Anda di halaman 1dari 8

BAB II ISI

A.PENDIDIKAN BERKARAKTER Pendidikan Karakter merupakan proses pemberian tuntunan peserta/anak didik agar menjadi manusia seutuhnya yang berkarakter dalam dimensi hati, pikir, raga, serta rasa dan karsa. Peserta didik diharapkan memiliki karakter yang baik meliputi kejujuran, tanggung jawab, cerdas, bersih dan sehat, peduli, dan kreatif. Karakter tersebut diharapkan menjadi kepribadian utuh yang mencerminkan keselarasan dan keharmonisan dari olah HATI (kejujuran dan rasa tanggung jawab), PIKIR (kecerdasan), RAGA (kesehatan dan kebersihan), serta RASA (kepedulian) dan KARSA (keahlian dan kreativitas). Moto Pendidikan Karakter adalah pendidikan tanpa karakter, perdagangan tanpa moralitas, ilmu pengetahuan tanpa kemanusiaan, politik tanpa prinsip/etika, semuanya tak berguna dan sangat membahayakan. Pilar Pendidikan Karakter Ada tiga pilar pendidikan berkarakter, yaitu: a. Pilar Keluarga Keluarga menjadi pilar pertama dalam pendidikan karakter. Dalam keluarga, anak-anak memperoleh pemahaman mengenai karakter yang baik dan buruk. Orang tua menjadi guru yang pertama bagi mereka. b. Pilar Sekolah Pilar berikutnya adalah pilar sekolah, masa ketika anak-anak telah memasuki usia untuk menempuh pendidikan formal. c. Pilar Masyarakat

Pilar ketiga adalah masyarakat, tempat anak bersosialisasi selain rumah dan sekolah.

Pendidikan karakter idealnya diterapkan mulai dari Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) sampai dengan Perguruan Tinggi (PT). Mengingat aktifitas penulis umumnya pada PT, maka penulis memfokuskan penerapan pendidikan karakter pada PT. Terdapat beberapa kegiatan yang bisa dijadikan sebagai bentuk aplikasi dari pendidikan karakter, diantaranya:

a. Tenaga Pendidik Sebagai Panutan Bapak Pendidikan Nasional, Ki Hajar Dewantara, telah menekankan pentingnya ketauladanan. Salah satu filosofi beliau adalah ing ngarso sung tulodo, yang bermakna bahwa seorang pendidik hendaknya memberikan teladan yang baik kepada anak didiknya. Alangkah naifnya, jika seorang pendidik menjelaskan tentang bahaya merokok, sementara jejemari tangannya sedang memegang sebatang rokok yang menyala.Pendidik profesional seyogyanya bisa menjadi panutan bagi anak didiknya. Untuk bisa menjadi tenaga didik yang profosional, terdapat empat kompetensi yang harus dimiliki oleh tenaga pendidik, yaitu: (1) kompetensi pedagogik (kompetensi mengelola pembelajaran peserta didik); (2) kompetensi kepribadian (berkejiwaan mantap, berakhlak mulia, arif, berwibawa, menjadi teladan bagi peserta didik); (3) kompetensi profesional (penguasaan materi pelajaran secara luas dan mendalam); dan (4) kompetensi sosial (mampu berkomunikasi dan berinteraksi dengan manusia sekitarnya). Jika keempat kompetensi ini dimiliki oleh tenaga pendidik, terutama kompetensi kepribadian dan social, maka peserta didik secara tidak langsung sudah memperoleh pendidikan karakter b. Pemberian Materi/Kisah Kebajikan atau Doa pada Setiap Matakuliah Pada awal atau akhir kegiatan belajar mengajaar di kelas, dibiasakan untuk berdoa sesuai dengan agama dan keyakinan masing-masing. Diharapkan hal ini akan selalu mengingatkan peserta didik akan nilai-nilai dan norma-norma mulia pada setiap ajaran agama. Selain itu, pemberian materi atau kisah-kisah kebajikan yang disisipkan pada setiap matakuliah juga akan

menyegarkan memori peserta didik tentang pentingnya menjadi orang yang berbudi pekerti tinggi. c. Sistem Penilaian Saat ini sistem penilaian lebih banyak didasarkan pada kemampuan kognitif dan psikomotorik yang melihat pada hasil ujian tertulis ataupun ujian praktek, kemampuan afektif masih belum dianggap sebagai salah satu faktor penentu. Mungkin ada beberapa pendidik yang sudah menerapkan faktor: keterlambatan, aktifitas di kelas, pola tutur kata, dan sebagainya, sebagai faktor yang mempengaruhi penilaian. Namun, akan lebih terasa jika hal tersebut dijadikan sebagai kebijakan perguruan tinggi. Artinya, semua pendidik wajib memasukkan unsur-unsur afektif sebagai faktor penentu dalam sistem penilaian. d. Penggalakkan KKN PPM Pada saat ini PT sudah mulai meninggalkan kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN) karena dianggap tidak efektif. KKN selama ini memang identik dengan kegiatan-kegiatan yang bersifat seremonial: sekedar membangun monumen sebagai tanda pernah KKN, belum menyentuh kegiatan-kegiatan yang bisa memberdayakan masyarakat

B.PERKEMBANGAN IT (INFORMATION TECHNOLOGI) Di era globalisasi, teknologi informasi berperan sangat penting. Dengan menguasai teknologi dan informasi, kita memiliki modal yang cukup untuk menjadi pemenang dalam persaingan global. Di era globalisasi, tidak menguasai teknologi informasi identik dengan buta huruf.

Teknologi Informasi (TI) dan multimedia telah memungkinkan diwujudkannya pembelajaran yang efektif dan menyenangkan, yang melibatkan siswa secara aktif. Kemampuan TI dan multimedia dalam menyampaikan pesan dinilai sangat besar. Dalam bidang pendidikan, TI dan multimedia telah mengubah paradigma penyampaian materi pelajaran kepada peserta

didik. Computer Assisted Instruction (CAI) bukan saja dapat membantu guru dalam mengajar, melainkan sudah dapat bersifat stand alone dalam memfasilitasi proses belajar.

Penekanan penting akan memaksimumkan sumber daya manusia di semua sektor, berarti kita akan membutuhkan sistem komunikasi yang sangat efektif. Apabila kita merespons pada kebutuhan fokus awal seharusnya lebih berdasarkan penerimaan informasi daripada penyebaran informasi. Hal ini hampir memutarbalikan peran jika dibandingkan dengan peran komunikasi administrasi pendidikan yang dulu.

Perbedaan utama antara negara maju dan negara berkembang adalah kemampuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Kemajuan yang pesat di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi di negara-negara maju karma didukung oleh sistem informasi yang mapan. Sebaliknya, sistem informasi yang lemah di negara-negara berkembang mengakibatkan keterbelakangan dalam penguasaan.ilmu pengetahuan.dani teknologi. Jadi jelaslah bahwa maju atau tidaknya suatu negara sangat di tentukan oleh penguasaan teirhadap informasi, karena informasi merupakan modal utama dalam mengembangkan ilmu pengetahuan dan.teknologi yang menjadi senjata pokok untuk membangun negara. Sehingga apabila satu negara ingin maju dan tetap eksis dalam persaingan global, maka negara tersebut harus menguasai informasi. Di era globalisasi dan informasi ini penguasaan terhadap informasi tidak cukup harnya sekedar menguasai, diperlukan kecepatan dan ketepatan. Sebab hampir tidak ada guna menguasai informasi yang telah usang, padahal perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sangat cepat mengakibatkan usia informasi menjadi sangat pendek, dengan kata lain, informasi lama akan diabaikan dengan adanya informasi yang lebih baru.

Masukan (input) dan kontribusi langsung dari para pemegang peran (stakeholders) yang lain; siswa, orang tua dan anggota masyarakat juga memberikan informasi yang sangat membantu dan meningkatkan dukungan masyarakat bagi pengembangan sekolah. Jika obyektifitas utamanya adalah memaksimalkan pendidikan sumber daya manusia maka hal itu telah meningkatkan hubungan komunikasi kita dengan seluruh sektor lingkungan pendidikan dan para pemegang peran (stakeholders). Lagipula kunci utama untuk meningkatkan komunikasi

harus terfokus pada saling berbagi komunikasi terbuka dan meningkatkan kesempatan untuk mendapatkan dukungkan dari segala bidang.

Kehidupan kita sekarang perlahan lahan mulai berubah dari dulunya era industri berubah menjadi era informasi di balik pengaruh majunya era globalisasi dan informatikamenjadikan computer, internet dan pesatnya perkembangan teknologi informasi sebagai bagian utama yang harus ada atau tidak boleh kekurangan dikehidupan kita. Aktifitas network globalisasi ekonomi yang disebabkan oleh kemajuan dari teknologi informasi bukan hanya mengubah pola produktivitas ekonomi tetapi juga meningkatkan tingkat produktivitas dan pada saat bersamaan juga menyebabkan perubahan structural dalam kehidupan politik, kebudayaan, kehidupan sosial masyarakat dan juga konsep waktu dalam dalam berbagai lapisan masyarakat.

Tanggung jawab sekolah dalam memasuki era globalisasi baru ini yaitu harus menyiapkan siswa untuk menghadapi semua tantangan yang berubah sangat cepat dalam masyarakat kita. Kemampuan untuk berbicara bahasa asing dan kemahiran komputer adalah dua kriteria yang biasa diminta masyarakat untuk memasuki era globalisasi baik di Indonesia maupun di seluruh dunia. Maka dengan adanya komputer yang telah merambah di segala bidang kehidupan manusia hal itu membutuhkan tanggung jawab sangat tinggi bagi sistem pendidikan kita untuk mengembangkan kemampuan berbahasa siswa dan kemahiran komputer.

KATA PENGANTAR

Dalam era globalisasi ini perlu adanya smua pihak yang berperan dalam menghadapi agar tidak mengakibatkan

BAB III PENUTUP

KESIMPULAN Dalam materi di atas telah dijelaskan bahwa pentingnya suatu sistem pendidikan yang memiliki charakter building dan kemajuan dalam teknologi informasi. Suatu negara jika teknologinya tidak ada kemajuan maka negara tersebut akan tertinggal dengan negara lain dalam berbagai sektor sehingga akan berakibat buruk dalam pembangunan ekonomi. Akan tetapi jika negara tersebut tidak dapat menfilter akan arus globalisasi yang telah mewabah maka masyarakatnya akan mengalami kekacauan sehingga sangat di perlukan suatu penanaman sejak dini mengenai pentingnya pemahaman akan suatu penggunaan teknologi tersebut yaitu dengan cara menamkan karakter kepada setiap individu dalam masyarakat tersebut.

SARAN Sebaiknya suatu masyarakat perlu memiliki karakter yang baik sehingga dapat mencegah terhadap arus globalisasi yang negatif, dan dapat menggunakan teknologi secara bijak sesuai dengan kebutuhan serta dapat mengembangkannya sehinnga teknologi semakin maju.

DAFTAR PUSTAKA

http://healtwist.wordpress.com/2010/07/08/pendidikan-karakter-sebagai-upaya-meningkatkanbudaya-kesantunan-dalam-menghadapi-persaingan-global/ http://intl.feedfury.com/content/16335668-teknologi-informasi-di-era-globalisasi.html

Beri Nilai