Anda di halaman 1dari 12

BAB I PENDAHULUAN

I.A

Latar Belakang Seperti yang telah kita ketahui dan kita pelajari, aktor-aktor dalam hubungan internasional dapat dikelompokkan menjadi 3, yaitu supra-state actors (aktor supra nasional), state-nation actors (aktor negara-negara) dan sub-state actors (aktor sub negara). Aktor utama dalam hubungan internasional adalah negara. Namun makalah ini tidak akan membahas mengenai state-nation actors melainkan membahas mengenai substate actors. Pada akhir abad 20an, aktor-aktor yang terlibat dalam hubungan internasional tidak lagi hanya negara dan aktor negara saja. Banyak aktor-aktor baru yang terlibat dalam hubungan internasional pada saat itu. Sejak saat itu, mulai bermunculan aktoraktor non-negara yang terlibat dalam proses maupun kegiatan dalam hubungan internasional baik dalam bidang politik, ekonomi, sosial-budaya dan lain-lain.1 Munculnya isu-isu global dalam hubungan internasional menyebabkan

menjamurnya aktor-aktor baru yang berkonsentrasi dalam bidang, keahlian, maupun tujuan yang sama. Salah satu aktor non-negara yang berdiri atas dasar kesamaan tujuan adalah Greenpeace. Greenpeace adalah sebuah International Non Governmental Organization (INGO) yang bergerak dalam isu lingkungan hidup. Organisasi ini termasuk ke dalam kelompok sub-state actors karena tidak melibatkan pemerintah negara dalam struktur organisasi dan bersifat independen. Greenpeace berdiri pada tahun 1971 dengan didasari atas adanya motivasi dan kesadaran untuk menghijaukan serta mendamaikan dunia. Pendiri organisasi ini adalah aktivis-aktivis yang berasal dari Vancouver, Kanada. Dengan memegang teguh misi untuk menjadi saksi kerusakan dunia, aktivis-aktivis ini
1

Margaret E. Keck and Kathryn Sikkink, Transnational Advocacy Networks in International and Regional Politics Article

berlayar ke Alaska dengan menggunakan kapal tua yang bernama Phyllis Cormack. 2 Tujuan dari pelayaran ini adalah untuk menghentikan percobaan nuklir yang dilakukan oleh Amerika Serikat (AS) di Pulau Amchitka, Alaska. Keberhasilan Greenpeace yang pertama ini disusul dengan perubahan kebijakan oleh Pemerintah AS untuk menjadikan Pulau Amchita sebagai kawasan perlindungan bagi burung. 3 Keberhasilan pertama tersebut menjadi tonggak berdiri bagi Greenpeace untuk melakukan gerakan-gerakan lainnya. Dengan keberhasilan tersebut organisasi lingkungan ini menjadi sorotan dan lebih dipandang oleh masyarakat internasional. Hal ini juga menunjukkan bahwa aktor non-negara yang dalam hal ini adalah Greenpeace dapat memperngaruhi kebijakan suatu negara untuk pro terhadap pelestarian lingkungan dan perdamaian. Seiring dengan berjalannya waktu, Greenpeace sudah mengalami banyak perkembangan dan kemajuan. Organisasi ini sudah sangat dikenal di dunia internasional atas kampanye-kampanye mengenai lingkungan hidup secara global. Amsterdam merupakan kota dimana kantor organisasi ini berpusat. Hingga saat ini Greenpeace sudah memiliki 2,8 juta pendukung di seluruh dunia dan kantor regional di 41 negara. Greenpeace tidak hanya fokus pada isu lingkungan di negara-negara barat saja, organisasi yang bergerak dalam bidang lingkungan ini juga memperhatikan kondisi lingkungan di negara-negara timur. Misalnya saja di Asia Tenggara, organisasi ini juga memiliki kantor regional tersendiri. Di Indonesia sendiri, Greenpeace sudah terdaftar resmi di Kementerian

Kehakiman dan HAM sebagai perkumpulan Greenpeace Indonesia. Greenpeace Indonesia juga banyak berperan dalam gerakan-gerakan pelestarian lingkungan terutama dalam hal pelestarian lingkungan hutan dan sumber air.

2 3

http://www.greenpeace.org/seasia/id/about/sejarah-greenpeace/ diakses pada 29 Desember 2010 pukul 08.12 WIB. http://id.wikipedia.org/wiki/Greenpeace diakses pada 3 Januari 2011 pukul 12.22 WIB.

I.B.

Rumusan Masalah y y Seberapa besar peran Greenpeace dalam menangani kasus PT.Sinar Mas? Bagaimana pengaruh Greenpeace dalam proses pelestarian lingkungan dan penyelamatan bumi di Indonesia?

BAB II PEMBAHASAN

Berkembangnya isu-isu global dalam hubungan internasional berdampak kepada munculnya aktor-aktor baru yang terlibat. Pada saat ini, selain negara dan aktor negara, aktor yang mulai menunjukkan eksistensinya adalah aktor non-negara. Aktor non-negara ini beragam, mulai dari aktor individu seperti wisatawan, MNCs seperti IBM, Non Governmental Organizations (NGOs) seperti Amnesty International, National Liberation Organizations (NLOs) seperti Vietcong di Vietnam, teroris, LSM, dan International Non Governmental Organizations (INGOs) seperti Greenpeace. Salah satu INGOs yang sudah lama berdiri adalah Greenpeace, organisasi ini sudah berumur 30 tahun. Pada awal berdiri tahun 1971, organisasi yang bergerak dalam bidang lingkungan hidup dan perdamaian ini sudah berhasil meraih goal pertamanya dengan menghentikan percobaan nuklir yang dilakukan oleh Amerika Serikat di Alaska. Gerakan dari aktivis-aktivis ini membuat Pemerintah Amerika Serikat menghentikan percobaan nuklirnya dan mengubah fungsi lahan tersebut menjadi area perlindungan burung. Secara singkat, Greenpeace dapat mempengaruhi kebijakan Amerika Serikat yang sebelumnya tidak pro kepada isu pelestarian lingkungan dan perdamaian menjadi pro terhadap kedua isu tersebut. Sedikit banyak peran aktor non-negara sudah mulai terlihat dan diakui oleh negaranegara di dunia internasional. Greenpeace juga mulai berpartisipasi dan fokus di Asia sejak 1989, bersamaan dengan didirikannya kantor Greenpeace di Jepang. Isu-isu mengenai lingkungan mulai menjadi perhatian masyarakat internasional ketika suhu panas bumi meningkat sehingga menyebabkan es di kutub mencair. Sejak isu tersebut menjadi isu global, perhatian masyarakat internasional untuk mencegah terjadinya global warming pun meningkat. Salah satu kampanye yang menjadi slogan di masyarakat adalah go green.

Dengan adanya isu global warming, sedikit banyak berdampak kepada perhatian dan kesadaran masyarakat akan pelestarian lingkungan. Mata masyarakat internasional lebih semangat dan peka menyorot kasus-kasus yang menyangkut perusakan lingkungan. Awal perseteruan antara Greenpeace dengan PT.Sinar Mas terjadi pada tahun 2005 ketika terjadi kebakaran hutan di Kalimantan. Greenpeace menuntut PT.Sinar Mas untuk bertanggung jawab atas kerugian yang disebabkan oleh kebakaran hutan tersebut. Karena kebakaran hutan ini, efek rumah kaca semakin besar dan banyak yang terkena Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA). Namun tuduhan yang dilontarkan oleh Greenpeace tidak terbukti karena kebakaran hutan tersebut merupakan kecelakaan alam. Pada bulan Maret 2008, Greenpeace Asia Tenggara mendeteksi adanya perusakan dan penyalahgunaan hutan di Indonesia. Greenpeace menilai bahwa perkebunan kelapa sawit yang dimiliki oleh perusahaan kelapa sawit terbesar di Indonesia yaitu PT.Sinar Mas terus memperluas perkebunan kelapa sawitnya. Hal tersebut mengganggu dan membahayakan ekosistem ragam hayati yang berada di Taman Nasional Kalimantan Barat baik flora maupun fauna. Disebutkan bahwa PT.Sinar Mas merupakan perusahaan minyak sawit terbesar di Indonesia karena perusahaan ini memasok minyak kelapa sawit untuk beberapa perusahaan besar seperti Nestle, Unilever, Henkel, Protect & Gamble, Pizza Hut, McDonalds, Burger King, Danone, Cargill, dan lain-lain. Selain perusahaan di dalam negeri, PT.Sinar Mas juga mengekspor minyak kelapa sawit ke negara-negara barat. Ketika juru kampanye hutan Greenpeace Asia Tenggara mengkonfirmasikan masalah ini ke salah satu perusahaan besar yang menjadi mitra PT.Sinar Mas yaitu PT.Unilever, perusahaan yang memproduksi consumer goods ini mengaku sama sekali tidak mengetahui mengenai perusahaan yang menjadi mitranya itu. PT.Unilever juga mengaku tidak memiliki mekanisme tertentu untuk menjaring bahan baku yang mereka butuhkan. 4

http://twitter.com/home?status=Greenpeace%3A+Pemasok+Unilever+Rusak+Hutan+Kalimantan+http://bisniskeua ngan.kompas.com/read/2008/04/21/17162274/Greenpeace:.Pemasok.Unilever.Rusak.Hutan.Kalimantan diakses pada 31 Desember 2010 pukul 08.00 WIB.

Pada saat isu tersebut merebak, Greenpeace mendesak pemerintah untuk mencabut izin perusahaan minyak sawit yang mengganggu areal taman nasional. Pada bulan Agustus 2008, Kementerian Kehutanan memerintahkan Bupati untuk mencabut izin 12 perusahaan minyak kelapa sawit, 7 diantaranya merupakan anak perusahaan dari PT.Sinar Mas. Tidak hanya itu, Greenpeace juga mendorong perusahaan-perusahaan yang mendapat pasokan minyak kelapa sawit dari PT.Sinar Mas untuk menghentikan atau memutus kontraknya untuk sementara waktu. Apabila PT.Sinar Mas sepakat untuk menjalankan kesepakatankesepakatan yang ditentukan oleh Greenpeace dan Kementerian Kehutanan maka perusahaanperusahaan yang menjadi mitra diizinkan kembali untuk menjalin kerjasama dan mendapat pasokan minyak kelapa sawit dari PT.Sinar Mas. Namun pada kenyataannya pihak PT.Sinar Mas sama sekali tidak menggubris teguranteguran dari organisasi lingkungan hidup ini. Dengan kata lain PT.Sinar Mas telah melanggar peraturan perundang-undangan tentang konservasi dan keanekaragaman hayati yang berlaku di Indonesia. 5 Kerusakan-kerusakan yang merupakan dampak dari perluasan kawasan perkebunan kelapa sawit ini dapat mengakibatkan memburuknya perubahan iklim. Pada bulan November 2008 Greenpeace melakukan gerakan nyata dengan mencegah keberangkatan kapal yang bermuatan minyak sawit untuk diekspor ke Eropa. Aksi ini dilakukan sebagai bentuk penyaluran aspirasi dari aktivis-aktivis yang mendukung pelestarian lingkungan. Aksi ini juga didukung oleh aktivis-aktivis Greenpeace Inggris, Belanda dan Italia. Greenpeace di ketiga negara tersebut juga menyerukan kepada masyarakat di negaranya agar berhenti menggunakan produk Unilever. Setelah kasus tahun 2008, PT.Sinar Mas tetap berada dibawah pengawasan Greenpeace Indonesia dan Greenpeace Asia Tenggara. Karena PT.Sinar Mas tidak menepati kesepakatan yang sudah ditentukan sebelumnya, Greenpeace mengeluarkan peringatan yang kedua pada bulan Maret 2010 atas dasar masalah pembabatan hutan. Beberapa kegiatan yang dilakukan oleh PT.Sinar Mas dinilai melanggar undang-undang seperti membabat hutan tanpa izin pemanfaatan

http://www.greenpeace.org/seasia/id/news/sinar-mas-ancaman-berat-bagi diakses pada 31 Desember 2010 pukul 09.45 WIB.

kayu, melakukan land clearing tanpa analisis dampak lingkungan, membuka hutan dan membuka lahan gambut di wilayah konversi. Sejak peristiwa tersebut, beberapa mitra perusahaan PT.Sinar Mas sudah menghentikan pasokan minyak kelapa sawit dari perusahaan tersebut seperti Kraft, Unilever, Nestle dan Shell. Keputusan dari beberapa perusahaan ini mengakibatkan asosiasi petani kelapa sawit Indonesia tidak mau menggunakan dan mengkonsumsi produk dari perusahaan-perusahaan tersebut. Namun menurut Derom Bangun, wakil ketua Dewan Sawit Indonesia, pembukaan dan operasional perkebunan kelapa sawit yang ada di Indonesia sudah mengikuti prosedur-prosedur yang ada dan sesuai dengan undang-undang. Di sisi lain, dengan adanya peristiwa ini, industri sawit nasional akan mendapatkan pandangan negatif dari dunia internasional. Greenpeace melaporkan PT.Sinar Mas dengan laporan Illegal Forest Clearance and RSPO Greenwash; case study of Sinar Mas. 6 Dampak dari laporan tersebut cukup mempengaruhi konsumen minyak kelapa sawit di dunia internasional. Tekanan lain yang diberikan oleh Greenpeace adalah dengan adanya aksi-aksi protes yang dilakukan aktivis Greenpeace di kantor Nestle di Indonesia serta di pabrik Nestle yang berlokasi di Inggris, Jerman dan Belanda. Aksi protes tersebut dilakukan karena Greenpeace menganggap bahwa Nestle masih bekerjasama dengan perusahaan yang tidak ramah lingkungan bahkan merusak hutan yang ada. Hal tersebut ditanggapi dengan cepat oleh Nestle. Nestle menyebutkan bahwa perusahaan mereka sudah tidak lagi mengambil pasokan minyak kelapa sawit dari PT.Sinar Mas. Laporan Greenpeace juga berpengaruh dalam bidang perbankan. Setelah peristiwa ini, perbankan mencantumkan peraturan tambahan bagi perusahaan kelapa sawit yang ingin mengajukan kredit perbankan. Peraturan tambahan tersebut adalah kewajiban untuk melampirkan sertifikat RSPO sebagai salah satu persyaratan utama yang dibutuhkan untuk mengajukan kredit perbankan. Kegiatan Greenpeace juga didukung oleh aktor non-negara lainnya seperti WWF dan Pro Fauna. Tim Pro Fauna sudah melakukan investigasi terhadap kasus ini dan mereka menemukan
6

www.tempointeraktif.com diakses pada 2 Januari 2011 pukul 12.03 WIB.

adanya perusakan hutan. Sehingga dapat mengancam keberadaan fauna-fauna liar, terutama orang utan yang sudah menjadi fauna langka. Selain itu, permasalahan ini bukan hanya menjadi perhatian Greenpeace Indonesia atau Greenpeace Asia Tenggara saja. Permasalahan ini sudah menjadi perhatian bagi seluruh aktivis Greenpeace internasional, bahkan permasalahan ini sempat menjadi perbicangan yang hangat di salah satu radio di Belanda dengan narasumber aktivis Pro Fauna. Selama penyelidikan yang dilakukan, ternyata Greenpeace tidak berjalan seorang diri. Greenpeace bekerjasama dengan Independent Verification Exercise Team (IVEC).7 IVEC merupakan tim independen yang ditunjuk oleh PT.Sinar Mas dan PT.Unilever. Dari hasil audit yang dilakukan oleh IVEC, data-data di lapangan memang membuktikan adanya pelanggaranpelanggaran yang dilakukan oleh PT.Sinar Mas. Pembukaan hutan yang dilakukan oleh PT.Sinar Mas mengakibatkan tidak adanya batas yang jelas antara perkebunan dan hutan. Sehingga seringkali terjadi pergeseran lokasi yang akan mengganggu kelangsungan hidup flora ataupun fauna yang berada di dalamnya. Selain mengganggu kelangsungan hidup fauna dan flora yang hidup di dalam taman nasional, tim IVEC juga menemukan adanya 3 lahan dari perusahaan minyak kelapa sawit terbesar di Indonesia itu yang beroperasi tanpa memiliki Izin Pemanfaatan Kayu (IPK). Atas fakta-fakta yang ada, untuk itu PT.Sinar Mas patut dituntut untuk mengganti kerugian negara. Sesuai estimasi Greenomics Indonesia, negara cukup dirugikan atas pembukaan lahan hutan tanpa IPK ini. Untuk itu pemerintah harus menuntut 15 kali lipat dari Ganti Rugi Tegakan (GRT), Provisi Sumber Daya Hutan (PSDH), serta Dana Reboisasi (DR). Disamping tekanan-tekanan yang didapat oleh PT.Sinar Mas, perusahaan itu sendiri terus melakukan riset-riset serta pendekatan kepada masyarakat, media massa lokal maupun internasional melalu Tim Humas perusahaan dengan harapan mendapat kepercayaan dan dukungan dari masyarakat. Selain itu PT.Sinar Mas juga mengadakan kampanye Earth Hour sebagai pembuktian bahwa mereka juga berpartisipasi dalam usaha pelestarian lingkungan dan penyelamatan bumi. Secara tidak langsung terdapat pesan yang tersirat dari kampanye tersebut.

www.beritabatavia.com diakses pada 3 januari 2011 pukul 16.59 WIB.

Kampanye tersebut seakan-akan sebuah janji PT.Sinar Mas untuk mendukung program penyelamatan bumi yang dimiliki oleh Greenpeace. I.B Analisa Masalah Keterlibatan dan peran aktor non-negara yang dalam hal ini adalah Greenpeace sangat besar. Bukan hanya di Indonesia, tapi juga di seluruh dunia. Greenpeace sebagai organisasi yang fokus dan concern dalam isu pelestarian lingkungan dan penyelamatan bumi serta perdamaian dunia yang sudah hampir 30 tahun berdiri, memiliki power serta pengaruh yang cukup kuat untuk mempengaruhi kebijakan di suatu negara. Menurut saya, peran Greenpeace dalam penanganan kasus PT.Sinar Mas ini terlalu berlebihan dan terlalu terburu-buru. Misalnya saja pada kasus kebakaran hutan tahun 2005, Greenpeace dengan sangat cepat menghakimi PT.Sinar Mas dan menuduh bahwa kebakaran hutan tersebut merupakan kesalahan dari PT.Sinar Mas. Namun di sisi lain perkembangan peran aktor non-negara pada saat ini sangat bersaing dengan aktor utama dalam hubungan internasional yaitu negara. Aktor negara dan aktor nonnegara bersama-sama menjalankan fungsi dan tujuannya masing-masing dan secara tidak langsung saling melengkapi. Dengan berkembangnya pengaruh dan peran aktor non-negara, pada saat ini aktor nonnegara sudah sangat berpengaruh. Hal tersebut dapat kita lihat dari keberhasilan Greenpeace mengubah kebijakan Amerika Serikat. Selain itu, Greenpeace juga berhasil mempengaruhi kebijakan-kebijakan yang ada di Indonesia. Greenpeace mempengaruhi Kementerian Kehutanan untuk memberikan surat peringatan dan bahkan mencabut surat izin perusahaan-perusahaan kelapa sawit yang berpotensi untuk merusak hutan. Greenpeace sudah sangat memiliki power dan pengaruh yang besar di Indonesia. Dalam bidang perbankan, dengan adanya kasus antara Greenpeace dan PT.Sinar Mas, perbankan mulai memperketat ketentuan-ketentuan persyaratan untuk mengajukan kredit perbankan. Apabila sebuah perusahaan kelapa sawit ingin mengajukan kredit perbankan, perusahaan tersebut harus melampirkan sertifikat RSPO sebagai persyaratan utama yang harus dipenuhi.

Selain itu, gerakan Greenpeace di Indonesia juga didukung penuh oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Presiden SBY menganggap bahwa gerakan Greenpeace Indonesia ini sejalan dan mendukung program beliau untuk mengurangi emisi gas di Indonesia. Dengan begitu, Greenpeace Indonesia dengan sangat mudah mempengaruhi bahkan mendesak pemerintah untuk mengubah kebijakan-kebijakannya menjadi pro pelestarian lingkungan dan penyelamatan bumi. Gerakan Greenpeace di Indonesia juga meningkatkan kesadaran masyarakat Indonesia untuk lebih menjaga dan memperhatikan kelestasrian lingkungan terutama pelestarian hutan sebagai paru-paru dunia. Indonesia memiliki banyak hutan yang dapat dijadikan sebagai paruparu dunia. Dengan adanya kesadaran masyarakat untuk mengurangi emisi gas di Indonesia, banyak bermunculan perkumpulan-perkumpulan aktivis yang mendukung program go green seperti perkumpulan bike to work. Selain itu, pemerintah Jakarta juga menerapkan program car free day setiap minggunya sebagai bentuk dukungan untuk kampanye penyelamatan bumi. Keberhasilan Greenpeace di Indonesia membuktikan bahwa peran aktor non-negara pada saat ini sudah sangat berkembang dan memiliki pengaruh yang sangat besar bagi kebijakankebijakan yang akan dirancang pemerintah.

10

BAB III KESIMPULAN

Peran negara sebagai aktor utama dalam hubungan internasional masih sangat besar dari jaman dulu hingga saat ini. Hal ini dapat dilihat bahwa aktor negara memiliki kekuatan yang lebih tinggi bila dibandingkan dengan aktor-aktor lainnya. Namun, pada saat ini keberadaan aktor non-negara di dalam hubungan internasional sudah mulai berpengaruh kepada kebijakankebijakan yang ada di suatu negara.

11

DAFTAR PUSTAKA

y y y y y y

Margaret E. Keck and Kathryn Sikkink, Transnational Advocacy Networks in International and Regional Politics Article http://id.wikipedia.org/wiki/Greenpeace http://www.greenpeace.org/seasia/id/about/sejarah-greenpeace/ http://gudangtugasgembul.blogspot.com/2010/04/green-peace-dan-sinar-mas.html http://planethijau.com/mod.php?mod=publisher&op=viewarticle&cid=46&artid=1355 http://www.endonesia.com/mod.php?mod=publisher&op=viewarticle&cid=5&artid=519 6

http://www.indonesiamedia.com/2010/08/02/greenpeace-tuduh-sinar-mas/

12