Anda di halaman 1dari 136

KONSTRUKSI BAJA ASD

PPBBI-1983

KONSTRUKSI BAJA – ASD PPBBI-1983 K a r y o t o JURUSAN TEKNIK SIPIL FAKULTAS

K a r y o t o

KONSTRUKSI BAJA – ASD PPBBI-1983 K a r y o t o JURUSAN TEKNIK SIPIL FAKULTAS

JURUSAN TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA

2011

UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA | Konstruksi baja-ASD

UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA | Konstruksi baja-ASD i

i

UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA | Konstruksi baja-ASD i

Kata Pengantar

Buku pegangan ini dibuat dengan maksud dapat dijadikan panduan bagi mahasiswa yang memprogram mata kuliah Konstruksi Baja I. Buku ini disusun dengan menggunakan Peraturan Pelaksanaan Bangunan Baja Indonesia tahun 1983 (PPBBI-1983). Adapun konsep analisis menggunakan metode tegangan yang diijinkan (Analysis Strength Design). Mudah-mudahan buku pegangan ini dapat memberikan kemudahan pada mahasiswa dan pembelajaran menjadi suasana yang menyenangkan.

Surabaya, 16 Desember 2011

UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA | Konstruksi baja-ASD

UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA | Konstruksi baja-ASD i

i

UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA | Konstruksi baja-ASD i

Daftar Isi

Kata pengantar

i

Daftar isi

ii

I. Teknologi Baja

1

II. Sambungan

11

 

Tugas 1

38

III. Batang Tarik

39

IV. Batang Tekan (kolom)

41

 

Tugas 2

54

V. Balok

55

VI. Stabilitas Pelat

61

 

Tugas 3

74

VII. Balok-kolom

75

 

Tugas 4

86

VIII. Balok Keran

87

 

Tugas 5

98

IX. Konstruksi Jembatan

100

 

Tugas 6

112

X. Jembatan rangka

113

 

Tugas 7

127

Daftar Pustaka.

UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA | Konstruksi baja -ASD

UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA | Konstruksi baja -ASD ii

ii

UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA | Konstruksi baja -ASD ii

I. TEKNOLOGI BAJA

1. Latar Belakang

1. Perkembangan teknologi baja

1777 1870

- Besi tuang

1855

- Bessemer

1870

- Penyempurnaan konvertor Bessemer

1890

- Baja konstruksi

2. Pembuatan baja Logam yang penting dalam lapangan teknik adalah besi, yang berarti: unsur besi murni (Fe) BJ=7,876, dan besi teknik BJ=7,85. Besi teknik terdiri dari besi mentah tidak dapat ditempa C >3,5% ; besi tuang yang tidak dapat ditempa C >2,3% ; dan baja yang dapat ditempa C < 1,7%. Baja adalah besi yang dapat ditempa, kadar zat-arangnya di bawah 1,7%. Baja dibuat dari besi mentah (yang diperoleh dari dapur tinggi) yang diproses melalui konventor atau dapur Siemens-Martin dalam pabrik baja.

a.

1)

2)

3)

Dapur tinggi Bahan-bahan Bahan dasar membuat besi mentah adalah biji besi yang prosentase besinya sebesar mungkin. Besi ini berupa Fe 3 O 4 dan Fe 2 O 3 atau karbonat besi FeCO 3 yang dinamakan batu besi-spat. Batu ini berbentuk bongkah-bongkah yang tidak sama besarnya kemudian dimasukkan ke mesin pemecah batu sehingga mempunyai iukuran paling besar 60mm. Bahan tambahan yang diperlukan untuk mempersatukan abu kokas dan batu-batuan ikutan yang asam (SiO 2 ) hingga menjadi terak, yang dengan mudah dapat dipisahkan dari besi mentah yang menjadi cair dipakai batu kapur (CaCO 3 ). Apabila batu-batuan ikutan basa, dipakai bahan tambahan asam misalnya fluorid kalsium (CaFO 2 ). Kokas Kokas adalah bahan bakar yang dibuat dari dari batu bara dengan jalan menyuling-kering batu bara. Bagian yang terdiri dari gas, ter dan air dikeluarkan, yang tinggal hanyalah zat arang ( C ) dan abu, inilah yang dinamakan kokas. Pembuatan Dapur tinggi terdiri dari dua bagian utama ialah pemrosesan dan cerobong yang mempunyai jarak kira-kira 30 m. Di dalam dapur tinggi terdapat 3 daerah ialah: dari muncung dapur ke bawah adalah daerah pemanas pendahuluan dengan suhu 200 0 -800 0 C; bagian paling lebar adalah daerah reduksi dengan suhu 800 0 -1400 0 C, dan daerah hentian ke muncung tiup dengan suhu paling tinggi 1400 0 -1600 0 C. Bahan dasar dimasukkan terlebih dahulu dikeringkan pada muncung dapur oleh gas dapur tinggi. Lebih ke bawah di dalam dapur dengan suhu 400 0 C, oksid-oksid besi yang tinggi mulai diubah menjadi oksid-oksid rendah oleh monoksid arang (CO) yang naik ke atas menurut rumus:

besi yang tinggi mulai diubah menjadi oksid-oksid rendah oleh monoksid arang (CO) yang naik ke atas
besi yang tinggi mulai diubah menjadi oksid-oksid rendah oleh monoksid arang (CO) yang naik ke atas
besi yang tinggi mulai diubah menjadi oksid-oksid rendah oleh monoksid arang (CO) yang naik ke atas

Fe 3 O Fe 2 O

4 +CO 3 + 3 CO

3FeO+CO 2 3FeO+CO 2
3FeO+CO 2
3FeO+CO 2
ke atas menurut rumus: Fe 3 O Fe 2 O 4 +CO 3 + 3 CO
ke atas menurut rumus: Fe 3 O Fe 2 O 4 +CO 3 + 3 CO

Perubahan dengan CO ini dinamakan reduksi tidak langsung, proses ini berlangsung terus di dalam seluruh daerah reduksi.

Pada suhu 900 0 C batu kapur dan batu besi spat terurai menurut rumus:

CaCO 3

CaO+CO 2 2

FeCO 3

FeO+CO 2 2

Di dalam daerah lebur terjadi reduksi langsung oleh zat arang sendiri

menurut rumus FeO+C Fe+CO Selanjutnya di dalam daerah lebur terjadi terak cair, yaitu dari batu kapur , batu ikutan dan abu kokas menurut rumus:

dari batu kapur , batu ikutan dan abu kokas menurut rumus: CaO+SiO 2 CaSiO 2 (silikat

CaO+SiO 2

kapur , batu ikutan dan abu kokas menurut rumus: CaO+SiO 2 CaSiO 2 (silikat kalsium) Bila

CaSiO 2 (silikat kalsium)

Bila biji mengandung mangaan (Mn) :

MaO+SiO 2

kalsium) Bila biji mengandung mangaan (Mn) : MaO+SiO 2 MnSiO 2 (silikat mangaan) Sebagai hasil antaranya

MnSiO 2 (silikat mangaan)

Sebagai hasil antaranya terjadi pula terak yang mengandung besi (FeSiO) , yang di bagian palin bawah dari daerah lebur dapat direduksi kembali oleh arang memijar menurut rumus:

FeO+SiO 2

FeSiO 2 (terak besi) 2 (terak besi)

FeSiO 2

FeO+SiO 2 (penguraian) 2 (penguraian)

FeO+C

Fe+CO (reduksi)FeO+C

Karena udara yang dimasukkan pada muncung-muncung tiap suhu 900 0 C, kokas yang terbakar menurut rumus C+O 2 CO 2 maka dihasilkan kalor yang diperlukan untuk dapat berlangsungnya proses. Tetapi dioksid arang (CO 2 ) yang terjadi sebagian direduksi kembali oleh kokas memijar yang letaknya lebih tinggi: CO 2 +C 2 CO Dengan demikian selalu tersedia monoksid arang (CO) untuk reduksi tidak langsung. Kokass 58% diperlukan untuk memanaskan dan 42% untuk mereduksi. Proses dapur tinggi tidak diperoleh besi (Fe) yang murni secara kimia, karena zat arang ( C ) dengan mudah larut dalam besi didaerah lebur dan menjadi karbit-besi (Fe 3 C). Kadar zat arang di dalam besi mentah rata-rata 3,5-4% , jadi besi tidak dapat ditempa. Teknologi dapur tinggi selalu berkembang dari kapasitas produksi 700 ton perhari berkembang sampai kapasitas 1200 ton perhari. Penggunaan tenaga listrik juga digunakan pada daerah yang memghasilkan batu bara yang kurang baik mutunya.

daerah yang memghasilkan batu bara yang kurang baik mutunya. b. Konventor 1) Bahan dasar baja adalah
daerah yang memghasilkan batu bara yang kurang baik mutunya. b. Konventor 1) Bahan dasar baja adalah

b.

Konventor

1)

Bahan dasar baja adalah besi mentah dari dapur tinggi. Bahan campuran yang tidak berguna seperti zat arang, silisium dan manggan, yang tidak dapat dibuang dalam dapur tinggi harus dibakar menjadi terak melalui konventor. Proses Bessemer

2)

Proses Bessemer digunakan untuk mengubah besi mentah kelabu menjadi besi yang dapat ditempa dengan pengaruh oksidasi dari aliran udara yang dihembuskan melalui logam yang sedang cair Proses Thomas Perbaikan dari proses Bessemer dilakukan oleh seorang Inggris Thomas dan memberikan hasil yang memuaskan. Proses Thomas menggunakan konvertor yang bersifat basa, yaitu kapur dan oksid magnesium (CaO +MgO).

Thomas menggunakan konvertor yang bersifat basa, yaitu kapur dan oksid magnesium (CaO +MgO). Konstruksi baja-ASD Page
Thomas menggunakan konvertor yang bersifat basa, yaitu kapur dan oksid magnesium (CaO +MgO). Konstruksi baja-ASD Page

c. Dapur Siemens-Martin Dapur Siemens-Martin ialah sebuah dapur nyala api. Pada dapur ini pencairan berada di dalam sebuah tungku yang terbuat dari batu tahan api, sedangkan pemanasan berlangsung dari atas oleh nyala gas. Muatan sebesar 60-100 ton akan memerlukan pemrosesan selama 7-9 jam.

d. Dapur cawan Dapur cawan ialah sebuah dapur nyala api regenerator seperti dapur Siemens-Martin. Pencairan tidak di dalam tungku melainkan di dalam cawan-cawan yang berdiri di dalam dapur yang berderet. Cawan terbuat dari tanah liat tahan api dengan grafit. Banyaknya cawan 20-100 cawan dan setiap cawan berisi 30 kg baja.

e. Dapur elektro Dapur elektro tidak memakai nyala api dan gas-gas pembakaran oksidasi terjadi dengan udara dan reduksi hanya dengan campuran campuran tambahan, terutama dengan bijih dan kulit besi. Kalor diadakan oleh busur cahaya, biasanya dengan 3 buah elektroda-arang untuk arus listrik putar, dapur ini isinya sampai 100 ton.

2. Baja struktural :

1. Baja karbon Baja karbon adalah baja yang terdiri dari a) karbon 1,7 ; b) mangan 1,65 ; c) silicon 0,6 ; d) tembaga 0,6 Baja karbon dibedakan menjadi :

Baja karbon rendah < 0,15 % Baja karbon lunak 0,15 - 0,29 % Baja karbon sedang 0,30 - 0,59 % Baja karbon tinggi 0,60 - 1,70 % Baja struktural adalah baja karbon lunak 0,25 0,29 % Menaikkan karbon akan menaikkan tegangan leleh, ductility turun dan sukar dilas

2. Baja paduan rendah berkekuatan tinggi Baja karbon + (Vanadium + chrom + columbium + tembaga + mangan, molybdenum + nikel +phosphor) agar sifat mekanisme lebih baik Baja karbon menaikkan kekuatan dengan menaikkan karbon Baja paduan menaikkan kekuatan dengan memperbaiki mikro strukstur

3. Baja paduan Pendinginan dan pemanasan untuk menaikkan kekuatan Pendinginan dalam air (quenched) akan menghasilkan martensit yaitu mikrostruktur yang sangat keras, kuat dan getas Pemanasan (tempered) kembali akan menghasilkan pengurangan sedikit kekuatan dan kekerasan tetapi menaikkan keliatan dan daktilitas

pengurangan sedikit kekuatan dan kekerasan tetapi menaikkan keliatan dan daktilitas Konstruksi baja-ASD Page 3
pengurangan sedikit kekuatan dan kekerasan tetapi menaikkan keliatan dan daktilitas Konstruksi baja-ASD Page 3
Gambar 1.1: Proses produksi baja Konstruksi baja-ASD Page 4

Gambar 1.1: Proses produksi baja

Gambar 1.1: Proses produksi baja Konstruksi baja-ASD Page 4
Gambar 1.1: Proses produksi baja Konstruksi baja-ASD Page 4

3.

Pengujian :

1. Percobaan statik

a. Percobaan tarik

3. Pengujian : 1. Percobaan statik a. Percobaan tarik A B A B A-A B-B Gambar
A B A B
A
B
A
B
A-A B-B
A-A
B-B

Gambar 1.2 : Benda uji untuk percobaan tarik

Dari percobaan tarik akan menghasilkan:

ζ

P δ l

;

P.L

A E.A

ε

δ

l

L

;

ζ

u

ζ

n

P = Beban pengujian

A

L

= Luas penampang benda uji (pot.A-A)

= Panjang benda uji

l

= perpanjangan benda uji

= regangan

u = perpanjangan pengecilan

penampang benda uji = angka Poisson

= modulus elastis/secan modulus baja (benda uji)

E

Harga n berkisar sebagai berikut:

1)

Beban diam/static n = 3 4

2)

Beban dinamik : rantai keran, batang motor diesel n = 5 8

3)

Beban dinamik : batang penggerak lokomotif n = 8 10

b. Percobaan tekan

ζζ ζ

tk

tekan

c. Percobaan geser

tekan ζ  ζ  ζ tk tekan c. Percobaan geser η  0,6. ζ Gambar
tekan ζ  ζ  ζ tk tekan c. Percobaan geser η  0,6. ζ Gambar
tekan ζ  ζ  ζ tk tekan c. Percobaan geser η  0,6. ζ Gambar
tekan ζ  ζ  ζ tk tekan c. Percobaan geser η  0,6. ζ Gambar
tekan ζ  ζ  ζ tk tekan c. Percobaan geser η  0,6. ζ Gambar
tekan ζ  ζ  ζ tk tekan c. Percobaan geser η  0,6. ζ Gambar
tekan ζ  ζ  ζ tk tekan c. Percobaan geser η  0,6. ζ Gambar
tekan ζ  ζ  ζ tk tekan c. Percobaan geser η  0,6. ζ Gambar
tekan ζ  ζ  ζ tk tekan c. Percobaan geser η  0,6. ζ Gambar
tekan ζ  ζ  ζ tk tekan c. Percobaan geser η  0,6. ζ Gambar
tekan ζ  ζ  ζ tk tekan c. Percobaan geser η  0,6. ζ Gambar
tekan ζ  ζ  ζ tk tekan c. Percobaan geser η  0,6. ζ Gambar
tekan ζ  ζ  ζ tk tekan c. Percobaan geser η  0,6. ζ Gambar
tekan ζ  ζ  ζ tk tekan c. Percobaan geser η  0,6. ζ Gambar
tekan ζ  ζ  ζ tk tekan c. Percobaan geser η  0,6. ζ Gambar
tekan ζ  ζ  ζ tk tekan c. Percobaan geser η  0,6. ζ Gambar
tekan ζ  ζ  ζ tk tekan c. Percobaan geser η  0,6. ζ Gambar
tekan ζ  ζ  ζ tk tekan c. Percobaan geser η  0,6. ζ Gambar
tekan ζ  ζ  ζ tk tekan c. Percobaan geser η  0,6. ζ Gambar
tekan ζ  ζ  ζ tk tekan c. Percobaan geser η  0,6. ζ Gambar

η0,6.ζ

Gambar 1.3 : Percobaan geser

ζ  ζ  ζ tk tekan c. Percobaan geser η  0,6. ζ Gambar 1.3
ζ  ζ  ζ tk tekan c. Percobaan geser η  0,6. ζ Gambar 1.3

d. Percobaan lengkung

e. Percobaan puntir

2. Percobaan dinamik

M

W

M

W

ζ l ζ

a. Percobaan takik dari Charpy

M W ζ l  ζ  a. Percobaan takik dari Charpy  ζ  0,7.

ζ

0,7.ζ

ζ  a. Percobaan takik dari Charpy  ζ  0,7. ζ Gambar 1.4 : Percobaan

Gambar 1.4 : Percobaan takik dari Charpy

Benda di uji sampai patah. Kekenyalan takik BJ.37 = 9,5 kgm/cm 2

b. Percobaan tahan lama dengan muatan berubah-ubah Digunakan mesin pukul +lengkung Ketahanan lama = 0,28 (batas muai +batas patah)

c. Percobaan tahan lama statik Batang ditarik sampai patah tetapi beban tidak ditambah, terjadi peristiwa “merangkak”

3. Percobaan teknologi

a. Kekerasan Brinell

P

d D
d
D

Kekerasan Brinell (H):

H

2.P

Kekerasan Brinell P d D Kekerasan Brinell (H): H  2.P π.D.(D D d ) 

π.D.(D D d )

2

2

6

BJ.37 : ζ l 0,35 .H

Gambar 1.4 : Percobaan kekerasan Brinell

b. Analisis teknologi

1. Analisis kimia

2. Analisis metalurgi

3. Analisis metalurgi dengan gelombang pendek (x , ρ , γ)

4. Analisis korosi kimia

5. Percobaan korosi

6. Analisis kimia elektro

pendek (x , ρ , γ) 4. Analisis korosi kimia 5. Percobaan korosi 6. Analisis kimia
pendek (x , ρ , γ) 4. Analisis korosi kimia 5. Percobaan korosi 6. Analisis kimia

4.

Mutu baja struktural :

1. Mutu baja menurut ASTM

Tabel 1.1 : Mutu baja menurut ASTM

Jenis

Kode ASTM

σy

σu

Tebal

(MPa)

(MPa)

(mm)

Karbon Baja paduan rendah, berkekuatan tinggi

A-36

250

400-550

203

A-242

275

415

102-203

A-440

290

435

38-102

A-441

315

460

19-38

 

345

485

 

19

Columbium-vanadium, baja paduan rendah, berkekuatan tinggi

A-572

     

Mutu 42

290

415

~ 152,4

Mutu 45

310

415

~

50,8

 

Mutu 50

345

450

~

50,8

Mutu 55

380

485

~

38,1

Baja paduan rendah berkekuatan tinggi

A-588

     

Mutu 60

415

520

~

31,8

 

Mutu 65

450

550

~

31,8

Mutu 42

290

435

127

203

Mutu 46

315

460

102

127

Mutu 50

345

485

~

102

Gambar diagram hasil pengujian tarik:

550 500 450 400 350 300 250 200 150 100 50 0 0 4 8
550
500
450
400
350
300
250
200
150
100
50
0
0
4
8
12
16
20
24
28
32
Tegangan tarik (σ)= Mpa

A-441

A-36

Regangan m/m x 10 -5 ()

Gambar 1.5 : Grafik tegangan - regangan

(σ)= Mpa A-441 A-36 Regangan m/m x 10 -5 (  ) Gambar 1.5 : Grafik
(σ)= Mpa A-441 A-36 Regangan m/m x 10 -5 (  ) Gambar 1.5 : Grafik
370 240 160 plastis elastis Tangen modulus=Modulud elastis (E) 0 4 8 12 16 20
370
240
160
plastis
elastis
Tangen modulus=Modulud elastis (E)
0
4
8
12
16
20
24
28
32
Tegangan tarik (σ)= Mpa

Regangan m/m x 10 -5 ()

Gambar 1.6 : Grafik tegangan regangan BJ.37

Modulus elastic (E) =

Modulus gelincir (G) =

.

.

.

.

Angka poisson

l

d

Angka pemuaian linier

t

kg cm kg cm

tan

/

. L

L o

2

/

0

per C

2

2. Mutu baja menurut PPBBI-1983

Tabel 1.2 : Mutu Baja menurut PPBBI-1983

Macam baja

Tegangan leleh

Tegangan dasar

(σy)

(σ)

Lama

Baru

Kg/cm 2

MPa

Kg/cm 2

MPa

St.33

BJ.33

2000

200

1333

133,3

St.37

BJ.37

2400

240

1600

160

St.44

BJ.44

2800

280

1867

186,7

St.52

BJ.52

3600

360

2400

240

Modulus elastisitas Modulus gelincir Angka perbandingan Poisson Koefisien pemuaian linier

= E = 2,1.10 6 MPa = G = 0,81.10 6 MPa = u = 0,30 = 12.10 -6 per 0 C

Harga-harga yang tercantun dalam tabel 1.2. ini adalah untuk elemen-elemen yang tebalnya kurang dari 40 mm. Untuk elemen-elemen yang tebalnya lebih

untuk elemen-elemen yang tebalnya kurang dari 40 mm. Untuk elemen-elemen yang tebalnya lebih Konstruksi baja-ASD Page
untuk elemen-elemen yang tebalnya kurang dari 40 mm. Untuk elemen-elemen yang tebalnya lebih Konstruksi baja-ASD Page

besar dari 40 mm, tetapi kurang dari 100 mm, harga-harga tersebut harus dikurangi 10%. Tegangan normal yang diijinkan untuk pembebanan tetap, besarnya sama dengan tegangan dasar. Tegangan geser yang diijinkan untuk pembebanan tetap, besarnya sama dengan

0,58 kali tegangan dasar (

Untuk tegangan kombinasi geser dan normal i Untuk tegangan sementara akibat beban sendiri, beban berguna, dan gaya gempa atau angin, tegangan dasar boleh dinaikkan sebesar 30%. Untuk suatu penampang dalam keadaan tegangan bidang atau ruang, tegangan idiil tidak boleh melebihi tegangan dasar. Untuk tegangan ruang, tegangan idiil dihitung dengan persamaan:

0,58.

).

tegangan idiil dihitung dengan persamaan:  0,58.  ). 2 y 2 z 2 3. xy

2

y 2

z 2

3.

xy 2

3.

yz 2

3.

z 2 x

  

i

x

x

y

y

z

z

x

Sedangkan untuk tegangan bidang dihitung dengan persamaan:

       2 3. i x y 2 x y
      
2
3.
i
x
y 2
x
y
xy 2
0
    
3.
y
apabila
maka
i
x 2
xy 2
0
0
 
3.
2
y
x
apabila
dan
maka
i
xy

Terminologi elastik, plastik atau inelastik, srain hardening, modulus elastisitas, tegangan leleh, tegangan batas dan daktilitas, merupakan perilaku dan besaran- besaran yang umum dipakai dalam menentukan kekuatan dan perubahan bentuk struktur. Domain elastik, adalah domain dimana bahan atau struktur mempunyai kemampuan untuk kembali pada bentuk asalnya, setelah beban yang bekerja dihilangkan. Domain inelastic, adalah lawan domain elastic, yaitu bahan atau struktur tidak mempunyai kemampuan lagi untuk mengembalikan ke bantuk asalnya, sehingga terjadi perubahan bentuk permanent (residual deformation, sehingga terjadi sejumlah tegangan atau residual stress). Daktilitas, adalah kemampuan kemampuan bahan atau struktur untuk melakukan perubahan bentuk dalam domain inelastic yang dinyatakan dengan nilai perbandingan antara perubahan bentuk batas dengan perubahan bentuk pada saat keadaan leleh (inelastic) yang pertama kali dicapai.

batas dengan perubahan bentuk pada saat keadaan leleh (inelastic) yang pertama kali dicapai. Konstruksi baja-ASD Page
batas dengan perubahan bentuk pada saat keadaan leleh (inelastic) yang pertama kali dicapai. Konstruksi baja-ASD Page

5.

Profil Baja dalam Perdagangan

Profil baja dalam perdagangan antara lain bentuk siku, I , WF (wide flange), Lips chanel ( C ), pelat-pelat, batang-batang bulat dan lain-lainnya.

( C ), pelat-pelat, batang-batang bulat dan lain-lainnya. Gambar 1.7 : Baja profil bentuk siku, I
( C ), pelat-pelat, batang-batang bulat dan lain-lainnya. Gambar 1.7 : Baja profil bentuk siku, I

Gambar 1.7 : Baja profil bentuk siku, I atau WF, Kanal, Lips chanel ( C )

6. Beban-beban dan Pengaruh Lingkungan pada Struktur

Dalam pelajaran analisis struktur, beban-beban yang bekerja pada struktur selalu diberikan sebagai besaran yang diletahui. Dalam merencanakan struktur bangunan, beban-beban yang bekerja pada struktur yang akan dianalisis harus ditentukan oleh perencana. Di Indonesia, peraturan perencanaan untuk bangunan gedung memberikan berbagai spesifikasi beban rencana minimum, yang harus digunakan di dalam perencanaan bangunan, sehingga keselamatan publik dapat dijamin pada suatu tingkat keamanan tertentu. Ada tiga jenis beban dalam keadaan statik yang bekerja pada struktur yaitu :

beban mati, beban, dan kejut. Sedangkan dampak lingkungan akan memberikan beban berupa : angin, hujan, gempa bumi, perubahan temperatur, penurunan pondasi, kesalahan pemasangan, toleransi konstruksi, tekanan tanah serta tekanan hidrostatik, yang dikonversikan menjadi beban-beban statik ekivalen yang bekerja pada struktur sebagai beban hidup, beban ini sering disebut sebagai beban sementara.

1. Beban mati Beban mati adalah beban yang tidak dapat dipindah-pindah sepanjang masa, dan melekat pada struktur yang mendukungnya. Beban ini sering disebut sebagai beban permanent atau beban sendiri, misalnya beban : komponen struktur, struktur sarana ducting dan plumbing, sarana elektrikal, sarana-sarana lain yang melekat pada struktur, penutup lantai dan atap, penutup langit-langit. Beban-beban ini umumnya ditentukan oleh fabrikan, maka kesalahan estimasi uang terjadi sangat kecil.

2. Beban hidup Beban-beban gravitasi yang berubah pada waktu-waktu tertentu, baik besarnya maupun tempatnya, disebut beban hidup. Beban hidup ialah semua beban yang terjadi akibat penghunian atau penggunaan suatu bangunan gedung, dan ke dalamnya termasuk beban-beban pada lanati yang berasal dari barang- barang yang dapat berpindah, mesin-mesin serta peralatan yang tidak merupakan bagian yang tak terpisahkan dari gedung dan dapat diganti selama masa hidup dari gadung itu, sehingga mengakibatkan perubahan dalam

dan dapat diganti selama masa hidup dari gadung itu, sehingga mengakibatkan perubahan dalam Konstruksi baja-ASD Page
dan dapat diganti selama masa hidup dari gadung itu, sehingga mengakibatkan perubahan dalam Konstruksi baja-ASD Page

pembebanan lantai dan atap tersebut. Khusus pada atap ke dalam beban hidup dapat termasuk beban yang berasal dari air hujan, baik dari genangan maupun akibat tekanan jatuk (energi kinetic) butiran air. Ke dalam beban hidup tidak termasuk beban angn, beban gempa dan beban khusus. Contohnya adalah :

beban berat sendiri manusia pemakai bangunan, perlengkapan gedung (furniture), peralatan yang dapat bergerak, dinding penyekat (patition walls), beban pemakai ruangan (buku, mobil, bahan-bahan yang tersimpan). Penentuan besanya beban ini mempunyai variasi kesalahan yang lebih besar dari beban mati.

3. Beban gempa Efek gempa bumi pada bangunan adalah berbentuk gaya inersia, akibat bekerjanya percepatan gempa terhadap massa bangunan (Hk.Newton). Beban yang diakibatkan oleh suatu gempa bumi bekerja pada arah horizontal dan kadang-kadang vertikal. Gaya gempa vertikal (menambah beban mati) umumnya baru akan berbahaya jika pusat gempa bumi (epicenter) terletak sangat dekat dengan lokasi bangunan. Benban akibat gempa bumi dapat diperhitungkan sebagai beban static (ekivalen), atau secara dinamik, sesuai dengan respons spectra atau rekaman gempa yang terjadi di daerah bangunan yang akan didirikan. Prediksi besar dan arah beban gempa sangat sulit ditentukan, sehingga perhitungan-perhitungan secara statistic perlu dilakukan.

4. Beban angin Beban angin ialah semua beban yang bekerja pada gedung atau bagian gedung yang disebabkan oleh selisih dalam tekanan udara. Beban angina berbentuk tekanan (pressure) pada permukaan bangunan bagian luarnya, Tekanan ini dapat berupa tekanan tekan, tekanan hisap, sesuai arah angin yang bertiup. Jika pada beban gempa yang perlu diketahui adalah percepatannya, maka beban angina yang perlu diketahui adalah kecepatannya. Kecepaan angina tergantung pada keterbukaan area dan ketinggian dari permukaan bumi. Beban angin diperhitungkan secara static (ekivalen), penentuan besar dan arah angin pada bangunan mempunyai tingkat kesulitan yang sama dengan beban gempa. Sehingga kesalahan yang terjadi juga cukup bear.

5. Beban tekanan tanah dan air Pada struktur bangunan yang mempunyai dinding atau pelat lantai yang berada di bawah tanah, maka pada kondisi tertentu kan menerima beban tekanan tanah maupun tekanan hidrostatik, yang besarnya tergantung pada geometric bangunan dan hasil penyelidikan geoteknik yang akurat.

6. Beban-beban khusus Beban ini direncanakan pada bangunan khusus, misalnya: beban ledakan, dan tumbukan, beban jatuhnya beban dari angkasa, beban tekanan yang tinggi, dan lainnya. Bangunan ini misalnya bangunan: bendungan yang besar, pembangkit energi nuklir, pabrik bahan kimia yang berbahaya, dan sebagainya.

yang besar, pembangkit energi nuklir, pabrik bahan kimia yang berbahaya, dan sebagainya. Konstruksi baja-ASD Page 11
yang besar, pembangkit energi nuklir, pabrik bahan kimia yang berbahaya, dan sebagainya. Konstruksi baja-ASD Page 11

G. Pembebanan untuk Gedung

1. Beban sendiri :

Beban sendiri dari bahan-bahan bangunan penting dan beberapa komponen gedung yang harus ditinjau di dalam menentukan beban mati dari suatu gedung dapat diambil sebagi berikut :

a. Bahan bangunan Baja Besi tuang Batu belah, batu bulat, batu gunung (berat tumpuk) Batu karang (berat tumpuk) Batu pecah Beton Beton bertulang Kayu (kelas I) Pasangan batu merah Pasangan batu belah Pasir (kering udara sampai lembab) Pasir (jenuh air)

7850 kg/m 3 7250 kg/m 3 1500 kg/m 3 700 kg/m 3 1450 kg/m 3 2200 kg/m 3 2400 kg/m 3 1000 kg/m 3 1700 kg/m 3 2200 kg/m 3 1600 kg/m 3 1800 kg/m 3

Tanah, lempung dan lanau (kering udara sampai lembab) 1700 kg/m 3

Tanah, lempung dan lanau (basah

2000 kg/m 3

b. Komponen bangunan Dinding pasangan batu merah (satu batu) Dinding pasangan batu merah (setengah batu) Batako berlubang tebal 20 cm Batako berlubang tebal 10 cm Batako tanpa lubang tebal 15 cm Batako tanpa lubang tebal 10 cm

450 kg/m 2 250 kg/m 2 200 kg/m 2 120 kg/m 2 300 kg/m 2 200 kg/m 2

Langit-langit dan dinding + rusuk, tanpa penggantung dan pengaku :

- Dari asber semen tebal maksimum 4 mm

11 kg/m 2

- Dari kaca tebal 3 - 4 mm

10 kg/m 2

Penggantung langit-langit (dari kayu) bentang- maksimum 5 m dan jarak s.k.s minimum 80 cm

7 kg/m 2

Penutup atap genting dengan reng dan usuk kayu, bidang atap

50 kg/m 2

Penutup atap sirap dengan reng dan usuk kayu, bidang atap

40 kg/m 2

Penutup atap seng gelombang (BWG24) tanpa gording 10 kg/m 2

Penutup atap semen gelombang (tebal 5mm)

11 kg/m 2

Lantai ubin semen Portland, teraso dan beton tanpa adukan per cm tebal

24 kg/m 2

c. Beban hidup pada atap gedung Pada atap yang dapat dicapai dan dibebani orang minimum bidang datar

100 kg/m 2

Pada atap yang tidak dapat dicapai dan dibebani orang, harus diambil yang paling menentukan antara dua macam beban sebagai berikut:

dibebani orang, harus diambil yang paling menentukan antara dua macam beban sebagai berikut: Konstruksi baja-ASD Page
dibebani orang, harus diambil yang paling menentukan antara dua macam beban sebagai berikut: Konstruksi baja-ASD Page

1)

Beban terbagi rata per m 2 bidang datar berasal dari air hujan sebesar (40- 0,8.) kg/m 2 di mana  adalah sudut kemiringan atap, tidak perlu diambil lebih besar dari 20 kg/m 2 dan tidak perlu ditinjau bila kemiringan lebih besar dari 50 0

2) Beban terpusat berasal dari seorang pekerja atau seorang pemadam kebakaran dengan peralatannya sebesar minimum 100 kg

d. Beban hidup pada lantai gedung Lantai untuk pabrik, bengkel, gudang, perpustakaan, ruang arsip, toko buku, ruang alat-alat dan ruang mesin minimum 400 kg/m 2

2. Beban angin

a. Tekanan tiup

1). Tekanan tiup harus diambil minimum 25 kg/m 2 , kecuali ditentukan dalam b, c, d. 2). Tekanan tiup di laut dan tepi laut sampai 5 km dari pantai diambil minimum 40kg/m 2 , kecuali ditentukan dalam b, c, d. 3). Untuk daerah tertentu yang kecepatan-kecepatan angin besar, tekanan tiup (p) dihitung dengan rumus :

p

V

16

.kg/m

2 v = kecepatan angin dalam m/detik

4). Untuk cerobong, tekanan tiup adalah (42,5+0,6.h), h adalah tinggi seluruhnya. 5). Apabila dapat dijamin gedung tersebut terlindung dari tiupan angin, maka angka-angka di atas dikalikan koefisien reduksi 0,5.

b.

Koefisien angin

 

1)

Gedung tertutup

a) Dinding vertikal :

 

Pihak angin

+0,9

Di

belakang angin

-0,4

Sejajar arah angin

-0,4

b) Atap segi tiga dengan kemiringan atap  :

 

Di

pihak angin :  < 65 0

(0,02. – 0,4)

Di

belakang angin, untk semua 

-0,4

2)

Gedung terbuka (tanpa dinding) Koefien angin diambil menurut keadaan yang paling bahaya antara keadaan I dan II pada tabel berikut:

angin diambil menurut keadaan yang paling bahaya antara keadaan I dan II pada tabel berikut: Konstruksi
angin diambil menurut keadaan yang paling bahaya antara keadaan I dan II pada tabel berikut: Konstruksi

Tabel 1.3 : Koefisien Angin pada Gedung Terbuka

 

Kemiringan

Bidang atap di pihak angin

Bidang atap lain

I

0 <  < 20 0

-1,2

-0,4

 > 30 0

-0,8

-0,8

II

 = 0 0

+1,2

+0,4

10

0 <  < 20 0

+0,8

0,0

 = 30 0

+0,8

-0,4

 > 30 0

+0,5

(-0,4 - /300)

Bangunan tertutup: Kemiringan  < 65 0

+0,9

Bangunan terbuka:

(0,02. – 0,4) - 0,4 -0,4
(0,02. – 0,4)
- 0,4
-0,4

Keadaan I

-1,2 -0,4
-1,2
-0,4

Kemiringan 0 <  < 20 0

-0,8 -0,8
-0,8
-0,8

Kemiringan > 30 0

Keadaan II

+0,8 +0,5 (-0,4 - /300)
+0,8
+0,5
(-0,4 - /300)
 > 30 0 Keadaan II +0,8 +0,5 (-0,4 - /300) Gambar 8: Gambar bangunan yang

Gambar 8: Gambar bangunan yang mendapat gaya angin

0 Keadaan II +0,8 +0,5 (-0,4 - /300) Gambar 8: Gambar bangunan yang mendapat gaya angin
0 Keadaan II +0,8 +0,5 (-0,4 - /300) Gambar 8: Gambar bangunan yang mendapat gaya angin

II. SAMBUNGAN

A. U m u m

1. Sambungan adalah perencanaan untuk menyambung satu bagian profil ke bagian lainnya, yang menggunakan alat penyambung berupa paku keling, baut, dan las.

2. Direncanakan atas dasar beban kerja

3. Hanya satu macam alat penyambung

4. Pada batang utama minimum jumlah paku keling, baut, baut mutu tinggi =2buah, untuk sambungan las gaya minimum sebesar = 3 ton

5. Apabila titik berat gaya tidak berimpit diperhitungkan eksentrisitas. Kecuali profil siku/dobel siku yang tidak mengalami beban bolak-balik (berubah tanda)

B. Sambungan Dengan Baut

1. Tegangan ijin

Tegangan geser ijin ( τ ) = 0,6 σ Tegangan tarik ijin ( σ ta
Tegangan geser ijin ( τ )
= 0,6 σ
Tegangan tarik ijin ( σ ta ) = 0,7 σ
ζ 1,56.η
2
2
Kombinasi tegangan ijin (σ i ) =
σ
Tegangan tumpu ijin
(σ tu ) = 1,5. σ untuk s1  2 d
(σ tu ) = 1,2. σ untuk 1,5.d  s1 < 2d
t = tebal pelat
s1
s
s1

Gambar 2.1 : Penampang sambungan baut

2. Daya Pikul Baut (N):

a. Kekuatan geser Tampang satu (baut putus geser pada satu irisan)

P N  P Tampang dua (baut putus geser pada dua irisan) P/2 N 
P
N
P
Tampang dua (baut putus geser pada dua irisan)
P/2
N
2.
P
P/2

4

.d

4

.d

2

n

2

n

.η

.η

Gambar 2.2: Kerusakan akibat geser

N  2. P P/2  4 .d  4 .d 2 n 2 n .
N  2. P P/2  4 .d  4 .d 2 n 2 n .

b.

Kekuatan tumpu (pelat rusak )

P/2 t1 P t2 P/2 t1
P/2
t1
P
t2
P/2
t1
b. Kekuatan tumpu (pelat rusak ) P/2 t1 P t2 P/2 t1 N  d n

N d

n

.t.ζ

tp

t = harga terkecil antara t2 dan 2.t1

Gambar 2.3 : Kerusakan akibat tumpu

3. Jumlah baut maksimum satu baris = 5 buah

4. Jarak Baut

Min 1,2 d ; mak 3 d atau 6 t Min 1,2 d Mak 3
Min 1,2 d ; mak 3 d atau 6 t
Min 1,2 d
Mak 3 d
atau 6 t
t
s1
s
s
s1
s1 2,5 d  s  7d atau 14t u 2,5 d  u 
s1
2,5 d  s  7d atau 14t
u
2,5 d  u  7d atau 14t
1,5 d  s1  3d atau 6t
u
s1
s
s
s
s2
s2
s2
s2
s2
s2
 
 
 
 
u 2,5 d  u  7d atau 14t

u

2,5 d u 7d atau 14t

   
u s2  7d-0,5u atau

u

s2 7d-0,5u atau

   

14t-0,5u

Gambar 2.4 : Jarak baut

    u s2  7d-0,5u atau     14t-0,5u Gambar 2.4 : Jarak baut Konstruksi
    u s2  7d-0,5u atau     14t-0,5u Gambar 2.4 : Jarak baut Konstruksi

5.

Tebal pelat (t) minimum berdasarkan diameter (d) baut

Tabel 2.1 : Tebal pelat minimum

Teriris kembar

Teriris tunggal

Tebal pelat t

d (mm)

d (mm)

(mm)

10,5

20

6

13,5

23 dan 26

8

17

 

10

20

 

12

23

 

14

26

 

16

6. Baut Hitam

kepala cincin mur A325 A325 + + Tipe 3 Tipe 2
kepala
cincin
mur
A325
A325
+
+
Tipe 3
Tipe 2
Hitam kepala cincin mur A325 A325 + + Tipe 3 Tipe 2 A325 + Tipe 1
A325 +
A325
+

Tipe 1

+ simbul pabrik

Gambar 2.5 : Baut hitam, dan tipe baut

a.

Mutu Pada kepala baut ditulis 4.6 ; 4.8

4.6

artinya tegangan leleh minimum = 4 . 6 . 100 = 2400 kg/cm 2

4.8

artinya tegangan leleh minimum = 4 . 8 . 100 = 3200 kg/cm 2

b.

Diameter nominal (kern)

dn
dn

Tak diulir penuh :

d = dn

b. Diameter nominal (kern) dn Tak diulir penuh : d = dn dk dn d Diulir

dk

Diameter nominal (kern) dn Tak diulir penuh : d = dn dk dn d Diulir penuh

dn

d

Diulir penuh

ds

dn

3.dk

4

Gambar 2.6 : Baut tak diulir, dan diulir penuh

dn d Diulir penuh  ds  dn  3.dk 4 Gambar 2.6 : Baut tak
dn d Diulir penuh  ds  dn  3.dk 4 Gambar 2.6 : Baut tak

Tabel 2.2 : Diameter baut

Diameter nominal

Tinggi

Diameter

Diameter

Keterangan

(dn)

mur

inti (dk)

terulir (d)

inch

Mm

mm

mm

mm

 

3/8

9,52

9

7,49

7,99

M10

1/2

12,70

13

9,99

10,66

M12

5/8

15,87

16

12,92

13,65

M16

3/4

19,05

19

15,80

16,61

M20

7/8

22,22

22

18,61

19,51

M22

1

25,40

25

21,34

22,35

M25

1 1/2

38,10

38

32,68

34,28

M38

7. Baut Mutu Tinggi

a. Mutu Baut A325 dan A490 : Tipe 1. Baut baja karbon sedang ; Tipe 2. Baut baja karbon rendah; Tipe 3. Baut baja tahan karat

b. Baut mutu tinggi tipe geser

F

Φ

Kekuatan terhadap geser (Ng) =

Kekuatan terhadap axial tarik (Nt) :

Beban statis :

Kombinasi beban tarik dan geser : Ng =

Yang mana :

F = Faktor geser permukaan (lihat table di bawah) = Faktor keamanan (= 1,4) No = Pembebanan awal (proof load)

.n.No

Nt = 0,6.No ;

Beban balak-balik : Nt = 0,5.No

F

Φ

.n.(No

1,7.T)

No 0,75.ζ .A

e

ef

ζ

e = tegangan leleh baut

Ae = luas efektif baut

ζ ta

N = Jumlah bidang geser

minimum baut 8000 kg/cm 2

; T = Gaya axial tarik

Tabel 2.3 : Faktor geser permukaan baut mutu tinggi

Keadaan permukaan

F

Bersih

0,35

Digalfanis

1,6-0,26

Dicat

0,07 - 0,10

Berkarat

0,45 0,70

Disemprot pasir

0,40 0,70

c. Baut mutu tinggi tipe tumpu

Tegangan geser ijin () = 0,6

Tegangan tumpu ijin (

; Tegangan tarik ijin (

;

tu

= 1,2 .

ta

) = 0,7

:

untuk s12d

tu

)

tu

= 1,5 .

untuk 1,5.d s1s2

d. Persyaratan pemasangan ring: ring harus dipasang pada bagian bawah kepala baut dan bagian bawah mur

pemasangan ring: ring harus dipasang pada bagian bawah kepala baut dan bagian bawah mur Konstruksi baja-ASD
pemasangan ring: ring harus dipasang pada bagian bawah kepala baut dan bagian bawah mur Konstruksi baja-ASD

C.

Sambungan Dengan Paku Keling

1. Keuntungan dan kerugian paku keling

a. Keuntungan: Paku keling dibentuk oleh sekelompok pekerja paling sedikit empat orang, seorang memanaskan, seorang memancang, seorang memasukkan paku keling ke dalam lobang, dan seorang lagi menahan alat pemancang. Pengerjaan yang kompak akan menghasilkan paku keling yang menutupi lubang dan setelah pendinginan akan menghasilkan tegangan tarikan tinggi.

b. Kerugian: Akibat kemajuan di bidang teknik las dan baut bermutu tinggi,

maka pemilihan paku keling sebagai bahan penyambung semakin kurang diminati. Beberapa pertimbangannya adalah: Tenaga kerja untuk pembuatan paku keling banyak, kerusakan paku keling sulit di betulkan dan memakan waktu, pekerjaan paku keling menimbulkan bunyi hiruk pikuk yang kurang disukai masyarakat kota.

1. Tegangan ijin

Tegangan geser ijin ( τ ) = 0,8 σ Tegangan tarik ijin ( σ ta ) = 0,8 σ

Kombinasi tegangan ijin ( σ i ) =

Tegangan tumpu ijin ( σ tu ) = 2. σ

( σ tu ) = 1,6. σ

2

1,56.

2

σ

untuk s1 2 d untuk 1,5.d s1 < 2d

2. Cara perhitungan : Cara perhitungan sama dengan baut.

D. Normalisasi Simbul Paku keling dan Baut

sama dengan baut. D. Normalisasi Simbul Paku keling dan Baut Gambar 2.7: Normalisasi gambar baut, paku

Gambar 2.7: Normalisasi gambar baut, paku keling

D. Normalisasi Simbul Paku keling dan Baut Gambar 2.7: Normalisasi gambar baut, paku keling Konstruksi baja-ASD
D. Normalisasi Simbul Paku keling dan Baut Gambar 2.7: Normalisasi gambar baut, paku keling Konstruksi baja-ASD

E. Contoh Perhitungan

1. Beban sentris

a. Sambungan teriris tunggal Hitunglah jumlah baut (n), d=16mm, mutu baja BJ37

10 mm 3000 kg 12 mm 3000 kg Kekuatan baut: 1 .3,14.1,6 .(0,6.1600) 2 
10 mm
3000 kg
12 mm
3000 kg
Kekuatan baut:
1
.3,14.1,6 .(0,6.1600)
2
 1930
Berdasarkan geser :
Ng =
4

kg

Berdasarkan tumpu : Ntu = 1,6.1.(1,5.1600) = 4080 kg Banyaknya baut (n) = 4000 : 1930 = 2,1 dibulatkan 3 baut

b. Sambungan teriris ganda Hitunglah jumlah baut (n), d=16mm, mutu baja BJ37

6000 kg 6mm 12000 kg 6000 kg 10 mm 6 mm
6000
kg
6mm
12000
kg
6000
kg
10
mm
6
mm

Kekuatan baut:

1

Berdasarkan geser :

Berdasarkan tumpu : Ntu = 1,6.1.(1,5.1600) = 4080 kg Banyaknya baut (n) = 12000 : 3860 = 3,5 dibulatkan 4 baut

Ng =

2

4

.3,14.1,6 .(0,6.1600)

2

3860

kg

c. Sambungan teriris ganda Hitunglah jumlah paku keling (n), d=17mm, mutu baja BJ37

6000 kg 6mm 12000 kg 6000 kg 10 mm 6 mm Kekuatan baut: 1 2.
6000
kg
6mm
12000
kg
6000
kg
10
mm
6
mm
Kekuatan baut:
1
2.
.3,14.1,7 .(0,8.1600)
2
 5807
Berdasarkan geser :
Ng =
4
kg

Berdasarkan tumpu : Ntu = 1,7.1.(1,6.1600) = 4896 kg Banyaknya paku keling (n) = 12000 : 4896 = 2,5 dibulatkan 3 paku keling

= 4896 kg Banyaknya paku keling (n) = 12000 : 4896 = 2,5 dibulatkan 3 paku
= 4896 kg Banyaknya paku keling (n) = 12000 : 4896 = 2,5 dibulatkan 3 paku

2.

Beban eksentris

a. Pola pertama

P e 1 4 2 5 3 6 y
P
e
1
4
2
5
3
6
y

x

P

k4 k1 r1 r4 k5 r2 k2 M k6y y6 r3 r6 k6 k3 x6
k4
k1
r1
r4
k5
r2
k2
M
k6y
y6
r3
r6
k6
k3
x6
k6x

Gambar 2.8 : Pola pembebanan pada kelompok paku

1)

2)

Akibat M

M = k1.r1+k2.r2+ …kn.rn

r1,r2 …. rn = jarak baut ke titik berat pola paku

k1,k2

kn

= gaya yang diterima paku

M diterima oleh semua paku jadi:

k r

1 1

M

k 2

r 2

r k n

1.

.

r

1

kn rn

r k n

2.

.

r

2

dan

k

1

k

2

r 1. kn

rn r 2. kn

rn k n

.

rn

.

rn

dan seterusnya

rn

rn

rn

M

M

k n

rn

k

n

rn

.( 1

r

2

n

i

1

ri

2

r

2

2

2

rn

)

k n

M n . rn

i 1

ri

2

Contoh:

Paku ke 6 :

k 6

. 6

M r

( 1

r

2

r

2

2

r 6

2

)

k6x

k6 k6y
k6
k6y

k 6

x

k6 diuraikan menjadi

k 6 dan k 6

x

y

M . y 6

n

i 1

(

2

i

x

y

2

i

)

dan k

6

y

M . x 6

n

i 1

(

2

i

x

y

2

i

)

Akibat P Beban diterima semua paku pada sumbu y.

Gaya pada satu paku :

P

jumlah baut

ky

pada sumbu y. Gaya pada satu paku : P jumlah baut ky  2 6 x

2

6 x

(

k

6

y

2

ky

)

k total k

2

N

(kekuatan ijin satu paku)

baut ky  2 6 x  ( k 6 y 2  ky ) k
baut ky  2 6 x  ( k 6 y 2  ky ) k

b. Pola kedua

e P P 1 N1 2 N2 3 M N3 h1 h2 4 N4 h3
e
P
P
1
N1
2
N2
3
M
N3
h1
h2
4
N4
h3
h4

Gambar 2.9: Pola pembebanan pada kelompok paku

1)

Akibat M

M

N

h

1. 1

N

2.

h

2

Nn hn

.

Beban diterima semua paku :

h

1

N

1

h

2

N

2

hn

Nn

N

1

Nn

hn

.

h

1

;

N

2

Nn

hn

.

M

h

1.

Nn

.

h

1

h

2.

Nn

.

 

hn

 

hn

M

Nn

(

h

1

2

h

2

2

hn

 

h

2

h

2

hn

2

)

Nn

Nn

hn

. hn

hn .

Nn

hn

. hn

Nn

hn

n

i 1

hi

2

 

.

M hn

M . h 1

Nn

dan

N 1

 

n

n

2)

i 1

hi

2

Tegangan tarik paku 1

Akibat P

hi

2

i

1

2

1

.

N

1

Luas paku

1

Beban diterima semua paku; Gaya pada satu paku:

P

A

paku

Beban kombinasi:

      3. 2 i t 2
     
3.
2
i
t 2

tarik

satu baris dua baut

kombinasi:         3. 2 i t 2 tarik satu
kombinasi:         3. 2 i t 2 tarik satu

Contoh 2.1 :

a. Sambungan pada profil siku dobel, menggunakan alat penyambung baut hitam diulir penuh Ø 22,22 mm (d=19,51 mm), jarak baut 2d, tebal pelat penyambung

(t) = 8 mm, tegangan ijin baut () = 1600 kg/ cm 2 . Rencanakan jumlah baut yang diperlukan!

S1= 12 t Perencanaan :
S1= 12 t
Perencanaan :

S2= 10 t

S3=15 tbaut yang diperlukan! S1= 12 t Perencanaan : S2= 10 t Gambar 2.10 : Konstruksi sambungan

Gambar 2.10 : Konstruksi sambungan

Digunakan baut hitam diulir penuh Ø 22,22 mm (d=19,51 mm)

Kekuatan ijin baut geser ganda (Ng) =

Kekuatan ijin tumpu (Ntp) = 1,951.0,8.(1,5.1600) = 3745 kg Gaya S1, Jumlah baut yang diperlukan (n) = 11000 : 3745 = 3 baut Gaya S2, Jumlah baut yang diperlukan (n) = 12000 : 3745 = 4 baut

Gaya S3, Jumlah baut yang diperlukan (n) = 15000 : 3745 = 5 baut

2.

.¼.π. 1,951 2 .(0,6.1600)= 5737 kg

b. Sambungan siku tunggal, menggunakan alat penyambung baut hitam diulir penuh Ø 22,22 mm (d=19,51 mm), tebal pelat penyambung (t) = 8 mm,

tegangan ijin baut () = 1600 kg/ cm 2 . Rencanakan jumlah baut yang diperlukan!

P=7000kg 30 60 60 30
P=7000kg
30
60
60
30

Perencanaan :

Digunakan baut hitam diulir penuh Ø 22,22 mm (d=19,51 mm) Kekuatan ijin baut geser tunggal (Ng) = 1. ¼. π. 1,951 2 . (0,6.1600)= 2868 kg Kekuatan ijin tumpu (Ntp) = 1,951.0,8. (1,5.1600) = 3745 kg Jumlah baut yang diperlukan (n) = 7000 : 2868 = 3 baut

= 1,951.0,8. (1,5.1600) = 3745 kg Jumlah baut yang diperlukan (n) = 7000 : 2868 =
= 1,951.0,8. (1,5.1600) = 3745 kg Jumlah baut yang diperlukan (n) = 7000 : 2868 =
Contoh 2.2 : y 30 Z 30 S e 20 x 87,5 75 75 75
Contoh 2.2 :
y
30
Z
30
S
e
20
x
87,5
75
75
75

Gambar 2.11 : Konstruksi sambungan

Gaya aksial tarik S =15 ton Digunakan baut hitam tak diulir penuh Ø 15,87 mm, tebal pelat penyambung

(t)= 8mm, tegangan ijin baut () = 1600 kg/ cm 2 . Rencanakan jumlah baut yang diperlukan!

Perhitungan :

Kekuatan ijin baut:

Geser ganda (Ng) =

Tumpu (Ntp) = 1,587.0,8.(1,5.1600) = 3047 kg Jumlah baut yang diperlukan (n) = 15500 : 3047 = 6 baut > 5 baut Baut disusun seperti pada gambar.

2.

.¼.π. 1,587 2 .(0,6.1600)= 3798 kg

Titik berat kelompok baut :

y

2.60

6

20 mm

2.75 1.150 1.225

x

6

= 87,5 mm

Jarak garis gaya ke kelompok baut bawah = 30-16,9=13,1mm eksentrisitas (e) = 20 - 13,1 = 6,9 mm M = S.e = 15000 . 0,69 = 10750 kgcm

x

2.8,75

2.4

y

2

2

2

x



y

2

2

2

4.2

2.1,25

2

48

2

427

1.6,25

2

1.13,75

2

Gaya pada baut terjauh :

Kx

Ky

 

M

. y

10750.2

(

2

x

y

2

)

427

M

. x

10750.13,75

(

2

x

y

2

)

427

  51 k g

  346 k g

379

S juga mengakibatkan gaya geser Kx 15000:6 2500kg Kombinasi gaya pada baut (K):

K

15000:6  2500 kg Kombinasi gaya pada baut (K): K  2 (51  2500) 

2

(512500) 346

2

=2575 kg < 3047 kg …OK

gaya pada baut (K): K  2 (51  2500)  346 2 =2575 kg <
gaya pada baut (K): K  2 (51  2500)  346 2 =2575 kg <

Contoh 2.3 :

Rencanakan sambungan balok-kolom di bawah ini.

Tegangan ijin baut () = 1600 kg/ cm 2 .

e P= 7000 kg (b) (a) 90.90.9
e P= 7000 kg
(b)
(a)
90.90.9
 

P=7000kg

P=7000kg
 

20

20      
 
20      
 
20      
 

20

20  
 
 
 
 

20

20
20
20

20

   

y

   
   

80

 

M

M
 
80   M    
 
  20 20     y     80   M     26,7    
26,7  
26,7

26,7

 
 

33,3

 
 
 
 
 

x

Gambar 2.12 : Sambungan balok-kolom, dan titik berat kelompok baut

Perhitungan :

c. Perencanaan baut a :

x

4.6

9

Titik berat kelompok baut :

M pada kelompok baut = 7000 . (4,5+2,67) = 50190 kgcm

2,67 cm

y

12 cm

x 2  2 2   5.2,67 2.6 y   2.12  79
x
2
2
2
  5.2,67 2.6 y   2.12  79 4.3.33   540 2.3    79 619 2.9
 
y
2
2
2
2
2
x
2
2
1). Gaya pada baut 1=K1 :
50190.2,67
Kx
 217
k g
619
51190.12
Ky
1  973
k g
619
Ky
2 7000 : 9
778
k g
2
2
K 1
217
(973
778)
1765

540

k g

2). Gaya pada baut 9 :

Kx

50190.3,33

619

271

k g

Ky

1

Ky

2

K

9

50190.9

619

7000 : 9

732

k g

778

k g

2712  (732  778) 2

2

(732

778)

2

1535

k g

Kekuatan ijin baut hitam tak diulir penuh Ø 15,87 mm :

Geser ganda (Ng) =

2.

.¼.π. 1,905 2 .(0,6.1600) = 2736 kg

> K1

Tumpu (Ntp) = 1,905.0,8. (1,5.1600) = 3657 kg

> K1

OK

kg > K1 Tumpu (Ntp) = 1,905.0,8. (1,5.1600) = 3657 kg > K1 … OK Konstruksi
kg > K1 Tumpu (Ntp) = 1,905.0,8. (1,5.1600) = 3657 kg > K1 … OK Konstruksi

b. Perencanaan baut b :

P 60 60 60 60 M 40
P
60
60
60
60
M
40

N1

N2

N3

N4

N5

Gambar 2.13 : Pembebanan pada kelompok baut

M = 5190 kgcm ; P = 7000 kg

Gaya pada baut (N) =

M

. h

. h

2

50190.28

(4

2

10

2

16

2

22

2

28

2

)

858 k g

Gaya ini ditahan oleh 2 baut Ø 15,87 mm , N satu baut = 429 kg Tegangan pada baut :

429:( .3,14.1,587 7000 :10( ) .3,14.1,587 )

4

,

1

4

2

1

2

217 kg/cm 2

harus < 0,7.1600 = 1120kg/cm 2

355kg/cm 2

P = 7000 kg

  i 217 2  3.355 2  659 kg/cm 2 < 1600 kg/cm
 
i 217
2
3.355
2
659 kg/cm 2 < 1600 kg/cm 2
Contoh 2.4 :
Rencanakan sambung balok di bawah ini ( di titik C ).
q = 1000 kg/m
A
C
B
2 m
11 m

Gambar 2.14 : Pembebanan pada balok

Perhitungan :

Reaksi di A = Ra = Rb = 6500 kg Momen di C = MC = 6500.2 - ½.1000.2 2 = 11000 kgm Gaya lintang di C = Dc = 6500 1000.2 = 4500 kg

30 19 550 200
30
19
550
200

Gambar 2.15 : Penampang balok

Mbadan

Ibd

.Mc

Iprofil

= 2254 kgm

1

12

.1,9.(55

6)

3

99180

.11000

Mdaun = 11000 2254 = 8746 kgm

= 2254 kgm  1 12 .1,9.(55  6) 3 99180 .11000 Mdaun = 11000 –
= 2254 kgm  1 12 .1,9.(55  6) 3 99180 .11000 Mdaun = 11000 –

a. Pelat panyambung pada daun :

S 30 M 550 S 200
S
30
M
550
S
200
a. Pelat panyambung pada daun : S 30 M 550 S 200 Gambar 2.16 : Gaya

Gambar 2.16 : Gaya yang bekerja pada daun

Seluruh momen harus ditahan oleh pelat daun. S = 11000 : 0,55 = 20000 kg Ukuran luas pelat harus ≥ A daun = 3.20 = 60 cm 2 Dicoba pelat 30x200 mm, Anetto = 3.(20-2.1,905) = 48,57 cm 2

tr

20000

48,57

412 kg/cm 2 < 0,75.1600 = 1200 cm 2 … OK

Kekuatan ijin baut hitam tak diulir penuh Ø 19,05 mm :

Geser tunggal (Ng) = 1 .¼.π. 1,905 2 .(0,6.1600)= 2734 kg Tumpu (Ntp) = 1,905.3.(1,5.1600) = 13716 kg Banyaknya baut (n) = 20000 : (2. 2734) = 4 buah (satu deret 2 Ø 19,05)

b. Pelat penyambung pada badan :

M M D D
M
M
D
D
ht
ht

Gambar 2.17 : Gaya yang bekerja pada badan

Ukuran pelat badan :

I

b

1

12

.1,9.(55 2. 6)

1

12

.t.ht 18628cm 2.

3

1

12

3

4

I pelat badan =

t = 18628 : 10666 = 1,75 cm --- dipilih t = 18 mm ukuran pelat badan = 2 x 18 x 400 mm

.t.(40)

3

10666.t.cm

4

≥ 18628 cm 4

t = 18 mm ukuran pelat badan = 2 x 18 x 400 mm .t.(40) 3
t = 18 mm ukuran pelat badan = 2 x 18 x 400 mm .t.(40) 3

Perencanaan kelompok baut :

y e Dc 50 1 4 150 x 2 5 150 Mbd 3 6 50
y
e
Dc
50
1
4
150
x
2
5
150
Mbd
3
6
50
50
100
50

Gaya pada baut :

Dc = 6500 kg Mbd = 2254 kgm e = 100 mm M akibat Dc (Md):

Md = 6500 . 0,10 = 650 kgm

Mtotal = 2254 + 650 = 2904 kgm

Gambar 2.18 : Beban pada kelompok baut

No.

   

x

 

y

x

2

y

2

Kx

Ky1

Ky2

(cm)

(cm)

 

(kg)

(kg)

(kg)

1

   

-5

 

+15

25

225

 

+4149

-1383

+1084

2

   

-5

 

0

25

0

0

-1383

+1084

3

   

-5

 

-15

25

225

 

-4149

-1383

+1084

4

   

+5

 

+15

25

225

 

+4149

+1383

+1084

5

   

+5

 

0

25

0

0

+1383

+1084

6

   

+5

 

-15

25

225

 

-4149

+1383

+1084

Σ(x y )

2

2

= 150 + 900 = 1050

 

Gaya maksimal pada baut terjauh (K6):

 

Kmax = K6 =

Kmax = K6 = 4149 2  (1383  1084) 2 = 2471 kg  

4149

2

(1383 1084)

2

= 2471 kg

 

Kekuatan ijin baut hitam tak diulir penuh Ø 19,05 mm :

Geser ganda (Ng) = 2 .¼.π. 1,905 2 .(0,6.1600)= 5468 kg > K6

> K6

Tumpu (Ntp) = 1,905.3.(1,5.1600) = 13716 kg

… OK

2 .(0,6.1600)= 5468 kg > K6 > K6 Tumpu (Ntp) = 1,905.3.(1,5.1600) = 13716 kg …
2 .(0,6.1600)= 5468 kg > K6 > K6 Tumpu (Ntp) = 1,905.3.(1,5.1600) = 13716 kg …

Contoh 2.5:

Sambungan pelat direncanakan menggunakan baut mutu tinggi A325

dengan

leleh = 2400 kg/ cm 2 , sedangkan pelat penyambung menggunakan BJ.37

dengan = 1600 kg/ cm 2 . Rencanakan beban P maksimal pada sambungan tersebut !

Pelat 250x9 mm Pelat 250x12 mm ½ P P ½ P P P
Pelat 250x9 mm
Pelat 250x12 mm
½ P
P
½ P
P
P

Gambar 2.19 : Sambungan baut mutu tinggi

Perhitungan :

a. Sambungann type geser :

Kekuatan 1 baut menahan gaya geser :

Ng

F

.

n No

.

dimana :

Ng

1 baut =

1 baut =

1/4.3,14.(1,9) P/6

2

1/4.3,14.(1,9)

2

F = 0,34

;

θ = 1,4

n = jumlah bidang geser = 2

No

0,75.

.

leleh

.Ae

= 2167 kg/cm 2

= 2167 kg/cm 2 ---- P = 36845 kg

b. Sambungan type tumpu

Mutu baut A325

.leleh

1,5

= 3967 kg/cm 2

Tegangan geser ijin = 0,6. 3967 = 2380 kg/cm 2

P/6

1/4.3,14.(1,9)

2

= 2380 kg/cm 2

----

P = 40467 kg

Tegangan tumpu ijin = 1,5. σ = 1,5 . 1600 = 2400 kg/cm 2 (σ diambil harga terkecil σ baut dan σ pelat)

P/6

(2,1).(1,2)

= 2400 kg/cm 2

----

P = 36288 kg

c. Kontrol terhadap kekuatan pelat :

Kontol terhadap kekutan pelat :

P = (25-3.2,1).(2,1).(0,75.1600) = 26928 kg Dari ke tiga keadaan tersebut di atas P ijin adalah P terkecil = 26928 kg

= 26928 kg Dari ke tiga keadaan tersebut di atas P ijin adalah P terkecil =
= 26928 kg Dari ke tiga keadaan tersebut di atas P ijin adalah P terkecil =

F. Sambungan dengan Las Listrik (Arch Welding)

Sambungan las ada dua macam yaitu:

1. Las asetilin zat asam yang mempunyai panas 2000 0 -2500 0 C

2. Las nyala listrik yang mmempunyai panas 3500 0 C

Sambungan pada konstruksi baja yang diperkenankan adalah las listrik.

b a
b
a