Anda di halaman 1dari 6

BAB I PENDAHULUAN

I.1. Latar Belakang

Perkembangan industri yang pesat membawa kemajuan yang berarti bagi pembangunan perekonomian Indonesia. Tetapi dampak yang timbul dari adanya kegiatan-kegiatan industri tersebut adalah masalah limbah. Masalah yang pada akhir akhir ini mendapat perhatian pemerintah atau badan-badan lingkungan hidup nasional dan internasional. Oleh karena itu, pemerintah berusaha mengembangkan industri yang bersih lingkungan dan mengembangkan penelitian dalam penggunaan dan peningkatan daya guna limbah industri. Slag adalah hasil sampingan dari proses industri yaitu proses peleburan bijih logam dan masih mengandung material yang penting seperti silika. Dimana silika sangat dibutuhkan di industri semen sebagai material tambahan (aditif) di mesin penggilingan akhir (finish mill) pabrik semen. Di Jawa Timur, saat ini ada beberapa perusahaan yang bergerak di bidang peleburan dan pemurnian logam diantaranya PT. Smelting, PT. Ispatindo, dan PT.Hanil Steel. Hasil samping slag yang dihasilkan dari beberapa perusahaan peleburan dan pemurnian logam tersebut dapat dimanfaatkan menjadi sesuatu yang lebih berguna melalui waste co-processing. Dimana dalam tahapan tersebut melibatkan industri semen sebagai pihak pengguna hasil samping tersebut. Sehingga akan terjalin suatu hubungan yang saling menguntungkan antara pihak industri peleburan dan pemurnian logam dengan industri semen. Fly ash adalah hasil samping dari pembakaran batubara di boiler Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU). Kecenderungan dewasa ini akibat naiknya harga minyak diesel industri, maka banyak pembangkit listrik yang beralih menggunakan batubara sebagai bahan bakar dalam menghasilkan steam (uap). Sisa hasil

1

2

pembakaran dengan batubara menghasilkan abu yang disebut dengan fly ash dan bottom ash (5-10%). Persentase abu (fly ash dan bottom ash) yang dihasilkan adalah fly ash (80-90%) dan bottom ash (10-20% ). Fly ash juga mengandung silika yang bisa dimanfaatkan melalui waste co-processing dengan pihak industri semen. Sehingga akan terjalin suatu hubungan yang saling menguntungkan antara pihak pembangkit listrik berbahan baku batubara selaku produsen fly ash dengan industri semen selaku konsumen fly ash. Selain itu, masalah yang ditimbulkan dari adanya industri semen yaitu emisi karbon dioksida. Sesungguhnya, gas karbon dioksida bukanlah suatu masalah. Gas karbon dioksida adalah salah satu yang menunjang kehidupan di atas bumi. Tanpa gas karbon dioksida di dalam atmosfer, bumi tidak bisa mendukung kehidupan sebab temperatur bumi akan terlalu dingin dan semua air akan membeku. Gas karbon dioksida adalah suatu peredam kuat sinar inframerah, dan juga akan menyerap panas yang dipancarkan bumi dan dipantulkan kembali. Ini adalah sebagai efek rumah kaca. Proses tersebut merupakan suatu proses alami yang sangat penting bagi terbentuknya kehidupan di bumi. Bagaimanapun, ketika ada terlalu banyak gas karbon dioksida didalam atmosfer, efek rumah kaca diintensifkan, hal tersebut akan menyebabkan suatu masalah bagi lingkungan. Sebelum masa revolusi industri, konsentrasi gas karbon dioksida di dalam atmosfer adalah 280 ppm. Sejak tahun 1880, akibat dari peningkatan pembakaran bahan bakar fosil sebagai suatu sumber energi, konsentrasi CO 2 telah dengan mantap bangkit sebanyak kira-kira 1,5 ppm/tahun sehingga kandungan gas karbon dioksida dalam atmosfer pada saat ini mencapai 365 ppm. Konsentrasi gas karbon dioksida akan terus meningkat kecuali jika emisi/pancaran dari bahan bakar fosil dibatasi atau dihentikan bersama-sama. Sedangkan emisi karbon dioksida umumnya berasal dari minyak bumi, terutama dari gas alam,

3

minyak bumi dan batubara, dari tahun ke tahun sebagai penyumbang terbanyak emisi gas CO 2 dimuka bumi ini. Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) memperkirakan konsentrasi gas karbon dioksida di dalam atmosfir akan naik menjadi sekitar 540 - 940 ppm pada tahun 2100. Kenaikan rata-rata konsentrasi gas CO 2 akan mengakibatkan kenaikan suhu rata-rata di bumi, hal tersebut mengakibatkan efek pemanasan global, yang akan mempengaruhi perubahan iklim setempat di bumi, pada akhirnya tentu akan mempengaruhi kehidupan di bumi. Kenaikan suhu bumi rata-rata secara global akan mempengaruhi cuaca dan iklim setempat di bumi yang mengakibatkan kenaikan suhu ekstrim di wilayah tertentu, dampaknya tentu terhadap kehidupan di wilayah tersebut. Emisi gas CO 2 ke atmosfir dapat dihasilkan oleh bermacam kegiatan (Anonim, 2007), diantaranya yaitu adanya proses produksi semen. Proses kegiatan industri semen yang menghasilkan emisi gas CO 2 adalah :

Kalsinasi CaCO 3 menghasilkan emisi 540 kg gas CO 2 / ton

semen OPC, Pembakaran batubara menghasilkan emisi 340 kg gas CO 2 /

ton semen OPC, Pembangkit listrik pabrik semen menghasilkan emisi 90 kg

gas CO 2 / ton semen OPC, Total 970 kg gas CO 2 /ton semen OPC.

Berdasarkan uraian diatas maka untuk mengurangi emisi CO 2 dari pabrik semen, yaitu melalui produksi semen jenis baru

yaitu blended hydraulic cement jenis Portland Composite Cement PCC (semen portland komposit). Semen komposit mulai diluncurkan tahun 2005, sejalan dengan mulai dilaksanakannya proyek CDM (Clean Development Mechanism Mekanisme Pembangunan Bersih) oleh PT. Indocement Tunggal Prakarsa Tbk, dan PT. Semen Tonasa (Persero) yang disebut sebagai Proyek Blended Cement, dalam rangka partisipasinya sebagai warga dunia untuk menurunkan pemanasan global (global

4

warming) dengan cara mengurangi pelepasan emisi CO 2 dalam proses produksinya. Penurunan emisi CO 2 dalam proses produksi semen komposit dimungkinkan dengan mengurangi penggunaan klinker yang diganti dengan material alternatif seperti batu kapur, slag dan material pozzolanic. Semen komposit dapat dipergunakan untuk keperluan konstruksi umum seperti rumah, gedung bertingkat, jembatan, jalan beton, beton pre-cast dan beton pre- stress.

Berbagai penelitian sifat mekanik dari mortar semen portland komposit telah dilakukan oleh beberapa peneliti yaitu Mahmudah (1993), Maslikhah (1994), dan Fu, et all (2000). Ketiga peneliti tersebut meneliti tentang pengaruh penambahan fly ash, dan slag di finish mill dalam proses pembuatan semen komposit. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa penambahan jumlah fly ash dan slag yang akan menurunkan penggunaan klinker di finish mill akan berpengaruh terhadap kuat tekan mortar yang terbuat dari semen portland komposit.

I.2. Rumusan Masalah

Seiring dengan adanya proyek CDM (Clean Development Mechanism) dan dalam rangka menurunkan emisi CO 2 untuk mengurangi dampak pemanasan global (global warming), maka industri semen banyak yang beralih untuk memproduksi semen komposit. Penurunan emisi CO 2 dalam proses produksi PCC dimungkinkan dengan mengurangi penggunaan klinker yang diganti dengan material alternatif salah satunya yaitu slag dan fly ash. Berdasarkan penjelasan diatas maka rumusan penelitian dalam penelitian ini yaitu untuk meneliti pengaruh dari penambahan slag dan fly ash di finish mill dalam proses pembuatan semen komposit terhadap kuat tekan produk dan emisi pabrik semen komposit.

5

1.3. Batasan Penelitian

Pada dasarnya semua bahan-bahan anorganik padat dapat digunakan sebagai bahan aditif di finish mill, misalnya: terak tanur tinggi (blast furnace slag), pozolan, senyawa silikat, batu kapur, dll. Dalam penelitian ini bahan anorganik yang akan digunakan yaitu fly ash, dan slag. Batasan penelitian ini adalah sebagai berikut :

1.

Fly Ash pada penelitian ini diambil dari Jawa Power Unit Pembangkitan (UP) Paiton (PLTU Paiton).

2.

Slag pada penelitian ini diambil dari PT. Smelting.

3.

Gipsum pada penelitian ini diambil dari PT. Petrokimia Gresik (Persero).

4.

Kehalusan semen komposit yang diteliti yaitu sebesar 290 m 2 /kg (dengan alat Blaine).

5.

Kualitas semen komposit yang diteliti, diukur berdasarkan pengaruhnya terhadap kuat tekannya pada umur 3, 7, dan 28 hari.

1.4.

Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah

1.

Mempelajari pengaruh penambahan fly ash serta slag terhadap kuat tekan semen komposit yang dihasilkan.

2.

Mempelajari pengaruh komposisi fly ash dan slag yang ditambahkan di finish mill terhadap kuat tekan semen komposit yang dihasilkan.

3.

Mempelajari pengaruh penambahan fly ash serta slag terhadap emisi CO 2 pabrik semen.

I.5. Manfaat Penelitian

Manfaat dari penelitian ini adalah suatu inovasi pemanfaatan slag dan fly ash dalam pembuatan semen. Sehingga dalam pembuatan semen ini menjadi lebih efisien dari aspek ekonomi

6

serta aspek lingkungan karena dapat menurunkan emisi pabrik semen melalui substitusi penggunaan klinker di finish mill.

Beri Nilai