Anda di halaman 1dari 3

TUGAS DISASTER RECOVERY

DISASTER RECOVERY PLAN SEBAGAI SERVER ADMINISTRATOR

I PUTU AGUS ADIWIJAYA (080010612) A081

STMIK STIKOM BALI 2010

Soal : Jika anda sebagai seorang server administrator, strategi/langkah antisipasi apa saja yang anda siapkan untuk menhindari infrastruktur tersebut dari sebuah ancaman? Susunlah langkah-langkah antisipasinya! Dan representasikan dengan bahasa anda sendiri! Jawab : Antisipasi yang perlu disiapkan sebagai Server Administrator untuk menghindari infrastruktur IT terutama Server System dari sebuah ancaman adalah dengan membuat Disaster Recovery Plan. Dalam DRP inilah terdapat tahapan atau langkah langkah proteksi Server System yang harus dipersiapkan agar jika terjadi musibah maka proses Recovery dapat dilakukan dengan cepat. Tujuan utama dari suatu Server System atau Data Center memberikan layanan tanpa henti kepada Client maupun kepada Customer. Jika suatu Server System tidak didesain dengan sempurna maka server akan mengalami down atau bahkan mengalami kerusakan dan membutuhkan waktu sekian menit bahkan berjam-jam serta dapat menimbulkan kerugian. Langkah langkah antisipasi yang mungkin dapat dilakukan adalah : 1. Redundant atau Dual Input Power Source Menyiapkan power source yang memadai dan siap pakai serta bisa juga diterapkan pada Dual Input power ke UPS. Input sumber daya tersebut dapat berasal dari PLN, Genset dan power source lain seperti tenaga surya. 2. Dual UPS atau Redundant UPS to PSU Menggunakan 2 UPS dengan Input Power Source yang berbeda untuk men-supply sebuah server yang memiliki dual Power Supply Unit.Tentunya ini berlaku untuk server yang punya 2 buah Power Supply Unit (PSU), misalnya UPS A untuk PSU A dan UPS B untuk PSU B. Tujuannya adalah jika terjadi problem di salah satu Power Source maka Server juga masih bisa hidup dari Power Supply yang lain atau Power Source yang lain. 3. Dual Power Supply Unit ( per server ) Tidak semua Server memiliki fasilitas Dual Power Supply ini, jadi jika server kita memiliki dual Power Supply maka sebaiknya kita manfaatkan se-optimal mungkin untuk mengantisipasi seringnya terjadi pemadaman bergilir yang mungkin dilakukan oleh PLN. 4. Local Storage Raid System untuk OS RAID System (Redundant Array of Inexpensive Disks) adalah sekelompok harddisk yang berfungsi saling mengantikan / redundant untuk menjaga fungsional harddisk. Tujuannya adalah jika salah satu atau beberapa harddisk dari suatu kelompok harddisk mengalami kerusakan, maka sekelompok harddisk tersebut secara fungsi tidak mengalami problem sehingga kita tidak sampai mengalami kehilangan data. Pada RAID System ini dianjurkan mengunakan harddisk HotPlug atau harddisk HotSwap, sehingga dengan harddisk ini kita tidak perlu mematikan server untuk proses pengantian harddisk yang rusak tersebut. HotSwap merupakan teknologi mengganti/mengeluarkan memory tanpa men-shutdown server .

5. Dual Connection per server Mengunakan 2 LAN Card atau lebih tentu akan menjamin Availability (ketersediaan) server dalam jaringan jika terjadi kerusakan pada LAN Card Server. Sehingga jika salah satu koneksi LAN putus atau mati maka koneksi LAN yang lain dapat mengambil alih koneksi atau otomatis Take Over. Connection tersebut dapat berupa : NIC(Network Interface Card) / LAN Card untuk Redundant Connection & Load Balancing. 6. Redundant External Storage Protection untuk OS, Database & Fileserver External Storage berupa SAN (Storage Area Network) ataupun NAS (Network Attach Storage) saat ini sudah menjadi suatu kebutuhan pokok dalam Server System. Redundant Connection dari Server ke External Storage ini sangat penting karena sangat membantu dalam menigkatkan proteksi storage sesuai sehingga fungsional Data Storage dapat befungsi sebagaimana mestinya. 7. Tape Backup, Tape Library atau Vitual Tape Library (VTL) Tape Backup adalah Proteksi Data lebih lanjut baik ke External Catriedge maupun Virtual Tape Library yang selanjutnya Tape Catriedge di simpan ke suatu tempat khusus agar jika terjadi disaster (musibah) dapat digunakan untuk recovery data dengan cepat. Media tape digunakan karena dapat menyimpan data yang besar dan sistem baca tulis yang cepat dari media lainnya. 8. Server Replication Technology Technology yang di implementasikan pada Server sangat berperan penting, misalnya pada Single Server jika terjadi problem ringan seperti Restart Server, Update Patch, dll butuh waktu untuk Downtime 5 menit hingga 15 menit untuk proses Running Up Server. Apalagi problem fatal maka butuh waktu sekitar 1 jam lebih untuk Re-Building Server yang sama seperti semula. Maka dengan Technology Server Replication maka Downtime Server tersebut bisa di minimalkan bahkan bisa di tekan hingga hingga Zero Downtime. 9. Server Co-Location Server Co-location adalah Server production kita gunakan operasional sehari-hari yang di Replikasi-kan pada Server kita yang berada diluar Site Server kita. Misalnya di luar kota, di luar pulau bahkan di luar negeri. Implementasi ini sangat bergantung pada kecepatan bandwith koneksi yang kita miliki atau kita sewa dari ISP. Server co-location merupakan hal penting yang sering dilupakan oleh sebuah organisasi maupun perusahaan, jika server utama mengalami kegagalan atau kerusakan maka kegiatan dapat dialihkan ke server yang berada di tempat lain. Seperti halnya yang terjadi pada peristiwa 11 September, ada beberapa perusahaan yang telah menempatkan Servernya di tempat lain sehingga tidak menghentikan total kegiatan perusahaan dan menimbulkan lebih banyak kerugian. Selain hal yang disebutkan diatas ada beberapa hal tambahan yang perlu dilakukan untuk mengantisipasi ancaman pada infrastruktur IT, antara lain seperti : 1. Cooling System yang sesuai & memadai (AC presisi) 2. Fire Protection & Fire alarm, untuk menghindari adanya kebakaran. 3. Security Access yang memadai seperti: finger print, access card, CCTV, Operator, Satpam, dan lainnya.