P. 1
Format Jurnal Ta m Ariffudin Solo

Format Jurnal Ta m Ariffudin Solo

|Views: 57|Likes:
Dipublikasikan oleh Kikin Survival Pujianto

More info:

Published by: Kikin Survival Pujianto on Feb 16, 2012
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

02/16/2012

pdf

text

original

EVALUASI RADIOLOGIS PADA PASIEN IDIOPATHIC CLUBFOOT YANG DITERAPI DENGAN METODE PONSETI DI RSO Prof. DR. R.

SOEHARSO SURAKARTA

Muhammad Ariffudin*, Anung Budi Satriadi** *Residen Orthopaedi dan Traumatologi FK UNS ** Staf Pengajar PPDS Orthopaedi dan Traumatologi FK UNS ABSTRACT
Background: Idiopathic clubfoot is one of the most common problems in pediatric orthopaedics. The incidence about 1 to 2 per 1000 live birth. Treatment for clubfoot is remain controversial. The controversy caused by no standardized method to evaluate the treatment. The Ponseti method for treatment of idiopathic clubfoot involves manipulation, the use of serial cast, and percutaneus Achiles tenotomy in most cases and bracing with and abduction orthosis to prevent relapse. Although Ponseti recommended evaluation of the infant clubfoot strictly by palpation, many orthopedic surgeon still rely on radiograph for decision making during treatment. The aim of this study is to.evaluate Ponseti method on idiopathic clubfoot with radiological appearance. Method: We conduct the study at outpatient department of Prof. Soeharso Hospital Surakarta, since may 2009 until October 2009. After diagnosed as idiopathic clubfoot, radiograph examination were made on anteroposterior and full dorsoflexion lateral view. The radiograph examination begin before treatment and made after final casting, before bracing period. The anteroposterior talocalcaneal angle and talo 1st metatarsal were measured. On lateral view, talocalcaneal, tibiotalar and tibiocalcaneal also measured. The result before and after treatment then compared and statisticly tested. Result: 53 feet was evaluated from 37 patients. Anteroposterior view shows talocalcaneal angle before treatment with mean 11,9o become 35,5o after treatment. Talo 1st metatarsal angle shows initial number is 38,0 o, become -4,24o after treatment. Lateral view shows talocalcaneal angle initial was 15,24 o become 39,3o after treatment. Tibiotalar angle shows initial was 116,4o become 89,5o aftertreatment. Tibiocalcaneal angle shows initial was 105,1o become 53,2o aftertreatment. Aftertreatment angles shows within normal limit, and the improvement are statisticly significant. Conclusions: The measured angles in anteroposterior and lateral view after ponseti method of treatment on clubfoot show good result. corrected on clinical evaluation is also give normal radiographic after treatment. Keywords: Idiopathic Clubfoot, Ponseti Method, Radiograph Evaluation, Soeharso Hospital

4 Campbell menganjurkan untuk melakukan evaluasi untuk clubfoot dilakukan sebelum. meskipun di tangan seorang ahli bedah orthopedi yang berpengalaman. Sedangkan Ponseti melakukan studi dengan melakukan pemeriksaan radiografi pada pasien clubfoot yang diterapi dengan metode Kite setelah Longterm Follow up. Cabanac dan Heywood. dan insiden paling tinggi di Hawaii 49 per 1000 kelahiran hidup Kejadian yang menimpa anak laki-laki dilaporkan juga 2 kali lebih sering dibanding anak perempuan. midtarsal dan tarsometatarsal. yaitu sebuah deformitas yang mudah untuk didiagnosis.1. dan equinus (menyerupai kuda) yang dimaksud tumit dalam posisi plantar fleksi dan varus berarti inversi dan adduksi. 2 Tujuan pemeriksaan radiografi pada clubfoot adalah untuk menentukan secara tepat relasi anatomi dari talonavicular.6 per 1000. LATAR BELAKANG Kelainan congenital yang paling penting pada kaki adalah clubfoot atau talipes equinovarus. namun sulit untuk mengoreksi dengan hasil yang sempurna. selanjutnya menggunakan sudut talocalcaneal pada proyeksi lateral dalam posisi plantarfleksi dan dorsofleksi.I.29 kelahiran hidup. di Polynesia 6. tibiotalar. di Maori dan kepulauan pasifik lain 6-7 per 1000. dengan per 1000 kejadian bilateral pada 50 % kasus. Talipes equino varus berasal dari bahasa latin talus (ankle).5 per 1000. di Caucasia 1. Di USA insiden clubfoot 2. Kite dan Kandell yang kemudian hari menekankan pentingnya menentukan adanya divergen dari garis yang dibentuk dari aksis talocalcaneal. 7 .5 Ponseti tidak menganjurkan pemeriksaan rutin untuk diagnosa dan terapi clubfoot. dan setelah terapi.81 per 1000. pada saat terapi.6. pes (kaki). Insidensinya dilaporkan sekitar 1 sampai 2 per 1000 kelahiran. PENDAHULUAN a. di Cina dan Jepang 0.1 Kelainan ini adalah kelainan yang paling sering ditemukan dibandingkan dengan kelainan kongenital orthopedi yang lain yang memerlukan perawatan yang intensif. baik proyeksi anteroposterior maupun proyeksi lateral. Barwell pada tahun 1896 adalah yang pertama kali menentukan nilai pada pemeriksaan radiografi untuk memeriksa clubfoot.

1. Tujuan Umum Untuk melakukan evaluasi penangan idiopathic clubfoot dengan metode Ponseti secara klinis dan radiologis. Sebagai data awal untuk melakukan longterm follow up klinis dan radiologis terhadap pasien idiopathic clubfoot yang diterapi dengan metode Ponseti.4 MANFAAT PENELITIAN A. B. Tujuan Khusus 1. Mendukung secara praktis. B. . Untuk megetahui apakah pasien idiopathic clubfoot yang diterapi dengan metode Ponseti dan baik secara klinis dapat didukung dengan data radiografis yang sampai saat ini masih banyak direkomendasikan oleh para ahli dan dikerjakan pada praktek oleh ahli ortopedi. 2. Untuk membuktikan apakah terapi idiopathic clubfoot dengan metode Ponseti memberikan hasil yang baik pada evaluasi Radiologis. C. untuk diagnostik dan evaluasi terapi pasien idiopathic clubfoot.3 TUJUAN PENELITIAN A. memberikan hasil yang baik pada evaluasi dengan pemeriksaan radiografi? 1.2 RUMUSAN MASALAH Apakah terapi idiopathic clubfoot dengan metode Ponseti yang secara klinis sudah tercapai tujuan terapinya. Untuk digunakan sebagai data awal terhadap long term follow up paska terapi pasien dengan idiopathic clubfoot. 1.

II. KERANGKA PENELITIAN PEMERIKSAAN TEV DEFORMITY (KAKI PENGKOR) PMERIKSAAN KLINIS DAN RADIOGRAFI IDIOPATHIC CLUBFOOT PONSETI SERIAL CAST (WEEKLY) ATL NON ATL CAST 3-6 MINGGU FINAL CAST PEMERIKSAAN RADIOGRAFI PROTOKOL BRACING .

DR. R. Obyek Penelitian Obyek penelitian yang digunakan adalah pasien dengan clubfoot yang datang di Poliklinik Rumah Sakit Orthopedi Prof. 3. DR. R. R.III. . DR. DR. B. Soeharso Surakarta. DR. Jenis Penelitian Penelitian ini adalah penelitian observasional dengan tinjauan crossectional. 1 METODOLOGI PENELITIAN METODOLOGI PENELITIAN A.2 Besar Sampel Pengambilan sampel dilakukan secara berurutan pada pasien yang datang di Poliklinik Rumah Sakit Orthopedi Prof. Soeharso Surakarta. R. R. C. Lokasi Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Poliklinik Rumah Sakit Orthopedi Prof. Bersedia diterapi dengan metode Ponseti Kriteria Eksklusi:  Pasien dengan Syndromic Clubfoot 3. Soeharso Surakarta. 3. Dengan kriteria inklusi:   Pasien Idiopathic Clubfoot yang datang di Poliklinik. Soeharso Surakarta. dengan form khusus seperti yang terdapat pada lampiran 1. Soeharso Surakarta untuk pemeriksaan klinis. dengan membandingkan hasil evaluasi radigrafi pre dan paska perlakuan terapi pasien clubfoot dengan metode Ponseti. mulai bulan Mei 2009 sampai Bulan Oktober 2009 yang memenuhi kriteria inklusi.3 Pengambilan Sampel Data diambil dari catatan medis pasien yang datang ke Poliklinik Rumah Sakit Orthopedi Prof. dan pemeriksaan radiografi dilakukan di bagian Radiologi Poliklinik Rumah Sakit Orthopedi Prof.

Ponseti. 3.5. yaitu 10o Cephalad dan Lateral View dalam keadaan Forced Dorsoflexion 3. 3.2 Metode Ponseti Metode penanganan clubfoot menurut dr.3 Pemeriksaan radiologis Pre treatment Pemeriksaan radiologis awal sebelum manipulasi dan Cast pertama.5.4 Waktu dan Tempat Penelitian Pengambilan sampel dilakukan pada periode bulan Mei sampai Oktober 2009 di Poliklinik Rumah Sakit Orthopedi Prof. DR.4 Pemeriksaan radiologis Post treatment Pemeriksaan radiologis sesudah dilakukan Cast terakhir sebelum beralih ke bracing.5 Definisi Operasional 3. kemudian dilakukan penilaian dan dicatat dengan form seperti yang terdapat dalam lampiran 2.1 Idiopathic Clubfoot Clubfoot tanpa kelainan kongenital yang lain. 3.5 Idiopathic clubfoot yang terkoreksi baik: CLINICAL ASSESMENT CAVUS ADDUCTUS VARUS EQUINUS 3.6 Pemeriksaan Radiologis AP View.5.Sebelum dan sesudah casting. R.5.5. 3.5. dilakukan pemeriksaan radiografi dengan teknik yang telah tersandarisasi dengan selalu dilakukan oleh petugas radiografi dan peneliti. 3. Soeharso Surakarta.6 Identifikasi Variabel Penelitian . 3.

Semua pasien yang masuk dalam studi tersebut adalah pasien yang pada pengegipan yang terakhir. HASIL PENELITIAN Pada penelitian yang dilakukan di Rumah Sakit Orthopedi Prof. 3. dan dapat dilakukan dorsofleksi minimal 20o. IV. dan telah terkoreksi cavus dan varusnya. didapatkan usia pasien antara 1 bulan sampai 2 tahun. Grafik Usia Pasien . Dan pasien dengan usia dibawah 6 bulan ada 22 pasien. dilakukan pengambilan data klinis dan radiologis pada 37 pasien dengan 53 kaki dengan idiopathic clubfoot.3.1 Variabel Bebas Terapi metode Ponseti. yaitu dengan sudut abduksi minimal 60o. antara periode bulan mei 2009 sampai September 2009. Grafik usia pasien pada penelitan sebagaimana yang tergambar pada grafik 1.6. 9 8 7 6 5 4 3 2 1 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 24 JUMLAH USIA USIA Grafik 1. Soeharso Surakarta. dengan pasien terbanyak pada usia 1 bulan yaitu 8 pasien.2 Variabel Bergantung Evaluasi pemeriksaan radiologis.1 Distribusi Menurut Usia Dari 37 pasien tersebut. telah didapatkan keadaan klinis berupa keadaan kaki yang sudah terkoreksi. DR. 4.6. usia diatas 6 bulan sebanyak 15 pasien.

yang merupakan 38% dari total. seperti yang terlihat pada diagram 2. Distribusi Menurut Keterlibatan Kaki 4. Diagram 2. dan berjenis kelamin laki-laki pada 62% kasus atau pada 23 pasien.3 Distribusi Menurut Jenis Kelamin Persebaran jenis kelamin pasien pada penelitian ini.4.2 Distribusi Menurut Keterlibatan Kaki Diantara 37 pasien dengan idiopathic clubfoot didapatkan 21 anak dengan unilateral clubfoot dan 16 anak dengan bilateral clubfoot. Diagram 1. Distribusi Menurut Jenis Kelamin . didapatkan 14 pasien berjenis kelamin perempuan. Dengan persentase seperti tergambar pada Diagram 1.

4 Distribusi Menurut Jumlah Pengegipan Setelah dilakukan serial casting.4. Persentase ATL . Kebanyakan dilakukan koreksi sebanyak 5 kali pada 23 kaki. SERIAL CAST 7KALI 21% 6 KALI 19% 4 KALI 17% 5 KALI 43% Diagram 3. Pada beberapa kasus. 6 kali pengegipan pada 10 kasus. Namun sebagian besar pasien tetap dilakukan perkutaneus Achiles tenotomi pada 32 kaki. kemudian didapatkan 7 kali seri pengegipan pada 11 kasus. tidak perlu dilakukan tenotomi perkutaneus. tahap sesudahnya adalah koreksi equinus. Persentasenya dapat dilihat di diagram 3. Persentase Serial Casting 4. sedangkan pada 21 kaki yang lain tidak dilakukan. karena equinus dapat dikoreksi bersamaan dengan serial casting. dan 4 kali pengegipan pada 9 kasus. pada 53 kaki tersebut. telah terkoreksi. varus dan abduksi. karena sudah mendapatkan dorsofleksi yang adekuat. berdasarkan kapan terakhir kali didapatkan koreksi yang adekuat. banyaknya seri pengegipan bervariasi antara 4 sampai 7 kali.5 Distribusi Menurut Jumlah Tenotomi Setelah koreksi cavus. Diagram 4. Persentasenya dapat dilihat pada diagram 4.

yaitu sudut talocalcaneal dan sudut talo-1st metatarsal. ada 2 pengukuran sudut yang dilakukan. TCA Proyeksi Anteroposterior Pre Terapi Pada gambar diatas.4. Sedangkan pada grsfik 3 didapatkan bahwa sudut-sudut TCA proyeksi anterior sudah terkoreksi dan semuanya dalam batasan normal. 10 8 JUMLAH 6 4 2 0 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 SUDUT TCA Grafik 2.6 Hasil Proyeksi Anteroposterior Pada pemerikasaan radiografi untuk proyeksi Anteroposterior. Selanjutnya sudut talocalcaneal disingkat dengan TCA (talocalcaneal angle) dan sudut talo-1st metatarsal disingkat dengan TFM (talo-1st metatarsal).6. . 4. antara 25-50o.9 o. didapatkan data bahwa sudut TCA sebelum terapi menunjukkan gambaran sebagai clubfoot dengan mean 11.1 TCA (talocalcaneal angle) Pada pemeriksaan pre terapi untuk sudut talocalcaneal angle didapatkan seperti pada grafik 2. dengan mean 35.5 o.

18 16 14 12 10 8 6 4 2 0 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 SUDUT POST TERAPI JUMLAH Grafik 3. Untuk penilaian terhadap sudut TFM pre operasi menunjukkan gambaran sebagai clubfoot.6. seperti pada grafik 4. Sedangkan pada grafik 5 didapatkan bahwa sudut-sudut TCA proyeksi anterior sudah terkoreksi dan semuanya dalam batasan normal. 7 6 5 JUMLAH 4 3 TFM 2 1 0 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 SUDUT TFM Grafik 4. TFM Pre Terapi . antara 0 sampai -20o.2 TFM (talo-1st metatarsal). TCA paska terapi 4.

TTA (Tibiotalar angle).7.1 TCA (talocalcaneal Angle) (talocalcaneal Pada penilaian sudut TCA didapatkan gambaran sudut sebagai clubfoot. Sedangkan pada grafik 7 didapatkan bahwa sudut-sudut TCA proyeksi anterior sudah terkoreksi dan semuanya dalam batasan normal. 10 9 8 7 6 5 4 3 2 1 0 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 TCA JUMLAH TCA Grafik 6. dan TiCA(Tibiocalcaneal Angle).7 Hasil Proyeksi Lateral Pada proyeksi lateral. yaitu TCA Angle). TCA pre terapi . TFM Paska Terapi 4. seperti pada grafik 6. ada 3 sudut yang dinilai.18 16 14 12 JUMLAH 10 8 6 4 2 0 0 -1 -2 -3 -4 -5 -6 -7 -8 -9 -10 TFM SUDUT TFM Grafik 5. antara 25 sampai 50o. 5.

sudut TTA antara110 sampai 125o yang masuk kategori clubfoot. sudut TTA didapatkan antara 85 sampai 95 o yang berarti masuk dalam rentang normal antara 70 sampai 100 o.Mean yang didapat sebelum operasi adalah 15. 12 10 JUMLAH 8 6 4 2 0 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 TCA TCA Grafik 7. didapatkan pemeriksaan sebelum terapi. seperti pada grafik 8. 14 12 10 jumlah 8 6 4 2 0 110111 112113114 115116117 118119120121 122123124 125 Sudut TTA TTA Grafik 8.224 o. TCA Paska Terapi 4. Pada pemeriksaan paska terapi. sedangkan paska terapi didapatkan 34.3o. TTA Pre Terapi .7.2 TTA (Tibiotalar angle) Pada pengukuran sudut Tibiotalar. seperti pada grafik 9.

TiCA Pre Terapi .3 TiCA (Tibiocalcaneal Angle) Pada pengukuran sudut Tibiocalcaneal (TiCA). Sedangkan pada pemeriksaan paska terapi didapatkan rentang sudut antara 50 sampai 58 o yang berarti masuk dalam rentang normal TiCA yaitu antara 20 sampai 60 o. seperti pada gambar 10. TTA Paska terapi 4.10 9 8 7 6 5 4 3 2 1 0 85 86 87 88 89 90 91 92 93 94 95 sudut TTA jumlah TTA Grafik 9. sebelum terapi didapatkan antara 97 sampai 115 o yang masuk dalam kategori clubfoot. 7 6 5 jumlah 4 3 2 1 0 97 99 101 103 105 107 109 111 113 115 Sudut TiCA TiCA Grafik 10.7.

didapatkan semua peningkatan nilai sudut pre dan paska terapi menunjukkan nilai yang signifikan dengan p<0. dengan menggunakan SPSS 16.12 10 8 JUMLAH 6 4 2 0 50 51 52 53 54 TiCA 55 56 57 58 TiCA Grafik 11. 10. Simon (1978) telah mengemukakan kontroversi dan melaporkan beberapa perbedaan pendapat diantara para ahli untuk penggunaan pemeriksaan radiologis sebagai alat untuk eveluasi terapi.01 dengan confidence interval 95%. Para ahli sejak lama telah menganjurkan perlunya pemeriksaan radiologis untuk membantu diagnosis. sekalipun Ponseti dendiri tidak merekomendasikan. PEMBAHASAN Ponseti menganjurkan pemeriksaan klinis saja untuk menentukan evaluasi terhadap clubfoot dan evaluasi penanganannya. TiCA Paska Terapi Pada penilaian menggunakan uji statistik pre dan paska terapi. V.12 . Menarik untuk diketahui apakah pemeriksaan radiologis untuk evaluasi terapi clubfoot juga memberikan hasil yang baik.11. menentukan terapi dan mengevaluasi terapi clubfoot.0 dengan uji paired T-Test.

KESIMPULAN DAN SARAN 6. sehingga penilaian deformitas clubfoot secara radiologis dapat dilakukan pada usia berapapun.Pemeriksaan radiologis dengan menggunakan gambaran tulang pada hindfoot dikarenakan adanya pusat penulangan primer yang dapat terlihat pada pemeriksaan radiologis sekalipun diperiksa pada bayi yang masih pada awal kehidupan.10. bahwa semua sudut pada 9. 2. 1.11 Pada penelitian didapatkan bahwa pasien clubfoot yang datang ke poliklinik RS Orthopedi Soeharso antara Mei 2009 sampai Oktober 2009 sebanyak 37 pasien dengan 53 kaki clubfoot. Sedangkan pada data jenis kelamin.1. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian didapatkan kesimpulan: 1. 4. Sebanyak 57% adalah unilateral. 3. persentase unilateral dibandingkan bilateral adalah 50%. Pemeriksaan pasien idiopathic clubfoot yang dilakukan secara klinis sebelum dan sesudah terapi menunjukkan hasil yang sama pada pemeriksaan radiologis. masuk ke dalam kategori clubfoot. Pemeriksaan sudut radiologis pada proyeksi anteroposterior dan lateral sesudah terapi masuk ke dalam rentang normal. VI.4 Pemeriksaan radiologis proyeksi anteroposterior dan lateral sebelum terapi menujukkan rentang sudut dengan gambaran clubfoot sebagaimana disebutkan Tachjdian. 10. . didapatkan 62% diantaranya adalah perempuan. sedangkan 38% nya adalah laki-laki. Pemeriksaan sudut radiologis pada proyeksi anteroposterior dan lateral sebelum terapi.11 Hasil pada penelitian ini menunjukkan proyeksi anterior maupun lateral pemeriksaan menunjukkan peningkatan yang bermakna dan seluruhnya masuk kedalam rentang normal. Peningkatan sudut-sudut yang dijadikan parameter antara sebelum terapi dengan sesudah terapi menunjukkan hasil yang bermakna secara statistik. dimana dilaporkan sebelumnya. Greenspan dan Campbell.

January 2002. 3th ed. no 1. 3.5. Congenital Clubfoot Fundamentals of Treatment. Roye D. Razak S. Vol. Oxford Medical Publication. Global-Help Publication. Lippincott Williams  Wilkins. Hyman J. Ponseti I. Baltimore. Aidura M. Morcuende JA. 2003 Dobbs MB. 1998 7. Second Edition. Overview of Ponseti Management.B. Controversies in Congenital Clubfoot. Tachdjian MO. vol 9. 131-40. Campbell’s Operative Orthopaedics. Pediatric In Review. The IOWA Orthopedic Journal Vol 20. 8-10. Salter R. 4. 25 No. Faisham W. Evaluasi pasien idiopathic clubfoot cukup dilakukan secara klinis.B. Tenth Edition. sebab sudah mewakili pemeriksaan radilogis yang memberikan hasil yang berkorelasi positif dengan keadaan klinisnya.2. 6. Ponseti IV. Canale ST. In: Clubfoot: Ponseti Management. Tachdjian Pediatric Orthopedics. 34-40. Congenital Abnormalities. Treatment of Idiopathic Clubfoot: An Historical Review. In: Malaysian Journal of Medical Scienses. 4 April 2004 . 5. 1999. Gurnett CA. Nordin S. Ponseti IV. DAFTAR PUSTAKA 1. 2. 6. Saran Data yang didapatkan dapat digunakan sebagai baseline data untuk longterm follow up dan selanjutnya dilakukan pemeriksaan lagi secara longterm pada pasienpasien idiopathic clubfoot terutama secara klinis dan radiologis sesudah pasien mulai berjalan dan sesudah usia dewasa. Mosby. In: Textbook of Disorders and Injuries of The Musculoskeletal System.1990. WB Saunders Company. 2000 8. 2003.

Vol 46 No 1. 2008. In: Canale SI. Nayagam S. Suda R. A standardized method for the radiographic evaluation of clubfeet. Beaty JH. Lipincott William and Wilkins. 2007. London. Orthopedic Radiology a Practical Approach. Simmon GW. 1966 13. Macnicol MF.90:1401-1411. The Journal of Bone and Joint Surgery (American).2003 . 2003. In: Apley’s System of Orthopaedics and Fractures. Clinical Orthopedics. Essential Orthopedics and Trauma. Philadelphia. 2005. 12. Lippincott Williams & Wilkins. 15. eds. Greenspan A. Churcill Livingstone. The Clubfoot. Fourth Edition. Solomon L. Arnold. 19. 2001. 2008. Ponseti Management of Clubfootin Older Infants Clinical Ortopedics. A Method Of Assesing Correction In Clubfeet. Patel M. 2000. Mosby. Beatson TR. Grune and Stratton Inc. 11.. Warwick D. Division of Ortjopedics and Health Sience.emedicine. Campbell’s Operatif Orthopaedics. What's New in Pediatric Orthopaedics.com/p/article/mi:March. WB Saunders Elsevier. 17. 1964. Tachdjian’s Pediatric Orthopedics. Available from URL: http://www. Available from URL: http://www. Narayanan UG.(135):107-18. Herzenberg JE. 2006 20.findarticles. 21. 10th ed. Third Edition. The Management of Clubfoot. Manner H. Kite JH. Herzenberg J. Herzenberg ZE.J. 16.89:11771183 14. Dandy D. 973-1006. 22. The Journal Bone and Joint Surgery. Congenital Anomalies of Lower Extremity. Clubfoot: Update on The Initial Management and Surgical Option. 48891.com/orthoped/htm. Sucato D. 2000. The Ankle and Foot.March. Rolf B.2003 Noam B. University Toronto. 10. Radiographic Evaluation of Idiopathic Clubfeet Undergoing Ponseti Treatment. Tachdjian MO. 18. Clubfoot. 1978 Sep. 8th ed. Radler C.9. The Journal of Bone and Joint Surgery (American).

. Faulks S. A Comparison of Two Nonoperative Methods of Idiopathic ClubfootCorrection: The Ponseti Method and the French Functional (Physiotherapy) Method. The Journal of Bone and Joint Surgery (American). Johnston CE.90:23132321. Rathjen KE. Karol LA. Richards S. 2008.23.

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->