Anda di halaman 1dari 18

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Usaha fotokopi dan alat tulis kantor termasuk usaha yang tidak pernah ada habisnya dan selalu dibutuhkan oleh semua konsumen.Walaupun banyak orang yang bergerak di bidang ini, prospek bisnis membuka usaha ini cukup menjanjikan. Saat ini menggeluti usaha fotokopi dan alat tulis kantor merupakan usaha yang sangat menggiurkan. Hal itu disebabkan karena kebanyakan konsumen yang memakai biasanya dari kalangan mahasiswa atau pelajar, instansi, baik negeri maupun swasta atau masyarakat umum. Meskipun usaha ini memiliki untung tipis, tapi usaha ini memiliki potensi dan prospek yang besar untuk beberapa tahun kedepan. Karena hampir setiap orang membutuhkanya.

B. Rumusan Masalah

1. Apakah Wirausaha itu ? 2. Bagaimana cara membuka Wirausaha Fotokopi dan Alat tulis kantor? 3. Apa saja Hambatan dan Kendalanya ?

C. Tujuan

1. Untuk memenuhi beberapa syarat dalam proses belajar mengajar di Perguruan Tinggi. 2. Merangsang mahasiswa dan mahasiswi untuk dapat membuka lapangan kerja sendiri dan memanfaatkan setiap peluang usaha yang ada. 3. Sebagai langkah lanjutan dalam mempelajari bidang studi umum khususnya Bahasa Indonesia. 4. Melatih mahasiswa dan mahasiswi menulis makalah untuk beberapa mata kuliah yang selanjutnya. BAB II PEMBAHASAN

A. Apakah Wirausaha itu ?

1. Definisi Wirausaha dan Kewirausahaan Wirausaha adalah orang yang mengambil resiko dengan jalan membeli barang sekarang dan menjual kemudian dengan harga yang tidak pasti (Cantillon). Wirausaha adalah orang yang memindahkan sumber-sumber ekonomi dari daerah dengan produktivitas rendah ke daerah dengan produktivitas dan hasil lebih tinggi (J.B Say). Wirausaha adalah orang yang menciptakan cara baru dalam mengorganisasikan proses produksi (Schumpeter). Tugas Wirausaha adalah melakukan sesuatu dengan cara yang berbeda, bukan hanya sekadar dengan cara yang lebih baik.

2. Karakteristik Pribadi Wirausaha Sifat kepribadian wirausaha dipelajari guna mengetahui karakteristik perorangan yang membedakan seorang wirausaha dan bukan wirausaha. David McCleland mengindikasikan ada korelasi positif antara tingkah laku orang yang memiliki motif prestasi tinggi dengan tingkah laku wirausaha. Karakteristik orang-orang yang mempunyai motif prestasi tinggi adalah: a. Memilih resiko moderate Dalam tindakannya dia memilih melakukan sesuatu yang ada tantangannya, namun dengan cukup kemungkinan untuk berhasil. b. Mengambil tanggung jawab pribadi atas perbuatan-perbuatan. Artinya kecil sekali kecenderungan untuk mencari kambing hitam atas kegagalan atau kesalahan yang dilakukannya. c. Mencari umpan balik (feed back) tentang perbuatan-perbuatannya.

d. Berusaha melakukan sesuatu dengan cara-cara baru. Upaya untuk mengungkapkan karakteristik utama wirausaha juga dilakukan oleh para ahli dengan menggunakan teori letak kendali (locus of control) yang dikemukakan oleh J.B. Rotter. Teori letak kendali menggambarkan bagaimana meletakkan sebab dari suatu kejadian dalam hidupnya. Apakah sebab kejadian tersebut oleh faktor dalam dirinya dan dalam lingkup kendalinya atau faktor diluar kendalinya. Dua kategori letak kendali menurut Rotter yaitu: - Internal

Orang yang beranggapan bahwa dirinya mempunyai kendali atas apa yang akan dicapainya. Karakteristik ini sejalan dengan karakteristik wirausaha seperti lebih cepat mau menerima pembaharuan (inovasi). - Eksternal Orang yang beranggapan keberhasilan tidak semata tergantung pada usaha seseorang, melainkan juga oleh keberuntungan, nasib, atau ketergantungan pada pihak lain, karena adanya kekuatan besar disekeliling seseorang. Manajemen System International menyebutkan karakteristik pribadi wirausaha (personal entrepreneurial characteristics) sebagai berikut: 1. Mencari peluang 2. Keuletan 3. Tanggungjawab terhadap pekerjaan 4. Tuntutan atas kualitas dan efisiensi 5. Pengambilan resiko 6. Menetapkan sasaran 7. Mencari informasi 8. Perencanaan yang sistematis dan pengawasannya 9. Persuasi dan jejaring/koneksi 10. Percaya diri

B. Bagaimana Cara Membuka Usaha Fotokopi dan Alat tulis kantor ?

1. Lokasi Lokasi merupakan komponen penting dalam suksesnya usaha. Seperti para guru pemasaran berkata, yang paling penting dalam usaha adalah lokasi, lokasi, dan lokasi. Lokasi yang bisa dikatakan strategis untuk bisnis ini adalah daerah yang dekat dengan sekolah atau kampus ataupun dekat dengan pusat keramaian. Banyak orang yang beranggapan bahwa lokasi yang dekat dengan kegiatan mahasiswa akan menguntungkan dalam usaha ini. Sedangkan alternatif pengunjung lain adalah pekerja. Namun, segmen ini sepertinya masih lebih rendah jika

dibandingkan dengan pelajar atau mahasiswa. Lokasi dapat menjadi tolak ukur keberhasilan usaha fotokopi dan alat tulis kantor.

2. Peralatan dan Perlengkapan Terdiri dari etalase, lemari,kursi plastik, dan lain-lain. Mengenai alat tulis kantor dapat mencari penyalur atau pemasok dengan harga murah dan memiliki kualitas barang yang baik, serta memilih barang yang kira-kira selalu dipakai atau dicari oleh konsumen. Sedangkan mengenai mesin fotokopi dapat mencari agen penjualan yang menawarkan harga sedikit miring dengan kualitas barang terbaik.

3. Mesin Fotokopi a. Apakah kita akan beli baru atau yang rekondisi ? b. Apakah kita beli mesin analog atau dijital ? c. Apakah kita beli mesin dengan printer atau sken ? Pemilihan mesin fotokopi juga sangat penting. Untuk pemilihan mesin fotokopi menurut kami sangat tergantung dari siapa market atau pasar kita nanti dan berapa harga yang akan kita pasarkan. Kalo pelanggan kita mahasiswa dan pelajar maka kualitas mungkin bukan yang utama namun harga haruslah terjangkau. Untuk mendapatkan harga produksi per lembar yang murah maka mesin rekondisi adalah pilihan yang tepat karena mesin fotokopi rekondisi jauh lebih murah. Untuk kualitas, mesin analog memiliki kualitas yang lebih rendah dibanding digital namun mesin analog lebih murah dan lebih mudah untuk diperbaiki. Untuk mesin dengan printer dan sken ini tergantung dengan adanya permintaan pasar. Namun mesin dengan printer dan sken hanya ada di mesin dijital tapi bisa kita dapatkan mesin rekondisinya yang lebih murah.

4. Karyawan Saudara atau teman adalah salah satu alternatif untuk dijadikan sebagai karyawan. Selain itu juga dapat merekrut karyawan yang memiliki ijazah SMU untuk ditugaskan sebagai pelayan toko.Dan hendaknya memiliki karyawan yang pandai berkomunikasi.

5. Tinta, Kertas, dan Sperpak Semakin murah tinta dan kertas semakin besar pula marjin keuntungan kita. Untuk bersaing dengan usaha fotokopi lain kita harus pintar dalam mendapatkan tinta dan kertas yang murah. Untuk kertas kita bisa gunakan kertas plano potong. Untuk tinta kita bisa gunakan tinta kompetibel tidak harus orisinil. Hal yang perlu diingat adalah, jangan karena harga kita mengorbankan kualitas. Kertas plano potong kadang sangat sulit ditarik mesin fotokopi dan sering membuat macet mesin. Sedangkan tinta kompetibel suka membuat drum tidak awet dan merusak sperpak mesin. Untuk itu harus dilakukan tes satu persatu dan lihat hasilnya satu demi satu pula. Untuk tinta biasanya yang sering dipakai adalah eop. Walaupun harganya lebih mahal sedikit, tapi tintanya membuat mesin awet. Dengan catatan kita gunakan np6030. Kalo ir5000 harus digunakan tinta yang orisinil. 6. Alat-alat tulis kantor Menjual barang seperti alat tulis dan lainnya juga sangat penting dalam menentukan besarnya keuntungan usaha ini. Dapatkan barang-barang tersebut dari grosir utama seperti di Mangga dua atau Pasar pagi. Semakin banyak anda belinya, semakin murah harganya. Jika pelanggan kita mahasiswa/pelajar, alat tulis merek Joyko atau Kenko sangat cocok,karena harganya yang terjangkau. 7. Layanan Layanan alat-alat tulis kantor yang beragam akan membuat usaha ini makin dicari konsumen. Semakin lengkap barang dan layanan kita, semakin besar keuntungan yang akan kita dapatkan. Juga pelayanan yang ramah, penuh senyum, dan professional akan menjadi nilai tambah tersendiri.

8. Kualitas Jika kita tidak dapat bersaing harga, maka kita perlu bersaing dalam kualitas. Di era modern ini banyak orang yang lebih mengutamakan kualitas dibanding harga, jadi kita punya pangsa pasar yang menurut kami tidak sedikit.

C. Hambatan dan Kendala

1. Sepinya Konsumen Apabila membuka usaha di areal sekolah atau kampus pasti merasa kesulitan dan kesulitan ketika para pelajar dan mahasiswa memasuki musim liburan. Untuk mengantisipasi hal ini perlu melakukan promosi, baik melalui koran maupun brosur. Dan bagi pelanggan yang membeli alat tulis dan memfotokopi saat liburan dapat menggunakan strategi dengan memberikanya diskon.

2. Banyaknya Pesaing yang Menggeluti Usaha Sejenis Memberikan pelayanan yang terbaik merupakan salah satu cara agar tetap bertahan dari persaingan bisnis ini. Selain itu dapat memberikan sesuatu yang berbeda dari para pesaing. Misalnya, dapat bersaing secara sehat dengan memberikan harga yang miring kepada pembeli. Walaupun mendapat keuntungan yang sedikit, namun usaha ini akan tetap berjalan lancar.

3. Modal yang terbatas Agar dapat menggalang modal yang cukup untuk tetap menyambung hidup, ada baiknya apabila mencari relasi bisnis yang bersedia menginvestasikan modalnya ke dalam usaha ini. Dalam hal ini kita perlu meyakinkan investor bahwa usaha yang akan digeluti akan berkembang dengan pesat jika modal bertambah. Selain itu, dalam menekuni bisnis ini dapat menempuh modal dengan patungan bersama teman atau saudara.

4. Prospek Cerah

Usaha ini memiliki prospek yang sangat cerah untuk jangka waktu yang lama, akan tetapi harus juga bisa mengimbangi dengan kemajuan teknologi yang semakin berkembang. Dalam dunia bisnis persaingan adalah sesuatu yang tak dapat dihindarkan. Tetapi tidak perlu kuatir, justru dengan adanya persaingan kemampuan kita dalam berwirausaha jadi akan terasah dan kita jadi banyak pengalaman serta semakin pintar. Pesaing akan selalu datamg silih berganti, tapi percayalah kalau rezeki orang itu sendiri-sendiri dan tidak akan ketukar. Kalau kita mau berusaha dengan giat dan pantang menyerah pastilah Allah SWT akan memberi balasan sesuai dengan apa yang kita usahakan.

5. Rencana Anggaran Usaha Penjualan Fotokopi dan Alat Tulis Kantor

Rincian Anggaran Awal

- 2 buah Mesin Fotockopi Rp 14.000.000 - Peralatan dan Perlengkapan Rp 7.500.000 - Persediaan Barang Dagangan Rp 7.000.000 - Modal Cadangan Rp 1.000.000

Total Anggaran Awal Rp 29.500.000

Pendapatan Perbulan Rp 300.0000 x 30 hari Rp 9.000.000

Pengeluaran Perbulan

- Gaji 2 Orang Karyawan Rp 1.500.000 - Pembelian Kertas untuk Fotokopi Rp 500.000 - Pembelian Tinta untuk Fotokopi Rp 250.000 - Biaya Listrik Rp 2.500.000 - Biaya Promosi dan Iklan Rp 250.000 - Biaya Lain-lain Rp 400.000

Total Pengeluaran Rp 5.400.00

Keuntungan Laba Bersih = Rp 9.000.000 5.400.000 = Rp 3.600.0000

BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan

Dari hasil analisis beberapa faktor, ternyata usaha fotokopi dan alat tulis kantor mampu memberikan hasil yang baik dan dapat dikatakan layak untuk dijalankan. Mengingat adanya peluang yang besar dalam usaha ini pada masa yang akan datang. Dewasa ini, kalau kita cermati, permintaan akan fotokopi dan alat tulis kantor semakin meningkat seiring dengan meningkatnya kepentingan masyarakat. B. Saran Dalam menjalankan usaha fotokopi dan alat tulis kantor, yang perlu untuk diperhatikan adalah mengenai bagaimana menjaga kualitas yang baik dan menjaga stabilitas stok kertas fotokopi serta mencari segmen yang tepat.juga menentukan dalam harga pasar. Tak lupa penjualan buku dan alat-alat tulis kantor lainnya juga perlu diperhatikan, tidak hanya sebagai pelengkap tapi juga untuk menambah keuntungan usaha.

Daftar Pustaka : Buchori, Ilham,2009. 14 Usaha di Kala Krisis.Palembang:Maxikom http://daftardbs.blogspot.com/2009/06/apa-itu-bisnis-itu.html http://guntala.wordpress.com/2010/06/16/analisa-usaha-foto-copy/ http://wirausahaconsultant.blogspot.com/2011/05/apakah-rencana-usaha-itu.html http://www.flashercommunity.com/modification-168/tips-buka-usaha-foto-copy-1796/ http://globalfotocopy.com/bisnis/usaha-fotocopy-copy-center/ http://viewcomputer.wordpress.com/kewirausahaan/

Menjadi Wirausaha Fotokopi

Dunia sudah sepantasnya berterima kasih kepada Chester Flood Carlson, penemu mesin fotokopi. Tanpa penemuannya, sulit membayangkan bagaimana cara menggandakan dokumen secara cepat dan mudah layaknya menggunakan mesin fotokopi. Padahal, hampir bisa dipastikan semua lembaga pemerintah, sekolah, perguruan tinggi, perusahaan swasta, bahkan perorangan membutuhkan penggandaan dokumen. Terlepas dari persoalan hak cipta, fotokopi menjadi solusi untuk mendapatkan buku secara murah. Ah, banyak hal yang selesai dengan kehadiran fotokopi. A. Membaca Peluang Bisnis Fotokopi

Bisnis fotokopi bisa dibilang gampang-gampang susah. Gampang karena proses kerjanya sederhana. Berbekal mesin fotokopi digital prima, operator bisa dengan sangat mudah mengoperasikan mesin pengganda dokumen tersebut. Namun begitu, tetap susah untuk bersaing manakala di daerah yang bersangkutan sudah dipenuhi para pesaing. Karena itu, perlu persiapan matang sebelum memutuskan terjun ke bisnis ini. Berikut beberpa hal yang perlu diperhatikan. Lokasi Seperti pesan banyak guru marketing, rumus pertama adalah menentukan tempat yang tepat. Location, location, location. Begitu kata pakar marketing. Sesuai dengan core business fotokopi sebagai pengganda dokumen, maka pertimbangan pertama untuk menentukan tempat adalah keberadaan lembaga pendidikan atau perkantoran pemerintah dan swasta. Mari kita lihat lebih jauh. Lembaga pendidikan, terutama perguruan tinggi, sangat bergantung kepada keberadaan fotokopi. Pengalaman penulis dalam mengelola Violet Copy Centre, sebagian besar pekerjaan yang bersumber dari perguruan tinggi adalah penggandaan bahan perkuliahan, baik buku ajar maupun referensi tambahan. Mesin Mesin fotokopi sedikitnya bisa dibagi ke dalam dua jenis: analog dan digital. Pemilihan jenis mesin ini sangat tergantung kepada siapa pasar kita. Jika pelanggan kita mahasiswa dan pelajar, maka kualitas mungkin bukan yang utama. Untuk tipe konsumen seperti ini, harga harus menjadi pertimbangan utama. Relevansi dengan jenis mesin sangat erat. Harga mesin analog jelas lebih murah dibanding digital copier atau mesin digital. Cuma saja saja, kualitas digital lebih baik daripada analog. Tapi, pertimbangannya bukan hanya itu. Saat ini banyak importer mendatangkan mesin digital bekas pakai namun kondisinya masih sangat baik. Mesin-mesin rekondisi ini jauh lebih murah dari harga mesin digital baru. Consumable

Bila mesin fotokopi diibaratkan sebagai senjata, maka consumable adalah amunisi. Nah, keduanya harus seimbang. Artinya, pemilik usaha harus memperhatikan betul kemudahan dalam mendapatkan barang-barang sekali pakai tersebut. Apa saja itu? Komponen utamanya adalah kertas dan tinta (toner) mesin. Dua benda tersebut sangat erat kaitannya dengan mesin. Karena itu, pilihlah kertas dan toner yang tepat, baik kualitas maupun harga. Ketidaktepatan dalam memilih toner dan kertas bisa berakibat fatal pada mesin. Sebagai contoh, kertas-kertas lembab atau toner yang jelek akan mempercepat kerusakan mesin. Pilihlah jenis kertas yang tepat untuk mesin. Sebagai gambaran, kertas dengan ukuran yang sama berpengaruh berbeda terhadap mesin. Kenalilah aneka jenis dan merek kertas selama masa ujicoba mesin. Pun dengan toner. Toner compatible membuat drum tidak awet dan merusak spare part mesin. Lakukan tes satu persatu dan liat hasilnya. Yang paling aman tentu saja menggunakan toner original. Meski harganya lebih mahal, tapi tonernya membuat mesin jadi awet.

B.

Memilih Lokasi yang Tepat

Di atas sudah disebutkan, perguruan tinggi merupakan pasar potensial. Pertimbangannya sederhana saja. Bila bahan ajar di sekolah menengah relatif baru dan banyak beredar di pasaran, buku-buku perguruan tinggi termasuk lambat dalam regenerasi. Bahkan, cenderung itu-itu juga dalam beberapa tahun terakhir. Apalagi untuk jurusan-jurusan sastra, filsafat, atau teknik. Berbeda dengan buku-buku manajemen dan ilmu ekonomi yang relatif berkembang sukup pesat. Meski begitu, perkembangan bahan ajar ilmu-ilmu ekonomi sekalipun tidak secepat bahan ajar sekolah menengah. Dalam banyak kasus, buku bahan ajar sekolah terus berganti setiap tahun ajaran. Pola pikir guru maupun siswa juga cenderung kaku dalam memperlakukan bahan ajar. Artinya, kalau ada perintah menggunakan buku A, maka buku tersebut akan digunakan oleh semua siswa. Kondisi ini diperkuat dengan permainan antara pihak sekolah dengan penerbit. Sebaliknya, masyarakat perguruan tinggi lebih terbuka terhadap penggunaan sumber belajar. Pada dasarnya, mahasiswa bebas sendiri sumber belajar yang mendukung mata kuliahnya. Dengan begitu, pemilihan lokasi fotokopi relatif lebih baik di sekitar perguruan tinggi daripada sekolah. Di sisi lain, perguruan tinggi lebih berpeluang karena banyak hasil studi maupun penelitian yang memerlukan penggandaan. Sebagai contoh, setiap mahasiswa di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) diwajibkan menggandakan skripsi sedikitnya empat kali. Jumlah tersebut didistribusikan ke jurusan, fakultas, perpustakaan, dan mahasiswa yang bersangkutan. Bila satu skripsi memiliki tebal 100-200 halaman, maka kebutuhan seorang mahasiswa untuk menggandakan skripsinya membutuhkan 400-800 lembar kertas. Padahal, jumlah lulusan UPI setiap tahunnya tidak kurang dari 2.000 orang. Jumlah yang menggiurkan bukan?

Sejalan dengan pemilihan lokasi di sekitar perguruan tinggi, maka pemilik usaha fotokopi harus cermat dalam menentukan titik lokasi. Setidaknya terdapat beberapa titik potensial untuk dijadikan lokasi fotokopi. Yakni, di dalam kampus sendiri, di pintu masuk kampus, atau daerah kos-kosan mahasiswa. Ketiga tempat tadi memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Lokasi di dalam kampus bisa dipastikan lebih ramai dibanding dua tempat lainnya. Syaratnya, lokasi berdekatan dengan konsentrasi mahasiswa atau perkantoran. Misalnya, pilihlah lokasi di gedung fakultas atau jurusan. Bisa juga di gedung koperasi mahasiswa. Lokasi paling baik adalah pascasarjana. Tempat inilah yang hampir bisa dipastikan memerlukan jasa fotokopi paling banyak. Maklum, buku-buku pascasarjana sebagian besar berbahasa Inggris. Karena itu, jarang beredar di pasaran. Cara mudah mendapatkannya tentu saja di copy centre. Meski begitu, lokasi di dalam kampus tetap memiliki kelemahan. Denyut nadi kampus relatif standar. Yakni, pagi sampai sore layaknya jam kerja. Artinya, ketika kampus tutup, maka konsumen juga sepi. Pun ketika hari libur tiba. Kampus lagi-lagi sepi. Untuk menyiasatinya, pandai-pandailah merayu konsumen agar bersedia menunggu hingga satu atau dua hari. Dengan begitu, buku bisa dikerjakan pada malam hari atau hari libur sekalipun. Pengalaman selama ini sebagian besar dari mereka tidak keberatan menunggu cukup lama untuk pengerjaan buku atau bahan ajar lainnya. Peluang nyaris sama terdapat pada lokasi di sekitar pintu masuk mahasiswa. Ini tidak lepas dari kebiasaan mahasiswa meninggalkan pekerjaan sambil berangkat atau pulang kuliah. Dibanding di dalam kampus, lokasi ini masih berpeluang ramai ketika sore atau hari libur. Syaratnya, pilihlah pintu masuk pejalan kaki atau sepeda motor. Jangan terlalu berharap pada pintu gerbang utama yang biasanya hanya diperuntukkan bagi kendaraan roda empat. Mengapa begitu? Karena, pemilik mobil biasanya datang dari kalangan berada, menengah ke atas. Wajarnya mereka bisa membeli buku tanpa harus buku fotokopi. Pertimbangan lainnya, mobil membutuhkan tempat parkir luas. Sementara lokasi fotokopi tidak selamanya memiliki area tersebut. Di UPI misalnya, mahasiswa pascasarjana sebagian di antaranya merupakan pegawai atau bahkan pejabat pemerintah yang datang bermobil. Tipikal ini jangan terlalu diharapkan pemilik fotokopi di pintu masuk atau kos-kosan. Biasanya, mereka sudah memanfaatkan jasa orang lain yang berkeliaran di kampus pascasarjana. Karakter di pusat konsentrasi mahasiswa lain lagi. Boleh dibilang tempat ini konstan sepanjang hari. Cuma saja, jarang mendapatkan order penggandaan partai besar seperti halnya di kampus. Biasanya, mahasiswa lebih memilih lokasi di dekat mereka untuk keperluan penggandaan buku maupun tugas hingga skripsi. Pola lainnya, mereka menyimpan pekerjaan saat pulang kuliah untuk kemudian diambil keesokan harinya ketika berangkat. Bisa saja sebaliknya, menyimpan saat berangkat dan mengambil saat pulang. Di luar tiga lokasi di atas, pasar potensial tentu saja kantor-kantor pemerintahan dan sekolah. Tipe lokasi ini lebih bisa dikategorikan umum. Karena itu, apabila membidik kalangan tersebut, pilihlah lokasi yang relatif dekat dengan keramaian. Sebaiknya memilih jalan raya. Pinggir jalan diharapkan mampu menjaring konsumen umum, baik individu maupun lembaga. Kelebihan lokasi ini adalah bisa menyisir konsumen sepanjang hari hingga malam.

Calon wirausahawan fotokopi sebaiknya melakukan survei terlebih dahulu. Perlu diingat, meskipun tempat-tempat di atas bisa dibilang yang paling baik, namun harus diperhatikan aspek kompetisi. Hitunglah ada berapa copy centre di lokasi-lokasi tersebut. Cobalah kalkulasi kebutuhan jasa dengan keberadaan copy centre. Jangan sekali-sekali memilih pasar jenuh. Kalau memaksa karena tidak ada lagi tempat, tentukan diferensiasi secara cermat. Misalnya dari kelengkapan atau kualitas layanan. Sebagai gambaran, semakin lengkap sebuah copy centre menyediakan barang atau jasa, semakin besar kemungkinan tempat tersebut didatangi konsumen. Pada umumnya konsumen lebih menyukai memenuhi kebutuhannya di satu tempat.

C.

Memilih Mesin

Mesin fotokopi telah berkembang dengan cepat. Saat ini, mesin fotokopi tidak lagi sebagai pengganda lembaran dokumen. Mesin digital sudah memperkaya fungsinya menjadi scanner dan printer. Bahkan, seri-seri tertentu sudah bisa digunakan sebagai media menyimpanan dokumen dalam bentuk soft copy. Untuk seri khusus tersebut, dokumen dipindai untuk kemudian disimpan dalam hard drive komputer. Artinya, mesin fotokopi sudah terintegrasi dengan perangkat komputer. Dengan tambahan jaringan telekomunikasi, mesin fotokopi sudah bisa difungsikan sebaai mesin faksimili. Wow, komplet bukan? Pemilik usaha bebas memilih mesin mana yang akan digunakan. Cuma saja, seperti disinggung di atas, pemilihan mesin lebih baik disesuaikan dengan kebutuhan pasar. Bila pasar tidak menuntut scanner dan faksimili, maka fitur tersebut bisa ditunda. Tipikal konsumen kampus perguruan tinggi misalnya, mereka lebih cenderung membutuhkan fotokopi cepat dan print out. Beda lagi dengan copy centre di area umum yang kemungkinan terdapat konsumen yang membutuhkan pemindaian dan faksimili. Bila mengejar ideal, maka copy centre di pinggir jalan sebaiknya memiliki fitur lebih lengkap. Sekarang saatnya memilih mesin. Selain pertimbangan konsumen, pemilihan mesin juga sebaiknya mempertimbangkan kemudahan spare part dan service. Hal ini penting karena mesin fotokopi rentan terhadap kerusakan suku cadang, terutama dengan pemakaian maksimum. Karena itu, pilihlah suplier yang memberikan garansi cukup lama. Biasanya garansi mesin rekondisi selama enam bulan. Namun, ada juga suplier yang bersedia memberikan garansi hingga satu tahun. Penulis sendiri beruntung menemukan suplier tipe kedua ini. Bila dihadapkan pada pilihan mesin rekondisi atau baru, maka sebaiknya memilih rekondisi. Alasannya, mesin rekondisi yang didatangkan importer pada umumnya masih dalam kondisi bagus. Mesin bekas pakai Singapura atau Jepang tersebut memiliki counter, akumulasi jumlah pengopian, yang sedikit untuk ukuran Indonesia. Tapi, jangan sampai memilih mesin bekas pakai Indonesia. Karena itu, ceklah mesin dengan seksama. Bawa serta teknisi untuk memastikan kondisi mesin masih baik. Komponen utama yang harus diperhatikan saat memilih mesin adalah drum. Silinder dalam jeroan mesin pengganda ini menjadi semacam jantung mesin itu sendiri. Hasil kerja penggandaan maupun pencetakan dokumen untuk print out sangat ditentukan kondisi mesin ini.

Lakukan pengecekan untuk counter. Bila masih di bawah satu juga, anggaplah mesin masih layak pakai. Dengan melihat counter, kita bisa memastikan mesin tersebut baru diimpor atau sudah digunakan di Indonea. Mesin bekas pemakaian lokal biasanya tidak kurang dari lima juta. Padahal, usia mesin hanya sampai pada counter 10 juta. Artinya, bila mesin sudah mencetak dokumen hingga 10 juta, maka mesin akan mati. Berkaitan dengan hal itu, maka pemilik harus menghitung biaya akkumulasi penyusutan mesin dalam menetapkan harga jasa. Pilihan mesin fotokopi juga ditentukan oleh harga. Teknologi mesin berbanding lurus dengan harga. Semakin canggih mesin, semakin mahal harganya. Mesin rekondisi Canon seri digital misalnya, terentang mulai Rp 20 juta hingga Rp 35 juta. Harga tersebut berlaku untuk wilayah Bandung dan sekitarnya. Angka Rp 20 juta adalah harga untuk mesin Canon IR 5000/6000. Tipe ini sudah bisa menjalankan fungsi pencetakan dokumen dari komputer. Cuma saja, harga tersebut belum termasuk harga konektor mesin dengan komputer. Untuk paket komplet, IR 5000/6000 bisa diperoleh dengan harga Rp 24 juta. Berikut garmbaran kualifikasi mesin Canon berdasarkan seri. Type NP 6035 IR 1600 IR 3300 IR 5000 IR 8500 Copy Copy Zoom Panel Toner Speed Size 35 CPM 50%-200% Max A3 Analog/TS Serbuk 16 CPM 50%-200% Max A3 Digital Serbuk 33 CPM 25%-400% Max A3 Touch Screen Serbuk 50 CPM 25%-400% Max A3 Touch Screen Serbuk 85 CPM 25%-400% Max A3 Touch Screen Serbuk Berat Mesin 63,5 kg 60 kg 95 kg 185 kg 198 kg Besar Watt 1,3 Kw 1,3 Kw 1,3 Kw 1,5 Kw 1,5 Kw Digit Max -999 -999 -999 -999 -999

D.

Menghitung Harga Fotokopi

Tetapkanlah harga yang tepat. Tepat berarti mempertimbangkan aspek-aspek strategis bisnis. Dengan begitu, harga bisa mahal atau bahkan sangat murah. Murah tapi kualitas rendah tentu bukan harga tepat. Dalam jangka panjang, kualitas akan berdampak pada hilangnya konsumen. Sementara harga terlalu mahal juga memberatkan konsumen. Terlebih bila di lokasi tersebut terdapat banyak kompetitor. Konsumen bisa dengan sangat mudah memilih jasa yang cocok dengan mereka. Berikut ini simulasi penetapan harga jasa fotokopi per lembar. Perhitungan harus sudah memperhatikan biaya transportasi yang dikeluarkan. Hitunglah jarak lokasi usaha dengan tempat mendapatkan barang atau consumable. Berapa ongkos yang dikeluarkan untuk mendapatkan barang tersebut. Dari situ, mulailah menghitung harga per lembar. Begini kira-kira perhitungannya. Ambillah contoh harga kertas standar Rp 30 ribu per rim. Berarti, harga kertas per lembar adalah Rp 30 ribu dibagi 500. Keluarlah angka Rp 60. Jadi, modal kertas adalah Rp 60. Kemudian harga tinta atau toner. Kita ambil contoh toner MCM Super untuk mesin IR 5000/6000 seharga Rp 100 ribu per kilogram. Pengalaman membuktikan, satu kilogram toner

bisa digunakan untuk mencetak 10 ribu lembar atau 20 rim. Berarti, harga toner dalam satu lembar adalah Rp 10. Harga ini tetap berlaku untuk kertas yang macet maupun gagal cetak. Hitung pula biaya pemakaian listrik. Ambil saja contoh pembayaran rekening listrik Rp 500 ribu per bulan. Perkirakan selama sebulan tersebut mencetak 75 ribu lembar. Dengan begitu, harga listrik per lembar adalah Rp 3,4. Ini apabila seluruh biaya listrik dibebankan kepada komponen fotokopi. Bila akan dibebankan ke dalam beberapa pekerjaan lain, tentu bisa dikurangi. Misalnya komponen pembaginya adalah laminasi, komputer, scanner, atau bahkan speaker aktif, televisi, radio, dan lain-lain. Selanjutnya, berapa gaji karyawan per bulan. Ambil contoh Rp 1 juta. Jumlah tersebut dibagi ke dalam dokumen tercetak, 75 ribu lembar. Berarti biaya karyawan per lembar adalah Rp 13. Jika jumlah karyawan lebih dari satu, tinggal tambahkan sesuai kebutuhan. Yang pasti, semakin banyak karyawan, semakin banyak gaji yang harus dikeluarkan. Mesin tentu saja tidak bisa dipakai selamanya. Karena itu, hitunglah biaya penyusutan mesin fotokopi. Dengan pemakaian normal, mesin rekondisi asal Singapura bisa digunakan selama tiga tahun. Artinya, dalam tiga tahun mesin harus diganti. Idealnya, harga beli mesin sudah kembali dalam tiga tahun. Misalnya harga mesin Rp 24 juta, berarti Rp 24 juta dibagi 36 bulan lalu dibagi lagi 75 ribu lembar. Keluar angka Rp 8,9. Selanjutnya, jumlahkan komponen biaya tersebut. Rp 60 + Rp 10 + Rp 3,4 + Rp 13 + Rp 8,9 = Rp 95,3. Itulah modal dalam satu lembar kertas. Biaya tersebut belum dihitung biaya service dan spare part. Bila mengambil paket service tahunan sebesar Rp 500 ribu, berarti harga service per lembar adalah Rp 500 ribu dibagi 12 lalu dibagi lagi 75 ribu. Jumlahnya Rp 0,6. Dengan tambahan ini, harga per lembar menjadi Rp 95,9. Sebagai catatan, pemilik copy centre sudah memiliki tempat sendiri. Jika belum, tambahkan sebagai komponen biaya. Selanjutnya tinggal menghitung keuntungan yang akan diambil. Selain fotokopi, jasa lain juga bisa dihitung. Mungkin margin keuntungan dari fotokopi kecil. Karena itu, siasati dengan menetapkan harga yang tepat untuk jasa lain. Harga jilid misalnya, hitunglah komponen harga kertas jilid, plastik laminasi, lem, hekter. Tingkat kerumitan pekerjaan juga menjadi perhitungan tersendiri. Karena itulah harga hard cover jauh lebih mahal daripada soft cover. Padahal, komponen bahannya hanya berbeda dalam kertas karton tebal untuk menguatkan sampul. Beda lagi dengan penentuan harga alat tulis kantor (ATK). Penentuan ini lebih fleksibel karena harganya tidak kontras dibanding harga fotokopi itu sendiri. Harga-harga ATK tidak akan dijadikan patokan bagi konsumen untuk memilih tempat fotokopi. Namun begitu, pandaipandailah dalam menetapkan selisih harga. Kelangkaan barang juga bisa menjadi pertimbangan terssendiri. Pensil misalnya, meski harga grosir tipe 2B, B, H, 4B, 5B, F, dan varian lainnya sama, namun harganya bisa dibanderol berbeda. Harga pensil 2B mungkin tidak bisa dibedakan menonjol karena hampir semua copy centre menyediakannya. Tidak demikian halnya dengan varian lain yang memang jarang ada dijual di pasaran.

E.

Makin Komplet Makin Baik

Pada akhirnya, copy centre bukan semata menyediakan jasa penggandaan dokumen. Ingat, konsumen tidak datang dengan satu keperluan. Ambil contoh seorang pelamar kerja yang akan memfotokopi ijazah untuk kelengkapan persyaratan. Pada saat bersamaan, yang bersangkutan juga membutuhkan amplop kabinet, lem, bahkan daftar riwayat hidup instan yang sudah diproduksi massal. Bila copy centre tersebut sudah menyediakan, maka si pelamar tidak perlu mencari ke tempat lain. Itu hanya satu contoh. Banyak tipikal konsumen lain yang membutuhkan banyak jasa atau barang di copy centre. Secara konvensional, copy centre memang tempat menyediakan jasa penggandaan dokumen. Dalam level paling dasar, copy centre sudah menyediakan keperluan penjilidan. Setidak-tidaknya penjilidan standar, yakni jilid lakban, blok lem, soft cover, dan hard cover. Selangkah lebih bagus adalah jilid ring, baik plastik maupun kawat. Copy centre standar juga sudah menyediakan pulpen, buku tulis, aneka map, amplop, dan lain-lain. Tanpa kelengkapan itu, sulit bagi copy centre bersangkutan untuk bersaing dengan kompetitor. Faktanya, makin lengkap koleksi ATK dan layanan, semakin ramai copy centre yang bersangkutan. Dalam perkembangannya, copy centre memosisikan diri sebagai penyedia layanan terpadu pengolahan dokumen. Pengolahan berarti penggandaan, pengetikan, print out, laminasi, hingga terjehaman bahasa asing. Tempat tersebut juga menjadi penyedia ATK secara lengkap. Lengkap tidak semata-mata berarti banyak. Sedapat mungkin item barang terus diperbanyak. Ini penting untuk memberikan pilihan kepada konsumen dalam memilih barang. Pulpen misalnya, terentang mulai standar dengan harga Rp 1.500 hingga Rp 20 ribu. Biarlah konsumen yang menentukan akan memilih yang mana. Belajar dari pengalaman, pengelola akan menemukan dengan sendirinya komoditi pilihan konsumen. Hal ini tidak terlepas dari karakteristik lokasi. Bila lokasinya di kampus perguruan tinggi, maka barang-barang kelas menengah yang kemungkinan laku keras. Sementara bila memilih dekat sekolah dasar, maka harga murah pilihan utama. Variannya juga berbeda antara kebutuhan mahasiswa dengan murid sekolah dasar. Ketika komoditas laris sudah ditemukan, selanjutnya adalah memilih suplier yang sanggup memberikan harga kompetitif. Metode pembayaran juga cukup berpengaruh. Bila ada suplier yang siap memberikan harga kredit, sebaiknya itu yang dipilih. Namun, jangan sampai menumpuk utang tanpa memperhitungkan kemampuan bayar. Bagi pemula, layanan kredit mungkin masih sulit. Suplier belum percaya kepada kemampuan bayar atau bahkan kejujuran pemilik copy centre. Bangunlah kepercayaan itu dengan membeli produk secara tunai terlebih dahulu. Biasanya, suplier bersedia dibayar kredit untuk transaksi keempat dan seterusnya. Jagalah kepercayaan itu karena harganya sangat mahal. Bila sudah tidak dipercaya, maka jangan harap bisa mendapat kesempatan kedua. Perlu diingat, aneka kebutuhan tersebut tidak bisa diperoleh di satu tempat. Karena itu, kenalilah sebanyak mungkin suplier atau grosir. Selain memudahkan mendapatkan barang, pengetahuan akan diferensiasi suplier atau grosir juga penting untuk menghindari monopoli harga. Kita bisa dengan sangat mudah membandingkan harga di satu tempat dengan tempat lainnya. Bisa jadi,

barang A lebih murah di toko X. Sementara barang B lebih murah di toko Y. Carilah akses mendapatkan barang di distributor tunggal. Dengan begitu, kita bisa mendapatkan harga lebih rendah dibanding peritel besar sekalipun.

F.

Pentingnya Promosi

Perusahaan-perusahaan besar menghabiskan tidak kurang dari sepertiga biaya untuk promosi. Ini mengindikasikan betapa pentingnya promosi dalam dunia marketing. Perlukah copy centre mengeluarkan biaya promosi sebanyak itu? Hal ini bergantung kepada lokasi dan usia bisnis. Jika tempat kita strategis, mungkin biaya promosi bisa ditekan. Beda lagi bila kita berniat menciptakan pusaran baru bisnis di suatu wilayah. Mudahnya, bila kita membuka usaha fotokopi di daerah mahasiswa, maka biaya promosi bisa murah. Lagi pula, di sana sudah banyak usaha sejenis. Jika begitu, maka tujuan promosi bukan mengenalkan diri, melainkan langsung kepada kompetisi harga dan kualitas layanan. Beda lagi ketika membuka copy centre di tempat baru, di mana kita adalah satu-satunya pemain. Berarti, pekerjaan utama adalah mengenalkan diri. Pertanyaannya, bagaimana cara promosi yang tepat? Jawabannya relatif mudah. Perlakukanlah konsumen sebaik mungkin. Bila konsumen puas, maka dia akan dengan senang hati memberi tahu atau bahkan merekomendasikan orang lain untuk datang ke tempat kita. Pekerjaan utamanya berarti mencari pelanggan awal. Cara ini bisa ditempuh dengan memanfaatkan media publikasi atau selebaran sekalipun. Ketika banyak operator telekomunikasi memberikan tarif murah, manfaatkan untuk menghubungi sebanyak mungkin orang. Cara lain adalah menggunakan media internet. Selain murah, internet juga memiliki jangkauan tak terhingga. Pada awal pendiriannya, Violet Copy Centre yang saya kembangkan getol mencari pamflet atau spanduk seminar. Lazimnya media publikasi, pamflet atau poster dan spanduk mencantumkan nomor kontak panitia. Nah, nomor-nomor itulah yang dihubungi untuk menawarkan jasa fotokopi. Tak hanya itu, Violet juga memberikan diskon untuk paket seminar atau sejenisnya. Bonus lainnya adalah layanan antar jemput. Dalam hal ini, panitia cukup menyediakan bahan seminar di tempat atau mengirimkannya melalui surat elektronik (email). Selanjutnya, kru Violet akan menjemput atau mengunduhnya dari email untuk kemudian digandakan dan diantar ke tempat panitia. Cara ini cukup berhasil karena kebanyakan panitia kegiatan tidak mau direpotkan dengan hal-hal teknis. Jurus promosi lain yang dikembangkan Violet Copy Centre adalah menyelenggarakan undian. Hal ini penting untuk menarik minat awal konsumen. Kuncinya, sediakan hadiah yang seolaholah mahal atau unik. Contohnya, fotokopi berhadiah nonton film di bioskop atau beasiswa fotokopi gratis. Ingat, promosi adalah menambah nilai tambah jasa atau produk. Untuk menonton film misalnya, Violet mendapatkan tiket dengan cara murah melalui jaringan bioskop. Atau, fotokopi berhadiah mug cantik senilai Rp 15 ribu. Harga mug di supermarket memang Rp 15 ribu. Padahal, kita bisa membeli hanya dengan Rp 3 ribu di grosir. Masih dalam skema promosi adalah pembelian garansi. Garansi jilid misalnya. Contohnya, garansi jiid hard cover selama sebulan. Artinya, bila dalam sebulan jilid tersebut rusak, maka

konsumen bisa membawa kembali untuk kemudian diganti jilidnya tanpa membayar lagi. Ini juga sekaligus komitmen untuk selalu memberikan layanan terbaik kepada konsumen. Tentu kita tak ingin membuang-buang biaya untuk mengganti jilid. Karena itu, sejak awal penjilidan dilakukan dengan baik. Pilihlah lem terbaik untuk menghindari berkurangnya daya rekat. Rajinlah berinteraksi dengan konsumen. Jangan lupa meminta masukan untuk memperbaiki pelayanan kita. Skema promosi juga bisa diwujudkan dengan diskon. Untuk fotokopi dalam jumlah tertentu, berikanlah diskon yang wajar. Ingat, kita sudah punya patokan modal yang harus dikeluarkan untuk setiap lembar fotokopi. Berarti, pemberian diskon jangan sampai merusak harga kita sendiri. Misalnya, fotokopi 500 lembar dapat diskon lima persen. Atau, setiap print out ebook senilai Rp 100 ribu, gratis satu kali jilid soft cover.