Anda di halaman 1dari 7

BAB I PENDAHULUAN

LATAR BELAKANG
Kabupaten Sragen, adalah sebuah kabupaten di Provinsi Jawa Tengah. Ibukotanya terletak di Sragen, sekitar 30 km sebelah timur Kota Surakarta. Kabupaten ini berbatasan dengan Kabupaten Grobogan di utara, Kabupaten Ngawi (Jawa Timur) di timur, Kabupaten Karanganyar di selatan, serta Kabupaten Boyolali di barat. Karena secara geografis terletak di tepi Jalan Lintas Tentara Kompeni Surakarta Madiun, pusat Pemerintahan tersebut dianggap kurang aman, maka kemudian sejak tahun 1746 dipindahkan ke Desa Gebang yang terletak disebelah tenggara Desa Pandak Karangnongko.

Dampak dari perwujudan otonomi daerah, banyak kabupaten yang meningkatjkan prasarana transportasi yang diantaranya dengan membangun jembatan gantung sederhana. Direktorat Jendral Bina Marga Departemen Pekerjaan Umum menerbitkan buku yang berisi kumpulan jembatan gantung yang telah dibangun di beberapa daerah di Indonesia. Bentang jembatan berkisar 20 m- 80m dan ada yang beberapa 120m dengan lebar dek kurang dari 1,7m. Dari gambar-gambar buku tersebut banyak pemda kabupaten yang berkeinginan yang sama, tetapi menuntut bentang yang jauh lebih besar. Salah satu diantaranya kabupaten Sragen yang bermaksud membangun Jembatan Gantung Kliwonan-Butuh, Sragen. Perlu diketahui bahwa jembatan jenis ini memiliki struktur yang ringan, tipis, lebar terbatas, dan panjang yang rentan terhadap lendutan, puntir, goyangan serta getaran.

Goyangan , puntir serta getaran pada jembatan terutama di sebabkan oleh beban hidup asimetris serta beban angin. Salah satu contoh jembatan gantung sederhana untuk pejalan kaki yang mengalami keruntuhan lebih dini adalah jembatan way sekampung di Lampung dan jembatan Bulukumba di Sulawesi Selatan, runtuh sebelum mencapai umur 1 tahun. Salah satu penyebabnya adalah getaran dan goyangan yang tidak cukup kuat ditahan oleh struktur.

Tujuan penelitian tujuan dari penelitian ini dimaksudkan untuk mengetahui pengaruh penambahan lebar dek jembatan terhadap prilaku struktur jembatan gantung dengan bentang yang betrtambah besar melalu peninjauan terhadap 1). Prilaku struktur jembatan akibat beban hidup asimetris dan beban angin baik statik maupun dinamik. 2). Frekuensi alami struktur dan ragam getar yang terjadi. 3). Kekakuan torsi dari jembatan gantung ditinjau dari nilai frekuensi alami dan sudut puntir yang terjadi akibat beban hidup asimetris dan beban angin dinamik.

Tinjauan pustaka kelebihan-kelebihan yang ada pada struktur jembatan kabel terutama untuk tipe jembatan gantung dari segi struktural, ekonomi, maupun estetika menjadi dasar pemikiran bagi perancang struktur untuk menerapkan struktur jembatan gantung untuk pejalan kaki tersebut pada daerah-daerah pedalaman di Indonesia. beban hidup memberikan kontribusi yang besar terhadap lendutan vertikal pada struktur jembatan dan pengaruhnya akan meningkat seiring dengan bertambahnya panjang bentang utama (Nobuaki ,1990). Getaran yang disebabkan oleh beban hidup dinamik akan terasa pada struktur jembatan yang panjang dan relatif