Anda di halaman 1dari 13

Diskriminasi Muslim Minoritas di Inggris; sebuah Ironi dalam Demokrasi Disusun untuk memenuhi tugas akhir mata kuliah

Negara dan Etnisitas

Disusun Oleh: Normandy Yusuf H. (0911243064)

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK HUBUNGAN INTERNASIONAL UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG 2012

ABSTRAKSI

Pada tahun 2006, terjadi aksi terror di bandara Heathrow, London. Para pelaku aksi teror disana berhasil ditangkap. Ternyata para pelaku teror tersebut adalah orang orang Muslim minoritas yang telah lama menetap di Inggris. Mereka mengacaukan jadwal penerbangan dari AS ke Inggris dengan mengancam untuk meledakkan bandara dengan menggunakan Bom Cair. Ternyata, ini adalah ulah kaum Muslim Radikal Inggris yang erat kaitannya dengan jaringan Al-Qaeda. Ada ketidakpuasan dari komunitas Muslim di Inggris akan kebijakan luar negeri dari pemerintahan Tony Blair yang mendukung pemerintahan Amerika Serikat di Afganistan, Irak, dan Timur Tengah. Di satu sisi pemerintah Inggris tidak mengijinkan seseorang membawa iPod ke dalam pesawat terbang dengan alasan dapat dijadikan sebagai pemicu bom, tetapi di sisi lain mereka mengijinkan Amerika mengirimkan bom bagi Israel supaya Israel dapat menghukum Libanon karena telah menahan dua tentara Israel saat itu. Sepertinya pemerintah Inggris memiliki standar ganda, dan hal tersebut akan membuat komunitas Islam di Inggris semakin terisolasi. Maka, aksi ini dilakukan sebagai representasi bentuk protes terhadap sistem pemerintahan Inggris yang sekan akan mengisolasi mereka di tanah tempat mereka tinggali. Akibatnya, Partai Nasional Inggris (BNP), yang berhaluan sangat kanan menyerukan diakhirinya imigrasi dari negara-negara Muslim karena katanya hal itu bisa menimbulkan ancaman mematikan bagi Inggris. Janji untuk membendung arus imigrasi itu dimuat dalam manifesto pemilu Partai Nasional Inggris. Berbagai kondisi ini membuat kelompok Muslim di Inggris maju salah mundur pun salah, kehilangan identitas karena tak punya akar ke tanah asal, tapi tak pula merasa diterima di tanah rantau. Ibarat hidup segan, mati pun tak mau.

Keywords: Muslim, terror, minoritas, imigrasi, identitas.

Pendahuluan Gambaran Umum Sejarah pertumbuhan komunitas muslim di Inggris hampir serupa apa yang dialami di Prancis, yaitu melalui proses imigrasi. Imigrasi muslim ke Inggris mulai berlangsung pada akhir abad ke-18 dan awal abad ke-19 melalui pendaratan para pelaut yang direkrut oleh East India Cornpany (Perusahaan India Timur) dari Yaman, Gujarrat, Sind, Bengal. Setelah dibukanya terusan Suez pada tahun 1869 dan sejalan dengan meluasnya ekspansi kolonial Inggris, para pendatang muslim itu semakin lama semakin banyak dan rnulai membentuk pemukiman baru di kota-kota pelabuhan seperti Cardiff Shout Shields (Dekat Newcastle), London, dan Liverpool. Komunitas muslim di negara itu memiliki akar budaya yang berbeda satu sama lain. Pada tahun 1930-an, gagasan rencana pembangunan masjid pusat di London juga muncul sebagai respons atas pembangunan masjid di Paris pada tahun 1926 yang juga mendapat perhatian dara Raja Goerge IV pada tahun 1944. Pertambahan jumlah masjid dalam perkembangan-perkembangan selanjutnya di Inggris sesungguhnya mencerminkan peningkatan jumlah komunitas muslim di Inggris. Peningkatan itu berhubungan erat dengan tahapan sejarah imigrasi kaum muslim secara besar-besaran dari berbagai negeri muslim ke Inggris tahun 1950-an, dan sebagai akibat penyatuan kembali keluarga imigran yang diterapkan awal dasarvarsa 1960-an, terutama dari India, Pakistan, dan Bangladesh. Selain itu, sehubungan dengan terbitnya "Commonwealth Immigration Act" (Undang-undang Imigrasi Persemakmuran), tahun 1962, yang semakin memberikan kemudahan untuk menjadi warga negara Inggris bagi warga negara bekas jajahan Inggris, juga turut rnendorong laju migrasi ini. Kini, ada lebih dari 2 juta penduduk muslim di Inggris yang merupakan kaum minoritas terbesar disana. Pemukiman kaum muslim di Inggris tersebut di atas umumnya terkonsentrasi di kota besar. Di London, penduduk muslim merupakan komunitas kosmopolitan yang terdiri dari macam-macam latar belakang kebudayaan. Hampir separuh dari jumlah keseluruhan kaum muslim di Inggris tinggal di London dan wilayah sekitarnya. Sekitar dua pertiga sisanya bermukim di West Midlands, Yorkshire, Glasgow, dan wilayah-wilayah di sekitar Manchester. Pola distribusi pemukiman muslim tidak merata, baik secara geografis maupun etnis. Kendati demikian, ada konsentrasi tertentu, misalnya penduduk muslim India di West Midlands, Arab dan Iran di Cardif Liverpool, dan Birmighan. Turki-Cyiprus di wilayah

Timur London, serta Pakistan dan Bangladesh di Bradford. Begitu signifikannya komunitas muslim Pakistan dan Bangladesh itu di Bradford, sampai orang menyebutnya kota ini sebagai Islamabad-nya Inggris. Ada beberapa organisasi yang telah dibentuk oleh masyarakat Islam disana, seperti The Islamic Council of Europe (Dewan Islam Eropa) yang didirikan pada tahun 1973, yang mensponsori konferensi tentang masa depan tata ekonomi Islam dan status minoritas muslim. Pada tahun 1982, lembaga ini berganti nama menjadi The Islamic Council (Dcwan lslam), yang mengeluarkan "Universal Islamic Declaration" (Dcklarasi Islam Universal), dan (Universal Islamic Declaration of Human Rights " (Deklarasi Hak Asasi Manusia Islam Universal). Ketika organisasi Islam di Inggris mulai merasakan perlunya semacam koordinasi berskala nasional yang lebih intens lagi, maka muncul organisasi muslim yang paling awal bertindak sebagai organisasi payung berskala nasional yaitu; Union of Muslim Organizations of the UK and Eire (Persatuan Organisasi Muslim Inggris dan Irlandia (UMO)) yang didirikan pada tahun 1970. Keberhasilan UMO ini dibuktikan dengan dibentuknya cabangcabang di seluruh Inggris yang mervakili kehadiran mereka secara nasional yang beranggotakan sekitar 200 organisasi muslim hingga pada tahun 1982. Kehadiran UMO, selain mengadakan konfrensi tahunan, juga melakukan lobi kepada tokoh partai dan pejabat pemerintah yang mencerminkan iktikadnya untuk terlibat aktif dalam kehidupan sosial dan politik di Inggris. Seperti halnya di Indonesia, di Inggris pun ada 2 aliran Islam yang berbeda. Gerakan tarekat Nakshabandiyah dan Chistiah di Inggris banyak dianut dari jama'ah Barelwi. Sementara itu, kegiatan jamaah Tabligh, banyak dikaitkan dengan gerakan Deobandi. Baik gerakan Deobandi maupun Barelwi umumnya tidak mengenal struktur organisasi formal. Ikatan mereka terutama adalah ikatan kesetiaan jama'ah kepada imamnya. Berdasarkan pada uraian dinamika keagamaan pada masa-masa awal perkembangan lslam di Inggris di atas, pada umumnya yang terjadi adalah tidak adanya susunan organisasi yang kuat ditingkat lokal maupun nasional. Bahkan tidak jarang para kaum imigran muslim tersebut melanjutkan persaingan kelompok etnis, jama'ah dan golongan dari negara asal mereka. Sehingga kondisi ini menyebabkan ketidak mampuan mereka membangun posisi bergaining dengan pemerintah Inggris demi mendapatkan perlakuan yang berkeadilan sosial di tengah-tengah minoritas kehidupan non muslim. Akibat dari kurangnya koordinasi

pemerintah Inggris dan tindakan mereka yang seakan akan meng-isolasi para penduduk Muslim, maka muncullah banyak tindakan protes merespon kebijakan Inggris, seperti adanya keinginan untuk Self-determination dari para Diaspora tersebut. Ada dua konsep yang isa digunakan untuk menganalisis kasus minoritas muslim di Inggris, yakni: a.KONSEP DIASPORA Istilah diaspora (dalam bahasa Yunani kuno berarti "penyebaran atau penaburan benih") merujuk kepada bangsa atau penduduk etnis manapun yang terpaksa atau terdorong untuk meninggalkan tanah air etnis tradisional mereka; penyebaran mereka di berbagai bagian lain dunia, dan perkembangan yang dihasilkan karena penyebaran dan budaya mereka. Mulanya, istilah Diaspora digunakan oleh orang-orang Yunani untuk merujuk kepada warga suatu kota kerajaan yang bermigrasi ke wilayah jajahan dengan maksud kolonisasi untuk mengasimilasikan wilayah itu ke dalam kerajaan. Bidang akademik dari studi Diaspora terbentuk pada akhir abad ke-20, sehubungan dengan meluasnya arti 'diaspora'. Pada abad ke-20 khususnya telah terjadi krisis pengungsi etnis besar-besaran, karena peperangan dan bangkitnya nasionalisme, fasisme, komunisme dan rasisme, serta karena berbagai bencana alam dan kehancuran ekonomi. Pada paruh pertama dari abad ke-20 ratusan juta orang terpaksa mengungsi di seluruh Eropa, Asia, dan Afrika Utara. Banyak dari para pengungsi ini tidak meninggal karena kelaparan atau perang, pergi ke benua Amerika, dan beberapa negara Eropa seperti Inggris, Perancis dsb. Diaspora ini erat kaitannya dengan kondisi dunia yang hancur karena peperangan, terutama bagi bagi negara negara korban perang. Dalam pembahasan diatas, konsep Diaspora merujuk kepada para pendatang pendatang Muslim yang datang ke tanah Inggris sejak abad ke 18 akibat ekspansi kolonial Inggris di masa itu. Dari imbas kolonialisasi yang menyebabkan dibua nya terusan Suez, maka imigrasi menjadi semakin terbuka dan lebih cepat arusnya di masa itu. Semenjak saat itulah imigran imigran Muslim terus berdatangan dari berbagai negara, seperti Pakistan, Arab Saudi dsb, yang mengakibatkan perkembangan etnis muslim di Inggris semakin cepat lajunya. Pakan tetapi pada abad ke 20, alasan utama para imigran datang ke Inggris adalah untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik, dengan membawa serta budaya nya untuk diperkenalkan dan disebarkan ke daerah tujuan. Pada perjalanannya, aka nada similasi

budaya antara budaya asli dengan budaya baru mereka, karena menetap di inggris. Salah satu contoh adalah penggunaan bahasa inggris sebagai bahasa yang universal. Hal ini akan sangat membantu perkembangan kaum muslim untuk selanjutnya, karean dengan menguasai bahasa universal, maka penyebaran nilai nilai Islam di Inggris akan jadi lebih mudah. Adanya imigrasi ini juga dapat turut membantu perkembangan budaya negara negara yang ber-Diaspora ke negara lain, seperti contohnya yang terjadi di Inggris. Negara negara seperti Pakistan, India, dan lain sebagainya ber-Diaspora ke Inggris demi kehidupan yang lebih baik. Akibat dari tinggal Inggris, mereka bisa sambil mempelajari budaya INggris untuk dibawa ke tanah asal mereka dan diakulturasikan dengan budaya asli.
b.

KONSEP SELF-DETERMINATION

Self-Determination (Penentuan nasib sendiri) adalah prinsip dalam hukum internasional bahwa negara memiliki hak untuk bebas memilih kedaulatan mereka dan status politik internasional tanpa ada paksaan eksternal atau gangguan eksternal. Prinsip ini tidak menyatakan bagaimana keputusan harus dibuat, atau apa hasil seharusnya, apakah itu kemerdekaan, federasi, perlindungan, beberapa bentuk otonomi atau bahkan asimilasi penuh. Tidak juga negara. Apa batas antara negara-negara harus - atau bahkan apa yang merupakan bangsa. Pada kenyataannya, ada definisi yang bertentangan dan kriteria hukum untuk menentukan kelompok mana yang sah dapat mengklaim hak untuk menentukan nasib sendiri. Selain itu, penentuan nasib sendiri hanyalah salah satu dari banyak prinsip yang diterapkan untuk menentukan batas-batas internasional. Sebenarnya, konsep Self-determination ini dimaksudkan untuk penentuan nasib sendiri dari sebuah bangsa, yang erat kaitannya dengan PDII. Konsep ini pertama kali dikemukakan oleh Woodrow Wilson, presiden AS pada masa itu. Penentuan nasib sendiri bagi bangsa-bangsa, khususnya Eropa Timur adalah poin ke 10 dari Wilsons Fourteen Points. Woodrow Wilson adalah seorang Profesor Sejarah, dan keempat belas poin yang dikemukakannya pertama kali pada 1918 ini akan membuat orang lebih bahagia, dan membuat perdamaian lebih aman. Terlebih lagi, untuk negara negara korban PDII, seperti Asia dan Afrika. Sembilan negara bangsa didirikan contohnya, yakni Estonia, Latvia, Lithuania, Polandia, Finlandia, Cekoslovakia, Austria, Hungaria, Yugoslavia, melakukan Plebisit (pemilu) diselenggarakan di Schleswig dan Upper Silesia, sehingga orang di sana bisa

memilih negara mereka sendiri. Para pembuat perdamaian berusaha melindungi minoritas dengan menempatkan klausul ke negara-negara yang memaksa mereka untuk adil terhadap kaum minoritas. Dalam kaitannya dalam kasus ini, Inggris tidak memberikan kebebasan bagi Muslim minoritas disana. Inggris terkesan semakin mengisolasi mereka dengan menerapkan beberapa kebijakan yang semakin menyulitkan Muslim minoritas untuk tetap bertahan hidup di negara terebut. Sebagai contoh, kebijkan ekonomi yang diterapkan oleh Inggris tidak mereka tidak memperkenankan Muslim minoritas disana untuk ikut merasakan hasil dari kebijakan tersebut. Ada pula serangan kaum rasis terhadap Muslim dan etnis minoritas di Inggris kian meningkat. Kondisi itu semakin disulut dengan sikap media dan politisi serta pandangan menghakimi atas golongan minoritas, seperti yang tersirat dalam manifesto poliyik terbarunya yang ingin menghentikan masuknya imigrasi dari negara Muslim manapun Karena mengancam kelangsungan Inggris.demikian menurut laporan studi terbaru di Eropa. Dampak Diskriminasi Inggris terhadap Muslim Minoritas Diskriminasi, identik dengan perlakuan tidak adil yang melawan hukum dan ditujukan kepada kaum minoritas. Minoritas di sini bisa berarti agama, etnis, warna kulit, kemampuan diri dan usia. Bentuk baru dari kaum minoritas adalah perilaku seksual. Mereka yang menyukai sesama jenis saat ini dikatakan sebagai minoritas. Dalam kehidupan sosial, warga Inggris menginginkan keadilan yang utuh, baik itu penduduk pemeluk Islam yang notabene adalah minoritas maupun yang lainnya. Artinya, ketika seseorang meminta hak kepada negara, pun harus memberikan kontribusi yang setara. Inggris sudah penuh dan merupakan negara paling penuh sesak di Eropa, dan sudah saatnya ditutup dan menyuruh para pencari suaka ilegal dan penjahat asing angkat kaki. Manifesto Partai Nasional Inggris menyebutkan, seyogyanya sama sekali tidak ada lagi imigrasi lebih lanjut dari negara Muslim manapun, karena hal itu merupakan salah satu ancaman paling mematikan terhadap kelangsungan hidup Inggris Akibat dari serangkaian tindakan tindakan yang semakin menyudutkan kaum minoritas tersebut, seharusnya minoritas Musim di Inggris berhak menentukan nasib merwka sendiri, kaena mereka pun juga sebuah entitas yang seharusnya bebas menentukan jalan hidup mereka sendiri, sesuai dengan asas Liberalisme yang dipoulerkan kaum Barat. Akan tetapi, agaknya Liberalisme saat ini hanyalah sekedar kata-kata, tidak lebih. Tindakan diskriminasi secara politik maupun ekonomi yang dilakukan oleh Inggris terhadap rakyat Minoritas muslim nya seakan

mencoreng asas Liberalisme yang mengutamakan bekerjasama demi kepentingan bersama. Dan di kasus ini hanya kepentingan Inggris lah yang terakomodir. Kaum Muslim menghadapi perlakuan terburuk dalam penerapan kebijakan antiteror di Inggris, termasuk pemberhentian di tempat-tempat umum dan penggeledahan mendadak. Aturan ini agaknya telah menimbulkan keprihatinan bagi minoritas muslim di Inggris. Banyak Muslim Inggris, diperkirakan berjumlah 2 juta orang, telah mengeluh atas sikap sewenang-wenang polisi yang menarget mereka sebagai tersangka tanpa alasan jelas selain menjadi Muslim. Riset menunjukkan bahwa Muslim merasa terstigma dan terasing oleh kebijakan tersebut. Seharusnya pemerintah Inggris melindungi warga negara nya, tak peduli Muslim maupun bukan, karena mereka adalah para penduduk legal yang telah terdaftar dan diakui. Akan tetapi pada kenyataanny perlakuan yang diterima berbeda antara kaum muslim dengan non-muslim. Tidak adanya organisasi lokal maupun nasional yang bisa memfasilitasi agar muslim minoritas di Inggris bisa hidup dengan aman tanpa adanya diskriminasi. Terlebih setelah beberap kasus terror yang dilakukan oleh islam radikal di Inggris, seperti yang terjadi pada tahun 2006, semakin membuat muslim di inggris terpinggrikan dan didsikriminasi. Adanya Islamic Council sepertinya tidak cukup untuk menjaga keamanan muslim di Inggris. Tidak adanya organisasi Internasional yang juga mensponsori kaum muslim imigran juga menjadi factor lain yng menyebabkan hal seperti di Inggris terjadi. Dan, meskipun ada lembaga nasional di Inggris, tetap tidak bisa menyelesaikan permasalahan diskriminasi etnis minoritas tersebut. Karena berbagai alasan tersebut lah, masyarakat muslim minoritas di Inggris melakukan sejumlah aksi, termasuk aksi aksi yang mengancam keselamatan titik titik vital di negara Inggris, seperti bandara dan lain sebagainya. Ini semua mereka lakukan menganggapi sikap pemerintah Inggris yang akan menghentikan imigrasi dari negara negara muslim ke Inggris, yang berarti nantinya mereka akan jadi lebih sulit untuk masuk maupun keluar Inggris karena keamanan yang diperketat sedemikian rupa. Akibat dari tindakan penerapan kebijakan ganda yang dijlankan Inggris seperti yang sudah disinggung sedikit di bagaian abstraksi di atas. Pada intinya, mereka hanya menuntut untuk dapat menentukan sendiri masa depan seperti apa yang mereka inginkan, menentukan sendiri status mereka. Akan tetapi, mereka tetap mengikuti haluan haluan negara yang berlaku di Inggris.

Penentuan sendiri nasib dan masa depan ini bisa diartikan sebagai mereka (para etnis muslim minoritas dari berbagai negara) ingin menentukan sendiri apa yang akan mereka lakukan tanpa perlu mengikuti kebijakan dari pemerintah yang mereka anggap melanggar hak hak asasi manusia dan melanggar hukum norma. Karena kebijakan ganda yang diterapkan oleh Inggris terhadap mereka dan AS samasekali bertolak belakang. Pemerintahan Inggris di bawah Tony Blair pada masa itu jelas jelas mendukung penjualan bom oleh AS ke Israel untuk mengebom Palestina. Sedangkan untuk muslim minoritas di Inggris, mereka tidak diperkenankan membawa iPod dengan alasan bisa digunakan untuk detonator bom. Sungguh sebuah Ironi di negara penganut demokrasi.

How we live in multiculturalism


Multicultural equality, then, when applied to religious groups means that secularism simpliciter can be an obstacle to pluralistic integration and equality.. Menjalani kehidupan di dalam dunia yang plural dan mutikultur dewasa ini memang tidak mudah. Banyak sekali kelebihan dan kekurangan yang terdapat pada pola msyarakat ini. Sebeblumnya, mari kita telaah lagi apa penyebab adanya masyarakat yang plural dan multicultural ini. Ya, itu adalah globalisasi. Globalisasi yang telah membuat dunia ini seakan akan borderless, sehingga orang dapat mengakses informasi secara cepat tanpa perlu datang langsung. Globalisasi juga berakibat pada lunturnya kebudayan asli yang dimiliki oleh suatu negara/entitas. Membaurnya berbagai budaya di dunia yang borderless ini membuat hampir semua kebudayaan membaur dan sama. Negara negara di dunia juga tidak membatasi warga negaranya untuk memiliki identitas budaya apapun dan darimana pun. Akibatnya, muncullah pluralism dan multikulturalisne. Kedua hal ini saling berkaitan dan tidak dapat dipisahkan. Kalaupun ada yang meragukan yang mana diantara keduanya yang menjadi pola masyarakat saat ini, jawabannya adalah keduanya yang membentuk. Dengan kehidupan yang dihuni aneka ragam (baik budaya, bahsa, agama, dsb.) ini, segala sesuatunya bisa menjadi pemicu sebuah konflik apabila tidak ada itikad baik dari semua pihak untuk tetap menjaga perdamaian. Dibutuhkan kearif an dari pemerintah sebagai entitas tertinggi untuk mengontrol dan menjaga stabilitas agar terhindar dari konflik yang tidak diinginkan. Seperti contohnya pada kasus Etnis muslim minoritas yang berada di

Inggris. Perlakuan kurang adil dari pemerintahan Inggris adalah fakator utama pemicu konflik yang terjadi di Inggris. Diskriminasi pemerintah Inggris terhadap kaum muslim disan berimbas pada akan dihentikannya imigrasi ke Inggris dari negara negara yang ber-Diaspora ke sana. Tindakan diskriminasi ini akibat dari ulah beberapa oknum muslim yang tinggal Inggris, melancarkan aksi terror dengan mengancam akan meedakkan bandara. Padahal sebenarnya, diskriminasi kaum minoritas muslim di Inggris sudah berlangsung jauh sebelum adanya tindakan terror tersebut. Tindakan terror tersebut adalah salah satu dari bentuk protes kaum muslim minoritas di Inggris yang mendapatkan perlakuan kurang adil dari pemerintah. Mudahnya, ini adalah timbal balik minoritas Inggris terhadap sikap Pemerintah. Sebelum isu imigrasi akan dihentikan, Inggris telah melakukan diskriminasi, baik ekonomi maupun politik terhadap minoritas muslim. Dari segi ekonomi, Pemerintah Inggris mempersulit kaum minoritas untuk mendapatkan pekerjaan dan gaji yang layak. Dan dari segi politik, jatah kursi legislative yang seharusnya mereka dapatkan adalah 19 kursi, namun hanya 2 kursi yang diijinkan oleh pemerintah Inggris. Serta, kaum muslim dan minoritas lain telah mendapatkan stigma buruk, berkat bantuan media. PENUTUP Kesimpulan Serangkaian aksi yang dilancarkan oleh kaum muslim dan minoritas lain di Inggris sebenarnya adalah jawaban atas pernyataan diskriminasi Pemerintah Inggris terhadap mereka. Diskriminasi politik, ekonomi dan yang lainnya jelas jelas merugikan seluruh kaum minoritas di Inggris. Mereka bahakan tidak bisa menentukan bagaimana jalan hidup mereka sendiri, karena tindakan politis pemerintah Inggris. Hal ini jelas sangat bertentanan dengan asas Liberalisme yang yang katanya menjunjung tinggi demokrasi dan kebebasan. Beberapa konsep yang telah digunakan cukup membantu untuk menganalisis kasus ini, termasuk mengetahui bahwa tindakan ini dilakukan oleh Pemerintah Inggris karena mereka merasa terancam dengan adanya kaum muslim di negara mereka yang sekuler. Hal tersebut lah yng mendorong Pemerintah untuk melkuakn tindakan diskriminasi, yang sebenarnya tidak perlu dilakukan. Bila dilihat dari asas Liberalisme, hal ini jelas telah menyimpang dari asas tersebut, karena tidak mengamalkan prinsip demokrasi dan kebebasan yang hampir seluruh dunia anut sekarang.

Saran Beberap saran ingin saya berikan terkait kasus tersebut: Seharusnya pemerintah Inggris bersikap lebih terbuka kepada kaum minoritas ddan Muslim disana. Perlu disediakan lembaga, baik yang tingkat lokal mapun nasional untuk menampung segala aspirasi dari kaum minoritas. Dengan memberikn lembaga yang cukup kuat untuk mengakomodir mereka, maka akan lebih mudah bagi pemerintah Inggris untuk menjalankan komunikasi dua arah antar pemerintah dengan minoritas dan muslim. Perlu dibentuk adanya lembaga Internasional, khususnya pada penanganan konflik semcam yang terjadi di Inggris untuk bisa memberikan jalan keluar. Khususnya, lembaga Islam/Muslim Internasional, perlu dibentuk. Tujuannya adlah untuk menyuarakan apirasi kaum Muslim di seluruh dunia, termsuk menyuarakn aspirasi kaum Muslim minoritas seperti di Inggris dan negara Eropa lainnya. Seharusnya pemerintah Inggris lebih mengakomodir kepentingan kepentingan kaum minoritas dan Muslim di sana, seperti difasilitasi nya pembangunan masjid, daln lain sebgainya. Dengan begitu, kaum Muslim minoritas akan merasa diperhatikan, meskipun dari hal kecil. Akan tetapi bila mereka bisa diajak bekerjasama, maka kepentingan bersama antara pemerintah dengan minoritas bisa di capai.

Seluruh negara-negara yang menganut paham liberalisme semestinya tidak menggunakan kebijakan diskriminasi terhadap kaum Muslim dan minoritas, karena pada kenyataannya asas Liberalisme yang dianut negara Eropa tidak membenarkan adanya penindasan atas suatu kaum.

Perlunya dilakukan kesadaran bersama dari seluruh dunia untuk memberantas adanya kebijakan diskriminasi, karena diskriminasi ini nyatanya masih mencerminkan negara yang tidak menjunjung tinggi kebebasan. Untuk mewujudkan Inggris yang aman dan damai, seluruh elemen perlu dilibatkan dengan tidak meninggalkan pengecualian, termasuk kaum Minoritas. Dengan adanya kesadaran bersama, kasus seperti yang. terjadi di atas bisa dihindari dikemudian hari.

DAFTAR REFERENSI

Referensi buku: Raymond, G, Modood, T (2007). The Construction of Minority Identities in France and Britain. Palgrave Macmillan. Hasmath, R Managing Ethnic Diversity; Meanings and Practices from an International Perspective. Ashgate Press. J. Habermas, Struggles for Recognition in the Democratic Constitutional State, in A. Gutmann (ed.), Multiculturalism: Examining the Politics of Recognition (Princeton: Princeton University Press, 1994) Garbaye, R. (2005). Getting Into Local Power; The Politics of Ethnic Minorities in British and French Cities. Blackwell Publishing. Ishaq, M. and Hussain, A. (2007). British Ethnic minority communities and the armed force. Bellamy, R. and Hollis, M. (eds), Pluralism and Liberal Neutrality (London: Frank Cass and Co., 1999). Gutmann, A. (ed), Multiculturalism: Examining the Politics of Recognition (Princeton: Princeton University Press, 1994.

Referensi Jurnal: Green, C. (1996). Ethnic response to couponing: a motivational perspective. A Journal of Ethnic Consumers Kushnirovich, N. Ethnic niches and immigrants integration. Institute of Immigration and Integration, Ruppin Academic Center, Emek Hefer, Israel. Altinay, L and Wang, C. Facilitating and maintaining research access into ethnic minority firms T. Modood, Multiculturalism, Secularism and the State, Critical Review of International, Social and Political Philosophy, 1/3 (1998), pp. 7997 J. Rex, Race and Ethnicity (Milton Keynes: Open University Press, 1986)

A. Greely, The Persistence of Religion, Cross Currents, 45 (1995), pp. 2441

Referensi Internet: http://www.emeraldinsight.com/books-and-journals, diakses 9 Januri 2012 Inggris dihimbau tutup Pintu Imigrasi bagi muslim, dikutip dari http://www.globalmuslimcommunity.org/Inggris-dihimbau-tutup-pintu-Imigran-bagiMuslim.htm , diakses 6 Januari 2012. Komunitas Muslim Inggris makin Terpinggirkan, dikutip dari http://beritaindonesia.co.id/mancanegara/Komunitas-Muslim-Inggris-makinTerpinggirkan.htm, diakses 9 Januri 2012 Inggris didesak menutup jalur Imigrasi, dikutip dari http://www.voa-islam.com/ diakses 12 Januari 2012.