Anda di halaman 1dari 8

ANALGESIK NARKOTIK

Analgesik opioid / narkotik merupakan kelompok obat yang memilikisifat-sifat seperti opium atau morfin. Golongan obat ini digunakan untuk meredakan atau menghilangkan rasa nyeri seperti pada fractura dan kanker.

Bahan analgesik sistemik (termasuk narkotik) cukup sering dipergunakan pada persalinan kala pertama karena obat-obat ini memproduksi baik keadaan analgesia maupun peningkatan mood. Obat yang disukai untuk keadaan ini adalah codeine 60 mg intramuskuler atau meperidine 50-100 mg intramuskuler atau 25-50 mg intravena (titrasi). Kombinasi morfin dan skopolamin dulu populer untuk efek twilight sleep namun sekarang jarang dipergunakan. Efek yang tidak diinginkan pada kombinasi obat ini adalah mual dan muntah, supresi batuk, stasis intestinal, dan penurunan frekuensi, intensitas, dan durasi kontraksi uterus pada awal kala satu persalinan. Dan juga amnesia yang terjadi pada pasien ini dapat berlebih.

Morphine tidak dipergunakan pada pasien yang berada dalam persalinan aktif karena depresi pernafasan berlebih yang terjadi pada neonatus dibandingkan dengan dosis equipoten dari narkotik lain. Fetus yang berada pada keadaan young gestational age, small for dates, atau mengalami trauma atau persalinan yang panjang lebih rawan terhadap narkosis. Meperidine dan Promethazine Meperidine, 50-100 mg, dengan promethazine, 25 mg, dapat diberikan secara intramuskuler dengan interval 2-4 jam. Efek yang yang lebih cepat dapat dicapai dengan memberkan meperidine secara intravena dalam dosis 25-50 mg setiap 1-2 jam. Dimana analgesia maksimal dapat dicapai dalam 30-45 menit setelah injeksi intramuskuler, dicapai segera setelah pemberian intravena. Meperidine melintasi plasenta, dan waktu paruhnya pada bayi kira-kira 13 jam atau lebih pada neonatus. Efek depresan pada fetus berada sedikit di atas efek analgesik puncak maternal. Pada penelitian terandomisasi analgesia epidural yang dilakukan pada Parkland Hospital, Analgesia intravena yang dikontrol oleh pasien merupakan metoda yang efektif dan tidak mahal untuk analgesia persalinan (Sharma dan rekan, 1997). Sejumlah wanita yang telah terandomisasi untuk

menerima analgesia yang dosisnya diatur sendiri diberikan 50 mg meperidine dengan 25 mg promethazine intravena sebagai bolus pertama. Setelahnya, sebuah pompa infus diatur untuk memberikan 15 mg meperidine setiap 10 menit apabila diperlukan sampai saatnya persalinan dimulai. Nilai rata-rata dan nilai maksimum dosis meperidine adalah 140 dan 500 mg. seperempat dari wanita dalam percobaan menerima lebih dari 200 mg meperidine saat persalinannya. Tingkat sedasi neonatal yang diukur dengan kebutuhan perlakuan dengan naloxone dalam ruangan persalinan, ditemukan pada 3% dari bayi baru lahir. Butorphanol Narkotik sintetik ini, diberikan dalam dosis 1 sampai 2 mg, setara dengan 40-60 mg meperidine (Quiligan dan rekan, 1980). Efek samping utama yang terjadi adalah somnolens, pusing, dan disphoria. Depresi pernafasan neonatus dilaporkan lebih jarang dibandingkan dengan meperidine, namun harus hati-hati jangan sampai kedua obat tersebut dipergunakan bersaaan karena butorphanol memiliki antagonisme terhadap efek narkotik meperidine. Angel dan rekan (1984) dan Hatjis dan Meis (1986) menerangkan pola denyut jantung bayi sinusoidal setelah pemberian butorphanol. Fentanyl Opioid sintetik yang short acting dan sangat poten ini dapat diberikan dalam dosis 50 sampai 100 g secara intravena setiap jamnya. Kerugian utamanya adalah durasi kerja yang pendek, yang memerlukan pemberian obat yang berulang atau penggunaan pompa intravena yang dikendalikan oleh pasien. Atkinson dan rekan (1994) melaporkan bahwa butorphanol menyediakan analgesia yang lebih baik daripada fentanyl dan berhubungan dengan lebih sedikitnya permintaan untuk analgesia epidural. Fentanyl merupakan narkotik sintetik yang dipergunakan secara sistemik maupun dalam kompartemen epidural. Penggunaan obat ini dalam kompartemen epidural memiliki keberhasilan yang tinggi saat dikombinasikan dengan sejumlah kecil bupivacaine dalam konsentrasi rendah.

- Mekanisme kerja: Lebih poten dari pada morfin. Depresi pernapasan lebih kecil kemungkinannya. - Indikasi: Medikasi praoperasi yang digunakan dalan anastesi. - Efek tak diinginkan: Depresi pernapasan lebih kecil kemungkinannya. Rigiditas otot, bradikardi ringan.

Fentanil

Thiobarbiturat Anestesi intravena seperti thiopental dan thiamylan dipergunakan secara luas dalam bedah umum, namun kurang dari 4 menit setelah thiobarbiturat diinjeksikan pada vena ibu, konsentrasi obat dalam darah ibu dan janin akan menjadi sama. Sang ibu akan kehilangan ksadaran dan refleks proteksi saluran nafas dengan dosis 1,5-2 mg/kg; oleh karena itu obat-obat ini harus dipergunakan bersamaan dengan anestesia umum endotrakeal. Propofol Propofol merupakan agen induksi yang diperkenalkan pada praktek kedokteran di Amerika Serikat pada awal 1990-an. Obat ini merupakan propylphenol hidrofobik yang diformulasikan sebagai emulsi aqueous dlaam fosfatide telur dan kacang kedelai. Sebagai agen induksi, obat ini sama dengan barbiturat dlaam depresi kardiak ringan dan hilangnya tonus vasomotor perifer. Obat ini memberikan keuntukngan berupa clearance yang cepat, durasi kerja yang cepat, efek antiemetik, dan berkurangnya resiko reaktifitas jalan nafas. Obat ini merupakan agen ideal bagi induksi anestesi umum pada dosis 2mg/kg berat badan pada parturien. Obat ini dapat diberikan dalam dosis 10-20 mg saat pembedahan dilakukan dalam keadaan blok regional untuk mengobati mual-muntah. Skor apgar dan gas umbilikus sama setelah induksi dengan propofol dan dengan barbiturat Ketamine

Derivat phencyclidine, ketamin menimbulkan anestesia dengan interupsi disosiatif dari jalur afferen dari persepsi korteks. Obat ini berguna dan dipergunakan secara luas pada obstetrik karena karena status kardiovaskuler ibu dan aliran darah ibu tetap terjaga dengan baik. Pada dosis kecil sebesar 0,25-o,5 mg/kg berat badan secara intravena, analgesia maternal efektif terjadi tanpa kehilangan kesadaran maupun reflek-reflek protektif. Namun, margin of safety dari obat ini sempit, sehingga obat ini hanya boleh dipergunakan oleh dokter yang dapat melindungi dan mengamankan jalan nafas apabila kehilangan kesadaran terjadi. Untuk kelahiran secara bedah caesar, induksi anestesi umum dapat dicapai dengan 1-2mg/kgbb secara intravena dan diikuti segera dengan pelemas otot (muscle relaxant) dan intubasi endotrakeal. Ketamin berguna pada keadaan kehilangan darah banyak, saat induksi cepat dari anestesia umum diperlukan. Namun, obat ini memiliki efek halusinogenik yang membatasi kegunaannya dalam obstetrik. Ketamine menstimulasi sistem kardiovaskuler untuk menjaga denyut jantung, tekanan darah, dan cardiac output; oleh karena itu obat ini berguna pada situasi komplikasi hiptensi/perdarahan maternal.

Kodein - Mekanisme kerja: sebuah prodrug 10% dosis diubah menjadi morfin. Kerjanya disebabkan oleh morfin. Juga merupakan antitusif (menekan batuk) - Indikasi: Penghilang rasa nyeri minor - Efek tak diinginkan: Serupa dengan morfin, tetapi kurang hebat pada dosis yang menghilangkan nyeri sedang. Pada dosis tinggi, toksisitas seberat morfin.

Kodein

Metadon. - Mekanisme kerja: kerja mirip morfin lengkap, sedatif lebih lemah. - Indikasi: Detoksifikas ketergantungan morfin, Nyeri hebat pada pasien yang di rumah sakit. - Efek tak diinginkan: * Depresi pernapasan * Konstipasi * Gangguan SSP * Hipotensi ortostatik * Mual dam muntah pada dosis awal

Methadon

Senyawa Analgetik Narkotik Analgesik narkotik, seperti meperidin (Dernerol) dan entanil (Sublimaze), terutama efektif untuk menurunkan nyeri berat, nyeri persisten, dan nyeri rekuren. Agen- agen ini juga tidak memberi efek amnesia. Meperidin mengatasi faktor- faktor penghambat persalinan dan bahkan merelaksasi serviks. Meperidin ialah agen narkotika yang paling sering diberikan kepada wanita bersalin (Scott, dkk., 1990). Setelah injeksi IV, awitan datang dengan cepat (30 detik) dan efek maksimum dicapai dalam 5 sampai 10 menit. Efek puncak setelah injeksi IM dicapai dalam 40 sapai 50 menit, dengan durasi sekitar 3 jam. Untuk meminimalkan depresi neonatus, secara ideal proses kelahiran harus berlangsung kurang dari satu atau lebih dari empat jam setelah injeksi IM. Karena takikardi merupakan efek samping yang dapat timbul, meperidin digunakan dengan sangat hati-hati pada wanita yang menderita penyakit jantung. Fentalanil merupakan analgesik narkotika yang kerjanya cepat dan kuat. Setelah injeksi IV, awitan efek samping obat terjadi dalam 2 menit dan berlangsung selama seitar 30 sampai 60 menit. Awitan efek samping obat setelah injeksi IM timbul dalam 7 sampai 15 menit, mencapai efek puncak dalam 20 30 menit dan berlangsung selama 1 sampai 2 jam. Sistem syaraf pusat (SSP) tambahan dan depresi pernapasan terjadi jika fentanil diberikan bersama alkohol, antihistamin, antiepresan atau sedatif/ hipnotik lain.

Senyawa Antagonis Agonis Narkotik Campuran Agonis ialah agens yang mengaktifkan sesuatu, sedangkan antagonis ialah agen yang menghambat supaya sesuatu tidak terjadi. Senyawa antagonis- agonis campuran, seperti butorfanol (Stadol) dan nalbufn (Nubain), dalam dosis yang digunakan selama persalinan, memberi efek analgesia tanpa menyebabkan depresi pernapasan pada ibu atau neonatus. Baik rute IM maupun IV digunakan dalam pemberian agen- agen tersebut. Buforfanol ( 1 sampai 3 mg IM; 0,5 sampai 2 mg IV) atau nalbufin (0,2 mg/ kg subkutan (SC)/ IM ; 0,1 sampai 0,2 mg/ kg

IV) dapat diberikan selama tahap pertama persalinan. Apabila wanita sebelumnya mengalami ketergantungan narkotika, efek antagonis senyawa ini akan segera membuat memperlihatkan gejala putus narkotika. Antagonis Narkotik Agen narkotika, seperti meperidin dan fentanil, dapat menimbullkan depresi SSP yang terlalu berat pada ibu atau pada bayi baru lahir. Antagonis narkotika, seperti nalokson (Narcan) dan naltrekson (Trexan), membalim kerja narkotika dengan segera. Selain itu, ntagonis narkotika juga melawan efek endrofin, yakni menimbulkan stres. Endrofin merupakan opioid endogen yang disekresi oleh kelenjar hipofisis dan bekerja pada SSP dan sistem syaraf perifer untuk mengurangi nyeri. Beta endrofin ialah jenis endropin yang paling kuat. Fungsi fisiologis endrofin belum dimengerti sepenuhnya. Endrofin diduga meningkat selama masa hail dan bersalin dan dapat meningkatkan kemampuan ibu yang sedang melahirkan sehingga ia dapat lebih menoleransi nyeri akut. Antagonis narkotika terutama bermanfaat jika kita akan dan bayi diduga akan lahir saat efek narkotika berada dipuncak. Antagonis ini dapat diberikan kepada ibu melalui selang infus atau melalui injeksi IM di otot gliteus. Antagonis narkotika melawan kerja narkotika pada ibu dan neonatus. Ibu perlu diberitahu bahwa dengan memberikan antagonis ini, neri akan terasa kembali. Antagonis narkotika harus diberikan dengan hati- hati kepada wanita yang mengalami ketergantungan-substansi karena hal ini dapat menimbulkan gejala putus obat. Narkotik antagonis dapat diberikan kepada bayi baru lahir. Narkosis neonatus, suatu kondisi depresi SSP pada bayi baru lahir, yang disebabkan oleh narkotika, dapat ditunujkan oleh depresi pernapasan, hipotonia, letargi, dan perlambatan pengaturan suhu. Perubahan respon neurologi dan perilaku mulai terlihat 72 jam setelah bayi lahir. Meperidin dapat tetap ditemukan dalam air kemih bayi samapi usia bayi tiga minggu. Depresi perhatian ringan dan depresi respons sosial sapat terlihat sampai enam minggu (Briggs, Freeman, Yaffe,1986). wanita itu