Anda di halaman 1dari 10

KATA PENGANTAR Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan yg Maha Esa,atas terselesaikan makalah ini tepat

pada waktunya. Adapun tujuan penugasan makalah ini supaya penulis dapat berpikir dan mengembangkan wawasan. Penulis mengucapkan syukur kepada: y y y Dosen yang telah memberikan tugas ini Teman-teman yang sudah menemani dan memberikan dukungan kepada penulis Orang tua dan saudara/I ynag sudah memberikan dukungan moral dan material

Penulis menyadari bahwa,makalah ini masih banyak kekurangan dan jauh dari kesempurnaan.Oleh karena itu,kritik dan saran yang bersifat membangun dari pembaca untuk menyempurnakan makalah ini sangat diharapkan.

Surabaya,Februari 2011

Penulis

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Herpes adalah infeksi virus pada kulit. Herpes Simpleks Virus merupakan salah satu virus yang menyebabkan penyakit herpes pada manusia. Herpes Simpleks Virus sendiri dibagi menjadi dua tipe, yaitu Herpes simpleks tipe 1(HSV-1) yang menyebabkan infeksi pada bagian mulut,muka dan bagian mata manusia dan Herpes Simplex Virus tipe 2 (HSV-2) yang menyebabkan infeksi pada alat kelamin (genital).Dalam Makalah ini yang akan di bahas adalah Herpes Simpleks tipe 2.HSV-2 atau herpes genital ditularkan melalui hubungan seksual dan menyebabkan vagina terlihat seperti bercak dengan luka mungkin muncul iritasi, penurunan kesadaran yang disertai pusing, dan kekuningan pada kulit (jaundice) dan kesulitan bernapas atau kejang.Gejala yang timbul meliputi nyeri, inflamasi dan kemerahan pada kulit (eritema) dan diikuti dengan pembentukan gelembung gelembung yang berisi cairan bening yang selanutnya dapat berkembang menjadi nanah, diikuti dengan pembentukan keropeng atau kerang (scab). Hal tersebut harus diterapi Acyclovir tujuannya adalah mencegah dan mengobati infeksi Herpes Simplex Virus (HSV), menyembuhkan gejala yang muncul, seperti kemerahan (eritema), gelembung - gelembung berisi cairan, keropeng atau kerak. Pengobatan yang baku untuk herpes ini adalah dengan acyclovir, valacyclovir, famcyclovir dan pencyclovir yang dapat diberikan dalam bentuk krim, pil atau secara intrevena (infus), bila berhasil apabila dimulai dalam tiga hari pertama setelah rasa nyeri mulai terasa. Setelah infeksi pertama, HSV memiliki kemampuan yang unik untuk bermigrasi sampai pada saraf sensorik tepi menuju spinal ganglia, dan berdormansi sampai diaktifasi kembali. 1.2 Rumusan Masalah 2.1 Morfologi Herpes Simpleks Tipe 2 2.2 Cara mengidentifikasi Herpes Simpleks Tipe 2 2.3 Masa inkubinasi Herpes Simpleks Tipe 2 2.4 Gejala Klinis Herpes Simpleks Tipe 2 2.5 Terapi Herpes Simpleks Tipe 2 1.3 Tujuan y y y y Mengetahui Morfologi Herpes Simpleks Tipe 2 Mengetahui Cara mengidentifikasi Herpes Simpleks Tipe 2 Mengetahui Masa Inkubinasi Herpes Simpleks Tipe 2 Mengetahui Gejala Klinis Herpes Simpleks tipe 2

Mengetahui Terapi atau pengobatannya

1.4 Metodeologi Metode yang dipakai dalam menyusun makalah ini adalah metode pustaka

1.5 Batasan Makalah BAB I PENDAHULUAN yang terdiri dari Latar Belakang,Rumusan Masalah,Tujuan dan Metodeologi.BAB II PEMBAHASAN,BABAIII PENUTUP terdiri dari Kesimpulan dan Saran.

BAB II PEMBAHASAN

2.1 Morfologi Herpes Simpleks Tipe 2 Pembungkus berasal dari selaput inti sel yang terinfeksi. Pembungkus ini mengandung lipid, karbohidrat, dan protein, dan dapat menghilangkan eter. Genom ADN beruntai6

untai ganda (BM 85-106 X 10 ) berbentuk lurus. Tipe 1 dan 2 memperlihatkan 50% urutan homologi.

2.2 Cara Mengidentifikasi Herpes Simpleks Tipe 2 Herpes simpleks berkenaan dengan sekelompok virus yang menulari manusia. Serupa dengan herpes zoster (lihat Lembaran Informasi (LI) 514), herpes simpleks menyebabkan lukaluka yang sangat sakit pada kulit. Gejala pertama biasanya gatal-gatal dan kesemutan/perasaan geli, diikuti dengan benjolan yang membuka dan menjadi sangat sakit. Infeksi ini dapat menjadi dorman (tidak aktif) selama beberapa waktu, kemudian tiba-tiba menjadi aktif kembali tanpa alasan jelas. anda-tanda dan simptom yang berhubungan dengan HSV-II dapat sangat berbedabeda. Ketersediaan pelayanan kesehatan dapat mendiagnosa herpes genital dengan inspeksi visual jika perjangkitannya khas, dan dengan mengambil sampel dari luka kemudian mengetesnya di laboratorium. Tes darah untuk mendeteksi infeksi HSV-I atau HSV-II, meskipun hasil-hasilnya tidak selalu jelas.4 Dicurigai herpes genital ketika vesikel multipel yang nyeri terjadi pada area yang terpajan seksual. Selama perjangkitan awal, kultur vesikel adalah (+) untuk virus herpes hanya pada 80% pasien. Ini artinya pada 20% pasien dengan herpes tesnya akan tidak benar, mengesankan bahwa mereka tidak memiliki virus herpes. Dengan kata lain, hasil tes (-) dari vesikel tidak membantu sebagaimana hasil tes (+), karena tes mungkin negatif palsu. Bagaimanapun juga, jika sebuah sampel vesikel yang berisi cairan (pada stadium awal sebelum kering dan terbentuk krusta) tesnya (+) herpes, hasil tesnya sangat dapat dipercaya. 2.3 Masa inkubinasi Herpes Simpleks Tipe 2 Masa inkubasi berkisar sekitar 3-7 hari. Berdasarkan pernah tidaknya seseorang kontak dengan Virus Herpes Simplex (HSV-2), infeksi Herpes genitalis berlangsung dalam 2 fase, yakni: 1. Fase Infeksi (lesi) Primer, ditandai dengan:
y y

Dapat terjadi tanpa gejala (asimptomatis) Diawali dengan rasa panas, rasa terbakar dan gatal pada area yang terserang.

y y

Kemudian timbul vesikula (bintik-bintik) bergerombol, mudah pecah sehingga menimbulkan perlukaan (mirip koreng) di permukaan kulit yang kemerahan (eritematus), dan nyeri. Selanjutnya dapat diikuti dengan demam, lemas sekujur tubuh (malaise) dan nyeri otot. Terjadi pembesaran kelenjar getah bening di sekitar area yang terserang Herpes genitalis.

2 Fase Infeksi (lesi) Rekuren (kambuh). Seseorang yang pernah infeksi primer, dapat mengalami kekambuhan. Adapun kekambuhan terjadi karena berbagai faktor dan dapat dipicu oleh beberapa faktor pencetus, misalnya kelelahan fisik maupun psikis, alkohol, menstruasi dan perlukaan setelah hubungan intim.
y

Pada infeksi kambuhan (rekuren), gejala dan keluhan pada umumnya lebih ringan. Gambaran penyakit bersifat lokal pada salah satu sisi bagian tubuh (unilateral), berbentuk vesikuloulseratif (bercak koreng) yang biasanya dapat hilang dalam 5 hingga 7 hari. Sebelum muncul bercak berkoreng, didahului dengan rasa panas, gatal dan nyeri.

Walaupun keluhan dan gejala bersifat ringan, seyogyanya penderita tidak mengabaikannya. Berobat ke dokter merupakan langkah bijak agar terhindar dari kemungkinan terjadinya infeksi sekunder dengan pelbagai dampak yang tidak kita inginkan. Selain kedua fase di atas, dikenal juga fase laten, yakni fase dimana penderita tidak mengalami keluhan dan gejala klinis, namun pada pemeriksaan laboratorium ditemukan HSV di ganglion dorsalis ( simpul saraf di bagian belakang tubuh)

2.4 Gejala Klinis Herpes Simpleks Tipe 2 Herpes Simpleks Tipe 2. Penderita yang disebabkan pada umumnya tidak menunjukan gejala klinis dengan beberapa lesi ditubuh dan penderita tidak mengetahui bahwa mereka telah terinfeksi. A.Infeksi Genital Herpes Primer Masa inkubasi infeksi tipe ini dari mulai kontak pertama sampai timbulnya lesi adalah 5 hari. Lesi berawal dari eritema kecil ang terlihat bening lalu kemudian menjadi nanah. Selama 5 sampai 3 hari lesi vesikuloputula pecah dan membentuk kumpulan bisul yang menyakitkan yang kemudian mengering, beberapa membentuk kerak padakulit (krus) dan akan sembuh dengan sendirinya.infeksi genital herpes primer umumnya banyak, bilateral dan ekstensif. Uretra dan serviks juga diinfeksi secara berkala, dengan ciri-ciri atau kumpulan ulcer pada eksoserviks. Perluasan secara bilateral pada titik-titik limfa umumnya tampak dan dapat berlangasung selama berbulan-bulan. Sekitar 2-3 penderita memperlihatkan gejala sistemik seperti demam, malaise, myalgia, dan 1 10 % berkembang aseptis meningitis dengan leher yang kaku dan sakit kepala. Tahap pertama dari penyakit ii umumnya berlangsung selama

20-30 hari. B. Infeksi Genital Kambuh (Infeksi Rekuren Genital) Perbeda dengan infeksi primer, herpes rekuren genital merupakan penyakit dengan durasi yang lebih pendek, biasanya terdepat di area sekitar genital, tanpa gejala sistemik. Prodormal parestesias di perineum, genitalia, atau pantat terjadi selama 12-24 jam sebelum keluarnya lesi. Herpes rekuren genital biasanya muncul sebagai vesikel berkelompok di area eksternal genital. Gejala lokal seperti sakit dan gatal di daerah tengah selama 4-5 hari dan lesibiasanya terjadi selama 10-14 hari. Rekuren meningitis disebabkan oleh terjadinya HSV-2.

2.5 Terapi Herpes Simpleks Tipe 2. Terapi yang digunakan adalah acyclovir. Sasaran terapi acyclovir adalah Herpes Simplex Virus (HSV). y Tujuan terapi Tujuan terapi acyclovir adalah mencegah dan mengobati infeksi Herpes Simplex Virus (HSV), menyembuhkan gejala yang muncul, seperti kemerahan (eritema), gelembunggelembung berisi cairan, keropeng atau kerak. y Strategi terapi Strategi terapi farmakologis (terapi dengan obat) dalam pengobatan penyakit herpes adalah dengan menggunakan obat-obat antivirus. Pengobatan baku untuk herpes adalah dengan acyclovir, valacyclovir, famcyclovir, dan pencyclovir yang dapat diberikan dalam bentuk krim, pil atau secara intravena (infus) untuk kasus yang lebih parah. Semua obat ini paling berhasil apabila dimulai dalam tiga hari pertama setelah rasa nyeri akibat herpes mulai terasa. Semua antivirus yang digunakan pada infeksi Herpes Simplex Virus (HSV) bekerja dengan menghambat polimerase DNA virus. Acyclovir, ganciclovir, famciclovir, dan valacyclovir secara selektif di fosforilasi menjadi bentuk monofosfat pada sel yang terinfeksi virus. Bentuk monofosfat tersebut selanjutnya akan diubah oleh enzym seluler menjadi bentuk trifosfat, yang akan menyatu dengan rantai DNA virus. Acyclovir, famciclovir, dan valacyclovir terbukti efektif dalam memperpendek durasi dari gejala dan lesi. 1.Ayclovir : merupakan agen yang paling banyak digunakan pada infeksi herpes simplex virus, tersedia dalam bentuk sediaan intravena, oral, dan topikal. 2.Ganciclovir : mempunyai aktivitas terhadap herpes simplex virus tipe 1 dan 2, tetapi lebih toksik daripada acyclovir, famciclovir, dan valacyclovir, karena itu tidak direkomendasikan untuk pengobatan herpes. 3.Famciclovir : merupakan prodrug dari penciclovir yang secara klinis efektif dalam mengobati herpes simplex virus tipe 1 dan 2. 4.Valacyclovir : merupakan valyl ester dari acyclovir dan memiliki bioavailabilitas yang lebih besar daripada acyclovir

Obat Pilihan  Nama Generik Acyclovir  Nama Dagang Clinovir (Pharos)

 Indikasi Untuk mengobati genital Herpes Simplex Virus, herpes labialis, herpes zoster, HSV encephalitis, neonatal HSV, mukokutan HSV pada pasien yang memiliki respon imun yang diperlemah (immunocompromised), varicella-zoster  Kontraindikasi Hipersensitifitas pada acyclovir, valacyclovir, atau komponen lain dari formula.  Bentuk Sediaan Tablet 200 mg, 400 mg.  Dosis dan Aturan Pakai Pengobatan herpes simplex: 200 mg (400 mg pada pasien yang memiliki respon imun yang diperlemah/immunocompromised atau bila ada gangguan absorbsi) 5 kali sehari, selama 5 hari. Untuk anak dibawah 2 tahun diberikan setengah dosis dewasa. Diatas 2 tahun diberikan dosis dewasa. Pencegahan herpes simplex kambuhan, 200 mg 4 kali sehari atau 400 mg 2 kali sehari, dapat diturunkan menjadi 200 mg 2atau 3 kali sehari dan interupsi setiap 6-12 bulan. Pencegahan herpes simplex pada pasien immunocompromised, 200-400 mg 4 kali sehari. Anak dibawah 2 tahun setengah dosis dewasa. Diatas 2 tahun dosis sama dengan dosis orang dewasa.  Efek Samping Pada sistem saraf pusat dilaporakan terjadi malaise (perasaan tidak nyaman) sekitar 12% dan sakit kepala (2%).pada system pencernaan (gastrointestinal) dilaporkan terjadi mual (2-5%), muntah (3%) dan diare (2-3%)  Resiko Khusus

Penggunaan Acyclovir pada wanita hamil masuk dalam kategori B. Efek teratogenik dari Acyclovir tidak diteliti pada studi dengan hewan percobaan. Acyclovir terbukti dapat melewati plasenta manusia.Tidak ada penelitian yang cukup dan terkontrol pada wanita hamil. pada tahun 1984-1999 diadakan pendaftaran bagi wanita hamil, dan dari hasil yang terlihat tidak ada peningkatan kelahiran bayi yang cacat karena penggunaan Acyclovir . tetapi karena tidak semua wanita hamil mendaftarkan diri dan kurangnya data dalam jangka waktu yang panjang, maka direkomendasikan penggunaan acyclovir untuk wanita hamil disertai peringatan dan diberikan jika benar-benar-benar diperlukan. Acyclovir juga dapat masuk ke dalam air susu ibu, karena itu penggunaan pada ibu menyusui harus disertai peringatan.

BAB III PENUTUP

KESIMPULAN Herpes simpleks merupakan penyakit yang diakibatkan karena virus. Penyakit menular seksual ini disebabkan oleh virus Herpes Simpleks tipe I (HSV-I) atau Herpes Simpleks tipe 2 (HSV-2). Kontak langsung dengan penderita melalui air liur merupakan cara utama dalam penyebaran penyakit ini. HSV juga dapat ditularkan dari ibu kepada bayinya yang akan menyebabkan Neonatal Herpes. Keluhan dan gejala HSV seperti cold sores, pembengkakan pada konjungtiva dan kelopak mata (blepharoconjunctivitis), disertai lesi gatal putih kecil pada permukaan kornea, demam, dan lesi. Diagnosis Penyakit Herpes Simpleks dengan menggunakan Tes virologi, Tes Serologi dan Tes untuk Herpes Encephalitis. Pencegahan dapat dilakukan dengan pemakaian kondom bagi pasangan suami istri dan operasi cesar untuk mencegah penularan herpes simpleks dari sang ibu kepada anak ketika proses melahirkan. Antiviral yang dapat digunakan untuk pengobatan Herpes Simpleks adalah Acyclovir, Valacyclovir, dan Famcyclovir. Sementara itu beberapa jenis obat alternatif yang dapat digunakan untuk mempercepat proses penyembuhan antara lain suplemen lisin, krim lidah buaya, dan balsem lemon. Infeksi primer dan rekuren HSV memiliki prognosis buruk yaitu 70% kemungkinan kematian pada penderita yang tidak mendapatkan perawatan. Sementara itu, pada bayi memiliki prognosis yang tidak kalah buruknya yaitu 60% menyebabkan kematian.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 2000, Informatorium Obat Nasional Indonesia,Departemen Kesehatan RI, Direktorat Jendral Pengawasan Obat dan Makanan, Jakarta Anonim, 2005, Drug Information Handbook, Edisi 14, Lexi-Comp, Amerika Serikat. Braig ,Suzanne. 2004. Management of Genital Herpes during Pregnancy: the French Experience. Herpes Journal of IHMF. Diakses melalui http://www.ihmf.org/112Braig pada tanggal 24 Februari 2009. Torres Gisela, Herpes Simplex, Siregar, R., S., Herpes Genitalis, dalam Atlas Berwarna Saripati Penyakit Kulit, Edisi 2, Hal 82-84, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta, 2004
Daili Sjaiful Fahmi, Judanarso Jubianto, Herpes Genital , dalam Daili, S., F., Makes, W., I., Zubier, F., Judanarso, J., Infeksi Menular Seksual, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Edisi Ketiga, Hal 111125, Balai Penerbit FKUI, Jakarta, 2005