Anda di halaman 1dari 9

ARTHROPODA

( Vektor Pinjal )

I. Pengertian Arthropoda Arthropoda adalah binatang yang kakinya beruas-ruas termasuk juga bagian perut (abdomen) dan dada (toraks) yang beruas-ruas, contoh : nyamuk, lalat, kecoak, pinjal, kutu, udang, kaki seribu, dsb. Berdasarkan contoh dari arthropoda yang telah disebutkan dan termasuk contoh lainnya dari arthropoda tidak semua dari jenis arthropoda yang dapat berpengaruh buruk bagi kesehatan. Vektor terpenting untuk penyakit pes dan murine typhus ialah pinjal tikus Xenopsylla cheopis. Kuman pes, Pasteurella pesis, berkembang biak dalam tubuh penyakit tikus sehingga akhirnya menyumbat tenggorokkan pinjal itu. Kalau pinjal mau mengisap darah maka ia harus terlebih dulu muntah untuk mengeluarkan kuman-kuman pes yang menyumbat tenggorokkannya. Muntah ini masuk dalam luka gigitan dan terjadi infeksi dengan Pasteurella Pesis. Pinjal-pinjal yang tersumbat tenggorokannya akan lekas mati. Berdasarkan latar belakang di atas, maka dalam makalah ini akan dibahas lebih lanjut mengenai pinjal dan pengendaliannya. II. ISI

A. Penegertian Pinjal
Pinjal merupakan salah satu parasit yang paling sering ditemui pada hewan kesayangan baik anjing maupun kucing. Meskipun ukurannya yang kecil dan kadang tidak disadari pemilik hewan karena tidak menyebabkan gangguan kesehatan hewan yang serius, namun perlu diperhatikan bahwa dalam jumlah besar kutu dapat mengakibatkan kerusakan kulit Yang parah bahkan menjadi vektor pembawa penyakit tertentu. Pinjal yang biasa dikenal kutu loncat atau fleas ada 2 jenis yaitu kutu loncat pada anjing dan kucing, namun dilapangan lebih sering ditemukan kutu loncat kucing yang juga dapat berpindah dan berkembang biak pada anjiing Pinjal diklasifikasikan ke dalam: Kingdom Filum Klasis Ordo : Animalia : Arthropoda : Insecta : Siphonoptera

B. Morfologi Pinjal Pinjal berukuran kecil dengan panjang 1,5-3,3 mm dan bergerak cepat. Biasanya berwarna gelap (misalnya, cokelat kemerahan untuk kutu kucing). Pinjal merupakan serangga bersayap dengan bagian-bagian mulut seperti tabung yang digunakan untuk menghisap darah host mereka. Kaki pinjal berukuran panjang, sepasang kaki belakangnya digunakan untuk melompat (secara vertikal sampai 7 inch (18 cm); horizontal 13 inch (33 cm)). Pinjal merupakan kutu pelompat terbaik diantara kelompoknya. Tubuh pinjal bersifat lateral dikompresi yang memudahkan mereka untuk bergerak di antara rambut-rambut atau bulu di tubuh inang. Kulit tubuhnya keras, ditutupi oleh banyak bulu dan duri pendek yang mengarah ke belakang, dimana bulu dan duri ini memudahkan pergerakan mereka pada hostnya.

D. Jenis-jenis Pinjal
1. Pinjal Kucing (Ctenocephalides felis) Ciri-ciri pinjal kucing: a. Tidak bersayap, memiliki tungkai panjang dan koksa-koksa sangat besar b. Tubuh gepeng di sebelah lateral dilengkapi banyak duri yang mengarah ke belakang dan rambut keras c. Sungut pendek dan terletak dalam lekuk-lekuk di dalam kepala. d. Bagian mulut tipe penghisap dengan 3 stilet penusuk. e. Metamorfosis sempurna ( telur-larva-pupa-imago ) f. Telur tidak berperekat, abdomen terdiri dari 10 ruas. g. Larva tidak bertungkai kecil, dan keputihan. h. Memiliki 2 ktinidia baik genal maupun pronatal

Perbedaan jantan dan betina: a. Jantan : tubuh punya ujung posterior seperti tombak yang mengarah ke atas, antena lebih panjang dari betina. b. Betina : tubuh berakhir bulat, antena lebih pendek dari jantan.

2. Pinjal Anjing (Ctenocephalides canis) Pinjal pada anjing bersifat mengganggu karena dapat menyebarkan Dipylidium caninum. Mereka biasanya ditemukan di Eropa. Meskipun mereka memakan darah anjing dan kucing, mereka kadang-kadang menggigit manusia. Mereka dapat hidup tanpa makanan selama beberapa bulan, tetapi spesies betina harus memakan darah terlebih dahulu sebelum menghasilkan telur. 3. Pinjal Manusia (Pulex irritans) Spesies ini banyak menggigit spesies mamalia dan burung, termasuk yang jinak. Ini telah ditemukan pada anjing liar, monyet di penangkaran, kucing rumah, ayam hitam dan tikus Norwegia, tikus liar, babi, kelelawar, dan spesies lainnya. Pinjal spesies in ini juga dapat Menjadi inang antara untuk Cestode, Dipylidium caninum. 4. Pinjal Tikus Utara (Nosopsyllus fasciatus) Fasciatus Nosopsyllus memiliki tubuh memanjang, panjangnya 3 hingga 4 mm. Memiliki pronotal ctenidium dengan 18-20 duri tapi tidak memiliki ctenidium genal. Pinjal tikus utara memiliki mata dan sederet tiga setae di bawah kepala. Kedua jenis kelamin memiliki tuberkulum menonjol di bagian depan kepala. Tulang paha belakang memiliki 3-4 Bulu pada permukaan bagian dalam.

5. Pinjal Tikus Oriental (Xenopsylla cheopis) Xenopsylla cheopis adalah parasit dari hewan pengerat, terutama dari genus Rattus, dan merupakan dasar vektor untuk penyakit pes dan murine tifus. Hal ini terjadi ketika pinjal menggigit hewan pengerat yang terinfeksi, dan kemudian menggigit manusia. Pinjal tikus oriental terkenal memberikan kontribusi bagi Black Death.

E. Siklus Hidup
Siklus hidup pinjal terdiri dari 4 tahapan, yaitu: 1. Tahap Telur Seekor kutu betina dapat bertelur 50 telur per hari di hewan peliharaan. Telurnya tidak lengket, mereka mudah jatuh dari hewan peliharaan dan menetas dalam dua atau lima hari. Seekor betina dapat bertelur sekitar 1.500 telur di dalam hidupnya. 2. Tahap Larva Setelah menetas, larva akan menghindar dari sinar ke daerah yang gelap sekitar rumah dan makan dari kotoran kutu loncat (darah kering yang dikeluarkan dari kutu loncat). Larva akan tumbuh, ganti kulit dua kali dan membuat kepompong dimana mereka tumbuh menjadi pupa. 3. Tahap Pupa Lama tahap ini rata-rata 8 sampai 9 hari. Tergantung dari kondisi cuaca, ledakan populasi biasanya terjadi 5 sampai 6 minggu setelah cuaca mulai hangat. Pupa tahap yang paling tahan dalam lingkungan dan dapat terus tidak aktif sampai satu tahun.

4. Tahap Dewasa Kutu loncat dewasa keluar dari kepompong nya waktu mereka merasa hangat, getaran dan karbon dioksida yang menandakan ada host di sekitarnya. Setelah mereka Loncat ke host, kutu dewasa akan kawin dan memulai siklus baru. Siklus keseluruhannya dapat dipendek secepatnya sampai 3-4 minggu.

Umur rata-rata pinjal sekitar 6 minggu, tetapi pada kondisi tertentu dapat berumur hingga 1 tahun. Pinjal betina bertelur 20-28 buah/hari. Selama hidupnya seekor pinjal bisa menghasilkan telur hingga 800 buah. Telur bisa saja jatuh dari tubuh kucing dan menetas menjadi larva di retakan lantai atau celah kandang. Pertumbuhan larva menjadi pupa kemudian berkembang jadi pinjal dewasa bervariasi antara 20-120 hari.

F. Pengaruh Pinjal Terhadap Kesehatan Secara kasat mata pinjal agak sulit ditemui bila jumlah populasinya sedikit, namun dapat dikenali dari kotorannya yang menempel pada bulu. Kotoran kutu berwarna hitam yang sebenarnya merupakan darah kering yang dibuang kutu dewasa. Pinjal yang menghisap darah inang juga menimbulkan rasa sangat gatal karena ludah yang mengandung zat sejenis histamine dan mengiritasi kulit. Akibatnya hewan terlihat sering menggaruk maupun mengigit daerah yang gatal terutama di daerah ekor, selangkangan dan punggung. Pinjal juga dapat

menimbulkan alergi oleh karena reaksi hipersensitivitas terhadap antigen ludah pinjal. Pada anjing sering ditandai dengan gigitan secara berlebihan sehingga dapat mengakibatkan bulu rontok dan peradangan pada kulit. Kasus flea allergy bervariasi tergantung kondisi cuaca terutama terjadi pada musim panas dimana populasi kutu meningkat tajam. Penyakit yang berhubungan dengan pinjal adalah penyakit pes. Vektor pes adalah pinjal. Di Indonesia saat ini ada 4 jenis pinjal yaitu: Xenopsylla cheopis, Culex iritans, Neopsylla sondaica, dan Stivalus cognatus. Reservoir utama dari penyakit pes adalah hewanhewan rodent (tikus, kelinci). Secara alamiah penyakit pes dapat bertahan atau terpelihara pada rodent. Kuman-kuman pes yang terdapat di dalam darah tikus sakit,dapat ditularkan ke hewan lain atau manusia, apabila ada pinjal yang menghisap darah tikus yang mengandung kuman pes tadi, dan kuman-kuman tersebut akan dipindahkan ke hewan tikus lain atau manusia dengan cara yang sama yaitu melalui gigitan. Penularan pes melalui gigitan pinjal akan mengakibatkan pes bubo. Pes bubo dapat Berlanjut menjadi pes paru-paru (sekunder pes). Selain pes, pinjal bisa menjadi vektor penyakit-penyakit manusia, seperti murine typhus yang dipindahkan dari tikus ke manusia. Disamping itu pinjal bisa berfungsi sebagai penjamu perantara untuk beberapa jenis cacing pita anjing dan tikus, yang kadang-kadang juga bisa menginfeksi manusia.

G. Pencegahan
Langkah-langkah di bawah ini dapat dilakukan untuk mencegah keberadaan pinjal yaitu: 1. Menyedot menggunakan vaccum Seringlah menyedot di daerah dimana saja hewan peliharaan kunjungi, khususnya di mobil jika sering berpergian, daerah berkarpet, dan perabotan yang sering dikunjungi oleh hewan peliharaan supaya semua kutu termasuk telur, dan pupa nya dibersihkan sebanyak mungkin. 2. Pencucian Cucilah tempat tidur hewan peliharaan, kasur, selimut dan barang lainnya dengan air panas jika memungkinkan. 3. Penyemprotan Lingkungan Ada beberapa macam spray/semprotan yang tersedia yang bertujuan membunuh kutu loncat di lingkungan sekitarnya.

H. Pengendalian Untuk mencegah penyebaran penyebaran penyakit yang disebabkan oleh pinjal maka perlu dilakukan tindakan pengendalian terhadap arthopoda tersebut. Upaya yang dapat dilakukan, antara lain melalui penggunaan insektisida, dalm hal ini DDT, Diazinon 2% dan Malathion 5% penggunan repllent (misalnya, diethyl toluamide dan benzyl benzoate) dan pengendalian terhadap hewan pengerat (rodent). I. Pengobatan Pengobatan dilakukan dengan obat anti kutu. Obat anti kutu hanya membunuh pinjal dewasa, pemberian obat anti kutu perlu disesuaikan agar siklus hidup pinjal bisa kita hentikan. Pemberian obat perlu diulang agar pinjal dewasa yang berkembang dari telur dapat segera dibasmi sebelum menghasilkan telur lagi. III. Kesimpulan

1. Pinjal merupakan salah satu parasit berukuran kecil dan kadang tidak disadari pemilik hewan karena tidak menyebabkan gangguan kesehatan hewan yang serius, namun perlu diperhatikan bahwa dalam jumlah besar kutu dapat mengakibatkan kerusakan kulit yang parah bahkan menjadi vektor pembawa penyakit tertentu. 2. Beberapa jenis pinjal yaitu: pinjal kucing, pinjal anjing, pinjal manusia, pinjal tikus utara, dan kutu tikus oriental. 3. Penyakit yang berhubungan dengan pinjal ialah Flea Allergy Dermatitis, Cacing Pita, Anemia, dan Pes. 4. Beberapa tindakan yang dapat dilakukan dalam pencegahan pinjal adalah menyedot dengan menggunakan vaccum, pencucian, dan penyemprotan lingkungan. 5. Adapun pengendalian terhadap pinjal dapat dilakukan dengan langkah, yaitu mengidentifikasi masalah hama, mencegah masalah hama, monitor atas kehadiran hama, mengatur tingkat toleransi dan tindakan untuk setiap hama populasi, mengelola hama masalah, dan Evaluasi dampak dan keberhasilan hama manajemen usaha. 6. Pengendalian kutu tidaklah cukup hanya dengan sekali pengobatan, karena siklus hidup yang pendek dan mudah penularannya.

Contoh Kasus SUSPEK PENYAKIT PES Berdasarkan laporan KLB dari BTKL Surabaya, telah ditemukan

ARTHROPODA ( Vektor Pinjal )

Oleh I MADE BAKTA NIM. 1120015013

PROGRAM STUDI ILMU KESEHATAN MASYARAKAT FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS UDAYANA DENPASAR 2011