Anda di halaman 1dari 74

ANALISA ALIRAN DAYA

PADA FEEDER DISTRIBUSI


MATERI
1. REPRESENTASI FEEDER TM
2. REPRESENTASI BEBAN
3. SUSUT TEGANGAN
4. SUSUT DAYA
5. SUSUT ENERGI
6. PEMILIHAN UKURAN PENAMPANG
KONDUKTOR
7. ANALISA ALIRAN DAYA
8. PENGATURAN TEGANGAN
9. STABILITAS TEGANGAN (VOLTAGE STABILITY)
10. KOMPENSASI DAYA REAKTIF
11. ANALISA HUBUNG SINGKAT
PENDAHULUAN (1)
Analisa aliran daya pada jaringan Distribusi Tegangan Menengah
(TM) seringkali dilakukan dalam tahap perencanaan sistem
distribusi. Adapun kegunaannya antara lain untuk :
Mengetahui drop tegangan pada feeder TM
Memprakirakan pembebanan feeder
Menghitung rugi-rugi (susut) daya dan energi pada feeder
Menentukan kompensasi daya reaktif yang diperlukan guna
memperbaiki faktor daya (power factor) serta mengurangi
susut daya dan energi pada feeder
Perhitungan aliran daya merupakan alat bantu yang sangat
berguna dalam proses perencanaan sistem distribusi, dimana
didalamnya banyak dilakukan analisa untuk pengambilan
keputusan menentukan alternatif dengan biaya termurah (least
Cost), yaitu antara lain :
Pemilihan level tegangan pasokan suatu pusat beban
(dengan transmisi TT atau dengan feeder distribusi TM)
Pemilihan ukuran penampang konduktor
Penentuan kapasitas, lokasi dan waktu dibutuhkannya
Gardu Induk TT/ TMbaru
Analisa kebutuhan Voltage Regulator dan Kapasitor pada
jaringan distribusi TM
PENDAHULUAN (2)
R
S
S
S
T
S
R
R
S
R
T
R
I
R
I
S
I
T
E
S
E
R
E
T
V
RS
V
TS
V
RR
V
TR
Dalam studi load flow, biasanya beban sistem 3 fasa dianggap
seimbang (balanced), sehingga sistem dapat direpresentasikan
dalam model fasa tunggal dan dianalisa sebagai sistem fasa
tunggal
REPRESENTASI SISTEM KELISTRIKAN
V
S
V
R
E
g
B
e
b
a
n
I R
F
+ j X
F
REPRESENTASI SISTEM KELISTRIKAN
S
U
R
P
R
+ jQ
R
P
S
+ jQ
S
U
S
R
I
P
LR
+ jQ
LR
REPRESENTASI SISTEM KELISTRIKAN
ONE LINE DIAGRAM (1)
S
U
R
P
R
+ jQ
R
P
S
+ jQ
S
U
S
R
I
P
LR
+ jQ
LR
REPRESENTASI SISTEM KELISTRIKAN
ONE LINE DIAGRAM (2)
MODEL FEEDER TM
S R
R
F
+ j X
F
B/2 B/2
KETERANGAN (1) :
S : Bus Pengiriman
R : Bus Penerimaan
R
F
: Tahanan seri urutan positif feeder distribusi (ohm)
X
F
: Reaktansi seri urutan positif feeder distribusi (ohm)
B : Susceptance feeder (mho)
I : Arus yang mengalir pada feeder (Amper)
U
S
: Tegangan antar fasa pada bus pengiriman (kV)
U
R
: Tegangan antar fasa pada bus penerimaan (kV)
V
S
: Tegangan fasa pada bus pengiriman (kV)
V
R
: Tegangan fasa pada bus penerimaan (kV)
KETERANGAN (2) :
P
S
: Daya aktif yang dikirim dari bus pemgiriman S ke bus
penerimaan R
Q
S
: Daya reaktif yang dikirim dari bus pemgiriman S ke bus
penerimaan R
P
R
: Daya aktif yang diterima bus penerimaan R dari bus
pengiriman S
Q
R
: Daya reaktif yang diterima bus penerimaan R dari bus
pengiriman S
P
LR
: Daya aktif yang dikonsumsi beban pada bus penerimaan R
Q
LR
: Daya reaktif yang diterima bus penerimaan R dari bus
pengiriman S
A P : Susut Daya aktif yang terjadi sepanjang feeder
A Q : Daya reaktif yang tersimpan sepanjang feeder
BEBAN KONSUMEN (CUSTOMER LOADS)
UNTUK KEPERLUAN ANALISA ALIRAN DAYA, BEBAN PELANGGAN BIASA
DIKELOMPOKKAN DALAM DUA JENIS BEBAN :
BEBAN CONSTANT IMPEDANCE, PERALATAN DENGAN IMPEDANSI
KONSTAN BESARNYA. KONSUMSI DAYANYA BERUBAH SESUAI
DEMGAN BESARNYA TEGANGAN YANG DIAPLIKASIKAN PADANYA
CONTOHNYA :
- LAMPU PIJAR
- ELECTRIC WATER HEATER
- ELECTRIC OVEN
- PENGERING PAKAIAN LISTRIK
BEBAN CONSTANT POWER, PERALATAN DENGAN SIFAT NEGATIVE
IMPEDANCE, DIMANA KONSUMSI DAYANYA KONSTAN, TAK
TERPENGARUH OLEH BESARNYA TEGANGAN YANG DIAPLIKASIKAN,
CONTOHNYA :
- LAMPU TL (FLUORESCENT LAMP)
- PERALATAN ELECTRONIC (RADIO, TV, COMPUTER)
- MOTOR 3 FASA
- MOTOR 1 FASA (DIATAS 1 HP)
- AC, REFRIGERATOR
MVA
Constant - Impedance
= V
2
/ Z
L
MVA
Constant - Power
= V . I
Dimana :
V = Tegangan yang diaplikasikan pada beban
Z
L
= Impedansi beban
I = Arus yang mengalir pada beban
KURVA BEBAN HARIAN SISTEM JAWA - BALI (1)
KURVA BEBAN HARIAN SISTEM JAWA - BALI (2)
KURVA BEBAN HARIAN SISTEM JAWA - BALI (3)
BEBERAPA ISTILAH YANG BERHUBUNGAN DENGAN BEBAN
DEMAND
DEMAND INTERVAL
MAXIMUM DEMAND
CONNECTED LOAD
DEMAND FACTOR (DF)
UTILIZATION FACTOR (UF)
LOAD FACTOR (LF)
EQUIVALENT PEAK TIME (EPT)
LOSS FACTOR (LSF)
EQUIVALENT PEAK LOSS TIME (EPLT)
DIVERSITY FACTOR (DF)
COINCIDENCE FACTOR (CF)
DEFINISI
DEMAND
THE DEMAND OF AN INSTALLATION IS THE LOAD AT THE
RECEIVING TERMINALS AVERAGED OVER A SPECIFIC INTERVAL
OF TIME - UNITS kW, MW
DEMAND INTERVAL
THE PERIOD OVER WHICH THE LOAD IS AVERAGED :
LENGTH RELATED TO THERMAL TIME CONSTANT OF THE
APPARATUS
LENGTH DETERMINED BY THE PARTICULAR APPLICATION
15, 30, OR 60 MINUTE DEMAND INTERVAL USUAL FOR
DISTRIBUTION STUDIES
MAXIMUM DEMAND
THE GREATEST OF ALL DEMANDS WHICH HAVE
OCCURRED DURING THE SPECIFIED PERIOD OF TIME :
UNITS : kW, kVA, kVAr
DEMAND INTERVAL AND THE PERIOD (WEEK, MONTH,
SEASON, ETC. MUST BE SPECIFIED)
CONNECTED LOAD
THE SUM OF THE CONTINUOUS RATINGS OF THE LOAD
CONSUMING APPARATUS CONNECTED TO THE SYSTEM OR ANY
PART THEREOF
2/21/2012 20
0 . 1 s =
SERVICE IN BE COULD WHICH SYSTEM THE OF LOAD CONNECTED TOTAL
SYSTEM A OF DEMAND MAXIMUM
DF
0 . 1 s =
SYSTEM THE OF CAPACITY RATED
SYSTEM A OF DEMAND MAXIMUM
UF
DEMAND FACTOR - DF
UTILIZATION FACTOR - UF
2/21/2012 21
LOAD FACTOR - LDF
EQUIVALENT PEAK TIME - EPT
0 . 1 s =
PERIOD THAT IN OCCURRING LOAD PEAK
TIME OF PERIOD DESIGNATED A OVER LOAD AVERAGE
LDF
DEMAND PEAK
DEMAND ENERGY TOTAL
EPT =
2/21/2012 22
LOSS FACTOR - LSF
EQUIVALENT PEAK LOSS TIME - EPT
0 . 1 s =
LOSS POWER PEAK
LOSS POWER AVERAGE
LSF
LOSS POWER PEAK
PERIOD IN HRS X LOSS POWER AVERAGE
EPLT =
HUBUNGAN ANTARA LOAD FACTOR
DAN LOSS FACTOR
LSF = c(LDF) + (1 - c) (LDF)
2
TRANSMISI : C = 0.3
DISTRIBUSI : C = 0.15
DIVERSITY FACTOR - DF
COINCIDENT FACTOR - CF
0 . 1
1
s =
DF
CF
DIVERSITY FACTOR - DF
DIFFERENCE BETWEEN THE SUM OF
INDIVIDUAL MAXIMUM DEMANDS AND THE
MAXIMUM DEMAND OF THE COMPOSITE
LOAD.
0 . 1 > =
LOADS COMPONENT THE OF DEMAND MAXIMUM
DEMANDS MAXIMUM INDIVIDUAL OF SUM
DF
I
S
S
P
S
Q
S
V
S
S
R
V
R
A P
AQ
I.X
Diagram Vektor Arus, Tegangan dan Daya Untuk Beban Induktif

R
Q
R
P
R
I.R
I
S
S
P
S
Q
S
V
S
S
R
V
R
A P
AQ
I.R
I.X
Diagram Vektor Arus, Tegangan dan Daya Untuk Beban kapasitif

R
SUSUT TEGANGAN (VOLTAGE DROP) - BEBAN INDUKTIF
(PENDEKATAN APROKSIMASI)
AV = /V
S
/- /V
R
/ = I (R
F
.Cos + X
F
.Sin ) [V, kV]
AU = P
L
/U (R
F
+ X
F
.Tan ) [V, kV]
I
V
S
V
R
I.R
F
I.X
F

s
I.R
F
.Cos I.X
F
.Sin
AV
AU = /U
S
/- /U
R
/ = \3 I (R
F
.Cos + X
F
.Sin ) [V, kV]
SUSUT TEGANGAN (VOLTAGE DROP) - BEBAN KAPASITIF
PENDEKATAN APROKSIMASI

s
V
S
I
I.R
F
I.X
F
V
R
I.R
F
.Cos
I.X
F
.Sin
AV
AV = /V
S
/- /V
R
/ = I (R
F
.Cos + X
F
.Sin ) [V, kV]
AU = P
L
/U (R
F
+ X
F
.Tan ) [V, kV]
AU = /U
S
/- /U
R
/ = \3 I (R
F
.Cos + X
F
.Sin ) [V, kV]
SUSUT DAYA
AP = /P
S
/- /P
R
/ = 3.I
2
R [W, kW, MW]
AP = P
L
2
/ (Cos
2
.U
2
).R [W, kW, MW]
DARI PERSAMAAN DIATAS TERLIHAT BAHWA :
SUSUT DAYA AKAN MENJADI MINIMAL APABILA FAKTOR DAYA
(POWER FACTOR) = 1.0
SUSUT DAYA BERBANDING LURUS DENGAN KWADRAT BEBAN
BERBANDING TERBALIK DENGAN KWADRAT TEGANGAN
BERBANDING LURUS DENGAN TAHANAN
BERBANDING LURUS DENGAN PANJANG FEEDER
AP = S
L
2
/ U
2
.R [W, kW, MW]
SUSUT ENERGI
AE = AP.LSF.8760 [kWh, MWh]
AE = AP.EPLT [kWh, MWh]
AAAC 240 mm
2
, 20 km
18.99 kV 20 kV
R
3.00 + j1.86
CONTOH PERHITUNGAN SUSUT TEGANGAN
DAN SUSUT DAYA
R
F
= 0.15 x 20 = 3.0 ohm
X
F
= 0.30 x 20 = 6.0 ohm
P
LR
= 3.00 MW Q
LR
= 1.86 MVAr
AU = 3.00/20 x (3.0 + 0.62 x 6) = 1.008 kV (5.04 %)
AP = 3.00
2
/ (20
2
x 0.85
2
) x 3.0 = 0.0934 MW (3.02 %)
0
1
2
3
4
5
6
7
0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23
jam
(
M
W
)
CONTOH PERHITUNGAN LF, LSF, EPT, EPLT
1.00 24:00 6.00 18:00 2.50 12:00 3.50 06:00
2.00 23:00 5.50 17:00 3.00 11:00 3.00 05:00
3.00 22:00 5.00 16:00 3.50 10:00 3.00 04:00
4.00 21:00 4.00 15:00 4.00 09:00 2.50 03:00
5.00 20:00 3.50 14:00 5.00 08:00 2.00 02:00
6.50 19:00 3.00 13:00 4.00 07:00 1.50 01:00
Beban
(MW)
Waktu
Beban
(MW)
Waktu
Beban
(MW)
Waktu
Beban
(MW)
Waktu
BEBAN HARIAN
LOAD FACTOR (HARIAN) :
0 . 1 s =
PERIOD THAT IN OCCURRING LOAD PEAK
TIME OF PERIOD DESIGNATED A OVER LOAD AVERAGE
LDF
LDF = 3.5833/ 6.5000 = 0.5513
0 . 1 s =
LOSS POWER PEAK
LOSS POWER AVERAGE
LSF
LOSS FACTOR (HARIAN) :
LSF = 14.7083/ 42.25 = 0.3481
0.3481 = c(0.5513) + (1 - c) (0.5513)
2
c = 0.1787
EQUIVALENT PEAK TIME - EPT
DEMAND PEAK
DEMAND ENERGY TOTAL
EPT =
EPT = 88.5833/ 6.5000 = 13.63 Jam
EQUIVALENT PEAK LOSS TIME - EPT
LOSS POWER PEAK
PERIOD IN HRS X LOSS POWER AVERAGE
EPLT =
EPLT = LSF x HRS IN PERIOD = 0.3481 x 24 = 8.36 jam
20 kV
SOAL 1
5 km
5

k
m
5 km
5 km
5

k
m
5 km
5

k
m
5

k
m
0.5 MW
0.5 MW
0.5 MW
0.5 MW
0.5 MW
0.5 MW
0.5 MW 0.5 MW
Semua seksi penyulang : AAAC 150 mm
2
r = 0.246 ohm/ km, x = 0.316 ohm/km
Beban masing-masing titik beban : 0.5 MW,
Cos = 0.85
Hitung susut
tegangan tiap seksi
Hitung susut daya tiap
seksi
Hitung susut daya tiap
seksi
20 kV
SOAL 2 (1)
l
k
m
P MW
Semua seksi penyulang : AAAC 150 mm
2
r = 0.246 ohm/ km, x = 0.316 ohm/km
Cos beban = 0.85
l km l km l km l km
l
k
m
l
k
m
l
k
m
P MW
P MW
P MW
P MW
P MW
P MW P MW
2/21/2012 38
Untuk beberapa nilai l, mulai dari 2.0 km sampai dengan
25 km hitung berapa maksimum nilai P (MW) yang dapat
disalurkan penyulang tanpa ada bagian penyulang yang
bertegangan dibawah 18 kV.
Hitung berapa Susut Daya pada setiap kasus.
SOAL 2 (2)
Model Feeder Urban
l (km) P (MW) L(km) Ltot(km) Ptot (MW)
1 0.90 5 11 9.92
2 0.90 10 22 9.92
3 0.71 15 33 7.78
4 0.53 20 44 5.84
5 0.42 25 55 4.67
6 0.35 30 66 3.89
7 0.30 35 77 3.33
8 0.27 40 88 2.92
9 0.24 45 99 2.59
10 0.21 50 110 2.33
Catatan :
l panjang seksi (km)
P Beban puncak titik beban (MW)
Ptot Beban puncak feeder (MW)
Ltot Panjang total feeder (km)
L bagian feeder yang terpanjang (km)
Susut Tegangan dititik terjauh : 5 %
Konduktor : AAAC 240 mm
2
P
P
P
P
P
P
P
P
l l
l
l
l
l
l
l
l
P
P
P
l
l
l
KORELASI ANTARA PANJANG FEEDER TM DENGAN
BEBAN PUNCAK FEEDER
2/21/2012 40
Model Feeder Rural
l (km) P (MW) L(km) Ltot(km) Ptot (MW)
5 1.25 35 40 3.75
9 0.69 63 72 2.08
10 0.63 70 80 1.88
15 0.42 105 120 1.25
20 0.31 140 160 0.94
25 0.25 175 200 0.75
Catatan :
l panjang seksi (km)
P Beban puncak titik beban (MW)
Ptot Beban puncak feeder (MW)
Ltot Panjang total feeder (km)
L bagian feeder yang terpanjang (km)
Susut Tegangan di titik terjauh : 10 %
Konduktor : AAAC 240 mm
2
P
P
l
l
6 l
KORELASI ANTARA PANJANG FEEDER TM DENGAN BEBAN
PUNCAK FEEDER
2/21/2012 41
Kemampuan Penyaluran Daya Penyulang 20 kV
Susut tegangan maksimum : 5 %
Faktor Daya: 0.85
(Beban terkonsentrasi diujung penyulang)
Jenis Antaran *) 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20
AAAC16 - Daya maksimum (MW) 2.41 0.73 0.67 0.62 0.57 0.53 0.50 0.47 0.44 0.42 0.40
- Momen Beban maksimum (MVA.km) 9.41 9.41 9.41 9.41 9.41 9.41 9.41 9.41 9.41 9.41
- Rugi daya (MW) 0.05 0.04 0.04 0.04 0.03 0.03 0.03 0.03 0.03 0.03
- Rugi daya (%) 5.89% 5.89% 5.89% 5.89% 5.89% 5.89% 5.89% 5.89% 5.89% 5.89%
AAAC25 - Daya maksimum (MW) 2.83 1.06 0.97 0.90 0.83 0.78 0.73 0.69 0.65 0.61 0.58
- Momen Beban maksimum (MVA.km) 13.75 13.75 13.75 13.75 13.75 13.75 13.75 13.75 13.75 13.75
- Rugi daya (MW) 0.06 0.06 0.05 0.05 0.05 0.04 0.04 0.04 0.04 0.03
- Rugi daya (%) 5.65% 5.65% 5.65% 5.65% 5.65% 5.65% 5.65% 5.65% 5.65% 5.65%
AAAC35 - Daya maksimum (MW) 3.80 1.43 1.31 1.21 1.12 1.05 0.98 0.93 0.87 0.83 0.79
- Momen Beban maksimum (MVA.km) 18.53 18.53 18.53 18.53 18.53 18.53 18.53 18.53 18.53 18.53
- Rugi daya (MW) 0.08 0.07 0.07 0.06 0.06 0.06 0.05 0.05 0.05 0.04
- Rugi daya (%) 5.39% 5.39% 5.39% 5.39% 5.39% 5.39% 5.39% 5.39% 5.39% 5.39%
AAAC50 - Daya maksimum (MW) 4.74 1.93 1.77 1.63 1.51 1.41 1.32 1.25 1.18 1.11 1.06
- Momen Beban maksimum (MVA.km) 24.92 24.92 24.92 24.92 24.92 24.92 24.92 24.92 24.92 24.92
- Rugi daya (MW) 0.10 0.09 0.09 0.08 0.08 0.07 0.07 0.06 0.06 0.06
- Rugi daya (%) 5.05% 5.05% 5.05% 5.05% 5.05% 5.05% 5.05% 5.05% 5.05% 5.05%
AAAC70 - Daya maksimum (MW) 5.71 2.39 2.19 2.02 1.88 1.75 1.64 1.55 1.46 1.38 1.31
- Momen Beban maksimum (MVA.km) 30.92 30.92 30.92 30.92 30.92 30.92 30.92 30.92 30.92 30.92
- Rugi daya (MW) 0.12 0.11 0.10 0.09 0.09 0.08 0.08 0.07 0.07 0.07
- Rugi daya (%) 4.76% 4.76% 4.76% 4.76% 4.76% 4.76% 4.76% 4.76% 4.76% 4.76%
AAAC95 - Daya maksimum (MW) 7.01 2.95 2.71 2.50 2.32 2.16 2.03 1.91 1.80 1.71 1.62
- Momen Beban maksimum (MVA.km) 38.19 38.19 38.19 38.19 38.19 38.19 38.19 38.19 38.19 38.19
- Rugi daya (MW) 0.14 0.12 0.12 0.11 0.10 0.09 0.09 0.08 0.08 0.07
- Rugi daya (%) 4.41% 4.41% 4.41% 4.41% 4.41% 4.41% 4.41% 4.41% 4.41% 4.41%
AAAC120 - Daya maksimum (MW) 8.04 3.57 3.28 3.02 2.81 2.62 2.46 2.31 2.18 2.07 1.97
- Momen Beban maksimum (MVA.km) 46.25 46.25 46.25 46.25 46.25 46.25 46.25 46.25 46.25 46.25
- Rugi daya (MW) 0.15 0.14 0.13 0.12 0.11 0.10 0.10 0.09 0.09 0.08
- Rugi daya (%) 4.02% 4.02% 4.02% 4.02% 4.02% 4.02% 4.02% 4.02% 4.02% 4.02%
AAAC150 - Daya maksimum (MW) 9.19 4.12 3.77 3.48 3.23 3.02 2.83 2.66 2.51 2.38 2.26
- Momen Beban maksimum (MVA.km) 53.25 53.25 53.25 53.25 53.25 53.25 53.25 53.25 53.25 53.25
- Rugi daya (MW) 0.16 0.15 0.13 0.12 0.12 0.11 0.10 0.10 0.09 0.09
- Rugi daya (%) 3.71% 3.71% 3.71% 3.71% 3.71% 3.71% 3.71% 3.71% 3.71% 3.71%
AAAC185 - Daya maksimum (MW) 10.45 4.65 4.26 3.93 3.65 3.41 3.20 3.01 2.84 2.69 2.56
- Momen Beban maksimum (MVA.km) 60.16 60.16 60.16 60.16 60.16 60.16 60.16 60.16 60.16 60.16
- Rugi daya (MW) 0.16 0.15 0.14 0.13 0.12 0.11 0.11 0.10 0.09 0.09
- Rugi daya (%) 3.40% 3.40% 3.40% 3.40% 3.40% 3.40% 3.40% 3.40% 3.40% 3.40%
AAAC240 - Daya maksimum (MW) 12.40 5.40 4.95 4.57 4.24 3.96 3.71 3.50 3.30 3.13 2.97
- Momen Beban maksimum (MVA.km) 69.92 69.92 69.92 69.92 69.92 69.92 69.92 69.92 69.92 69.92
- Rugi daya (MW) 0.17 0.15 0.14 0.13 0.12 0.11 0.11 0.10 0.10 0.09
- Rugi daya (%) 2.99% 2.99% 2.99% 2.99% 2.99% 2.99% 2.99% 2.99% 2.99% 2.99%
*) Batas kemampuan termal DLL/ DIVRENSIS, Mei 97
Panjang penyulang (km)
Kapasitas Jumlah Panjang Luas penampang
Trafo jurusan kVA/ jurusan jurusan (L) konduktor
(kVA) feeder TR (m) (mm2) (Volt) (%) (kW) (%)
50 2 25 300 35 370.12 97.40 1.00 2.36
100 4 25 300 35 370.12 97.40 2.01 2.36
160 4 40 300 50 367.72 96.77 3.81 2.80
200 5 40 300 50 367.72 96.77 4.76 2.80
250 5 50 300 70 369.35 97.20 5.13 2.41
315 5 63 300 70 364.10 95.81 11.42 3.60
400 6 67 300 70 365.93 96.30 10.73 3.18
630 8 79 300 70 363.22 95.58 20.33 3.79
1000 8 125 300 95 359.90 94.71 37.26 4.37
1600 10 160 300 95 358.89 94.45 60.38 4.43
Catatan : Belum termasuk susut pada trafo
Tegangan
dititik Terjauh Susut daya
PERKIRAAN SUSUT JTR
L
PEMBEBANAN OPTIMUM PENYULANG TM (1)
1 Pembebanan pada Penyulang TMdibatasi oleh :
Kuat Hantar Arus (KHA) hantaran penyulang
Susut Tegangan yang diijinkan
Batas Stabilitas Tegangan (Voltage Stability)
2 Untuk Penyulang yang pendek seringkali KHA menjadi
batas pembebanan
3 Untuk Penyulang yang panjang, Susut Tegangan seringkali
menjadi batas pembebanan
PEMBEBANAN OPTIMUM PENYULANG TM (2)
1 Pembebanan Optimum Penyulang TM adalah
pembebanan penyulang sedemikian rupa hingga biaya
penyalurannya seminimal mungkin
2 Biaya Penyaluran terdiri atas dua komponen :
Capital Cost (biaya pembangunan) penyulang
Cost of Losses (biaya susut) pada penyulang
3 Biaya Susut terdiri atas dua komponen :
Demand cost of losses : merupakan biaya yang harus
dikeluarkan untuk setiap kW unit pembangkit yang
diperlukan guna menanggung setiap kWrugi daya
sepanjang penyulang
Energy Cost of Losses : biaya rugi energi yang terjadi
pada penyulang
Biaya Penyaluran :
C
F
= C
FINV
+ ((MVA)
2
. R/U
2
) . CL . 1000 (1)
Dimana :
C
F
= Biaya Penyaluran Penyulang Tegangan Menengah
(Rp/ km/ thn.)
C
FINV
= Biaya investasi penyulang tegangan menengah
(Rp/ km/ thn.)
MVA = Daya maksimum yang disalurkan penyulang (MVA)
R = Besarnya tahanan urutan positip persatuan panjang
penyulang (ohm/ km)
CL = Biaya rugi-rugi (Cost of losses) (Rp/ kW/ thn.)
PEMBEBANAN OPTIMUM PENYULANG TM (3)
Besarnya CL dari Persamaan (1) dapat dihitung sebagai berikut :
CL = C
G
+ 8760 . LSF . CE (2)
Dimana :
C
G
= Biaya investasi pertahun per kW unit pembangkit
(Rp/ kW/ thn.)
LSF = Loss Factor
CE = Biaya Produksi Enersi Listrik (Rp/ kWh)
PEMBEBANAN OPTIMUM PENYULANG TM (4)
Biaya Penyaluran Penyulang 20 kV
0
5000
10000
15000
20000
25000
30000
35000
40000
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
MVA
U
S

$
/
k
m
/
t
h
XLPE 300 XLPE 240 XLPE 150
PEMBEBANAN OPTIMUM PENYULANG TM (5)
E
kirim pembangkit (TET)
TET TT
TM
TT
TM
TR
E
kirim GI(TT/TM)
Pelanggan TT
Pelanggan TM
Gambar 2.1 : Aliran Enersi Pada Sistem Kelistrikan
TET
E
kirim pembangkit TT
E
sales TT
E
sales TM
E
sales TR
2/21/2012 49
Susut enersi di
Jaringan Transmisi/ GI
(TET& TT)
Energy sales ke
pelanggan TT
Susut enersi di
Jaringan TM
Energy sales ke
pelanggan TM
Susut enersi di
Jaringan TR
Energy sales ke
pelanggan TR
Enersi dikirim
ke Jaringan
distribusi dari
Jar. trans
Enersi
dikirim ke
jaringan
TR
Enersi netto dikirim
dari Pembangkit
yang terhubung ke
jaringan transmisi
TT & TET
Enersi dikirim dari
pembangkit yang
tersambung ke
jaringan TM
Gambar 2.2 : Aliran Energi dan Susut Energi pada Sistem Kelistrikan
Mulai
Perkiraan aw al
Vektor tegangan bus (U I X 0 )
H itung :

Aliran daya aktif dan reaktif tiap segmen

Arus tiap segmen

Rugi tegangan dan daya tiap segmen


U pdate :

Vektor tegangan tiap bus

Aliran daya aktif dan reaktif tiap segmen

Arus tiap segmen

Rugi tegangan dan daya tiap segmen


A Pij < s
A Q ij < s
Selesai
Iterasi
berikut
Tidak
Y a
Baca data bus :

N omor bus

Tegangan, sudut tegangan

Beban, aktif, dan reaktif


Baca data segmen feeder :

H ubungan (dari - ke)

Panjang segmen

Tahanan dan reaktansi seri urutan


positif
Bagan Aliran Proses
Perhitungan Aliran Daya
Pada Feeder Distribusi
0
5
10
15
20
25
0
.
2
5
0
.
5
0
0
.
7
5
1
.
0
0
1
.
2
5
1
.
5
0
1
.
7
5
2
.
0
0
2
.
2
5
2
.
5
0
2
.
7
5
3
.
0
0
3
.
2
5
3
.
5
0
3
.
7
5
4
.
0
0
4
.
2
5
4
.
5
0
4
.
7
5
5
.
0
0
Loads (MW) UR (appr.) (kV) UR (exact) (kV)
PERBANDINGAN HASIL PERHITUNGAN SUSUT TEGANGAN
DENGAN METODA APROKSIMASI DAN EXACT
AAAC 240 mm
2
, 50 km
U
S
=
20 kV
U
R
0
0.2
0.4
0.6
0.8
1
1.2
1.4
1.6
0
.
2
5
0
.
5
0
.
7
5 1
1
.
2
5
1
.
5
1
.
7
5 2
2
.
2
5
2
.
5
2
.
7
5 3
3
.
2
5
3
.
5
3
.
7
5 4
4
.
2
5
4
.
5
4
.
7
5 5
loads (MW)
P
o
w
e
r

L
o
s
s

(
M
W
)
Power Loss (appr.) Power Loss (exact)
PERBANDINGAN HASIL PERHITUNGAN SUSUT TEGANGAN
DENGAN METODA APROKSIMASI DAN EXACT
U
S
=
20 kV
AAAC 240 mm
2
, 50 km
VOLTAGE STABILITY
S
U
R
P
R
+ jQ
R
P
S
+ jQ
S
U
S
R
I
P
LR
+ jQ
LR
R
F
+ jX
F
, , 1 3 I U S
R R
=
, , 2
) (
2
F
R
R S
F
R S
R R
Z
U U U
Z
U U
U S

= =

, , 3
2 ) (
2


X
X + X
=
F
R R R S R S
R
Z
U U U
S
, , 4 ) 2 ( ) (

X + X

=
R
F
R
R S
F
R S
R
Z
U
Z
U U
S
PV CURVE (1)
, , 5
R R
S re P =
, , 6 ) 2 ( ) (
2


+

=
R
F
R
R S
F
R S
Cos
Z
U
Cos
Z
U U
Bila dianggap
S
=
R
, maka :
, , 7 ) 2 ( ) 2 (
2


=
R
F
R
R
F
R S
R
Cos
Z
U
Cos
Z
U U
P
PV CURVE (2)
P
R
max :
P
R
max ---> dP
R
/dU
R
= 0
/U
S
/// Z
F
/. Cos (2
R
-o) - 2 /U
R
/ //Z
F
/.Cos (2
R
-o) = 0
/U
R
/ = /U
S
//2
P
R
max = /U
S
/
2
/(4/Z/).Cos(2
R
-o)
PV CURVE (3)
(8)
P
R
U
R
Maximum loading
point
Statically and
dynamically stable
Statically stable
dynamically
unstable
P
max
0
20
40
60
80
100
120
140
160
0 20 40 60 80 100 120 140
Load (MW)
R
e
c
e
i
v
i
n
g

V
o
l
t
a
g
e

(
k
V
)
UR
150 kV, 1 CCT, 1 x 241.7 mm
2
HAWK, 100 km
PV CURVE
tan Q=-.6
0
5
10
15
20
25
0 1 2 3 4 5 6
load (MW)
R
e
c
e
i
v
i
n
g

V
o
l
t
a
g
e

(
k
V
)
150 kV, 1 CCT, 1 x 241.7 mm
2
HAWK, 100 km
PV CURVE
2/21/2012 60
0
100
200
300
400
500
600
700
0
2
0
0
4
0
0
6
0
0
8
0
0
1
0
0
0
1
2
0
0
1
4
0
0
1
6
0
0
1
8
0
0
2
0
0
0
2
2
0
0
2
4
0
0
2
6
0
0
2
8
0
0
3
0
0
0
3
2
0
0
3
4
0
0
Load (MW)
U
R

(
k
V
)
UR (tanQ=-0.8) UR (tanQ=-0.4) UR (tanQ=0) UR (tanQ=0.62)
PV CURVE
500 kV, 2 CCT, 4 x 337.8 mm
2
GANNET, 450 km
U
R
ANALISA HUBUNG SINGKAT
DILAKUKAN UNTUK MENGETAHUI BESARNYA
DAYA DAN ARUS YANG TERJADI PADA SAAT
TERJADI HUBUNG SINGKAT PADA SISTEM.
DENGAN DIKETAHUINYA DAYA DAN ARUS HUBUNG
SINGKAT, MAKA SETTING RELAY PROTEKSI YANG
BENAR DAPAT DILAKUKAN
BESARNYA DAYA HUBUNG SINGKAT DIPAKAI
SEBAGAI DASAR UNTUK PEMILIHAN UKURAN
CIRCUIT BREAKER.
METODA PERHITUNGAN HUBUNG SINGKAT
NSW POTENTIAL METHOD
- MEMUNGKINKAN PERHITUNGAN DAYA H.S. DALAM
SATUAN MVA TANPA MEMPERHATIKAN NILAI
MUTLAK TEGANGAN KERJA SISTEM.
- EFEKTIF UNTUK SISTEM KECIL
- UNTUK PERHITUNGAN DAYA H.S. DI TITIK YANG
BERBEDA HARUS DIHITUNG ULANG
BUS IMPEDANCE MATRIX METHOD
- EFEKTIF UNTUK SISTEM YANG BESAR
300 MVA
X
d
= 10 %
300 MVA
X
d
= 5 %
150 kV
20 kV
11 kV
3
1
2
4
60 MVA
X
d
= 8 %
X = 20 ohm
Terjadi Hubung Singkat 3 fasa
Di Bus No. 4
Berapa Besarnya :
Arus Hubung Singkat
Daya Hubung Singkat
CONTOH PERSOALAN
HUBUNG SINGKAT
300 MVA
X
d
= 10 %
300 MVA
X
d
= 5 %
150 kV
20 kV
11 kV
3
1
2
4
60 MVA
X
d
= 8 %
X = 20 ohm
1. Hitung MVA H.S. masing-masing
komponen dalam sistem :
- Gen : MVA
(rated)
/X
d
. 100
- Trafo : MVA
(rated)
/X
d
. 100
- T/L : kV
2
/X
2. Hitung Tegangan (p.u) masing-
masing titik.
3. Hitung Daya Hubung Singkat.
Catatan :
Xd = Reaktansi Subtransient
Pembangkit dan Trafo.
DENGAN NSW POTENTIAL
METHOD (1)
300/10 x 100
= 3000 MVA
300/5 x 100
=6000 MVA
3
1
2
4
60/8 x 100
= 750 MVA
DENGAN NSW POTENTIAL
METHOD (2)
150
2
/20
=1125 MVA
Bus 1 :
(U
1
-1)3000 + (U
1
-U
2
)6000 = 0
Bus 2 :
(U
2
-U
1
)6000 +(U
2
U
3
)1125 =0
Bus 3 :
(U
3
-U
2
)1125 +(U
3
-U
4
)750 = 0
Bus 4 :
U
4
= 0
300/10 x 100
= 3000 MVA
300/5 x 100
=6000 MVA
3
1
2
4
60/8 x 100
= 750 MVA
DENGAN NSW POTENTIAL
METHOD (3)
150
2
/20
=1125 MVA
367.5
MVA
367.5
MVA
367.5
MVA
367.5
MVA
9000U
1
6000 U
2
= 3000
- 6000 U
1
+ 7125 U
2
1125 U
3
= 0
-1125 U
2
+ 1875 U
3
= 0
U
1
= 0.8776
U
2
= 0.8163
U
3
= 0.4898
MVA
H.S.
di Bus 4 = U
3
x 750 =
367.35 MVA
I
HS
= 367.5/ 3/20 = 10.609 kA
300 MVA
X
d
= 5 %
150 kV
20 kV
11 kV
3
1
2
4
60 MVA
X
d
= 8 %
X = 20 ohm
300 MVA
X
d
= 10 %
DENGAN BUS IMPEDANCE
MATRIX METHOD (1)
1. Hitung reaktansi masing-masing
komponen dalam sistem dalam p.u :
- Pembangkit dan Trafo dinyatakan
dalam nilai subtransient atau
transient nya
2. Matrix Bus mpedance
3. Hitung Arus Hubung Singkat.
150 kV
20 kV
11 kV
3
1
2
4
0.13333 pu
0.08889 pu
Base MVA = 100
Base kV = 150
Base Impedance = 150
2
/100 = 225 ohm
Base kA = 100/ 3/150 = 0.3849
Matrix Y Bus :
0.01667 pu
0.03333 pu
7.5 -7.5 0 0
-7.5 18.8 -11.3 0
0 -113 71.3 -60
0 0 -60 90
DENGAN BUS IMPEDANCE
MATRIX METHOD (2)
0.2722 0.1389 0.0500 0.0333
0.1389 0.1385 0.0500 0.0333
0.0500 0.0500 0.0500 0.0333
0.0333 0.0333 0.0333 0.0333
Matrix Z Bus
Hubung Singkat di Bus 4 , I
HS
= 1/Z
44
= 1/0.2722 =3.6735 pu
Daya Hubung Singkat = 1 x 3.6735 pu = 367.35 MVA (hasil
perhitungan sama dengan metoda NSW potential)
DENGAN BUS IMPEDANCE
MATRIX METHOD (3)
DENGAN BUS IMPEDANCE
MATRIX METHOD (4)
Kadang-kadang dalam analisa yang lebih detil Tahanan
( R )Jaringan tidak diabaikan sehingga proses
Pembentukan Matrix Z Bus menjadi agak sulit karena
mengandung bilangan kompleks
Hasil Perhitungannya tidak terlalu banyak berbeda
(perbedaannya berkisar antara 1 5 %)
150 kV
11 kV
300 MVA
X
d
= 10 %
400 MVA
X
d
= 10 %
200 MVA
X
d
= 10 %
300 MVA
X
d
= 5 %
500 MVA
X
d
= 6 %
200 MVA
X
d
= 4 %
1
X = 20 ohm
X = 60 ohm
X = 20 ohm
X = 30 ohm
X = 40 ohm
2
3
4
5
6
7
8
SOAL - 3
Hitung Daya Hubung Singkat pada
Sistem Bila Terjadi H.S di Bus 5
X = 40 ohm
150 kV
11 kV
300 MVA
X
d
= 10 %
400 MVA
X
d
= 10 %
200 MVA
X
d
= 10 %
300 MVA
X
d
= 5 %
500 MVA
X
d
= 6 %
200 MVA
X
d
= 4 %
1
(7.5+j 20) ohm
(20+j 60) ohm
10 +j 30 ohm
2
3
4
5
6
7
8
SOAL - 3
Hitung Daya Hubung Singkat pada
Sistem Bila Terjadi H.S di Bus 5
(15+j 40) ohm
(7.5+j 20) ohm
(15+j 40) ohm
Data Beban dan Pembangkit
Design
Conductor Size and Voltage Level
First Analysis
MW Power Flows
3-phase Short Circuit
Complex Load Flows
Steady-state
Stability
Voltage
Stability
Transient
Stability
Insulation
Level
Check Security
Final Design
Change Network
Change Network
Change Network