Anda di halaman 1dari 9

Oleh: Al-Ustadz Abu Karimah Askari bin Jamal Hafizhahulloh Firanda memfitnah ulama ahlus sunnah Gelar kadzdzab

(gemar berdusta) yang disematkan oleh salah seorang ulama besar di Madinah Asy-Syaikh Abdullah bin Abdirrahim Al-Bukhari Hafizhahullah kepada seora ng pelajar di Madinah yang bernama Firanda Andirja memang merupakan gelar yang l ayak disandangnya. Mengapa tidak, Firanda seakan tiada henti menghembuskan fitna hnya dengan menyebarkan berbagai kedustaan dikalangan salafiyyin dengan menyebar kan berita-berita palsu yang kandungannya adalah upaya merendahkan kedudukan par a ulama dan Dai Ahlus sunnah di tengah umatnya. Belum lama kita mendengarkan haditsul ifk Firanda yang menyebarkan fitnah dusta de ngan mengatasnamakan Asy-Syaikh Rabi bahwa Beliau meninggalkan kota Madinah dan m enetap di Makkah karena diusir dari Madinah. Subahanaka hadza buhtaanun azhim, beta pa lancangnya anda berdusta atas nama seorang yang disebut oleh Imam Al-Albani s ebagai pembawa bendera al-jarhu wat-tadil di zaman ini. Mungkin dia berkata: bukan saya yang mengatakan itu, tapi saya hanya menukil. Kami katakan: Anda terkena ucapan anda sendiri, bukankah anda sendiri menyebutka n dalam buku fitnah anda yang berjudul lerai pertikaian sudahi permusuhan sebagai be rikut: Imam al-Bukhari meriwayatkan dalam kitabnya, al-Adab al-Mufrad (no.324), demikian juga Ibnu Abid Dun-ya dalam kitabnya, ash-shamt (no.260), dan dihasankan oleh S yaikh al-Albani dalam shahih al-Adab (no.247), dari Ali, ia berkata:

Pengucap perkataan dusta adalah sama dosanya dengan orang yang memanjangkan tali perkataan tersebut. Makna ucapan Ali yang memanjangkan tali perkataan tersebut, yaitu menyebarkannya. (Dinukil dari buku fitnah Firanda, hal:26) Tak lama setelah itu, ia kembali berulah di kota Nabi Shallallohu alaihi wasallam , dengan menyebarkan berita palsu berikutnya bahwa Asy-Syaikh Abdullah Al-Bukhar i Hafizhahullah Taala- menjelekkan Syaikh Abdurrazzaq Al-Abbad Hafizhahullah-, yang menyebabkan Syaikh Abdullah Al-Bukhari marah besar kepadanya dan tidak memaafka nnya hingga dia datang kerumah Beliau. Menurut berita dari Syaikh Al-Bukhari bah wa dia telah datang untuk meminta maaf, namun gelar pendusta tersebut masih saja B eliau sematkan kepada hamba Allah yang satu ini, dan gelar itu memang pantas dis ematkan kepadanya. Selamat berbahagia dengan gelar ini wahai Firanda dari salah seorang ulama besar Madinah Nabawiyyah. Anehnya, Firanda menyebutkan dalam buku fitnahnya (hal:32), ia berkata: Ada sebagian orang yang tidak bisa mengendalikan lisannya.Tidak peduli dengan apa yang diucapkannya.Tidak peduli siapapun yang sedang ia ghibah, yang ia bicaraka n, yang ia rendahkan, yang ia jatuhkan harga dirinya. (Buku fitnah Firanda:32) Benar apa yang anda katakan, terlebih lagi kalau yang sedang dibicarakan itu seo rang ulama senior yang dikenal sebagai pembela sunnah Rasulullah Shallallohu alai hi wasallam, dan pembela manhaj salafi, semisal Syaikh Rabi Hafizhahullah Taala. A l-Hafizh Ibnu Asakir rahimahullah berkata:

Ketahuilah wahai saudaraku semoga Allah senantiasa memberi taufik kepada kami dan kalian untuk menggapai ridha-Nya dan menjadikan kami dan kalian termasuk orangorang yang takut kepada-Nya dan bertakwa kepada-Nya- bahwa sesungguhnya daging p ara ulama itu beracun, dan kebiasaan Allah azza wajalla, dalam membongkar kedok o rang- orang yang merendahkannya adalah hal yang telah dimaklumi, dan barangsiapa yang melontarkan ucapannya dengan menjelekkan para ulama, maka Allah azza wajall a, menghukumnya sebelum dia mati dengan kematian hatinya, hendaknya berhati-hati orang-orang yang menyelisihi perintahnya akan tertimpa fitnah atau tertimpa aza b yang pedih. Berkata Abdullah bin Mubarak rahimahullah:

Barangsiapa yang merendahkan para ulama maka hilang akhiratnya, dan siapa yang me rendahkan penguasa maka hilang dunianya, dan siapa yang merendahkan saudaranya m aka hilang harga dirinya. Berkata Ahmad bin AdzroI rahimahullah:

Mencela para ulama terkhusus yang senior di kalangan mereka termasuk dosa besar. Berkata Malik bin Dinar:

Cukuplah kejahatan bagi seseorang yang menunjukkan dia bukan orang saleh tatkala dia merendahkan orang-orang saleh. Syaikh Abdul Aziz Sadhan hafizhahullah- berkata: Berhati-hatilah dari sifat lancang dengan lisan dan telunjuknya terhadap lembaran hidup para ulama, dan berusaha memperburuk citra mereka atau menyebarkan berbag ai tuduhan atas mereka.Sebab hal itu akan membuka pintu kejahatan yang lebar, ya ng dapat menyeretnya kepada kerusakan dan membuat kerusakan baik secara hakiki m aupun secara maknawi, bukan hanya menimpa yang mengucapkannya saja, namun menyeb abkan rusaknya seluruh masyarakat.Untuk menjelaskan bahayanya perkara ini dikata kan bahwa: sesungguhnya merendahkan para ulama dan meremehkan mereka, lebih besa r dosa dan kejahatannya dibanding merendahkan selain mereka. Sebab merendahkan p ara ulama bukan hanya sekedar merendahkan pribadinya saja, namun mengarah kepada sikap merendahkan apa yang mereka bawa berupa ilmu, dan apa yang mereka miliki dari agama dan akhlaq. Oleh karenanya, dikhawatirkan atas orang yang merendahkan para ulama akan ditimpa hukuman yang disegerakan, disebabkan buruknya perbuatan dan kejahatannya. (Manzilatul ulama,Syaikh As-Sadhan,hal:33) Lalu beliau menyebutkan salah satu bentuk merendahkan para ulama: mengotori lisannya dengan meng-ghibah mereka atau tidak membela kehormatan mereka tatkala dighibahi, dan musibah yang terbesar adalah tatkala seseorang merasa ni kmat dengan merusak kehormatan mereka baik dengan ucapan, pendengaran atau menun jukkan tanda menerima. Perbuatan ini menunjukkan keburukan hati dan kejelekan ma ksud, bagaimana mungkin dia menghalalkan dirinya untuk melakukan perbuatan yang kotor itu. Meng-ghibah seorang muslim adalah haram berdasarkan nash al-Quran

Dan jangan sebagian kalian mengghibah sebagian lainnya. (QS.Al-Hujurat:12) Sebab seorang muslim yang tidak berilmu memiliki kemuliaan dengan sebab Islam, l alu bagaimana dengan seorang alim yang kedudukannya jauh lebih mulia dibanding y ang lain, dengan kemuliaan ilmunya dan besar manfaatnya?. (Manzilatul ulama:55) Namun ternyata kebiasaan berdusta Firanda tidak juga berhenti, dan gelar yang te lah dilekatkan kepadanya tidak membuatnya jera dan bertaubat kepada Allah azza wa jalla, bahkan masih saja terus menyebarkan fitnah dan dusta. Siapa yang menyembunyikan fatwa? Dalam buku fitnah karya Firanda hadanallahu wa iyyahu-, dia mengutip terjemahan n asehat Syaikh Bin Baaz rahimahullah- sebagai berikut: ..Kelima : kebanyakan perkataan yang dilontarkan (baik berupa tuduhan maupun celaa n) sama sekali tidak benar, namun hanya merupakan persangkaan-persangkaan keliru yang dihiasi oleh syaitan kepada para pengucapnya. Syaitan memperdaya mereka dengan hal ini. Allah berfirman:

Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya se bagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. (QS.Al-Hujuraat :12) Seorang mukmin hendaknya membawa perkataan saudaranya sesama muslim kepada makna yang paling baik. Sebagian salaf berkata,

Janganlah sekali-kali engkau menyangka dengan prasangka yang buruk terhadap sebua h kalimat yang keluar dari (mulut) saudaramu, padahal kalimat tersebut masih bis a engkau bawa kepada (makna) yang baik. (Buku fitnah Firanda,hal:67) Apa yang disebutkan Syaikh Bin Baaz rahimahullah ini memang perlu kita renungkan lalu kita amalkan, dan saya berharap kita bisa mengamalkannya,Allahumma yassir. Namun ketika saya membaca makalah yang ditulis Firanda yang dengan entengnya me lemparkan tuduhan kepada yang lain dengan tuduhanfatwa telah disembunyikan ????... . Begitu mudahnya dia melemparkan tuduhan tanpa mendahulukan sikap husnuz zhan yan g disebutkan dalam buku fitnahnya, saya tidak mengerti apa yang menyebabkan Fira nda menyelisihi kaedahnya sendiri. Atau mungkin sikap husnuz zhan hanya diterapk an kepada orang- orang yang turut serta mengambil sumbangan dari Ihya At-Turats tanpa perlu merasa khawatir akan pengaruh yang mereka bawa?, adapun yang memberi peringatan dari bahayanya pengaruh mereka yang selalu menimbulkan perpecahan di mana-mana, tidak perlu menerapkan sikap husnuz zhan kepada mereka, sehingga deng an mudahnya melemparkan tuduhan menyembunyikan fatwa masyayikh. Subhanallah, apa t idak ada kemungkinan lain yang lebih baik untuk membawa kepada persangkaan yang lebih sehat..?

Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. (QS.Al-Maidah:8) Fatwa disembunyikan, kenapa takut? Walhamdulillah, tak ada fatwa yang perlu untuk disembunyikan, dan juga mengapa h arus disembunyikan?. Berkenaan dengan fatwa Syaikh Ubaid hafizhahullah dalam sal ah satu kunjungan ke rumah Beliau, yang akhirnya saya dituduh oleh Firanda menye mbunyikan fatwa yang telah ditanyakan kepada Beliau tentang Ihya At-Turats. Saya memang belum sempat mentranskrip lalu menerjemahkan fatwa Beliau selama ini, se perti halnya fatwa- fatwa para masyayikh lainnya yang masih tersimpan dalam komp uter saya, juga belum sempat saya transkrip dan terjemahkan, dalam keadaan sanga t ingin fatwa ini segera disebarkan. Hal ini disebabkan karena kesibukan mengaja r, menulis artikel lain, dan yang lainnya. Sebagai contoh, fatwa Syaikh Khalid A zh-Zhufairi hafizhahullah yang membantah berita dusta yang disebarkan orang- ora ng yang membenci Syaikh Rabi hafizhahullah bahwa Beliau diusir dari Madinah, Syai kh Khalid hafizhahullah telah membantahnya dalam beberapa poin, dan bantahan ini sudah ada beberapa tahun lalu sejak awal kedatangan beliau ke Indonesia, dan sa ya berkeinginan untuk mentranskripnya, namun hingga kini belum sempat saya melak ukannya, bukan karena kesengajaan ingin menyembunyikan fatwa. Demikian pula fatwa Syaikh Abdullah Bukhari hafizhahullah yang menjelaskan tenta ng kedustaan Firanda, juga masih tersimpan filenya pada kami, padahal rekaman it u sudah lama, namun belum sempat kami transkrip dan menerjemahkannya untuk dikon sumsi oleh Ahlus Sunnah agar mengetahui siapa Firanda sebenarnya, bukan karena k ami sengaja menyembunyikan fatwa, namun kesempatanlah yang belum kami miliki unt uk melakukannya. Semoga dalam kesempatan lain kami akan menampilkan transkripnya , berikut file suara Beliau hafizhahullah, agar kemudian Firanda tidak lagi mele mparkan tuduhan kepada kami bahwa fatwa telah disembunyikan, semoga ini menjadi had iah yang bermanfaat bagi al-akh Firanda. Ini fatwa Syaikh Ubaid Hafizhahullah Berikut ini fatwa Syaikh Ubaid hafizhahullah yang dengannya saya dituduh menyemb unyikannya: : :

: : ( )) ,

Pertanyaan : Apa nasehat Engkau kepada sebagian ikhwan yang terpedaya dengan gerakan Ihya AtTurats dimana sebagian mereka menyangka bahwa Ihya At-Turats sekarang ini telah berubah dan menjadi Salafiyah? Beliau hafizhahullah- menjawab : Ungkapan ini yaitu ungkapan berubah dan menyifati sesuatu berubah dari bidah menuju s unnah.Ungkapan ini seringkali didengungkan oleh ikhwanul muslimin yang bertujuan untuk memberi kelonggaran kepada orang-orang sesat dan mengajak mereka untuk me nerimanya dan menerima apa yang berasal dari mereka. Organisasi Ihya At-Turats t elah sering aku jelaskan diberbagai majelis baik di Arab Saudi maupun di Kuwait, dan masih tetap seperti dulu dan tidak ada perubahan. Apabila kegiatan-kegiatan Ihya At-Turats al-Kuwaitiyah telah berubah,para pemimpinnya , ahlul halli walaqd -nya juga telah berubah menjadi orang-orang yang bermanhaj Salafy yang mengarahk an Ihya At-Turats untuk menyebarkan sunnah semata yang bersih dari noda bidah mak a kami akan bersamanya. Jika mereka mengajak aku untuk bergabung dalam kegiatankegiatan mereka dan aku mampu melakukan hal itu maka aku tidak akan ragu (untuk bergabung). Kemudian: apakah boleh diambil bantuan dari organisasi ini dan organisasi-organi sasi yang menyimpang apakah itu organisasi Ihya At-Turats atau yang lainnya,ini ada dua keadaan: Pertama: keadaan meminta, orang yang memiliki kebutuhan mendatangi organisasi in i dan menjulurkan tangannya kepadanya, (kata kurang jelas..) maka lebih utama tid ak melakukannya, sebab setiap orang yang memiliki penyimpangan memanfaatkan kebu tuhan yang dikehendaki pihak lain, dan yang butuh tidak dapat berlepas darinya t atkala diharuskannya dia melakukan apa yang diinginkan oleh orang yang menyimpan g ini meskipun dimasa yang akan datang. Keadaan kedua: Jamaah yang menyimpang ini memberi sumbangan secara mutlak tanpa syarat, menyumba ng dengan sesuatu yang memberi manfaat bagi kaum muslimin disebuah kampung atau beberapa kampung, seperti membangun masjid, sekolah,memberi harta untuk kebutuha n sekolah-sekolah ini dan masjid-masjid,dan menyerahkan segala urusan kepada pen duduk negeri tersebut atau penduduk kampung tersebut, dan mereka tidak mendikte mereka sedikitpun, namun sumbangan secara mutlak. Maka ini tidak mengapa insya A llah Taala. Dalilnya adalah sabda Rasulullah Shallallohu alaihi wasallam : ( ))

Sesungguhnya Allah azza wajalla, menguatkan agama ini melalui seorang yang fajir Bahkan meskipun orang kafir yang menawarkan kepada penduduk kampung, sama saja a pakah kafir ini penguasa atau bukan, untuk membangun masjid di kampungnya,sekeda r membangun masjid. Maka kita terima darinya,dan tidak mengapa untuk kita kataka n kepadanya: terima kasih,engkau telah berbuat baik. Namun kita tidak mengucapka n semoga Allah membalasmu kebaikan, semoga Allah berbuat baik kepadamu, semoga Allah memberimu pahala, sebab doa ini termasuk kekhususan kaum muslimin .Namun kita kata kan : terima kasih engkau telah berbuat baik. Barakallahu fiik . Ini berkenaan t entang bantuan yang datang kepada ahlus sunnah dari jamaah-jamaah yang menyimpang. (Pertemuan dirumah Syaikh Ubaid Al-Jabiri Hafizhahullah,rekamannya ada pada kami ). Dalam fatwa Syaikh Ubaid Al-Jabiri hafizhahullah Taala ini, ada beberapa hal yang

dapat kita simpulkan: Pertama : Dalam hal meminta dana kepada organisasi yang menyimpang, baik Ihya At-Turats at aupun yang lainnya sebaiknya tidak dilakukan, sebab hal itu akan memberi pengaru h kepada orang yang menerima dana tersebut, cepat atau lambat. Karena kebiasaan mereka yang selalu memanfaatkan orang-orang yang butuh kepada hartanya. Kedua : Mereka memberi sumbangan tanpa syarat secara mutlak, tanpa didikte sedikitpun, m aka hal ini tidak mengapa, bahkan dari orang kafir sekalipun. Cobalah anda perhatikan, fatwa Syaikh ini dengan jelas merinci permasalahan meng ambil dana dari yayasan menyimpang, bahwa tidak mengapa mengambil dana dari mere ka jika tanpa disertai syarat apapun, baik syarat idaari (administrasi) atau yan g lainnya. Tapi Firanda sebagai perwakilan yang tidak resmi berusaha menjadi jubir (juru bicara) Syaikh Ubaid yang menafsirkan fatwa Beliau.Dia mengatakan: Persyaratan yang dimaksud bukanlah persyaratan membuat laporan kerja atau yang si fatnya idaari (administrasi) akan tetapi persyaratan yang bisa merusak manhaj se seorang, seperti syarat untuk menyebarkan pemikiran-pemikiran yang menyimpang. Lihatlah penafsiran Firanda terhadap ucapan Syaikh Ubaid, lalu perhatikan pula f atwa Beliau di atas, jauh panggang dari api, atau sebagian mengistilahkannya kura ng nyambung. Saya benar-benar merasa heran dengan tuduhan Firanda kepada saya bahwa saya seng aja menyembunyikan fatwa Beliau ini, padahal apa yang Beliau sebutkan ini sama s ekali tidak bertentangan dengan apa yang telah kami jelaskan dalam buku Menjalin ukhuwwah di atas minhaj ukhuwwah. Perhatikan apa yang saya sebutkan dalam Menjalin ukhuwwah,hal:32- 33: Pada saat kaum muslimin berusaha mengenal dakwah Salafiyyah secara murni dan kons ekwen serta senantiasa berpijak diatas Al-Quran dan sunnah Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam dengan pemahaman yang benar dari salafus shalih dengan bimbinga n para ulama ahlus sunnah wal jamaah, mereka dikejutkan dengan sepak terjang orga nisasi Ihya At-Turats al-Kuwaiti ini di bumi Indonesia. Mengandalkan dananya, me reka menyalurkan kepada beberapa organisasi, yayasan atau pondok pesantren untuk memenuhi kebutuhan mereka, seperti membangun masjid, menanggung anak yatim, men ggaji para duat (guru) dan semisalnya. Kalau permasalahnnya berhenti sampai di sini, tentu hal itu tidak dipersoalkan o leh para ulama yang memberi peringatan dari bahaya organisasi tersebut. Ternyata tidak demikian, penyaluran dana itu diikuti dengan kegiatan yang justru menjadi pemicu terbesar semakin terpecahnya Ahlus sunnah di negeri ini. Selesai penukila n. Jadi permasalahannya bukan sekedar pemberian sumbangan, akan tetapi pengaruh Ihy a At-Turats yang tidak hanya menyerahkan sumbangan semata, namun dampak dari sum bangan mereka untuk melakukan intervensi terhadap dakwah salafiyah di berbagai n egeri, termasuk Indonesia. Coba anda perhatikan fatwa Syaikh Muqbil rahimahullah yang juga dinukil Firanda berikut ini: : Beberapa orang dari Kuwait datang menemuiku, diantaranya Al-Akh Abdullah As-Sabt,

dan mereka berkata: Kami tidak mampu untuk membantumu kecuali jika engkau terka it dengan yayasan negeri?. Maka aku berkata kepada mereka : "Dan kami tidak menj ual dakwah kami kepada seorangpun, jika kalian berkehendak untuk membantu dakwah tanpa syarat dan tanpa ikatan maka silahkan lakukan, dan jika ada persayaratan maka Allah akan mencukupkan kami dari membutuhkan bantuan kalian", selesai penuk ilan. perhatikan yang beliau sebutkan, tatkala Abdullah As-Sabt yang enggan memberi su mbangan karena mensyaratkan agar mahad beliau dibawah naungan yayasan negeri, yan g ini juga bagian dari idaari (administrasi), bukan syarat agar mereka menyebark an pemikiran menyimpang dan menyesatkan., namun Syaikhuna Al-WadiI rahimahullah m enolak mentah- mentah permintaan mereka. Tapi anehnya, Firanda tidak mengomentar i fatwa Syaikh Muqbil rahimahullah ini seperti halnya dia mengomentari fatwa Sya ikh Ubaid hafizhahullah. Apa yang disembunyikan? Ihya At-Turats tatkala memberi sumbangan, tentu tidak serta merta memberi syarat untuk menyebarkan pemikiran-pemikiran sesat mereka, itu tidak akan mereka lakuk an. Namun ada proses, camkan penjelasan dari Syaikh ubaid: dan yang butuh tidak d apat berlepas darinya tatkala diharuskannya dia melakukan apa yang diinginkan ol eh orang yang menyimpang ini meskipun dimasa yang akan datang. Hal ini sejalan dengan apa yang disebutkan Imam Al-Barbahari rahimahullah:

Perumpamaan ahli bidah seperti kalajengking, mereka menyembunyikan kepala dan bada nnya ke dalam tanah dan mengeluarkan ekornya, jika mereka punya kesempatan maka merekapun segera menyengatnya. Demikian pula ahli bidah, mereka bersembunyi di te ngah manusia, jika mereka punya kesempatan, maka mereka menyampaikan apa yang me reka inginkan. (Thabaqaat al-hanaabilah:2/44) Perhatikan pula nasehat dari Imam Al-jarh wat-tadil Rabi bin Hadi Al-Madkhali Hafi zhahullah berikut ini:

11/4/1430 Aku peringatkan saudara- saudaraku Salafiyyin dari makar organisasi-organisasi in i, politik yang mengenakan pakaian Salafiyah, yang memiliki tujuan dan manhaj ya ng bertentangan dengan Salafiyah dan manhajnya, dimana organisasi ini berusaha m enjerat orang- orang yang cinta dunia dengan bantuan harta di bawah slogan memban tu Salafiyah. Lalu orang-orang yang berakal dan bijak tidak merasa hingga orang-o rang yang diberi bantuan inipun berubah menuju penyimpangan yang meruntuhkan dak wah Salafiyah dan menanamkan permusuhan dan pertengkaran sengit yang disertai ke zaliman dan usaha untuk menjatuhkan para ulama dan tokoh-tokoh dakwah ini. Sebag aimana yang telah dan sedang dilakukan oleh organisasi politik Ihya At-Turats al -kuwaitiyah dan cabang- cabangnya di Emirat dan Bahrain, dimana mereka memukul d akwah Salafiyah di Yaman, Mesir, Sudan, India, Pakistan, dan Bangladesh. Tidakla h orang- orang yang tamak menerima bantuannya melainkan engkau melihat perpecaha n, pergolakan, berbagai fitnah akan timbul antara peneriman sumbangannya dengan Salafiyyin yang kokoh diatas al-haq yang memahami makar oraganisasi ini dan berb agai trik-trik politik yang penuh dengan tipu daya. Mereka (Salafiyyin) menyentu h dengan tangan-tangan mereka, melihat dengan mata dan ilmu mereka akhir yang me

nyakitkan dan menghinakan bagi mereka yang menjulurkan tangan- tangan khianat da n rendah mereka kepada organisasi ini dan hartanya yang dikumpulkan atas nama or ang-orang fakir miskin, dan yang ditimpa musibah. Lalu kemudian harta-harta ini diserahkan kepada para pengkhianat itu yang telah menjual agamanya lalu mereka m enjadi bahan permainan dan corong bagi organisasi ini. Jika engkau ingin, maka s ebut saja mereka sebagai tentara yang dipersenjatai untuk memerangi dakwah salaf iyah dan pemeluknya disetiap negeri. (Nasehat Beliau kepada ikhwan Salafiyin di Iraq, tanggal 11-4-1430 H). Kalaulah pengaruh fulus Ihya At-Turats yang menimpa Firanda dan yang bersamanya ha nya sekedar merendahkan kedudukan Syaikh Robi Hafizhahullah, itu sudah cukup menu njukkan kesesatannya. Tapi ternyata pengaruhnya tidak berhenti sampai di sini Semoga Allah memberi kemudahan kepada saya untuk menambah tulisan ini dalam kese mpatan lain, insya Allah Taala. Adapun menyembunyikan fatwa jihad oleh seorang ustadz, saya sendiri tidak memaha mi maksud Firanda, fatwa yang mana dan siapa ustadz yang menyembunyikan fatwa it u?. Saya sudah bertanya kepada beberapa ustadz, tapi tidak satupun yang mengetah ui hal ini. Fatwa yang mana dan ustadz siapa? Fatuu burhaanakum in kuntum shadiqi in. Waduh, Ternyata Firanda Seorang Pendusta Tentang kedustaan Firanda, telah kami jelaskan sebelumnya bahwa yang menghukumi dustanya Firanda bukanlah seorang ustadz yang berasal dari Indonesia, namun seo rang Syaikh dari kota Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam yang masyhur yang sangat dikenal kiprahnya dalam dakwah Salafiyah, yaitu Syaikh: Abdullah Bin Abdurrahim Al-Bukhari Hafizhahullah Taala. Beliau benar- benar mengetahui akhlak Firanda yan g sangat buruk ini, sebab beliau yang menghadapinya secara langsung tentang fitn ah keji yang dia sebarkan olehnya. Berikut ini fatwa Beliau:

..... , : , ( ) ,

Terjemahan : Di tempat kalian terjadi fitnah, apakah di tempat kami tidak terjadi fitnah? Kami juga mengalami fitnah, bahkan fitnah yang lebih banyak dibanding kalian, kalau kita terus berjalan di belakang setiap mereka, yakni setiap orang dari mereka pa ra pelaku kejahatan berbicara, dan jumlah mereka sungguh banyak semoga Allah tida k menambah lagi jumlah mereka menyebabkan kita tidak lagi mengajar manusia, tida k lagi membuat karya ilmiah, tidak lagi menulis, tidak lagi mengajar dan menyeba rkan agama. termasuk orang yang paling fajir diantara mereka (ahli fitnah). paling buruk dan pendusta sekarang ini adalah si jahat yang dikenal dengan nama Firanda yang ber asal dari Indonesia. Si jahat dan pendusta besar ini berjalan di kota Madinah me

ndatangi sebagian para pelajar dan sebagian orang, dan membuat kisruh bahwa Syai kh Abdullah (al-Bukhari) tidak menyisakan satupun, semuanya dikritik, dia mengkr itisi si fulan, mengkritisi Syaikh al-Abbad dan anaknya dan saya tidak tahu siap a lagi, sebab ketika mereka datang kepadaku, dia bersama yang lain dari pengikut nya Ali Musri dan aku membicarakan mereka dan kebodohan mereka, si bodoh yang ng awur Ali Musri dan sikap dia pada tahun yang lalu. Dan aku mencela Firanda atas bukunya yang berbicara tentang Ihya At-Turats, Aku jelaskan kebobrokan Ihya At-T urats dan memaparkan kepada mereka siapa itu Ihya At-Turats. mereka berkata: Dem i Allah wahai Syekh, kami benar-benar tidak tahu, jazakallah khaer engkau telah menjelaskannya. Maka saya berkata : Nah, sekarang aku telah menjelaskan, apa yan g akan kamu lakukan sekarang? Tentunya orang ini (maksudnya Firanda, pen) dia ke luar dari kediamanku dalam keadaan dia tidak tahu apa yang akan dia lakukan dan perbuat setelah menyebarkan kedustaan, kefajiran dan kejahatan ini. Bahkan teman -temannya yang ketika itu bersamanya, di antara mereka Nur Ihsan dan yang bersam anya, mereka berkata: wahai syaikh, kami tidak memahami ucapanmu ini dengan pema haman itu, dan engkau telah mengetahui bahwa orang ini (maksud mereka Firanda, p en) jahat dan pendusta, fajir, bahkan kelewat batas dalam berdusta pula. Maka ki ta semoga Allah memberkatimu- setiap hari kami menghadapi fitnah, dan setiap har i kami menghadapi para pencari fitnah. Kalau sekiranya kita menyibukkan diri den gan mereka, kita tidak akan mendakwahi manusia, tidak mengajar lagi, ya akhi, ti nggalkan mereka Sumber: http://salafybpp.com/categoryblog/97-dusta-firanda-ditengah-badai-fitnah-yang-se dang-melanda-bag1.html http://salafybpp.com/categoryblog/99-dusta-firanda-ditengah-badai-fitnah-yang-se dang-melanda-bag2.html http://salafybpp.com/fataawa/106-dusta-firanda-ditengah-badai-fitnah-yang-sedang -melanda-bag3.html Syaikh Abdulah Al-Bukhari Jarh Firanda-Alimusri-Nur Ihsan

Anda mungkin juga menyukai