Anda di halaman 1dari 3

Gangguan Kecemasan (Anxiety Disorder) Kecemasan adalah sebuah tindakan mengantisipasi yang berlebihan terhadap masalah, sehingga mempengaruhi

perilaku dan kondisi fisiknya (Kring, 2010). Menurut buku abnormal psychology terdapat beberapa macam gangguan

kecemasan seperti phobia, panic disorder, generalized anxiety disorder (GAD), obsessive-complusive disorder (OCD), acute stress disorder, dan posttraumatic stress disorder (PTSD). Subjek mengalami kecemasan yang berlebihan terhadap suatu masalah tertentu (masalah akan takutnya terisolasi) dan menghabiskan hampir sepanjang hari untuk mencemaskan dan memikirkan masalah tersebut, serta hal tersebut sudah terjadi sejak kurang lebih 6 tahun yang lalu. Tidak hanya itu, subjek juga sulit sekali mengatasi rasa cemas tersebut, perasaan sedih dan terisolasinya langsung muncul dan butuh waktu cukup lama untuk menenangkannya meski orang terdekatnya telah berada disana. Subjek menganggap hal yang dialaminya sebagai serangan jantung dan telah sering memeriksakan diri ke dokter. Gangguan kecemasan yang dialami subjek sesungguhnya juga diakibatkan oleh adanya gangguan kepribadian dependen.

Penyebab: Psikoanalitik: konflik antara impuls id dan ego yang tidak disadari. Impuls itu seksual atau agresif ingin keluar, dihalangi tidak disadari cemas. Teori belajar:

kondisioning klasik dari rangsang luar. Kognitif behavioral: memfokus kontrol dan ketidakberdayaan.

Psikodinamika

Gangguan

Kepribadian

Dependen

Teori Freudian mengatakan bahwa konflik perkembangan fase oral yang tidak terselesaikan menyebabkan pasien membutuhkan pengasuhan sepanjang hidupnya.

Teori tentang hubungan objektif mengatakan bahwa kehilangan orang tua yang dini atau penolakan membatasi seseorang untuk mendapatkan pengalaman normal dari attachment dan separation, sehingga anak tetap dalam keadaan takut.

Teori lain mengatakan bahwa overproteksi dari orang tua menyebabkan anak menjadi tergantung/dependen.

Para pakar perilaku mengatakan bahwa orang tua individu dengan gangguan ini secara tidak sengaja memberi reward bagi anak yang penurut dan punishment bagi anak yang bebas.

Kecemasan adalah ketegangan, rasa tidak aman dan kekawatiran yang timbul karena dirasakan terjadi sesuatu yang tidak menyenangkan tetapi sumbernya sebagian besar tidak diketahui dan berasal dari dalam (DepKes RI, 1990). Kecemasan dapat didefininisikan suatu keadaan perasaan keprihatinan, rasa gelisah, ketidak tentuan, atau takut dari kenyataan atau persepsi ancaman sumber aktual yang tidak diketahui atau dikenal (Stuart and Sundeens, 1998). Kecemasan adalah suatu keadaan yang ditandai dengan perasaan ketakutan yang disertai dengan tanda somatik yang menyatakan terjadinya hiperaktifitas sistem syaraf otonom. Kecemasan adalah gejala yang tidak spesifik yang sering ditemukan dan sering kali merupakan suatu emosi yang normal (Kusuma W, 1997). Kecemasan adalah respon terhadap suatu ancaman yang sumbernya tidak diketahui, internal, samar-samar atau konfliktual (Kaplan, Sadock, 1997). Teori Kecemasan Kecemasan merupakan suatu respon terhadap situasi yang penuh dengan tekanan. Stres dapat didefinisikan sebagai suatu persepsi ancaman terhadap suatu harapan yang mencetuskan cemas. Hasilnya adalah bekerja untuk melegakan tingkah laku (Rawlins, at al, 1993). Stress dapat berbentuk psikologis, sosial atau fisik.

Freud mengemukakan bahwa lemahnya ego akan menyebabkan ancaman yang memicu munculnya kecemasan. Freud berpendapat bahwa sumber ancaman terhadap ego tersebut berasal dari dorongan yang bersifat insting dari id dan tuntutan-tuntutan dari superego. Freud menyatakan bahwa ego disebut sebagai eksekutif kepribadian, karena ego mengontrol pintu-pintu ke arah tindakan, memilih segi-segi lingkungan kemana ia akan memberikan respon, dan memutuskan insting-insting manakah yang akan dipuaskan dan bagaimana caranya. Fungsi-fungsi eksekutif ini dijalankan dengan integrasikan tuntutan id, superego, dan dunia luar yang sering bertentangan. Hal ini sering menimbulkan tegangan berat pada ego dan menyebabkan timbulnya kecemasan. 41 Seseorang yang mengalami gangguan kecemasan akan terpaksa melarikan diri (flight) atau berkelahi (fight), yaitu dengan cara mengerahkan seluruh energi

psikologis guna mempertahankan dirinya. Energi psikologis yang masih tersedia semakin lama semakin berkurang sebagai akibat mekanisme pembelaan yang tidak mampu melawan ancaman tersebut, sehingga menimbulkan sejumlah perubahan pada organ tubuh, yang ditandai dengan gangguan fisiologik, otonomik, biokimiawi, hormonal dan gangguan psikologik.

Gejala : Kecemasan : takut atau khawatir akan terisolasi Ketegangan motorik : gemetaran, rasa tegang di otot dan kelelahan, terutama di otot-otot dada, leher dan punggung. tremor dan gemetar. Overaktivitas otonomik : berkeringat, jantung berdebar-debar Disamping gejala klinis seperti gelisah, ketegangan otot, gangguan tidur dan keluhan perut, penderita juga mulai tidak bisa mengontrol emosinya dan tidak ada motifasi diri (Wilkie, 1985). Klien mudah menangis tanpa sebab