Anda di halaman 1dari 3

Aksi Seribu Sandal

Selasa, 03 Januari 2012 - 17:10 wib

Komnas Anak, Seto Mukladi (batik) memberikan sendalnya saat aksi solidaritas seribu sandal untuk membebaskan AAL di Kantor Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Jakarta Pusat, Selasa (3/1/2012). Selama enam hari pembukaan posko sandal untuk bebaskan AAL di sejumlah titik posko, sudah terkumpul lebih kurang 600 pasang dari target 1000 pasang, AAL bocah 15 tahun asal Palu yang dituding melakukan pencurian sandal dengan ancaman hukuman lima tahun penjara.

1.300 Pasang Sandal Hari Ini Diserahkan ke Kapolri


Susi Fatimah - Okezone
Kamis, 5 Januari 2012 11:31 wib 0 23 Email0

JAKARTA - AAL, bocah pencuri sandal jepit anggota kepolisian di Palu Sulawesi tengah akhirnya dinyatakan bersalah oleh majelis hakim dan dikembalikan kepada orangtuanya. Dengan jatuhnya vonis kepada AAL, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) resmi menutup posko sandal jepit sebagai solidaritas atas kasus AAL. "Hari ini terakhir. Sandal itu akan diserahkan ke Mabes Polri siang ini pukul 13.00 WIB," ujar Komisioner KPAI, M. Ihsan kepada okezone, Kamis (5/1/2011). Ihsan menambahkan, sandal yang sudah terkumpul sebanyak 1.300 pasang. Dan siang ini pihaknya akan mengantar langsung sandal-sandal jepit tersebut ke Mabes sebagai bentuk protes atas kasus yang emnimpa AAL tersebut. Selama enam hari membuka posko sandal jepit tersebut, Ihsan menceritakan ada hal unik dalam menggalang sandal jepit itu, salah satunya adalah aksi siswa SD dan SMP yang sengaja mendatangi posko untuk menyerahkan sandal. "Kemarin ada anak SD dan SMP yang datang kesini nyopotin sandalnya dan mereka pulang nyeker. Ada juga ibu pemilik warung obat pas dengar berita ini, dia pulang ambil sandalnya terus bergabung dengan para pemulung dan pengamen kasih 80 sandal. Ada juga 500 sandal dari alumni Universitas indonesia," paparnya. (sus)

DENPASAR - Simpati terhadap AAL yang disangka mencuri sandal jepit milik anggota polisi terus mengalir. Seperti ditunjukkan artis Ayu Laksmi dengan menyumbangkan 10 sandal jepit raksasa ke Komisi Penanggulangan Anak Indonesia (KPAI). "10 pasang sandal jepit dengan ukuran super jumbo saya kirim ke KPAI, sebagai bentuk dukungan terhadap AAL" kata Ayu Laksmi kepada wartawan di Denpasar, Selasa (3/1/2011). Ayu merasa terketuk hatinya setelah mendengar kisah AAL, remaja yang disangka mencuri sandal polisi. Karena itu, dia bergabung dalam gerakan seribu sandal jepit untuk polisi, lantaran menilai dakwaan ke AAL tidak semestinya diterapkan.

Mengenai sandal jepit raksasa tersebut, mengandung nilai filosofi bahwa penegak hukum mestinya menyediakan ruang bagi anak-anak. "Aparat penegak hukum harus menjadi pengayom bagi anak-anak, bukan menjeratnya secara semena-mena," kata mantan penyanyi rock yang populer di era-1980 an ini. Seperti diketahui, sandal adalah alas yang dipergunakan untuk melindungi kaki. Ini mengandung arti agar aparat penegak hukum memberikan perlindungan kepada anak-anak. Sejak dukungan moral diberikan Ayu, banyak koleganya juga juga tergerak untuk melakukan hal serupa ingin menyumbagkan sandal jepitnya. "Sebenarnya, banyak yang mau nitip, tetapi karena pengumpulan sandal jepit ditutup hari ini, terpaksa saya tidak bisa menerimanya," kata Ayu yang kini menggeluti di lagu-lagu religi Hindu dengan aransemen musik kontemporer ini. Gerakan pengumpulan sandal itu kata dia, agar Briptu R punya sandal jepit seumur hidupnya, sehingga ke depan tidak lagi korban lainnya seperti menimpa AAL. Dia yang kini konsern dengan dunia anak, sepakat saatnya kini, untuk menanggalkan pemidanaan terhadap anak sebaliknya mengedepankan pendekatan yang lebih membimbing dan mendidik mereka ke arah yang benar. JAKARTA - AAL, bocah (15), yang divonis bersalah oleh Pengadilan Negeri Palu karena mencuri sandal anggota polisi memaparkan kronologis tuduhan pencurian yang dilakukannya. AAL yang datang ke kantor Komnas Perlindungan Anak bersama orangtua dan pengacara itu menuturkan, kejadian bermula ketika pada November 2010 lalu, sekira pukul 12.00 WITA, dia berjalan bersama temannya di luar pagar indekos yang ditempati Briptu Ahmad Rusdi Harahap dan Briptu Simson. Secara tidak sengaja dia menemukan sendal jepit bermerk Ando. "Waktu itu belum jam sekolah, saya lihat sendal Ando di luar pagar, kemudian saya bawa pulang," kata AAL di kantor Komnas PA, Jalan TB Simatupang, Pasar Rebo, Jakarta Timur, Rabu (11/1/2012). Enam bulan kemudian, tepatnya November 2011, saat dia dan temannya melewati indekos tersebut, AAL dipanggil oleh Briptu Ahmad Rusdi Harahap dan dituduh mengambil sandal miliknya. "Kamu sudah mengambil sendal saya ya, saya sudah tiga kali kehilangan sandal," ungkap AAL, menirukan ucapan Briptu Ahmad Rusdi Harahap. Karena merasa tidak mengambil sandal milik Briptu Ahmad Rusdi Harahap yang bermerk Eiger, dia menolaknya dan mengaku hanya menemukan sendal bermerk Ando di luar pagar indekos yang ditempati kedua polisi tersebut. "Saya bersama temannya saya akhirnya dipukul, pukulan paling parah diterima oleh saya pada bagian perut, dan punggung bahkan menggunakan kayu," jelasnya. Selain dipukul oleh kedua anggota polisi tersebut, dirinya juga mengaku disekap dari pukul 20.00 WITA sampai pukul 22.30 WITA, sebelum akhirnya dibebaskan setelah dipanggil orangtua.

"Saat disekap saya bersama teman saya disuruh mengakui kalau yang mengambil sendal Eiger," paparnya. Pemukulan dan penyekapan yang dilakukan kedua anggota polisi tersebut, kemudian diadukan ke orangtuanya dan melaporkan ke Polda Sulawesi Tengah. "Kata orang Polda kasusnya segera akan diusut," terangnya. AAL menegaskan, akibat kasus ini dia berjanji tidak akan mengambil barang apapun yang dia temukan di jalan.

http://news.okezone.com/read/2012/01/11/337/555296/kronologis-pencuriansandal-versi-aal