Anda di halaman 1dari 6

Carunia Mulya Firdausy Deputi Menteri Bidang Dinamika Masyarakat - Kementerian Riset dan Teknologi

Intro: Senin Kemarin (07-12-2009), Bertempat di Auditorium Universitas Terbuka, Pondok Cabe Tanggerang, Profesor Carunia memaparkan hasil penelitiannya mengenai tanggung jawab sosial berbagai lembaga, seperti: Korporasi, Universitas (Lembaga Pendidikan), Pemerintahan dan lainnya. Berikut sekilas pemaparan beliau. Social responsibility is an ethical or ideological theory that an entity whether it is a government, corporation, organization or individual has a responsibility to society at large. This responsibility can be "negative", meaning there is exemption from blame or liability, or it can be "positive," meaning there is a responsibility to act beneficently (proactive stance). Pendahuluan Mahasiswa Berbakti Untuk Pendidikan Tanggung jawab sosial belakangan ini menjadi jargon atau istilah yang tidak lagi menjadi domain bidang manajemen, melainkan sudah dipakai meluas di hampir semua kegiatan manusia, baik itu bisnis, politik, hukum dan lain-lain. Timbulnya istilah ini berawal dari adanya dampak positif yang diciptakan suatu kegiatan pada kehidupan manusia di satu pihak dan kerusakan maupun dampak negatif yang terjadi pada kehidupan masyarakat dan lingkungan di lain pihak. Namun demikian, umumnya istilah tanggung jawab sosial ini lebih banyak berkaitan dengan

kegiatan bisnis atau lebih banyak kita kenal sebagai istilah Corporate Social Responsibility (CSR) yang secara singkat dapat diartikan sebagai An inclusion of public interest into corporate decision-making (Zaharia, 2009). Komitment pemerintah untuk mewajibkan pelaku usaha melaksanakan Tanggung Jawab Sosial ini telah ditetapkan dalam Undang-undang No. 40 tahun 2007 Tentang CSR khususnya pada pasal 74. Namun dalam prakteknya, nyaris kehilangan arah atau telah kemasukan angin. Dikatakan demikian karena implementasi CSR cenderung diidentikkan kedalam bentuk charity dari pelaku usaha atau organisasi kepada masyarakat. Padahal makna dari CSR idealnya sebagai suatu bentuk kegiatan yang dilakukan pelaku usaha atau organisasi bagi keuntungan (investasi) organisasi atau perusahaan di satu pihak dan peningkatan kualitas kehidupan masyarakat dan lingkungan di lain pihak. Hilangnya makna dan kegunaan CSR ini utamanya karena CSR sering dipersepsikan oleh pelaku usaha atau organisasi sebagai suatu burden atau biaya tambahan (additional costs) sehingga selanjutnya berdampak pada menurunnya profit yang dapat diperoleh perusahaan dimaksud. Selain itu, juga disebabkan karena pemaknaaan CSR masih banyak diartikan sebagai suatu kegiatan yang bersifat voluntary dan bukan compulsory. Implikasi dari persepsi yang salah atau yang direkayasa tersebut di atas menyebabkan berbagai aktivitas CSR yang dilakukan oleh organisasi atau perusahaan cenderung hanya sebatas pengharum belaka tanpa memberikan nilai kegunaan dan nilai tambah bagi upaya peningkatan kualitas kehidupan sosial ekonomi dan lingkungan masyarakat. Oleh karena itu, upaya untuk meredefinisikan konsep CSR dalam bentuk peraturan yang tegas dan jelas menjadi salah satu pilihan solusi yang tidak dapat dihindarkan. Tulisan singkat ini tidak hendak mendiskusikan tentang upaya bagaimana meredefinisikan konsep CSR dimaksud, namun lebih difokuskan pada upaya mendiskusikan rumusan konsep tanggung jawab sosial perguruan tinggi atau universitas (USR) dalam membangun pendidikan nilai dan Ilmu pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) yang agaknya belum banyak dibicarakan. Rumusan konsep tersebut penting terutama karena tanggung jawab universitas tidak lagi sebatas menara gading (ivory tower) penghasil sarjana belaka, namun telah berkembang sedemikian kompleksnya bahkan mungkin melebihi tanggung jawab sosial dari sebuah perusahaan. Bahkan nyaris segala persoalan dalam kehidupan masyarakat selalu meminta institusi ini untuk menjawabnya. Selain pembahasan tentang konsep USR, sharing pengalaman Ristek dalam membangun masyarakat berbudaya Iptek juga diberikan dalam tulisan ini. Konsep Tanggung Jawab Sosial Universitas Seperti disebutkan di atas tanggung jawab sosial universitas saat ini telah berubah dibandingkan beberapa dekade lalu. Tanggung jawab universitas tidak lagi dapat dipandang sebatas produsen atau laboratorium pengetahuan, pendidikan, penelitian, pengajaran, pengabdian masyarakat, kebebasan mimbar akademis dan institusi untuk memperoleh kebenaran, melainkan telah mengalami transformasi yang luar biasa ke dalam kehidupan masyarakat secara aktif. Universitas di mata masyarakat kini telah dianggap sebagai institusi yang serba bisa, ampuh dan paten serta dipercaya dalam menjawab permasalahan dan perubahan yang terjadi dalam kehidupan masyarakat.

Menyikapi perkembangan dan perubahan yang dahsyat di atas, sayangnya rumusan konsep yang jelas dan memadai untuk memposisikan bagaimana sebenarnya tanggung jawab sosial yang harus dimainkan universitas nyaris masih sangat terbatas. Konsep tanggung jawab sosial universitas di Indonesia masih banyak berkutat pada upaya bagaimana menggeser kurva pasokan jumlah sarjana ke sebelah kanan, masalah link and match, kontribusi Perguruan tinggi dengan Tri Dharmanya atau dalam upaya mendidik mahasiswa untuk lebih bertanggung jawab (Gibbons, 2005). Bahkan yang lebih menjengkelkan lagi tanggung jawab sosial universitas belakangan ini dikacaukan dan/atau diperdayakan lagi dengan munculnya keinginan sebagian kita untuk menghapuskan ujian negara maupun masalah yang berkaitan dengan penting tidak nya gelar kesarjanaan dan lain-lain yang jauh dari substansi etika, moral dan filosofi pendidikan itu sendiri. Barangkali bagi sebagian kita, tanggung jawab sosial universitas dalam ruang lingkup yang disebutkan di atas sah-sah saja. Pasalnya, karena keberadaan universitas memang ditujukan untuk meningkatkan kemampuan mahasiswanya dalam memiliki pengetahuan yang diiinginkan atau lebih luas lagi untuk memuaskan keinginan para stakeholdersnya. Namun, konsep tanggung jawab sosial seperti itu rasanya sudah out of date alias ketinggalan zaman. Badat (2009) dan Goosen (2009), misalnya, menyatakan bahwa: The role of higher education must necessarily intersect and effectively engage with the economic and social challenges of local, national, regional, continental and global context. University should promote a true culture of responsibility throughout their organizations and should develop social marketing actions in order to better communicate and interact with stakeholders. Educating people, creating advanced knowledge, offering solutions for more complex problems that society confronts on is the essence of the universities role played in the society Oleh karena itu, konsep USR sangat komprehensif dan jauh berbeda dengan CSR. Lantas, bagaimana semestinya rumusan konkrit dari tanggung jawab sosial universitas yang sesungguhnya? Rumusan atau konsep konkrit dari USR di Indonesia seperti halnya dengan CSR agaknya belum disusun secara sistimatis, jika tidak hendak dikatakan belum ada sama sekali. Dalam hubungan tersebut, pendekatan sistimatis yang dikemukakan oleh Mitchell et. al. (1997) agaknya relevan untuk dijadikan pedoman dalam merumuskan konsep USR di Indonesia. Dalam hal ini, Mitchell et.al. (1997) merumuskan konsep USR berbasiskan pendekatan stakeholders sebagai pihak atau individu yang dapat mempengaruhi dan yang dipengaruhi dalam pencapaian tujuan universitas. Dalam konteks ini, klasifikasi stakeholders yang disarankan Mitchell et.al. (1997) dibagi berdasarkan 3 hal yaitu : power to influence universities decisions, the legitimacy of each stakeholders relationship with the organizations, dan the urgency of the stakeholders claim on the organization. Namun sayangnya dari ketiga konsep di atas, konsep atau pendekatan power to influence universities decisions lebih banyak mendapat perhatian dalam perkembangannya (Zaharia, 2009). Dalam konsep ini para pihak yang mempengaruhi pengambilan keputusan oleh universitas dikelompokkan dalam 3 kelompok. Pertama yaitu kelompok yang saling tergantung satu sama lain dalam melakukan tanggung jawab sosial universitas (Mutual power-dependence relationship). Kedua, yaitu kelompok yang memiliki kekuasaan dalam menentukan tanggung

jawab sosial universitas (dominant stakeholders). Dan ketiga, kelompok dimana tanggung jawab sosial universitas dapat ditentukan sendiri oleh universitas (dominant university). Adapun para pihak (stakeholders) yang dapat disebut kedalam kelompok pertama antara lain adalah (1) sumberdaya manusia yang berada dalam lingkungan universitas (rektor, dekan, dosen dan staf pendukung lainnya), (2) pihak pesaing langsung dari perguruan tinggi lainnya, pihak pesaing potensial dan pihak pesaing yang mampu memberikan substitusi kegiatan diluar pendidikan formal, (3) penyandang dana seperti alumni, orangtua, industri, yayasan, maupun badan penelitian , dan (4) lingkungan masyarakat lainnya (sistem pendidikan, KADIN, Kelompok masyarakat yang memiliki minat khusus) dan (5) joint venture partners. Stakeholders dalam kelompok ini memiliki saling ketergantungan dalam membangun tanggung jawab sosial universitas. Sedangkan para pihak yang menentukan tanggung jawab sosial yang harus dilakukan universitas (dominant stakeholders) antara lain adalah (1) pemerintah pusat dan daerah, (2) menteri pendidikan, (3) institusi keuangan, (4) mahasiswa, orang tua, pelaku usaha dan (5) Yayasan pemilik universitas, Badan Akreditasi dan kelompok profesi. Adapun stakeholders yang tanggung jawab sosialnya ditentukan oleh universitas (dominant university) adalah (1) institusi pendidikan pemasok calon mahasiswa dan alumni, dan (2) lembaga keuangan dan non-keuangan yang menyediakan dana, asuransi, dan jasa pelayan universitas lainnya. Perkembangan kekinian dari tanggung jawab sosial universitas di Indonesia masih terbatas utamanya pada tanggung jawab sosial yang menjadi domain universitas seperti dalam penetapan calon penerimaan mahasiswa, asal usul sekolah yang menjadi target penerimaan calon mahasiswa dan biaya pendidikan yang harus dibebankan, jumlah lulusan dan kerjasama dengan universitas lainnya. Tanggung jawab sosial tersebut dilakukan untuk memperkuat posisi ketergantungan universitas dengan para pihak yang berada dalam lingkungan perguruan tinggi sendiri, pihak pesaing, donatur, dan mitra terdekatnya. Sedangkan, tanggung jawab sosial universitas yang berkaitan dengan kemauan dan harapan para pihak (dominant stakeholders) terhadap keberadaan universitas masih belum optimal dilakukan. Oleh karena itu, upaya keras dan cerdas dalam konteks yang disebut terakhir ini sangat penting dirumuskan terutama dalam kaitannya untuk membangun konsep entrepreneurial and innovative university. Pengalaman Ristek dalam CSR Kementerian Negara Riset dan Teknologi seperti halnya dengan institusi Perguruan Tinggi juga menghadapi masalah besar dalam upaya mengembangkan hasil-hasil litbang Ipteknya bagi kepentingan pembangunan ekonomi dan kemanfaatannnya bagi masyarakat. Di satu sisi diakui tanggung jawab sosial yang harus dilakukan kementerian ini bersama dengan 7 LPNDnya (LIPI, BATAN, BPPT, Bakosurtanal, BSN, Bapeten, dan Lapan) dan Lembaga Bio Molekuler Eyikman, dan Puspiptek serta Pusat Peraga Iptek (PP-IPTEK) yakni dengan menyediakan fasilitas-fasilitas publik yang berkaitan dengan pengembangan kawasan, pusat peragaan, serta sarana dan prasarana iptek. Namun pendekatan tanggung jawab sosial dari sisi supply ini sering ditemui kurang mampu menyeimbangkan dengan perkembangan atau perubahan yang terjadi. Bahkan di beberapa lokasi pembangunan Iptek yang telah dibangun ditemui banyaknya

masyarakat yang tidak memiliki pekerjaan dan apalagi untuk memahami Iptek itu sendiri. Akibatnya, muncullah permasalahan kecemburuan sosial dan kriminalitas di daerah tersebut. Apalagi masyarakat berpandangan kawasan yang dikembangkan tersebut dianggap ikut bertanggung jawab dalam peningkatan kesejahteraan mereka, baik melalui pengembangan sarana dan prasarana umum, maupun melalui pengucuran dana langsung ke masyarakat. Untuk memecahkan persoalan tersebut, salah satu bentuk tanggung jawab sosial yang dilakukan kementerian Ristek yakni dengan melakukan program Membangun Masyarakat Berbudaya Iptek (MMBI) di kawasan dimaksud. Konsep MMBI yang dikembangkan oleh Ristek dimaksud menekankan pada tiga aspek. Pertama, pengembangan landasan moral-spiritual antara lain dengan memberikan ceramah dan buku keagamaan yang terkait dengan Iptek. Kedua, pengembangan kelembagaan sosial-ekonomi yang mandiri, dalam bentuk misalnya permodalan mikro yang dapat berperan sebagai lembaga permodalan mandiri masyarakat, atau forum wadah kerjasama antara agen pembaharu. Ketiga, pengembangan SDM yang sesuai dengan potensi dan kebutuhan masyarakat setempat. Untuk yang terakhir ini, kegiatan yang dilakukan yakni dengan cara memberikan latihan dan pendidikan Iptek yang sesuai dengan kondisi sosial dan budaya masyarakat serta kebutuhan teknologi yang bermanfaat bagi perluasan lapangan kerja dan peningkatan pendapatan masyarakat setempat. Program MMBI Ristek dimulai pada tahun 2006, awalnya difokuskan pada masyarakat di sekitar kawasan Puspiptek Serpong. Namun pada tahun 2009, program MMBI ini dikembangkan di beberapa kawasan pengembangan iptek lainnya, seperti Pabrik Biodiesel di Kab Ogan Komering Utara, Agro Techno Park (ATP) yang berada di Kab Ogan Ilir (Sumatera Selatan), Kecamatan Kolaberes, Kabupaten Cianjur (Jawa Barat) , Kabupaten Jepara (Jawa tengah) , Kabupaten Jembrana (Bali), Kota Gorontalo dan Kabupaten Rote Ndao (Nusatenggara Timur). Pada tahuntahun mendatang, program ini akan dikembangkan pula pada kawasan-kawasan iptek lainnya. Selain kegiatan MMBI tersebut, Kementerian Ristek juga meluncurkan program insentif riset, Rusnas (Riset Unggulan Nasional), pengembangan Pusat Inovasi Bisnis (Business Inovation Centre-BIC) untuk menjembatani hasil Iptek yang dilakukan pihak akademisi dan peneliti (A) kepada pihak pelaku usaha (B) dan dari pelaku usaha (B) kepada pihak pemerintah (G) dan seterusnya dari pihak Pemerintah (G) kembali kepada pihak akademisi (A). Konsep inilah yang kita kenal dengan konsep ABG (Academicians-Business dan Government). Penutup Tanggung jawab sosial universitas (university social responsibility) di Indonesia masih jauh dari yang diharapkan. Universitas umumnya masih berkutat pada upaya bagaimana menghasilkan jumlah lulusan sebanyak-banyaknya, pilihan sistim pengajaran yang harus dilakukan, pertimbangan penting tidaknya suatu penelitian, dan berbagai atribut tanggung jawab sosial universitas lain yang menjadi domainnya. Sedangkan atribut tanggung jawab sosial yang menjadi keinginan dan harapan pelaku usaha dan masyarakat nyaris belum banyak diperhatikan, kalau tidak hendak dikatakan tidak ada sama sekali. Oleh karena itu, konsep tanggung jawab sosial universitas yang disesuaikan dengan kekuatan

dinamika masyarakat yang kini cenderung berorientasi pada kebutuhan pasar (entrepreneurial and innovative university) perlu segera dirumuskan. Bahkan bila dimungkinkan tanggung jawab sosial universitas juga dapat diarahkan pada upaya pemecahan permasalahan sosial-ekonomi, budaya dan teknologi yang dihadapi masyarakat pada tingkat daerah, nasional, regional dan global. Harapan di atas tentu bukan merupakan sesuatu yang mustahil untuk diraih oleh perguruan tinggi kita. Hal ini tidak saja karena kita memiliki berbagai sumber daya alam, modal sosial budaya, pasar domestik dan semakin terbukanya akses terhadap dunia luar yang diperlukan sebagai laboratorium Iptek, melainkan juga kemampuan SDM yang semakin meningkat. Untuk mewujudkan harapan tersebut sangatlah tidak mungkin untuk dilakukan tanpa adanya kemauan, kerja keras dan cerdas, maupun kerjasama sinergis serta upaya pembelajaran secara berkesinambungan. Sumber:

1. Prof. Ir. Carunia Mulya Firdausy, M.A., APU, Ph.D. President, Deputy Ministry State of NAM Minister Research S&T for Centre Societal and and Dynamic, Technology,

Government of Indonesia