Anda di halaman 1dari 14

8

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

II.1 Balita Bawah Garis Merah Menurut Departemen Kesehatan (2005) Balita Bawah Garis Merah (BGM ) adalah balita yang saat ditimbang berat badannya berada pada garis merah atau di bawah garis merah pada Kartu Menuju Sehat (KMS).6 Berat badan yang berada di Bawah Garis Merah (BGM) pada KMS merupakan perkiraan untuk menilai seseorang menderita gizi buruk, tetapi bukan berarti seseorang balita telah menderita gizi buruk, karena ada anak yang telah mempunyai pola pertumbuhan yang memang selalu dibawah garis merah pada KMS. Berat Badan di Bawah Garis Merah (BGM) bukan menunjukkan keadaan gizi buruk tetapi sebagai peringatan untuk konfirmasi dan tindak lanjut. Hal ini tidak berlaku pada anak dengan berat badan awalnya sudah berada dibawah garis merah.7

II.2 Status Gizi Menurut Beck, status gizi adalah status kesehatan yang dihasilkan oleh keseimbangan antara kebutuhan dan masukan nutrient. Penelitian status gizi merupakan pengukuran yang didasarkan pada data antropometri serta biokimia dan riwayat diet.8 Menurut I Dewa Nyoman dkk (2002) status gizi adalah ekspresi dari keadaan keseimbangan dalam bentuk variabel tertentu.4 Sedangkan menurut Almatsier (2001) status gizi adalah keadaan tubuh sebagai akibat konsumsi makanan dan penggunaan zatzat gizi.9

II.3 Kartu Menuju Sehat (KMS) KMS (Kartu Menuju Sehat) untuk balita adalah alat yang sederhana dan murah, yang dapat digunakan untuk memantau kesehatan dan pertumbuhan anak. KMS balita berisi catatan penting tentang pertumbuhan, perkembangan anak, imunisasi,

penanggulangan diare, pemberian kapsul vitamin A, kondisi kesehatan anak, pemberian ASI eksklusif dan Makanan Pendamping ASI, pemberian makanan anak dan rujukan ke Puskesmas/RS. KMS balita juga berisi pesan-pesan penyuluhan kesehatan dan gizi bagi orang tua balita tentang kesehatan anaknya.8 KMS-Balita menjadi alat yang sangat bermanfaat bagi ibu dan keluarga untuk memantau tumbuh kembang anak, agar tidak terjadi kesalahan atau ketidakseimbangan pemberian makan pada anak. KMS juga dapat dipakai sebagai bahan penunjang bagi petugas kesehatan untuk menentukan jenis tindakan yang tepat sesuai dengan kondisi kesehatan dan gizi anak untuk mempertahankan, meningkatkan atau memulihkan kesehatan- nya. Manfaat KMS-Balita adalah : 8 1. Sebagai media untuk mencatat dan memantau riwayat kesehatan balita secara meliputi : pertumbuhan, perkembangan, pelaksanaan imunisasi,

lengkap,

penanggulangan diare, pemberian kapsul vitamin A, kondisi kesehatan anak pemberian ASI eksklusif, dan Makanan Pendamping ASI, pemberian makanan anak dan rujukan ke Puskesmas/Rumah Sakit. 2. 3. Sebagai media edukasi bagi orang tua balita tentang kesehatan anak Sebagai sarana komunikasi yang dapat digunakan oleh petugas untuk

menentukan penyuluhan dan tindakan pelayanan kesehatan dan gizi.


9

Berat badan yang tercantum pada KMS hanya menggambarkan pola pertumbuhan berat badan balita bukan berat badan per umur. Berat badan di Bawah Garis Merah (BGM) bukan menunjukan keadaan gizi buruk tetapi sebagai peringatan untuk konfirmasi dan tindak lanjutnya, tetapi perlu diingat tidak berlaku pada anak dengan berat badan awalnya memang sudah dibawah garis merah. Naik-turunnya berat badan balita selalu mengikuti pita warna pada KMS. KMS hanya difungsikan untuk pemantauan pertumbuhan dan perkembangann balita serta promosinya, bukan untuk penilaian status gizi. Hasil penimbangan balita di Posyandu hanya dapat dimanfaatkan atau digunakan untuk : 1. Pematauan pertumbuhan dan perkembangan individu balita dengan melihat

berat badan yang ditimbang (D) apakah naik (N), turun (T) atau BGM. 2. Perkiraan perkembangan dan pertumbuhan balita di masyarakat yaitu dengan

melihat persentase balita yang Naik Berat Badannya dibanding dengan keseluruhan balita yang ditimbang (% N/D), termasuk juga persentase balita yang BGM di banding dengan keseluruhan balita yang ditimbang (% BGM/D). 3. 4. Perkiraan perkembangan keadaan gizi balita di masyarakat. Pembinaan kegiatan Posyandu dengan menilai cakupan program dan

partisipasi masyarakat dalam kegiatan Posyandu

Cara Memantau pertumbuhan bayi

10

Pertumbuhan balita dapat diketahui apabila setiap bulan ditimbang, hasil penimbangan dicatat di KMS, dan antara titik berat badan KMS dari hasil penimbangan bulan lalu dan hasil penimbangan bulan ini dihubungkan dengan sebuah garis. Rangkaian garis-garis pertumbuhan anak tersebut membentuk grafik pertumbuhan anak. Pada balita yang sehat, berat badannya akan selalu naik, mengikuti pita pertumbuhan sesuai dengan umurnya.8
1. Balita yang naik berat badannya bila:

Garis pertumbuhannya naik mengikuti salah satu pita warna atau garis pertumbuhannya naik dan pindah ke pita warna diatasnya

Gambar 1. Indikator KMS Balita yang naik berat badannya 2. Balita yang tidak naik berat badannya bila: Garis pertumbuhannya turun, atau gari pertumbuhannya mendatar, atau pita pertumbuhannya naik tetapi pindah ke pita warna di bawahnya

11

Gambar 2. Indikator KMS Balita yang tidak naik berat badannya

3. Berat badan balita dibawah garis merah artinya pertumbuhan balita mengalami gangguan pertumbuhan dan perlu perhatian khusus, sehingga harus langsung dirujuk ke Puskesmas/Rumah Sakit

Gambar 3. Indikator KMS balita yang berat badan balita bawah garis merah 4. Berat badan balita 3 bulan berturut turut tidak naik artinya balita mengalami gangguan pertumbuhan, sehingga harus dirujuk ke Puskesmas/Rumah sakit

12

Gambar 4. Indikator KMS bila berat badan balita tidak stabil 5. Balita tumbuh baik bila: Garis berat badan anak naik setiap bulannya

Gambar 5. Indikator KMS bila berat badan naik tiap bulan 6. Balita sehat jika berat badannya selalu naik mengikuti salah satu pita warna atau pindah ke pita warna diatasnya

II.4 Faktor Faktor Yang Mempengaruhi Gizi Balita


13

Faktor-faktor yang mempengaruhi tumbuh kembang balita 1. Faktor Herediter Faktor herediter merupakan faktor yang dapat diturunkan sebagai dasar dalam mencapai tumbuh kembang anak, faktor herditer meliputi faktor bawaan, jenis kelamin, ras, dan suku bangsa. Pertumbuhan dan perkembangan anak dengan jenis kelamin laki-laki setelah lahir akan cenderung cepat dibandingkan dengan anak perempuan serta akan bertahan sampai usia tertentu. Baik anak laki-laki atau anak perempuan akan mengalami pertumbuhan yang lebih cpat ketika mereka mencapai masa pubertas. (Alimul, 2008 : 11)13

2.

Faktor Lingkungan Faktor lingkungan merupakan faktor yang memegang peranan penting dalam menentukan tercapai atau tidaknya potensi yang sudah dimiliki. Faktor lingkungan ini dapat meliputi lingkungan prenatal (yaitu lingkungan dalam kandungan) dan lingkungan postnatal (yaitu lingkungan setelah bayi lahir) Faktor lingkungan secara garis besar dibagi menjadi :13 a. Faktor lingkungan prenatal Gizi pada waktu ibu hamil Zat kimia atau toksin Hormonal

b. Faktor lingkungan postnatal 1. Budaya lingkungan

14

Dalam hal ini adalah budaya dalam masyrakat yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak, budaya lingkungan dapat menentukan bagaimana seseorang mempersepsikan pola hidup sehat 2. Status Sosial ekonomi Anak dengan keluaraga yang memiliki sosial ekonoi tinggi umumnya pemenuhan kebutuhan gizinya cukup baik dibandingkan dengan anak dengan sosial ekonomi rendah. Umumnya, jika pendapatan naik, jumlah dan jenis makanan cenderung ikut membaik juga. Tingkat penghasilan ikut menentukan jenis pangan apa yang akan dibeli dengan adanya tambahan uang. Semakin tinggi penghasilan, semakin besar pula persentase dari penghasilan tersebut dipergunakan untuk membeli buah, sayur mayur dan berbagai jenis bahan pangan lainnya. Jadi penghasilan merupakan faktor penting bagi kuantitas dan kualitas.11,12 3. Nutrisi Nutrisi menjadi kebutuhan untuk tunbuh dan berkembang selama masa pertumbuhan, dalam nutrisi terdapat kebutuhan zat gizi yang diperlukan untuk pertumbuhan dan perkembangan seperti protein, karbohidrat, lemak, mineral, vitamin, dan air.13 4. Tingkat Pendidikan Ibu Pendidikan ibu merupakan faktor yang sangat penting. Tinggi rendahnya tingkat pendidikan ibu erat kaitannya dengan tingkat pengetahuan terhadap perawatan kesehatan, higiene pemeriksaan kehamilan dan pasca persalinan, serta kesadaran terhadap kesehatan dan gizi anak-anak dan keluarganya.
15

Disamping itu pendidikan berpengaruh pula pada faktor sosial ekonomi lainya seperti pendapatan, pekerjaan, kebiasaan hidup, makanan, perumahan dan tempat tinggal.11,12 Tingkat pendidikan turut pula menentukan mudah tidaknya seseorang menyerap dan memahami pengetahuan gizi yang mereka peroleh. Hal ini bisa dijadikan landasan untuk membedakan metode penyuluhan yang tepat. Dari kepentingan gizi keluarga, pendidikan diperlukan agar seseorang lebih tanggap terhadap adanya masalah gizi didalam keluarga dan bisa mengambil tindakan secepatnya.11,12 5. Tingkat pengetahuan ibu tentang gizi Menurut Achmad Djaeni dalam penelitian Lailatul memyatakan bahwa pengetahuan gizi yang baik akan menyebabkan seseorang mampu menyusun menu yang baik untuk dikonsumsi. Semakin banyak pengetahuan gizi seseorang, maka ia akan semakin memperhitungkan jenis dan jumlah makanan yang diperolehnya untuk dikonsumsi. Semakin bertambah pengetahuan ibu maka seorang ibu akan semakin mengerti jenis dan jumlah makanan untuk dikonsumsi seluruh anggota keluarganya termasuk pada anak balitanya. Hal ini dapat meningkatkan kesejahteraan anggota keluarga, sehingga dapat mengurangi atau mencegah gangguan gizi pada keluarga. 11,12 6. Tingkat konsumsi gizi Keadaan kesehatan gizi tergantung dari tingkat konsumsi zat gizi yang terdapat pada makanan sehari-hari. Tingkat konsumsi ditentukan oleh kualitas hidangan. Kualitas hidangan menunjukkan adanya semua zat gizi yang
16

diperlukan tubuh didalam suatu susunan hidangan dan perbandingan yang satu terhadap yang lain. Kualitas menunjukkan jumlah masing-masing zat gizi terhadap kebutuhan tubuh. Kalau susunan hidangan memenuhi kebutuhan tubuh, baik dari segi kuantitas maupun kualitasnya, maka tubuh akan mendapatkan kondisi kesehatan gizi yang sebaik-baiknya, disebut konsumsi adekuat. Kalau konsumsi baik dari kuantitas dan kualitasnya melebihi kebutuhan tubuh, dinamakan konsumsi berlebih, maka akan terjadi suatu keadaan gizi lebih. Sebaliknya konsumsi yang kurang baik kualitas dan kuantitasnya akan memberikan kondisi kesehatan gizi kurang atau kondisi defisit. Status gizi atau tingkat konsumsi pangan merupakan bagian terpenting dari status kesehatan seseorang. Tidak hanya status gizi yang mempengaruhi kesehatan seseorang, tetapi status kesehatan juga mempengaruhi status gizi.
11,12

7. Iklim dan cuaca Pada saat musim tertentu kebutuhan gizi dapat dengan mudah diperoleh namun pada saat musim yang lain justru sebaliknya, sebagai contoh pada saat musim kemarau penyediaan air bersih atau sumber makanan sangatlah sulit.13 8. Olahraga dan fisik Dapat memacu perkembanagn anak karena dapat meningkatkan sirkulasi darah sehingga suplai oksigen ke seluruh tubu dapat tertur serta dapatmeningkatkan stimulasi perkembangan tulang, otot, dan pertumbuhan sel lainnya.13 9. Posisi anak dalam keluarga
17

Secara umum anak pertama memiliki kemampuan intelektual lebih menonjol dan cepat berkembang karena sering berinteraksi dengan orang dewasa namun dalam perkembangan motoriknya kadang-kadang terlambat karena tidak ada stimulasi yang biasanya dilakukan saudara kandungnya, sedangkan pada anak kedua atau tengah kecenderungan orang tua yang sudah biasa dalam merawat anak lebih percaya diri sehingga kemamapuan anak untuk berdaptasi lebih cepat dan mudah meski dalm perkembangan intelektual biasanya kurang dibandingkan dengan ank pertamanya.13 10. Status kesehatan Infeksi memperburuk taraf gizi dan sebaliknya, gangguan gizi memperburuk kemampuan anak untuk mengatasi penyakit infeksi. Kumankuman yang tidak terlalu berbahaya pada anak-anak dengan gizi baik, akan bisa menyebabkan kematian pada anak-anak dengan gizi buruk. 11,12 Gangguan gizi dan rawan infeksi merupakan suatu pasangan yang erat. Infeksi bisa berhubungan dengan gangguan gizi melalui beberapa cara yaitu: mempengaruhi nafsu makan, dapat juga menyebabkan kehilangan bahan makanan karena diare atau muntah-muntah, atau mempengaruhi metabolisme dan banyak cara lagi. Secara umum defisiensi gizi sering merupakan awal dari gangguan dari defisiensi sistem kekebalan. Infeksi memperburuk taraf gizi dan sebaliknya, gangguan gangguan gizi memperburuk kemampuan anak untuk mengatasi penyakit infeksi. 11,12 Apabila anak berada dalam kondisi sehat dan sejahtera maka percepatan untuk tumbuh kembang menjadi sangat mudah dan
18

sebaliknya.contoh apabila anak mempunyai penyakit kronis yang ada pada diri anak maka pencapaian kemampuan untuk maksimal dalam tumbuh kembang akan terhambat karena anak memiliki masa kritis. Gangguan gizi dan infeksi sering saling bekerja sama, dan bila bekerja bersama-sama akan memberikan prognosis yang lebih buruk dibandingkan bila kedua faktor tersebut masingmasing bekerja sendiri-sendiri.13 3. Faktor Hormonal Faktor hormonal yang berperan dalam tumbuh kembang anakantara lain hormone somatotropin, tiroid dan glukokortikoid. Hormon somatotropin (growth hormone) berperan dalam mempengaruhi pertumbuhan tinggi badan dengan menstimulasi terjadinya proliferasi sel kartilgo dan sistem skeletal, hormone tiroid berperan menstimulasi metabolisme tubuh. Hormon glukokortiroid mempunyai fungsi menstimulasi pertumbuhan sel intertisial dari testis (untuk memproduksi testosteron) dan ovarium (untuk
STATUS memproduksi estrogen), GIZI

selanjutnya

hormon

tesebut

menstimulasi perkembangan seks, baik pada anak laki-laki maupun perempuan yang sesuai dengan peran hormonnya
Konsumsi makanan
Pengukuran Antropometri (BB/U) Penyuluhan gizi/peran serta masyarakat

Penyakit infeksi dan parasit

Daya beli Ketersediaan pangan di keluarga & masyarakat Pola konsumsi

Perilaku hidup bersih dan sehat

Tersedia & terjangkaunya pelayanan kesehatan dan gizi

Tingkat pengetahuan keluarga tentang kesehatan gizi

Sosial-BudayaEkonomi SUMBE R DAYA

19

Bagan 1. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Status Gizi Dari Bagan 1 dapat dijelaskan adanya beberapa faktor yang mempengaruhi status gizi, yaitu yang memberikan pengaruh langsung dan tidak langsung. Faktor yang memberikan pengaruh langsung adalah konsumsi makanan dan adanya penyakit infeksi atau tidak. Sedangka faktor yang memberikan pengaruh tidak langsung adalah daya beli keluarga, ketersediaan pangan, pola konsumsi, pola distribusi, perilaku hidup sehat dan bersih, akses ke pelayanan kesehatan. Keadaan faktor tidak langsung dipengaruhi oleh tingkat pengetahuan keluarga tentang gizi, keadaan sosial, budaya, dan ekonomi.

II.5 Peran Puskesmas dalam Upaya Perbaikan Gizi Salah satu Upaya Kesehatan Wajib Puskesmas adalah Upaya Perbaikan Gizi Masyarakat. Tugas Pemegang Program Gizi antara lain mengembangkan klinik gizi di
20

dalam Puskesmas, pemantauan tumbuh kembang anak di posyandu, pengembangan sistem kewaspadaan pangan dan gizi, kampanye keluarga sadar gizi, dan lain-lain. Melakukan pemberian PMT pemulihan, yang di kondisikan dengan keadaan sekitar, diberikan selama 3 bulan. Bisa dilakukan masak bersama setiap hari, 2x seminggu, dan 1x seminggu. Makanan dimasak sesuai menu yang direncanakan semula, kemudian dibagikan hanya kepada balita sasaran. Masing-masing anak balita sasaran mendapat makanan tambahan yang sudah dimasak oleh kader bersama ibu balita. Menunya: telur, abon, peyek kacang, teri kering, biskuit, susu UHT, buah-buahan, dll. Selama ibu memberikan makanan pada anak, kader memberikan penyuluhan tentang makanan dan manfaatnya. Jika ada ibu dan balita sasaran yang tidak hadir, kader mengantar makanan tambahan pemulihan ke rumah balita tersebut. Untuk menghindari PMT Pemulihan sebagai pengganti makanan utama di rumah, maka PMT Pemulihan sebaiknya diberikan pada pagi hari diantara makan pagi dengan makan siang (sekitar pukul 10.00-11.00), atau diantara makan siang dengan makan malam (sekitar pukul 14.00-16.00) waktu setempat.

21