EVALUASI RADIOLOGIS PADA PASIEN IDIOPATHIC CLUBFOOT YANG DITERAPI DENGAN METODE PONSETI DI RSO Prof. DR. R.

SOEHARSO SURAKARTA

Muhammad Ariffudin*, Anung Budi Satriadi** *Residen Orthopaedi dan Traumatologi FK UNS ** Staf Pengajar PPDS Orthopaedi dan Traumatologi FK UNS ABSTRACT
Background: Idiopathic clubfoot is one of the most common problems in pediatric orthopaedics. The incidence about 1 to 2 per 1000 live birth. Treatment for clubfoot is remain controversial. The controversy caused by no standardized method to evaluate the treatment. The Ponseti method for treatment of idiopathic clubfoot involves manipulation, the use of serial cast, and percutaneus Achiles tenotomy in most cases and bracing with and abduction orthosis to prevent relapse. Although Ponseti recommended evaluation of the infant clubfoot strictly by palpation, many orthopedic surgeon still rely on radiograph for decision making during treatment. The aim of this study is to.evaluate Ponseti method on idiopathic clubfoot with radiological appearance. Method: We conduct the study at outpatient department of Prof. Soeharso Hospital Surakarta, since may 2009 until October 2009. After diagnosed as idiopathic clubfoot, radiograph examination were made on anteroposterior and full dorsoflexion lateral view. The radiograph examination begin before treatment and made after final casting, before bracing period. The anteroposterior talocalcaneal angle and talo 1st metatarsal were measured. On lateral view, talocalcaneal, tibiotalar and tibiocalcaneal also measured. The result before and after treatment then compared and statisticly tested. Result: 53 feet was evaluated from 37 patients. Anteroposterior view shows talocalcaneal angle before treatment with mean 11,9o become 35,5o after treatment. Talo 1st metatarsal angle shows initial number is 38,0 o, become -4,24o after treatment. Lateral view shows talocalcaneal angle initial was 15,24 o become 39,3o after treatment. Tibiotalar angle shows initial was 116,4o become 89,5o aftertreatment. Tibiocalcaneal angle shows initial was 105,1o become 53,2o aftertreatment. Aftertreatment angles shows within normal limit, and the improvement are statisticly significant. Conclusions: The measured angles in anteroposterior and lateral view after ponseti method of treatment on clubfoot show good result. corrected on clinical evaluation is also give normal radiographic after treatment. Keywords: Idiopathic Clubfoot, Ponseti Method, Radiograph Evaluation, Soeharso Hospital

di Caucasia 1.1 Kelainan ini adalah kelainan yang paling sering ditemukan dibandingkan dengan kelainan kongenital orthopedi yang lain yang memerlukan perawatan yang intensif.5 Ponseti tidak menganjurkan pemeriksaan rutin untuk diagnosa dan terapi clubfoot. pada saat terapi.6.1. Kite dan Kandell yang kemudian hari menekankan pentingnya menentukan adanya divergen dari garis yang dibentuk dari aksis talocalcaneal. namun sulit untuk mengoreksi dengan hasil yang sempurna. di Polynesia 6. pes (kaki). dengan per 1000 kejadian bilateral pada 50 % kasus. dan insiden paling tinggi di Hawaii 49 per 1000 kelahiran hidup Kejadian yang menimpa anak laki-laki dilaporkan juga 2 kali lebih sering dibanding anak perempuan. midtarsal dan tarsometatarsal. Sedangkan Ponseti melakukan studi dengan melakukan pemeriksaan radiografi pada pasien clubfoot yang diterapi dengan metode Kite setelah Longterm Follow up. baik proyeksi anteroposterior maupun proyeksi lateral. tibiotalar.29 kelahiran hidup.81 per 1000. 7 . meskipun di tangan seorang ahli bedah orthopedi yang berpengalaman. Insidensinya dilaporkan sekitar 1 sampai 2 per 1000 kelahiran. yaitu sebuah deformitas yang mudah untuk didiagnosis. Cabanac dan Heywood.4 Campbell menganjurkan untuk melakukan evaluasi untuk clubfoot dilakukan sebelum.6 per 1000. Di USA insiden clubfoot 2. dan equinus (menyerupai kuda) yang dimaksud tumit dalam posisi plantar fleksi dan varus berarti inversi dan adduksi.5 per 1000. dan setelah terapi.I. 2 Tujuan pemeriksaan radiografi pada clubfoot adalah untuk menentukan secara tepat relasi anatomi dari talonavicular. di Cina dan Jepang 0. LATAR BELAKANG Kelainan congenital yang paling penting pada kaki adalah clubfoot atau talipes equinovarus. PENDAHULUAN a. Barwell pada tahun 1896 adalah yang pertama kali menentukan nilai pada pemeriksaan radiografi untuk memeriksa clubfoot. selanjutnya menggunakan sudut talocalcaneal pada proyeksi lateral dalam posisi plantarfleksi dan dorsofleksi. di Maori dan kepulauan pasifik lain 6-7 per 1000. Talipes equino varus berasal dari bahasa latin talus (ankle).

1. . Sebagai data awal untuk melakukan longterm follow up klinis dan radiologis terhadap pasien idiopathic clubfoot yang diterapi dengan metode Ponseti. C. Tujuan Khusus 1.4 MANFAAT PENELITIAN A. Mendukung secara praktis. 1. memberikan hasil yang baik pada evaluasi dengan pemeriksaan radiografi? 1.3 TUJUAN PENELITIAN A. B. Untuk digunakan sebagai data awal terhadap long term follow up paska terapi pasien dengan idiopathic clubfoot. 2. Untuk megetahui apakah pasien idiopathic clubfoot yang diterapi dengan metode Ponseti dan baik secara klinis dapat didukung dengan data radiografis yang sampai saat ini masih banyak direkomendasikan oleh para ahli dan dikerjakan pada praktek oleh ahli ortopedi.2 RUMUSAN MASALAH Apakah terapi idiopathic clubfoot dengan metode Ponseti yang secara klinis sudah tercapai tujuan terapinya. Untuk membuktikan apakah terapi idiopathic clubfoot dengan metode Ponseti memberikan hasil yang baik pada evaluasi Radiologis. Tujuan Umum Untuk melakukan evaluasi penangan idiopathic clubfoot dengan metode Ponseti secara klinis dan radiologis. untuk diagnostik dan evaluasi terapi pasien idiopathic clubfoot. B.

KERANGKA PENELITIAN PEMERIKSAAN TEV DEFORMITY (KAKI PENGKOR) PMERIKSAAN KLINIS DAN RADIOGRAFI IDIOPATHIC CLUBFOOT PONSETI SERIAL CAST (WEEKLY) ATL NON ATL CAST 3-6 MINGGU FINAL CAST PEMERIKSAAN RADIOGRAFI PROTOKOL BRACING .II.

dengan form khusus seperti yang terdapat pada lampiran 1. DR. R. Lokasi Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Poliklinik Rumah Sakit Orthopedi Prof. R. Dengan kriteria inklusi:   Pasien Idiopathic Clubfoot yang datang di Poliklinik. DR. . Soeharso Surakarta. B. 3. Jenis Penelitian Penelitian ini adalah penelitian observasional dengan tinjauan crossectional. 1 METODOLOGI PENELITIAN METODOLOGI PENELITIAN A.3 Pengambilan Sampel Data diambil dari catatan medis pasien yang datang ke Poliklinik Rumah Sakit Orthopedi Prof. R. DR. C. DR. Soeharso Surakarta. R. DR. Soeharso Surakarta.III.2 Besar Sampel Pengambilan sampel dilakukan secara berurutan pada pasien yang datang di Poliklinik Rumah Sakit Orthopedi Prof. R. Soeharso Surakarta untuk pemeriksaan klinis. dengan membandingkan hasil evaluasi radigrafi pre dan paska perlakuan terapi pasien clubfoot dengan metode Ponseti. mulai bulan Mei 2009 sampai Bulan Oktober 2009 yang memenuhi kriteria inklusi. Bersedia diterapi dengan metode Ponseti Kriteria Eksklusi:  Pasien dengan Syndromic Clubfoot 3. dan pemeriksaan radiografi dilakukan di bagian Radiologi Poliklinik Rumah Sakit Orthopedi Prof. Soeharso Surakarta. Obyek Penelitian Obyek penelitian yang digunakan adalah pasien dengan clubfoot yang datang di Poliklinik Rumah Sakit Orthopedi Prof. 3.

Sebelum dan sesudah casting. 3.6 Pemeriksaan Radiologis AP View. Soeharso Surakarta. 3.5.5. 3.5 Definisi Operasional 3. 3.5.3 Pemeriksaan radiologis Pre treatment Pemeriksaan radiologis awal sebelum manipulasi dan Cast pertama.5 Idiopathic clubfoot yang terkoreksi baik: CLINICAL ASSESMENT CAVUS ADDUCTUS VARUS EQUINUS 3. 3. R. Ponseti.2 Metode Ponseti Metode penanganan clubfoot menurut dr.4 Waktu dan Tempat Penelitian Pengambilan sampel dilakukan pada periode bulan Mei sampai Oktober 2009 di Poliklinik Rumah Sakit Orthopedi Prof. 3.1 Idiopathic Clubfoot Clubfoot tanpa kelainan kongenital yang lain.5. DR. kemudian dilakukan penilaian dan dicatat dengan form seperti yang terdapat dalam lampiran 2.4 Pemeriksaan radiologis Post treatment Pemeriksaan radiologis sesudah dilakukan Cast terakhir sebelum beralih ke bracing. yaitu 10o Cephalad dan Lateral View dalam keadaan Forced Dorsoflexion 3. dilakukan pemeriksaan radiografi dengan teknik yang telah tersandarisasi dengan selalu dilakukan oleh petugas radiografi dan peneliti.5.5.6 Identifikasi Variabel Penelitian .

Dan pasien dengan usia dibawah 6 bulan ada 22 pasien.3. 9 8 7 6 5 4 3 2 1 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 24 JUMLAH USIA USIA Grafik 1. dan dapat dilakukan dorsofleksi minimal 20o. yaitu dengan sudut abduksi minimal 60o. dilakukan pengambilan data klinis dan radiologis pada 37 pasien dengan 53 kaki dengan idiopathic clubfoot.2 Variabel Bergantung Evaluasi pemeriksaan radiologis. 3. DR. 4.1 Variabel Bebas Terapi metode Ponseti. didapatkan usia pasien antara 1 bulan sampai 2 tahun. Grafik usia pasien pada penelitan sebagaimana yang tergambar pada grafik 1. Soeharso Surakarta.6.1 Distribusi Menurut Usia Dari 37 pasien tersebut. Grafik Usia Pasien . IV. telah didapatkan keadaan klinis berupa keadaan kaki yang sudah terkoreksi.6. Semua pasien yang masuk dalam studi tersebut adalah pasien yang pada pengegipan yang terakhir. HASIL PENELITIAN Pada penelitian yang dilakukan di Rumah Sakit Orthopedi Prof. dan telah terkoreksi cavus dan varusnya. antara periode bulan mei 2009 sampai September 2009. dengan pasien terbanyak pada usia 1 bulan yaitu 8 pasien. usia diatas 6 bulan sebanyak 15 pasien.

Distribusi Menurut Jenis Kelamin . seperti yang terlihat pada diagram 2.3 Distribusi Menurut Jenis Kelamin Persebaran jenis kelamin pasien pada penelitian ini. yang merupakan 38% dari total. Dengan persentase seperti tergambar pada Diagram 1. dan berjenis kelamin laki-laki pada 62% kasus atau pada 23 pasien. didapatkan 14 pasien berjenis kelamin perempuan.2 Distribusi Menurut Keterlibatan Kaki Diantara 37 pasien dengan idiopathic clubfoot didapatkan 21 anak dengan unilateral clubfoot dan 16 anak dengan bilateral clubfoot. Diagram 2. Diagram 1. Distribusi Menurut Keterlibatan Kaki 4.4.

sedangkan pada 21 kaki yang lain tidak dilakukan. Diagram 4. tidak perlu dilakukan tenotomi perkutaneus.4 Distribusi Menurut Jumlah Pengegipan Setelah dilakukan serial casting. karena equinus dapat dikoreksi bersamaan dengan serial casting. karena sudah mendapatkan dorsofleksi yang adekuat. Persentasenya dapat dilihat pada diagram 4. telah terkoreksi. tahap sesudahnya adalah koreksi equinus. Kebanyakan dilakukan koreksi sebanyak 5 kali pada 23 kaki.4. Namun sebagian besar pasien tetap dilakukan perkutaneus Achiles tenotomi pada 32 kaki. Persentasenya dapat dilihat di diagram 3.5 Distribusi Menurut Jumlah Tenotomi Setelah koreksi cavus. banyaknya seri pengegipan bervariasi antara 4 sampai 7 kali. pada 53 kaki tersebut. Pada beberapa kasus. kemudian didapatkan 7 kali seri pengegipan pada 11 kasus. varus dan abduksi. SERIAL CAST 7KALI 21% 6 KALI 19% 4 KALI 17% 5 KALI 43% Diagram 3. dan 4 kali pengegipan pada 9 kasus. berdasarkan kapan terakhir kali didapatkan koreksi yang adekuat. Persentase ATL . 6 kali pengegipan pada 10 kasus. Persentase Serial Casting 4.

Selanjutnya sudut talocalcaneal disingkat dengan TCA (talocalcaneal angle) dan sudut talo-1st metatarsal disingkat dengan TFM (talo-1st metatarsal).9 o. Sedangkan pada grsfik 3 didapatkan bahwa sudut-sudut TCA proyeksi anterior sudah terkoreksi dan semuanya dalam batasan normal. antara 25-50o. 4.6 Hasil Proyeksi Anteroposterior Pada pemerikasaan radiografi untuk proyeksi Anteroposterior. yaitu sudut talocalcaneal dan sudut talo-1st metatarsal. 10 8 JUMLAH 6 4 2 0 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 SUDUT TCA Grafik 2.1 TCA (talocalcaneal angle) Pada pemeriksaan pre terapi untuk sudut talocalcaneal angle didapatkan seperti pada grafik 2. dengan mean 35. didapatkan data bahwa sudut TCA sebelum terapi menunjukkan gambaran sebagai clubfoot dengan mean 11. . ada 2 pengukuran sudut yang dilakukan.4. TCA Proyeksi Anteroposterior Pre Terapi Pada gambar diatas.5 o.6.

18 16 14 12 10 8 6 4 2 0 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 SUDUT POST TERAPI JUMLAH Grafik 3.6. seperti pada grafik 4. 7 6 5 JUMLAH 4 3 TFM 2 1 0 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 SUDUT TFM Grafik 4. antara 0 sampai -20o. TFM Pre Terapi . Sedangkan pada grafik 5 didapatkan bahwa sudut-sudut TCA proyeksi anterior sudah terkoreksi dan semuanya dalam batasan normal. Untuk penilaian terhadap sudut TFM pre operasi menunjukkan gambaran sebagai clubfoot.2 TFM (talo-1st metatarsal). TCA paska terapi 4.

10 9 8 7 6 5 4 3 2 1 0 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 TCA JUMLAH TCA Grafik 6.7 Hasil Proyeksi Lateral Pada proyeksi lateral. 5. Sedangkan pada grafik 7 didapatkan bahwa sudut-sudut TCA proyeksi anterior sudah terkoreksi dan semuanya dalam batasan normal. dan TiCA(Tibiocalcaneal Angle).7. antara 25 sampai 50o. yaitu TCA Angle). TCA pre terapi . seperti pada grafik 6. TFM Paska Terapi 4. TTA (Tibiotalar angle).18 16 14 12 JUMLAH 10 8 6 4 2 0 0 -1 -2 -3 -4 -5 -6 -7 -8 -9 -10 TFM SUDUT TFM Grafik 5.1 TCA (talocalcaneal Angle) (talocalcaneal Pada penilaian sudut TCA didapatkan gambaran sudut sebagai clubfoot. ada 3 sudut yang dinilai.

sudut TTA antara110 sampai 125o yang masuk kategori clubfoot. sudut TTA didapatkan antara 85 sampai 95 o yang berarti masuk dalam rentang normal antara 70 sampai 100 o. didapatkan pemeriksaan sebelum terapi. seperti pada grafik 9. TTA Pre Terapi . Pada pemeriksaan paska terapi. 12 10 JUMLAH 8 6 4 2 0 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 TCA TCA Grafik 7.224 o.2 TTA (Tibiotalar angle) Pada pengukuran sudut Tibiotalar. seperti pada grafik 8.7. sedangkan paska terapi didapatkan 34.3o. TCA Paska Terapi 4.Mean yang didapat sebelum operasi adalah 15. 14 12 10 jumlah 8 6 4 2 0 110111 112113114 115116117 118119120121 122123124 125 Sudut TTA TTA Grafik 8.

3 TiCA (Tibiocalcaneal Angle) Pada pengukuran sudut Tibiocalcaneal (TiCA). TiCA Pre Terapi . TTA Paska terapi 4.7.10 9 8 7 6 5 4 3 2 1 0 85 86 87 88 89 90 91 92 93 94 95 sudut TTA jumlah TTA Grafik 9. 7 6 5 jumlah 4 3 2 1 0 97 99 101 103 105 107 109 111 113 115 Sudut TiCA TiCA Grafik 10. seperti pada gambar 10. sebelum terapi didapatkan antara 97 sampai 115 o yang masuk dalam kategori clubfoot. Sedangkan pada pemeriksaan paska terapi didapatkan rentang sudut antara 50 sampai 58 o yang berarti masuk dalam rentang normal TiCA yaitu antara 20 sampai 60 o.

PEMBAHASAN Ponseti menganjurkan pemeriksaan klinis saja untuk menentukan evaluasi terhadap clubfoot dan evaluasi penanganannya.12 10 8 JUMLAH 6 4 2 0 50 51 52 53 54 TiCA 55 56 57 58 TiCA Grafik 11. Para ahli sejak lama telah menganjurkan perlunya pemeriksaan radiologis untuk membantu diagnosis. Simon (1978) telah mengemukakan kontroversi dan melaporkan beberapa perbedaan pendapat diantara para ahli untuk penggunaan pemeriksaan radiologis sebagai alat untuk eveluasi terapi.11. didapatkan semua peningkatan nilai sudut pre dan paska terapi menunjukkan nilai yang signifikan dengan p<0. Menarik untuk diketahui apakah pemeriksaan radiologis untuk evaluasi terapi clubfoot juga memberikan hasil yang baik. TiCA Paska Terapi Pada penilaian menggunakan uji statistik pre dan paska terapi. V. dengan menggunakan SPSS 16. 10.12 . menentukan terapi dan mengevaluasi terapi clubfoot.01 dengan confidence interval 95%.0 dengan uji paired T-Test. sekalipun Ponseti dendiri tidak merekomendasikan.

sehingga penilaian deformitas clubfoot secara radiologis dapat dilakukan pada usia berapapun. Peningkatan sudut-sudut yang dijadikan parameter antara sebelum terapi dengan sesudah terapi menunjukkan hasil yang bermakna secara statistik. Pemeriksaan pasien idiopathic clubfoot yang dilakukan secara klinis sebelum dan sesudah terapi menunjukkan hasil yang sama pada pemeriksaan radiologis. bahwa semua sudut pada 9.Pemeriksaan radiologis dengan menggunakan gambaran tulang pada hindfoot dikarenakan adanya pusat penulangan primer yang dapat terlihat pada pemeriksaan radiologis sekalipun diperiksa pada bayi yang masih pada awal kehidupan. masuk ke dalam kategori clubfoot. Pemeriksaan sudut radiologis pada proyeksi anteroposterior dan lateral sesudah terapi masuk ke dalam rentang normal. sedangkan 38% nya adalah laki-laki. KESIMPULAN DAN SARAN 6.1. didapatkan 62% diantaranya adalah perempuan. 4. . Sedangkan pada data jenis kelamin.10. Pemeriksaan sudut radiologis pada proyeksi anteroposterior dan lateral sebelum terapi. 10. persentase unilateral dibandingkan bilateral adalah 50%. 1.4 Pemeriksaan radiologis proyeksi anteroposterior dan lateral sebelum terapi menujukkan rentang sudut dengan gambaran clubfoot sebagaimana disebutkan Tachjdian.11 Pada penelitian didapatkan bahwa pasien clubfoot yang datang ke poliklinik RS Orthopedi Soeharso antara Mei 2009 sampai Oktober 2009 sebanyak 37 pasien dengan 53 kaki clubfoot. Sebanyak 57% adalah unilateral. 3. Greenspan dan Campbell. 2. dimana dilaporkan sebelumnya.11 Hasil pada penelitian ini menunjukkan proyeksi anterior maupun lateral pemeriksaan menunjukkan peningkatan yang bermakna dan seluruhnya masuk kedalam rentang normal. VI. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian didapatkan kesimpulan: 1.

Saran Data yang didapatkan dapat digunakan sebagai baseline data untuk longterm follow up dan selanjutnya dilakukan pemeriksaan lagi secara longterm pada pasienpasien idiopathic clubfoot terutama secara klinis dan radiologis sesudah pasien mulai berjalan dan sesudah usia dewasa.B. 5. In: Clubfoot: Ponseti Management. Treatment of Idiopathic Clubfoot: An Historical Review. Evaluasi pasien idiopathic clubfoot cukup dilakukan secara klinis. 4 April 2004 . Hyman J. In: Malaysian Journal of Medical Scienses. 6. Roye D. 34-40. Baltimore. 2003. Gurnett CA. Oxford Medical Publication. 2000 8. Overview of Ponseti Management. Controversies in Congenital Clubfoot. no 1. Congenital Abnormalities. Global-Help Publication. Tenth Edition.2. Second Edition. Mosby.5. WB Saunders Company.1990. 3. 8-10. DAFTAR PUSTAKA 1. January 2002. Canale ST. Congenital Clubfoot Fundamentals of Treatment. Campbell’s Operative Orthopaedics. Aidura M. Ponseti I. Nordin S. 1999. 1998 7. 3th ed. 6. 25 No. Lippincott Williams  Wilkins. sebab sudah mewakili pemeriksaan radilogis yang memberikan hasil yang berkorelasi positif dengan keadaan klinisnya.B. Salter R. 4. 131-40. 2003 Dobbs MB. Pediatric In Review. 2. Razak S. Vol. vol 9. In: Textbook of Disorders and Injuries of The Musculoskeletal System. Morcuende JA. The IOWA Orthopedic Journal Vol 20. Tachdjian MO. Ponseti IV. Ponseti IV. Tachdjian Pediatric Orthopedics. Faisham W.

Herzenberg JE. WB Saunders Elsevier.2003 . Clubfoot. 973-1006. 10. The Ankle and Foot. Beaty JH. Tachdjian’s Pediatric Orthopedics. The Journal Bone and Joint Surgery. 2000. Herzenberg ZE. 11. 18. 1978 Sep.90:1401-1411.(135):107-18. Suda R.com/p/article/mi:March. Rolf B. Patel M. Churcill Livingstone.com/orthoped/htm. 2008. Lippincott Williams & Wilkins. Radler C. Mosby. Campbell’s Operatif Orthopaedics. 48891. Beatson TR. Radiographic Evaluation of Idiopathic Clubfeet Undergoing Ponseti Treatment. 2006 20. Sucato D. Clinical Orthopedics. University Toronto. In: Canale SI. Division of Ortjopedics and Health Sience. What's New in Pediatric Orthopaedics. 2003. Warwick D. 10th ed. Grune and Stratton Inc. Narayanan UG. Macnicol MF.. Clubfoot: Update on The Initial Management and Surgical Option.emedicine.findarticles. 2001. eds. Manner H.89:11771183 14. Essential Orthopedics and Trauma. Available from URL: http://www. Kite JH. Orthopedic Radiology a Practical Approach. Congenital Anomalies of Lower Extremity. 22. 19. Greenspan A. The Management of Clubfoot. Ponseti Management of Clubfootin Older Infants Clinical Ortopedics. 21.9. Third Edition. The Clubfoot. Nayagam S. A Method Of Assesing Correction In Clubfeet. Dandy D.2003 Noam B. The Journal of Bone and Joint Surgery (American). Solomon L. 1966 13. 12. 2007. London. Fourth Edition. Available from URL: http://www.J. 8th ed. 1964. The Journal of Bone and Joint Surgery (American). Herzenberg J. Arnold. Tachdjian MO. Vol 46 No 1. A standardized method for the radiographic evaluation of clubfeet. In: Apley’s System of Orthopaedics and Fractures. 17. 2008. 16. Simmon GW.March. Philadelphia. Lipincott William and Wilkins. 2000. 15. 2005.

Richards S. A Comparison of Two Nonoperative Methods of Idiopathic ClubfootCorrection: The Ponseti Method and the French Functional (Physiotherapy) Method. Faulks S. The Journal of Bone and Joint Surgery (American). . Johnston CE. Karol LA.90:23132321. Rathjen KE. 2008.23.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful