Anda di halaman 1dari 7

PEMBAHASAN Praktikum uji ketoksikan akut ini bertujuan untuk memahami tujuan, sasaran, tata cara pelaksanaan, luaran,

dan manfaat uji ketoksikan akut suatu pestisida (Sipermetrin). Selain itu tujuan percobaan melakukan uji ketoksikan akut yaitu untuk menentukan nillai LD 50 (lethal dose 50). LD 50 yaitu dosis yang menimbulkan kematian pada 50% individu. Pestisida yang digunakan pada praktikum kali ini yaitu Sipermetrin. Sipermetrin ini termasuk insektisida organofosfat. Sifat toksikologi dari Sipermetrin ini antara lain : 1. Toksisitias terhadap sistem saraf pusat Sewaktu terpajan Sipermetrin, neurontransmiter asetilkolin (Ach) dihambat sehinggga terjadi akumulasi Ach. Ach yang ditimbun dalam sistem saraf pusat akan menginduksi tremor, inkoordinasi, dan kejang-kejang, dalam sistem saraf autonom, akumulasi Ach ini akan menyebabkan diare, urinasi tanpa sadar, bronkokonstriksi, dan miosis. Akumulasinya pada taut neuromuskuler akan mengakibatkan kontraksi otot yang diikuti dengan kelemahan, hilangnya refleks, dan paralisis. Pemejanan dari Sipermetrin terhadap hewan uji mencit ini bersifat irreversibel. 2. Karsinogenisitas Sipermetrin tidak bersifat karsinogenik kecuali untuk golongan organofosfat yang mengandung halogen 3. Pemejanan Pemejanan dari Sipermetrin terhadap hewan uji mencit ini bersifat irreversibel di mana hewan uji mengalami efek toksisk sampai menimbulkan kematian. Dalam sistem kekerabatan takaran-respon berlaku beberapa asumsi, yakni : a. Efek toksik merupakan fungsi kadar racun di tempat aksinya b. Kadar racun di tempat aksinya berhubungan dengan takaran pemejanannya c. Respon toksik menunjukkan hubungan sebab akibat dengan racun yang diberikan

Tolak ukur yang digunakan adalah LD50. Kegunaan LD50 antara lain : 1. LD50 dan ED50 dapat digunakan untuk evaluasi batas aman (indeks terapi = LD50/ED50) 2. Untuk merancang uji ketoksikan kronis dan sub-kronis 3. Untuk perkiraan dosis awal pada penelitian lain Subyek uji yang digunakan dalam percobaan yaitu mencit yang merupakan hewan pengerat yang dapat memberikan respon yang mirip manusia. Hewan uji yang dipilih adalah hewan uji yang memiliki kondisi patologis yang baik (dalam keadaan sehat), agar tidak menimbulkan peningkatan efek toksik dari sipermetrin akibat kondisi organ-organ biologis yang kurang baik. Secara fisiologis, mencit yang digunakan dipilih yang berumur dewasa, jika masih anak-anak kondisi fungsi organ belum berkembang baik, semetara jika telah tua fungsi organ telah mengalami penurunan. Pada saat praktikum, peringkat dosis yang digunakan adalah : Dosis I Dosis II Dosis III Dosis IV : 607,6 mg/kg BB : 729,2 mg/kg BB : 875 mg/kg BB : 1050 mg/kg BB

Peringkat dosis yang diberikan merupakan interval logaritma yang memiliki kelipatan tetap yaitu 1,2 kalinya. Sehingga diharapkan pada akhir percobaan dapat dilihat efek yang terjadi 1,2 kalinya dari setiap peringkat dosis yang diberikan. Setelah volume pemejanan diketahui kemudian sipermetrin dipejankan secara p.o (per oral) pada konsentrasi 50g/L dan dilakukan pengamatan gejala ketoksikan dari tiap mencit dan dihitung jumlah mencit yang mati pada tiap peringkat dosis. Efek toksik atau gejala ketoksikan yang diamati pada praktikum antara lain pengamatan sistem saraf pusat dan somatomotor meliputi perilaku (perubahan sikap dan gelisah), perubahan gerakan (tremor dan konvulsi) dan kereaktifan terhadap rangsang (beringas atau pasif), dan ataksia (keseimbangan tubuh). Sasaran kerja sipermetrin adalah neurontransmiter asetilkolin. Mekanisme kerja Sipermetrin ini menghambat asetilkolin esterase yang menyebabkan aktivitas kolinergik yang berlebihan, perangsangan reseptor kolinergik secara terus-menerus akibat penumpukan asetilkolin yang tidak dihidrolisis. Penghambatan asetilkolin esterase juga menimbulkan

polineuropati (neurotoksisitas) mulai terbakar sampai kesemutan, terutama di kaki akibatnya kesukaran sensorik dan motorik dapat meluas ke tungkai dan tangan. Untuk mendapatkan nilai LD50 , dapat dilakukan cara yaitu : Metode Farmakope Indonesia Metode ini dapat digunakan untuk menghitung LD50 karena ada dosis yang menyebabkan kematian pada semua hewan uji (a0). Rumusnya : LD50 = a b ( pi 0,5) Dimana a adalah log dosis untuk dosis yang menyebabkan kematian pada seluruh hewan uji. Kelebihan metode ini adalah : perhitungan mudah dimengerti dan mudah untuk dilakukan. Kekurangan metode ini adalah tidak bisa digunakan jika tidak ada dosis yang menyebabkan kematian pada semua hewan uji. Metode Lietchfield Wilcoxon Metode ini menggunakan kalkulator dengan regresi linier dengan x= log dosis dan y = % kematian. Namun dalam perhitungan untuk dosis yang memiliki persen kematian =100% harus diubah dengan dikurangi variabel tertentu, misal menjadi 97,5% dan dosis yang memiliki % mati = 0 % ditambah dengan variabel (nilai) yang digunakan sebagai faktor pengurang untuk dosis yang memiliki % mati=100%. Jadi dari 0% menjadi 2,5%. Hal ini dilakukan sebagai faktor koreksi. Kelebihan metode ini adalah perhitungan mudah dilakukan, batas keamanan dapat di evaluasi dengan slope. Kekurangan metode ini adalah harus membuat persen mati pada dosis tertinggi dan terendah tidak mutlak (adanya faktor koreksi). Metode Miller Tainter Metode ini juga dilakukan dengan mencari persamaan regresi linier dengan kalkulator. Nilai untuk x = log dosis dan y = nilai probit. Nilai probit didapatkan dari tabel probit. Kelebihan metode ini adalah ada batas taraf keamanan ( batas keamanan bisa dievaluasi dengan adanya slope, variabelitas diperkecil). Kekurangan metode ini adalah sedikit merepotkan karena harus mengkonversikan persen kematian menjadi nilai probit. Metode Thompson Well

Metode ini tergantung hewan uji yang digunakan. Perhitungannya harus menggunakan tetapan (t yang didapat dari metode Thompson-well). Kelemahan metode ini adalah bila komposisi hewan uji yang mati tidak terdapat dalam tabel maka LD50 tidak bisa ditetapkan. Dari hasil praktikum, diperoleh nilai LD50 berdasarkan perhitungan dari 3 metode (Lietchfield Wilcoxon, Miller Tainter, Thompson Well) yang agak berbeda sedikit sehingga dipilih nilai LD50 sebesar 839,46 mg/kgBB mencit (berdasarkan metode Litchfield-Wilcoxon). Dipilih nilai LD50 dari metode ini karena metode ini langsung menyatakan hubungan antara log dosis dan % kematian mencit sehingga menurut praktikan metode ini sangat menunjukkan hasil percobaan. Sehingga dari nilai LD50 dapat kita lihat bahwa LD50 berada pada rentang dosis peringkat 2 dan 3 (729,2 mg/kg BB dan 875 mg/kg BB). Efek toksik dari pestisida sipermetrin dapat dilihat dari perubahan tingkah laku berupa perubahan kesadaran yaitu postur tubuh mengantuk, penurunan aktivitas motorik (diam), dan penurunan ataksia. Hal ini dikarenakan mekanisme kerja sipermetrin yang menghambat pengeluaran asetilkolin terus-menerus tanpa dihidrolisis yang menyebabkan akumulasi asetilkolin. Toksisitas pestisida sangat tergantung pada cara masuknya ke dalam tubuh. Semakin tinggi LD50 dari suatu pestisida menunjukkan bahwa pestisida yang bersangkutan tidak begitu berbahaya bagi manusia. Sasaran uji ketoksikan akut adalah untuk memperoleh data kuantitatif dan kualitatif. Data kuantitatif berupa LD50 sedangkan data kualitatifnya berupa gejala klinis dan morfologi efek toksik senyawa uji sipermetrin. Tujuan dari uji ketoksikan akut adalah untuk menetapkan potensi ketoksikan akut dan untuk menentukan spektrum efek toksik senyawa atas beberapa fungsi vital tubuh utamanya yang memperantarai kematian hewan uji, seperti gerak, perilaku dan ataksia. Sedangkan luaran uji ketoksikan akut adalah data kuantitatif LD50 dan data kualitatifnya adalah gejala klinis, efek toksik senyawa uji.

JAWABAN PERTANYAAN
1.

a. Metode Farmakope Indonesia Metode ini dapat digunakan untuk menghitung LD50 karena ada dosis yang menyebabkan

kematian pada semua hewan uji (a0). Rumusnya : LD50 = a b ( pi 0,5) Dimana a adalah log dosis untuk dosis yang menyebabkan kematian pada seluruh hewan uji.
b. Metode Lietchfield Wilcoxon

Metode ini menggunakan kalkulator dengan regresi linier dengan x= log dosis dan y = % kematian. Namun dalam perhitungan untuk dosis yang memiliki persen kematian =100% harus diubah dengan dikurangi variabel tertentu, misal menjadi 97,5% dan dosis yang memiliki % mati = 0 % ditambah dengan variabel (nilai) yang digunakan sebagai faktor pengurang untuk dosis yang memiliki % mati=100%. Jadi dari 0% menjadi 2,5%. Hal ini dilakukan sebagai faktor koreksi. c. Metode Miller Tainter Metode ini juga dilakukan dengan mencari persamaan regresi linier dengan kalkulator. Nilai untuk x = log dosis dan y = nilai probit. Nilai probit didapatkan dari tabel probit d. Metode Thompson-well Metode ini tergantung hewan uji yang digunakan. Perhitungannya harus menggunakan tetapan (t yang didapat dari metode Thompson-well) Rumus : log LD50 = log Do + (d(f+1)) Do = peringkat dosis rendah d = logaritma factor kelipatan dosis f = tetapan berdasarkan jumlah kematian hewan uji sesuai tabel Thompson-Weil

2. Tujuan dari uji ketoksikan akut adalah untuk menetapkan potensi ketoksikan akut dan untuk menentukan spectrum efek toksik senyawa atas beberapa fungsi vital tubuh utamanya yang memperantarai kematian hewan uji, seperti gerak, perilaku dan pernafasan. Sedangkan luaran uji ketoksikan akut adalah data kuantitatif LD50 dan data kualitatifnya adalah gejala klinis, efek toksik senyawa uji. Sasaran uji ketoksikan akut adalah untuk memperoleh data kuantitatif dan kualitatif. Data kuantitatif berupa LD50 sedangkan data kualitatifnya berupa gejala klinis dan morfologi efek toksik senyawa uji propanolol HCl. Manfaat dari uji ketoksikan akut :
3.

Mengetahui batas aman/IT senyawa obat terkait, dan untuk menetapkan potensi ketoksikan akut senyawa relative terhadapa senyawa lain. Memperkirakan dosis awal atau dosis terapi penelitian lain.

LD50 yaitu dosis yang menyebabkan 50% kematian populasi LC50 yaitu konsentrasi yang menyebabkan 50% kematian populasi

KESIMPULAN
1. Dosis ketoksikan akut (LD50) Sipermetrin yang diperoleh dari percobaan adalah sebesar

839,46 mg/kg BB 2. Pestisida bersifat toksik bahkan sampai dapat menyebabkan kematian 3. Pada mamalia efek utama yang ditimbulkan sipermetrin adalah menghambat asetilkolin esterase yang menyebabkan aktivitas kolinergik yang berlebihan, perangsangan reseptor kolinergik secara terus-menerus akibat penumpukan asetilkolin yang tidak dihidrolisis 4. Gejala yang timbul akibat pemejanan akut dari pestisida sipermetrin pada mencit adalah perubahan tingkah laku, perubahan gerakan, perubahan kereaktifan, perubahan sifat dan perubahan ataksia (keseimbangan tubuh).

Anda mungkin juga menyukai