SEJARAH PEREKONOMIAN INDONESIA

Ian Azhar Avandi Saputra 0906065 0906310

PERIODE SEJARAH PEREKONOMIAN INDONESIA
‡ ‡ ‡ ‡ ‡ ‡ MASA PRA-MODERN MASA PRA-KEMERDEKAAN MASA ORDA LAMA MASA ORDE BARU MASA TRANSISI MASA REFORMASI

PEREKONOMIAN INDONESIA MASA PRA-MODERN
‡ Pada masa pemerintahan pra-modern, perkonomian Indonesia berpusat pada perdagangan dan pertanian. ‡ Kerajaan-kerajaan yang ada di Indonesia sangat berperan penting dalam perkembangan perekonomian Indonesia. ‡ Sistem pembayaran pada awalnya dilakukan dengan cara barter, baru setelah masuknya kerajaan Islam ke Indonesia alat tukar dengan koin emas diperkenalkan.

Mand-land ratio menjadi tidak seimbang. rampasan perang dan pencaplokan tanah pertanian baru. Sering kekuasaan lokal dan kerjaan-kerajaan melibatkan diri dalam peperangan yang menyebabkan biaya perang tidak cukup ditutup oleh hasil peperangan baik dalam bentuk perolehan wilayah. . 2.FAKTOR PENGHAMBAT BERKEMBANGNYA PEREKOMIAN PADA MASA PRA. Makin kuatanya tekanan pertambahan penduduk dalam lingkup tanah pertanian yang baik untuk bercocok tanam. Sulitnya membangun dan mempertahankan sistem administrasi pemerintahan yang terprogram.MODERN 1. berkesinambungan dan efisien. 3.

yaitu: Portugis Belanda Inggris Jepang . Ada empat negara yang pernah menduduki Indonesia.SEJARAH PEREKONOMIAN INDONESIA PADA MASA PRAKEMERDEKAAN Sebelum merdeka. Indonesia mengalami masa penjajahan yang terbagi dalam beberapa periode.

MASA KEKUASAAN BELANDA Belanda melimpahkan wewenang untuk mengatur Indonesia kepada VOC (Vereenigde Oost-Indische Compagnie). sebuah perusahaan yang didirikan dengan tujuan untuk menghindari persaingan antar sesama pedagang Belanda. .

yang antara lain meliputi : ‡ ‡ ‡ ‡ ‡ Hak mencetak uang Hak mengangkat dan memberhentikan pegawai Hak menyatakan perang dan damai Hak untuk membuat angkatan bersenjata sendiri Hak untuk membuat perjanjian dengan raja-raja .VOC diberi hak Octrooi.

Tujuannya adalah untuk memproduksi berbagai komoditi yang ada permintaannya di pasaran dunia. .Cultuurstelstel (sistem tanam paksa) Cultuurstelstel (sistem tanam paksa) mulai diberlakukan pada tahun 1836 atas inisiatif Van Den Bosch.

‡ Sistem ini jelas menekan penduduk pribumi. teh. yaitu gula. . dll. karet. tembakau.Cultuurstelstel (sistem tanam paksa) ‡ Diperintahkan pembudidayaan produkproduk selain kopi dan rempah-rempah. kina. nila. ‡ Setelah penerapan kedua sistem ini. apalagi dipadukan dengan sistem konsinyasi (monopoli ekspor). tapi amat menguntungkan bagi Belanda. seluruh kerugian akibat perang dengan Napoleon di Belanda langsung tergantikan berkali lipat. kelapa sawit.

. yang antara lain mengatur tentang penyewaan tanah pada pihak swasta untuk jangka 75 tahun.Sistem Ekonomi Pintu Terbuka (Liberal) Dibuatlah peraturan-peraturan agraria yang baru. dan aturan tentang tanah yang boleh disewakan dan yang tidak boleh.

Sistem Ekonomi Pintu Terbuka (Liberal) Pada akhirnya. . sistem ini bukannya meningkatkan kesejahteraan masyarakat pribumi. terutama bagi para kuli kontrak yang pada umumnya tidak diperlakukan layak. tapi malah menambah penderitaan.

Inilah imperialisme modern yang menjadikan tanah jajahan tidak sekedar untuk dieksplorasi kekayaan alamnya.Pendudukan Inggris (1811-1816) ‡ Inggris berusaha merubah pola pajak hasil bumi yang telah hampir dua abad diterapkan oleh Belanda. maka penduduk pribumi akan memiliki uang untuk membeli barang produk Inggris atau yang diimpor dari India. tapi juga menjadi daerah pemasaran produk dari negara penjajah. dengan menerapkan Landrent (pajak tanah). . ‡ Dengan landrent.

karena Inggris tak mau mengakui suksesi jabatan secara turuntemurun. apalagi untuk menghitung luas tanah yang kena pajak.PENYEBAB GAGALNYA SISTEM LANDRENT ‡ Masyarakat Indonesia pada umumnya buta huruf dan kurang mengenal uang. ‡ Kebijakan ini kurang didukung raja-raja dan para bangsawan. . ‡ Pegawai pengukur tanah dari Inggris sendiri jumlahnya terlalu sedikit.

Pendudukan Jepang (1942-1945) Pemerintah militer Jepang menerapkan suatu kebijakan pengerahan sumber daya ekonomi mendukung gerak maju pasukan Jepang dalam perang Pasifik. .

Kesejahteraan rakyat merosot tajam dan terjadi bencana kekurangan pangan.Pendudukan Jepang (1942-1945) Sebagai akibatnya : Terjadi perombakan besar-besaran dalam struktur ekonomi masyarakat. . sehingga terjadi kelangkaan tekstil yang sebelumnya didapat dengan jalan impor. karena produksi bahan makanan untuk memasok pasukan militer dan produksi minyak jarak untuk pelumas pesawat tempur menempati prioritas utama. Impor dan ekspor macet.

Periode Orde Lama Perang kemerdekaan berakhir (tahun 1945-1949): Pengakuan terhadap RIS Pembangunan dititik-beratkan pada Nation Building Peran pemerintah dalam perekonomian sangat dominan Pengeluaran pemerintah terkonsentrasi untuk tujuan politik dan keamanan dan ketertiban Usaha untuk perbaikan di bidang ekonomi terabaikan .

ditutup dengan mencetak uang. sehingga harganya tinggi .Periode ORLA ‡ Anggaran Belanja Defisit. bahan pokok sulit didapatkan masyarakat. mengakibatkan inflasi sangat tinggi ‡ Pertumbuhan ekonomi rendah.

‡ Diperparah dgn beredarnya berbagai jenis mata uang: uang De Javasche Bank. dan beberapa jenis uang lokal (URIPS-Sumatera. Uang MandatPalembang . uang NICA. ORI. URPSU-Sumatera Utara/Aceh. URIDAP-Banten. uang pemerintah Belanda. URITA-Tapanuli. URIBA-Aceh.

Kebijakan moneter 1950 ‡ Tujuan: ± Memperbaiki posisi neraca pembayaran ± Pengendalian harga (inflasi) ± Menggali sumber pendapatan pemerintah untuk menutup defisit anggaran .

ORI ditukar dgn uang baru berdasarkan daya beli. ± Pengguntingan uang (Gunting Syafruddin): pengguntingan uang kertas menjadi 2 bagian.8. Kurs US$1 = Rp3. . sedangkan sebelah kanan ditukar dengan obligasi ± Penetapan Sertifikat Devisa: hak diberikan kepada perorangan atau perusahaan membeli devisa dari bank devisa untuk kegiatan impor.Moneter 1950 ‡ Langkah: ± Penyatuan mata uang: De Javasche Bank menerbitkan uang baru. Bagian sebelah kiri dapat digunakan transaksi.

4. ± Mendorong ekonomi pribumi dan memperbaiki perusahaan hasil nasionalisasi ± Operasi militer dan politik untuk menciptakan keamanan dan ketertiban .‡ Tahun 1952 Sertifikat Devisa dihapus. ‡ Tahun 1957 dimulainya Ekonomi Terpimpin (Konsepsi Presiden) ‡ Pengeluaran pemerintah tidak terkendali. Kurs baru US$1 = Rp11.

000 masing-masing menjadi Rp50 dan Rp100. Pecahan Rp500 dan Rp1.000 dibekukan dan diganti dengan pinjaman jangka panjang ± Kurs : US$1 = Rp45 . ± Giro dan deposito di atas Rp25.‡ Tahun 1959: ± dilakukan penurunan nilai uang (Sanering).

Kondisi tahun 1960 ‡ Mulai tahun 1960 proyek politik pemerintah meningkat ± Konfrontasi dengan Malaysia ± Penyelenggaraan Asean Games ± Penyelenggaraan Pekan Olah Raga (GANEFO) ± Pembebasan Irian Barat dari Belanda ‡ Tahun 1965: Bank Indonesia sebagai Bank Berdjoang bersedia menutupi defisit anggaran pemerintah dengan mencetak uang baru .

000 uang lama diganti Rp1 uang baru) ‡ Tahun 1966 terjadi krisis politik: pergantian pemerintahan dari Orde Lama ke Orde Baru .‡ Inflasi sangat tinggi (Tahun 1965 sebesar 635%) ‡ Desember 1965 penggantian uang (Rp1.

.

.

.

Masa orde baru ‡ Masalah yang dihadapi: ± Tidak mampu bayar utang ± Defisit Neraca Perdagangan ± Anggaran pemerintah defisit ± Inflasi tinggi (635%) ± Buruknya prasarana ekonomi .

terutama investasi asing ± Pelaksanaan pembangunan berencana (PELITA): Trilogi Pembangunan .‡ Upaya yang dilakukan: ± Pengendalian inflasi ± Penyediaan bahan pangan. terutama beras ± Rehabilitas prasarana ekonomi ± Meningkatkan ekspor ± Menciptakan lapangan kerja ± Perbaikan iklim investasi.

perlindungan bea masuk. mengejar pertumbuhan tinggi dan pemerataan pendapatan melalui 'trickle down effect'  memberikan segala kemudahan seperti perizinan. kredit bank. peruntukkan lahan dsbnya untuk mendukung pengembangan usaha besar  memberikan monopoli beberapa jenis komoditi kepada usaha-usaha besar .

‡ 1966-1970: Masa Stabilisasi (Recovery) ± Menjalankan kebijakan Anggaran Belanja Seimbang ± Mendorong Investasi (tahun 1968: UUPMA dan UUPMDN) ± Menata sistem perbankan nasional (UU No. 13 1968 tentang Bank Sentral dan UU No. 14 tahun 1967 tentang bank Umum) .

Inflasi dapat ditekan: ± ± ± ± Tahun 1967 Tahun 1968 Tahun 1969 Tahun 1971 112% 85% 10% 2.‡ Tahun 1970: tercipta stabilitas ekonomi nasional.5% ‡ Mulai dilaksanakan kebijakan industrialisasi di Indonesia (industri substitusi impor) misalnya industri pupuk ‡ Mulai diterapkan rencana pembangunan yang berkesinambungan (Repelita I) .

‡ 1973/1974: Bonansa Minyak (Oil Boom) ± Harga minyak dunia meningkat 400% ± Penerimaan Negara naik (± 48%). inflasi naik (± 58%) ± Peran minyak dominan. non migas tertinggal ± Peranan Swasta dalam perekonomian kecil .

Bank Indonesia melakukan intervensi ekonomi: ‡ Menetapkan pagu (batas tertinggi) kredit ‡ Menaikan suku bunga pinjaman ‡ Menaikan cadangan minimum perbankan ‡ Menaikkan suku bunga deposito berjangka ‡ Melarang bank pemerintah menerima deposito berjangka yang dananya berasal dari luar negeri ± Inflasi dapat ditekan: ‡ 1974/1975 : 21% ‡ 1977/1978 : 19% .± Kebijakan mengatasi inflasi.

‡ 1980 an: Masa resesi ± Terjadi over supply minyak dunia. deregulasi. penghematan) . hutang negara (dalam matauang Yen) naik ± Terjadi upaya penyesuaian (Devaluasi. menyebabkan harga minyak turun ± Terjadi defisit perdagangan luar negeri Amerika ± Terjadi kenaikan harga mata uang yen Jepang terhadap dolar Amerika (Yendaka) ± Pendapatan Negara turun.

d 225% menjadi 0 s.Masa deregulasi ‡ 1983 (1 Juni): Deregulasi Perbankan ± Bank bebas menentukan bunga dan pagu kredit ‡ 1984: Deregulasi bidang Fiskal ± UU pajak baru (prinsip Self Assessment) ‡ 1985: Deregulasi bidang Perdagangan ± Penurunan tariff bea masuk (0 s.d 60%) ‡ 1986: Sistem pengembalian bea masuk ‡ 1987: Transparansi alokasi kuota tekstil ‡ 1988: Penghapusan monopoli impor plastik dan baja .

‡ 1986: Deregulasi bidang Investasi ± PMA boleh memiliki saham 95% asalkan untuk ekspor ‡ 1987: Deregulasi pasar modal ± Investor asing boleh membeli obligasi di BEJ ‡ 1988: Pakto 88 ± Kemudahan mendirikan bank ± Aturan Legal Lending Limit (49%) ± Cadangan minimum turun dari 15% menjadi 2% .

Penyebab utama krisis moneter Indonesia 1997-sekarang ‡ Anwar Nasution: ± Neraca berjalan (current account) selalu defisit ± Utang luar negeri (pemerintah dan swasta) ± Lemahnya sistem perbankan nasional ‡ Bank Dunia ± Akumulasi utang luar negeri swasta berjangka pendek (jatuh tempo 18 bulan) ± Sistem perbankan nasional lemah ± Kemampuan pemerintah mengatasi masalah keuangan ± Ketidakpastian politik .

Pertimbangannya: ‡ Mudah (Indonesian Tiger) ‡ Ada jaminan pemerintah dengan kebijakan kurs (intervension band) .‡ Kondisi Fundamental Ekonomi Indonesia ± Perkembangan perbankan terlalu cepat Perekomian Indonesia overheated ± Pemerintah melakukan tight money policy ± Swasta yang perlu modal mencari dana di luar negeri.

± Kenaikan utang luar negeri (1992-1997): 85% kenaikan merupakan utang LN swasta ± Karakteristik utang LN swasta: ‡ Unhedged ‡ Currency mismatch ‡ Utang jangka pendek untuk membiayai proyek jangka panjang ± Tahun 1997: utang jatuh tempo (kurang 1 tahun) US$ 20. . Padahal cadangan devisa yang dimiliki BI hanya sekitar US$ 27 milyar.8 milyar.

± Kebijakan makro ekonomi yang tidak seimbang: didominasi oleh kebijakan moneter ± Tidak/belum ada good governance: banyak terjadi KKN ± Kondisi politik yang tidak kondusif ± Rendahnya Law Inforcement .

‡ KRISIS MONETER REGIONAL ± Devaluasi Bath Thailand (2 Juli 1997) dan Peso Philipina (11 Juli 1997). seperti Korea Selatan dan Malaysia ± Menimbulkan kekhawatiran akan merambat ke Indonesia (aspek psikologis) . diikuti krisis keuangan di beberapa negara Asia lainnya.

Krisis moneter di Indonesia: Kenaikan permintaan dolar (kenaikan kurs dolar) memaksa Bank Indonesia melakukan kebijakan intervensi (Kebijakan nilai tukar mengambang terkendali): intervension band .

374 per dolar dan tertinggi Rp2.± Rentang kendali (intervension band): batas atas dan batas bawah kurs antarbank. Kurs rupiah ditentukan melalui mekanisme pasar . Bank umum dapat menjual dan membeli US$ di Bank Indonesia ± Sept 1996. rentang kendali dinaikkan dari 5% menjadi 8% ± Juli 1997: . intervension band dinaikkan lagi menjadi 12% ± Agustus 1997: nilai Rp di pasar valas antarbank menembus batas atas kisaran BI (terendah Rp2.678 per dolar). Hal ini memaksa BI melepas kebijakan rentang kendali (mengambang terkendali/managed float) menjadi mengambang bebas (Free Float).

000 per US$ ± Usaha menurunkan nilai tukar oleh BI menyedot banyak cadangan devisa (dari US$26.6 milyar menjadi US$13.2 milyar pada tahun 1997) . Penyebabnya: ‡ Spekulasi ‡ Capital Flight ‡ Pelunasan hutang swasta ± Tahun 1997 banyak hutang swasta yang jatuh tempo. Kreditur luar negeri menolak roll over ± Akhir tahun 1997 nilai tukar Rp17.± Rupiah terus melemah karena permintaan US$ semakin tinggi.

Suku bunga antarbank mencapai 300%. Bank ± Tingginya NFL (kredit macet) ‡ Nopember 1997 terjadi rush. kerana pencabutan ijin 16 bank swasta nasional oleh pemerintah.Krisis perbankan ‡ Bank mengalami kesulitan likuiditas sebagai akibat ± Gejolak nilai tukar ± Menurunnya kepercayaan masyarakat thd. ‡ Fungsi bank sebagai intermediasi dalam perekonomian terganggu .

(catatan: kandungan impor industri dalam negeri tinggi) .Krisis ekonomi LC bank di Indonesia dijamin oleh bank di Singapura Kesulitan mengimpor bahan baku untuk produksi dalam negeri karena harga impor makin mahal dan cadangan devisa makin sedikit.

Krisis ekonomi 
Produksi dalam negeri menurun, terjadi kontraksi ekonomi, kesulitan mendapatkan barang kebutuhan pokok Terjadi Krisis multidimensi Mei 1998, pergantian presiden Soeharto

Penyelesaian hutang swasta
‡ Pemerintah membentuk Tim Penyelesaian Utang Luar Negeri Swasta (TPULNS) ‡ Tugas: mendorong dan memperlancar restrukturisasi pinjaman luar negeri swasta ‡ Juni 1998: TPULNS dan Bank Steering Committee (sbg. wakil kreditur) berunding di Frankfurt ttg Penyelesaian Utang Luar Negeri Swasta

Penyelesaian hutang swasta
‡ Frankurt Agreement berisi tentang penyelesian:
± pinjaman antarbank: rescheduling ± pembiayaan perdagangan: membuka credit line ± pinjaman perusahaan swasta: Indonesian Restructuring Asset/INDRA) dan Jakarta Initiative)

‡ 20 Oktober 1999 akhir masa transisi politik (Pemilu)

Kondisi makro ekonomi Indonesia 9798 Nilai rupiah merosot ( tinggal 85% dari semula) Inflasi meningkat tajam (Des.6%) Kontraksi ekonomi (sebesar -13. 1998 mencapai 77.2%) Investasi dalam negeri turun. kecuali investasi asing Suku bunga meningkat (SBI 1 bulan = 70%) Ekspor dan impor turun (kecuali ekspor sektor pertanian) Transaksi berjalan surplus .

4%) .± Terjadi pemindahan modal dalam negeri ke luar (capital flight) sebesar 10%-15% dari PDB (lebih dari US$25 milyar) ± Cadangan devisa turun (Maret 1997 sebesar US$26.2 milyar. tahun 1997 sebesar 26. Maret 1998 sebesar US$13.1% terhadap JUB.8 milyar) ± Uang primer meningkat (tahun 1996 sebesar 8.4% dan tahun 1998 sebesar 41. Maret 1999 sebesar US$15.6 milyar.

Penyehatan kerangka makro ekonomi Pengendalian inflasi kisaran 20% Transaksi berjalan diupayakan surplus untuk membantu membayar hutang 2. Transparansi kebijakan fiskal Dana reboisasi dimasukkan dalam APBN . namun tetap memberi perlindungan rakyat miskin 3.Penyehatan perekonomian Indonesia 1999 1. Revisi APBN dengan parameter baru Defisit diusahakan berkisar 1% dari PDB Pengurangan subsidi di bidang enerji (terutama BBM).

Proyek swasta Penjadwalan kembali 12 proyek infrastruktur Dana negara untuk IPTN dihentikan. proyek N-2130 didanai asing dan perbankan Pencabutan perlakuan khusus dan fasilitas kredit bagi proyek Mobnas 5. Restrukturisasi sektor perbankan dan sektor swasta . Penegasan kebijakan moneter BI diberi otonomi penuh dalam menentukan kebijakan moneter dan suku bunga Pemerintah memberi dukungan penuh pada bank swasta dan pemerintah untuk merger 6.Upaya pemulihan ekonomi 4.

Restrukturisasi struktural Bulog hanya memonopoli beras (terigu dan gula dihapus) Perdagangan domestik produk pertanian sepenuhnya dideregulasi BPPC dihapus Pendanaan ADB dipusatkan hanya pada usaha kecil. menengah.7. dan eksportir Hambatan investasi pada kelapa sawit dihapus Penghapusan aturan investasi pada penjualan grosir dan retail .

000 ‡ Kebijakan Pemerintah: ± Pemerintah minta bantuan kepada IMF Paket bantuan mencapai 23 miliar US$ ± Pencabutan izin usaha 16 bank swasta yang dinilai tidak sehat ‡ Hasil !! Rp terus melemah. kepercayaan masyarakat LN&DN merosot ± Nota kesepakatan (LOI): 50 butir kebijaksanaan ekonomi makro. yang merembet juga ke Indonesia posisi mata uang Indonesia thp US$ tidak stabil Juli 1997-Februari 1998 1US $ = Rp 2500 . restrukturisasi sektor keuangan & reformasi struktural ‡ Pemerintah Indonesia tidak melakukan reformasi sesuai kesepakatan dengan IMF pencairan pinjaman angsuran 2 diundur 56 Pemerintahan Transisi .‡ Juli 1997 Krisis Keuangan di Asia.Rp 11.

Restrukturisasi struktural 4. Indonesia tidak ada jalan lain selain harus bekerjasama sepenuhnya dengan IMF. Program stabilisasi pasar uang stabil. Penyelesaian ULN swasta 5. terutama karena hal-hal berikut: ± Krisis Indonesia berubah menjadi krisis kepercayaan dari masyarakat dunia usaha DN&LN sulit mendapat bantuan Satu2nya yang bisa memulihkan kembali kepercayaan masyarakat terhadap Indonesia kemitraan usaha sepenuhnya dengan IMF ± Indonesia sangat membutuhkan US$ untuk membiayai ULN jangka pendek. memacu laju pertumbuhan ekonomi ‡ Maka. bayar bunga pinjaman jangka panjang. Restrukturisasi perbankan 3. Bantuan bagi rakyat kecil (kelompok ekonomi lemah) 57 . mencegah hyperinflation 2.‡ Padahal. dilakukan kesepakatan baru Memorandum Tambahan 1.

Habibie) Dianggap tidak berbeda dengan pemerintahan sebelumnya karena tidak ada perubahan yang nyata & orang-orang dalam kabinet adalah rezim Orde Baru 58 . Kerusuhan Mei. Pendudukan DPR oleh mahasiswa ‡ Mundurnya Presiden Soeharto Pemerintahan Transisi (B.‡ Krisis Rupiah Krisis Ekonomi Krisis Politik Tragedi Trisakti.J.

supremasi hukum dll) ± Perekonomian mulai menunjukkan perbaikan ‡ Pertumbuhan PDB mulai positif ‡ Laju inflasi & tingkat suku bunga menurun kondisi moneter mulai stabil Pemerintahan Reformasi ± Rezim Gus Dur: ‡ Gus Dur sering menunjukkan sikap&ucapan kontroversial yang membingungkan pelaku bisnis ‡ Tidak ada masalah DN yang dapat diselesaikan dengan baik ‡ Hubungan pemerintah dengan IMF tidak baik World Bank mengancam penghentikan pinjaman baru. pelaku bisnis (investor) enggan menanamkan modal di Indonesia ‡ Indonesia terancam dinyatakan bangkrut oleh Paris Club (negara-negara donor) ‡ Lembaga peringkat menurunkan prospek janka panjang Indonesia menjadi negatif 59 . kalangan usaha& investor menaruh harapan besar dalam meningkatkan kembali perekonomian nasional & menuntaskan masalah rezim Orde Baru (KKN.‡ Awal pemerintahan reformasi Gus Dur ± Masyarakat umum.

± Indikator ekonomi saat rezim Gus Dur: ‡ Pergerakan IHSG menunjukkan tren pertumbuhan negatif ‡ Pergerakan nilai Rupiah terhadap US$ ‡ Angka inflasi yang meningkat ‡ Cadangan devisa yang terus menurun 60 .

5% ± Saldo neraca pembayaran ± Defisit APBN ± Bom Bali ± Laju pertumbuhan output rendah (akhir 2002 menunjukkan peningkatan) ± Nilai ekspor menurun ± Nilai tukar rupiah lebih baik dari pemerintahan sebelumnya ± IHSG cenderung menurun. beban pemerintah sangat berat: ± Tingkat suku bunga tinggi ± Inflasi tinggi (mencapai 2 digit) Juli 2000-Juli 2001: target inflasi 9.‡ Pemerintahan Megawati Kondisi Perekonomian lebih buruk daripada pemerintah Gus Dur.4% vs kenyataan 13. akibat: ‡ Kurang menariknya perekonomian Indonesia ‡ Tingginya deposito menarik modal ke sektor perbankan drpd pasar modal 61 Pemerintahan Gotong Royong .

‡ Penyebab rendahnya pertumbuhan ekonomi ± Kurang berkembangnya investasi swasta (PMDN. tidak ada kepastian hukum investasi asing mengalihkan modal ke negara tetangga 62 . PMA) akibat tidak stabilnya kondisi ekonomi&sosial.

‡ Masa Kepemimpinan SBY Kebijakan: ± Mengurangi subsidi BBM/Menaikkkan harga BBM Anggaran subsidi BBM dialihkan ke subsidi sektor pendidikan dan kesehatan.2 miliar dolar AS. yang mempertemukan para investor dengan kepala-kepala daerah. Diadakannya Indonesian Infrastructure Summit pada bulan November 2006 lalu. ± Bantuan Langsung Tunai (BLT) bagi masyarakat miskin. ± Melunasi seluruh sisa utang pada IMF sebesar 3. dan pembagiannya menimbulkan berbagai masalah sosial. Kebanyakan BLT tidak sampai ke tangan yang berhak. serta bidang-bidang yang mendukung peningkatan kesejahteraan masyarakat. 63 . ± Mengandalkan pembangunan infrastruktur massal untuk mendorong pertumbuhan ekonomi serta mengundang investor asing dengan janji memperbaiki iklim investasi.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful