Anda di halaman 1dari 13

Jurnal Ilmiah Bisnis dan Ekonomi ASIA

Vol. 5 No. 2. Juni 2011

ANALISIS VARIABEL-VARIABEL FUNDAMENTAL YANG MEMPENGARUHI PRICE EARNING RATIO DALAM PENILAIAN SAHAM INDUSTRI OTOMOTIF DAN KOMPONEN YANG LISTING DI BURSA EFEK INDONESIA TAHUN 2005 2010 Oleh : Nur Hidayah*) ABSTRAKSI Banyak sekali model yang digunakan dalam penilaian saham, tetapi metode penilaian saham yang popular dikalangan analis keuangan adalah Price Earning Ratio (PER) karena dengan berbagai pertimbangan, misalnya dengan PER lebih mudah melakukan judgenment. Pada dasarnya penilaian saham dengan menggunakan PER bertujuan untuk menentukan nilai sebenarnya dari sebuah saham berdasarkan factor-faktor fundamental. Faktor-faktor fundamental yang yang diteiti dalam melakukan penilaian saham terdiri empat variabel yaitu Dividen Pay Out Ratio (DPR), Return On Equity (ROE), Earning Growth (EG), dan Laverage Ratio (LR) dan semua factor fundamrntal tersebut kamii ambil dari Bursa Efek Jakarta Pada perusahaan Otomotif dan Komponen dengan periode pengamatan dari tahun 2005-2009, dan sampel yang memenuhi syarat adalah 3 perusahaan. Dari faktor fundamental variabel tersebut maka dibentuk suatu persamaan regresi yang nantinya akan berguna untuk penilaian suatu saham apakah menunjukkan nilai yang sebenarnya, under valued atau over valued. Selain itu, penilaian dengan PER juga nilai signifikannya baik secara simultan maupun parsial. Kata kunci : Dividen Pay Out Ratio (DPR), Return On Equity (ROE), Earning Growth (EG), dan Laverage Ratio (LR) *) Dosen Manajemen STIE ASIA Malang Latar Belakang Masalah Saat ini dunia internasional memasuki era globalisasi yang ditandai dengan kemudahan penyebaran informasi antar Negara sehingga hambatan-hambatan perdagangan sedikit demi sedikit akan terkikis, lalu lintas keuangan Internasional semakin cepat dan makin banyak keluar-masuk arus modal dan inventasi. Hal ini mengakibatkan persaingan semakin ketat sehingga hanya negara yang memiliki keunggulan kompetitif dan komparatif lah yang dapat bertahan di era persaingan global ini.

Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi ASIA Malang

54

Jurnal Ilmiah Bisnis dan Ekonomi ASIA

Vol. 5 No. 2. Juni 2011

Menghadapi keadaan tersebut pemerintah Indonesia berusaha memperbaiki kembali sendi-sendi perekonomian dengan sedikit demi sedikit membangun kembali infrastruktur industri dan perekonomian, salah satunya adalah industri otomotif nasional yang telah mencatat sejarah baru dengan memasuki pasar global. Ekspor perdana kendaraan niaga yang dilakukan oleh Astra Daihatsu Motor ke Jepang menjadi fakta bahwa industri nasional telah tumbuh dengan baik. Dimana pada tahun 2007 tercatat sekitar 55 ribu unit kendaraan roda empat telah berhasil di ekspor, atau meningkat sekitar 83% dibanding ekspor pada tahun 2006 sebesar 30 ribu unit (Sumber : http://www.siaranperscom,diakses 26 januari 2010). Dengan meningkatnya investasi, di ikuti dengan pertumbuhan penjualan mobil, dimana pada awal tahun 2009 mencapai 485,9 ribu unit, melebihi dari apa yang diperkirakan. Pada Semester I 2010, penjualan mobil mencapai 370,2 ribu unit atau naik 76% dibandingkan periode yang sama tahun 2009 sebesar 210,2 ribu unit. Penjualan Semester I 2010 merupakan penjualan Semester I tertinggi sepanjang sejarah (Sumber : http://www.kompas.co.id di akses 11 Maret 2011 ). Seiring dengan strategi baru pemain industri otomotif dunia untuk menjadikan Asia sebagai basis industry mereka, hal ini mendorong permintaan akan jenis komponen yang beragam juga semakin meningkat, sehingga membuka peluang yang tidak kecil bagi industri otomotif di Indonesia untuk bersaing. Dari sini peneliti tertarik untuk mengambil sampel industry otomotif dan komponen sebagai objek penelitian dikarenakan selalu meningkatnya nilai jualnya. Namun dibalik prospek yang semakin baik, terdapat beberapa kendala yang di alami industry otomotif dan komponen, diantaranya adanya tekanan inflas yang sangat berpotensi menaikkan BI rate dan suku bunga pembiayaan sehingga dapat mengakibatkan tekanan pada permintaan mobil ke depan. jalan tidak hanya mendukung dari sisi supply, namun juga berfungsi untuk mengakomodasikan permintaan kendaraan yang terus bertambah. Saat ini pertumbuhan kendaraan tidak sebanding dengan pertumbuhan jalan. Di daerah dengan kepadatan tinggi seperti Jabodetabek, perbandingan antara pertumbuhan kendaraan dan jalan adalah 9% dan 0,01%. subsidi dan pajak progresif juga diperkirakan dapat

Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi ASIA Malang

55

Jurnal Ilmiah Bisnis dan Ekonomi ASIA

Vol. 5 No. 2. Juni 2011

berdampak pada koreksi penjualan mobil ke depan (Sumber : . http://www.kompas.co.id diakses 15 Maret 2011). Dengan adanya hambatan yang dialami industry otomotif, tentu akan mempengaruhi kinerja keuangan perusahaan. Sebenarnya faktor-faktor harga saham mudah dikenali. Masalahnya adalah bagaimana menerapkan faktor-faktor tersebut kedalam suatu sistem penilaian yang bisa digunakan untuk memilih saham mana yang seharusnya dimasukkan dalam portofolio. Adanya hubungan positif antara perolehan dan resiko dalam investasi menjadikan investor sangat berhati-hati dan teliti dalam menentukan portofolio saham analisis yang tepat dalam menentukan tujuan dari investasi itu sendiri. Ada dua klasifikasi pendekatan yaitu analisis teknis (technical analysis) dan analisis fundamental (fundamental analysis) Analisis teknikal meliputi studi harga pasar saham dalam upaya meramalkan gerakan harga pada masa depan. Berdasarkan penilaian bahwa perubahan harga saham mempunyai pola tertentu dan dimungkinkannya terjadi pengulangan pola gerakan harga dimasa depan, maka analisis ini menggunakan data-data nilai saham masa lalu (historis) untuk menentukan trend atau pola gerakan harga saham saat ini. (http://www.dwitra,com diakses 15 Maret 2011) Sedangkan analisis fundamental dimulai dengan pernyataan bahwa nilai intrinsik dari aktiva keuangan dari semua aliran tunai yang diharapkan diterima oleh pemilik asset. Analisis fundamental diawali dengan analisis- analisis ekonomi atau pasar, kemudian analisis industri dan yang terakhir analisis perusahaan. Analisis terakhir tersebut tidak terlepas dari data laporan keuangan perusahaan. Salah satu analisis fundamental yang digunakan para analisis dalam penilaian saham adalah dengan pendekatan Price Earning Ratio (PER). Pendekatan PER tersebut berusaha untuk memformulasikan beberapa variabel fundamental di dalam suatu model untuk menilai saham, dengan cara membandingkan nilai aktual di pasar dengan nilai hasil perhitungan. Rumusan Masalah Dari latar belakang yang telah diuraikan diatas, maka dapat dirumuskan beberapa permasalahan sebagai berikut:

Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi ASIA Malang

56

Jurnal Ilmiah Bisnis dan Ekonomi ASIA

Vol. 5 No. 2. Juni 2011

1.

Apakah variabel-variabel Return On Equity (ROE), Earning Growth (EG), Price Earning Ratio (PER).

dan

Devident Pay Out Ratio (DPR) berpengaruh secara Parsial dan simultan terhadap 2. Dari beberapa variabel yang digunakan dalam model penelitian, variabel manakah yang mempunyai pengaruh dominan terhadap Price Earning Ratio (PER). Tujuan Penelitian 1. Untuk mengetahui apakah Devident Pay Out Ratio Return On Equity (ROE), Earning Growrth (EG), (DPR) berpengaruh secara parsial dan simultan

terhadap Price Earning Ratio (PER). 2. Untuk mengetahui variabel bebas yang mempunyai pengaruh dominan terhadap Price Earning Ratio (PER). Manfaat Penelitian 1. 2. Sebagai bahan pertimbangan dan masukan bagi perusahaan-perusahaan dalam melakukan penilaian saham dengan menggunkan price earning ratio Sebagai media informasi dalam penilaian saham terutama pada pihak-pihak yang terkait (manajer, pemegang saham, investor dan kreditor) dalam melakukan pengambilan keputusan 3. Sebagai bahan referensi bagi pengembangan ilmu pengetahuan, khususnya dibidang manajemen keuangan Landasan Teori Instrumen Pasar Modal Anik Dwi (2006:256) Instrumen pasar modal adalah semua surat-surat berharga (securities) yang diperdagangkan di bursa. Instrumen pasar modal ini umumnya bersifat jangka panjang. Dewasa ini instrumen yang sudah ada di pasar modal terdiri dari saham, obligasi, dan sertifikat danareksa. Di antara ketiga jenis surat berharga tersebut, yang terdapat dan diperdagangkan di bursa efek adalah saham dan obligasi, sedangkan sertifikat diperdagangkan di luar bursa melalui bank pemerintah. Saham a. Pengertian Saham Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi ASIA Malang 57

Jurnal Ilmiah Bisnis dan Ekonomi ASIA

Vol. 5 No. 2. Juni 2011

Saham atau stocks adalah surat bukti atau tanda kepemilikan bagian modal pada suatu perusahaan tertentu. Dalam transaksi jual beli di Bursa Efek, saham diperdagangkan saham tersebut dapat diterbitkan dengan cara atas nama atau atas unjuk. Saham dapat dibedakan antara saham biasa dan saham preferen. b. Penilaian Saham Ada banyak pendekatan dalam menilai atau menganalisis sekuritas, namun pendekatan pendekatan tersebut dapat dikelompokaan dalam dua kelompok, yaitu analisis tehnikal dan analisis fundamental. Analisis tehnikal merupakan analisis sekuritas dengan memperhatikan perubahan harga sekuritas dari waktu ke waktu secara historis sesuai ketentuan permintaan dan penawaran yang membentuk harga saham di pasar. Menurut Sunariyah (2006:87) Analisis tehnikal memiliki karakteristik sebagai berikut : 1. 2. 3. 4. Analisa tehnikal didasarkan pada data pasar yang dipublikasikan. Fokus analisis tehnikal adalah ketepatan waktu dengan titik berat pada perubahan harga. Analisis tehnikal berfokus pada faktor-faktor internal melalui analisis saham tertentu atau saham secara keseluruhan di Bursa. Para praktisi yang menggunakan analisis tehnikal cenderung lebih berkonsentreasi pada jangka pendek karena analisis ini cenderung dirancang untuk waktu yang relatif pendek. Sedangkan analisis fundamental didasarkan pada anggapan bahwa setiap saham memiliki nilai intrinsik. Nilai intrinsik merupakan nilai yang tercermin berdasarkan fakta dan faktor-faktor fundamental seperti : penjualan, pertumbuhan penjualan, kebijakan deviden dan sebagainya. Nilai intrinsik ini dianalisis dengan mengkombinasikan variabelvariabel fundamental ke dalam suatu model. Dengan memperbandingkan nilai instrinsik dengan nilai pasar, pemodal dapat mengambil tindakan investasi yang profitable dengan melakukan jual atau beli saham-saham atau sekuritas yang dianggap menguntungkan. Menurut Panji Anoraga (2005), model yang digunakan dalam analisis fundamental dapat dikelompokkan menjadi tiga pendekatan : a) Pendekatan dividen yield, yaitu analisis harga saham dengan membagi expected dividen per share dengan share price. Pendekatan deviden lain adalah dengan cara Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi ASIA Malang 58 pergerakan

Jurnal Ilmiah Bisnis dan Ekonomi ASIA

Vol. 5 No. 2. Juni 2011

mem -present value-kan perkiraan deviden yang akan digunakan atau disebut juga dividen discounting model. b) Pendekatan Price Earning Ratio (PER) yang mengukur nilai harga saham membandingkan harga saham tahun ke nol dengan earning pada tahun ke satu. c) Pendekatan net tangible asset, yaitu mengukur seberapa jauh setiap saham didukung oleh net tangible asset perusahaan dengan membagi net asset value dengan jumlah saham beredar. Berdasarkan uraian di atas, faktor-faktor yang mempengaruhi nilai Price Earning Ratio (PER) (M. Fakhruddin, 2006) adalah : a) Rasio laba yang dibayarkan sebagai deviden atau deviden payout ratio yang memiliki hubungan positif dengan Price Earning Ratio (PER), sehingga kenaikan DPR akan meningkatkan Price Earning Ratio (PER). b) Tingkat keuntungan yang diharapkan oleh investor atau required rate of return (Ke) yang memiliki hubungan negatif dengan Price Earning Ratio (PER), yang berarti kenaikan Ke akan menurunkan Price Earning Ratio (PER). c) Pertumbuhan deviden atau earning growth yang memiliki hubungan positif dengan Price Earning Ratio (PER), berarti kenaikan g menaikkan Price Earning Ratio (PER). d) Selain itu yang mempengaruhi Price Earning Ratio (PER) adalah hutang. Hipotesis 1 Ho: Diduga variabel Devident Pay Out Ratio (DPR) ,Earning Growth (EG), Laverage Ratio (LR), dan Return On Equity tidak berpengaruh secara parsial dan simultan terhadap Price Earning Ratio (PER). Ha: Diduga variabel Devident Pay Out Ratio (DPR) ,Earning Growth (EG), Laverage Ratio (LR), dan Return On Equity berpengaruh secara parsial dan simultan terhadap Price Earning Ratio (PER). Hipotesis 2 Ho: Diduga variabel Devident Pay Out Ratio (DPR) tidak bertpengaruh dominan terhadap Price Earning Ratio (PER). dengan

Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi ASIA Malang

59

Jurnal Ilmiah Bisnis dan Ekonomi ASIA

Vol. 5 No. 2. Juni 2011

Ha: Diduga variabel Devident Pay Out Ratio (DPR) bertpengaruh dominan terhadap Price Earning Ratio (PER). Metode Penelitian Penelitian ini merupakan explanatory research yaitu suatu penelitian yang dilakukan dengan maksud untuk menjelaskan hubungan satu variabel dengan variabel lainnya, yaitu untuk mengetahui variabel-variabel fundamental apa saja yang mempengaruhi price earning ratio dalam melakukan penilaian saham pada industri otomotif dan komponen yang listing di BEI tahun 2005 - 2009. Sampel penelitian ini sebanyak 3 perusahaan yaitu (1) PT. Astra International Tbk, (2) PT. Astra Otoparts Tbk dan (3) PT. Good Year Tbk Metode Analisis Data dan Uji Hipotesis Analisis data dilakukan dengan analisis statistik deskriptif, sedangkan untuk membuktikan hipotesis yang diajukan dilakukan analisis regresi linier berganda. Adapun fungsi persamaan regresinya adalah sebagai berikut : Y = a + b1X1 + b2X2 + b3X3 + b4X4 + e Dimana : Y : Price Earning Ratio a b : Nilai konstan : Koefisien prediktor variabel bebas ( Koefisien regresi)

X1 : Devident Pay Out Rratio X2 : Earning Growth X3 : Laverage Ratio X4 : Return On Equity e : Standard error Dari persamaan regresi diatas maka dilakukan uji statistik sebagai berikut : a. Uji t Adapun kriteria pengujian hipotesisnya adalah: Apabila t hitung < t tabel, maka Hipotesis Observasi (Ho) diterima dan Hipotesis Alternatif (Ha) ditolak.

Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi ASIA Malang

60

Jurnal Ilmiah Bisnis dan Ekonomi ASIA

Vol. 5 No. 2. Juni 2011

Apabila t hitung > t tabel, maka Hipotesis Observasi (Ho) ditolak dan Hipotesis Altenatif (Ha) diterima. b. Uji F Adapun kriteria pengujian hipotesisnya adalah: Apabila F hitung < F tabel, maka Hipotesis Observasi (Ho) diterima dan Hipotesis Alternatif (Ha) ditolak. Apabila F hitung > F tabel, maka Hipotesis Observasi (Ho) ditolak dan Hipotesis Altenatif (Ha) diterima. Hasil Penelitian A. Deskripsi Variabel Penelitian 1. Variabel Dividend Payout Ratio (X1) Tabel 1 Dividen Payout Ratio Tahun 2005-2009
Nama Perusahaan PT. Astra International Tbk PT. Astra Otoparts Tbk PT. Goodyear Indonesia Tbk Rata-rata 2005 32,64 27,62 (125) -21,7 2006 47,99 16,4 138 67,46 DPR 2007 9,94 15,3 8,51 11,25 2008 38,32 43,6 302,9 128,3 2009 33,47 47,98 7,62 29,69

Sumber : data diolah

2. Variabel Earning Growth (X2)

Tabel 2 Earning Growth


EG 2007 0,76 0,61 0,67 0,679

Tahun 2005-2009
Nama Perusahaan PT. Astra International Tbk PT. Astra Otoparts Tbk PT. Goodyear Indonesia Tbk Rata-rata 2005 0,01 0,244 (1,3) -0,35 2006 -0,32 0,01 -4,8 -1,7 2008 0,41 0,24 -0,98 -0,11 2009 0,09 0,36 146,7 49,03

Sumber : data diolah

Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi ASIA Malang

61

Jurnal Ilmiah Bisnis dan Ekonomi ASIA

Vol. 5 No. 2. Juni 2011

3. Variabel Leverage Ratio (X3) Leverage Ratio Tahun 2005-2009


Nama Perusahaan PT. Astra International Tbk PT. Astra Otoparts Tbk PT. Goodyear Indonesia Tbk Rata-rata

Tabel 3

Sumber : data diolah

2005 0,60 0,38 0,40 0,464

2006 0,54 0,35 0,38 0,423

LR 2007 0,5 0,32 0,48 0,433

2008 0,5 0,3 0,71 0,503

2009 0,45 0,27 0,63 0,45

4. Variabel Return on Equity (X4) Return On Equity Tahun 2005-2009


Nama Perusahaan PT. Astra International Tbk PT. Astra Otoparts Tbk PT. Goodyear Indonesia Tbk Rata-rata

Tabel 4

2005 26,72 17,05 (2,7) 13,69

2006 16,59 15,13 9,03 13,58

ROE 2007 24,18 20,12 14,16 19,49

2008 27,78 21,34 0,27 16,46

2009 25,17 23,94 29,15 26,09

Sumber : data diolah

B. Deskripsi Variabel Terikat Price Earning Ratio (Y) Tabel 5 Price Earning Ratio Tahun 2005-2009
Nama Perusahaan PT. Astra International Tbk PT. Astra Otoparts Tbk PT. Goodyear Indonesia Tbk Rata-rata 2005 7,57 7,73 (45,2) -9,97 2006 17,12 8,00 10,65 11,92 PER 2007 16,95 5,64 12,57 11,72 2008 4,65 4,77 252,5 87,29 2009 13,99 5,77 3,25 7,67

Sumber : data diolah

Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi ASIA Malang

62

Jurnal Ilmiah Bisnis dan Ekonomi ASIA

Vol. 5 No. 2. Juni 2011

C. Pengujian Hipotesis 1. Pengujian Hipotesis I Tabel 6 Hasil Pengujian Korelasi Berganda Antara Variabel Bebas Dengan Variabel Terikatnya Variabel Keterangan R R F hitung F tabel Terhadap Square Terikat Bebas Ho Y X1 X4 0,939 0,882 18.754 3.259 Ditolak

Sumber : Data diolah Berdasarkan dari tabel pengujian korelasi berganda, dapat disimpulkan bahwa pengujian terhadap Ho ditolak. Hal ini seperti ditunjukkan dengan besarnya F hitung sebesar 18.754 lebih besar dari F Tabel (n-k-1) pada tarf nyata ( = 0,05) dan df (4 : 12) sebesar 3.259 Dengan ditolaknya Ho dan diterimanya Ha, berarti secara empiris yang menyatakan variabel bebas mempunyai kecenderungan hubungan positif dan bermakna terhadap variabel terikat, juga diterima. Dengan demikian nilai koefisien determinasi (R) sebesar 0,882 koefisien korelasi berganda (R) 0,939 menunjukkan bahwa variabel dividend payout ratio, earning growth, leverage dan return on equity terhadap price earning ratio mempunyai kecenderungan hubungan yang erat. 2. Pengujian Hipotesis II Tabel 7 Hasil Pengujian Regresi Berganda Antara Variabel Bebas dengan Variabel Terikatnya
Coefisients B 0.736 -0.026 0.269 -0.195 T hitung 5.840 -0.200 1.992 -1.643 T Tabel 1.782 1.782 1.782 1.782 Sig 0.000 -0.846 0.074 0.131 Keterangan Terhadap H0 Ditolak Diterima Diterima Diterima

Variabel Terikat Bebas X1 X2 X3 X4

Sumber : Data diolah Dari perhitungan di atas dapat buat persamaan garis regresi untuk penelitian ini yaitu : Y = -39.910 + 0.736X1 - 0.026X2 + 0.269X3 - 0.131X4 + e Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi ASIA Malang 63

Jurnal Ilmiah Bisnis dan Ekonomi ASIA

Vol. 5 No. 2. Juni 2011

Berdasar hasil uji t dapat diketahui bahwa variabel earning growth, leverage dan return on equity secara parsial berpengaruh tidak signifikan terhadap price earning ratio dan dividend payout ratio secara parsial mempunyai pengaruh signifikan terhadap price earning ratio . Impilkasi Penelitian Hasil penelitian ini memperlihatkan kemampuan dalam melakukan pembayaran dividen yang berbeda-beda, rasio ini yang seringkali dipakai sebagai acuan untuk mengambil keputusan investasi dalam saham. Semakin baik rasio deviden payout ratio menunjukkan bahwa perusahaan mampu menghasilkan laba sehingga secara tidak langsung akan memberikan pengaruh yang positif terhadap price earning ratio perusahaan. Tingginya rasio pembayaran dividen mempunya dampak yang baik bagi perusahaan, karena rasio yang tinggi memperlihatkan perusahaan mampu menghasilkan laba dan perusahaan mampu membayar dividen bagi pemegang sahamnya. Rasio pertumbuhan laba perlembar saham bertujuan untuk mengetahui pertumbuhan laba perlembar saham. Semakin baik rasio earning growth ratio menunjukkan bahwa perusahaan mampu menghasilkan laba sehingga secara tidak langsung akan memberikan dampak yang sangat baik bagi perusahaan. Rasio pertumbuhan laba per lembar saham sangat diminati para investor, karena dengan begitu investor dapat mengetahui berapa harapan yang akan di dapat jika investor menanamkan modalnya pada perusahaan. Jika rasio ini turun maka akan berdampak negatif bagi perusahaan yang terlihat pada sulitnya perusahaan mencari dana segar guna perkembangan perusahaan karena para investor akan berusaha menahan diri untuk investasi pada perusahaan. Rasio leverage memperlihatkan perbandingan total hutang terhadap total modal yang dimiliki oleh perusahaan. Semakin tinggi rasio leverage semakin besar ketergantungan perusahaan terhadap hutang pada pihak luar perusahaan. Semakin tinggi rasio ini akan bedampak negatif bagi perusahaan yang terlihat dari tingginya beban bunga yang harus dibayar dan rendahnya tingkat likuiditas perusahaan. Rasio kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba dari penjualan yang dilakukan pada periode tertentu dapat memberikan gambaran bahwa perusahaan telah mampu menggunakan seluruh sumber modal yang Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi ASIA Malang 64

Jurnal Ilmiah Bisnis dan Ekonomi ASIA

Vol. 5 No. 2. Juni 2011

dimiliki dalam menghasilkan laba,

semakin tinggi rasio ini akan berdampak positif bagi

perusahaan yang memperlihatkan kemampuan perusahaan dalam mendapatkan laba dan mampu menggunakan sumber-sumber modal dengan efisien. Kesimpulan Berdasarkan analisis hasil penelitan yang telah dilakukan, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut: Pengujian korelasi berganda, dapat disimpulkan bahwa pengujian terhadap Ho ditolak. Hal ini seperti ditunjukkan dengan besarnya F hitung dari F Tabel (n-k-1). Dengan ditolaknya Ho dan diterimanya Ha, berarti secara empiris yang menyatakan variabel bebas secara simultan mempunyai pengaruh positif dan bermakna terhadap variabel terikat, juga diterima. Besarnya nilai koefisien determinasi (R) menunjukkan bahwa variabel dividend payout ratio, earning growth, leverage dan return on equity mempunyai kecenderungan hubungan yang erat. Dalam arti variabel bebas yaitu dividend payout ratio, earning growth, leverage dan return on equity mampu menjelaskan pengaruhnya, sedangkan sisanya dipengaruhi oleh variabel bebas lain yang tidak diteliti Hasil uji t menunjukkan bahwa variabel earning growth, leverage dan return on equity pengaruh dan tidak significan terhadap price earning ratio perusahaan. Hal ini terlihat dari tingginya nilai signifikan masing-masing variabel, sedangkan dividend payout ratio mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap price earning ratio. Hasil koefisien regresi parsial dari masing-masing variabel tersebut terhadap price earning ratio, didapatkan bahwa variabel dividend payout ratio (X1) yang memiliki pengaruh dominan terhadap price earning ratio.

DAFTAR PUSTAKA Anonimous, 2005, Indonesian Capital Market Directory, Jakarta: Institute For Economic and Finance Research. Anonimous, 2006, Indonesian Capital Market Directory, Jakarta: Institute For Economic and Finance Research. Anonimous, 2007, Indonesian Capital Market Directory, Jakarta: Institute For Economic and Finance Research. Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi ASIA Malang 65

Jurnal Ilmiah Bisnis dan Ekonomi ASIA

Vol. 5 No. 2. Juni 2011

Anonimous, 2008, Indonesian Capital Market Directory, Jakarta: Institute For Economic and Finance Research. Anonimous, 2009, Indonesian Capital Market Directory, Jakarta: Institute For Economic and Finance Research. Ghozali Imam, 2006, Aplikasi Analisis Multivariate Dengan Program SPSS, Badan Penerbit Universitas Diponegoro, Semarang. Helfert, Erick A, 2006, Teknik analisis keuangan, Edisi Kedelapan, Cetakan Pertama, Jakarta : Erlangga. Husnan, Suad, (2005), Dasar-Dasar Teori Portofolio dan Analisis Investasi, edisi II, UPP AMP YKPN, Yogyakarta Mimi Yanti, 2008, Beberapa Variabel Yang Menentukan Price Earning Ratio (PER) dalam Penilaian Saham-saham Blue Chips di BEI, skripsi tidak dipublikasikan, Malang, Universitas Brawijaya. Muniyanti, 2005, Analisis Lima Variabel Fundamental Yang Menentukan Price Earning Ratio (PER), skripsi tidak dipublikasikan, Malang, Universitas Brawijaya. Panji Anoraga, 2006, Pengantar Pasar Modal, Edisi Revisi, Rineka Cipta, Jakarta. Rusdin, 2006, Pasar Modal : Teori, Masalah, dan Kebijakan dalam Praktek, Bandung: Alfabeta Sapto Rahardjo, 2006, Kiat Membangun Aset Kekayaan, PT. Elex Media Komputindo, Jakarta. Singgih Santoso, 2006, SPSS Versi 10: Mengolah Data Statistik Secara Profesional, PT. Elex Media Komputindo Gramedia, Jakarta. Sinta Ari, 2007, Beberapa Variabel Fundamental Yang Berpengaruh Terhadap Price Earning Ratio (PER), skripsi tidak dipublikasikan, Malang, Universitas Brawijaya. Suharsimi Arikunto, 2006, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik, Jakarta: Rineka Cipta. Sunariyah, 2005, Pengantar Pengetahuan Pasar Modal, UPP AMP YKPN, Yogyakarta. www.dwitra.com.2011 www.kompas.co.id.2011

Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi ASIA Malang

66