EVALUASI RADIOLOGIS PADA PASIEN IDIOPATHIC CLUBFOOT YANG DITERAPI DENGAN METODE PONSETI DI RSO Prof. DR. R.

SOEHARSO SURAKARTA

Muhammad Ariffudin*, Anung Budi Satriadi** *Residen Orthopaedi dan Traumatologi FK UNS ** Staf Pengajar PPDS Orthopaedi dan Traumatologi FK UNS ABSTRACT
Background: Idiopathic clubfoot is one of the most common problems in pediatric orthopaedics. The incidence about 1 to 2 per 1000 live birth. Treatment for clubfoot is remain controversial. The controversy caused by no standardized method to evaluate the treatment. The Ponseti method for treatment of idiopathic clubfoot involves manipulation, the use of serial cast, and percutaneus Achiles tenotomy in most cases and bracing with and abduction orthosis to prevent relapse. Although Ponseti recommended evaluation of the infant clubfoot strictly by palpation, many orthopedic surgeon still rely on radiograph for decision making during treatment. The aim of this study is to.evaluate Ponseti method on idiopathic clubfoot with radiological appearance. Method: We conduct the study at outpatient department of Prof. Soeharso Hospital Surakarta, since may 2009 until October 2009. After diagnosed as idiopathic clubfoot, radiograph examination were made on anteroposterior and full dorsoflexion lateral view. The radiograph examination begin before treatment and made after final casting, before bracing period. The anteroposterior talocalcaneal angle and talo 1st metatarsal were measured. On lateral view, talocalcaneal, tibiotalar and tibiocalcaneal also measured. The result before and after treatment then compared and statisticly tested. Result: 53 feet was evaluated from 37 patients. Anteroposterior view shows talocalcaneal angle before treatment with mean 11,9o become 35,5o after treatment. Talo 1st metatarsal angle shows initial number is 38,0 o, become -4,24o after treatment. Lateral view shows talocalcaneal angle initial was 15,24 o become 39,3o after treatment. Tibiotalar angle shows initial was 116,4o become 89,5o aftertreatment. Tibiocalcaneal angle shows initial was 105,1o become 53,2o aftertreatment. Aftertreatment angles shows within normal limit, and the improvement are statisticly significant. Conclusions: The measured angles in anteroposterior and lateral view after ponseti method of treatment on clubfoot show good result. corrected on clinical evaluation is also give normal radiographic after treatment. Keywords: Idiopathic Clubfoot, Ponseti Method, Radiograph Evaluation, Soeharso Hospital

meskipun di tangan seorang ahli bedah orthopedi yang berpengalaman. di Cina dan Jepang 0.81 per 1000.29 kelahiran hidup. tibiotalar.1. namun sulit untuk mengoreksi dengan hasil yang sempurna.5 Ponseti tidak menganjurkan pemeriksaan rutin untuk diagnosa dan terapi clubfoot. Barwell pada tahun 1896 adalah yang pertama kali menentukan nilai pada pemeriksaan radiografi untuk memeriksa clubfoot. di Polynesia 6. dan setelah terapi. Kite dan Kandell yang kemudian hari menekankan pentingnya menentukan adanya divergen dari garis yang dibentuk dari aksis talocalcaneal. pada saat terapi.I. Cabanac dan Heywood. Talipes equino varus berasal dari bahasa latin talus (ankle). dengan per 1000 kejadian bilateral pada 50 % kasus. dan insiden paling tinggi di Hawaii 49 per 1000 kelahiran hidup Kejadian yang menimpa anak laki-laki dilaporkan juga 2 kali lebih sering dibanding anak perempuan. LATAR BELAKANG Kelainan congenital yang paling penting pada kaki adalah clubfoot atau talipes equinovarus. selanjutnya menggunakan sudut talocalcaneal pada proyeksi lateral dalam posisi plantarfleksi dan dorsofleksi. Di USA insiden clubfoot 2. PENDAHULUAN a. 7 . baik proyeksi anteroposterior maupun proyeksi lateral.6 per 1000. Insidensinya dilaporkan sekitar 1 sampai 2 per 1000 kelahiran.1 Kelainan ini adalah kelainan yang paling sering ditemukan dibandingkan dengan kelainan kongenital orthopedi yang lain yang memerlukan perawatan yang intensif.4 Campbell menganjurkan untuk melakukan evaluasi untuk clubfoot dilakukan sebelum. di Maori dan kepulauan pasifik lain 6-7 per 1000. Sedangkan Ponseti melakukan studi dengan melakukan pemeriksaan radiografi pada pasien clubfoot yang diterapi dengan metode Kite setelah Longterm Follow up. midtarsal dan tarsometatarsal.5 per 1000. yaitu sebuah deformitas yang mudah untuk didiagnosis.6. dan equinus (menyerupai kuda) yang dimaksud tumit dalam posisi plantar fleksi dan varus berarti inversi dan adduksi. di Caucasia 1. 2 Tujuan pemeriksaan radiografi pada clubfoot adalah untuk menentukan secara tepat relasi anatomi dari talonavicular. pes (kaki).

1. Untuk membuktikan apakah terapi idiopathic clubfoot dengan metode Ponseti memberikan hasil yang baik pada evaluasi Radiologis. 2. untuk diagnostik dan evaluasi terapi pasien idiopathic clubfoot. Tujuan Umum Untuk melakukan evaluasi penangan idiopathic clubfoot dengan metode Ponseti secara klinis dan radiologis. Mendukung secara praktis. Tujuan Khusus 1. Untuk digunakan sebagai data awal terhadap long term follow up paska terapi pasien dengan idiopathic clubfoot.4 MANFAAT PENELITIAN A.3 TUJUAN PENELITIAN A.2 RUMUSAN MASALAH Apakah terapi idiopathic clubfoot dengan metode Ponseti yang secara klinis sudah tercapai tujuan terapinya. Untuk megetahui apakah pasien idiopathic clubfoot yang diterapi dengan metode Ponseti dan baik secara klinis dapat didukung dengan data radiografis yang sampai saat ini masih banyak direkomendasikan oleh para ahli dan dikerjakan pada praktek oleh ahli ortopedi. . Sebagai data awal untuk melakukan longterm follow up klinis dan radiologis terhadap pasien idiopathic clubfoot yang diterapi dengan metode Ponseti. 1. C. memberikan hasil yang baik pada evaluasi dengan pemeriksaan radiografi? 1. B. B.

II. KERANGKA PENELITIAN PEMERIKSAAN TEV DEFORMITY (KAKI PENGKOR) PMERIKSAAN KLINIS DAN RADIOGRAFI IDIOPATHIC CLUBFOOT PONSETI SERIAL CAST (WEEKLY) ATL NON ATL CAST 3-6 MINGGU FINAL CAST PEMERIKSAAN RADIOGRAFI PROTOKOL BRACING .

dengan form khusus seperti yang terdapat pada lampiran 1. Soeharso Surakarta. DR. DR. DR. . Soeharso Surakarta. Obyek Penelitian Obyek penelitian yang digunakan adalah pasien dengan clubfoot yang datang di Poliklinik Rumah Sakit Orthopedi Prof. 3. dengan membandingkan hasil evaluasi radigrafi pre dan paska perlakuan terapi pasien clubfoot dengan metode Ponseti. Dengan kriteria inklusi:   Pasien Idiopathic Clubfoot yang datang di Poliklinik. DR. Lokasi Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Poliklinik Rumah Sakit Orthopedi Prof. Bersedia diterapi dengan metode Ponseti Kriteria Eksklusi:  Pasien dengan Syndromic Clubfoot 3. R. R. Soeharso Surakarta. mulai bulan Mei 2009 sampai Bulan Oktober 2009 yang memenuhi kriteria inklusi. dan pemeriksaan radiografi dilakukan di bagian Radiologi Poliklinik Rumah Sakit Orthopedi Prof. R.III.3 Pengambilan Sampel Data diambil dari catatan medis pasien yang datang ke Poliklinik Rumah Sakit Orthopedi Prof. R. R. C. Jenis Penelitian Penelitian ini adalah penelitian observasional dengan tinjauan crossectional. 1 METODOLOGI PENELITIAN METODOLOGI PENELITIAN A. B. 3. Soeharso Surakarta. Soeharso Surakarta untuk pemeriksaan klinis.2 Besar Sampel Pengambilan sampel dilakukan secara berurutan pada pasien yang datang di Poliklinik Rumah Sakit Orthopedi Prof. DR.

5.6 Pemeriksaan Radiologis AP View.Sebelum dan sesudah casting. kemudian dilakukan penilaian dan dicatat dengan form seperti yang terdapat dalam lampiran 2. 3.4 Waktu dan Tempat Penelitian Pengambilan sampel dilakukan pada periode bulan Mei sampai Oktober 2009 di Poliklinik Rumah Sakit Orthopedi Prof.5.5 Definisi Operasional 3.5. 3. R. dilakukan pemeriksaan radiografi dengan teknik yang telah tersandarisasi dengan selalu dilakukan oleh petugas radiografi dan peneliti. DR.1 Idiopathic Clubfoot Clubfoot tanpa kelainan kongenital yang lain.6 Identifikasi Variabel Penelitian . 3.5.2 Metode Ponseti Metode penanganan clubfoot menurut dr.3 Pemeriksaan radiologis Pre treatment Pemeriksaan radiologis awal sebelum manipulasi dan Cast pertama. 3.5 Idiopathic clubfoot yang terkoreksi baik: CLINICAL ASSESMENT CAVUS ADDUCTUS VARUS EQUINUS 3. 3.5.5.4 Pemeriksaan radiologis Post treatment Pemeriksaan radiologis sesudah dilakukan Cast terakhir sebelum beralih ke bracing. Soeharso Surakarta. 3. Ponseti. yaitu 10o Cephalad dan Lateral View dalam keadaan Forced Dorsoflexion 3.

Grafik usia pasien pada penelitan sebagaimana yang tergambar pada grafik 1. dan dapat dilakukan dorsofleksi minimal 20o. didapatkan usia pasien antara 1 bulan sampai 2 tahun.2 Variabel Bergantung Evaluasi pemeriksaan radiologis. Grafik Usia Pasien .1 Distribusi Menurut Usia Dari 37 pasien tersebut. 3. dan telah terkoreksi cavus dan varusnya. Soeharso Surakarta. telah didapatkan keadaan klinis berupa keadaan kaki yang sudah terkoreksi. usia diatas 6 bulan sebanyak 15 pasien.1 Variabel Bebas Terapi metode Ponseti. IV. HASIL PENELITIAN Pada penelitian yang dilakukan di Rumah Sakit Orthopedi Prof. DR. 9 8 7 6 5 4 3 2 1 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 24 JUMLAH USIA USIA Grafik 1. Dan pasien dengan usia dibawah 6 bulan ada 22 pasien. dilakukan pengambilan data klinis dan radiologis pada 37 pasien dengan 53 kaki dengan idiopathic clubfoot. dengan pasien terbanyak pada usia 1 bulan yaitu 8 pasien. yaitu dengan sudut abduksi minimal 60o.6. antara periode bulan mei 2009 sampai September 2009. 4. Semua pasien yang masuk dalam studi tersebut adalah pasien yang pada pengegipan yang terakhir.6.3.

4. Dengan persentase seperti tergambar pada Diagram 1. seperti yang terlihat pada diagram 2.3 Distribusi Menurut Jenis Kelamin Persebaran jenis kelamin pasien pada penelitian ini. Distribusi Menurut Jenis Kelamin . didapatkan 14 pasien berjenis kelamin perempuan.2 Distribusi Menurut Keterlibatan Kaki Diantara 37 pasien dengan idiopathic clubfoot didapatkan 21 anak dengan unilateral clubfoot dan 16 anak dengan bilateral clubfoot. yang merupakan 38% dari total. Diagram 1. dan berjenis kelamin laki-laki pada 62% kasus atau pada 23 pasien. Distribusi Menurut Keterlibatan Kaki 4. Diagram 2.

karena sudah mendapatkan dorsofleksi yang adekuat. pada 53 kaki tersebut. tahap sesudahnya adalah koreksi equinus. dan 4 kali pengegipan pada 9 kasus.5 Distribusi Menurut Jumlah Tenotomi Setelah koreksi cavus. varus dan abduksi. banyaknya seri pengegipan bervariasi antara 4 sampai 7 kali. SERIAL CAST 7KALI 21% 6 KALI 19% 4 KALI 17% 5 KALI 43% Diagram 3.4 Distribusi Menurut Jumlah Pengegipan Setelah dilakukan serial casting. telah terkoreksi. Persentase Serial Casting 4. kemudian didapatkan 7 kali seri pengegipan pada 11 kasus. Namun sebagian besar pasien tetap dilakukan perkutaneus Achiles tenotomi pada 32 kaki. Pada beberapa kasus. sedangkan pada 21 kaki yang lain tidak dilakukan. Persentasenya dapat dilihat di diagram 3. Persentase ATL . Persentasenya dapat dilihat pada diagram 4. tidak perlu dilakukan tenotomi perkutaneus. berdasarkan kapan terakhir kali didapatkan koreksi yang adekuat. karena equinus dapat dikoreksi bersamaan dengan serial casting.4. Diagram 4. 6 kali pengegipan pada 10 kasus. Kebanyakan dilakukan koreksi sebanyak 5 kali pada 23 kaki.

Sedangkan pada grsfik 3 didapatkan bahwa sudut-sudut TCA proyeksi anterior sudah terkoreksi dan semuanya dalam batasan normal.5 o. ada 2 pengukuran sudut yang dilakukan. 4.6.4.9 o. dengan mean 35.6 Hasil Proyeksi Anteroposterior Pada pemerikasaan radiografi untuk proyeksi Anteroposterior.1 TCA (talocalcaneal angle) Pada pemeriksaan pre terapi untuk sudut talocalcaneal angle didapatkan seperti pada grafik 2. didapatkan data bahwa sudut TCA sebelum terapi menunjukkan gambaran sebagai clubfoot dengan mean 11. antara 25-50o. TCA Proyeksi Anteroposterior Pre Terapi Pada gambar diatas. 10 8 JUMLAH 6 4 2 0 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 SUDUT TCA Grafik 2. yaitu sudut talocalcaneal dan sudut talo-1st metatarsal. . Selanjutnya sudut talocalcaneal disingkat dengan TCA (talocalcaneal angle) dan sudut talo-1st metatarsal disingkat dengan TFM (talo-1st metatarsal).

Sedangkan pada grafik 5 didapatkan bahwa sudut-sudut TCA proyeksi anterior sudah terkoreksi dan semuanya dalam batasan normal. TFM Pre Terapi .2 TFM (talo-1st metatarsal). 7 6 5 JUMLAH 4 3 TFM 2 1 0 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 SUDUT TFM Grafik 4. TCA paska terapi 4.6.18 16 14 12 10 8 6 4 2 0 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 SUDUT POST TERAPI JUMLAH Grafik 3. seperti pada grafik 4. antara 0 sampai -20o. Untuk penilaian terhadap sudut TFM pre operasi menunjukkan gambaran sebagai clubfoot.

ada 3 sudut yang dinilai. Sedangkan pada grafik 7 didapatkan bahwa sudut-sudut TCA proyeksi anterior sudah terkoreksi dan semuanya dalam batasan normal. dan TiCA(Tibiocalcaneal Angle). 5.1 TCA (talocalcaneal Angle) (talocalcaneal Pada penilaian sudut TCA didapatkan gambaran sudut sebagai clubfoot.7 Hasil Proyeksi Lateral Pada proyeksi lateral. yaitu TCA Angle).7. TFM Paska Terapi 4. TCA pre terapi . seperti pada grafik 6. TTA (Tibiotalar angle).18 16 14 12 JUMLAH 10 8 6 4 2 0 0 -1 -2 -3 -4 -5 -6 -7 -8 -9 -10 TFM SUDUT TFM Grafik 5. 10 9 8 7 6 5 4 3 2 1 0 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 TCA JUMLAH TCA Grafik 6. antara 25 sampai 50o.

TTA Pre Terapi . seperti pada grafik 9.Mean yang didapat sebelum operasi adalah 15. Pada pemeriksaan paska terapi. seperti pada grafik 8. didapatkan pemeriksaan sebelum terapi.2 TTA (Tibiotalar angle) Pada pengukuran sudut Tibiotalar.224 o. sudut TTA didapatkan antara 85 sampai 95 o yang berarti masuk dalam rentang normal antara 70 sampai 100 o. sudut TTA antara110 sampai 125o yang masuk kategori clubfoot. 12 10 JUMLAH 8 6 4 2 0 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 TCA TCA Grafik 7. TCA Paska Terapi 4. 14 12 10 jumlah 8 6 4 2 0 110111 112113114 115116117 118119120121 122123124 125 Sudut TTA TTA Grafik 8.3o. sedangkan paska terapi didapatkan 34.7.

TiCA Pre Terapi . sebelum terapi didapatkan antara 97 sampai 115 o yang masuk dalam kategori clubfoot. Sedangkan pada pemeriksaan paska terapi didapatkan rentang sudut antara 50 sampai 58 o yang berarti masuk dalam rentang normal TiCA yaitu antara 20 sampai 60 o. 7 6 5 jumlah 4 3 2 1 0 97 99 101 103 105 107 109 111 113 115 Sudut TiCA TiCA Grafik 10. seperti pada gambar 10.3 TiCA (Tibiocalcaneal Angle) Pada pengukuran sudut Tibiocalcaneal (TiCA).10 9 8 7 6 5 4 3 2 1 0 85 86 87 88 89 90 91 92 93 94 95 sudut TTA jumlah TTA Grafik 9.7. TTA Paska terapi 4.

menentukan terapi dan mengevaluasi terapi clubfoot.01 dengan confidence interval 95%. Menarik untuk diketahui apakah pemeriksaan radiologis untuk evaluasi terapi clubfoot juga memberikan hasil yang baik. TiCA Paska Terapi Pada penilaian menggunakan uji statistik pre dan paska terapi. didapatkan semua peningkatan nilai sudut pre dan paska terapi menunjukkan nilai yang signifikan dengan p<0. PEMBAHASAN Ponseti menganjurkan pemeriksaan klinis saja untuk menentukan evaluasi terhadap clubfoot dan evaluasi penanganannya.0 dengan uji paired T-Test. 10. V. Para ahli sejak lama telah menganjurkan perlunya pemeriksaan radiologis untuk membantu diagnosis. dengan menggunakan SPSS 16.12 10 8 JUMLAH 6 4 2 0 50 51 52 53 54 TiCA 55 56 57 58 TiCA Grafik 11.11. sekalipun Ponseti dendiri tidak merekomendasikan.12 . Simon (1978) telah mengemukakan kontroversi dan melaporkan beberapa perbedaan pendapat diantara para ahli untuk penggunaan pemeriksaan radiologis sebagai alat untuk eveluasi terapi.

VI. Peningkatan sudut-sudut yang dijadikan parameter antara sebelum terapi dengan sesudah terapi menunjukkan hasil yang bermakna secara statistik. Pemeriksaan sudut radiologis pada proyeksi anteroposterior dan lateral sesudah terapi masuk ke dalam rentang normal. 10. masuk ke dalam kategori clubfoot. Pemeriksaan sudut radiologis pada proyeksi anteroposterior dan lateral sebelum terapi. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian didapatkan kesimpulan: 1.11 Hasil pada penelitian ini menunjukkan proyeksi anterior maupun lateral pemeriksaan menunjukkan peningkatan yang bermakna dan seluruhnya masuk kedalam rentang normal.11 Pada penelitian didapatkan bahwa pasien clubfoot yang datang ke poliklinik RS Orthopedi Soeharso antara Mei 2009 sampai Oktober 2009 sebanyak 37 pasien dengan 53 kaki clubfoot. Pemeriksaan pasien idiopathic clubfoot yang dilakukan secara klinis sebelum dan sesudah terapi menunjukkan hasil yang sama pada pemeriksaan radiologis.4 Pemeriksaan radiologis proyeksi anteroposterior dan lateral sebelum terapi menujukkan rentang sudut dengan gambaran clubfoot sebagaimana disebutkan Tachjdian. didapatkan 62% diantaranya adalah perempuan. Greenspan dan Campbell. 1. sedangkan 38% nya adalah laki-laki. 4. persentase unilateral dibandingkan bilateral adalah 50%.Pemeriksaan radiologis dengan menggunakan gambaran tulang pada hindfoot dikarenakan adanya pusat penulangan primer yang dapat terlihat pada pemeriksaan radiologis sekalipun diperiksa pada bayi yang masih pada awal kehidupan.10. Sebanyak 57% adalah unilateral. sehingga penilaian deformitas clubfoot secara radiologis dapat dilakukan pada usia berapapun. Sedangkan pada data jenis kelamin.1. . 3. bahwa semua sudut pada 9. KESIMPULAN DAN SARAN 6. 2. dimana dilaporkan sebelumnya.

Canale ST.B. Tachdjian Pediatric Orthopedics. Ponseti IV. Overview of Ponseti Management. Nordin S. Faisham W. Treatment of Idiopathic Clubfoot: An Historical Review. 2000 8.1990. Second Edition. 131-40. 3. 8-10. 4. 34-40. 1998 7. January 2002. In: Textbook of Disorders and Injuries of The Musculoskeletal System. Congenital Abnormalities. Congenital Clubfoot Fundamentals of Treatment. Ponseti I. 6.B. vol 9. 1999. Evaluasi pasien idiopathic clubfoot cukup dilakukan secara klinis. 2003 Dobbs MB. DAFTAR PUSTAKA 1. In: Malaysian Journal of Medical Scienses. WB Saunders Company. 25 No. Global-Help Publication. Hyman J. Aidura M. Baltimore. Saran Data yang didapatkan dapat digunakan sebagai baseline data untuk longterm follow up dan selanjutnya dilakukan pemeriksaan lagi secara longterm pada pasienpasien idiopathic clubfoot terutama secara klinis dan radiologis sesudah pasien mulai berjalan dan sesudah usia dewasa. no 1. Controversies in Congenital Clubfoot. Campbell’s Operative Orthopaedics. Salter R. Tachdjian MO. Razak S. 5. 3th ed.2. Vol. sebab sudah mewakili pemeriksaan radilogis yang memberikan hasil yang berkorelasi positif dengan keadaan klinisnya. 4 April 2004 .5. Pediatric In Review. Morcuende JA. 6. 2. Lippincott Williams  Wilkins. 2003. Ponseti IV. Oxford Medical Publication. In: Clubfoot: Ponseti Management. Gurnett CA. The IOWA Orthopedic Journal Vol 20. Tenth Edition. Mosby. Roye D.

Greenspan A. Churcill Livingstone. In: Canale SI. 2005. 2008. Philadelphia. Simmon GW. Available from URL: http://www. Clubfoot.J. Manner H. London. The Management of Clubfoot. 12. The Journal of Bone and Joint Surgery (American). Fourth Edition. Ponseti Management of Clubfootin Older Infants Clinical Ortopedics. 2000. 2001. Tachdjian’s Pediatric Orthopedics. Beatson TR. University Toronto. 2003. Macnicol MF.2003 . Kite JH.89:11771183 14. A standardized method for the radiographic evaluation of clubfeet. 1966 13. 2007. 19. Lipincott William and Wilkins. Suda R. Clinical Orthopedics. Rolf B. The Journal Bone and Joint Surgery.com/p/article/mi:March. Herzenberg J. 11.9. Sucato D. Essential Orthopedics and Trauma. 1978 Sep. 17. 18. 2006 20. What's New in Pediatric Orthopaedics. 15. Mosby.2003 Noam B.March. The Journal of Bone and Joint Surgery (American). Tachdjian MO. 8th ed. eds. 973-1006. Solomon L. Narayanan UG. Division of Ortjopedics and Health Sience. Herzenberg ZE. Warwick D. The Ankle and Foot. Radler C. Congenital Anomalies of Lower Extremity. Available from URL: http://www. Arnold.emedicine. Radiographic Evaluation of Idiopathic Clubfeet Undergoing Ponseti Treatment. 2008.(135):107-18.90:1401-1411. Beaty JH. Grune and Stratton Inc.. In: Apley’s System of Orthopaedics and Fractures. Patel M. 10. Herzenberg JE. 16. 48891. 2000. Clubfoot: Update on The Initial Management and Surgical Option. Vol 46 No 1. 1964. Nayagam S. 10th ed. WB Saunders Elsevier. Lippincott Williams & Wilkins.findarticles. Campbell’s Operatif Orthopaedics. 22. Dandy D.com/orthoped/htm. Third Edition. 21. Orthopedic Radiology a Practical Approach. The Clubfoot. A Method Of Assesing Correction In Clubfeet.

Faulks S. . Johnston CE. The Journal of Bone and Joint Surgery (American). Karol LA. Rathjen KE.90:23132321. A Comparison of Two Nonoperative Methods of Idiopathic ClubfootCorrection: The Ponseti Method and the French Functional (Physiotherapy) Method. 2008. Richards S.23.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful