Anda di halaman 1dari 207

Iskandar Muda

TEKNIK SURVEI
DAN PEMETAAN
JILID 3

SMK

Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan


Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah
Departemen Pendidikan Nasional
Hak Cipta pada Departemen Pendidikan Nasional
Dilindungi Undang-undang

TEKNIK SURVEI
DAN PEMETAAN
JILID 3

Untuk SMK
Penulis : Iskandar Muda

Perancang Kulit : TIM

Ukuran Buku : 18,2 x 25,7 cm

MUD MUDA, Iskandar.


t Teknik Survei dan Pemetaan Jilid 3 untuk SMK oleh
Iskandar Muda ---- Jakarta : Direktorat Pembinaan Sekolah
Menengah Kejuruan, Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan
Dasar dan Menengah, Departemen Pendidikan Nasional, 2008.
x, 175 hlm
Daftar Pustaka : Lampiran. A
Glosarium : Lampiran. B
Daftar Tabel : Lampiran. C
Daftar Gambar : Lampiran. D
ISBN : 978-979-060-151-2
ISBN : 978-979-060-154-3

Diterbitkan oleh
Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan
Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah
Departemen Pendidikan Nasional
Tahun 2008
KATA SAMBUTAN

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, berkat rahmat dan karunia
Nya, Pemerintah, dalam hal ini, Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah
Kejuruan Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah
Departemen Pendidikan Nasional, pada tahun 2008, telah melaksanakan
penulisan pembelian hak cipta buku teks pelajaran ini dari penulis untuk
disebarluaskan kepada masyarakat melalui website bagi siswa SMK.

Buku teks pelajaran ini telah melalui proses penilaian oleh Badan Standar
Nasional Pendidikan sebagai buku teks pelajaran untuk SMK yang
memenuhi syarat kelayakan untuk digunakan dalam proses pembelajaran
melalui Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 12 tahun 2008.

Kami menyampaikan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada seluruh


penulis yang telah berkenan mengalihkan hak cipta karyanya kepada
Departemen Pendidikan Nasional untuk digunakan secara luas oleh para
pendidik dan peserta didik SMK di seluruh Indonesia.

Buku teks pelajaran yang telah dialihkan hak ciptanya kepada Departemen
Pendidikan Nasional tersebut, dapat diunduh (download), digandakan,
dicetak, dialihmediakan, atau difotokopi oleh masyarakat. Namun untuk
penggandaan yang bersifat komersial harga penjualannya harus memenuhi
ketentuan yang ditetapkan oleh Pemerintah. Dengan ditayangkannya soft
copy ini akan lebih memudahkan bagi masyarakat untuk mengaksesnya
sehingga peserta didik dan pendidik di seluruh Indonesia maupun sekolah
Indonesia yang berada di luar negeri dapat memanfaatkan sumber belajar
ini.

Kami berharap, semua pihak dapat mendukung kebijakan ini. Selanjutnya,


kepada para peserta didik kami ucapkan selamat belajar dan semoga dapat
memanfaatkan buku ini sebaik-baiknya. Kami menyadari bahwa buku ini
masih perlu ditingkatkan mutunya. Oleh karena itu, saran dan kritik sangat
kami harapkan.

Jakarta,
Direktur Pembinaan SMK
ii

PENGANTAR PENULIS

Penulis mengucapkan puji syukur ke Hadirat Allah SWT karena atas ridho-Nya buku
teks “Teknik Survei dan Pemetaan” dapat diselesaikan dengan baik. Buku teks “Teknik
Survei dan Pemetaan” ini dibuat berdasarkan penelitian-penelitian yang pernah dibuat,
silabus mata kuliah Ilmu Ukur Tanah untuk mahasiswa S1 Pendidikan Teknik Sipil dan D3
Teknik Sipil FPTK UPI serta referensi-referensi yang dibuat oleh penulis dalam dan luar
negeri.
Tahap-tahap pembangunan dalam bidang teknik sipil dikenal dengan istilah SIDCOM
(survey, investigation, design, construction, operation and mantainance). Ilmu Ukur Tanah
termasuk dalam tahap studi penyuluhan (survey) untuk memperoleh informasi spasial
(keruangan) berupa informasi kerangka dasar horizontal, vertikal dan titik-titik detail yang
produk akhirnya berupa peta situasi.
Buku teks ini dibuat juga sebagai bentuk partisipasi pada Program Hibah Penulisan
Buku Teks 2006 yang dikoordinir oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada
Masyarakat, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi. Penulis mengucapkan terima kasih :
1. Kepada Yth. Prof.Dr. H. Sunaryo Kartadinata, M.Pd, selaku Rektor Universitas
Pendidikan Indonesia di Bandung,
2. Kepada Yth. Drs. Sabri, selaku Dekan Fakultas Pendidikan Teknologi dan Kejuruan
Universitas Pendidikan Indonesia di Bandung,
atas perhatian dan bantuannya pada proposal buku teks yang penulis buat.
Sesuai dengan pepatah “Tiada Gading yang Tak Retak”, penulis merasa masih
banyak kekurangan-kekurangan yang terdapat dalam proposal buku teks ini, baik
substansial maupun redaksional. Oleh sebab itu saran-saran yang membangun sangat
penulis harapkan dari para pembaca agar buku teks yang penulis buat dapat terwujud
dengan lebih baik di masa depan.
Semoga proposal buku teks ini dapat bermanfaat bagi para pembaca umumnya dan
penulis khususnya serta memperkaya khasanah buku teks bidang teknik sipil di perguruan
tinggi (akademi dan universitas). Semoga Allah SWT juga mencatat kegiatan ini sebagai
bagian dari ibadah kepada-Nya. Amin.

Bandung, 26 Juni 2008


Penulis,

Dr.Ir.H.Iskandar Muda Purwaamijaya, MT


NIP. 131 930 250

ii
iii

DAFTAR ISI Dasar Vertikal 91


4.3. Prosedur Pengukuran Sipat Datar
JILID 1 Kerangka Dasar Vertikal 95
4.4. Pengolahan Data Sipat Datar
Pengantar Direktur Pembinaan SMK i Kerangka Dasar Vertikal 103
Pengantar Penulis ii 4.5. Penggambaran Sipat Datar
Daftar Isi iv Kerangka Dasar Vertikal 104
Deskripsi Konsep xvi
Peta Kompetensi xvii 5. Proyeksi Peta, Aturan Kuadran dan
Sistem Kordinat 120

1. Pengantar Survei dan Pemetaan 1 5.1. Proyeksi Peta 120


5.2. Aturan Kuadran 136
1.1. Plan Surveying dan Geodetic 5.3. Sistem Koordinat 137
Surveying 1 5.4. Menentukan Sudut Jurusan 139
1.2. Pekerjaan Survei dan Pemetaan 5 JILID 2
1.3. Pengukuran Kerangka Dasar
Vertikal 6
1.4. Pengukuran Kerangka Dasar 6. Macam Besaran Sudut 144
Horizontal 11
1.5. Pengukuran Titik-Titik Detail 18
6.1. Macam Besaran Sudut 144
6.2. Besaran Sudut dari Lapangan 144
2. Macam-Macam Kesalahan dan 6.3. Konversi Besaran Sudut 145
Cara Mengatasinya 25
6.4. Pengukuran Sudut 160

2.1. Kesalahan-Kesalahan pada 7. Jarak, Azimuth dan Pengikatan ke


Survei dan Pemetaan 25 Muka 189
2.2. Kesalahan Sistematis 46
2.3. Kesalahan Acak 50 7.1. Mengukur Jarak dengan Alat
2.4. Kesalahan Besar 50 Sederhana 189
7.2. Pengertian Azimuth 192
7.3. Tujuan Pengikatan ke Muka 197
3. Pengukuran Kerangka Dasar
7.4. Prosedur Pengikatan Ke muka 199
Vertikal 60
7.5. Pengolahan Data Pengikatan
Kemuka 203
3.1. Pengertian 60
3.2. Pengukuran Sipat Datar Optis 60 8. Cara Pengikatan ke Belakang
3.3. Pengukuran Trigonometris 78 Metoda Collins 208
3.4. Pengukuran Barometris 81

4. Pengukuran Sipat Datar Kerangka 8.1. Tujuan Cara Pengikatan ke


Dasar Vertikal 90 Belakang Metode Collins 210
8.2. Peralatan, Bahan dan Prosedur
Pengikatan ke Belakang Metode
4.1. Tujuan dan Sasaran Pengukuran Collins 211
Sipat Datar Kerangka Dasar 8.3. Pengolahan Data Pengikatan ke
Vertikal 90 Belakang Metode Collins 216
4.2. Peralatan, Bahan dan Formulir 8.4. Penggambaran Pengikatan ke
Ukuran Sipat Datar Kerangka Belakang Metode Collins 228
iv

9. Cara Pengikatan ke Belakang Metoda 13. Garis Kontur, Sifat dan


Cassini 233 Interpolasinya 378

9.1. Tujuan Pengikatan ke Belakang 13.1. Pengertian Garis Kontur 378


Metode Cassini 234 13.2. Sifat Garis Kontur 379
9.2. Peralatan, Bahan dan Prosedur 13.3. Interval Kontur dan Indeks Kontur 381
Pengikatan ke Belakang Metode 13.4. Kemiringan Tanah dan Kontur
Cassini 235 Gradient 382
9.3. Pengolahan Data Pengikatan ke 13.5. Kegunaan Garis Kontur 382
Belakang Metode Cassini 240 13.6. Penentuan dan Pengukuran Titik
9.4. Penggambaran Pengikatan ke Detail untuk Pembuatan Garis
Belakang Metode Cassini 247 Kontur 384
13.7. Interpolasi Garis Kontur 386
13.8. Perhitungan Garis Kontur 387
10. Pengukuran Poligon Kerangka
13.9. Prinsip Dasar Penentuan Volume 387
Dasar Horisontal 252
13.10. Perubahan Letak Garis Kontur
di Tepi Pantai 388
10.1. Tujuan Pengukuran Poligon 13.11. Bentuk-Bentuk Lembah dan
Kerangka Dasar Horizontal 252 Pegunungan dalam Garis Kontur 390
10.2. Jenis-Jenis Poligon 254 13.12.Cara Menentukan Posisi, Cross
10.3. Peralatan, Bahan dan Prosedur Bearing dan Metode
Pengukuran Poligon 264 Penggambaran 392
10.4. Pengolahan Data Pengukuran 13.13 Pengenalan Surfer 393
Poligon 272
10.5. Penggambaran Poligon 275 14. Perhitungan Galian dan
Timbunan 408
11. Pengukuran Luas 306
14.1. Tujuan Perhitungan Galian dan
Timbunan 408
11.1. Metode-Metode Pengukuran Luas 306 14.2. Galian dan Timbunan 409
11.2. Prosedur Pengukuran Luas 14.3. Metode-Metode Perhitungan
dengan Perangkat Lunak Galian dan Timbunan 409
AutoCAD 331 14.4. Pengolahan Data Galian dan
Timbunan 421
14.5. Perhitungan Galian dan Timbunan 422
JILID 3 14.6. Penggambaran Galian dan
Timbunan 430
12. Pengukuran Titik-titik Detail Metoda
Tachymetri 337 15. Pemetaan Digital 435

12.1.Tujuan Pengukuran Titik-Titik 15.1. Pengertian Pemetaan Digital 435


Detail Metode Tachymetri 337 15.2. Keunggulan Pemetaan Digital
12.2.Peralatan, Bahan dan Prosedur Dibandingkan Pemetaan
Pengukuran Tachymetri 351 Konvensional 435
15.3. Bagian-Bagian Pemetaan Digital 436
12.3. Pengolahan Data Pengukuran 15.4. Peralatan, Bahan dan Prosedur
Tachymetri 359 Pemetaan Digital 440
12.4. Penggambaran Hasil Pengukuran 15.5. Pencetakan Peta dengan Kaidah
Tachymetri 360 Kartografi 463
v

16. Sistem Informasi Geografis 469

16.1. Pengertian Dasar Sistem


Informasi Geografis 469
16.2. Keuntungan SIG 469
16.3. Komponen Utama SIG 474
16.4. Peralatan, Bahan dan Prosedur
Pembangunan SIG 479
16.5. Jenis-Jenis Analisis Spasial
dengan Sistem Informasi
Geografis dan Aplikasinya pada
Berbagai Sektor Pembangunan 488

Lampiran
Daftar Pustaka ........... A
Glosarium ............................... B
Daftar Tabel ............................ C
Daftar Gambar ........................ D
vi

DESKRIPSI

Buku Teknik Survei dan Pemetaan ini menjelaskan ruang lingkup Ilmu ukur
tanah, pekerjaan-pekerjaan yang dilakukan pada Ilmu Ukur tanah untuk
kepentingan studi kelayakan, perencanaan, konstruksi dan operasional pekerjaan
teknik sipil. Selain itu, dibahas tentang perkenalan ilmu ukur tanah, aplikasi teori
kesalahan pada pengukuran dan pemetaan, metode pengukuran kerangka dasar
vertikal dan horisontal, metode pengukuran titik detail, perhitungan luas, galian
dan timbunan, pemetaan digital dan sistem informasi geografis.

Buku ini tidak hanya menyajikan teori semata, akan tetapi buku ini
dilengkapi dengan penduan untuk melakukan praktikum pekerjaan dasar survei.
Sehingga, diharapkan peserta diklat mampu mengoperasikan alat ukur waterpass
dan theodolite, dapat melakukan pengukuran sipat datar, polygon dan tachymetry
serta pembuatan peta situasi.
vii

PETA KOMPETENSI

Program diklat : Pekerjaan Dasar Survei


Tingkat : x (sepuluh)
Alokasi Waktu : 120 Jam pelajaran
Kompetensi : Melaksanakan Dasar-dasar Pekerjaan Survei

Pembelajaran
No Sub Kompetensi
Pengetahuan Keterampilan
1 Pengantar survei dan a. Memahami ruang lingkup plan Menggambarkan diagram
pemetaan surveying dan geodetic alur ruang lingkup pekerjaan
b. Memahami ruang lingkup survei dan pemetaan
pekerjaan survey dan
pemetaan
c. Memahami pengukuran
kerangka dasar vertikal
d. Memahami Pengukuran
kerangka dasar horisontal
e. Memahami Pengukuran titik-
titik detail
2 Teori Kesalahan a. Mengidentifikasi kesalahan-
kesalahan pada pekerjaan
survey dan pemetaan
b. Mengidentifikasi kesalahan
sistematis (systematic error)
c. Mengidentifikasi Kesalahan
Acak (random error)
d. Mengidentifikasi Kesalahan
Besar (random error)
e. Mengeliminasi Kesalahan
Sistematis
f. Mengeliminasi Kesalahan
Acak
3 Pengukuran kerangka a. Memahami penggunaan sipat Dapat melakukan
dasar vertikal datar kerangka dasar vertikal pengukuran kerangka dasar
b. Memahami penggunaan vertikal dengan
trigonometris menggunakan sipat datar,
c. Memahami penggunaan trigonometris dan
barometris barometris.
4 Pengukuran sipat dasar a. Memahami tujuan dan Dapat melakukan
kerangka dasar vertikal sasaran pengukuran sipat pengukuran kerangka dasar
datar kerangka dasar vertikal vertikal dengan
b. Mempersiapkan peralatan, menggunakan sipat datar
bahan dan formulir kemudian mengolah data
pengukuran sipat datar dan menggambarkannya.
kerangka dasar vertikal
c. Memahami prosedur
pengukuran sipat datar
kerangka dasar vertikal
d. Dapat mengolah data sipat
datar kerangka dasar vertikal
Dapat menggambaran sipat
datar kerangka dasar vertikal
viii

Pembelajaran
No Sub Kompetensi
Pengetahuan Keterampilan
5 Proyeksi peta, aturan a. Memahami pengertian Membuat Proyeksi peta
kuadran dan sistem proyeksi peta, aturan kuadran berdasarkan aturan kuadran
koordinat dan sistem koordinat dan sisten koordinat
b. Memahami jenis-jenis
proyeksi peta dan aplikasinya
c. Memahami aturan kuadran
geometrik dan trigonometrik
d. Memahami sistem koordinat
ruang dan bidang
e. Memahami orientasi survei
dan pemetaan serta aturan
kuadran geometrik
6 Macam besaran sudut a. Mengetahui macam besaran Mengaplikasikan besaran
sudut sudut dilapangan untuk
b. Memahami besaran sudut pengolahan data.
dari lapangan
c. Dapat melakukan konversi
besaran sudut
d. Memahami besaran sudut
untuk pengolahan data

7 Jarak, azimuth dan a. Memahami pengertian jarak Mengukur jarak baik dengan
pengikatan kemuka pada survey dan pemetaan alat sederhana maupun
b. Memahami azimuth dan sudut dengan pengikatan ke
jurusan muka.
c. Memahami tujuan pengikatan
ke muka
d. Mempersiapkan peralatan,
bahan dan prosedur
pengikatan ke muka
e. Memahami pengolahan data
pengikatan ke muka
f. Memahami penggambaran
pengikatan ke muka

8 Cara pengikatan ke a. Tujuan Pengikatan ke Mencari koordinat dengan


belakang metode Belakang Metode Collins metode Collins.
collins b. Peralatan, Bahan dan
Prosedur Pengikatan ke
Belakang Metode Collins
c. Pengolahan Data Pengikatan
ke Belakang Metoda Collins
d. Penggambaran Pengikatan ke
Belakang Metode Collins

9 Cara pengikatan ke a. Memahami tujuan pengikatan Mencari koordinat dengan


belakang metode ke belakang metode cassini metode Cassini.
Cassini b. Mempersiapkan peralatan,
bahan dan prosedur
pengikatan ke belakang
metode cassini
c. Memahami pengolahan data
pengikatan ke belakang
metoda cassini
d. Memahami penggambaran
pengikatan ke belakang
metode cassini
ix

Pembelajaran
No Sub Kompetensi
Pengetahuan Keterampilan
10 Pengukuran poligon a. Memahami tujuan Dapat melakukan
kerangka dasar pengukuran poligon pengukuran kerangka dasar
horisontal b. Memahami kerangka dasar horisontal (poligon).
horisontal
c. Mengetahui jenis-jenis poligon
d. Mempersiapkan peralatan,
bahan dan prosedur
pengukuran poligon
e. Memahami pengolahan data
pengukuran poligon
f. Memahami penggambaran
poligon
11 Pengukuran luas a. Menyebutkan metode-metode Menghitung luas
pengukuran luas bedasarkan hasil dilapangan
b. Memahami prosedur dengan metoda saruss,
pengukuran luas dengan planimeter dan autocad.
metode sarrus
c. Memahami prosedur
pengukuran luas dengan
planimeter
d. Memahami prosedur
pengukuran luas dengan
autocad
12 Pengukuran titik-titik a. Memahami tujuan Melakukan pengukuran titik-
detail pengukuran titik-titik detail titik dtail metode tachymetri.
metode tachymetri
b. Mempersiapkan peralatan,
bahan dan prosedur
pengukuran tachymetri
c. Memahami pengolahan data
pengukuran tachymetri
d. Memahami penggambaran
hasil pengukuran tachymetri

13 Garis kontur, sifat dan a. Memahami pengertian garis Membuat garis kontur
interpolasinya kontur berdasarkan data yang
b. Menyebutkan sifat-sifat garis diperoleh di lapangan.
kontur
c. Mengetahui cara penarikan
garis kontur
d. Mengetahui prosedur
penggambaran garis kontur
e. Memahami penggunaan
perangkat lunak surfer

14 Perhitungan galian dan a. Memahami tujuan Menghitung galian dan


timbunan perhitungan galian dan timbunan.
timbunan
b. Memahami metode-metode
perhitungan galian dan
timbunan
c. Memahami pengolahan data
galian dan timbunan
d. Mengetahui cara
penggambaran galian dan
timbunan
x

Pembelajaran
No Sub Kompetensi
Pengetahuan Keterampilan
15 Pemetaan digital a. Memahami pengertian
pemetaan digital
b. Mengetahui keunggulan
pemetaan digital
dibandingkan pemetaan
konvensional
c. Memahami perangkat keras
dan perangkat lunak
pemetaan digital
d. Memahami pencetakan peta
dengan kaidah kartografi
16 Sisitem informasi a. Memahami pengertian sistem
geografik informasi geografik
b. Memahami keunggulan
sistem informasi geografik
dibandingkan pemetaan
digital perangkat keras dan
perangkat lunak sistem
informasi geografik
c. Mempersiapkan peralatan,
bahan dan prosedur
pembangunan sistem
informasi geografik
d. Memahami jenis-jenis analisis
spasial dengan sistem
informasi geografik dan
aplikasinya pada berbagai
sektor pembangunan
12 Pengukuran Titik-Titik Detail Metode Tachymetri 337

12. Pengukuran Titik-titik Detail Metode Tachymetri

Metode offset menggunakan peralatan


12. 1. Tujuan pengukuran titik-
titik detail metode sederhana, seperti pita ukur, jalon, meja
tachymetri ukur, mistar, busur derajat, dan lain
sebagainya. Metode tachymetri
Untuk keperluan pengukuran dan pemetaan menggunakan peralatan dengan teknologi
selain pengukuran kerangka dasar vertikal lensa optis dan elektronis digital.
yang menghasilkan tinggi titik-titik ikat dan Pengukuran metode tachymetri mempunyai
pengukuran kerangka dasar horizontal yang keunggulan dalam hal ketepatan dan
menghasilkan koordinat titik-titik ikat juga kecepatan dibandingkan metode offset.
perlu dilakukan pengukuran titik-titik detail Pengukuran tiitk-titik detail metode
untuk menghasilkan titik-titik detail yang tachymetri ini relatif cepat dan mudah
tersebar di permukaan bumi yang karena yang diperoleh dari lapangan adalah
menggambarkan situasi daerah pembacaan rambu, sudut horizontal
pengukuran. (azimuth magnetis), sudut vertikal (zenith

Pengukuran titik-titik detail dilakukan atau inklinasi) dan tinggi alat. Hasil yang

sesudah pengukuran kerangka dasar diperoleh dari pengukuran tachymetri

vertikal dan pengukuran kerangka dasar adalah posisi planimetris X, Y, dan

horizontal dilakukan. Pengukuran titik-titik ketinggian Z.

detail mempunyai orde ketelitian lebih


12.1.1 Sejarah Tachymetri
rendah dibandingkan orde pengukuran
kerangka dasar. “Metode Stadia” yang disebut “Tachymetri”
di Eropa, adalah cara yang cepat dan
Pengukuran titik-titik detail dengan metode
efisien dalam mengukur jarak yang cukup
tachymetri pada dasarnya dilakukan dengan
teliti untuk sipat datar trigonometri,
menggunakan peralatan dengan teknologi
beberapa poligon dan penentuan lokasi
lensa optis dan elektronis digital.
detail-detail fotografi. Lebih lanjut, di dalam
Dalam pengukuran titik-titik detail pada metode ini cukup dibentuk regu 2 atau 3
prinsipnya adalah menentukan koordinat orang, sedangkan pada pengukuran
dan tinggi titik –titik detail dari titik-titik ikat. dengan transit dan pita biasanya diperlukan
Pengukuran titik-titik detail pada dasarnya 3 atau 4 orang.
dapat dilakukan dengan 2 metode, yaitu
Stadia berasal dari kata Yunani untuk
offset dan tachymetri.
satuan panjang yang asal-mulanya
12 Pengukuran Titik-Titik Detail Metode Tachymetri 338

diterapkan dalam pengukuran jarak-jarak cara ini diperlukan alat yang dapat
untuk pertandingan atletik – dari sinilah mengukur arah dan sekaligus mengukur
muncul kata “stadium (stadio) ” dalam jarak, yaitu Teodolite Kompas atau BTM
pengertian modern. Kata ini menyatakan (Boussole Tranche Montage). Pada alat-
600 satuan Yunani (sama dengan “feet”), alat tersebut arah-arah garis di lapangan
atau 606 ft 9 in dalam ketentuan Amerika diukur dengan jarum kompas sedangkan
sekarang. untuk jarak digunakan benang silang
diafragma pengukur jarak yang terdapat
Istilah stadia sekarang dipakai untuk benang
pada teropongnya. Salah satu theodolite
silang dan rambu yang dipakai dalam
kompas yang banyak digunakan misalnya
pengukuran, maupun metodenya sendiri.
theodolite WILD TO.
Pembacaan optis (stadia) dapat dilakukan
dengan transit, theodolite, alidade dan alat Tergantung dengan jaraknya, dengan cara
sipat datar. ini titik-titik detail dapat diukur dari titik

Peralatan stasiun kota yang baru, kerangka dasar atau dari titik-titik penolong

menggabungkan theodolite, EDM, dan yang diikatkan pada titik kerangka dasar.

kemampuan mencatat-menghitung hingga


12.1.3 Pengukuran tachymetri untuk
reduksi jarak lereng secara otomatis dan
titik bidik horizontal
sudut vertikal. Yang dihasilkan adalah
Selain benang silang tengah, diafragma
pembacaan jarak horizontal dan selisih
transit atau theodolite untuk tachymetri
elevasi, bahkan koordinat. Jadi peralatan
mempunyai dua benang horizontal
baru tadi dapat memperkecil regu lapangan
tambahan yang ditempatkan sama jauh dari
dan mengambil alih banyak proyek
tengah (gambar 22). Interval antara benang
tachymetri. Namun demikian, prinsip
– benang stadia itu pada kebanyakan
pengukuran tachymetri dan metodenya
instrumen memberikan perpotongan vertikal
memberikan konsepsi-konsepsi dasar dan
1 ft pada rambu yang dipasang sejauh 100
sangat mungkin dipakai terus menerus.
ft ( 1 m pada jarak 100 m ). Jadi jarak ke
12.1.2 Pengenalan Tachymetri
rambu yang dibagi secara desimal dalam
Pengukuran titik-titik detail dengan metode feet, persepuluhan dan perseratusan dapat
Tachymetri ini adalah cara yang paling langsung dibaca sampai foot terdekat. Ini
banyak digunakan dalam praktek, terutama sudah cukup seksama untuk menentukan
untuk pemetaan daerah yang luas dan detail-detail fotografi, seperti; sungai,
untuk detail-detail yang bentuknya tidak jembatan, dan jalan yang akan digambar
beraturan. Untuk dapat memetakan dengan pada peta dengan skala lebih kecil daripada
12 Pengukuran Titik-Titik Detail Metode Tachymetri 339

1 in = 100 ft, dan kadang-kadang untuk f = jarak pumpun lensa (sebuah tatapan
skala lebih besar misalnya; 1 in = 50 ft. untuk gabungan lensa objektif
tertentu). Dapat ditentukan dengan
f1 d
f
2

C
c f d
i A
m b'
b

R
a
a' f B

Prinsip tachymetri; teropong pumpunan luar

Gambar 321. Prinsip tachymetri

Metode tachymetri didasarkan pada prinsip


bahwa pada segitiga-segitiga sebangun, sisi pumpunan pada objek yang jauh dan

yang sepihak adalah sebanding. Pada mengukur jarak antara pusat lensa

gambar 321, yang menggambarkan objektif (sebenarnya adalah titik

teropong pumpunan-luar, berkas sinar dari simpul dengan diafragma), (jarak

titik A dan B melewati pusat lensa pumpun = focal length).

membentuk sepasang segitiga sebangun f1 = jarak bayangan atau jarak dari pusat

AmB dan amb. Dimana ; AB = R adalah (titik simpul) lensa obyektif ke bidang

perpotongan rambu (internal stadia) dan ab benang silang sewaktu teropong

adalah selang antara benang-benang terpumpun pada suatu titik tertentu.

stadia. F2 = jarak obyek atau jarak dari pusat (titik


simpul) dengan titik tertentu sewaktu
Simbol-simbol baku yang dipakai dalam
teropong terpumpun pada suatu titik
pengukuran tachymetri :
itu. Bila f2 tak terhingga atau amat
besar, maka f1 = f.
12 Pengukuran Titik-Titik Detail Metode Tachymetri 340

i. = selang antara benang – benang adalah 4,27 ft, jarak dari instrumen ke
Stadia. rambu adalah 427 + 1 = 428 ft.
f/i .= faktor penggali, biasanya 100 (stadia
Yang telah dijelaskan adalah teropong
interval factor).
pumpunan luar jenis lama, karena dengan
c = jarak dari pusat instrumen (sumbu I)
gambar sederhana dapat ditunjukkan
ke pusat lensa obyektif. Harga c
hubungan-hubungan yang benar. Lensa
sedikit beragam sewaktu lensa
obyektif teropong pumpunan dalam (jenis
obyektif bergerak masuk atau keluar
yang dipakai sekarang pada instrumen ukur
untuk pembidikan berbeda, tetapi
tanah) mempunyai kedudukan terpasang
biasa dianggap tetapan.
tetap sedangkan lensa pumpunan negatif
C = c + f. C disebut tetapan stadia,
dapat digerakkan antara lensa obyektif dan
walaupun sedikit berubah karena c
bidang benang silang untuk mengubah arah
d. = jarak dari titik pumpun di depan
berkas sinar. Hasilnya, tetapan stadia
teropong ke rambu.
menjadi demikian kecil sehingga dapat
D = C + d = jarak dari pusat instrumen ke
dianggap nol.
permukaan rambu
Benang stadia yang menghilang dulu
Dari gambar 321, didapat :
dipakai pada beberapa instrumen lama
d R f untuk menghindari kekacauan dengan
= atau d = R
f i. i benang tengah horizontal. Diafragma dari
kaca yang modern dibuat dengan garis-
f garis stadia pendek dan benang tenaga
dan D = R +C
i yang penuh (gambar 2) memberikan hasil
Benang-benang silang jarak optis tetap yang sama secara lebih berhasil guna.
pada transit, theodolite, alat sipat datar dan Faktor pengali harus ditentukan pada
dengan cermat diatur letaknya oleh pabrik pertama kali instrumen yang dipakai,
instrumennya agar faktor pengali f/i. Sama walaupun harga tepatnya dari pabrik yang
dengan 100. Tetapan stadia C berkisar dari ditempel di sebelah dalam kotak pembawa
kira-kira 0,75 sampai 1,25 ft untuk teropong- tak akan berubah kecuali benang silang,
teropong pumpunan luar yang berbeda, diafragma, atau lensa-lensa diganti atau
tetapi biasanya dianggap sama dengan 1 ft. diatur pada model-model lama.
Satu-satunya variabel di ruas kanan Untuk menentukan faktor pengali,
persamaan adalah R yaitu perpotongan R perpotongan rambu R dibaca untuk bidikan
horizontal berjarak diketahui sebesar D.
12 Pengukuran Titik-Titik Detail Metode Tachymetri 341

Kemudian, pada bentuk lain persamaan Pada gambar, sebuah transit dipasang
faktor pengali adalah f/i.= (D-C)/R. pada suatu titik dan rambu dipegang pada
Sebagai contoh: titik tertentu. Dengan benang silang tengah
Pada jarak 300,0 ft interval rambu terbaca dibidikkan pada rambu ukur sehingga tinggi
3,01. Harga-harga untuk f dan c terukur t sama dengan tinggi theodolite ke tanah.
sebesar 0,65 dan 0,45 ft berturut-turut; sudut vertikalnya (sudut kemiringan)
karenanya, C =1,1 ft. Kemudian f/i. = (300,0 terbaca sebesar D. Perhatikan bahwa
–1,1)/3,01 = 99,3. Ketelitian dalam dalam pekerjaan tachymetri tinggi
menentukan f/i. Meningkat dengan instrumen adalah tinggi garis bidik diukur
mengambil harga pukul rata dari beberapa dari titik yang diduduki (bukan TI, tinggi di
garis yang jarak terukurnya berkisar dari r atas datum seperti dalam sipat datar)
100–500 ft dengan kenaikan tiap kali 100 ft.
m = sudut miring.

12.1.4 Pengukuran tachymetri untuk Beda tinggi = D HAB = 50 ´ (BA – BB) .

bidikan miring sin 2m + i – t; t = BT

Kebanyakan pengukuran tachymetri adalah


Jarak datar = dAB = 100´(BA – BB)
dengan garis bidik miring karena adanya
cos2m
keragaman topografi, tetapi perpotongan
benang stadia dibaca pada rambu tegak
lurus dan jarak miring direduksi menjadi
jarak horizontal dan jarak vertikal.

Gambar 322. Sipat datar optis luas


12 Pengukuran Titik-Titik Detail Metode Tachymetri 342

Tabel-tabel, diagram, mistar hitung khusus, horizontal dan vertikal berturut-turut adalah
dan kalkulator elektronik telah dipakai oleh 99,45 dan 7,42 ft. Selanjutnya…
para juru ukur untuk memperoleh H = (99,45 x 5,28) + 1 = 526 ft
penyelesaiannya. Dalam Apendiks E V =(7,42 x 5,28)-0,08 =39,18+0,08 = 39,3 ft
memuat jarak-jarak horizontal dan vertikal Elevasi titik O adalah
untuk perpotongan rambu 1 ft dan sudut- Elevasi O = 268,2 + 5,6 + 39,3 – 5,6
sudut vertikal dari 0 sampai 16q, 74q sampai = 307,5 ft
90q, dan 90q sampai 106q untuk Rumus lengkap untuk menentukan selisih
pembacaan-pembacaan dari zenit). elevasi antara M dan O adalah
Elevo- elevM = t.i. + V – pembacaan
Sebuah tabel tak dikenal harus selalu
rambu
diselidiki dengan memasukkan harga-harga
di dalamnya yang akan memberikan hasil Keuntungan bidikan dengan pembacaan
yang telah diketahui. Sebagai contoh; sudut- sebesar t.i agar terbaca sudut vertikal,

sudut 1, 10 dan 15q dapat dipakai untuk sudah jelas. Karena pembacaan rambu dan

mengecek hasil-hasil memakai tabel. t.i berlawanan tanda, bila harga mutlaknya

Misalnya sebuah sudut vertikal 15q00’ sama akan saling menghilangkan dan
dapat dihapuskan dari hitungan elevasi.
(sudut zenit 75q), perpotongan rambu 1,00 ft
Jika t.i tak dapat terlihat karena terhalang,
dan tetapan stadia 1ft, diperoleh hasil-hasil
sembarang pembacaan rambu dapat dibidik
sebagai berikut.
dan persamaan sebelumnya dapat dipakai.
Dari tabel E-1: Memasang benang silang tengah pada
H = 93,30 x 1,00 +1 = 94,3 atau 94 ft tanda satu foot penuh sedikit di atas atau di
Contoh : bawah t.i menyederhanakan hitungannya.

untuk sudut sebesar 4q16’, elevasi M adalah Penentuan beda elevasi dengan tachymetri
268,2 ft ; t.i. = EM = 5,6; perpotongan rambu dapat dibandingkan dengan sipat datar
AB = R = 5,28 ft; sudut vertikal a ke titik D memanjang t.i. sesuai bidikan plus, dan
5,6 ft pada rambu adalah +4q16’; dan C = 1 pembacaan rambu sesuai bidikan minus.
ft. Hitunglah jarak H, beda elevasi V dan Padanya ditindihkan sebuah jarak vertikal
elevasi titik O. yang dapat plus atau minus, tandanya
Penyelesaian : tergantung pada sudut kemiringan. Pada
Untuk sudut 14q16’(sudut zenith 85q44’) dan bidikan-bidikan penting ke arah titik-titik dan
perpotongan rambu 1 ft, jarak-jarak patok-patok kontrol, galat-galat instrumental
akan dikurangi dengan prosedur lapangan
12 Pengukuran Titik-Titik Detail Metode Tachymetri 343

yang baik menggunakan prinsip timbal balik Rambu-rambu tachymetri biasa berbentuk
yaitu, membaca sudut–sudut vertikal satu batang, lipatan atau potongan-
dengan kedudukan teropong biasa dan luar potongan dengan panjang 10 atau 12 ft.
biasa. kalau dibuat lebih panjang dapat
meningkatkan jarak bidik tetapi makin berat
Pembacaan langsung pada rambu dengan
dan sulit ditangani. Seringkali bagian
garis bidik horizontal (seperti pada sipat
bawah satu atau dua dari rambu 12 ft akan
datar), bukan sudut vertikal, dikerjakan bila
terhalang oleh rumput atau semak, tinggal
keadaan memungkinkan untuk
sepanjang hanya 10 ft yang kelihatan.
menyederhanakan reduksi catatan-catatan.
Panjang bidikan maksimum dengan
Tinjauan pada suatu tabel menunjukkan
demikian adalah kira-kira 1000 ft. Pada
bahwa untuk sudut-sudut vertikal di bawah
bidikan yang lebih jauh, setengah interval
kira-kira 4q, selisih antara jarak mirng dan
(perpotongan antara benang tengan
jarak horizontal dapat diabaikan kecuali
dengan benang stadia atas atau bawah)
pada bidikan jauh (dimana galat pembacaan
dapat dibaca dan dilipatgandakan untuk
jarak juga lebih besar).
dipakai dalam persamaan reduksi
Dengan demikian teropong boleh miring tachymetri yang baku. Bila ada benang
beberapa derajat untuk pembacaan jarak perempatan antara benang tengah dengan
optis setelah membuat bidikan depan yang benang stadia atas, secara teoritis dapat
datar untuk memperoleh sudut vertikal. ditaksir jarak sejauh hampir 4000 ft. Pada
bidikan pendek, mungkin sampai 200 ft,
12.1.5 Rambu tachymetri rambu sipat datar biasa seperti jenis
philania sudah cukup memuaskan.
Berbagai jenis tanda dipakai pada rambu
tachymetri tetapi semua mempunyai bentuk- 12.1.6 Busur Beaman
bentuk geometrik yang menyolok dirancang
Busur beaman adalah sebuah alat yang
agar jelas pada jarak jauh. Kebanyakan
ditempatkan pada beberapa transit dan
rambu tachymetri telah dibagi menjadi feet
alidade untuk memudahkan hitungan-
dan persepuluhan (perseratusan diperoleh
hitungan tachymetri. Alat ini dapat
dengan interpolasi), tetapi pembagian skala
merupakan bagian dari lingkaran vertikal
sistem metrik sedang menjadi makin umum.
atau sebuah piringan tersendiri. Skala-skala
Warna-warna berbeda membantu
H dan V busur itu dibagi dalam persen.
membedakan angka-angka dan pembagian
Skala V menunjukkan selisih elevasi tiap
skala.
100 f jarak lereng, sedangakn skala H
12 Pengukuran Titik-Titik Detail Metode Tachymetri 344

memberikan koreksi tiap 100 ft untuk Instrumen-instrumen lain mempunyai busur


dikurangkan dari jarak tachymetri. Karena V serupa disebut lingkaran stadia dengan
berbanding lurus dengan ½ sin 2D dan skala V yang sama, tetapi skala H tidak
koreksi untuk H tergantung pada sin 2
D, memberikan koreksi presentase melainkan
selang-selang pembagian skala makin rapat sebuah pengali (multiplier)
bila sudut vertikal meningkat. Oleh karena
12.1.7 Tachymetri swa-reduksi
itu nonius tidak dapat dipakai disini, dan
pembacaan tepat hanya dapat dilakukan Tachymetri swa-reduksi dan alidade telah
dengan memasang busur pada pembacaan dikembangkan dimana garis-garis lengkung
angka bulat. stadia nampak bergerak memisah atau
saling mendekat sewaktu teropong diberi
Penunjuk skala V (indeks) terpasang agar
elevasi atau junam. Sebenarnya garis-garis
terbaca 50 (mungkin 30 atau 100 pada
itu digoreskan pada sebuah piringan kaca
beberapa instrumen) bila teropong
yang berputar mengelilingi sebuah rambu
horizontal untuk menghindari harga-harga
(terletak di luar teropong) sewaktu teropong
minus. Pembacaan lebih besar dari pada 50
dibidikkan ke sasaran.
diperoleh untuk bidikan-bidikan di atas
horizon, lebih kecil dari 50 di bawahnya. Pada gambar dibawah garis-garis atas dan
Ilmu hitung yang diperlukan dalam bawah (dua garis luar) melengkung untuk
pemakaian busur beaman disederhanakan menyesuaikan dengan keragaman dalam
dengan memasang skala V pada sebuah fungsi trigonometri cos2D dan dipakai untuk
angka bulat dan membiarkan benang silang pengukuran jarak. Dua garis dalam
tengah terletak di tempat dekat t.i. Skala H menentukan selisih elevasi dan
Kemudian umumnya tak akan terbaca pada melengkung untuk menggambarkan fungsi
angka bulat dan harga-harganya harus sin D cos D. Sebuah garis vertikal, tanda
diinterpolasi. Ini penting karena hitungannya silang tengah, dan garis-garis stadia
tetap sederhana. pendek merupakan tanda pada piringan

Elevasi sebuah titik B yang dibidik dengan gelas kedua yang terpasang tetap,

transit terpasang di titik A didapat dengan terumpun serentak dengan garis-garis

rumus : lengkung.

Elev B = elev A + t.i. + (pembacaan busur Sebuah tetapan faktor pengali 100 dipakai

– 50) ( perpotongan rambu) – pembacaan untuk jarak horizontal. Faktor 20, 50, atau

rambu dengan benang tengah 100 diterapkan pada pengukuran beda


tinggi. Harganya tergantung pada sudut
12 Pengukuran Titik-Titik Detail Metode Tachymetri 345

lereng dan ditunjukkan oleh garis-garis pada langkah 7 pembacaan-pembacaan


pendek ditempatkan antara kurva-kurva skala-H dan skala-V dicatat.
elevasi. Sewaktu membaca jarak optis setelah
benang bawah ditempatkan pada sebuah
Tachymetri diagram lainnya pada dasarnya
tanda foot bulat, benang tengah tidak tepat
bekerja atas bekerja atas prinsip yang
pada t.i. atau pembagian skala terbaca
sama: Sudut vertikal secara otomatis
untuk sudut vertikal. Ini biasanya tidak
dipampas oleh pisahan garis stadia yang
menyebabkan galat yang berarti dalam
beragam. Sebuah tachymetri swa-reduksi
proses reduksi kecuali pada bidikan-bidikan
memakai sebuah garis horizontal tetap pada
panjang dan sudut-sudut vertikal curam.
sebuah diafragma dan garis horizontal
Bila rambu tidak tegak lurus tentu saja akan
lainnya pada diafragma kedua yang dapat
menyebabkan galat-galat yang berarti dan
bergerak, yang bekerja atas dasar
untuk mengatasi masalah ini dipakai nivo
perubahan sudut vertikal. Kebanyakan
rambu.
alidade planset memakai suatu jenis
prosedur reduksi tachymetri. Urutan pembacaan yang paling sesuai
untuk pekerjaan tachymetri yang
Sebuah rambu topo khusus yang berkaki
melibatkan sudut vertikal adalah sebagai
dapat dipanjangkan dengan angka nol
berikut :
terpasang pada t.i. biasanya dianjurkan
a. Bagi dua rambu dengan benang
untuk dipakai agar instrumen tachymetri
vertikal.
sepenuhnya swa-baca.
b. Dengan benang tengah kira-kira t.i.

12.1.8 Prosedur Lapangan letakkan benang bawah pada tanda


sebuah foot bulat, atau desimeter pada
Prosedur yang benar menghemat waktu dan
rambu metrik.
mengurangi sejumlah kesalahan dalam
c. Baca benang atas, dan di luar kepala
semua pekerjaan ukur tanah.
kurangkan pembacaan benang bawah
Prosedur ini menyebabkan pemegang untuk memperoleh perpotongan rambu,
instrumen dapat membuat sibuk sekaligus catat perpotongan rambu.
dua atau tiga petugas rambu di tanah d. Gerakan benang tengah ke t.i. dengan
terbuka di mana titik-titik yang akan memakai sekrup penggerak halus
ditetapkan lokasinya terpisah jauh. Urutan vertikal.
yang sama dapat dipakai bila menggunakan e. Perintahkan pemegang rambu untuk
busur Beaman, tetapi pada langkah 4 skala pindah titik ke berikutnya dengan
V ditepatkan pada sebuah angka bulat, dan tenggara yang benar.
12 Pengukuran Titik-Titik Detail Metode Tachymetri 346

f. Baca dan catatlah sudut horizontalnya. daripada pencatatan pengukuran dan


Baca dan catatlah sudut vertikalnya. pembuatan sketsa oleh pencatat.

12.1.11 Sipat Datar Tachymetri


12.1.9 Poligon Tachymetri
Metode tachymetri dapat dipakai untuk
Dalam poligon transit-optis, jarak, sudut
sipat datar trigonometris. TI ( tinggi
horizontal dan sudut vertikal diukur pada
instrumen di atas datum) ditentukan dengan
setiap titik. Reduksi catatan sewaktu
membidik pada stasiun yang diketahui
pengukuran berjalan menghasilkan elevasi
elevasinya, atau dengan memasang
untuk dibawa dari patok ke patok. Harga
instrumen pada titik semacam itu dan
jarak optis rata-rata dan selisih elevasi
mengukur tinggi sumbu II di atasnya
diperoleh dari bidikan depan dan belakang
dengan rambu tachymetri. Selanjutnya
pada tiap garis. Pengecekan elevasi harus
elevasi titik sembarang dapat dicari dengan
diadakan dengan jalan kembali ke titik awal
hitungan dari perpotongan rambu dan sudut
atau tititk tetap duga didekatnya untuk
vertikal. Jika dikehendaki dapat dilakukan
poligon terbuka. Walaupun tidak seteliti
untai sipat datar untuk menetapkan dan
poligon dengan pita, sebuah regu yang
mengecek elevasi dua titik atau lebih.
terdiri atas tiga anggota seorang pemegang
instrumen, pencatat, dan petugas rambu- 12.1.12 Kesaksamaan (Precision)
merupakan kebiasaan. Seorang petugas Sebuah perbandingan galat (ratio or error)
rambu dapat mempercepat pekerjaan bila 1/300 sampai 1/500 dapat diperoleh untuk
banyak detail tersebar luas. poligon transit-optis yang dilaksanakan

Sudut-sudut horizontal juga harus dicek dengan kecermatan biasa dan pembacaan

kesalahan penutupnya. Bila ada kesalahan baik bidikan depan dan bidikan belakang.
Ketelitian dapat lebih baik jika bidikan-
penutup sudut harus diratakan, 'Y dan 'X
bidikan pendek pada poligon panjang
dihitung dan keseksamaan poligon dicek.
dengan prosedur-prosedur khusus. Galat-
12.1.10 Topografi galat dalam pekerjaan tachymetri biasanya
bukan karena sudut-sudut tidak benar tetapi
Metode tachymetri itu paling bermanfaat
karena pembacaan rambu yang kurang
dalam penentuan lokasi sejumlah besar
benar. Galat 1 menit pada pembacaan
detail topografik, baik horizontal maupun
rambu sebuah sudut vertikal tidak
vetikal, dengan transit atau planset. Di
memberikan pengaruh yang berarti pada
wilayah-wilayah perkotaan, pembacaan
jarak horizontal. Galat 1 menit tadi
sudut dan jarak dapat dikerjakan lebih cepat
12 Pengukuran Titik-Titik Detail Metode Tachymetri 347

menyebabkan selisih elevasi kurang dari 0,1 x Garis bidik transit tidak sejajar garis
ft pada bidikan 300 ft untuk sudut-sudut arah nivo teropong.
vertikal ukuran biasa. b. Galat-galat pribadi
Bila jarak optis ditentukan sampai foot x Rambu tak dipegang tegak (hindari
terdekat (kasus umum), sudut-sudut dengan pemakaian nivo rambu).
horizontal ke titik-titik topografi hanya perlu x Salah pembacaan rambu karena
dibaca sampai batas 5 atau 6 menit untuk bidikan jauh.
memperoleh kesaksamaan yang sebanding x Kelalaian mendatarkan untuk
pada bidikan 300 ft. Jarak optis yang pembacaan busur vertikal.
diberikan sampai foot terdekat dianggap
Kebanyakan galat dalam pekerjaan
benar sampai batas kira-kira ½ ft. Dengan
tachymetri dapat dihilangkan dengan:
galat jarak memanjang ½ ft itu, arahnya
a. Menggunakan instrumen dengan benar
dapat menyimpang sebesar 5 menit (mudah
b. Membatasi panjang bidikan
dihitung dengan 1 menit = 0.00029). Bila
c. Memakai rambu dan nivo yang baik
dipakai transit Amerika, karenanya sudut-
d. Mengambil harga rata-rata pembacaan
sudut dapat dibaca tanpa nonius, hanya
dalam arah ke depan dan ke belakang.
dengan mengira kedudukan penunjuk
nonius. Galat garis bidik tidak dapat dibetulkan
dengan prosedur lapangan instrumen harus
Ketelitian sipat datar trigonometris dengan
diatur.
jarak optis tergantung pada panjang bidikan
dan ukuran sudut vertiak yang diperlukan. 12.1.14 Kesalahan – kesalahan besar
12.1.13 Sumber-sumber galat dalam
Beberapa kesalahan yang biasa terjadi
pekerjaan tachymetri
dalam pekerjaan tachymetri adalah :
Galat-galat yang terjadi pada pekerjaan a. Galat indeks diterapkan dengan tanda
dengan transit dan theodolitee, juga terjadi yang salah.
pada pekerjaan tachymetri. b. Kekacauan tanda plus dan minus pada

Sumber-sumber galat adalah : sudut-sudut vertikal.

a. Galat-galat instrumental c. Kesalahan aritmetik dalam menghitung

x Benang tachymetri yang jaraknya perpotongan rambu.

tidak benar. d. Pemakaian faktor pengali yang tidak


benar.
x Galat indeks.
e. Mengayunkan rambu (rambu harus
x Pembagian skala rambu yang tidak
selalu dipegang tegak lurus).
benar.
12 Pengukuran Titik-Titik Detail Metode Tachymetri 348

c. Keseluruhan data ini dicatat dalam satu


12.1.15 Pengukuran untuk pembuatan buku ukur.
peta topografi cara tachymetri
12.1.16 Tata cara pengukuran detail cara
Salah satu unsur penting pada peta tachymetri menggunakan
topografi adalah unsur ketinggian yang theodolite berkompas
biasanya disajikan dalam bentuk garis
kontur. Menggunakan pengukuran cara Pengukuran detil cara tachymetri dimulai
tachymetry, selain diperoleh unsur jarak, dengan penyiapan alat ukur di atas titik ikat
juga diperoleh beda tinggi. Bila theodolite dan penempatan rambu di titik bidik.
yang digunakan untuk pengukuran cara Setelah alat siap untuk pengukuran, dimulai
tachymetry juga dilengkapi dengan kompas, dengan perekaman data di tempat alat
maka sekaligus bisa dilakukan pengukuran berdiri, pembidikan ke rambu ukur,
untuk pengukuran detil topografi dan pengamatan azimuth dan pencatatan data
pengukuran untuk pembuatan kerangka di rambu BT, BA, BB serta sudut miring m.
peta pembantu pada pengukuran dengan
kawasan yang luas secara efektif dan a. Tempatkan alat ukur di atas titik

efisien. kerangka dasar atau titik kerangka

a. Alat ukur yang digunakan pada penolong dan atur sehingga alat siap

pengukuran untuk pembuatan peta untuk pengukuran, ukur dan catat tinggi

topografi cara tachimetry menggunakan alat di atas titik ini.

theodolite berkompas adalah: theodolite b. Dirikan rambu di atas titik bidik dan

berkompas lengkap dengan statif dan tegakkan rambu dengan bantuan nivo

unting-unting, rambu ukur yang kotak.

dilengkapi dengan nivo kotak dan pita c. Arahkan teropong ke rambu ukur

ukur untuk mengukur tinggi alat. sehingga bayangan tegak garis

b. Data yang harus diamati dari tempat diafragma berimpit dengan garis tengah

berdiri alat ke titik bidik menggunakan rambu. Kemudian kencangkan kunci

peralatan ini meliputi: azimuth magnet, gerakan mendatar teropong.

benang atas, tengah dan bawah pada d. Kendorkan kunci jarum magnet

rambu yang berdiri di atas titik bidik, sehingga jarum bergerak bebas.

sudut miring, dan tinggi alat ukur di atas Setelah jarum setimbang tidak

titik tempat berdiri alat. bergerak, baca dan catat azimuth


magnetis dari tempat alat ke titik bidik.
12 Pengukuran Titik-Titik Detail Metode Tachymetri 349

e. Kencangkan kunci gerakan tegak a. Kesalahan pengukur, misalnya:


teropong, kemudian baca bacaan 1. Pengaturan alat tidak sempurna
benang tengah, atas dan bawah serta (temporary adjustment).
catat dalam buku ukur. Bila 2. Salah taksir dalam pemacaan
memungkinkan, atur bacaan benang 3. Salah catat, dll. nya.
tengah pada rambu di titik bidik setinggi b. Kesalahan akibat faktor alam,
alat, sehingga beda tinggi yang misalnya:
diperoleh sudah merupakan beda tinggi 1. Deklinasi magnet.
antara titik kerangka tempat berdiri alat 2. Refraksi lokal.
dan titik detil yang dibidik.
12.1.18 Pengukuran Tachymetri Untuk
f. Titik detil yang harus diukur meliputi
Pembuatan Peta Topografi Cara
semua titik alam maupun buatan
Polar.
manusia yang mempengaruhi bentuk
topografi peta daerah pengukuran.
Posisi horizontal dan vertikal titik detil

12.1.17 Kesalahan pengukuran cara diperoleh dari pengukuran cara polar


langsung diikatkan ke titik kerangka dasar
tachymetri dengan theodolite
pemetaan atau titik (kerangka) penolong
berkompas Kesalahan alat,
yang juga diikatkan langsung dengan cara
misalnya:
polar ke titik kerangka dasar pemetaan.
1. Jarum kompas tidak benar-benar lurus Unsur yang diukur:
2. Jarum kompas tidak dapat bergerak
a. Azimuth magnetis titik ikat ke titik
bebas pada prosnya.Garis bidik tidak
detail
tegak lurus sumbu mendatar (salah
b. Bacaan benang atas, tengah,
kolimasi).
dan bawah
3. Garis skala 0° - 180° atau 180° - 0°
c. Sudut miring, dan
tidak sejajar garis bidik.
d. Tinggi alat di atas titik ikat.
4. Letak teropong eksentris.
5. Poros penyangga magnet tidak sepusat
dengan skala lingkaran mendatar.
12 Pengukuran Titik-Titik Detail Metode Tachymetri 350

b.

Gambar 323. Pengukuran sipat datar luas

A dan B adalah titik kerangka dasar Berdasar skema pada gambar, maka:

pemetaan, a. Titik 1 dan 2 diukur dan diikatkan

H adalah titik penolong, langsung dari titik kerangka dasar A,

1, 2 ... adalah titik detil, b. Titik H, diukur dan diikatkan langsung

Um adalah arah utara magnet di tempat dari titik kerangka dasar B,

pengukuran. c. Titik 3 dan 4 diukur dan diikatkan


langsung dari titik penolong H.
12.1.19 Pengukuran tachymetri untuk
pembuatan peta topografi cara
poligon kompas.

Gambar 324. Tripod pengukuran vertikal


12 Pengukuran Titik-Titik Detail Metode Tachymetri 351

Letak titik kerangka dasar pemetaan 1. Azimuth,


berjauhan, sehingga diperlukan titik 2. Bacaan benang tengah, atas dan
penolong yang banyak. Titik-titik penolong bawah,
ini diukur dengan cara poligon kompas yang 3. Sudut miring, dan
titik awal dan titik akhirnya adalah titik 4. Tinggi alat.
kerangka dasar pemetaan. Unsur jarak dan
beda tinggi titik-titik penolong ini diukur 12.1.21 Tata cara hitungan dan

dengan menggunakan cara tachymetri. penggambaran poligon kompas:

Posisi horizontal dan vertikal titik detil diukur a. Hitung koreksi Boussole di K3 = AzG.
dengan cara polar dari titik-titik penolong. K31 - AzM K31

Berdasarkan skema pada gambar, maka: b. Hitung koreksi Boussole di K4 = AzG.

a. Titik K1, K3, K5, K2, K4 dan K6 adalah K42 - AzM K42

titik-titik kerangka dasar pemetaan, c. Koreksi Boussole C = Rerata koreksi

b. Titik H1, H2, H3, H4 dan H5 adalah titik- boussole di K3 dan K4

titik penolong d. Hitung jarak dan azimuth geografis

c. Titik a, b, c, ... adalah titik detil. setiap sisi poligon.

Pengukuran poligon kompas K3, H1, H2, H3, e. Hitung koordinat H1, ... H5 dengan cara

H4 , H5, K4 dilakukan untuk memperoleh BOWDITH atau TRANSIT.

posisi horizontal dan vertikal titik-titik f. Plot poligon berdasarkan koordinat

penolong, sehingga ada dua hitungan: definitif.

a. Hitungan poligon dan


b. Hitungan beda tinggi. 12. 2 Peralatan, bahan dan
prosedur pengukuran
12.1.20 Tata cara pengukuran poligon titik titik detail metode
tachymetri
kompas:

12.2.1 Peralatan yang dibutuhkan :


a. Pengukuran koreksi Boussole di titik K3
1. Pesawat Theodolite
dan K4,
Alat pengukur Theodolitee dapat
b. Pengukuran cara melompat (spring
mengukur sudut-sudut yang mendatar
station) K3, H2, H4dan K4.
dan tegak. Alat pengukur sudut
c. Pada setiap titik pengukuran dilakukan
theodolitee dibagi dalam 3 bagian yaitu :
pengukuran:
a. Bagian bawah, terdiri atas tiga
sekrup penyetel SK yang
12 Pengukuran Titik-Titik Detail Metode Tachymetri 352

menyangga suatu tabung dan pelat Jika dilihat dari cara pengukuran dan
yang berbentuk lingkaran. Pada tepi konstruksinya, bentuk alat ukur Theodolitee
lingkaran ini dibuat skala lms yang di bagi dalam dua jenis, yaitu
dinamakan limbus. a. Theodolitee reiterasi, yaitu jenis
b. Bagian tengah, terdiri atas suatu theodolitee yang pelat lingkaran skala
sumbu yang dimasukkan kedalam mendatar dijadikan satu dengan tabung
tabung bagian bawah. Sumbu ini yang letaknya diatas tiga sekerup. Pelat
sumbu tegak atau sumbu kesatu S1. nonius dan pelat skala mendatar dapat
Diatas sumbu S1 diletakkan lagi diletakkan menjadi satu dengan sekerup
suatu pelat yang berbentuk kl, sedangkan pergeseran kecil dari
lingkaran dan mempunyai jari-jari nonius terhadap skala lingkaran, dapat
kurang dari jari-jari pelat bagian digunakan sekerup fl. Dua sekerup kl
bawah. Pada dua tempat di tepi dan fl merupakan satu pasang ; sekerup
lingkaran di buat pembaca nomor fl dapat menggerakkan pelat nonius bila
yang berbentuk alat pembaca sekerup kl telah dikeraskan.
nonius. b. Theodolitee repetisi, yaitu jenis
Diatas nonius ini ditempatkan dua kaki theodolitee yang pelatnya dengan skala
yang penyangga sumbu mendatar. lingkaran mendatar ditempatkan
Suatu nivo diletakkan di atas pelat sedemikian rupa sehingga pelat dapat
nonius untuk membuat sumbu kesatu berputar sendiri dengan tabung pada
tegak lurus. sekerup penyetel sebagai sumbu putar.
c. Bagian atas, terdiri dari sumbu Perbedaan jenis repetisi dengan
mendatar atau sumbu kedua yang reiterasi adalah jenis repetisi memiliki
diletakkan diatas kaki penyangga sekerup k2 dan f2 yang berguna pada
sumbu kedua S2. Pada sumbu kedua penukuran sudut mendatar dengan cara
ditempatkan suatu teropong tp yang repetisi.
3

mempunyai difragma dan dengan Selain menggunakan Theodolite,


demikian mempunyi garis bidik gb. Pada pengukuran titik-titik detail metode
sumbu kedua diletakkan pelat yang tachymetri dapat menggunakan Topcond
berbentuk lingkaran dilengkapi dengan
skala lingkaran tegak ini ditempatkkan
dua nonius pada kaki penyangga sumbu
kedua.
12 Pengukuran Titik-Titik Detail Metode Tachymetri 353

atas digantungkan pada seutas tali.


Unting-unting berguna untuk
memproyeksikan suatu titik pada pita
ukur di permukaan tanah atau
sebaliknya.

Gambar 325. Theodolite Topcon

2. Statif Gambar 327. Unting-unting


Statif merupakan tempat dudukan alat
4. Patok
dan untuk menstabilkan alat seperti
Patok dalam ukur tanah berfungsi untuk
Sipat datar. Alat ini mempunyai 3 kaki
memberi tanda batas jalon, dimana titik
yang sama panjang dan bisa dirubah
setelah diukur dan akan diperlukan lagi
ukuran ketinggiannya. Statip saat
pada waktu lain. Patok biasanya
didirikan harus rata karena jika tidak rata
ditanam didalam tanah dan yang
dapat mengakibatkan kesalahan saat
menonjol antara 5 cm-10 cm, dengan
pengukuran
maksud agar tidak lepas dan tidak
mudah dicabut. Patok terbuat dari dua
macam bahan yaitu kayu dan besi atau
beton.
x Patok kayu
Patok kayu yang terbuat dari kayu,
berpenampang bujur sangkar dengan
ukuran r 50 mm x 50 mm, dan bagian
atasnya diberi cat.
x Patok beton atau besi
Gambar 326. Statif
Patok yang terbuat dari beton atau
3. Unting-unting
besi biasanya merupakan patok tetap
Unting-unting terbuat dari besi atau
yang akan masih pada waktu lain.
kuningan yang berbentuk kerucut
dengan ujung bawah lancip dan di ujung
12 Pengukuran Titik-Titik Detail Metode Tachymetri 354

Gambar 330. Rambu ukur

7. Payung
Payung ini berfungsi sebagai pelindung
dari panas dan hujan untuk alat ukur itu
Gambar 328. Jalon di atas patok
sendiri. Karena bila alat ukur sering

5. Pita ukur (meteran) kepanasan atau kehujanan, lambat laun

Rambu ukur dapat terbuat dari kayu, alat tersebut pasti mudah rusak (seperti;

campuran alumunium yang diberi skala jamuran, dll).

pembacaan. Ukuran lebarnya r 4 cm,


panjang antara 3m-5m pembacaan
dilengkapi dengan angka dari meter,
desimeter, sentimeter, dan milimeter.

Gambar 331. Payung

12.2.2 Bahan yang Digunakan :


1. Formulir ukur
Formulir pengukuran digunakan untuk
mencatat kondisi di lapangandan hasil
Gambar 329. Pita ukur
perhitungan-perhitungan/ pengukuran di
6. Rambu Ukur lapangan. (terlampir)
Rambu ukur dapat terbuat dari kayu,
campuran alumunium yang diberi skala
pembacaan. Ukuran lebarnya r 4 cm,
panjang antara 3m-5m pembacaan
dilengkapi dengan angka dari meter,
desimeter, sentimeter, dan milimeter.
Gambar 332. Formulir Ukur
12 Pengukuran Titik-Titik Detail Metode Tachymetri 355

2. Peta wilayah studi


Peta digunakan agar mengetahui di
daerah mana akan melakukan
pengukuran.

3. Cat dan kuas


digunakan untuk menandai dimana kita
Gambar 334. Benang
mengukur dan dimana pula kita
meletakan rambu ukur. Tanda ini tidak
x Paku
boleh hilang sebelum perhitungan
Paku terbuat dari baja (besi) dengan
selesai karena akan mempengaruhi
ukuran ± 10 mm. Digunakan sebagai
perhitungan dalam pengukuran.
tanda apabila cat mudah hilang dan
patok kayu tidak dapat digunakan,
dikarenakan rute (jalan) yang digunakan
terbuat dari aspal.

12.2.3 Formulir Pengukuran

Formulir pengukuran digunakan untuk


mencatat kondisi di lapangan dan hasil
perhitungan-perhitungan/ pengukuran di
lapangan. (terlampir)

12.2.4 Prosedur pengukuran :


Gambar 333. Cat dan Kuas

Pengukuran metode tachymetri


4. Alat tulis
menggunakan alat theodolite, baik yang
Alat tulis digunakan untuk mencatat
bekerja secara optis maupun elektronis
hasil pengkuran di lapangan.
digital yang sering dinamakan dengan Total
x Benang
Station. Alat theodolite didirikan di atas
Benang berfungsi sebagai:
patok yang telah diketahui koordinat dan
a. menentukan garis lurus
ketinggiannya hasil pengukuran kerangka
b. menentukan garis datar
dasar. Patok tersebut mewakili titik-titik ikat
c. menentukan pasangan yang kurus
pengukuran.
d. mekuruskan plesteran
Rambu ukur atau target diletakkan di atas
e. menggantungkan unting-unting
titik-titik detail yang akan disajikan di atas
12 Pengukuran Titik-Titik Detail Metode Tachymetri 356

peta. Titik-titik detail dapat berupa unsur vertikal berupa sudut miring atau
alam atau unsur buatan manusia. Unsur sudut zenith pada titik detail
alam misalnya adalah perubahan slope tersebut. Jika sudut vertikal yang
(kemiringan) tanah yang dijadikan titik-titik dibaca relatif kecil antara 0o – 5o
tinggi (spot heights) sebagai acuan untuk maka dapat dipastikan sudut
penarikan dan interpolasi garis kontur. tersebut adalah sudut inklinasi
Unsur buatan manusia misalnya adalah (miring) dan jika berada di sekitar
pojok-pojok bangunan. sudut 90o maka dapat dipastikan
sudut tersebut adalah sudut zenith.
a. Urutan pengaturan serta pemakaian :
Setelah terbaca semua data
1. Dengan menggunakan patok-patok
tersebut kemudian kita pindahkan
yang telah ada yang digunakan
rambu ukur ke titik detail berikutnya
pada pengukuran sipat datar dan
dan lakukan hal yang sama seperti
pengukuran poligon, dirikan alat
diatas. Dalam membuat titik detail
theodolite pada titik (patok) sebagai
buatlah sebanyak-banyaknya
titik ikat pada awal pengukuran
sedemikian rupa sehingga informasi
(patok pertama).
dari lapangan baik planimetris
2. Ketengahkan gelembung nivo
maupun ketinggian dapat disajikan
dengan prinsip pergerakan 2 sekrup
secara lengkap di atas peta.
kaki kiap ke dalam dan keluar saja
5. Pindahkan alat theodolite ke titik ikat
dan satu sekrup kaki kiap ke kanan
berikutnya, selanjutnya lakukan
atau ke kiri saja.
pengukuran tachymetri ke titik-titik
3. Pada posisi teropong biasa
detail lainnya.
diarahkan teropong titik detail satu
6. Selanjutnya pengolahan data
yang telah didirikan rambu ukur di
tachymetri dipindahkan dengan
atas target tersebut, kemudian baca
pengolahan data pengukuran sipat
benang atas, benang tengah, dan
datar dan pengukuran polygon
benang bawah dari rambu ukur
sedemikian rupa sehingga diperoleh
pada titik detail satu dengan
koordinat dan tinggi titik-titik detail.
bantuan sekrup kasar dan halus
7. Pengukuran tachymetri selesai.
pergerakan vertikal.
Hasil yang diperoleh dari prakek
4. Bacalah sudut horizontal yang
pengukuran tachymetri di lapangan
menunjukan azimuth magnetis dari
adalah koordinat planimetris X,Y,
titik detail satu dan baca pula sudut
dan ketinggian Z titik-titik detail yang
12 Pengukuran Titik-Titik Detail Metode Tachymetri 357

diukur sebagai situasi daerah pembacaan satuan menit atau


pengukuran untuk keperluan satuan centigrade per kolom, atau
penggambaran titik detail dan garis- ada yang mempunyai harga 2 menit
garis kontur dalam pemetaan. (2c) per kolom.
5. Sistim pembacaan lingkaran vertikal
b. Pembacaan sudut mendatar :
ada 2 macam yaitu:
1. Terlebih dahulu kunci boussole atau
ƒ Sistim sudut zenith.
pengencang magnet kita lepaskan,
ƒ Sistim sudut miring.
kemudian akan terlihat skala
6. Sudut miring yang harganya negatif,
pembacaan bergerak; sementara
pembacaan dilakukan dari kanan ke
bergerak kita tunggu sampai skala
kiri, sedangkan untuk harga positif
pembacaan diam, kemudian kita
pembacaan dari kiri ke kanan.
kunci lagi.
7. Perlu diyakinkan harga sudut miring
2. pembacaan bersifat koinsidensi
positif atau negatif.
dengan mempergunkan tromol
d. Pembacaan Rambu
mikrometer.
1. Untuk pembacaan jarak, benang
c. Keterangan:
atas kita tempatkan di 1 m atau 2 m
1. Pada pembacaan sudut miring perlu
pada satuan meter dari rambu.
diperhatikan tanda positif atau
Kemudian baca benang bawah dan
negatif, sebab tidak setiap angka
tengah.
mempunyai tanda positif atau
2. Untuk pembacaan sudut miring,
negatif.
arahkan benang tengah dari
2. Pada pembacaan sudut miring di
teropong ke tinggi alatnya, sebelum
dekat 0o (0gr) perlu diperhatikan
pembacaan dilakukan, gelembung
tanda positif atau negatif, sebab
nivo vertikal harus diketengahkan
tandanya tidak terlihat, sehingga
dahulu.
meragukan sipembaca.
(Tinggi alat harus diukur dan
3. Perlu diperhatikan sistim
dicatat).
pembacaan dari pos alat ukur tanah
tersebut:
ƒ Sistim centisimal (grade).
ƒ Sistim sexagesimal (derajat).
4. Perlu diperhatikan, bahwa
pembacaan skala tromol untuk
12 Pengukuran Titik-Titik Detail Metode Tachymetri 358

12.2.5 Penurunan Rumus Titik Detail


Tachymetri BT

Secara umum rumus yang digunakan dalam


tachymetri adalah sebagai berikut :
BA' BT i
1. BA' BT Ÿ COSi
BA  BT O O'

( BA  BT ) ˜ COSi BA' BT
Gambar 335. Segitiga O BT O’
BA' ( BA  BT ) ˜ COSi  BT
O' BT
7. Sini O' BT d AB ˜ Sini
BT  BB' d AB
2. BT  BB' Ÿ COSi
BT  BB
8. 'HAB = Tinggi alat + O’BT – BT
( BT  BB) ˜ COSi BT  BB '
BB' BT  ( BT  BB) ˜ COSi 'HAB = Tinggi alat + dAB . Sin i – BT

3. BA’ = (BA – BT) . COS i + BT o Tinggi alat +(BA – BB) . Cos i . Sin i .
BB’ = BT – (BT – BB) . COS i 100– BT
(BA’ –BB’) = (BA – BT+ BT– BB) . COSi 'HAB = Tinggi alat + (BA – BB) . Sin 2i
= (BA – BB) . COS i
. ½ i 100 – BT
4. dAbx = dAB . COS i . 100
'HAB = Tinggi alat + (BA- BB) i Sin 2i i
dAbx = (BA – BB) . COS i . COS i . 100
50 – BT
dABx = (BA – BB) . COS2 i . 100
Jadi :
5. dABx = dAB . COS i . 100 TB = Tinggi alat + 'HAB
dABx = (BA – BB) . COS i . COS i . 100
Catatan :
dABx = (BA – BB) . COS2 i . 100 Tinggi alat = Hasil pengolahan data
sipat datar
6. Catatan :
XA dan YA = Hasil pengolahan data 'HAB = Hasil pengolahan data
polygon. Tachymetri
dABx = Hasil pengolahan data
tachymetry.
DAB = Hasil pembacaan sudut
horizontal (azimuth)
theodolitee
12 Pengukuran Titik-Titik Detail Metode Tachymetri 359

1
BA
i Z

Z
BT

i
Z

Z BB
d AB ? HAB

O'
O i

Ta

A dABX B

Titik Nadir

Gambar 336. Pengukuran titik detail tachymetri

12. 3. Pengolahan Data


Pengukuran Tachymetri

Data yang diambil dari lapangan semakin Data yang diperoleh dari lapangan harus
banyak semakin baik. Data yang diperoleh di diolah untuk menghilangkan kesalahan
tempat alat berdiri meliputi azimuth magnetis, sistematis dan acak yang terjadi serta
sudut vertikal inklinasi (miring) atau zenith dan membuang kesalahan besar yang
tinggi alat. Data yang diperoleh dari tempat mungkin timbul. Pengolahan data sipat
berdiri rambu atau target adalah bacaan datar kerangka dasar vertical dan polygon
benang diafragma (benang atas, benang kerangka dasar horizontal dapat diolah
tengah, dan benang bawah) atau jarak secara manual dengan bantuan mesin
langsung. Pada alat theodolite dengan fasilitas hitung atau secara tabelaris menggunakan
total station koordinat dan ketinggian tinggi bantuan computer.
titik-titik detail dapat langsung diperoleh dan
direkam ke dalam memori penyimpanan.
12 Pengukuran Titik-Titik Detail Metode Tachymetri 360

Titik kontrol vertikal dan horizontal dapat


12. 4. Penggambaran hasil diperoleh dengan cara:
pengukuran tachymetri
a. Penentuan benchmark yang ada dari
lapangan hasil pengukuran
Sebelum hasil praktek pengukuran digunakan sebelumnya.
untuk keperluan pembuatan peta b. Hasil pengamatan diatas peta, untuk
(penggambaran) maka data dari lapangan koordinat dari hasil interpolasi grid-grid
diolah terlebih dahulu. Dari hasil pengukuran peta.
Tachymetri diperoleh data mentah yang
Sedangkan untuk tinggi definitif diperoleh
harus diolah sesuai dengan metoda
dari hasil interpolasi garis-garis kontur
pengukuran yang dilakukan.
yang ada diatas peta. Koordinat definitif
Data yang telah diolah kemudian disajikan di kemudian dibuat gambarnya baik secara
atas kertas (2 dimensi) dalam bentuk peta manual maupun digital menggunakan
yang disebut sebagai pekerjaan pemetaan komputer sehingga dapat diperoleh
yang menghasilkan informasi spasial informasi luas wilayah pengukuran. Tinggi
(keruangan) berupa peta. titik-titik ikat digambar pada arah
memanjang sehingga dapat diperoleh
Penggambaran hasil pengukuran tachymetri
turun naiknya permukaan tanah sepanjang
hampir sama dengan penggambaran
jalur pengukuran.
pengukuran sipat datar kerangka dasar
vertikal dan penggambaran pengukuran
poligon kerangka dasar horizontal.
Informasi yang diperoleh dari pengolahan data
sipat datar kerangka dasar vertical adalah
tinggi definitif titik-titik ikat, sedangkan
informasi yang diperoleh dari pengolahan data
kerangka dasar horizontal adalah koordinat
titik-titik ikat. Titik awal dan akhir pengukuran
juga diberikan sebagai kontrol vertikal dan
horizontal.
12 Pengukuran Titik-Titik Detail Metode Tachymetri 361

Gambar 337.Theodolitee O BT O’
CATATAN

INSTITUSI

MATA PELAJARAN
12 Pengukuran Titik-Titik Detail Metode Tachymetri

DI GAMBAR

Gambar 338. siteplan pengukuran titik-titik detail Tachymetri


LEGENDA

Pohon

Pohon

Tiang Listrik

Titik Detail
JUDUL GAMBAR
Rute Pengukuran

Garis Kontur

Jalan
DIPERIKSA
SITE PLAN PENGUKURAN TITIK-TITIK DETAIL
Gedung PKM
TACHYMETRI

SKALA 1 : 100
362
12 Pengukuran Titik-Titik Detail Metode Tachymetri 363

MATA PELAJARAN

JUDUL GAMBAR
DI GAMBAR

DIPERIKSA
INSTITUSI
CATATAN

KONTUR TEMPAT PENGUKURAN TITIK-TITIK


DETAIL TACHYMETRI

Gambar 339. Kontur tempat pengukuran titik detail tachymetri


CATATAN
N

INSTITUSI

LEGENDA

Pohon

FPBS Pohon

Tiang Listrik MATA PELAJARAN


Titik Detail
12 Pengukuran Titik-Titik Detail Metode Tachymetri

Rute Pengukuran

Garis Kontur DI GAMBAR


Jalan

Gedung PKM

DIREKSI KEET

GOR

Gambar 340. Pengukuran titik detail tachymetri dengan garis kontur 1


JUDUL GAMBAR

DIPERIKSA
PKM PENGUKURAN TITIK-TITIK DETAIL
TACHYMETRI DENGAN GARIS KONTUR
SKALA 1 : 100
364
CATATAN
N

INSTITUSI

LEGENDA

Titik Detail

Rute Pengukuran
MATA PELAJARAN
Garis Kontur
12 Pengukuran Titik-Titik Detail Metode Tachymetri

DI GAMBAR

Gambar 341. Pengukuran titik detail tachymetri dengan garis kontur 2


JUDUL GAMBAR

DIPERIKSA

PENGUKURAN TITIK-TITIK DETAIL


TACHYMETRI DENGAN GARIS KONTUR
SKALA 1 : 100
365
12 Pengukuran Titik-Titik Detail Metode Tachymetri 366

Tabel 30. Formulir pengukuran titik detail

P E N G U K U R A N S IT U A S I D E T A IL

L abo ratorium Ilm u U ku r T anah Juru san T ekn ik B an gunan N o.L em bar d ari
P eng u ku ran T ach ym etri C uaca M end ung
L okasi G edu ng O lah R aga A lat U k ur T .0 W ild 138 402
D iuk ur O leh K elom pok 8 T ang gal Instruktur

T itik T ingg i B acaan S u dut Jarak B enang B eda T inggi T inggi


A lat/ o ' '' (m ) A tas K et
U kur P atok L aut
T engah A tas
(m )
D ari Ke H o rizon tal V ertikal M iring D atar B aw ah + -

S ketsa :
12 Pengukuran Titik-Titik Detail Metode Tachymetri 367

Tabel 31. Formulir pengukuran titik detail posisi 1

PENGUKURAN SITUASI DETAIL

Laboratorium Ilmu Ukur Tanah Jurusan Teknik Bangunan No.Lembar dari


Pengukuran Tachymetri Cuaca Mendung
Lokasi Gedung Olah Raga Alat Ukur T.0 Wild 138402
Diukur Oleh Kelompok 8 Tanggal Instruktur

Titik Tinggi Bacaan Sudut Jarak Benang Beda Tinggi Tinggi


Alat/ o ' '' (m) Atas Ket
Ukur Patok Laut
Tengah Atas
(m)
Dari Ke Horizontal Vertikal Miring Datar Bawah + -
1 1 1.42 313°34' 92°22' 1.314 1.336
1.292
2 44°14' 92°00'20'' 1.1285 1.3
0.957
3 2°30' 87° 1.234 1.72
0.748
4 13°12' 87° 1.307 1.472
1.142
5 20°54' 86°30' 1.2565 1.35
1.163
6 132°40' 98°12' 0.6795 0.719
0.64
7 152°59' 96°18' 0.609 0.7
0.518
8 190°47' 96°18' 0.0865 0.97
0.76
9 212°3' 92°16' 1.16 1.22
1.1
10 252°7' 92°18' 1.245 1.345
1.145

Sketsa :
2
3

4
1 5
10 6
7
9 8
12 Pengukuran Titik-Titik Detail Metode Tachymetri 368

Tabel 32. Formulir pengukuran titik detail posisi 2

PENGUKURAN SITUASI DETAIL

Laboratorium Ilmu Ukur Tanah Jurusan Teknik Bangunan No.Lembar dari


Pengukuran Tachymetri Cuaca Mendung
Lokasi Gedung Olah Raga Alat Ukur T.0 Wild 138402
Diukur Oleh Kelompok 8 Tanggal Instruktur

Titik Tinggi Bacaan Sudut Jarak Benang Beda Tinggi Tinggi


Alat/ o ' '' (m) Atas Ket
Ukur Patok Laut
Tengah Atas
(m)
Dari Ke Horizontal Vertikal Miring Datar Bawah + -
2 1 1.30 71°4' 93°3' 0.597 0.658
0.535
2 91°30' 93°4' 0.484 0.55
0.418
3 134°9' 90°33' 1.006 1.056
0.955
4 172°45' 90°35' 1.5 1.1
1
5 212°30' 92°15' 0.634 0.688
0.58
6 242°56' 91°8' 0.915 0.98
0.85
7 245°5' 91°20' 0.938 1.035
0.84
8 272°56' 91°20' 1.223 1.266
1.18
9 291°9' 88°19' 1.12 1.16
1.08
10 1°43' 91°18' 1.111 1.126
1.095

Sketsa :

10
9

8 1

2
6
3
7 5 4
12 Pengukuran Titik-Titik Detail Metode Tachymetri 369

Tabel 33. Formulir pengukuran titik detail posisi 3

PENGUKURAN SITUASI DETAIL

Laboratorium Ilmu Ukur Tanah Jurusan Teknik Bangunan No.Lembar dari


Pengukuran Tachymetri Cuaca Mendung
Lokasi Gedung Olah Raga Alat Ukur T.0 Wild 138402
Diukur Oleh Kelompok 8 Tanggal Instruktur

Titik Tinggi Bacaan Sudut Jarak Benang Beda Tinggi Tinggi


Alat/ o ' '' (m) Atas Ket
Ukur Patok Laut
Tengah Atas
(m)
Dari Ke Horizontal Vertikal Miring Datar Bawah + -
3 1 1.28 84°47' 92°80' 0.75 0.8
0.7
2 140°23' 94°8' 0.753 0.78
0.725
3 150°55' 94°8' 0.688 0.725
0.65
4 194°37' 94°5' 0.547 0.625
0.522
5 221°36' 91°28' 0.51 0.61
0.41
6 234°51' 89°2' 1.29 1.38
1.2
7 244°9' 89°2' 0.839 0.908
0.77
8 262°17' 89°2' 1.117 1.203
1.03
9 282°57' 88°19' 1.808 1.85
1.765
10 44°57' 88°19' 1.499 1.95
1.048

Sketsa :

2
3
4
5
6
7
10
9 8
12 Pengukuran Titik-Titik Detail Metode Tachymetri 370

Tabel 34. Formulir pengukuran titik detail posisi 4

PENGUKURAN SITUASI DETAIL

Laboratorium Ilmu Ukur Tanah Jurusan Teknik Bangunan No.Lembar dari


Pengukuran Tachymetri Cuaca Mendung
Lokasi Gedung Olah Raga Alat Ukur T.0 Wild 138402
Diukur Oleh Kelompok 8 Tanggal Instruktur

Titik Tinggi Bacaan Sudut Jarak Benang Beda Tinggi Tinggi


Alat/ o ' '' (m) Atas Ket
Ukur Patok Laut
Tengah Atas
(m)
Dari Ke Horizontal Vertikal Miring Datar Bawah + -
4 1 1.25 150°2' 93°8' 0.853 0.905
0.805
2 172°49' 92°18' 0.56 0.608
0.502
3 204°29' 92°12' 0.843 0.878
0.808
4 340° 92°12' 2.145 2.18
2.11
5 342°14' 89°18' 1.437 1.514
1.36
6 354°27' 89°19' 1.288 1.39
1.185
7 1°3' 89°19' 1.565 1.645
1.485
8 12°29' 89°18' 1.051 1.092
1.01
9 41°31' 89°19' 1.22 1.35
1.09
10 91°43' 89°18' 1.401 1.413
1.388

Sketsa : 5
4 6
7
8
9
10

1
2

3
12 Pengukuran Titik-Titik Detail Metode Tachymetri 371

Tabel 35. Formulir pengukuran titik detail posisi 5

PENGUKURAN SITUASI DETAIL

Laboratorium Ilmu Ukur Tanah Jurusan Teknik Bangunan No.Lembar dari


Pengukuran Tachymetri Cuaca Mendung
Lokasi Gedung Olah Raga Alat Ukur T.0 Wild 138402
Diukur Oleh Kelompok 8 Tanggal Instruktur

Titik Tinggi Bacaan Sudut Jarak Benang Beda Tinggi Tinggi


Alat/ o ' '' (m) Atas Ket
Ukur Patok Laut
Tengah Atas
(m)
Dari Ke Horizontal Vertikal Miring Datar Bawah + -
5 1 1.30 190°24' 94°17' 0.810 0.86
0.76
2 241°49' 94°15' 1.263 1.55
0.975
3 341°51' 94°25' 0.85 0.876
0.823
4 3°8' 94°25' 0.528 0.57
0.485
5 20°20' 90°5' 0.9 0.98
0.82
6 32°44' 90°5' 0.692 0.763
0.62
7 60°37' 90°5' 0.881 0.938
0.823
8 70°18' 90°3' 0.925 0.51
0.34
9 91°7' 90°4' 1.005 1.15
0.86
10 113°16' 90°7' 1.442 1.468
1.416

4 5
Sketsa : 3
6
7 8
2
9
1
10
12 Pengukuran Titik-Titik Detail Metode Tachymetri 372

Tabel 36. Formulir pengukuran titik detail posisi 6

PENGUKURAN SITUASI DETAIL

Laboratorium Ilmu Ukur Tanah Jurusan Teknik Bangunan No.Lembar dari


Pengukuran Tachymetri Cuaca Mendung
Lokasi Gedung Olah Raga Alat Ukur T.0 Wild 138402
Diukur Oleh Kelompok 8 Tanggal Instruktur

Titik Tinggi Bacaan Sudut Jarak Benang Beda Tinggi Tinggi


Alat/ o ' '' (m) Atas Ket
Ukur Patok Laut
Tengah Atas
(m)
Dari Ke Horizontal Vertikal Miring Datar Bawah + -
6 1 1.30 90°1' 90°1' 1.07 1.105
1.034
2 121°12' 90°2' 1.24 1.34
1.14
3 133°9' 89°6' 1.39 1.495
1.285
4 142°54' 89°6' 1.077 1.15
1.003
5 221°31' 89°9' 1.205 1.255
1.155
6 351°52' 89°10' 1.222 1.262
1.182
7 304°42' 89°10' 1.405 1.138
1.672
8 312°42' 89°17' 1.84 1.898
1.782
9 300°2' 89°18' 1.51 1.555
1.465
10 322°20' 89°15' 1.554 1.586
1.5225

Sketsa : 9 10 1 2
8 3
7 4
5
6
12 Pengukuran Titik-Titik Detail Metode Tachymetri 373

Tabel 37. Formulir pengukuran titik detail posisi 7

PENGUKURAN SITUASI DETAIL

Laboratorium Ilmu Ukur Tanah Jurusan Teknik Bangunan No.Lembar dari


Pengukuran Tachymetri Cuaca Mendung
Lokasi Gedung Olah Raga Alat Ukur T.0 Wild 138402
Diukur Oleh Kelompok 8 Tanggal Instruktur

Titik Tinggi Bacaan Sudut Jarak Benang Beda Tinggi Tinggi


Alat/ o ' '' (m) Atas Ket
Ukur Patok Laut
Tengah Atas
(m)
Dari Ke Horizontal Vertikal Miring Datar Bawah + -
7 1 1.30 260°36' 89°19' 0.697 0.723
0.67
2 321°36' 96°8' 0.59 0.625
0.555
3 331°36' 92°19' 0.653 0.705
0.6
4 342°15' 92°20' 0.734 0.782
0.685
5 11°9' 91°12' 0.387 0.437
0.337
6 31°52' 91°12' 0.467 0.515
0.418
7 54°15' 91°0' 0.815 0.85
0.78
8 112°18' 91°0' 1.45 1.482
1.418
9 180°14' 91°0' 1.609 1.652
1.565
10 194°19' 93°2' 1.727 1.769
1.685

5
4
Sketsa : 2
3
6
7

1
8
10 9
12 Pengukuran Titik-Titik Detail Metode Tachymetri 374

Tabel 38. Formulir pengukuran titik detail posisi 8

PENGUKURAN SITUASI DETAIL

Laboratorium Ilmu Ukur Tanah Jurusan Teknik Bangunan No.Lembar dari


Pengukuran Tachymetri Cuaca Mendung
Lokasi Gedung Olah Raga Alat Ukur T.0 Wild 138402
Diukur Oleh Kelompok 8 Tanggal Instruktur

Titik Tinggi Bacaan Sudut Jarak Benang Beda Tinggi Tinggi


Alat/ o ' '' (m) Atas Ket
Ukur Patok Laut
Tengah Atas
(m)
Dari Ke Horizontal Vertikal Miring Datar Bawah + -
8 1 1.31 351°7' 89°14' 1.371 1.33
1.213
2 30°5' 89°16' 0.879 0.946
0.811
3 40°37' 89°16' 1.125 1.17
1.08
4 60°23' 89°16' 1.328 1.363
1.293
5 94°44' 91°16' 1.599 1.632
1.565
6 141°56' 91°16' 1.975 2.02
1.93
7 162°19' 91°25' 2.219 2.305
2.132
8 183°23' 96°28' 1.268 1.363
1.173
9 194°10' 96°29' 1.031 1.082
0.98
10 203°48' 96°29' 1.796 1.826
1.765

Sketsa : 7 8

6 9

10
5
1
4
3 2
12 Pengukuran Titik-Titik Detail Metode Tachymetri 375

Model DiagramModel
Alir IlmuDiagram
Ukur TanahAlir
Pertemuan ke-12
Pengukuran
Pengukuran Titik-Titik Detail
titik-titik Detail Metode
MetodeTachymetri
Tachymetri
Dosen Penanggung Jawab : Dr.Ir.Drs.H.Iskandar Muda Purwaamijaya, MT

Pengukuran Kerangka Dasar Vertikal Pengukuran Kerangka Dasar Horisontal


Orde-1 Orde-1

Pengukuran Titik-Titik Detail


Orde-2

Metode Offset Metode Tachymetri

Peralatan sederhana Peralatan :


- Pita ukur - Teknologi lensa optis
- Jalon - Elektronis digital
- Meja ukur
- Mistar Keunggulan :
- Busur derajat - Kecepatan
- Ketepatan

Theodolite

Elektronis Digital
Optis
Total Station

X, Y, Z
- Azimuth Magnetis (Titik-titik detail)
- Sudut Vertikal (Inklinasi/Zenith)
- Benang Atas, Tengah, Bawah
- Tinggi Alat

Unsur Alam :
Dij = (BA-BA).100.(cos i)^2
Perubahan slope
dHij = Talat + (BA-BB).50.sin 2i-BT
Unsur Buatan :
Xj = Xi + Dij . Sin Aij
Pojok-pojok
Yj = Yi + Dij . Cos Aij
bangunan
Hj = Hi + dHij

Gambar 342. Diagram alir Pengukuran titik-titik detail metode tachymetri


12 Pengukuran Titik-Titik Detail Metode Tachymetri 376

Rangkuman

Berdasarkan uraian materi bab 12 mengenai pengukuran titik detail (tachymetri),


maka dapat disimpulkan sebagi berikut:

1. Untuk keperluan pengukuran dan pemetaan selain pengukuran kerangka dasar vertikal
yang menghasilkan tinggi titik-titik ikat dan pengukuran kerangka dasar horizontal yang
menghasilkan koordinat titik-titik ikat juga perlu dilakukan pengukuran titik-titik detail
untuk menghasilkan titik-titik detail yang tersebar di permukaan bumi yang
menggambarkan situasi daerah pengukuran.
2. Pengukuran titik-titik detail dilakukan sesudah pengukuran kerangka dasar vertikal dan
pengukuran kerangka dasar horizontal dilakukan. Pengukuran titik-titik detail mempunyai
orde ketelitian lebih rendah dibandingkan orde pengukuran kerangka dasar.
3. Pengukuran titik-titik detail dengan metode tachymetri pada dasarnya dilakukan dengan
menggunakan peralatan dengan teknologi lensa optis dan elektronis digital. Pengukuran
titik-titik detail dengan metode Tachymetri ini adalah cara yang paling banyak digunakan
dalam praktek, terutama untuk pemetaan daerah yang luas dan untuk detail-detail yang
bentuknya tidak beraturan.
4. Pengukuran tiitk-titik detail metode tachymetri ini relatif cepat dan mudah karena yang
diperoleh dari lapangan adalah pembacaan rambu, sudut horizontal (azimuth magnetis),
sudut vertikal (zenith atau inklinasi) dan tinggi alat. Hasil yang diperoleh dari pengukuran
tachymetri adalah posisi planimetris X, Y, dan ketinggian Z.
5. Metode tachymetri didasarkan pada prinsip bahwa pada segitiga-segitiga sebangun, sisi
yang sepihak adalah sebanding.
6. Penentuan beda elevasi dengan tachymetri dapat dibandingkan dengan sipat datar
memanjang t.i. sesuai bidikan plus, dan pembacaan rambu sesuai bidikan minus.
7. Menggunakan pengukuran cara tachymetry, selain diperoleh unsur jarak, juga diperoleh
beda tinggi.
8. Pengukuran metode tachymetri menggunakan alat theodolite, baik yang bekerja secara
optis maupun elektronis digital yang sering dinamakan dengan Total Station.
9. Penggambaran hasil pengukuran tachymetri dapat dengan manual ataupun dengan
komputerisasi (AutoCAD).
10. Data yang diambil dari lapangan semakin banyak semakin baik.
12 Pengukuran Titik-Titik Detail Metode Tachymetri 377

Soal Latihan

Jawblah pertanyaan-pertanyaan di bawah ini !

1. Apa yang dimaksud dengan pengukuran Tachymetri ?


2. Jelaskan tujuan pengukuran titik-titik detail metode tachymetri!
3. Sebutkan perbedaan dari pengukuran tachymetri untuk titik bidik horizontal dengan
pengukuran tachymetri untuk bidikan miring?
4. Sebutkan peralatan apa saja yang dibutuhkan dalam pengukuran titik-titik detail metode
tachymetri! Jelaskan!
5. Diketahui : Xa = 100,64 ; Ya = 100,46 ; Ta = +800
Tinggi Benang Benang Benang Azimuth Inklinasi
Target
Alat Atas Tengah Bawah DA I
o o
B 1.54 1.654 1.543 1.432 47 47’47’’ 01 01’01’’
o
C 1.52 1.726 1.585 1.444 100 27’57’’ 02o02’02’’
D 1.55 1.744 1.663 1.583 179o09’09’’ -1o01’01’’
E 1.58 1.932 1.745 1.558 269o36’36’’ -2o02’02’’
F 1.52 1.832 1.738 1.644 358o23’24’’ -3o02’01’’

Ditanyakan : Koordinat dan Tinggi titik B, C, D, E, dan F ?


13 Garis Kontur, Sifat dan Interpolasinya 378

13. Garis Kontur, Sifat dan Interpolasinya


13.1 Pengertian garis kontur
Aplikasi lebih lanjut dari garis kontur adalah
untuk memberikan informasi slope
(kemiringan tanah rata-rata), irisan profil
Garis kontur adalah garis khayal dilapangan
memanjang atau melintang permukaan
yang menghubungkan titik dengan
tanah terhadap jalur proyek (bangunan) dan
ketinggian yang sama atau garis kontur
perhitungan galian serta timbunan (cut and
adalah garis kontinyu diatas peta yang
fill) permukaan tanah asli terhadap
memperlihatkan titik-titik diatas peta dengan
ketinggian vertikal garis atau bangunan.
ketinggian yang sama. Nama lain garis
Garis kontur dapat dibentuk dengan
kontur adalah garis tranches, garis tinggi
membuat proyeksi tegak garis-garis
dan garis tinggi horizontal. Garis kontur + 25
perpotongan bidang mendatar dengan
m, artinya garis kontur ini menghubungkan
permukaan bumi ke bidang mendatar peta.
titik-titik yang mempunyai ketinggian sama +
Karena peta umumnya dibuat dengan skala
25 m terhadap tinggi tertentu. Garis kontur
tertentu, maka untuk garis kontur ini juga
disajikan di atas peta untuk memperlihatkan
akan mengalami pengecilan sesuai skala
naik turunnya keadaan permukaan tanah.
peta.

+ 41 m
+ 40 m
+ 39 m

Kontur ( Khayal )

Gambar 343. Pembentukan garis kontur dengan membuat proyeksi tegak garis perpotongan bidang
mendatar dengan permukaan bumi.
13 Garis Kontur, Sifat dan Interpolasinya 379

Garis-garis kontur merupakan cara yang baik. Cara lain untuk melukiskan bentuk
banyak dilakukan untuk melukiskan bentuk permukaan tanah yaitu dengan cara
permukaan tanah dan ketinggian pada peta, hachures dan shading.
karena memberikan ketelitian yang lebih Bentuk garis kontur dalam 3 dimensi

Alam

Gbr.3 Peta

Gambar 344. Penggambaran kontur

g. Garis kontur yang rapat menunjukan


13.2 Sifat garis kontur keadaan permukaan tanah yang terjal.
h. Garis kontur yang jarang menunjukan
Garis kontur memiliki sifat sebagai berikut : keadaan permukaan yang landai
a. Berbentuk kurva tertutup. i. Penyajian interval garis kontur
b. Tidak bercabang. tergantung pada skala peta yang
c. Tidak berpotongan. disajikan, jika datar maka interval garis
d. Menjorok ke arah hulu jika melewati kontur tergantung pada skala peta yang
sungai. disajikan, jika datar maka interval garis
e. Menjorok ke arah jalan menurun jika kontur adalah 1/1000 dikalikan dengan
melewati permukaan jalan. nilai skala peta , jika berbukit maka
f. Tidak tergambar jika melewati interval garis kontur adalah 1/500
bangunan. dikalikan dengan nilai skala peta dan
jika bergunung maka interval garis
13 Garis Kontur, Sifat dan Interpolasinya 380

kontur adalah 1/200 dikalikan dengan l. Garis kontur berharga lebih rendah
nilai skala peta. mengelilingi garis kontur yang lebih
j. Penyajian indeks garis kontur pada tinggi.
daerah datar adalah setiap selisih 3 m. Rangkaian garis kontur yang berbentuk
garis kontur, pada daerah berbukit huruf "U" menandakan punggungan
setiap selisih 4 garis kontur sedangkan gunung.
pada daerah bergunung setiap selisih 5 n. Rangkaian garis kontur yang berbentuk
garis kontur. huruf "V" menandakan suatu
k. Satu garis kontur mewakili satu lembah/jurang
ketinggian tertentu..

Gambar 345. Kerapatan garis kontur pada daerah curam dan daerah landai

Gambar 346. Garis kontur pada daerah sangat curam.


13 Garis Kontur, Sifat dan Interpolasinya 381

Gambar 347. Garis kontur pada curah dan punggung bukit.

Gambar 348. Garis kontur pada bukit dan cekung

Rumus untuk menentukan interval kontur


13.3 Interval kontur dan indeks pada suatu peta tofografi adalah :
kontur
I = (25 / jumlah cm dalam 1 km) meter, atau
Interval kontur adalah jarak tegak antara I = n log n tan a, dengan n = (0.01 s + 1)1/2
dua garis kontur yang berdekatan dan meter.
merupakan jarak antara dua bidang Atau :
mendatar yang berdekatan. Pada suatu peta § 25 ·
i= ¨ ¸ meter
tofografi interval kontur dibuat sama, ¨ jumlah cm dalam 1 km ¸
© ¹
berbanding terbalik dengan skala peta.
Semakin besar skala peta, jadi semakin
i = n. log n. tan D
banyak informasi yang tersajikan, interval dimana : n = 0.01S  1
kontur semakin kecil. Indeks kontur adalah D = kemiringan rata – rata daerah yang
garis kontur yang penyajiannya ditonjolkan dipetakan
setiap kelipatan interval kontur tertentu. S = Angka skala
13 Garis Kontur, Sifat dan Interpolasinya 382

Tabel 39. Bentuk muka tanah dan interval kontur.

Bentuk Muka Interval 13.4 Kemiringan tanah dan


Skala
Tanah Kontur kontur gradient
1 : 1000 Datar 0.2 - 0.5 m
dan Lebih Bergelombang 0.5 - 1.0 m
besar Berbukit 1.0 - 2.0 m Kemiringan tanah D adalah sudut miring
1 : 1 000 Datar 0.5 - 1.5 m
antara dua titik.
s/d Bergelombang 1.0 - 2.0 m
1 : 10 000 Berbukit 2.0 - 3.0 m § DhAB ·
D = tan-1 ¨ ¸
1 : 10 000 Datar 1.0 - 3.0 m
© sAB ¹
dan Bergelombang 2.0 - 5.0 m
Dimana : D = Kemiringan tanah
lebih kecil Berbukit 5.0 - 10.0 m
'h
Bergunung 0.0 - 50.0 m D = arc tan
S

Gambar 349. Kemiringan tanah dan kontur gradient

Pada gambar diatas titik-titik A, B, C, dan


13.5 Kegunaan garis kontur
D harus dipillih untuk menggambarkan
garis kontur. Dengan demikian kita dapat
menginterpolasi secara linear ketinggian Selain menunjukan bentuk ketinggian
titik-titik detail yang diukur. Kontur permukaan tanah, garis kontur juga dapat
gradient E adalah sudut antara digunakan untuk:
permukaan tanah dan bidang mendatar a. Menentukan profil tanah (profil
memanjang, longitudinal sections)
antara dua tempat. (Gambar 350)
b. Menghitung luas daerah genangan
dan volume suatu bendungan
(gambar 351)
13 Garis Kontur, Sifat dan Interpolasinya 383

c. Menentukan route/trace suatu d. Menentukan kemungkinan dua titik


jalan atau saluran yang di lahan sama tinggi dan saling
mempunyai kemiringan tertentu terlihat (gambar 353.)
(gambar 352)

Gambar 350. Potongan memanjang dari potongan garis kontur

Gambar 351. Bentuk, luas dan volume daerah genangan berdasarkan garis kontur.

Gambar 352. Rute dengan kelandaian tertentu


13 Garis Kontur, Sifat dan Interpolasinya 384

Gambar 353. Titik dengan ketinggian sama berdasarkan garis kontur.

x Dalam batas ketelitian teknis tertentu,

13.6 Penentuan dan pengukuran kerapatan titik detil ditentukan oleh


titik detail untuk pembuatan skala peta dan ketelitian (interval) kontur
garis kontur
yang diinginkan.
x Pengukuran titik-titik detail untuk
x Semakin rapat titik detil yang diamati,
penarikan garis kontur suatu peta dapat
maka semakin teliti informasi yang
dilakukan secara langsung dan tidak
tersajikan dalam peta.
langsung.

Gambar 354. Garis kontur dan titik ketinggian.


13 Garis Kontur, Sifat dan Interpolasinya 385

a. Pengukuran tidak langsung dilakukan dengan cara tachymetry pada


Titik-titik detail yang tidak harus sama tinggi, semua medan dan dapat pula
dipilih mengikuti pola tertentu yaitu: pola menggunakan sipat datar memanjang
kotak-kotak (spot level) dan profil (grid) dan ataupun sipat datar profil pada daerah yang
pola radial. Dengan pola-pola tersebut garis relatif datar. Pola radial digunakan untuk
kontur dapat dibuat dengan cara interpolasi pemetaan topografi pada daerah yang luas
dan pengukuran titik-titik detailnya dapat dan permukaan tanahnya tidak beraturan.

Gambar 355. Pengukuran kontur pola spot level dan


pola grid.

Gambar 356. Pengukuran kontur pola radial.


13 Garis Kontur, Sifat dan Interpolasinya 386

b. Pengukuran langsung pengukuran garis kontur cara langsung,


Titik detail dicari yang mempunyai garis-garis kontur merupakan garis
ketinggian yang sama dan ditentukan penghubung titik-titik yang diamati dengan
posisinya dalam peta dan diukur pada ketinggian yang sama, sedangkan pada
ketinggian tertentu. cara pengukurannya pengukuran garis kontur cara tidak langsung
bisa menggunakan cara tachymetry, atau umumnya titik-titik detail itu pada titik
kombinasi antara sipat datar memanjang sembarang tidak sama.
dan pengukuran polygon.
Bila titik-titik detail yang diperoleh belum
Cara pengukuran langsung lebih sulit mewujudkan titik-titik dengan ketinggian
dibanding dengan cara tidak langsung, yang sama, posisi titik dengan ketinggian
namun ada jenis kebutuhan tertentu yang tertentu dicari, berada diantara 2 titik tinggi
harus menggunakan cara pengukuran tersebut dan diperoleh dengan prinsip
kontur cara langsung, misalnya pengukuran perhitungan 2 buah segitiga sebangun.
dan pemasanngan tanda batas daerah
Data yang harus dimiliki untuk melakukan
genangan.
interpolasi garis kontur adalah jarak antara 2
titik tinggi di atas peta, tinggi definitif kedua
titik tinggi dan titik garis kontur yang akan
ditarik. Hasil perhitungan interpolasi ini
adalah posisi titik garis kontur yang melewati
garis hubung antara 2 titik tinggi.

Posisi ini berupa jarak garis kontur terhadap


posisi titik pertama atau kedua. Titik hasil
Gambar 357. Pengukuran kontur cara langsung
interpolasi tersebut kemudian kita
hubungkan untuk membentuk garis kontur
13.7 Interpolasi garis kontur yang kita inginkan. maka perlu dilakukan
interpolasi linear untuk mendapatkan titik-

Penarikan garis kontur berdasarkan titik yang sama tinggi. Interpolasi linear bisa

perolehan posisi titik-titik tinggi (spots dilakukan dengan cara : taksiran, hitungan

height) maka akan semakin mudah dan dan grafis.

halus penarikan garis konturnya. a. Cara taksiran (visual)

Penarikan garis kontur diperoleh dengan Titik-titik dengan ketinggian yang sama,

cara perhitungan interpolasi, pada sedangkan pada pengukuran dan


13 Garis Kontur, Sifat dan Interpolasinya 387

diinterprestasikan langsung diantara titik-titik planimeter dengan interval h. Volume total


yang diketahui ketinggiannya. 6V dapat dihitung.

Rumus umum :

hª n2
º n2

¦V = 3 ««A  A
r r

 4 ¦ A2r1  2 ¦A2r » ….(i)


2 2

0 N »
«¬ »¼
r 0 r 0

atau

Gambar 358. Interpolasi kontur cara taksiran


ª r
n1
º

A0  AN  2 ¦ Ar  ¦ Ar1.Ar »....(ii)
r n

2 1
¦V 3 «
2
»
«¬ »¼
r 0 r 1
b. Cara hitungan (Numeris)
Cara ini pada dasarnya juga menggunakan atau
dua titik yang diketahui posisi dan ª r
n 1
º

A0  AN  2 ¦ Ar »............(iii)
2
ketinggiannya, hitungan interpolasinya ¦V 2« »
«¬ »¼
r 0
dikerjakan secara numeris (eksak)
menggunakan perbandingan linear.
™ Rumus (i) disebut rumus prisma dan
c. Cara grafis digunakan apabila n = genap
Cara grafis dilakukan dengan bantuan garis- ™ Rumus (ii) disebut rumus piramida dan
garis sejajar yang dibuat pada kertas digunakan apabila n = ganjil
transparan (kalkir atau kodatrace). Garis- ™ Rumus (iii) disebut rumus rata-rata awal
garis sejajar dibuat dengan interval yang dan akhir dan digunakan apabila n =
sama disesuaikan dengan tinggi garis kontur ganjil
yang akan dicari.
13.9 Prinsip dasar penentuan
13.8 Perhitungan garis kontur volume

Garis-garis kontur pada peta topografi dapat Dalam pengerjaan teknik sipil, antara lain
digunakan untuk menghitung volume, baik diperlukan perhitungan volume tanah, baik
volume bahan galian (gunung kapur, bukit, untuk pekerjaan galian maupun pekerjaan
dan lain-lain). timbunan. Dibawah ini secara singkat
diuraikan prinsip dasar yang digunakan
Luas yang dikelilingi oleh masing-masing
untuk bentuk-bentuk tanah yang sederhana.
garis kontur diukur luasnya dengan
Pada dasarnya volume tanah dihitung
13 Garis Kontur, Sifat dan Interpolasinya 388

dengan cara menjumlahkan volume setiap


vr = h A0  A1 .......... .......... .......... .......... (vi )
bagian yang dibatasi oleh dua bidang. 2
Contoh lain penggunaan garis kontur untuk
Pada gambar bidang dimaksud merupakan
perhitungan volume dalam pekerjaan teknik
bidang mendatar. Banyak metode yang
sipil yaitu perhitungan volume dari galian
dapat digunakan untuk menghitung volume.
atau timbunaan.
Disini hanya akan diberikan metode
menggunakan rumus prisma dan rumus Volume tanah yang digali didalam daerah
piramida. ABCD yang dibatasi oleh permukaan tanah
asli dan bidang permukaan rencana (dasar
Prisma adalah suatu benda yang dibatasi
saluran), dapat dihitung dengan rumus:
oleh dua bidang sejajar pada bagian-bagian
atas dan bawahnya serta dibatasi oleh ¦V
h
^ A0  A1  A1  A2 `
2
beberapa bidang datar disekelilingnya.
Apabila bidang-bidang datar disekelilingnya
¦V
2h
A0  4 A1  A2
sesuai dengan sisi bidang atas atau bawah 6
disebut piramida.
¦V
h
3
^
A0  A0 .A1  A1  A1  A1.A2  A2 `
Volume prisma :

Keterangan :
VR = h A0  4 Am  A1 .......... .......... .......... .(iv )
6 H : jarak antara dua profil yang berdekatan.
Volume piramida: Ai : diukur dengan planimeter atau dihitung


VR = h A0  A0 A1  A1 ...........................(V )
3
dengan cara koordinat.

Didalam peta topografi, garis-garis batas


bidang datar A0, Am dan A1 ditunjukan oleh 13.10 Perubahan letak garis
garis-garis kontur sedangkan h merupakan kontur di tepi pantai
interval konturnya. Jadi apabila h dibuat
Cara perhitungan tersebut di atas sedang
kecil, garis kontur ditarik dari data-data
digunakan oleh GSI (Geography Survey
ketinggian tanah yang cukup rapat serta
Institute Jepang, di Thailand) untuk ukuran
pengukuran luas bidang-bidang yang
yang sangat kasar. Tetapi, kalau dilihat
dibatasi oleh garis kontur diukur hingga v
secara detail, ada beberapa masalah
mendekati volume sebenarnya.
perhitungan, seperti :
Rumus lain yang dapat digunakan adalah a. Di daerah yang akan hilang akibat
rumus rata-rata awal dan akhir yaitu: kenaikan muka air laut sebesar T meter,
13 Garis Kontur, Sifat dan Interpolasinya 389

kehilangan terhitung sebagai jumlah penyelidikan lapangan mengenai


nilai yang sekarang berada. kehilangan akibat pasang laut dan
kehilangannya bukan hanya di daerah banjir.
antara batas pantai dan garis kontur 1m Jika tinggi tanah yang sekarang kena banjir
sekarang, tetapi antara batas pantai berada di antara batas pantai dan tinggi B
sekarang dan garis kontur 1+T meter m, maka daerah yang akan kena banjir
(contoh di Makassar 1.64 m). terletak di daerah antara garis kontur 1+T m
b. Di daerah yang akan lebih sering dan garis kontur 1 +T+B m sekarang. Di
terkena banjir dari pada kondisi daerah sini, kehilangan akan terjadi secara
sekarang, kehilangan bisa diukur sebagian dari nilai total, yang dihitung terkait
berdasarkan data yang terdapat melalui tinggi tanah setempat.

Gambar 359. Letak garis pantai dan garis kontur 1m

Gambar 360. Perubahan garis pantai dan garis


kontur sesudah kenaikan muka air laut
13 Garis Kontur, Sifat dan Interpolasinya 390

Col
13.11 Bentuk-bentuk lembah dan Daerah rendah antara dua buah ketinggian.
pegunungan dalam garis
kontur Saddle

Jalan menuju puncak umumnya berada di Hampir sama dengan col, tetapi daerah

atas punggung (lihat garis titik-titik rendahnya luas dan ketinggian yang

sedangkan disisinya terdapat lembah mengapit tidak terlalu tinggi.

umumnya berisi sungai (lihat garis gelap). Pass

Plateau Celah memanjang yang membelah suatu

Daerah dataran tinggi yang luas daerah ketinggian.

gambar 361. Garis kontur lembah, punggungan dan


perbukitan yang memanjang.
13 Garis Kontur, Sifat dan Interpolasinya 391

Gambar 362. Plateau.

Gambar 363. Saddle

Gambar 364. Pass


13 Garis Kontur, Sifat dan Interpolasinya 392

Deviasi Barat sudut kompas - sudut =


13.12 Cara menentukan posisi,
sudut peta.
cross bearing dan metode
penggambaran c. Setelah mengukur utara kompas,
sesuaikan garis bujur dengan utara
1. Hitung deviasi pada peta:
kompas kurang lebih deviasi.
A=B+(CxD)
Keterangan : 4. Membuat cross bearing

A = deklinasi magnetis pada saat tertentu 1. Hitung sudut dari dua kenampakan

B = deklinasi pada tahun pembuatan peta alam atau lebih yang dapat kita kenali di

C = selisih tahun pembuatan. alam dan di peta.

D = variasi magnetis. 2. Buat garis sudut dengan menghitung


deviasi sehingga menjadi sudut peta
Contoh:
pada kertas transparan
Diketahui bahwa:
3. Letakkan di atas peta sesuai dengan
- Deklinasi magnetis tahun 1943 (pada
kedudukannya.
saat peta dibuat) adalah: 0° 30'(=B).
4. Tumpuklah.
- Variasi magnet pertahun: 2'(=D)
5. Merencanakan rute
Pertanyaan:
1. Pilihlah jalur perjalanan yang mudah
Berapa deviasi bila pada peta tersebut
denganmemperhatikan sistem kontur.
digunakan pada tahun 1988 (=A)
2. Bayangkan kemiringan lereng dengan
Perhitungannya:
memperhatikan kerapatan kontur
A = B + (CxD)
(makin rapatmakin terjal).
= 0° 30' + {(88-43)x 2'}
3. Hitung jarak datar (perhatikan
= 0° 30' + 90'
kemiringan lereng).
=120'
4. Hitung waktu tempuh dengan prinsip :
=2º0'
- jalan datar 1 jam untuk kemiringan
2. Mengukur sudut lebih 4 km
- kemiringan 1 jam tiap kenaikkan 100m
a. Mengukur dari peta : Sudut peta –
deviasi (jika deviasi ke Timur) = Metode penggambaran:
sudut Sudut peta + deviasi kompas. 1. Tarik garis transis yang dikehendaki
(jika deviasi ke Barat)=sudut kompas diatas peta, bisa berupa garis lurus
b. Mengukur dari kompas: deviasi timur maupun mengikuti rute perjalanan.
sudut kompas + deviasi = sudut peta. 2. Beri tanda (huruf atau angka) pada titik
awal dan akhir.
13 Garis Kontur, Sifat dan Interpolasinya 393

3. Buat grafik pada milimeter blok. untuk 5. Pindahkan setiap angka beda tinggi dan
sumbu x dipakai sekala horizontal dan jarak sebenarnya tadi sebanyak-
sumbu y sekala vertikal. banyaknya pada grafik.
4. Ukur pada peta jarak sebenarnya (jarak 6. Hubungkan setiap titik pada grafik (lihat
pada peta x angka penyebut skala peta) gambar).
dan ketinggian (beda tinggi) pada jarak
yang diukur tadi.

gambar 365. menggambar penampang.

vertikal dan horisontal ini memiliki titik-titik


13.13 Pengenalan surver perpotongan. Pada titik perpotongan ini
disimpan nilai Z yang berupa titik ketinggian
Surfer adalah salah satu perangkat lunak atau kedalaman. Gridding merupakan
yang digunakan untuk pembuatan peta proses pembentukan rangkaian nilai Z yang
kontur dan pemodelan tiga dimensi yang teratur dari sebuah data XYZ. Hasil dari
berdasarkan pada grid. Perangkat lunak ini proses gridding ini adalah file grid yang
melakukan plotting data tabular XYZ tak tersimpan pada file .grd.
beraturan menjadi lembar titik-titik segi
1. Sistem operasi dan perangkat keras
empat (grid) yang beraturan. Grid adalah
Surfer tidak mensyaratkan perangkat keras
serangkaian garis vertikal dan horisontal
ataupun sistem operasi yang tinggi. Oleh
yang dalam Surfer berbentuk segi empat
karena itu surfer relatif mudah dalam
dan digunakan sebagai dasar pembentuk
aplikasinya. Surfer bekerja pada sistem
kontur dan surface tiga dimensi. Garis
operasi Windows 9x dan Windows NT.
13 Garis Kontur, Sifat dan Interpolasinya 394

Berikut adalah spesifikasi minimal untuk Untuk memulai salah satu lembar kerja
aplikasi Surfer: tersebut dapat dilakukan menggunakan
x Tersedia ruang untuk program minimal menu File - New. Surfer akan menampilkan
4 MB. kotak dialog berikut:
x Menggunakan sistem operasi Windows
9.x atau Windows NT. 3.1 Surface plot
Surface plot adalah lembar kerja yang
x RAM minimal 4 MB.
digunakan untuk membuat peta atau file
x Monitor VGA atau SVGA.
grid. Pada saat awal dibuka, lembar kerja
2. Pemasangan program surfer (instal) ini berada pada kondisi yang masih
x Masukkan master program Surfer kosong. Pada lembar plot ini peta
pada CD ROM atau media lain. dibentuk dan diolah untuk selanjutnya
Buka melalui eksplorer dan klik disajikan. Lembar plot digunakan untuk
dobel pada Setup. mengolah dan membentuk peta dalam dua

x Surfer menanyakan lokasi dimensional, seperti peta kontur, dan peta

pemasangan. Jawab drive yang tiga dimensional seperti bentukan muka

diinginkan. Jawab pertanyaan tiga dimensi.

selanjutnya dengan Yes. Lembar plot ini menyerupai lembar layout di


mana operator melakukan pengaturan
3. Lembar Kerja Surfer
ukuran, teks, posisi obyek, garis, dan
Lembar kerja Surfer terdiri dari tiga
berbagai properti lain. Pada lembar ini pula
bagian, yaitu:
diatur ukuran kertas kerja yang nanti akan
x Surface plot,
digunakan sebagai media pencetakan peta.
x Worksheet,
x Editor.

Gambar 366. Kotak dialog persiapan Surfer


13 Garis Kontur, Sifat dan Interpolasinya 395

Gambar 367.Peta tiga dimensi

Gambar 368. Peta kontur dalam bentuk dua dimensi


13 Garis Kontur, Sifat dan Interpolasinya 396

3.2 Worksheet
Lembar worksheet memiliki antarmuka yang
Worksheet merupakan lembar kerja yang
hampir mirip dengan lembar kerja MS
digunakan untuk melakukan input data XYZ.
Excel. Worksheet pada Surfer terdiri dari
Data XYZ adalah modal utama dalam
sel-sel yang merupakan perpotongan
pembuatan peta pada surfer. Dari data XYZ
baris dan kolom. Data yang dimasukkan
ini dibentuk file grid yang selanjutnya
dari worksheet ini akan disimpan dalam file
diinterpolasikan menjadi peta-peta kontur
.dat.
atau peta tiga dimensi.

Gambar 369. Lembar worksheet.

Gambar 370. Data XYZ dalam koordinat kartesian.


13 Garis Kontur, Sifat dan Interpolasinya 397

Gambar 371. Data XYZ dalam koordinat decimal degrees.

3.3 Editor jendela editor dapat dikopi dan ditempel


dalam jendela plot. Kemampuan ini
Jendela editor adalah tempat yang
memungkinkan penggunaan sebuah
digunakan untuk membuat atau mengolah
kelompok teks yang sama untuk
file teks ASCII. Teks yang dibuat dalam
dipasangkan pada berbagai peta.

Gambar 372. Jendela editor menampilkan hasil perhitungan volume.


13 Garis Kontur, Sifat dan Interpolasinya 398

Jendela editor juga digunakan untuk serta teks. Simbolisasi yang ada pada
menangkap hasil perhitungan volume. peta ini memungkinkan peta yang
Sekelompok teks hasil perhitungan volume dihasilkan surfer dapat dengan mudah
file grid akan ditampilkan dalam sebuah dibaca dan lebih komunikatif.
jendela editor. Jendela tersebut dapat 6. Editing peta kontur
disimpan menjadi sebuah file ASCII dengan
Editing peta kontur dimaksudkan untuk
ekstensi .txt.
mendapatkan bentuk peta kontur yang
4. GS Scripter sesuai dengan syarat-syarat pemetaan
GS Scripter adalah makro yang dapat tertentu ataupun sesuai dengan keinginan
digunakan untuk membuat sistem pembuat peta. Beberapa hal yang
otomasi dalam surfer. Dengan berkaitan dengan hal ini misalnya adalah
menggunakan GS Scripter ini tugas-tugas penetapan nilai kontur interval (Interval
yang dilakukan secara manual dapat Contour), labelling garis indeks, kerapatan
diringkas menjadi sebuah makro. Makro dari label, pengubahan warna garis indeks,
GS Scripter ini mirip dengan interpreter pengaturan blok warna kelas ketinggian
bahasa BASIC. Makro disimpan dalam lahan, dan lain-lain.
ekstensi .bas.
Gambar berikut adalah contoh penggunaan
5. Simbolisasi peta kontur interval yang berbeda dari sebuah

Simbolisasi digunakan untuk memberikan peta kontur yang sama.

keterangan pada peta yang dibentuk pada


lembar plot. Simbolisasi yang digunakan
berupa simbol point, garis, ataupun area,

Gambar 373. Jendela GS scripter.


13 Garis Kontur, Sifat dan Interpolasinya 399

Gambar 374. Simbolisasi pada peta kontur dalam surfer.

Gambar 375. Peta kontur dengan kontur interval I.


13 Garis Kontur, Sifat dan Interpolasinya 400

Gambar 376. Peta kontur dengan interval 3

Secara umum, pengaturan kontur interval 7. Overlay peta kontur


mengikuti aturan berikut: Overlay peta kontur dimaksudkan adalah
menampakkan sebuah peta kontur dengan
Kontur Interval = 1/2000 x skala peta dasar
sebuah data raster, atau sebuah peta
Jadi jika menggunakan dasar dengan
kontur dengan model tiga dimensi. Overlay
skala 1 : 50.000 maka seharusnya kontur
ini memudahkan analisis sebuah wilayah
interval peta adalah 25 meter. Beda tinggi
dalam kaitannya dengan kontur atau bentuk
antar garis kontur tersebut terpaut 25
morfologi lahan setempat.
meter. Seandai peta dasar tersebut
diperbesar menjadi skala 1: 25.000, maka
kontur intervalnya pun juga harus diubah
menjadi 12,5 meter.
13 Garis Kontur, Sifat dan Interpolasinya 401

Gambar 377. Gambar peta kontur dan model 3D.

Gambar 378. Overlay peta kontur dengan model 3D.


13 Garis Kontur, Sifat dan Interpolasinya 402

8. Penggunaan peta dasar Proses kedua ini sering disebut dengan


Peta dasar yang digunakan pada Surfer istilah grid-ding. Proses gridding
dapat berasal dari peta-peta lain ataupun menghasilkan sebuah file grid. File grid
data citra seperti foto udara ataupun citra digunakan sebagai dasar pembuatan peta
satelit. Peta dasar tersebut dinamakan Base kontur dan model tiga dimensi. Berikut
Map. adalah diagram alur secara garis besar
pekerjaan dalam Surfer.

Gambar 379. Base map foto udara

9. Alur Kerja surfer


Pembuatan peta kontur ataupun model
tiga dimensi dalam Surfer diawali
pembuatan data tabular XYZ. Dapat juga
digunakan data DEM (Digital Elevation
Models) sebagai pengganti data XYZ
tersebut. Data XYZ selanjutnya
diinterpolasikan dalam sebuah file grid. Gambar 380. Alur garis besar pekerjaan pada
surfer.
13 Garis Kontur, Sifat dan Interpolasinya 403

Dan bagan di atas dapat diketahui bahwa Desktop di atas adalah antarmuka
sebuah data pengukuran lapangan akan pertama kali saat masuk pada program
terlebih dahulu dimasukkan menjadi data Surfer. Pada saat masuk pertama kali, kita
XYZ. Selanjutnya melalui proses gridding akan menemukan lembar plot kosong.
data tersebut dapat diinterpolasi menjadi
Obyek-obyek tertentu seperti lingkaran, segi
peta kontur ataupun model tiga dimensional.
empat, titik, dan berbagai simbol dapat
Dalam proses analisis, kedua bentuk hasil
dibuat secara langsung pada lembar plot
interpolasi, yaitu peta kontur dan model tiga
tersebut. Digitasi secara langsung tersebut
dimensi, dapat dianalisis secara terpisah
menggunakan fasilitas ikon-ikon yang
ataupun bersama-sama melalui proses
tersedia pada baris toolbar (gambar 382).
overlay.

Gambar 381. Lembar plot surfer.


10. Memulai Surfer Lembar kerja lain dari surfer adalah
Jika program surfer telah terpasang, maka worksheet. Lembar kerja ini merupakan
surfer dapat segera digunakan untuk tempat input data XYZ. Lembar kerja ini
bekerja. Untuk memulai pekerjaan dengan mirip dengan lembar kerja MS Excel. Data
surfer dilakukan dengan masuk pada yang berasal dari worksheet ini adalah data
program tersebut melalui langkah berikut: XYZ yang pada proses selanjutnya akan
x Klik start. digunakan sebagai dasar interpolasi
x Pilih program. pembuatan kontur.
x Pilih Goden Software.
x Pilih Surfer 32.
13 Garis Kontur, Sifat dan Interpolasinya 404

Gambar 382. Obyek melalui digitasi

Pencetakan hasil dapat dilakukan melalui


surfer secara langsung. Hasil cetakan dari
surfer berupa hardcopy dalam sebuah
kertas dengan ukuran yang sesuai dengan
skala peta.

Hasil pengolahan dalam surfer dapat


diekspor ke dalam bentuk atau format lain.
Surfer akan mengekspor peta ke dalam
bentuk vektor dengan format .DXF, serta
format raster dalam banyak tipe seperti
.JPG, .BMP, .GIF, .TIFF, dan lain-lain.
13 Garis Kontur, Sifat dan Interpolasinya 405

Model
Model Diagram Alir IlmuDiagram Alir ke-13
Ukur Tanah Pertemuan
Garis Kontur, Sifat dan Interpolasinya
Garis Kontur, Sifat dan Interpolasinya
Dosen Penanggung Jawab : Dr.Ir.Drs.H.Iskandar Muda Purwaamijaya, MT

Garis Kontur

Garis khayal di lapangan yang Garis kontinyu di atas peta yang


menghubungkan titik-titik dengan memperlihatkan titik-titik di atas peta
ketinggian yang sama dengan ketinggian yang sama

Tujuan :
Untuk memperlihatkan naik turunnya keadaan permukaan tanah

Informasi slope Perhitungan galian dan


Irisan profil memanjang dan (kemiringan tanah rata-rata) timbunan (cut and fill)
melintang permukaan tanah permukaan tanah asli
terhadap jalur proyek terhadap ketinggian vertikal
garis proyek atau bangunan

Sifat-Sifat Garis Kontur :

(1) Berbentuk kurva tertutup


(2) Tidak bercabang
(3) Tidak berpotongan
(4) Menjorok ke arah hulu jika melewati sungai
(5) Menjorok ke arah jalan menurun jika melewati permukaan jalan
(6) Tidak tergambar jika melewati bangunan
(7) Garis kontur yang rapat menunjukkan keadaan permukaan tanah yang terjal
(8) Garis kontur yang jarang menunjukkan keadaan permukaan tanah yang landai
(9) Penyajian interval garis kontur bergantung pada skala peta yang disajikan ;
* Datar : 1/1.000 x nilai skala peta
* Bukit : 1/500 x nilai skala peta
* Gunung : 1/200 x nilai skala peta
(10) Indeks garis kontur (pemberian teks nilai kontur)
* Datar : berselisih setiap 3 garis kontur
* Bukit : berselisih setiap 4 garis kontur
* Gunung : berselisih setiap 5 garis kontur

Input : Input :
Posisi Spot Heights * Tinggi Spot
(Titik-Titik Tinggi) Heights
* Jarak antar
spot heights di
Interpolasi Garis Kontur atas kertas
(Prinsip Segitiga Sebangun)
dj = di ( Tj - To) / ( Ti - To)

Gambar 383. Model diagram alir garis kontur, sifat dan interpolasinya
13 Garis Kontur, Sifat dan Interpolasinya 406

Rangkuman

Berdasarkan uraian materi bab 13 mengenai garis kontur, sifat, dan interpolasinya,
maka dapat disimpulkan sebagi berikut:

1. Garis kontur adalah garis khayal yang mengubungkan titik – titik dengan ketinggian yang
sama. Tujuan pembuatan garis kontur di atas peta adalah untuk memperlihatkan naik –
turunnya keadaan permukaan tanah.

2. Aplikasi dari garis kontur adalah untuk memberikan informasi slope ( kemiringan tanah
rata-rata), irisan profil memanjang atau melintang permukaan tanah terhadap jalur
proyek ( bangunan ) dan perhitungan galian serta timbunan ( cut and fill ).

3. Sifat – sifat garis kontur :


a. Berbentuk kurva tertutup, tidak bercabang dan tidak berpotongan.
b. Menjorok ke arah hulu jika melewati sungai, menjorok ke arah jalan menurun jika
melewati permukaan jalan dan tidak tergambar jika melewati bangunan.
c. Garis kontur yang rapat menunjukan keadaan permukaan tanah yang terjal, garis
kontur yang jarang menunjukan keadaan permukaan yang landai dan satu garis
kontur mewakili satu ketinggian tertentu..
d. Penyajian interval garis kontur tergantung pada skala peta yang disajikan, jika datar
maka interval garis kontur adalah 1/1000 dikalikan dengan nilai skala peta , jika
berbukit maka interval garis kontur adalah 1/500 dikalikan dengan nilai skala peta
dan jika bergunung maka interval garis kontur adalah 1/200 dikalikan dengan nilai
skala peta.
e. Penyajian indeks garis kontur pada daerah datar adalah setiap selisih 3 garis kontur,
pada daerah berbukit setiap selisih 4 garis kontur sedangkan pada daerah
bergunung setiap selisih 5 garis kontur.
f. Rangkaian garis kontur yang berbentuk huruf "U" menandakan punggungan
gunung. Dan rangkaian garis kontur yang berbentuk huruf "V" menandakan suatu
lembah/jurang.

4. Interval kontur adalah jarak tegak antara dua garis kontur yang berdekatan dan
merupakan jarak antara dua bidang mendatar yang berdekatan. Interpolasi garis kontur
menggunakan prinsip segitiga sebangun yaitu :dj = di (Tj – To ) / ( Ti – To )
13 Garis Kontur, Sifat dan Interpolasinya 407

Soal latihan

Jawablah pertanyaan-pertanyaan dibawah ini !

1. Apa yang dimaksud dengan garis kontur ?


2. Apa tujuan pembuatan garis kontur dan sebutkan aplikasi dari garis kontur ?
3. Sebutkan dan jelaskan sifat-sifat garis kontur?
4. Sebutkkan dan lengkapi dengan gambar kegunaan garis kontur ?
5. Apa yang dimaksud dengan Interval kontur dan Indeks kontur?
6. Sebutkan bentuk muka tanah dengan interval konturnya ?
7. Apa yang dimaksud dengan interpolasi garis kontur?
8. Jelaskan bagaimana cara menginterpolasi garis kontur ?
9. Perangkat lunak yang digunakan untuk pembuatan peta kontur ?
10. Hal –hal apa saja yang perlu diperhatikan dalam pembuatan garis kontur ?
14 Perhitungan Galian dan Timbunan 408

14. Perhitungan Galian Timbunan


`

Galian dan timbunan atau yang lebih di letak permukaan tanah asli dan permukaan
kenal oleh orang-orang lapangan adalah Cut tanah rencana yang disebabkan topografi
and Fill dimana pekerjaan ini sangat penting daerah yang berbeda-beda.
baik pada pekerjaan pembuatan jalan,
Sekalipun permukaan tanah asli sama
bendungan, bangunan, dan reklamasi.
dengan permukaan tanah rencana, akan
Galian dan timbunan dapat diperoleh dari tetapi tanah asli tersebut belum tentu
peta situasi yang dilengkapi dengan garis - memenuhi syarat daya dukung tanah.
garis kontur atau diperoleh langsung dari Dalam hal ini galian dan timbunan perlu
lapangan melalui pengukuran sipat datar diperhitungkan secara seksama sehingga
profil melintang sepanjang koridor jalur biaya pekerjaan konstruksi dapat dibuat
proyek atau bangunan. lebih ekonomis.

Galian dan timbunan dapat diperoleh dari


peta situasi dengan metode penggamba ran 14.1 Tujuan perhitungan galian
profil melintang sepanjang jalur proyek atau dan timbunan
metode grid-grid (griding) yang meninjau
galian dan timbunan dari tampak atas dan Mengingat pentingnya pekerjaan galian dan
menghitung selisih tinggi garis kontur timbunan, apalagi untuk proyek berskala
terhadap ketinggian proyek ditempat besar dapat berdampak langsung terhadap
perpotongan garis kontur dengan garis biaya total pekerjaan. Maka, perlu dilakukan
proyek. perhitungan galian dan timbunan.

Feet kubik, yard kubik dan meter kubik Adapun Tujuan lain dari perhitungan galian
dipakai dalam hitungan pengukuran tanah, dan timbunan sebagai berikut :
walaupun yard kubik adalah satuan yang
1. Meminimalkan penggunaan volume
paling umum dalam pekerjaan tanah 1yd³ =
galian dan timbunan pada tanah,
27 ft³, 1 m³ = 35,315 ft³. Namum biasanya di
sehingga pekerjaan pemindahan tanah
indonesia di gunakan meter kubik sebagai
dan pekerjaan stabilitas tanah dasar
satuan dalam menentukan jumlah volume.
dapat dikurangi, waktu penyelesaian
Pada suatu proyek konstruksi, pekerjaan
proyek dapat dipercepat, dan biaya
galian dan timbunan tanah (cut and fill)
pembangunan dapat se-efisien
hampir tidak pernah dapat dihindarkan. Hal
mungkin.
tersebut diakibatkan adanya perbedaan.
14 Perhitungan Galian dan Timbunan 409

2. Untuk menentukan peralatan (alat- alat informasi grafis beserta luas dan nilai galian
berat) yang digunakan pada pekerjaan timbunannya.
galian maupun timbunan, dengan
mempertimbangkan kemampuan daya 14.3 Metode-metode perhitungan
operasional alat tersebut. galian dan timbunan

14.2 Galian dan timbunan Pengukuran volume langsung jarang


dikerjakan dalam pengukuran tanah, karena
sulit untuk menerapakan dengan sebenar-
Galian dan timbunan berdimensi volume
benarnya sebuah satuan tehadap material
(meter kubik). Volume dapat diperoleh
yang terlibat. Sebagai gantinya dilakukan
secara teoritis melalui perkalian luas dengan
pengukuran tidak langsung. Untuk
panjang. Galian dan timbunan untuk
memperolehnya dilakukan pengukuran garis
keperluan teknik sipil dan perencanaan
dan luas yang mempunyai kaitan dengan
diperoleh melalui perolehan luas rata-rata
volume yang diinginkan.
galian atau timbunan di dua buah profil
melintang yang dikalikan dengan jarak Namun sebelum membahas lebih lanjut
mendatar antara kedua profil melintang marilah kita ketahui tentang apa yang
tersebut. dimaksud dengan tampang/penampang
baik itu tampang memanjang, maupun
Galian dan timbunan banyak digunakan
tampang melintang serta kegunaanya.
untuk kepentingan pembuatan jalan raya,
saluran irigasi, dan aplikasi lain, seperti Penampang merupakan gambar irisan
pembangunan ka vling untuk perumahan. tegak. Bila pada peta topografi bisa dilihat
bentuk proyeksi tegak model bangunan,
Teknologi pengukuran dan pemetaan yang
maka pada gambar penampang bisa dilihat
digunakan saat ini sudah sangat demikian
model potongan tegak bangunan dalam
berkembang. Survei lapangan dapat
arah memanjang ataupun melintang tegak
diperoleh secara cepat dan tepat
lurus arah potongan memanjang.
menggunakan perlatan Total Station atau
GPS (Global Positioning System) dan diikuti Bisa dipahami bahwa gambar penampang
oleh sistem perekaman data yang dapat merupakan gambaran dua dimensi dengan
langsung diolah oleh komputer dan dengan elemen unsur jarak (datar) dan ketinggian.
menggunakan berbagai macam perangkat Unsur-unsur rupa bumi alamiah ataupun
lunak CAD dapat langsung disajikan unsur-unsur buatan manusia yang ada dan
yang akan dibuat disajikan dalam gambar
14 Perhitungan Galian dan Timbunan 410

penampang. Pada gambar penampang


dibuat dan disajikan rencana dan rancangan
bangunan dalam arah tegak. Skala
horizontal pada gambar penam pang
umumnya lebih kecil dibanding skala tegak.

P

Pengukuran penampang bisa dilakukan
dengan mode teristris, fotografis ataupun
ekstra teristris. Tergantung pada jenis
pekerjaan dan kondisi medannya,

FP

FP
pengukuran penampang bisa dilakukan


FP

dengan cara langsung ataupun tidak
langsung menggunakan alat sipat datar,
theodolite atau alat sounding untuk
Gambar 385. Tongkat sounding
pengukuran pada daerah berair yang dalam.

d
Penampang memanjang

Penampang memanjang umumnya dikaitkan


dengan rencana dan rancangan memanjang
suatu rute jalan, rel, sungai atau saluran
perahu pengukuran irigasi misalnya. Irisan tegak penampang
memanjang mengikuti sumbu rute.
"

Pada rencana jalan, potongan memanjang


a b
umumnya bisa diukur langsung dengan cara
Gambar 384. Sipat datar melintang sipat datar kecuali pada lokasi perpotongan
dengan sungai, yaitu potongan memanjang
jalan merupakan potongan melintang
sungai.

Pada perencanaan sungai, potongan


memanjang umumnya tidak diukur langsung
tetapi diturunkan dari data ukuran potongan
melintang.
14 Perhitungan Galian dan Timbunan 411

Skala jarak horizontal gambar penampang ditambah daerah penguasaan bangunan


memanjang mengikuti skala peta rencana atau hingga sejauh jarak tertentu di kanan
rute sedangkan gambar skala tegak dan kiri rute agar bentuk dan kandungan
(ketinggian) dibuat pada skala 1 : 100 atau elemen rupa bumi cukup tersajikan untuk
1 : 200. Gambar potongan memanjang informasi perencanaan.
suatu rute umumnya digambar pada satu
lembar bersama-sama dengan peta.

Gambar 386. Potongan tipikal jalan


l Cara pengukuran penampang melintang
bisa menggunakan alat sipat datar,
Penampang melintang
theodolite atau menggunakan echo sounder
Penampang melintang merupakan gambar untuk sounding pada tempat berair yang
irisan tegak arah tegak lurus potongan dalam.
memanjang. Pada pengukuran potongan melintang

Gambar penampang melintang secara rinci sungai bisa dipahami bahwa sumbu sungai

menyajikan unsur alamiah dan unsur tidak selalu merupakan b agian terdalam

rancangan sehingga digunakan sebagai sungai. Data lain yang harus disajikan pada

dasar hitungan kuantitas pekerjaan. potongan melintang sungai adalah


ketinggian muka air terendah dan ketinggian
penampang melintang juga umum
muka air tertinggi atau banjir.
digunakan sebagai data penggambaran
peta totografi sepanjang rute. Pada perencanaan rute juga dikenal gambar
penampang melintang baku - PMB (typical
Penampang melintang umumnya diukur
cross section), yaitu bakuan rancangan
selebar rencana melintang bangunan
14 Perhitungan Galian dan Timbunan 412

melintang yang menunjukkan struktur Pematokan dan prosedur pematokan


rancangan arah melintang. PMB jalan (stak ing out)
misalnya, menunjukkan tebal struktur
Sebelum memulai perhitungan galian dan
perkerasan jalan, cara penggalian dan
timbunan, pekerjaan diawali dengan
penimbunan serta sarana drainase
pematokan (stake out). Pematokan
kanan/kiri jalan (side ditch) bila diperlukan.
bertujuan untuk menandai wilayah mana
Tergantung dari jenis tanah maka akan ada
saja yang akan terkena galian dan
beberapa tipe potongan normal.
timbunan, atau bagian-bagian di lapangan
Ketinggian sumbu pada permukaan tipe yang menjadi bakal proyek.
potongan normal adalah ketinggian rencana
Pematokan untuk jalan dilakukan sepanjang
arah vertikal. Berdasarkan tipe potongan
sumbu alignment horizontal biasanya selalu
normal yang digunakan, dibuat gambar
setiap kelipatan jarak genap, misalnya
konstruksi melintang sehingga kelihatan
setiap 100 m pada perencanaan
bentuk gambar konstruksi selengkapnya
pendahuluan, setiap 50 m pada detailed
sesuai keadaan muka tanah setempat.
design dan tiap 25 m pada saat
Gambar konstruksi pada potongan
pelaksanaan konstruksi.
melintang ini harus dipatok di lapangan
untuk dikerjakan dan digunakan sebagai Pada bagian lurus, bila tidak ada halangan

dasar hitungan volume pekerjaan. maka pematokan bisa dilakukan langsung


dengan menarik meteran mendatar.
Dalam perhitungan Galian dan timbunan
sebaiknya terlebih dahulu di buat rencana
pekerjaan misalnya rencana pembuatan
atau pengembangan jalan.

Gambar 387. Contoh penampang galian dan


timbunan
14 Perhitungan Galian dan Timbunan 413

Misal stasion awal proyek berada pada sta


12 + 357.50, maka patok pertama untuk

pematokan tiap 50 meter adalah :


sta 12 + 400.00 yang berjarak 42.50 meter
dari sta 12 + 357.50.

Patok-patok berikutnya pada bagian lurus


adalah sta 12 + 450.00, 12 + 500.00 dst.

Cara pematokan sepanjang bagian tangent


dan sepanjang lengkung lingkaran biasa Gambar 391. Jalon

dilakukan menggunakan theodolite, pita


ukur, jalon, patok dan atau paku untuk
menandai dan membuat titik pengikatan
patok stasion.

Prose dur pematokan:

1. Alat yang digunakan: sipat datar dengan


sepasang rambu, pita ukur, mistar, kuas.

Gambar 392. Rambu ukur


2. Dirikan sipat datar di lokasi pematokan
dan bidikkan ke titik rujukan ketinggian.

Gambar 389. Meteran gulung

Gambar 390. Pesawat theodolite EDM Gambar 393. Stake out pada bidang datar
14 Perhitungan Galian dan Timbunan 414

diperoleh dari lapangan untuk selanjutnya


diolah.

Ada tiga sistem utama yang dipakai: metode


tampang melintang, metode luas satuan
atau lubang galian sumbang dan metode
luas garis tinggi.

1. Metode tampang (irisan) melintang


(cross section method)

Metode tampang melintang dipakai hampir


Gambar 394. Stake out pada bidang yang berbeda
ketinggian khusus untuk menghitung volume pada
proyek-proyek konstruksi yang memanjang
misalnya jalan raya, jalan baja, dan kanal
(saluran).

Dalam prosedur ini, setelah sumbu diberi


pancang, profil tanah yang disebut
penampang melintang dibuat (tegak lurus
pada sumbu, biasanya dengan selang 50
atau 100 ft. Pembuatan tampang melintang
terdiri atas pengukuran elevasi-elevasi
tanah dan jaraknya yang bersangkutan
secara orthogonal kekiri dan kekanan
sumbu, titik tinggi dan rendah, dan lokasi-

Gambar 395. Stake out beberapa titik sekaligus lokasi dimana perubahan lereng terjadi
untuk menentukan dengan teliti profil tanah.
3. Hitung ketinggian garis bidik dan hitung
Pekerjaan i ni dapat dilaksanakan di
bacaan rambu pada suatu titik rencana.
lapangan memakai sebuah alat sipat datar,
4. Pasang tanda ketinggian pada patok
rambu sipat datar dan pita ukur tanah.
pengikat sumbu di kanan dan kiri rute
sesuai rencana. a. Metode potongan melintang rata-rata

Luas potongan melintang A1 dan A2 pada


Setelah pekerjaan stake out selesai,
pekerjaan galian dan timbunan dapat kedua ujung diukur dan dengan
menganggap bahwa perubahan luas
dimulai dengan mengolah data yang
potongan melintang antara kedua ujung itu
14 Perhitungan Galian dan Timbunan 415

sebanding dengan jaraknya, luas A1 dan A2 ⎛ L + L2 ⎞


V = A0 ⎜ 1 ⎟
tersebut dirata -rata. Akhirnya volume tanah ⎝ 2 ⎠
dapat diperoleh dengan mengalikan luas
rata -rata tersebut dengan jarak L dengan
kedua ujung.

⎛ A + A2 ⎞
V = ⎜ 1 ⎟L
⎝ 2 ⎠
Keterangan :
V = Volume
A1 = Luas penampang kesatu
A2 = Luas penampang kedua
L = Panjang dari luas tampang ke satu
ke luas tampang dua

Gambar 397. Volume cara jarak rata-rata

Pada daerah datar di mana perubahan


profil-profil melintang dan memanjang
biasanya kecil sekali, harga jarak rata -rata
adalah titik pengukuran (L).

⎛ L1 + L 2 ⎞
V = A⎜ ⎟ = AL
⎝ 2 ⎠

c. Volume prisma dan piramid kotak

Rumus volume prisma yaitu:


Gambar 396. Volume cara potongan melintang
rata-rata V =
h
( A1 + 4 Am + A2 )
6
b. Metode jarak rata-rata Di mana:
h = tinggi prisma
Jarak L1 dan L2 sebelum dan sesudah
A1 = luas bidang atas prisma
potongan A1 dan A2 di rata - rata dan untuk
A2 = luas bidang bawah prisma
menghitung volume tanahnya, har ga rata-
Am = luas bidang yang melalui tengah-
rata ini dikalikan dengan luas potongan
tengah tinggi h
lintang Ao.
14 Perhitungan Galian dan Timbunan 416

Gambar 398. Volume cara prisma

Rumus volume piramid kotak yaitu:

V =
h
3
(A1 + A1 A2 + A2 )

Gambar 400. Volume cara dasar sama bujur


sangkar

Cara dasar ketinggian sama areal segitiga:

V = A/3( h1 + 2S h2 + 3S h3 + 4S h4 + 5S
h5 + 6S h 6 + 7S h 7 + 8S h 8)
.

Dimana : h1 = ketinggian titik-titik yang


digunakan i kali dalam hitungan volume.
Gambar 399. Volume cara piramida kotak
Pelaksanaan hitungan menggunakan cara
d. Cara ketinggian sama
sama dengan cara bujur sangkar.
Cara dasar ketinggian sama areal bujur
sangkar .

V = A/4( h1 + 2 S h2 + 3 S h 3 + 4 S h4)

Dimana :
h1 = ketinggian titik-titik yang digunakan i
kali dalam hitungan volume Gambar 401. Volume cara dasar sama– segitiga
14 Perhitungan Galian dan Timbunan 417

e. Cara Garis Kontur V = h/3{ Ao + An + 2S Ar + S( Ar-1Ar)1/2

r pada 2SAr berselang ;


1 <= r <= n - 1,

r pada S(Ar-1 Ar)1/2 berselang ;


1 <= r <= n.

Untuk n = 1 diperoleh :
V = h/3 {Ao + A1 + (A0 A1)1/2}
= h/3 { Ao + ( A0 A1)1/2 + A1 }

Cara garis kontur dengan luas rata -rata


V = h/2 { Ao + An + 2S Ar }

r bernilai 1 <= r <= n - 1 .

Untuk n = 1 diperoleh :
V = h/2 ( Ao + A1 )
Gambar 402. Volume cara kontur
Jenis-jenis irisan tampang melintang,

Cara garis kontur dengan rumus prisma Jenis-jenis irisan tampang melintang yang
V = h/3{ Ao + An + 4SA2r+1 + 2SA2r } biasa dipakai pada pengukuran jalur lintas

r pada 2r + 1 berselang ; ditunjukkan pad a gambar 14.7. Pada tanah

0 <= r <= 1/2( n - 2) datar irisan (tampang) datar (a) adalah yang
sesuai. Tampang tiga tingkat (b) biasanya
r pada 2r berselang ;
yang dipakai dimana keadaan tanah biasa.
0 <= r <= 1/2( n - 2).
Topografi yang bergelombang mungkin
Untu k n = 2 diperoleh r = 0, sehingga : memerlukan tampang lima tingkat (c), atau
V = h/3(Ao + A2 + 4 A1) lebih praktis sebuah tampang tak beraturan
= h/3(Ao + 4 A1 + A2). (d), tampang transisi (e), dan tampang
lereng bukit (f), terjadi dalam perubahan dari
Bila n adalah ganjil, bagian yang terakhir
galian ke timbunan pada lokasi lereng bukit.
dihitung dengan cara piramida kotak atau
cara rerata luas penampang awal dan akhir. a. Luas ujung dengan koordinat
Metode koordinat untuk menghitung luas
Cara garis kontur dengan rumus piramida
kotak : ujung dapat dipakai untuk sembarang
14 Perhitungan Galian dan Timbunan 418

jenis tampang dan mempunyai banyak untuk menyeimbangkan pekerjaan tanah,


pemakaian teknis. ini harus dipertimbangkan.

b. Luas prismoidal Untuk menganalisa pemindahan kuantitas


Luas prismoidal berlaku untuk volume- pekerjaan tanah pada proyek-proyek

volume semua benda pejal geometris besar, dibuat diagram massa. Ini adalah
yang dapat dianggap prismoidal . penggambaran volume komulatif untuk

Kebanyakan volume pekerjaan tanah masing-masing stasiun sebagai ordinat,


termasuk klasifikasi ini, tetapi nisbi terhadap stasiun-stasiun pada absis.
beberapa saja daripadanya memerlukan
Garis-garis horizontal (keseimbangan)
keseksamaan rumus prismoidal. Tanah pada diagram massa kemudian
itu tidak seragam dari tampang melintang
menentukan batas angkutan dan arah
lain, dan sudut tegak lurus dari sumbu pembuangan material yang masih
yang dibuat dengan prisma pentagon
ekonomis.
atau dengan metode “lengan”.
Jika tidak ada material cukup dari galian
c. Hitungan volume untuk membuat galian yang diperlukan,
Dalam konstruksi jalan raya dan jalan selisihnya harus dipinjam (diperoleh dari
baja, material penggalian atau galian lubang galian sumbang atau sumber-
dipakai untuk membangun penimbunan sumber lain seperti membuat lengkungan
atau timbunan. Kecuali ada faktor-faktor “tambahan”).
pengendali lainnya, garis gradien yang
Jika ada kelebihan galian, maka dibuang
bagus perencanaanya seharusnya
atau barangkali dipakai untuk
hampir memberi timbangan volume
memperluas dan meratakan timbunan.
jumlah galian dengan volume jumlah
timbunan. 2. Metode luas satuan atau lubang galian
sumbang (boroow pit method)
Untuk mencapai keseimbangan, volume
timbunan dikembangkan atau volume Untuk mengetahui kualitas tanah, kerikil,
galian dikecilkan. Ini perlu karena kecuali batu atau material lain yang digali atau
untuk galian-galian batu dan penimbunan yang ditimbunkan pada sebuah proyek
dimampatkan sampai suatu kepekatan konstruksi dapat ditentukan dengan sipat
yang lebih besar daripada material yang datar lubang galian sumbang (borrow pit
digali dari keadaan alamiahnya, dan method ).
14 Perhitungan Galian dan Timbunan 419

3. Metode luas garis tinggi (contour area Yang kedua umumnya diberikan bidang
method) persamaan, yaitu hasil desain pada satu
rancang bangun konstruksi diatas ketinggian
Volume berdasarkan garis tinggi dapat
yang tertentu, sehingga dengan demikian
diperoleh dari peta garis tinggi dengan
mungkin terjadi galian dan timbunan. Galian
pengukuran luas memakai planimeter
terjadi apabila bidang persamaanya lebih
terhadap wilayah yang dibatasi masing-
tinggi dari profil yang ada. Timbunan yang
masing garis tinggi dan meng alikan luas
lebih rendah dari profil yang ada,
perata garis tinggi yang berdampingan
sedangkan timbunan yang terjadi apabila
dengan interval garis tinggi.
bidang persamaan lebih tinggi daripada
Selain metode-metode di atas volume dapat profil yang ada. Apabila luas semua
dicari dengan menggunakan rumus integral potongan melintang tersebut telah dihitung,
simpson, prisma, dan sebagainya. maka dengan sendirinya volume pekerjaan

a. Hitungan isi cara Simpson tersebut akan segera pula didapat yaitu
dengan metode Simpson.
Dari keempat bentuk yang memanfaatkan
potongan melintang, baik untuk bentuk b. Hitungan isi cara prisma

sederhana, seksi tiga level, kemudian seksi Sebuah prisma didefinisikan sebagai
dengan kemiringan diketahui, dan akhirnya sebuah bentuk padat (solid) yang
sisi kemiringan bukit, maka selanjutnya hasil mempunyai dua bidang paralel, baik dalam
hitungan luas (volume). Hal ini dapat ukuran tertentu atau tak tentu bentuknya.
dilakukan baik dengan menggunakan rumus Kedua permukaan ini dihubungkan oleh
Simpson ataupun rumus prisma. permukaan bidang ataupun lengkungan

Perhitungan volume dengan metode yang dari satu ujung kelainnya, misalnya

Simpson, yaitu pekerjaan galian dan prisma.

timbunan umumnya dilakukan berdasarkan Menurut Simpson:


potongan melintang, yang mempunyai Volume = (1/3) x (D/2) x {A1 +A2 + (2XA0)
interval yang sama, misalnya 100m, atau + 4M}
50m. demikian pula rentangan garis tengah = (1/6) x D x (A1 + A2 +4M)
juga belum tentu sama panjang, baik ke kiri
Ini adalah cara Simpson yang digunakan
maupun ke kanan, sehinnga untuk setiap
pada prisma ini, sehingga dapat digunakan
potongan melintang yang dihasilkan akan
untuk menghitung sembarang pisma
didapatkan beberapa bentuk luas potongan
melintang dengan mempersiapkan terlebih
melintang.
14 Perhitungan Galian dan Timbunan 420

dahulu luas M yaitu potongan melintang Kontur pertama, kedua, dan ketiga,
tengah dari bentuk prisma tersebut. Patut merupakan suatu set perhitungan yang
diperhatikan bahwa luas M belum tentu akan menghasilkan volume kedua
merupakan harga rata-rata dari luas lapisan tersebut, yaitu dibatasi oleh
potongan awal dan akhir. lapisan pertama tersebut, yaitu dibatasi
oleh lapisan pertama dan ketiga. Maka
Volume pekerjaan be sar
kita dapatkan untuk kedua lapisan
Hitungan dapat dilakukan dengan tersebut:
perhitungan titik-titik ketinggian atau
Volume = (2H/6) x (A1 + 4A2 + A3)
perhitungan melalui kontur. Sehingga perlu
Kalau naik lagi selanjutnya didapatkan
dilakukan pekerjaan sipat datar luas, baik
persamaan lain, yaitu :
secara langsung ataupun tak langsung.
Volume = (2H/6) x (A3 + 4A4 + A5)
1. Volume dari titik tinggi
Dalam cara A yaitu volume dengan Kalau dijumlahkan, kedua volume
menghitung titik ketinggian, maka lapisan kontur ini akan didapatkan
pengukuran yang dilakukan adalah bahwa penjumlahannya Volume total :
ukuran sipat datar luas, yaitu sipat datar
(H/3) x {A1 + A5 + 2A3 + 4 x (A2 + A4)}
luas tak langsung membuat patok-patok
Rumus di atas sangat mirip dengan
persil serta mengukur ketinggian titik
rumus Simpson yang umum, yaitu luas
sudut setiap persil.
potongan awal ditambah dua kali
2. Volume garis kontur potongan ganjil ditambah jumlah empat
Cara untuk menghitung daerah yang
kali potongan genap. Sehingga yang
luas ini adalah dengan menggunakan mudah kita dapat menghitung volume
kontur. Setelah diperhatikan ternyata
tersebut.
bentuk kontur tersebut mirip dengan
bentuk prisma. Sehingga andaikan Sumber-sumber galat

bahwa bidang yang dibentuk oleh Beberapa Galat yang biasa ada pada
sepasang kontur merupakan potongan- penentuan luas tampang dan volume
potongan yang ada dalam perhitungan pekerjaan tanah adalah:
di muka. Sehing ga volume suatu daerah 1. Membuat Galat dalam pengukuran
dapat dihitung dengan menggunakan tampang melintang
rumus prisma dengan mengambil 3 2. Kelalaian memakai rumus prismoidal
bidang kontur. dimana dibenarkan.
14 Perhitungan Galian dan Timbunan 421

3. Memakai angka luas tampang melintang 2. Gambarkan masing-masing irisan


melebihi ft persegi terdekat, atau melebihi penampang melintang yang
batas yang dimungkinkan oleh data bersangkutan dan perlihatkan
lapangan. perbedaan tinggi muka tanah asli
4. Memakai angka volume melebihi yard dengan tinggi permukaan perkerasan
persegi terdekat. yang direncanakan.
3. Dengan menggunakan Planimetri atau
Kesalahan-kesalahan besar
milimeter kolom hitung masing -masing
Beberapa kesalahan khas yang dibuat luas penampang galian dan timbunan
dalam hitungan pekerjaan tanah adalah: dengan cermat.
1. Mengacaukan tanda-tanda aljabar
Sebagai pedoman dalam perhitungan luas
dalam hitungan luas ujung memakai
bidang galian dan timbunan di atas,
metode koordinat
beberapa bentuk gambar penampang
2. Memakai persamaan untuk hitungan
melintang untuk pekerjaan jalan raya yang
volume stasiun angka bulat padahal
kiranya perlu dicermati dengan seksama.
yang ada adalah stasiun angka pecahan
3. Memakai volume luas ujung untuk
bentuk pyramidal atau bentuk paju
(wedgeshaped)
4. Mencampur adukkan kuantitas galian
dan timbunan

14.4 Pengolahan data g alian dan Gambar 403. Penampang melintang jalan ragam 1
timbunan

Untuk menghitung galian dan timbunan


tanah berdasarkan irisan penampang
melintang. Pengolahan data dilakukan
dengan cara sebagai berikut :
1. Tempatkan titik mana yang akan
digunakan untuk irisan penampang
melintang. Gambar 404. Penampang melintang jalan ragam 2
14 Perhitungan Galian dan Timbunan 422

V = Volume galian atau timbunan


3
tanah (m )
A1 = Luas bidang galian atau
timbunan pada titik awal proyek
(m 2)
A2 = Luas bidang galian atau
timbunan pada irisan
2
penampang berikutnya (m )

Gambar 405. Penampang melintang jalan ragam 3


d = Panjang antara 2 (dua) titik irisan
melintang (m)
4. Setelah luas masing -masing irisan
penampang melintang diperoleh, 5. Hitung total jumlah volume galian dan

selanjutnya hitung volume timbunan timbunan tanah tersebut.

masing-masing dengan rumus sebagai Untuk mempermudah dalam


berikut : perhitungan digunakan format tabel
Volume = ( a1 + a2 ) x d 14.1 berikut sebagai salah satu contoh.
2
Keterangan :
Tabel 40. Tabel perhitungan galian dan timbunan

Luas Penampang (m2) Jarak Volume (m3)


STA
Galian Timbunan (meter) Galian Timbunan
Sta. awal G1 T1 G1 + Ga T1 + Ta
d1 .d 1 .d1
Sta. A Ga Ta 2 2
Sta. B Gb Tb Gb + Gc Tb + Tc
d2 .d 2 .d2
Sta. C Gc Tc 2 2
: : : : : :
: : : : : :
: : : : : :
: : : : : :
dst dst dst dst dst dst
Total ? Gn ? Tn ? dn ?Vol G ? Vol T
14 Perhitungan Galian dan Timbunan 423

B = Berat jenis tanah dalam


14.5 Perhitungan galian
keadaan asli.
dan timbunan L = Berat jenis tanah dalam
a. Perubahan volume tanah akibat keadaan lepas.
galian Cara lain yang digunakan adalah dengan
menggunakan load factor , yaitu persentase
Materi yang terdapat di alam itu berada
pengurangan dalam berat jenis (density)
dalam keadaan padat dan terkonsolidasi.
dari suatu material pada keadaan asli
dengan baik, sehingga hanya sedikit bagian- menjadi pemindahan tanah didasarkan pada
bagian yang kosong atau terisi udara di pengukuran material dalam keadaan asli.
antara butir-butirnya, terutama bila butir-butir
Persamaan yang digunakan adalah :
tersebut sangat halus.
Berat jenis tanah gambur (lb/curf)
Tetapi jika material tersebut digali, maka Load factor =
Berat jenis tanah asli (lb/curf)
akan terjadi pengembangan volume
(swelling). Besarnya swelling ini tidak sama volume jenis tanah asli (curf/lb)
Load factor =
untuk setiap jenis tanah, bergantung pada volume jenis tanah lepas (curf/lb)

berat jenis tanah. Pengembangan volume ini Atau volume tanah keadaan asli = load
dinyatakan dengan swell factor factor x volume tanah gembur.

yang dalam persen. Sebagai contoh


misalnya untuk tanah liat. Bila tanah liat
Sw = ⎛⎜ B − 1⎞⎟ x100 % = ⎛⎜ 1 −1⎞⎟ x 100 %
⎝L ⎠ ⎝ B/ L ⎠
3
tersebut di alam mempunyai volume 1 m ,
= ⎛⎜ 1 ⎞
⎜ Load factor − ⎟⎟100
maka setelah digali menjadi 1,25 m3. Artinya Swell (%) %
⎝ ⎠
terjadi penambahan volume sebesar 25 %.
Dengan demikian tanah liat tersebut b. Perubahan volume tanah akibat
mempunyai S
“ welling Factor” 0,80 atau 80 timbunan
%.
Dalam pekerjaan tanah yang dimaksud
Untuk menentukan besarnya swell factor ini dengan timbunan adalah tanah yang
digunakan persamaan : dipadatkan untuk tujuan tertentu. Misalkan

Sw =
(B − L ) × 100 % untuk membuat badan jalan, tanggul,
L bendunga n dan lain-lain, dengan demikian
akan terjadi perubahan volume. Volume ini
Dimana : SW = Swelling factor.
sering disebut volume penyusutan
(shringkage)
14 Perhitungan Galian dan Timbunan 424

Tabel 41. Daftar load factor dan procentage swell dan berat dari berbagai bahan

Load factor
MATERIAL Lb/BCY % Selt Lb/LCY (%)
Bauksit 3200 33 2400 75
Caliche 3800 82 2100 55
Cinders 1450 52 950 66
Karnotit, Bijih Uranium 3700 35 2750 74
Lempung, Tanah Liat Asli 3400 22 2800 82
Kering untuk digali 3100 11 2500 81

Basah untuk digali 350 25 2800 80


Lempung dan kerikil
kering 2800 41 2000 74
Lempung dan kerikil 3100 11 2800 74
Basah
Batu bara : antrasit muda 2700 35 2000 74
Batu bara : Tercuci 2500 35 1850 74
Batu bara : Bitumen 2150 35 1600 74
muda
Batu bara : Tercuci 1900 35 1400 74
Batuan lapukan
75% batu 25%tanah 4700 43 3300 70
biasa
50% batu 50% tanah 3850 33 2900 75
biasa
25% batu 75% tanah 3300 25 2550 80
biasa
Tanah-Kering Padat 3200 25 2550 80
Tanah-Basah 3400 27 2700 79
Tanah-Lanau (Loam) 2600 23 2100 81
Batu granit-pecah 4600 64 2800 61
Kerikil, siap pakai 3650 12 3250 89
Kering 2850 12 2550 89
Kering ¼”, 2” (6-51mm) 3200 12 2850 89
Basah ¼”, 2” (6-51mm) 3800 12 3400 89
Pasir dan tanah liat-lepas 3400 27 2700 79
Pasir dan tanah liat-pa dat - - 4050 -
Gips dengan pecahan 3550 75 3050 57
besar
Gips dengan pecahan 4700 75 2700 57
kecil
14 Perhitungan Galian dan Timbunan 425

Tabel 42. Daftar load factor dan procentage swell dan berat dari berbagai bahan

MATERIAL Load factor


Lb/BCY % Selt Lb/LCY
(%)
Hematit, bijih besi 4900 18 4150 85
Batu kapur-pecah 4400 69 2600 59
Magnetit, bijih besi 5500 18 4700 85
Pyrit, bijih besi 5100 18 4350 85
Pasir batu 4250 67 2550 60
Pasir-Kering lepas 2700 12 2400 89
Pasir-Sedikit basah 3200 12 2850 89
Pasir-Basah 3500 12 2900 89
Pasir & Kerikil-Kering 3250 12 2900 89
Pasir & Kerikil-Basah 3750 10 3400 91
Slag-Pecah 4950 67 2950 60
Batu-Pecah 4950 67 2700 60
Takonit 7100- 75 – 7 2 4100-
57 – 5 8
9450 5400
Tanah permukaan
2300 43 1600 70
(Top soil)
Traprock - pecah 4400 49 2950 67

Besarnya persentase shringkage adalah : Perhitungan Luas Penampang,

⎛ B⎞ Pada cara sederhana penampang dibagi


Sh = ⎜1 − ⎟ x100 %
⎝ C⎠ menjadi bentuk segitiga, persegi panjang
Dimana : atau trapesium.
Sh = % Penyusutan (shringkage).
Contoh :
B = Berat jenis tanah keadaan asli
Misal akan dihitung volume dari galian
(Lb/curf)
sebagai berikut :
C = Berat jenis tanah pada
(lb/curf)
X1 X2
c. Perhitungan Galian dan Timbunan

Untuk menghitung volume galian atau


timbunan dari suatu badan jalan atau h2 d
h1
saluran misalnya, maka harus diketahui dulu
a
luas penampangnya. Dalam menghitung b
luas penampang dapat dilakukan beberapa
cara seperti: cara sederhana, cara Gambar 406. Penampang trapesium
koordinat dan lain-lain.
14 Perhitungan Galian dan Timbunan 426

Luas galian : = ½ ( [y1 (x4 - x2) + y2 (x1 - x3) + y3 (x2


L = ½ [d (X1 + X2) + aha1 + (b-a) h 2] + x4) + y4 (x3 + x1)]
atau : ½ (yn (xn- 1 – xn+1))
Kalau a = ½ b maka,
cara lain untuk 2 kali luas adalah:
L= ½ [d (X1 + X2) + ½ b (ha1+ h 2)]
2A = (x1y2 + x2y3 + x3y4 + x4y1) - (y1x2
Untuk menghitung luas timbunan : + y2x3 + y3x4 + y 4x1)

b 2A = xn Xn+1 – yn xn+1

B C
atau dapat juga dinyatakan sebagai berikut:
h2
1
A m b + 2mh2 y1 y 2 y 3 y 4 y1
/ / / /
h1 x1 x 2 x 3 x 4 x1

Perbanyaklah menurut diagonal-diagonal


D
yang ditandai dan jumlahkan semua
Gambar 407. Penampang timbunan perbanyakan ini (semua positif). Kemudian
Luas = ½ h 2 (2b + 2 mh2) + ½ (h1 – h2) x perbanyak menurut diagonal-diagonal yang
(b + 2 mh 2) tidak ditandai dan jumlahkan perbanyakan
= ½ bh2 + ½ hi (b+2mh2) ini (semua negatif). Selisih dari kedua hasil
penjumlahan ini merupakan 2 kali luas
Hitungan luas dengan cara koordinat,
bidang 12341.

Y Pada perhitungan penampang yang hanya


3 terdiri galian saja atau timbunan saja,

2 sebagai sumbu-sumbu diambil canter-line


dan dasar jalan.
4
Pada penampang di lereng yang terdiri dari
1
galian dan timbunan, maka sumbu vertikal
X
diambil pada perpotongan dasar jalan dan
lereng. Jadi cut (galian) dan fill (timbunan)
Gambar 408. Koordinat luas penampang dihitung tersendiri.

Luas 12341 adalah : Biasanya pada hitungan di dapat harga


= ½ ( [(x1 + x2) (y2 + y1) + (x2 + x3) (y3 + positif untuk cut dan negatif untuk fill.

y2) (x1 + x4) (y4 – y1) + (x2 + x4) (y3 +y4)


14 Perhitungan Galian dan Timbunan 427

d. Perhitungan Volume Kalau kita bandingkan antara VA dan VP


pasti ada perbedaan yang disebut dengan
Cara yang paling mudah untuk menghitung
koreksi prismoida Kv. Jika Kv ditambahkan
volume adalah dengan mengambil luas rata-
pada VA , maka hasilnya akan mendekati VP .
rata bidang awal dan bidang akhir kemudian
dikalikan dengan jarak L. Jadi : Kv = VP - VA
Jadi volume adalah : L 3
Kv = (D1 – D 2 ) (x1 – x2) m
12
VA = ½ (A1 + A2) L m 3
Dimana besaran-besaran d, x dan L adalah
Dimana : A1 = luas bidang awal
seperti gambar dibawah ini :
A2 = luas bidang akhir
L = jarak antara A1 dan A 2
X2
Hasil ini cukup baik kalau daerahnya rata,
jadi penampang-penampang antara A1 dan
L
A2 tidak jauh beda. Karena cara ini
sederhana sekali, maka sering dipakai dan
D2
dianggap sebagai formula standar untuk
pemindahan tanah. D1
Cara yang lebih teliti adalah dengan rumus X1
prismoida :

Gambar 409. Volume trapesium


VP =
L
( A1 + 4 Am + A1 )
B
Contoh Soal:
Dimana :
1. Gambar berikut ini merupakan suatu
VP = Volume dengan rumus prismoida.
penampang galian. Penampang dibagi
L = Jarak antar bidang awal A1 dan
dalam dua bidang A1 dan A2, masing-
bidang akhir A2.
masing mempunyai koordinat seperti
Am = Bidang tengah antara A1 dan A2 dan
tergambar. Hitunglah seluruh luas
sejajar dengan kedua bidang ini.
penampang galian !
Cat : Am bukan rata-rata dari A1 dan A2
Am ≠ ½ (A1 + A2)
14 Perhitungan Galian dan Timbunan 428

3/12
2,5/8
2/0
1,5/10

A1 A2

0/6 0/0 0/6

6 6

Gambar 410. Penampang galian


Penyelesaian :

Untuk sebelah kiri,

0 0 3 2,5 2 0
/ / / / /
0 6 12 8 0 0
Luas 2 A1 = 0 + 18 + 30+ 16+ 0 – (0 + 0 + 24 + 0 + 0)
= 64 – 24
= 40 m 2

Untuk sebelah kanan,

0 0 1,5 2 0
/ / / /
0 6 10 80 0
Luas 2 A2 = 0 + 9 + 20+ 0 – (0 + 0 + 0 + 0)
= 29 – 0
= 29 m 2

Luas seluruh penampang :

1
A= ( 40 + 29) = 34,50 m 2
2
14 Perhitungan Galian dan Timbunan 429

2. Gambar berikut ini merupakan suatu Untuk sebelah kanan,


penampang timbunan. Penampang 0 2 2 ,5 1,5 0 0
/ / / / /
dibagi dalam dua bidang A1 dan A2, 0 0 3 9 6 0
masing-masing mempunyai koordinat
seperti tergambar. Hitunglah seluruh
luas penampang timbunan !

0/6 0/0 0/6

2
1,5/9

A1 A2

2,5/11 2,5/3

2/2

Gambar 411. Penampang timbunan


Luas 2 A2 = 0 + 0 + 4,5+ 0 + 0 – (0 + 9 +
Penyelesaian : 22,5 + 37,5)
Untuk sebelah kiri, = 4,5 – 37,5
2
0 2 2,5 0 0 = 29 m
/ / / /
0 0 11 6 0 Luas seluruh penampang :
Luas 2 A1 = 0 + 0 + 0+ – (0 + 15 + 22 1
A= (− 37 − 33 ) = - 35 m 2
+0) 2
= 64 – 24
2
Berdasarkan gambar diatas, luas timbunan
= - 37 m
sebesar 35 m 2.
14 Perhitungan Galian dan Timbunan 430

3. Berdasarkan gambar berikut ini hitunglah luas galian dan timbunan

C
3/4
2,5/9

1,5/4

6 cm 6 cm

0/7
0/0
0/5

2/6

3/13

Gambar 412. Penampang galian dan timbunan Luas 2 A2 = 0 + 15 + 27,5 + 13,5 – (0 +


0 + 27 + 10 + 0)
Penyelesaian :
= 56 – 37
Untuk timbunan , 2 A2 = 19 m
2

0 2 3 0 0 A2 = 9,5 m 2
/ / / /
0 6 13 7 0
Sehingga diperoleh luas penampang
2
Luas 2 A1 = 0 + 18 + 0+ 0 – (0 + 26 + galian (A2) = 9,5 m
21 + 0)
= 18 – 47 14.6 Penggambaran Galian
2
2 A1 = - 29 m
dan Timbunan
A1 = -14,5 m 2
Penggambaran galian dan timbunan
Sehingga diperoleh luas penampang
2 dilakukan pada setiap titik irisan penampang
timbunan (A1) = -14,5 m
melintang, sejumlah titik yang telah
Untuk galian, ditentukan sebelumnya. Berikut beberapa
0 0 3 2 ,5 1,5 0 contoh penggambaran galian dan timbunan.
/ / / / /
0 5 11 9 4 0
14 Perhitungan Galian dan Timbunan 431

Gambar 413. Penampang melintang galian dan timbunan


14 Perhitungan Galian dan Timbunan 432

Model Diagram Model


Alir IlmuDiagram
Ukur Tanah
AlirPertemuan ke-14
Perhitungan Galian dan Timbunan
Perhitungan
Dosen Penanggung Galian dan Timbunan
Jawab : Dr.Ir.Drs.H.Iskandar Muda Purwaamijaya, MT

Pengukuran
Peta Situasi Sipat Datar Profil
dengan Garis- Galian dan Timbunan Memanjang dan
Garis Kontur Melintang di
Lapangan

Luas Rata-Rata Galian dan


Timbunan 2 Profil Melintang
Gridding (Kotak-Kotak Bujur
dikalikan dengan jarak
Sangkar)
mendatar antara 2 profil
melintang

meter
kubik

Perencanaan Kavling Perencanaan Jalan dan


Perencanaan Bangunan Air
Perumahan Jembatan

Teknologi Pemetaan Canggih


(Sophisticated Mapping)

GPS Perangkat Lunak


(Global Positioning System) CAD dan GIS

Total Station

Gambar 414. Diagram alir perhitungan galian dan timbunan


14 Perhitungan Galian dan Timbunan 433

Rangkuman

Berdasarkan uraian materi bab 14 mengenai perhitungan galian dan timbunan,


maka dapat disimpulkan sebagi berikut:

1. Galian dan timbunan dapat diperoleh dari peta situasi yang dilengkapi dengan garis-
garis kontur atau diperoleh langsung dari lapangan melalui pengukuran sipat datar profi l
melintang sepanjang koridor jalur proyek atau bangunan.

2. Adapun Tujuan lain dari perhitungan galian dan timbunan sebagai berikut :

a. Meminimalkan penggunaan volume galian dan timbunan pada tanah, sehingga


pekerjaan pemindahan tanah dan pekerjaan stabilitas tanah dasar dapat dikurangi,
waktu penyelesaian proyek dapat dipercepat, dan biaya pembangunan dapat se-
efisien mungkin.
b. Untuk menentukan peralatan (alat-alat berat) yang digunakan pada pekerjaan galian
maupun timbunan, dengan mempertimbangkan kemampuan daya operasional alat
tersebut.

4. Sebelum memulai perhitungan galian dan timbunan, pekerjaan diawali dengan


pematokan (stake out). Pematokan bertujuan untuk menandai wilayah mana saja yang
akan terkena galian dan timbunan, atau bagian-bagian di lapangan yang menjadi bakal
proyek. Setelah pekerjaan stake out selesai, pekerjaan galian dan timbunan dapat
dimulai dengan mengolah data yang diperoleh dari lapangan untuk selanjutnya diolah.
Ada tiga sistem utama yang dipakai: metode tampang melintang, metode luas satuan
atau lubang galian sumbang dan metode luas garis tinggi.

5. Beberapa kesalahan khas yang dibuat dalam hitungan pekerjaan tanah adalah:
a. Mengacaukan tanda-tanda aljabar dalam hitungan luas ujung memakai metode
koordinat.
b. Memakai persamaan untuk hitungan volume stasiun angka bulat padahal yang ada
adalah stasiun angka pecahan.

c. Memakai volume luas ujung untuk bentuk pyramidal atau bentuk paju
(wedgeshaped). Mencampur adukkan kuantitas galian dan timbunan.
14 Perhitungan Galian dan Timbunan 434

Soal Latihan

Jawablah pertanyaan – pertanyaan dibawah ini!

1. Sebutkan beberapa kesalahan khas yang dibuat dalam hitungan pekerjaan tanah?
2. Penggambaran galian dan timbunanan dilakukan pada setiap titik irisan penampang
melintang. Berikan beberapa contoh penggambaran galian dan timbunan?
3. Apa tujuan lain dari perhitungan galian dan timbunan?
4. Sebelum memulai perhitungan galian dan timbunan, pekerjaan diawali dengan
pematokan. Apa tujuan dari pematokan? Serta sebutkan cara dan prosedur-prosedur
pematokan?
5. Materi yang terdapat di alam berada dalam keadaan padat dan terkonsolidasi dengan
baik, sehingga hanya sedikit bagian -bagian yang kosong atau terisi udara di antara butir-
butirnya. Apa yang terjadi jika material tersebut digali? Bagaimana cara menghitung
vulume galian dan timbunan, serta berikan contoh dan gambarnya?
435
15.Pemetaan Digital (Digital Mapping)

15. Pemetaan Digital (Digital Mapping)

1. Raster
15.1 Pengertian pemetaan digital
Merupakan format data dengan satuan pixel
(resolusi/kerapatan) ditentukan dalam
Peta adalah sarana informasi (spasial)
satuan ppi (pixel per inch). Tipe format ini
mengenai lingkungan. Pekerjaan –
tidak bagus digunakan untuk pembuatan
pekerjaan teknik sipil dan perencanaan,
peta digital, karena akan terjadi korupsi data
dasarnya membutuhkan peta-peta dengan
ketika dilakukan pembesaran atau
berbagai macam jenis tema dan berbagai
pengecilan. Contoh format data raster :
macam jenis skala
bitmap (seperti tiff, targa, bmp), jpeg, gif,
Pemetaan adalah suatu proses penyajian dan terbaru PNG.
informasi muka bumi yang fakta (dunia
2. Vektor
nyata), baik bentuk permukaan buminya
Merupakan format data yang dinyatakan
maupun sumbu alamnya, berdasarkan skala
oleh satuan koordinat (titik dan garis
peta, system proyeksi peta, serta symbol-
termasuk polygon) format ini yang dipakai
symbol dari unsur muka bumi yang
untuk pembuatan peta digital atau sketsa.
disajikan. Kemajuan di bidang teknologi
Contoh format ini : dxf (autocad), fix (xfig),
khususnya di bidang computer
tgif (tgif), dan ps/eps (postscrift).
mengakibatkan suatu peta bukan hanya
dalam bentuk nyata (pada selembar kertas,
15.2 Keunggulan pemetaan
real maps, atau hardcopy), tetapi juga dapat digital dibanding pemetaan
disimpan dalam bentuk digital, sehingga konvensional
dapat disajikan pada layar monitor yang
Tabel 43. Keunggulan dan kekurangan pemetaan
dikenal dengan peta maya (Virtualmaps
digital dengan konvensional
atau softcopy).
Pemetaan digital Pemetaan Konvensional

Pemetaan digital adalah suatu proses Penyimpanan Skala dan standar


berbeda
pekerjaan pembuatan peta dalam format
Pemanggilan Kembali Cek manual
digital yang dapat disimpan dan dicetak
Pemutahiran Mahal dan memakan
sesuai keinginan pembuatnya baik dalam waktu
jumlah atau skala peta yang dihasilkan. Analisa Overlay Memakan waktu dan
tenaga
Format digital terdiri dari 2 macam
Analisa Spasial Rumit
Penayangan mahal
436
15.Pemetaan Digital (Digital Mapping)

15.3 Bagian - bagian pemetaan


digital

Pemetaan digital terdiri dari perangkat


keras, perangkat lunak, tenaga kerja, dan
perangkat intelegensia.

15.3.1 Perangkat keras Gambar 416. Perangkat keras Scanner

Komponen dasar perangkat keras


- Sistem masukan terdiri dari :
Pemetaan Digital dapat dikelompokan
1. Data tekstual (atribut), dapat ditinjau dari
sesuai dengan fungsinya antara lain
data hidrologi, geologi teknik, tata guna

a. Peralatan pemasukan data, misalnya lahan, data geometris dan data-data

papan digitasi (digitizer), Penyiam lainnya.

(scanner), keyboard, disket dan lain-lain. 2. Data grafis atau peta terdiri dari peta-

b. Peralatan penyimpanan dan pengolahan peta topografi dan peta-peta tematik.

data, yaitu komputer dan 3. Sistem pemrosesan dan penyimpanan

perlengkapannya seperti : monitor, terdiri dari :

papan ketik (keyboard), unit pusat 1. Pemrosesan data tekstual yaitu

pengolahan (CPU- central processing dapat berdiri sendiri tanpa

unit), cakram keras (hard-disk), floppy dihubungkan dengan informasi grafis

disk,dan flashdisk tetapi dapat juga bergantung pada

c. Peralatan untuk mencetak hasil seperti atau berkaitan dengan informasi

printer dan plotter grafis.


2. Pemrosesan data grafis meliputi
manipulasi penyajian grafis,
pembuatan peta-peta tematik,
penggabungan informasi grafis,
kodifikasi penyajian dengan
atributnya, overlay atau penumpukan
tema tertentu, pembuatan legenda,
perhitungan luas suatu area atau
Gambar 415. Perangkat keras
kurva, perhitungan jarak, pembuatan
garis kontur untuk tema tertentu,
437
15.Pemetaan Digital (Digital Mapping)

perhitungan beda tinggi, orientasi - Survei digitasi langsung dari model


relatife dan orientasi absolute posisi- orientasi absolute
posisi dan lain sebagainya. - Survei lapangan,
3. Sistem keluaran - Laporan-laporan (atribut, karakteristik
Keluaran akhir dari pemrosesan data fungsional),
dapat berupa suatu tabel-tabel, - Laporan topologi yang ada serta
laporan-laporan, grafik atau peta. berhubungan fungsional dan features
Hasil ini dicetak sesuai format yang petanya,
berlaku dan dicetak berdasarkan - Laporan serta kesatuan grafis yang
kepentingan dan keinginan berhubungan dengan aplikasi kajian,
pengguna. - Informasi kuantitatif hasil dari analisis data
spasial berikut keberadaannya.
15.3.2 Perangkat lunak
Informasi-informasi diatas dapat diperoleh
Perangkat lunak yaitu alat atau media yang
langsung atau diperoleh setelah dilakukan
digunakan untuk konversi, penggambaran,
manipulasi dan analisis lebih lanjut.
penyimpanan, pemanggilan pemanipulasian
dari analisis data untuk melengkapi serta x Tenaga kerja
untuk penyajian informasi. Perangkat lunak
Tenaga kerja yang dilibatkan pada
yang digunakan biasanya mempunyai
pemetaan digital biasanya relatif sedikit dan
fasilitas database koordinat baik 2 dimensi
dapat terdiri dari operator produksi data.
maupun 3 dimensi yang dilengkapi pula
Tenaga kerja termasuk kedalam pengguna
dengan hubungan antar muka sistem
kelas pertama dan pengguna kelas kedua .
masukan dan sistem keluaran.
- Pengguna kelas pertama :
15.3.2.1 Sistem Masukan dan Keluaran
pemrograman aplikasi tertentu yang
Bagian teratas dari diagram memperlihatkan bertanggung jawab dalam penulisan
sistem masukan yang menghasilkan program-program aplikasi untuk
informasi kepada basis data topografi digital. eksplorasi basis data.
Masukan ini dapat diperoleh dari suatu
- Pengguna kelas dua :
sumber informasi atau dari sumber-sumber
Pengguna akhir yang dapat mengakses
yang berbeda-beda dan terdiri dari :
dan memanggil kandungan basis data
- Hasil digitasi peta-peta topografi yang telah dari suatu terminal komputer atau stasiun
ada atau dari peta-peta ortofoto, kerja (workstation) untuk komunitas
penunjang tertentu.
438
15.Pemetaan Digital (Digital Mapping)

- Perangkat Intelegensia - Sistem keluaran


Perangkat intelegensia melibatkan pakar Sistem keluaran data dapat berupa
komputer, pakar geodesi, dan pakar hardcopy, softcopy, atau elektronik
pemrograman serta pembangunan keluaran hardcopy berupa suatu media
sistem untuk menghasilkan otomatisasi penyajian permanen. Keluaran softcopy
pembuatan peta. Perangkat intelegensia adalah keluaran dalam bentuk penyajian
termasuk pengguna kelas ketiga. di layar komputer, keluaran softcopy
digunakan sebagai pedoman interaksi
- Pengguna kelas ketiga : bagi operator untuk mengevaluasi hasil
Administrator batas basis data, yaitu di layar sebelum hasil akhir tersebut
orang atau sekelompok orang yang dicetak. Pengajian dalam bentuk
bertanggung jawab dalam pengawasan softcopy biasanya tidak digunakan
sistem basis data secara keseluruhan. sebagai keluaran akhir karena ukurannya
15.3.2.2 Sistem pengubah peta analog yang relatif kecil serta kekurangan dalam
menjadi peta digital kualitas data jika disajikan dalam citra
fotografi dan elektronis. Keluaran dalam
- Sistem masukan
bentuk elektronis terdiri dari file-file
Data analog yang akan didigitalisasikan
komputer. Keluaran dalam bentuk
terdiri dari data grafis dan data atribut.
elektronik ini dimaksudkan untuk
Kedua jenis data ini berbeda prinsip
pemindahan data ke system komputer
pemasukan datanya kedalam lingkungan
lain untuk penambahan analisis atau
komputer. Sistem masukan untuk
menghasilkan keluaran hardcopy
mengubah peta analog menjadi peta
ditempat lain.
digital dapat dilakukan melalui papan
ketik (keyboard), alat digitasi peta - Sistem penyimpanan
(digitizer) dan alat pemindai (scanner). Sistem penyimpanan data dapat
Media pemasukan ini dipilih berdasarkan berbentuk kaset, hard disk, compact disk,
jenis datanya dan ketelitian data yang disket,atau flashdisk.
diinginkan. Untuk data atribut biasanya - Sistem pengolahan
dilakukan melalui papan ketik, untuk data Sistem pengolahan data peta digitall
grafis biasanya dilakukan melalui digitasi dapat ditunjang oleh berbagai macam
atau alat scan. Pemasukan data tersebut processor yang dilengkapi pemroses
beracuan pada jenis datanya. numeris dan memori pengaksesan data
acak (RAM)
439
15.Pemetaan Digital (Digital Mapping)

- Sistem koordinat tema yang berhubungan untuk


Sistem koordinat grafis pada CAD jaringan irigasi atau tema lain
untuk aplikasi digital dapat dilakukan yang memberikan andil dalam
secara absolute, relatife, atau polar. perencanaan irigasi.
Fasilitas-fasilitas pemotongan garis, ƒ Tampilan untuk topografi kajian.
penyambungan garis pembuatan Peta-peta topografi sebagai suatu
sudut menyiku, pengulangan grafis, basis informasi untuk sistem
penggabungan grafis, pemisahan perencanaan irigasi harus
grafis, pembuatam kotak, pembuatan menyajikan tema-tema yang
lingkaran, pembuatan ellips dan berhubungan dengan hidrologi,
fasilitas-fasilitas lain untuk geologi, dan tata guna lahan.
penggambaran dapat mudah
2. Informasi sistem geologi terdiri dari
dilakukan diperangkat lunak CAD.
batas batuan, nama batuan, sesar,
kekar, dan morfologi.
Sejalan dengan kemajuan teknologii
komputer beserta perangkat lunaknya, maka ƒ Informasi penyajian sistem
informasi pada peta telah diubah menjadi hidrologi terdiri dari jaringan
suatu bentuk data digital yang siap dikelola. sungai, nama sungai, batas
Oleh karena itu, pekerjaan pemetaan saat daerah aliran sungai utama atau
ini tidak hanya membuat peta saja, tetapi satuan wilayah sungai, posisi-
mengelolanya menjadi informasi spasial posisi stasiun curah hujan, stasiun
melalui pengembangan basis data. Basis iklim, stasiun penduga air dan
data tersebut dapat diolah lebih lanjut nama-nama stasiun tersebut.
sehingga dapat menghasilkan berbagai ƒ Informasi penyajian sistem tata
informasi kebumian (geoinformasi) yang guna lahan terdiri dari batas
dibutuhkan oleh para perencana atau peruntukan lahan nama
pengambilan keputusan. peruntukan lahan.
3. untuk pemetaan sistem irigasi ini,
a. Tahap dalam pemetaan digital
seluruh data yang dibutuhkan
1. Membangun basis geografi
dimasukkan kedalam bentuk digital.
ƒ Resolusi peta dan akurasi yang
Peta-peta berbagai jenis dalam bentuk
tersaji pada basis lahan geografi
lembaran diubah menjadi peta-peta digital
tidak seluruhnya memenuhi syarat
dan diklasifikasikan penyajiannya kedalam
untuk tema-tema lain, baik tema-
penyajian garis, kurva atau titik. Informasi-
440
15.Pemetaan Digital (Digital Mapping)

informasi atribut dimasukkan kedalam tanah untuk menprediksi sifat dan ciri tanah
komputer dan dihubungkan terhadap keseluruhan area survai dalam Sistem
penyajian-penyajian grafis yang bersesuaian Informasi Geografis. Dengan kata lain PTD
dengan suatu penghubung yang unik baik adalah proses kartografi tanah secara
berupa koordinat atau identifier. Informasi digital.
atribut dan informasi grafis yang telah
Namun PTD bukan berarti
dihubungkan tersebut melalui media
mentransformasikan peta-peta tanah
perangkat lunak dan perangkat keras yang
konvensionil menjadi digital. Proses PTD
ada diharapkan lebih dapat mengoptimalkan
menggunakan informasi-informasi dari
perencanaan jaringan irigasi.
survei tanah lapangan digabungkan dengan
informasi tanah secara digital, seperti citra
15.4 Peralatan, bahan dan (image) remote sensing dan digital elevation
prosedur pemetaan digital
model. Dibandingkan dengan peta tanah
konvensional, dimana batas-batas tanah
15.4.1 Pemetaan tanah digital (disingkat
digambar secara manual berdasarkan
PTD) atau digital soil mapping
pengalaman surveyor yang subyektif.
Era informasi ditandai dengan pemanfaatan Namun dalam PTD teknik-teknik automatis
teknologi komputer, teknologi komunikasi dalam Sistem Informasi Geografis
dan teknologi proses secara terintegrasi, digunakan untuk menproses informasi-
untuk mewujudkan masyarakat yang informasi tanah dengan lingkungannya.
semakin nyaman dan sejahtera. PTD dapat
a. Data spasial
didefenisikan sebagai penciptaan dan
pengisian sistem informasi tanah dengan Data spasial adalah data yang memiliki
menggunakan metode-metode observasi referensi ruang kebumian (georeference) di
lapangan dan laboratorium yang mana berbagai data atribut terletak dalam
digabungkan dengan pengolahan data berbagai unit spasial. Sekarang ini data
secara spatial ataupun non-spatial. Metode spasial menjadi media penting untuk
PTD menggunakan variabel-variable perencanaan pembangunan dan
pembentuk tanah yang dapat diperoleh pengelolaan sumber daya alam yang
secara digital (misalnya remote sensing, berkelanjutan pada cakupan wilayah
digital elevation model, peta-peta tanah) nasional, regional maupun lokal.
untuk mengoptimasi survai tanah di Pemanfaatan data spasial semakin
lapangan. Tujuan PTD adalah meningkat setelah adanya teknologii
menggunakan variabel-variabel pembentuk pemetaan digital dan pemanfaatannya pada
441
15.Pemetaan Digital (Digital Mapping)

Sistem Informasi Geografis (SIG). Informasi b. Spesifikasi peta digital


spasial adalah salah satu informasi yang
harus ada dan menjadi tulang punggung Peta digital yang dapat diandalkan adalah

keberhasilan perencanaan pembangunan yang memiliki data terintegrasi secara

masyarakat di atas. nasional bahkan internasional, cepat proses


produksinya, akurat datanya serta terjamin
Penuangan informasi spasial dalam bentuk
proses pemutakhirannya.
peta digital sangat dihajatkan dikarenakan
hal-hal berikut: 3. Antisipasi

1. Fleksibilitas penggunaannya untuk Pemetaan digital mencoba menerapkan tek-

berbagai kepentingan sektoral nologi mutakhir di bidang pemetaan yang

pembangunan. seoptimal mungkin memanfaatkan teknologi

2. Semakin meluasnya penggunaan digital. Dibandingkan dengan proses pe-

komputer personal dengan berbagai metaan sebelumnya, pada pemetaan digital

fasilitas untuk penampilan data grafis. terjadi reduksi tahapan proses produksi

3. Semakin meluasnya pemanfaatan pemetaan dan reduksi waktu produksi yang

Sistem Informasi Geografis (SIG) yang berarti. Pemetaan digital menawarkan

berbasis peta digital. SIG semakin teknologi pemetaan yang menjamin

diharapkan kontribusinya dalam kecepatan dan ketepatan produksi peta.

membantu pengambilan keputusan pada


kebijakan yang terkait dengan penataan
dan pemanfaatan ruang.

Gambar 417. Peta lokasi


442
15.Pemetaan Digital (Digital Mapping)

Gambar 418. Beberapa hasil pemetaan digital, yang dilakukan oleh Bakosurtanal

c. Yang unik pada pemetaan digital

Pemotretan foto udara dikombinasikan grid beraturan ditambah pada unsur-unsur


dengan teknologi penentuan posisi GPS penting, seperti jalan dan sungai.
Kinematis. Ini mereduksi kebutuhan titik Penambahan data hasil proses cek
kontrol lapangan yang memakan waktu lama lapangan, pemisahan warna cetak sampai
dalam pengadaan dan sangat merepotkan pembuatan desain kartografis dilakukan
dalam pemeliharaannya. hampir seluruhnya secara digital.

Kebutuhan titik kontrol lapangan dipenuhi


d. Produk
dengan pengukuran Differential GPS. Ini
menjamin integrasi data dengan kerangka 1. Titik Kontrol GPS, sangat bermanfaat
spasial nasional bahkan internasional. untuk pengikatan pemetaan sektoral
kepada kerangka spasial nasional.
Kompilasi data fotogrametris stereo plotting
dilakukan dengan pengkodean unsur yang
konsisten. Artinya sejak proses ini basis
data inisial telah tersusun. Kontur dihitung
dengan pengukuran data ketinggian pada
443
15.Pemetaan Digital (Digital Mapping)

e. Daftar produk pemetaan digital

1. Foto Udara skala 1:50.000 dan


1:30.000 (untuk kota-kota: Jakarta,
Bandung, Semarang, Yogyakarta,
Surabaya dan Kupang), berikut data
GPS Kinematik.
2. Titik Kontrol GPS sebanyak kurang
lebih 170 titik yang tersebar di
seluruh wilayah pemetaan.
Gamba 419. Salah satu alat yang dipakai dalam GPS
3. 9.950 Model Foto Udara untuk
type NJ 13
penghitungan triangulasi udara dan

2. Cek plot geografis, pada prinsipnya pemetaan.

sudah dapat dimanfaatkan untuk aplikasi 4. 1.662 lembar peta skala 1:25.000

SIG sebagai masukan data dasar, atau dalam bentuk cetakan dengan 5

dapat dimanfaatkan untuk pembuatan warna.

peta-peta khusus, misalnya peta jaringan 5. Peta dalam format digital (pada

jalan. media CD-ROM) yang antara lain


memuat lapisan-lapisan (layer):
3. Peta digital, didistribusikan dalam media
jalan/komunikasi/transportasi,
CD-ROM sangat membantu dalam
pemukiman, vegetasi, perairan dan
mempercepat pengadaan data spasial
kontur.
dasar, siap digunakan oleh berbagai
kepentingan pemetaan sektoral, sebagai
pondasi pembuatan peta-peta tematik.
Akan disediakan juga produk peta dalam
bentuk cetak.
444
15.Pemetaan Digital (Digital Mapping)

Gambar 420. Hasil Foto Udara yang dilakukan di daerah Nangroe Aceh Darussalam yang dilakukan
pasca Tsunami, untuk keperluan Infrastruktur Rehabilitasi dan Konstruksi
445
15.Pemetaan Digital (Digital Mapping)

Gambar 421. Hasil foto udara yang dilakukan di daerah nangroe aceh darussalam yang dilakukan
pasca tsunami, untuk keperluan infrastruktur rehabilitasi dan konstruksi

Digital Elevation Model (DEM) dengan permudah dengan bantuan komputer mulai
kerapatan informasi ketinggian pada 100 x dari pembacaan data di lapangan yang
10 meter. dapat langsung di download ke komputer
untuk pelaksanaan perhitungan poligon,
I. Upaya pengamanan data pemetaan
perataan penghitungan (koreksi) dan lain-
digital
lain, bahkan sampai pada proses
Perkembangan teknologi komputer yang
pembuatan pemisahan warna secara digital
semakin cepat, canggih dan berkemampuan
sebagai bagian dari proses pencetakan
tinggi meliputi: kapasitas memori yang
peta.
semakin besar, proses data yang semakin
cepat dan fungsi yang sangat majemuk Perkembangan lainnya adalah dapatnya
(multi fungsi) serta semakin mudahnya peta-peta yang telah ada melalui proses
komputer dioperasikan melalui beberapa digitasi baik secara manual menggunakan
paket program, berdampak pula pada digitizer/mouse maupun dengan
proses pembuatan peta. Pembuatan peta menggunakan scanner menyebabkan data
secara konvensional secara teoritis dapat di dalam peta dapat ditransfer dari peta analog
446
15.Pemetaan Digital (Digital Mapping)

ke peta digital dan data dapat di perbaharui mengamankan data pemetaan digital
(ditambah maupun dikurangi dan lain-lain) khususnya yang menyangkut daerah rawan,
sesuai kebutuhan pengguna. obyek vital di wilayah Republik Indonesia.

Dengan berkembangnya teknologi satelit a. Pembuatan dan penggunaan peta


utamanya satelit navigasi yang dapat digital.
dipadukan dengan teknologi komputer,
Dengan semakin mudahnya proses
dampaknya terhadap bidang pemetaan juga
pembuatan peta menyebabkan banyak
semakin besar, yakni pembuatan peta
pihak yang melibatkan diri dalam bidang
melalui pemanfaatan citra satelit yang
survei dan pemetaan, khususnya yang
diedit/diolah dengan komputer. Mudahnya
bergerak dalam bidang penyediaan data
proses pembuatan peta tersebut juga
spatial (muka ruang bumi) sesuai dengan
dibarengi dengan kemudahan dalam hal
keinginan pemesan/pengguna (user). Para
memperbanyak, mentransfer, membuat
produsen
duplikat (copy) kedalam disket atau media
penyimpan/perekam lainnya sehingga Selalu akan berusaha untuk dapat
mempermudah untuk disebar luaskan memenuhi keinginan dan pesanan dari para
ataupun diperjual-belikan. pengguna dan cenderung mengikuti
permintaan pasar. Pada umumnya pihak-
Tidak menutup kemungkinan hal itu dapat
pihak yang lapangan pekerjaannya
pula dilakukan terhadap peta-peta topografi
berkaitan dengan perencanaan dan
buatan Dittop TNI-AD, peta-peta buatan
pemanfaatan ruang seperti halnya bidang
Dishidros TNI-AL, peta-peta buat-an
transmigrasi, kehutanan, pertanian,
Dissurpotrud TNI-AU atau peta-peta lainnya
perumahan, pekerjaan umum, pengembang
yang berklasifikasi rahasia. Dipandang dari
perumahan dan lain-lain sangat membutuh-
segi pertahanan, keamanan dan
kan peta sebagai salah satu sarana pokok
kepentingan militer, maka hal tersebut
dalam membuat perencanaannya.
merupakan kerawanan, dimana sampai saat
ini kita masih menekankan produk peta Sulitnya prosedur perolehan peta topografi
tersebut di atas merupakan barang yang merupakan salah satu faktor penyebab
berklasifikasi rahasia dan terbatas mereka mencari alternatif lain untuk
(tergantung kadarnya), dimana untuk memperoleh peta lain yang dapat
memperolehnya harus melalui prosedur memberikan informasi tentang medan
yang telah ditetapkan.Tantangan yang kita sebaik atau lebih baik dari peta topografi,
hadapi sekarang adalah bagaimana cara dalam hal ini contohnya seperti peta rupa
447
15.Pemetaan Digital (Digital Mapping)

bumi produk Bakosurtanal. Dengan yang ditetapkan. Salah satu kesulitan


perkembangan teknologi belakangan ini dalam proses pemetaan dengan citra
beberapa bagian wilayah Indonesia telah satelit adalah masih diperlukan proses
diliput dengan citra satelit dan interpretasi data obyek yang ada pada
direkam/disimpan dalam media compact citra satelit, sehingga diperlukan
disk yang dapat dipesan oleh pihak pengecekan lapangan (field checking)
pengguna sesuai kebutuhan dan daerah dan data/peta lain untuk ketepatan
yang dibutuhkan. informasi tentang data yang dipetakan.
b. Pembuatan peta digital. Namun kesulitan ini dapat diatasi sendiri
oleh pihak pengguna dengan jalan
1. Ditinjau dari segi efisiensi pembuatannya
melaksanakan kegiatan pengecekan
ada kecenderungan semakin banyak
lapangan sendiri sesuai kebutuhan.
pihak yang berkecimpung dalam pem
4. Sampai saat ini yang dapat
buatan peta digital, karena prosesnya
mengoptimalkan pemetaan secara digital
akan lebih singkat dibandingkan dengan
menggunakan citra satelit dan
pembuatan peta secara konvensional.
pemanfaatannya adalah pihak/lembaga-
2. Dengan memanfaatkan sistem digitasi
lembaga di luar negeri. Di Indonesia
dengan digitizer (mouse) dan scanner
sendiri baru akan dilaksanakan dan telah
dalam proses digitasi peta-peta yang
dilaksanakan persiapan-persiapan ke
telah ada, tidak menutup kemungkinan
arah pemetaan digital. Dengan
peta-peta yang di klasifikasikan sebagai
dikembangkannya pemetaan digital oleh
dokumen rahasia akan diubah pula
pihak-pihak asing, tidak menutup
menjadi peta lain dalam bentuk data
kemungkinan data mengenai wilayah
digital.
Indonesia justru lebih dikuasai oleh pihak
3. Pembuatan peta yang kemungkinannya
luar, sehingga pihak kita justru harus
lebih mudah dikembangkan adalah
membeli untuk dapat memiliki dan
dengan pemanfaatan citra satelit. Hal ini
memanfaatkannya.
disebabkan karena dengan orbit satelit
yang setiap saat mengitari bumi Penggunaan peta digital.
termasuk wilayah Republik Indonesia,
Penggunaan peta digital pada dasarnya
membuat cakupan rekaman data tentang
sama saja dengan peta biasa, hanya
kenampakan permukaan bumi wilayah
wujudnya yang agak berbeda, dimana peta
Indonesia dapat direkam semuanya dan
biasa hanya dapat digunakan dalam bentuk
dapat dipetakan sesuai periode waktu
lembaran atau helai sedangkan peta digital
448
15.Pemetaan Digital (Digital Mapping)

selain ada peta seperti halnya peta biasa (menggunakan modem), sehingga untuk
disertai data yang telah tersimpan dalam kepentingan taktis maupun strategis
media perekam seperti magnetik tape, pihak lawan/musuh dapat sewaktu-waktu
disket, compact disc, flashdisk, hardisk, dan dimonitor di/dari tempat lain. Tentunya
lain-lain sehingga sewaktu-waktu dapat hal ini akan sangat merugikan bagi
diedit dan dicetak kembali sesuai bidang pertahanan keamanan/militer
kebutuhan. Dengan kemudahan pengolahan negara kita.
dan pemindahan dari media komputer ke
media penyimpan data seperti tersebut di c. Penggunaan peta digital yang

atas membawa dampak negatif antara lain : diharapkan (memperoleh ijin)


redaksional
1. Dapat di salah gunakan oleh pihak-pihak
yang tidak berwenang dan dapat Masalah pembuatan peta digital

diperbanyak, diberikan kepada pihak lain terutama melalui penggunaan citra

serta dapat diperjual-belikan secara satelit sangat sulit untuk dicegah,

bebas. Dengan kata lain jatuh ke tangan terutama dengan perkembangan

pihak yang tidak seharusnya boleh teknologi satelit navigasi yang sangat

memperoleh dan mempergunakannya cepat. Selain itu yang me-nguasai

tanpa mendapatkan ijin dari pemerintah teknologi satelit justru negara lain seperti

Republik Indonesia. Amerika (Lansat, Seasat dan Geosat),

2. Terjadinya pembocoran data kekayaan Perancis (SPOT), Kanada (Radarsat)

alam, dislokasi militer dan segala dan lain-lain, sehingga mereka dengan

sesuatu yang seharusnya menjadi sendirinya dapat memanfaatkan data

rahasia negara. Hal ini disebabkan citra satelitnya baik untuk kepentingan

dengan berbagai teknik interpretasi citra dalam negerinya sendiri maupun untuk

yang ada, baik dengan cetode (band) dapat mengetahui keadaan/kondisi

dan lain-lain maka semua yang ada baik negara-negara lain. Demikian pula

dipermukaan wilayah maupun dibawah dalam penggunaannya semua pihak

permukaan tanah dapat diketahui. pengguna dapat secara langsung

3. Data tentang kondisi medan/alam memesan / membeli kepada

wilayah Republik Indonesia dapat lembaga/perusahaan yang membuat

ditransfer secara langsung dan secara peta tersebut. Sesuai dengan hal -hal

cepat dengan menggunakan jaringan tersebut di atas, maka dalam pembuatan

komputer yang saling dihubungkan dan penggunaan peta-peta digital


449
15.Pemetaan Digital (Digital Mapping)

tersebut seharusnya melalui prosedur didapat/diperoleh kepastian tentang


yang ditetapkan oleh pemerintah sampai sejauh mana pihak lain dapat
Republik Indonesia. menggunakan keunggulan wilayah suatu
negara/negara lain.
Walaupun dalam proses pembuatannya sulit
untuk dipantau dan dimonitor, namun Semakin banyak faktor yang harus
sebaiknya pembuatan peta-peta digital dipertimbangkan dalam pembuatan
mengindahkan ketentuan-ketentuan sebagai perencanaan pembangunan dan
berikut : pelaksanaan pembangunan terutama
1. Dalam pembuatan peta baik dari proses yang berkait-an dengan penggunaan
digitasi peta-peta yang diklasifikasikan tanah/lahan secara langsung, salah
sebagai dokumen rahasia, harus satunya membutuhkan tuntutan data
memperoleh ijin dari pemerintah RI, yang akurat dan cepat tentang
dalam hal ini diberlakukan seperti medan/permukaan bumi dalam
porosedur untuk memperoleh peta skala/kadar tertentu sesuai dengan
Topografi TNI-AD. Tidak diijinkan adanya peta yang dapat diolah/diedit
melakukan proses digitasi terhadap peta dengan cepat melalui ketentuan-
topografi atau peta lainnya tanpa seijin ketentuan sebagai berikut :
pemerintah RI dalam hal ini instansi-
1. Data peta digital yang telah ada tidak
instansi terkait antara lain : Departemen
boleh dengan mudah untuk diperjual-
Dalam Negeri RI, Departemen
belikan dengan bebas tanpa melalui
Pertahanan RI, Mabes TNI, Bais TNI dan
prosedur dan ketentuan yang
Angkatan.
diberlakukan oleh Pemerintah RI.
2. Khusus tentang proses pembuatan peta
Prosedur yang diberlakukan dapat
digital dari citra satelit yang dilakukan
disamakan dengan prosedur permintaan
baik oleh pihak-pihak/lembaga dalam
peta topografi produk Direktorat
negeri maupun luar negeri, perlu pula
Topografi TNI-AD sesuai dengan
diatur dalam bentuk perundang-
kadarnya.
undangan survei pemetaan tersendiri.
2. Dalam hal pemilikannya perlu pula diatur
Terutama terhadap pembuat peta digital
ketentuan/per-undangan yang
dari pihak-pihak/lembaga di luar negeri
menentukan lembaga atau instansi mana
perlu diatur dalam bentuk
yang berhak untuk memiliki sekaligus
perjanjian/kesepakatan bersama di forum
menggunakannya.
internasional. Perlu untuk
450
15.Pemetaan Digital (Digital Mapping)

3. Penggunaan data peta digital tersebut permatra ataupun perbidang seperti matra
telah mendapatkan ijin dari instansi yang darat (DittopTNI-AD),matra laut (Dishidros
berwenang dan mengawasi TNI-AL),matra udara (Dissurpotrud TNI-AU),
penggunaannya. Mabes TNI (PUSSURTA TNI), Dephan
4. Penggunaan data peta digital haruslah (Ditwilhan), Bakosurtanal dan instansi
terkoordinir dengan baik, baik pemerintah lainnya, sedikit banyak telah
dilingkungan instansi pemerintah sendiri menetapkan lembaga/instansi yang
maupun pada lembaga-lembaga/perusa- berwenang dan berkompeten
haan swasta yang membutuhkannya. mengatur/mengadakan pekerjaan survei
5. Penjualan data peta digital kepada dan pemetaan. Ketentuan yang berlaku
pengguna swasta juga harus atas seijin dalam perundangan yang ada dapat
lembaga atau instansi yang berwenang diterapkan terhadap pembuatan dan
dan mengawasi data tersebut. Dalam hal prosedur untuk memperoleh, menyimpan
ini termasuk diberlakukan ketentuan maupun menggunakan data peta digital. Bila
seperti halnya larangan untuk melakukan perundangan Surta secara nasional dapat
duplikasi (copy) atau pembajakan data diberlakukan diharapkan akan berdampak
peta digital dengan pengawasan yang positif terhadap kegiatan survei pemetaan
ketat disertai sanksi hukum yang berat. wilayah nasional RI termasuk terhadap
pemetaan digital tersebut
d. Faktor yang berpengaruh terhadap
pelaksanaan pengamanan. f. Sumber daya manusia.

Dalam rangka mewujudkan kondisi Tenaga ahli yang memahami dan me-
pembuatan maupun penggunaan data nguasai tentang seluk beluk kegiatan survei
pemetaan digital seperti yang diharapkan, dan pemetaan termasuk pemetaan digital di
tidak terlepas dari kendala yang ada berupa Indonesia merupakan potensi yang
adanya faktor-faktor baik yang mendukung mendukung pelaksanaan pembuatan
maupun yang menghambat. Faktor-faktor maupun penggunaan data pemetaan digital
yang mendukung antara lain terdiri atas : seperti yang diharapkan. Terhadap mereka
perlu diberikan masukan tentang pentingnya
e. Perundang-undangan survei dan
langkah-langkah pengamanan terhadap
pemetaan yang ada.
data pemetaan digital, sebab orientasi
Walaupun perundangan Surta (Survei
mereka terutama terhadap aspek
Tanah) yang ada masih bersifat mengatur
pemanfaatan data (terutama peta) secara
kegiatan dan wewenang serta tanggung
optimal, sehingga mereka mengabaikan
jawab masing-masing lembaga/instansi,
451
15.Pemetaan Digital (Digital Mapping)

segi pengamanannya yang antara lain sebagai penghambat karena dengan


disebabkan oleh : kemajuan teknologi yang ada
memungkinkan peliputan seluruh
1. Ketidak mengertian tentang perlunya
permukaan bumi dengan sensor/receiver
tindakan pengamanan terhadap data
yang diletakkan pada wahana satelit
tersebut. Hal ini terjadi karena menurut
semakin mudah, apa lagi saat ini tingkat
persepsi mereka yang terpenting adalah
kemampuan resolusinya semakin tinggi.
bagaimana dapat tersedianya data guna
dilibatkan dalam kegiatan-kegiatan b. Pelaksanaan pemetaan secara parsial.
perencanaan pembangunan. Keadaan
Pada kenyataannya pelaksanaan pemetaan
demikian juga dilakukan oleh tenaga-
yang diselenggarakan di Indonesia
tenaga ahli yang bergerak dan bekerja di
dilakukan oleh beberapa instansi
sektor swasta.
pemerintah baik sipil maupun militer,
2. Belum jelasnya klasifikasi tentang data
maupun oleh lembaga swasta yang menjadi
peta bagaimana yang digolongkan
kontraktor dalam pelaksanaan survei dan
rahasia. Oleh sementara orang, masih
pemetaan. Kondisi tersebut disebabkan de-
rancu
ngan dasar operasi mereka adalah Undang-
3. Pengertian tentang data peta yang
undang Surta yang dimilikinya. Hal ini
dianggap rahasia Dengan pemberian
menyebabkan kesulitan untuk memantau
masukan dan informasi yang jelas
efisiensi pelaksanaan pemetaan wilayah
tentang kedua aspek tersebut di atas,
nasional. Berkaitan dengan pengamanan
maka sumber daya manusia yang ada
penggunaan data peta digital dengan
akan sangat membantu terhadap
dilaksanakannya kegiatan survei dan
kegiatan pengamanan yang akan
pemetaan secara parsial lebih menyulitkan
dijalankan.
lagi dan tingkat kebocoran dan
15.4.2 Faktor-faktor yang menghambat penyalahgunaan data tersebut semakin
dalam Pemetaan digital besar, karena perputaran maupun jaringan.

a. Perkembangan teknologi. 15.4.3 Klasifikasi tentang penggunaan


peta.
Dalam hal ini perkembangan teknologi di
bidang satelit navigasi selain membawa Masih kurang jelasnya tentang klasifikasi
dampak positif juga membawa dampak mengapa peta topografi tergolong rahasia
negatif khususnya dalam upaya membutuhkan suatu upaya untuk
pengamanan data peta digital dikatakan meluruskan/menyamakan persepsi kita
452
15.Pemetaan Digital (Digital Mapping)

tentang klasifikasi tersebut. Disamping itu 3. Terhadap peta-peta tematik digital yang
perlu juga dipertimbangkan untuk tidak bertemakan data militer dapat
mengadakan pengkriteriaan tertentu dipergunakan langsung oleh pihak
terhadap peta-peta yang benar-benar umum. Pada umumnya banyak juga
tergolong berklasifikasi rahasia. Selain itu peta tematik yang dibuat secara digitasi.
perlu juga dilakukan pengklasifikasian 4. Diadakan pembedaan yang jelas antara
penggunaan peta antara lain sebagai berikut peta yang hanya digunakan oleh pihak
militer dan peta mana yang boleh
1. Penetapan bahwa peta digital yang
digunakan oleh pihak lain (sipil dan
diklasifikasikan rahasia berupa hasil
swasta). Hal ini agar tidak menimbulkan
modifikasi peta topografi atau hasil
kerancuan tentang peta mana yang
pemetaan dari citra satelit dengan
tergolong rahasia dan mana yang
penonjolan data militer misalnya untuk
bukan.
kedar 1:25.000 sampai 1:100.000,
5. Dengan tersedianya tenaga/sumber
penggunaannya terbatas untuk
daya manusia yang berkwalitas dalam
lingkungan TNI dan Dephan.
penanganan pemetaan digital
2. Peta-peta lain berbagai kadar tanpa
merupakan modal utama dalam proses
penonjolan data militer dapat
pengamanannya.
dipergunakan juga oleh instansi sipil dan
swasta sesuai prosedur yang berlaku,
dengan tingkat klasifikasi sesuai dengan
kadarnya.
453
15.Pemetaan Digital (Digital Mapping)

BW
BV
AZ BU
BT KABUPATEN PURWAKARTA PETA DAERAH PENGAIRAN
BS
Cibi
no
ng
KABUPATEN BANDUNG
BR
PROPINSI JAWA BARAT
BQ
U
AY BP
BO
BN CIPENDEY CIKALONG WETAN
WADUK CIRATA
BM
REPEH RAPIH KERTA RAHARJA SKALA 1 : 100000
BL 5 3 1 0 1 3 5 Km

AX BK
BJ
BI
BH
KABUPATEN SUBANG
BG CISARUA

AW BF C
im
al
a
PARONGPONG
BE NGAMPRAH LEMBANG
BD
BC
BB KABUPATEN CIANJUR PADALARANG

AV BA CIMAHI UTARA

AZ
AY CIMENYAN
CIMAHI TENGAH
AX CILENGKRANG

AW
AU AV
AU BATUJAJAR CIMAHI SELATAN
AT KODYA BANDUNG KABUPATEN SUMEDANG
AS WADUK SAGULING CILENYI

AR MARGAASIH
AT AQ
AP CIPONGKOR CILILIN
AO MARGAHAYU RANCAEKEK
DAYEUH KOLOT
AN
CICALENGKA
AM BOJONGSOANG
Citarik
AS AL SINDANGKERTA

ey
id
Ciw
AK KATAPANG
Ciatrum CIKANCUNG
AJ
GUNUNG HALU
AI
PAMENGPEUK BALEENDAH
AH
AR AG SOREANG CIPARAY

AF
AE BANUARAN MAJALAYA PASEH

AD ARUM SARI

AC
guk

AQ AB
Ciin

AA aju
ng PASAR JAMBU
Cik

Z CIWIDEY EBUN

Y PACET

X
AP W KABUPATEN CIANJUR KABUPATEN GARUT
V
U
T
S
SITU PATENGAN
AO R
PANGALENGAN
Q
KETERANGAN
P KERTASARI

O Waduk Irigasi Teknis


SITU CILENCA
N 1
2 Sungai Irigasi Semiteknis
AN M
Batas a. Kabupaten Irigasi Sederhana
L b. Kecamatan
K Ibu Kota a. Kabupaten Tadah hujan

J L A U T J A W A b. Kecamatan
DA
SUN

I Jalan Tol
AT

Rencana Tol
SEL

AM H DKI

Jalan Negara
G Jalan Pronpinsi
Jalan Kabupaten
F Jalan Desa
Jalan Kereta Api
E SUMBER PETA RUPA BUMI BAKUSURTANAL TAHUN 2004

D JAWA TENGAH

AL C S A M U D R A H I N D I A
Badan Perencanaan Pembangunan Daerah
B Kabupaten Bandung
Pemerintah Kabupaten Daerah Tingkat II Bandung
A
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 90 91 92
53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70

Gambar 422. Contoh Hasil Pemetaan Digital Menggunakan AutoCAD

Gambar 423. Contoh : Hasil pemetaan Digital Menggunakan AutoCAD


454
15.Pemetaan Digital (Digital Mapping)

BW
BV
AZ BU
BT K A B U PA TE N P U RW A K A R TA PETA T EK STU R T A N A H
BS
Ci
bi no
ng
K A B U PA T EN B A N D U N G
BR
PR O PIN SI JA W A BA R AT
BQ
U
AY BP
BO
BN CIPE N D E Y C IKA L O N G W E T A N
W AD U K C IR AT A
BM
R EPE H R A P IH K E RT A R A H A R JA SK A LA 1 : 1000 00
BL 5 3 1 0 1 3 5 Km

AX BK
BJ
BI
BH
K A B U P A TE N S U B A N G
BG CISA RU A

AW BF
C
im
ala
P AR ON G PO N G
BE N G A M P RA H L E M BA N G
BD
BC
BB K A B U P A TE N C IA N JU R P A DA L A RA N G

AV BA CIM A H I U T AR A

AZ
AY C IM EN Y A N
C IM A H I T E N G AH
AX C IL E N G K RA NG

AW
AU AV
AU BA T U JA JA R C IM A H I S E LA T A N

AT KODYA BANDUNG K A B U PA TEN S U M ED A N G


AS W AD U K SA G UL ING C IL E N Y I

AR M AR GA A S IH
AT AQ
AP CIPO N G K OR CIL IL IN
AO M ARG A H A YU R AN CA EK E K
D A Y E UH KO L O T
AN
C ICA L E N G K A
AM BO JO NG S OA N G
Cit arik
AS AL S IN D A N GK E RT A

ey
id
Ciw
AK K A T A PA N G
C iatrum CIKA N C UN G
AJ
G UN U N G H A L U
AI
P A M E N GP EU K BA L E EN D A H
AH
AR AG SO RE A N G CIPA R AY

AF
AE BA N U AR AN M A JAL A Y A PA S E H

AD A RU M SA RI

AC
guk
Ciin

AQ AB
AA ng PA S AR J AM B U
aju
Cik
Z C IW ID E Y E BU N

Y P AC E T

X
AP W K A B U PA TE N C IA N JU R K A B U P A T EN G A R U T
V
U
T
S
AO R
PA N G AL E N G AN
Q
K ETER A N G A N
P K E RT A SA RI

O W aduk
H alus
N 1
2 Sungai
Sedang
AN M
Batas a. K abupaten
L b. K ecam atan K asar

K Ibu K ota a. K abupaten


J L A U T J A W A b. K ecam atan
DA
SUN

I Jalan T ol
AT

Rencana T ol
AM
SEL

H D KI

Jalan N egara
G Jalan Pronpinsi
Jalan K abupaten
F Jalan D esa
Jalan K ereta A pi SU M B E R PE T A RU PA BU M I BA K O SU R T A N A L T A H U N 2004
E
D JAW A T E NG AH

AL C S A M U D R A H I N D I A
B adan Perencanaan Pem bangunan D aerah
B K abu paten B an du n g
Pem erintah K abupaten D aerah Tingkat II Bandung
A
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 90 91 92
53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70

Gambar 424. Hasil pemetaan Digital Menggunakan AutoCAD

Gambar 425. Hasil Pemetaan Digital Menggunakan AutoCAD


455
15.Pemetaan Digital (Digital Mapping)

15.4.4 Penggunaan perangkat lunak 15.4.4.2 Mengakses perintah


dalam pemetaan digital untuk Perintah-perintah AutoCAD dapat diakses
pemula melalui tiga cara, yakni:
1. Melalui baris menu utama (pull down
15.4.4.1 Memulai program AutoCAD pada
menu)
komputer
2. Melaui ikon yang tersedia pada toolbar
Untuk memulai program AutoCAD yang ada , atau
(Computer Aided Design) 3. Secara konvensional yang dapat
diketikkan langsung pada baris perintah

Gambar 426. Tampilan autoCAD

Dibagian atas ada sederetan menu “pull 15.4.4.3 Menyiapkan digitizer

down”kemudian dibawahnya, disamping, a) Instalasi Digitaizer


dan atau di bagian bawah ada sekumpulan Jika kita baru pertama kali memasang
ikon dalam “toolbar”yang dapat diakses digitizer, langkah awal yang harus kita
langsung . Formasi ini bisa jadi tidak kerjakan adalah memasangnya sesuai
nampak seperti pada gambar diatas petunjuk alat. Pada AutoCAD 2005, instalasi
digitizer ditangani oleh sistem operasi
Windows.
456
15.Pemetaan Digital (Digital Mapping)

Digitizer yang baru umumnya dilengkapi 3. Persis di bawahnya ada dua tombol opsi
dengan Wintab driver yang dapat dikenali yang akan aktif begitu kita memilih
oleh Windows. Jika digitizer telah dapat Wintab Digitizer, yakni opsi "Digitizer
digunakan pada sistem operasi Windows, only" dan "Digitizer and mouse". Pilihan
AutoCAD otomatis dapat membaca peranti pertama akan menonaktifkan mouse dan
digitizer tersebut. pointer yang berlaku hanya digitizer.
Sementara pada pilihan kedua, baik
Digitizer dalam hal ini dapat kita pasang
mouse maupun digitizer akan sama-
bersama-sama dengan mouse yang sudah
sama dapat digunakan. Apa pun yang
ada. Jika mouse pada COMl, digitizer dapat
kita pilih, tidak menjadi masalah. Namun
kita pasang pada COM2.
jika pada saat kalibrasi tablet kita
Setelah digitizer terbaca oleh sistem operasi mengalami kesulitan karena kendali
Windows, pada AutoCAD ikuti langkah kursor berpindah-pindah terlalu dinamis
instalasi berikut. antara mouse dan digitizer, pilihlah

1. Klik Tools > Option > System, akan terlebih dahulu "Digitizer only".Klik OK

muncul kotak dialog yang salah satu untuk mengakhiri sesi ini.

bagiannya adalah kotak "Current 4. Digitizer mestinya sudah dapat


Pointing Device" difungsikan. Cobalah gerakan pointer
2. Pada kotak tersebut, ada kotak pilihan pada digitizer. Pointer pada layar
yang jika diklik berisi Current Pointing mestinya ikut bergerak. Kemudian jika
Device dan Wintab Compatible Digitizer, mouse digerakkan, secara otomatis
pilihlah "Wintab Compatible Digitizer.... ". kursor pada layar mengikuti gerakan
mouse, ini jika pilihan yang kita ambil
adalah "Digitizer and mouse ".

15.4.4 4 Menguji digitizer

Pengujian yang perlu dikerjakan adalah


menguji fungsinya dan menguji tingkat
akurasinya. Untuk menguji digitizer, kita
memerlukan sebuah grid plate, atau dapat
pula menggunakan kertas yang di atasnya
Gambar 427. Current pointing device telah kita beri grid dengan jarak tertentu.
Kertas grafik yang berkualitas baik dapat
kita gunakan.
457
15.Pemetaan Digital (Digital Mapping)

5. Teruskan langkah tersebut dengan


.
mengarahkan pointer ke grid B, klik OK,
kemudian masukkan angka 3000,0 lalu
Enter.
6. Dengan cara yang sama, arahkan ke
grid C dan D. Untuk grid C masukkan
angka 3000,2000 sedangkan untuk grid
D masukkan koordinat 0,2000.

Pada baris perintah akan ditampilkan


statistik. Tingkat akurasi kalibrasi
Gambar 428. Grid untuk pengujian digitizer
ditunjukkan oleh nilai root mean square error
(RMS). Jika proses kalibrasi menggunakan
Untuk menguji digitizer, prinsipnya adalah
grid yang benar dan proses pointing
melakukan kalibrasi dengan grid yang kita
dilakukan dengan akurat dan sangat hati-
anggap benar koordinatnya. Sebagai
hati, nilai RMS tersebut akan berkorelasi
contoh, kita gunakan grid dari kertas graft,
dengan tingkat akurasi digitizer.
lalu kita tentukan empat titik A, B, C, dan D,
seperti pada Gambar, dan masing-masing Cara tersebut bisa diulang beberapa kali.

kita beri koordinat A(0,0), B(3000,0), Jika perlu dengan operator yang berbeda,

C(3000,2000), dan D(0,2000). Oleh karena sehingga kita dapat melakukan analisis

jarak AB pada kertas adalah 30 cm, gambar statistik. Makin banyak data, alias makin

tersebut berskala 1:1000. banyak sample, akan semakin memperkuat

Tempatkan grid tersebut di atas meja validitas pengujian.

digitizer, lalu ikuti langkah-langkah berikut. 15.4.4.5 Memulai digitasi


1. Letakkan kertas grid di atas meja
Sebelum memulai proses digitasi,
digitizer.
siapkanlah terlebih dahulu tatanan layer
2. Pilih menu Tools > Tablet > Cal.
sesuai dengan klasifikasi isi peta. Sebagai
3. Pada perintah "Digitize point #1:",
contoh, kita definisikan tatanan layer seperti
arahkan pointer ke grid A, klik tombol
berikut ini.
OK digitizer.
4. Pada baris perintah akan muncul "Enter
coordinates of point #1:" Masukkanlah
angka 0,0 lalu tekan Enter.
458
15.Pemetaan Digital (Digital Mapping)

Tabel 44. Contoh keterangan warna gambar Langkah pertama, kita buat terlebih dahulu
No. Nama Warna Jenis bingkai luar petanya dengan langkah-
Layer Garis langkah berikut.
1. Bingkai Black Continuous 1. Aktifkan layer "Bingkai" (jadikan current
2. Grid Black Continuous layer).
3. Jalan_Arteri Red Continuous 2. Klik menu Draw > Line. Kita gunakan
4. Jalan_Kolektor Magenta Continuous line agar tiap sisi peta menjadi satu

5. Jalan_Lokal 12 Continuous entitas terpisah untuk memudahkan

6. Jalan Setapak 12 Dashed proses pembuatan gratikul yang akan

7. Sungai Blue Continuous dijelaskan setelah ini.


3. Pada prompt "Specify start point",
8. Permukiman Yellow Continuous
ketikkan koordinat kiri bawah peta
9.Kantor Black Continuous
(293667,9046097) lalu Enter.
10. Teks Black Continuous
4. Selanjutnya akan muncul promp "To
point:", secara berturut-turut ketikkanlah
15.4.4.6 Membuat bingkai dan grid
koordinat-koordinat kanan-bawah,
Untuk memulai digitasi sebuah peta, kanan-atas, dan kiri-atas, dan akhirnya
letakkanlah peta yang akan didigitasi di atas ketikkan C. Lihatlah gambaran prosedur
digitizer, rekatkanlah dengan cellotape tersebut seperti berikut ini.
secukupnya. Langkah pertama buatlah
Specify start point : 293667,9046097
bingkai peta. Sebagai contoh, kita akan
To point : 307427,9046162
mendigitasi sebuah peta rupa bumi skala
To point : 307364,9059988
1:25.000 dari Bakosurtanal, lembar 1707-
To point : 293600,9059923
334, Tabanan (Bali). Koordinat pojok peta ini
To point : C (ENTER)
sebagai berikut (UTM):

Bisa jadi di layar kita tidak akan melihat


Tabel 45. Keterangan koordinat
gambar apa pun. Jika hal ini terjadi,
Kiri-bawah :293667,9046097
penyebabnya karena posisi layar pada
Kanan-bawah :307427,9046162
kondisi standard dengan pojok layar sekitar
Kanan-atas :307364,9059988
0,0. Sedangkan gambar yang kita buat jauh
Kiri-atas :293600,9059923
di sebelah atas. Untuk menampakkan apa
yang telah kita gambar, lakukan Zoom >
Extent.
459
15.Pemetaan Digital (Digital Mapping)

Dengan langkah 1 hingga 4 di atas, kita 2. Klik menu Draw > Polyline atau (Line).
sudah membuat bingkai peta, yang dalam 3. Pada perintah "Specify start point":,
hal ini kebetulan bukan berbentuk persegi. dengan mouse (atau digitizer) klik di
Pada peta rupa bumi Bakosurtanal, garis- sembarang tempat pada layar.
garis yang digambarkan secara penuh 4. Berikutnya, pada perintah "To point:"
adalah garis gratikul, yakni garis lintang dan ketikkan @375<0 lalu Enter, dan sekali
bujur (pada peta tergambar sebagai garis lagi akhiri dengan Enter.
tipis warna biru), tergambar tiap jarak 1 5. Lakukan hal yang sama sekali lagi.
menit. Jika kita menggunakan garis-garis ini Namun pada langkah ketiga, ketikkan
sebagai referensi kalibrasi digitizer, kita @375<90.
harus menghitung terlebih dahulu 6. Geser (dengan perintah Move) salah
koordinatnya dalam sistem UTM dengan satu garis tersebut ke garis lainnya
hitungan transformasi koordinat. sedemikian hingga titik tengah kedua
garis bertemu. Gunakan alat bantu
Grid dengan koordinat metrik (UTM)
osnap "mid".
diinformasikan hanya sebagai tik (sepotong
7. Gunakan perintah Block, jadikan tanda
garis kecil) pada sisi-sisi peta, tiap jarak
silang tersebut sebagai block dengan
1000 m. Pada peta tik ini digambar dengan
nama GRID.
garis hitam. Angka-angka absis ditampilkan
pada sisi bawah, sedangkan angka-angka
ordinat pada sisi kanan.

Pada peta asli, kita dapat menghubungkan (a) (b) (c)


tik-tik tersebut dengan pensil, sehingga
Gambar 429. Grid untuk peta skala 1:25.000.
diperoleh grid dalam sistem koordinat UTM.
Untuk lembar peta 1707: 334, Tabanan, grid Kita kini sudah mendefinisikan sebuah
paling bawah kiri mempunyai koordinat simbol grid (tanda silang) dalam bentuk
294000, 9047000. Grid lain berjarak linear blok. Untuk menyelesaikan pekerjaan
1000 m arah kanan dan 1000 m arah atas. membuat grid, kita akan menyisipkan blok

Pada gambar digital, kita akan tersebut. Ikuti langkah berikut.

menggambarkan grid-grid ini tidak dalam 1. Gunakan perintah Insert > Block.
garis penuh, melainkan dalam bentuk cross 2. Pada kotak dialog pilihlah nama blok
grid (tanda plus). Caranya seperti langkah- GRID, dan pada kotak insertion point
langkah berikut. nonaktiflcan kotak specify on screen,
1. Aktiflkan layer GRID.
460
15.Pemetaan Digital (Digital Mapping)

lalu isikan koordinat grid paling bawah 15.4.4.7 Kalibrasi digitizer


kiri, yakni X=294000, Y=9047000, Z-nya
Kita sekarang akan melakukan kalibrasi,
biarkan = 0. Kotak lainnya boleh
yakni mengorientasikan digitizer sesuai
diabaikan. Akhiri dengan mengklik OK.
dengan koordinat peta. Digitizer yang kita
Grid kiri bawah akan tergambar seperti gunakan adalah minimal ukuran Al,
Gambar 430 Grid lainnya berjarak sama dan sehingga seluruh muka peta dapat masuk
linear, yakni 1000 m arah X dan 1000 m ke muka digitizer tersebut. Titik kontrol yang
arah Y. Oleh karena itu, akan lebih cepat akan kita gunakan adalah pojok-pojok peta
jika digandakan dengan perintah Array. dan satu titik grid di tengah peta. Ikutilah
langkah-langkah berikut.
1. Ketik perintah Array (tanda minus
1. Gunakan menu Tool > Tablet >
menandakan kita menggunakan perintah
Calibrate.
array melalui baris Command, tidak
2. Pada baris perintah akan muncul
melalui floating menu).
"Digitize point #1:". Posisikan pointer
digitizer secara cermat persis di atas
pojok kiri-bawah peta. Setelah benar-
benar pas, tekan tombol OK pointer.
3. Pada perintah "Enter coordinates for point
#1:", ketlkkan angka 293667,9046097
(ENTER).
4. Lanjutkan langkah tersebut untuk titik-
titik pojok kanan-bawah, kanan-atas dan
Gambar 430. Bingkai peta dan grid UTM per 1000 m
kiri-atas, serta salah satu grid di sekitar
tengah peta, lalu tekan Enter untuk
2. Pada perintah "Select objects:" pilihlah
mengakhiri.
grid kiri bawah tersebut, kemudian jenis
array-nya adalah rectangular (R).
15.4.4.8 Digitasi garis
3. Jumlah array yang akan kita buat adalah
14 kolom ke kanan dan 13 kolom ke Setelah proses kalibrasi, kini kita siap untuk

atas. Oleh karena itu, jumlah rows "menjiplak" semua detail peta satu per satu

dengan 13 dan columns dengan 14. ke layar monitor. Inilah proses digitasi.

4. Jarak baris dan kolom, diisi dengan jarak


antar grid di lapangan, yakni masing-
masing 1000 m (ketikkan 1000).
461
15.Pemetaan Digital (Digital Mapping)

Gambar 431. Digitasi jalan arteri dan jalan lokal, (a) peta asli, (b) hasil digitasi
jalan, kotak kecil adalah vertex (tampil saat objek terpilih).

Untuk detail garis, seperti sungai, jalan, 1. Klik menu Modify > Offset.
batas vegetasi, batas perkampungan, garis 2. Pada pilihan "Specify offset distance or
pantai dan sebagainya, kita harus [Through]" pilih Through dengan
melakukan tracing garis-garis tersebut. mengetikkan T lalu Enter atau cukup
Misal : tekan Enter karena posisi standard
1. Aktifkan layer "Jalan_Arteri". pilihannya adalah Through.
2. Kita akan mendigitasi garis jalan dengan 3. Pilih objek garis jalan pada saat muncul
polyline 2D. Oleh karena itu, klik menu "Select object to offset".
Draw > Polyline. 4. Pada prompt "Specify through point",
3. Pada perintah "Specify start point", tempatkan pointer digitizer tepat pada
tempatkan pointer pada titik awal salah sisi kid jalan, lalu klik OK.
satu sisi jalan arteri, klik tombol OK 5. Tepat di posisi tersebut mestinya akan
pointer. tergambar sisi kiri jalan yang paralel
4. Selanjutnya pindahkan ke titik 2, 3, dan dengan sisi kanannya. Untuk mengakhiri
seterusnya, klik OK pada setiap titik. perintah offset, tekanlah Enter.
Setelah langkah-langkah di atas, di layar
Dua sisi jalan telah tergambar. Sekarang
akan tergambar ruas jalan yang baru saja
akan kita coba untuk menggambar ruas
didigitasi (jalan arteri sisi kanan jalan). Oleh
jalan lokal yang menyambung ke jalan arteri
karena kedua sisi jalan paralel, untuk sisi
tersebut. Caranya:
lainnya dapat di-offset dari sisi yang baru
digambar.
462
15.Pemetaan Digital (Digital Mapping)

1. Aktifkan layer "Jalan_Lokal". file peta hasil scanner maka akan


2. Klik menu Draw > Polyline. muncul di layar di CAD itu sendiri
3. Pada prompt "Specify start point", untuk - Namun harus jadi catatan bahwa peta
menyambung tepat ke ruas jalan arteri, hasil scanner itu harus diskalakan
gunakan osnap "nearest". sesuai ukuran asli dipeta, dengan
4. Teruskan digitasi jalan lokal tersebut mengetik perintah dengan langkah-
dengan menelusurinya. Sisi jalan langkah sebagai berikut:
sebelahnya boleh di-offset.
1. Command ; Sc
15.4.4.9 Penjiplakan digitasi dengan 2. Select obyek : Peta hasil scanner
autocad 3. Select obyek ; spesify base point
4. Spesify scale factor or (Reference) ; R
Untuk lebih memahami perangkat ini dari
5. Spesify reference length (1)
dasar printah-perintah yang sering dipakai
6. Spesify new length
dalam digitasi peta diantaranya:
Line/Polyline, extension atau perpanjangan
garis atau obyek, Hatch, layer, copy,
move,distant dan lainnya yang sering
dipakai dalam digitasi peta. Namun tidak
semua perintah yang ada dalam menu
Gambar Asli Diperbesar 1.5 X Diperkecil 0.5 X
toolbar sering dipakai dalam digitasi ini.
Memulai dengan AutoCAD
Gambar 432. Perbesaran dan perkecilan
- Untuk mengoperasikan perangkat lunak
CAD untuk pertama kalinya buka file dan - Maka penjiplakan digitasi dapat dimulai
pilihlah perintah New dengan perintah langkah-langkah:
- Karena dalam digitasi peta merupakan 1. Command : Pl (polyline)
kegiatan menjiplak peta atau 2. Spesify start point :
memperbarui peta yang ada dengan Current line – width is 0.000
penambahan-penambahan obyek yang 3. Spesify next point or
ada. Dengan terlebih dahulu peta yang (Arc/Halfwidth/length/ undo/Width):
ada discanner maka peta dapat dibuka klik di obyek yang akan di digitasi
dalam aplikasi CAD dengan mengklik 4. Spesify next point or
perintah toolbar yang ada dibagian atas (Arc/Halfwidth/length/ undo/Width) :
yaitu perintah Insert selanjutnya klik digitasi dapat dimulai
perintah Raster Image selanjut browser
463
15.Pemetaan Digital (Digital Mapping)

Contoh aplikasi dari perintah- perintah di harus menentukan Layer/tema tiap-tiap


atas legenda dipeta itu, misal :
Misalkan kita mempunyai peta yang akan Jalan Arteri : Red
didigitasi dengan ukuran kertas/gambar A4, Jalan kolektor : Magenta
maka hal yang pertama kali kita harus Langkah-langkah perintah layer:
mengetahui ukuran kertas A4 itu sendiri - Klik perintah “format” yang terdapat di
yang tak lain 21x29.7 cm, setelah disanner toolbar bagian atas ; Klik perintah layer
pertama kali turuti contoh langkah-langkah maka akan muncul perintah-perintah
yang dijelaskan diatas warna apa yang akan kita pakai dalam
digitasi tersebut
Untuk selanjutnya langkah kedua
1. Command ; Sc Secara garis besar langkah-langkah diatas
2. Select obyek : Peta hasil scanner mewakili pelaksanaan pemetaan Digital
3. Select obyek ; spesify base point untuk sebagai pengetahuan, untuk lebih
4. Spesify scale factor or (Reference) ; R mendalaminya kita dapat membaca
5. Spesify reference length (1) ; contoh referensi-referensi mengenai pemetaan
23546 digital.
6. Spesify new length ; ukuran A4 yang
diwakili cukup oleh salah satu panjang
15.5 Pencetakan peta dengan
kertas itu, misal 21
kaidah Kartografi
Langkah selanjutnya langkah penggambaran

1. Command : Pl (polyline) 15.5.1 Sekilas kartografi

2. Spesify start point : Dalam pembuatan peta (Pemetaan Digital),


Current line – width is 0.000 dikenal adanya ilmu dan seni yang
3. Spesify next point or “mengaturnya” yang disebut sebagai
(Arc/Halfwidth/length/ undo/Width): Kartogarfi. Selain unsur ilmu yang
klik di obyek yang akan di digitasi menyangkut hal-hal yang matematis, unsur
4. Spesify next point or seni juga ikut memegang peran, agar selain
(Arc/Halfwidth/length/undo/Width) : formatif, peta juga nampak Indah
digitasi dapat dimulai.
Sebagai wawasan dasar, berikut bebarapa
Mengorganisasi Layer hal pokok tentang tata aturan kartografi
Agar dalam penjiplakan peta tidak serta beberapa istilah yang perlu
mengalami kesulitan untuk pertama kali kita diperhatikan.
464
15.Pemetaan Digital (Digital Mapping)

1. Muka peta dan Informasi tepi menggunakan sistem koordinat tertentu.


Satu lembar peta terdiri atas muka peta Di Indonesia, sistem proyeksi peta yang
dan informasi tepi. Muka peta adalah pernah digunakan adalah LCO (
area, pada umumnya persegi, yang Lambert Connical Orthomorphic)
memuat detail peta, sedangkan misalnya pada peta-peta zaman
informasi tepi adalah segala bentuk penjajahan Belanda, UTM (Universal
informasi yang ditampilkan di luar muka Transverse Mercator) misalnya peta
peta Topografi/ Peta Dasar Nasional skala
kecil dan Bakosurtanal (Badan
Informasi tepi lazimnya terdiri atas judul
Koordinasi Survei dan Pemetaan
peta, lokasi daerah pemetaan, nomor
Nasional), dan TM3 (Transverse
lembar peta, skala peta, petunjuk arah
Mercator 3º) yakni pada peta-peta skala
utara peta, indeks lembar, legenda,
besar dari BPN (Badan Pertahanan
keterangan dan catatan, serta koordinat
Nasional).
peta.
4. Penyajian Detail
2. Skala Peta
Penyajian detail merupakan hal penting
Informasi skala peta dapat ditampilkan
yang menyangkut teknik dan seni
secara numeris (angka perbandingan
menyampaikan informasi, selain tentu
jarak di peta dengan jarak dilapangan)
saja harus memperhatikan akurasinya.
dan atau dalam bentuk skala grafis,
Sajian detail yang banyak tidak selalu
yakni skala yang digambarkan dengan
berkonotasi baik, karena peta akan
penggalan garis dan nilai panjang
nampak terlalu padat dan tidak
sebenarnya di lapangan. Skala numeris
informatif. Pada peta digital,
lebih mudah dibaca (tanpa harus
pengelolaan informasi ini dapat dikelola
mengukur) namun jika peta diperkecil
lebih baik, karena setiap kelompok
atau diperbesar ( misalnya dengan
informasi dapat disimpan pada layer
fotocopy), informasi skalanya menjadi
berbeda dan secara instan dapat di
tidak benar. Hal tersebut berbeda
atur informasi mana yang harus
dengan skala grafis, yang informasinya
ditampilkan dan mana yang harus
tetap benar saat peta diperkecil maupun
“disembunyikan”. Dalam teknik
diperbesar.
penyajian, ini dikenal beberapa kaidah
3. Proyeksi Peta dan Sistem Koordinat berikut ini.
Sistem koordinat yang digunakan dapat
berupa koordinat lokal atau
465
15.Pemetaan Digital (Digital Mapping)

a. Generalisai b. Penonjolan Detail (Emphasizing)


Generalisai adalah pemilihan dan Detail tertentu seringkali perlu
penyederhanaan bentuk detail sesuai ditonjolkan agar lebih informatif,
dengan skala peta. Detail yang terlalu misalnya pada peta parawisata, jalan
kecil untuk ditampilkan dibuang dan cenderung ditampilkan lebih besar/lebar
bentuk yang terlalu rumit dari skala yang sebenarnya, demikian
disederhanakan. Kelokan-kelokan pula bangunan-bangunan parawisata
sungai atau jalan yang bisa ditampilkan akan digambarkan lebih besar.
pada peta skala 1: 5.000 misalnya, akan
c. Eksagerasi
menjadi terlalu rumit untuk ditampilkan
Eksagerasi adalah pergeseran posisi
pada peta skala 1:25.000, jika tidak
detail yang terjadi karena pengaruh
dilakukan generalisasi.
generalisasi atau emphasizing.
466
15.Pemetaan Digital (Digital Mapping)

Model
Model Diagram Alir IlmuDiagram Alir
Ukur Tanah Pertemuan ke-15
Pemetaan Digital (Digital Mapping)
Pemetaan Digital
Dosen Penanggung Jawab : Dr.Ir.Drs.H.Iskandar Muda Purwaamijaya, MT

Pengukuran Terestris Foto Udara Penginderaan Satelit

Peta Geologi, Peta Hidrologi, Peta Topografi, Peta Situasi, Peta Gempa, Peta Tata Guna
Lahan, Peta Jaringan Prasarana dan Sarana

Peta-Peta
Peta-Peta Pekerjaan Teknik Sipil Berbagai Macam
Tematik
Skala

Tingkat Akurasi dan Resolusi Perubahan di lapangan sangat cepat


(terutama di perkotaan)

Demand :
Sistem Pemetaan yang cepat, tepat, murah dan mudah untuk revisi

Kemajuan Ilmu Pengetahuan dan Perkembangan Software CAD


Teknologi berbasis komputer (Computer Aided Design)

Pemetaan Digital

Proses Konversi Peta Digital


Peta Analog
(Digitalisasi)

Hardware Software Brainware Manpower


467
15.Pemetaan Digital (Digital Mapping)

Model Diagram Alir Model


Ilmu UkurDiagram
Tanah Pertemuan
Alir ke-15 (Lanjutan)
Pemetaan Digital (Digital Mapping)
Pemetaan Digital
Dosen Penanggung Jawab : Dr.Ir.Drs.H.Iskandar Muda Purwaamijaya, MT

Keyboard

Digitizer Input System

Scanner

Numerical Processor
Processing System
Random Acces
Memory
Hardware

Hard Disk

Compact Disk Storage System

Flash Disk

Softcopy

Hardcopy Output System

Screen
Otomatisasi Peta
Features
Pemetaan Digital
Skala peta tidak berperan
Absolute Coordinate Input

CAD
Relative Coordinate Input Software
Software

Polar Coordinate Input

Computer
Programmer Engineer

Brainware
System Analyst
Geodetic Engineer

Data Input Operator


Manpower
Data Output Operator

Gambar 433. Model digram alir pemetaan digital


468
15.Pemetaan Digital (Digital Mapping)

Rangkuman

Berdasarkan uraian materi bab 15 mengenai pemetaan digital (digital mapping),


maka dapat disimpulkan sebagi berikut:

1. Peta adalah sarana informasi (spasial) mengenai lingkungan. Pemetaan adalah suatu
proses penyajian informasi muka bumi yang fakta (dunia nyata), baik bentuk permukaan
buminya maupun sumbu alamnya, berdasarkan skala peta, system proyeksi peta, serta
symbol-symbol dari unsur muka bumi yang disajikan.
2. Pemetaan digital adalah suatu proses pekerjaan pembuatan peta dalam format digital
yang dapat disimpan dan dicetak sesuai keinginan pembuatnya baik dalam jumlah atau
skala peta yang dihasilkan. Format digital terdiri dari 2 macam, yaitu:
a. Raster
b. Vektor

3. Di bawah ini terdapat beberapa keunggulan dan kekurangan pemetaan digital dengan
konvensional, yaitu:

Pemetaan digital Pemetaan Konvensional


Penyimpanan Skala dan standar berbeda
Pemanggilan Kembali Cek manual
Pemutahiran Mahal dan memakan waktu
Analisa Overlay Memakan waktu dan tenaga
Analisa Spasial Rumit
Penayangan mahal

4. Pemetaan digital terdiri dari perangkat keras, perangkat lunak, tenaga kerja, dan
perangkat intelegensia. Terdapat beberapa tahapan dalam pemetaan digital, yaitu:
a. Membangun basis geografi,
- Resolusi peta dan akurasi yang tersaji pada basis lahan geografi
- Tampilan untuk topografi kajian.
b. Informasi sistem geologi terdiri dari batas batuan, nama batuan, sesar, kekar, dan
morfologi,
c. seluruh data yang dibutuhkan dimasukkan kedalam bentuk digital.
469
15.Pemetaan Digital (Digital Mapping)

Soal Latihan

Jawablah pertanyaan-pertanyaan di bawah ini!

1. Apa yang dimaksud dengan pemetaan digital ?


2. Metode PTD menggunakan variabel-variabel pembentuk tanah yang dapat diperoleh
secara digital (misalnya remote sensing, digital elevation model, peta-peta tanah) untuk
mengoptimasi survai tanah di lapangan. Tujuan PTD adalah :
3. Jelaskan pengertian dari Pemetaan Digital ( Digital Mapping) !
4. Sebutkan dan jelaskan peralatan-peralatan dan bahan serta prosedur yang harus
dipenuhi dalam Pemetaan Digital !
5. Jelaskan manfaat dan kerugian (dampak) yang dapat ditimbulkan dengan menggunakan
sistem Pemetaan Digital (Digital Mapping) !
6. Sebutkan dan jelaskan langkah-langkah penggunaan perangkat lunak pada Pemetaan
Digital !
7. Jelaskan apa hubungan antara Pemetaan Digital (Digital Mapping) dengan Sistem
Informasi Geografis (SIG) !
16 Sistem Informasi Geografis
469

16. Sistem Informasi Geografis

Geographic Information System (GIS) atau


16.1 Pengertian dasar sistem Sistem Informasi Geografis (SIG) diartikan
informasi geografis
sebagai sistem informasi yang digunakan
untuk memasukkan, menyimpan,
Geografi berasal dari gabungan kata Geo
memangggil kembali, mengolah,
dan graphy. Geo berarti bumi, sedangkan
menganalisis dan menghasilkan data
graphy berarti proses penulisan, sehingga
bereferensi geografis atau data geospatial,
geography berarti penulisan tentang bumi.
untuk mendukung pengambilan keputusan
Sedang, sistem informasi adalah suatu dalam perencanaan dan pengelolaan
jaringan perangkat keras dan lunak yang penggunaan lahan, sumber daya alam,
dapat menjalankan operasi-operasi dimulai lingkungan transportasi, fasilitas kota, dan
dari perencanaan pengamatan dan pelayanan umum lainnya. Dengan
pengumpulan data, kemudian untuk menggunakan CAD
menyimpan dan analisis data, termasuk
penggunaan informasi yang diturunkan ke Geographic Information System (GIS) atau
beberapa proses pengambilan keputusan. Sistem Informasi Geografis (SIG) sebagai
Fungsi sistem informasi adalah sebagai suatu sistem yang berorientasi operasi
sarana untuk meningkatkan kemampuan secara manual, yang berkaitan dengan
seseorang dalam mengambil keputusan. operasi pengumpulan, penyimpanan dan

Jadi SIG atau GIS merupakan suatu sistem manipulasi data yang bereferensi geografi

berbasis komputer yang mampu mengaitkan secara konvensional

data base grafis (dalam hal ini adalah peta)


16.2 Keuntungan sistem
dengan data base atributnya yang sesuai. informasi geografis
Sistem Informasi Geogafis merupakan suatu
kemajuan baru dari kelanjutan pengguna x Penanganan data geospatial
Komputer grafik Auto CAD (Computer Aided menjadi lebih baik dalam format
Design). Sistem Informasi Geogafis baku
merupakan kombinasi antara CAD dengan
x Revisi dan pemutakhiran data
data base yang dikaitkan dengan suatu
menjadi lebih mudah
pengenal unik yang sering dinamakan
x Data geospatial dan informasi lebih
identifier (ID) tertentu.
mudah dicari, dianalisis dan
direpresentasikan
16 Sistem Informasi Geografis
470

x Menjadi produk bernilai tambah bidang komputer sehingga muncul CADD


x Data geospatial dapat dipertukarkan (Computer Aided Design and Drafting) yang
x Produktivitas staf meningkat dan sebagian besar ditujukan untuk pembuatan
lebih efisien peta.
x Penghematan waktu dan biaya
x Keputusan yang akan diambil
menjadi lebih baik

Tabel 46. Kelebihan dan kekurangan pekerjaan GIS


dengan manual/pemetaan Digital

Peta GIS Pekerjaan


Manual
Penyimpanan Database Skala dan
Digital dan standar
terpadu berbeda
Gambar 434. Contoh: penggunaan komputer
Pemanggilan Pencarian Cek
dalam pembuatan peta
Kembali dengan manual
Komputer
Pemutahiran Sistematis Mahal dan
memakan
waktu
Analisa Sangat Memakan
Overlay cepat waktu dan
tenaga
Analisa Mudah Rumit
Spasial
Penayangan Murah dan mahal
cepat

Yang Melatar belakangi berkembangnya


penggunaan SIG, diawali oleh kelompok
survei dan pemetaan, ilmu komputer dan
Gambar 435. Contoh: penggunaan komputer dalam
geografi kuantitatif. Dan lebih berkembang
pembuatan peta
lagi dengan didukungnya perkembangan di
16 Sistem Informasi Geografis
471

Kemudian menyusul berkembang CAM/FAM Sumber-sumber data geospatial adalah peta


(Computer Aided Mapping/Facilitate digital, foto udara, citra satelit, tabel statistik
Automatic Mapping) yang mulai dapat dan dokumen lain yang berhubungan.
dimanfaatkan untuk keperluan manajemen
utilitas selain pembuatan peta.

Gambar 436. Komputer sebagai fasilitas pembuat


peta

- Alasan pengunaan SIG.


- Penanganan data geospatial sangat buruk
- Peta dan statistik sangat cepat
kadaluwarsa
- Data dan informasi sering tidak akurat
Gambar 438. Contoh: Peta udara daerah propinsi
- Tidak ada pelayanan penyediaan data
aceh
- Tidak ada pertukaran data
Data geospatial dibedakan menjadi data
grafis (atau disebut juga data geometris)
dan data atribut (data tematik), lihat Gambar

Data grafis mempunyai tiga elemen :

Titik (node) bila padanya berawal atau


berakhir suatu garis, atau padanya bertemu/
berpotongan beberapa garis

Gambar 437. Foto udara suatu kawasan


16 Sistem Informasi Geografis
472

Garis (arc) bila dua titik saling dihubungkan (updating) yang efisien, menganalisis hasil
membentuk objek linear. Setiap garis yang dikeluarkan untuk kegunaan yang
mempunyai awal node dan akhir node,dan diinginkan dan merencanakan aplikasi.
luasan (poligon) bila suatu garis tertutup
Beberapa contoh pembaruan peta di daerah
yang berawal dan berakhir pada node yang
Nangroe Aceh Darussalam sebelum
sama, dalam bentuk vector ataupun raster
bencana Tsunami
yang mewakili geometri topologi, ukuran,
bentuk, posisi dan arah.

Gambar 440. Peta pemuktahiran pasca bencana


tsunami
Gambar 439. Data grafis mempunyai tiga elemen:
titik (node), garis (arc) dan luasan
Disamping SIG mempunyai keunggulan di
(poligon)
lain pihak SIG juga mempunyai kelemahan

Fungsi pengguna adalah untuk memilih atau kesalahan-kesalahan (Akumulasi

informasi yang diperlukan, membuat kesalahan dalam SIG/Error Propagation), ini

standar, membuat jadwal pemutakhiran disebabkan orang biasanya menganggap


16 Sistem Informasi Geografis
473

data digital berkualitas lebih tinggi dari pada - Umur data


data konvensional atau data yang terdapat - Cakupan area
dalam rekaman analog. Hal ini disebabkan. - Komponen pengamatan
- Kerelevanan
- Pemakai berpandangan bahwa jika
- Format
menggunakan teknologi yang sudah
- Assesibilitas
berkembang maka kualitas data juga
- Pengambilan data
berkembang;
- Pra-pengolahan
- Data dijital mempunyai kisaran produk
- Pengolahan spesifik
yang jauh lebih besar dibandingkan
- Analisis data
data analog;
- Aplikasi/modeling
- Penyajian
Bila kita tidak terlalu peduli tentang
- Biaya
keakuratan data spasial (biasanya pada
- Pengambilan keputusan, dan
skala kecil), biasanya akan menyebabkan:
- Pelaksanaan akhir dilapangan
- Pemilihan lokasi yang salah
- Identifikasi pola yang salah Sumber-sumber kesalahan ini tidak
- Turunan data yang salah semuanya dapat dengan mudah diperbaiki,
- Kegagalan mendapatkan hubungan kesalahan dalam SIG ini biasanya
yang sebenarnya disebabkan; proses digitasi, proses
- Diperoleh keputusan yang tidak tumpang tindih, proses konversi vektor ke
memuaskan dan menghabiskan biaya raster atau sebaliknya, derajat kedetilan
yang besar pengukuran (mungkin tidak akurat) yang
dilakukan pada kenampakan spasial
Kesalahan- kesalahan dalam SIG (Error sebenarnya, mengacu kepenyebaran
Propagation), sumber kesalahan dalam SIG (dispersi) kesalahan posisi dari unsur-unsur
dijumpai pada setiap tahap (akumulasi data posisi, diduga dari standar deviasi
kesalahan) kesahan dapat dibagi dalam tiga misalnya standar deviasi rendah
aspek diantaranya, kesalahan umum, menunjukan sempitnya penyebaran
kesalahan variasi alami atau pengukuran kesalahan posisi (presisi tinggi).
awal, kesalahan pengolahan. Ini
Kesalahan dari variasi alami atau
menyebabkan peluang total kesalahan
pengukuran awal :
akhirnya menjadi makin besar, sumber
- Keakuratan posisi
kesalahan umum diantaranya:
- Keakuratan isi
16 Sistem Informasi Geografis
474

- Variasi sumber data Sistem komputer untuk SIG terdiri dari


perangkat keras (hardware), perangkat
• Pemasukan data lunak (software) dan prosedur untuk
• Pengamatan bias penyusunan pemasukkan data, pengolahan,
• Variasi alami analisis, pemodelan (modelling), dan

Kesalahan yang muncul karena pengolahan penayangan data geospatial


1. Komponen perangkat keras
- Kesalahan numerik ala komputer
- Kesalahan karena analisis topologi Komponen dasar perangkat keras SIG
- Persoalan klasifikasi dan generalisasi; dapat dikelompokan sesuai dengan
metodologi, definisi kelas interval, fungsinya antara lain:
interpolasi
a. Peralatan pemasukan data, misalnya
16.3 Komponen utama SIG papan digitasi (digitizer), Penyiam
(scanner), keyboard, disket dan lain-lain.
b. Peralatan penyimpanan dan pengolahan
Komponen utama SIG adalah sistem
data, yaitu komputer dan
komputer, data geospatial dan pengguna
perlengkapannya seperti : monitor,
papan ketik (keyboard), unit pusat
Harware dan Sofware
untuk pemasukan,
penyimpanan, pengolahan (CPU / central processing
pengolahan, analisa,
tampilan data, dsb
unit), cakram keras (hard-disk), floppy
disk,dan
c. Peralatan untuk mencetak hasil seperti
printer dan plotter

Peta, foto udara, citra Desain standar, pemutahiran


satelit, data statistik dll. updating analisis dan
penerapan

Gambar 441. akomponen utama SIG

Gambar 442. Perangkat keras


16 Sistem Informasi Geografis
475

Gambar 443. Perangkat keras keyboard

Gambar 446. Perangkat keras monitor

Gambar 447. Perangkat keras mouse

2. Komponen perangkat lunak

Komponen perangkat lunak yang sudah


tersedia di pasaran sangat bervariasi, oleh
karena itu perangkat lunak yang tepat dari
suatu SIG sukar ditentukan. Memilih suatu
perangkat lunak akan sangat ditentukan
Gambar 444. Perangkat keras CPU
oleh banyak faktor. Namun secara umum
SIG mempunyai komponen fungsi seperti
yang dijelaskan di atas, perlu dibedakan dari
SIG, sistem informasi lain yang berorientasi
grafis seperti CAD (Computer Aided Design)
yang umumnya tidak mempunyai komponen
analisis (terutama topologi), (Cowen,
Gambar 445. Perangkat keras Scanner
1990;Newell dan Theriault, 1990), walaupun
sistem seperti ini berangsur-angsur berubah
dengan ditambahi perangkat analisis
16 Sistem Informasi Geografis
476

tersebut sehingga mengarah kebentuk SIG. cukup besar dari pada pengadaan
Komponen piranti lunak baik dari sisi macam perangkat keras dan lunak.
dan kemampuannya sering berbeda satu
Untuk menyusun suatu basis data awal
sama lain, tergantung selera masing-masing
yang lengkap akan dibutuhkan waktu
pembuatnya, yang terpenting bagi
yang lama, terutama didaerah yang luas
pengguna harus dapat memilih sesuai
dan masalahnya sangat kompleks akan
dengan kebutuhan. Hal ini akan ditentukan
membutuhkan waktu beberapa bulan
oleh bentuk data dan sumbernya serta
hingga kemungkinan beberapa tahun.
kemampuan analisis yang diinginkan.
Tingkat kekomplekskan permasalahan
Bentuk dan sumber data perlu mendapat
akan sangat mempengaruhi jumlah
perhatian yang serius, karena biaya dalam
waktu yang diperlukan, oleh karena itu
SIG sering didominasi oleh proses
bila waktu yang tersedia relatif singkat
pemasukan data.
maka tujuan SIG harus di buat
a. Persiapan dan Pemasukan Data sederhana. Hal yang penting mendapat
perhatian bahwa agar SIG dapat
Bentuk kegiatan persiapan mencakup
bermanfaat secara langsung, sesuai
dua unsur utama (a). Konversi data
produk yang di rancang maka suatu
kedalam format yang diminta perangkat
proyek SIG harus menyediakan biaya
lunak, baik dari data analog maupun dari
mulai dari persiapan awal untuk
data digital lain, dan (b) Identifikasi dan
pengumpulan data hingga proses akhir
spesifikasi lokasi obyek dalam data
untuk dapat menghasilkan produk
sumber. Tahap ini bertujuan
berbentuk tampilan informasi sesuai
mengkonversi data dari bentuk yang ada
yang di inginkan.
menjadi bentuk yang dapat dipakai
dalam SIG. Namun pemasukan data Dengan berbagai alasan yang di uraikan
sering merupakan masalah yang khusus diatas, metode pemasukan data dan
dan kadang-kadang merupakan kualitas data baku sebaiknya
penghalang utama dalam penerapan dipertimbangkan secara hati-hati sejak
suatu SIG. Dengan alasan-alasan seperti awal. Sebelum data dimasukan
mahalnya pembelian perangkat keras sebaiknya dievaluasi beberapa hal yang
dan lunak, tetapi dalam kenyataannya berkaitan dengan data tersebut, seperti
sering terjadi bahwa pembentukan basis pengolahan yang akan dilakukan, tingkat
data (database) memerlukan biaya yang keakuratan, dan bentuk keluaran data
yang diinginkan. Hal diatas menunjukan
16 Sistem Informasi Geografis
477

betapa pentingnya membangun dan buruk, susah penggunaannya,


kepercayaan pemakai dan manfaat dari hingga dikatakan sebagai mudah rusak.
upaya tambahan dalam meningkatkan
Manajemen data dapat dikaitkan dengan
kualitas data.
sistem keamanan data. Dalam hal ini
b. Manajemen, Penyimpanan dan prosedur penyelamatan data harus
Pemanggilan Data dibuat spesifik sehingga untuk pemakai
yang berbeda akan dibuat jalur yang
Komponen manajemen data dalam SIG
berbeda. Perlu dibedakan antara
termasuk fungsi untuk menyimpan data
pemakai jangka pendek dan pemakai
dan menggali data. Penyimpanan data ini
jangka panjang dan sebaiknya dilakukan
juga mencakup beberapa teknik
identifikasi dan evaluasi prosedur setiap
memperbaiki dan memperbaharui data
sistem manajemen data.
spasial dan atribut. Fungsi-fungsi yang
umum terdapat disini adalah pemasukan, c. Manipulasi dan Analisis Data
perbaikan, penghilangan dan
Fungsi manipulasi dan analisis
pemanggilan kembali data. Metode yang
merupakan ciri utama sistem pemetaan
dipakai untuk melaksanakan fungsi-
grafis yang menentukan informasi yang
fungsi ini mempengaruhi efisiensi sistem
dapat dibangkitkan dari SIG. Hal yang
pengoperasian semua fungsi.
harus diantisipasi adalah bahwa SIG
Ada beberapa variasi metode yang tidak hanya akan mengotomatiskan
dipakai untuk mengorganisasikan data aktivitas tertentu, tetapi juga akan
kebentuk yang dapat dibaca komputer. merubah cara kerja organisasi.
Cara data distrukturkan dan di-file-kan
Metode pengambilan keputusan
berkaitan satu sama lain (organisasi
kemudian dapat berubah dari pemilihan
bank data), demikian juga kendala
alternatif terbaik dengan mencari dan
tempat dimana data digali, dengan
mengevaluasi perbaikan yang diusulkan.
kecepatan operasi penarikan data,
Untuk mengantisifasi cara-cara data
seperti bentuk dan media
dalam SIG dapat di analisis, diperlukan
penyimpanannya. Jika pelaksanaan
pemahaman mengenai pemakai yang
penyimpanan dan pemanggilan berjalan
terlibat, karena hal ini akan menentukan
baik maka pemakai biasanya tidak akan
fungsi-fungsi yang diperlukan, demikian
mengalami kesulitan yang berarti.Namun
juga tingkat penampilan produk yang
sebaliknya bila pemakain mengalami
mereka kehendaki .
kendala maka sistem dianggap lambat
16 Sistem Informasi Geografis
478

d. Pembuatan Produk SIG

Bentuk produk suatu SIG dapat


bervariasi baik dalam hal kualitas,
keakuratan, dan kemudahan
pemakainya. Tetapi produk yang
dihasilkan SIG sering dianggap kurang
memenuhi syarat kualitas secara
kartografi, hal ini disebabkan karena
kemampuan SIG tidak diarahkan untuk
menghasilkan kenampakan produk yang
menyamai hasil pekerjaan perangkat
Gambar 448. Peta arahan pengembangan
lunak khusus kartografi. Untuk komoditas pertanian kabupaten
meningkatkan kualitas produk secara Ketapang, Kalimantan Barat

kartografis, dapat dirancang agar hasil


SIG dapat dikonsversi ke perangkat
lunak kartografi, yang sudah mempunyai
kemampuan tinggi untuk menghasilkan
produk yang lebih menitik bertakan
pertimbangan kartografi.

16.4.1 Sumber data dan Alat pemasukan


Data

Sistem informasi geografi berkaitan erat


dengan data dan informasi yang bereferensi
geografis. Data dan informasi tersebut
umumnya diperoleh dari berbagai sumber
antara lain : peta-peta yang telah ada, foto
Gambar 449. Peta citra radar Tanjung Perak,
udara, citra satelit, citra radar, atau mungkin Surabaya
hasil pengukuran lapang bahkan suatu
bank-data atau SIG yang telah ada.

Beberapa peta yang sering digunakan


dalam pemasukan data SIG, misal:
16 Sistem Informasi Geografis
479

Gambar 452. NK10 Set holder dan prisma canister

Gambar 450. Peta hasil foto udara daerah Nangroe


Aceh Darussalam pasca Tsunami

16.4 Peralatan, bahan dan


prosedur pembangunan
SIG

Contoh alat-alat yang biasa digunakan


dalam SIG diantaranya:

Gambar 453. NK12 Set holder dan prisma

Gambar 451. NPS360 for robotic total station

Gambar 454. NK19 set


16 Sistem Informasi Geografis
480

Alat-alat Global Prosescing System yang


biasa dipakai diantaranya :

Gambar 458. GPS type NK 12 croth single prism


holder offset : 0 mm

Gambar 455. GPS type NL 10

Gambar 459. GPS type CPH 1 A leica single prism


holder offset : 0 mm

Gambar 456. GPS type NL 14 fixed adapter Struktur data yang telah ada dalam suatu
SIG perlu mendapat perhatian, terutama
pada saat akan menggabungkan data baru
yang berasal dari sumber lain. Perbedaan
format data antara yang sudah ada dalam
komputer dengan yang akan dimasukan
akan menjadi masalah. Untuk
mempersamakan format data diperlukan
kesepakatan, atau koordinasikan.

Walaupun berbagai piranti lunak telah

Gambar 457. GPS type NJ 10 with optical plummet


memberikan pilihan-pilihan format atau
bentuk transformasinya yang cukup baik.
16 Sistem Informasi Geografis
481

Produsen data yang bersifat umum


diperlukan mempunyai format umum yang
dapat diterima piranti lunak secara luas,
karena jika tidak hal ini akan menjadi
masalah yang cukup serius. Oleh karena itu
diperlukan koordinasi yang baik secara
regional, nasional maupun internasional
untuk memungkinkan lalu-lintas informasi
dapat berjalan sangat cepat. Dalam hal ini
persoalan tidak lagi ditekankan pada proses
Gambar 460. Peta digitasi kota Bandung tentang
penyediaan produksi daja tetapi sudah lebih
perkiraan daerah rawan banjir
mengarah ke pengelolaan informasi secara
efisien dan efektif.

Alat pemasukan data tambahan yang sudah


merupakan bagian suatu SIG adalah papan
pendigitasi atau digitizer dan alat penyiam
atau scanner. Pemasukan data dengan
digitizer biasanya menghasilkan data yang
berbentuk vektor (polygon). Peta garis pada
media kertas yang dikenal secara
Gambar 461. Peta hasil analisa SPM (suspended
konvensional biasanya dialihkan menjadi
particular matter)
digital atau digitasi menggunakan alat
sedangkan scanner menghasilkan data
yang berbentuk raster.

Berikut beberapa contoh hasil digitasi peta


yang terlebih dahulu discanner.

Gambar 462. Peta prakiraan awal musim kemarau


tahun 2007 di daerah Jawa
16 Sistem Informasi Geografis
482

16.4.2 Pemasukan data spasial kelompok koordinat X dan Y (atau Z).


pemasukan data dari foto udara dengan alat
Metode untuk memasukan data dalam suatu seperti stereo plotter menjadi peta digital,
SIG sangat beragam, hal ini tergantung dari pada dasarnya mirip dengan cara ini kecuali
banyak faktor seperti sumber data, format perekaman unsur elevasi (dimensi ketiga)
data yang akan dimasukan, ketersediaan dimana koordinat Z diperlukan.
sarana keras pemasukan data, ragam cara
Ukuran digitizer yang tersedia dipasaran
memasukan data spasial :
beragam, mulai dari meja yang berukuran
1. Dengan digitasi manual atau semi- kecil (27x27 cm) hingga berukuran besar
manual (1x1.5 m). beberapa model digitizer tersebut
2. Dengan key-board (prosedur koordinat juga mendukung pendigitasian bahan film
geometri) gambar atau material yang transparan.
3. Dengan digitasi fotogrametrik
Resolusi atau keakuratan koordinat yang
4. Dengan scanner
akan terekam oleh digitizer beragam, dan
5. Dengan digitasi melalui layar
ditentukan oleh spesifikasi teknis
6. Dengan konversi data digital lain
kemampuan alat masing-masing. Secara
7. Dengan pengetikan (key-entry)
umum, meja yang ukuran besar akan
8. Dengan bantuan satelit posisi global
mempunyai resolusi yang tinggi sekitar
(GPS-Global Positioning System)
0.025 mm, dan keakuratan absolutnya,
Untuk lebih memahami cara memasukan secara umum 3 kali dari resolusi baku.
data spasial untuk lebih menguntungkan Kualitas meja digitizer ditentukan oleh
akan sedikit dijelaskan secara garis stabilits, perulangan perekaman kelurusan-
besarnya: kelengkungan garis, resolusi dan akurasi.

1. Dengan digitasi manual atau semi- Pertimbangan lain adalah orientasi kursor,

manual atau semi otomatik suhu, kelembaban, drift, dan kalibrsi


elektronik (Cameron, 1982 dalam Marble, et
Metode yang paling umum dipakai untuk
al, 1984),
mengkonversi peta cetak ke bentuk digital
adalah dengan menggunakan papan Proses pendigitasian peta terdiri dari

digitasi. Dengan memakai papan beberapa tahap yaitu:

pendigitasi, semua kenampakan obyek yang a. Penyiapan peta-peta yang akan


akan dimasukan harus direkam satu persatu didigitasi
atau bahkan titik pertitik sebagai suatu
16 Sistem Informasi Geografis
483

b. Perekam koordinat-koordinat peta 3. Pemasukan Data dengan digitasi


( digitasi aktual) Fotogrametrik
c. Pengeditan dan perbaikan data
Teknik digitasi fotogrametrik dipakai untuk
sebelum penyimpanan dalam bentuk
mendelineasi peta baru dari foto udara.
peta basis-data, dan
Teknik ini membutuhkan tenaga kerja
d. Pemasukan data atribut yang sesuai
banyak, seperti halnya dijitsi manual. Pada
dengan data spasial.
cara ini, meja pendigitasian digantilkan
2. Pemasukan data dengan prosedur dengan instrument fotogrametri seperti
Koordinat Gometri stereoplotter analitik. Digitasi fotogrametrik
kebanyakan dipakai untuk merekam secara
Prosedur koordinat geometri relatif berbeda
cepat, seperti kenampakan digital
dari prosedur lain. Disini kenampakan
planimetrik dan data elevasi melalui
geometri dalam peta merupakan kunci
stereofoto-plotter. Data elevasi dapat
pemasukan data kekomputer. Algoritma
disimpan baik dalam bentuk garis kontinyu
matematik dipakai untuk menghitung
dengan interval tertentu atau bentuk titik-
koordinat, yang selanjutnya disimpan dan
titik.
dipakai untuk menghasilkan kenampakan
citra dilayar. Piranti lunak yang umum 4. Pemasukan data dengan alat penyiam
dikenal untuk fungsi ini adalah COGO, suatu (scanner)
istilah yang merupakan singkatan untuk
Pendigitasian secara manual yang
teknik koordinat geometri. Pendekatan ini
memerlukan waktu dan dana yang sangat
memerlukan definisi titik asli melalui digitasi
banyak, mendorong berkembangnya digitasi
atau pemasukan nilai koordinat.
secara otomatis, yaitu dengan penyiam
Arah dan jarak unsur geometri yang lain (scanner). Cara ini menggunkan prinsip
dipetakan dengan memasukan data survei yang sama dengan teknik laser optikal atau
lapang, dan dapat menghasilkan data elektronik untuk “menyapu” citra atau peta
kartografi yang sangat akurat, lebih akurat yang ada dan mengkonversi gambar
dari teknik-teknik digitasi konvensional / tersebut ke format digital, yang terdapat
manual. dalam bentuk data raster.prosedurnya
adalah sebagai berikut garis-garis dari peta
asli direkam sebagai suatu seri piksel-piksel
kecil yang membentuk citra binary (ada,
misalnya garis atau simbol; tidak ada,
16 Sistem Informasi Geografis
484

misalnya tidak ada garis atau simbol ; gelap secara manual, misalnya untuk mencari
atau putih). sungai yang tidak terlihat pada peta.
Dengan menyiam peta dan selanjutnya
Proses penyiaman walaupun cepat, juga
ditumpang-tidihkan dengan inderaja maka
mempunyai kelemahan khususnya untuk
kenampakan sungai pada peta dapat
data-data yang kompleks sehingga
dilengkapi.
membutuhkan persiapan yang menyeluruh,
diantaranya peta harus bersih, tidak boleh 6. Pemasukan data dengan konversi data
ada obyek yang meragukan . untuk digital lain
keperluan tersebut sering juga peta harus Data yang sudah terdapat dalam bentuk
digambar kembali. digital merupakan salah satu sumber utama
data digital di masa yang akan datang
Dikenal dua macam penyiam yaitu penyiam
seperti data penginderaan jauh dan data
type datar (flat-bed scanner) yang terdiri dari
hasil penyiaman. Umumnya setiap piranti
bebarapa model antara lain type datar
lunak SIG dapat mengkonversi data tersebut
(flatbed), dan type yang dapat dipegang
minimal kedalam bentuk data baku yang
(handheld scanner), dan penyiam type
dikenali hampir semua piranti lunak
tabung (drum-scanner type) terdiri atas
misalnya data dalam format BMP, TIFF.
model type sheetfed salah satunya.
7. Pemasukan data melalui papan ketik
5. Pemasukan Data dengan digitasi layar
Komputer (Screen-digitizing) Pemasukan data dengan cara
menggunakan papan ketik (key-board)
Pemasukan data melalui layar ini mirip
relative mirip dengan prosedur koordinat
dengan pendekatan pemasukan koordinat
geometri, hanya saja dalam prosedur ini
geometri karena konsepnya didasarkan
lebih ditekankan pada pemasukan data
perhitungan matematis. Beberapa SIG yang
atribur (data non-garfik) dan anotasi peta.
ada sekarang mempunyai kemampuan
Data ini langsung diterima komputer
digitasi layar tersebut. Prosedur kerja ini
sebagai bagian dari SIG. data ini juga dapat
memberikan kemudahan yang
dimasukan belakangan ke dalam basis data
menguntungkan bila digunakan pada data
SIG setelah di edit sesuai dengan
penginderaan jauh, karena dapat dilakukan
keperluan SIG. anotasi peta biasanya
delineasi di atas layar secara langsung.
dimasukan dengan bentuk ketikan (key
Penerapan metoda digitasi layar ini dalam entry) dan diletakan pada citra (gambar) di
penginderaan jauh, dapat digunakan untuk komputer melalui perintah-perintah yang
mendeteksi kenampakan obyek tertentu bersifat interaktif. Perkembangan
16 Sistem Informasi Geografis
485

pemasukan data melalui papan ketik ini - Ketelitian tidak bergantung pada skala
pada periode pertengahan 1990-an sudah peta
mulai berkurang khususnya dengan - Kemampuan untuk mendigitasi objek-
semakin berkembangnya penggunaan objek di lapangan yang berukuran kecil
mouse. yang umumnya tidak nampak pada
peta, atau tidak dapat diidentifikasi
8. Pemasukan data dari GPS (Global
pada foto udara atau citra satelit
Positioning System)

Pemasukan data melalui system satelit Kelemahan yang ditemukan pada


global (GPS) sangat berkembang akhir- pemasukan data pada prosedur
akhir ini disebabkan makin murahnya GPS diantaranya:
dalam bentuk portable. Pemasukan data ini
umumnya lebih berorientasi lokasi secara - Sarananya (alat penerima)

spesifik. Informasi yang terekam biasanya membutuhkan ruang terbuka dan tidak

disajikan dalam bentuk koordinat lokasi dan boleh ada penghalang untuk penerima

elevasi (ketinggian). Data GPS ini, yang sinyal dari satelit

berbentuk titik biasanya diolah dengan - Data yang direkam pada daerah

mengkonversikan data tersebut menjadi tertutup seperti di bawah pohon (hutan)

bentuk segmen seperti data kontur atau yang berbukit, akan menghasilkan

topografi sebelum diproses lebih lanjut deviasi data yang besar.

dalam SIG. fungsi data GPS yang sering


dipakai adalah untuk keperluan koreksi
geometri data yang sudah ada dalam SIG
yang selanjutnya dimanfaatkan untuk
melihat hubungan data secara lengkap,
misalnya untuk korelasi data analisis
tumpang-tindih perhitungan volume.

GPS sebagai sarana perekam data posisi


atau lokasi atau pendigitasian titik,
mempunyai beberapa keuntungan antara
lain:

- Ketidak bergantungannya pada


ketersediaan peta
16 Sistem Informasi Geografis
486

Tabel 47. Pendigitasian Konvensional dibanding Kendala utama pada GPS adalah ketidak
pendigitasian GPS
mudahan dalam pemrosesannya.
Konvensinal GPS
Walaupun penangkapan dan pengumpulan
- Ketelitian -Ketelitian tidak
tergantung skala bergantung skala data relatif mudah tetapi jika hasil analisis
yang diinginkan berkualitas tinggi maka
proses perhitungannya juga sulit, sehingga
- Cocok untuk - Cocok untuk
operator yang dibutuhkan harus
pengkoleksian pengkoleksian dat
mempunyai pengetahuan yang lebih dari
data secara besar- secara selektif
besaran pada sekedar operator biasa.

Sebagai tambahan dalam SIG ini, maka


- Kecepatan - Kecepatan
pendigitasian pendigitasian tidak ada salahnya penulis
dikontrol oleh dikontrol oleh membandingkan Digitasi secara manual
pengguna kecepatan dan
(semi-otomatis) dengan Penyiam.
kondisi lalu-lintas
Pendigitasian data melalui proses
- Cocok untuk objek- -Dapat juga digunakan penyiaman telah banyak di lakukan oleh
objek yang dapat untuk objek-objek kecil
instansi di negara-negara maju, sedangkan
terlihat pada peta
maupun pada peta di Indonesia masih lebih dominan
foto udara penggunaan meja pendigitasian. Walaupun
pemasukan dengan penyiam dapat
mempercepat sampai 5-10 kali, tetapi bagi
pengguna yang kebutuhan data maupun
- Digitizer 2 dimensi -Digitizer 3 dimensi
kemampuannya kecil, maka alat ini belum
tentu mempunyai nilai lebih secara
- Pendigitasian -Pendigitasian dengan
point- mode metode penentuan ekonomi.
static singkat, stop-and-
Dalam keadaan tertentu agar penyiaman
go atau pseudo
kinematik berjalan dengan baik serta menampilkan
semua objek, kadang-kadang peta tersebut
- Pendigitasian -Pendigitasian dengan di gambar lagi (re-drafting). Kalau hal
stream-mode metode penentuan
seperti ini terjadi, maka proses
kinematik GPS
penggambaran kembali ini merupakan
salah satu kelemahan utama dalam proses
pendigitasian otomatis ini. Untuk instansi
yang bertujuan menghasilkan data spasial
16 Sistem Informasi Geografis
487

(peta) dalam jumlah besar, maka biaya sederhana, dan tidak mempunyai informasi
total proses penggambaran kembali ini ekstra seperti: simbol-simbol grafik atau
tidak akan membebani biaya total digitasi, teks. Peta yang terdiri dari bermacam-
dalam hal ini ada 3 alasan utama, yaitu: macam garis berwarna dan mempunyai
jumlah garis yang banyak, selain
1. Penggambaran kembali secara manual
pengerjaannya rumit juga akan
di lakukan oleh juru gambar tingkat
membutuhkan memori komputer yang lebih
bawah, sehingga pembiayaannya akan
besar. Selain itu dalam pekerjaan ini akan
rendah karena tidak membutuhkan
diperlukan proses perbesaran kelompok
keahlian khusus.
obyek tertentu (terutama jiak ditentukan
2. Pelaksanaan digitasi akan dilakukan
resolusi yang diperlukan) sehingga volume
lebih cepat jika peta telah bersih dan
produksi juga akan berpengaruh dalam
konsisten. Berdasarkan pengalaman,
proses ini. Umumnya jika terdapat
dibutuhkan waktu yang banyak untuk
pekerjaan dalam jumlah besar maka biaya
melakukan pengeditan atau perbaikan
peralatan juga mudah diperhitungkan.
digitasi peta yang rumit.
Sehingga pemanfaatan penyiam juga dapat
3. Jika peta yang akan didigitasi lebih
efektif jika volume data yang dihasilkan
sederhana dari informasi yang tersedia
besar.
dalam bentuk peta maka
penggambaran objek diperlukan Digitasi secara manual cenderung lebih
(dilakukan pemilihan data ), karena hal mahal bila peta yang digunakan mempunyai
ini lebih efisien dibandingkan jumlah unit (polygon) sedikit dan tidak
pengeditan dilakukan bersamaan dalam bentuk yang mudah di siam. Peta-
dengan proses digitasi peta yang mengandung banyak informasi
tambahan, yang memerlukan interprestasi
Karena sistem penyiaman bersifat otomatis,
atau yang memerlukan penyesuaian saat
maka akan dibutuhkan staf ahli yang
pengkodean, atau mengandung sedikit
khusus. Hal ini disebabkan untuk perawatan
obyek, umumnya tidak terlalu penting untuk
alatnya yang relatif kompleks dan juga
disiam, karena tidak efisien.
karena piranti lunaknya lebih canggih, dan
lebih banyak tahapan yang perlu diketahui. Dengan kenyataannya bahwa kedua pilihan
Peralatan juga pada umumnya lebih mahal pemasukan data yang masing-masing
di bandingkan meja digitizer biasa. masih mengandung masalah, teknik
Penyiaman dapat bekerja dengan baik jika pemasukan data yang lain sebagai alternatif
peta-peta yang dipakai sangat bersih, sangat diperlukan. Dari sisi teknik
16 Sistem Informasi Geografis
488

pendigitasian dengan penyiam, diharapkan - Garis merupakan deretan titik yang


dapat segera ditemukan peralatan yang sambung menyambung, berdimensi satu
semakin mampu dan harganya semakin seperti jalan, sungai, akan tetapi sudah
murah, sehingga penyiaman dapat mempunyai sifat tambahan yaitu
memberikan nilai tambah. Pada era 1990- mempunyai arah dan ukuran panjang,
an kemunculan alat scanner yang makin akan tetapi tetap tidak mempunyai
murah dan baik, membuat teknologi luasan.
pemasukan data ini semakin penting. - Area dinyatakan dalam bentuk poligon,
merupakan cara penyajian dasar yang
16.5 Jenis-jenis analisis spasial berdimensi dua, sehingga dapat
dengan SIG dan aplikasinya
menggambarkan luas area.
pada berbagai sektor
pembangunan
Kelebihan kemampuan penampilan dengan

Walaupun SIG dapat bekerja dengan SIG dari peta adalah dalam mendekati

bermacam-macam-macam data, akan tetapi keadaan alam sebenarnya yang berdimensi

sesuai dengan tujuan spesifikasi dari tiga, karena SIG dapat menampilkan

penggunaan suatu SIG, maka macam data gabungan berbagai data sedemikian rupa

yang utama adalah data berbentuk sehingga mirip keadaan sebenarnya yang

selebaran spasial obyek pada umumnya bersifat tiga dimensi.

yaitu peta. Sebagai cara penyajian data


16.5.1 Jenis manajemen penyusunan
secara keruangan yang telah lama dikenal
data spasial dalam suatu
dalam komunikasi grafis, peta harus dibuat
pemodelan yang berdasar atas
dengan dasar cara penyajian kartografi,
lapisan data vertikal dan lapisan
prosedur penyajian secara kartografis
data horizontal
berdasarkan simbol . Ada tiga cara dasar
penyajian data spasial , yaitu dalam bentuk
- Lapisan data vertikal terdiri dari
sebagai berikut:
seperangkat hubungan antara
kenampakan geografis dengan
- Titik merupakan cara penyajian yang
pemisahan berdasarkan atribut
tidak berdimensi, dan hanya menyajikan
(tema)nya. Berbagai obyek dapat
lokasi dalam bentuk koordinat.
dikelompokan menjadi suatu lapisan
Penyajiannya menitik beratkan pada
tunggal sesuai dengan kebutuhan
lokasi obyek, yang tidak berkait dengan
pemakai. Pada prinsipnya
ukuran panjang maupun luas dari obyek
16 Sistem Informasi Geografis
489

pengelompokkan disesuaikan dengan dan sekarang yang sangat penting. Karena


kemiripan berbagai type obyek. Contoh data tematik ini spesifik, maka lapisan data
pengelompokkan berdasarkan temanya ini juga merupakan lapisan yang terpisah
adalah :
x Jalan raya dan jalur kereta api Sistem pelapisan data dapat disusun secara

dikombinassikan sebagai suatu vertikal, dimana data tersebut mempunyai

lapisan transportasi tingkat kepentingan atau kedetailan yang

x Titik mata air, sungai, dan danau berbeda, tetapi terdapat pada lokasi yang

dikombinasikan sebagai suatu sama.pembagian yang demikian ini

lapisan hidrologi adakalanya mempermudah pengkajian yang


bertingkat
x Lapisan pemilikan tanah dan
penguasaaan tanah dapat si buat
Pelapisan data berdasarkan waktu biasanya
sebagai satu lapisan kadastral
terdapat pada tema yang bersifat dinamik
seperti penggunaan lahan, daya dukung
Adakalanya data yang ada pada setiap
wilayah, pencemaran lingkungan dan lain
lapisan dipisahkan berdasarkan bentuknya
sebagainya. Pelapisan berdasarkan tema
seperti: titik, garis, dan area atau dengan
juga dapat dilakukan berdasarkan tingkat
memberikan identitas yang berbeda pada
prioritasnya. Pembuatan peta dengan
satu lapisan yang sama. Pembagian tema
klasifikasi tingkat prioritas ini diperlukan
dapat juga dilakukan berdasarkan waktu.
khususnya untuk produk analisis sehingga
Misalnya untuk data penggunaan lahan
memudahkan pengambilan keputusan
tahun 2000, tahun 2005 dan tahun 2007.
Lapisan data bersifat temporal ini
dipergunakan untuk studi yang bersifat
pemantauan. Untuk beberapa hal yang
bersifat temporal ini relatif sulit diperoleh jika
organisasi yang berwenang mempunyai
administrasi penyimpanaan data yang
kurang baik atau adanya pertimbangan
tertentu. Pada saat ini peranan foto udara
merupakan arsip permukaan bumi masa lalu
16 Sistem Informasi Geografis
490

BW
BV
AZ BU
BT KABUPATEN PURWAKARTA PETA CURAH HUJAN
BS
Cibin
on
g
KABUPATEN BANDUNG
BR
PROPINSI JAWA BARAT
BQ
U
AY BP
BO
BN CIPENDEY CIKALONG WETAN
WADUK CIRATA
BM
REPEH RAPIH KERTA RAHARJA SKALA 1 : 100000
BL 5 3 1 0 1 3 5 Km

AX BK
BJ
BI
BH
KABUPATEN SUBANG
BG CISARUA

AW BF Cim
al
a
PARONGPONG
BE NGAMPRAH LEMBANG
BD
BC
BB KABUPATEN CIANJUR PADALARANG

AV BA CIMAHI UTARA

AZ
AY CIMENYAN
CIMAHI TENGAH
AX CILENGKRANG

AW
AU AV
AU BATUJAJAR CIMAHI SELATAN
AT KODYA BANDUNG KABUPATEN SUMEDANG
AS WADUK SAGULING CILENYI

AR MARGAASIH
AT AQ
AP CIPONGKOR CILILIN
AO MARGAHAYU RANCAEKEK
DAYEUH KOLOT
AN
CICALENGKA
AM BOJONGSOANG
Cita
AS AL SINDANGKERTA
rik

ey
id
Ciw
AK KATAPANG
Ciatrum CIKANCUNG
AJ
GUNUNG HALU
AI
PAMENGPEUK BALEENDAH
AH
AR AG SOREANG CIPARAY

AF
AE BANUARAN MAJALAYA PASEH

AD ARUM SARI

AC
Ciinguk

AQ AB
AA aju
ng PASAR JAMBU
Cik

Z CIWIDEY EBUN

Y PACET

X
AP W KABUPATEN CIANJUR KABUPATEN GARUT
V
U
T
S
SITU PATENGAN
AO R
PANGALENGAN
Q
KETERANGAN
P KERTASARI

O Waduk < 1500 mm/thn


SITU CILENCA
N 1
2 Sungai (1500 - 2000) mm/thn
AN M
Batas a. Kabupaten (2000 - 2500) mm/thn
L b. Kecamatan
K Ibu Kota a. Kabupaten (2000 - 2500) mm/thn
J L A U T J A W A b. Kecamatan
DA

(3000 - 3500) mm/thn


SUN

I Jalan Tol
AT

Rencana Tol
AM
SEL

H DKI

Jalan Negara
(3500 - 4000) mm/thn

G Jalan Pronpinsi
> 4000 mm/thn
Jalan Kabupaten
F Jalan Desa
Jalan Kereta Api
E SUMBER PETA RUPA BUMI BAKUSURTANAL TAHUN 2004

D JAWA TENGAH

AL C S A M U D R A H I N D I A
Badan Perencanaan Pembangunan Daerah
B Kabupaten Bandung
Pemerintah Kabupaten Daerah Tingkat II Bandung
A
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 90 91 92
53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70

Gambar 463. Peta kedalaman tanah efektif di daerah jawa barat Bandung

BW
BV
AZ BU
BT KABUPATEN PURWAKARTA PETA CURAH HUJAN
BS
Ci
bin
on
g
KABUPATEN BANDUNG
BR
PROPINSI JAWA BARAT
BQ
U
AY BP
BO
BN CIPENDEY CIKALON G W ETAN
W AD UK CIRA TA
BM
REPEH RAPIH KERTA RAHARJA SKALA 1 : 100000
BL 5 3 1 0 1 3 5 Km

AX BK
BJ
BI
BH
KABUPATEN SUBANG
BG CISARUA

AW BF C
im
al
a
PARON GPON G
BE N GAMPRAH LEMBANG
BD
BC
BB KABUPATEN CIANJUR PA DALARAN G

AV BA CIMAH I UTARA

AZ
AY CIM EN YAN
CIMA HI TEN GAH
AX CILENG KRAN G

AW
AU AV
AU BA TUJAJAR CIM AH I SELA TAN

AT KODYA BANDUNG KABUPATEN SUMEDANG


AS W AD UK SA GULING CILENY I

AR M ARGA ASIH

AT AQ
AP CIPONG KOR CILILIN
AO MA RGAH AYU RA NCA EKEK
DA YEU H KOLOT
AN
CICALENGKA
AM BOJON GSO ANG
Cita
AS AL SINDA NG KERTA
rik
ey
id
w

AK
Ci

K ATAPANG
C iatrum CIK ANCU NG
AJ
G UN UNG HALU
AI
PAM EN GPEUK BALEEND AH
AH
AR AG SOREANG CIPARA Y

AF
AE BA NUA RAN M AJALAYA PASEH

AD A RU M SA RI

AC
guk

AQ
Ciin

AB
AA aju
ng PASA R JAM BU
Cik

Z CIW ID EY EB UN

Y PA CET

X
AP W KABUPATEN CIANJUR KABUPATEN GARUT
V
U
T
S
SITU PATEN GAN
AO R
PA NGA LENG AN
Q
KETERAN GAN
P KER TASARI

O W aduk < 1500 mm/thn


SITU CILENCA
N

- -
1
2 Sungai (1500 - 2000) mm/thn
AN M
Batas a. K abupaten (2000 - 2500) mm/thn
L b. K ecamatan

K Ibu K ota a. K abupaten (2000 - 2500) mm/thn


J L A U T J A W A b. K ecamatan
DA

(3000 - 3500) mm/thn


SUN

I Jalan Tol

- -
AT

Rencana Tol
AM
SEL

H DKI

Jalan Negara
(3500 - 4000) mm/thn

G Jalan Pronpinsi
> 4000 mm/thn
Jalan Kabupaten
F Jalan Desa
Jalan Kereta Api
E SUMBER PETA RUPA BUMI BAKU SURTAN AL TA HUN 2004

D JAWA TEN GA H

AL Badan Perencanaan Pembangunan Daerah


- -
C S A M U D R A H I N D I A

B K abupaten Bandung
Pemerintah Kabupaten Daerah Tingkat II Bandung
A
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 90 91 92
53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70

- -
Gambar 464. Peta curah hujan di daerah Jawa Barat-Bandung
- -
16 Sistem Informasi Geografis
491

- Pemisahan data secara Horizontal perlu administrasi khususnya pada


dilakukan apabila suatu peta yang pembuatan peta pemerintahan ataupun
dibuat dianggap terlalu besar sehingga dapat juga
harus dipecah-pecah menjadi bebrapa
pemetaan didasarkan atas pembagian
bagian. Proses pemecahan tersebut
manajemen disuatu perusahaaan
dilakukan berdasarkan ukuran area
perkebunan atau kehutanan. Pemisahan
atau disebut dengan istilah “TILE“.
data berdasarkan tile dapat
Ukuran dan bentuk pemecahan yang
meningkatkan kinerja system karena
dianjurkan tergantung pada
membuat proses penarikan data yang
keterbatasan piranti lunak dan
efisien :
persyaratan dari pengguna.

Gambar 465. Peta pemisahan data vertikal dipakai untuk penunjukan kawasan hutan dan perairan Indonesia

- Secara umum batas tile ditentukan sudah ada, yang biasanya berukuran kertas
sehingga dapat menghasilakan system A1 (± 60 x 80 cm ), dapat dipakai sebagai
basis-data yang stabil dan patokan
meningkatkan penggunaan dan kinerja
Dalam beberapa sistem, pemakai harus
system. Pada umumnya batas-batas
membuat dan mengatur tile-tile sebagai
grid dipakai dalam pemecahan.
cakupan area yang terpisah, dan
Adakalanya pembagian secara
menggabungkan tile-tile tersebut untuk
horizontal dibuat berdasarkan
16 Sistem Informasi Geografis
492

biasanya pencarian data lebih cepat jika


penyusunan pemisahan sesuai dengan ciri-
ciri umum data yang bersangkutan.

Gambar 466. Peta vegetasi Indonesia (tahun 2004)

Untuk kasus peta nasional, seperti


Indonesia, ukuran peta tofografi (peta
standar) yang menghubungkan area jika
diperlukan. Pendekatan yang lebih canggih
adalah menyediakan perangkat lunak
khusus yang membuat dan mengatur tile
secara otomatis sehingga dapat bergabung
tanpa peranan operator.

Manajemen otomatis ini adalah sutu operasi


basis data yang menyediakan layanan dan
analog sebagai perpustakaan peta. Gambar 467. Peta perubahan penutupan lahan
pulau Kalimantan
Walaupun demikian pembuatan peta yang
bersifat perpustakaan otomatis ini Pada beberapa hal ukuran tile untuk
membutuhkan manajemen khusus baik penyimpanan dapat melewati batas system
pengelolaannya maupun perangkat dan dalam hal ini area harus dapat dibagi
produksinya. sehingga dapat disimpan pada tile-tile kecil.
16 Sistem Informasi Geografis
493

Selain karena hambatan volume Kekuatan SIG terletak pada kemampuan


penyimpanan dalam praktek pendekatan ini analisis yang bersifat memadukan data
sering dipakai khususnya jika alat spasial dan atribut sekaligus. Hal ini juga
pemasukan data seperti digitizer berukuran yang membedakan dari sistem pemetaan
kecil (misalnya A3). Dengan dibaginya sejak otomatis dan penggambaran dengan
awal maka pada tahap akhir proses komputer piranti lunak AutoCAD. Berbagai
penggabungan perlu dilakukan kembali. orientasi pengolahan informasi pengolahan
informasi spasial yang terdiri atas:
16.5.2 Berbagai fungsi analisis dalam SIG
- Pemetaan otomatis

Perkembangan teknik SIG telah mampu - Pemetaan tematik

menghasilkan berbagai fungsi analisis yang - Pemodelan tumpang-tindih

canggih. Fungsi – fungsi analisis yang - Statistik spasial

dimaksudkan disini adalah fungsi - Analisis spasial

memanfaatkan data yang telah dimasukan - Penambangan spasial

ke dalam SIG dan telah mendapatkan - Konversi data peta menjadi data

berbagai manipulasi persiapan dan bukan tabulasi

fungsi untuk keperluan produk. Fungsi- - Integrasi basis pengetahuan dalam

fungsi tersebut antara lain: pencarian

- Fungsi pengolahan dan analisis data Tidak semua SIG mempunyai fungsi-fungsi
atribut atau spasial di atas. Adakalanya suatu piranti lunak
- Fungsi integrasi analisis data spasial mengembangkan kekuatannya di bagian
atau atribut tertentu saja misalnya dalam analisis atau

Cara suatu fungsi SIG diimplementasikan hanya pada disain produk, dan lain-lain.

umumnya tergantung pada beberapa faktor Untuk menyederhanakan berbagai

seperti model data (data raster dan data kelompok analisis ini, Aranoff (1993)

vektor), piranti keras, dan ketersediaan mengelompokan menjadi 4 kelompok

kriteria. Kelengkapan faktor-faktor ini diantaranya:

penting dan memerlukan persyaratan 1. fungsi pemanggilan / klasifikasi /


khusus yang perlu dievaluasi secara pengukuran data
seksama. 2. fungsi tumpang tindih
3. fungsi tetangga, dan
4. fungsi jaringan atau keterkaitan
16 Sistem Informasi Geografis
494

untuk lebih jelasnya 4 kelompok di atas kawasan hutan ideal, yang diolah dan
diuraikan supaya lebih jelas selanjutnya dibandingkan

1. Fungsi pemanggilan, Klasifikasi dan Fungsi pemanggilan data untuk pembuatan


Pengukuran Data peta tematik banyak dilakukan baik
Dalam kelompok operasi ini pemakaian penyajian dengan simbol geometrik 2
fungsi yang menggunakan data spasial dan dimensi atau 3 dimensi. Pada SIG
data atribut di buat berbeda. Untuk sederhana bentuk operasi ini sering dipakai
menjalankan fungsinya data atribut sebagai salah satu kekuatan dan dipakai
diidentifikasi atau dibuat terlebih dahulu, khususnya untuk penyajian data dengan unit
sedangkan untuk data spasialnya tetap ruang tetap atau batas spasial tetap, atau
berada pada posisi semula. Dengan kata aplikasi untuk keperluan pemantauan tema
lain akibat penerapan fungsi-fungsi tertentu.
tersebut ini tidak akan ada perubahan
lokasi secara spasial dan tidak terbentuk
ruang baru kecuali yang bersifat
penyederhanaan lokasi (tetapi lokasi asli
masih ada).

Operasi disini memakai data atribut


sebagai landasan analisis utama. Salah
Gambar 468. Peta infrastruktur di daerah Nangreo
satu hasil yang jelas adalah untuk
Aceh Darussalam
penyajian data tematik.

2. Operasi Pemanggilan Data 3. Kasifikasi dan Generalisasi

Operasi ini termasuk memilih, mencari, Dalam suatu analisis peta kelas-kelas baru
memanipulasi dan menghasilkan data tanpa dapat di buat dari kelas-kelas yang telah
perlu memodifikasi lokasi geografik obyek ada sebelumnya dan dipakai untuk
atau membuat identitas spasial baru keperluan analisis lebih lanjut. Prosedur
Operasi ini hanya bekerja dengan data yang untuk mengidentifikasi obyek menjadi
telah dimasukan ke dalam bank data (basis- anggota kelompok obyek berdasarkan
data). Pembuatan peta tertentu dengan kriteria tertentu atau sebagai klasifikasi.
tema terbatas dari peta yang telah ada Beberapa bentuk fungsi klasifikasi di
dalam arsip sebelumnya, merupakan sediakan dalam setiap SIG. Dalam kasus
contoh operasi ini. Misalnya melihat peta lapisan data tunggal, klasifikasi termasuk
16 Sistem Informasi Geografis
495

penetapan kelas dalam setiap poligon 4. Fungsi-fungsi Pengukuran


sebagai atribut. Misalnya klasifikasi
Setiap SIG menyediakan beberapa fungsi-
diterapkan kepenutupan lahan, dan nama
fungsi pengukuran, yang dapat
kelas dapat berupa lahan hutan, daerah
dikelompokan diantaranya:
perkotaan, daerah pertanian dan
- untuk menghitung titik
seterusnya.
- perhitungan jarak antar obyek
Dalam fungsi ini, proses klasifikasi termasuk - panjang garis
melihat atribut untuk lapisan data tunggal - penentuan keliling dan luas poligon
dan memasukan atribut tambahan, sebagai - volume dan ruang
kelas nama baru. Dalam SIG raster, nilai - ukuran serta pola sekelompok sel
numerik (digital) biasanya dipakai untuk yang mempunyai identitas sama.
menunjukan kelas-kelas. Suatu sel dapat
Fungsi-fungsi pengukuran juga sering
dihubungkan dengan nilai 1 yang berarti
dikaitkan dengan data digital terain untuk
lahan pertanian, nilai 2 untuk daerah
keperluan rekayasa, misalnya penentuan
kehutanan,dan seterusnya. Proses
jumlah material yang digali dan dipakai (Cut
klasifikasi disini termasuk menentukan nilai-
and fill) untuk pembuatan jalan. Fungsi-
nilai numerik ke sel-sel (recording) dan
fungsi pengukuran untuk keperluan
menulis nilai baru ini kedalam bank data
rekayasa seperti penentuan volume ruang
baru. Nilai-nilai ini selanjutnya dapat
yang dapat di gali dan ditimbun, adakalanya
ditampilkan dalam bentuk tema baru.
tersedia secara spesifik pada perangkat
Fungsi klasifikasi penting karena dapat lunak SIG sehingga operator dapat
menentukan pola. Salah satu fungsi yang melakukan perhitungan yang sangat
penting adalah untuk membantu mengenali kompleks.
pola-pola baru. Poa-pola baru ini misalnya
Jarak merupakan jarak terpendek antara
dapat berupa daerah perkotaan yang
dua obyek yang dibentuk oleh garis lurus
mempunyai kejahatan tinggi, daerah hutan
yang dapat dihitung dengan formula
yang siap tebang atau daerah pertanian
phytagoras. Perhitungan jarak ini dalam
yang paling siap dialihkan menjadi
SIG dilakukan dengan menggunakan data
permukiman. Melalui perubahan kriteria
sistem koordinat. Perhitungan luas oleh
adakalanya suatu pola dapat ditemukan.
piranti lunak berbasis vektor juga
Fungsi kalsifikasi yang lain adalah untuk
menggunakan data sistem koordinat.
mempermudah proses seperti korelasi
Asumsi yang dipakai adalah menempatkan
antara lapisan data yang berlainan.
berbagai kombinasi titik sehingga terdiri dari
16 Sistem Informasi Geografis
496

beberapa trapesium. Trapesium adalah - Berbagai Operasi Tetangga


bentuk kuadrilateral (abcd), dengan dua sisi
Operasi-operasi tetangga mengevaluasi
yang pararel dikalikan dengan tinggi.
ciri-ciri lingkungan tetangga yang
Dengan cara ini maka sistem koordinat
mengelilingi suatu lokasi yang spesifik.
dapat mengenali sisi X dan Y. Dari operasi
Contoh operasi tetangga yang khas adalah
ini muncul beberapa metode salah satunya
memperhitungkan jarak pemukiman yang
- Operasi tumpang-tindih menyebar sejauh 5 Km dari stasiun
pemadam kebakaran. Setiap fungsi
Operasi tumpang-tindih dalam SIG
tetangga memerlukan paling sedikit tiga
umumnya dilakukan salah satu dari 5 cara
parameter utama : satu target lokasi atau
yang dikenal yaitu:
lebih spesifikasi lingkungan sekeliling
a. Pemanfaatan fungsi logika dan fungsi target, dan fungsi yang akan di terapkan
Boolan, seperti gabungan (union), irisan pada unsur-unsur dalam lingkungan
(Intersection), pilihan (and dan or), tersebut
perbedaan (difference) dan pernyataan x Fungsi penelusuran (Search)
bersyarat (If, then, else) Fungsi penelusuran (pencarian) adalah
b. Pemanfaatan fungsi relasional, seperti fungsi yang paling banyak dioperasikan
ukuran lebih besar, lebih kecil, sama pada operasi tetangga. Fungsi ini
besar, dan kombinasinya. menetapkan nilai tertentu untuk obyek
c. Pemanfaatan fungsi aritmatika seperti tertentu dengan mengikuti ciri-ciri yang
penambahan, pengurangan, pengkalian ditentukan lingkungannya. Ada 3
dan pembagian. parameter utama yang didefinisikan
d. Pemanfaatan data atribut atau tabel dua yaitu :
dimensi atau tiga dimensi, dan a.Target
e. Menyilangkan dua peta langsung b.Tetangga, dan
(variasi tabel 2-dimensi). c. Fungsi yang menentukan nilai

Operasi-operasi ini umumnya merupakan tetangga

bagian standar dari semua paket perangkat Unsur-unsur target dan unsur-unsur
lunak SIG. Setiap tipe operasi mempunyai tetangga umumnya disimpan dalam
kelebihan dan kekurangan tertentu karena satu lapisan atau lebih
dalam pelaksanaannya operasi tersebut
berkaitan dengan tipe variabel yang dipakai
(nominal, ordinal, interval dan rasio)
16 Sistem Informasi Geografis
497

Tabel 48. Beberapa fungsi tetangga sederhana Untuk memberikan gambaran yang lebih
menyeluruh, dapat dinyatakan bahwa setiap
No Fungsi Uraian Aplikasi
bentuk data geografis harus mempunyai
1 Rata-rata Nilai rata-rata Kerapatan

atau dari tetangga kejahata informasi yang terdiri dari 4 komponen yaitu:
kerapatan n,tingkat
- Posisi Geografis
2 Diversitas Nilai standar pendapat
an, Suatu bentuk data keruangan atau lebih
deviasi
3 Mayoritas/ Nilai yang paling kerapatan dikenal sebagai data spasial, posisi ini dapat
spesies
minoritas sering muncul disajikan dalam berbagai bentuk antara lain:
atau paling
Dominasi
dalam koordinat kartesian atau azimuth,
jarang
spesies dalam hubungan identifikasi ketetangga,
4 Maksimum/ Nilai maksimum
Minimum atau minimum dalam suatu hubungan lokasi linier, dalam
flora, dll
dari lingkungan suatu ruang tertentu, dalam kode nama
5 Lebih Nilai tempat tertentu, atau bereferensi ke obyek
besar/kecil perbandingan
tertentu
dengan
tetangga Suatu SIG memerlukan sistem koordinat
6 Total Hasil yang berlaku bersama untuk suatu set data,
(penjumlah penjumlahan terutama untuk data yang akan digunakan
an) pada beberapa
bersama. Untuk daerah studi yang sempit,
lokasi tetangga
sistem koordiant yang dipakai dapat bersifat
lokal saja atau dalam hal ini koordinatnya
bersifat relatif, tetapi untuk daerah yang
Data Geografis luas, maka harus dipakai suatu sistem
Obyek geografis mempunyai jumlah dimensi koordinat yang berlaku secara nasional atau
berbeda-beda, tergantung dari obyek yang internasional. Untuk daerah yang luas ini
bersangkutan. Cara penyajian obyek posisi standar atau posisi absolut seperti
geografik dalam bentuk peta, penyajiannya sistem koordinat UTM (Universal Transverse
berdimensi dua dalam bentuk utama titik, Mercator) biasanya menggunakan skala 1:
garis, area yang diikatkan dengan koordinat. 50.000 atau lebih besar . Pada posisi ini
Geografis tertentu biasanya berupa peta posisi geografis yang absolut sudah direkam
ditampilkan dalam media dua dimensi cetak dengan bantuan satelit yang mampu
seperti kertas atau transfaransi yang merekam posisi secara global seperti GPS
dilengkapi legenda (Global Positioning System). Begitupun
pada pemakaian peta dengan skala peta
16 Sistem Informasi Geografis
498

atau resolusi spasial dari peta. Secara menandai bahwa pada data terdapat
umum dapat dikatakan bahwa dari segi harkat atau ranking seperti pertama,
ketepatan lokasi maupun kedetailan, peta kedua yang bersifat berurutan.Dan
yang berskala lebih besar harus lebih teliti dalam pengoperasiannya dapat
dari skala yang lebih kecil melakukan perhitungan median,
persentil walaupun belum mampu
- Atribut Geografis
memungkinkan operasi matematis.
Berfungsi menjelaskan keberadaan
c. Data interval mengacu keobyek alam
berbagai obyek sebagai data spasial, cirinya
yang mempunyai selang (minimum dan
skala bersifat dimensi jamak, disebabkan
maksimum) tertentu dan adanya interval
suatu obyek memerlukan banyak identitas.
baku tertentu, dimana interval tidak
Data ini sering dikategorikan sebagai data
mempunyai makna yang mengikat.
non spasial, karena peranannya tidak
Contoh suhu 15ºC adalah lebih dingin
menunjukan posisinya akan tetapi lebih
dibanding suhu 30ºC dan seterusnya.
bersifat penjelasan mengenai obyek atau
d. Data Ratio mempunyai ciri sama dengan
bersifat identitas, maka dari data ini sering
interval tetapi mempunyai nilai awal
muncul ketidak tepatan yang tidak dapat
mutlak (nilai nol). Semua operasi
dihindarkan. Data atribut dinyatakan menjadi
matematik angka riil dapat dioperasikan
4 bentuk yaitu:
menggunakan data bentuk ini.
a. Nominal karakter dari data ini hanya
- Waktu
bersifat membedakan antara satu
Pengetahuan mengenai keadaan
dengan yang lainnya, tanpa adanya
sebenarnya pada waktu data diperoleh akan
urutan berdasarkan harkat, akan tetapi
memberikan peluang yang sangat besar
hanya bersifat membedakan atau
terhadap peningkatan kualitas pemanfaatan
keterangan identitas dengan kata-kat
data secara benar. Hal ini berkaitan dengan
seperti pinus, hutan, kebun dan
adanya kecenderungan data berubah
lainnya.Operai yang dapat dilakukan
dengan waktu yang disebut decay rate.
dalam data ini hanya yang bersifat
Dalam hal ini penggunaan data berisiko
frekuensi, agregat namun tidak dapat
bahwa data yang digunakan sebenarnya
megoperasikan matematik (menjumlah
sudah berubah, hal ini penting karena waktu
atau mengalikan)
merupakan faktor penentu dinamika alam
b. Bentuk data ordinal setingkat lebih
sendiri terutama bila faktor manusia sudah
spesifik dari yang pertama, karena
ikut terlibat. Oleh karena itu data yang
selain bersifat membedakan biasanya
16 Sistem Informasi Geografis
499

berkaitan dengan penggunaan lahan sangat Manajemen basis data


penting melibatkan faktor waktu tersebut.
Data waktu dapat dideskripsikan dalam Suatu Basisdata terdiri dari satu file atau

pengertian lebih yang distrukturkan sedemikian rupa

a. Ukuran lama, yang mengacu ke selang dalam bentuk sistem pengelolaan basisdata

waktu dari basis data yang ada (Database Management System/DBMS),

b. Resolusi, selang waktu dikumpulkan atau dan diakses melalui jalur tersebut.

agregasi waktu pengumpulan data, dan Keuntungan basis data dan sistem
c. Frekuensi dan kecepatan waktu pengelolaan basisdata dibandingkan
pengumpulan data . Dari pengertian yang basisdata dengan perpustakaan data secara
berbeda ini maka fungsi waktu dalam tradisional antara lain adalah:
SIG dapat juga dikaitkan dengan
- Data disimpan disuatu tempat
pendataan, analisis, penyajian dan
- Data dapat diverifikasi dan dimasuki
pembaharuan data, dan pengontrolan
dengan cepat
kualitas.
- Data terstrukturkan, terstandarisasikan
Tabel 49. Perbandingan bentuk data raster dan dan memungkinkan penggabungan data
vektor
dari sumber yang berbeda
No Analisis Raster Vektor
- Data tersedia bagi banyak pengguna
1 Pengumpulan Cepat Lambat
- Data dapat dipakai untuk berbagai
Data
2 Volume Data Besar Kecil aplikasi program berbeda, termasuk
3 Penampilan Sedang Baik program dimana tujuannya berbeda
Grafik dibandingkan dengan tujuan data
4 Struktur Data sederhana Kompleks pertama kali digunakan.
5 Akurasi Rendah Tinggi
Kerugian penyimpanan basisdata
Geometri
dibandingkan dengan sistem penyimpanan
6 Analisis Buruk Baik
Jaringan data dasar tradisional antara lain adalah:

7 Analisis Baik Sedang - Pengguan basisdata memerlukan


ruangan
keahlian
8 Generalisasi Sederhana Kompleks
- Produk yang diperlukan relatif mahal
9 Integrasi Mudah Sulit
- Pengguna harus beradaptasi dengan
dengan
aliran data
Inderaja
10 Tipe data Kontinyu Diskrit - Pengguna harus paham dengan
organisasi data yang berbeda
16 Sistem Informasi Geografis
500

- Data dapat mudah disalah gunakan Fungsi topografi dipakai untuk


(asumsi mudah diakses) memperhitungkan nilai-nilai tertentu.
- Data dapat mudah hilang sehingga perlu Kebanyakan fungsi-fungsi topografi
sistem pengamanan sendiri (dan relatif menggunakan tetangga-tetangga untuk
canggih) menandai terain lokal. Parameter terain
yang paling sering dipakai adalah lereng
File (berkas)
dan aspek, yang di hitung dengan
File ( berkas) terdiri dari berbagai catatan
menggunakan elevasi data dari berbagai
(record), dimana setiap record mempunyai
titik berdekatan.
ruang (field). Setiap record mempunyai data
yang berisi topik tunggal atau lebih, masing- 16.5.3 Screening Digitizing
masing field terdiri atas satu kelompok data
Screening Digitizing merupakan proses
yang disusun dari satu kata atau lebih, atau
digitasi yang dilakukan di atas layar monitor
terdiri dari kode yang diproses bersama. Key
dengan bantuan mouse. Screen digitizing itu
(kunci) yang digunakan untuk
sering disebut digitasi on screen dapat
menerjemahkan inforamsi membantu
digunakan alternatif input data digital tanpa
memanggil record dari file, Kunci
menggunakan alat digitizer. Tiga unsur
berasosiasi dengan satu ruang record atau
spasial (feature) yang dapat dibentuk
lebih.
melalui digitasi on screen diantaranya point,
Fungsi-fungsi Topografi line, dan poligon

Topografi merupakan gambaran variabilitas a. Digitasi Point (Titik)


permukaan bumi, biasanya berasosiasi
- Buka tampilan View 1 kemudian pilih
dengan ciri-ciri bentuk permukaan seperti
menu pulldown View I New Theme
variasi relief suatu daerah. Untuk
sehingga muncul /Option feature type
menggambarkan secara lebih sederhana
pilih Point lalu klik ikon Ok
dapat digunkan pengertian-pengertian
- Tentukan nama file dan lokasi
bentang lahan, seperti perbukitan, lembah,
penyimpanan file tersebut pada
dan dataran. Topografi suatu wilayah dapat
dialog yang muncul kemudian klik
digambarkan dalam SIG dengan data
Ok.
elevasi digital. Data ini terdiri dari sejumlah
- Pilih ikon Draw Point pada Tool
besar titik elevasi yang menyebar di seluruh
palette kemudian tentukan posisi
daerah yang digambarkan.
kursor mouse untuk menentukan
point yang akan ditempatkan. Klik
16 Sistem Informasi Geografis
501

button kiri mouse apabila posisinya konfirmasi untuk penyimpanan


sudah pasti. Lakukan hal yang sama (Save).
untuk membuat point-point yang
c. Digitasi Polygon (Area)
lainnya.
- Setelah point selesai dibuat. - Pada tampilan View 1 menu pulldown
Kemudian klik menu Theme I Stop View I New Theme sehingga muncul
Editing. Pilih yes pada option option feature type pilih Polygon lalu
konfirmasi untuk penyimpanan klik Ok.
(save). - Tentukan nama file dan lokasi
penyimpanan file, lalu klik Ok.
b. Digitasi Line (garis)
- Pilih kursor Draw Line pada Tools
- Pada tampilan View 1 menu pulldown
Palette untuk memulai digitasi. Klil
View I New Theme sehingga muncul
button kiri pada saat kursor mouse
option feature type pilih Line lalu klik
berada pada posisi dimana kita akan
Ok.
memulai pembuatan Polygon,
- Tentukan nama file dan lokasi kemudian klik juga button kiri setiap
penyimpanan file, lalu klik Ok. saat kursor mouse berada pada posisi
- Pilih kursor Draw Line pada Tools dimana kita mengiginkan untuk
Palette untuk memulai digitasi. Klik meletakan dan double klik untuk
button kiri pada saat kursor mouse mengakhiri pembuatan garis di posisi
berada pada posisi dimana kita akan verteks yang terakhir . lakukan hal
memulai pembuatan line, kemudian yang sama untuk membuat Polygon
klik juga button kiri setiap saat kursor yang lainnya.
mouse berada pada posisi dimana - Untuk membuat Polygon berikutnya
kita mengiginkan untuk meletakan yang berhimpitan atau berbatasan
dan double klik untuk mengakhiri dengan Polygon-polygon yang sudah
pembuatan garis di posisi verteks ada, gunakan ikon Draw line to
yang terakhir . Lakukan hal yang append polygon. Dengan ikon ini kita
sama untuk membuat line yang dapat mengawali pembuatan Polygon
lainnya. dari sebuah titik (posisi kursor mouse)
- Setelah line selesai dibuat, kemudian melalui segmen garis (boundary)
klik menu pulldown Theme I Stop polygon yang sudah ad, kemudian
Editing, Pilih yes pada option kita tinggal memindah-mindahkan
kursor ini (disertai dengan mengklik
16 Sistem Informasi Geografis
502

button kiri mouse) untuk kemudian salah satu unsur yang


menghasilkan verteks-verteks yang terpilih akan berubah menjadi warna
diperlukan. Pada posisi verteks yang kuning.
terakhir di segmen garis (boundary) - Isi record yang terpilih tersebut
polygon yang sudah ada, klik dua menggunakan select sampai semua
kali button kiri maouse untuk record terisi.
mengakhiri verteks yang terakhir. - Setelah selesai dibuat, kemudian klik
- Setelah poligon-poligon selesai menu pulldown Theme I Stop
dibuat, kemudian klik menu pulldown Editing, Pilih yes pada option
Theme I Stop Editing, Pilih yes pada konfirmasi untuk penyimpanan
option konfirmasi untuk penyimpanan (Save).
(Save).
e. Menigisi Field Area dan Perimeter
d. Menambah atribut pada unsur-unsur
Terdapat dua atribut penting yang khas
Spasial
dan hampir selalu muncul di dalam
- Klik ikon tabel pada button view, unsur-unsur spasial tipe poligon. Atribut
kemudian tabel dari feature akan tersebut adalah area (luas) dan
muncul perimeter (keliling), kedua atribut
- Klik menu pulldown Tabel I Start tersebut merupakan bagian yang sangat
Editing untuk memulai mengedit penting untuk proses analisis spasial.
tabel tersebut. Nilai kedua atribut tersebut tidak di entry
- Untuk menambah Field (kolom) baru oleh pengguna, melainkan secara
klik menu pulldown Field I Add Field otomatis dihitung oleh komputer melalui
- Isi name untuk membuat judul Field, perangkat lunak SIG. Proses pemasukan
kemudian tentukan field Type atau penambahan secara otomatis field
(number : angka, string : “area” dan :”perimeter” kedalam tabel
huruf/karakter), dan Field Width-nya atribut unsur spasial poligon dilakukan
(lebar kolom). dengan langkah-langkah berikut:
- Penulisan field di setiap record (baris)
- Buka tabel atribut dari unsur spasial
dapat mulai dilakukan. Untuk melihat
poligon yang bersangkutan dengan
hubungan setiap record dengan
menekan button Open Theme Tabel
unsur-unsur feature-nya dapat
- Klik menu pulldown Table I Start
dilakukan dengan mengklik salah satu
Editing.
record menggunakan ikon select,
16 Sistem Informasi Geografis
503

- Tambah field baru melalui menu bahwa informasi terbaik untuk lokasi yang
pulldown Edit I Add Field. Isi filed tanpa pengamatan adalah nilai dari lokasi
name dengan nama area, terdekat dari titik tersebut. Poligon thiessen
tipe”number”, width16, dan decimal umumnya dipakai untuk analisis data iklim,
place-nya 3.Kemudian tekan button seperti data curah hujan. Jika data
Ok pengamatan lokal tidak ada, maka data
- Klik menu pulldown Field I calculate stasiun terdekat akan dipakai.
sehingga muncul kotak dialog ‘Field Poligon Thiessen dibangun disekeliling
calculator’. Pada item edit box [Area] sekelompok titik sehingga batas-batas
= ketikan [shape]. Return Area, poligon berjarak sama ke titik-titik tetangga.
kemudian tekan button Ok. Maka Dengan kata lain, setiap lokasi dalam suatu
komputer akan menghitung sekaligus poligon adalah lebih dekat ke titik yang ada
mengisi nilai field Area. dalam poligon tersebut di banding ketitik lain
- Untuk membuat field Perimeter klik
Poligon Thiessen, dapat digunakan dalam
menu pulldown Edit I Add Field. Isi
hubungan mendapat nilai-nilai sekeliling titik
field nama dengan perimeter, tipe
dengan pengamatan suatu individu titik,
‘number’, width 16, dan decimal
metode ini mempunyai beberapa
place-nya 3. tekan button Ok.
kelemahan, yang akan diuraikan
- Klik menu pulldown Field I calculate
diantaranya:
sehingga muncul kotak dialog ‘Field
Calculator’. Pada item edit box 1. Pembagian suatu wilayah menjadi

[perimeter] = ketikan [Shape]. Return wilayah yang lebih kecil berdasarkan

length kemudian tekan button Ok. poligon thiessen sangat tergantung dari

Komputer akan menghitung sekaligus lokasi pengamatan. Hal ini dapat

mengisi nilai field perimeter menghasilkan bentuk poligon yang


tidak mempunyai hubungan dengan
16.5.4 Poligon Thiessen kejadian yang sebenarnya. Suatu
lokasi stasiun penangkar curah hujan
Poligon Thiessen atau Voroni atau Dirichlet
dapat memnghasilkan poligon sempit
mendefinisikan daerah-daerah yang
memanjang, suatu pola yang tidak
mempengaruhi sesamanya oleh sekelompok
umum pada sebaran curah hujan,
titik-titik. Data dari stasiun penakar curah
karena nilainya ditetapkan berdasarkan
hujan merupakan contoh khas keadaan ini.
dugaan dari data pengamatan.
Hal ini merupakan pendekatan
Akibatnya pendugaan kesalahan tidak
pengembangan data titik yang diasumsikan
16 Sistem Informasi Geografis
504

dapat dilakukan karena Pendekatan regresi polinominal dapat


pengamatannya hanya dari suatu titik dilakukan dengan cepat tetapi beberapa
tunggal. detail akan hilang. Kriging merupakan
2. Poligon Thiessen tidak menerapkan metode yang fleksibel dan banyak dipakai
asumsi bahwa titik yang berdekatan tetapi untuk data besar akan lambat
lebih mirip dari titik yang berjauhan, (Keckler, 1994). Pendekatan interpolasi ini
suatu asumsi yang biasa berlaku dalam untuk perangkat lunak pemetaan 3 dimensi
analisis geografi. Misalnya poligon seperti Surfer, sudah sangat maju dan
yang diperoleh cenderung membentuk mudah dilakukan
suatu poligon yang membulat dan tidak Secara umum kualitas interpolasi sangat
selaras dengan fenomena alam yang dipengaruhi oleh beberapa faktor
melibatkan asumsi adanya hambatan diantaranya:
punggung gunung dan lain-lain. x Keakuratan pengukuran
x Jumlah dan distribusi titik yang
Interpolasi
diketahui yang diperhitungkan dalam
Interpolasi adalah prosedur untuk menduga
fungsi matematik
nilai-nilai yang tidak diketahui dengan
Interpolasi model sederhana dengan
menggunakan nilai-nilai yang diketahui pada
mendeteksi nilai lokasi yang tidak diketahui
lokasi yang berdekatan. Titik-titik yang
dari tetangga yang terdekat
berdekatan (bertetangga) tersebut dapat
berjarak teratur atau tidak, biasanya di Pembuatan Kontur
gambarkan dalam bentuk lapisan data Garis-garis kontur dipakai untuk
raster. Sel yang ditandai garis tebal menggambarkan relief permukaan sebagai
mempunyai nilai tertentu. Suatu fungsi linier suatu gabungan garis yang menghubungkan
sederhana, yang diturunkan dengan titik-titik yang bernilai sama.
menganalisis titik yang diketahui, digunakan
untuk mendapatkan nilai-nilai yang hilang.

Program-program interpolasi untuk


menduga nilai yang acak diketahui relatif
banyak antara lain regresi polinominal, seri
fourier, fungsi spline, pergerakan rata-rata,
fungsi basis radial, dan kriging dan lain-lain.
Semua program ini mempunyai kelebihan
dan kekurangan masing-masing.
16 Sistem Informasi Geografis
505

Gambar 469. Garis interpolasi hasil program Surfer

Gambar 470. Garis kontur hasil interpolasi


16 Sistem Informasi Geografis
506

Dalam suatu peta topografi , contoh yang Penjelasan Arcview


aplikatif, garis-garis kontur berperan Dasar-dasar penggunaan perangkat lunak
menghubungkan titik-titik yang berelevasi dalam SIG, salah satunya ialah ArcView
sama. Garis kontur sering dipakai untuk yang merupakan perangkat lunak desktop
menggambarkan berbagai data spasial yang SIG dan pemetaan yang dikembangkan oleh
dapat dibuat sebagai suatu bidang ESRI ( Enviromental System Research
permukaan seperti: tingkat kejahatan, nilai Institute, Inc). Dengan ArcView kita dapat
perumahan, sifat bahan kimia, populasi memilki kemampuan-kemampuan untuk
binatang liar, data iklim dan lain-lain. melakukan visualisasi, meng-explore,
menjawab query (baik basis data spasial
Perangkat lunak yang sudah ada
maupun non spasial), menganalisis data
mempunyai kemampuan berbeda dalam
secara geogarafis, dan sebagainya.
menangani data yang bersifat ganda ini.
Sehingga sering hasil ini dievaluasi dengan Ha-hal umum dalam ArcView
membandingkannya dengan cara
- Project merupakan suatu unit organisasi
kartografer menggambarkan kontur (secara
tertinggi dalam ArcView. Projec didalam
manual), dimana hasil terbaik adalah produk
ArcView ini merupakan file kerja yang
yang paling dekat dengan hasil manual.
dapat digunakan untuk menyimpan,
Bagaimanapun juga untuk mengevalusi
mengelompokan dan
perangkat lunak yang membuat kontur maka
mengorganisasikan semua komponen-
harus dibuat standar dengan hasil tersebut
komponen program ; View, theme,
Table, chart, layout dan script dalam
satu kesatuan yang utuh
- Theme merupakan bangunan dasar
system ArcView , yang merupkan
kumpulan dari bebrapa layer ArcView
yang membentuk suatu “Tematik”
tertentu. Sumber data yang dapat
direpresentasikan sebagai theme adalah
shapefile, coverage (ArcInfo), dan Citra
Gambar 471. Interpolasi kontur cara taksiran
raster.
- View mengorganisasikan theme.
Salah satu Contoh penggunaan perangkat
Sebuah view merupakan representasi
lunak dalam SIG : ArcView, MAPinfo,
grafis informasi spasial dan dapat
ArcInfo, dan lainnya
16 Sistem Informasi Geografis
507

menampung beberapa “layer” atau - Layout digunakan untuk


“theme” informasi spasial (titik, garis, menggabungkan semua dokumen
poligon, dan citra raster) (View, table, dan chart) kedalam suatu
- Table merupakan representasi data dokumen yang siap cetak (biasanya
ArcView dalam bentuk sebuah table, dipersiapkan untuk pembuatan
sebuah table akan berisi informasi hardcopy)
deskriptif mengenai layer tertentu. - Sript merupakan bahasa (semi)
- Chart merupakan representasi grafis pemrograman sederhana (makro) yang
dari suatu resume table bentuk chart digunakan untuk mengotomatisasi kerja
yang didukung oleh ArcView adalah line, ArcView.
bar, colum, xy scatter, area dan pie.

Gambar 472. Mapinfo GIS


16 Sistem Informasi Geografis
508

Model DiagramModel
Alir IlmuDiagram
Ukur Tanah Pertemuan ke-16
Alir
Sistem Informasi Geografis (SIG) / Geographical Information System (GIS)
Sistem Informasi Geografis
Dosen Penanggung Jawab : Dr.Ir.Drs.H.Iskandar Muda Purwaamijaya, MT

ID (Identifier) di
Informasi
Posisi X, Y Centroid / di
lain (z, ...)
dalam poligon

Computer Aided Design


(CAD) Data Base Digital

Sistem Informasi Geografis :


Suatu sistem berbasis komputer yang mampu mengaitkan
data base grafis (peta) dengan data base atributnya yang
sesuai melalui ID (Identifier) yang unik

Data Data Base Management System Data


Grafik (DBMS) Atribut

Struktur
Struktur Struktur
Data
Data Raster Data Vektor
Network

Struktur
Data Hirarki
* Kompleksitas Data
- Raster : Simpel
- Vektor : Rumit Struktur Data
* Data Capture Relasional
- Raster : Cepat (Modus)
- Vektor : Lambat
* Akurasi
- Raster : Kurang
- Vektor : Baik Implementasi Sistem Umpan Balik Revisi
* Resolusi (7) (8) (9)
- Raster : Terbatas
- Vektor : Detail
* Memori
- Raster : Besar Pemrograman Pembuatan Mode Fungsional
- Vektor : Kecil (6) (5)

Kategorisasi Data:
- Jenis Data Pembuatan Model Konseptual
- Tingkat Ketelitian (4)
(3)

Pengumpulan Data Grafis & Atribut Identifikasi Kebutuhan Para Pengguna


(2) (1)

Gambar 473. Model diagram alir sistem informasi geografi


16 Sistem Informasi Geografis
509

Rangkuman

Berdasarkan uraian materi bab 16 mengenai sistem informasi geografis, maka dapat
disimpulkan sebagai berikut:

1. SIG atau GIS merupakan suatu sistem berbasis komputer yang mampu mengaitkan
data base grafis (dalam hal ini adalah peta) dengan data base atributnya yang sesuai.
Sistem Informasi Geogafis merupakan suatu kemajuan baru dari kelanjutan pengguna
Komputer grafik Auto CAD (Computer Aided Design). Sistem Informasi Geogafis
merupakan kombinasi antara CAD dengan data base yang dikaitkan dengan suatu
pengenal unik yang sering dinamakan identifier (ID) tertentu.

2. Keuntungan menggunakan SIG


a. Penanganan data geospatial menjadi lebih baik dalam format baku
b. Revisi dan pemutakhiran data menjadi lebih mudah
c. Data geospatial dan informasi lebih mudah dicari, dianalisis dan direpresentasikan
d. Menjadi produk bernilai tambah
e. Data geospatial dapat dipertukarkan
f. Produktivitas staf meningkat dan lebih efisien
g. Penghematan waktu dan biaya
h. Keputusan yang akan diambil menjadi lebih baik

3. Kelebihan dan kekurangan pekerjaan GIS dengan manual/pemetaan Digital

Peta GIS Pekerjaan Manual


Penyimpanan Database Digital dan terpadu Skala dan standar berbeda
Pemanggilan Kembali Pencarian dengan Komputer Cek manual
Pemutahiran Sistematis Mahal dan memakan waktu
Analisa Overlay Sangat cepat Memakan waktu dan
tenaga
Analisa Spasial Mudah Rumit
Penayangan Murah dan cepat mahal

5. Sistem komputer untuk SIG terdiri dari perangkat keras (hardware), perangkat lunak
(software) dan prosedur untuk penyusunan pemasukkan data, pengolahan, analisis,
pemodelan (modelling), dan penayangan data geospatial.
16 Sistem Informasi Geografis
510

Soal Latihan

Jawablah pertanyaan – pertanyaan di bawah ini dengan tepat!

1. Apa yang di maksud dengan SIG?


2. Coba jelaskan pengertian Geoprosessing?
3. Sebutkan cara pemasukan data spasial?
4. Ada beberapa tahapan dalam pendigitasian peta, coba sebutkan?
5. Dalam SIG ada beberapa fungsi analisis, jelaskan?
Lampiran : A

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. (1983). Ukur Tanah 2. Jurusan Hasanudin, M. dan kawan-kawan. 2004.


Teknik Sipil PEDC. Bandung Survai dengan GPS. Pradnya Paramita.
Jakarta.
Barus, B dan U.S. Wiradisastra. 2000.
Sistem Informasi dan Geografis. Hendriatiningsih, S. 1990. Engineering
Bogor. Survey. Teknik geodesi FPTS ITB.
Bandung.
Budiono, M. dan kawan-kawan. 1999. Ilmu
Ukur Tanah. Angkasa. Bandung. Hayati, S. 2003. Aplikasi Geographical
Information System untuk Zonasi
Darmaji, A. 2006. Aplikasi Pemetaan Digital Kesesuaian Lahan Perumahan di
dan Rekayasa Teknik Sipil dengan Kabupaten Bandung. Lembaga
Autocad Development. ITB. Bandung. Penelitian UPI. Bandung.

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Jurusan Pendidikan Teknik Bangunan.


1999. Kurikulum Sekolah Menengah 2005. Struktur Kurikulum Program Studi
Kejuruan. Depdikbud. Jakarta. Pendidikan Teknik Sipil FPTK UPI.
Jurusan Diktekbang FPTK UPI.
Departemen Pendidikan Nasional RI. 2003. Bandung.
Standar Kompetensi Nasional Bidang
SURVEYING. Bagian Proyek Sistem Kusminingrum, N. dan G. Gunawan. 2003.
Pengembangan. Jakarta. Evaluasi dan Strategi Pengendalian
Pencemaran Udara di Kota-Kota Besar
Gayo, Yusuf., dan kawan-kawan. 2005. di Indonesia. Jurnal Litbang Jalan
Pengukuran Topografi dan Teknik Volume 20 No.1 Departemen Pekerjaan
Pemetaan. PT. Pradjna Paramita. Umum. Bandung.
Jakarta.
Lanalyawati. 2004. Pengkajian Pengelolaan
Gumilar, I. 2003. Penggunaan Computer Lingkungan Jalan di Kawasan Hutan
Aided Design (CAD) pada Biro Arsitek. Lindung (Bedugul Bali). Jurnal Litbang
Jurusan Pendidikan Teknik Bangunan Jalan Volume 21 No.2 Juli. Departemen
FPTK UPI. Bandung. Pekerjaan Umum. Bandung.

Gunarta, I.G.W.S. dan A.B. Sailendra. 2003. Marina, R. 2002. Aplikasi Geographical
Penanganan Masalah Jalan Tembus Information System untuk Evaluasi
Hutan secara Terintegrasi : Kajian Kemampuan Lahan di Kabupaten
terhadap Kebutuhan Kelembagaan Sumedang.
Stakeholders. Jurnal Litbang Jalan
Volume 20 No.3 Oktober. Departemen Masri, RM. 2007. Kajian Perubahan
Pekerjaan Umum. Bandung. Lingkungan Zona Buruk untuk
Perumahan. SPS IPB. Bogor.
Gunarso, P. dan kawan-kawan. 2004. Modul
Pelatihan SIG. Pemkab Malinau Mira, S. 1988. Poligon. Teknik Geodesi
FTSP ITB. Bandung.

A-1
Lampiran : A

Mira, S. R.M. 1988. Ukuran Tinggi Teliti. Bandung Jawa Barat). Sekolah
Teknik Geodesi FTSP ITB. Bandung. Pascasarjana Institut Pertanian Bogor.
Purworaharjo,U. 1986. Ilmu Ukur Tanah Seri
Melani, D. 2004. Aplikasi Geographical A Pengukuran Tinggi. Teknik Geodesi
Information System untuk Zonasi Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan
Kesesuaian Lahan Perumahan di Institut Teknologi Bandung.
Kabupaten Sumedang. Jurusan
Pendidikan Teknik Bangunan FPTK Purworaharjo,U. 1986. Ilmu Ukur Tanah Seri
UPI. Bandung. B Pengukuran Horisontal. Teknik
Geodesi Fakultas Teknik Sipil dan
Mulyani, S.Y.R dan Lanalyawati. 2004. Perencanaan Institut Teknologi
Kajian Kebijakan dalam Pengelolaan Bandung.
Lingkungan Jalan di Kawasan Sensitif.
Jurnal Litbang Jalan Volume 21 No.1 Purworaharjo,U. 1986. Ilmu Ukur Tanah Seri
Maret. Departemen Pekerjaan Umum. C Pemetaan Topografi. Teknik Geodesi
Bandung. Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan
Institut Teknologi Bandung.
Parhasta, E. 2002. Tutorial Arcview SIG
Informatika. Bandung. Purworaharjo,U. 1982. Hitung proyeksi
Geodesi (Proyeksi Peta). Teknik
Purwaamijaya, I.M. 2006. Ilmu Ukur Tanah Geodesi Fakultas Teknik Sipil dan
untuk Teknik Sipil. FPTK UPI. Bandung. Perencanaan Institut Teknologi
Bandung.
Purwaamijaya, I.M. 2005a. Analisis
Kemampuan Lahan di Kecamatan- Staf Ukur Tanah. 1982. Petunjuk
Kecamatan yang Dilalui Jalan Penggunaan Planimeter. Pusat
Soekarno-Hatta di Kota Bandung Jawa Pengembangan Penataran Guru
Barat. Jurnal Permukiman ISSN : 0215- Teknologi. Bandung.
0778 Volume 21 No.3 Desember 2005.
Departemen Pekerjaan Umum. Badan Supratman, A.. 2002. Geometrik Jalan
Penelitian dan Pengembangan. Raya. FPTK IKIP. Bandung.
Bandung.
Supratman, A.,dan I.M Purwaamijaya. 1992.
Purwaamijaya, I.M. 2005b. Analisis Pengukuran Horizontal. Bandung.:
Kemampuan Lahan sebagai Acuan FPTK IKIP.
Penyimpangan Gejala Konversi Lahan
Sawah Beririgasi Menjadi Lahan Supratman, A.,dan I.M Purwaamijaya.
Perumahan di Koridor Jalan Soekarno- (1992). Modul Ilmu Ukur Tanah. FPTK
Hatta Kota Bandung. Jurnal Informasi IKIP. Bandung.
Teknik ISSN : 0215-1928 No.28 – 2005.
Departemen Pekerjaan Umum. Badan Susanto dan kawan-kawan. (1994). Modul :
Penelitian dan Pengembangan. Pemindahan Tanah Mekanis. FPTK
Penelitian dan Pengembangan IKIP. Bandung.
Sumberdaya Air. Balai Irigasi. Bekasi.
Wongsotjitro. 1980. Ilmu Ukur Tanah.
Purwaamijaya, I.M. 2005c. Pola Perubahan Kanisius .Yogyakarta.
Lingkungan yang Disebabkan oleh
Prasarana dan Sarana Jalan (Studi Yulianto, W. 2004. Aplikasi AUTOCAD 2002
Kasus : Jalan Soekarno-Hatta di Kota untuk Pemetaan dan SIG. Gramedia.
Jakarta.

A-2
Lampiran : B

GLOSARIUM

Absis : Posisi titik yang diproyeksikan terhadap sumbu X yang arahnya


horizontal pada bidang datar.
Analog : Sistem penyajian peta secara manual.
Astronomis : Ilmu yang mempelajari posisi relatif benda-benda langit terhadap
benda-benda langit lainnya.
Automatic level : Sipat datar optis yang mirip dengan tipe kekar tetapi dilengkapi
dengan alat kompensator untuk membuat garis bidik mendatar
dengan sendirinya.
Azimuth : Sudut yang dibentuk dari garis arah utara terhadap garis arah
suatu titik yang besarnya diukur searah jarum jam.
Barometri : Alat atau metode untuk mengukur tekanan udara yang
diaplikasikan untuk menghitung beda tinggi antara beberapa
titik di atas permukaan bumi yang berkategori gunung (slope >
40 %).
Benchmark : Titik ikat di lapangan yang ditandai oleh patok yang dibuat dari
beton dan besi dan telah diketahui koordinatnya hasil
pengukuran sebelumnya.
Bowditch : Metode koreksi absis dan ordinat pada pengukuran polygon yang
bobotnya adalah perbandingan antara jarak resultante terhadap
total jarak resultante.
BPN : Badan Pertanahan Nasional (Kantor Agraria / Pertanahan).
CAD : Computer Aided Design. Penyajian gambar secara digital
menggunakan perangkat keras dan perangkat lunak komputer.
Cassini : Metode pengikatan ke belakang (alat berdiri di atas titik yang
ingin diketahui koordinatnya) yang menggunakan bantuan 2 titik
penolong dan dua buah lingkaran.
Collins : Metode pengikatan ke belakang (alat berdiri di atas titik yang
ingin diketahui koordinatnya) yang menggunakan bantuan 1 titik
penolong dan satu buah lingkaran.
Coordinate Set : Pengaturan koordinat peta analog agar sesuai dengan koordinat
pada sistem koordinat peta digital yang titik-titik ikat acuannya
adalah titik-titik di peta analog yang memiliki nilai-nilai
koordinat.
Cosinus : Besar sudut yang dihitung dari perbandingan sisi datar
terhadap sisi miring.
Cross hair : Benang silang diafragma yang tampak pada lensa objektif
teropong sebagai acuan untuk membaca ketinggian garis bidik
pada rambu ukur.
Cross Section : Profil melintang. Penampang pada arah lebar yang
menggambarkan turun naiknya permukaan suatu bentuk objek.
Datum : Titik perpotongan antara ellipsoid referensi dengan geoid (datum
relatif). Pusat ellipsoid referensi berimpit dengan pusat bumi
(datum absolut).
Digital : Sistem penyajian informasi (grafis atau teks) secara biner
elektronis.

B-1
Lampiran : B

Digitizer : Alat yang digunakan untuk mengubah peta-peta analog menjadi


peta-peta digital dengan menelusuri detail-detail peta satu
persatu.
Distorsi : Perubahan bentuk atau perubahan informasi geometrik yang
disajikan pada bidang lengkung (bola/ellipsoidal) terhadap
bentuk atau informasi geometrik yang disajikan pada bidang
datar.
DGN : Datum Geodesi Nasional, datum sistem koordinat nasional.
Dumpy level : Sipat datar optis tipe kekar, sumbu tegak menjadi satu dengan
teropong.
Ellipsoid : Bentuk 3 dimensi dari ellips yang diputar pada sumbu pendeknya
dan merupakan bentuk matematis bumi. Spheroid persamaan
kata ellipsoid.
Equator : Garis khatulistiwa yaitu garis yang membagi bumi bagian utara
dan bumi bagian selatan sama besar.
Flattening : Kegepengan. Nilai yang diperoleh dari pembagian selisih radius
terpendek dengan radius terpanjang ellipsoida terhadap radius
terpendek.
Fokus : Ketajaman penampakan objek pada teropong dan dapat diatur
dengan tombol fokus.
Fotogrametri : Ilmu pengetahuan dan teknologi yang mempelajari mengenai
geometris foto-foto udara yang diperoleh dari pemotretan
menggunakan pesawat terbang.
Geodesi : Ilmu pengetahuan dan teknologi yang mempelajari dan
menyajikan informasi bentuk permukaan bumi dengan
memperhatikan kelengkungan bumi.
Geodesic : Kurva terpendek yang menghubungkan dua titik pada permukaan
ellipsoida.
Geoid : Bentuk tidak beraturan yang mewakili permukaan air laut di
bumi dan memiliki energi potensial yang sama.
Geometri : Ilmu yang mempelajari bentuk matematis di atas permukaan
bumi.
Gradien : Besarnya nilai perbandingan sisi muka terhadap sisi samping
yang membentuk sudut tegak lurus (90o)
Grafis : Penyajian hasil pengukuran dengan gambar.
Greenwich : Kota di Inggris yang dilewati oleh garis meridian
(longitude/bujur) 0o.
Grid : Bentuk empat persegi panjang yang merupakan referensi posisi
absis dan ordinat yang diletakkan di muka peta yang panjang dan
lebarnya bergantung pada unit posisi X dan Y yang ditetapkan oleh
pembuat peta berdasarkan kaidah kartografi (pemetaan).
Hexagesimal : Sistem besaran sudut yang menyajikan sudut dengan sebutan
derajat, menit, second. Satu putaran = 360o. 1o=60’. 1’=60”.
Higragirum : Hg, air raksa yang dipakai sebagai cairan penunjuk nilai tekanan
udara pada alat barometer.
Horisontal : Garis atau bidang yang tegak lurus terhadap garis atau bidang
yang menjauhi pusat bumi.
Indeks : Garis kontur yang penyajiannya lebih tebal atau lebih ditonjolkan
dibandingkan garis-garis kontur lain setiap selang ketinggian
tertentu.

B-2
Lampiran : B

Interpolasi : Metode perhitungan ketinggian suatu titik di antara dua titik


yang dihubungkan oleh garis lurus.
Intersection : Nama lain dari pengikatan ke muka, yaitu pengukuran titik
tunggal dari dua buah titik yang telah diketahui koordinatnya
dengan menempatkan alat theodolite di atas titik-titik yang telah
diketahui koordinatnya.
Galat : Selisih antara nilai pengamatan dengan nilai sesungguhnya.
GIS : Geographical Information System. Suatu sistem informasi yang
mampu mengaitkan database grafis dengan data base tekstualnya
yang sesuai.
GPS : Global Positioning System. Sistem penentuan posisi global
menggunakan satelit buatan Angkatan Laut Amerika Serikat.
Gravitasi : Gaya tarik bumi yang mengarah ke pusat bumi dengan nilai +
9,8 m2/detik.
GRS-1980 : GeodeticReference System tahun 1984, adalah ellipsoid terbaik
yang memiliki penyimpangan terkecil terhadap geoid (lihat
istilah geoid).
Hardcopy : Dokumentasi peta-peta digital dalam bentuk lembaran-lembaran
peta yang dicetak dengan printer atau plotter.
Hardware : Perangkat keras computer yang terdiri CPU (Central Processing
Unit), keyboard (papan ketik), printer, mouse.
Informasi : Sesuatu yang memiliki makna atau manfaat.
Inklinasi : Sudut vertical yang dibentuk dari garis bidik (dinamakan juga
sudut miring).
Interpolasi : Suatu rumusan untuk mencari ketinggian suatu titik yang diapit
oleh dua titik lain dengan konsep segitiga sebangun.
Jalon : Batang besi seperti lembing berwarna merah dan putih dengan
panjang + 1,5 meter sebagai target bidikan arah horizontal.
Jurusan : Sudut yang dihitung dari selisih absis dan ordinat dengan acuan
sudut nolnya arah sumbu Y positif searah jarum jam.
Kalibrasi : Suatu prosedur untuk mengeliminasi kesalahan sistematis pada
peralatan pengukuran dengan menyetel ulang komponen-
komponen dalam peralatan.
Kartesian : Sistem koordinar siku-siku.
Kompas : Alat yang digunakan untuk menunjukkan arah suatu garis
terhadap utara magnet yang dipengaruhi magnet bumi.
Kontrol : Upaya mengendalikan data hasil pengukuran di lapangan agar
Memenuhi syarat geometrik tertentu sehingga kesalahan hasil
pengukuran di lapangan dapat memenuhi syarat yang ditetapkan
dan kesalahan-kesalahan acaknya telah dikoreksi.
Kontur : Garis khayal di permukaan bumi yang menghubungkan titik-titik
dengan ketinggian yang sama dari permukaan air laut rata-rata
(MSL). Garis di atas peta yang menghubungkan titik-titik dengan
ketinggian yang sama dari permukaan air laut rata-rata dan
kerapatannya bergantung pada ukuran lembar penyajian (skala
peta).
Konvergensi : Serangkaian garis searah yang menuju suatu titik pertemuan.
Konversi : Proses mengubah suatu besaran (sudut/jarak) dari suatu sistem
menjadi sistem yang lain.
Koordinat : Posisi titik yang dihitung dari posisi nol sumbu X dan posisi nol
sumbu Y.

B-3
Lampiran : B

Koreksi : Nilai yang dijumlahkan terhadap nilai pengamatan sehingga


diperoleh nilai yang dianggap benar. Nilai koreksi = - kesalahan.
Kuadran : Ruang-ruang yang membagi sudut satu putaran menjadi 4
ruang yang pusat pembagiannya adalah titik 0.
Kuadrilateral : Bentuk segiempat dan diagonalnya yang diukur sudut-sudut dan
jarak-jaraknya untuk menentukan koordinat titik di lapangan.
Latitude : Nama lain garis parallel. Garis-garis khayal yang tegak lurus
garis meridian dan melingkari bumi. Paralel nol berada di
equator atau garis khatulistiwa.
Leveling head : Bagian yang terdiri dari tribach dan trivet, disebut juga kiap.
Logaritma : Nilai yang diperoleh dari kebalikan fungsi pangkat.
Longitude : Nama lain garis meridian. Garis-garis khayal di permukaan bumi
yang menghubungkan kutub utara dan kutub selatan bumi.
Meridian nol berada di Kota Greenwich, Inggris.
Long Section : Profil memanjang. Penampang pada arah memanjang yang
menggambarkan turun naiknya permukaan suatu bentuk objek.
Loxodrome : Nama lain adalah Rhumbline. Garis (kurva) yang
menghubungkan titik-titik dengan azimuth yang tetap.
Mapinfo : Desktop Mapping Software. Perangkat lunak yang digunakan
untuk pembuatan peta digital berinformasi yang dibuat dengan
spesifikasi teknis perangkat keras untuk pemakai tunggal dan
dibuat oleh perusahaan Mapinfo Corporation yang berdomisili di
Kota New York Amerika Serikat.
MSL : Mean Sea Level (permukaan air laut rata-rata yang diamati
selama periode tertentu di pinggir pantai). Sebagai acuan titik nol
pengukuran tinggi di darat.
Mistar : Papan penggaris berukuran 3 meter yang dapat dilipat dua
sebagai target pembacaan diafragma teropong untuk mengukur
tinggi garis bidik (benang atas, benang tengah, benang bawah).
Meridian : Garis-garis khayal di permukaan bumi yang menghubungkan
kutub utara dan kutub selatan bumi. Meridian nol berada di Kota
Greenwich, Inggris.
Nivo : Gelembung udara dan cairan yang berada pada tempat berbentuk
bola atau silinder sebagai penunjuk bahwa teropong sipat datar
atau theodolite telah sejajar dengan bidang yang memiliki energi
potensial yang sama.
Normal : Proyeksi peta yang sumbu putar buminya berimpit dengan garis
normal bidang perantara (datar, kerucut, silinder).
Oblique : Proyeksi peta yang sumbu putar buminya membentuk sudut
tajam (< 90o) dengan garis normal bidang perantara (datar,
kerucut, silinder).
Offset : Metode pengukuran menggunakan alat-alat sederhana (prisma,
pita ukur, jalon).
Ordinat : Posisi titik yang diproyeksikan terhadap sumbu Y yang arahnya
vertical pada bidang datar.
Orientasi : Pengukuran untuk mengetahui posisi absolute dan posisi relative
Objek-objek di atas permukaan bumi.
Orthodrome : Proyeksi garis geodesic pada bidang proyeksi.
Overlay : Suatu fungsi pada analisis pemetaan digital dan GIS yang
Menumpangtindihkan tema-tema dengan jenis pengelompokkan
yang berbeda.

B-4
Lampiran : B

Pantograph : Alat yang digunakan untuk memperbesar atau memperkecil


objek gambar.
Paralel : Garis-garis khayal yang tegak lurus garis meridian dan
melingkari bumi. Paralel nol berada di equator atau garis
khatulistiwa.
Pegas : Gulungan kawat berbentuk spiral yang dapat memanjang dan
memendek karena gaya tekan atau tarik yang digunakan pada
alat sipat datar.
Pesawat : Istilah untuk alat ukur optis waterpass atau theodolite.
Phytagoras : Ilmuwan yang menemukan rumusan kuadrat garis terpanjang di
suatu segitiga dengan salah satu sudutnya 90o adalah sama
dengan perjumlahan kuadrat 2 sisi yang lain.
Planimeter : Alat untuk menghitung koordinat secara konvensional.
Planimetris : Bidang datar (2 dimensi) yang dinyatakan dalam sumbu X dan Y
Point Set : Pengaturan koordinat peta analog agar sesuai dengan koordinat
pada sistem koordinat peta digital yang titik-titik ikat acuannya
adalah titik-titik di peta analog yang identik dengan titik-titik di
peta digital yang telah ada.
Polar : Sistem koordinat kutub (sudut dan jarak).
Polyeder : Sistem proyeksi dengan bidang perantara kerucut, sumbu putar
bumi berimpit dengan garis normal kerucut, informasi geometric
yang dipertahankan sama adalah sudut (conform) dan tangent.
Polygon : Serangkaian garis-garis yang membentuk kurva terbuka atau
Tertutup untuk menentukan koordinat titik-titik di atas
permukaan bumi.
Profil : Potongan gambaran turun dan naiknya permukaan tanah baik
memanjang atau melintang.
Proyeksi peta : Proses memindahkan informasi geometrik dari bidang lengkung
(bola/ellipsoidal) ke bidang datar melalui bidang perantara
(bidang datar, kerucut, silinder).
Radian : Sistem besaran sudut yang menyajikan sudut satu putaran =
2 ʌ ҏradian. ʌ = 22/7 = 3,14……
RAM : Random Acces Memory. Bagian dalam komputer yang
digunakan sebagai tempat menyimpan dan memroses fungsi-
fungsi matematis untuk sementara waktu.
Raster : Penyajian peta atau gambar secara digital menggunakan unit-unit
terkecil berbentuk bujur sangkar. Ketelitian unit-unit terkecil
dinamakan dengan resolusi.
Remote Sensing : Penginderaan jauh. Pemetaan bentuk permukaan bumi
menggunakan satelit buatan dengan ketinggian tertentu yang
direkam secara digital dengan ukuran-ukuran kotak tertentu yang
dinamakan pixel.
Resiprocal : Salah satu metode pengukuran beda tinggi dengan menggunakan
2 alat sipat datar dan rambunya yang dipisahkan oleh halangan
alam berupa sungai atau lembah dan dilakukan bolak-balik untuk
meningkatkan ketelitian hasil pengukuran.
Reversible level : Sipat datar optis tipe reversi yang teropongnya dapat diputar
pada sumbu mekanis dan disangga oleh bagian tengah yang
mempunyai sumbu tegak.
Rotasi : Perubahan posisi suatu objek karena diputar pada suatu sumbu
putar tertentu.

B-5
Lampiran : B

Sarrus : Orang yang menemukan rumusan perhitungan luas dengan nilai-


nilai koordinat batas kurva.
Scanner : Alat yang mengubah gambar-gambar atau peta-peta analog
Menjadi gambar-gambar/peta-peta digital dengan cara
mengkilas.
Sentisimal : Sistem besaran sudut yang menyajikan sudut dengan sebutan grid,
centigrid, centicentigrid. Satu putaran = 400g, 1g=100c, 1c=100cc.
Simetris : Bagian yang dibagi sama besar oleh suatu garis diagonal.
Sinus : Besar sudut yang dihitung dari perbandingan sisi muka terhadap
sisi miring.
Skala : Nilai perbandingan besaran jarak atau luas di atas kertas terhadap
jarak dan luas di lapangan.
Softcopy : Dokumentasi peta-peta digital dalam bentuk file-file digital.
Software : Perangkat lunak computer untuk berbagai macam kepentingan.
Stadia : Benang tipis berwarna hitam yang tampak di dalam teropong
alat.
Statif : Kaki tiga untuk menyangga alat waterpass atau theodolite optis.
Tachymetri : Metode pengukuran titik-titik detail menggunakan alat theodolite
yang diikatkan pada pengukuran kerangka dasar vertikal dan
horisontal.
Tangen : Besar sudut yang dihitung dari perbandingan sisi muka terhadap
sisi miring.
Tilting level : Sipat datar optis tipe jungkit yang sumbu tegak dan teropong
Dihubungkan dengan engsel dan sekrup pengungkit.
TM-3 : Sistem proyeksi Universal Transverse Mercator dengan faktor
o
Skala di meridian sentral adalah 0,9999 dan lebar zone = 3 .
Topografi : Peta yang menyajikan informasi di atas permukaan bumi baik
unsur alam maupun unsur buatan manusia dengan skala sedang
dan kecil.
Total Station : Alat ukur theodolite yang dilengkapi dengan perangkat elekronis
untuk menentukan koordinat dan ketinggian titik detail secara
otomatis digital menggunakan gelombang elektromagnetis.
Trace : Serangkaian garis yang merupakan garis tengah suatu bangunan
(jalan, saluran, jalur lintasan).
Transit : Metode koreksi absis dan ordinat pada pengukuran polygon yang
bobotnya adalah perbandingan antara jarak proyeksi pada sumbu
X atau Y terhadap total jarak proyeksi pada sumbu X atau Y.
Transversal : Proyeksi peta yang sumbu putar buminya tegak lurus
(membentuk sudut 90o) dengan garis normal bidang perantara
(datar, kerucut, silinder).
Triangulasi : Serangkaian segitiga yang diukur sudut-sudutnya untuk
Menentukan koordinat titik-titik di lapangan.
Triangulaterasi : Serangkaian segitiga yang diukur sudut-sudut dan jarak-jaraknya di
lapangan untuk menentukan koordinat titik-titik di lapangan.
Tribach : Penyangga sumbu kesatu dan teropong.
Trigonometri : Bagian dari ilmu matematika yang diaplikasikan untuk
Menghitung beda tinggi antara beberapa titik di atas permukaan
bumi yang berkategori bermedan bukit (8%< slope < 40 %).
Trilaterasi : Serangkaian segitiga yang diukur jarak-jaraknya untuk
Menentukan koordinat titik-titik di lapangan.

B-6
Lampiran : B

Trivet : Bagian terbawah dari alat sipat datar dan theodolite yang dapat
dikuncikan pada
statif.
Unting-unting : Bentuk silinder-kerucut terbuat dari kuningan yang digantung di
bawah alat waterpass atau theodolite sebagai penunjuk arah titik
nadir atau pusat bumi yang mewakili titik patok.
UTM : Universal Transverse Mercator. Sistem proyeksi peta global yang
memiliki lebar zona 6o sehingga jumlah zona UTM seluruh dunia
adalah 60 zona. Bidang perantara yang digunakan adalah silinder
dengan posisi transversal (sumbu putar bumi tegak lurus
terhadap garis normal silinder), informasi geometrik yang
dipertahankan sama adalah sudut (konform) dan secant.
Vektor : Penyajian peta atau gambar secara digital menggunakan garis,
titik dan kurva. Ketelitian unit-unit terkecil dinamakan dengan
resolusi.
Vertikal : Garis atau bidang yang menjauhi pusat bumi.
Visual : Penglihatan kasat mata.
Waterpass : Alat atau metode yang digunakan untuk mengukur tinggi
garis bidik di atas permukaan bumi yang berkategori bermedan
datar (slope < 8 %).
WGS-84 : World Geodetic System tahun 1984, adalah ellipsoid terbaik yang
Memiliki penyimpangan terkecil terhadap geoid (lihat istilah
geoid).
Zenith : Titik atau garis yang menjauhi pusat bumi dari permukaan bumi.
Zone : Kurva yang dibatasi oleh batas-batas dengan kriteria tertentu.

B-7
Lampiran : C

DAFTAR TABEL

No Teks Hal No Teks Hal

1 Ketelitian posisi horizontal (x,y) 30 Formulir pengukuran titik detail 366


titik triangulasi 14 31 Formulir pengukuran titik detail
2 Tingkat Ketelitian Pengukuran posisi 1 367
Sipat Datar 60 32 Formulir pengukuran titik detail
3 Tingkat Ketelitian Pengukuran posisi 2 368
Sipat Datar 95 33 Formulir pengukuran titik detail
4 Ukuran kertas untuk posisi 3 369
penggambaran hasil 34 Formulir pengukuran titik detail
pengukuran dan pemetaan 107 posisi 4 370
5 Formulir pengukuran sipat 35 Formulir pengukuran titik detail
datar 114 posisi 5 371
6 Formulir pengukuran sipat 36 Formulir pengukuran titik detail
datar 115 posisi 6 372
7 Kelas proyeksi peta 122 37 Formulir pengukuran titik detail
8 Aturan kuadran trigonometris 139 posisi 7 373
9 Cara Sentisimal ke cara 38 Formulir pengukuran titik detail
seksagesimal 147 posisi 8 374
10 39 Bentuk muka tanah dan
Cara Sentisimal ke cara radian 148
interval kontur. 382
11 Cara seksagesimal ke cara
40 Tabel perhitungan galian dan
radian 149
timbunan 422
12 Cara radian ke cara sentisimal 150 41 Daftar load factor dan
13 Cara seksagesimal ke cara procentage swell dan berat dari
radian 151 berbagai bahan 424
14 Buku lapangan untuk 42 Daftar load factor dan
pengukuran sudut dengan procentage swell dan berat dari
repitisi. 183 berbagai bahan 425
15 Metode perhitungan perbedaan 43 Keunggulan dan kekurangan
sudut ganda dan perbedaan pemetaan digital dengan
observasi 183 konvensional 435
16 Arti dari perbedaan sudut 44 Contoh keterangan warna
ganda dan perbedaan gambar 458
observasi. 184 45 Keterangan koordinat 458
17 Buku lapangan sudut vertikal. 184 46 Kelebihan dan kekurangan
18 Daftar Logaritma 200 pekerjaan GIS dengan
19 Hitungan dengan cara manual/pemetaan Digital 470
logaritma 204 47 Pendigitasian Konvensional di
20 Hitungan cara logaritma 225 banding pendigitasian GPS 486
21 Ukuran Kertas Seri A 276 48 Beberapa fungsi tetangga
22 sederhana 497
Bacaan sudut 280 49 Perbandingan Bentuk Data
23 Jarak 280 Raster dan Vektor 499
24 Formulir pengukuran poligon 1 296
25 Formulir pengukuran poligon 2 297
26 Formulir pengukuran poligon 3 298
27 Contoh perhitungan garis bujur
ganda 312
28 format daftar planimeter tipe 1 319
29 format daftar planimeter tipe 2 319

C-1
Lampiran : D

DAFTAR GAMBAR No Teks Hal

37 Kesalahan Skala Nol Rambu 42


No Teks Hal 38 Bukan rambu standar 43
39 Sipat Datar di Suatu Slag 47
1 Anggapan bumi 2 40 Rambu miring 54
2 Ellipsoidal bumi 3 41 Kelengkungan bumi 55
3 Aplikasi pekerjaan 42 Kelengkungan bumi 55
pemetaan pada 43
bidang teknik sipil 6 Refraksi atmosfir 56
4 44 Model diagram alir teori
Staking out 6 kesalahan 57
5 Pengukuran sipat datar optis 7 45 Pengukuran sipat datar optis 61
6 Alat sipat datar 9 46 Keterangan pengukuran sipat
7 Pita ukur 9 datar 63
8 Rambu ukur 9 47 Cara tinggi garis bidik 63
9 Statif 9 48 Cara kedua pesawat di tengah-
10 tengah 65
Barometris 10 49
11 Keterangan cara ketiga 65
Pengukuran Trigonometris 10
50 Cotoh pengukuran resiprokal 67
12 Pengukuran poligon 12 51 Sipat datar tipe jungkit 67
13 Jaring-jaring segitiga 15
52 Contoh pengukuran resiprokal 68
14 Pengukuran pengikatan ke
muka 16 53 Dumpy level 72
15 Pengukuran collins 17 54 Tipe reversi 73
16 Pengukuran cassini 18 55 Dua macam tilting level 74
17 Macam – macam sextant 18 56 Bagian-bagian dari tilting level 75
18 Alat pembuat sudut siku cermin 19 57 Instrumen sipat datar otomatis 76
19 Prisma bauernfiend 19 58 Bagian-bagian dari sipat datar
20 otomatis 76
Jalon 19
59 Rambu ukur 78
21 Pita ukur 19 60 Contoh pengukuran
22 Pengukuran titik detail trigonometris 79
tachymetri 21
61 Gambar koreksi trigonometris 80
23 Diagram alir pengantar survei
dan pemetaan 22 62 Bagian-bagian barometer 81
24 Kesalahan pembacaan rambu 26 63 Barometer 82
25 Pengukuran sipat datar 27 64 Pengukuran tunggal 84
26 Prosedur Pemindahan Rambu 27 65 Pengukuran simultan 85
27 Kesalahan Kemiringan Rambu 28 66 Model diagram alir pengukuran
28 kerangka dasar vertikal 87
Pengaruh kelengkungan bumi 29
67 Proses pengukuran 91
29 Kesalahan kasar sipat datar 30
68 Arah pengukuran 91
30 Kesalahan Sumbu Vertikal 31 69 Alat sipat datar 92
31 Pengaruh kesalahan kompas
theodolite 36 70 Rambu ukur 92
32 Sket perjalanan 37 71 Cara menggunakan rambu
33 Gambar Kesalahan Hasil ukur di lapangan 93
Survei 37 72 Statif 93
34 Kesalahan karena penurunan 73 Unting-unting 93
alat 39 74 Patok kayu dan beton/ besi 94
35 Pembacaan pada rambu I 40 75 Pita ukur 94
36 Pembacaan pada rambu II 41 76 Payung 94

D-1
Lampiran : D

No Teks Hal No Teks Hal

77 Cat dan kuas 95 104 Peta statistik 134


78 Pengukuran sipat datar 98 105 Peta sungai 134
79 Pengukuran sipat datar rambu 106 Peta jaringan 135
ganda 99 107 Peta dunia 135
80 Pengukuran sipat datar di luar
108 Sistem koordinat geografis 138
slag rambu 100
81 Pengukuran sipat datar dua 109 Bumi sebagai spheroid. 138
rambu 101 110 Sudut jurusan 140
82 Pengukuran sipat datar 111 Aturan kuadran geometris 140
menurun 101 112
83 Aturan kuadran trigonometris 140
Pengukuran sipat datar menaik 102 113 Model diagram alir sistem
84 Pengukuran sipat datar tinggi koordinat proyeksi peta dan
bangunan 102 aturan kuadran 141
85 Pembagian kertas seri A 107 114 Pembacan derajat 155
86 Pengukuran kerangka dasar 115
vertikal 116 Pembacaan grade 155
87 Diagram alir pengukuran sipat 116 Pembacaan menit 155
datar kerangka dasar vertikal 117 117 Pembacaan centigrade 155
88 Jenis bidang proyeksi dan 118 Sudut jurusan 156
kedudukannya terhadap 119 Sudut miring 156
bidang datum 123
120 Cara pembacaan sudut
89 Geometri elipsoid. 124 mendatar dan sudut miring 156
90 Rhumbline atau loxodrome 121 Arah sudut zenith (sudut
menghubungkan titik-titik 124 miring). 157
91 Oorthodrome dan loxodrome 122 Theodolite T0 Wild 158
pada proyeksi gnomonis dan
123 Theodolite 159
proyeksi mercator. 124
92 Proyeksi kerucut: bidang datum 124 Metode untuk menentukan
dan bidang proyeksi. 125 arah titik A. 160
93 Proyeksi polyeder: bidang 125 Metode untuk menentukan
datum dan bidang proyeksi. 125 arah titik A dan titik B. 160
94 Lembar proyeksi peta polyeder 126 Theodolite (tipe sumbu ganda) 162
di bagian lintang utara dan 127 Theodolite (tipe sumbu
lintang selatan 126 tunggal) 162
95 Konvergensi meridian pada 128 Sistem lensa teleskop 162
proyeksi polyeder. 126 129 Penyimpangan kromatik 164
96 Kedudukan bidang proyeksi
130 Penyimpangan speris 164
silinder terhadap bola bumi
pada proyeksi UTM 128 131 Diafragma (benang silang) 164
97 Proyeksi dari bidang datum ke 132 Tipe benang silang 164
bidang proyeksi. 129 133 Pembidik Ramsden 165
98 Pembagian zone global pada 134
proyeksi UTM. 129 Teleskop pengfokus dalam 165
99 Konvergensi meridian pada 135 Niveau tabung batangan 166
proyeksi UTM 130 136 Niveau tabung bundar. 166
100 Sistem koordinat proyeksi peta 137 Hubungan antara gerakan
UTM. 131 gelembung dan inklinasi. 167
101 Grafik faktor skala proyeksi 138 Berbagai macam lingkaran
peta UTM 131 graduasi. 168
102 Peta kota Bandung 133 139 Vernir langsung. 168
103 Peta Geologi 133 140 Pembacaan vernir langsung 168
141 Pembacaan vernir mundur
20,7. 168

D-2
Lampiran : D

No Teks Hal No Teks Hal

142 Pembacaan berbagai macam 176 Pengikatan ke muka 202


vernir. 169 177 Pengikatan ke muka 203
143 Sistem optis theodolite untuk 178 Model Diagram Alir Jarak,
mikrometer skala. 169 Azimuth dan Pengikatan Ke
144 Pembacaan mikrometer skala 169 Muka 205
145 Sistem optis mikrometer tipe 179 Kondisi alam yang dapat
berhimpit. 170 dilakukan cara pengikatan
146 Contoh pembacaan mikrometer ke muka 208
tipe berhimpit. 170 180 Kondisi alam yang dapat
147 Sistem optis theodolite dengan dilakukan cara pengikatan ke
pembacaan tipe berhimpit 170 belakang 208
148 Alat penyipat datar speris. 171 181 Pengikatan ke muka 209
149 Alat penyipat datar dengan 182 Pengikatan ke belakang 209
sentral bulat. 171 183 Tampak atas permukaan bumi 210
150 Unting-unting 172 184 Pengukuran yang terpisah
151 Alat penegak optis 172 sungai 210
152 Kesalahan sumbu kolimasi. 172 185 Alat Theodolite 211
153 Kesalahan sumbu horizontal 174 186 Rambu ukur 212
154 Kesalahan sumbu vertikal. 174 187 Statif 212
155 Kesalahan eksentris. 175 188 Unting-unting 212
156 Kesalahan luar. 175 189 Contoh lokasi pengukuran 212
157 Penyetelan sekrup-sekrup 190 Penentuan titik A,B,C dan P 213
penyipat datar 176 191 Pemasangan Theodolite di titik
158 Penyetelan benang silang P 213
(Inklinasi). 177 192 Penentuan sudut mendatar 213
159 Penyetelan benang silang
193 Pemasangan statif 214
(Penyetelan garis longitudinal). 177
160 194 Pengaturan pembidikan
Penyetelan sumbu horizontal. 178
theodolite 214
161 Pengukuran sudut tunggal. 179 195 Penentuan titik penolong
162 Metode arah 182 Collins 215
163 Metode sudut. 183 196 Besar sudut Į dan ȕ 216
164 Koreksi otomatis untuk sudut 197 Garis bantu metode Collins 217
elevasi 183 198 Penentuan koordinat H dari titik
165 Metode pengukuran sudut A 217
vertikal (1). 185 199 Menentukan sudut Įah 217
166 Metode observasi sudut
200 Menentukan rumus dah 218
vertikal (2). 185
167 Metode observasi sudut 201 Penentuan koordinat H dari titik
vertikal (3). 185 B 218
168 Diagram alir macam sistem 202 Menentukan sudut D bh 218
besaran sudut 186 203 Menentukan rumus dbh 219
169 Pengukuran Jarak 189 204 Penentuan koordinat P dari titik
170 Lokasi Patok 190 A 219
171 205 Menentukan sudut Įap 219
Spedometer 191
172 206 Menentukan sudut Ȗ 219
Pembagian kuadran azimuth 193
173 207 Menentukan rumus dap 220
Azimuth Matahari 196
174 208 Penentuan koordinat P dari titik
Pengikatan Kemuka 198
B 220
175 Pengikatan ke muka 199

D-3
Lampiran : D

No Teks Hal No Teks Hal

209 Menentukan sudut Įbp 220 240 Penentuan titik P 248


210 Menentukan rumus dbp 220 241 Model diagram alir cara
211 Cara Pengikatan ke belakang pengikatan ke belakang
metode Collins 222 metode cassini 249
212 Menentukan besar sudut Į dan 242 Poligon terbuka 255
ȕ 228 243 Poligon tertutup 255
213 Menentukan koordinat titik 244 Poligon bercabang 255
penolong Collins 228
245 Poligon kombinasi 256
214 Menentukan titik P 228
246 Poligon terbuka tanpa ikatan 256
215 Menentukan koordinat titik A,B
dan C pada kertas grafik 229 247 Poligon Terbuka Salah Satu
216 Garis yang dibentuk sudut Į Ujung terikat Azimuth 257
dan ȕ 229 248 Poligon Terbuka Salah Satu
217 Pemasangan transparansi Ujung Terikat Koordinat 257
pada kertas grafik 229 249 Poligon Terbuka Salah Satu
218 Model diagram alir cara UjungTerikat Azimuth dan
pengikatan ke belakang Koordinat 258
metode collins 230 250 Poligon Terbuka Kedua Ujung
219 Terikat Azimuth 259
Pengukuran di daerah tebing 233
251 Poligon terbuka, salah satu
220 Pengukuran di daerah jurang 233 ujung terikat azimuth
221 Pengukuran terpisah jurang 234 sedangkan sudut lainnya
222 Pengikatan ke belakang terikat koordinat 259
metode Collins 235 252 Poligon Terbuka Kedua Ujung
223 Pengikatan ke belakang Terikat Koordinat 260
metode Cassini 235 253 Poligon Terbuka Salah Satu
224 Theodolite 236 Ujung Terikat Koordinat dan
225 Azimutk Sedangkan Yang Lain
Rambu ukur 236
Hanya Terikat Azimuth 261
226 Statif 236 254 Poligon Terbuka Salah Satu
227 Unting-unting 237 Ujung Terikat Azimuth dan
228 Pengukuran sudut Į dan ȕ di Koordinat Sedangkan Ujung
lapangan. 238 Lain Hanya Terikat Koordinat 262
229 Lingkaran yang 255 Poligon Terbuka Kedua Ujung
menghubungkan titik A, B, R Terikat Azimuth dan Koordinat 263
dan P. 238 256 Poligon Tertutup 263
230 Lingkaran yang 257 Topcon Total Station-233N 265
menghubungkan titik B, C, S
258 Statif 265
dan P. 239
231 Cara pengikatan ke belakang 259 Unting-Unting 266
metode Cassini 239 260 Patok Beton atau Besi 266
232 Menentukan dar 240 261 Rambu Ukur 267
233 Menentukan Įar 240 262 Payung 267
234 Menentukan das 241 263 Pita Ukur 267
235 Menentukan Įas 241 264 Formulir dan alat tulis 268
236 Penentuan koordinat titik A, B 265 Benang 268
dan C. 248
266 Nivo Kotak 269
237 Menentukan sudut 900 – Į dan
0
90 - ȕ 248 267 Nivo tabung 269
238 Penentuan titik R dan S 248 268 Nivo tabung 269
239 Penarikan garis dari titik R ke S 248 269 Jalon Di Atas Patok
271

D-4
Lampiran : D

No Teks Hal No Teks Hal

270 Penempatan Rambu Ukur 271 301 Pembagian luas yang sama
271 Penempatan Unting-Unting 272 dengan garis lurus sejajar
272 salah satu segitiga 327
Pembagian Kertas Seri A 276
302 Pembagian luas yang sama
273 Skala Grafis 277 dengan garis lurus melalui
274 Situasi titik-titik KDH poligon sudut puncak segitiga 328
tertutup metode transit 299 303 Pembagian dengan
275 Situasi titik-titik KDH poligon perbandingan a : b : c 328
tertutup metode bowdith 300 304 Pembagian dengan
276 Situasi lapangan metode transit 301 perbandingan m : n oleh suatu
277 Situasi lapangan metode garis lurus melalui salah satu
Bowditch 302 sudut segiempat 328
278 Model Diagram Alir kerangka 305 Pembagian dengan garis lurus
dasar horizontal metode sejajar dengan trapesium 328
poligon 303 306 Pembagian suatu poligon 329
279 Metode diagonal dan tegak 307 Penentuan garis batas 330
lurus 307
308 Perubahan segi empat menjadi
280 Metode trapesium 308 trapesium 330
281 Offset dengan interval tidak 309 Pengurangan jumlah sisi
tetap 309 polygon tanpa merubah luas 330
282 Offset sentral 309 310 Perubahan garis batas yang
283 Metoda simpson 309 berliku-liku menjadi garis lurus 331
284 Metoda 3/8 simpson 310 311 Perubahan garis batas
285 Garis bujur ganda pada poligon lengkung menjadi garis lurus 331
metode koordinat tegak lurus 311 312 Posisi start yang harus di klik 331
286 Metode koordinat tegak lurus 312 313 Start – all Program – autocad
287 2000 331
Metode kisi-kisi 313 314
288 Worksheet autocad 2000 332
Metode lajur 313 315
289 Open file 332
Planimeter fixed index model 314 316
290 Sliding bar mode dengan skrup Open file 332
penghalus 315 317 Gambar penampang yang
291 Sliding bar mode tanpa skrup akan dihitung Luasnya 332
penghalus 316 318 Klik poin untuk menghitung
292 Pembacaan noneus model 1 luas 333
dan 2 317 319 Klik poin untuik menghitung
293 luas 333
Bacaan roda pengukur 318 320
294 Diagram alir perhitungan luas 334
Penempatan planimeter 321 321
295 Prinsip tachymetri 339
Gambar kerja 321 322
296 Gambar pengukuran peta Sipat datar optis luas 341
dengan planimeter liding bar 323 Pengukuran sipat datar luas 350
model yang tidak dilengkapi 324 Tripod pengukuran vertikal 350
zero setting (pole weight/diluar 325 Theodolite Topcon 353
kutub) 322 326 Statif 353
297 Hasil bacaan positif 323 327 Unting-unting 353
298 Hasil bacaan negatif 324 328 Jalon di atas patok 354
299 Pengukuran luas peta pole
329 Pita ukur 354
weight (pemberat kutup) di
dalam peta 325 330 Rambu ukur 354
300 Pengukuran luas peta pole 331 Payung 354
weight dalam peta 332 Formulir Ukur 354
327

D-5
Lampiran : D

No Teks Hal No Teks Hal

333 Cat dan Kuas 355 359 Letak garis pantai dan garis
334 Benang 355 kontur 1m 389
335 360 Perubahan garis pantai dan
Segitiga O BT O’ 358
garis kontur sesudah kenaikan
336 Pengukuran titik detail
muka air laut. 389
tachymetri 359
361 Garis kontur lembah,
337 Theodolit T0 wild 361 punggungan dan perbukitan
338 Siteplan pengukuran titik detail yang memanjang. 390
tachymetri 362 362 Plateau 391
339 Kontur tempat pengukuran titik
363 Saddle 391
detail tachymetri 363
340 Pengukuran titik detail 364 Pass 391
tachymetri dengan garis kontur 365 Menggambar penampang 393
1 364 366 Kotak dialog persiapan Surfer 394
341 Pengukuran titik detail
367 Peta tiga dimensi 395
tachymetri dengan garis kontur
2 365 368 Peta kontur dalam bentuk dua
342 Diagram alir Pengukuran titik- dimensi. 395
titik detail metode tachymetri 375 369 Lembar worksheet. 396
343 Pembentukan garis kontur 370 Data XYZ dalam koordinat
dengan membuat proyeksi kartesian 396
tegak garis perpotongan 371 Data XYZ dalam koordinat
bidang mendatar dengan decimal degrees. 397
permukaan bumi. 378 372 Jendela editor menampilkan
344 Penggambaran kontur 379 hasil perhitungan volume. 397
345 Kerapatan garis kontur pada 373 Jendela GS scripter 398
daerah curam dan daerah 374 Simbolisasi pada peta kontur
landai 380 dalam surfer. 399
346 Garis kontur pada daerah 375 Peta kontur dengan kontur
sangat curam. 380 interval I. 399
347 Garis kontur pada curah dan 376 Peta kontur dengan interval 3 400
punggung bukit. 381 377 Gambar peta kontur dan model
348 Garis kontur pada bukit dan 3D. 401
cekungan 381 378 Overlay peta kontur dengan
349 Kemiringan tanah dan kontur model 3D 401
gradient 382 379 Base map foto udara. 402
350 Potongan memanjang dari 380 Alur garis besar pekerjaan
potongan garis kontur 383 pada surfer. 402
351 Bentuk, luas dan volume 381
daerah genangan berdasarkan Lembar plot surfer. 403
garis kontur. 383 382 Obyek melalui digitasi. 404
352 Rute dengan kelandaian 383 Model diagram alir garis kontur,
tertentu. 383 sifat dan interpolasinya 405
353 Titik ketinggian sama 384 Sipat datar melintang 410
berdasarkan garis kontur 384 385 Tongkat sounding 410
354 Garis kontur dan titik ketinggian 384 387 Potongan tipikal jalan 411
355 Pengukuran kontur pola spot 388 Contoh penampang galian dan
level dan pola grid. 385 timbunan 412
356 Pengukuran kontur pola radial. 385 389 Meteran gulung 413
357 Pengukuran kontur cara 390 Pesawat theodolit 413
langsung 386
391 Jalon 413
358 Interpolasi kontur cara taksiran 387

D-6
Lampiran : D

No Teks Hal No Teks Hal

392 Rambu ukur 413 421 Hasil Foto Udara yang


393 Stake out pada bidang datar 413 dilakukan di daerah Nangroe
394 Stake out pada bidang yang Aceh Darussalam yang
berbeda ketinggian 414 dilakukan pasca Tsunami,
395 Stake out beberapa titik untuk keperluan Infrastruktur
sekaligus 414 Rehabilitasi dan Konstruksi 445
396 Volume cara potongan 422 Contoh Hasil pemetaan Digital
melintang rata-rata 415 Menggunakan AutoCAD 453
397 423 Contoh : Hasil pemetaan
Volume cara jarak rata-rata 415
Digital Menggunakan AutoCAD 453
398 Volume cara prisma 416 424 Hasil pemetaan Digital
399 Volume cara piramida kotak 416 Menggunakan AutoCAD 454
400 Volume cara dasar sama bujur 425 Hasil pemetaan Digital
sangkar 416 Menggunakan AutoCAD 454
401 Volume cara dasar sama – 426 Tampilan auto cad 455
segitiga 416 427 Current pointing device 456
402 volume cara kontur 417 428 Grid untuk pengujian digitizer 457
403 Penampang melintang jalan
429 Grid untuk peta skala 1:25.000. 459
ragam 1 421
404 Penampang melintang jalan 430 Bingkai peta dan grid UTM per
ragam 2 421 1000 m 460
405 Penampang melintang jalan 431 Digitasi jalan arteri dan jalan
ragam 3 422 lokal, (a) peta asli, (b) hasil
406 digitasi jalan, kotak kecil adalah
Penampang trapesium 425
vertex (tampil saat objek
407 Penampang timbunan 426 terpilih). 461
408 Koordinat luas penampang 426 432 Perbesaran dan perkecilan 462
409 Volume trapesium 427 433 Model Digram Alir Pemetaan
410 Penampang galian 428 Digital 466
411 Penampang timbunan 429 434 Contoh : Penggunaan
412 Penampang galian dan Komputer dalam Pembuatan
timbunan 430 Peta 470
413 Penampang melintang galian 435 Contoh : Penggunaan
dan timbunan 431 Komputer dalam Pembuatan
414 Diagram alir perhitungan galian Peta 470
dan timbunan 432 436 Komputer sebagai fasilitas
415 pembuat peta 471
Perangkat keras 436 437
416 Foto udara suatu kawasan 471
Perangkat keras Scanner 436 438 Contoh : Peta udara Daerah
417 Peta lokasi 441 Propinsi Aceh 471
418 Beberapa hasil pemetaan 439 Data grafis mempunyai tiga
digital, yang dilakukan oleh elemen : titik (node), garis (arc)
Bakosurtanal 442 dan luasan (poligon) 472
419 Salah satu alat yang dipakai 440 Peta pemuktahiran pasca
dalam GPS type NJ 13 443 bencana tsunami 472
420 Hasil Foto Udara yang 441 Komponen utama SIG 474
dilakukan di daerah Nangroe 442
Aceh Darussalam yang Perangkat keras 474
dilakukan pasca Tsunami, 443 Perangkat keras keyboard 475
untuk keperluan Infrastruktur 444 Perangkat keras CPU 475
Rehabilitasi dan Konstruksi 444 445 Perangkat keras Scanner 475

D-7
Lampiran : D

No Teks Hal No Teks Hal

446 Perangkat keras monitor 475 466 Peta Vegetasi Indonesia 492
447 Perangkat keras mouse 475 (Tahun 2004)
448 Peta arahan pengembangan 467 Peta perubahan penutupan
komoditas pertanian kabupaten lahan pulau Kalimantan 492
Ketapang, Kalimantan Barat 478 468 Peta infrastruktur di daerah
449 Peta Citra radar Tanjung Nangreo Aceh Darussalam 494
Perak, Surabaya 478 469 Garis interpolasi hasil program
450 Peta hasil foto udara daerah Surfer 505
Nangroe Aceh Darussalam 470 Garis kontur hasil interpolasi 505
Pasca Tsunami 479 471 Interpolasi Kontur cara taksiran 506
451 NPS360 for robotic Total 472 Mapinfo GIS 507
Station 479
473 Model Diagram Alir Sistem
452 NK10 Set Holder dan Prisma
Informasi Geografis 508
Canister 479
453 NK12 Set Holder dan Prisma 479
454 NK19 Set 479
455 GPS type NL 10 480
456 GPS type NL 14 fixed adapter 480
457 GPS type NJ 10 with optical
plummet 480
458 GPS type NK 12 Croth single
prism Holder Offset : 0 mm 480
459 GPS type CPH 1 A Leica
Single Prism Holder Offset : 0
mm 480
460 Peta digitasi kota Bandung
tentang perkiraan daerah
rawan banjir 481
461 Peta hasil analisa SPM
(Suspended Particular Matter) 481
462 Peta prakiraan awal musim
kemarau tahun 2007 di daerah
Jawa 481
463 Peta kedalaman tanah efektif di
daerah jawa barat Bandung 490
464 Peta Curah hujan di daerah
Jawa Barat-Bandung 490
465 Peta Pemisahan Data vertikal
dipakai untuk penunjukan
kawasan hutan dan perairan
Indonesia 491

D-8