Anda di halaman 1dari 11

DASAR ANTROPOLOGI VISUAL (Etnosinema, Etnofotografi, Etnoreflika, dll)

By : Steven Sumolang

Sejarah Perkembangan

Berbicara Antropologi Visual termasuk didalamnya Etnofotografi, Etnosinema, Etnoreflika, dll adalah suatu perkembangan sisi ilmu antropologi pada proses riset antropologist melalui alat atau media Film dan Foto. Penggunaan media ini, sudah lama dijadikan tradisi riset antopologi untuk menguatkan fakta yang didapat dari lapangan. Dalam perkembangannya ia menjadi riset visual sendiri, ada yang merupakan bagian dari riset untuk membuat laporan tertulis dan ada yang berdiri sendiri artinya riset antropologist secara visual keseluruhannya. Riset antropologis menggunakan media atau visual berkembang menjadi bagian seni perfilman dan seni fotografi yang bukan saja dilakukan oleh mereka yang berlatar antropologi, tetapi juga dari berbagai latar belakang bidang ilmu dan para seniman. Nantinya mereka menggunakan istilah populer Film Dokumenter serta Fotografi Dokumenter. Kata documentary pertama kali digunakan oleh John Grierson pada ulasan Robert Flaherty berjudul Moana. Grierson menyebut karya Flaherty tersebut rekaman visual dari kejadian di kehidupan zaher-hari seorang pemuda polynesia dan keluarganya yang memiliki nilai-nilai dokumenter (documentary value) pada sebuah koran New York, Amerika tahun 1926. Sejak itu dokumenter masuk dalam kasanah perfilman dan menjadi tonggak dimana dokumenter mulai dikenal dan awal-awal abad 20 Film Dokumenter lebih merupakan film etnografis dan berkembang lebih pesat cakupannya. Selanjutnya film-film dokumenter menjadi marak

dibuat dan telah menjadi industri film sendiri yang berkembang pesat di dunia film barat. Antropologi visual sendiri diperkenalkan oleh Jean Rouch sebagai salah satu peletak dasar New Wave dalam sinema Prancis, simak salah satu adegan filmnya dianggap paling kontroversi, Les Maitres Fous (Tuan-tuan gila, 1954). Menayangkan orang kesurupan dan membandingkan ritual upacara kepercayaan Hauku dengan upacara militer Perancis, penjajah Nigeria saat itu. Jean Rouch (1917-2004) adalah ilmuan antropologi yang mengabdikan diri pada kehidupan suku-suku Afrika Barat, dalam filmnya dia banyak mengangkat nasip masyarakat di wilayah tersebut serta bagaimana mereka menjadi migran di Eropa. Perkembangan di Indonesia banyak digarap oleh LSM atau lembaga swadaya masyarakat yang membawa misi advokasi. Kemudian TVRI menjadi rajin membuat film dokumenter mengikuti perkembangan film dokumenter yang selalu dihasilkan saluran dunia misalnya oleh Discovery Channel, Nacional Geographic Channel, History Channel dll. Sekarang menjadi marak lagi oleh berbagai TV swasta misalnya Horison, Potret (SCTV), Jelajah (Trans TV), Jejak Petualang (TV7), Metro Files (Metro TV), Gapura (RCTI) dll. Karya-karya TV Indonesia sebenarnya adalah masih dalam bentuk seni dokumenter, karena di Indonesia film dokumenter belum berkembang seperti dunia barat. Dapat dikatakan budaya dokumenter yang begitu penting untuk merekam setiap jejak kehidupan mayarakat, belum memasyarakat. Padahal secara filosofis, negara yang maju pasti budaya dokumenternya sudah tinggi. Kita belajar soal Indonesia mesti mencari rujukannya di negara barat. Karena mereka menguasai keberadaan perilaku masyarakat Indonesia makanya mereka mampu menguasai Indonesia selama beratus tahun. kesadaran budaya visual sangat berkaitan dengan pembentukan sejarah, demokrasi dan identitas. Sekarang berkembang dengan semarak para pegiat film indie (asal kata indipendent), ini dipicu oleh dominannya film-film komersil banyak bermunculan televisi swasta di Indonesia, hal ini mengakibatkan pula menjamurnya industri perfilman. Jika kita bicara industri, mau

tidak mau kita bicara juga masalah ekonomi artinya hal-hal yang berorientasi pada keuntungan secara finansial. Banyak perusahaan film berlomba-lomba untuk mengeruk keuntungan sebanyak-banyaknya, tetapi banyak juga diantara mereka yang tidak mengimbangi dengan membuat film yang berkualitas, baik secara materi maupun teknik pembuatannya. Bagi mereka yang penting adalah bahwa film itu laku dijual tanpa peduli apakah film itu mendidik atau justru membodohi. Berawal dari kondisi perfilman di Indonesia yang minim secara kualitas dan antusiasme yang terbungkam dalam kurun waktu cukup lama, membuat perfilman kita berada pada posisi yang memprihatinkan. Dengan semakin berkembangnya media elektronik terutama media audio visual diharapkan dapat mengobati rasa keprihatinan, sekaligus bisa menggali potensi-potensi para penggiat film maupun video indie Indie berasal dari kata Independent atau mandiri yang berarti tidak begantung pada apapun. Indie dapat diartikan semacam semangat yang tidak terikat, oleh karena audio visual merupakan salah satu media ekspresi, maka pembuatnya bebas mengekspresikan ide-ide mereka tanpa ada tekanan dari pihak manapun, misalnya gabungan ide-ide dari beberapa orang yang memiliki kegelisahan yang sama, kemudian diwujudkan dalam karya audio visual. Ide-ide mereka biasanya diangkat dari sesuatu hal yang kecil atau sederhana yang mungkin luput dari perhatian kita pada umumnya, meskipun mereka tidak menyangkal bahwa ide cerita bisa juga berangkat dari suatu keprihatinan atau kejenuhan terhadap fenomena atau peristiwa yang terjadi di sekitar kita, misalnya peristiwa politik, ekonomi dan lain sebagainya.

Etnofotografi

Fotografi memiliki isi mengenai informasi-informasi yang bisa dijadikan dokumen, foto

dokumentasi menjadi dokumentasi sebagai representasi objektif dan dokumentasi sebagai subjek tafsir. Fotografi tumbuh di Eropa bersamaan dengan tumbuhnya filsafat positivisme yang membuat ilmu pengetahuan lebih melihat dunia sosial dengan kemahiran mengevaluasi pengetahuan yang empiris, fotografi menjadi alat modern dalam pendalaman empiris. Melalui konsep dokumen (foto) sebagai representatisi objektif kita bisa mengenali bahwa kamera berfungsi sebagai cermin untuk menangkap kondisi alamiah, kamera dianggap sebagai alat yang netral untuk merekam peristiwa-persitiwa yang ada disepan mata manusia. Dalam kaitannya dengan kebudayaan foto sebagai representasi objektif inilah yang memiliki relasi dengan kebudayaan sebagai jati diri

Prinsip Pembuatan Film Dokumenter (Antropologi Visual) dan Foto Etnografi

Film dokumenter yang dikembangkan antropologi visual mempunyai prinsip objektivitas yang membiarkan spontanitas objek yang difilmkan bukan direkayasa semacam film lainnya. Stutradaranya hanya sebatas pengarah yang tidak memiliki skenario tetap. Biasanya film lain sutradara menjadi tuhan, tapi film dokumenter objek riset yang menjadi tuhan. Foto etnografi juga memiliki prinsip yang tidak berbeda, dimana karya-karya yang dihasilkan merupakan potret kehidupan atau perilaku manusia baik dianggap bersifat tradisional maupun modern. Sifatnya, foto tersebut memuat segudang makna perilaku yang bisa diinterpretatifkan sehingga sebuah foto etnografi kita akan bisa membaca luas dan dalamnya kehidupan atau perilaku manusia. Karena itu foto dan film etnografi mesti meletakan manusia sebagai subjek foto/ film, dimana manusia tersebut memiliki kebebasan, bergerak alami, tanpa rekayasa berlebihan. Perlu juga dipahami bahwa film dokumenter etnografi dan foto etnografi bisa dilakukan oleh

siapa saja, bukan hanya kalangan pegiat antropologi, tetapi juga semua orang dari berbagai latar belakang, dan sudah harus ditumbuhkembangkan dalam rangka memperkuat budaya dokumenter yang lemah dinegara ini, sebagaimana yang dikemukakan diatas bahwa kesadaran budaya visual sangat berkaitan dengan pembentukan sejarah, demokrasi dan identitas.

Penelitian Etnografi

PENGERTIAN Penelitian etnografi adalah termasuk salah satu pendekatan dari penelitian kualitatif. Penelitan etnografi di bidang pendidikan diilhami oleh penelitian sejenis yang dikembangkan dalam bidang sosiologi dan antropologi. Penelitian etnografi pernah dilakukan oleh peneliti bernama Jonathan Kozol, dalam rangka melukiskan perjuangan dan impian para warga kulit hitam dalam komunitas yang miskin dan terpinggirkan di daerah Bronx, New York [1]. Penelitian kualitatif dengan pendekatan ini kemudian banyak diterapkan dalam meneliti lingkungan pendidikan atau sekolah. Menurut Miles & Hubberman seperti yang dikutip oleh Lodico, Spaulding & Voegtle, Etnografi berasal dari bahasa Yunani ethos dan graphos. Yang berarti tulisan mengenai kelompok budaya. Sedangkan Menurut Le Clompte dan Schensul etnografi adalah metode penelitian yang berguna untuk menemukan pengetahuan yang terdapat atau terkandung dalam suatu budaya atau komunitas tertentu.[2] Menurut Gay, Mills dan Airasian, penelitian etnografi adalah suatu studi mengenai pola budaya dan perspektif partisipan dalam latar alamiah[3]. Menurut Haris seperti yang dikutip oleh Cresswell, etnografi adalah suatu desain kualitatif dimana seorang peneliti menggambarkan dan menginterpretasikan pola nilai,

perilaku, kepercayaan dan bahasa yang dipelajari dan dianut oleh suatu kelompok budaya. Menurut Cresswell etnografi berfokus pada keseluruhan kelompok. Seorang etnografer meneliti pola yang diikuti satu kelompok misalnya oleh sejumlah lebih dari 20 orang, jumlah yang lebih besar daripada yang biasa diteliti dalam grounded theory. Namun bisa juga lebih sedikit misalnya sejumlah guru dalam suatu sekolah namun tetap dalam lingkup keseluruhan kelompok besar (dalam hal ini sekolah). [4] Selanjutnya menurut Lodico maksud penelitian etnografi adalah untuk menggali atau menemukan esensi dari suatu kebudayaan dan keunikan beserta kompleksitas untuk bisa melukiskan interaksi dan setting suatu kelompok. [5] Jadi suatu penelitian etnografi adalah penelitian kualitatif yang melakukan studi terhadap kehidupan suatu kelompok masyarakat secara alami untuk mempelajari dan menggambarkan pola budaya satu kelompok tertentu dalam hal kepercayaan, bahasa, dan pandangan yang dianut bersama dalam kelompok itu.

Karakteristik Penelitian Etnografi Dalam menjalankan penelitiannya seorang etnografer harus membangun hubungan yang dekat dengan partisipan dari objek komunitas penelitiannya. Seperti contoh etnografer Jonathan Kozol di atas, untuk meneliti komunitas kulit hitam di Bronx, dia juga ikut tinggal di sana selama beberapa bulan untuk bisa menyelami kehidupan mereka. Mereka pun mulai percaya pada Kozol dan mau berbagi mengenai perasaan terdalam mereka dan pandangan mereka tentang kemiskinan dan perbedaan warna kulit [6]. Penelitian etnografi meneliti suatu proses dan hasil akhir [7]. Akhir dari penelitian adalah membuat tulisan yang kaya akan gambaran detail dan mendalam mengenai objek

penelitan (thick description)[8]. Sebagai penelitian suatu proses, seorang etnografer melakukan participant observation, di mana seorang peneliti melakukan eksplorasi terhadap kegiatan hidup sehari-hari dari objek kelompoknya, melakukan pengamatan dan mewawancarai anggota kelompok dan terlibat di dalamnya. Participant obeservation juga berarti bahwa peneliti ikut terlibat dan ikut berperan dalam pengamatan.[9] Untuk keperluan penelitian ini seorang etnografer memelukan seorang key informant atau gatekeeper yang bisa membantu menjelaskan dan masuk ke dalam kelompok tersebut. Selain itu seorang etnografer harus mempunyai sensitivitas tinggi terhadap partisipan yang sedang ditelitinya, karena bisa jadi peneliti belum familiar terhadap karakteristik mereka. Berikut ini aspek atau karakteristik etnografi baik yagn dirangkum dari Wolcott dan Gay, Mills dan Airasian [10] [11]

y y

Berlatar alami bukan eksperimen di laboratorium Peneliti meneliti tema-tema budaya tentang peran dan kehidupan sehari-hari seseorang

y y y

Interaksi yang dekat dan tatap muka dengan partisipan Mengambil data utama dari pengalaman di lapangan Menggunakan berbagai metode pengumpulan data seperti wawancara, pengamatan, dokumen, artifak dan material visual.

y y y y y

Peneliti menggunakan deskripsi dan detail tingkat tinggi Peneliti menyajikan ceritanya secara informal seperti seorang pendongeng Menekankan untuk mengekplorasi fenomena sosial bukan untuk menguji hipotesis. Format keseluruhannya adalah deskriptif, analisis dan interpretasi Artikel diakhir dengan sebuah pertanyaan.

Jenis penelitian etnografi Menurut Creswell, para ahli banyak menyatakan mengenai beragam jenis penelitian etnografi, namun Creswell sendiri membedakannya menjadi 2 bentuk yang paling popular yaitu Etnografi realis dan etnografi kritis. Penjelasannya sbb : [12]

Etnografi realis

Etnografi realis mengemukakan suatu kondisi objektif suatu kelompok dan laporannya biasa ditulis dalam bentuk sudut pandang sebagai orang ke -3. Seorang etnografi realis menggambarkan fakta detail dan melaporlan apa yang diamati dandidengar dari partisipan kelompok dengan mempertahankan objektivitas peneliti.

Etnografi kritis

Dewasa ini populer juga etnograi kritis. Pendekatan etnografi kritis ini penelitian yang mencoba merespon isu-isu sosial yang sedang berlangsung.misalnya dalam masalah jender/emansipasi, kekuasaan, status quo, ketidaksamaan hak, pemerataan dsb. Jenis-Jenis etnografi lainnya diungkapkan Gay, Mills dan Aurasian sbb:[13]

etnografi Konfensional: laporan mengenai pengalaman pekerjaan lapangan yang dilakukan etnografer

y y

Autoetnografi: refleksi dari seseorang mengenai konteks budayanya sendiri Mikroetnografi: studi yang memfokuskan pada aspek khusus dari latar dan kelompok budaya

Etnografi feminis: studi mengenai perempuan dalam praktek budaya yang yang merasakan pengekangan akan hak-haknya.

Etnografi postmodern: suatu etnografi yang ditulis untuk menyatakan keprihatinan mengenai masalah-masalah sosial terutama mengenai kelompok marginal.

Studi kasus etnografi: analisis kasus dari seseorang, kejadian, kegiatan dalam perspektif budaya.

Prosedur Penelitian Etnografi Menurut Creswell, walau tidak ada satu cara saja dalam menititi etnografi namum secara umum prosedur penelitian etografi adalah sbb:[14] 1.Menentukan apakah masalah penelitian ini adalah paling cocok didekati dengan studi etnogafi. Seperti telah kita bahas di atas bahwa etnografi menggambarkan suatu kelompok budaya dengan mengekloprasi kepercayaan, bahasa dan perilaku (etnografi realis); atau juga mengkritisi isu-isu mengenai kekuasaan, perlawanan dan dominansi (etnografi kritis). 2. Mengidentifikasi dan menentukan lokasi dari kelompok budaya yang akan diteliti. Kelompok sebaiknya gabungan orang-orang yang telah bersama dalam waktu yang panjang karena disini yang akan diteliti adalah pola perilaku, pikiran dan kepercayaan yang dianut secara bersama. 3. Pilihlah tema kultural atau isu yang yang akan dipelajari dari suatu kelompok. Hal ini melibatkan analisis dari kelompok budaya. 4. Tentukan tipe etnografi yang cocok digunakan untuk memlajari konsep budaya tersebut. Apakah etnografi realis ataukah etnografi kritis. 5. Kumpulkan informasi dari lapangan mengenai kehidupan kelompok tersebut. Data yang dikumpulkan bisa berupa pengamatan, pengukuran, survei, wawancara, analisa konten, audiovisual,pemetaan dan penelitian jaringan. Setelah data terkumpul data tersebut dipilahpilah dan dianalisa.

6. Yang terahir tentunya tulisan tentang gambaran atau potret menyeluruh dari kelompok budaya tersebut baik dari sudut pandang partisipan maupun dari sudut pandang peneliti itu sendiri.

[1] Marguerite G. Lodico, Dean T. Spaulding, Katherine H. Voegtle, Methods in Educational Research From Theory to Practice (San Fransisco: Jossey Bass, 2006), hlm. 268. [2] Ibid., hlm 268 [3] L.R. Gay, Geoffrey E. Mills & Airasian, Educational Research: Competencies for analysis and application-9th. Ed (New Jersey: Merril-Pearson Education, 2009), hlm 404. [4] John W. Creswell, Qualitative Inquiry & Research Design, Choosing Among Five Approch (California: Sage Publications, 2007) hlm.68. [5] Lodico.,op.cit.,hlm. 267. [6] Lodico, op.cit., hlm. 268 [7] Creswell, op.cit., hlm. 68 [8] Lodico, loc.cit., hlm 268. [9] Paul Atkinson & Martyn Hammersley, Etnography and Participant Observation, Strategies of Qualitative Inquiry ed. Norman K Denzin & Yvonna S. Lincoln (California:SAGE Publication, Inc, 1998) [10] Djaman Satori & Aan Komariah, Metodologi Penelitian Kualitatif. (Bandung: Alfabeta, 2009) hlm. 35.

[11] Gay, op.cit., hlm 406. [12] Creswell, oc.cit., hlm 69-70 [13] Gay, op.cit., tabel 16.1 hlm. 407. [14] Creswell, op.cit., hlm 70-72