Anda di halaman 1dari 4

RISYWAH: SEBUAH ANALISA

Farlian Satrio Nugroho

PT. Yamakazi, sebuah perusahaan Jepang sedang ingin menanamkan investasi sangat besar di perusahaan Anda. Dengan investasi tersebut akan banyak tenaga kerja yang terserap. Masyarakat dan perusahaan Jepang sangat ketat dalam menerapkan GCG sementara Budaya Indonesia masih belum bisa lepas dari budaya suap menyuap dalam hal perijinan. Jepang akan menarik investasinya dari Indonesia bila mereka mengetahui bentuk-bentuk tindakan non-GCG tersebut terjadi dalam investasi mereka. Anda diminta untuk memutuskan apakah investasi tersebut diterima dengan konsekwensi harus suapmenyuap ataukah menolak dengan konsekwensi banyak tenaga kerja yang tidak akan terserap oleh investasi tersebut. PT. Yamakazi meminta waktu yang sangat cepat untuk memutuskan apakah anda harus menerima ataukah menolak. Sikap anda? (Diskusikan dengan melihat serta mempertimbangkan nilai-nilai syariah baik yang partikular maupun yang universal yang sudah anda pelajari) Dari uraian diatas dapat ditarik beberapa poin penting, diantaranya: 1. 2. 3. 4. Investasi Sangat Besar & Banyak Tenaga Kerja yang Terserap. Masyarakat Jepang (PT. Yamakazi) Ketat menerapkan GCG Indonesia = Suap-menyuap Jika GCG dilanggar Jepang menarik Investasinya

Poin soal adalah: 1. Diterima dengan konsekwensi suap-menyuap? 2. Ditolak dengan konsekwensi banyak tenaga kerja menganggur (tidak terserap di pasar tn. Kerja)? Saya mencoba menjawab pertanyaan tersebut dengan beberapa uraian dan landasan. Dalam kasus diatas yang perlu diperhatikan yakni tingkat urgensitas dari investasi tersebut dan kadar maslahat ummat yang dihasilkan. Pertama yang menjadi pertanyaan sebelum kita menganalisa adalah bahwa ada keterangan diatas yang tidak lengkap (asymmetric information). Beberapa hal tersebut yakni, Bagaimana keadaan Negara Indonesia ketika tawaran investasi tersebut datang? Hancur, Penduduk miskin dimana-mana, Keadaan perang (teraniaya), atau sudah maju. Ini menjadi poin penting untuk menjadi landasan dalam menjawab pertanyaan diatas. Investasi dalam bidang apa yang ditanamkan? Hal ini menjadi tolok ukur yang penting untuk menentukan tingkat maslahat yang ditimbulkan, misal Investasi dalam bidang pertanian,

pendidikan dan kesehatan jauh lebih urgent dan bermaslahat jika dibandingkan investasi dalam bidang teknologi informasi atau proyek temporer. Sebesar apa investasi yang ditanam? Dan sebesar apa dampak berlipat (multiplier effect) pada penyerapan tenaga kerja dalam perekonomian nasional. Dapat dikatakan begini, apabila investasi yang ditanam sangat besar, maka otomatis hal tersebut mampu menjadi nilai positif yang berdampak luas di perekonomian, hal ini dikorelasikan dengan capital inflow, income tax, foreign direct investment, dan sebagainya. Risywah yang seperti apa? Dalam soal tersebut belum tergambar dengan jelas, risywah untuk Bank-nya sbg lembaga intermediasi, atau risywah yg ditujukan kepada pemerintah (dalam hal ini dapat disebut sebagai uang pelicin), harus jelas dulu.

Dalam kasus ini memang syari at Islam tidak datang dengan hukum-hukum yang terperinci tentang setiap masalah, sehingga manusia merasa puas dengan hukum-hukum itu, tetapi ia datang dengan makna-makna umum yang berkaitan dengan seluruh problem kehidupan manusia, dengan suatu titik pandang bahwa sasarannya adalah manusia tanpa melihat waktu dan tempat. Dari situ mengalirlah di bawah makna-makna umum berbagai makna cabang yang lain. Sehingga, apabila muncul suatu kejadian atau problema yang baru, maka hal itu harus dipelajari dan dipahami, kemudian dilakukan istinbath hukum (pengambilan status hukum) berdasarkan dalil-dalil yang bersifat umum itu. Hasil istinbath tersebut adalah hukum Allah dalam masalah tersebut. Dari sini kemudian muncul apa yang disebut syariah universal yakni Syariah = Segala hukum Allah (kauniyyah dan qauliyyah) yang salah satu prinsip agama yang memuat kebenaran universal dari hukum Allah adalah:

Hukum dapat berubah dengan berubahnya tempat, zaman, adat, keadaan dan niat Beberapa landasan yang membolehkan adanya penyesuaian-penyesuain dalam syariah seperti yang dimaksud dalam kontekstualitas syariah itu adalah:

Kapanpun ditemukan maslahat (kepentingan masyarakat banyak) maka disitulah syariah Allah

Apapun yang diharamkan dengan maksud mencegah mudarat dapat berubah menjadi boleh bila ada maslahat yang jauh lebih besar

Sesuatu yang darurat bisa menghalalkan yang haram Saya kira hukum risywah (suap) udah jelas, yaitu haram. Masalahnya, apakah yang kita lihat itu risywah atau bukan? Misalnya, masalah KTP. Jika, ada warga negara yang terpaksa "menyuap" untuk pembuatan KTP, sedangkan jika ia tidak "menyuap" maka KTPnya tidak jadi atau diperlambat jadinya. Maka, "suap" di situ bukanlah suap (risywah). Kenapa? Karena KTP adalah hak, dan mendapatkannya dengan cepat juga adalah hak. Mengeluarkan harta untuk sesuatu yang adalah haknya adalah bukan termasuk risywah. Dan memang tidak tercakup dalam pengertiannya. Islam telah menentukan miqyas untuk menilai setiap amal perbuatan manusia, yakni dengan kelengkapan dan kesempurnaan syari atnya. Dan itulah miqyas yang shahih. Sehingga segala yang dinyatakan baik oleh syara , itu adalah baik, dan segala yang dinyatakan buruk, itu adalah buruk. Miqyas tyersebut bersifat abadi, sehingga sesuatu yang baik tidak akan berubah menjadi buruk, dan begitu sebaliknya, sesuatu yang buruk akan tetap buruk menurut syara . Bahkan jumhur ulama membolehkan "risywah" (dengan tanda kutip) dengan syarat. Berikut saya kutip dari penjelasan KH Dr. Surahman Hidayat, Pada prinsipnya risywah itu hukumnya haram karena termasuk memakan harta dengan cara yang tidak dibenarkan. Hanya saja mayoritas ulama membolehkan Risywah (penyuapan) yang dilakukan oleh seseorang untuk mendapatkan haknya dan atau untuk mencegah kezhaliman orang lain. Dan dosanya tetap ditanggung oleh orang yang menerima suap (al-murtasyi)(Kasyful Qina 6/316, Nihayatul Muhtaj 8/243, al-Qurtubi 6/183, Ibnu Abidin 4/304, al-Muhalla 8/118, Matalib Ulin Nuha 6/479) Dari sini dapat disimpulkan bahwa Risywah itu menjadi boleh apabila unsurnya jelas, yakni ada hak yang harus dipenuhi dan sebaiknya dilakukan dalam kondisi darurat demi memenuhi maslahat ummatnya. Dalam hal ini manusia lebih berperan sebagai khalifah untuk memberikan sebesar-besarnya untuk kemaslahatan ummat. Hal ini seperti yang tercantum dalam firman:

Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi." Mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami

senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui." (Q.S. Al-Baqarah: 30)

Demikian beberapa sedikit hal yang dapat saya sampaikan, semoga bermanfaat. Wa Allaahu A lamu bi Ash-Showab.