Anda di halaman 1dari 13

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis penjatkan kehadirat Allah SWT, yang atas rahmat-Nya maka kami dapat menyelesaikan penyusunan makalah yang berjudul TSUNAMI Penulisan makalah adalah merupakan salah satu tugas dan persyaratan untuk menyelesaikan tugas mata pelajaran Ilmu pengetahuan alam di SMK N 1 Bandar Sekijang kabupaten pelalawan Dalam Penulisan makalah ini kami merasa masih banyak kekurangan-kekurangan baik pada teknis penulisan maupun materi, mengingat akan kemampuan yang dimiliki penulis. Untuk itu kritik dan saran dari semua pihak sangat kami harapkan demi penyempurnaan pembuatan makalah ini. Harapan kami semoga makalah ini bisa bermanfaat dan menjadikan referensi bagi kita sehingga lebih mengetahui sebab-sebab terjadinya bencana alam tsunami. Makalah yang kami buat ini, tentunya masih banyak kekurangan, demi kesempurnaan makalah ini kami mengharapkan masukan / kritikan yang bersifat membangun.

Sekijang,5 Febuari 2012 ttd Tim penulis

DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL................................................................................................... KATA PENGANTAR ................................................................................................. DAFTAR ISI ............................................................................................................. BAB I : PENDAHULUAN .................................................................................. 1.1. Latar Belakang ............................................................................ 1.2. Rumusan Masalah ....................................................................... 1.3. Tujuan dan Manfaat ................................................................... 1.4. Metode ...................................................................................... BAB II : KAJIAN TEORI ..................................................................................... 2.1. pengertian Tsunami .................................................................... 2.2. Penyebab Tsunami ...................................................................... 2.3. Potensi Tsunami di Indonesia ...................................................... 2.4. Korban Jiwa Tsumani di indonesia ............................................... BAB III : PENYAJIAN DATA ............................................................................... 3.1. Penyajian Data dan Analisis ......................................................... 3.2. Pemecahan Masalah.................................................................... BAB IV : PENUTUP ........................................................................................... 4.1. Kesimpulan.................................................................................. 4.2. Saran ........................................................................................... DAFTAR PUSTAKA .................................................................................................. i 1 2 3 3 3 4 4 5 5 6 7 8-9 10 10 11 12 12 12 13

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang

Sebagai negara kepulauan yang dikelilingi oleh laut dan samudera, Indonesia sangat berpotensi terkena tsunami. Tsunami sendiri merupakn bencana besar yang sanggup menghancurkan apa yang menghadangnya. Maka dari itu kami membuat makalah ini untuk menjelaskan apa itu Tsunami dan faktor faktor yang menimbulkan Tsunami.

1.2 Rumusan masalah

 Apa itu Tsunami?  Apakah penyebab terjadi Tsunami?

1.3 Tujuan atau manfaat : a. Sebagai syarat untuk nilai kelompok ipa b. Untuk mengetahui apa yang dimaksud tsunami c. Untuk mengetahui penyebab terjadinya tsunami d. Sistem peringatan dini saat terjadi tsunami

1.4 Metode Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode studi kepustakaan. Pemilihan metode ini karena penelitian yang dilakukan ditujukan untuk mengidentifikasi sebab timbulnya gelombang tsunami yang mendera masyarakat aceh mengacu pada literatur, artikel-artikel dan sumber bacaan lain.

BAB II KAJIAN TEORI


2.1 Pengertian Tsunami
Tsunami ( bahasa Jepang: tsu = pelabuhan, nami = gelombang, secara harafiah berarti "ombak besar di pelabuhan") adalah perpindahan badan air yang disebabkan oleh perubahan permukaan laut secara vertikal dengan tiba-tiba. Perubahan permukaan laut tersebut bisa disebabkan oleh gempa bumi yang berpusat di bawah laut, letusan gunung berapi bawah laut, longsor bawah laut, atau atau hantaman meteor di laut. Gelombang tsunami dapat merambat ke segala arah. Tenaga yang dikandung dalam gelombang tsunami adalah tetap terhadap fungsi ketinggian dan kelajuannya. Di laut dalam, gelombang tsunami dapat merambat dengan kecepatan 500-1000 km per jam. Setara dengan kecepatan pesawat terbang. Ketinggian gelombang di laut dalam hanya sekitar 1 meter. Dengan demikian, laju gelombang tidak terasa oleh kapal yang sedang berada di tengah laut. Ketika mendekati pantai, kecepatan gelombang tsunami menurun hingga sekitar 30 km per jam, namun ketinggiannya sudah meningkat hingga mencapai puluhan meter. Hantaman gelombang Tsunami bisa masuk hingga puluhan kilometer dari bibir pantai. Kerusakan dan korban jiwa yang terjadi karena Tsunami bisa diakibatkan karena hantaman air maupun material yang terbawa oleh aliran gelombang tsunami. Dampak negatif yang diakibatkan tsunami adalah merusak apa saja yang dilaluinya. Bangunan, tumbuh-tumbuhan, dan mengakibatkan korban jiwa manusia serta menyebabkan genangan, pencemaran air asin lahan pertanian, tanah, dan air bersih. Beberapa kondisi meteorologis, seperti badai tropis, dapat menyebabkan gelombang badai yang disebut sebagai meteor tsunami yang ketinggiannya beberapa meter diatas gelombang laut normal. Ketika badai ini mencapai daratan, bentuknya bisa menyerupai tsunami, meski sebenarnya bukan tsunami. Gelombangnya bisa menggenangi daratan. Gelombang badai ini pernah menggenangi Burma (Myanmar) pada Mei 2008. Wilayah di sekeliling Samudra Pasifik memiliki Pacific Tsunami Warning Centre (PTWC) yang mengeluarkan peringatan jika terdapat ancaman tsunami pada wilayah ini.

Wilayah di sekeliling Samudera Hindia sedang membangun Indian Ocean Tsunami Warning System (IOTWS) yang akan berpusat di Indonesia. Bukti-bukti historis menunjukkan bahwa mega tsunami mungkin saja terjadi, yang menyebabkan beberapa pulau dapat tenggelam.

2.2 Penyebab Tsunami :


Tsunami dapat terjadi jika terjadi gangguan yang menyebabkan perpindahan sejumlah besar air, seperti letusan gunung api, gempa bumi, longsor maupun meteor yang jatuh ke bumi. Namun, 90% tsunami adalah akibat gempa bumi bawah laut. Dalam rekaman sejarah beberapa tsunami diakibatkan oleh gunung meletus, misalnya ketika meletusnya Gunung Krakatau. Gerakan vertikal pada kerak bumi, dapat mengakibatkan dasar laut naik atau turun secara tiba-tiba, yang mengakibatkan gangguan keseimbangan air yang berada di atasnya. Hal ini mengakibatkan terjadinya aliran energi air laut, yang ketika sampai di pantai menjadi gelombang besar yang mengakibatkan terjadinya tsunami. Kecepatan gelombang tsunami tergantung pada kedalaman laut di mana gelombang terjadi, dimana kecepatannya bisa mencapai ratusan kilometer per jam. Bila tsunami mencapai pantai, kecepatannya akan menjadi kurang lebih 50 km/jam dan energinya sangat merusak daerah pantai yang dilaluinya. Di tengah laut tinggi gelombang tsunami hanya beberapa cm hingga beberapa meter, namun saat mencapai pantai tinggi gelombangnya bisa mencapai puluhan meter karena terjadi penumpukan masa air. Saat mencapai pantai tsunami akan merayap masuk daratan jauh dari garis pantai dengan jangkauan mencapai beberapa ratus meter bahkan bisa beberapa kilometer. Gerakan vertikal ini dapat terjadi pada patahan bumi atau sesar. Gempa bumi juga banyak terjadi di daerah subduksi, dimana lempeng samudera menelusup ke bawah lempeng benua. Tanah longsor yang terjadi di dasar laut serta runtuhan gunung api juga dapat mengakibatkan gangguan air laut yang dapat menghasilkan tsunami. Gempa yang menyebabkan gerakan tegak lurus lapisan bumi. Akibatnya, dasar laut naik-turun secara

tiba-tiba sehingga keseimbangan air laut yang berada di atasnya terganggu. Demikian pula halnya dengan benda kosmis atau meteor yang jatuh dari atas. Jika ukuran meteor atau longsor ini cukup besar, dapat terjadi megatsunami yang tingginya mencapai ratusan meter.

Gempa yang menyebabkan tsunami :


y Gempa bumi yang berpusat di tengah laut dan dangkal (0 - 30 km) y Gempa bumi dengan kekuatan sekurang-kurangnya 6,5 Skala Richter y Gempa bumi dengan pola sesar naik atau sesar turun

2.3 Potensi tsunami di Indonesia


Indonesia merupakan negara yang rawan terhadap tsunami, terutama kepulauan yang berhadapan langsung dengan pertemuan lempeng, antara lain barat Sumatera, selatan Jawa, Nusa Tenggara, utara Papua, Sulawesi dan Maluku serta timur Kalimantan. Tsunami di Indonesia pada umumnya adalah tsunami lokal, dimana waktu antara terjadinya gempa bumi dan datangnya gelombang tsunami antara 20 s/d 30 menit. Berdasarkan katalog gempa (1629 2002) di Indonesia pernah terjadi tsunami sebanyak 109 kali, yakni 1 kali akibat longsoran (landslides), 9 kali akibat gunung berapi dan 98 kali akibat gempa bumi tektonik. Gempa yang menimbulkan tsunami sebagian besar berupa gempa yang mempunyai mekanisme fokus dengan komponen dip-slip, yang

terbanyak adalah tipe thrust (Flores, 1992) dan sebagian kecil tipe normal (Sumba, 1977). Gempa dengan mekanisme fokus strike slip kecil sekali kemungkinan untuk menimbulkan tsunami.

Tanda-tanda akan datangnya tsunami di daerah pinggir pantai adalah : a. Air laut yang surut secara tiba-tiba b. Bau asin yang sangat menyengat
7

c. Dari kejauhan tampak gelombang putih/suara gemuruh yang sangat keras. Tsunami terjadi jika : a. Gempa besar dengan kekuatan gempa > 6,5 SR b. Lokasi pusat gempa di laut c. Kedalaman dangkal < 40 km d. Terjadi deformasi vertikal dasar laut

Pembelajaran gempa dan tsunami 26 Desember 2004 memberikan pelajaran penting, betapa waktu singkat antara gempa besar sebelum gelombang tsunami datang. Sebagian masyarakat bertanya dengan polosnya mengapa tidak ada peringatan sama sekali dari pihak berwenang. Terlepas dari pengetahuan mereka bahwa gempa sampai hari ini belum ada ilmuwan yang mampu menentukan kapan suatu gempa akan terjadi, namun demikian tsunami yang terjadi setelah gempa dapat diprediksi sehingga pihak berwenang bisa memberi peringatan kepada masyarakatnya. Kejadian kesalahan gempa pada 3 Juni 2007 merupakan pelajaran yang berharga bagi kita semua.

2.4 Korban Jiwa tsunami di Indonesia


Di Indonesia, gempa bumi mengakibatkan tsunami (gelombang pasang) yang menelan sangat banyak korban jiwa. Dipastikan lebih dari 150.000 jiwa tewas, puluhan gedung hancur oleh gempa utama, terutama di Meulaboh dan Banda Aceh di ujung Sumatera. Di Banda Aceh, sekitar 50% dari semua bangunan rusak terkena tsunami, tetapi kebanyakan korban disebabkan oleh tsunami yang menghantam pantai barat Aceh dan Sumatera Utara. Foto dari kerusakan sulit diperoleh karena ada pemberontakan Gerakan Aceh Merdeka yang mengakibatkan sedikitnya jumlah reporter, pejabat pemerintah, dan tim penolong di sumatera Utara. Pejabat pemerintah khawatir akan kurangnya laporan dari kota-kota di pantai barat Sumatera, termasuk beberapa resort kecil. Kota-kota ini hanya berjarak 100 km dari episenter dan diperkirakan menerima kerusakan berat dan juga pulau Simeulue dan pulau Nias.

Dirancang sebagai media informasi tentang musibah tsunami di Samudera Hindia dahsyat tanggal 26 Desember 2004 lalu, khususnya yang terjadi di wilayah Aceh, sebagai kawasan bencana yang paling parah dengan korban tewas paling tinggi. Sekarang ini siapa saja yang datang di provinsi Aceh terutama ke Kotamadya Banda Aceh, kabupaten Aceh Besar, Aceh Barat, Aceh Jaya, Aceh Barat Daya, Pidie, Lhokseumawe dan kabupaten Aceh Utara dengan tujuan apa saja termasuk tsunami tour, tidak terlalu perlu harus banyak orang bercerita bagaimana saat gempa mengguncang atau dari mana tsunami datang, karena mereka masih bisa melihat sendiri kerusakan semua sendi kehidupan yang ditimbulkan kedua bencana alam tersebut. Kecuali itu, sekarang ini hanya yang tidak terlihat lagi dengan mata kepala adalah korban yang hilang dan meninggal dunia karena yang meninggal dan ditemukan mayatnya sudah dikebumikan dalam berbagai kuburan massal. Data akhir yang diterima Suara Karya pada sekretariat Pemda Provinsi Aceh, 30 Juli 2005 menyebutkan lebih dari 234.271 penduduk Aceh tewas serta 165.729 orang hilang dan 150.000 rumah mereka hancur total akibat diguncang gempa serta diterjang tsunami pada Minggu, 26 Desember 2004 lalu. Sedangkan korban yang selamat namun sudah kehilangan sanak saudara dan harta benda masih berada di barak-barang pengungsi di seluruh Aceh. Belakangan dari 512.000 pengungsi itu hanya sebagian kecil mereka yang nekat pulang kembali ke bekas lokasi rumahnya dengan cara membuat pondok kecil atau tenda darurat. Tujuan mereka pulang juga beragam mulai dari tidak sanggup lagi hidup di barak-barak pengungsi yang berderetderet. Setiap barak 12 kamar berukuran satu kamar 4 x 5 m dengan ketentuan huni satu kamar satu keluarga atau 5 orang. Juga supaya lahan bekas rumah mereka tidak hilang jejak atau beralih tangan.

BAB III PENYAJIAN DATA, ANALISIS DAN PEMECAHAN MASALAH

3.1 Penyajian Data dan Analisis


Banyak kota-kota di sekitar Pasifik, terutama di Jepang dan juga Hawaii, mempunyai sistem peringatan tsunami dan prosedur evakuasi untuk menangani kejadian tsunami. Bencana tsunami dapat diprediksi oleh berbagai institusi seismologi di berbagai penjuru dunia dan proses terjadinya tsunami dapat dimonitor melalui perangkat yang ada di dasar atau permukaan laut yang terkoneksi dengan satelit. Perekam tekanan di dasar laut bersama-sama dengan perangkat yang mengapung di laut (buoy) dapat digunakan untuk mendeteksi gelombang yang tidak dapat dilihat oleh pengamatan manusia pada laut dalam, sistem sederhana yang pertama kali digunakan untuk memberikan peringatan awal akan terjadinya tsunami pernah dicoba di Hawaii pada tahun 1920-an, kemudian sistem yang lebih canggih dikembangkan lagi setelah terjadinya tsunami besar pada tanggal 1 April 1946 dan 23 Mei 1960. Amerika Serikat membuat Pacific Tsunami Warning Center pada tahun 1949 dan menghubungkannya ke jaringan data dan peringatan internasional pada tahun 1965. Salah satu sistem untuk menyediakan peringatan dini tsunami (REST Project) dipasang di pantai barat Amerika Serikat, Alaska dan Hawaii oleh USGS, NOAA dan Pacific Northwest Seismograph Network serta oleh tiga jaringan seismik Universitas. Hingga kini, ilmu tentang tsunami sudah cukup berkembang meskipun proses terjadinya masih banyak yang belum diketahui dengan pasti. Episenter dari sebuah gempa bawah laut dan kemungkinan kejadian tsunami cepat dihitung. Pemodelan tsunami yang baik telah berhasil memperkirakan seberapa besar tinggi gelombang tsunami di daerah sumber, kecepatan perjalanannya dan waktu sampai di pantai. Berapa ketinggian tsunami di pantai dan
10

seberapa jauh rendaman air yang mungkin terjadi di daratan. Walaupun begitu, karena faktor alamiah, seperti kompleksitas topografi dan batimetri sekitar pantai dan adanya corak ragam tutupan lahan (baik tumbuhan, bangunan, dll) perkiraan waktu kedatangan tsunami, ketinggian dan jarak rendaman tsunami masih belum bisa dimodelkan secara akurat.

3.2 Pemecahan Masalah


Dari penyajian data dan analisis di atas maka disimpulkan bahwa salahsatu pemecahan masalah tsunami di Indonesia adalah diwujudkannya sistem peringatan dini di Indonesia. Saat ini Indonesia sedang melakukan pekerjaan pembangunan sistem peringatan dini tsunami. Salah satu proyek yang dikerjakan adalah kerjasama dengan negara Jerman. Proyek ini bernama GITEWS (Germany Indonesia Tsunami Early Warning System). Ada 3 pilot area yang dipilih untuk pelaksanaan proyek ini yaitu kota Padang, Jawa Tengah (Cilacap, Kebumen dan Bantul) serta Bali (Kab. Badung). Pengembangan sistem peringatan dini tsunami ini melibatkan banyak pihak dan instansi pemerintah. Sebagai koordinator dari pihak Indonesia adalah kementerian Ristek (Riset dan Teknologi). Sedangkan instansi yang ditunjuk dan bertanggung jawab untuk mengeluarkan Info Gempa dan Peringatan Tsunami adalah BMG (Badan Meterologi dan Geofisika). Tujuan utama pembangunan sistem peringatan dini tsunami ini adalah untuk terciptanya sebuah sistem yang dapat menginformasikan serta memperingatkan masyarakat luas apabila terjadi suatu gempa yang berpotensi tsunami dalam waktu sesingkat-singkatnya agar kerugian nyawa dan materi dapat dihindarkan semaksimal mungkin.

11

BAB IV PENUTUP
4.1. Simpulan
Dari berbagai fakta bencana yang ada jelas terlihat bahwa bencana besar yang terjadi tidak serta merta datang begitu saja, namun didahului oleh adanya eksploitasi lingkungan yang berlebihan, kebijakan pemerintah kurang memperhatikan AMDAL ( analisis mengenai dampak lingkungan ) , Tata Ruang yang kurang baik dan tidak baiknya managemen pemerintah untuk mengatisipasi dan penaggulangan bencana, sehingga menyebabkan Negara Indonesia banyak bencana Alam.

4.2.

Saran
Bencana bisa terjadi kapan saja dan dimana saja, namun kita harus mengetahui jenis-jenis bencana, sebab-sebab yang menimbulkan bencana dan akibat-akibat yang

ditimbulkannya. Saran yang saya sampaikan kepada semua pihak untuk mengantisipasi dan penanggulangan bencana agar tidak menimbulkan kerusakan, korban meninggal dan kerugian yang besar. 1. Kepada Pemerintah agar meningkatkan managemen antisipasi dan penanggulangan bencana. 2. Pemerintah agar memberikan sosialisasi dan simulasi kepada masyarakat yang tinggal di daerah bencana, bagaimana cara mengatasi bencana yang terjadi. 3. Peran serta masyarakat sangat dibutuhkan dalam penyelamatan dan pelestarian lingkungan, karena sebagian bencana yang terjadi diakibatkan oleh kerusakan lingkungan. 4. Masyarakat pada umumnya harus mengetahui baik melalui Media Elektronik maupun Media Cetak tentang bencana-bencana yang terjadi dan bagaimana cara mengatasi atau menyelamatkan diri.

12

DAFTAR PUSTAKA

1. Rahman, Dhohir Taufik dan Tarsisius, 2000, Indonesia Negara Bencana, Jakarta : Yudhistira 2. http://id.wikipedia.org/wiki/Gempa_bumi , di download 14 Mei 2011 3. http://id.wikipedia.org/wiki/Bencana_alam, di download 14 Mei 2011 4. http://rovicky.wordpress.com/2010/10/18/banjir-bandang-bagaimana-terjadinya/ , di download 14 Mei 2011 5. http://www.indonesia.go.id/id/index.php?option=com_content&task=view&id=6071&Ite mid=1798, di download 14 Mei 2011 6. http://id.wikipedia.org/wiki/Tsunami, di download 15 Mei 2011 7. http://id.wikipedia.org/wiki/Gunung_meletus, di download 15 Mei 2011 8. http://id.wikipedia.org/wiki/Tanah_longsor, di download 15 Mei 2011

13

Anda mungkin juga menyukai