Anda di halaman 1dari 16

KEBUTUHAN NUTRISI PAKAN ALAMI DAN BUATAN

Kebutuhan masyarakat dunia terhadap protein hewani ikan terus meningkat seiring dengan peningkatan populasi penduduk dunia. Sejak tahun 1990-an, produksi perikanan tangkap mengalami stagnasi dan cenderung menurun akibat kerusakan lingkungan laut dan upaya penangkapan ikan illegal. Oleh karena itu pemenuhan konsumsi ikan dunia hanya diharapkan dari usaha budidaya ikan. Keberhasilan usaha budidaya ikan sangat dipengaruhi oleh 3 faktor yang sama pentingnya, yaitu breeding (pemuliaan biakan, bibit), feeding (pakan) dan management (tata laksana). Namun jika dilihat dari total biaya produksi dalam usaha budidaya ikan, maka kontribusi pakan adalah yang paling tinggi sekitar 75%. Pada umumnya pengertian pakan (feed) digunakan untuk hewan, sedangkan pengertian pangan (food) digunakan untuk manusia. Berkaitan dengan pakan, maka dihadapkan pada masalah-masalah kualitatif, kuantitatif, kontinuitas dan keseimbangan zat pakan yang terkandung didalamnya. Bahan pakan adalah segala sesuatu yang dapat diberikan kepada hewan ternak (baik berupa bahan organik maupun anorganik) yang sebagian atau seluruhnya dapat dicerna tanpa mengganggu kesehatannya. Zat pakan adalah bagian dari bahan pakan yang dapat dicerna, dapat diserap dan bermanfaat bagi tubuh (ada 6 macam zat pakan: air, mineral, karbohidrat, lemak, protein dan vitamin). Seperti halnya hewan lain, ikan pun membutuhkan zat gizi tertentu untuk kehidupannya, yaitu untuk menghasilkan tenaga, menggantikan sel-sel yang rusak dan untuk tumbuh. Pakan yang dimakan ikan berasal alam disebut pakan alami dan dari buatan manusia disebut pakan buatan. Dalam praktiknya, pakan alami sudah terdapat secara alami dalam perairan kolam tempat pemeliharan ikan. Pakan alami sangat bagus diberikan pada ikan yang masih dalam stadia benih, terutama saat benih ikan berumur 3-15 hari. Sedangkan pakan buatan diramu dari beberapa bahan baku yang memilii kandungan nutrisi spesifik. Bahan baku diolah secara sederhana atau diolah di pabrik secara masal dan menghasilkan pakan buatan berbentuk pellet, tepung, remeh atau crumble dan pasta.

Nutrisi adalah makanan, pakan atau gizi atau ilmu gizi bagi manusia atau pakan pada hewan (study of human and or animal diet). Pengertian khusus (spesifik) ilmu gizi yaitu ilmu yang mempelajari tentang bagaimana memenuhi kebutuhan makanan pada manusia maupun hewan secara berkualitas, kuantitas, maupun estitika. Kualitas makanan menyangkut kandungan nutrisi bahan makanan seperti protein (asam amino, hormon dll), lemak (asam lemak, phospolipid, wax dll), karbohidrat (gula, glukosa, sukrosa, saccarosa dll), vitamin (A, B, C, D, E, K), mineral (Fe, Mg, Zn, Ca, K, dll). Sedangkan kuantitas adalah besarnya (energi) kandungan bahan makanan (nutrient) yang dibutuhkan manusia maupun hewan untuk melangsungkan hidupnya (bagi pertumbuhan somatis, metabolisme, dan reproduksi) secara proporsional (sesuai dengan siklus hidup dan tujuannya). Nutrisi untuk ikan yaitu kandungan gizi yang dikandung pakan yang diberikan kepada ikan peliharaan dengan komposisi yang tepat atau berimbang yang berperan dalam pertumbuhan, reproduksi, ketahanan tubuh. Nutrisi itu sendiri bergantung pada spesies ikan, ukuran (besar/berat) ikan, kondisi kultur. Pakan alami ialah makanan hidup bagi larva atau benih ikan dan udang. Beberapa jenis pakan alami yang sesuai untuk benih ikan air tawar, antara lain lnfusoria (Paramaecium sp.), Rotifera (Brachionus sp.), Kladosera (Moina sp.), dan Daphnia sp. Pakan alami tersebut mempunyai kandungan gizi yang lengkap dan mudah dicerna dalam usus benih ikan. Ukuran tubuhnya yang relatif kecil sangat sesuai dengan lebar bukaan mulut larva/benih ikan. Sifatnya yang selalu bergerak aktif akan merangsang benih/larva ikan untuk memangsanya. Pakan alami ini dapat diibaratkan "air susu ibu" bagi larva/benih ikan yang dapat memberikan gizi secara lengkap sesuai kebutuhan untuk pertumbuhan dan perkembangannya. Pakan alami Infusoria dapat dibudidayakan dengan media sayuran, sedangkan pakan alami jenis Moina dan Daphnia dapat dilakukan dengan menggunakan kotoran hewan kering yang ada di sekitar kita. Kandungan gizi setiap jenis pakan alami berbeda-beda, namun pada umumnya terdiri dari air, protein, lemak, serat kasar dan abu. Kandungan gizi pakan alami Moina dan Daphnia dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

Tabel. Kandungan Gizi dan Kegunaan Pakan Alami Jenis Pakan Alami Infusoria/ Paramecium Moina Daphnia Kadar Air 90,60 94,78 Kadar Kandungan Gizi (%) Serat Protein Lemak Abu Kasar 37,38 42,65 13,29 8,00 2,58 11,00 4,00 Kegunaan Pakan larva baru menetas Pakan benih umur 2-6 hari Pakan benih umur 6-12 hari

Pakan alami terdiri atas pakan segar (fresh feed atau frozen feed) dan pakan hidup (live food). Pakan segar (fresh feed atau frozen feed) adalah pakan segar dan beku dari freezer dimana bentuknya tidak berubah seperti keadaan hidup. Misalnya fito maupun zooplankton beku serta ikan atau udang-udangan beku dll. Pakan Hidup (live food) adalah pakan yang diberikan dalam keadaan masih hidup ketika diberikan kepada hewan kultivan. Pakan ini bisa dibiakkan bersama-sama dengan kultur kultivan tapi juga bisa dibiakkan terpisah. Misal: fitoplankton Chlorella sp atau zooplankton Brachionus sp atau Artemia sp sebagai pakan yang dibiakkan bersamasama dengan larva ikan laut dan udang. Pakan Buatan adalah pakan yang dibuat oleh manusia untuk ikan peliharaan yang berasal dari berbagai macam bahan baku yang mempunyai kandungan gizi yang baik sesuai dengan kebutuhan ikan dan dalam pembuatannya sangat memperhatikan sifat dan ukuran ikan. Pakan buatan dibuat oleh manusia untuk mengantisipasi kekurangan pakan yang berasal dari alam yang kontinuitas produksinya tidak dapat dipastikan. Pakan buatan yang berkualitas baik harus memenuhi kriteria-kriteria berikut: y y y y y y Kandungan gizi pakan terutama protein harus sesuai dengan kebutuhan ikan Diameter pakan harus lebih kecil dari ukuran bukaan mulut ikan Pakan mudah dicerna Kandungan nutrisi pakan mudah diserap tubuh Memiliki rasa yang disukai ikan Kandungan abunya rendah serta tingkat efektivitasnya tinggi.

Pakan buatan yang dibuat berkadar air rendah biasanya kurang dari 15% sehingga bisa disimpan dalam waktu lama di suhu kamar yang tidak lembab. Kelebihan pakan buatan ini juga mengurangi kemungkinan penularan penyakit (dibandingkan dengan makanan alami), transfortasi yang mudah (dibandingkan makanan alami) dan tidak mengenal musim (tersedia terus menerus). Pakan ini bisa berbentuk pellet (tubular), butiran (granule), remah (crumble), pasta, dan tepung (dust).

Syarat-Syarat Pakan Ada beberapa persyaratan sebuah bahan pakan bisa dipakai dalam budidaya. Syarat-syarat tersebut adalah: y y y y y y y y y y Bergizi (nutritious) Tidak beracun (non-toxics) Mudah ditelan (ingestible) Mudah dicerna (digestible) Tekstur partikel kompak (intact dan water stability tinggi) Ukurannya (diameter) sesuai usofagus kultivan Bentuknya sesuai target kultivan Mudah dilihat, menarik dan disukai (visible. attractive dan Palatable) Murah harga dan proses membuatnya (affordable) Mudah didapat (available)

Sementara itu pakan harus memenuhi syarat sesuai kebutuhan kultivan dalam masamasa perkembangannya. Syarat-syarat tersebut menyangkut tentang: 1. Amount or density of food (jumlah atau densitas pakan) Adalah jumlahnya atau kuantitas pakan yang dibutuhkan oleh kultivan sesuai dengan perkembangannya. Pakan yang diberikan tidak sekedar mengenyangkan tetapi juga harus memenuhi syarat nutrisi. Contoh: densitas makanan untuk kultur larvae ikan laut berkisar antara 0.05 kopepoda per mL sampai 200 dinoflagellata per mL. Secara nutrisi stadia awal

pertumbuhan memerlukan kandungan protein relative lebih tinggi dibandingkan dengan stadia lanjut dimana nutrisi banyak difungsikan untuk pertahanan hidup. Ikan Nila (Tilapia nilotica) misalnya, jumlah pakan buatan yang diberikan berkisar 3% dari berat badannya (atau dari total berat ikan yang dipelihara) per hari. Frekuensi pemberian pakannya (feeding frequency) bisa diberikan 3 kali waktu feeding misalnya pagi, siang, dan sore. Sementara itu, Lele (Clarias batrachus) jumlah pakan yang diberikan sebanyak 5-10% dari berat totalnya dengan frekuensi 3 kali sehari yakni pagi, siang, dan sore. Ikan Kakap Putih (Lates calcarifer) yang hidupnya omnifora dimana di stadia awal berukuran 1-10 cm makannya plankton, udang kecil, dan ikan kecil, maka setelah berukuran 20 cm hampir 70% perutnya diisi oleh udang-udangan dan 30%-nya ikan-ikan kecil. Pemberian pakan ikan ini tergantung pada ukurannya. Untuk ikan dengan berat kurang dari 100 g diberi sebanyal 8-10% dari berat ikan yang dipelihari per hari, sedangkan untuk ikan dengan berat lebih dari 100 g sebanyak 3-4% dari berat total ikan yang dipelihara. Sedangkan frekuensi pemberian pakannya adalah 3-4 kali per hari sedangkan ikan besar bisa 2 kali per hari dilakukan pada saat setelah matahari terbit dan sebelum matahari terbenam. Pada densitas pakan yang tinggi menyebabkan masalah pada kondisi suhu tinggi. Baik reproduksi pakan hidup, misal kopepoda atau mikroalgae, dan metabolisme, misalnya terjadi kenaikkan konsumsi oksigen dan produksi ammonia, semua biota hidup dalam tanki pemeliharaan akan naik. 2. Particle texture, Size and Shape (Tekstur butiran, ukuran dan bentuk) Tekstur butiran pakan merupakan faktor penting sehingga pakan tetap terkontrol dalam keadaan stabil densitasnya (intact) dan terkontrol kandungan airnya. Stabilitas pakan dalam air (water stability of feed) menjadi hal penting sehingga pakan sampai pada sasarannya tanpa mengalami kerusakan yang mengurangi nilai nutrisinya. Ukuran rata-rata pakan buatan disesuaikan dengan diameter usofagus larva kultivan. Kelemahan penggunaan pakan buatan biasanya terletak pada ketidak elastiknya pakan dibanding pakan hidup dan tidak kompatibelnya pakan setelah ditelan oleh kultivan. Padahal pakan harus bisa ditelan (ingestible), kemudian masuk dalam system pencernaan kultivan untuk dicerna (digestible).

3. Feeding Frequency Kuantitas maupun kualitas bahan pakan yang dikonsumsi kultivan ditargetkan untuk memenuhi syarat gizi bagi pertumbuhannya. Frekuensi pemberian makanan tergantung kepada Gut Evacuation Time atau masa pengosongan lambung kultivan, kebiasaan makan hewan kultivan. 4. Feeding Periodicity Periode makan suatu kultivan berbeda satu sama lain. Ada yang makan pada periode gelap, ada yang makan pada periode terang. 5. Feeding Habits Cara makan biota berbeda-beda satu sama lain. Kebiasaan tersebut berkaitan dengan kebiasaan hidupnya. Udang yang hidupnya di dasar (demersal) akan makan di dasar dengan cara mengerat. Sementara itu ikan hiu memakan ikan lain dengan mengoyak dagingnya. Banyak ikan memakan dengan cara menelan langsung korbannya. 6. Food Habits Kebiasaan makanan yang dikonsumsi oleh biota. Hal ini sesuai dengan kesukaannya terhadap jenis makanan tertentu (food preferences) seperti: particulate feeders, filter feeders, suspension feeder dan prey strikers. Berdasarkan variasi makanannya dibedakan sebagai makro atau mikro phytopahagous, zooplanktivorous, detrivorous, molluscivorous, piscivorous dan sebagainya. 7. Feeding Rate Kecepatan makan biota per satuan waktu tertentu. 8. Feeding Time Waktu yang dibutuhkan biota untuk memakan jumlah tertentu makanan yang diberikan. 9. Feeding Schedule Jadwal pemberian makanan kepada biota sesuai dengan kebutuhannya. Ada biota yang makan malam hari maka jadwal makannya harus dibuat malam hari. Demikian sebaliknya bila biota makannya pagi, siang atau sore hari. Pakan

tersebut bisa diberikan secara manual tetapi juga bisa diberikan secara otomatis dengan alat automatic feeders. 10. Food atau Feed Conversion Ratio (FCR) Secara praktis diartikan sebagai jumlah pakan yang dibutuhkan untuk menghasilkan 1 kg berat hewan kultivan. Secara biologis FCR merupakan kemampuan biota (kultivan) untuk merubah pakan menjadi daging. Semakin rendah nilai FCR maka semakin rendah jumlah pakan yang dibutuhkan untuk menghasilkan 1 kg daging kultivan. Artinya, pakan tersebut semakin efisien untuk diubah menjadi daging oleh kultivan. Secara ekonomis ini menguntungkan karena menekan beaya produksi karena murahnya beaya pakan. Artinya, bila kultivan herbivora diberi pakan nabati yang relatif murah, kemudian kultivan bisa merubah menjadi protein hewani yang mahal harganya, maka ini akan menguntungkan bagi akuakulturis.

Kebutuhan Nutrisi Ikan Nutrisi pakan lebih berperan dibandingkan dengan jumlah pakan yang diberikan (keseimbangan antara kualitas dan kuantitas). Zat-zat gizi sesuai dengan kebutuhan tubuh ikan antara lain protein (dengan asam amino esensial; 20-60%), lemak (dengan asam lemak esensial; 4-8%), karbohidrat ( 30%), vitamin dan mineral. Protein, karbohidrat dan lemak merupakan sumber energi untuk maintenance dan pertumbuhan bagi kultur ikan / udang. Lemak dan karbohidrat harus cukup untuk meminimalisasi penggunaan protein sebagai sumber energi utama sehingga protein yang ada tersedia digunakan secara optimal untuk pertumbuhan ikan/udang. Dari sejumlah pakan yang dimakan, hanya 10% yang digunakan untuk pertumbuhan / menambah berat; selebihnya digunakan sebagai sumber energi; atau tidak dapat dicerna sehingga mempengaruhi FCR (food convertion rate). y Protein Protein sangat diperlukan oleh tubuh ikan, baik untuk pertumbuhan maupun untuk menghasilkan tenaga. Protein nabati (asal tumbuh-tumbuhan), lebih sulit dicernakan daripada protein hewani (asal hewan), hal ini disebabkan karena protein

nabati terbungkus dalam dinding selulosa yang memang sukar dicerna. Pada umumnya, ikan membutuhkan protein lebih banyak daripada hewan-hewan ternak di darat (unggas dan mamalia). Fungsi protein antara lain: 1. zat pembangun yaitu membentuk jaringan baru, mengganti jaringan yang rusak; proses reproduksi. 2. zat pengatur yaitu pembentukan enzim, hormon-mengatur proses-proses

metabolisme dalam tubuh. 3. zat pembakar yaitu sumber energi disamping karbohidrat / lemak. Pakan buatan untuk larva penting sebagai substitusi pakan alami untuk meningkatkan produksi benih yang digunakan dalam budidaya dan meningkatkan kualitas benih. Secara umum, protein dengan komposisi asam amino yang sama dengan tubuh ikan mempunyai nilai nutrisi yang tinggi. Pembuatan pakan dapat diformulasi dari beberapa sumber protein untuk mensimulasi komposisi asam amino yang sesuai dengan asam amino tubuh ikan. Asam amino sebagai bahan dasar pembentuk utama. Asam amino esensial sangat dibutuhkan oleh ikan dalam pertumbuhannya, tidak dapat dibentuk / disintesis oleh ikan dan harus tersedia dalam pakan, sedangkan pada asam amino non-esensial dapat disintesis dalam tubuh ikan sendiri dengan bantuan unsur-unsur lain dalam tubuh ikan. Kebutuhan ikan akan protein bergantung pada ukuran ikan, jumlah / kuantitas pakan yang dimakan ikan, ketersediaan dan kualitas pakan alami, kualitas protein serta suhu air kultur. Jenis ikan karnivora membutuhkan tingkat protein yang lebih tinggi dibandingkan ikan herbivora. Ikan pada stadia larva membutuhkan membutuhkan tingkat protein yang lebih tinggi dibandingkan ikan dewasa. Tingkat protein optimum dalam pakan untuk pertumbuhan ikan berkisar 25 tinggi (40 y Lemak Lemak sebagai sumber energi (lebih tinggi dibanding protein / karbohidrat), berperan dalam pemeliharaan struktur dan membran sel, pelarut dalam proses penyerapan vitamin A, D, E, dan K, membantu proses metabolisme, serta menjaga keseimbangan daya apung ikan dalam air. Penggunaan lemak mempengaruhi rasa dan 50% sedangkan tingkat protein untuk ikan laut lebih 50%) (berat kering) untuk pertumbuhan yang optimal.

mutu pakan. Lemak mengandung asam lemak esensial dan non esensial. Asam lemak esensial tidak dapat disintesis oleh tubuh ikan (kebutuhannya harus dipenuhi dari pakan), merupakan komponen struktur membran, penunjang pertumbuhan ikan, pembentukan gelembung renang pada stadia larva(jika tidak sempurna dapat menyebabkan kematian larva terutama dalam kultur ikan laut). Contoh pentingnya yaitu asam lemak omega-3 HUFA, DHA. Pakan yang baik umumnya mengandung 4 18% lemak. Kadar lemak harus optimum namun tidak berlebihan. Kelebihan

kadar lemak antara lain: 1. pakan akan mudah mengalami oksidasi (mudah tengik) 2. mengakibatkan penimbunan lemak pada usus ikan, hati ataupun ginjal sehingga ikan menjadi terlalu gemuk dan nafsu makan berkurang. y Karbohidrat Karbohidrat sederhana (monosakarida) lebih mudah larut dalam air; ikan butuh enzim-enzim tertentu untuk memecah disakarida atau polisakarida menjadi monosakarida yang mudah diserap. Beberapa enzim tertentu dihasilkan oleh bakteri dalam usus ikan. Beberapa ikan memiliki organ khusus pada alat pencernaannya (pyloric caeca) yang mengandung enzim-enzim yang mampu mencerna karbohidrat. Kebutuhan karbohidrat pada pakan ikan terhadap jenis ikan yaitu: 1. Ikan mas : 20 2. Ikan lele : 10 30% 30%

3. Ikan kerapu : <10% 4. Ikan kakap : 20 25%

Ikan karnivora (khususnya ikan laut) secara alami pakannya mengandung protein tinggi sehingga kurang dapat mencerna karbohidrat dengan baik; namun tetap dapat mensintesis karbohidrat dari lemak dan protein. Karbohidrat dalam pakan terdiri dari: 1. Serat kasar yaitu sulit dicerna, bukan nutrisi penting bagi ikan laut yang akan menimbulkan pengotoran dalam wadah kultur tetapi tetap diperlukan untuk memudahkan pengeluaran feses. Terlalu banyak serat kasar (>10%) dapat mempengaruhi daya cerna menurun, penyerapan menurun, meningkatnya sisa metabolisme dan penurunan kualitas air kultur.

2. Bahan ekstrak tanpa nitrogen. Karbohidrat juga dapat berfungsi sebagai perekat (binder) dalam pembuatan pakan ikan. y Vitamin Vitamin yaitu zat organik yang dibutuhkan ikan dalam jumlah sedikit. Penting untuk pertumbuhan dan ketahanan kondisi tubuh dan umumnya tidak dapat disintesis dalam tubuh tetapi harus tersedia dalam pakan. Kebutuhan vitamin bergantung pada jenis ikan, laju pertumbuhan, komposisi pakan, kondisi fisiologis ikan lingkungan/ kondisi kultur. Kebutuhan akan vitamin menurun dengan meningkatnya ukuran ikan. Fungsi utama vitamin secara umum antara lain: 1. Bagian dari enzim atau ko-enzim (berperan dalam pengaturan proses metabolisme tubuh) 2. Mempertahankan fungsi berbagai jaringan tubuh 3. Mempengaruhi pertumbuhan dan pembentukan sel baru 4. Membantu pembuatan zat-zat tertentu dalam tubuh Sedangkan fungsi spesifik beberapa vitamin antara lain: 1. Vitamin B1, B6, dan B12 yaitu menunjang pertumbuhan dan merangsang nafsu makan. 2. Vitamin B2 yaitu untuk pertumbuhan, pertukaran zat-zat makanan (karbohidrat, lemak, protein) dari sel-sel dalam tubuh dan proses reproduksi. 3. Vitamin A yaitu menunjang kesehatan mata. 4. Vitamin D yaitu menunjang proses metabolisme dari mineral dan terutama kalsium dan fosfor. 5. Vitamin E berpengaruh terhadap pergerakan ikan dan untuk menunjang proses reproduksi. 6. Vitamin premix yaitu campuran vitamin-vitamin yang diperlukan oleh ikan (Vit.A, Vit.D, Vit.E, Vit.K, Vit.B1, Vit.B2, Vit.B12, Vit.C, ...) Penambahan vitamin premix dalam fishmeal (pakan ikan rucah) berfungsi untuk meningkatkan pertumbuhan ikan dan untuk menurunkan konversi pakan (FCR).

Defisiensi (kekurangan) vitamin dapat menyebabkan: a. Ketidaknormalan dalam morfologis maupun fisiologis ikan b. Penurunan aktivitas enzim c. Gangguan fungsi sel; kerusakan sel d. Penurunan nafsu makan ikan e. Pertumbuhan abnormal (skoliosis, lordosis) f. Laju pertumbuhan menurun g. Kematian (defisiensi vitamin secara kronis / berkelanjutan). y Mineral Mineral yaitu bahan anorganik yang dibutuhkan dalam jumlah sedikit namun memiliki fungsi yang sangat penting. Fungsi utama mineral antara lain: 1. Komponen utama dalam struktur gigi dan tulang 2. Sebagai struktur dari jaringan 3. Menjaga keseimbangan asam basa 4. Berperan dalam fungsi metabolisme 5. Sebagai komponen utama dari enzim, vitamin, hormon, dan pigmen. Mineral yang penting untuk pembentukan tulang, gigi dan sisik adalah kalsium, fosfor, fluorine, magnesium, besi, tembaga, kobalt, natrium, kalium, klor, boron, alumunium, seng, arsen. Bahan Baku Pakan Bahan baku pembuatan pakan ikan dibagi menjadi 2 kelompok, yaitu bahan baku nabati dan bahan baku hewani. Banyak sekali bahan baku nabati yang dapat diberikan kepada unggas, bahan baku nabati inilah, yang menyebabkan harga pakan menjadi dapat ditekan. Dari sekian banyak bahan baku nabati, 70 biji-bijian dan hasil olahannya, 15 75% merupakan

25% limbah industri makanan, dan sisanya

hijauan sebagaimana layaknya bahan pakan yang berasal dari biji-bijian, bahan pakan nabati ini sebagian besar merupakan sumber energi yang baik, tetapi karena asalnya

dari tumbuhan, kadar serat kasarnya tinggi. Sebagai sumber vitamin, beberapa bahan berbentuk bijian atau lahannya tidaklah mengecewakan. 1. Jagung kuning Selain jagung kuning, masih ada 2 warna lagi, pada jagung (Zea mays), yaitu jagung putih dan jagung merah. Diantara ketiga warna itu, jagung merah dan jagung putih jarang terlihat di Indonesia. Jagung kuning merupakan bahan baku ternah dan ikan yang populer digunakan di Indonesia dan di beberapa negara. Jagung kuning digunakan sebagai bahan baku penghasil energi, tetapi bukan sebagai bahan sumber protein, karena kadar protein yang rendah (8,9%), bahkan defisien terhadap asam amino penting, terutama lysin dan triptofan. Kandungan nutrisi jagung : y Bahan kering : 75 y Serat kasar : 2,0 % y Protein kasar : 8,9 % y Lemak kasar : 3,5 % y Energi gross : 3918 Kkal/kg y Niacin : 26,3 mg/kg y TDN : 82 % y Calcium : 0,02 % y Fosfor : 3000 IU/kg y Asam Pantotenat : 3,9 mg/kg y Riboflavin : 1,3 mg/kg y Tiamin : 3,6 mg/kg Sebagai sumber energi yang rendah serat kasarnya, sumber Xantophyll, dan asam lemak yang baik, jagung kuning tidak diragukan lagi. Asam linoleat jagung kuning sebesar 1,6%, tertinggi diantara kelompok biji-bijian. 90 %

2. Dedak halus Dedak merupakan limbah proses pengolahan gabah, dan tidak dikonsumsi manusia, sehingga tidak bersaing dalam penggunaannya. Dedak mengandung bagian luar beras yang tidak terbawa, tetapi tercampur pula dengan bagian penutup beras itu. Hal ini mempengaruhi tinggi-rendahnya kandungan serat kasar dedak. Kandungan nutrisi jagung : y y y y y y y y y y Bahan kering : 91,0 % Protein kasar : 13,5 % Lemak kasar : 0,6 % Serat kasar : 13.0 % Energi metabolis : 1890,0 kal/kg Calcium : 0,1 % Total Fosfor : 1,7 % Asam Pantotenat : 22,0 mg/kg Riboflavin : 3,0 mg/kg Tiamin : 22,8 mg/kg

Kandungan serat kasar dedak 13,6%, atau 6 kali lebih besar dari pada jagung kuning, merupakan pembatas, sehingga dedak tidak dapat digunakan berlebihan. Kandungan asam amino dedak, walaupun lengkap tapi kuantitasnya tidak mencukupi kebutuhan ikan, demikian pula dengan vitamin dan mineralnya. 3. Bungkil Kacang Kedelai Selain sebagai bahan pembuat tempe dan tahu, kacang kedele mentah mengandung penghambat trypsin yang harus dihilangkan oleh pemanasan atau metoda lain, sedangkan bungkil kacang kedelai, merupakan limbah dari proses pembuatan minyak kedelai. Kandungan nutrisi bungkil kacang kedelai : y y Protein kasar : 42 50 % Energi metabolis : 2825 - 2890 Kkal/kg , dan Serat kasar : 6 %

Yang menjadi faktor pembatas pada penggunaan kedelai ini adalah asam amino metionin. 4. Bungkil Kacang Tanah Merupakan limbah dari pengolahan minyak kacang atau olahan lainnya. Kualitas bungkil kacang tanah ini tergantung pada proses pengolahan kacang tanah menjadi minyak. Disamping itu, proses pemanasan selama pengolahan berlangsung, juga menentukan kualitas bungkil ini, selain dari kualitas tanah, pengolahan tanah dan varietas kacang itu sendiri. Kandungan nutrisi bungkil kacang tanah : y y y y y Bahan kering : 91,5 % Protein kasar : 47,0 % Lemak kasar : 1,2 % Serat kasar : 13,1 % Energi metabolis : 2200 Kal/kg

Kadar metionin, triptofan, treonin dan lysin bungkil kacang tanah juga mudah tercemar oleh jamur beracun Aspergillus flavus. 5. Minyak Nabati Penggunaan minyak diperlukan pada pembuatan pakan ikan yang

membutuhkan pasokan energi tinggi, yang hanya dapat diperoleh dari minyak. Minyak nabati yang digunakan hendaknya minyak nabati yang baik, tidak mudah tengik dan tidak mudah rusak. Penggunaan minyak nabati yang biasanya berasal dari kelapa atau sawit pada umumnya berkisar antara 2 6 %. 6. Hijauan Sebagai bahan campuran pakan, kini hijauan mulai dilirik kembali, karena ternyata sampai batasan tertentu hijauan dengan protein tinggi dapat mensubstitusi tepung ikan. Hijauan yang dimaksud antara lain azola, turi dan daun talas, yang bila akan digunakan harus diolah terlebih dahulu, yakni pengeringan (oven atau panas matahari) tapi tidak boleh merusak warna, lalu penggilingan dan pengayakan.

DAFTAR PUSTAKA
Afrianto, E., Liviawaty, E., (2005).Pakan Ikan.Yogyakarta.Kanisius. Darti,S., Darmanto, dan Adisha. 2000 Laporan Akhir Hasil Pengkajian Budidaya Pakan Alami untuk Benih Ikan Ekonomis Penting. Instalasi Penelitian dan Pengkajian Teknologi Pertanian Jakarta. Darti,S., Darmanto, Adisha,P., Chumaidi dan Mei, R.D. 2000. Budidaya Pakan Alami Untuk Benih Ikan Air Tawar. Instalasi Penelitian dan Pengkajian Teknologi Pertanian Jakarta. http://www.smallcrab.com/forex/495-kandungan-nutrisi-bahan-baku-nabati-pakanikan. Suprayitno, SH. 1986. Kultur Makanan Alami. Direktorat Jendral Perikanan dan International Development Research Centre. INFIS Manual Seri no.34.35 pp of Giant.

KEBUTUHAN NUTRISI PAKAN ALAMI DAN PAKAN BUATAN

Kelompok III : Ervan Bachtiar K2C 009 002 Risky Aditya N. K2C 009 012 Gandung Wicaksono K2C 009 050 Ahmad Zakki Z. K2F 009 008 Adinda Gadis W. P. K2F 009 017 Rany Dwimayasanti K2F 009 025 Sigit Didik P. K2F 009 041

JURUSAN PERIKANAN FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN UNIVERSITAS DIPONEGORO 2012