Anda di halaman 1dari 29

Semiotik Semiotik atau semiologi merupakan terminologi yang merujuk pada ilmu yang sama.

Istilah semiologi lebih banyak digunakan di Eropa sedangkan semiotik lazim dipakai oleh ilmuwan Amerika. Istilah yang berasal dari kata Yunani semeion yang berarti tanda atau sign dalam bahasa Inggris itu adalah ilmu yang mempelajari sistem tanda seperti: bahasa, kode, sinyal, dan sebagainya. Secara umum, semiotik didefinisikan sebagai berikut. Semiotics is usually defined as a general philosophical theory dealing with the production of signs and symbols as part of code systems which are used to communicate information. Semiotics includes visual and verbal as well as tactile and olfactory signs (all signs or signals which are accessible to and can be perceived by all our senses) as they form code systems which systematically communicate information or massages in literary every field of human behaviour and enterprise. (Semiotik biasanya didefinisikan sebagai teori filsafat umum yang berkenaan dengan produksi tanda-tanda dan simbol-simbol sebagai bagian dari sistem kode yang digunakan untuk mengomunikasikan informasi. Semiotik meliputi tanda-tanda visual dan verbal serta tactile dan olfactory [semua tanda atau sinyal yang bisa diakses dan bisa diterima oleh seluruh indera yang kita miliki] ketika tanda-tanda tersebut membentuk sistem kode yang secara sistematis menyampaikan informasi atau pesan secara tertulis di setiap kegiatan dan perilaku manusia). Awal mulanya konsep semiotik diperkenalkan oleh Ferdinand de Saussure melalui dikotomi sistem tanda: signified dan signifier atau signifie dan significant yang bersifat atomistis. Konsep ini melihat bahwa makna muncul ketika ada hubungan yang bersifat asosiasi atau in absentia antara yang ditandai (signified) dan yang menandai (signifier). Tanda adalah kesatuan dari suatu bentuk penanda (signifier) dengan sebuah ide atau petanda (signified). Dengan kata lain, penanda adalah bunyi yang bermakna atau coretan yang bermakna. Jadi, penanda adalah aspek material dari bahasa yaitu apa yang dikatakan atau didengar dan apa yang ditulis atau dibaca. Petanda adalah gambaran mental, pikiran, atau konsep. Jadi, petanda adalah aspek mental dari bahasa (Bertens, 2001:180). Suatu penanda tanpa petanda tidak berarti apa-apa dan karena itu tidak merupakan tanda. Sebaliknya, suatu petanda tidak mungkin disampaikan atau ditangkap lepas dari penanda; petanda atau yang dtandakan itu termasuk tanda sendiri dan dengan demikian merupakan suatu faktor linguistik. Penanda dan petanda merupakan kesatuan seperti dua sisi dari sehelai kertas, kata Saussure. Louis Hjelmslev, seorang penganut Saussurean berpandangan bahwa sebuah tanda tidak hanya mengandung hubungan internal antara aspek material (penanda) dan konsep mental (petanda), namun juga mengandung hubungan antara dirinya dan sebuah sistem yang lebih luas di luar dirinya. Bagi Hjelmslev, sebuah tanda lebih merupakan selfreflective dalam artian bahwa sebuah penanda dan sebuah petanda masing-masing harus secara berturut-turut menjadi kemampuan dari ekspresi dan persepsi. Louis Hjelmslev dikenal dengan teori metasemiotik (scientific semiotics). Sama halnya dengan Hjelmslev, Roland Barthes pun merupakan pengikut Saussurean yang berpandangan bahwa sebuah sistem tanda yang mencerminkan asumsi-asumsi dari suatu masyarakat tertentu dalam waktu tertentu. Semiotik, atau dalam istilah Barthes semiologi, pada dasarnya hendak mempelajari bagaimana kemanusiaan (humanity) memaknai hal-hal (things). Memaknai (to sinify) dalam hal ini tidak dapat dicampuradukkan dengan mengkomunikasikan (to communicate). Memaknai berarti bahwa objek-objek tidak hanya membawa informasi, dalam hal mana objek-objek itu hendak dikomunikasikan, tetapi juga mengkonstitusi sistem terstruktur dari tanda. Salah satu wilayah penting yang dirambah Barthes dalam studinya tentang tanda adalah peran pembaca (the reader). Konotasi, walaupun merupakan sifat asli tanda, membutuhkan keaktivan pembaca agar dapat

berfungsi. Barthes secara lugas mengulas apa yang sering disebutnya sebagai sistem pemaknaan tataran ke-dua, yang dibangun di atas sistem lain yang telah ada sebelumnya. sistem ke-dua ini oleh Barthes disebut dengan konotatif, yang di dalam buku Mythologies-nya secara tegas ia bedakan dari denotative atau sistem pemaknaan tataran pertama. 1. signifier
(penanda) (petanda) 2. signified

3. denotative sign (tanda denotatif) 4. CONNOTATIVE SIGNIFIER


(PENANDA KONOTATIF) 5. CONNOTATIVE (PETANDA KONOTATIF) SIGNIFIED

6. CONNOTATIVE SIGN (TANDA KONOTATIF) Gambar 2. Peta Tanda Roland Barthes Dari peta Barthes di atas terlihat bahwa tanda denotatif (3) terdiri atas penanda (1) dan petanda (2). Akan tetapi, pada saat bersamaan, tanda denotatif adalah juga penanda konotatif (4). Jadi, dalam konsep Barthes, tanda konotatif tidak sekadar memiliki makna tambahan namun juga mengandung kedua bagian tanda denotatif yang melandasi keberadaannya. Pada dasarnya, ada perbedaan antara denotasi dan konotasi dalam pengertian secara umum serta denotasi dan konotasi yang dipahami oleh Barthes. Di dalam semiologi Barthes dan para pengikutnya, denotasi merupakan sistem signifikasi tingkat pertama, sementara konotasi merupakan tingkat kedua. Dalam hal ini denotasi justru lebih diasosiasikan dengan ketertutupan makna. Sebagai reaksi untuk melawan keharfiahan denotasi yang bersifat opresif ini, Barthes mencoba menyingkirkan dan menolaknya. Baginya yang ada hanyalah konotasi. Ia lebih lanjut mengatakan bahwa makna harfiah merupakan sesuatu yang bersifat alamiah (Budiman, 1999:22). Dalam kerangka Barthes, konotasi identik dengan operasi ideologi, yang disebutnya sebagai mitos dan berfungsi untuk mengungkapkan dan memberikan pembenaran bagi nilainilai dominan yang berlaku dalam suatu periode tertentu. Di dalam mitos juga terdapat pola tiga dimensi penanda, petanda, dan tanda. Namun sebagai suatu sistem yang unik, mitos dibangun oleh suatu rantai pemaknaan yang telah ada sebelumnya atau dengan kata lain, mitos adalah juga suatu sistem pemaknaan tataran ke-dua. Di dalam mitos pula sebuah petanda dapat memiliki beberapa penanda. Berbeda dengan para ahli yang sudah dikemukakan di atas, Charles Sanders Peirce, seorang filsuf berkebangsaan Amerika, mengembangkan filsafat pragmatisme melalui kajian semiotik. Bagi Peirce, tanda is something which stands to somebody for something in some respect or capacity. Sesuatu yang digunakan agar tanda bisa berfungsi disebut ground. Konsekuensinya, tanda (sign atau representamen) selalu terdapat dalam hubungan triadik, yakni ground, object, dan interpretant (lihat gambar 3). Atas dasar hubungan ini, Peirce membuat klasifikasi tanda. Tanda yang dikaitkan dengan ground dibaginya menjadi qualisign, sinsign, dan legisign. Qualisign adalah kualitas yang ada pada tanda. Sinsign adalah eksistensi aktual benda atau peristiwa yang ada pada tanda. Sedangkan legisign adalah norma yang dikandung oleh tanda. Peirce membedakan tiga konsep dasar semiotik, yaitu: sintaksis semiotik, semantik

semiotik, dan pragmatik semiotik. Sintaksis semiotik mempelajari hubungan antartanda. Hubungan ini tidak terbatas pada sistem yang sama. Contoh: teks dan gambar dalam wacana iklan merupakan dua sistem tanda yang berlainan, akan tetapi keduanya saling bekerja sama dalam membentuk keutuhan wacana iklan. Semantik semiotik mempelajari hubungan antara tanda, objek, dan interpretannya. Ketiganya membentuk hubungan dalam melakukan proses semiotis. Konsep semiotik ini akan digunakan untuk melihat hubungan tanda-tanda dalam iklan (dalam hal ini tanda non-bahasa) yang mendukung keutuhan wacana. Pragmatik semiotik mempelajari hubungan antara tanda, pemakai tanda, dan pemakaian tanda. Berdasarkan objeknya, Peirce membagi tanda atas icon (ikon), index (indeks), dan symbol (simbol). Ikon adalah tanda yang hubungan antara penanda dan petandanya bersifat bersamaan bentuk alamiah. Dengan kata lain, ikon adalah hubungan antara tanda dan objek atau acuan yang bersifat kemiripan; misalnya foto. Indeks adalah tanda yang menunjukkan adanya hubungan alamiah antara tanda dan petanda yang bersifat kausal atau hubungan sebab akibat, atau tanda yang langsung mengacu pada kenyataan; misalnya asap sebagai tanda adanya api. Tanda seperti itu adalah tanda konvensional yang biasa disebut simbol. Jadi, simbol adalah tanda yang menunjukkan hubungan alamiah antara penanda dengan petandanya. Hubungan di antaranya bersifat arbitrer, hubungan berdasarkan konvensi masyarakat. Berdasarkan interpretant, tanda (sign, representamen) dibagi atas rheme, dicent sign atau dicisign dan argument. Rheme adalah tanda yang memungkinkan orang menafsirkan berdasarkan pilihan. Dicent sign atau dicisign adalah tanda sesuai dengan kenyataan. Sedangkan argument adalah yang langsung memberikan alasan tentang sesuatu.

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian. Lebih dari 75% dari hidup kita, dihabiskan untuk berkomunikasi dalam berbagai bentuk dan dengan menggunakan berbagai saluran atau media. Bermacam penelitian ilmiah telah membuktikan bahwa komunikasi menempati posisi yang sangat vital bagi perkembangan seorang individu secara integral. Onong U. Effendy dalam kamus Komunikasi mendefinisikan komunikasi sebagai : Proses penyampaian suatu pesan dalam bentuk lambang bermakna sebagai paduan pikiran dan perasaan berupa ide, informasi, kepercayaan, harapan, himbauan, dan sebagainya, yang dilakukan seseorang kepada orang lain, baik langsung

secara tatap muka maupun tak langsung melalui media, dengan tujuan mengubah sikap, pandangan, atau perilaku. (Effendy, 1989:60) Indonesia mempunyai beraneka ragam budaya dan bahasa di dalamnya, yang setiap daerah dan tempat dimana bahasa dan budaya mempunyai makna atau arti yang berbedabeda di setiap budaya dan bahasa yang berbeda. Misalkan arti kata atos di Jawa artinya keras, sedangkan di Sunda artinya sudah. Dan contoh lain lagi arti kata bujur di Sunda artinya (maaf) pantat, sedangkan di Batak Karo bujur berarti terima kasih. Dan masih banyak lagi persamaan kata yang artinya berbeda di kebudayaan Indonesia. Tidak hanya dalam kata saja yang mempunyai banyak arti, di dalam pernikahan pun Indonesia mempunyai banyak ragam adat atau ritual pernikahan yang setiap langkah atau upacaranya mempunyai arti sendiri Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir. (QS: Ar-Rum :21)

Sebagaimana yang telah dituliskan di dalam Al-Quran adalah bahwa Tuhan telah menciptakan umatnya secara berpasang-pasangan, diberikannya rasa tentram serta rasa kasih dan sayang kepada pasangan tersebut, kemudian di sah-kan pasangan tersebut melalui suatu pernikahan, yang setiap manusia mengimpikannya. Menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia karya Badudu - Zain arti dari Nikah, kawin atau perkawinan (Bahasa Arab) adalah perjanjian antara dua orang (laki-laki dan perempuan) yang mau menjadi suami-istri secara resmi dan sah.

Banyak upacara pernikahan adat yang dilakukan di Indonesia seperti pernikahan adat Sunda, adat Minang, adat Aceh, adat Jawa, adat Betawi, adat Jogja dan masih banyak lagi upacara adat pernikahan yang dilakukan di setiap suku bangsa di Indonesia. Makna dari arti kata adat sendiri menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia dari Badudu Zain adalah kebiasaan, lembaga, rasam, peraturan, hukum. Sedangkan arti dari kata adat istiadat menurut Hartanto dalam Kamus Bahasa Indonesia Tahun 1998 adalah hukum tak tertulis, peraturan yang berlaku di daerah setempat. Pernikahan merupakan suatu acara yang sebagian orang menyebutkan adalah suatu acara yang sakral, yang tidak dapat dilakukan secara main-main, bercanda, ataupun bohongan/tipuan. Pernikahan harus dilakukan dengan khidmat, khusyuk dan yang lebih penting harus dengan persetujuan orang tua ataupun wali sang calon pengantin. Pernikahan juga tidak dilaksanakan disembarang tempat, meskipun hal itu merupakan kesepakatan keluarga besar kedua belah pihak calon pengantin. Yang paling penting di dalam pernikahan bagi umat muslim adalah ijab qabul dari calon pengantin pria kepada wali calon pengantin wanita. Di dalam pernikahan adat Jawa dan Jogja harus melewati serangkaian acara terlebih dahulu baru bisa melangkah kejenjang pernikahan yang sesungguhnya. Sebelum diberlangsungnya peresmian pernikahan terlebih dahulu calon pengantin pria harus datang ke tempat kediaman orang tua calon pengantin wanita untuk menanyakan apakah sang wanita bersedia menikah dengan calon pengantin pria. Hal tersebut di kebudayaan Jawa disebut Lamaran.

Adapun yang sering di lakukan pada pernikahan adat Jawa dan Jogja adalah Rasulan/ kirim doa, Siraman, Midodareni, Akad nikah, Panggih dan Resepsi. Serangkaian kegiatan ritual kebudayaan Jawa sebelum pernikahan sangatlah banyak dan belum lagi pada saat acara pernikahan adat Jawa dan Jogja. Seperti sinduran, bobot timbang, tandur, kacak kucur, dahar kembul dan masih banyak lagi. Banyaknya tradisi atau ritual pada saat upacara pernikahan adat Jawa dan Jogja akan berlangsung, dipercayai banyak orang akan membawa kebaikan bagi seseorang yang menjalaninya. Di dalam setiap pernikahan adat pastinya banyak sekali menggunakan komunikasi, dan dalam proses komunikasi yang berlangsung di setiap adat pernikahan terdapat lambanglambang yang bermakna yang dipertukarkan terdiri dari lambang-lambang verbal (bahasa, baik lisan maupun tulisan) dan lambang-lambang non verbal (gerak tubuh, ekspresi wajah, gambar, warna, dan berbagai isyarat lain yang tidak termasuk kata-kata bahasa). Pastinya di setiap ritual atau upacara pernikahan adat Jawa dan Jogja mempunyai makna dan arti sendiri. Misalkan Paes/Paesan adalah tata rias wajah khususnya untuk pengantin putri. Makna daripada paes adalah upaya mempercantik diri (dapat dilakukan oleh orang lain) agar dapat membuang jauh-jauh perbuatan buruk dan menjadi orang yang sholeh serta dewasa. (Yosodipuro : 1996,123) Berangkat dari latar belakang tersebut, maka peneliti memutuskan untuk melakukan penelitian terhadap pernikahan adat Jawa dan Jogja. Penelitian ini akan difokuskan pada apa makna komunikasi dalam simbol-simbol pernikahan upacara adat. 1.2 Rumusan Masalah.

Bertolak dari latar belakang yang telah dikemukakan, maka kajian masalah dalam penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut : Apa Makna Komunikasi dalam Simbolsimbol Upacara Pernikahan Adat ? 1.3 Identifikasi Masalah. Berdasarkan rumusan diatas, peneliti mengidentifikasikan masalah penelitian tersebut menjadi beberapa pertanyaan yang lebih spesifik berikut ini: 1. Apa Makna Komunikasi dalam Simbol-simbol Upacara Tarub di dalam Upacara Pernikahan adat Jawa dan Yogyakarta ? 2. Apa Makna Komunikasi dalam Simbol-simbol Upacara Nyantri di Dalam Upacara Pernikahan adat Jawa dan Yogyakarta ? 3. Apa Makna Komunikasi dalam Simbol-simbol Upacara Siraman di Dalam Upacara Pernikahan adat Jawa dan Yogyakarta ? 4. Apa Makna Komunikasi dalam Simbol-simbol di dalam Upacara Ngerik di Dalam Upacara Pernikahan adat Jawa dan Yogyakarta ? 5. Apa Makna Komunikasi dalam Simbol-simbol Upacara Midodareni di dalam Upacara Pernikahan adat Jawa dan Yogyakarta ? 6. Apa Makna Komunikasi dalam Simbol-simbol Upacara Ijab di dalam Upacara Pernikahan adat Jawa dan Yogyakarta ? 7. Apa Makna Komunikasi dalam Simbol-simbol Upacara Panggih di dalam Upacara Pernikahan adat Jawa dan Yogyakarta ? 8. Apa Makna Komunikasi dalam Simbol-simbol Upacara Kirab di dalam Upacara Pernikahan adat Jawa dan Yogyakarta ?

9.

Apa Makna Komunikasi dalam Simbol-simbol Ngunduh Mantu di dalam Upacara Pernikahan adat Jawa dan Yogyakarta ?

1.4 Tujuan Penelitian. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk : 1. Untuk Mengetahui Makna Komunikasi dalam Simbol-simbol Upacara Tarub di Dalam Upacara Pernikahan adat Jawa dan Yogyakarta. 2. Untuk Mengetahui Makna Komunikasi dalam Simbol-simbol l Upacara Nyantri di Dalam Upacara Pernikahan adat Jawa dan Yogyakarta. 3. Untuk Mengetahui Makna Komunikasi dalam Simbol-simbol Upacara Siraman di Dalam Upacara Pernikahan adat Jawa dan Yogyakarta. 4. Untuk Mengetahui Makna Komunikasi dalam Simbol-simbol Upacara Ngerik di Dalam Upacara Pernikahan adat Jawa dan Yogyakarta. 5. Untuk Mengetahui Makna Komunikasi dalam Simbol-simbol Upacara Midodareni di dalam Upacara Pernikahan adat Jawa dan Yogyakarta. 6. Untuk Mengetahui Makna Komunikasi dalam Simbol-simbol Upacara Ijab di dalam Upacara Pernikahan adat Jawa dan Yogyakarta. 7. Untuk Mengetahui Makna Komunikasi dalam Simbol-simbol Upacara Panggih di dalam Upacara Pernikahan adat Jawa dan Yogyakarta. 8. Untuk Mengetahui Makna Komunikasi dalam Simbol-simbol Upacara Kirab di dalam Upacara Pernikahan adat Jawa dan Yogyakarta. 9. Untuk Mengetahui Makna Komunikasi dalam Simbol-simbol Ngunduh Mantu di dalam Upacara Pernikahan adat Jawa dan Yogyakarta.

1.5 Kegunaan Penelitian. 1.5.1 Kegunaan Teoritis. Dengan adanya penelitian ini diharapkan akan dapat bermanfaat bagi akademisi di bidang ilmu komunikasi, khususnya di bidang komunikasi semiotik dan makna, dimana komunikasi simbol termasuk di dalam bagian dari studi semiotik. 1.5.2 Kegunaan Praktis. Dengan adanya penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi lembaga untuk mengetahui bagaimana bentuk komunikasi simbol yang terjadi sebagai salah satu kegiatan komunikasi semiotik dalam upacara pernikahan adat Jawa dan Jogja. Selain itu juga bermanfaat untuk menambah pengetahuan praktis yang sangat berguna untuk memperdalam pengetahuan tentang komunikasi semiotik. 1.6 Kerangka Pemikiran. 1.6.1 Kerangka Teoritis. Dalam pernikahan upacara adat banyak sekali ritual atau upacara yang harus dilaksanakan, tidak hanya dilihat dari perlengkapan pernikahan, sajen untuk upacara pernikahan dan lain-lain tetapi, juga dari bahasa saat upacara pernikahan berlangsung. Dan semua dari segala macam ritual atau upacara mempunyai makna tersendiri. Karena semua simbol linguistik bebas diberi makna, kita perlu mencari makna tidak saja dari kata melainkan juga pada orang yang mengkomunikasikannya. Kita perlu mengetahui bukan hanya apa yang dikatakan seseorang melainkan juga apa yang dimaksudkannya. Makna menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia Badudu Zain adalah arti atau maksud. Sedangkan dalam penjelasan Umberto Eco (Budiman, 1999 : 7), makna dari sebuah wahana tanda (sign-vechicle) adalah satuan kultural yang diperagakan oleh wahana-wahana tanda

yang lainnya serta, dengan begitu, secara semantik mempertunjukkan pula ketidaktergantungannya pada wahana tanda yang sebelumnya. (Sobur, 2003 : 255) Di dalam buku Drs. Alex Sobur, M.Si ada tiga hal yang dicoba jelaskan oleh para filsuf dan linguis sehubungan dengan usaha menjelaskan istilah makna. Ketiga hal itu yakni: (1) menjelakskan makna kata secara alamiah, (2) mendeskripsikan kalimat secara alamiah, dan (3) menjelaskan makna dalam proses komunikasi (Kempson, 1977:11) Dengan kata lain yang dimaksudkan oleh Kempson adalah bahwa untuk mengistilahkan makna harus dilihat dari 3 segi, yaitu : (1) kata (2) kalimat dan (3) apa yang dibutuhkan pembicara untuk berkomunikasi. Semiotika atau semiologi adalah sebuah studi mengenai kompleksitas tanda (bahasa dalam arti yang luas). Salah satu definisi semiotika adalah yang diberikan oleh Aart Van Zoest, yaitu : Semiotika adalah studi tentang tanda (lambang atau simbol) dan segala yang berhubungan dengannya: caranya berfungsi, hubungannya dengan tanda-tanda lain, pengirimannya, dan penerimaannya oleh mereka yang menggunakannya. (Van Zoest, 1992 : 5) Relevansi studi semiotika yang mengkaji kompleksitas tanda dengan Ilmu Komunikasi dapat kita lihat dari pengertian komunikasi dari Bernard Berelson & Gary A. Steiner (1976) berikut ini : Komunikasi : transmisi informasi, gagasan, emosi, keterampilan, dan sebagainya; dengan menggunakan simbol-simbol, kata-kata, gambar, figur, grafik, dan sebagainya. Tindakan atau proses transmisi itulah yang biasanya disebut komunikasi. (Mulyana, 2000:62) Berdasarkan pengertian di atas, pesan yang ditransmisikan atau dipertukarkan, diasosiasikan ke dalam term simbol. Simbol secara harfiah dapat pula disebut lambang atau

tanda, dan semiotika adalah suatu studi tentang tanda. Dengan kata lain, tak ada yang lebih tepat untuk menganalisis pesan komunikasi dalam term semiotika disebut tanda atau lambang. Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia karangan WJS Poerwadarminta disebutkan, simbol atau lambing adalah semacam tanda, lukisan, perkataan, lencana, dan sebagainya, yang menyatakan suatu hal, atau mengandung maksud tertentu. Dalam konsep Pierce simbol diartikan sebagai tanda yang mengacu pada objek tertentu di luar tanda itu sendiri. Hubungan antara simbol sebagai penanda dengan sesuatu yang ditandakan (petanda) sifatnya konvensional. Berdasarkan konvensi itu pula masyarakat pemakainya menafsirkan ciri hubungan antara simbol dengan objek yang diacu dan menafsirkan maknanya. Pada penelitian ini penulis melakukan penelitian pendekatan tanda yang didasarkan pada pandangan seorang filsuf dan pemikir Amerika yang cerdas, Charles Sanders Peirce (18391914). Peirce (dalam Berger, 2000b:14) menandaskan bahwa tanda-tanda berkaitan dengan objek-objek yang menyerupainya, keberadaannya memiliki hubungan sebab-akibat dengan tanda-tanda atau karena ikatan konvensional dengan tanda-tanda tersebut. Ia menggunakan istilah ikon untuk kesamaannya, serta indeks untuk hubungan sebab-akibat, dan simbol untuk asosiasi konvensional. Tabel berikut ini barangkali bisa lebih memperjelas:
TANDA Ditandai dengan: IKON Persamaan (kesamaan) Contoh: Gambar-gambar patung patung-Asap / Api Gejala / Penyakit Kata-kata Isyarat INDEKS Hubungan sebab akibat SIMBOL Konvensi

Tokoh besar Foto Reagan. Proses Bercak merah/campak Harus dipelajari

Dapat dilihat Dapat diperkirakan Tabel 1.6.1a Trikotomi Ikon/Indeks/Simbol Peirce

Sumber: Arthur Asa Berger. 2000b, Tanda-tanda dalam kebudayaan Kontemporer. Yogyakarta: PT Tiara Wacana, hlm 14 (Sobur, 2003 : 34)

Simbol atau lambang merupakan salah satu kategori tanda (sign). Dalam wawasan Peirce, tanda (sign) terdiri atas ikon (icon), indeks (index), dan simbol (symbol). Hubungan butirbutir tersebut oleh Peirce digambarkan sebagai berikut:
Icons Signs : Index (Indices) Symbols Gambar 1.6.1 Ikon, Indeks, dan symbol. Sumber : Charles Sanders Peirce, 1982. Logic as Semiotic : The Theory as Signs dalam Semiotics, An Introductory Anthology. Robert E. Innis (ed.). Bloomington:Indiana University Press (Sobur, 2003 : 158)

Menurut Peirce, sebuah analisis tentang esensi tanda mengarah pada pembuktian bahwa setiap tanda ditentukan oleh objeknya. Pertama, dengan mengikuti sifat objeknya, ketika kita menyebut tanda sebuah ikon. Kedua, menjadi kenyataan dan keberadaannya berkaitan dengan objek individual, ketika kita menyebut tanda sebuah indeks. Ketiga, kurang lebih, perkiraan yang pasti bahwa hal itu diinterpretasikan sebagai objek denotative sebagai akibat dari suatu kebiasaan ketika kita menyebut tanda sebagai simbol. Ikon adalah suatu benda fisik (dua atau tiga dimensi) yang menyerupai apa yang direpresentasikannya. Zoest mengurai ikon dalam tiga macam perwujudan: (1) ikon spasial atau topologis, yang ditandai dengan adanya kemiripan antara ruang/profil dan bentuk teks

dengan apa yang diacunya; (2) ikon relasional atau diagramatik dimana terjadi kemiripan antara hubungan dua unsur tekstual dengan hubungan dua unsur acuan; dan (3) ikon metafora, disini bukan lagi dilihat adanya kemiripan antara tanda dan acuan, namun antara dua acuan: kedua-duanya diacu dengan tanda yang sama; yang pertama bersifat langsung dan yang kedua bersifat tidak langsung. (Dahana, 2001:22) Indeks adalah tanda yang hadir secara asosiatif akibat terdapatnya hubungan ciri acuan yang sifatnya tetap. Istilah simbol dalam pandangan Peirce dalam istilah sehari-hari lazim disebut kata (word), nama (name), dan label (label). Simbol memiliki hubungan asosiatif dengan gagasan atau referensi serta referen atau dunia acuan. Orang seringkali bingung dengan istilah isyarat, tanda, dan lambang atau simbol. Untuk lebih jelas, kita bias mengetahui beberapa perbedaanantara isyarat, tanda dan symbol melalui tabel di bawah ini:
No 1. 2. 3. ISYARAT Diberitahukan oleh subjek kepadaSubjek objek (subjek aktif) Mempunyai satu arti. TANDA diberitahu oleh LAMBANG/SIMBOL objekSubjek dituntun memahami objek (subjek aktif). Mempunyai lebih banyak arti (sedikitnya dua arti). terusSubjek dituntun memahami objek secara terus menerus

(subjek pasif). Hanya Memuat dua arti. diberitahu objek

Diberitahukan oleh subjek kepadaSubjek

objek secara langsung (berlaku satumenerus (berlaku secara tetap). 4. 5.

kali) (berlaku secara tetap). Abstrak Bentuknya konkret bias abstrak. Berbentuk konkret/abstrak. Dikenal diketahui oleh manusia danDikenal diketahui oleh manusia danHanya manusia yang binatang secara langsung. binatang setelah diajarkanmemahaminya. dipakai untuk tidak berulang-ulang. Yang dipakai untuk isyarat tidakYang dipakai untuk tanda selaluYang diisyaratkan. yang ditandai.

6.

ada hubungan khusus dengan yangpunya hubungan khusus denganlambing/simbol

mempunyai hubungan khusus

7.

dengan yang dilambangkan. Diciptakan manusia untuk manusiaDiciptakan manusia, alam, danDiciptakan manusia untuk dan binatang. binatang untuk manusia danmanusia.

binatang. Tabel 1.6.1 Perbedaan antara Isyarat, Tanda, dan Lambang/Simbol. Sumber: Budiono Herusatoto. 2000, Simbolisme Dalam Budaya Jawa. Yogyakarta: PT Hanindita Graha Widia, hlm. 29. (Sobur, 2003 : 160)

Jika simbol merupakan salah satu unsur komunikasi, maka seperti halnya komunikasi, simbol tidak muncul dalam suatu ruang hampa-sosial, melainkan dalam suatu konteks atau situasi tertentu. Salah satu karakteristik Simbol dari perspektif Saussurean adalah bahwa simbol tak pernah benar-benar arbiter. Hal ini bukannya tidak beralasan karena ada ketidak-sempurnaan ikatan alamiah antara penanda dan petanda. (Berger, 2000b:23). Pada dasarnya, simbol adalah sesuatu yang berdiri/ada untuk sesuatu yang lain, kebanyakan di antaranya tersembunyi atau tidaknya tidak jelas. Sebuah simbol dapat berdiri untuk suatu institusi, cara berpikir, ide, harapan dan banyak hal lain. Simbol-simbol, seperti kata Asa Berger (2000a:84), adalah kunci yang memungkinkan kita untuk membuka pintu yang menutupi perasaan-perasaan ketidak-sadaran dan kepercayaan kita melalui penelitian yang mendalam. Simbol-simbol merupakan pesan ketidaksadaran kita. (Sobur, 2003:163). Menurut James P. Spradley (1997:121), Semua makna budaya diciptakan dengan menggunakan simbol-simbol. Makna hanya dapat disimpan di dalam simbol, ujar Clifford Geertz (1992:51). Pengetahuan kebudayaan lebih dari suatu kumpulan simbol, baik istilah-istilah rakyat maupun jenis-jenis simbol lain. Semua simbol, baik kata-kata yang terucapkan, sebuah objek seperti sebuah bendera, suatu gerak tubuh seperti menggerakkan tangan, sebuah tempat seperti masjid atau gereja, atau suatu peristiwa perkawinan, merupakan bagian-bagian suatu sistem simbol. Simbol adalah objek atau peristiwa apapun

yang menunjuk pada sesuatu. Simbol itu meliputi apapun yang dapat kita rasakan atau kita alami. (Sobur, 2003:177) 1.6.2 Kerangka Konseptual. Upacara pernikahan adat Jawa dan Jogja merupakan salah satu hasil budaya yang merupakan cermin kepribadian bangsa dalam memandang wujud pernikahan. Hasil budaya tentu harus dipelihara dan dilestarikan, agar nilai-nilai yang baik dari bangsa kita dapat diteruskan kepada generasi penerus. Di dalam upacara pernikahan adat Jawa dan Jogja inilah komunikasi verbal dan nonverbal berlangsung bersamaan dengan simbol-simbol di dalamnya yang mempunyai banyak makna. Seperti salah satu contoh di dalam pernikahan adat Jawa dan Jogja terdapat upacara Midodareni, di dalam upacara ini terdapat berbagai macam perlengkapan yang konon diyakinin masyarakat Jawa adalah perlengkapan yang telah disampaikan kepada Jaka Tarub sebagai pesan terakhir Dewi Nawangwulan sebelum kembali ke khayangan. Dan pesan tersebut harus dilaksanakan sore hari menjelang pelaksanaan perkawinan Dewi Nawangsih putrinya, perlengkapan tersebut salah satunya adalah sepasang kembar mayang dan sepasang kelapa muda yang masih ada sabutnya. Pada zaman dahulu istilah yang banyak digunakan adalah Gagar Mayang. Gagar berarti gugur atau rontok, maksudnya keduanya akan segera mengakhiri masa keperawanan dan keperjakaannya. Dewasa ini istilah yang lazim digunakan adalah kembar mayang yang berarti sama, jadi kedua mempelai harus senantiasa menyatukan pikiran, maksud, dan tujuan supaya sejalan atau selalu seia-sekata.

Unsur-unsur yang harus ada dalam kembar mayang yaitu bentuk gunung-gunungan, keris-kerisan, pecut-pecutan, payung-payungan, manuk-manukan, walang-walangan, daun beringin, dhadhap srep, dlingo bengle, daun kroton dan bunga patramenggala. Penelitian ini akan menguraikan makna-makna melalui trikotomi semiotika yang terkandung dalam upacara pernikahan adat Jawa. Yang diharapkan dapat memberikan manfaat bagi pemerhati budaya dan mahasiswa lainnya. 1.6.3 Kerangka Operasional. Studi semiotika terhadap upacara pernikahan adat Jawa dan Jogja ini, akan menguraikan kompleksitas makna di balik pesan verbal dan non-verbalnya. Sampel upacara pernikahan yang telah dipilih tersebut akan dipecah menjadi unit-unit analisis : ikon, indeks, dan simbol. Apa-apa saja ikon, indeks, dan simbol yang ada di dalam upacara pernikahan tersebut, kemudian dijabarkan bagaimana ikonisitas, indeksitas dan simbolitas yang ada dimaknai. Selanjutnya pecahan unit-unit analisis yang akan tersebut dalam penyampaian jabarannya tidak diklasifikasi berdasarkan per-satuan unit analisis. Misalnya, ikon dengan ikon menjelaskan ikonisitasnya masing-masing; indeks dengan indeks menjelaskan indeksitasnya masing-masing, simbol dengan simbol menjelaskan simbolitasnya masing-masing. Namun ikon, indeks dan simbol dengan ikonisitas, indeksitas, simbolitasnya akan diolah sedemikian rupa guna agar alur upacara pernikahan tidak patah sehingga dapat dinikmati representasi yang utuh dari upacara pernikahan sebagai objek penelitian.

1.7 Prosedur Penelitian. 1.7.1 Metode Penelitian.

Metode yang digunakan dalam penelitian ini, ialah metode analisis semiotika dengan pendekatan kualitatif. Metodologi penelitian yang digunakan dalam analisis semiotik adalah perspektif aliran simbolisme, realitas di pandang sebagai makna-makna (yang terinterpretasi dari berbagai simbol kultural). Menurut paham ini, objek-objek kajian sosial sebenarnya bukanlah apa yang sebatas penampakannya di alam indrawi. Dunia kehidupan manusia adalah dunia simbolisme. Setiap wujud yang indrawi dalam kehidupan manusia adalah merupakan simbol-simbol yang merefleksikan makna-makna (Sobur, 2003:187) Sedangkan pendekatan kualitatif adalah pendekatan yang tidak menggunakan analisis data statistik, karena data yang dikumpulkan adalah berupa kata-kata, gambar, dan bukan angka-angka (Moleong, 1995 : 6).: Sedangkan menurut Kirk dan Miller (1986 : 9) mendefinisikan bahwa penelitian kualitatif adalah tradisi tertentu dalam ilmu pengetahuan sosial yang secara fundamental bergantung dari pengamatan pada menusia baik dalam kawasannya maupun dalam peristilahannya. (Moleong, 1995 : 4) 1.7.2 Unit Analisis. Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, maka tanda-tanda verbal dan non verbal dalam upacara pernikahan adat Jawa dan Jogja dianalisis berdasarkan komunikasi Simbol Peirce, yang didalamnya terdapat Trikotomi Peirce yaitu : Ikon, Indeks dan Simbol.

1.7.3

Teknik Pengumpulan Data.

Karakteristik utama dari penelitian kualitatif adalah dengan mengandalkan manusia sebagai instrumen penelitian. Karena itu, pengumpulan data dilakukan dengan cara : 1. Observasi Observasi yang dilakukan berupa pengamatan dengan mengoptimalkan kemampuan peneliti untuk menemukan makna di dalam upacara pernikahan adat Jawa dan Yogyakarta, yang kemudian dipecah menjadi unit-unit satuan berdasarkan kajian semiotika. Kategori unit satuan analisis dalam semiotika komunikasi simbol Pierce yaitu : ikon, indeks, dan symbol. 2. Wawancara Wawancara dilakukan kepada pihak-pihak yang memiliki keterlibatan penting yang dapat memahami makna dari simbol-simbol yang terdapat di dalam upacara pernikahan adat Jawa dan Jogja. Hal ini dilakukan bukan untuk mengkonfirmasi kebenaran interpretasi peneliti, tetapi lebih sebagai proses triangulasi yang harus dilewati setiap peneliti kualitatif sebagai salah satu teknik pemeriksaan keabsahaan data. 3. Studi Pustaka Studi pustaka dilakukan terhadap berbagai literatur dan artikel yang berkaitan dengan penelitian ini untuk mengumpulkan informasi dan data-data pendukung yang sifatnya tertulis. Selain mengumpulkan data, kegunaan literatur ini juga untuk memperkuat makna simbol-simbol dan menjadi landasan teori dari penelitian ini.

1.8 Lokasi dan Waktu Penelitian.

Penelitian ini akan dilaksanakan di Jakarta dan Bandung terhitung sejak bulan November 2008 hingga selesai.

DAFTAR PUSTAKA Badudu-JS, Sutan Mohammad Zain, Kamus Umum Bahasa Indonesia, Pustaka Sinar Harapan, Jakarta, 1996. Berger, Arthur Asa, Tanda-tanda dalam Kebudayaan Kontemporer, Tiara Wacana, Yogya, 2000. Budiman, Kris, Kosa Semiotika, LKiS, Yogyakarta, 1999. Effendy, Onong Uchjana, Kamus Komunikasi, Mandar Maju, Bandung, 1989. Hartanto, John Surjadi, Kamus Bahasa Indonesia 1998, Penerbit INDAH Surabaya (Anggota IKAPI), Surabaya, 1998. Mulyana, Deddy, Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar, Remaja Rosdakarya, Bandung, 2000. Sobur, Alex, Semiotika Komunikasi, PT Remaja Rosdakarya, Bandung, 2003. Yosodipuro, Marmien Sardjono, Rias Pengantin Gaya Yogyakarta Dengan Segala Upacaranya, Penerbit Kanisius, Yogyakarta, 1996. PENDAHULUAN Secara kodrati, manusia diciptakan berpasang-pasangan (Q.S. Ar-Ruum : 21) dengan harapkan mampu hidup berdampingan penuh rasa cinta dan kasih sayang. Dari sini tampak bahwa sampai kapan pun, manusia tidak mampu hidup seorang diri, tanpa bantuan dan kehadiran orang lain. Salah satu cara yang dipakai untuk melambangkan bersatunya dua insan yang berlainan jenis dan sah menurut agama dan hukum adalah pernikahan. Masing-masing daerah mempunyai tata upacara pernikahannya sendiri-sendiri. Dalam bahasan ini, penulis akan mencoba mendeskripsikan tata upacara pernikahan adat Jawa dipandang dari sudut pandang semiotika. B. PEMBAHASAN Pernikahan adalah suatu rangkaian upacara yang dilakukan sepasang kekasih untuk menghalalkan semua perbuatan yang berhubungan dengan kehidupan suami-istri guna

membentuk suatu keluarga dan meneruskan garis keturunan. Guna melakukan prosesi pernikahan, orang Jawa selalu mencari hari baik, maka perlu dimintakan pertimbangan dari ahli penghitungan hari baik berdasarkan patokan Primbon Jawa. Setelah ditemukan hari baik, maka sebulan sebelum akad nikah, secara fisik calon pengantin perempuan disiapkan untuk menjalani hidup pernikahan, dengan cara diurut perutnya dan diberi jamu oleh ahlinya. Hal ini dikenal dengan istilah diulik, yaitu pengurutan perut untuk menempatkan rahim dalam posisi yang tepat agar dalam persetubuhan pertama memperoleh keturunan, dan minum jamu Jawa agar tubuh ideal dan singset. Sebelum pernikahan dilakukan, ada beberapa prosesi yang harus dilakukan, baik oleh pihak laki-laki maupun perempuan. Menurut Sumarsono (2007), tata upacara pernikahan adat Jawa adalah sebagai berikut : 1. Babak I (Tahap Pembicaraan) Yaitu tahap pembicaraan antara pihak yang akan punya hajat mantu dengan pihak calon besan, mulai dari pembicaraan pertama sampai tingkat melamar dan menentukan hari penentuan (gethok dina). 1. Babak II (Tahap Kesaksian) Babak ini merupakan peneguhan pembicaaan yang disaksikan oleh pihak ketiga, yaitu warga kerabat dan atau para sesepuh di kanan-kiri tempat tinggalnya, melalui acara-acara sebagai berikut : 1. Srah-srahan Yaitu menyerahkan seperangkat perlengkapan sarana untuk melancarkan pelaksanaan acara sampai hajat berakhir. Untuk itu diadakan simbol-simbol barang-barang yang mempunyai arti dan makna khusus, berupa cincin, seperangkat busana putri, makanan tradisional, buah-buahan, daun sirih dan uang. Adapun makna dan maksud benda-benda tersebut adalah : a. Cincin emas yang dibuat bulat tidak ada putusnya, maknanya agar cinta mereka abadi tidak terputus sepanjang hidup. b. Seperangkat busana putri bermakna masing-masing pihak harus pandai menyimpan rahasia terhadap orang lain. c. Perhiasan yang terbuat dari emas, intan dan berlian mengandung makna agar calon pengantin putri selalu berusaha untuk tetap bersinar dan tidak membuat kecewa.

d. Makanan tradisional terdiri dari jadah, lapis, wajik, jenang; semuanya terbuat dari beras ketan. Beras ketan sebelum dimasak hambur, tetapi setelah dimasak, menjadi lengket. Begitu pula harapan yang tersirat, semoga cinta kedua calon pengantin selalu lengket selama-lamanya. e. Buah-buahan bermakna penuh harap agar cinta mereka menghasilkan buah kasih yang bermanfaat bagi keluarga dan masyarakat. f. Daun sirih Daun ini muka dan punggungnya berbeda rupa, tetapi kalau digigit sama rasanya. Hal ini bermakna satu hati, berbulat tekad tanpa harus mengorbankan perbedaan. 2. Peningsetan Lambang kuatnya ikatan pembicaraan untuk mewujudkan dua kesatuan yang ditandai dengan tukar cincin antara kedua calon pengantin. 3. Asok tukon Hakikatnya adalah penyerahan dana berupa sejumlah uang untuk membantu meringankan keuangan kepada keluarga pengantin putri. 4. Gethok dina Menetapkan kepastian hari untuk ijab qobul dan resepsi. Untuk mencari hari, tanggal, bulan, biasanya dimintakan saran kepada orang yang ahli dalam perhitungan Jawa. 1. Babak III (Tahap Siaga) Pada tahap ini, yang akan punya hajat mengundang para sesepuh dan sanak saudara untuk membentuk panitia guna melaksanakan kegiatan acara-acara pada waktu sebelum, bertepatan, dan sesudah hajatan. 1. Sedhahan Yaitu cara mulai merakit sampai membagi undangan. 2. Kumbakarnan Pertemuan membentuk panitia hajatan mantu, dengan cara :

a. pemberitahuan dan permohonan bantuan kepada sanak saudara, keluarga, tetangga, handai taulan, dan kenalan. b. adanya rincian program kerja untuk panitia dan para pelaksana. c. mencukupi segala kerepotan dan keperluan selama hajatan. d. pemberitahuan tentang pelaksanaan hajatan serta telah selesainya pembuatan undangan. 3. Jenggolan atau Jonggolan Saatnya calon pengantin sekalian melapor ke KUA (tempat domisili calon pengantin putri). Tata cara ini sering disebut tandhakan atau tandhan, artinya memberi tanda di Kantor Pencatatan Sipil akan ada hajatan mantu, dengan cara ijab. 1. Babak IV (Tahap Rangkaian Upacara) Tahap ini bertujuan untuk menciptakan nuansa bahwa hajatan mantu sudah tiba. Ada beberapa acara dalam tahap ini, yaitu : 1. Pasang tratag dan tarub Pemasangan tratag yang dilanjutnya dengan pasang tarub digunakan sebagai tanda resmi bahwa akan ada hajatan mantu dirumah yang bersangkutan. Tarub dibuat menjelang acara inti. Adapun ciri kahs tarub adalah dominasi hiasan daun kelapa muda (janur), hiasan warna-warni, dan kadang disertai dengan ubarampe berupa nasi uduk (nasi gurih), nasi asahan, nasi golong, kolak ketan dan apem. 2. Kembar mayang Berasal dari kata kembar artinya sama dan mayang artinya bunga pohon jambe atau sering disebut Sekar Kalpataru Dewandaru, lambang kebahagiaan dan keselamatan. Jika pawiwahan telah selesai, kembar mayang dilabuh atau dibuang di perempatan jalan, sungai atau laut dengan maksud agar pengantin selalu ingat asal muasal hidup ini yaitu dari bapak dan ibu sebagai perantara Tuhan Yang Maha Kuasa. Barang-barang untuk kembar mayang adalah : a. Batang pisang, 2-3 potong, untuk hiasan. Biasanya diberi alas dari tabung yang terbuat dari kuningan. b. Bambu aur untuk penusuk (sujen), secukupnya. c. Janur kuning, 4 pelepah. d. Daun-daunan: daun kemuning, beringin beserta ranting-rantingnya, daun apa-apa, daun girang dan daun andong.

e. Nanas dua buah, pilih yang sudah masak dan sama besarnya. f. Bunga melati, kanthil dan mawar merah putih. g. Kelapa muda dua buah, dikupas kulitnya dan airnya jangan sampai tumpah. Bawahnya dibuat rata atau datar agar kalau diletakkan tidak terguling dan air tidak tumpah. 3. Pasang tuwuhan (pasren) Tuwuhan dipasang di pintu masuk menuju tempat duduk pengantin. Tuwuhan biasanya berupa tumbuh-tumbuhan yang masing-masing mempunyai makna : a. Janur Harapannya agar pengantin memperoleh nur atau cahaya terang dari Yang Maha Kuasa. b. Daun kluwih Semoga hajatan tidak kekurangan sesuatu, jika mungkin malah dapat lebih (luwih) dari yang diperhitungkan. c. Daun beringin dan ranting-rantingnya Diambil dari kata ingin, artinya harapan, cita-cita atau keinginan yang didambakan mudah-mudahan selalu terlaksana. d. Daun dadap serep Berasal dari suku kata rep artinya dingin, sejuk, teduh, damai, tenang tidak ada gangguan apa pun. e. Seuntai padi (pari sewuli) Melambangkan semakin berisi semakin merunduk. Diharapkan semakin berbobot dan berlebih hidupnya, semakin ringan kaki dan tangannya, dan selalu siap membantu sesama yang kekurangan. f. Cengkir gadhing Air kelapa muda (banyu degan), adalah air suci bersih, dengan lambang ini diharapkan cinta mereka tetap suci sampai akhir hayat. g. Setundhun gedang raja suluhan (setandan pisang raja) Semoga kelak mempunyai sifat seperti raja hambeg para marta, mengutamakan kepentingan umum daripada kepentingan pribadi.

h. Tebu wulung watangan (batang tebu hitam) Kemantapan hati (anteping kalbu), jika sudah mantap menentukan pilihan sebagai suami atau istri, tidak tengok kanan-kiri lagi. i. Kembang lan woh kapas (bunga dan buah kapas) Harapannya agar kedua pengantin kelak tidak kekurangan sandang, pangan, dan papan. Selalu pas, tetapi tidak pas-pasan. j. Kembang setaman dibokor (bunga setaman yang ditanam di air dalam bokor) Harapannya agar kehidupan kedua pengantin selalu cerah ibarat bunga di taman. 4. Siraman Ubarampe yang harus disiapkan berupa air bunga setaman, yaitu air yang diambil dari tujuh sumber mata air yang ditaburi bunga setaman yang terdiri dari mawar, melati dan kenanga. Tahapan upacara siraman adalah sebagai berikut : - calon pengantin mohon doa restu kepada kedua orangtuanya. - calon mantu duduk di tikar pandan tempat siraman. - calon pengatin disiram oleh pinisepuh, orangtuanya dan beberapa wakil yang ditunjuk. - yang terakhir disiram dengan air kendi oleh bapak ibunya dengan mengucurkan ke muka, kepala, dan tubuh calon pengantin. Begitu air kendi habis, kendi lalu dipecah sambil berkata Niat ingsun ora mecah kendi, nanging mecah pamore anakku wadon. 5. Adol dhawet Upacara ini dilaksanakan setelah siraman. Penjualnya adalah ibu calon pengantin putri yang dipayungi oleh bapak. Pembelinya adalah para tamu dengan uang pecahan genting (kreweng). Upacara ini mengandung harapan agar nanti pada saat upacara panggih dan resepsi, banyak tamu dan rezeki yang datang. 6. Midodareni Midodareni adalah malam sebelum akad nikah, yaitu malam melepas masa lajang bagi kedua calon pengantin. Acara ini dilakukan di rumah calon pengantin perempuan. Dalam acara ini ada acara nyantrik untuk memastikan calon pengantin laki-laki akan hadir dalam akad nikah dan sebagai bukti bahwa keluarga calon pengantin perempuan benar-benar siap melakukan prosesi pernikahan di hari berikutnya. Midodareni berasal dari kata widodareni (bidadari), lalu menjadi midodareni yang berarti membuat keadaan calon pengantin seperti bidadari.

Dalam dunia pewayangan, kecantikan dan ketampanan calon pengantin diibaratkan seperti Dewi Kumaratih dan Dewa Kumajaya. 1. Babak V (Tahap Puncak Acara) 1. Ijab qobul Peristiwa penting dalam hajatan mantu adalah ijab qobul dimana sepasang calon pengantin bersumpah di hadapan naib yang disaksikan wali, pinisepuh dan orang tua kedua belah pihak serta beberapa tamu undangan. Saat akad nikah, ibu dari kedua pihak, tidak memakai subang atau giwang guna memperlihatkan keprihatinan mereka sehubungan dengan peristiwa menikahkan atau ngentasake anak. 2. Upacara panggih Adapun tata urutan upacara panggih adalah sebagai berikut : a. Liron kembar mayang Saling tukar kembar mayang antar pengantin, bermakna menyatukan cipta, rasa dan karsa untuk mersama-sama mewujudkan kebahagiaan dan keselamatan. b. Gantal Daun sirih digulung kecil diikat benang putih yang saling dilempar oleh masing-masing pengantin, dengan harapan semoga semua godaan akan hilang terkena lemparan itu. c. Ngidak endhog Pengantin putra menginjak telur ayam sampai pecah sebagai simbol seksual kedua pengantin sudah pecah pamornya. d. Pengantin putri mencuci kaki pengantin putra Mencuci dengan air bunga setaman dengan makna semoga benih yang diturunkan bersih dari segala perbuatan yang kotor. e. Minum air degan Air ini dianggap sebagai lambang air hidup, air suci, air mani (manikem). f. Di-kepyok dengan bunga warna-warni Mengandung harapan mudah-mudahan keluarga yang akan mereka bina dapat berkembang segala-galanya dan bahagia lahir batin.

g. Masuk ke pasangan Bermakna pengantin yang telah menjadi pasangan hidup siap berkarya melaksanakan kewajiban. h. Sindur Sindur atau isin mundur, artinya pantang menyerah atau pantang mundur. Maksudnya pengantin siap menghadapi tantangan hidup dengan semangat berani karena benar. Setelah melalui tahap panggih, pengantin diantar duduk di sasana riengga, di sana dilangsungkan tata upacara adat Jawa, yaitu : i. Timbangan Bapak pengantin putri duduk diantara pasangan pengantin, kaki kanan diduduki pengantin putra, kaki kiri diduduki pengantin putri. Dialog singkat antara Bapak dan Ibu pengantin putri berisi pernyataan bahwa masing-masing pengantin sudah seimbang. j. Kacar-kucur Pengantin putra mengucurkan penghasilan kepada pengantin putri berupa uang receh beserta kelengkapannya. Mengandung arti pengantin pria akan bertanggung jawab memberi nafkah kepada keluarganya. k. Dulangan Antara pengantin putra dan putri saling menyuapi. Hal ini mengandung kiasan laku memadu kasih diantara keduanya (simbol seksual). Dalam upacara dulangan ada makna tutur adilinuwih (seribu nasihat yang adiluhung) dilambangkan dengan sembilan tumpeng yang bermakna : - tumpeng tunggarana : agar selalu ingat kepada yang memberi hidup. - tumpeng puput : berani mandiri. - tumpeng bedhah negara : bersatunya pria dan wanita. - tumpeng sangga langit : berbakti kepada orang tua. - tumpeng kidang soka : menjadi besar dari kecil. - tumpeng pangapit : suka duka adalah wewenang Tuhan Yang Maha Esa. - tumpeng manggada : segala yang ada di dunia ini tidak ada yang abadi. - tumpeng pangruwat : berbaktilah kepada mertua.

- tumpeng kesawa : nasihat agar rajin bekerja. 3. Sungkeman Sungkeman adalah ungkapan bakti kepada orang tua, serta mohon doa restu. Caranya, berjongkok dengan sikap seperti orang menyembah, menyentuh lutut orang tua pengantin perempuan, mulai dari pengantin putri diikuti pengantin putra, baru kemudian kepada bapak dan ibu pengantin putra.

Pendekatan yang dipakai dalam makalah ini adalah pendekatan semiotika. Semiotika memiliki dua tokoh, yakni Ferdinand de Saussure (1857-1913) dan Charles Sander Peirce (1839-1914). Keduanya mengembangkan ilmu semiotika secara terpisah dan tidak mengenal satu sama lain, Saussure di Eropa dan Peirce di Amerika Serikat. Latar belakang keilmuan Saussure adalah Linguistik, sedangkan Peirce filsafat. Saussure menyebut ilmu yang dikembangkannya semiologi (semiology), sedangkan Peirce menyebut ilmu yang dibangunnya semiotika (semiotics). Dalam perkembangan selanjutnya istilah semiotika lebih popular dari pada semiologi. Berdasarkan hubungan tanda dan objek, Peirce membagi tanda menjadi tiga, yakni ikon (icon), indeks (index) dan simbol (symbol). Ikon adalah sesuatu yang berfungsi sebagai tanda berdasarkan kemiripannya dengan sesuatu yang lain. Indeks adalah sebuah tanda yang dalam corak tandanya tergantung dari adanya sebuah objek atau denotatum. Simbol adalah tanda yang hubungan antara tanda dan objeknya ditentukan oleh sebuah peraturan yang berlaku umum. Berikut penjelasan tanda berdasarkan kenyataan hubungan dengan jenis dasarnya : 1. Ikon Ikon merupakan tanda yang menyerupai benda yang diwakilinya, atau suatu tanda yang menggunakan kesamaan atau ciri-ciri yang sama dengan apa yang dimaksudkannya. Dalam hal ini cincin emas, seperangkat busana putri dan uang merupakan ikon, karena benda-benda tersebut mewakili benda yang sebenarnya. 2. Indeks Indeks adalah tanda yang sifat tandanya tergantung dari keberadaanya suatu denotasi, sehingga dalam terminologi Peirce merupakan secondness. Dengan kata lain, indeks adalah suatu tanda yang mempunyai kaitan atau kedekatan dengan apa yang diwakilinya. Dalam hal ini tarub, kembar mayang, dan tuwuhan merupakan indeks. Hal ini dikarenakan item tersebut hanya ditemui dalam upacara pernikahan adat Jawa. 3. Simbol Simbol adalah suatu tanda, dimana hubungan tanda dan denotasinya ditentukan oleh peraturan yang berlaku umum atau ditentukan oleh suatu kesepakatan bersama (konversi). Cincin emas,

seperangkat busana putri, perhiasan yang terbuat dari emas, intan dan berlian; makanan tradisional, buah-buahan, daun sirih, peningset, janur, daun kluwih, daun beringin lengkap dengan ranting-rantingnya, daun alang-alang, daun dadap sirep, seuntai padi, cengkir gadhing, setandan pisang raja, batang tebu hitam, bunga dan buah kapas, bunga setaman dan sungkeman merupakan simbol. Hal ini dikarenakan masing-masing item tersebut memiliki makna simbolis yang terkandung di dalamnya. D. PENUTUP Demikianlah tata upacara pernikahan Jawa yang sampai saat ini masih digunakan dalam pernikahan di Jawa. Jika diamati secara detail, prosesi pernikahan di Jawa terkesan njlimet atau rumit. Hal ini dikarenakan banyaknya perlambang yang dipakai di dalamnya. Kenyataan ini tidak dapat dipungkiri, karena sampai saat ini masyarakat Jawa masih senang menggunakan simbol atau perlambang dalam kehidupannya. REFERENSI __________. 2005. Adat Istiadat Jawa. http://www.karatonsurakarta.com (diakses 14 Januari 2008 pukul 15.15 WIB). Mangun Hardjodikromo. 2005. Adat Istiadat Jawa : Manusia Jawa Sejak Dalam Kandungan Sampai Wafat. <http://www.semarasanta.wordpress.com> (diakses 14 Januari 2008 pukul 15.15 WIB). Panuti Sujiman. 1992. Serba-Serbi Semiotika. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama. Sumarsono. 2007. Tata Upacara Pengantin Adat Jawa. Jakarta: PT. Buku Kita