Anda di halaman 1dari 1

WAKTU: ANTARA ADA DAN TIADA Berdasarkan teori relativitas, adanya waktu tidak lepas dari adanya pengaruh

gravitasi. Semakin besar gravitasi, semakin lambat berjalannya waktu. Dari teori relativitas ini kemudian muncul ide bahwa waktu dapat direntangkan atau dimampatkan. Pada sebuah titik tertentu dimana antara waktu ini gaya gravitasi melengkung hingga menyatu, pada akhirnya membukakan pintu baru yang disebut lorong waktu. Dengan cara ini, seseorang diprediksi dapat berpindah tempat dengan menempuh lorong waktu. Para ilmuwan masih berspekulasi apakah menembus waktu memang mungkin dilakukan dan apakah hal itu akan mungkin mengubah masa depan atau tidak. Ahli fisika Daniel Greenberger dari City University of New York dan Karl Svozil dari Vienna Unversity of Technology Austria menunjukkan sifatsifat teori kuantum yang memastikan bahwa perjalanan menembus waktu tidak dapat mengubah keadaan saat ini, meskipun seseorang itu berhasil ke masa lalu. Lee Smolin dari Perimeter Institute for Theoretical Physics di Kanada mengatakan waktu adalah nyata, akan tetapi merumuskan untuk menemukan segalanya dan menyatukan partikel di alam semesta hanya dapat dilakukan dengan menggabungkan teori relativitas dan teori kuantum. Hasil pengertian yang dimungkinkan adalah waktu itu tidak ada atau waktu itu mungkin ada tetapi lebih dari satu. Profesor Carlo Rovelli dari University of Marseille mendefinisikan bahwa waktu itu adalah jarak antara kejadian, atau hanya seperti ruang yang memisahkan antara tempat. Dicontohkan misalnya, segelas kopi beberapa saat lalu panas, namun dengan perginya kalor (panas), di masa depan kopi akan dingin. Dia berpendapat tidak ada yang bisa kembali dan semua itu hanya ada di dalam otak. Ia mengatakan bahwa perubahan waktu setiap detik, menit dan jam hanyalah sebuah trik pikiran. Jadi sebenarnya waktu itu tidak ada.