lee, J. Y. dkk. 1982. Use Only Four Financial Ratios to Predict Failure, Bond Ratings. Journal of Business Forecasting (Winter) : 24 - 25. Machfoedz, M. 1994. Financial Ratios Analysis and the Earnings Changes in Indonesia, Kelola, No. : 114 - 137. Mendenhall, W., dan J. E. Reinmuth. 1982. Statistik untuk Manajemen dan Ekonomi (terj. Drs. Sumarno Zain, MBA dkk). Jld. 2. Indonesia : Penerbit Erlangga. O'Conner, M. C. 1973. On the Usefulness of Financial Ratios to Investors in Common Stock." The Accounting Review (April) : 339 - 352. Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi ASIA Malang 19

Jurnal Ilmiah Bisnis dan Ekonomi ASIA

Vol. 3 No. 1. Desember 2008

Ou, J. A. 1990. The Information Content of Nonearnings Accounting Numbers as Earnings Predictors." Journal of Accounting Research (Spring) : 392 -411. Ou, J. A. dan S, H. Penman. 1989. "Financial Analysis and of Stock Return." Journal of Accounting and Economics 11: 295 - 329. Penman, S. H. 1992. Financial Statement Information of Earnings Change, The Accounting Review (July) : 563 - 577. Pinches, G. E. dkk. 1973. The Hierarchical Classification of Financial Ratios. Journal of Business Research (October) : 294 - 309. Rege, U. P. 1984. Accounting Ratios to Locate Take-over Target. Journal of Business, Finance, and Accounting (Autumn) : 301 - 311. Sinkey, J. F. Jr. 1975. "A Multivariate Statistical Analysis of the Characteristics of Problem Banks." The Journal of Finance (March) : 21 - 36. Smith, J. M., dan K. F. Skousen. 1987. Akuntansi Intermediate : Volume Komprehensif (terj. Tim Penerjemah Penerbit Erlangga). Edisi Kesembilan, Indonesia : Penerbit Erlangga. Supranto, J. 1989. Statistik: Teori dan Aplikasi. Edisi Kelima.Jld. 2. Indonesia : Penerbit Erlangga. Thomson, J. B. 1991. "Predicting Bank Failure in 1980s." Economics Review (First Quarter) : 9 - 20. Tim Penelitian dan Pengembangan WAHANA KOMPUTER Semarang. 1996. Panduan Lengkap SPSS 6.0 for Windows. Yogyakarta : Penerbit ANDI. Whittred, G., dan I. Zimmer. 1984. Timeliness of Financial Reporting and Financial Distress. The Accounting Review (April) :287 - 295. Zainuddin dan J. Hartono. 1999. Manfaat Rasio Keuangan dalam Memprediksi Pertumbuhan Laba, Jurnal Riset Akuntansi Indonesia (Januari) ; 66 - 90.

Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi ASIA Malang

20