SEJARAH PEREKONOMIAN INDONESIA

Ian Azhar Avandi Saputra 0906065 0906310

PERIODE SEJARAH PEREKONOMIAN INDONESIA
‡ ‡ ‡ ‡ ‡ ‡ MASA PRA-MODERN MASA PRA-KEMERDEKAAN MASA ORDA LAMA MASA ORDE BARU MASA TRANSISI MASA REFORMASI

PEREKONOMIAN INDONESIA MASA PRA-MODERN
‡ Pada masa pemerintahan pra-modern, perkonomian Indonesia berpusat pada perdagangan dan pertanian. ‡ Kerajaan-kerajaan yang ada di Indonesia sangat berperan penting dalam perkembangan perekonomian Indonesia. ‡ Sistem pembayaran pada awalnya dilakukan dengan cara barter, baru setelah masuknya kerajaan Islam ke Indonesia alat tukar dengan koin emas diperkenalkan.

Makin kuatanya tekanan pertambahan penduduk dalam lingkup tanah pertanian yang baik untuk bercocok tanam. Sering kekuasaan lokal dan kerjaan-kerajaan melibatkan diri dalam peperangan yang menyebabkan biaya perang tidak cukup ditutup oleh hasil peperangan baik dalam bentuk perolehan wilayah. . 2. 3. Sulitnya membangun dan mempertahankan sistem administrasi pemerintahan yang terprogram.MODERN 1. berkesinambungan dan efisien. rampasan perang dan pencaplokan tanah pertanian baru.FAKTOR PENGHAMBAT BERKEMBANGNYA PEREKOMIAN PADA MASA PRA. Mand-land ratio menjadi tidak seimbang.

Ada empat negara yang pernah menduduki Indonesia. Indonesia mengalami masa penjajahan yang terbagi dalam beberapa periode. yaitu: Portugis Belanda Inggris Jepang .SEJARAH PEREKONOMIAN INDONESIA PADA MASA PRAKEMERDEKAAN Sebelum merdeka.

. sebuah perusahaan yang didirikan dengan tujuan untuk menghindari persaingan antar sesama pedagang Belanda.MASA KEKUASAAN BELANDA Belanda melimpahkan wewenang untuk mengatur Indonesia kepada VOC (Vereenigde Oost-Indische Compagnie).

yang antara lain meliputi : ‡ ‡ ‡ ‡ ‡ Hak mencetak uang Hak mengangkat dan memberhentikan pegawai Hak menyatakan perang dan damai Hak untuk membuat angkatan bersenjata sendiri Hak untuk membuat perjanjian dengan raja-raja .VOC diberi hak Octrooi.

Cultuurstelstel (sistem tanam paksa) Cultuurstelstel (sistem tanam paksa) mulai diberlakukan pada tahun 1836 atas inisiatif Van Den Bosch. . Tujuannya adalah untuk memproduksi berbagai komoditi yang ada permintaannya di pasaran dunia.

tembakau. apalagi dipadukan dengan sistem konsinyasi (monopoli ekspor). yaitu gula. kelapa sawit. nila. kina. . ‡ Setelah penerapan kedua sistem ini. ‡ Sistem ini jelas menekan penduduk pribumi. tapi amat menguntungkan bagi Belanda.Cultuurstelstel (sistem tanam paksa) ‡ Diperintahkan pembudidayaan produkproduk selain kopi dan rempah-rempah. teh. dll. seluruh kerugian akibat perang dengan Napoleon di Belanda langsung tergantikan berkali lipat. karet.

yang antara lain mengatur tentang penyewaan tanah pada pihak swasta untuk jangka 75 tahun.Sistem Ekonomi Pintu Terbuka (Liberal) Dibuatlah peraturan-peraturan agraria yang baru. dan aturan tentang tanah yang boleh disewakan dan yang tidak boleh. .

. tapi malah menambah penderitaan. terutama bagi para kuli kontrak yang pada umumnya tidak diperlakukan layak. sistem ini bukannya meningkatkan kesejahteraan masyarakat pribumi.Sistem Ekonomi Pintu Terbuka (Liberal) Pada akhirnya.

‡ Dengan landrent. Inilah imperialisme modern yang menjadikan tanah jajahan tidak sekedar untuk dieksplorasi kekayaan alamnya. maka penduduk pribumi akan memiliki uang untuk membeli barang produk Inggris atau yang diimpor dari India. tapi juga menjadi daerah pemasaran produk dari negara penjajah. dengan menerapkan Landrent (pajak tanah). .Pendudukan Inggris (1811-1816) ‡ Inggris berusaha merubah pola pajak hasil bumi yang telah hampir dua abad diterapkan oleh Belanda.

‡ Kebijakan ini kurang didukung raja-raja dan para bangsawan. karena Inggris tak mau mengakui suksesi jabatan secara turuntemurun. ‡ Pegawai pengukur tanah dari Inggris sendiri jumlahnya terlalu sedikit. apalagi untuk menghitung luas tanah yang kena pajak. .PENYEBAB GAGALNYA SISTEM LANDRENT ‡ Masyarakat Indonesia pada umumnya buta huruf dan kurang mengenal uang.

Pendudukan Jepang (1942-1945) Pemerintah militer Jepang menerapkan suatu kebijakan pengerahan sumber daya ekonomi mendukung gerak maju pasukan Jepang dalam perang Pasifik. .

Kesejahteraan rakyat merosot tajam dan terjadi bencana kekurangan pangan. Impor dan ekspor macet. .Pendudukan Jepang (1942-1945) Sebagai akibatnya : Terjadi perombakan besar-besaran dalam struktur ekonomi masyarakat. sehingga terjadi kelangkaan tekstil yang sebelumnya didapat dengan jalan impor. karena produksi bahan makanan untuk memasok pasukan militer dan produksi minyak jarak untuk pelumas pesawat tempur menempati prioritas utama.

Periode Orde Lama Perang kemerdekaan berakhir (tahun 1945-1949): Pengakuan terhadap RIS Pembangunan dititik-beratkan pada Nation Building Peran pemerintah dalam perekonomian sangat dominan Pengeluaran pemerintah terkonsentrasi untuk tujuan politik dan keamanan dan ketertiban Usaha untuk perbaikan di bidang ekonomi terabaikan .

Periode ORLA ‡ Anggaran Belanja Defisit. bahan pokok sulit didapatkan masyarakat. sehingga harganya tinggi . mengakibatkan inflasi sangat tinggi ‡ Pertumbuhan ekonomi rendah. ditutup dengan mencetak uang.

URIBA-Aceh. URITA-Tapanuli. ORI. URIDAP-Banten. URPSU-Sumatera Utara/Aceh. uang NICA. uang pemerintah Belanda.‡ Diperparah dgn beredarnya berbagai jenis mata uang: uang De Javasche Bank. dan beberapa jenis uang lokal (URIPS-Sumatera. Uang MandatPalembang .

Kebijakan moneter 1950 ‡ Tujuan: ± Memperbaiki posisi neraca pembayaran ± Pengendalian harga (inflasi) ± Menggali sumber pendapatan pemerintah untuk menutup defisit anggaran .

sedangkan sebelah kanan ditukar dengan obligasi ± Penetapan Sertifikat Devisa: hak diberikan kepada perorangan atau perusahaan membeli devisa dari bank devisa untuk kegiatan impor. . ORI ditukar dgn uang baru berdasarkan daya beli.Moneter 1950 ‡ Langkah: ± Penyatuan mata uang: De Javasche Bank menerbitkan uang baru.8. ± Pengguntingan uang (Gunting Syafruddin): pengguntingan uang kertas menjadi 2 bagian. Bagian sebelah kiri dapat digunakan transaksi. Kurs US$1 = Rp3.

4. ± Mendorong ekonomi pribumi dan memperbaiki perusahaan hasil nasionalisasi ± Operasi militer dan politik untuk menciptakan keamanan dan ketertiban .‡ Tahun 1952 Sertifikat Devisa dihapus. ‡ Tahun 1957 dimulainya Ekonomi Terpimpin (Konsepsi Presiden) ‡ Pengeluaran pemerintah tidak terkendali. Kurs baru US$1 = Rp11.

000 dibekukan dan diganti dengan pinjaman jangka panjang ± Kurs : US$1 = Rp45 . Pecahan Rp500 dan Rp1.‡ Tahun 1959: ± dilakukan penurunan nilai uang (Sanering). ± Giro dan deposito di atas Rp25.000 masing-masing menjadi Rp50 dan Rp100.

Kondisi tahun 1960 ‡ Mulai tahun 1960 proyek politik pemerintah meningkat ± Konfrontasi dengan Malaysia ± Penyelenggaraan Asean Games ± Penyelenggaraan Pekan Olah Raga (GANEFO) ± Pembebasan Irian Barat dari Belanda ‡ Tahun 1965: Bank Indonesia sebagai Bank Berdjoang bersedia menutupi defisit anggaran pemerintah dengan mencetak uang baru .

000 uang lama diganti Rp1 uang baru) ‡ Tahun 1966 terjadi krisis politik: pergantian pemerintahan dari Orde Lama ke Orde Baru .‡ Inflasi sangat tinggi (Tahun 1965 sebesar 635%) ‡ Desember 1965 penggantian uang (Rp1.

.

.

.

Masa orde baru ‡ Masalah yang dihadapi: ± Tidak mampu bayar utang ± Defisit Neraca Perdagangan ± Anggaran pemerintah defisit ± Inflasi tinggi (635%) ± Buruknya prasarana ekonomi .

terutama beras ± Rehabilitas prasarana ekonomi ± Meningkatkan ekspor ± Menciptakan lapangan kerja ± Perbaikan iklim investasi. terutama investasi asing ± Pelaksanaan pembangunan berencana (PELITA): Trilogi Pembangunan .‡ Upaya yang dilakukan: ± Pengendalian inflasi ± Penyediaan bahan pangan.

peruntukkan lahan dsbnya untuk mendukung pengembangan usaha besar  memberikan monopoli beberapa jenis komoditi kepada usaha-usaha besar . mengejar pertumbuhan tinggi dan pemerataan pendapatan melalui 'trickle down effect'  memberikan segala kemudahan seperti perizinan. perlindungan bea masuk. kredit bank.

13 1968 tentang Bank Sentral dan UU No.‡ 1966-1970: Masa Stabilisasi (Recovery) ± Menjalankan kebijakan Anggaran Belanja Seimbang ± Mendorong Investasi (tahun 1968: UUPMA dan UUPMDN) ± Menata sistem perbankan nasional (UU No. 14 tahun 1967 tentang bank Umum) .

‡ Tahun 1970: tercipta stabilitas ekonomi nasional.5% ‡ Mulai dilaksanakan kebijakan industrialisasi di Indonesia (industri substitusi impor) misalnya industri pupuk ‡ Mulai diterapkan rencana pembangunan yang berkesinambungan (Repelita I) . Inflasi dapat ditekan: ± ± ± ± Tahun 1967 Tahun 1968 Tahun 1969 Tahun 1971 112% 85% 10% 2.

‡ 1973/1974: Bonansa Minyak (Oil Boom) ± Harga minyak dunia meningkat 400% ± Penerimaan Negara naik (± 48%). non migas tertinggal ± Peranan Swasta dalam perekonomian kecil . inflasi naik (± 58%) ± Peran minyak dominan.

Bank Indonesia melakukan intervensi ekonomi: ‡ Menetapkan pagu (batas tertinggi) kredit ‡ Menaikan suku bunga pinjaman ‡ Menaikan cadangan minimum perbankan ‡ Menaikkan suku bunga deposito berjangka ‡ Melarang bank pemerintah menerima deposito berjangka yang dananya berasal dari luar negeri ± Inflasi dapat ditekan: ‡ 1974/1975 : 21% ‡ 1977/1978 : 19% .± Kebijakan mengatasi inflasi.

hutang negara (dalam matauang Yen) naik ± Terjadi upaya penyesuaian (Devaluasi. penghematan) . menyebabkan harga minyak turun ± Terjadi defisit perdagangan luar negeri Amerika ± Terjadi kenaikan harga mata uang yen Jepang terhadap dolar Amerika (Yendaka) ± Pendapatan Negara turun. deregulasi.‡ 1980 an: Masa resesi ± Terjadi over supply minyak dunia.

d 225% menjadi 0 s.d 60%) ‡ 1986: Sistem pengembalian bea masuk ‡ 1987: Transparansi alokasi kuota tekstil ‡ 1988: Penghapusan monopoli impor plastik dan baja .Masa deregulasi ‡ 1983 (1 Juni): Deregulasi Perbankan ± Bank bebas menentukan bunga dan pagu kredit ‡ 1984: Deregulasi bidang Fiskal ± UU pajak baru (prinsip Self Assessment) ‡ 1985: Deregulasi bidang Perdagangan ± Penurunan tariff bea masuk (0 s.

‡ 1986: Deregulasi bidang Investasi ± PMA boleh memiliki saham 95% asalkan untuk ekspor ‡ 1987: Deregulasi pasar modal ± Investor asing boleh membeli obligasi di BEJ ‡ 1988: Pakto 88 ± Kemudahan mendirikan bank ± Aturan Legal Lending Limit (49%) ± Cadangan minimum turun dari 15% menjadi 2% .

Penyebab utama krisis moneter Indonesia 1997-sekarang ‡ Anwar Nasution: ± Neraca berjalan (current account) selalu defisit ± Utang luar negeri (pemerintah dan swasta) ± Lemahnya sistem perbankan nasional ‡ Bank Dunia ± Akumulasi utang luar negeri swasta berjangka pendek (jatuh tempo 18 bulan) ± Sistem perbankan nasional lemah ± Kemampuan pemerintah mengatasi masalah keuangan ± Ketidakpastian politik .

Pertimbangannya: ‡ Mudah (Indonesian Tiger) ‡ Ada jaminan pemerintah dengan kebijakan kurs (intervension band) .‡ Kondisi Fundamental Ekonomi Indonesia ± Perkembangan perbankan terlalu cepat Perekomian Indonesia overheated ± Pemerintah melakukan tight money policy ± Swasta yang perlu modal mencari dana di luar negeri.

± Kenaikan utang luar negeri (1992-1997): 85% kenaikan merupakan utang LN swasta ± Karakteristik utang LN swasta: ‡ Unhedged ‡ Currency mismatch ‡ Utang jangka pendek untuk membiayai proyek jangka panjang ± Tahun 1997: utang jatuh tempo (kurang 1 tahun) US$ 20. Padahal cadangan devisa yang dimiliki BI hanya sekitar US$ 27 milyar. .8 milyar.

± Kebijakan makro ekonomi yang tidak seimbang: didominasi oleh kebijakan moneter ± Tidak/belum ada good governance: banyak terjadi KKN ± Kondisi politik yang tidak kondusif ± Rendahnya Law Inforcement .

seperti Korea Selatan dan Malaysia ± Menimbulkan kekhawatiran akan merambat ke Indonesia (aspek psikologis) .‡ KRISIS MONETER REGIONAL ± Devaluasi Bath Thailand (2 Juli 1997) dan Peso Philipina (11 Juli 1997). diikuti krisis keuangan di beberapa negara Asia lainnya.

Krisis moneter di Indonesia: Kenaikan permintaan dolar (kenaikan kurs dolar) memaksa Bank Indonesia melakukan kebijakan intervensi (Kebijakan nilai tukar mengambang terkendali): intervension band .

Hal ini memaksa BI melepas kebijakan rentang kendali (mengambang terkendali/managed float) menjadi mengambang bebas (Free Float). Kurs rupiah ditentukan melalui mekanisme pasar . Bank umum dapat menjual dan membeli US$ di Bank Indonesia ± Sept 1996. rentang kendali dinaikkan dari 5% menjadi 8% ± Juli 1997: . intervension band dinaikkan lagi menjadi 12% ± Agustus 1997: nilai Rp di pasar valas antarbank menembus batas atas kisaran BI (terendah Rp2.374 per dolar dan tertinggi Rp2.678 per dolar).± Rentang kendali (intervension band): batas atas dan batas bawah kurs antarbank.

2 milyar pada tahun 1997) .6 milyar menjadi US$13.000 per US$ ± Usaha menurunkan nilai tukar oleh BI menyedot banyak cadangan devisa (dari US$26. Kreditur luar negeri menolak roll over ± Akhir tahun 1997 nilai tukar Rp17.± Rupiah terus melemah karena permintaan US$ semakin tinggi. Penyebabnya: ‡ Spekulasi ‡ Capital Flight ‡ Pelunasan hutang swasta ± Tahun 1997 banyak hutang swasta yang jatuh tempo.

Bank ± Tingginya NFL (kredit macet) ‡ Nopember 1997 terjadi rush. ‡ Fungsi bank sebagai intermediasi dalam perekonomian terganggu . kerana pencabutan ijin 16 bank swasta nasional oleh pemerintah.Krisis perbankan ‡ Bank mengalami kesulitan likuiditas sebagai akibat ± Gejolak nilai tukar ± Menurunnya kepercayaan masyarakat thd. Suku bunga antarbank mencapai 300%.

Krisis ekonomi LC bank di Indonesia dijamin oleh bank di Singapura Kesulitan mengimpor bahan baku untuk produksi dalam negeri karena harga impor makin mahal dan cadangan devisa makin sedikit. (catatan: kandungan impor industri dalam negeri tinggi) .

Krisis ekonomi 
Produksi dalam negeri menurun, terjadi kontraksi ekonomi, kesulitan mendapatkan barang kebutuhan pokok Terjadi Krisis multidimensi Mei 1998, pergantian presiden Soeharto

Penyelesaian hutang swasta
‡ Pemerintah membentuk Tim Penyelesaian Utang Luar Negeri Swasta (TPULNS) ‡ Tugas: mendorong dan memperlancar restrukturisasi pinjaman luar negeri swasta ‡ Juni 1998: TPULNS dan Bank Steering Committee (sbg. wakil kreditur) berunding di Frankfurt ttg Penyelesaian Utang Luar Negeri Swasta

Penyelesaian hutang swasta
‡ Frankurt Agreement berisi tentang penyelesian:
± pinjaman antarbank: rescheduling ± pembiayaan perdagangan: membuka credit line ± pinjaman perusahaan swasta: Indonesian Restructuring Asset/INDRA) dan Jakarta Initiative)

‡ 20 Oktober 1999 akhir masa transisi politik (Pemilu)

kecuali investasi asing Suku bunga meningkat (SBI 1 bulan = 70%) Ekspor dan impor turun (kecuali ekspor sektor pertanian) Transaksi berjalan surplus .Kondisi makro ekonomi Indonesia 9798 Nilai rupiah merosot ( tinggal 85% dari semula) Inflasi meningkat tajam (Des.2%) Investasi dalam negeri turun. 1998 mencapai 77.6%) Kontraksi ekonomi (sebesar -13.

tahun 1997 sebesar 26. Maret 1999 sebesar US$15.4% dan tahun 1998 sebesar 41.2 milyar. Maret 1998 sebesar US$13.± Terjadi pemindahan modal dalam negeri ke luar (capital flight) sebesar 10%-15% dari PDB (lebih dari US$25 milyar) ± Cadangan devisa turun (Maret 1997 sebesar US$26.6 milyar.8 milyar) ± Uang primer meningkat (tahun 1996 sebesar 8.1% terhadap JUB.4%) .

Penyehatan perekonomian Indonesia 1999 1. namun tetap memberi perlindungan rakyat miskin 3. Transparansi kebijakan fiskal Dana reboisasi dimasukkan dalam APBN . Penyehatan kerangka makro ekonomi Pengendalian inflasi kisaran 20% Transaksi berjalan diupayakan surplus untuk membantu membayar hutang 2. Revisi APBN dengan parameter baru Defisit diusahakan berkisar 1% dari PDB Pengurangan subsidi di bidang enerji (terutama BBM).

Proyek swasta Penjadwalan kembali 12 proyek infrastruktur Dana negara untuk IPTN dihentikan. proyek N-2130 didanai asing dan perbankan Pencabutan perlakuan khusus dan fasilitas kredit bagi proyek Mobnas 5. Restrukturisasi sektor perbankan dan sektor swasta . Penegasan kebijakan moneter BI diberi otonomi penuh dalam menentukan kebijakan moneter dan suku bunga Pemerintah memberi dukungan penuh pada bank swasta dan pemerintah untuk merger 6.Upaya pemulihan ekonomi 4.

dan eksportir Hambatan investasi pada kelapa sawit dihapus Penghapusan aturan investasi pada penjualan grosir dan retail .7. menengah. Restrukturisasi struktural Bulog hanya memonopoli beras (terigu dan gula dihapus) Perdagangan domestik produk pertanian sepenuhnya dideregulasi BPPC dihapus Pendanaan ADB dipusatkan hanya pada usaha kecil.

000 ‡ Kebijakan Pemerintah: ± Pemerintah minta bantuan kepada IMF Paket bantuan mencapai 23 miliar US$ ± Pencabutan izin usaha 16 bank swasta yang dinilai tidak sehat ‡ Hasil !! Rp terus melemah. yang merembet juga ke Indonesia posisi mata uang Indonesia thp US$ tidak stabil Juli 1997-Februari 1998 1US $ = Rp 2500 . restrukturisasi sektor keuangan & reformasi struktural ‡ Pemerintah Indonesia tidak melakukan reformasi sesuai kesepakatan dengan IMF pencairan pinjaman angsuran 2 diundur 56 Pemerintahan Transisi .‡ Juli 1997 Krisis Keuangan di Asia. kepercayaan masyarakat LN&DN merosot ± Nota kesepakatan (LOI): 50 butir kebijaksanaan ekonomi makro.Rp 11.

Restrukturisasi struktural 4.‡ Padahal. Restrukturisasi perbankan 3. mencegah hyperinflation 2. Indonesia tidak ada jalan lain selain harus bekerjasama sepenuhnya dengan IMF. Program stabilisasi pasar uang stabil. memacu laju pertumbuhan ekonomi ‡ Maka. bayar bunga pinjaman jangka panjang. Bantuan bagi rakyat kecil (kelompok ekonomi lemah) 57 . dilakukan kesepakatan baru Memorandum Tambahan 1. Penyelesaian ULN swasta 5. terutama karena hal-hal berikut: ± Krisis Indonesia berubah menjadi krisis kepercayaan dari masyarakat dunia usaha DN&LN sulit mendapat bantuan Satu2nya yang bisa memulihkan kembali kepercayaan masyarakat terhadap Indonesia kemitraan usaha sepenuhnya dengan IMF ± Indonesia sangat membutuhkan US$ untuk membiayai ULN jangka pendek.

Kerusuhan Mei. Pendudukan DPR oleh mahasiswa ‡ Mundurnya Presiden Soeharto Pemerintahan Transisi (B. Habibie) Dianggap tidak berbeda dengan pemerintahan sebelumnya karena tidak ada perubahan yang nyata & orang-orang dalam kabinet adalah rezim Orde Baru 58 .J.‡ Krisis Rupiah Krisis Ekonomi Krisis Politik Tragedi Trisakti.

pelaku bisnis (investor) enggan menanamkan modal di Indonesia ‡ Indonesia terancam dinyatakan bangkrut oleh Paris Club (negara-negara donor) ‡ Lembaga peringkat menurunkan prospek janka panjang Indonesia menjadi negatif 59 . supremasi hukum dll) ± Perekonomian mulai menunjukkan perbaikan ‡ Pertumbuhan PDB mulai positif ‡ Laju inflasi & tingkat suku bunga menurun kondisi moneter mulai stabil Pemerintahan Reformasi ± Rezim Gus Dur: ‡ Gus Dur sering menunjukkan sikap&ucapan kontroversial yang membingungkan pelaku bisnis ‡ Tidak ada masalah DN yang dapat diselesaikan dengan baik ‡ Hubungan pemerintah dengan IMF tidak baik World Bank mengancam penghentikan pinjaman baru.‡ Awal pemerintahan reformasi Gus Dur ± Masyarakat umum. kalangan usaha& investor menaruh harapan besar dalam meningkatkan kembali perekonomian nasional & menuntaskan masalah rezim Orde Baru (KKN.

± Indikator ekonomi saat rezim Gus Dur: ‡ Pergerakan IHSG menunjukkan tren pertumbuhan negatif ‡ Pergerakan nilai Rupiah terhadap US$ ‡ Angka inflasi yang meningkat ‡ Cadangan devisa yang terus menurun 60 .

akibat: ‡ Kurang menariknya perekonomian Indonesia ‡ Tingginya deposito menarik modal ke sektor perbankan drpd pasar modal 61 Pemerintahan Gotong Royong .5% ± Saldo neraca pembayaran ± Defisit APBN ± Bom Bali ± Laju pertumbuhan output rendah (akhir 2002 menunjukkan peningkatan) ± Nilai ekspor menurun ± Nilai tukar rupiah lebih baik dari pemerintahan sebelumnya ± IHSG cenderung menurun.4% vs kenyataan 13. beban pemerintah sangat berat: ± Tingkat suku bunga tinggi ± Inflasi tinggi (mencapai 2 digit) Juli 2000-Juli 2001: target inflasi 9.‡ Pemerintahan Megawati Kondisi Perekonomian lebih buruk daripada pemerintah Gus Dur.

tidak ada kepastian hukum investasi asing mengalihkan modal ke negara tetangga 62 . PMA) akibat tidak stabilnya kondisi ekonomi&sosial.‡ Penyebab rendahnya pertumbuhan ekonomi ± Kurang berkembangnya investasi swasta (PMDN.

± Mengandalkan pembangunan infrastruktur massal untuk mendorong pertumbuhan ekonomi serta mengundang investor asing dengan janji memperbaiki iklim investasi. serta bidang-bidang yang mendukung peningkatan kesejahteraan masyarakat.2 miliar dolar AS. Kebanyakan BLT tidak sampai ke tangan yang berhak. dan pembagiannya menimbulkan berbagai masalah sosial.‡ Masa Kepemimpinan SBY Kebijakan: ± Mengurangi subsidi BBM/Menaikkkan harga BBM Anggaran subsidi BBM dialihkan ke subsidi sektor pendidikan dan kesehatan. 63 . ± Melunasi seluruh sisa utang pada IMF sebesar 3. yang mempertemukan para investor dengan kepala-kepala daerah. Diadakannya Indonesian Infrastructure Summit pada bulan November 2006 lalu. ± Bantuan Langsung Tunai (BLT) bagi masyarakat miskin.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful