Anda di halaman 1dari 3

BAB 5

PENCEGAHAN DAN PENANGGULANGAN TERORISME

A. KONDISI UMUM

Upaya pencegahan dan penanggulangan terorisme secara preventif maupun represif


dengan menindak tegas pelaku tindakan teror serta mendorong peran serta masyarakat
telah mencapai hasil yang signifikan dengan ditandai oleh situasi keamanan yang
kondusif dan dapat diminimalisirnya aksi terorisme seperti peledakan bom yang terjadi
di daerah konflik khususnya di Poso. Hal ini merupakan suatu kemajuan yang cukup
berarti dibandingkan dengan kondisi 4 tahun sebelumnya, dimana wilayah Indonesia
sering terjadi aksi terorisme berupa peledakan bom dengan daya ledak yang cukup besar
yang bernuansa internasional seperti bom Bali pada tahun 2002, bom di JW Marriot
pada tahun 2003, bom di depan kedutaan besar Australia pada tahun 2004 dan bom Bali
II pada tahun 2005.

Situasi keamanan yang kondusif tersebut merupakan prestasi kinerja aparat


keamanan dalam mencegah dan menanggulangi terorisme, melalui perburuan dan
penangkapan para pelaku teror maupun terhadap orang-orang yang diduga terlibat
dalam aksi terorisme termasuk terbunuhnya tokoh utama tindak terorisme Dr. Azhari
pada tahun 2005. Peristiwa tersebut telah dapat mengungkap lebih luas jaringan teroris
di Indonesia termasuk kegiatan tokoh Nurdin M. Top yang telah mengembangkan sel-
sel terorisme di berbagai daerah. Namun demikian, masih belum tertangkapnya semua
tokoh utama terorisme menjadi tantangan bagi aparat keamanan dalam penanganan aksi
terorisme. Untuk itu, upaya secara terus menerus pencegahan dan penanggulangan
terorisme dengan memburu tokoh beserta jaringannya melalui penangkapan hidup atau
mati para pelaku aksi terorisme, pemutusan sebagian jaringan teorisme, proses hukum
pelaku terorisme, dan eksekusi penjara serta persiapan eksekusi mati bagi teroris
merupakan hal yang tidak dapat ditawar lagi.

Dalam lingkup global, upaya penanganan terorisme masih menghadapi aksi-aksi


teror yang terjadi di berbagai belahan dunia, terutama teror bom. Di London terjadi
peledakan bom kereta bawah tanah pada tanggal 7 Juli 2005 dengan korban tewas 56
orang dan melukai sekitar 700 orang. Sedangkan di India aksi terorisme dilakukan
dengan meledakkan sejumlah gerbong kereta di lintasan western railway yang
menewaskan paling tidak sekitar 200 orang dan melukai lebih dari 700 orang, serta yang
paling baru adalah pada tanggal 7 Maret 2006 di kota suci umat Hindu di Varansi yang
menewaskan 28 orang dan melukai 100 orang. Meskipun beberapa aksi tersebut tidak
terkait secara langsung dengan aktivitas terorisme di dalam negeri, namun dapat
digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam penetapan kebijakan pencegahan dan
penanggulangan terorisme di Indonesia terutama dalam hal pelaksanaan perang
melawan terorisme global.

Dalam hal kerjasama penanggulangan dan pencegahan terorisme secara lintas


negara dilaksanakan melalui peningkatan kapasitas kelembagaan dan peningkatan
infrastruktur aturan hukum. Kerjasama penanganan terorisme ini merupakan hal yang
II.5 - 1
sangat penting dalam penelusuran, pendeteksian serta pengungkapan jaringan terorisme
global yang menempatkan kaki tangan pelaku tindak terorisme dalam wilayah antar
negara. Pada tahun 2005, Indonesia telah meresmikan kerjasama bilateral di bidang
counter terrorism diantaranya adalah dengan Polandia melalui penandatanganan
Agreement on Cooperation in Combating Transnational Crime and Other Types of
Crime dan dengan Vietnam melalui MoU on Cooperation and Combating Crime.

Sementara itu, dalam konteks kerjasama multilateral, Indonesia terlibat dalam


ASEAN – Republic of Korea Joint Declaration for Cooperation to Combat International
Terrorism, ASEAN – Pakistan Joint Declaration for Cooperation to Combat
International Terrorism, dan ASEAN – New Zealand Joint Declaration for Cooperation
to Combat International Terrorism, serta yang paling baru adalah dalam ASEAN
Summits pada Januari 2007 juga telah diresmikan melalui penandatanganan
kesepakatan ASEAN Convention on Counter Terrorism. Dengan peningkatan kerjasama
tersebut diharapakan akan dapat meningkatkan keberhasilan dalam penanggulangan dan
pencegahan terorisme. Disamping dalam forum tersebut, Indonesia juga aktif dalam
forum APEC yang secara rutin mengadakan Counter Terrorisme Task Force (CTTF).
Sebuah forum ekonomi yang juga selalu membahas tentang penanganan terorisme.

Mengenai upaya peningkatan infrastruktur aturan hukum, pemerintah bersama


dengan DPR telah berhasil meratifikasi dua konvensi internasional yaitu International
Convention for Suppression of the Financing of Terrorism (1999) dan International
Convention for the suppression of Terrorism Bombings (1997). Melalui ratifikasi
tersebut, Indonesia bertekat turut berperan aktif dalam penanggulangan aksi-aksi
terorisme yang bertaraf internasional. Ratifikasi konvensi tersebut merupakan komitmen
Indonesia untuk meningkatkan kerjasama internasional dalam mencegah peledakan bom
dan pendanaan terorisme. Infrastruktur lain yang sangat penting bagi Indonesia dalam
upaya pencegahan dan penanggulangan terorisme adalah peningkatkan kelembagaan
Badan Penanganan Terorisme. Dengan tercapainya peningkatan lembaga tersebut yang
semula hanya merupakan Desk Antiteror pada Kantor Kementerian Koordinator Bidang
Politik, Hukum dan Keamanan, efektivitas koordinasi dan penanganan masalah-masalah
terorisme menjadi dapat ditingkatkan.

Kemampuan dalam mendeteksi, mengungkap dan menangkap para pelaku serta


mengungkap jaringan terorisme merupakan harapan bagi seluruh elemen bangsa.
Dengan belum tertangkapnya secara keseluruhan para pelaku dan tokoh kunci
terorisme, maka tantangan utama dalam pencegahan dan penanggulangan terorisme
dalam tahun 2008 adalah bagaimana meningkatkan kinerja aparat keamanan dan
intelijen dalam mengantisipasi, menangani, dan evakuasi aksi dan ancaman terorisme.

B. SASARAN PEMBANGUNAN TAHUN 2008

Sasaran pokok yang akan dicapai dalam upaya pencegahan dan penanggulangan
terorisme pada tahun 2008 adalah sebagai berikut:
1. Terungkapnya jaringan terorisme serta tertangkapnya tokoh-tokoh utama terorisme;
2. Terdeteksi dan terungkapnya jaringan kejahatan transnasional dan jaringan
terorisme;

II.5 - 2
3. Meningkatnya peran serta masyarakat dalam penanggulangan aksi terorisme;
4. Meningkatnya daya cegah dan daya tangkal negara terhadap ancaman terorisme
secara keseluruhan.

C. ARAH KEBIJAKAN PEMBANGUNAN TAHUN 2008

Arah kebijakan yang akan ditempuh dalam rangka mencegah dan menanggulangi
kejahatan terorisme pada tahun 2008 adalah sebagai berikut:
1. Meningkatkan sistem koordinasi dan kapasitas lembaga pemerintah dalam
pencegahan dan penanggulangan terorisme;
2. Memperkuat kesatuan anti teror dalam mencegah, menindak, dan mengevakuasi
aksi terorisme;
3. Melaksanakan penegakan hukum dalam penanggulangan terorisme berdasarkan
prinsip demokrasi dan HAM;
4. Meningkatkan kegiatan dan operasi penggulangan aksi terorisme melalui antisipasi
dan penanganan serta penangkapan tokoh-tokoh utama pelaku terorisme;
5. Meningkatkan ketahanan masyarakat dalam penanggulangan aksi-aksi terorisme.

II.5 - 3