Anda di halaman 1dari 17

MAKALAH KIMIA INDUSTRI OLEOKIMIA

Disusun oleh: Ade Suherman G44090026 Iren Julita G44090040 Shinta Dewi Permata Sari G44090084 Lestari Ainun M. G44090087

DEPARTEMEN KIMIA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2011

PENDAHULUAN
Latar Belakang Krisis ekonomi telah menghantam sektor industri di Indonesia secara sangat signifikan. Akibat krisis tersebut beberapa cabang industri tumbuh negatif dan beberapa lainnya tumbuh stagnan. Namun ada pula yang tetap survive, terutama industri yang memiliki kandungan lokal tinggi. Era globalisasi dan pesatnya perkembangan teknologi informasi dan komunikasi berdampak terhadap makin ketatnya persaingan serta cepatnya perubahan lingkungan usaha. Keadaan ini mengharuskan Departemen Perindustrian untuk mengkaji ulang Kebijakan Industri Nasionalnya dan menghimpun masukan dari seluruh stakeholder, dalam rangka menata kembali pembangunan sektor industri ke depan. Dalam Kebijakan Pembangunan Industri Nasional, industri berbasis agro yang didalamnya termasuk industri pengolahan turunan minyak sawit. ditempatkan sebagai salah satu industri prioritas yang diharapkan mampu mengemban misi penyerapan tenaga kerja, peningkatan ekspor, memberikan kontribusi dalam pembentukan PDB (Produk Domestik Bruto), penguasaan teknologi, penguatan dan pendalaman struktur industri serta penyebaran pembangunan industri. Pengembangan industri berbasis kelapa sawit, terutama akan ditekankan pada produk-produk non-pangan seperti: surfaktan, biodiesel dan biolube, disamping produk-produk pang an, terutama minyak goreng dan margarin. Pengembangan industri oleokimia sangat erat kaitannya dengan pengembangan industri turunan minyak sawit, khususnya dari kelompok nonpangan ( Widodo 2005 ). Kelapa sawit adalah salah satu komoditas perkebunan yang sangat penting bagi Indonesia, karena Indonesia merupakan produsen terbesar minyak sawit kedua setelah Malaysia (Meffert 1984). Minyak sawit mempunyai potensi yang cukup besar untuk digunakan di industri-industri pangan, industri non pangan, industri farmasi, dan industri oleokimia. Oleokimia adalah bahan baku industri yang diperoleh dari minyak nabati, temasuk diantaranya adalah crude palm oil (CPO) dan crude palm kernel oil (CPKO). Produksi utama minyak yang digolongkan dalam oleokimia adalah asam lemak, lemak alkohol, gliserin, dan metil ester.

Saat ini, telah dilakukan pengembangan dan penggunaan minyak tumbuhan sebagai bahan bakar. Minyak tumbuhan tersebut dikonversikan menjadi bentuk metil ester asam lemak yang disebut biodiesel. Di Indonesia, penelitian dilakukan oleh Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS), Medan dan telah berhasil mengembangkan biodiesel dari CPO dan RBDPO (Fauzi 2006). Industri oleokimia di Indonesia merupakan industri yang memiliki backup bahan baku yang sangat melimpah karena Indonesia merupakan produsen bahan baku bagi industri ini yakni CPO terbesar di dunia. Meskipun memiliki industri bahan baku yang melimpah, namun perkembangan industri ini masih kalah dibandingkan dengan negara tetangga seperti Malaysia yang kapasitas produksinya mencapai dua kali lipat dari Indonesia. Sebagai gambaran, Indonesia menguasai sekitar 12 % permintaan oleokimia dunia yang mencapai enam juta metrik ton per tahun, sementara itu Malaysia mencapai 18,6%. Industri oleokimia merupakan industri yang strategis karena selain keunggulan komparatif yakni ketersediaan bahan baku yang melimpah juga memberikan nilai tambah produksi yang cukup tinggi yakni di atas 40 % dari nilai bahan bakunya yakni CPO dan PKO ( Mustofa 2003 ). Industri oleokimia adalah industri antara yang berbasis minyak kelapa sawit (CPO) dan minyak inti sawit (PKO). Dari kedua jenis produk ini dapat dihasilkan berbagai jenis produk antara sawit yang digunakan sebagai bahan baku bagi industri hilirnya baik untuk kategori pangan ataupun non pangan. Diantara kelompok industri antara sawit tersebut salah satunya adalah oleokimia dasar (fatty acid, fatty alcohol, fatty amines, methyl esther, glycerol). Produk-produk tersebut menjadi bahan baku bagi beberapa industri seperti farmasi, toiletries, dan kosmetik. Fatty alcohol sebagian besar digunakan untuk produksi deterjen sebesar 48% dan pembersih kemudian disusul oleh penggunaan sebagai bahan antioksidan sebesar 11%. Sedangkan gliserin banyak digunakan antara lain untuk sabun, kosmetik dan obat-obatan yang mencakup 37 % dari total konsumsi material ini. Kelompok produk lainnya yang cukup banyak menggunakan gliserin adalah Alkyd resin dan makanan masing-masing 13 dan 12% (Samardi 2009 ).

Tujuan Makalah ini bertujuan mengetahui hal-hal yang melatarbelakangi tentang industri oleokimia di Indonesia, proses pembuatan produk oleokimia yang meliputi: asam lemak, gliserol, dan metil ester beserta turunannya melalui bagan atau diagram alir, dan perkembangan industri oleokimia

PEMBAHASAN Oleokimia merupakan bahan kimia yang berasal dari minyak/lemak alami, baik tumbuhan maupun hewani. Pada saat ini, permintaan akan produk oleokimia semakin meningkat. Hal ini disebabkan produk oleokimia mempunyai beberapa keunggulan dibandingkan produk petrokimia, seperti harga, sumber yang dapat diperbaharui, dan produk yang ramah lingkungan. Pada saat ini industri oleokimia masih berbasis kepada minyak/trigliserida sebagai bahan bakunya. Hal ini terjadi karena secara umum para pengusaha masih ragu untuk terjun secara langsung ke industri oleokimia. Masih sangat jarang dijumpai sebuah industri yang mengolah bahan baku langsung menjadi bahan kimia tanpa melalui trigliserida. Padahal secara ekonomi dan teknik, banyak produk dari bahan alami yang bisa diolah langsung dari bahan nabati tanpa melalui trigliserida. Contohnya adalah pengolahan secara langsung buah kelapa sawit menjadi asam lemak. Selama ini asam lemak dari kelapa sawit selalu diolah dari minyak/trigliserida. Padahal dari segi teknik dan ekonomi akan lebih efisien untuk mengolah secara langsung buah sawit menjadi asam lemak melalui pengaktifan enzim lipase yang terkandung pada buah sawit. Hal ini juga bisa ditemukan pada bahan baku nabati lainnya (Samardi 2009). Oleokimia terdiri atas asam lemak, meliester lemak, alkohol lemak, amina lemak, dan gliserol. Produk-produk turunannya berupa sabun batangan, detergen, sampo, pelembut, kosmetik, bahan tambahan untuk industri plastik, karet, dan pelumas. Dalam perdagangan dikenal dua jenis oleokimia, yaitu oleokimia alami dan oleokimia buatan. Oleokimia alami diperoleh dari minyak nabati atau minyak

hewani sedangkan oleokimia buatan dapat diperoleh (petrokimia), seperti propilena (Anderson 1999).

dari minyak bumi

Gambar 1 Skema bahan baku oleokimia dan turunannya (Sulistyono 2008).

Tabel 1 Sifat Fisika dan Kimia dari Minyak Kelapa Sawit Sifat Fisika-Kimia Bobot Jenis Pada Suhu Kamar Indeks Bias D 40C Bilangan Iod Bilangan Penyabunan Lengas dan Kotoran Titik Leleh Nilai 0,9000 1,4565-1,4585 48-56 196-205 0,4-0,5 30,5-37,5

Tabel 2 Komposisi Asam Lemak Minyak Kelapa Sawit

A. Proses Pembuatan Asam Lemak dan Gliserol melalui Splitting

Hidrolisis CPO dengan H2O Hidrolisis CPO dengan H2O merupakan metode yang umum dipakai untuk menghasilkan asam lemak. Air memecah gugus alkil dalam trigliserida menjadi asam lemak dan gliserol pada proses hidrolisis minyak (fat splitting). Reaksi yang terjadi adalah sebagai berikut : CH2RCOO CHRCOO CH2RCOO trigliserida air + 3 H2O CH2OH CHOH CH2OH gliserol asam lemak + 3 RCOOH

Reaksi ini dilakukan pada suhu 240 oC 260 oC dan tekanan 45 50 bar. Pada proses ini derajat pemisahan mampu mencapai 99%. Hal yang membuat proses ini kurang efisien adalah karena proses ini memerlukan energi yang cukup besar dan komponen-komponen minor yang ada di dalamnya seperti -karoten mengalami kerusakan. Hidrolisis CPO secara Enzimatik Hidrolisis CPO secara enzimatik dilakukan dengan cara immobilized enzim lipase. Pada proses ini, kebutuhan energi yang diperlukan relatif kecil jika dibandingkan dengan proses hidrolisa CPO dengan H2O pada suhu dan tekanan tinggi. Pada proses ini, pemakaian enzim lipase dilakukan dengan cara berulangulang (reuse), karena harga enzim lipase yang sangat mahal. Reaksi yang terjadi pada proses hidrolisa secara enzimatik adalah sebagai berikut : CH2RCOO CHRCOO CH2RCOO trigliserida air + 3 H2O CH2OH CHOH CH2OH gliserol asam lemak + 3 RCOOH

Reaksi ini dilakukan pada kondisi optimum aktifitas enzim lipase yaitu pada suhu 35 oC dan pH 4,7-5. Derajat pemisahan pada proses ini mampu mencapai 90% (Sulistyono 2008).

Hidrolisis Secara Langsung Buah Kelapa Sawit Secara Enzimatik Hidrolisis secara langsung buah kelapa sawit dengan mengaktifkan enzim lipase sebagai biokatalisator yang terdapat pada buah kelapa sawit merupakan suatu alternatif proses yang dapat dilakukan untuk memperoleh asam lemak. Enzim lipase yang terdapat pada buah sawit akan membantu air dalam menghidrolisis trigliserida menjadi asam lemak dan gliserol Jika proses ketiga dibandingkan dengan proses pertama dan kedua, dimiliki kelebihan dan kekurangan, antara lain : 1. Hidrolisis minyak sawit dengan air pada suhu dan tekanan tinggi mampu menghasilkan pemisahan asam lemak dengan gliserol sampai 99%, tetapi proses ini menggunakan CPO yang telah diolah dari tandan, disamping itu juga dapat merusak komponen-komponen minor yang terdapat dalam minyak sawit. Pada proses hidrolisis CPO secara enzimatik, kebutuhan energi relatif kecil. Kekurangan dari proses ini adalah harga enzim lipase yang sangat mahal. Pemakaian enzim lipase secara berulang-ulang dapat dilakukan, tetapi hal ini memerlukan tambahan proses untuk mendapatkan enzim lipase yang mempunyai kemampuan yang sama seperti semula. Disamping itu, karena sifat enzim yang sangat sensitif terhadap temperatur dan pH, maka kemungkinan kerusakan pada enzim lipase secara tiba-tiba tentu saja dapat terjadi, sementara pemenuhan enzim lipase ini relatif sulit dilakukan karena faktor biaya dan supplier enzim lipase yang terbatas di pasaran. 2. Hidrolisis dengan mengaktifkan enzim lipase yang terdapat pada buah kelapa sawit jika ditinjau dari segi ekonomi dan teknik sangat baik sekali, karena sesuai dengan tujuannya yaitu untuk menghasilkan asam lemak dan gliserol, maka proses ini tidak perlu lagi melakukan pengolahan terlebih dahulu terhadap tandan buah segar menjadi minyak (Wijayanti 2008).
B.

Esterifikasi Asam lemak Ada dua metode yang digunakan dalam esterifikasi yaitu proses

batch dan proses kontinyu. Esterifikasi merupakan reaksi ionik yang merupakan

gabungan dari reaksi adisi dan penataan ulang eliminasi. Reaksi tersebut berlangsung Henkel telah dibawah tekanan pada suhu 200- 250oC. Pada reaksi kontinyu kesetimbangan, air dipindahkan secara kontinyu untuk menghasilkan ester. countercurrent

mengembangkan esterifikasi

menggunakan kolom reaksi dodel plate. Teknologi ini didasarkan pada prinsip reaksi esterifikasi dengan absorpsi simultan superheated metanol vapor dan desorpsi metanol- water mixture. Gambar 2 memperlihatkan proses kontinyu esterifikasi Henkel asam lemak. Reaksi ini menggunakan tekanan sekitar 1000 Kpa dan suhu 240 C. Keuntungan dari proses ini adalah kelebihan metanol dapat dijaga secara nyata pada rasio yang rendah yaitu 1,5 : 1 molar metanol : asam lemak dibandingkan proses batch dimana rasionya 3-4 : 1 molar. Metil ester yang melalui proses distilasi tidak memerlukan proses pemurnian. Esterifikasi proses kontinyu lebih baik daripada proses batch. Dengan hasil yang sama, proses kontinyu membutuhkan waktu yang lebih singkat dengan kelebihan metanol yang lebih rendah (Austin 2000). Proses esterifikasi merupakan proses yang cenderung digunakan dalam produksi ester dari asam lemak spesifik. Laju reaksi esterifikasi sangat dipengaruhi oleh struktur molekul reaktan dan radikal yang terbentuk dalam senyawa antara. Data tentang laju reaksi serta mekanismenya disusun berdasarkan karakter kinetiknya, sedangkan data tentang perkembangan reaksi dinyatakan sebagai konstanta kesetimbangan. Secara umum laju reaksi esterifikasi mempunyai sifat sebagai berikut: 1. Alkohol primer bereaksi paling cepat, disusul alkohol sekunder, dan paling lambat alkohol tersier 2. Ikatan rangkap memperlambat reaksi. Asam aromatik (benzoat dan p-toluat) bereaksi lambat, tetapi mempunyai batas konversi yang tinggi 4. Makin panjang rantai alkohol, cenderung mempercepat reaksi atau tidak terlalu berpengaruh terhadap laju reaksi Proses yang dirancang untuk menyelesaikan reaksi esterifikasi

dikehendaki untuk sedapat mungkin mencapai 100%. Oleh karena itu reaksi esterifikasi merupakan kesetimbangan, maka angka 100% tidak mungkin tercapai, dan sesuai informasi yang ada konversi yang dapat dicapai hanya sampai 98%. Nilai konversi yang tinggi dapat dicapai dengan ekses reaktan yang

besar. Proses esterifikasi secara umum harus diketahui untuk dapat mendorong konversi sebesar mungkin. Secara umum ada tiga golongan proses, dan penggolongan ini bergantung kepada volatilitas ester. Golongan 1. Dengan ester yang sangat mudah menguap, seperti metil format, metil asetat, dan etil format, titik didih ester lebih rendah daripada alkohol, oleh karena itu ester segera dapat dihilangkan dari campuran reaksi. Produksi metil asetat dengan metode distilasi Bachaus merupakan sebuah contoh dari golongan ini. Metanol dan asam asetat diumpankan ke dalam kolom distilasi dan ester segera dipisahkan sebagai campuran uap dengan metanol dari bagian atas kolom. Air terakumulasi di dasar dalam tangki dan selanjutnya dibuang. Ester dan alkohol dipisahkan lebih lanjut kolom distilasi yang kedua. Golongan 2. Ester dengan kemampuan

menguap sebaiknya dipisahkan dengan cara menghilangkan air yang terbentuk secara distilasi. Dalam beberapa hal, campuran terner dari alkohol, air dan ester dapat terbentuk. Kelompok ini layak untuk dipisahkan lebih lanjut: dengan etil asetat, semua bagian ester dipindahkan sebagaicampuran uap dengan alkohol dan sebagian air, sedangkan sisa air akan terakumulasi dalam sistem. Dengan butil asetat, semua bagian air dipindahkan ke bagian atas dengan sedikit bagian dari ester dan alkohol, sedangkan sisa ester terakumulasi dalam sistem. Golongan 3. Dengan ester yang mempunyai volatilitas rendah, beberapa kemungkinan timbul. Dalam hal butil dan amil alkohol, air dipisahkan sebagai campuran biner dengan alkohol. Contoh proses untuk tipe seperti ini adalah pembuatan dibutil ftalat. Untuk menghasilkan ester dari alkohol yang lebih pendek (metil, etil, propil) dibutuhkan penambahan hidrokarbon seperti benzena dan toluena untuk memperbesar air yang terdistilasi.dengan alkohol bertitik didih tinggi (benzil, furfuril, b-feniletil) suatu cairan tambahan selalu diperlukan untuk menghilangkan kandungan air dari campuran (Foglia 2007).

Gambar 2 2008).

Diagram alir produksi metil ester dengan esterifikasi (Sulistyono

C. Proses Transesterifikasi Proses transesterifikasi dari lemak dan minyak merupakan proses yang paling umum digunakan dalam memproduksi metil ester, kecuali bila dibutuhkan metil ester dengan asam lemak spesifik. Trigliserida dapat dengan mudah ditransesterifikasi secara batchwise pada tekanan atmosfer dan suhu 60-70 C dengan metanol berlebih dan menggunakan alkalis alkalin. Tahap awal yang diperlukan untuk memindahkan asam lemak bebas dari minyak adalah dengan cara permurnian atau pra-esterifikasi sebelum proses transesterifikasi. Tahap ini tidak diperlukan jika reaksi dilakukan pada tekanan yang tinggi (9000 KPa) dan suhu yang tinggi (240 C). Pada kondisi ini, esterifikasi dan transesterifikasi terjadi secara kontinu. Campuran hasil reaksi pada akhir reaksi dibiarkan mengendap. Lapisan paling bawah dari gliserin dikeluarkan, lapisan paling atas, metil ester dicuci untuk memindahkan gliserin dan diproses lebih lanjut. Kelebihan metanol direcover ke kondensor dan dialirkan ke kolom rectifying untuk dimurnikan dan didaur ulang. Gambar 3 memperlihatkan diagram alir proses Henkel yang berlangsung pada tekanan 9000 Kpa dan tidak murni suhu 240 C menggunakan minyak tidak murni (unref iined oil) sebagai feedstock. Minyak (unref ined oil), metanol yang berlebih dan katalis diukur dan

dipanaskan pada suhu 240o C sebelum dialirkan ke reaktor. Kelebihan metanol dikeluarkan melalui reaktor dan diisikan pada kolom rak untuk proses pemurnian. Metanol recover didaur ulang ke dalam sistem. Reaksi yang terjadi :

Gambar 3 Diagram alir produksi metil ester dengan transesterifikasi (Sulistyono 2008).

Pembuatan Lemak Alkohol Lemak alkohol adalah alkohol alifatis yang merupakan turunan dari lemak alam ataupun minyak alam. Lemak alkohol merupakan bagian dari asam lemak dan lemak aldehida. Lemak alkohol biasanya mempunyai atom karbon dalam jumlah genap. Molekul yang kecil digunakan dalam dunia kosmetik, makanan dan pelarut dalam industri. Molekul yang lebih besar penting sebagai bahan bakar. Karena sifat amphiphatic mereka, lemak alkohol berkelakuan seperti nonionik surfaktan. Lemak alkohol dapat digunakan emulsifier, emollients, dan thickeners dalam industri kosmetik dan makanan. Lemak alkohol diperoleh dengan cara hidrogenasi metil ester atau asam lemak. R-COOCH3 + 2 H2 RCOOH + 2 H2 R-CH2OH + CH3OH (Gandhi 1997) Dalam proses pembuatan lemak alkohol banyak dilakukan dengan bahan dasar metil ester, karena dengan proses ini diperoleh persentase lemak alkohol yang tinggi. Dalam reaksi hidrogenasi dapat terbentuk RCH2COCOH + 2H2 ----------------> RCH2CH2OH + CH3OH RCH2COOH + RCH2CH2OH ------> RCH2COOCH2CH2R + CH3OH RCH2COOCH2CH2R + H2 --------> 2 RCH2OH Suhu tinggi menyebabkan reaksi sekunder yaitu dehidratasi RCH2CH2OH ----------> RHC=CH2 RCH=CH2 + H2 ---------> RCH2CH3 (parafin) (Gandhi 1997) Lemak alkohol dengan bahan baku metil ester atau asam lemak karena proses ini menghendaki kelebihan H2 400 kali dari teoritis kelebihan hidrogen untuk mempertahankan lapisan tipis katalis sebagai jaminan. Sementara itu reaksi

Katalis ,CuCr

Katalis ,CuCr

RCH2OH + H2O

esterifikasi dengan asam lemak, yaitu suhu reaksi 230 280 oC, tekanan reaktor 200 300 bar, katalis copper-cromite dengan sirkulasi gas hidrogen panas, konversi dapat mencapai 91 %. Terdapat 3 jenis proses yang telah dikenal dalam pembuatan lemak alcohol, yaitu hidrogenasi metil ester pada suhu dan tekanan tinggi, sintesis Ziegler, dan sintesis OXO. Proses Ziegler dan OXO menghasilkan alkohol sintetik dari petrokimia sedangkan hidrogenasi asam lemak dan metil ester dari minyak dan lemak menghasilkan lemak alami (Samardi 2009). Pembuatan ester dari alkohol Ester dihasilkan apabila asam karboksilat dipanaskan bersama alkohol dengan bantuan katalis asam. Katalis ini biasanya asam sulfat pekat. Terkadang juga digunakan gas hidrogen klorida kering, tetapi katalis-katalis ini cenderung melibatkan ester-ester aromatik (yakni ester yang mengandung sebuah cincin benzena). Reaksi esterifikasi berlangsung lambat dan dapat balik (reversible). Persamaan untuk reaksi antara sebuah asam RCOOH dengan sebuah alcohol ROH ( R dan R bias sama atau berbeda) adalah sebagai berikut:

Jadi, misalnya, jika anda membuat etil etanoat dari asam etanoat dan etanol, maka persamaan reaksinya akan menjadi:

(Clark 2007). Jika anda ingin membuat sampel sebuah ester yang cukup besar, maka metode yang digunakan tergantung pada (sampai tingkatan tertentu) besarnya ester. Esterester kecil terbentuk lebih cepat dibanding ester yang lebih besar.

Untuk membuat sebuah ester kecil seperti etil etanoat, anda bisa memanaskan secara perlahan sebuah campuran antara asam metanoat dan etanol dengan bantuan katalis asam sulfat pekat, dan memisahkan ester melalui distilasi sesaat setelah terbentuk. Ini dapat mencegah terjadinya reaksi balik. Pemisahan dengan distilasi ini dapat dilakukan dengan baik karena ester memiliki titik didih yang paling rendah diantara semua zat yang ada. Ester merupakan satu-satunya zat dalam campuran yang tidak membentuk ikatan hidrogen, sehingga memiliki gaya antar-molekul yang paling lemah. Ester-ester yang lebih besar cenderung terbentuk lebih lambat. Dalam hal ini, mungkin diperlukan untuk memanaskan campuran reaksi di bawah refluks selama beberapa waktu untuk menghasilkan sebuah campuran kesetimbangan. Ester bisa dipisahkan dari asam karboksilat, alkohol, air dan asam sulfat dalam campuran dengan metode distilasi fraksional (Clark 2007).

SIMPULAN Oleokimia merupakan bahan kimia yang berasal dari minyak/lemak alami, baik tumbuhan maupun hewani. Oleokimia terdiri atas asam lemak, meliester lemak, alkohol lemak, amina lemak, dan gliserol. Produk-produk turunannya berupa sabun batangan, detergen, sampo, pelembut, kosmetik, bahan tambahan untuk industri plastik, karet, dan pelumas. Dalam perdagangan dikenal dua jenis oleokimia, yaitu oleokimia alami dan oleokimia buatan. Oleokimia alami diperoleh dari minyak nabati atau minyak hewani sedangkan oleokimia buatan dapat diperoleh dari minyak bumi (petrokimia), seperti propilena. Proses Pembuatan Asam Lemak dan Gliserol melalui Splitting, antara lain Hidrolisis CPO dengan H2O, hidrolisis secara enzimatik, dan hidrolisis secara langsung.

DAFTAR PUSTAKA Austin S. 2000. Chemical Process Industries. New York: Mc-Graw Hill

Anderson A, J. 1999. Refining Oils and Fats for Edible Purposes. New York: Pegamon Press Clark J. 2007. [terhubung berkala]. http://www.chemistry.org/pembuatanester. pdf. [18 Oktober 2011]. Fauzi S. 2006. Teknologi Oleokimia. Medan: Fakultas Teknik, Universitas Sumatera Utara. Foglia W. 2007. The general applicapability of in situ transesterification for the production of fatty acid ester from variety af feedstock. J.am-Oil Chem. 10: 963-970. Mustofa H. 2003. Strategi Pengembangan Industri Kimia Berbasis Kelapa di Indonesia. [terhubung berkala]. http.//dekindo.com/mpipb/1231242haritskun-4783/kelapa20%.pdf.[18 Oktober 2011]. Samardi A. 2009. Teknologi Oleokimia. [terhubung berkala].

http://ocw.usu.ac.id/course/teknologioleokimia/tkk322_handout_oleok imia.pdf.[19 Oktober 2011]. Samardi A. 2009. Oleokimia. [terhubung berkala].

http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/16124/Chapter%.pdf.[ 19 Oktober 2011 ]. Sulistyono I. 2008. Prarancangan Pabrik Asam Lemak dari Minyak Sawit [skripsi]. Surakarta: Universitas Muhamadiyah Surakarta. Widodo S. 2005. Kebijakan Pengembangan Industri Oleokimia Berbasis Minyak Sawit di Indonesia. [terhubung berkala]. http://itb.ac.id/en/education/255832/ChapterII.pdf.[19 Oktober 2011 ]. Wijayanti F. 2008. Pemanfaatan Minyak [skripsi]. Jakarta: FMIPA-UI.