Anda di halaman 1dari 3

Indonesia dan India Gelar Peringatan Hubungan Bilateral Enam Dekade

Selasa, 08 Nopember 2011 Tahun 2011 ini genap enam dekade terjalinnya hubungan diplomatik Republik Indonesia dan Republik India. Tiga acara akbar digelar oleh Kementerian Luar Negeri RI bekerjasama dengan Kedutaan Besar Republik India di Jakarta. Dua seminar mengenai hubungan budaya RI-India diselenggarakan di Institut Seni Indonesia (ISI) di kota Surakarta dan Yogyakarta pada 7-8 November 2011 menandai dimulainya acara. Puncak acara, berupa penampilan Tari Ramayana yang memadukan para penari dari Indonesia dan penari dari India, akan ditampilkan di Pelataran Candi Prambanan Yogyakarta, 9-10 November 2011. Hubungan budaya antara rakyat India dan Indonesia telah terjalin erat sejak beberapa abad yang lalu, dan kini jalinan kerjasama kedua negara dalam berbagai bidang semakin erat, dalam bentuk kerjasama pendidikan dan perdagangan, dimana India merupakan salah satu mitra utama perdagangan RI , ujar Rizali Indra Kusuma, Direktur Asia Selatan dan Tengah Kemlu RI. Sementara Zahur Zahidi, Kepala Jawahartal Nehru Cultural Centre di Jakarta, menjelaskan betapa signifikannya jejak hubungan budaya India-Indonesia, yang antara lain dapat terlihat pada kehidupan masyarakat Hindu Bali, relief-relief Candi Borobudur dan Candi Prambanan, serta penggunaan kata-kata Sansekerta dalam kosakata bahasa dan tulisan Jawa kuno, bahkan masuknya Islam ke Sumatra juga berkat usaha dari para pedagang asal Gujarat, India. Seminar di kampus ISI Surakarta, Senin (7/11), bertemakan Strengthening Indonesia and India Cultural Relations dibuka oleh Rektor ISI, Prof. Dr. Slamet Suparno. Dalam sambutannya, disampaikan apresiasi atas inisiatif Kemlu RI bersama dengan Kementerian Pariwisata dan Industri Kreatif dalam memperkokoh kerjasama kedua negara yang antaranya diisi dengan program-program pertukaran mahasiswa, tenaga pengajar dan juga koregrafer. Acara seminar memfokuskan pada telaah kesamaan dan perbedaan dalam Tari Epik Ramayana baik di India dan Indonesia. Tampil sebagai narasumber, dosen dan koreografer ISI Surakarta, Eko Supriyanto dan Wasi Bentolo, dan koreographer Braj Lok Manch India, Sanjay Kumar Sharma. Kurang lebih tiga ratus mahasiswa datang menghadiri seminar yang diadakan di ruang Auditorium kampus seni di kota Solo tersebut. (Dit. Infomed/CH)

Kerjasama Ekonomi Bilateral Indonesia - Australia


Jumat, 08 Juli 2011 13:45:18 Admin Kerjasama Ekonomi Bilateral Indonesia - Australia

Jakarta, 8 Juli 2011 - Menko Perekonomian menerima kunjungan kerja Yang Terhormat Kevin Rudd, Menteri Luar Negeri, Australia untuk membahas peningkatan hubungan bilateral ekonomi antara Indonesia dengan Australia. Dari pihak Indonesia selain Menko Perekonomian juga dihadiri Menteri Perdagangan, Menteri Pertanian dan sejumlah pejabat terkait. Hubungan bilateral Indonesia dan Australia mengalami peningkatan semenjak Presiden Susilo Bambang Yudhoyono melakukan kunjungan resmi ke Australia pada tanggal 9-11 Maret 2010 dan dilanjutkan dengan kujungan resmi Perdana Menteri Julia Gillard ke Indonesia pada tanggal 1-2 November 2010. Kunjungan tersebut mencerminkan eratnya hubungan antara Indonesia dan Australia. Total perdagangan antara Indonesia dan Australia pada tahun 2010 senilai US $ 8,3 miliar (meningkat sedikit dibandingkan 2009 yang mencapai US $ 6,7 miliar), dimana ekspor Indonesia ke Australia sebesar US $ 4,2 miliar, sedangkan impor Indonesia dari Australia adalah sekitar US $ 4,1 miliar.

Realisasi investasi Australia di Indonesia pada tahun 2010 mencapai US$ 214,2 juta dengan total 95 proyek. Jumlah ini meningkat dibanding tahun 2009 yang mencapai US$ 134,5 juta yang meliputi 69 proyek. Pada tahun 2011, terjadi kecenderungan positif pada perdagangan bilateral dan kerjasama ekonomi antar Indonesia dan Australia. Pertemuan membahas rencana penyelenggaraan Indonesia-Australia Ministerial Forum (IAMF) yang ke-10 di Indonesia. Forum ini bertujuan untuk meningkatkan hubungan bilateral di berbagai sektor, termasuk perdagangan, industri dan investasi, sains dan teknologi, pertanian, makanan dan kehutanan, kerjasama hukum, kesehatan, lingkungan, pendidikan dan pelatihan, keamanan sosial, energi dan mineral, transportasi dan pariwisata, kelautan dan perikanan, dan imigrasi. Pertemuan juga membahas proses yang sedang berlangsung dalam Pre-negosiasi Indonesia-Australia Comprehensive Economic Partnership Agreement (IA-CEPA). Dengan adanya IA-CEPA diharapkan hubungan ekonomi antar kedua negara dapat terbentuk secara komprehensif dan saling menguntungkan. Disamping untuk mencapai pertumbuhan ekonomi secara berkelanjutan, IA-CEPA juga bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat di kedua negara. Pertemuan juga membahas perkembangan terbaru bahwa Pemerintah Australia telah mencabut larangan ekspor ternak hidup ke Indonesia. Dalam upaya untuk menjaga hubungan baik perdagangan bilateral, kedua negara akan terus saling berkomunikasi dan berkoordinasi. Dalam rangka pelaksanaan MP3EI, pihak Indonesia telah mengundang sektor swasta Australia untuk berpartisipasi dalam berbagai proyek yang ditawarkan dalam Master Plan tersebut. Pertemuan tingkat Menteri ini telah berlangsung secara bersahabat dan sangat konstruktif.

Hubungan Bilateral Indonesia - China Terus Meningkat


Hubungan bilateral antara China dan Indonesia terus meningkat. Hal ini tercermin dari meningkatnya nilai perdagangan kedua negara, yang pada tahun 2008 mencapai US$ 31 miliar. Dalam lima tahun ke depan, Presiden Republik Indonesia (RI) Bapak Susilo B. Yudhoyono memperkirakan nilai perdagangan Indonesia-China akan mencapai US$ 50 miliar. Perkiraan Presiden RI ini dikutip oleh Duta Besar (Dubes) Republik Rakyat China untuk Indonesia Yang Mulia Zhang Qiyue, dalam kunjungan kehormatan kepada Menneg PPN/Kepala Bappenas Prof. Armida S. Alisjahbana, MA, Ph.D., Jumat (04/12) pukul 10.00-11.00 WIB di Ruang Tamu Menteri.

Lebih jauh, Yang Mulia Zhang Qiyue menyatakan, peningkatan nilai perdagangan itu didasarkan pada semakin meningkatnya hubungan ekonomi Indonesia-China, yang tidak hanya meliputi bidang perdagangan barang dan jasa, tetapi juga investasi lainnya, seperti perhotelan dan jasa-jasa lainnya.

Peningkatan hubungan bilateral tersebut, sambung Dubes China ini, tidak terlepas dari terjalinnya Free Trade Asean-China. Selain itu, China menganggap Indonesia adalah negara yang mempunyai potensi sangat besar. Namun untuk merealisasikan potensi itu diperlukan penghapusan beberapa hambatan, khususnya hambatan yang menyebabkan masih lambannya realisasi dana pinjaman China. Dunia usaha China yang ingin berinvestasi di Indonesia juga memerlukan jaminan dari pemerintah RI untuk menghadapi risiko perubahan kebijakan pemerintah daerah.

Ketika menerima kunjungan kehormatan tersebut, Ibu Armida, yang didampingi Sesmenneg PPN/Sestama Bappenas Ir. Syahrial Loetan, MCP, dan Deputi Bidang Pendanaan Pembangunan Dr. Ir. Lukita Dinarsyah Tuwo, MA, menjelaskan kebijakan pembangunan Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) II. Tekanan pembangunan itu ditujukan pada upaya peningkatan konektivitas antar daerah, maupun konektivitas dengan perekonomian kawasan Asia. Prioritas pembangunan lainnya menyangkut pengembangan energi terbarukan, transportasi antar moda, dan peningkatan ketahanan pangan.

Ibu Armida juga menambahkan bahwa pembiayaan pembangunan Indonesia untuk jangka menengah cukup besar, sehingga perlu dilengkapi dengan sumber pembiayaan swasta, baik dari dalam maupun luar negeri. Dengan demikian, dalam kerangka pengembangan kerja sama strategis dengan Indonesia, Pemerintah China dapat ikut berpartisipasi. (Humas)