Anda di halaman 1dari 16

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Hubungan Internasional Hubungan Internasional dapat diartikan sebagai hubungan antar bangsa, yang menyangkut hubungan di segala bidang yaitu di bidang politik, bidang ekonomi, bidang sosial dan bidang budaya. Hubungan internasional melibatkan dua negara atau lebih yang berinteraksi satu sama lainnya, sehingga dapat dikatakan bahwa hubungan tersebut mencakup aksi dan interaksi. Aksi merupakan pokok perhatian dalam politik luar negeri, yang menerangkan tindakan suatu negara dengan cara bagaimana para pembuat kebijakan menganalisis situasi, memilih saran, menentukan serta melaksanakan suatu kebijakan luar negeri. Sedangkan interaksi menjadi perhatian dalam politik internasional, karena menerangkan hubungan antar bangsa yang saling mempengaruhi demi tercapainya tujuan, pencapaian kepentingan masing-masing negara secara maksimal. Hubungan internasional mencakup interaksi antar bangsa yang melintasi batas-batas negara, baik yang dilakukan oleh pemerintah maupun warga negara. Dalam prakteknya hubungan internasional dilakukan oleh negara-negara yang berdaulat melalui tindakan-tindakan yang diwakili oleh elit pemerintahannya yang menyangkut kepentingan-kepentingan suatu negara yang ingin dicapai dan dipertahankan itu di luar batas wilayah negaranya. Apabila bertentangan dengan kepentingan atau melanggar kedaulatan negara lain akan menimbulkan suatu pertentangan yang mengarah kepada konflik. Studi hubungan internasional tidak

24

25

saja membahas interaksi positif antar negara-negara tapi hubungan internasional juga merupakan suatu studi tentang diplomasi, strategi dan konflik. Theodore A. Coulumbis dan James H. Wolfe dalam buku yang berjudul Pengantar Hubungan Internasional Keadilan dan Power (1999:24), memberikan konsep tentang hubungan sebagai berikut : Hubungan antar negara baik yang sifatnya konfliktif maupun kooperatif bersifat bertentangan. Hubungan-hubungan didominasi oleh konflik, secara implisit mengandung unsur tawar-menawar. Sebaliknya kerjasama internasional mungkin hanya merefleksikan kelebihan suatu negara dibidang militer atau bidang ekonomi di banding negara lain. K.J. Holsti dalam bukunya Politik Internasional Suatu Kerangka Analisis (1992:27), mempunyai persepsi yang berbeda yaitu bahwa studi hubungan internasional mengkaji kepentingan-kepentingan yang ingin dicapai oleh berbagai negara di dunia, yang apabila terjadi ketidaksesuaian maka akan melahirkan konflik. Dengan demikian bahwa hubungan internasional tidak hanya mencakup hubungan atau keadaan yang bersifat damai saja, melainkan juga bersifat konflik.

2.2 Politik Internasional Dalam hubungan internasional, setiap negara akan menjalankan politik internasionalnya. Masing-masing politik internasional merupakan formulasi kebijakan-kebijakan suatu negara dalam berinteraksi pada sistem internasional seperti yang dikemukakan oleh Dahlan Nasution dalam bukunya yang berjudul Politik Internasional Konsep dan Teori (1989:6), sebagai berikut: Pada dasarnya politik internasional itu merupakan usaha-usaha memperjuangkan perbedaan-

26

perbedaan atau sengketa nilai dan ini tidak timbul dari kondisi lingkungan obyektif, melainkan dari keyakinan atau pendapat yang dibuatkan manusia atas kondisi tadi. Politik Internasional yang ditekankan oleh A.D. Nasution merupakan unsur yang terwujud bukan hanya dari lingkungan eksternal suatu negara saja tetapi juga dari dalam negeri negara itu sendiri dapat mewarnai terbentuknya politik internasional seperti opini publik yang turut diperhitungkan di dalam pembuatan maupun pelaksanannya. K.J. Holsti dalam bukunya Politik Internasional Suatu Kerangka Analisis (1992:200), mengatakan bahwa proses politik internasional bermula ketika suatu negara melalui tindakan atau isyarat, berusaha mengubah atau mempertahankan perilaku negara lain, misalnya: tindakan, kesan dan kebijaksanaannya. Dalam politik internasional tindakan dan isyarat digunakan dalam bentuk yang berbeda misalnya janji memberikan bantuan luar negeri, propaganda, pameran kekuatan militer, pemakaian hak veto pada Dewan Keamanan PBB, Walk out dalam konferensi, menyelenggarakan konferensi, memberikan peringatan melalui nota diplomatik, mengirim bantuan senjata dan uang kepada gerakan pembebasan, mengadakan boikot terhadap barang-barang negara lain atau menyatakan perang. Sementara itu Hans. J Morgenthau seperti yang dikutip dalam buku yang dikarang oleh Mohtar Masoed yang berjudul Ilmu Hubungan Internasional: Disiplin dan Metodologi (1990:18), mengemukakan bahwa politik internasional seperti halnya semua politik adalah sebagai perjuangan untuk memperoleh kekuasaan. Apapun tujuan akhir dari politik internasional, tujuan menengahnya adalah kekuasaan. Negarawan dan bangsa-bangsa mengejar tujuan akhir berupa

27

kebebasan, keamanan, kemakmuran atau kekuasaan itu sendiri. Mereka mendefinisikan tujuan-tujuan mereka itu dalam pengertian yang religius, filosofis, ekonomis atau sosial. Mereka berharap bahwa tujuan akan terwujud melalui perkembangan alamiah urusan kemanusiaan, tetapi begitu mereka mencapai tujuan-tujuan mereka dengan menggunakan politik internasional. Mereka melakukannya dengan berupaya memperoleh kekuasan, pemikiran Morgenthau di atas ini terkenal dengan realisme politik.

2.3

Kebijakan Luar Negeri Kebijakan luar negeri atau politik luar negeri merupakan strategi atau

rencana tindakan yang dibentuk oleh para pembuat keputusan suatu negara dalam menghadapi negara lain atau unit-unit politik internasional lainnya dan dikendalikan untuk mencapai tujuan nasional spesifik yang dituangkan dalam terminologi kepentingan nasional. Politik luar negeri yang spesifik dilaksanakan oleh sebuah negara sebagai sebuah inisiatif atau sebagai reaksi terhadap inisiatif yang dilakukan oleh negara lain. Politik luar negeri mencakup proses dinamis dari penerapan pemaknaan kepentingan nasional yang relatif tetap terhadap faktor situasional yang sangat fluktuatif di lingkungan internasional dengan maksud untuk mengembangkan suatu cara tindakan yang diikuti oleh upaya untuk mencapai pelaksanaan diplomasi sesuai dengan panduan kebijaksanaan yang telah ditetapkan. Langkah utama dalam proses pembuatan kebijaksanaan politik luar negeri mencakup:

28

1.

Menjabarkan pertimbangan kepentingan nasional ke dalam bentuk tujuan dan sasaran yang spesifik,

2.

Menetapkan

faktor

situasional

di

lingkungan

domestik

dan

internasional yang berkaitan dengan tujuan luar negeri, 3. Menganalisis kapabilitas nasional untuk mnjangkau hasil yang dikehendaki, 4. Mengembangkan perencanaan atau strategi untuk memakai kapabilitas nasional dalam menanggulangi variabel tertentu sehingga mencapai tujuan yang telah ditetapkan, 5. 6. Melaksanakan tindakan yang diperlukan, Secara periodik meninjau dan melakukan evaluasi perkembangan yang telah berlangsung dalam menjalankan tujuan atau hasil yang dikehendaki. Namun proses demikian jarang berlangsung secara kronologis dan logis, seringkali beberapa langkah dalam proses tersebut berlangsung secara bersamaan, dan isu yang fundamental dapat berlangsung kembali pada saat kondisi berubah atau berlangsung surut seperti pada masa sebelumnya. Oleh karena situasi internasional secara konstan selalu berubah-ubah, maka proses pembuatan kebijakan luar negeri selalu berlangsung terus. Setiap kebijaksanaan luar negeri dirancang untuk menjangkau tujuan nasional. Tujuan nasional yang hendak dijangkau politik luar negeri merupakan formulasi kongkret dan dirancang dengan mengaitkan kepentingan nasional terhadap situasi internasional yang sedang berlangsung serta dengan power yang

29

dimiliki untuk menjangkaunya. Tujuan dirancang, dipilih, dan ditetapkan oleh pembuat keputusan dan dikendalikan untuk mengubah atau mempertahankan ihwal kenegaraan tertentu di lingkungan internasional.

2.4

Modernisasi Dalam Konteks Hubungan Internasional Konsep modernisasi secara umum dapat dijelaskan sebagai suatu bentuk

dari perubahan sosial yang terarah yang didasarkan pada suatu perencanaan yang disebut sebagai social planing. Pada dasarnya pengertian modernisasi mencakup suatu transformasi total dari kehidupan bersama yang tradisional atau pramodern dalam arti teknologi dan organisasi sosial kearah pola-pola ekonomis dan politis yang menandai negara-negara Barat yang stabil, seperti yang dikutip didalam buku yang dikarang oleh Soerjono Soekanto yang berjudul Sosiologi Suatu Pengantar (1986:331). Modernisasi pada hakekatnya mencakup bidang-bidang yang sangat banyak, dalam abad Social Change ini mau tidak mau harus dihadapi oleh masyarakat. Bidang mana yang akan diutamakan oleh suatu masyarakat, tergantung dari kebijakan penguasa yang memimpin masyarakat tersebut. Modernisasi tidak sama dengan reformasi yang menekankan pada faktorfaktor rehabilitasi, modernisasi bersifat preventif dan konstruktif dan agar proses tersebut tidak mengarah pada angan-angan sebaliknya modernisasi harus dapat memproyeksikan kecenderungan yang ada dalam masyarakat dewasa ini kearah waktu-waktu mendatang, sebagai contoh adalah modernisasi pertahanan yang dapat dikatakan bersifat preventif dan konstruktif, seperti yang disebutkan

30

sebelumnya menurut teori sosiologi tentang modernisasi, maka konsep modernisasi yang demikian dapat digunakan sebagai salah satu kerangka berpikir dalam penelitian ini. Teori-teori modernisasi secara umum berdasarkan pada akar teori Emili Durkheim dan Max weber tentang perubahan sosial yang terjadi di masyarakat, karena secara umum teori modernisasi dipengaruhi oleh sosial psikologi dan kerangka ekonomi, evolusi yang terjadi pada masyarakat tradisional lebih menekankan pada modernisasi yang dilakukan oleh negara-negara Barat dan ditekankan pada negara-negara Dunia Ketiga, oleh karena itu negara-negara Dunia Ketiga perlu adanya intensif bantuan bangsa untuk mengatasi kekurangan dan perlunya kebutuhan materil dan kebutuhan sosial, seperti adanya pertisipasi masyarakat dalam kehidupan sosial dan keterlibatan politik. Titik tolak perumusan modernisasi menekankan pada cara-cara baru dalam berpikir yang memungkinkan manusia menciptakan industri modern, masyarakat modern dan pemerintahan modern, seperti yang dikutip dalam buku yang dikarang oleh Myron Weiner yang berjudul Modernisasi: Dinamika pertumbuhan (1980:12). Modernisasi sendiri merupakan suatu perubahan yang terencana untuk menghasilkan kearah yang lebih baik, walaupun arti dari modernisasi itu sendiri mempunyai bermacam-macam makna bila dipandang dari sudut yang berlainan serta menekankan pada stabilitas perubahan sosial ekonomi yang cepat dalam mengiringi modernisasi, juga adanya implikasi industrialisasi, pertumbuhan ekonomi, meningkatnya mobilitas sosial dan partisipasi politik .

31

Adapun modernisasi yang diperkenalkan di RRC merupakan suatu proses untuk mencapai kemajuan dan tidak identik dengan konotasi modernisasi yang digunakan di Barat, sehingga masih diperhatikan nilai-nilai dan tatanan bawaan dari segi sosiopolitik, moral dan etnis sistem sosial asli masyarakat RRC itu sendiri dimana pranata lama sebanyak mungkin dipertahankan.

2.5 Kekuatan Militer Dalam Konteks Politik Internasional Faktor militer masih menduduki posisi penting dalam keamanan negara walaupun dalam lingkungan keamanan internasional ditekankan penyelesaian konflik melalui pendekatan politik, ekonomi, dan diplomasi. Namun masih banyak negara menganggap cara militer merupakan usaha terpenting untuk menjaga keamanan dan kepentingan nasional. Reformasi militer besar-besaran dilakukan dengan mengembangkan senjata teknologi tinggi hampir dilakukan di seluruh dunia untuk beradaptasi dengan situasi baru ini dan menjaga kepentingan masing-masing, beberapa negara telah menyesuaikan kebijakan militer, strategi militer dan meningkatkan pertahanan dalam memperbaiki kualitas kekuatan militer.

2.6 Regionalisme Dalam Konteks Hubungan Internasional Bila kita melihat dunia sebagai suatu sistem, suatu paradigma besar, maka kawasan-kawasan serta sub-sub kawasan merupakan sub-sub sistem atau sistemsistem yang lebih kecil.

32

Louis J. Cantori dan Steven L. Spiegel, dalam bukunya The International Politics of Regions, merupakan yang pertama menggolongkan bahwa kawasankawasan sebagai sistem regional dan sub-sub kawasan sebagai sub-sistem regional adalah bagian-bagian sub-ordinasi terhadap sistem dunia (global system). Penggolongan bagian-bagian dunia atas kawasan-kawasan (regions) dan sub-sub kawasan (sub-regions) dan sub-sub kawasan (sub-regions) atau penggolongan regionl itu dipengaruhi dan titentukan oleh bermacam-macam faktor seperti faktor geografis, faktor sosiologis, faktor politis atau interaksi antar negara, faktor kesamaan etnis linguistik, faktor keterikatan atau komitmen terhadapmasalah dan perkembangan kawasan/sub-kawasan, serta keikutsertaan dalam organisasi kerjasama regional. Setiap kawasan mempunyai ciri atau karakteristik tersendiri dan merupakan sustu sistem atau sub-sistem yang mau tidak mau adalah sub-ordinasi terhadap sistem global/internasional. Hal yang terpenting dalam kajian regionalisme ini adalah untuk meninjau keeratan hubungan (level of cohesion) serta struktur dalam pelaksanaan peran atau percaturan politik (structure of relations) dalam suatu kawasan. Namun perlu kita sadari bahwa dalam perkembangannya hal ini perlu pula mencakup tinjauan mengenai peranan regionalisme (rasa kebersamaan pada suatu kawasan) guna mewarnai keeratan hubungan dalam organisasi kerjasama regional serta sebaliknya sejauh mana peranan atau manfaat kerjasama regional mempenbgaruhi tumbuhnya rasa kebersamaan (regionalisme) itu. Dikutip dalam buku karangan T. May Rudi yang berjudul Studi Kawasan, Sejarah Diplomasi (1997:22)

33

2.7

Sistem Internasional Masa Perang Dingin dan Pasca Perang Dingin Sistem internasional pada masa modern ini didominasi oleh sosok negara

dan bangsa dalam jumlah yang terus bertambah, jumlahnya mendekati angka 200 negara pada akhir abad ke-20. Sistem internasional ini memiliki struktur tertentu, dimana ada negara besar dan kuat yang disebut sebagai adidaya dan negara-negara kecil. Sistem internasional yang lazim dikenal dengan sebutan Pax Americana, yakni sistem internasional yang dipimpin oleh Amerika Serikat adalah suatu sistem global yang bersifat liberal. Adapun manfaat-manfaat yang dapat ditarik dari kepemimpinan Amerika Serikat dalam Pax Americana ini adalah adanya perlindungan militer, penggunaan mata uang dolar yang liquid, konvertibel dan terjamin itu sebagai mata uang internasional, sistem perdagangan bebas serta penyebaran teknologi unggul dari AS seperti yang dikutip dalam buku karangan, T. May Rudy yang bejudul : Studi Strategis : Dalam Transformasi Sistem Internasional Pasca Perang Dingin (2001 : 59). Salah satu ciri yang menonjol dari sistem liberal ini adalah konsep kompetisi bebas. Pada masa Pax Britanica yang lampau kepemimpinan Inggris memudar akibat semakin tersaingi oleh AS dan Jerman yang di awal abad ke-20 mulai bangkit sebagai raksasa dalam bidang teknologi, ekonomi dan militer. Kini pada masa Pax Americana, posisi AS secara relatif kian menurun sebagai akibat dari munculnya Jerman dan Jepang, dibidang ekonomi dan teknologi. Dengan kata lain, kompetisi bebas ini tidak menjamin suatu negara yang kuat akan tetap dominan, sebab bisa saja terjadi negara yang semula lemah mampu mengasah serta mampu memanfaatkan keunggulan komparatif dan

34

kompetitif, sehingga pada akhirnya mampu mengambil alih posisi dominan. Seperti kita ketahui, tiga isu baru yang mengemuka di dalam hubungan internasional adalah demokratisasi, HAM, dan lingkungan hidup. Namun isu-isu ekonomi seperti liberalisasi pasar, pencabutan hambatan tarif dan non tarif dan peningkatan daya saing, tetap penting dan berperan. Periode pasca Perang Dingin ini ditandai oleh beberapa kecenderungan yang sekarang sedang berjalan. Pertama, kompetisi ekonomi atau perdagangan terasa lebih menonjol. Dewasa ini semakin menimbulkan kekhawatiran bahwa perekonomian dunia akan lebih menjurus ke arah proteksionisme dan blokisme (terciptanya berbagai blok perdagangan yang bersifat tertutup). Kedua, kompetisi ini memacu bangkitnya kesadaran masyarakat, melalui berbagai kelompok kepentingan, untuk ikut terlibat secara aktif di dalam proses pengambilan kebijakan nasional, atau yang lebih dikenal dengan pluralisme. Ketiga, berbagai kawasan merasa khawatir akan ancaman dari kekuatan regional negara yang relatif besar dan kuat, seperti serangan Irak terhadap Kuwait (1990), seperti yang dikutip dalam buku karangan, T. May Rudy yang bejudul : Studi Strategis : Dalam Transformasi Sistem Internasional Pasca Perang Dingin (2001 : 60).

2.7.1 Konsep Sistem Internasional Masa Perang Dingin Perang Dingin adalah istilah yang diciptakan oleh seorang ahli keuangan Amerika, Bernard Baruch, pada April 1947. Istilah ini diciptakan untuk menggambarkan suatu keadaan tentang hubungan antar negara yang upayaupayanya untuk mengalahkan dan menjegal pihak lain yang termanifestasi di

35

dalam tekanan-tekanan ekonomi, propaganda, kegiatan-kegiatan rahasia dan subversif, aksi politik di pertemuan-pertemuan organisasi internasional, langkahlangkah yang senantiasa menghentikan segala macam pertempuran yang sebenarnya perang panas atau perang tembakan. Istilah tersebut di gunakan secara longgar untuk melukiskan seluruh periode hubungan antara Uni Soviet dan kekuatan-kekuatan utama Barat, khususnya AS, setelah berakhirnya Perang Dunia II, seperti yang dikutip dalam buku yang dikarang oleh T. May Rudy yang berjudul Studi Strategis : Dalam Transformasi Sistem Internasional Pasca Perang Dingin (2001 : 61). Perang Dingin dapat berarti banyak hal bagi banyak orang. Perang Dingin adalah suatu pembagian dunia menjadi dua pihak yang saling bermusuhan. Dapat juga sebagai polarisasi dari Eropa secara umum, dan Jerman secara khusus menjadi wilayah persebaran kepentingan yang saling berlawanan. Perang Dingin dapat berarti sebagai kontes ideologi, beberapa orang menyebutnya antara Kapitalis dan Komunis, dan yang lain mengatakannya antara paham Demokrasi dan Otoriter. Dan masih banyak lagi pendapat-pendapat lainnya yang sangat sangat beraneka ragam dalam pemaknaan Perang Dingin itu sendiri. Perang Dingin didominasi oleh apa yang saat ini dikenal dengan nama Super Power, yaitu AS dan Uni Soviet. Dengan berbagai cara mereka membagi Eropa bagi mereka sendiri, dan persaingan diantara keduanya secara bertahap menyebar dihampir setiap sudut di dunia ini. Pada tahun 1989 1991 Perang Dingin berakhir bersamaan dengan runtuhnya Uni Soviet sebagai sebuah negara, seperti yang dikutip dalam buku yang dikarang oleh T. May Rudy yang berjudul Studi

36

Strategis : Dalam Transformasi Sistem Internasional Pasca Perang Dingin (2001:61). Selama Perang Dingin berlangsung politik global menjadi Bipolar dan dunia terbagi menjadi tiga bagian. Satu kelompok dari masyarakat-masyarakat terkaya dan demokratis yang dipimpin oleh Amerika Serikat, berhubungan di dalam suatu ideologi, politik dan ekonomi yang tersebar, dan persaingan militer dengan suatu kelompok yang terdiri dari sejumlah masyarakat komunis yang lebih miskin berasosiasi dan dipimpin oleh Uni Soviet. Sebagian besar konflik yang terjadi berlangsung di negara Dunia Ketiga di luar wilayah dua pihak ini. Dalam kenyataanya secara militer, setelah jatuhnya Uni Soviet, Amerika Serikat jelas sekali merupakan kekuatan yang terdepan di dunia. Perang Teluk menunjukan kapabilitasnya yang unik dalam hal pertunjukan kekuatan. Secara politis, AS sesungguhnya merupakan satu-satunya kekutan terbesar.

2.7.2 Konsep Sistem Internasional Pasca Perang Dingin Masih berkaitan dengan pembahasan sistem internasional, penulis merasakan pentingnya untuk menjelaskan lebih lanjut mengenai konsep keamanan nasional pasca Perang Dingin. Penyusunan kembali pemikiran mengenai bentuk hubungan internasional dengan latar belakang sistem internasional pada saat berlangsungnya dan setelah berakhirnya Perang Dingin. Pada akhir tahun 1980-an dunia komunis telah runtuh, dan sistem internasional Perang Dingin kemudian menjadi sejarah. Pada periode setelah Perang Dingin, perbedaan yang terbesar antara orang-orang bukanlah mengenai

37

ideologi, politik ataupun ekonomi tetapi secara kultural. Nation-State tetap menjadi aktor penting dalam masalah-masalah dunia. Perilaku mereka yang dibentuk di masa lalu dengan pencapaian terhadap kekuasaan dan kekayaan, kini juga dibentuk oleh preferensi kebudayaan, persamaan dan perbedaan-perbedaan. Pengelompokan negara-negara bukan lagi terdiri dari tiga blok seperti pada masa Perang Dingin tetapi lebih kepada tujuh atau delapan peradaban dunia. Masyarakat non-Barat, khususnya di Asia Timur terus mengembangkan kekayaan ekonomi mereka. Bersamaan dengan peningkatan kekuatan dan kepercayaan diri, masyarakat tersebut dengan cepatnya akan menerima nilai-nilai budaya mereka sendiri dan menolak nilai-nilai yang telah diajarkan atau diwariskan kepada mereka oleh Barat. Sistem Internasional abad ke-21, seperti yang telah dikemukakan oleh Henry Kissinger, akan terdiri dari paling sedikit enam kekuatan besar yaitu: AS, Eropa, Cina, Jepang, Rusia dan Mungkin India Juga beberapa negara yang berukuran sedang dan negara-negara yang lebih kecil. Dalam sistem internasional politik lokal adalah politik etnis, sedangkan politik global adalah politik peradaban. Persaingan antara Super Power digantikan oleh perseteruan dari beberapa peradaban, seperti yang dikutip dalam buku yang dikarang oleh T. May Rudy yang berjudul Studi Strategis : Dalam Transformasi Sistem Internasional Pasca Perang Dingin (2001 : 63). Tatanan Dunia dapat mengandung banyak arti. Pertama, dapat mengacu kepada suatu tingkatan empiris dari hubungan, menggambarkan pengaturan dari distribusi status di antara beberapa negara atau non-negara. Kedua, dapat

38

mewakili pandangan normatif, menyarankan suatu sistem dari hubungan yang lebih diinginkan diantara aktor-aktor tersebut. Ketiga, istilah tersebut terkadang digunakan dalam hubungannya dengan tingkatan tertentu untuk menggambarkan tindakan dari kebijakan. Sesungguhnya terdapat analisa yang dapat

diperhitungkan serta kekeliruan kebijakan diantara alternatif pandangan mengenai tatanan dunia tersebut sebagai tujuan-tujuan normatif dan perilaku-perilaku strategis. Walau demikian, pandangan-pendangan tersebut juga tentunya saling berkaitan dalam hal bahwa artikulasi yang diberikan menyarankan pengenalan dari nilai-nilai kolektif tertentu berdasarkan pemahaman tertentu akan kenyataan empiris dan pendekatan untuk mengatur atau mengubahnya, seperti yang dikutip dalam buku yang dikarang oleh T. May Rudy yang berjudul Studi Strategis : Dalam Transformasi Sistem Internasional Pasca Perang Dingin (2001 : 63). Untuk mengatribusikan pandangan-pandangan mengenai tatanan dunia kepada seluruh entitas nasional membutuhkan derajat tertentu koherensi dan homogenitas terhadap pandangan dari kebijakan komunitas yang relevan atau masyarakat publik. Atribusi yang demikian itu sepertinya dapat meremehkan perluasan kepada sampai di manakah tekanan yang signifikan dapat muncul dari ketidaksepakatan atas kenyataan, nilai-nilai dan strategi antara pemimpin, institusi, atau kelompok yang berasal dari negara yang sama. Dasawarsa 1990-an telah secara meluas diakui sebagai awal hegemoni dan kesuperioran AS. Hal ini tidak sesuai dengan apa yang telah diprediksikan mengenai AS yang seharusnya akan mengalami penurunan dalam bidang sosialekonomi seperti Inggris (Pax-Britanica) di masa lampau, karena terlalu luasnya

39

beban jangkauan kekuasaan. Skenario ini tentu saja sangat sulit untuk diyakini, bahwa saingan ekonomi AS secara geopolitis lemah, sementara saingan geopolitis AS secara ekonomi berkekuatan kecil. Secara umum peting untuk mengingat bahwa praktisnya AS merupakan suatu negara benua dan benua tersebut dikaruniai oleh sistem politik yang bertahan sekaligus fleksibel, seperti yang dikutip dalam buku yang dikarang oleh T. May Rudy yang berjudul Studi Strategis: Dalam Transformasi Sistem Internasional Pasca Perang Dingin (2001:64). Dipihak lain, RRC dipandang oleh Steve Chan, secara relatif sebagai kekuatan yang memuaskan, dan akhirnya akan menerapkan norma-norma lama yang bagaimanapun juga akan meningkatkan otonomi yang dirasakan perlu, baik untuk menjaga politik domestiknya dari pengaruh asing dan juga berkenaan dengan agenda pembangunannya. Berlawanan dengan opini Barat mengenai RRC, Chan berpendapat bahwa setelah tahun 1949 RRC telah mengalami suatu metamorfosis dari penantang yang radikal menjadi suatu lawan status quo dari tatanan pandangan negara tradisional RRC yang telah menjadi pembela normanorma lama, pada saat yang sama saat AS dan teman-temannya mempertanyakan beberapa hal dari norma-norma tersebut yang memberikan negara-negara berdaulat hak untuk menekan penduduk mereka. Masa depan RRC Juga sangat tergantung kepada bagaimana aktor-aktor terdepan lainnya merespon atas peningkatan kapabilitas militer dan ekonomi RRC, seperti yang dikutip dalam buku yang dikarang oleh T. May Rudy yang berjudul Studi Strategis : Dalam Transformasi Sistem Internasional Pasca Perang Dingin (2001:61).