Anda di halaman 1dari 11

1

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Keratopati Bulosa adalah keadaan pembengkakan kornea yang diakibatkan adanya kerusakan endotel sehingga terjadi ketidakseimbangan hidrasi dari kornea.1 Kelainan ini umumnya terjadi pada usia lanjut. Ada dua macam keratopati bulosa yaitu keratopati bulosa afakik jika lensa alami telah diangkat dan tidak diganti dengan lensa buatan, dan keratopati bulosa pseudofakik jika jika lensa alami telah diganti oleh lensa buatan. Keratopati Bulosa dapat diakibatkan oleh kombinasi trauma mekanis, komplikasi operasi yang lama, peradangan, dan peningkatan tekanan intra okuler, yang mengakibatkan dekompensasi akut kornea dengan penebalan kornea. Seiring makin berkembang teknik pembedahan mata, terutama pembedahan katarak, maka komplikasi dari pembedahan tersebut juga semakin meningkat, salah satunya adalah peradangan dan edema kronis yang dapat mengakibatkan keratopati bulosa.2 Penelitian tahun 1993-2001 di Jepang menunjukkan bahwa 24.2% (dari 963 sampel) yang menjalani keratoplasti mengalami Keratopati Bulosa. Operasi katrak merupakan penyebab utama terjadinya Keratopati Bulosa (n = 428, 44.4%), Keratopati Bulosa akibat Laser Iridotomy (LI) merupakan penyebab kedua (n = 225, 23.4%) yang terjadi setelah 6.8 setelah LI. Fuchs dystrophy merupakan penyebab Keratopati Bulosa pada 18 penderita (1.9%).3

1.2. Tujuan Telaah ilmiah mengenai Keratopati Bulosa ini dibuat agar dapat menjadi bahan pelajaran bagi para dokter pada umumnya dan para dokter muda pada khususnya. Telaah ilmiah ini bertujuan untuk mendiskusikan bagaimana cara mendiagnosis keratopati bulosa, pemeriksaan oftalmologis dan pemeriksaan penunjang apa saja yang diperlukan serta penatalaksanaan dan penentuan prognosis pada penderita dengan keratopati bulosa.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Anatomi Kornea Kornea berasal dari bahasa latin cornum yang berarti seperti tanduk. Kornea adalah selaput bening mata, bagian selaput mata yang tembus cahaya, dan merupakan lapisan jaringan yang menutup bola mata sebelah depan. Kornea merupakan jaringan transparan dan avaskuler dengan ukuran 11-12 mm panjang horizontal dan 10-11 mm panjang vertikal.1,4 Kornea ini disisipkan ke sklera di limbus, lengkung melingkar pada persambungan ini disebut sulkus skelaris. Kornea dewasa rata-rata mempunyai tebal 7,8 mm di tengah, sekitar 0,65 di tepi, dan diameternya sekitar 11,5 mm dari anterior ke posterior, kornea mempunyai lima lapisan yang berbeda-beda: lapisan epitel (yang bersambung dengan epitel konjungtiva bulbaris), lapisan Bowman, stroma, membran Descement, dan lapisan endotel. Batas antara sklera dan kornea disebut limbus kornea. Kornea merupakan lensa cembung dengan kekuatan refraksi sebesar + 43 dioptri dan indeks refraksi sebesar 1.376.4 Jika kornea edema karena suatu sebab, maka kornea juga bertindak sebagai prisma yang dapat menguraikan sinar sehingga penderita akan melihat halo. Kornea memiliki tiga fungsi utama yaitu sebagai media refraksi cahaya terutama antara udara dengan lapisan airmata prekornea ; transmisi cahaya dengan minimal distorsi, penghamburan dan absorbsi; dan sebagai struktur penyokong dan proteksi bola mata tanpa mengganggu penampilan optikal.

Gambar 1. Anatomi Kornea

Kornea terdiri dari 5 lapisan dari luar kedalam: 1. Lapisan epitel Tebalnya 50 m , terdiri atas 5 lapis sel epitel tidak bertanduk yang saling tumpang tindih; satu lapis sel basal, sel polygonal dan sel gepeng. Pada sel basal sering terlihat mitosis sel, dan sel muda ini terdorong kedepan menjadi lapis sel sayap dan semakin maju kedepan menjadi sel gepeng, sel basal berikatan erat dengan sel basal disampingnya dan sel polygonal didepannya melalui desmosom dan macula okluden; ikatan ini menghambat pengaliran air, elektrolit dan glukosa yang merupakan barrier. Sel basal menghasilkan membrane basal yang melekat erat kepadanya. Bila terjadi gangguan akan menghasilkan erosi rekuren. Epitel berasal dari ectoderm permukaan.

2. Membran Bowman Terletak dibawah membrana basal epitel kornea yang merupakan kolagen yang tersusun tidak teratur seperti stroma dan berasal dari bagian depan stroma. Lapis ini tidak mempunyai daya regenerasi.

3. Jaringan Stroma Terdiri atas lamel yang merupakan sususnan kolagen yang sejajar satu dengan yang lainnya, Pada permukaan terlihat anyaman yang teratur sedang dibagian perifer serat kolagen ini bercabang; terbentuknya kembali serat kolagen memakan waktu lama yang kadang-kadang sampai 15 bulan.Keratosit merupakan sel stroma kornea yang merupakan fibroblast terletak diantara serat kolagen stroma. Diduga keratosit membentuk bahan dasar dan serat kolagen dalam

perkembangan embrio atau sesudah trauma. 4. Membran Descement Merupakan membrana aselular dan merupakan batas belakang stroma kornea dihasilkan sel endotel dan merupakan membrane basalnya. Bersifat sangat elastis dan berkembang terus seumur hidup, mempunyai tebal 40 m. 5. Endotel
-

Berasal dari mesotelium, berlapis satu, bentuk heksagonal, besar 2040 Qm. Endotel melekat pada membran descement melalui hemidosom dan zonula okluden.4

Gambar 2. Penampang melintang kornea

Kornea dipersarafi oleh banyak saraf sensorik terutama berasal dari saraf siliar longus, saraf nasosiliar, saraf ke V, saraf siliar longus berjalan supra koroid, masuk ke dalam stroma kornea, menembus membran Bowman melepaskan selubung Schwannya. Bulbus Krause untuk sensasi dingin ditemukan diantara. Daya regenerasi saraf sesudah dipotong di daerah limbus terjadi dalam waktu 3 bulan.4 Sumber nutrisi kornea adalah pembuluh-pembuluh darah limbus, humour aquous, dan air mata. Kornea superfisial juga mendapat oksigen sebagian besar dari atmosfir. Transparansi kornea dipertahankan oleh strukturnya yang seragam, dan avaskularitasnya.1

2.2. Fisiologi Kornea Kornea berfungsi sebagai membran pelindung dan jendela yang dilalui berkas cahaya menuju retina. Sifat tembus cahayanya disebabkan strukturnya yang uniform, avaskuler dan deturgenes. Deturgenes, atau keadaan dehidrasi relative jaringan kornea dipertahankan oleh pompa bikarbonat aktif pada endotel

dan oleh fungsi sawar epitel dan endotel. Endotel lebih penting daripada epitel dalam mekanisme dehidrasi dan cidera kimiawi atau fisik pada endotel jauh lebih berat daripada cedera pada epitel. Kerusakan sel-sel endotel menyebabkan edema kornea dan hilangnya sifat transparan. Sebaliknya cedera pada epitel hanya menyebabkan edema lokal stroma kornea sesaat yang akan menghilang bila selsel epitel itu telah beregenerasi. Penguapan air dari film air mata prakornea akan mengkibatkan film air mata akan menjadi hipertonik; proses itu dan penguapan langsung adalah faktor-faktor yang yang menarik air dari stroma kornea superfisialis untuk mempertahankan keadaan dehidrasi. Penetrasi kornea utuh oleh obat bersifat bifasik. Substansi larut lemak dapat melalui epitel utuh, dan substansi larut air dapat melalui stroma yang utuh. Karenanya agar dapat melalui kornea, obat harus larut lemak dan larut air sekaligus.1

2. 3. Keratopati Bulosa 2.3.1. Definisi Keratopati Bulosa adalah keadaan pembengkakan kornea yang diakibatkan adanya kerusakan endotel sehingga terjadi ketidakseimbangan hidrasi dari kornea. Kelainan ini umumnya terjadi pada usia lanjut. Ada dua macam keratopati bulosa yaitu keratopati bulosa afakik jika lensa alami telah diangkat dan tidak diganti dengan lensa buatan, dan keratopati bulosa pseudofakik jika jika lensa alami telah diganti oleh lensa buatan. Pada keratopati bulosa afakik maupun keratopati bulosa pseudofakik ditemukan adanya edema kornea kronis yang mengakibatkan kornea menjadi keruh.4,5

2.3.2. Penyebab Kesehatan kornea berhubungan erat dengan jumlah sel endotelial . Sel endotelial adalah sel-sel yang terletak di kornea bagian belakang dan berfungsi memompa cairan dari kornea sehingga kornea relatif tetap kering dan bersih. Sejalan dengan bertambahnya usia, terjadi pengikisan sel-sel endotel yang terjadi secara bertahap. Kecepatan hilangnya sel endotel ini berbeda pada setiap orang. Setiap pembedahan mata (termasuk operasi katarak dengan atau tanpa

pencangkokan lensa buatan), bisa menyebabkan berkurangnya jumlah sel endotel. Jika cukup banyak sel endotel yang hilang, maka kornea bisa membengkak. Insidensi terjadinya edema kornea meningkat pada penderita dengan kelainan fungsi endotel seperti Fuchs Dystrophy.3,5,6, Edema kornea paling sering diakibatkan oleh kombinasi trauma mekanis, operasi yang lama, peradangan, dan peningkatan tekanan intra okuler, yang mengakibatkan dekompensasi akut kornea dengan penebalan kornea. Disfungsi endotel juga dapat diakibatkan adanya bahan toksik dalam bilik mata depan atau adanya fragmen kecil yang menyumbat sudut bilik mata depan. Adanya iris-fixated or closed-loop flexible anterior chamber IOLs diketahui berhubungan dengan terjadinya edema kronis. Peradangan intraokuler (uveitis) dan trauma pada mata juga bisa menyebabkan hilangnya sel endotel sehingga meningkatkan resiko terjadinya keratopati bulosa. Edema kornea pasca pembedahan biasanya menghilang setelah 4-6 minggu. Tetapi jika edema kornea tetap bertahan setelah 3 bulan maka akan mengakibatkan keratopati bulosa. 5,7,9

2.3.3. Gejala Penglihatan penderita menjadi kabur, yang paling buruk dirasakan pada pagi hari tetapi akan membaik pada siang hari. Ketika tidur kedua mata terpejam sehingga cairan tertimbun di bawah kelopak mata dan kornea menjadi lebih basah. Jika mata dibuka, cairan berlebihan ini akan menguap bersamaan dengan air mata. Penderita juga mengeluh adanya sensasi benda asing di mata, pandangan silau dan epiphora. Pada stadium lanjut akan terbentuk lepuhan berisi cairan (bula) pada permukaan kornea. Jika bula ini pecah, akan timbul nyeri yang hebat dan hal ini meningkatkan resiko terjadinya infeksi kornea (ulserasi).4,8,

2.3.4. Diagnosa Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala dan hasil pemeriksaan mata. Dengan slit lamp bisa diketahui adanya lepuhan, pembengkakan dan pembuluh darah di dalam stroma. Untuk menghitung jumlah sel endotel bisa dilakukan pemeriksaan mikroskopis.

2.3.5. Pengobatan Tujuan pengobatan adalah mengurangi pembengkakan kornea. Karena itu diteteskan larutan garam (Natrium Klorida5%) untuk membantu menarik cairan dari kornea. Jika tekanan di dalam mata meningkat, diberikan obatglaukoma untuk mengurangi tekanan yang juga berfungsi meminimalkan pembengkakan kornea. Jika bula pecah, diberikan obat anti peradangan, larutan natrium klorida 5%, salep/tetes mataantibiotik, zat pelebar pupil dan lensa kontak yang diperban; guna membantu penyembuhanpermukaan mata dan mengurangi nyeri. Tetapi pengobatan tersebut tidak terlalu diyakini dapat mengatasi tekanan intraokuler dan hanya dilakukan untuk pengobatan awal dan sementara. Jika penyakitnya berat dan tidak dapat diatasi dengan tindakan di atas, perlu dipertimbangkan untuk menjalani pembedahan. Teknik pembedahan yang dapat dilakukan antara lain Posterior Lamellar Keratoplasty dan Descemet Stripping Endothelial

Keratoplasty (DSEK) atau Descemet membrane endothelial keratoplasty (DMEK). Sejak Gerrit Melle memperkenalkan teknik Posterior Lamellar Keratoplasty tahun 1998 di Belanda, maka teknik pembedahan terus berkembang hingga akhir-akhir ini teknik Descemet stripping automated endothelial keratoplasty (DSAEK) yang merupakan teknik modifikasi menjadi teknik yang paling direkomendasikan. Pada DSAEK, membran descement dan endotel dalam mata penderita di lepaskan, yang akan menghasilkan lapisan stromal posterior. Kemudian automated micro keratome digunakan untuk mempersiapkan jaringan donor, menghasilkan lapisan stromal yang lebih halus dan memperhalus pada pertemuan jaringan host-graft. DSAEK merupakan prosedur pembedahan yang pilihan untuk disfungsi
4,7,10

endotel,

termasuk

Fuchs

Corneal

Dystrophy,

Pseudophakic Bullous Keratopathy (PBK), dan kegagalan endotel.

graft kornea berulang akibat

BAB III KESIMPULAN

Keratopati Bulosa adalah keadaan pembengkakan kornea yang diakibatkan oleh kombinasi trauma mekanis, operasi yang lama, peradangan, dan peningkatan tekanan intra okuler. Gejala klinisnya antara lain penglihatan penderita menjadi kabur, penderita juga mengeluh adanya sensasi benda asing di mata, pandangan silau dan epiphora. Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala dan hasil pemeriksaan mata. Dengan slit lamp bisa diketahui adanya lepuhan, pembengkakan dan pembuluh darah di dalam stroma. Untuk menghitung jumlah sel endotel bisa dilakukan pemeriksaan mikroskopis. Penatalaksanaan Keratopati Bullosa meliputi medika mentosa dan pembedahan. Terapi medikamentosa dengan pemberian Natrium Klorida 0,5 % hanya diindikasikan sebagai pengobatan awal dan sementara karena diyakini tidak memberikan efek yang memuaskan dalam mengatasi edema kornea. Teknik Descemet stripping automated endothelial keratoplasty (DSAEK) merupakan teknik pembedahan modifikasi menjadi teknik yang paling direkomendasikan untuk Keratopati bullosan dan beberapa kelainan kornea lainnya.

10

DAFTAR PUSTAKA

1.

Cornea

Organization.

2010.

Bullos

Keratopathy.

Dari

http://www.cornea.org/index.php/research/corneal_conditions/bullous_kerato pathy/, (online, diakses tanggal 28 Januari 2012) 2. American Academy of Ophthalmology. 1996. Reprinted from Cataract in the Adult Eye. Preferred Practice Patterns. San Francisco: Powe NR. Schein 00, Gieser SC, et al. Synthesis Of The Literature On Visual Acuity And Complications Following Cataract Extraction With Intraocular Lens Implantation. Arch Ophthafmol.1994;112:239-252 3. Shimazaki, Jun. Amano, Shiro. Uno, Toshihiko. Maeda, Naoyuki. Yokoi, Norihiko. 2007. National Survey on Bullous Keratopathy in Japan. The Japan Bullous Keratopathy Study Group : Lippincott Williams & Wilkins, Inc. April 2007 Volume 26 Issue 3 pp 274-278 doi:

10.1097/ICO.0b013e31802c9e19 4. American Academy of Ophthalmology. 2012. External Disease and Cornea 2011-2012 Section 8. Basic and Clinical Science Course. p 117, 413-445 5. American Academy of Ophthalmology.2012. 2012. Lens and Cataract 20112012 Section 11. Basic and Clinical Science Course. p 178, 181 6. 7. 8. Vaughan, D. 2000. Opthalmologi Umum Edisi 14. Jakarta : Widya Medika. Ilyas, Sidarta. 2004. Ilmu Penyakit Mata. Edisi ketiga. Jakarta: FKUI McLean, IW. M Pontigo. 2002. Histopathological Findings In Bullous

Keratopathy. The Association for Research in Vision and Ophthalmology, Inc Invest Ophthalmol Vis Sci 2002;43: E-Abstract 109 9. M. Cristina Kenney, Shari R. Atilano, Nadia Zorapapel, Bret Holguin, Ronald N. Gaster and Alexander V. Ljubimov. 2004. Bullous Keratopathy: DOI: 10.1177/002215540405201010J Histochem Cytochem 2004 52: 1341 http://dro.hs.columbia.edu/bullousk.htm (online, diakses tanggal 27 Januari 2012)

11

10. Anonim. 2007. Bullous Keratopathy. Dari : http://www.beltina.org/healthdictionary/bullous-keratopathy-symptoms-treatment.html tanggal 27 Januari 2012) (online, diakses