Anda di halaman 1dari 3

Pengertian Pemeriksaan Fisik Pemeriksaan fisik adalah pemeriksaan yang dilakukan pada bagian tubuh dari kepala sampai

kaki (Hidayati, 200:38). Pemeriksaan fisik adalah salah satu teknik pengumpul data untuk mengetahui keadaan fisik dan keadaan kesehatan. Ketika melakukan pemeriksaan fisik, terdapat beberapa hal-hal yang perlu diperhatikan oleh perawat yaitu: a. Selalu meminta kesediaan/ izin pada pasien untuk setiap pemeriksaan b. Jagalah privasi pasien c. Pemeriksaan harus seksama dan sistematis d. Jelaskan apa yang akan dilakukan sebelum pemeriksaan (tujuan, kegunaan, cara dan bagian yang akan diperiksa) e. Beri instruksi spesifik yang jelas f. Berbicaralah secara komunikatif g. Ajaklah pasien untuk bekerja sama dalam pemeriksaan h. Perhatikanlah ekpresi/bahasa non verbal dari pasien Pengkajian kesehatan yang lengkap biasanya dilakukan dari kepala hingga jari kaki. Prosedur dapat berubah dalam banyak cara sesuai usia individu, keparahan penyakit, pilihan perawat, dan prioritas serta prosedur institusi. Tanpa menghiraukan prosedur yang digunakan, pengkajian dilakukan secara sistematis dan efisien sehingga menghemat energi dan waktu serta membutuhkan sedikit perubahan posisi pada klien (Berman, Snyder, Kozier, dan Erb, 2009:56). Tujuan umum pemeriksaan fisik adalah untuk memperoleh informasi mengenai status kesehatan pasien. Tujuan definitif pemeriksaan fisik adalah pertama untuk mengidentifikasi status normal dan kemudian mengetahui adanya variasi dari keadaan normal tersebut dengan cara memvalidasi keluhan-keluhan dan gejala-gejala pasien, penapisan/skrining keadaan well being pasien, dan pemantauan masalah kesehatan/penyakit pasien saat ini. Informasi ini menjadi bagian dari catatan/rekam medis (medical record) pasien, menjadi dasar data awal dari temuan-temuan klinis yang kemudian selalu diperbarui (updated) dan ditambahkan sepanjang waktu. Pemeriksaan fisik yang dilakukan pada pasien dapat dilakukan dengan wawancara ataupun observasi pada pasien langsung. Pemeriksaan fisik adalah pada kemampuan fungsional pasien. Misalnya pada sistem persarafan yaitu pasien mengalami gangguan sistem saraf maka perawat dapat mengkaji apakah gangguan tersebut mempengaruhi pasien dalam melaksanakan kegiatan sehari-hari atau tidak. Manfaat dari pemeriksaan fisik yaitu memperoleh informasi mengenai status kesehatan pasien, mendapatkan data objektif dari

riwayat keperawatan pasien, menentukan status kesehatan pasien, mengidentifikasi masalah pasien, mengambil data dasar untuk menentukan rencana tindakan keperawatan. Sehingga perawat dapat mengetahui keadaan pasien dan dapat melakukan tidakan untuk proses penyembuhan pasien. Pengkajian abdomen meliputi inspeksi, auskultasi, palpasi, dan perkusi. Perawat melakukan inspeksi lebih dahulu diikuti auskultasi, palpasi, dan/atau perkusi. Auskultasi dilakukan sebelum palpasi dan perkusi karena palpasi dan perkusi dapat menyebabkan gerakan atau menstimulasi usus yang meningkatkan motilitas usus sehingga bising usus bertambah, mengakibatkan hasil pemeriksaan salah (Berman, Snyder, Kozier, dan Erb, 2009:133). Inspeksi adalah pemeriksaan secara visual yaitu pengkajian menggunakan indra penglihatan. Perawat menginspeksi dengan mata telanjang dan dengan alat pencahayaan seperti otoskop (digunakan untuk melihat telinga). Penggunaan indra pendengaran dan penciuman dapat juga dianggap bagian dari inspeksi. Inspeksi harus sistematik sehingga tidak ada yang terlewatkan (Berman, Snyder, Kozier, dan Erb, 2009:56). Observasi kritis atau inspeksi adalah teknik pengkajian yang paling sering digunakan. Jika dilakukan dengan benar, inspeksi juga memberi lebih dari teknik-teknik pengkajian lainnya. Tetapi, inspeksi yang tidak lengkap atau inspeksi yang tergesa-gesa dapat mengabaikan detil yang penting atau bahkan hasil yang palsu atau temuan yang salah. Untuk mendapatkan informasi yang akurat dan berguna, perawat harus melakukan inspeksi dengan cara yang cermat, tidak tergesa-gesa, memberi perhatian pada hal-hal mendetil dan mencoba untuk menarik kesimpulan logis dari temuan-temuan yang didapat (Morton, 2005:32). Palpasi adalah pemeriksaan tubuh menggunakan indra peraba. Bantalan jari digunakan karena konsentrasi ujung saraf membuat bagian ini sangat sensitif terhadap perbedaan taktil. Palpasi digunakan untuk menentukan tekstur (misal rambut); suhu misal area kulit; vibrasi (misal pada sendi); posisi, ukuran, konsistensi, dan mobilitas organ atau massa; distensi misal pada kandung kemih; adanya dan frekuensi denyut nadi perifer; dan nyeri tekan atau nyeri (Berman, Snyder, Kozier, dan Erb, 2009:56). Selama palpasi, perawat menyentuh tubuh untuk merasakan denyutan dan getaran, untuk mencari struktur tubuh (terutama dalam abdomen), dan untuk mengkaji ciri-ciri seperti ukuran, tekstur, kehangatan, mobilitas, dan nyeri tekan. Palpasi memungkinkan kita untuk mendeteksi nadi, kekakuan otot, pembesaran limfe nodus, kekeringan kulit dan rambut, nyeri tekan organ atau pembengkakan payudara dan mengukur naik turunnya dada setiap kali pernapasan.

Dapus Rubenstein, David, Wayne, David, dan Bradley, John. 2007. Lecture Notes: Kedokteran Klinis. Edisi Keenam. Jakarta: Erlangga. Berman, Audrey, Snyder, Shirlee, Kozier, Barbara, dan Erb, Glenora. 2009. Buku Ajar Keperawatan Klinis. Edisi 5. Jakarta: EGC. Morton, Patricia Gonce. 2005. Panduan Pemeriksaan Kesehatan dengan Dokumentasi SOAPIE. Edisi 2. Jakarta: EGC. Hidayati, Ratna. 2009. Asuhan Keperawatan pada Kehamilan Fisiologis dan Patologis. Jakarta: Salemba Medika.