Anda di halaman 1dari 10

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Etnomedisin adalah cabang antropologi medis yang membahas tentang asal mula penyakit, sebabsebab, dan cara pengobatan menurut kelompok masyarakat tertentu. Aspek etnomedisin merupakan aspek yang muncul seiring perkembangan kebudayaan manusia. di bidang antropologi medis, etnomedisin memunculkan termonologi yang beragam. Cabang ini sering disebut pengobatan tradisionil, pengobatan primitif, tetapi etnomedisin terasa lebih netral (Foster dan Anderson, 1986:62).

Bekam atau hijamah adalah teknik pengobatan dengan jalan membuang darah kotor (racun yang berbahaya) dari dalam tubuh melalui permukaan kulit.Perkataan Al Hijamah berasal dari istilah bahasa arab : Hijama ( )yang berarti pelepasan darah kotor. Sedangkan dalam bahasa Inggris disebut dengan cupping, dan dalam bahasa melayu dikenal dengan istilah Bekam. Di Indonesia dikenal pula dengan istilah kop atau cantuk. Akupunktur (Bahasa Inggris: Acupuncture; Bahasa Latin: acus, "jarum" (k benda), dan pungere, "tusuk" (k kerja)) atau dalam Bahasa Mandarin standard, zhn ji ( arti harfiah: jarum - moxibustion) adalah teknik memasukkan atau memanipulasi jarum ke dalam "titik akupunktur" tubuh. Menurut ajaran ilmu akupunktur, ini akan memulihkan kesehatan dan kebugaran, dan khususnya sangat baik untuk mengobati rasa sakit. Definisi serta karakterisasi titik-titik ini di-standardisasi-kan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Akupunktur berasal dari Tiongkok dan pada umumnya dikaitkan dengan Obat-obatan Tradisional Tiongkok. Bermacam-macam jenis akupunktur (Jepang, Korea, dan Tiongkok klasik) dipraktekkan dan diajarkan di seluruh dunia.
1.2 Rumusan Masalah 1. Studi konsep 2. Studi kasus Apakah definisi bekam? Bagaimana sejarah bekam? Kapan bekam mulai dikenal di Indonesia? Apa saja jenis-jenis bekam? Apakah ada waktu khusus untuk bekam? Apakah definisi akupuntur? Bagaimana sejarah akupuntur? Bagaimana perkembangan akupuntur di Indonesia? Apa saja karakteristik titik pengobatan akupuntur? 3. Analisis kasus berdasarkan konsep Bagaimana hubungan antara pengobatan akupuntur dan bekam dengan etnomedisin? 1.3 Tujuan Penulisan Tujuan penulisan ini adalah untuk memenuhi tugas mata kuliah Antropologi Kesehatan. Penulis mampu menguraikan, memahami dan mencari solusi dari pemicu yang diberikan.

1.4 Manfaat Penulisan Bagi pembaca, makalah ini dapat menambah wawasan tentang topik pembahasan yang diuraikan. Bagi penulis, makalah ini merupakan salah satu bekal yang semoga bermanfaat pada masa yang akan datang.

BAB II PEMBAHASAN
1. Studi Konsep 2. Studi Kasus
2.1 Bekam

Definisi Bekam Bekam atau hijamah adalah teknik pengobatan dengan jalan membuang darah kotor (racun yang berbahaya) dari dalam tubuh melalui permukaan kulit.Perkataan Al Hijamah berasal dari istilah bahasa arab : Hijama ( )yang berarti pelepasan darah kotor. Sedangkan dalam bahasa Inggris disebut dengan cupping, dan dalam bahasa melayu dikenal dengan istilah Bekam. Di Indonesia dikenal pula dengan istilah kop atau cantuk. Dengan melakukan penghisapan/vakum maka terbentuklah tekanan negatif di dalam cawan/kop sehingga terjadi drainase cairan tubuh berlebih (darah kotor) dan toksin, menghilangkan perlengketan/adhesi jaringan ikat dan akan mengalirkan darah bersih ke permukaan kulit dan jaringan otot yang mengalami stagnasi serta merangsang sistem syaraf perifer. Berbekam merupakan metode pengobatan klasik yang telah digunakan dalam mengobati berbagai kelainan penyakit seperti hemophilia, hipertensi, gout, reumatik arthritis, sciatica, back pain (sakit punggung), migraine, vertigo, anxietas (kecemasan) serta penyakit umum lainnya baik bersifat fisik maupun mental. Bekam merupakan pengobatan yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW, sebagaimana dijelaskan dalam hadist Bukhari :
Dari Ibnu Abbas r.a. Rasulullah bersabda : "Kesembuhan (obat) itu ada pada tiga hal: dengan minum madu, pisau hijamah (bekam), dan dengan besi panas. Dan aku melarang ummatku dengan besi panas." (Hadist Bukhari)

Hijamah/bekam/cupping/Blood letting/kop/chantuk dan banyak istilah lainnya sudah dikenal sejak zaman dulu, yaitu kerajaan Sumeria, kemudian terus berkembang sampai Babilonia, Mesir, Saba, dan Persia. Pada zaman Rasulullah, beliau menggunakan kaca berupa cawan atau mangkuk tinggi. Sejarah Bekam Pada zaman China kuno mereka menyebut hijamah sebagai perawatan tanduk karena tanduk menggantikan kaca. Pada kurun abad ke-18 (abad ke-13 Hijriyah), orang-orang di Eropa menggunakan lintah sebagai alat untuk hijamah. Pada satu masa, 40 juta lintah diimpor ke negara Perancis untuk tujuan itu. Lintah-lintah itu dilaparkan tanpa diberi makan. Jadi bila disangkutkan pada tubuh manusia, dia akan terus menghisap darah tadi dengan efektif. Setelah kenyang, ia tidak berupaya lagi untuk bergerak dan terus jatuh lantas mengakhiri upacara hijamahnya.

Seorang herbalis Ge Hong (281-341 M) dalam bukunya A Handbook of Prescriptions for Emergencies menggunakan tanduk hewan untuk membekam/mengeluarkan bisul yang disebut tehnik jiaofa, sedangkan di masa Dinasti Tang, bekam dipakai untuk mengobati TBC paru-paru . Pada kurun abad ke-18 (abad ke-13 Hijriyah) , orang-orang di Eropa menggunakan lintah (al alaq) sebagai alat untuk bekam (dikenal dengan istilah Leech Therapy) dan masih dipraktekkan sampai dengan sekarang. Kini pengobatan ini dimodifikasi dengan sempurna dan mudah pemakaiannya sesuai dengan kaidah-kaidah ilmiah dengan menggunakan suatu alat yang praktis dan efektif.Disebutkan oleh Curtis N, J (2005), dalam artikel Management of Urinary tract Infections: historical perspective and current strategies: Part 1-before antibiotics. Journal of Urology. 173(1):21-26, January 2005. Bahwa catatan Textbook Kedokteran tertua Ebers Papyrus yang ditulis sekitar tahun 1550 SM di Mesir kuno menyebutkan masalah Bekam. Hippocrates (460-377 SM), Celsus (53 SM-7 M), Aulus Cornelius Galen (200-300 M) mempopulerkan cara pembuangan secara langsung dari pembuluh darah untuk pengobatan di zamannya. Dalam melakukan tehnik pengobatan tersebut, jumlah darah yang keluar cukup banyak, sehingga tidak jarang pasien pingsan. Cara ini juga sering digunakan oleh orang Romawi, Yunani, Byzantium dan Itali oleh para rahib yang meyakini akan keberhasilan dan khasiatnya. Sejarah Kapan Bekam Masuk ke Indonesia Tidak ada catatan resmi mengenai kapan metode ini masuk ke Indonesia, diduga kuat pengobatan ini masuk seiring dengan masuknya para pedagang Gujarat dan Arab yang menyebarkan agama Islam. Metode ini dulu banyak dipraktekkan oleh para kyai dan santri yang mempelajarinya dari kitab kuning dengan tehnik yang sangat sederhana yakni menggunakan api dari kain/kapas/kertas yang dibakar untuk kemudian ditutup secepatnya dengan gelas/bekas botol. Waktu itu banyak dimanfaatkan untuk mengobati keluhan sakit/pegal-pega di badan, dan sakit kepala atau yang dikenal dengan istilah masuk angin. Tren pengobatan ini kembali berkembang pesat di Indonesia sejak tahun 90-an terutama dibawa oleh para mahasiswa/pekerja Indonesia yang pernah belajar di Malaysia, India dan Timur Tengah. Kini pengobatan ini dimodifikasi dengan sempurna dan mudah pemakaiannya sesuai dengan kaidah-kaidah ilmiah dengan menggunakan suatu alat yang higienis, praktis dan efektif. Jenis-Jenis Bekam

Bekam kering atau bekam angin (Hijamah Jaaffah), yaitu menghisap permukaan kulit dan memijat tempat sekitarnya tanpa mengeluarkan darah kotor. Bekam kering ini berkhasiat untuk melegakan sakit secara darurat atau digunakan untuk meringankan kenyerian urat-urat punggung karena sakit rheumatik, juga penyakit-penyakit penyebab kenyerian punggung. Bekam kering baik bagi orang yang tidak tahan suntikan jarum dan takut melihat darah. Kulit yang dibekam akan tampak merah kehitam-hitaman selama 3 hari.

Bekam basah (Hijamah Rothbah), yaitu pertama kita melakukan bekam kering, kemudian kita melukai permukaan kulit dengan jarum tajam (lancet), lalu di sekitarnya dihisap dengan alat cupping set dan hand pump untuk mengeluarkan darah kotor dari dalam tubuh. Lamanya setiap hisapan 3 sampai 5 menit, dan maksimal 9 menit, lalu dibuang darah kotornya. Penghisapan tidak lebih dari 7 kali hisapan. Darah kotor berupa darah merah pekat dan berbuih. Dan selama 3 jam setelah di-bekam, kulit yang lebam itu tidak boleh disiram air. Jarak waktu pengulangan bekam pada tempat yang sama adalah 3 minggu sahaja Waktu Bekam

Sebaiknya berbekam dilakukan pada pertengahan bulan, karena darah kotor berhimpun dan lebih terangsang (darah sedang pada puncak gejolak). Anas bin Malik r.a. menceritakan bahwa : "Rasulullah SAW biasa melakukan hijamah pada pelipis dan pundaknya. Beliau melakukannya pada hari ketujuhbelas, kesembilanbelas atau keduapuluhsatu." (Diriwayatkan oleh Ahmad). Pemilihan waktu bekam adalah sebagai tindakan preventif untuk menjaga kesehatan dan penjagaan diri terhadap penyakit. Adapun untuk pengobatan penyakit, maka harus dilakukan kapan pun pada saat dibutuhkan. Dalam hal ini Imam Ahmad melakukan bekam pada hari apa saja ketika diperlukan. Imam asy-Syuyuthi menukil pendapat Ibnu Umar, bahwa berbekam dalam keadaan perut kosong itu adalah paling baik karena dalam hal itu terdapat kesembuhan. Maka disarankan bagi yang hendak berbekam untuk tidak makan-makanan berat 2-3 jam sebelumnya. 1. Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda: Barangsiapa berbekam pada hari ke-17, 19 dan 21 (tahun Hijriyah), maka ia akan sembuh dari segala macam penyakit. (Shahih Sunan Abu Dawud, II/732, karya Imam al-Albani) 2. Dari Abdullah bin Masud RA, Rasulullah SAW bersabda: Sesungguhnya sebaik-baik bekam yang kalian lakukan adalah hari ke-17, ke-19, dan pada hari ke-21. (Shahih Sunan at-Tirmidzi, Syaikh al-Albani (II/204)) 3. Dari Anas bin Malik RA, dia bercerita: Rasulullah SAW biasa berbekam di bagian urat merih (jugular vein) dan punggung. Beliau biasa berbekam pada hari ke-17, ke-19, dan ke-21. (HR, Tirmidzi, Abu Dawud, Ibnu Majah, Ahmad, sanad shahih) 4. Dari Ibnu Abbas RA, ia berkata: Rasulullah SAW bersabda: Berbekamlah pada hari ke-17 dan ke-21, sehingga darah tidak akan mengalami hipertensi yang dapat membunuh kalian. (Kitab Kasyful Astaar an Zawaa-idil Bazar, karya al-Haitsami (III/388)).
2.2 Akupuntur Definisi Akupuntur

Akupunktur (Bahasa Inggris: Acupuncture; Bahasa Latin: acus, "jarum" (k benda), dan pungere, "tusuk" (k kerja)) atau dalam Bahasa Mandarin standard, zhn ji ( arti harfiah: jarum - moxibustion) adalah teknik memasukkan atau memanipulasi jarum ke dalam "titik akupunktur" tubuh. Menurut ajaran ilmu akupunktur, ini akan memulihkan kesehatan dan kebugaran, dan khususnya sangat baik untuk mengobati rasa sakit. Definisi serta karakterisasi titik-titik ini di-standardisasi-kan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Akupunktur berasal dari Tiongkok dan pada umumnya dikaitkan dengan Obat-obatan Tradisional Tiongkok. Bermacam-macam jenis akupunktur (Jepang, Korea, dan Tiongkok klasik) dipraktekkan dan diajarkan di seluruh dunia.

Sejarah Akupuntur Ilmu akupunktur adalah bagian dari Ilmu Pengobatan China. Menurut buku Huang Ti Nei Cing ( The Yellow Emperors Classic of Internal Medicine ) ilmu ini mulai berkembang sejak jaman Batu, yaitu kira- kira 4000 5000 tahun yang lalu, dimana digunakan jarum batu untuk menyembuhkan penyakit. Sebuah kasus yang diungkapkan buku tersebut adalah penyembuhan abses dengan penusukan jarum batu . Buku Huang Ti Nei Cing adalah sebuah buku ensiklopedi Ilmu Pengobatan China. Diterbitkan pada jaman Cun Ciu Can Kuo yaitu tahun tahun antara 770 221 sebelum Masehi. Pada jaman itu Ilmu Akupunktur berkembang seperti juga ilmu ilmu lainnya di negara itu. Bahan jarum akupunktur berubah dari batu ke bambu , dari bambu ke tulang dan dari tulang menjadi perunggu. Dalam buku Huang Ti Nei Cing diungkapkan mengenai meridian, titik akupunktur, teknik pengobatan dan perjalanan penyakit serta pengobatannya . Menurut catatan sejarah negara tersebut, pada jaman dinansti Tang ( tahun 265 960 ) , Ilmu Akupunktur berkembang dengan pesat dan mulai tersebar ke luar negara asalnya , yaitu : Korea , Jepang dan negara lainnya . Di negara Korea, Ilmu Akupunktur diperkirakan masuk sejak 2000 tahun yang lampau. Pada tahun 1963 Profesor Kim Bong Han, ahli biologi dari Universitas Pyong Yang telah meneliti, menjelaskan serta mendemostrasikan secara histologis dan elektro biologis tentang meridian dan titik akupunkturnya dalam Teori Sistem Kyung Rak ( Kyung Rak adalah Cing Luo dalam bahasa Korea atau meridian dalam terjemahan buku ini ). Dinyatakan bahwa titik akupunktur terletak di dalam benda benda kecil ( korpuskel ) dalam sel sel dibawah kulit manusia ( korpuskel itu diberi nama korpuskel Bonghan ) , dalam korpuskel itu terdapat DNA ( desoxyribonucleic acid ) yang berfungsi penting dalam metabolisme tubuh. Bilamana Teori Kyung Rak dari Prof. Kim Bong Han ini telah diakui secara internasional maka ini merupakan sebuah revolusi dalam bidang ilmu kedokteran . Di Amerika Serikat, Ilmu Akupunktur telah berkembang lama dalam lingkungan China Town di kota San Francisco dan New York. Dalam delapan tahun ini Ilmu Akupunktur telah merebut perhatian dinegara tersebut ; para dokternya mulai mempelajari , menyelidiki , riset dan mempraktekkannya. Di Elstein Hospital dan Massachusset Hospital telah dilakukan penyelidikan mengenai anestesia dengan akupunktur. Dr. Allen Russek dari Institut of Rehabilitation dan Medicine New York, telah berhasil dalam pengobatan penghilang rasa

nyeri pasien pada penderita penyakit kronis dengan akupunktur ; para dokter di Michigans Northville State Hospital juga melakukan cara anestesia dengan akupunktur pada beberapa pembedahan, antara lain : pencangkokan kulit sampai eksisi tumor , operasi hernia , pencabutan gigi dan tonsilektomi ; hasil yang dilaporkan adalah memuaskan . Perkembangan Pengobatan Akupuntur di Indonesia Perkembangan akupunktur di Indonesia setua adanya perantau China yang tiba di Indonesia. Hanya saja Ilmu Akupunktur hanya hidup terbatas dalam lingkungan sendiri dan sekitarnya, dan hanya Shin She ( orang yang di tuakan / sesepuh ) saja yang melakukan praktek tersebut . Pada tahun 1963 atas instruksi Menteri Kesehatan masa itu Prof. Dr. Satrio, Departemen Kesehatan meneliti dan mengembangkan cara pengobatan Timur, termasuk Akupunktur untuk membentuk sebuah Team Riset Ilmu Pengobatan Tradisional Timur . Maka mulai saat itu praktek akupunktur diadakan secara resmi di Rumah Sakit Umum Pusat, Jakarta yang kemudian berkembang menjadi sebuah Sub Bagian dibawah bagian Penyakit Dalam, dan selanjutnya menjadi Unit Akupunktur Rumah Sakit Dr. Cipto Mangunkusumo ( RSCM ) pada masa ini. Disamping memberikan pelayanan poliklinis terhadap pengunjung / pederita, Unit Akupunktur Rumah Sakit Dr. Cipto Mangunkusumo juga menyelenggarakan pendidikan untuk menghasilkan dokter ahli akupunktur baru . Karakteristik Titik Pengobatan Akupuntur 10 karakteristik titik akupunktur : 1. Berkaitan dg saraf kutaneus atau saraf otot. 2. Berada sepanjang saraf superfisial. 3. Berada di lokasi serabut saraf menembus fascia dalam yg timbul dekat permukaan. 4. Terletak di atas foramen tulang. 5. Terletak dilokasi batang saraf masuk ke dalam otot, batang saraf otot terdiri atas serabut aferen (sensorik), serabut saraf eferen (motorik), dan serabut saraf simpatis. 6. PD, batang saraf, membentuk kesatuan neurovaskuler masuk ke dalam otot. 7. Titik akupunktur terkait dg batang saraf yg berisikan >banyak serabut saraf. Serabut sensorik mempunyai rec.sensorik yg melekat pada PD, serabut otot, tendon & kulit. S.s.sensorik mengumpulkan infornasi dari jaringan2x tsb. 8. Terletak di lokasi dimana batang saraf besar bercabang jadi 2/>. 9. Lokasi yang peka pd struktur ligamen. 10. Terletak sepanjang sutura tengkorak.

3. Analisis Kasus Berdasarkan Konsep


Etnomedisin adalah cabang antropologi medis yang membahas tentang asal mula penyakit, sebab-sebab, dan cara pengobatan menurut kelompok masyarakat tertentu. Aspek etnomedisin

merupakan aspek yang muncul seiring perkembangan kebudayaan manusia. di bidang antropologi medis, etnomedisin memunculkan termonologi yang beragam. Cabang ini sering disebut pengobatan tradisionil, pengobatan primitif, tetapi etnomedisin terasa lebih netral (Foster dan Anderson, 1986:62). Menurut kerangka etnomedisin, penyakit dapat disebabkan oleh dua faktor. Pertama penyakit yang disebabkan oleh agen (tokoh) seperti dewa, lelembut, makhluk halus, manusia, dan sebagainya. Pandangan ini disebut pandangan personalistik. Penyakit juga dapat disebabkan karena terganggunya keseimbangan tubuh karena unsur-unsur tetap dalam tubuh seperti panas dingin dan sebagainya. Kajian tentang ini disebut kajian natural atau nonsupranatural. Di dalam realitas, kedua prinsip tersebut saling tumpang tindih, tetapi sangat berguna untuk mengenai mengenai konsep-konsep dalam etnomedisin (Foster dan Anderson, 1986:63-64). Khusus untuk pengobatan penyakit naturalistik, biasanya digunakan bahan-bahan dari tumbuhan (herbalmedicine) dan hewan (animalmedicine), atau gabungan kedua. Sementara untuk penyakit personalitik banyak digunakan pengobatan dengan ritual dan magi. Konsep-konsep pengobatan naturalistik Dewasa ini ada 3 konsep penyakit dan pengobatan naturalistik yang mendominasi etnomedisin dunia. Konsep tersebut ialah: 1. Patologi humoral dari Yunani 2. Ayurveda India 3. yin dan yang dari Cina Konsep pengobatan tradisional kuna Cina didasarkan pada konsep yin dan yang . Yin dan yang adalah dua kekuatan yang berinteraksi secara seimbang dan terus menerus di dalam alam. Apabila terjadi ketidakseimbangan, maka alam akan tergoncang. Bila ketidakseimbangan terjadi dalam tubuh,maka tubuh akan sakit. Konsep ini berkembang sejak abad 2-3 sebelum Masehi. Jadi, konsep yin dan yang adalah konsep harmoni alam (Croizier, 1968:17). kaitan dengan kajian etnomedisin Dilihat dari pengertian etnomedisin sendiri teknik pengobatan akupuntur ataupun bekam sama-sama merupakan pengobatan yang primitif dalam arti yang sudah ditemukan sejak lama yang diterapkan oleh berbagai masyarakat tertentu saja.namun saat ini kedua pengobatan tersebut sudah berkembang ke berbagai negara dan telah mendapat respon dan pemeriksaan riset di

berbagai negara. Pada teknik akupuntur, pengobatan penyakit berdasarkan pada teknik pengobatan china yaitu konsep yin dan yang. menurut kajian etmomedisin, maka dapat dikatakan bahwa pengobatan akupuntur adalah salah satu pengobatan berdasarkan kajian naturalistik yaitu dengan melihat ketidakseimbangan pada unsur-unsur dalam tubuh. Pada teknik bekam, menurut kajian etnomedisin sama dengan akupuntur adalah suatu pengobatan berdasarkan kajian naturalistik karena juga melihat ketidakseimbangan pada unsurunsur tubuh. Pengobatan bekam terbukti bermanfaat karena orang yang melakukan pengobatan dengan bekam dirangsang pada tritik saraf tubuh seperti halnya pengobatan akupuntur. Tetapi dalam akupuntur yang dihasilkan hanya perangsangan, sedangkan bekam selain dirangsang juga terjadi pergerakan aliran darah dan teknik akupuntur ini masih mendapat kritikan dari pemikikran ilmiah berbeda dengan bekam yang sudah mendapatkan pembuktian kebenaran dari hasil riset.

BAB III PENUTUP

3.1Kesimpulan 3.2Saran

DAFTAR PUSTAKA
http://id.wikipedia.org/wiki/Akupunktur http://www.tsengkai.com/ http://erabaru.or.id/200903171516/akupunktur-mungkin-dapat-kurangi-nyeri-panggul-di-masakehamilan.html http://www.persadaindo.com/Akupunktur.htm http://www.dharmais.co.id/new/content.php?page=article&lang=id&id=12

http://budiboga.blogspot.com/2006/05/bekam-sembuhkan-hipertensi-migrain.html http://abusalma.wordpress.com/2007/03/01/panduan-singkat-tentang-bekam/ http://id.wikipedia.org/wiki/Bekam fs.uns.ac.id/artikel/520c6f56010d8ef61aacc5919f575d3e.doc

10