Anda di halaman 1dari 58

ZIARAH BUDAYA KOTA TANGERANG

MENUJU MASYARAKAT BERPERADABAN AKHLAKUL KARIMAH Oleh: Wahidin Halim Wali Kota Tangerang

Isi Buku

Tentang Penulis Isi Buku BAB SATU Jejak Sejarah Tangerang Asal Usul China Benteng Kampung Teluk Naga China Benteng Tragedi China Benteng Bangunan Bersejarah Bendungan Pintu Sepuluh Jaringan Drainase Kelenteng Boen San Bio Asal Mula Kata Kelenteng Situs Bersejarah Kelenteng Boen Tek Bio Rumah Tua Kapitan Tionghoa BAB DUA Asal Usul Budaya Lokal Gambang Kromong Peh Chun Tari Cokek Tamu Terhormat Dinamis dan Erotis Tradisi Perkawinan Chiou Thaou Makan 12 Mankuk Taburan Beras Kuning Musik Tanjidor BAB TIGA Jatidiri Masyarakat Kota Tangerang Kota Tangerang Berubah Kota Seribu Pabrik Peluang Investasi

Pengembangan Industri Mewujudkan Visi Menjalankan Misi A. Pemulihan Ekonomi B. Peningkatan Pelayanan Pendidikan, Kesehatan dan Kesejahteraan Sosial Potensi Urban Heritage Tourism Perda Cagar Budaya Landmark Kota BAB EMPAT Pembangunan Peradaban Daftar Pustaka

BAB SATU Jejak Sejarah Tangerang AWAL mula berdirinya bebrapa kerajaan dan kota besar di bumi ini umumnya diliputi mitos. Kekosongan data sejarah diisi dengan cerita legendaries. Demikian halnya dengan Roma, yang katanya didirikan oleh Romulus dan Romus, kakak beradik yang dibesarkan oleh seekor srigala. Demikian juga juga diceritakan tentang negeri Matahari Terbit yang dikaitkan keturunan dewi matahari, yang sampai kini menghiasi bendera kebangsaan Jepang. Tetapi tidak jika kita berbicara sejarah Tangerang, yang tidak bisa dilepaskan dari empat hal utama yang saling terkait. Keempat hal itu adalah peranan Sungai Cisadane; lokasi Tangerang di tapal batas antara Banten dan Jakarta; status bagian terbesar daerah Tangerang sebagai tanah partikelir dalam jangka waktu lama; dan bertemunya beberapa etnis dan budaya dalam masyarakat Tangerang. Sungai Cisadane membujur dari selatan didaerah pegunungan ke utara di daerah pesisir. Sungai ini amat berperan penting dalam kehidupan masyarakat di sepanjang daerah aliran sungai (DAS) hingga dewasa ini. Yang berubah hanyalah jenis peranannya. Sejak zaman kerajaan Tarumanegara (abad ke-15) hinggga awal zaman Hindia Belanda (awal abad ke-19), sungai ini berperan sebagai sarana lalu lintas air yang menghubungkan daerah pedalaman dengan daerah pesisir. Disamping itu, sungai Cisadane juga menjadi sumber penghidupan manusia yang bermukim di sepanjang DAS ini. Antara lain untuk mengairi areal persawahan dan perikanan di daerah dataran rendah bagian utara Tangerang. Dengan peran yang pertama itu, hasil bumi dari daerah pedalaman (lada, beras, kayu, dan lain-lain) dapat dipasarkan ke daerah pesisir dan luar daerah Tangerang. Sebaliknya, keperluan hidup penduduk pedalaman seperti garam, kain, gerabah, dan lain-lain, dapat didatangkan daerah pesisir dan luar daerah Tangerang. Sementara, peranan kedua dapat meningkakan produksi pertanian, terutama produksi beras, selain untuk mencegah bahaya banjir. Sejatinya, pada awal abad ke-16, zaman kerajaan Sunda, Tangerang tampil sebagai kota pelabuahn bersama-sama Banten dan Sunda Calapa sebagaimana tertulis dalam Summa Oriental karangan Tome Pires, orang Portugis yang memuat laporan kunjungan dari 1512-1515. Dokumen tersebut menurut A. Heuken SJ, ahli sejarah Jakarta, adalah dokumen tertua yang menyebut nama ini. Sunda Calapa atau Chia liu-pa (menurut Ma Huan, muslim China yang menulis laporan pelayaran armada Laksamana Zeng-Ho, yang kapal-kapalnya mengunjungi Pantai Ancol pada awal abad ke XV) adlah nama pelabuhan tertua di Jakarta. Yang berbeda diantara ketiga pelabuhan di Tangerang, Banten dan Jakarta itu hanyalah tingkatan kualitas dan kuantitas kegiatannya. (sunda) Calapa menjadi pelabuhan paling sibuk ketika itu lantaran lokasinya paling dekat dan dapat berhubungan langsung melalui jlan darat dan jalan air (Sungai

Ciliwung) dengan Pakuan Pajajaran yang menjadi ibu kota kerajaan Sunda. Selain itu, (Sunda) Calapa menjadi pusat kota pelabuhan Kerajaan Sunda. Dibawahnya adalah kota pelabuhan Banten yang merupakan kota pelabuhan paling barat Pulau Jawa. Posisi Banten juga sangat strategis, setelah Malaka diduduki oleh Portugis pada 1511 lantaran Selat Sunda dan pesisir barat Sumatera menjadi jalur utama perdagangan. Sedangkan Pelabuhan Tangerang termasuk pelabuhan yang sepi hingga menempati peringkat paling bawah kesibukannya, karena lokasinya berada diantara dan berdekatan dengan Banten dan (Sunda) Calapa. Lokasi ketiga kota pelabuhan berada disekitar muara sungai, yaitu Sungai Cibanten bagi kota pelabuhan Banten, Sungai Cisadane bagi kota pelabuhan Tangerang, dan Sungai Ciliwung bagi kota pelabuhan Calapa. Selanjutnya, sejak pertengahan abad ke-16 Banten dan Calapa (berubah menjadi Jayakarta sejak berada di bawah kuasa Islam pada 1527) mengembangkan diri menjadi pusat kegiatan pemerintahan dan perdagangan. Didukung oleh Cirebon dan Demak, Banten meningkat pesat sebagai pusat penyebaran agama Islam, pemerintahan, dan perniagaan laut (maritim) di Tatar Sunda bagian barat dan Sumatera bagian selatan. Puncak keemasan Kesultanan Banten berlangsung sekira pertengahan abad ke-17, pada masa pemerintahan Sultan Abulmafakir Mahmud Abdulkhadir (1596-1651) dan Sultan Ageng Tirtayasa (1651-1684). Sedangkan, Jayakarta yang semula berperan sebagai penutup hubungan Pakuan Pajajaran ke dunia luar dan merupakan bagian dari wilayah Kesultanan Banten, setelah jatuh ke dalam kekuasaan kompeni Belanda pada 1619 dan namanya diganti dengan Batavia, berhasil mengembangkan diri. Mula-mula Batavia berperan sebagai pusat kedudukan dan pusat perdagangan Kompeni (VOC) di Nusantara, kemudian sejak tahun 1800 menjadi pusat pemerintahan dan perdagangan internasional pemerintah kolonial Hindia Belanda. Semenjak dasawarsa kedua 1600-an antara Banten dan Batavia berlangsung persaingan perdagangan yang keras. Di satu pihak, Kompeni Belanda mendesakkan keinginan untuk melakukan monopoli perdagangan diwilayah Kesultanan Banten. Namun di pihak lain, Sultan Banten sendiri mempertahankan sistem perdagangan bebas dan kedaulatan Negara. Saking kerasnya persaingan itu, alhasil berkembang menjadi konflik politik dan akhirnya knflik senjata. Mula-mula pada 1652, berbentuk konflik senjata secara tertutup, namun kemudian pad 1659 berbentuk perang terbuka. Dalam suasana konflik itulah, kawasan Tangerang menjadi daerah pertahanan sekaligus medan pertempuran serta rebutan antara Banten dan Batavia. Dalam perkembangan berikutnya, pihak Banten membangun benteng pertahanan di sebelah barat Sungai Cisadane dan pihak kompeni Belanda membangun benteng pertahanan di sebelah timur Sungai Cisadane. Itulah sebabnya, dulu daerah ini dikenal dengan nama Benteng, baru muncul nama Tangerang. Dengan mengerahkan serdadu Kompeni secara besar-besaran, terutama serdadu sewaan yang berasal dari kalangan orang Nusantara sendiri, dan taktik adu-domba (devide et impera), secara bertahap wilayah Kesultanan Banten jatuh

ketangan kekuasaan Kompeni Belanda. Mula-mula pada 1569, daerah sebelah timur Sungai Cisadane jatuh ke tangan Kompeni, kemudian tanah di sepanjang Sungai Cisadane sejak dari daerah hulu sampai ke muara dan daerah sebelah selatan Sungai Cisadane sampai ke Laut Kidul (Samudra Hindia) ditetapkan masuk ke wilayah Batavia (1684). Akhirnya pada 1809, Kesultanan Banten dihapuskan serta seluruh wilayahnya dimasukkan ke wilayah pemerintahan Hindia Belanda. Sejak saat itu, berakhirlah kedudukan Tangerang sebagai daeah tapal batas antara Banten dan Jakarta, karena seluruhnya berada dibawah kuasa pemerintah Kolonial Hindia Belanda. Perubahan pemegang kekuasaan atas daerah Tangerang memberikan jalan bagi perubahan status daerah itu. Semula berstatus sebagai daerah rebutan antara Banten dan Batavia, Tangerang kemudian menjadi daerah partikelir di bawah Batavia. Sepetak demi sepetak tanah di Tangerang dikuasai oleh pihak partikelir secara perseorangan dan perusahaan. Muncullah sejumlah tuan tanah di daerah ini yang umumnya terdiri dari orang Belanda dan orang China. Disamping menguasai tanah garapan dan lingkungannya, mereka juga mneguasai penduduk yang bermukim di lahan itu. Penduduk setempat berkewajiban menggarap tanah milik tuan tanah dengan upah kecil, padahal mereka pun harus membayar berbagai pajak dan pungutan lainnya. Karena itu, terdapat perbedaan yang sangat mencolok antara tingkat kesejahteraan tuan tanah dan tingkat kesejahteraan penduduk pribumi. Selain itu, tuan tanah lebih berkuasa daripada pejabat pemerintahan pribumi. Tuan tanah dilindungi dan dibantu oleh sejumlah mandor yang bertindak sebagai jawara dan berstatus sebagai pegawai tuan tanah. Keberadaan dan fungsi jawara dalam masyarakat Tangerang masa itu menjadi gejala umum dan ciri khas lingkungan tanah partikelir. Situasi dan kondisi demikian membentuk struktur dan karakter masyarakat tersendiri dilingkungan tanah partikelir. Pendidikan sekolah hampir tak tersentu oleh bagian terbesar penduduk pribumi. Mereka mengutamakan pendidikan informal dari guru agama Islam secara individual, atau pesantren-pesantren secara kelembagaan. Peran dan kedudukan orang keturunan China dan jawara dalam masyarakat Tangerang demikian berpengaruh besar terhadap suasana dan peristiwa selama revolusi kemerdekaan pada tahun 1945-1949. Pada masa itu orang-orang keturunan China di daerah ini pernah menjadi sasaran amuk rakyat sebagai tindak balas dendam, dan amarah terhadap mereka karena dicurigai membantu pihak kolonial. Pernah pula dibentuk pemerintahan mandiri oleh kalangan jawara yang berjiwa merah dan bersikap kiri. Pemerintahan ini tak mengakui Republik Indonesia. Mereka mendirikan negara di dalam negara. Pada mulanya, penduduk Tangerang boleh dibilang hanya beretnis dan berbudaya Sunda. Mereka terdiri atas penduduk asli setempat, serta pendatang dari Banter., Bogor dan Priangan. Kemudian sejak 1526, datang penduduk baru dari wilayah pesisir Kesultanan Demak dan Cirebon yang beretnis dan berbudaya Jawa, seiring dengan proses Islamisasi dan

perluasan wilayah kekuasaan kedua kesultanan itu. Mereka menempati daerah pesisir Tangerang sebelah barat. Keragaman etnis penduduk Batavia sebagai dampak kebijakan Kompeni Belanda di bidang kependudukan di Kota Batavia melahirkan ragam etnis dan budaya Melayu Betawi. Dinamakan demikian, karena mereka berbicara dalam bahasa Melayu sebagai alat komunikasi sosialnya dan bertempat tinggal di daerah Betawi, sebutan orang pribumi bagi Kota Batavia. Penduduk etnis dan budaya Betawi ini menyebar ke daerah sekeliling Kota Betawi, termasuk daerah Tangerang. Mereka menempati daerah pesisir sebelah timur dan daerah pedalaman timur Tangerang. Kebijakan Kompeni tersebut melahirkan pula keturunan orang China dalam jumlah banyak di Kota Batavia yang menyebar ke daerah Tangerang, sebagai dampak dari pemberontakan orang-orang China di Kota Batavia pada 1740 dan lahirnya status tanah partikelir. Keturunan orang China ini tersebar di daerah tanah partikelir, terutama di daerah pesisir Tangerang sebelah timur. Selanjutnya, kebudayaan mereka berasimilasi dengan kebudayaan Melayu Betawi. Dari pertemuan itu lahirlah jenis-jenis budaya yang bercirikan Melayu Betawi dan China yang kini populer disebut budaya Betawi, seperti teater lenong, tari topeng, dan lain-lain. Dengan perkembangan penduduk seperti itu, peta penduduk dan budaya di Tangerang terbilang unik. Daerah Tangerang Utara bagian timur berpenduduk etnis Betawi dan China serta berbudaya Melayu Betawi. Daerah Tangerang Timur bagian selatan berpenduduk dan berbudaya Betawi. Daerah Tangerang Selatan berpenduduk dan berbudaya Sunda. Sedang daerah Tangerang Utara sebelah barat berpenduduk dan berbudaya Jawa. Dalam konteks keseluruhan pemerintahan di wilayah Tatar Sunda, kedudukan Tangerang mengalami beberapa kali perubahan dalam tingkat dan struktur pemerintahan. Sebagaimana telah dikemukakan, pada awal abad ke-16 Tangerang berstatus sebagai salah satu kota pelabuhan dalam lingkungan Kerajaan Sunda. Pada masa itu kota pelabuhan berada di bawah kuasa seorang syahbandar yang bertanggung jawab langsung kepada raja Sunda. Ketika Tangerang berada di bawah kuasa Kesultanan Banten sejak 1526, sistem pemerintahannya berbentuk kemaulanaan dan pusat pemerintahannya berada di daerah pedalaman, yaitu di sekitar Tigaraksa sekarang. Tatkala sebagian daerah ini jatuh ke tangan Kompeni (sejak 1659), demi keamanan pemerintahan di daerah ini dipimpin oleh seorang komandan militer Belanda. Namun, ketika seluruh daerah ini berada di bawah kuasa Kompeni Belanda dan stabilitas keamanannya telah tercapai sejak 1682, pemerintahan di daerah ini berbentuk kabupaten (regentschap) yang dipimpin oleh seorang bupati yang berasal dari kalangan penduduk pribumi.

Pada 1809 terjadi perubahan sistem pemerintahan secara menyeluruh di Hindia Belanda yang ditetapkan oleh Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels (1808-1811). Tingkat dan struktur pemerintahan di daerah Tangerang berubah lagi. Kini Tangerang berada di bawah wilayah administrasi pemerintahan De stad Batavia, de Ommelanden, en Jacatrasche Preanger Regentschappen (Kota Batavia dan sekitarnya serta wilayah Jakarta-Priangan) yang kemudian disebut Keresidenan Batavia. Daerah Tangerang disebut Batavia Barat dan berada di bawah perintah seorang Asisten Residen yang selalu dipegang oleh orang Belanda. Selanjutnya sejak tahun 1860-an, daerah ini berstatus afdeling yang disebut Afdeling Tangerang yang tetap dipimpin oleh Asisten Residen. Daerah Afdeling Tangerang dibagi atas tiga distrik, yaitu Tangerang Timur, Tangerang Selatan, dan Tangerang Utara yang selanjutnya (sejak 1880-an) masing-masing disebut Distrik Tangerang, Distrik Balaraja, dan Distrik Mauk; lalu ditambah dengan Distrik Curug. Kepala distrik dipegang oleh orang pribumi yang jabatannya disebut demang, kemudian berubah jadi wedana. Tingkat dan struktur pemerintahan demikian di Tangerang berlangsung hingga akhir kekuasaan pemerintah kolonial Hindia Belanda (1942). Pada zaman Jepang (1942-1945), Tangerang yang bertetangga dengan ibu kota pemerintah pusat Jakarta dipandang sebagai daerah strategis. Dengan demikian, tingkat dan struktur pemerintahannya dinaikkan jadi kabupaten, dan didirikanlah lembaga pendidikan militer (Seinendojo). Pembentukan Kabupaten Tangerang didasarkan Maklumat Jakarta Syu Nomor 4 tanggal 27 Desember 2603 (1943), sedangkan peresmiannya dilakukan pada hari Selasa, 4 Januari 1944, bersamaan dengan pelantikan R. Atik Suardi menjadi Bupati Tangerang pertama. R Atik Suardi adalah aktivis yang kemudian (sejak akhir tahun 1920-an) jadi salah seorang pemimpin Paguyuban Pasundan, organisasi pergerakan nasional masyarakat Sunda. Ia pernah menjabat sebagai pembantu R. Pandu Suradiningrat di Gunseibu Jawa Barat. Proklamasi Kemerdekaan RI tanggal 17 Agustus 1945 mendapat sambutan hangat dari para pemimpin dan masyarakat Tangerang. Wujudnya terdiri atas dua bentuk.Pertama, menegakkan kemerdekaan dengan cara membentuk pemerintahan daerah di Tangerang yang menunjang Proklamasi Kemerdekaan RI, mulai dari tingkat kabupaten ke bawah. Kedua, mempertahankan kemerdekaan dengan cara menentang dan melawan pihak asing dan antek-anteknya yang berusaha untuk menjajah kembali dan pihak yang mau mendirikan negara sendiri yang tidak mengakui keberadaan Republik Indonesia. Terjadilah revolusi

kemerdekaan! Akhirnya, kedaulatan Republik Indonesia bisa ditegakkan di Tangerang. Kedudukan Kabupaten Tangerang dikukuhkan kembali pada awal masa Republik Indonesia (19 Agustus 1945) dan berlaku terus hingga kini. Kabupaten ini jadi salah satu kabupaten di Provinsi Jawa Barat. Sesuai dengan semangat dan tuntutan otonomi daerah serta perkembangan Kota Tangerang yang meningkat pesat, status pemerintahan di Kota Tangerang sendiri ditingkatkan. Tadinya kota itu adalah kota kecamatan, lalu jadi kota administratif. Kota Tangerang yang memiliki luas wilavah 17.729,794 hektar dibentuk berdasarkan UndangUndang Nomor 2 Tahun 1993 tentang Pembentukan Kota Tangerang. Sebelumnya Kota Tangerang merupakan bagian dari wilayah Kabupaten 'I'angerang dengan status wilayah Kota Administratif Tangerang berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 50 Tahun 1981. Dengan demikian, di Tangerang terdapat dua jenis pemerintahan daerah yang setara, yaitu Kabupaten Tangerang dan Kota Tangerang. Sementara itu, dengan berdirinya Provinsi Banten (sejak 1999), Kabupaten Tangerang dan Kota Tangerang pun jadi bagian dari wilayah Provinsi Banten.

Asal-usul China Benteng Sejak abad lima belas dengan perahu Jung mereka arungi lautan ganas larikan diri dari bencana dan malapetaka tinggalkan negeri leluhur mencari tanah harapan di Nan Yang Perkampungan nelayan di Teluk Naga seorang encek pembuat arak mengubur kesendiriannya bersama seorang pendamping setia gadis pribumi lugu sederhana Kikuk seperti ayam dan itik yang satu pakai sumpit yang satu doyan sambel dengan bahasa isyarat berlayar biduk antar bangsa beranak pinak dalarn kembara Dari generasi ke generasi warna kulit makin menyatu jadilah generasi persatuan: `China Benteng' teladan pembauran

Sungai Cisadane jadi saksi perjalanan hidup kedua anak bangsa bersama melawan penjajah Belanda bergotong royong terjalin persaudaraan sejati seperti Cisadane terus mengalir dari abad ke ke abad menuju tanah air-Indonesia Tangerang, 1996 SAJAK karya Wilson Tjandinegara berjudul "Balada Seorang Lelaki di Nan Yang" ini, bercerita soal asal-usul kedatangan bangsa China di Tangerang. Dalam pencariannya terhadap riwayat identitas diri, Wilson Tjandinegara vang lahir dalam keluarga keturunan Tionghoa miskin di Ujung Pandang, Sulawesi Selatan, 20 Desember 1946, menuangkan tipikal pembauran alami yang terjadi di sebuah tempat di daerah Tangerang yang kemudian terkenal dengan "China Benteng." Tentang riwayat nenek moyang tersebut, Leo Suryadinata (1999) mengatakan bahwa: "Sebelum terjadi imigrasi massal etnik Tionghoa ke Asia Tenggara. khususnya ke Indonesia dan Malaysia, masyarakat Tionghoa di kedua kawasan itu sangat kecil. Pada umumnya, anggotanya telah berbaur ke dalam masyarakat setempat. Pada masa itu, transportasi sulit. Orang Tionghoa, dilarang oleh kerajaan Tiongkok untuk meninggalkan negaranya. Mereka yang meninggalkan tanah leluhurnya juga tidak membawa keluarganya". Jadi, wajar jika mereka akhirnya mengawini wanita setempat. Umumnya wanita Islam nominal dan tinggal menetap di tempat itu. Karena jumlahnya yang kecil, orang Tionghoa ini bertendensi yang berintegrasi dengan masyarakat lokal. Keturunan mereka akhirnya tidak lagi menguasai bahasa Tionghoa dan menggunakan bahasa Melayu-lingua franca dalam Nusantara untuk berkomunikasi (setelah 1928, bahasa Melayu dinamakan bahasa Indonesia). Orang China mulai menyebar ke Asia Tenggara pada masa Dinasti Tang (618-907). Ketika itu, mereka mengirim ekspedisi militernya ke daerah China Selatan. Sejak itu, banyak sekali orang-orang Hoakiau/Hokkian yang berasal dari daerah-daerah yang terletak di sekitar Amoy di Provinsi Fukien (Fujian) dan orang-orang Kwang Fu (Kanton) yang berasal dari Kanton dan Makao di Provinsi Kwangtung (Guangdong) terus menetap di perantauan dan tak kembali lagi ke kampung halamannya.

Pada masa Dinasti Sung (907-1127) mulai banyak pedagang-pedagang China yang datang ke negara-negara Asia Tenggara termasuk Indonesia. Mereka berdagang dengan orang Indonesia dengan membawa barang dagangan berupa teh, barang porselin China yang indah, kain sutra yang halus serta obat-obatan. Sedangkan mereka membeli dan membawa pulang hasil bumi Indonesia. Dalam sejarah China Kuno, dikatakan orang-orang China mulai merantau ke Indonesia pada masa akhir pemerintahan Dinasti Tang. Daerah pertama yang didatangi adalah Palembang, yang pada waktu itu merupakan pusat perdagangan kerajaan Sriwijaya. Kemudian mereka datang ke Pulau Jawa untuk mencari rempah-rempah.Banyak dari mereka yang kemudian menetap di daerah pelabuhan pantai utara Jawa seperti daerah Tuban, Surabaya, Gresik, Banten (Tangerang) dan Jakarta. Orang China datang ke Indonesia dengan membawa serta kebudayaannya, termasuk unsur agamanya. Dengan demikian, kebudayaan China menjadi bagian dari kebudayaan Indonesia. Ketika pada tanggal 23 Juni 1596 armada Belanda di bawah pimpinan Cornelis Houtman berhasil mendarat di pelabuhan Banten, ia tercengang karena menjumpai koloni Tionghoa yang mempunyai hubungan yang harmonis dengan penduduk dan penguasa setempat. Selain di Banten, orang-orang Belanda dan kemudian orang-orang Inggris juga menjumpai koloni-koloni Tionghoa di kebanyakan bandar-bandar Asia Tenggara seperti di Hoi An, Patani, Phnom Penh dan Manila. Pada tahun 1642 di Hoi An terdapat empatlima ribu orang Tionghoa dan di Banten pada tahun 1600 terdapat 3.000 orang Tionghoa. Ketika pada 1611, Jan Pieterszoon Coen diutus Gubernur Jenderal VOC Pieter Both untuk membeli hasil bumi, terutama lada di Banten, ternyata ia harus berurusan dengan seorang pedagang Tionghoa kepercayaan Sultan yang bernama Souw Beng Kong (Bencon). Souw Beng Kong adalah seorang pedagang Tionghoa yang sangat berpengaruh dan mempunyai perkebunan lada yang luas sekali. Ia sangat dihormati dan dipercaya penuh oleh Sultan dan para petani Banten. Setiap pedagang asing seperti Portugis, Inggris dan Belanda yang ingin membeli hasil bumi dari Banten harus melakukan negosiasi harga dan lain-lainnya dengan Pangeran Adipati Cakraningrat IV dari Madura, pasukan VOC yang sudah terdesak dan terkurung di kota Semarang berhasil diusir dari Jawa Tengah dan besar kemungkinan dari seluruh pulau Jawa. VOC yang akhirnya berhasil memadamkan pemberontakan tersebut mengirimkan orang-orang Tionghoa ke daerah Tangerang untuk bertani. Belanda mendirikan pemukiman bagi orang Tionghoa berupa pondokpondok yang sampai sekarang masih dikenal dengan nama Pondok Cabe, Pondok Jagung, Pondok Aren, dan sebagainya.

Di sekitar Tegal Pasir (Kali Pasir) Belanda mendirikan perkampungan Tionghoa yang dikenal dengan nama Petak Sembilan. Perkampungan ini kemudian berkembang menjadi pusat perdagangan dan telah menjadi bagian dari Kota Tangerang. Daerah ini terletak di sebelah Timur Sungai Cisadane, daerah Pasar Lama sekarang. China Benteng TIDAK seperti China peranakan pada umumnya yang berkulit putih meletak, kebanyakan China peranakan di Tangerang berkulit gelap. Tengoklah Ong Gian (47). Matanya pun tidak sipit. Sehari-hari ia bekerja sebagai petani di Neglasari, Tangerang. Selain itu, ia juga awak kelompok kesenian gambang kromong yang sering tampil di acara-acara hajatan perkawinan. Nenek moyangnya adalah China Hokkian yang datang ke Tangerang dan tinggal turun- temurun di kawasan Pasar Lama. Mereka masuk dengan perahu melalui Sungai Cisadane sejak lebih 300 tahun silam. China Benteng memang selalu diidentifikasi dengan stereotip orang China berkulit hitam atau gelap, jagoan bela diri, dan hidupnya pas-pasan atau malah miskin. Sampai sekarang, ternyata mereka juga tetap miskin, meski sudah jarang yang jago kungfu, wushu atau ilmu bela diri ala China lainnya. Meski ada beberapa yang sudah berhasil sebagai pedagang, sebagian besar China Benteng hidup sebagai petani, peternak, nelayan. Bahkan, ada juga pengayuh becak. Sejarah China Tangerang memang sulit dipisahkan dengan kawasan Pasar Lama (Jalan Ki Samaun dan sekitarnya) yang berada di tepi sungai dan merupakan permukiman pertama masyarakat China di sana. Struktur tata ruangnya sangat baik dan itu merupakan cikal-bakal Kota Tangerang. Mereka tinggal di tiga gang, yang sekarang dikenal sebagai Gang Kalipasir, Gang Tengah (Cirarab), dan Gang Gula (Cilangkap). Sayangnya, sekarang tinggal sedikit saja bangunan yang masih berciri khas pechinan. Pada akhir tahun 1800-an, sejumlah orang China dipindahkan ke kawasan Pasar Baru, Tangerang dan sejak itu mulai menyebar ke daerahdaerah lainnya. Pasar Baru pada tempo dulu merupakan tempat transaksi (sistem barter) barang orang-orang China yang datang lewat sungai dengan penduduk lokal. Mengenai asal-usul kata China Benteng, menurut sinolog dari Universitas Indonesia, Eddy Prabowo Witanto MA, tidak terlepas dari kehadiran Benteng Makassar. Benteng yang dibangun pada zaman kolonial Belanda itusekarang sudah rata dengan tanah terletak di tepi Sungai Cisadane, di pusat Kota Tangerang. Pada saat itu, kata Eddy, banyak orang China Tangerang yang kurang mampu tinggal di luar Benteng Makassar. Mereka terkonsentrasi di daerah sebelah utara, yaitu di Sewan dan Kampung Melayu. Mereka berdiam di sana sejak tahun 1700-an. Dari sanalah muncul, istilah "China Benteng".

Pada 1740, terjadi pemberontakan orang China menyusul keputusan Gubernur Jenderal Valkenier untuk menangkapi orang-orang China yang dicurigai. Mereka akan dikirim ke Sri Lanka untuk dipekerjakan di perkebunan-perkebunan milik VOC. Pemberontakan itu dibalas serangan serdadu kompeni ke perkampungan-perkampungan China di Batavia (Jakarta). Sedikitnya 10.000 orang tewas, dan sejak itu hanyak orang China mengungsi untuk mencari tempat baru di daerah Tangerang, seperti Mauk, Serpong, Cisoka, I.egok, dan bahkan sampai Parung di daerah Bogor. Itulah sebabnya, banyak orang China yang tinggal di pedesaan di pelosok Tangerang di luar kawasan peChinan di Pasar Lama dan Pasar Baru. Meski demikian, menurut pemerhati budaya China Indonesia, David Kwa, mereka yang tinggal di luar Pasar Lama dan Pasar Baru itu tetap disebut sebagai China Benteng. Sebagai kawasan permukiman China, di Pasar Lama dibangun kelenteng tertua, Boen Tek Bio, yang didirikan tahun 1684 dan merupakan bangunan paling tua di Tangerang. Lima tahun kemudian, 1689, di Pasar Baru dibangun kelenteng Boen San Bio (Nimmala). Kedua kelenteng itulah saksi sejarah bahwa orang-orang China sudah berdiam di Tangerang lebih dari tiga abad silam. Dalam penelitiannya, sarjana Seni Rupa dan Desain ITB Jurusan Desain Komunikasi Visual, Y Sherly Marianne, antara lain menyebutkan, sekitar 80 persen dari 19.191 warga Kelurahan Sukasari di Kotamadya Tangerang adalah orang China Benteng. Angka statistik April 2002 ini tidaklah mengherankan, karena Pasar Lama masuk dalam wilayah Sukasari. Menurut Sherly, kehidupan masyarakat China Benteng memang keras agar bisa bertahan hidup. Sebab, sebagian besar pekerjaan mereka bukan dalam bidang ekonomi, tetapi sebagai petani di pedesaan. Yang unik dari masyarakat China Benteng adalah bahwa mereka sudah berakulturasi dan beradaptasi dengan lingkungan dan kebudayaan lokal. Dalam percakapan sehari-hari, misalnya, mereka sudah tidak dapat lagi berbahasa China. Logat mereka bahkan sudah sangat Sunda pinggiran bercampur Betawi. Ini sangat berbeda dengan masyarakat China Singkawang, Kalimantan Barat, yang berbahasa ina meskipun hidup kesehariannya juga banyak yang petani miskin. Logat China Benteng memang khas. Ketika mengucapkan kalimat, "Mau ke mana", misalnya, kata "na" diucapkan lebih panjang sehingga terdengar "mau kemanaaaa". Di bidang kesenian, mereka memainkan musik gambang kromong yang merupakan bentuk lain akulturasi masyarakat China Benteng. Sebab, gambang kromong selalu dimainkan dalam pesta-pesta perkawinan, umumnya diwarnai tari cokek yang sebenarnya merupakan budaya tayub masyarakat Sunda pesisir seperti Indramayu. Meski demikian, masyarakat China Benteng masih mempertahankan dan melestarikan adat istiadat nenek moyang mereka yang sudah ratusan

tahun. Ini terlihat pada tata cara upacara perkawinan dan kematian. Salah satunya tampak pada keberadaan "Meja Abu" di setiap rumah orang China Benteng. Beberapa tradisi leluhur yang masih dipertahankan antara lain, Cap Go Meh (perayaan 15 hari setelah Imlek), Peh Cun, Tiong Ciu Pia (kue bulan), dan Pek Gwee Cap Go (hari kesempurnaan). Demikian pula panggilan encek, encim, dan engkong masih digunakan sebagai tanda hormat kepada orang yang lebih tua. Juga salam (pai) tetap dipertahankan dalam keluarga China Benteng pada saat bertemu dengan orang lain. Yang khas dari masyarakat China Benteng adalah pakaian pengantin yang merupakan campuran budaya China dan Betawi. Pakaian pengantin laki-laki, merupakan pakaian kebesaran Dinasti Ching, seperti terlihat dari topinya, sedangkan pakaian pengantin perempuan hasil akulturasi ChinaBetawi yang tampak pada kembang goyang. Secara ekonomi, masyarakat tradisional China Benteng hidup paspasan sebagai petani, peternak, nelayan, buruh kecil, dan pedagang kecil. Ny Kenny atau Lim Keng Nio (48) yang tinggal di Gang Cilangkap RT 03 RW 02, Kelurahan Sukasari, Tangerang, misalnya, setiap hari harus bangun pagi-pagi untuk membawa dagangan kue ke pasar. Ong Gian, petani sawah di Neglasari yang nyambi menjadi pemain musik gambang kromong, juga harus bekerja keras untuk bisa mempertahankan hidup. Fenomena China Benteng, merupakan bukti nyata betapa harmonisnya kebudayaan China dengan kebudayaan lokal. Lebih dari itu, keberadaan China Benteng seakan menegaskan bahwa tidak semua orang China memiliki posisi kuat dalam bidang ekonomi. Dengan keluguannya, mereka bahkan tak punya akses politik yang mendukung posisinya di bidang ekonomi. David Kwa, seperti juga Wilson Tjandinegara, lebih melihat fenomena China Benteng sebagai contoh dan bukti nyata proses pembauran yang terjadi secara alamiah. Masyarakat China Benteng hampir tidak pernah mengalami friksi dengan etnis lainnya. Kenyataan ini membuat David yakin, persoalan sentimen etnis lebih bernuansa politis yang dikembangkan oleh orang-orang yang punya kepentingan politik. Realitas China Benteng yang tinggal di pusat kekuasaan politik dan ekonomi menunjukkan, masyarakat etnis China sesungguhnya sama dengan etnis lainnya. Ada yang punya banyak uang, tetapi ada pula yang hidup di bawah garis kemiskinan. Bahkan, Ridwan Saidi, pengamat budaya dari Betawi, melihat realitas China Benteng sebagai wajah lain Indonesia. Ada yang kaya, tetapi tidak sedikit pula yang miskin. Tragedi China Benteng HITAM putih wajah China Benteng itu juga menyisakan kisah pilu. Sekitar Juni 1946, terjadi kerusuhan di Tangerang yang menimpa etnis tersebut. Sedikitnya ada lima desa, yakni Rajeg, Gandu, Balaraja,

Cikupa, dan Mauk, yang dilaporkan membara. Perkampungan China di wilayah itu diobrak-abrik massa. Puing-puing berserakan di sana-sini. Tragedi itu disulut sebuah kabar santer ada tentara Nica beretnis Tionghoa yang menurunkan bendera merahputih dan menggantinya dengan bendera Belanda. Seperti bensin menyambar api, kabar ini kontan meluas dan memicu kemarahan. Apalagi, ketika itu masih zaman perang kemerdekaan. Republik yang belum genap setahun, harus menghadapi agresi tentara Belanda. Dan ada ketegangan sosial: di wilayah itu, ada sejumlah tuan tanah Tionghoa yang berhadapan dengan penduduk. Puncaknya, tersiar kabar, seorang Nica Tionghoa membakar rumah w arga pribumi. Ini sebab-sebab menimbulken rajat Indonesier poenja goesar, hingga timboellah itoe tragedi Tangerang, tulis Rosihan Anwar dalam Harian Merdeka, 13 Juni 1946. Pada bulan Mei 1946, sebanyak 636 orang Tionghoa, termasuk 136 orang perempuan dan anak-anak di daerah Tangerang dan sekitarnya telah menjadi korban pembunuhan. Sekitar 1.268 rumah etnis Tionghoa habis dibakar dan 236 lainnya dirusak. Diperkirakan ada 25.000 orang pengungsi di Jakarta yang datang dari daerah tersebut. Laskar Rakyat yang marah lalu menangkapi para lelaki keturunan China. Mereka digiring ke Penjara Mauk. Tanggal 3 Juni 1946, penjara yang berukuran 15 x 15 m itu dipenuhi sekitar 600 lelaki China dari seantero Tangerang. Mereka, banyak di antaranya petani miskin, disekap dengan perlakuan yang memprihatinkan. "Malam tida ada lampoe. Orang kentjing dan boewang aer deket soemoer. hingga tempat di sakiternya penoeh kotoran, dan joestroe soemoer itoe poenja aer diboeat minoem, minoemnja dengen bereboetan", tutur seorang korban penyekapan yang diwawancarai Star Weekly, koran mingguan yang dikelola wartawan keturunan Tionghoa. Kabar mengenaskan ini segera menyebar ke Jakarta. Kaum keturunan China tergedor hatinya. Senin, 10 Juni, sekitar 40 pemuda Tionghoa yang tergabung dalam Poh An Tui bergerak ke Tangerang menolong para Hoakiau yang terancam jiwanya. Mereka dibekali senjata api dan dibagi dua kelompok. Yang pertama datang ke Mauk dan membebaskan tawanan. Kelompok lain menyaksikan reruntuhan sejumlah desa yang banyak dihuni etnis China. Tercatat, sekitar 2 . 0 0 0 warga keturunan diungsikan ke Jakarta. Ada yang dinaikkan truk dan sebagian besar berjalan kaki. Dari rombongan pengungsi inilah diperoleh kabar tak sedap: terjadi penyerangan seksual atas perempuan etnis China. Tidak ada data statistik yang jelas, hanya dikatakan bahwa tidak sedikit perempuan Tionghoa yang diperkosa. Ihwal kekerasan seksual itu akhirnya tak terungkap jelas. Hanya saja, sebuah advertensi yang dimuat Star Weekly, 9 Juni 1946, menyerukan hari berkabung untuk ratusan atawa ribuan Hoakian -disebut China Benteng yang tewas di Tangerang. Bisa jadi, iklan itu dilebih-lebihkan. Tapi, tak satu

pun sumber yang menyebut dengan pasti berapa jumlah korban sesungguhnya, termasuk korban penyerangan seksual. Tak lama setelah tragedi itu meledak, pemerintah mulai turun tangan. Menteri Penerangan M. Natsir meninjau lokasi kerusuhan bersama beberapa wartawan. Namun, fakta otentik peristiwa itu tetap gelap. Menurut Rosihan Anwar, tak ada perkosaan, hanya rumah-rumah mereka yang dibakar. Pengikut Poh An Tui yang pro Nica dibunuhi rakyat. Bangunan Bersejarah IBARAT pepatah, `lain padang lain belalang, lain lubuk lain ikannya', begitu juga dengan sejarah berdirinya sebuah kota. Dia bisa ditelusuri dari perjuangan masyarakatnya, kondisi bangunan tua dan masih banyak saksi bisu lainnya. Semua itu bisa menceritakan perjalanan panjang masa lalu sebuah kota, terutama ketika memasuki masa jaya. Keberadaan bangunan tua memberikan sumbangan yang besar terhadap kebudayaan kota tempat bangunan tersebut berdiri. Seperti dijelaskan di muka, Kota Tangerang memiliki sejumlah bangunan tua yang menyebar di pelbagai sudut kota. Sebagian besar gedung itu masih difungsikan hingga kini, walau ada yang dibiarkan kuyu, berlumut tak terurus. Gedung-gedung tua itu menjadi nafas masa lalu yang terus berhembus hingga sekarang. Denyut modernisasi kota seakan tidak berpengaruh terhadap keberadaan bangunan-bangunan tua itu. Semuanya tetap berdiri tegak, di tengah "peradaban baru yang ada di sekitarnya. Di antara bangunan-bangunan tua tersebut yang dapat disebutkan di sini adalah sebagai berikut: Bendungan Pintu Sepuluh TAK jauh dari lokasi Masjid Pintu 1000, terdapat Bendungan Pasar Baru Irigasi Cisadane. Bendungan ini lebih dikenal "Pintu Air Sepuluh". Sesuai namanya bendung ini memiliki 10 pintu air, masing-masing selebar 10 meter. Pemerintah Belanda membangunnya selama enam tahun, sejak 1925 hingga 1931, dengan mendatangkan para pekerja dari Cirebon. Bendungan ini bertujuan untuk mengatur aliran sungai Cisadane hingga membuat Tangerang menjadi kawasan pertanian yang subur. Dari bendung ini, air didistribusikan untuk irigasi dan sumber air baku bagi kawasan Tangerang. Sebagian besar dialirkan ke muara Sungai Cisadane di Tanjung Burung (Teluk Naga) menuju ke Laut Jawa. Bangunan sepanjang 110 meter ini membentang di Kali Cisadane tepatnya di daerah Pasar Baru. Bendung ini sekarang dikelola oleh Balai Pengelola Sumber Daya Air (BPSDA) Cisadane-Ciujung, Kota Tangerang. Dari sini pula, para petugas BPSDA menjaga ketinggian air untuk mencegah banjir. Batas ketinggian air normal di bendungan ini adalah 12,5 meter. Ketika terjadi banjir bandang

yang melanda Kota Tangerang pada 1981, ketinggian air di Pintu Air Sepuluh ini mencapai 14 meter, kendati seluruh pintunya sudah dibuka. Sedangkan di musim kemarau, ketinggian air bisa mencapai 11 meter. Kalau sudah begini, akibatnya, lebih dari 12.000 pelanggan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) di wilayah ini bisa terancam krisis air bersih. Pernah suatu ketika, Bendungan Pintu Air Sepuluh itu diketahui jebol di sembilan titik bendung. Kerusakan ini, karena kurangnya perawatan. Selain sampah yang menumpuk dan menutupi bagian bendungan yang jebol, juga dikarenakan besi-besi yang menopang bendungan tersebut kondisinya juga sudah dipenuhi karat. Jebolnya sembilan bendungan yang menjadi tempat penampungan air baku PDAM Kota Tangerang itu, menyebabkan turunnya debit air Sungai Cisadane. Ambang batas normal debit air Sungai Cisadane tak bisa dipertahankan pada posisi 12,5 meter. Debit sungai yang membelah kota dan menjadi tumpuan hidup jutaan jiwa itu susut hingga 11,20 meter. Itu berarti, debit air Sungai Cisadane menyusut sekitar 1,3 meter dari kondisi normal. Puluhan ribu pelanggan PDAM memang sangat menggantungkan hidupnya pada air Sungai Cisadane. Tak bisa dibayangkan, apa jadinya bila ketersediaan air yang menjadi bahan baku PDAM habis terbuang akibat kebocoran itu. Jebolnya sembilan titik bendung itu juga mengganggu kebutuhan air pelanggan PDAM Tirta Kerta Raharja (TKR) milik Kabupaten Tangerang. Bahkan, kegiatan dan operasional di sekitar Bandara Soekarno-Hatta juga bisa terkendala dengan menurunnya persediaan air bersih. Turunnya debit air Sungai Cisadane, selain bakal mempengaruhi layanan terhadap pelanggan PDAM juga mempengaruhi produksi pertanian di wilayah pantura Tangerang. Akibat turunnya debit air, sekitar 900 hektare areal persawahan di tujuh kecamatan di Kabupaten Tangerang terancam puso. Untuk mengatur turun naik seluruh pintu air yang terbuat dari besi itu, dipakai lima mesin penggerak merek HEEMAF buatan Belanda masingmasing berkapasitas 6.000 watt. Mesin yang seumur dengan usia bendungan itu sekarang masih terawat baik berkat tangan terampil petugas di sana. Mereka harus rajin meng-ganti oli mesin setiap 500 jam dan roda giginya harus senan-tiasa dilumasi gemuk. Jaringan drainase SISTEM jaringan drainase di Kota Tangerang dibagi menjadi dua, yaitu sistem drainase makro/drainase alam, yaitu sungai dan anak-anak sungai yang berfungsi sebagai badan air penerima. Sistem drainase mikro meliputi saluran primer, sekunder, dan tersier dengan total panjang saluran sekitar 192.763 meter. Sistem drainase makro Kota Tangerang meliputi Sungai Cisadane dan empat buah sungai kecil yang melintasi wilayah kota sebagai badan air

penerima dari sistem drainase alam kota yaitu: Kali Sabi yang mengalir mulai dari Jatiuwung. Selain itu, ada kali Angke di kawasan Ciledug, Sungai Cicarap di Pasar Kamis dan Kota Bumi, Sungai Cantiga di Ciputat, dan Pesanggrahan di Pondok Aren. Kelima sungai tersebut mempunyai daerah tangkapan air yang cukup luas dengan muara ke sebelah Utara dan berakhir di Laut Jawa. Selain sungai yang berfungsi sebagai badan air penerima tersebut, terdapat juga Situ Cipondoh yang berfungsi sebagai tandon air seluas 120 hektar. Melihat kondisi topografi Kota Tangerang yang berada pada ketinggian 0-30 m di atas permukaan laut, kemiringan lahan antara 0-3 derajat yang relatif datar, berakibat air hujan tidak bisa cepat mengalir. Apalagi curah hujan yang cukup tinggi antara 15000-2.000 millimeter per tahun serta 52 persen dari panjang saluran drainase sekunder dan tersier kondisinya buruk. Maka dapat disimpulkan bahwa Kota Tangerang mempunyai potensi genangan. Banjir memang masalah utama di Kota Tangerang dengan luas genangan sekitar 180,5 hektar tersebar di 49 lokasi pada kawasan permukiman dan jalan. Hal tersebut dirasakan sebagai suatu masalah mengingat genangan menimbulkan rusaknva alam dan mengganggu kualitas lingkungan permukiman. Beberapa wilayah tergenang sampai 72120 jam dengan tinggi mencapai 1,5 m dan wilaah lain berkisar antara 3-48 jam dengan tinggi genangan 0,3-1 m. Secara umum permasalahan genangan di Kota Tangerang antara lain disebabkan oleh faktor alamiah saluran itu sendiri karena adanya penggerusan dan terbawanva material saluran oleh aliran sehingga terjadi pendangkalan dan sedimentasi yang mengakibatkan terjadinya penyempitan kapasitas dimensi saluran. Selama 20 tahun terakhir, endapan lumpur di Sungai Cisadane saja mencapai lima hingga enam meter. Padahal, kedalamannya diperkirakan hanya tujuh meter. Endapan lumpur itu lebih banyak di tepiannya. Di tengahnya. Diperkirakan masih mencapai kedalaman tujuh meter. Endapan seperti ini terjadi sepanjang enam kilo meter sungai cisadane yang melintasi kota Tangerang, hingga Pintu Air Sepuluh. Pemerintah Provinsi Banten teiah mengangeluarkandana Rp 9 juta untuk rehabilitasi daerah aliran Sungai Cisadane. Selain pengerukan, dana tersebut juga digunakan untuk penguatan tebing-tebing sungai dengan batu. Pengerukan, memang belum bisa dilakukan secara maksimal. Tak kurang sekira 40 ribu meter kubik endapan lumpur yang harus dikeruk. Penguatan tebing dilakukan pada tebing sungai sepanjang ;ac meter. Kelenteng Boen San Bio TEMPAT ibadah kelenteng sudah ada di Indonesia sejak 400 tahun sang lalu. Tempat ibadah ini merupakan tempat ibadah tiga agama etnis

Tionghoa, yaitu Budha, Khonghucu, dan Tao. Akan tetapi, dalam praktiknya tidak pernah ada fanatisme terhadap salah satu dari tiga agama tersebut. Dengan kata lain, dalam prakteknya ketiga agama tersebut dilakukan bersamaan. Gabungan ketiga agama tersebut dikenal dengan nama Tridharma. Campuran ketiga agama tersebut dapat dijelaskan dalam kaitannya dengan latar belakang orang China di Asia Tenggara. Para leluhur mereka datang dari China Selatan dimana ketiga agama itu diterima sebagai satu kepercayaan. Kepercayaan suatu agama dieksistensikan dalarn suatu upacara suci yang melibatkan masyarakat (umat). Untuk itu diperlukan sebuah tempat atau bangunan suci untuk melaksanakan upacara tersebut. Setiap masyarakat beragama didunia memiliki tempat peribadatan khusus untuk melaksanakan upacara keagamaan mereka. Islam memiliki masjid, Katholik dan Kristen gereja, Hindu dengan puranya dan Buddha dengan vihara. Vihara secara harfiah berarti tempat persir.ggahan, merupakan tempat tinggal atau kediaman para bhikkhu (biksu), terutama untuk berteduh dan berlatih meditasi. Dalam bahasa Indonesia karena lafal pengucapan, vihara berubah menjadi biara. Dalam pengertian agama Buddha, vihara dipakai untuk merujuk tiga kediaman yaitu: Kediaman Dewa (Dhiba-Vihara), Kediaman Luhur (BrahmaVihara) dan Kediaman Mulia (Ariya-Vihara). Jadi, pada dasarnya antara vihara dan kelenteng sebenarnya tak ada bedanya, karena dipakai secara bersama-sama sebagai sarana beribadat bagi ketiga agama etnis Tionghoa (Buddha, Kkonghucu, dan Tao) tersebut. Asal mula kata Kelenteng BANYAK yang berasumsi, bahwa kata kelenteng merupakan adaptasi dari bahasa asing. Tetapi, ternyata ini merupakan kata asli Indonesia, dan sejatinya kata kelenteng hanya dapat ditemui di Indonesia. Ditilik dari kebiasaan orang Indonesia yang sering memberi nama kepada suatu benda atau mahluk hidup berdasarkan bunyi-bunyian yang ditimbulkan seperti Kodok Ngorek, Burung Pipit, Tokek maka demikian pula halnya dengan kelenteng. Ketika di kelenteng diadakan upacara keagamaan, sering digunakan genta yang apabila dipukul akar. berbunyi `klinting' sedang genta besar berbunvi `klenteng'. Maka bunyi-bunyian seperti itu yang keluar dari tempat ibadat orang China dijadikan dasar acuan untuk merujuk tempat tersebut (Moertiko ha1.97) Versi lain menurut `Kronik 'I'ionghoa di Batavia', disebutkan bahwa sekitar tahun 1650, Letnan Tionghoa, Guo Xun-guan mendirikan sebuah tempat ibadah untuk menghormati Guan Yin di Glodok. Guan Yin adalah Dewi welas asih Buddha yang lazim dikenal sebagai Kwan Im.

Pada abad ke-17 waktu umat kristen Jepang dianiaya, patung Dewi Kvsan Im menggantikan patung Bunda Maria untuk menyesatkan mata-mata polisi Jepang. Tempat ibadah di Glodok itu dise-but Guan Yin Ting atau tempat ibadah Dewi Guam Yin (Kwan Im). Kata Tionghoa YinTing ini disebut dalam kata Indonesia menjadi Klenteng, yang kini menjadi lazim bagi semua tempat ibadah Tionghoa di Indonesia (Heuken hal.181). Seorang sarjana arsitektur yaitu Evelin Lip menyatakan bahwa masyarakat China yang ingin mendirikan sebuah bangunan suci biasanya akan mengikuti aturan-aturan yang berlaku di China. Aturan-aturan tersebut adalah bahwa suatu bangunan suci biasanva didirikan di atas podium, dikelilingi oleh pagar keliling, mempunyai keletakan simetris, mempunyai atap dengan arsitektur China, sistem stnikturnya terdiri dari tiang clan balok serta motif dekoratif untuk memperindah bangunan. Satu hal lagi yang tidak dapat dilupakan masyarakat China dalam pencarian lokasi adalah berpedoman pada Hong Sui (Feng Sui). Dengan berpedoman pada Feng Sui ini diharapkan bisa memberikan keberuntungan pada penghuninya. Selain itu juga Lip mengatakan, kelenteng-kelenteng di China Utara berukuran lebih besar dan hiasannya sangat sedikit dibandingkan dengan yang ada di China Selatan dimana kelentengnya mempunyai banyak hiasan. Bumbungan atapnya dihiasi dengan motif naga, burung phoenix, ikan, mutiara atau pagoda dan ujung bumbungannya melengkung ke atas. Ciri arsitektural seperti inilah yang dibawa ke Singapura dan Malaysia oleh para perantau dan pedagang dari China. Situs bersejarah KELENTENG, lantaran usia bangunannya vang kebanyakan sudah tua, kini menjadi situs bersejarah atau bangunan yang seharusnya dilindungi. Di Jalan Pasar Baru, Kota Tangerang itulah terdapat Vihara Nimmala yang dulunya bernama Kelenteng Boen San Bio (Kebajikan Setinggi Gunung). Selain Kelenteng Boen San Bio, di Tangerang masih terdapat dua kelenteng tua lainnya yaitu Kelenteng Boen Tek Bio di kawasan Pasar Lama dan Kelenteng Boen Hay Bio di Serpong, Tangerang. Kelenteng Boen San Bio dibangun pada 1689 oleh Oey Giok Koen, seorang tuan tanah yang pernah berkuasa di kawasan Pasar Baru. Kini vihara ini amat terkenal dengan l0 rekor prestasi yang berhasil diraihnya dari Museum Rekor Indonesia (MURI). Antara lain, lampion terbanyak, hio terbesar seberat 4,8 ton terbuat dari batu giok dan vihara yang memiliki 17 Kiem Sin (patung dewa-dewa) dari batu onyx. Di pintu masuk indera penglihatan kita suuah disergap oleh berbagai detail seperti warna khas Tiongkok merah menyala dipadu dengan kuning dan motif bunga pada gapura pintu masuk, deretan ratusan lampion merah bertuliskan kertas kuning nama-nama keluarga penyumbang lampion dan tulisan motto unik kelenteng ini yaitu "the temple never sleep".

Di pojok sebelah kiri, terlihat rumah minyak berwarna merah menyala yang menyediakan berbotol-botol minyak sumbangan dari donatur untuk digunakan umat bersembahyang. Setelah memasuki koridor terlihat ruangruang peribadatan di setiap sudutnya lengkap dengan meja altar dan patting-patting dewra. Tak kurang terdapat 16 tempat peribadatan yang diisi dengan patungpatung dewa dalam kepercayaan China Khonghucu (Kong Fu Tse). Menjelang perayaan Imlek, suasana di kelenteng ini biasanya sangatlah meriah. Lilin-lilin merah setinggi sekitar 1 meter yang bisa menyala tanpa henti selama sebulan lebih dinyalakan. Selain altar utama, di kiri dan kanan kelenteng ini, terdapat tempat pemujaan yang dibagi berdasarkan permintaan. Tentu saat memasuki kelenteng, harum dupa wangi dan asap yang bisa membuat mata perih langsung menyergap. Seperti halnya kelenteng lain, akan dijumpai pula patung-patung para dewa dan dewi, tak terkecuali patung Dewi Kwan Im (Dewi Welas Asih yang diagungkan masyarakat Tionghoa) setinggi tiga meter di halaman belakang. Kelenteng dengan pelindung Khongco Hok Pek Tjeng Sin atau Dewa Bumi ini menyimpan banyak artifak bersejarah seperti bagian kepala dan ekor berwarna biru dan kuning dari perahu Peh Cun yang berbentuk naga dari tahun 1940 yang disimpan dalam sebuah gazebo di halaman belakang. Kelenteng Boen Tek Bio BERBICARA tentang Kelenteng Boen Tek Bio (Padumuttara) tidak terlepas dari sejarah Kota Tangerang dan keberadaan orang Tionghoa di Tangerang. Boen Tek Bio adalah kelenteng tertua yang dibangun pada 1684 di kawasan permukiman China, di Pasar Lama. Kelenteng ini juga diketahui merupakan bangunan paling tua di Tangerang sebagai saksi sejarah bahwa orang-orang China sudah berdiam di Tangerang lebih dari tiga abad silam. Para penghuni perkampungan Petak Sembilan secara gotongroyong mengumpulkan dana untuk mendirikan sebuah kelenteng yang diberi nama Boen Tek Bio. (Boen=Sastra Tek=Kebajikan Bio=Tempat Ibadah). Bio yang pertama berdiri diperkirakan masih sederhana sekali yaitu berupa tiang bambu dan beratap rumbia. Awal abad ke-19 setelah perdagangan di Tangerang meningkat, dan umat Boen Tek Bio semakin banyak, kelenteng ini lalu mengalami perubahan bentuk seperti yang bisa dilihat sekarang. Sebagai tuan rumah kelenteng ini adalah Dewi Kwan Im. Selain Dewi Kwan Im di sebelah kiri dan kanan kelenteng ini juga dibangun tempat untuk dewa-dewa lain. Berbeda dengan kebanyakan kelenteng yang ada di Indonesia maupun yang ada di negeri Tiongkok, Kelenteng Boen Tek

Bio mempunyai satu tradisi yang sudah berlangsung selama ratusan tahun yaitu apa yang dikenal dengan nama Gotong Toapekong. Setiap 12 tahun sekali yaitu saat tahun Naga menurut kalendar China, di dalam Kota Tangerang berlangsung arak-arakan joli Ka Lam Ya, Kwan Tek Kun dan terakhir Joli Ema Kwan Im. Pesta tahun Naga ini dimeriahkan oleh pertunjukan Barongsai dan Wayang Potehi yang berhasil menyedot ribuan pengunjung. Pesta ini terakhir kali diadakan tahun 1976. Rumah Tua Kapitan Tionghoa RUMAH tua ini sudah berusia lebih kurang 400 tahun. Konon rumah berhantu itu bekas rumah tuan tanah, seorang Kapten Tionghoa (Kapitein der Chineezen) di zaman Belanda. Pangkat kapten dan letnan diberikan Kompeni (pemerintah Belanda) kala itu hanya kepada seseorang dari keluarga terkaya di daerah tertentu dengan kewenangan mengatur secara administratif daerah tersebut. Tugasnya kira-kira sepadan dengan lurah sekarang. Di PeChinan, pengaturan daerah secara admistratif dilakukan oleh sebuah Dewan Tionghoa (Kong Koan) yang beranggotakan kapitein dan letnan. Sejak 1837 dewan ini diketuai seorang mayor yang dibantu kapitein dan letnan. Hanya tiga kota besar yaitu Batavia, Semarang, dan Surabaya yang memiliki Mayor Tionghoa dan mengetuai Kong Koan. Kong Koan berwenang menyelesaikan perkara kecil di antara orang Tionghoa tapi atas nama pemerintah Hindia Belanda dan menyerahkan perkara besar kepada pemerintah. PeChinan atau kawasan Pasar Lama merupakan salah satu kampung tua di Tangerang. Sejak November 1740, penguasa VOC menetapkan kawasan Pasar Lama sebagai tempat tinggal para pemukim asal China. Maksudnya, agar penguasa Belanda mudah melakukan pengawasan terhadap mereka. Di perkampungan ini ditempatkan seorang Kapitein China yang diserahi tugas mengawasi masyarakatnya. Pada masa itu, para Mayor dan Kapitein China digambarkan hidup seperti raja-raja Mandarin. Adalah Souw Siauw Keng yang ditunjuk Kompeni menjadi Luitenant der Chineezen di Tangerang pada 1884. Keluarga Souw, sangat terkenal di masanya sebagai kakak beradik Souw Siauw Tjong dan Souw Siauw Keng (1849-1917). Souw Siauw Tjong dikenal orang terkaya di Batavia dan memiliki tanah luas di Paroeng Koeda, Kedawoeng Oost (Wetan), dan Ketapang, Tangerang, Banten. la juga dikenang berjiwa sosial juga rendah hati terhadap masyarakat sekitar, sehingga memerintahkan untuk mendirikan sekolah bagi anak bumiputera di tanah miliknya, menyantuni orang miskin, dan menyumbang makanan dan bahan bangunan ketika kebakaran terjadi. Souw Siauw Tjong

pula yang menjadi donatur pemugaran Kelenteng Boen Tek Bio Tangerang pada 1875 dan Kelenteng Kim Tek Ie Batavia pada 1890. Dia menolak kedudukan Luitenant der Chineezen yang ditawarkan Kompeni. Meski begitu, pada Mei 1877 dia dianugerahinya gelar Luitenant Titulair (Letnan Kehormatan). Belum bisa dipastikan apakah Souw Siauw Keng pernah menghuni rumah tersebut. Yang jelas, rumah ini sekarang tidak dihuni oleh keturunan sang kapiten tetapi dihuni oleh empat keluarga pegawai perkebunan. Rumah ini cukup terkenal di kalangan pembuat film, bahkan sempat dipakai syuting film Drakula Mantu yang dibintangi Tan Tjeng Bok dan Benyamin S. juga film Si Pitung. Rumah masih menyimpan beberapa detail menarik seperti plang atap dengan ukiran khas China, pintu besar dari kayu dan patung binatang batu yang uniknya berisi batu bulat sebesar kepalan tangan dalam mulutnya yang hanya bercelah sekitar 5 cm.

BAB DUA Asal-usul Budaya Lokal

SEPERTI juga Jakarta dan Banten, Tangerang pernah menjadi sebuah tempat dimana berbagai suku dan bangsa hidup berdampingan dengan damai. Rakyat di ketiga kota pelabuhan itu sejak tempo dulu merupakan konglomerasi dari sejumlah komunitas etnik yang memiliki keyakinan yang

berbeda-beda, seperti China, Arab, Melayu, Eropa dan orang setempat sendiri. Dengan kata lain, masyarakat di sana adalah sebuah masyarakat yang menjunjung tinggi multikulturalisme. Ini tak ubahnya dengan kehidupan masyarakat Betawi di, Jakarta tempo doeloe. Secara biologis, mereka yang mengaku sebagai orang Betawi adalah keturunan kaum berdarah campuran aneka suku dan bangsa. Mereka adalah hasil kawin-mawin antar etnis dan bangsa di masa lalu. Oleh sebab itu, apa yang disebut dengan orang atau Suku Betawi sebenarnva terhitung "pendatang baru" di Jakarta. Kelompok etnis ini lahir dari perpaduan berbagai kelompok etnis lain yang sudah lebih dulu hidup di Jakarta, seperti orang Sunda, Jawa, Arab, Bali, Sumbawa, Ambon, dan Melayu. Antropolog Universitas Indonesia, Dr Yasmine Zaki Shahab MA menaksir, etnis Betawi baru terbentuk sekitar dua abad lalu, antara tahun 1816-1893. Perkiraan ini didasarkan atas studi sejarah demografi penduduk Jakarta vang dirintis sejarawan Australia, Lance Casle. Di zaman kolonial Belanda, pemerintah selalu melakukan sensus, yang dikategorisasikan berdasarkan bangsa atau golongan etnisnva. Dalam data sensus penduduk Jakarta tahun 1615 dan 1673, terdapat penduduk dari berbagai golongan etnis, tetapi tidak ada catatan mengenai golongan etnis Betawi. Pada 1673, penduduk dalam kota Batavia berjumlah 27.086 orang. Terdiri dari 2.740 orang Belanda dan Indo, 5.362 orang Mardijker, 2.747 orang Tionghoa, 1.339 oran; Jawa dan moor (India), 981 orang Bali dan 611 orang Melayu. Penduduk yang bebas ini ditambah dengan 13.278 orang budak (49%) dari bermacam-macam suku dan bangsa. Namun, pada 1930, kategori orang Betawi vang sebelumnya tidak, pernah ada justru muncul sebagai kategori baru dalam data sensus tahun tersebut. Jumlah orang Betawi sebanyak 778.953 jiwa dan menjadi mayoritas penduduk Batavia waktu itu. Antropolog Universitas Indonesia, Prof Dr Parsudi Suparlan menyatakan, kesadaran sebagai orang Betawi pada awal pembentukan kelompok etnis itu juga belum mengakar. Dalam pergaulan sehari-hari, mereka lebih sering menyebut diri berdasarkan lokalitas tempat tinggal mereka, seperti orang Kemayoran, orang Senen, atau orang Rawabelong. Pengakuan terhadap adanya orang Betawi sebagai sebuah kelompok etnis dan sebagai satuan sosial dan politik dalam lingkup yang lebih luas, yakni Hindia Belanda, baru muncul pada 1923, saat Moh. Husni Thamrin, tokoh masyarakat Betawi mendirikan Perkoempoelan Kaoem Betawi. Baru pada waktu itu pula segenap orang Betawi sadar mereka merupakan sebuah golongan, yakni golongan orang Betawi. Pada 1961, suku Betawi mencakup kurang lebih 22.9 persen dari antara 2,9 juta penduduk Jakarta pada waktu itu. Mereka semakin terdesak ke pinggiran, bahkan ramairamai menyingkir ke daerah satelit Jakarta, seperti Bekasi, Cileungsi, Depok, Cibinong, Citayam, hingga ke Tangerang.

Walaupun sebetulnya, suku Betawi tidaklah pernah tergusur atau digusur dari Jakarta, namun karena proses asimilasi dari berbagai suku yang ada di Indonesia dan hingga kini terus berlangsung, maka melalui proses panjang itu pulalah suku Betawi hadir di bumi Nusantara. Di Jakarta dan sekitarnya berangsur-angsur terjadi pembauran antar suku bangsa, bahkan antar bangsa, dan lambat laun keturunannya masingmasing kehilangan ciri-ciri budaya asalnya. Akhirnya semua unsur itu luluh lebur menjadi sebuah kelompok etnis baru yang kemudian Betawi etnis baru yang kemudian dikenal dengan sebutan masyarakat Betawi. Muncullah beragam dialek dan subdialek Betawi sebagai cerminan dari pelbagai akulturasi kebudayaan Betawi secara umum. Hal itu merupakan hasil perkawinan berbagai macam kebudayaan, baik yang berasal dari daerah-daerah lain di Nusantara maupun kebudayaan asing. Dialek Betawi bukan cuma satu, hanya ape, kenape, lu-gue, dan gak ade saja, yang masuk Subdialek Tengah itu. Selain subdialek itu, masih ada subdialek lain, yaitu subdialek Pinggir, yang juga disebut Betawi Ora. Ini terlihat dalam kata apah, ngapah serta luh-guah dan ora ada pisan. Ora dari bahasa Jawa berarti gak (tidak). Akan halnya dengan asal-usul kebudayaan di Tangerang, tentu saja tak bisa dilepaskan dengan kebudayaan Betawi secara umum. Pasalnya, penduduk pendatang asal Betawi kemudian kawin mawin dan beranak pinak dengan penduduk setempat asal China, Sunda, Jawa, Melayu dan lainnya. Karena itu, etnis dan budaya penduduk daerah ini kian beragam. Kondisi tersebut kian memperkokoh Tangerang sebagai daerah pertemuan berbagai etnis dan budaya, termasuk kebudayaan Betawi. Dari masa ke masa masyarakat Betawi terus berkembang dengan ciriciri budayanya yang makin lama semakin mantap sehingga mudah dibedakan dengan kelompok etnis lain. Namun bila dikaji lagi sering tampak unsur-unsur kebudayaan yang menjadi sumber asalnya. Jadi tidaklah mustahil bila bentuk kesenian Betawi itu sering menunjukkan persamaan dengan kesenian daerah atau kesenian bangsa lain. Kesenian Betawi seperti Gambang Kromong yang berasal dari seni musik China, juga akrab di telinga masyarakat Tangerang, Depok dan Bekasi. Begitu pula kesenian Tanjidor yang berlatar-belakang ke-Belandaan. Tetapi musik khas, seperti Keroncong Tugu dengan latar belakang Portugis, tidak dikenal di Tangerang karena tidak ada akar Portugis di sana. Bagi masyarakat Betawi sendiri, di mana pun mereka tinggal, segala yang tumbuh dan berkembang di tengah kehidupan seni budayanya dirasakan sebagai miliknva sendiri seutuhnya, tanpa mempermasalahkan dari mana asal unsur-unsur yang telah membentuk kebudayaan itu. Demikian pulalah sikap terhadap keseniannya sebagai salah satu unsur kebudayaan yang paling kuat mengungkapkan ciri-ciri kebetawiannya, terutama pada seni pertunjukkannya.

Berbeda dengan kesenian kraton vang merupakan hasil karya para seniman di lingkungan istana dengan penuh pengabdian terhadap seni, kesenian Betawi justru tumbuh dan berkembang di kalangan rakyat secara spontan dengan segala kesederhanaannya. Oleh karena itu, kesenian Betawi dapat digolongkan sebagai kesenian rakyat. Tampaknya, budayawan Umar Kayam benar ketika ia mengatakan bahwa sebelum Banten muncul sebagai imperium yang jaya. Sunda Kelapa dan Jayakarta sudah lebih dulu merupakan permukiman besar yang dihuni berbagai etnik dan ras, termasuk China dan Arab. Mereka berbaur, bergesekan, berdialog dan suatu proses pembangunan sosok budaya yang kemudian disebut Budaya Betawi. Gambang Kromong CONTOH pembauran yang harmonis antara unsur pribumi dengan unsur China dalam dunia musik Betawi, dapat kita lihat dalam orkes gambang kromong, yang tampak pada alat-alat musiknya. Sebagian alat seperti gambang, keromong, kemor, kecrek, gendang, kempul, slukat, gong enam dan gong kecil adalah unsur pribumi, sedangkan sebagian lagi berupa alat musik gesek China yakni kongahyan, tehyan, dan skong. Dalam lagu-lagu yang biasa dibawakan orkes tersebut, rupanya bukan saja terjadi pengadaptasian, bahkan pula pengadopsian lagu-lagu China yang disebut pobin, seperti pobin mano Kongjilok, Bankinhiva, Posilitan, Caicusiu dan sebagainya. Biasanya disajikan secara instrumental. Terbentuknya orkes gambang kromong tidak dapat dilepaskan dari Nie Hukong, seorang pemimpin golongan China. Dia hidup pada pertengahan abad ke-18 di Jakarta dan dikenal sebagai penggemar musik. Atas prakarsanyalah, terjadi penggabungan alat-alat musik yang biasa terdapat dalam gamelan pelog slendro dengan yang dari Tiongkok. Pada masa itu, orkes gambang kromong hanya dimiliki oleh babah-babah peranakan China. Seperti ditulis oleh salah seorang pakar budaya Betawi, Ridwan Saidi, dalam buku Profil Orang Betawi, dijelaskan bahwa Gambang Kromong adalah jenis musik tradisi Betawi yang mempunyai pengemar tidak saja di daerah Jakarta, tetapi juga berkembang subur di daerah pesisir, mulai dari Tangerang hingga Bekasi. Gambang Kromong digemari masyarakat terutama dari etnik Betawi, karena selain bisa dinikmati sebagai sebuah sajian musik, juga seni tradisi yang berkembang di wilayah Tangerang sampai Tambun ini, juga lazim dipergunakan untuk mengiringi goyang para penari. Syair dari lagu-lagu Gambang Kromong inipun mencerminkan sinkretisme Melayu-China, seperti pengaruh alat musik Tehyan atau semacam biola China yang biasanya terdengar dominan sepanjang lagu, sementara musikalitas gambang sendiri, membersitkan suatu keakraban yang bernuansa Betawi Purba. Selain "Jali-jali dan "Sirih Kuning", lagu-lagu lain seperti,"Gelatik

Nguk-nguk", "Surilang Enjot-enjotan", "Cente Alanis Dipatok Burung" dan lain-lain, banyak mengandung kata yang tidak jelas artinya. Seperti asal kata, nguk-nguk, surilang atau jali-jali, sangat sulit ditelusuri dari mana kata-kata itu berasal. Secara historis, kesemua lagu itu memang memiliki perjalanan panjang dan menjadi bagian tak terpisahkan dari peta seni rakyat Betawi. Dari cengkok melodinya, lagu-lagu tersebut jelas terpengaruh notasi lagu bergaya China. Dewasa ini orkes gambang kromong biasa digunakan untuk mengiringi tari pertunjukan kreasi baru, seperti tari Sembah Nyai, Sirih Kuning dan sebagainya, di samping untuk mengiringi teater lenong. Teater rakyat Betawi ini dalam beberapa segi tata pentasnya mengikuti pola opera Barat, dilengkapi dekor dan properti lainnya, sebagai pengaruh komedi stambul, komedi ala Barat berbahasa Melayu, yang berkembang pada awal abad ke20.

Peh Chun
Nonton Peh Cun di Ka1i Tangerang Sane-sini aeh rame bukan kepalang Bang Mamat dan Mpok Mide ampe lupe pulang... LANTUNAN suara Ida Royani yang diiringi Orkes Gambang Kromong Naga Mustika barusan, mungkin akrab bagi pendengarnya di tahun 70-an. Ketika itu sejumlah radio swasta kerap memutar lagu berjudul "Nonton Peh Cun" ini atas permintaan pendengar. Repertoire lagu berirama gambang kromong seperti ini, sekarang tak pernah lagi diperdengarkan dalam ruang publik kita. Boleh jadi, lantaran kalah pamor dengan genre musik masa kini. Makanya, di kalangan orang Betawi sendiri paling banter hanya orang yang lebih tua yang dapat menceritakan nostalgia meriah pesta Peh Chun seperti yang digambarkan dalam syair lagu gambang kromong tadi. Pesta Peh Chun adalah untuk memperingati l00 hari tahun baru China (Imlek). Tahun Baru Imlek atau yang disebut Sin Tjia oleh masyarakat keturunan China yang berbahasa Hokkian, bermula dari ungkapan rasa gembira para petani di Tiongkok zaman dahulu kala untuk menyambut musim semi (Chun), yaitu saat mereka dapat kembali bekerja kembali di sawah. Kendati di rayakan oleh masyarakat Tionghoa, namun karena begitu meriah pesta Peh Chun ini, maka bagi masyarakat Betawi merupakan hiburan tersendiri. Bagi anak muda Betawi pada zamannya, Peh Chun menjelma menjadi ajang mencari jodoh. Tua-muda, lelaki dan perempuan, tak mau ketinggalan menonton "karnaval" di Kali Ciliwung itu.

Peh Chun digelar dari pagi hingga malam, dimeriahkan dengan pesta perahu di sungai yang dihiasi lampu warna-warni dan orkes gambang kromong. Saking meriahnya itu pesta Peh Chum, digambarkan dalam lagu gambang kromong tadi. Bang Mamat dan mpok Mide (figur pasangan muda Betawi) sampai lupa pulang. Sedangkan di Tangerang, di samping acara Gotong Toapekong, sejak tahun 1911 para umat Kelenteng Boen Tek Bio menyelenggarakan pesta Peh Chun (Petjun) yang diadakan, di Kali Cisadane, yaitu perlombaan balap perahu naga. Perlombaan ini berlangsung sekitar bulan Mei-Juni saat musim kemarau ketika air sungai jernih dan tenang. Sayang, acara Peh Chun tersebut dan apa pun kesenian asal China sempat dilarang oleh pemerintah untuk dipertunjukkan di mana-mana setelah meletusnya peristiwa G-30 S/PKI. Baru setelah zaman reformasi, Peh Chun digelar kembali melalui Festival Cisadane. Pada festival ini digelar kegiatan lomba perahu Naga dan atraksi kesenian khas daerah seperti tarian barongsay, liong, debus dan atraksi kesenian khas daerah lainnya. Dalam kegiatan tersebut selain dapat menyaksikan berbagai atraksi hiburan, pengunjung juga dapat berbelanja berbagai barang kerajinan dan suvenir yang merupakan hasil kerajinan rakyat dan juga hasil produksi industri di Kota Tangerang. Di masa yang akan datang, Festival Perahu Naga yang selama ini diselenggarakan di belakang pertokoan Robinson, akan dipindahkan ke daerah Kali Pasir yang banyak terdapat bangunan-bangunan kuno bergaya arsitektur tradisional China. Pemerintah Daerah Kota Tangerang telah siap dengan Rencana Terinci Ruang Kota (RTRK) pengembangan Kali Pasir sebagai daerah wisata budaya.

Tari Cokek
TARI cokek adalah tarian khas Tangerang, yang diwarnai budaya etnik China. Tarian ini diiringi orkes gambang kromong ala Betawi dengan penari mengenakan kebaya yang disebut cokek. Tarian Cokek mirip sintren dari Cirebon atau sejenis ronggeng di Jawa Tengah. Tarian ini kerap identik dengan keerotisan penari, yang dianggap tabu oleh sebagian masyarakat lantaran dalam peragaannya, pria dan wanita menari berpasangan dalam posisi berdempet-dempetan. Cokek sendiri merupakan tradisi lokal masyarakat Betawi dan China Benteng, yaitu kelompok etnis China yang nyaris dipinggirkan, dan kini banyak bermukim di Tangerang. Menurut Ninuk Kleden Probonegoro, seorang peneliti dari LIPI, banyak versi tentang awal kelahiran seni rakyat ini. Versi pertama, cerita dimulai pada masa tuan-tuan tanah menguasai Betawi sekitar abad ke-19, khususnya di daerah yang saat ini dikenal dengan nama Kota atau Beos. Di sana banyak tinggal tuan tanah kaya. Setiap malam Minggu, mereka biasa mengadakan pesta.

Para tuan tanah ini biasanya juga banyak memiliki pembantu yang mahir bermain musik dan menari. Umumnya pesta para tuan tanah ini dimeriahkan oleh musik dari rombongan Gambang Kromong. Saat itulah para pembantu tuan tanah yang terdiri dari gadis-gadis muda itu, melayani tamu-tamu lelaki untuk menari. Mereka itulah yang kemudian disebut sebagai penari Cokek. Versi kedua, Cokek berasal dari Teluk Naga di Tangerang. Menutut versi ini, pada saat itu, daerah Tanjung Kait dikuasai oleh tuan tanah bernama Tan Sio Kek. Seperti biasa tuan tanah kaya lainnya, Tan Sio Kek juga mempunyai sebuah kelompok musik.Pada suatu hari, datang tiga orang bercocing, yaitu rambut yang dikepang satu. Diduga berasal dari daratan China. Ketiga orang ini membawa tiga buah alat musik yaitu, Tehiyan, Su Khong dan Khong ahyan. Ternyata ketiga orang itu juga mahir bermain musik. Ketika malam tiba, ketiga orang tersebut berkenan memainkan alat-alat musiknya. Tiga alat musik yang mereka bawa itu kemudian dimainkan bersama-sama alat musik kampung yang dimiliki oleh grup musik milik tuan tanah Tan Sio Kek. Dari perpaduan bunyi berbagai alat musik yang dimainkan oleh para pemusik tersebut, lahirlah musik Gambang Kromong. Sedangkan para gadis yang menari dengan iringan irama musik itu, kemudian disebut sebagai Cokek, yang diartikan anak buah Tan Sio Kek. Seperti halnya Nie Hukong, Tan Sio Kek lebih dapat menikmati tarian dan nyanyian para cokek, yaitu para penyanyi cokek merangkap penari pribumi yang biasa diberi nama bunga-bunga harum di Tiongkok, seperti Bwee Hoa, Han Siauw, Hoa, Han Siauw dan lain-lain. Dalam perkembangannya, walau kelompok Gambang Kromong bila mendapat undangan pentas mendapatkan honor atau bayaran, namun para Cokek, atau penari perempuan itu, tidak dibayar, tetapi mencari bayaran sendiri dari para lelaki yang mengajak mereka menari atau ngibing. bawah Rambutnya tersisir rapih licin ke belakang. Ada pula yang dikepang kemudian disanggulkan yang bentuknya tidak begitu besar, dihias dengan tusuk konde bergoyang-goyang. Tamu Terhormat SEBAGAI pembukaan pada tari Cokek ialah wawayangan. Penari Cokek berjejer memanjang sambil melangkah maju mundur mengikuti irama gambang kromong. Rentangan tangannya setinggi bahu meningkah gerakan kaki. Setelah itu penari Cokek menari bersama dengan mengalungkan selendang pertama-tama kepada tamu yang dianggap paling terhormat. Bila yang diserahi selendang itu bersedia ikut menari maka mulailah mereka ngibing, menari berpasang-pasangan. Tiap pasang berhadapan pada jarak yang dekat tetapi tidak saling bersentuhan. Ada kalanya pula pasangan-pasangan itu saling membelakangi. Kalau tempatnya cukup leluasa biasa pula ada gerakan memutar dalam lingkaran yang cukup luas.

Pakaian penari cokek biasanya terdiri atas baju kurung dan celana panjang dari bahan semacam sutera berwarna. Ada yang berwarna merah menyala, hijau, ungu, kuning dan sebagainya, polos dan menyolok. Di ujung sebelah bawah celana biasa diberi hiasan dengan kain berwarna yang serasi. Selembar selendang panjang terikat pada pinggang dengan kedua ujungnya terurai ke bawah Rambutnya tersisir rapih licin kebelakang. Ada pula yang dikepang kemudian disanggulkan yang bentuknya tidak begitu besar, dihias dengan tusuk konde bergoyang-goyang. Dinamis dan Erotis SUARA tiga alat musik gesek asal daratan China, khongahyan, tehiyan, dan su khong, cukup menyayat menusuk gendang telinga. Namun tiga alat gesek khas China itu, seakan memberikan harmonisasi komposisi gambang kromong saat mengiringi tarian onde-onde hasil pengembangan tari Cokek. Ketiga alat gesek akan terdengar semakin memekik manakala pukulan kendang dan kecrek dimainkan dalam tempo cepat. Distorsi yang dihasilkan justru semakin membuat ritme tarian empat penari Cokek, memperlihatkan goyangan pinggulnya mengikuti irama. Mereka seakan tidak mengenal lelah terus melenggang ditingkahi musik gambang kromong menciptakan irama penuh keriangan. Posisi tubuh penari yang terkadang tegak dan terkadang membungkuk, menampilkan kesan erotis. Demikian pula saat pinggul digoyang, hanya sesekali berputar selebihnya melenggang. Tarian onde-onde tidak hanya memperlihatkan sisi erotis, tetapi juga dinamisasi gerak. Semisal di sela selancar serta matuk, juga diselingi gerakan nguk-nguk (loncat) yang dilakukan secara bersama-sama. Adakalanya tarian ditingkahi gerakan tangan dan kepala, mengikuti entakan suara gendang dan kecrek saat tempo nada cepat. Namun gerakan sang penari dapat berubah tiba-tiba manakala te hi ang, su khong, dan khong a yan, mendominasi musik pengiring. Dalam gerakan, antara onde-onde yang belakangan. Dimasukkan dalam khasanah tarian Betawi dengan jaipongan yang juga masuk khasanah tarian Jawa Barat, merupakan bentuk tarian pengembangan dari tarian tradisional. Tarian onde-onde merupakan pengembangan tarian cokek, sedangkan jaipongan pengembangan dari ketuk tilu. Cokek ini termasuk dalam genre tari rakyat, yaitu tari yang hidup dan berkembang di kalangan rakyat jelata. Genre tari ini terlahir dan dihidupkan oleh komunitas etnik. Secara fungsi untuk upacara dan hiburan, tariannya dapat dibilang sederhana. Dalam penyajiannya jarak antara penonton dan pemain begitu lentur, dengan kata lain tidak ada jarak estetis, serta seluruh penonton terlibat langsung dalam pertunjukkannya. Selain Cokek dari Tangerang, yang termasuk genre tari rakyat antara lain: sisingaan, doger kontrak dari Subang, ketuk tilu, benjang dari Bandung, ronggeng gunung, badud, ronggeng kaler dari Ciamis, ronggeng

uyeg dari Sukabumi, angklung sered dari Tasikmalaya, angklung gubrag dari Bogor, angklung Baduy dari Kabupaten Lebak, topeng banjet dan bajidoran dari Karawang.

Tradisi Perkawinan Chiou-Thaou


ACARA pernikahan chio-thou diselenggarakan dalam tradisi kuno masyarakat China Benteng. Tradisi per-kawinan chio-thau juga dilakukan oleh warga Tionghoa di Padang dan sekitarnya. Chiou-thau adalah istilah umum bagi suatu upacara pernikahan yang unik dan langka. Secara harfiah, chiou-thau berarti "mendandani rambut" - sebuah ritual pelintasan (rite of passage) yang harus dilaksanakan sebagai pemurnian dan inisiasi memasuki masa dewasa. Upacara ini sangat sakral dan hanya boleh dilakukan sekali seumur hidup sesaat menjelang pernikahan. Seorang duda atau janda yang menikah lagi tidak diperkenankan rnelakukan ritual ini untuk kedua kalinya. Dalam tafsir lain, mereka yang belum menjalani chiou-thau dianggap masih anak-anak. Menurut David Kwa, ahli sejarah Tionghoa yang menjadi konsultan acara ini, di masa lalu pasangan yang tidak menjalani chiou-thau dianggap akan melahirkan anak-anak haram. Begitu tingginya makna upacara mendandani rambut. Pukul enam pagi, ritual ini sudah dimulai di rumah mempelai perempuan. Dengan upacara sederhana yang berlangsung polos - artinya, dengan bahasa sehari-hari dan berlangsung sangat wajar, termasuk kesalahan-kesalahan karena dilakukan tanpa general rehearsal - orang tua mempelai melakukan sembahyang di depan rumah, dan menyerahkan anak gadis mereka kepada jururias untuk didandani. Juru riasnya pun tampil sangat sederhana. Musik tradisional pat tim (artinya, delapan instrumen) yang terdiri atas instrumen gesek, tiup, dan perkusi mengiringi acara ini. Bunyi instrumen tiupnya sangat mirip dengan bagpipe dari Irlandia yang mendayu-dayu. Pengantin yang cantik keluar dari kamar dengan baju dan celana satin putih dan rambut tergerai. Ia didudukkan di kursi rias. Secara simbolis rambutnya disisir oleh adik pengantin. Kemudian rambut itu "disubal" dengan cemara (rambut palsu) dan digulung menjadi bola rambut di atas kepala pengantin. Di atas bola rambut itu kemudian ditusukkan 25 tusuk konde bermotif floral dan burung hong (phoenix). Burung hong adalah ratu semua unggas. Karena pengantin selalu dianggap sebagai raja sehari, maka pengantin perempuan memakai lambang ratu (burung hong), sedangkan pengantin laki-laki memakai lambang raja (naga). Setelah selesai merias rambut, jubah atau baju luar untuk pengantin dikenakan. Jubah ini berwarna hijau dan merah dengan sulaman dan ornamen hias dari logam warna perak bermotif kura-kura, bunga, kupu-kupu, ikan, kepiting, rusa, buket bunga, dan sebagainya. Wajah pengantin juga ditutup dengan kerudung dari kain transparan berwarna hijau.

Makan 12 mangkuk ACARA selanjutnya adalah bersantap dengan 12 jenis lauk yang masing-masing diletakkan dalam mangkuk porselin. Pengantin wanita didampingi dua orang saudara laki-laki yang belum menikah dan sebaiknya dari shio naga dan macan. Makanan dalam 12 mangkuk itu melambangkan kesinambungan rezeki dalam tiap-tiap bulan selama setahun. Rasa masakan juga berbeda-beda: asin, manis, pahit, tawar, pedas, gurih, berlemak - untuk menyiapkan pengantin bahwa tidak selamanya mereka menghadapi kondisi menyenangkan sepanjang usia pernikahan mereka. Setelah rangkaian acara mendandani rambut di rumah pengantin perempuan selesai, sang jururias diantar ke rumah pengantin laki-laki untuk melakukan ritual yang sama. Di masa lalu kaum laki-laki juga memakai rambut panjang yang dikuncir. Tetapi, karena di masa sekarang pengantin laki-laki kebanyakan berambut pendek, maka upacara penyisiran menjadi lebih mudah dan singkat. Apalagi karena tidak diperlukan berbagai tusuk konde. Sebelumnya, sambil menunggu kedatangan sang jururias, para tamu di rumah pengantin laki-iaki dijamu dengan berbagai jenis kue tradisional yang masing-masing mempunyai makna simbolis. Misalnya, harus ada kue pepe, yaitu kue lapis dari tepung beras yang mengharap agar pasangan pengantin bisa lengket terus sampai kakek nenek. Kue lapis legit sebagai pengharapan akan rezeki yang berlapis-lapis. Kue mangkok yang mekar melambangkan rezeki dan cinta yang terus mekar. Kue ku berbentuk kura-kura sebagai lambang panjang umur. Ada lagi ketan tetel yang dicocol dengan serundeng ebi, dan apem cukit yang dicocol dengan kinca duren. Kue tradisional lainnya termasuk lapis legit, roti bakso, manisan kolang-kaling, bika ambon, kue bugis, dan kue pisang. Setelah pengantin laki-laki mengenakan jubahnya dan memakai topi yang berbentuk caping petani, para sanak keluarga memberi hadiah berupa uang yang diharapkan akan menjadi modal awal dalam menempuh bahtera keluarga. Setelah acara saweran ini, dilakukan juga upacara makan 12 mangkuk. Taburan Beras Kuning PENGANTIN laki-laki kemudian pergi menjemput pengantin perempuan di rumahnya. Di masa lalu, ini dilakukan dengan naik tandu. Tetapi, sekarang dilakukan dengan naik mobil. Kedatangan kedua mempelai di rumah pengantin laki-laki disambut dengan gemuruh bunyi petasan. Tradisi ini tampaknya ditiru dalam tradisi pengantin Betawi. Anehnya, ada juga acara tabur beras kuning dan uang logam yang sangat mirip dengan acara pernikahan di berbagai adat Nusantara. Ini sekaligus menunjukkan masuknya adat Sunda ke dalam tradisi chiou-thau.

Para tamu, khususnya mereka yang masih muda, berebut memperoleh uang logam yang ditaburkan. Ini dipercaya sebagai lambang rezeki. Kedua mempelai langsung digiring masuk ke kamar pengantin. Di belakang pintu tertutup itu kabarnya mereka melakukan upacara makan onde-onde. Pengantin laki-laki harus mencabut satu kembang goyang dari sanggul pengantin perempuan. Sebaliknya pengantin perempuan membuka kancing baju paling atas dari pengantin laki-laki. Masa' seh cuma makan onde-onde? Ah, nggak usah dibahas lah apa yang sebetulnya terjadi di dalam sana. Setelah keluar dari kamar pengantin, dilakukan acara teh pai. Orang tua dan sanak saudara memberi sekadar uang pelita sebagai hadiah kepada pengantin. Berlainan dengan angpau yang biasanya dimasukkan ke dalam amplop berwarna merah, uang pelita ini dimasukkan dalam amplop putih bergaris merah. Kepada setiap pasangan orang tua dan kerabat yang akan memberi amplop, pengantin perempuan terlebih dulu menyuguhkan teh dalam mangkuk kepada yang, memberi amplop. Sesudah menerima amplop, pasangan pengantin melakukan pai atau kowtow (menghormat dengan kedua tangan saling digenggam dan digoyang-goyangkan di depan leher) sebagai ucapan terima kasih. Bukanlah ini sangat mirip dengan acara "jual dawet dalam tatacara perkawinan Jawa? Tentu saja harus ada acara makan-makan dalam setiap rangkaian upacara pernikahan. Salah satu hidangan istimewa khas Tangerang adalah bakso Lohwa. Biasanya bakso ini harus dibuat dari daging babi. Tetapi, karena banyak tamu yang beragama Islam, daging baksonya dibuat dari campuran ayam, sapi, dan udang. Kaldu beningnya sungguh lezat. Versi asli bakso Lohwa ini justru daging yang dicincang kasar agar terasa ketika digigit. Hidangan lain yang tampak di meja adalah capcay, sambal godok, ayam goreng bumbu kuning, pare isi daging, kuah kecap, pindang bandeng, rujak penganten, dan bihun goreng. Pindang bandeng, seperti pernah saya kemukakan sebelumnya, tidak hanya populer di Tangerang, melainkan juga di Jakarta. Bumbunya adalah bawang merah, cabe, kunyit, jahe, lengkuas, daun salam, asam jawa. Uniknya, semua bumbu ini hanya dibakar - tidak diulek - dan kemudian direbus dalam kuah bandeng. Ditambah kecap, tentu saja. Orang Tangerang sangat bangga dengan produk kecal lokal merek SH. "Kagak aci kalau bukan kecap SH," kata si jurumasak. Jangan lupa, pindang bandeng harus dimakan dengan emping goreng khas Banten yang wajib diguyur dengan kuahnya. Nyam nyam-nyam!!! Semua makanan yang dihidangkan bukan dari perusahaan jasaboga (catering), melainkan semacam potluck dari para kerabat dan tetangga, sehingga betul-betul merupakan home cooking. Pindang bandeng dari keluarga A, bihun goreng dari keluarga B, dan seterusnya.

Musik Tanjidor PENGARUH Eropa yang kuat pada salah satu bentuk musik rakyat Betawi, tampak jelas pada orkes Tanjidor, yang biasa menggunakan klarinet, trombon, piston, trompet dan sebagainya. Alat-alat musik tiup yang sudah berumur lebih dari satu abad masih banyak digunakan oleh grupgrup Tanjidor. Mungkin bekas alat-alat musik militer pada masa jayanya penguasa kolonial tempo doeloe. Dengan alat-alat setua itu, Tanjidor biasa digunakan untuk mengiringi perhelatan atau arak-arakan pengantin. Membawakan lagu-lagu barat berirama 'mars' dan [Waltz] yang susah sulit dilacak asal-usulnya, karena telah disesuaikan dengan selera dan kemampuan ingatan panjaknya dari generasi ke generasi. Orkes Tanjidor mulai timbul pada abad ke 18. VaIckenier, salah seorang Gubernur Jenderal Belanda pada jaman itu tercatat memiliki sebuah rombongan yang terdiri dari 15 orang pemain alat musik tiup, digabungkan dengan pemain gamelan, pesuling China dan penabuh tambur Turki, untuk memeriahkan berbagai pesta. Karena biasa dimainkan oleh budak-budak, orkes demikian itu dahulu disebut Slaven-orkes. Dewasa ini tanjidor sering ditampilkan untuk menyambut tamu-tamu dan untuk memeriahkan arak-arakan. Di Tangerang, dalam setiap perayaan Cap Go Meh ini orang-orang kaya merayakannya dengan menanggap musik Tanjidor atau gambang kromong lengkap dengan penarinya di muka halaman rumahnya. Tanjidor juga kerap dimainkan di dalam Kelenteng Boen San Bio, di Pasar Baru. Sebagian lainnya mengadakan pentas keliling kesenian musik Tanjidor atau gambang kromong lengkap dengan beberapa orang penarinya. Rombongan musik keliling ini berada dalam lingkaran tambang. Orang-orang yang tertarik boleh masuk ke dalam lingkaran tambang untuk turut berjoget sambil keliling mengikuti rombongan musik tersebut. Rombongan ini berjalan mengikuti arah tambang ditarik, sehingga kalau ada dua kelompok atau lebih berada dalam satu lingkaran tambang mereka bisa saling tarik-menarik ujung tambang untuk mengarahkan jalannya rombongan. Kalau sudah tarik-menarik, maka kelompok yang mendapat dukungan besar lebih unggul, karena dengan kekuatan tenaga banyak orang mereka bisa memimpin jalannya rombongan. Sedangkan yang kalah tidak menjadi marah, melainkan ikut arus. Tetapi, pada saat lain arah rombongan bisa berubah lagi karena dorongan orang banyak. Arak-arakan musik ini bukan hanya satu rombongan saja, tetapi beberapa rombongan sekaligus turun keliling di jalan-jalan, sehingga kalau bertemu di tengah jalan mereka saling bertabrakan. Tetapi ini pun tidak menimbulkan keributan, karena mereka sama-sama tertawa lepas. Berbagai seni pertunjukan tradisional telah berkembang sesuai dengan perkembangan zaman dan masyarakat pendukungnya serta merupakan daya

pesona tersendiri pada wajah Kota Tangerang. Untuk dapat menikmati dan menilainya tiada cara lain yang lebih tepat kecuali menyaksikannya sendiri.

BAB TIGA Jatidiri Masyarakat Kota Tangerang

FENOMENA Tangerang sebagai wilayah yang memiliki latar belakang budaya, dan industri-industri besar serta tempat wisata, mengundang dunia untuk menengok dan menggali potensi-potensi Tangerang yang tumbuh subur, untuk diberdayakan. seperti ini. Ditunjang dengan letak geografis Tangerang sebagai penyangga kota Jakarta. dimana arus roda ekonomi Jakarta memiliki imbas terhadap kota Tangerang.

Tentunya, kondisi di atas, perlu diantisipasi dan diberdayakan agar tidak terjadi penyimpangan potensi alam dan penerapan teknologi tepat guna. Artinya setiap derap perubahan, terjadi dalam masyarakat Tangerang, harus disandarkan pada upaya-upaya rasional. Upaya rasionalisasi dibutuhkan sebagai cara untuk melihat perubahan yang terjadi di masyarakat dengan fakta-fakta dan potensi-potensi yang ada. Satu potensi tentang perlunya pemberdayaan manusia sebagai sumber dasar kemajuan pembangunan. Manusia seperti yang dipaparkan Frederich Taylor dalam bukunya The Principles as Scientific, adalah "mesin" yang sangat istimewa, yang mempunyai mekanismemekanisme internal yang dapat diadaptasikan dengan kebutuhan-kebutuhan industri modern. Antonio Gramsci memeras gagasan Taylorisme dalam tiga pandangan dasar. Pertama, bahwa dalam proses produksi pekerja harus terbatas pada tugas-tugas tertentu. kedua, pekerja harus mengembangkan sikap-sikap otomatis mekanis sebagai sarana produksi. ketiga, ditekankan insentif-insentif individual untuk menghancurkan semangat solidaritas kaum buruh. Pandangan Taylor bisa saja diadopsi dalam keranda kehidupan masyarakat Tangerang, di mana manusia adalah mesin yang sangat istimewa, yang mempunyai mekanisme internal dan dapat diadaptasikan dengan kebutuhan industri-industri yang tumbuh subur di kota Tangerang. Tentu saja sebagai dampak menjamurnya industri di Kota Tangerang, dan kelak jika terjadi pasar bebas, dampak yang paling nyata adalah pasar lokal akan dibanjiri oleh produk-produk global yang memiliki kualitas yang lebih bail, dengan harga yang cukup bersaing. Untuk itu, bagi Kota Tangerang, kondisi ini menjadi tantangan yang signifikan, yang harus dihadapi dengan mempersiapkan Langkah-langkah antisipatif melalui penguatan kelembagaan ekonomi lokal yang siap bersaing ke kancah pasar global. Dari sinilah upaya pemberian otonomi daerah merupakan langkah maju agar berbagai prinsip dan kebijakan daerah mampu dikembangkan secara mandiri. Arbi Sanit, seorang pengamat politik melihat pemberian otonomi daerah merupakan suatu keharusan untuk melakukan terobosan pelaksanaan prinsip dan kebijaksanaan otonomi harus segera direalisasi. Tentu, otonomi daerah untuk meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD), agar mampu mengelola arus pemerintahan dengan bertumpu pada kekuatan "sumber daya" yang ada. Selama ini, gambaran indikator administrasi daerah menunjukkan kelambanan pertumbuhan daerah, seperti PAD se-Indonesia yang hanya berkisar sebesar 35 persen, pertumbuhan rata-rata PAD hanya sebesar 21,01 persen dalam tahun 1988-1991, dan besaran PAD terhadap PRDB Dati II yang hanya di antara 0,23-072 persen di tahun 1990. Bahkan dipahami pula, kemerosotan kontribusi PAD terhadap APBD tahun 1994/1945 dari 27,75 persen menjadi 17,01 persen. Semuanya itu berpangkal kepada perkembangan peran administratif daerah, sebagaimana diperlihatkan oleh pertumbuhan dinas daerah 5-7

buah di tahun 1994/ 1995 menjadi 23-25 buah, tahun 1995/1996, sehingga harus diimbangi oleh peningkatan belanja rutin dari 42,71 persen tahun 1994/1995 menjadi 75,71 persen dalam tahun 1995/1996. Menggali Potensi Tangerang Tangerang bagi sebagian orang adalah tempat sandaran hidup. Kota industri ini menawarkan banyak hal tentang berbagai ragam kehidupan. Di Kota Tangerang ini, lalu lalang manusia, setiap hari berburu `mangsa' kehidupan. Tentu saja ini berkait erat dengan satu adagium bahwa kota adalah pusat perubahan. Proses perubahan, tentu saja, tidak selalu berlangsung secara normal seperti yang direncanakan. Gejala-gejala yang tidak direncanakan, sebagai satu gejala yang abnormal atau gejala patologis yang lahir karena unsur-unsur masyarakat tidak lagi berfungsi sebagaimana mestinya, sehingga timbulah ketimpangan sosial. Selain persoalan ketimpangan sosial, seperti urbanisasi, kemiskinan, disorganisasi keluarga, kejahatan, dan lumpuhnya lembaga-lembaga sosial masyarakat, Kota Tangerang juga menghadapi pada berbagai ragam persoalan perkotaan yang berkaitan dengan prasarana dan sarana kota, sebagai akibat pertumbuhan kota yang pesat melampaui daya dukung kota itu sendiri. Mencari solusi atas masalah-masalah Kota Tangerang, baik yang berakar pada masalah-masalah sosial, atau persoalan yang berpijak pada prasarana dan sarana kota, juga perlu ada kesadaran perihal pemahaman dan identifikasi terhadap masalah-masalah yang ada secara tepat dan menyeluruh. Untuk itu, perlu dikaji secara cermat, realitas kehidupan kota dalam berbagai perspektifnya dan akar potensi Kota Tangerang, yang bisa membuat Kota Tangerang berjalan pada rel pembangunan. Seperti diketahui bersama, krisis yang melanda Indonesia sejak medio 1997, membawa vibrasi negatif ke dunia perekonomian nasional umumnya, dan perekonomian regional khususnya. Krisis ini menyebabkan terjadinya perubahan dari nilai tambah sektor-sektor yang ada di wilayah nasional juga di wilayah daerah. Dari basil perhitungan dengan menggunakan analisis Location Question (LQ) dan Shift Share, dapat diperoleh beberapa kesimpulan mengenai perekonomian Kota Tangerang. Sebelum melihat dampak analisis LQ, perlu dijabarkan lebih dulu makna yang terkandung dalam analisis LQ itu. LQ merupakan teknik untuk menentukan kapasitas ekspor perekonomian daerah dan derajat self sufficency suatu sektor. Dalam teknik ini kegiatan ekonomi suatu daerah dibagi menjadi dua golongan, yakni: a. Industri basic yaitu kegiatan ekonomi atau industri yang melayani di daerah itu sendiri maupun di luar daerah yang bersangkutan.

b. Industri non basic/ industri lokal, yaitu kegiatan ekonomi atau industri yang melayani pasar di daerah itu sendiri. Sektor self sufficient, jika nilai LQ dari sebuah sektor = 1, maka sektor tersebut berproduksi pada level yang sama dengan permintaan dari dalam daerah tersebut. Dalam kondisi seperti itu, sektor tersebut dapat dikategorisasikan menjadi self sufficient sector. Secara umum terdapat tiga sektor keunggulan Tangerang, yaitu sektor industri manufaktur nonmigas, Sektor perdagangan, hotel dan restoran, serta sektor transportasi dan komunikasi. Tangerang memiliki keunggulan untuk sektor ini jika dibandingkan. dengan daerah lain, seperti Banten dan Jabodetabek yang ditunjukkan oleh nilai LQ>1. Tetapi dari data-data beberapa tahun belakangan, keunggulan tersebut cenderung tidak terlalu stabil meskipun masih dalam batasan yang wajar (lihat tabel 1). Interaksi Tangerang dengan daerah yang lebih besar relatif tinggi, sehingga Tangerang relatif bergantung terhadap hasil interaksi itu. Hasil analisis shift share memperlihatkan bahwa kondisi perekonomian Tangerang sangat dipengaruhi oleh kondisi perekonomian nasional dan regional (nilai national effect dan regional effect besar), terutama bagi sektor-sektor unggulan seperti sektor industri manufaktur nonmigas, sektor perdagangan, hotel dan restoran, serta sektor transportasi dan komunikasi. Meskipun Tangerang relatif bergantung pada wilayah sekitarnya, secara bertahap mulai meningkatkan keunggulannya pada sektor-sektor tertentu (nilai regional effect besar). Tabel 1 Sektor Basis Kota Tangerang Berdasarkan Hasil Analaisis LQ LQ terhadap Nasional Lapangan Usaha 2000 Industri Pengolahan 2.06 Listrik, gas, dan Air Bersih 1.05 Perdagangan, Hotel dan 1.59 Restoran Pengangkutan dan Komunikasi 1.59

2001 2.04 1.04 1.61 1.64

2002 2.02 1.04 1.62 1.55

B/NB B B B B

LQ terhadap Propinsi Banten Lapangan Usaha Industri Pengolahan Perdagangan, Hotel dan Restoran 2000 2001 1.077 1.076 1.464 1.446 2002 B/NB 1.076 B 1.446 B

Pengangkutan dan Komunikasi 1.521 1.514 LQ terhadap Bodetabek Lapangan Usaha Pertanian, Peternakan, Perikanan, Kehutanan Industri Pengolahan Perdagangan, Hotel dan Restoran Pengangkutan dan Komunikasi B/NB Sumber : Hasil Analisis PDRB B = Sektor Bersih NB = Sektor Non Basis

1.513

2000 1.09 2.01 1.05 1.25

2001 1.05 2.06 1.07 1.27

2002 B/NB 1.09 B 2.09 1.07 1.24 B B B

KOTA Tangerang telah berubah. Perubahan di wilayah Kota Tangerang ini bersamaan dengan arus modernisasi yang semakin menampakkan jatidirinya di berbagai sudut-sudut kota Tangerang Mall, restoran, bankbank, pabrik-pabrik besar adalah salah satu sumbu yang bisa dijadikan indikator, proses modernisasi itu. Ada seloroh begini, kalau dulu Tangerang dikenal sebagai tempat "Jin buang anak", kini dengan pelbagai perubahan yang menakjubkan di Tangerang, para jin itu malah "buang dolar" . Apa iya di dunia perewangan itu para jin juga menggunakan dolar? Ya, namanya juga seloroh ini sekadar gambaran saking pesatnya perkembangan kota, sampai-sampai para jin pun `ikut tergiur' menanamkan dolarnya di ranah Tangerang. Akselerasi pembangunan di Tangerang mulai menggelinding, seiring dengan konsep pembangunan megapolitan yang diusulkan oleh Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin (1966-1977). Dengan konsep megapolitan itu, perencanaan pembangunan kota-kota satelit di sekitar Jakarta (Bogor, Tangerang, Bekasi, dan Depok) mesti dipadukan agar dapat saling menunjang. Hal ini mendorong lahirnya Instruksi Presiden Nomor 13 Tahun 1976, yang menetapkan daerah Tangerang sebagai bagian dari w -ilayah pengembangan Jabotabek yang dipersiapkan untuk mengurangi ledakan penduduk DKI. Kota Tangerang yang lahir melalui Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1993, kini pertumbuhannya begitu pesat. Pesatnya pertumbuhan Kota Tangerang karena Wilayahnya yang berbatasan langsung dengan DKI Jakarta, yang senantiasa terkait langsung dengan dinamika, pembangunan nasional. Banyak warga yang bekerja di Jakarta kemudian memilih domisili di Kota Tangerang. Mereka itu kerap disebut komuter - memakai Tangerang sebagai tempat istirahat tidur malam, sementara segala macam kegiatan ekonomi di pagi hingga petang harinya banyak dihabiskan di Jakarta.

Sebagai daerah yang berbatasan langsung dengan DKI Jakarta, Kota Tangerang memiliki keuntungan dan sekaligus kerugian. Keuntungannya, kota itu bisa nebeng nama besar ibu kota negara. Para warganya bisa memanfaatkan fasilitas publik sebuah metropolitan. Apalagi ditunjang dengan mudahnya aksebilitas ke kota Jakarta dan kota-kota penting di Banten dan Jawa Barat melalui ruas jalan tol, hingga memberikan kemudahan untuk saling berinteraksi antarkota. Ditambah lagi, dengan tersedianya Bandara Internasional SoekarnoHatta, maka aksebilitas kota semakin terbuka dengan kota-kota di seluruh Indonesia bahkan mancanegara. Hal itu kian meningkatkan mobilitas penduduk, bahkan migrasi penduduk. Ke dalam daerah Tangerang, terutama daerah perkotaannya, masuklah banyak penduduk baru yang berasal dari luar, baik dari kawasan lain di Pulau Jawa maupun dari luar Jawa, ataupun orang asing. Karena itu, etnis dan budaya penduduk daerah ini kian beragam. Kondisi tersebut kian memperkokoh Tangerang sebagai daerah pertemuan berbagai etnis dan budaya. Namun, kerugian berdekatan dengan sebuah ibu kota juga ada. Secara khusus, kerugian ini sangat dirasakan oleh pemerintah daerah. Banyak warga Kota Tangerang, yang tinggal di daerah perbatasan dengan Jakarta, enggan mengakui berdomisili di daerah Kota Tangerang. Kita hanya berharap dalam kondisi keragaman etnis dan budaya itu, Tangerang menjadi daerah yang penduduknya hidup rukun, damai, sejahtera, dan tak tercerabut dari akar budayanya. Dampak lain yang menonjol di Tangerang dari pelaksanaan program pembangunan megapolitan ini, adalah berubahnya segala bidang kehidupan masyarakat setempat. Semula, penduduknya hanya mengandalkan kegiatan bidang pertanian untuk menopang hidup. Seiring dengan perkembangan selanjutnya, mereka mulai mengerjakan berbagai bidang kegiatan ekonomi, terutama bidang industri, perdagangan, dan jasa yang tentu mengubah pola dan orientasi hidup masyarakat. Sebagai daerah penyangga ibu kota, wilayah ini memang dipersiapkan untuk kegiatan perdagangan dan industri, pengembangan pusat-pusat permukiman untuk menjaga keserasian pembangunan dengan DKI Jakarta. Bahkan berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 34 Tahun 1989, Tangerang harus mengalokasikan 3.000 hektar lahannya untuk industri. Kota Tangerang memiliki luas wilayah 17.729,746 hektar. Pertumbuhan fisik kota menunjukkan besarnya kawasan terbangun kota, yaitu seluas 12.331 hektar (68% dari seluruh kota) sehingga sisanya strategis untuk dikonsolidasikan ke dalam wilayah terbangun kota. Kegiatan industri sebagai motor utama perekonomian kota Tangerang, sebagian besar terdapat di wilayah Kecamatan Jatiuwung, Batuceper, Kecamatan Tangerang dan sebagian kecil di Kecamatan Cipondoh. Berdasarkan pendataan yang dilakukan oleh Kantor Penanaman Modal dan Perizinan (KPMP) Kota Tangerang, terdapat 52 perusahaan Penanaman Modal Asing (PMA) yang tersebar di seluruh wilayah Kota Tangerang. Total investasi yang

ditanamkan oleh perusahaan-perusahaan PMA tersebut mencapai nilai Rp. 1,3 triliun. Sedangkan perusahaan PMDN di wilayah Kota Tangerang tercatat 91 perusahaan, dengan nilai investasi keseluruhan mencapai Rp 2,8 triliun. Adapun jumlah tenaga kerja lokal (TKL) yang dapat diserap oleh perusahaan PMA itu mencapai 52.357 orang. Sedangkan tenaga kerja asing (TKA) pada perusahaan PMA itu mencapai 465 orang. Juga data dari KPMP Kota Tangerang menyebutkan, 91 perusahaan PMDN yang tersebar di seluruh wilayah Kota Tangerang mempekerjakan 59.162 TKL dan selain masih mempekerjakan TKA sebanyak 473 orang.

Tabel 1. Negara Asal PMA

Negara Asal Jepang Taiwan Hongkong Korea Selatan Singapura Inggris Malaysia Amerika Serikat Konsorsium

Jumlah Perusahaan 10 10 7 5 2 1 1 1 3

Tabel 2. Negara Asal PMA Sumber: Kota Tangerang Dalam Angka, 2002 Tabel 3. Jenis Produksi Perusahaan PMDN Jenis Produk Jumlah Perusahaan Kertas 2 Perangkat mobil 1 Alat Kesehatan 7 Tepung/Pengolahan 10 Makanan Kulit imitasi 5 Industri pembuatan 10 drum Industri ubin 1 Industri 1 peralatan/gelas/hiasan Angkutan umum/taksi 3 Sepatu/sepatu 1 olahraga Pakaian jadi 3 1 Kain jadi/Tekstil/Pencelupa n Makanan ringan 3 Kimia dan olahan zat 1 kimia Furnitur/Mebel/Olahan 3 kayu Peralatan karet dan 1 logam Sumber: Kota Tangerang Dalam Angka, 2002

Kota Seribu Pabrik Sejak Desember 2000 lalu, Kota Tangerang yang sebelumnya hanya terdiri dari enam kecamatan, telah ditetapkan menjadi 13 kecamatan. Memang, pada mulanya agak merepotkan. Misalnya, warga yang tinggal di Kelurahan Karang Mulya, harus menghapus nama Kecamatan Ciledug dan menggantinya dengan Kecamatan Karang Tengah.

Begitu pula warga yang bermukim di Kelurahan Karang Sari; mereka harus menutup nama Kecamatan Batuceper dan menggantinya dengan Kecamatan Neglasari. Atau mereka yang rumahnya di Kelurahan Cimone, harus mengganti nama Kecamatan Tangerang dan menggantinya dengan Kecamatan Karawaci. Dengan penduduknya yang 1,5 juta jiwa dan tingkat pertumbuhan penduduk rata-rata 3,94 persen per tahun, Kota Tangerang sesungguhnya merupakan daerah tingkat dua yang cukup kaya. Nilai total kegiatan ekonomi daerah ini tahun 1998 apabila dibagi dengan jumlah penduduknya (PDRB per kapita) hampir mencapai Rp 10 juta, jauh lebih tinggi daripada produk domestik bruto (PDB) per kapita nasional yang Rp 4 jutaan. Dari mana kekayaan Kota Tangerang diperoleh? Setengah dari total kegiatan ekonomi kota untuk tahun 1999 yang nilainya mencapai Rp 15 triliun, ternyata diperoleh dari kegiatan ekonomi di sektor industri pengolahan. Sekitar 15 persen industri sedang dan besar di Kota Tangerang ini terkonsentrasi di Kecamatan Jatiuwung. Berbagai jenis pabrik, mulai dari industri makanan dan minuman, tekstil dan pakaian jadi, kimia hingga industri logam dan barang dari logam, sudah beroperasi di kecamatan itu. Tidak heran, kecamatan yang berbatasan langsung dengan sebelah timur Kabupaten Tangerang itu, harus dimekarkan menjadi tiga kecamatan, yaitu Jatiuwung sendiri, Cibodas, dan Periuk. Selain di Jatiuwung, beberapa industri besar seperti PT Argo Pantes dan PT Indofood berlokasi di Kecamatan Tangerang, tepatnya di Kelurahan Cikokol. Sisanya berada di Kecamatan Batuceper, dan sebagian kecil Kecamatan Cipondoh. Kegiatan industri tersebut mayoritas berlokasi di koridor Jalan Daan Mogot - Batuceper. Sedangkan sebagian lagi berlokasi di koridor Sungai Cisadane - Jalan Imam Bonjol - Jalan M.H. Thamrin. Jumlah industri besar/sedang di Kota Tangerang pada tahun 2001 adalah sebanyak 619 unit, dengan rincian 314 perusahaan industri besar, dan 305 perusahaan industri sedang. Sebagian besar perusahaan industri besar/sedang tersebut bergerak di sektor industri kimia, produk kimia, minyak, batubara, dan produk dari plastik (155 perusahaan atau 25%). Sebanyak 142 perusahaan atau 22,94 persen perusahaan industri besar/sedang bergerak di sektor industri barang dari logam, mesin dan perlengkapannya. Sedangkan 125 perusahaan atau 20,19 persen perusahaan industri besar/sedang bergerak di sektor industri tekstil, pakaian dan kulit. Untuk menggerakkan roda perekonomian di kota yang dijuluki sebagai "Kota Seribu Pabrik" ini, tentu tidak cukup dari sektor industri besar saja. Masyarakat kebanyakan yang rentan ekonominya harus pula (diberdayakan melalui sektor usaha industri kecil (home industry). Ini pula lantaran sektor industri kecil bakal menjadi penopang sektor industri besar.

Hingga 2001, sebagian besar rumah tangga di Kota Tangerang bergerak di sektor ekonomi industri/kerajinan (120.476 rumah tangga atau 33,96%). Usaha kecil yang dijalankan masyarakat menghasilkan berbagai produk, di antaranya bola sepak, sandal dan sepatu dengan memanfaatkan bahan baku sisa industri. Hal ini tentunya mempunyai dampak yang positif, karena limbah yang dihasilkan. oleh industri besar dapat dimanfaatkan untuk menjadi barang produksi dan juga menjadi sumber penghasilan masyarakat khususnya masyarakat ekonomi lemah. Sektor ini tidak hanya memanfaatkan limbah industri, namun sampah yang merupakan limbah yang dihasilkan rumah tangga dapat pula dimanfaatkan dengan melalui proses pemisahan sampah organik untuk dijadikan pupuk melalui proses composing. Pengolahan sampah organik untuk dijadikan kompos tentunya sangat membantu untuk mengurangi timbunan volume sampah yang dihasilkan masyarakat. Selain itu pengolahan sampah yang berwawasan lingkungan membantu pemerintah dalam masalah penanganan dan penanggulangan sampah, juga dapat menunjang pemberdayaan ekonomi masyarakat. Peluang Investasi DENGAN pemahaman terhadap potensi dan kendala yang dimiliki Kota Tangerang, maka pemerintah kota ini merumuskan strategi pengembangan wilayah yang paling menguntungkan untuk diterapkan di masa mendatang, yakni dengan mengutamakan kegiatan unggulan berupa: pengembangan industri, perdagangan, keuangan dan perbankan, serta pemukiman. Sejak dikeluarkannya Instruksi Presiden nomor 13 Tahun 1976, keempat sektor kegiatan tersebut telah tumbuh sangat pesat di Kota Tangerang. Pertumbuhan keempat sektor kegiatan tersebut semakin pesat dengan adanya ruas jalan tol Jakarta - Tangerang - Merak dan gerbang perhubungan udara Indonesia Bandara Internasional SoekarnoHatta. Keempat sektor kegiatan tersebut menjadi sumber mata pencaharian utama bagi sebagian besar penduduk Kota Tangerang. Pengembangan Industri PENGEMBANGAN Industri di Kota Tangerang sebagai akibat dari keterbatasan lahan peruntukan di Wilayah DKI Jakarta. Pengembangan industri itu telah dimulai sejak tahun 1976 hingga saat ini. Fenomena pengembangan industri tersebut dapat dilihat di sepanjang Jalan Daan Mogot di Kecamatan Batuceper, sepanjang aliran Sungai Cisadane dan belahan kota di Kecamatan Tangerang, kawasan industri di Kecamatan Jatiuwung, dan sebagian kecil wilayah Kecamatan Cipondoh. Pertumbuhan industri di daerah-daerah tersebut sangat pesat hingga saat ini menjadi kekuatan ekonomi bagi Kota Tangerang. Menurut data dari Kantor Penanaman Modal dan Perijinan (KPMP), tercatat 1.407 unit usaha industri yang ada di Kota Tangerang yang

mempekerjakan 149.827 tenaga kerja lokal dan 356 tenaga kerja asing. Investasi yang ditanamkan dalam seluruh kegiatan industri tersebut mencapai RP 3.716.781.817.979,00. Kegiatan industri yang telah berkembang di atas lahan seluas 1.367,1 hektar tersebut masih memiliki peluang untuk dikembangkan lagi di masa yang akan datang. Ribuan hektar lahan di Kawasan Industri Jatiuwung serta zona industri di Kecamatan Tangerang dan Batuceper terbuka bagi pengembangan oleh investor swasta nasional dan internasional. Selain itu dengan adanya rencana perluasan Bandara Internasional Soekarno-Hatta hingga tahun 2020 dan penerapan otonomi daerah, maka investasi dan peluang untuk perluasan jaringan distribusi produk ke berbagai sasaran pasar akan semakin mudah dan terbuka. Tabel 4 Wilayah Investasi

Kecamatan Ciledug Larangan Karang Tengah Cipondoh Pinang Tangerang Karawaci Jatiuwung Cibodas Periuk Batuceper Neglasari Benda

Peruntukan Wilayah Investasi Wilayah berbatasan dengan Jakarta Barat dan Jakarta Selatan, kegiatan dominan permukiman dengan jumlah penduduk yang sangat padat.

Pengembangan kawasan permukiman untuk memenuhl kebutuhan di masa yang akan dating. Pusat Kota Tangerang (perdagangan dan bisnis) dengan kepadatan penduduk tinggi

Pengembangan kegiatan industri, menjadi daya tarik bagi migrasi pekerja industri

Wilayah berbatasan dengan Jakarta Barat, akses baik, menjadi wilayah perluasan kegiatan industri dan perumahan dari Jakarta.

Sumber : Kota Tangerang Dalam Angka, 2002

Mewujudkan Visi UNTUK mewujudkan visi kebijakan pengembangan Kota Tangerang sebagai kota industri dan perdagangan yang modern, mau tak mau Pemerintah Kota Tangerang harus mengarahkan kota ini menjadi lebih mandiri, yaitu dapat membiayai rumah tangga sendiri, dengan meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang dibutuhkan untuk pembiayaan pembangunan mengingat terbatasnya bantuan dari pemerintah yang lebih tinggi seperti tingkat pusat dan propinsi. Selain itu, dengan semakin besarnya semangat desentralisasi dari pemerintah pusat, maka pengambilan keputusan yang lebih besar di tingkat kota harus didukung oleh efisiensi birokrasi dan pelayanan. Begitupun dengan potensi penduduk kota yang besar, merupakan aset kota yang harus diberdayakan untuk mencapai manfaat yang sebesar-besarnya bagi kesejahteraan masyarakat kota sendiri. Perubahan iklim politik juga menyebabkan munculnya perubahan mendasar pada kebijakan pembangunan. serta adanya paradigma baru dalam penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan. Beberapa paradigma baru yang muncul sejalan perkembangan kondisi ekonomi, politik dan sosial itu di antaranya: demokratisasi penyelenggaraan pemerintahan, pemerintahan, yang amanah, yang menghendaki pemerintahan dikelola secara bersih dan bertanggung jawab, transparan dan berlandaskan hukum. Visi "Kota Tangerang Menuju Kota Industri, Perdagangan dan Permukiman yang Ramah Lingkungan dalam Masyarakat yang Berakhlak Mulia," telah mengalami proses yang panjang dan telahan yang mendalam dari berbagai pihak terkait (stakeholders). Visi ini merupakan suatu cara pandang ke masa depan yang mengilhami setiap tindakan pemerintah Kota Tangerang dan memotivasi secara positif untuk mencapai kondisi yang diinginkan di masa mendatang. Penetapan visi tersebut didasarkan kepada beberapa pengertian, yaitu untuk mencapai cita-cita bangsa Indonesia, seluruh lapisan masyarakat Kota Tangerang harus bersatu dan bekerja keras urituk meningkatkan kesejahteraan. Kota Tangerang sudah selayaknya berupaya untuk menjadi kota industri dan perdagangan yang terkemuka, karena potensi daerah sebagai kawasan perkotaan menunjukkan dominasi dari kegiatan industri dan perdagangan. Visi ini memberi implikasi terhadap kemampuan untuk bersaing sebagai kota termaju dan memiliki keunggulan-keunggulan dalam aspek lain seperti pendidikan, industri, lembaga penelitian dan pengembangan. Rumusan visi tersebut didorong oleh adanya kegiatan ekonomi strategis seperti industri, perdagangan, jasa, perbankan, dan keuangan. Letak Kota Tangerang secara geografis yang berbatasan dengan DKI Jakarta sebagai ibukota negara, sangat menguntungkan. Keuntungan tersebut ditunjang oleh keunggulan sektor perdagangan dan jasa serta keberadaan Kabupaten

Tangerang yang memiliki potensi sebagai daerah produktif (baik sektor primer maupun sekunder). Selain itu Kota Tangerang berada dalam jalur lintas penerbangan internasional. Berbagai potensi tersebut menjadi pendorong yang kuat untuk menempatkan Kota Tangerang sebagai kota yang paling unggul di Propinsi Banten sekaligus sebagai mitra DKI Jakarta dan Kabupaten Tangerang. Dukungan aksebilitas yang baik, ketersediaan sarana dan prasarana,kemudahan berinvestasi, serta kondisi lingkungan yang kondusif menjadikan Kota Tangerang memiliki prospek yang cerah dan menjanjikan sebagai lokasi pengembangan berbagai kegiatan perekonomian perkotaan. Menjalankan Misi MISI adalah kemauan yang kuat dengan memperhatikan kewenangan dan tanggung jawabnya atas kepentingan umum untuk mewujudkan kondisi dan situasi yang diinginkan pada akhir kurun waktu tertentu yang menyiratkan tujuan-tujuan yang harus dicapai sebagai prasyarat terwujudnya visi. Dari rumusan visi di atas, dapat diuraikan visi yang diemban Kota Tangerang adalah sebagai berikut; Memulihkan dan mendorong pertumbuhan ekonomi kota; Meningkatkan kualitas dan kuantitas pelayanam public; Peningkatan tata kepemerintahan yang baik dan Mewujudkan pembangunan yang ramah lingkungan. Nilai inti budaya Pemkot Tangerang merupakan nilai-nilai yang harus dianut dan diterapkan dalam sikap dan perilaku seluruh jajaran aparat Pemkot Tangerang, dalam menjalankan semua kegiatan, dalam menjalankan hubungan dengan stakeholder Kota Tangerang, baik dalam pelayanan kepada masyarakat (publik), maupun pelayanan kepada dunia usaha. Nilai inti budaya tersebut adalah: 1. Inovasi (innovation) 2. Kebersamaan (unity) 3. Keberlanjutan (sustainability) 4. Profesionalisme (profesionalisme) 5. Akhlak Mulia (akhlakul karimah) Pemkot Tangerang telah menyusun suatu rencana yang sistematis melalui program-program berskala prioritas dalam rangka mencari solusi masalah-masalah yang relevan. Program-program prioritas tersebut mencakup pemulihan ekonomi, peningkatan pelayanan dasar, memperluas cakupan dan pemeliharaan prasarana dan sarana kota. Selain itu, meningkatkan efektivitas penyelenggaraan pemerintahan, dan mengoptimalkan kinerja aparatur dalam menciptakan ketentraman dan ketertiban yang lebih konsisten. Seluruh proses dan tahap-tahap kegiatan akan dirancang untuk sebanyak mungkin melibatkan stakeholder dengan

pendekatan partisipatif agar dukungan terhadap pelaksanaan setiap program menjadi lebih luas. A. Pemulihan Ekonomi Pemulihan ekonomi Kota Tangerang bukanlah sesuatu yang berdiri sendiri, terkait dengan pemulihan ekonomi nasional. Akan tetapi dalam skala lokal pemulihan ekonomi dapat dilakukan melalui program prioritas sebagai berikut : 1. Pembangunan kegiatan industri di Kecamatan Jatiuwung, Batuceper dan pembangunan Center Business District (CBD) Tangerang; 2. Pengembangan industri kecil/rumah tangga dengan prioritas pada upaya pengembangan dan perluasan ekonomi rakyat; 3. Perluasan jaringan pemasaran untuk industri kecil yang berorientasi pada pasar domestic dan ekspor; 4. Penciptaan kemudahan prosedur perizinan dan pemberian insentif; 5. Peningkatan kemampuan dan keterampilan wirausaha masyarakat yang berbasis koperasi, dan meningkatkan kemampuan tenaga kerja secara optimal.

B. Peningkatan Pelayanan Pendidikan, Kesehatan dan Kesejahteraan Sosial Pelayanan di bidang pendidikan, kesehatan dan kesejahteraan sosial adalah pelayanan dasar yang harus diselenggarakan oleh Pemerintah Kota Tangerang dengan sungguh-sungguh sebagai suatu pelayanan langsung kepada masyarakat. Dalam penyelengaraan pelayanan dasar tersebut, Pemerintah Kota akan mengoptimalkan peran serta masyarakat. Secara umum kebijakan bidang pendidikan ditujukan untuk menghasilkan SDM yang tidak hanya pandai secara akademik, namun juga harus mempunyai kualitas pada pasar kerja. Pendidikan lebih ditujukan untuk mencetak manusia dewasa yang mandiri dari kehidupan bermasyarakat yang bertanggungjawab dan tahu akan kelebihan serta kekurangan dirinya. Sehingga menjadi pribadi-pribadi yang penuh perhatian dan peduli terhadap sesama. Untuk mencapai tujuan itu ada beberapa persoalan yang perlu diperhatikan dalam membangun bidang pendidikan. Yaitu (1) kualitas pendidikan, dimana di dalamnya termasuk kualitas kurikulum, kualitas guru, dan kualitas manajemen pendidikan. (2) kesetaraan dan aksebilitas untuk memperoleh pelayanan pendidikan baik sarana maupun prasarana. Peningkatan pelayanan mencakup program prioritas sebagai berikut: 1. Belum meratanya kesempatan memperoleh pendidikan tingkat dasar, terutama untuk menjangkau masyarakat kurang mampu; 2. Masih tingginya angka putus sekolah, buta huruf ;

3. Masih rendahnya partisipasi sekolah di tingkat SLTP, SMA dan MA; 4. Belum sesuai mutu dan muatan kurikulum dan kebutuhan dasar tenaga kerja yang tercermin dari banyaknya lulusan yang tidak memiliki keterampilan yang dibutuhkan; 5. Pendidikan luar sekolah masih kurang dapat perhatian dari pemerintah; 6. Masih rendahnya pelayanan pendidikan dan belum adanya standar pelayanan minimal yang sesuai dengan kondisi Kota Tangerang; 7. Kurang memadainya kualitas guru; 8. Masih rendahnya tingkat kesejahteraan guru; 9. Sarana dan prasarana pendidikan dalam jumlah dan kualitas masih dirasakan kurang, terutama di pinggiran Kota Tangerang; 10. Manajemen berbasis sekolah belum terlaksana dengan baik, dan ini mencerminkan rendahnya partisipasi masyarakat dalam dunia pendidikan; 11. Alokasi anggaran untuk pendidikan masih dirasakan belum memadai untuk kebutuhan meningkatkan kualitas SDM Kota Tangerang. Potensi Urban Heritage Tourism KOTA Tangerang sejatinya memiliki potensi untnk dikembangkan menjadi kota wisata budaya.Sebut misalnya bangunan bersejarah yang masih terjaga kelestariannya, seperti Bendungan "Pintu Sepuluh" atau biasa disebut Bendung Sengego di Sungai Cisadane, Vihara Nimmala atau Kelenteng Boen San Bio, Rumah Tua Kapiten Tionghoa dan sebagainya. Demikian pula budaya lokal yang dipengaruhi oleh etnik Tionghoa seperti Peh-Cun (balap perahu naga) di Kali Cisadane, tari Cokek, tradisi chio-thaou, musik Tanjidor dan lain-lain. Keadaan ini sangat menguntungkan bagi Kota Tangerang sebagai kota industri dan perdagangan yang modern. Tak berlebihan kiranya Kota Tangerang disebut sebagai kota warisan budaya yang memiliki daya tarik tinggi. Sayangnya, di kota yang pada Senin, 2 8 Februari 2005 sudah berulang tahun ke-12 ini, semangat dari berbagai pihak, untuk menjadikan Kota Tangerang sebagai tempat wisata budaya, kurang mendapat respon yang memadai. Tentu saja, upaya untuk Kota Tangerang sebagai tempat wisata budaya, tidak hanya datang dari Pemkot saja. Komponen lain di masyarakat juga harus terlibat. Di kota ini, masyarakat pada umumnya hanya jalan-jalan di pasar, toko, dan mal mencari makanan enak yang sesuai dengan selera masing-masing, lalu pulang. Memang jika hendak menyusuri sejarah perjuangan tokoh lokal di kota ini, belum ada lembaga yang setiap saat siap menerangkan. Peninggalan sejarah perjuangan nyaris tak berbekas, kecuali taman makam pahlawan yang hanya dikunjungi setahun sekali tiap Agustus. Sisa-sisa bangunan peninggalan pada zaman kolonial Belanda memang belum dibenahi secara optimal dan perlu pembenahan tersendiri, khususnya di tepi sebelah barat

Sungai Cisadane. Juga belum ada rekonstruksi sejarah dan upaya pemeliharaan bangunan-bangunan yang masih tersisa, mulai dari tepian Sungai Cisadane di Karawaci hingga Kedaung. Padahal, kalau semua pihak terlibat dan memiliki niat memajukan kota Tangerang sebagai kota wisata budaya dengan baik dan dirangkai cerita sejarahnya serta didokumentasikan, situs-situs bersejarah itu bisa menjadi daya tarik tersendiri bagi Kota Tangerang. Dan pada gilirannya, pemerintah kota akan memiliki pendapatan dari sektor ini. Di pelbagai kota-kota besar di seluruh penjuru dunia, konsep pariwisata Urban Heritage Tourism akhir-akhir ini banyak dikembangkan. Urban Heritage Tourism adalah sebuah konsep pariwisata yang sebenarnya sederhana dengan memanfaatkan lingkungan binaan maupun alam yang dimiliki oleh sebuah kota, yang memiliki nilai historis tersendiri. Para penikmat dan pemerhatinya diajak untuk mengapresiasi serta menginterpretasi objek-objek yang diamati. Dengan demikian, selain berfungsi sebagai sarana pendidikan dan rekreasi masyarakat, aktivitas ini sekaligus pula sebagai sarana pelestari dari kekayaan kota itu sendiri. Objek yang diamati pada urban heritage tourism bisa bermacam-macam, baik benda (mati atau hidup) maupun juga aktivitas. Umumnya, benda-benda seperti situs, monumen, serta bangunanbangunan bcrsejarah memiliki posisi yang penting dalam wisata jenis ini. Kota-kota yang berusia tua melebihi ratusan tahun memiliki banyak bangunan yang merupakan saksi bisu dari perkembangan lingkungannya, potret dari kejadian-kejadian masa lampau yang pernah terjadi di sekelilingnya. Bangunan-bangunan tersebut kemudian menjadi bukti sejarah yang konkret, yang mendukung buku-buku sejarah yang ditulis bertahun-tahun kemudian. Setiap manusia memiliki kerinduan untuk menikmati dan mempelajari asal usul serta apa yang pernah terjadi pada masa lampau. Selain itu, tanggung jawab semua pihak untuk ikut menjaga objektivitas sejarah dengan meneruskannya kepada generasi-generasi selanjutnya. Hal itulah yang kemudian dikerjakan oleh para pengelola urban heritage tourism, yang bukan hanya berjuang mempertahankan eksistensi sebuah perjalanan budaya, namun juga menghasilkan profit dari proses tersebut. Selama ini, disadari ataupun tidak, Kota Tangerang memiliki potensi yang cukup besar untuk pengembangan urban heritage tourism. Sebagai kota yang dihuni oleh penduduk multi etnis, Tangerang banyak meninggalkan bangunan-bangunan dengan nilai historis yang kental. Hal tersebut merupakan modal yang sangat besar bagi konsep urban heritage tourism. Pemerintah Kota Tangerang dan komponen masyarakat Kota Tangerang, seharusnya mencermati soal ini secara serius dan optimal. Sebab pangsa pasar wisatawan yang menggemari segmen ini, terutama wisatawan mancanegara cukup tinggi. Sejak tahun 1992 bangunan--

bangunan bersejarah dilindungi dengan adanya U.U. Nomor 5/1992 tentang Benda-benda Cagar Budaya. Selain memacu akselerasi pembangunan, warga masyarakat Kota Tangerang harus mampu menjaga lestari kearifan budaya lokal, ketika sebagian besar kota di Indonesia sangat tertinggal dalam sistem pengelolaan dan persepsi terhadap warisan peninggalan budaya masyarakat, baik yang bersifat kasat mata (tangible) maupun tidak kasat mata (intangible). Memang, bangunan-bangunan kuno tersebut membutuhkan ongkos pemeliharaan yang tinggi, yang tentu saja jika dari pertimbangan finansial semata akan tampak kurang efisien. Akibatnya, jika tidak dirobohkan, pemilik bangunan lebih memilih untuk menelantarkannya. Hal yang tentu saja merugikan bagi generasi muda, yang tidak mendapatkan kesempatan menikmati keragaman budaya kotanya, sekaligus menikmati sejarah perkembangannya. Jauh sebelum urban heritage tourism bergulir, Singapura merupakan salah satu pelopornya di kawasan Asia Tenggara. Ketika Singapura pun mengalami economic boom pada 1970-an, bangunan-bangunan kolonial yang banyak menghiasi kota digantikan dengan bangunan bergaya internasional yang "dingin" dan tercerabut dari akar budaya. Ketika krisis ekonomi melanda pada akhir dekade tersebut, ditandai dengan anjloknya harga minyak bumi, bergulirlah wacana pengembangan kepariwisataan yang berpijak pada heritage sebagai dasarnya. Singapore Heritage Society mengadakan studi mengenai pengembangan pariwisata Singapura dengan menggandeng institusi terkenal seperti Harvard University dan Massachussetts Institute of Technology. Akhirnya, pada tahun 1984, disepakatilah pengembangan konsep heritage tourism berupa renovasi, restorasi, dan rekonstruksi dari kawasan-kawasan bersejarah negeri pulau tersebut. Kawasan yang ditetapkan ke dalam projek berupa Singapore River, Chinatown, Kampung Glam, dan Little kiam. Untuk meningkatkan apresiasi terhadap kebudayaan asli daerah, Singapura pun membangun beberapa theme park dengan konsep yang mirip seperti TMII milik kita. Kesadaran itu memang datang terlambat, tetapi toh hasilnya tereguk juga dan ternyata cukup mencengangkan. Selain mendapatkan keuntungan dari segi pelestarian budaya dan sejarah, Singapura mendapatkan lonjakan wisatawan yang cukup tajam di tengah muramnya pertumbuhan ekonomi Asia Tenggara masa itu. Kini kunjungan turis mancanegara ke Singapura kembali ke angka normal karena suguhan yang bervariasi. Mulai dari yang berwajah kuno sampai yang berpenampilan modern. Bahkan, untuk menikmati malam tahun baru di hotel "Raffles" misalnya, kamar harus di-booking satu semester sebelumnya!

Kembali lagi ke Tangerang, sebenarnya berkaca dari pengalaman Singapura tersebut, banyak hal yang dapat dilakukan. Bangunanbangunan kuno bercorak indah di Tangerang dapat diberi sentuhan dan fungsi baru yang lebih komersial. Dengan demikian, biaya pemeliharaan yang tinggi dapat tertutup. Jika pun terpaksa, dalam kasus-kasus ketika dimensi bangunan bersejarah tersebut tidak dapat lagi menampung fungsi baru yang menuntut luasan yang jauh lebih besar, penghancuran seharusnya merupakan pilihan yang dihindari. Arsitek besar Paul Rudolph yang merancang Wisma Dharmala di Jakarta menawarkan teorinya tentang "Bangunan Latar Depan" dan "Bangunan Latar Belakang". Bangunan-bangunan bergaya internasional yang multiselular dan universal dengan ciri perwajahan yang cenderung sama, seperti pusatpusat perbelanjaan bernuansa superblok yang tumbuh bagaikan jamur di musim hujan, diletakkan di latar belakang. Sementara itu, bangunanbangunan yang bernuansa khusus, seperti dalam kasus ini bangunanbangunan historis, diletakan di latar depan. Dengan demikian, minimal fasade bangunan tidak hilang sehingga dapat tetap berfungsi sebagai saksi sejarah dengan semangat zamannya masing-masing. Dengan konsep ini, kekayaan budaya kota dapat tetap lestari sementara keuntungan finansial dapat tetap diperoleh. Perda Cagar Budaya DI era otonomi daerah, upaya perlindungan dan pelestarian bendabenda cagar budaya dalam banyak hal sudah diserahkan kepada masingmasing daerah. Mau tidak mau Kota Tangerang harus segera mengambil inisiatif untuk merumuskan langkah dan payung hukum bagi upaya perlindungan dan pelestarian benda-benda cagar budaya yang dimiliki, yakni dalam bentuk peraturan daerah (perda). Pengaturan ini diharapkan dapat dijadikan sebagai landasan hukum, baik bagi pemerintah maupun masyarakat, dalam melakukan aktivitasnya masing-masing dalam kaitannya dengan benda-benda cagar budaya. Dalam hubungan ini, pemerintah Kota Tangerang mendorong kalangan masyarakat untuk menumbuhkan kesadaran pengelolaan dan pelestarian warisan budaya (heritage) tadi. Jangan pernah mengulangi kekeliruan Singapura, karena membongkar bangunan-bangunan kuno untuk memberi tempat bagi gedung baru yang serba modern dan berteknologi canggih. Jika selama ini gedung-gedung tua dan legendaris itu masih utuh, itu lebih disebabkan belum ada investor yang berminat membangun gedung baru di situ. Bukan karena alasan konservasi. Ke depan diharapkan agar warisan budaya ini mampu memberikan topangan kesejahteraan bagi pemerintah daerah, bukan cuma pada sisi budaya, tetapi juga sisi ekonomi, wisata, dan sistem sosial yang

terpelihara. Kalau tidak, kekayaan warisan budaya masyarakat bakal kian memudar, kian jauh dari konteks kehidupan riil, dan akhirnya terbengkalai. Landmark Kota DENGAN mayoritas penduduknya beragama Islam, tak heran jika masjid dan mushala adalah sarana ibadah yang paling banyak jumlahnya di Kota Tangerang. Pada 2001 di Kota Tangerang terdapat 392 masjid dan 1.088 surau/langgar. Sedangkan sarana peribadatan lainnya yang terdapat di sana adalah 7 gereja Katholik dan 34 gereja Protestan. Bagi umat Hindu, Kota Tangerang menyediakan 8 pura sebagai tempat beribadah. Selain itu terdapat pula 15 vihara, salah satunya adalah Kelenteng Boen Tek Bio. Sebagaimana kota-kota lain di seluruh Indonesia, Kota Tangerang juga memiliki masjid kebanggaan. Bangunan Masjid Agung Tangerang mudah dikenali dengan lima buah kubah biru azure dan empat buah minaret menjulang seperti masjid-masjid di Turki. Masjid megah nan indah itu adalah Masjid Raya Al Azhom yang dibangun di atas lahan seluas 2,25 hektar dengan dana pembangunan sebesar RP 28,3 miliar. Dana itu bersumber dari APBD, mobilisasi umat, bantuan dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat dan Provinsi Banten. Luas bangunan Masjid mencapai 5.775 meter persegi, terdiri dari lantai bawah 4.845,08 meter persegi dan lantai atas 909,92 meter persegi. Masjid yang kini rnenjadi landmark bagi Kota Tangerang ini dapat menampung sebanyak 15.ooo jamaah. Rancangan bangunan Masjid Raya A1 Azhom yang memiliki esensi dan referensi dari Al-Qur'an dan Sunah Rasul serta seni Islam (Arabesque), mencerminkan hakikat tauhidah, serta kaitan dunia dan akhirat yang ditandai dengan unsur-unsur garis lurus dan lengkung. Perpaduan antara suasana tradisional dengan suasana modern ditandai dengan banyaknya tiang di sekeliling masjid, sedangkan pada interiornya dengan ruang tengahnya yang luas, bebas tiang dengan konstruksi teknologi tinggi pada kubahnya. Bentuk masjid yang universal dengan kesan representatif dan megah, dengan gaya arsitektur Timur Tengah akan menjadi ciri baru bagi kawasan pusat-pusat kota baru di Tangerang dan memperindah arsitektur kota. Suasana keserasian dengan alam tropis yang dicirikan dengan atap miring pada oversteknya, sehingga kesejukan udara nuansa alam tropis akan terasa. Masjid Raya Kota Tangerang ini yang pertama menerapkan konsep atap berbentuk susun (konfigurasi) lima kubah bertumpuk dan kompak untuk bangunan masjid. Semua rancangan masjid itu bukan berarti tanpa makna-makna filosofi. Di antaranya, lima kubah mencerminkan kewajiban sholat lima waktu, empat unit tiang menara mencerminkan empat tiang ilmu, yaitu ilmu bahasa Arab, syariah, sejarah dan filsafat. Sedangkan tiga bagian tinggi menara mencerminkan Iman, Islam dan Ikhsan. Menara yang

masing-masing setinggi 30 meter mencerminkan jumlah 30 juz Al-Qur'an dan enam meter tinggi kuncup menara mencerminkan enam rukun iman. Sedangkan fasilitas yang melengkapi bangunan masjid tersebut terdiri dari ruang wudhu, mihrab dan persiapan, ruang sholat, ruang pengkajian, perpustakaan, ruang kantor dan peralatan serta halaman masjid. Dengan adanya berbagai fasilitas tersebut, diharapkan Masjid Raya selain berfungsi sebagai tempat menjalankan ibadah salat, juga sebagai pusat penyiaran, pengkajian dan informasi agama Islam serta pusat kegiatan sosial umat Islam. Selain Masjid Raya A1 Azhom, terdapat jembatan penyeberangan dengan visi sebagai landmark Kota Tangerang. Dibangunnya jembatan penyeberangan di ruas Jalan MH.Thamrin, Kota Tangerang ini sebagai pintu gerbang (Welcome Gate) Kota Tangerang dan arah Jakarta dan Serpong. Jembatan Pelengkung ini membentang sepanjang 65 meter dan lebar 3-5 meter. Bahan bakunya adalah pipa baja berstruktur melengkung seberat lebih kurang 32 ton yang menelan biaya RP 3 miliar. Desain jembatan yang unik dan khas, akan menjadi landmark Kota Tangerang, oleh sebab itu perencanaan jembatan yang memiliki dua tiang yang melengkung, menyerupai gading gajah membentuk busur, telah menjadi simbol, bahwa inilah Kota Tangerang. Pemilihan elemen baja dan bentuk futuristik akan memberikan kesan lebih kuat terhadap visi Kota Tangerang sebagai kota industri dan perdagangan yang modern. Aspek keamanan, ketertiban, keindahan dan kenyamanan bagi pengguna jembatan baik pengendara kendaraan bermotor maupun pejalan kaki menjadi hal yang sangat penting. Sehingga landscaping di sekitar lokasi jembatan, terutama di tempat naik/turun, pengaturan lalu-lintas, pemeliharaan jembatan, merupakan kriteria tak terlepaskan dari perencanaan jembatan.Pembangunan Berperadaban Bagi tiap-tiap umat (Yahudi, Kristiani dan Islam) telah kami berikan aturan dan jalan. Sekiranya Allah menghendaki, Dia bias menjadikan kamu satu umat saja.Namun (Dia tidak melakukan itu karena) Dia hendak menguji kamu terhadap karunia-Nya kepadamu. Maka, berlomba-lombalah dalam berbuat kebaikan. (Al-quran, Surat Al-Maidah;48) Seruan Alquran tentang perlunya berlomba-lomba dalam kebajikan, harus dipahami pada kebaikan universal (al-khayr, al-maruf). Namun menurut Abdulaziz Sachedina, Professor Kajian Agama di University of Virginia dan Peneliti pada Center for Strategic and International Studies, yang belum jelas, apakah Alquran mengakui keragaman pemahaman kultural dan historis mengenai apa yang baik itu. Karena anjuran dalam surat Al-Ma'idah ditujukan kepada semua umat agama, maka kita harus konsisten untuk berpendapat, bahwa kebaikan dalam ayat ini berlaku untuk seluruh tradisi agama. Tapi

penafsiran semacam itu tidak diterima secara luas oleh ulama etika Islam. Perbedaan tafsir itu dari kalangan ulama, misalnya datang dari Ibn Katsir. Dalam kitab bertajuk Tafsir misalnya, ia menganggap khayrat itu pada kepatuhan kepada Tuhan dengan cara mematuhi hukum-Nya yang dibawakan Muhammad, dimana wahyu yang diturunkan kepadanya telah membatalkan hukum-hukum sebelumnya. Sementara Sayid Quthb dalam Fi zhilal al-Quran, melihat upaya membuktikan bahwa hanya ada satu syariat yang mendominasi agama lain, dianggap oleh Abdulaziz Sachedina sebagai kajian yang amat dangkal. Di sisi lain mufasir Syiah, Thabathaba'i dalam al-Mizan, menganggap al-khayrat sebagai al-ahkam (peraturan atau hukum) Dan sebagai al-takalif (kewajiban moral religius). Masih dalam bahasan Abdulaziz, para teolog muslim juga berselisih mengenai adanya moralitas universal. Terjadi perdebatan, apakah moralitas universal itu seluruhya dikondisikan oleh konvensi-konvensi sosial kultural atau bersumber dari satu standar rasionalitas universal berdarkan fitrah manusia. Wahyu Islam memberikan satu bahasa moral yang kompleks, berbicara tentang umat manusia yang, di satu sisi, samasama memiliki nilai-nilai dan kepentingan-kepentingan universal sebagai makhluk yang sederajat dalam martabat dan kesadaran nurani. Tetapi di sisi lain, berada dalam persaudaraan khusus sebagai anggota dari komunitas dan bangsa tertentu. Apapun seruan berlomba-lomba dalam kebaikan memang memiliki pesan universal. Kebaikan dan kebajikan bisa menyebar ke segala arah dan penjuru tanpa harus dilihat latar belakang agama dan golongan. Dan KTT Tsunami adalah representasi dari kebajikan universal itu. Secara sederhana contoh kebajikan universal misalnya, ketika mayat-mayat berserakan di tanah Aceh, kita tidak perlu bertanya, apakah yang kita tolong seiman, segolongan atau sealiran politik. Kita menolong tanpa harus ada batasan-batasan itu. Contoh lain, ketika ada saudara kita tertabrak di jalan, tentu kita tidak perlu bertanya lagi, agamamu apa, partaimu apa dan dari etnis mana? Jika identitas yang ditanyakan terlebih dahulu, khawatir saudara kita yang terkapar tak bisa tertolong. Lihat saja, para donatur dari berbagai kalangan dan penjuru dunia para buruh, artis, birokrat dan seluruh komponen masyarakat ikut membantu tanpa harus melihat siapa yang dibantu. Intinya cuma satu, ada musibah semua harus terlibat. Dalam konteks inilah, setiap pribadi, setiap komponen masyarakat, yang tumbuh dan berkembang di wilayah Kota Tangerang, memiliki kewajiban untuk berlombalomba dalam kebajikan, memberdayakan Kota Tangerang ke wilayah yang lebih beradab. Kewajiban mernbangun kota yang beradab ini, sebagai upaya untuk menciptakan iklim masyarakat madani, masyarakat sipil yang memiliki kewibawaan, yang di dalamnya tumbuh nilai-nilai moral dan nilai-nilai kebajikan yang tinggi. Masyarakat madani adalah masyarakat yang mengedepankan partisipasi publik, mengedepankan prosedur-prosedur demokrasi, dan masyarakat yang

menjunjung tinggi etos kerja serta memahami peran masing-masing dalam masyarakat. Masyarakat madani juga mencoba menyuguhkan berbagai jawaban untuk menyeimbangkan sarana dan tujuan dalam mencapai tatanan sosial ideal. Maka jika kita sepakat, bahwa pembangunan Kota Tangerang berorientasi pada masyarakat madani, mau tak mau, semua komponen yang ada harus melihat arah pembangunan itu berpijak kepentingan masyarakat secara keseluruhan, bukan kepentingan yang bertumpu pada pribadi-pribadi atau kelompok-kelompok. Dan semua jembatan untuk semua komponen itu, adalah tunggal akhlakul karimah. Visi akhlakul karimah, tentu saja menuntut semua komponen masyarakat terlibat dan bukan saja komponen birokrasi. Sementara ini ada beberapa asumsi, bahwa visi akhlakul karimah harus dijalankan oleh komponen birokrasi saja, dan warga masyarakat yang berada di jalur birokrasi pemerintah, tidak dikenai kewajiban memikul visi akhlakul karimah. Asumsi ini sepintas berada dalam jalur yang benar. Tapi sejatinya, pribadi-pribadi yang berada di lingkungan birokrasi, juga sebagai bagian pribadi-pribadi yang tumbuh di masyarakat. Hanya berapa persen, para aparat birokrasi secara formal bekerja dalam ukuran jam. Selebihnya pribadi-pribadi tersebut adalah bagian dari anggota masyarakat biasa. Contoh seperti ini juga bisa diberlakukan pada anak didik kita. Usai mata pelajaran di sekolah, anak-anak akan menjadi warga masyarakat, yang harus bersosialisasi dan berkomunikasi dengan alam lingkungan yang riil. Untuk itu,visi akhlakul karimah bisa dicapai secara gradual, pelan-pelan dan tidak mungkin dicapai secara revolusioner. Visi akhlakul karimah adalah vsi yang akan dilekatkan di masyarakat, yang memiliki aneka ragam karakter dan budaya. Atas dasar keanekaragaman itulah, visi tersebut bisa dijalankan secara gradual dan tidak serta merta menuntut perbaikan secara cepat. Hal lain, visi akhlakul karimah, secara substantif bukan hanya miliki warga muslim saja, meski penamaan akhlakul karimah diambil dari teks-teks Quran. Penamaan akhlakul karimah hanya sebagai cara komunikasi ke ruang-ruang publik, agar mudah diserap dan mudah diingat. Yang pasti visi akhlakul karimah juga melihat perbedaan agama, perbedaan ras, suku dan perbedaan berpendapat yang bermuara bagi terwujudnya masyarakat madani. Pikiran ini mengacu pada satu hal, bahwa membangun sebuah pemerintahan yang bersih, berkeadilan, dipenuhi unsur pemerataan di segala bidang, tidaklah semudah membalik telapak tangan kita. Membangun sebuah pemerintah dibutuhkan berbagai perangkat, tidak sekadar pada level wacana, tapi pada wilayah yang lebih kongkrit, kerja nyata. Sebuah pemerintah yang bersih, berkeadilan, sejahtera di segala bidang, sering kali dipahami sebagai

SETIAP pribadi, setiap komponen masyarakat, yang tumbuh dan berkembang di wilayah Kota Tangerang, memiliki kewajiban untuk memberdayakan Kota Tangerang ke wilayah yang lebih beradab. Kewajiban membangun kota yang beradab ini, sebagai upaya untuk menciptakan iklim masyarakat madani, masyarakat sipil yang memiliki kewibawaan, yang di dalamnya tumbuh nilai-nilai moral dan nilai-nilai kebajikan yang tinggi. pemerintah yang demokratis. Pemahaman sebagian di antara kita, bahwa pemerinthan demokratis, adalah pemerintahan yang didalamnya dipenuhi unsur-unsur tersebut. Tapi sebenarnya hakikat pemerintahan demokratis bukan terletak pada terciptanya keadilan, kemakmuran dan proses transparansi. Jika demokrasi mengandalkan keadilan, kemakmuran dan proses transparansi, Singapura adalah contoh kongkrit dari pemerintah demokratis. Hanya saja, hakikat demokrasi terletak pada proscdur demokrasi, bukan sekadar unsur-unsur demokrasi seperti keadilan, kemakmuran dan transparansi saja. Jika keadilan, kemakmuran dan transparansi jadi ikon demokrasi, Singapura akan menjadi contoh nyata bagi negara demokratis. Tapi yang terjadi di Singapura, prosedur-prosedur demokrasi tidak berjalan semestinya. Aspirasi-aspirasi publik tidak, begitu mudah disalurkan dan media massa tidak memiliki kebebasan berpendapat. Rakyat dibingkai dengan aturan-aturan pemerintah tanpa harus melibatkan aspirasi publik. Artinya prosedur demokrasi tidak, berjalan semestinya, meski keadilan, kemakmuran dan transparansi terlihat di berbagai sudut Singapura. Fenomena ini, mempertegas, bahwa demokrasi harus dipahami secara lebih riil, subtil, dan pemahaman yang lebih luas. Demokrasi memang membutuhkan peran serta semua pihak, tapi demokrasi juga membutuhkan prosedur-prosedur. Tanpa adanya prosedur demokrasi tidak bisa berjalan seperti yang kita harapkan. Inilah mungkin yang perlu digaris bawahi dari pandangan yang dikembangkan Emmy Hafild ketika menjadi pembicara di Unis, Tangerang, Sabtu (7/5/2005). Emmy hanya melihat pada persoalan keterlibatan semua warga masyarakat, terutama rakyat miskin dalam proses pembangunan pemerintahan. Tapi ia lupa, pelibatan warga masyarakat membutuhkan prosedur, yang mau tak mau, harus dipahami secara benar. Dalam konteks inilah, saya ingin melihat perlunya keterlibatan pasar, warga masyarakat dan negara dalam proses pembanguan pemerintahan. Jika pasar dalam pengertian realitas sosial ekonomi politik, kondusif, secara otomatis, warga akan mendapatkan keuntungan dalam proses kelangsungan kehidupan sehari-hari. Dan posisi negara, dalam konteks ini, hanya jadi fasilitator antara kebutuhan pasar dan warga masyarakat. Pemerintah Kota Tangerang, dalam konteks ini, adalah

fasilitator antara kebutuhan pasar dan warga masyarakat. Kota Tangerang, yang didalamnya tumbuh beragam kultur, seperti Kota Tangerang, memaksa berbagai komponen publik untuk lebih fokus menggarap dan merawat infrastruktur kota, agar kota wilayah yang dihuni memiliki pijakan dasar dalam mengakses warganya dan seluruh elemen terkait yang ada didalamnya.Komponen yang memiliki peranan penting dalam mengakselerasi kebijakan publik itu, adalah komponen eksekutif atau aparatur negara dan komponen legislatif, anggota DPR, dalam hal ini DPRD.Dua komponen ini , mau tak mau, harus mampu memberi kontribusi yang positif bagi perkembangan dan pertumbuhan warga. Tanpa kontribusi yang positif, dua komponen penyangga itu, hanya menjadi bagian dari masyarakat, bukan core atau inti dari jantung kehidupan Kota Tangerang. Padahal tanpa keterlibatan aktif dari eksekutif dan legislatif, kehidupan di suatu daerah, seperti wilayah mati, tak bertuan: menjalani ritus kehidupan sehari-hari tanpa roh. Untuk itu, cara yang paling efektif menghidupkan kerja sama eksekutif dan legislatif, adalah penggalangan kebijakan-kebijakan publik yang strategis, yang memiliki kontribusi besar bagi kehidupan warganya. Semua penggalangan kerja sama itu, muaranya adalah kepentingan kehidupan warga. Kerja sama harus dititik beratkan pada kepentingan warga. Kerja sama yang dibangun harus menutup peluang untuk kepentingan eksekutif dan legislatif, berupa bagi-bagi kue daerah. Kerja sama juga tidak, berdasarkan kepentingan partai atau kelompok yang ada di belakang para legislatif dan eksekutif. Pikiran ini didasarkan dari hakikat komponen eksekutif dan legislatif. Dua komponen tersebut, secara legal formal memang memiliki pos-pos strategis Dan pos-pos kekuasaan yang cukup memadai. Tapi substansi dari pekerjaan mereka, adalah melayani warga. Warga adalah tuannya, majikannya maka setiap pekerjaan yang dikerjakan harus memenuhi standar-standar pelayanan yang baik, terukur dan terarah. Perbedaannya yang mencolok dari pelayan warga yang satu ini, adalah pada seragam yang dikenakan tapi di balik baju seragam itu mereka herhak dan wajib, melayani majikannya, warga masyarakat dengan baik dan benar. Tanpa pelayanan yang baik, warga berhak melakukan komplain, atau protes. Protes ini berkaitan dengan pembayaran warga yang dipungut dari berbagai bidang untuk kebutuhan roda pemerintahan Kota Tangerang. Kebutuhan para eksekutif dan legislatif, baik mobil dinas dan seragam yang dikenakan, dipungut dari uang warga melalui berbagai sumbangan dan pungutan yang ada. Inilah subtansi dari kerja sama eksekutif dan legislatif, yakni kebutuhan dan kepentingan warga Kota Tangerang Kerja sama antara eksekutif dan legislatif, yang bermuara pada kepentingan warga, haruslah didukung komponen lain, seperti Lembaga Swadaya Masvarakat (LSM) dan komponen warga lainnya, seperti organisasi-organisasi keagamaan serta berbagai paguyuban yang ada di Kota Tangerang. Kehadiran LSM dan komponen warga lainnya, bertujuan untuk menjadi pengimbang keberadaan

eksekutif dan legislatif, yang sering kali berjalan tanpa kontrol dan arah. Perjalanan tanpa kontrol dan arah ini sering dikerjakan, karena tidak adanya sarana pengimbang yang berjalan efektif untuk mengakselerasi kebijakankebijakan publik. Dari konteks inilah, sendi-sendi masyarakat madani, bisa diwujudkan.

---