Anda di halaman 1dari 15

PRESENTASI KASUS IDENTITAS Nama Umur Jenis kelamin Alamat Masuk RSUAM : Hendra : 2 tahun : Laki-laki : Kota agung,

Kampung huripan : 16 sepember 2003, pukul 14.30 WIB

ANAMNESA (Alloanamnesa) Keluhan utama Keluhan tambahan: : Mata kanan menonjol keluar

Pada penonjolan mata kanan keluar nanah dan terasa nyeri Nafsu makan menurun Riwayat penyakit sekarang : Pasien datang dengan keluhan terjadi pembesaran pada pada mata kanan sehingga nampak menonjol keluar, ibu pasien menduga hal ini disebabkan karena kelilipan, lalu oleh pasien di kucek-kucek. Gejala awal mulai tampak 2 bulan yang lalu, mata kanan mulai tampak menonjol keluar, oleh orang tuanya pasien dibawa berobat ke dukun setempat, tetapi tidak memberikan kesembuhan bahkan penonjolan mata kanan semakin hari semakin membesar. Akhirnya oleh orang tuanya pasien dibawa berobat ke R.S.U Pring Sewu, oleh dokter setempat di diagnosis sebagai suspect retinoblastoma o.d dan segera memberi surat rujukan ke R.S.U.A.M, Bandar Lampung. Riwayat penyakit dahulu: Tidak ada Riwayat penyakit keluarga: Tidak ada yang menderita penyakit seperti ini

PEMERIKSAAN FISIK Status present Keadaan umum Kesadaran Nadi Pernafasan Suhu Kepala Bentuk Mata Hidung Telinga Mulut Toraks Paru Abdomen Hepar Lien Ekstremitas Tidak ada kelainan : Tidak teraba : Tidak teraba Jantung : Dalam batas normal : Simetris : Lihat status oftalmologis : Tidak ada kelainan : Tidak ada kelainan : Tidak ada kelainan Status generalis : Tampak sakit berat : Compos mentis : 80 x/menit : 22 x/menit : 36,50 C

Tekanan darah: Tidak dilakukan

: Dalam batas normal

PEMERIKSAAN PENUNJANG Darah rutin Hasil konsul : Foto toraks : Cor dan pulmo dalam batas normal Foto orbita : Tidak tampak kalsifikasi Tidak jelas dekstruksi / erosi pada tulang orbita Konsul spesialis anak : Hasil Konsul : Tidak ada kontra indikasi untuk operasi Konsul spesialis anestesi Hasil konsul : Setuju untuk eksenterasi O.D dengan narkose umum DIANOSIS KERJA O.D Eksolftalmus (+)(+) suspect Retinoblastoma Eksofitik ANJURAN PEMERIKSAAN Biopsi P.A : Hb Leukosit Hitung jenis LED Masa perdarahan Masa pembekuan : : : 13,2 gr % : 8100/ul : 0 / 1 / 0 / 65 / 34 / 0 : 15 mm/jam : 3 menit : 10 menit

Konsul spesialis radiologi

PENATALAKSANAAN 1. Umum 2. 3. Tirah baring Diet nasi biasa Infus D 5% (15 tetes/menit) Mata ditutup kasa steril Syrup Elkana 60 ml; 3 dd c I Gentamisin 0,3% EO, 3x1 OD Rencana operasi Eksenterasi dengan Narkose Umum

Medikamentosa

Operatif

RESUME Pasien datang dengan keluhan mata kanan menonjol keluar disertai keluarnya nanah (alloanamnesa) Dari pemeriksaan fisik ditemukan: OD: Visus: 0; Bulbus oculi: Eksolftalmus (+)(+); Palpebra superior, Palpebra inferior : Proptosis (+)(+); Conjunctiva palpebra, Conjunctiva fornices, Conjunctiva bulbi, Sklera: Tidak dapat dinilai; Kornea: Ulkus (+)(+); C.O.A, Iris, Pupil, Lensa : Tidak dapat dinilai. OS : Dalam batas normal Status present : Dalam batas normal Status generalis Status oftalmologi : Dalam batas normal :

Hasil pemeriksaan anjuran Biopsi P.A tidak dilakukan Diagnosis akhir O.D Eksolftalmus (+)(+) suspect Retinoblastoma Eksofitik Terapi 1. Operatif Eksenterasi + Radioterapi 2. Medikamentosa Antibiotika Gentamisin 0,3% EO, 3x1 OD Multi vitamin Syrup elkana 60 ml; 3 dd c I PROGNOSIS Qou ad vitam Qou ad fungsionam Qou ad sanationam : ad malam : ad malam : ad malam

FOLLOW UP Tanggal OD Visus Bulbus okuli Palpebra superior Palpebra inferior Konjungtiva palpebra Konjungtiva forniks Konjungtiva bulbi Sklera Kornea COA Iris Pupil Lensa Terapi 0 Eksolftalmus (+)(+) Proptosis (+)(+) Proptosis (+)(+) Tidak bisa dinilai Tidak bisa dinilai Tidak bisa dinilai Tidak bisa dinilai Ulkus (+)(+) Tidak bisa dinilai Tidak bisa dinilai Tidak bisa dinilai Tidak bisa dinilai 0 Eksolftalmus (+)(+) Proptosis (+)(+) Proptosis (+)(+) Tidak bisa dinilai Tidak bisa dinilai Tidak bisa dinilai Tidak bisa dinilai Ulkus (+)(+) Tidak bisa dinilai Tidak bisa dinilai Tidak bisa dinilai Tidak bisa dinilai 17 September 2003 18 September 2003

Syrup elkana 60 ml; 3 dd c I Syrup elkana 60 ml; 3 dd c I Gentamisin 0,3% EO, 3x1 Gentamisin 0,3% EO, 3x1

Tanggal OD Visus Bulbus okuli Palpebra superior Palpebra inferior Konjungtiva palpebra Konjungtiva forniks Konjungtiva bulbi Sklera Kornea COA Iris Pupil Lensa Terapi

19 September 2003 0 Eksolftalmus (+)(+) Proptosis (+)(+) Proptosis (+)(+) Tidak bisa dinilai Tidak bisa dinilai Tidak bisa dinilai Tidak bisa dinilai Ulkus (+)(+) Tidak bisa dinilai Tidak bisa dinilai Tidak bisa dinilai Tidak bisa dinilai

20 September 2003 0 Eksolftalmus (+)(+) Proptosis (+)(+) Proptosis (+)(+) Tidak bisa dinilai Tidak bisa dinilai Tidak bisa dinilai Tidak bisa dinilai Ulkus (+)(+) Tidak bisa dinilai Tidak bisa dinilai Tidak bisa dinilai Tidak bisa dinilai

Syrup elkana 60 ml; 3 dd c I Syrup elkana 60 ml; 3 dd c I Gentamisin 0,3% EO, 3x1 Gentamisin 0,3% EO, 3x1

Tanggal OD Visus Bulbus okuli Palpebra superior Palpebra inferior Konjungtiva palpebra Konjungtiva forniks Konjungtiva bulbi Sklera Kornea COA Iris Pupil Lensa Terapi

21 September 2003 0 Eksolftalmus (+)(+) Proptosis (+)(+) Proptosis (+)(+) Tidak bisa dinilai Tidak bisa dinilai Tidak bisa dinilai Tidak bisa dinilai Ulkus (+)(+) Tidak bisa dinilai Tidak bisa dinilai Tidak bisa dinilai Tidak bisa dinilai

22 September 2003 0 Eksolftalmus (+)(+) Proptosis (+)(+) Proptosis (+)(+) Tidak bisa dinilai Tidak bisa dinilai Tidak bisa dinilai Tidak bisa dinilai Ulkus (+)(+) Tidak bisa dinilai Tidak bisa dinilai Tidak bisa dinilai Tidak bisa dinilai

Syrup elkana 60 ml; 3 dd c I Syrup elkana 60 ml; 3 dd c I Gentamisin 0,3% EO, 3x1 Gentamisin 0,3% EO, 3x1

Tanggal OD Visus Bulbus okuli Palpebra superior Palpebra inferior Konjungtiva palpebra Konjungtiva forniks Konjungtiva bulbi Sklera Kornea COA Iris Pupil Lensa Terapi

23 September 2003 0 Eksolftalmus (+)(+) Proptosis (+)(+) Proptosis (+)(+) Tidak bisa dinilai Tidak bisa dinilai Tidak bisa dinilai Tidak bisa dinilai Ulkus (+)(+) Tidak bisa dinilai Tidak bisa dinilai Tidak bisa dinilai Tidak bisa dinilai

24 September 2003 0 Eksolftalmus (+)(+) Proptosis (+)(+) Proptosis (+)(+) Tidak bisa dinilai Tidak bisa dinilai Tidak bisa dinilai Tidak bisa dinilai Ulkus (+)(+) Tidak bisa dinilai Tidak bisa dinilai Tidak bisa dinilai Tidak bisa dinilai

Syrup elkana 60 ml; 3 dd c I Syrup elkana 60 ml; 3 dd c I Gentamisin 0,3% EO, 3x1 Gentamisin 0,3% EO, 3x1

RETINOBLASTOMA Adalah suatu neoplasma yang berasal dari neuroretina (sel batang dan kerucut) atau sel glia yang bersifat ganas. Kelainan ini bersifat kongenital, dua pertiga kasus muncul sebelum akhir tahun ketiga; walaupun jarang, dilaporkan kasus-kasus yang timbul di segala usia. Dapat mengenai kedua mata, yang merupakan kelainan yang diturunkan secara autosom dominan, dapat pula mengenai satu mata yang bersifat mutasi somatik. Frekwensi : satu diantara 30.000 kelahiran, pada wanita sama banyak dengan pria, dapat mengenai semua ras. Tumor ini tumbuhnya sangat cepat, sehingga vaskularisasi tumor tak dapat mengikuti tumbuhnya tumor. Oleh karenanya timbul degenerasi dan dan nekrosis disertai kalsifikasi. Retinoblastoma dapat tumbuh keluar (eksofitik) atau tumbuh kedalam (endofitik). Kedua jenis secara bertahap akhirnya mengisi mata dan meluas melalui saraf optikus ke otak dan di sepanjang saraf dan pembuluh pembuluh emisari di sklera ke jaringan orbita lainnya. Pada pemeriksaan histopatologik terdapat sel sel kecil, berbentuk bulat dengan nukleus besar yang hiperkromatik dan sitoplasma sedikit. Ditemukan daerah nekrosis dengan deposit kalsium. Gambaran khas pada retinoblastoma adanya rosette yang merupakan gambaran susunan sel kuboid yang mengelilingi suatu lumen dengan nukleus yang terletak didaerah basal. Retinoblastoma biasanya tidak disadari sampai perkembangannya cukup lanjut sehingga menimbulkan pupil putih (leukokoria), strabismus atau peradangan. Semua anak dengan strabismus atau peradangan okular harus dievaluasi untuk mencari adanya retinoblastoma. Di stadium-stadium awal, tumor biasanya terlihat hanya apabila dicari, misalnya pada anak yang memiliki riwayat keluarga positif atau pada kasus diman mata yang lain telah terkena. Gejala subyektif Sukar, karena anak tidak memberi keluhan. Kita harus waspada terhadap kemungkinan retinoblastoma. Bila terdapat kelainan yang mencurigakan seperti: Mata jereng (strabismus)

Di pupil tampak refleks putih (amourotic cats eye, leukokoria) Glaukoma Mata sering merah Penglihatan yang menurun DD/: leukokoria: Fibroplasi retrolensa Ablasi retina Katarak Membrana pupilaris persistans Oklusi pupil Retinoblastoma

Didapatkan 3 stadium: I. Stadium tenang Pupil lebar, dipupil tampak refleks kuning yang disebut amourotic cats eye. Hal inilah yang menarik perhatian orang tua penderita untuk kemudian berobat. Pada funduskopi, tampak bercak yang berwarna kuning mengkilap, dapat menonjol kedalam badan kaca. Di permukaannya ada neovaskularisasi dan perdarahan. Dapat disertai dengan ablasi retina. II. Stadium glaukoma Oleh karena tumor menjadi besar, menyebabkan tekanan intraokuler meninggi, glaukoma sekunder, yang disertai dengan rasa sakit yang sangat. Media refrakta menjadi keruh, sehingga pada funduskopi sukar menentukan besarnya tumor. III.Stadium ekstra okuler Tumor menjadi lebih besar, bola mata membesar, menyebabkan eksolftalmus, kemudian dapat pecah kedepan sampai keluar dari rongga orbita, disertai nekrosis diatasnya. Pertumbuhan dapat pula terjadi kebelakang sepanjang N.II dan masuk keruang tengkorak. Penyebaran ke kelenjar getah bening, juga dapat masuk kedalam pembuluh darah, untuk kemudian menyebar keseluruh tubuh.

Pengobatan: Bila diketahui dini dapat dilakukan: 1. Radiasi dengan sinar rontgen untuk menghancurkan tumor 2. Fotokoagulasi dengan sinar laser yang ditujukan kepada tumor, sehinggga mematikan tumornya. 3. Cryosurgery dengan suatu alat diberikan pada tumor, sehingga sel-sel tumor mati oleh suhu yang rendah (hypothermia). Tanpa merusak jaringan mata yang lain disekitarnya. 4. Kemoterapi dengan sitostatika. a. b. Pada stadium yang lebih lanjut: Bila masih intra okuler, dilakukan enukleasi bulbi Kalau sudah ekstra okuler, dilakukan eksenterasi orbita. Note: Pada keduanya (enukleasi bulbi, eksenterasi orbita) disusul dengan radiasi untuk menghindarkan dari kekambuhan. Pada sejumlah besar (diperkirakan berkisar dari 20% sampai 90%) pengidap retinoblastoma bilateral yang bertahan hidup, timbul tumor ganas primer kedua, terutama osteosarkoma, setelah beberapa tahun. Para pasien ini harus dievaluasi secara cermat seumur hidupnya.

DAFTAR PUSTAKA 1. Daniel G. vaughan. Oftalmologi umum. Edisi 14. Jakarta: Widya Medika, 2000 2. dr. Nana wijana. Ilmu penyakit mata. Cetakan ke 3, 1983

PRESENTASI KASUS RETINOBLASTOMA

DIAJUKAN OLEH FAISAL. S. LAINGKI 1101999068

PEMBIMBING / NARA SUMBER Dr. HELMI MUCHTAR, SpM Dr. JUNITA SHARA, SpM

DIAJUKAN SEBAGAI PRASYARAT MENGIKUTI UJIAN AKHIR KEPANITERAAN ILMU PENYAKIT MATA RSUD Dr. H. ABDUL MOELOEK, BANDAR LAMPUNG OKTOBER 2003

Anda mungkin juga menyukai