Anda di halaman 1dari 6

PBL BEDAH PLASTIK

LUKA BAKAR

Oleh: Shinta Besly C. M. Pandu N. Dani Yudo P 010710087 010710088 010710089

Pembimbing: Dr. Magda Rosalina H., Sp. BP

Bag./SMF Bedah Plastik RSU Dr Soetomo Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Surabaya 2011
I. KASUS
Laporan Kasus | 1

Laki-laki, usia 25 tahun datang ke IRD dengan riwayat mengalami luka bakar 3 jam sebelumnya. Pasien terjebak dalam ruang diskotik yang terbakar sekitar 30 menit, kemudian pasien dapat dievakuasi keluar dalam keadaan tidak sadar penuh. Pasien ditemukan dalam keadaan sesak nafas, menggumam mengeluh nyeri. Pada tubuh pasien, didapatkan wajah pasien melepuh, berwarna merah, beberapa bagian wajah pasien didapatkan darah. Kulit tangan kanan dan kiri pasien melepuh, beberapa bagian terdapat gelembung bula, ada bagian yang tampak kehitaman akibat kulit yang terkelupas dan terbakar. Pada tungkai bawah pasien juga didapatkan luka bakar berwarna kemerahan, dan didapatkan sebagian berwarna kehitaman. Luka bakar, derajat 2, seluas 40% dari seluruh permukaan tubuh.

II. PENANGANAN A. a. PRIMARY SURVEY Airway

Memeriksa jalan nafas pasien apakah ada sumbatan jalan nafas, serta memeriksa apakah ada trauma pada cervical spine. Pada pasien didapatkan : Look : Gerak dada simetris, kuat angkat Listen: Didapatkan suara nafas tambahan crowing. Feel : Dirasakan hawa nafas. Penanganan: bebaskan jalan nafas dengan manuver jaw trust. b. Breathing

Memeriksa pernafasan pasien apakah normal. Pada pasien ini didapatkan takipneu 28x/m. Pasien dicurigai mengalami trauma inhalasi karena ada gejala sesak nafas, takipneu, stridor, dan riwayat terjebak dalam ruang tertutup dengan asap kebakaran. Pada pasien dengan trauma inhalasi dapat menyebabkan edema laring yang dapat menyebabkan hambatan jalan nafas, sehingga timbul kompensasi peningkatan usaha untuk mengambil udara sebanyak-banyaknya. Penanganan: Pemberian oksigen 2-4L. c. Circulation

Laporan Kasus | 2

Memeriksa tanda vital pasien untuk mencari apakah ada tanda-tanda shock. Pada pasien ini didapatkan - Tensi: 110/70 - Nadi: 128x/m, lemah, cepat, reguler - CRT:>2 - Akral: sde. Pasien mengalami syok hipovolemik disebabkan pada luka bakar terjadi ekstravasasi cairan intravaskuler ke cairan interstitial. Penanganan: Posisi syok, dan pemasangan double IV line RL 30-50 cc/jam. d. Disability- Pemeriksaan kesadaran GCS dan periksa pupil

Memeriksa tingkat kesadaran pasien. Pada pasien ini didapatkan GCS: 3-3-4. e. Exposure cegah penderita hipotermi

Pasien ditutup dengan dengan kain steril agar pasien tidak jatuh pada keadaan hipotermi.

B. 1.

SECONDARY SURVEY Pemeriksaan dari kepala sampai kaki Kesadaran Vital sign : GCS 3-3-4 : tekanan darah 110/70 mmHg; RR 24x/menit Thoraks : simetris, retraksi (-) Cor: S1S2 tunggal, murmur (-), gallop (-) Pulmo: vesikuler (+/+), rhonci (-/-), wheezing (-/-) Abdomen Ekstremitas : Flat, BU (+), supel, timpani : perfusi akral dingin kering pucat, CRT > 2 nadi 120x/menit; suhu axiller 36,8oC

Kepala dan leher : anemis (-), icterus (-), cyanosis (-), dyspnea (-)

2. a.

Pakaian dan perhiasan dibuka Periksa titik kontak

Laporan Kasus | 3

Pada regio facei didapatkan luka bakar grade IIab 5% (pada zygoma, maxilla, Pada regio brachii dextra-sinistra didapatkan luka bakar grade IIa 7%, pada regio Pada regio cruris dextra didapatkan luka bakar grade IIa 10% dan regio cruris

orbita).
-

antebrachii dextra-sinistra didapatkan luka bakar grade IIb 4% sinistra didapatkan luka bakar grade IIa 14% b. Estimasi luas luka bakar/ derajat luka bakarnya.

Pada pasien ini didapatkan luka bakar seluas 40% (luka bakar berat). c. Pemeriksaan neurologis

Pada pasien ini tidak didapatkan kelainan neurologis. d. Pemeriksaan trauma lain

Pada pasien ini tidak didapatkan patah tulang/ dislokasi e. Tindakan lain untuk pertahankan jalan nafas dan monitoring

Pada trauma inhalasi, seringkali didapatkan edema laring, yang membutuhkan tindakan endotrakeal intubasi. Pasang folley kateter untuk monitor produksi urine.

C. RESUSITASI Cairan : Karena pada pasien ini, luka bakar menyebabkan syok hipovolemik, maka diberikan cairan untuk resusitasi menggunakan formula Baxter (estimasi BB pasien 60kg) Dewasa : RL 4cc x BB x Luas luka bakar 4cc x 60 x 40 = 9600 cc Cairan RL 4800 cc diberikan pada 8 jam pertama, dihitung dari jam kejadian exposure kebakaran. Cairan RL 4800 cc berikutnya diberikan 16 jam berikutnya. Target resusitasi cairan dinyatakan berhasil jika produksi urine 0,5-1 cc/kgBB/jam

Laporan Kasus | 4

D. MONITORING DALAM FASE RESUSITASI 1. 2. Mengukur urine produksi. Urine produksi dapat sebagai indicator apakah Berat jenis urine. Pasca trauma luka bakar berat jenis dapat normal atau

resusiatsi cukup adekuat atau tidak. Pada orang dewasa jumlah urine 30-50 cc per jam meningkat. Keadaan ini dapat munujukkan keadaan hidrasi penderita. Bilamana berat jenis meningkat berhubungan dengan naiknya kadar glukosa urine. 3. 4. 5. 6. Vital sign PH darah. Perfusi perifer Laboratorium a. b. c. d. e. f. g. h.
i.

serum elektrolit plasma albumin hematokrit, hemoglobin urine sodium elektrolit liver function test renal function test total protein/albumin pemeriksaan lain sesuai indikasi : BGA, COHb.

7.

Penilaian keadaan paru. Pemeriksaan kondisi paru peru diobservasi tiap jam untuk mengetahui adanya

perubahan yang terjadi antara lain stridor, bronkho spam, adanya secret, wheezing, atau dipsneu merupakan adanya impending obstruksi. Pemeriksaan thorax foto jika diperlukan 8. Penilaian gastrointestinal Monitoring gastrointestinal setiap 2-4 jam dengan melakukan auskultasi untuk mengetahui bising usus dan pemeriksaan sekresi lambung. Adanya darah dan PH kurang dari 5 merupakan tanda adanya culings ulcer. 9. Penilaian luka bakarnya Bila dilakukan perawatan tertutup dinilai apakah kasa basah, ada cairan berbau atau ada tanda-tanda pus maka kasa perlu diganti. Bila bersih, perawatan selanjutnya dilakukan 5 hari kemudian. Pencucian luka di kamar operasi dalam keadaan pembiusan umum. Luka dicuci, debridement dan didesinfeksi dengan savlon 1 : 30. Setelah bersih
Laporan Kasus | 5

tutup dengan tulle kemudian olesi dengan topical silver sulfadiazine (SSD) sampai tebal. Rawat tertutup dengan kasa steril yang tebal. Pada hari ke-5 kasa dibuka dan penderita dimandikan dengan air dicampur savlon 1:30.

E. MONITORING POST RESUSITASI Observasi cairan-elektrolit, apakah cairan sudah cukup adekuat, dapat dilihat dari

produksi urin pasien ( 30-50cc/jam), berat jenis urine pasien, warna urine pasien (jika ada hemokromogen, urine dipertahankan 75-100cc/jam). Perawatan jalan nafas : dengan periodic suction dan jika perlu, berikan nebulizer. Keadaan luka bakar : Evaluasi keadaan luka, bilamana diperlukan tindakan surgical skin graft jika tidak dapat ditutup primer. Status nutrisi/gizi : kebutuhan kalori 25-30 kcal/kgBB, dengan komposisi karbohidrat 3040%, tidak melebihi 5mg/kgBB, protein 1-2g, lemak 15-25g/hr. Dapat ditambahkan antioksidan (vitamin A, C, E)

Laporan Kasus | 6