Anda di halaman 1dari 12

GEOMORFOLOGI REGIONAL INDONESIA MAKALAH MORFOLOGI MALUKU SELATAN (BUSUR SUDA)

Oleh : Dedi Putra Riki Rolisman 18497/2010 18484/2010

Dosen Pembimbing : Drs. Sutarman Karim, M.Si

JURUSAN GEOGRAFI FAKULTAS ILMU SOSIAL UNIVERSITAS NEGERI PADANG 2011

KATA PENGANTAR Puji syukur penulis ucapkan kehadirat Allah Subhanahu wataala, yang telah memberikan rahmat-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini. Makalah ini diajukan guna memenuhi tugas akhir mata kuliah Geomorfologi Regional Indonesia. Terima kasih penulis sampaikan kepada dosen mata kuliah Geomorfologi Regional Indonesia yang turut membantu dalam menyelesaikan makalah ini serta kepada semua pihak yang telah membantu secara langsung maupun tak langsung sehingga makalah ini dapat diselesaikan sesuai dengan waktunya. Penulis menyadari sepenuhnya bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu, kritik dan saran yang bersifat membangun sangat diharapkan, sekecil apapun akan penulis perhatikan dan pertimbangkan guna penyempuranaan dalam membuat makalah yang akan datang. Semoga makalah ini mampu memberikan nilai tambah bagi pembacanya dan juga bermanfaat untuk pengembangan ilmu pengetahuan bagi kita semua.

Padang, 12 Desember 2011

Penulis

DAFTAR ISI Kata Pengantar......................................................................................................ii Daftar Isi................................................................................................................iii BAB I...1 PENDAHULUAN......1 A. Latar Belakang.......1 B. Rumusan Maslah....2 C. Tujuan Makalah.........2 D. Manfaat Makalah...........2 BAB II.....3 PEMBAHASAN.................3 A. Morfologi Maluku Selatan atau Busur Sunda......3 BAB III........9 PENUTUP...9 A. Kesimpulan........9 B. Saran..9 Daftar Pustaka......10

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kepulauan Indonesia sangat dipengaruhi Tektonik Global yaitu merupakan interaksi antara 3 blok kerak bumi yaitu : (a) Lempeng India-Australia, (b) Lempeng Pasifik dan (c) Lempeng Eurasia. Ketiga Lempeng tersebut di atas merupakan sebagai mobil penggerak, sehingga mengalami pertemuan antar lempeng yang sering menimbulkan terjadinya penunjaman. Akibat penunjaman tersebut menyebabkan adanya salah satu lempeng mengalami pengangkatan, dengan adanya pengangkatan itulah menyebabkan munculnya pulau-pulau yang membentuk Kepulauan Indonesia. Batas dari lempeng tersebut adalah suatu jalur palung dan sesar stike-slip fault di sebelah barat Sumatera, Selatan Jawa, Utara Papua dan Timur Filipina. Sesar Sumatera, Sulawesi Filipina yang memberikan pengaruh ke arah selatan, tenggara dari lempeng Eurasia, sedangkan jalur paling Sumatera dan Jawa memberikan pengaruh gerakan ke utara dari lempeng India dan Australia. Kepulauan Maluku terdiri dari kelompok rangkaian pulau-pulau yang batasbatasnya sebagai berikut : Sebelah Utara Sebelah Timur Sebelah Tenggara Sebelah Baratdaya Sebelah Barat : Kepulauan Filipina : Papua : Benua Australia : Pulau Sunda Kecil : Sulawesi

Pulau-pulau yang besar adalah Halmahera, Ternate, Tidore, Obi, Sula, Seram, Buru, Ambon, Banda, Kepulauan Kai dan Kepulauan Aru. Daerah ini merupakan daerah yang berelief beraneka ragam dengan basin-basin atau punggunganpunggungan, saat ini pembentukan pegunungan masih aktif. Malukun Utara sebagian besar di hubungkandengan rangkaian pulua-pulau Asia Timur sdan sebagian dengan sistem Melanesia. Maluku Selatan (Busur Banda)

merupakan suatu bagian dari sistem Pegunungan Sunda. Batas pemisah antara Maluku Utara dengan Maluku Selatan adalah sebuah punggungan yang arah timurbarat yang membujur dari Lengan Timur Sulawesi ke Kepala Burung Irian (Papua) yaitu dereran kepulauan Banngai, Pulau-pulau Sula, Gamumu dan Pulau Misool. Selanjutnya dalam makalah ini penulis akan membahas tentang morfologi Maluku Selatan atau Busur Sunda. Hal-hal yang berkenaan denagan morfologi Maluku selatan akan di uraikan dalam makalah ini.

B. Rumusan Masalah Dari latar belakang di atas maka dapat dirumuskan permasalahan yaitu bagaimankah kondisi morfologi Maluku Selatan ?.

C. Tujuan Makalah Menjelaskan tentang kondisi morfologi Maluku Selatan.

D. Manfaat Makalah Manfaat dari penulisan makalah ini adalah : 1. Sebagai media transfer ilmu bagi dosen dan mahasiswa 2. Sebagai bahan ajar mata kuliah Geomorfologi Regional Indonesia 3. Sebagai memenuhi tugas akhir mata kuliah Geomorfologi Regional Indonesia

BAB II PEMBAHASAN

A. Morfologi Maluku Selatan atau Busur Sunda Bagian tengah Basin Banda di batasi oleh dua bususr yang sejajar, busur dalam yang berupa vulkanis aktif, sedangkan busur luar bebas dari vulkanis muda. Daerah Banda menggambarkan suatu orogenesa yang merupakan suatu contoh sistem pegunungan di dalam dalam statunascendi (Sirkum Mediterania). Basin Banda Utara terletak antara di antara Sulawesi dan Buru, Basin Banda Selatan terletak antara Batu Tara di bagian barat dan Manuk di bagian Timur. Basin Banda Selatan terbagi menjadi bagian Barat dan bagian Timur oleh vulkan api yang terletak di tengahtengah. Bagian timur di kelilingi oleh Busur Banda dan disebut Basin Banda Tengah. Basin Banda Tengah garis tengahnya 400 km, terletak antara Damar dan Buru (Tenggara-Baratlaut), dan diantara gunung api dan Banda (Barat daya-Timur laut), pada bagian Utara Basin Banda Tengah terdapat beberapa punggungan dengan arah Barat daya-Timur Laut. Pegunugnan Luynes dan Sibolga tidak mencapai permukaan laut. Pulau Karang Lucipara dan Schildpad muncul di atas permukaan laut. Di antara punggungan Luymas dan Buru dalam laut 3.330 m, bagian selatan 5.000 m dalamnya, di sebelah barat Damar dalam maksimum 5.400 m. Bagian Barat Basin Selatan vulkan api (282 m) muncul dari dasar laut yang dalamnya 4.500 m. Akhirnya sejumlah parit-parit yang batasnya tidak jelas yang arahnya barat laut-tenggara muncul diantara Pulau-Pulau Tukang Besi dan Pegunungan Luymes merupakan penghubung antara bagian Barat Basin Banda Utara, seperti halnya bagian tengah garis tengahnya 400 km dengan dalammnya 5.800 km. Banda Bagian Tengah, pada sisi selatan, timur dan utaranya di batasi oleh busur Dalam Banda. Busur Dalam Banda (Inner Arc) terdiri dari sejumlah punggungan. Di sebelah barat daya dari busur dalam secara tak langsung berhubungan dengan busur dalam dari Nusa Tenggara. Zone dan antiklinal dari nusa tenggara mulai dari Wetar menurun melalui Roma sampai ke sub Marine antar pulau Damar dan Moa berakhir pada Palung Weber.

Punggungan Dama yang arahnya barat daya-timur laut di atasnya terdapat vulkan damar (868 m), Teo (655 m), Nila (781 m) dan Serua (641 m). Punggungan ini tenggelam ke arah utara di pisahkan oleh punggungan Manuk 285 m yang arahnya utara selatan. Punggungan Manuk dipisahkan dari Dome Banda (Gunung api, 656 m) oleh sebuah parit yang dalam lebih dari 4.000 m. Sebelah tenggara dari kelompok Banda menurun masuk ke dalam Palung Weber, sebelah barat laut melengkung kearah barat berakhit di sebelah Ulleasers dan Ambon. Jadi busur dalam terdiri dari beberapa pegunungan Dome yang merupakan puncak-puncak yang tersususn sejajar. Perubahan kedudukan dari pegununganpegunungan itu terjadi pada bagian geantklinal yang pada umumnya mempunyai arah melengkung dengan hebat, dari arah timur-barat pada busur dalam dari Nusa Tenggara terus berubah menjadi timur laut dan utara serta berakhir kembali ke arah barat laut di Ambon arahnya timur dan barat daya. Di antara busur dalam dan busur luar dari Banda terdapat sebuah Palung antara yang berbentuk sabit cembung kea rah timur yang di sebut Palung Weber yang dalamnya 7.440 m dan lebarnya 150 km. Palung Weber ke arah barat laut semakin dangkal dari arahnya sampai ke punggung Weassers dan Ambon, juga menjadi lebih dangkal dengan arah barat daya, bersambung dengan punggung bawah laut di antara Damar dan Moa. Palung Weber di pisahkan dari Basin Wetar oleh Ambang yang dalamnya 1.480 m. Pulau Kitar jauhn di sebelah barat adalah salah satu pulau yang sangat banyak menyertai kedudukan antara (Imtermedeate) di antara busur dalam dan busur luar. Busur Luar Banda (Banda Outer Arc) adalah sebuah pengangkatan geantiklinal yang lebarnya 100-200 km, dimana endapan antiklinal telah mencapai suatu ketinggian menjadi rangkaian punggungan dengan struktur lapisan sesar (overshrust) berupa vulkan aktif (bertentangan dengan susunan vulkan muda dari pulau-pulau busur dalam). Di seram, tinggi rata-rata di atas palung depan (Fore Deep) 5.000 m di atas palung inner deep 6.500 m, di bagian timur Pulau Kai terdapat perbedaan tinggi ratarata 4.500 m dan 7.500 m. Keadaan demikian antara Seram dan Kai ada

hubungannya, sekalipun Seram merupakan deretan pegunungan yang tingginya 3.000 m dan kelompok Kai hanya mencapai ketinggian 800 m di atas permukaan laut. Bagian selatan dari busur luar banda merupakan sambungan busur luar Nusa Tenggara, di mulai dari Nusa Tenggara, di mulai dari sebelah timur. Timor dengan punggungan sempit Leti Semata, kemudian di ikuti oleh bagian yang tertinggi dari lipatan Barbar dan sesudah itu di susul oleh jalur (taji-taji) yang rendah menuju beberapa daerah : Taji Timur tenggelam masuk Palung Weber Taji Tenggara masuk ke dalam Palung depan Timor Beberapa Taji yang kecil lagi menuju ke barat dan ke barat laut

Kelompok Dome Barbar dan Tanibar merupakan suatu pengangkatan yang luas dari pada dasar lautan. Pulau-pulau Tanibar arahnya adalah baratdaya-timurlaut. Pelengkungan ini merupakan ciri khas dari Busur Dalam. Bagian timur dari Busur banda teridiri dari pulau Tanibar-Kai mempunyai lereng dalam yang curam ke arah Palung Weber. Lebar geantiklinal itu 100 km pada kelompok Tanibar bertambah menjadi 200 km pada Pulau Kai dan menyempit sampai 75 km pada jalur punggungan baratlaut yang arahnya tenggara-barat laut serta merupakan rantai penghubung dengan seram . Secara keseluruhan bagian timur ini merupakan sebuah cembungan ke arah timur berbentuk bulan sabit dari Palung Weber dan kemudian menjadi lebar karena adanya pengangkatan dasar laut (kurang dari 1000 km dalamnya), pada palung aru di sebelah timur laut Kai. Di sepanjang puncak geantiklinal terdapat depresi memanjang yang lebarnya bertambah-tambah sesuai dengan penampang melintang dari busur geantiklinal itu. Pada kelompok Tanibar depresinya menyebabkan panjangnya bertambah beberapa puluh kilometer, pada kelompok Kai lebarnya sampai 100 km, kemudian menyempit lagi sampai ke Graben Masiwang-Bobot dari sebelah timur Seram. Bagian Timur dari busur luar di bagi menjadi dua bagian yaitu : Busur Dalam, Busur Luar.

Sebuah jalur yang relatif menurun pada puncaknya. Zone dalam membujur dari Wullaru (188 m) sepanjang Molu (274 m), Teun (376 m), Kasini (362 m), Watubela, Manawoke, Pulau Panjang dan Seram laut dengan geser sampai ke taji tenggara dari seram. Zone luar, mulai dari selaru melalui Jamdena dan Sofiani sampai ke Kai Besar. Bagian utara darri busur luar Banda terdiri dari pulau seram, Boano, Keliang, Manipa dan Bupu. Seram adalah pulau terbesar dari busur luar Banda, luasnya 340 km2. Puncak tertinggi ialah Benaja (3.055 km). Adanya depresi menengah dari busur luar banda di tunjukkan oleh Graben Masiwang-Bobot di sebelah (723 m), rangkaian pegunungan X dan rangkaian pegunungan Z atau Walace (1.260 m). Di Seram, rangkaian luar merupakan pegunungan yang membentuk huruf X yang arahnya tenggara-baratlaut (Binaja, 3.055 m) dan pegunungan Lumute (1.373m) yanga arahnya agak timur laut-barat daya. Sebelah Barat Selat Pilu pola Seram tidak teratur. Semenanjung Hoamoal dibatasi patahan yang arahnya utara-selatan. Pulau Boane Kelang dan Manipa merupakan sebuah busur arah timur lautbarat daya di antara Seram dan Bur. Pada ujung selatan dari Hoamoal dan Kelang terdapat batuna vulkanis muda seperti di Ambon. Buru (9.599 km2), panjangnya 140 km lebarnya 90 km, puncak tertinngi Kau Palamuda (2.429 m). Di daerah ini terdapat 3 blok pegunungan yang di pisahkan oleh lembah-lembah seperti berikut ini : 1. Blok Timur suatu massif sebelah barat dengan Kau Palatmuda tingginya lebih dari 2.000 m, sebelah timur di batasi oleh depresi dari sungai Nibe Damar Rana-Sungai Wala yang arahnya timurlaut-baratdaya. 2. Blok Tengah muncul setinggi 1.000 m yang terletak antara lembahlembah struktural depresi dari depresi dengan arah timurlaut-baratdaya yang dibentuk oleh teluk Kajeli dan Lembah Apu. 3. Blok Tenggara dibentuk oleh rangkaian Wulna yang arahnya timurlautbaratdaya yang mencapai ketinggian 1.731 m pada Gunung Batakbual.

Rangkaian ini dipisahkan dari Manipa Kelang dan Boano oleh Basin Manipa.

Buru merupakan pengangkatan kulit bumi yang terbentuk dome yang dikelilingi oleh 4 basin yaitu : a. Basin Manipa, di sebelah tenggara Buru dalamnya 4.360 m dengan sebuah pengangkatan berbentuk kerucut pada bagian tengahnya merupakan sebuah vulkan yang tenggelam dalam laut. b. Sebuah Basin di antara Buru dan Punggungan Luymes 5.330 m dalamnya. c. Basin Banda Utara yang dalamnya mencapai 5.290 m di sebelah Barat Buru. d. Basin Buru di sebelah utara, pulau ini dalamnya 5.319 m. Sudut barat laut dari Buru dihubungkan oleh punggungan bawah laut dengan Sanana di Kepulauan Sula. Sudut baratdaya dihubungkan dengan punggungan Luymes oleh pengangkatan dasar laut yang lebih dari 3.000 m dalamnya.

Palung depan dari busur Banda (fore deep Banda Arc). Busur luar Banda di batasi oleh sebuah palung depan yang khusus, mulai dari sebelah tenggara Kepulauan Tanimbar dengan sebuah palung yang sempit (lebarnya 30 km dan dalamnya 3.690 m) membujur ke arah utara masuk ke dalam Palung Aru yang berbentuk Bundar ( 3.680 m). Dengan demikian bentuknya cembung ke arah timur atau cembung ke arah barat dari suatu kenaikan dasar laut sampai 530 m sebelah timur Pulau Kai yaitu sebelah utara dari Kepulauan Burung. Pulau Adi merupakan sebuah cekungan dalam pada Pulau Aru.

Palung depan dari bagian timurlaut dan utara dari Busur Luar Banda di bentuk oleh laut Seram, sebuah geosinklinal yang 80 km lebarnya, dalamnya lebih dari 2.000 m. Ke arah barat palung depan bersambung dengan palung buru yang dalamnya 5319 m.

BAB III KESIMPULAN A. Kesimpulan Maluku Selatan (Busur Banda) merupakan suatu bagian dari sistem Pegunungan Sunda. Batas pemisah antara Maluku Utara dengan Maluku Selatan adalah sebuah punggungan yang arah timur-barat yang membujur dari Lengan Timur Sulawesi ke Kepala Burung Irian (Papua) yaitu dereran kepulauan Banngai, Pulaupulau Sula, Gamumu dan Pulau Misool. Bagian tengah Basin Banda di batasi oleh dua bususr yang sejajar, busur dalam yang berupa vulkanis aktif, sedangkan busur luar bebas dari vulkanis muda. Basin Banda Selatan terbagi menjadi bagian Barat dan bagian Timur oleh vulkan api yang terletak di tengah-tengah. Bagian timur di kelilingi oleh Busur Banda dan disebut Basin Banda Tengah. Busur dalam terdiri dari beberapa pegunungan Dome yang merupakan puncak-puncak yang tersususn sejajar. Di antara busur dalam dan busur luar dari Banda terdapat sebuah Palung antara yang berbentuk sabit cembung kea rah timur yang di sebut Palung Weber yang dalamnya 7.440 m dan lebarnya 150 km. Busur Luar Banda (Banda Outer Arc) adalah sebuah pengangkatan geantiklinal yang lebarnya 100-200 km. Bagian Timur dari busur luar di bagi menjadi dua bagian yaitu : Busur Dalam dan Busur Luar. Busur luar Banda di batasi oleh sebuah palung depan yang khusus. Palung depan dari bagian timurlaut dan utara dari Busur Luar Banda di bentuk oleh laut Seram, sebuah geosinklinal yang 80 km lebarnya, dalamnya lebih dari 2.000 m. B. Saran Demikianlah makalah ini penulis buat, berkat usaha dan juga bantuan dari berbagai pihak baik secara langsung atau tidak langsung. Penulis menyadari bahwasanya dalam penulisan ini masih banyak kekurangan . Oleh karena itu meminta kepada semua rekan-rekan semua agar dapat memberikan saran dan kritik yang membangun agar dalam penulisan makalah yang selanjutnya akan lmenjadi lebih baik di kemudian hari.

DAFTAR PUSTAKA Karim, Sutarman., Triyatno. 2011. Geomorfologi Indonesia. Padang : Jurusan Geografi Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Padang