Anda di halaman 1dari 9

Bab I Pendahuluan A.

Pengantar Sikap/perilaku dalam bidang kedokteran didasari pada pengenalan beberapa prinsip humaniora yang sesuai untuk seorang dokter. Hubungan dokter-pasien menjangkau segi interpersonal yang lebih mendalam daripada sekedar komunikasi sosial. Perilaku dan kepribadian merupakan hal yang penting sebagai landasan aspek etik, kepercayaan, dan hukum dalam hubungan tersebut. Ilmu kedokteran mempunyai 2 aspek pendekatan, yaitu manusia sebagai objek dan manusia sebagai subyek (pendekatan yang ersifat manusiawi). Landasan pendekatan dan perlakuan yang bersifat manusiawi adalah empati. B. Hasil yang Diharapkan Pemantapan pemahaman mengenai humaniora/humanity dalam kedokteran serta aspek perilaku dan kepribadian di bidang kedokteran, empati, hubungan antar manusia, serta kesehatan jiwa. C. Lingkup Bahasan 1. Aspek humaniora/humanity dalam kedokteran: kemampuan berpikir kritis, memiliki perspektif yang fleksibel, nondogmatisme, peka terhadap nilai, empati, dan sadar diri. 2. aspek perilaku dan kepribadian di bidang kedokteran: perilaku manusia, hubungan dokter-manusia, moral, etik, norma, dan sistem nilai.

Bab II

Pembahasan A. Klasifikasi dan definisi 1. Humaniora adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari segala hal yang diciptakan atau menjadi perhatian manusia baik itu ilmu filsafat, hukum, sejarah, bahasa, teologi, sastra, seni, dan lain-lain. Atau makna intrinsik nilai-nilai kemanusiaan. (KBBI) 2. Empati adalah dimana seseorang dapat merasakan dirinya sebagai orang lain dengan tetap objektif tanpa menyertakan emosi diri. 3. Etik berasal dari kata Yunani ETHOS yang berarti norma-norma, nilai-nilai, kaidah-kaidah dan ukuran-ukuran bagi tingkah laku manusia yang baik. 4. Komunikasi berasal dari kata commune artinya sama saling berhubungan (interaksi), dalam posisi kesetaraan,dilakukan simultan antara visual (pandangan mata), verbal /voice (suara, intonasi) dan prilaku nonverbal(bahasa tubuh). 5. Nondogmatisme artinya membuat jalan atau peta baru dalam suatu proses, menerobos pemikiran lama, membangun paradigma baru. 6. Norma adalah aturan atau ketentuan yang mengikat warga kelompok di masyarakat, dipakai sebagai panduan, tatanan, dan pengendalian tingkah laku yang sesuai dan berterima; setiap warga harus menaati yang berlaku. 7. Kepribadian adalah suatu totalitas psikofisis yang kompleks dari individu sehingga nampak dalam tingkah lakunya yang unik. (Agus Sujanto, 2004) B. Kata kunci 1. Humaniora 2. Kepribadian 3. Empati 4. Komunikasi 5. Etik

C. Rumusan masalah Dasar sikap atau perilaku dalam bidang kedokteran.

D. Analisis masalah

E. Hipotesis Dasar sikap dan perilaku dalam bidang kedokteran meliputi aspek humaniora, kepribadian empati, etika, dan kesehatan jiwa. F. Pertanyaan diskusi 1. Apa definisi dari humaniora? 2. Apa aspek-aspek yang terdapat pada humaniora? 3. Bagaimana penerapan prinsip humaniora? 4. Apa definisi dari kepribadian? 5. Apa aspek-aspek yang terdapat pada kepribadian? 6. Apa definisi dari empati? 7. Apa definisi dari hubungan antar manusia? 8. Apa definisi dari kesehatan jiwa? 9. Apa ciri-ciri kesehatan jiwa? 10.Bagaimana penerapan empati untuk menemukan jiwa yang sehat? 11.Bagaimana cara untuk menemukan jiwa yang sehat? 12.Bagaimana konsep berfikir yang kritis? G. Identifikasi hal yang sudah diketahui 1. Humaniora adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari segala hal yang diciptakan atau menjadi perhatian manusia baik itu ilmu filsafat, hukum, sejarah, bahasa, teologi, sastra, seni, dan lain-lain. Atau makna intrinsik nilai-nilai kemanusiaan. (KBBI) 2. Aspek-aspek humaniora: kemampuan berpikir kritis, memiliki perspektif yang fleksibel, nondogmatisme, peka terhadap nilai, empati, dan sadar diri.

3. Penerapan humaniora: mampu untuk berpikir kritis, memiliki perspektif yang fleksibel, mempunyai kepekaan terhadap nilai, berempati, dan mempunyai sifat sadar diri. 4. Kepribadian adalah suatu totalitas psikofisis yang kompleks dari individu sehingga nampak dalam tingkah lakunya yang unik. (Agus Sujanto, 2004) 5. Aspek-aspek kepribadian: perilaku manusia, hubungan dokter-manusia, moral, etik, norma, dan sistem nilai. 6. Empati adalah kemampuan menempatkan diri dalam pikiran dan perasaan orang lain, tanpa harus terlibat secara nyata didalamnya. 7. Bylund & Makoul (2002) mengembangkan 6 tingkat empati yang dikodekan dalam suatu sistem (The Empathy Communication Coding System (ECCS) Levels). Berikut adalah contoh aplikasi empati tersebut: a. Level 0: Dokter menolak sudut pandang pasien - Mengacuhkan pendapat pasien - Membuat pernyataan yang tidak menyetujui pendapat pasien seperti; Kalau stress ya, mengapa datang ke sini? Atau Ya, lebih baik operasi saja sekarang. b. Level 1: Dokter mengenali sudut pandang pasien secara sambil lalu - A ha, tapi dokter mengerjakan hal lain: menulis, membalikkan badan, menyiapkan alat, dan lain-lain c. Level 2: Dokter mengenali sudut pandang pasien secara implisit - Pasien, Pusing saya ini membuat saya sulit bekerja - Dokter, Ya...? Bagaimana bisnis Anda akhir-akhir ini? d. Level 3: Dokter menghargai pendapat pasien - Anda bilang Anda sangat stres datang ke sini? Apa Anda mau menceritakan lebih jauh apa yang membuat Anda stres? e. Level 4: Dokter mengkonfirmasi kepada pasien

- Anda sepertinya sangat sibuk, saya mengerti seberapa besar usaha Anda untuk menyempatkan berolah raga f. Level 5: Dokter berbagi perasaan dan pengalaman (sharing feelings and experience) dengan pasien. - Ya, saya mengerti hal ini dapat mengkhawatirkan Anda berdua. Beberapa pasien pernah mengalami aborsi spontan, kemudian setelah kehamilan berikutnya mereka sangat, sangat, khawatir Empati pada level 3 sampai 5 merupakan pengenalan dokter terhadap sudut pandang pasien tentang penyakitnya, secara eksplisit. 8. KODEKI merupakan terjernahan dari The International Code of Medical Ethics yang merupakan rumusan World Medical Association. KODEKI mengatur hubungan antar manusia yang mencakup kewajiban umum seorang dokter, hubungan dokter dengan pasiennya, kewajiban dokter terhadap sejawatnya, dan kewajiban. dokter terhadap did sendiri. Secara terperinci sebagai berikut: a. Hubungan dokter dengan pasien Hubungan dokter dengan pasien adalah hubungan antar manusia. Dalam menjalin hubungan tersebut mungkin timbul pertentangan antara dokter dengan pasien, dikarenakan adanya kepentingan yang berbeda. Hubungan antara dokter dengan pasien dapat terjalin dengan baik, a p a b i l a m a s i n g - m a s i n g p i h a k memahami hak dan kewajibannya dan peraturan perundangan yang berlaku . Lafal Sumpah Jabatan Dokter yang diuc,apkan dokter menyatakan, bahwa, "saya akan senantiasa mengutamakan kesehatan penderita, saya akan berikhtiar dengan sungguh-sungguh supaya tidak terpengaruh oleh pertimbangan keagamaan, kebangsaan, kesukuan, perbedaan kelamin, politik kepartaian, atau kedudukan dalam menunaik an kewajiban terhadap pasien (1st." Hubungan antara dokter dengan pasien yang terjalin secara balk, akan membentuk kesadaran pasien tentang hak yang diperoleh untuk mendapatkan pelayanan kesehatan secara optimal; di samping itu dapat menumbuhkan rasa

kewajiban dokter untuk melaksanakan togas profesinya dengan sebaikbaiknya; b. Kewajiban dokter terhadap sejawatnya KODEKI mengharuskan setiap dokter untuk memelihara hubungan balk dengan teman sejawat dokter sesual Pasal 15, yang menentukan, bahwa "saya akan memperlakukan teman sejawat saya, sebagaimana saya sendiri ingin diperlakukan". Di samping itu, Pasal 16 menentukan, bahwa setiap dokter tidak boleh mengambil alih penderita dari teman sejawatnya tanpa persetujuannya. Hubungan baik di antara teman sejawat dokter dapat bemianfaat untuk kepentingan pasien; c. Kewajiban dokter terhadap diri sendiri P as al 17 KO D EK I menentukan , bahwa setiap dokter berkewajiban agar dapat bekerja dengan baik. Di samping itu, Pasal 18 KODEKI menentukan, bahwa setiap dokter hendaklah senantiasa mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dalam hal ini pendidikan dokter berkelanjutan (continuing medical education). 9. Kesehatan jiwa adalah suatu kondisi yang memungkinkan perkembangan fisik, intelektual dan emosional yang optimal dari seseorang dan perkembangan itu berjalan selaras dengan keadaan orang lain. 10. Ciri-ciri orang yang sehat jiwanya: 1. Merasa senang terhadap dirinya serta a. Mampu menghadapi situasi b. Mampu mengatasi kekecewaan dalam hidup c. Puas dengan kehidupannya sehari-hari d. Mempunyai harga diri yang wajar e. Menilai dirinya secara realistis, tidak berlebihan dan tidak pula merendahkan 2. Merasa nyaman berhubungan dengan orang lain serta

a. Mampu mencintai orang lain b. Mempunyai hubungan pribadi yang tetap c. Dapat menghargai pendapat orang lain yang berbeda 3. Merasa bagian dari suatu kelompok a. Tidak "mengakali" orang lain dan juga tidak membiarkan orang lain "mengakali" dirinya b. Mampu memenuhi tuntutan hidup serta c. Menetapkan tujuan hidup yang realistis d. Mampu mengambil keputusan e. Mampu menerima tanggungjawab f. Mampu merancang masa depan g. Dapat menerima ide dan pengalaman baru h. Puas dengan pekerjaannya

11.

Untuk mencapai jiwa yang sehat diperlukan usaha dan waktu untuk

mengembangkan dan membinanya. Jiwa yang sehat dikembangkan sejak masa bayi hingga dewasa, dalam berbagai tahapan perkembangan. Pengaruh lingkungan terutama keluarga sangat penting dalam membina jiwa yang sehat. Salah satu cara untuk mencapai jiwa yang sehat adalah dengan penilaian diri yaitu bagaimana seseorang melihat dirinya yang berkaitan erat dengan cara berpikir, cara berperan, dan cara bertindak. Beberapa upaya untuk membangun penilaian diri: a. Seseorang harus jujur terhadap diri sendiri. b. Berupaya mengenali diri sendiri dan belajar menerima semua kekurangan dan kelebihannya. c. Bersedia memperbaiki diri sendiri untuk mengatasi kekurangannya d. Menetapkan tujuan dan berusaha mencapainya dengan tidak membandingkan diri sendiri dengan orang lain e. Selalu berusaha untuk mencapai yang terbaik sesuai dengan kemampuan, tetapi tidak boleh terlalu memaksakan diri sendiri.

12. Konsep berpikir kritis adalah cara pikir yang bermula dari masalah atau pertanyaan secara jelas, yang disusul oleh pencarian informasi dan bukti yang terpercaya dengan mempertimbangkan semua situasi yang ada, kemudian menentukan solusi yang paling tepat, ditambah dengan kesadaran penuh akan segala konsekuensinya.

Bab III Penutup Kesimpulan Dasar sikap dalam bidang kedokteran meliputi aspek humaniora, kepribadian, empati, kesehatan jiwa, dan etika, di mana smw aspek tersebut harus diterapkan agar tercipta hubungan yang harmonis.

DAFTAR PUSTAKA Sumber komunikasi dengan empati, informasi dan edukasi: citra profesionalisme kedokteran. Siti Aisyah Boediardja. majalah kedokteran Indonesia volum 58 no 4, april 2009 Humanities in Medical Education: Some Contributions K. Danner Clouser (1990) The Journal of Medicine and Philosophy 15:289-301 Proceeding Konferensi Nasional II Ikatan Psikologi Klinis Himpsi h. 296 300, ISBN : 978-979-21-2845-1 Muhammad Mulyohadi Ali. 2006. Komunikasi Efektif. Jakarta: Konsil Kedokteran Indonesia. Undang-undang No 3 Tahun 1966 BPKM. 2010. Modul EBP3KH. FKUI.