Anda di halaman 1dari 21

Jurnal Ilmiah Bisnis dan Ekonomi ASIA

Vol. 5 No. 2. Juni 2011

DISKURSUS POSTMODERISME KEPEMIMPINAN Ike Kusdyah Rachmawati *) Abstraksi Modernitas dianggap lebih menghasilkan kecemasan dari pada kesejahteraan. Dengan demikian, modernisme jelas bukanlah sebuah idealism yang dapat diterima secara utuh. Pemikiran pun bergeser ke arah yang dianggap lebih baik, dan di sinilah postmodernisme mengambil peran utama. Konsep kaum postmodernisme telah membuka sebuah wilayah wacana yang terbuka dan demokratis. Wacana yang telah melahirkan dan membentuk wajah masyarakat kontemporer. Diskursus postmodernisme, merupakan alat analisis sekaligus potret dari masyarakat kontemporer yang memasuki dunia yang tanpa kepastian, tanpa keseragaman, dan dunia yang berputar cepat dengan perubahan-perubahan. Keyword : Postmodernitas, pemimpin *) Dosen jurusan manajemen STIE ASIA malang

DISKURSUS POSTMODERNITAS Berbincang masalah postmodernitas terlintas mendalam tentang kebudayaan postmodern . Konsep kebudayaan postmodern memiliki karakteristik khusus yaitu hilangnya keserbatunggalan, kepastian, dan ke-universalan. Sifat era postmodern itu tampak secara konseptual pada gagasan seperti intertekstualitas dan simulasi. Intertekstualitas berarti ketergantungan suatu teks pada teks-teks sebelumnya. Istilah yang pertama kali digunakan oleh (Kristeva dalam gunawan 1998) menunjukkan bahwa kebenaran tidak berada di luar interaksi antarteks. Terdapat perbedaan aksentuasi makna dan semangat ketika postmodernisme difahami sebagai periode kesejarahan dan mode pemikiran, meskipun keduanya memiliki keterkaitan yang amat erat.Yang pertama mengajak kita untuk memusatkan pada kajian sosiologis terhadap kehidupan masyarakat postmodern, sedang yang kedua pada analisa konseptual-filosofis. Memahami konsep post-modernisme kita memang mudah terjebak dalam berbagai kerancuan perspektif, terutama bila kita hendak sangat nyinyir (baca :kritis) membuat batasan-batasan tegas yang memisahkan antara modernisme dan post-modernisme. Karikatur post-modernisme mudah Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi ASIA Malang 98

Jurnal Ilmiah Bisnis dan Ekonomi ASIA

Vol. 5 No. 2. Juni 2011

bercampur baur dengan substansi isinya yang kompleks. Post-modernisme kerap tumpang tindih dengan post- modernisme dalam perspektif filsafat. Yasraf (1998).Perbin cangan tentang perubahan gaya, dengan pembabakan tersendiri, yang kedua tentang perubahan kerangka dasar pemikiran. Belum lagi pembicaraan pada fenomena kultural, macam kultur kritik atau pun ideologiekritik, juga sering membaur dengan pembicaraan pada wilayah problematika epistemologis, sehingga antara simptom dan substansi, juga antara objek kajian dan paradigma berpikir, terjadi kerancuan yang menyulitkan kita untuk menyiangi duduk perkara tentang kebenaran.Dengan kata lain, kebenaran adalah hasil saling keterkaitan antarteks, di masa lalu, kini, dan masa datang. Simulasi adalah konsep yang dirumuskan oleh Baudrillard (1993 ) ,seorang pemikir Perancis. Apa yang dimaksud dengan simulasi adalah terjadinya suatu proses yang melahirkan fenomena"seolah-olah".Fenomena "seolah-olah" itu sangat jelas tergambar pada kultur kapitalisme mutakhir. Kapitalisme ini dalam mempertahankan daur hidupnya tidak saja menekankan pada proses produksi dan investasi, tetapi lebih menekankan pada mekanisme penciptaan kesan melalui media informasi.Sebagal contoh, banyak iklan yang mengkampanyekan kesan seolah-olah suatu produk kecantikan adalah lambang dari kecantikan alami. Hubungan antara kecantikan alami dan produk kecantikan sebelumnya mungkin tidak dikenal. Namun karena keduanya kerap dihadirkan dalam satu wadah iklan, lambat laun tercipta asosiasi antara keduanya. Pada tahap selanjutnya produk kecantikan tersebut benar-benar dipercaya sebagai representasi kecantikan alami.Fenomena itu menunjukkan bahwa makna yang sebelumnya tidak ada dapat saja diciptakan dan kemudian menjadi benar-benar dipercaya ada. Oleh karena itu Baudrillard ( 1993 ) menyatakan bahwa kini tercipta apa yang disebut simulasi, yaitu ruang pemaknaan di mana tanda-tanda saling terkait tanpa harus memiliki tautan logis. Itulahhiper-realitas.Karakteristik kebudayaan postmodern dengan demikian menggambarkan suatu wacana yang penuh dengan ketegangan, kehilangan kepastian bentuk, makna, dan dasar. Semua karakteristik tersebut adalah sisi lain kebudayaan postmodernisme di mana semuanya menjadi mungkin, semuanya menjadi sah. Penjelajahan konseptual kaum postmodernisme telah membuka sebuah wilayah wacana yang terbuka dan demokratis. Wacana yang telah melahirkan dan membentuk wajah masyarakat kontemporer. Diskursus postmodernisme, merupakan alat analisis sekaligus potret dari masyarakat kontemporer yang memasuki dunia yang tanpa kepastian, tanpa keseragaman, dan Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi ASIA Malang 99

Jurnal Ilmiah Bisnis dan Ekonomi ASIA

Vol. 5 No. 2. Juni 2011

dunia yang berputar cepat dengan perubahan-perubahan.

PARADIGMA POSTMODERN Ephoria tema postmodernisme ini bukanlah tanpa alasan. Sebagai sebuah pemikiran, postmodernisme pada awalnya lahir sebagai reaksi kritis dan reflektif terhadap paradigma modernisme yang dipandang gagal menuntaskan proyek Pencerahan dan menyebabkan munculnya berbagai patologi modernitas.. Rosenau ( 1992) , dalam kajiannya mengenai postmodernisme dan ilmu-ilmu sosial, mencatat setidaknya ada lima alasan penting gugatan postmodernisme terhadap modernisme (Rosenau, 1992: 10). Pertama, modernisme dipandang gagal mewujudkan perbaikan-perbaikan ke arah masa depan kehidupan yang lebih baik sebagaimana diharapkan oleh para pendukungnya. Kedua, ilmu pengetahuan modern tidak mampu melepaskan diri dari kesewenang-wenangan dan penyalahgunaan otoritas keilmuan demi kepentingan kekuasaan. Ketiga, terdapat banyak kontradiksi antara teori dan fakta dalam perkembangan ilmu-ilmu modern. Keempat, ada semacam keyakinan bahwa ilmu pengetahuan modern mampu memecahkan segala persoalan yang dihadapi manusia. Namun ternyata keyakinan ini keliru dengan munculnya berbagai patologi sosial. Kelima, ilmu-ilmu modern kurang memperhatikan dimensidimensi mistis dan metafisis manusia karena terlalu menekankan atribut fisik individu. Dengan latar belakang demikian, modernisme mulai kehilangan landasan praksisnya untuk memenuhi janji-janji emansipatoris yang dahulu lantang disuarakannya. Modernisme yang dulu diagung-agungkan sebagai pembebas manusia dari belenggu mitos dan berhala Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi ASIA Malang 100

Jurnal Ilmiah Bisnis dan Ekonomi ASIA

Vol. 5 No. 2. Juni 2011

kebudayaan abad pertengahan yang menindas, kini terbukti justru membelenggu manusia dengan mitos-mitos dan berhala-berhala baru yang bahkan lebih menindas dan memperbudak. Antecedent demikian, meyakinkan bahwa modernisme mulai kehilangan landasan praksisnya untuk memenuhi janji-janji emansipatoris yang dahulu lantang disuarakannya. Modernisme yang dulu digaungkan sebagai pembebas manusia dari belenggu mitos dan berhala kebudayaan abad pertengahan yang menindas, kini terbukti justru membelenggu manusia dengan mitos-mitos dan berhala-berhala baru yang bahkan lebih menindas dan memperbudak.( Akbar , 1992) Manusia: Persona dan Pemimpin Manusia sebagai individu bersifat tertutup dalam dirinya. Sedangkan persona seringkali diartikan sebagai pribadi yang memiliki sifat terbuka terhadap oranglain dan dunia. Oleh karenanya, individu bersifat unik dan khas serta tidak ada duanya. Dengan Persona, individu bisa bertransaksi dengan individu lain dalam kebersamaan.Oleh Karena itu manusia makin sempurna jika ia bisa menjadikan dua aspek dari satu hal yaitu mempribadi dan Memasyarakat. (Driyakara 2006,285). Maka dalam proses memasyarakat akan selalu muncul konflik sebagai dinamika individu dalam pembentukan dirinya sebagai manusia berkarakter. Selamanya manusia akan ada konflik antara individu dan persona. Serentak manusia adalah makhluk yang berkomunikasi dan membangun kebersamaan didasarkan atas kemampuan dirinya. Untuk membuka dirinya pada orang lain.Transendental adalah elemen yang mendasari penghayatan relasi antar manausia. Proses transcendental tidak berhenti pada saat manusia mentransedental dirinya dengan merengkuh komunikasi dengan sesama manusia, melainkan terus mengalir dengan sumber kepribadian mereka yang disebut pribadi mutlak yaitu Tuhan-Nya Hubungan antara persona idealnya bersifat simetris dan sama. Istilahnya dialog atau komunikasi (Biesta , 1995). Kant telah mengekspresikan asumsinya di balik argument ini secara eksplisit dalamimperatif kategorisnya yang kedua denganmengatakan manusia itu ada sebagai tujuandi dalamdirinya Oleh karena itu manusia dalamsetiapperilakunya Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi ASIA Malang 101

Jurnal Ilmiah Bisnis dan Ekonomi ASIA

Vol. 5 No. 2. Juni 2011

dan tindakanya harus dianggap bukan sebagai alat, namun selalu pada saat yang sama sebagai sebuah tujuan (Kant ,1991) Sayangnya hubungan antar individu dan persona tidak steril dari kekuasaan. Sehingga relasi yang terjadi in-equal. Sebab ini terjadi tidakdi didasarkanpada kekuasaan yang seimbang.Jika ini terjadi, ketdakadilan dan penindasan akan membelenggu kebebasan yang bisa terjadi secara individual (relasi antara pribadi) maupun sistemik structural ( tata aturan yang ada dalam pengorganisasian serta elit politik. Karena itu tugas kita sebagai makhluk bermasyarakat dan berbangsa adalah memanusiakan manusia dengan cara membudaya bersama-sama, mengkritisi corak hubungan relasional kehidupan. Sehingga pendidikan karakter dalam berbangsa memaknai kehidupan setiap individu sebagai mahkluk pribadi dan antar persona. Tercermin pula bila kita muncul dalam sebuah paruh lakon berkarakter pemimpin. Akan terasa berat makna pribadi manakala tidak bisa memilah kekuasan yang berujung materi dan tingkah polah serapah berbudaya yang majemuk dan kelas multicultural. Komunitas moral menjadi sarat makna dalam proses membudaya bersama-sama Pemaknaan Konsep Kepemimpinan dalam hastha brata sebagai warisan luhur budaya bangsa. Dapat dijabarkan bahwa hastha brata atau delapan ajaran keutamaan, seperti yang ditunjukkan oleh sifat-sifat alam. Seorang pemimpin harus berwatak matahari, artinya memberi semangat, memberi kehidupan, dan memberi kekuatan bagi yang dipimpinnya. Harus mempunyai watak bulan, dapat menyenangkan dan memberi terang dalam kegelapan. Memiliki watak bintang, dapat menjadi pedoman. Berwatak angin, dapat melakukan tindakan secara teliti dan cermat. Harus berwatak mendung, artinya bahwa pemimpin harus berwibawa, setiap tindakannya harus bermanfaat. Pemimpin harus berwatak api, yaitu bertindak adil, mempunyai prinsip, tegas, tanpa pandang bulu. Ia juga harus berwatak samudera, yaitu mempunyai pandangan luas, berisi, dan rata. Akhirnya seorang pemimpin harus memiliki watak bumi, yaitu budinya sentosa dan suci. .Memori kolektif kita akan sosok kepemimpinan ,adalah figure yang mampu mengusung berbagai terobosoan. Dua Persoalan yang selalu muncul: 1. Sangat sulit untuk menemukan sosok pemimpinyang tepat dan bersih : memiliki visi, keberanian,integritas, berkorban demi kemaslahatan umat dan menjunjung tinggi moralitas. 2.Mengingat Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi ASIA Malang 102

Jurnal Ilmiah Bisnis dan Ekonomi ASIA

Vol. 5 No. 2. Juni 2011

kompleksitas persoalan kepemimpinan,belum cukup dipahami tentang pola organisasi macamapa yang mampu menumbuhkan sosok pemimpin yang pada gilirannya kemudian mampu memfasilitasi tumbuhnyacritical mass untuk perubahan. Humanisasi kepemimpinan tidak terjadi dalam sebuah ruang hampa, tetapi di dalam sebuah konteks budaya masyarakat . Sosok pemimpin tidak dari sebuah mempribadi.Yaitu tidak lain adalah membentuk diri menjadi sebuah sosok manusia berkarakter.. Oleh karena itu sosok pemimpin sesungguhnya tidak lepas dari pembentukan karakter individu yang akan semakin menegaskan siapa dirinya sebagai subyek yang berperan dengan bebas dan merdeka. Mampu menjadi hamba sahaya dimanaterdapat kemauan untuk merdeka yang pada giliranya mampu meng create perbuatan-perbuatan mereka yang penuh kebebasan. Perilaku merdeka ini diekspresifkan dalam pergumulan hidup yang berakhir dalam tatanan yang disebut dengan transformasi social dalam masyarakat.Manakala proses Mengcreate dinilai dengan tanpa Topo Brotoyang miyayeni maka terjadilah pergumulan kekuasan yang mbalelo tak terdandingi oleh kebenaran hakiki. Karena kekuasan dimaknai sebagai dewa dewa yunani dan hamba sahaya yaitu budak nafsu akan turut serta selalu beriringan. Seperti halnya sepasang kekasih takterpisahkan. Terdapat sebuah Narasi berjudul Me-gatruh Kambuh, merupakan renungan-nya terhadap zaman gelap yang sekarang sedang melanda negeri ini, yang dia sebut (mengutip Ronggowarsito) sebagai zaman Kalabendu, yang antara lain dicirikan oleh hilangnya keadilan dan merajalelanya korupsi, tanpa seorang pun berani menumpas. visi kebudayaan seorang pemimpin sesungguhnya sangat diperlukan, karena pemimpin ialah penentu dan pembawa standar yang memainkan peran inti dalam menanamkan nilai-nilai dan keyakinan. Ia merupakan persona sekaligus personifikasi dan wujud budaya organisasi (negara), dimana sikap, tingkah laku, perkataan, dan keputusankeputusan yang diambilnya jadi dasar untuk diikuti. Wacana demokrasi kerap muncul hanya sebagai fatamorgana dan hanya muncul dalam sebuah wujud kebudayaan.Dimana nilai-nilai hakiki demokrasi terkungkung dalam ikatan kekuasan yang pongah oleh materi dan segilintir orang-orang dengan memoles Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi ASIA Malang 103

Jurnal Ilmiah Bisnis dan Ekonomi ASIA

Vol. 5 No. 2. Juni 2011

kekayaan ragawi kelompok . Demokrasi yang kita kenal dengan demokrasi criminal hanya mengedepankan kemakmuran dan kmewahan kelompok penguasa dan elit elit politik partai penguasa. Demokrasi kriminal ialah demokrasi yang telah dibajak oleh kekuatan uangdan oligarki, sehingga tidak bermanfaat untuk mayoritas rakyat. Demokrasi kriminal hanya meningkatkan kesejahteraan para pejabat negara, baik di eksekutif, legislatif, dan yudikatif., Dalam konteks demokrasi kriminal dan kelemahan kepemimpinan yang fatal, perubahan harus dilakukan untuk mencegah kerusakan dan kemerosotan yang lebih parah. Perubahan adalah solusi dari perangkap demokrasi kriminal, pemerintahan yang lemah, dan bermasalah. Pada titik inilah pemikiran tentang kebudayaan postmodern memiliki arti penting. Perubahan watak dan karakter modernisme dalam tampilannya yang paling kontemporer, telah mendorong lahirnya tanggapan kritis terhadap kebudayaan dewasa ini. Pemikiran kebudayaan postmodern Jean Baudrillard, sebagai salah satu kajian penting paradigma postmodernisme, adalah salah satu kunci untuk memahami pengertian dan watak postmodernisme. Pengertian Postmoderenisme Ada banyak ragam terminologi dan makna istilah postmodern, tergantung pada wilayah pendekatan yang berbeda. Di satu sisi, istilah Postmoderntidak diciptakan sebagai sesuatu yang baru dalam rangka filsafat. Sebelumnya istilah ini sudah cukup lama dipakai dalam bidang kesenian khususnya arsitektur dan kesusastraan, terutama Amerika Serikat. Bahkan seorang filosof Jerman, Rudofl Panwitz(1917), telah menggunakan istilah postmodern yang secara kritis digunakan untuk menangkap adanya gejala nihilisme kebudayaan Baran modern.(Akbar ,1992) Istilah Postmiodernisme bisa menunjuk pada berbagai arti yang berbeda, bisa berarti: Aliran pemikiran filsafati, pembabakan sejarah(erat terkait pada pergeseran paradigma), ataupun sikap dasar/ etos tertentu. Masing-masing membawa konskuensi logis yang berbeda, meskipun bisa saling berkaitan juga. Apabila yang dimaksudkan adalah Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi ASIA Malang 104

Jurnal Ilmiah Bisnis dan Ekonomi ASIA

Vol. 5 No. 2. Juni 2011

aliran filsafat, maka ia menunjuk terutama pada gagasan-gagasan J.F.Lyotard, yang paling eksplisit menggunakan istilah itu. Dan apabila yang dimaksud adalah babakan sejarah baru yang meninggalkan kerangka berpikir modern(postmodern), maka mereka yang paling sibuk memetakannya adalah Charles Jeneks, Andreas Huysen, David Harvey,dll Istilah Postmodernisme muncul untuk pertama kalinya di wiliyah seni. Menurut Hassan dan Jenck istilah ini pertama-tama dipakai oleh Federico de Onis pada tahun 1930an dalam karyanya,Antologi de la poesia Espanola a Hispanoamerican, untuk menunjukkan reaksi yang muncul dari dalam modernism. Kemudian dibidang historiografi oleh Toyn bee dalam a Study of History(1947). Disini istilah itu merupakan kategori yang menjelaskan siklus sejarah baru yang dimulai sejak tahun 1875 dengan berakhirnya dominasi barat, surutnya individualisme, kapitalisme dan kristianitas, serta kebangkitan kekuatan budaya non barat . (Baudrillard ,1983) Ciri Postmodernis Menurut Akbar S. Ahmed, dalam bukunya Postmodernism and Islam , terdapat delapan ciri karakter sosiologis postmodernisme. Pertama, timbulnya pemberontakan secara kritis terhadap proyek modernitas, memudarnya kepercayaan pada agama yang bersifat transenden dan semakin diterimanya pandangan pluralisme-relativisme kebenaran. Kedua, meledaknya industri media massa, sehingga ia seolah merupakan perpanjangan dari system indera, organ dan syaraf manusia. Kondisi ini pada gilirannya menjadikan dunia dan ruang realitas kehidupan terasa menyempit. Lebih dari itu, kekuatan media massa telah menjelma menjadi Agama dan Tuhan baru yang menentukan kebenaran dan kesalahan perilaku manusia. Ketiga, munculnya radikalisme etnis dan keagamaan. Fenomena ini muncul sebagai reaksi manakala orang semakin meragukan kebenaran ilmu, teknologi dan filsafat modern yang dinilai gagal memenuhi janji emansipatoris untuk membebaskan manusia dan menciptakan kehidupan yang lebih baik. Keempat, munculnya kecenderungan baru untuk menemukan identitas dan apresiasi serta keterikatan romantisme dengan masa lampau. Kelima,semakin menguatnya wilayah perkotaan (urban area) sebagai pusat kebudayaan dan sebaliknya, wilayah pedesaan (rural area) sebagai daerah pinggiran. Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi ASIA Malang 105

Jurnal Ilmiah Bisnis dan Ekonomi ASIA

Vol. 5 No. 2. Juni 2011

Pola ini juga berlaku bagi menguatnya dominasi negara maju (Negara Dunia Pertama) atas negara berkembang (Negara Dunia Ketiga).Keenam, semakin terbukanya peluang bagi pelbagai kelas sosial atau kelompok minoritas untuk mengemukakan pendapat secara lebih bebas dan terbuka. Dengan kata lain, era postmodernisme telah turut mendorong proses demokratisasi. Ketujuh, munculnya kecenderungan bagi tumbuhnya ekletisisme dan pencampuradukan berbagai diskursus, nilai, keyakinan dan potret serpihan realitas, sehingga sekarang sulit untuk menempatkan suatu objek budaya secara ketat pada kelompok budaya tertentu secara eksklusif. Kedelapan, bahasa yang digunakan dalam diskursus postmodernisme seringkali mengesankan tidak lagi memiliki kejelasan makna dan konsistensi, sehingga bersifat paradoks.(Jameson,1989) Dari arah berbeda, Baudrillard menyatakan kebudayaan postmodern memiliki beberapa ciri menonjol. Pertama, kebudayaan postmodern adalah kebudayaan uang, excremental culture. Uang mendapatkan peran yang sangat penting dalam masyarakat postmodern. Berbeda dengan masa-masa sebelumnya, fungsi dan makna uang dalam budaya postmodern tidaklah sekedar sebagai alat-tukar, melainkan lebih dari itu merupakan simbol, tanda dan motif utama berlangsungnya kebudayaan. Kedua, kebudayaan postmodern lebih mengutamakan penanda (signifier) ketimbang petanda (signified), media (medium) ketimbang pesan (message), fiksi (fiction) ketimbang fakta (fact), sistem tanda (system of signs) ketimbang sistem objek (system of objects), serta estetika (aesthetic) ketimbang etika (ethic). Ketiga, kebudayaan postmodern adalah sebuah dunia simulasi, yakni dunia yang terbangun dengan pengaturan tanda, citra dan fakta melalui produksi maupun reproduksi secara tumpang tindih dan berjalin kelindan. Keempat, sebagai konsekuensi logis karakter simulasi, budaya postmodern ditandai dengan sifat hiperrealitas, dimana citra dan fakta bertubrukan dalam satu ruang kesadaran yang sama, dan lebih jauh lagi realitas semu (citra) mengalahkan realitas yang sesungguhnya (fakta). Kelima, kebudayaan postmodern ditandai dengan meledaknya budaya massa, budaya populer serta budaya media massa. Kapitalisme lanjut yang bergandengan tangan dengan pesatnya perkembangan teknologi, telah memberikan peranan penting kepada pasar dan konsumen

Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi ASIA Malang

106

Jurnal Ilmiah Bisnis dan Ekonomi ASIA

Vol. 5 No. 2. Juni 2011

sebagai

institusi

kekuasaan

baru

menggantikan

peran

negara,

militer

dan

parlemen.(Harianto, 2001) Pluralisme adalah Ciri utama budaya postmodern. Untuk merayakan pluralisme ini, para seniman postmodern mencampurkan berbagai komponen yang saling bertentangan menjadi sebuah karya seni. Teknik seni yang demikian bukan hanya merayakan pluralisme, tetapi merupakan reaksi penolakan terhadap dominasi rasio melalui cara yang ironis. Buah karya postmodernisme selalu ambigu (mengandung dua makna). Kalaupun para seniman ini menggunakan sedikit gaya modern, tujuannya adalah menolak atau mencemooh sisi-sisi tertentu dari modernisme.

Postmodernisme Merayakan Keanekaragaman Post-modernisme adalah campuran antara macam-macam tradisi dan masa lalu. Post-Modernisme adalah kelanjutan dari modernisme, sekaligus melampaui modernisme. Ciri khas karya-karyanya adalah makna ganda, ironi, banyaknya pilihan, konflik, dan terpecahnya berbagai tradisi, karena heterogenitas sangat memadai bagi pluralisme. Seniman-seniman postmodern sangat berpengaruh bagi budaya Barat masa kini. Pencampuran gaya, dengan penekanan kepada keanekaragaman, dan penolakan kepada rasionalitas menjadi ciri khas masyarakat kita. Ini semakin terbukti dalam banyak ekspresi kebudayaan lainnya. (Rosenau, 1992) Perbedaan modern dengan postmodern Pergeseran dari modern ke posmodernisme memang bukan lah revolusi yang tibatiba, tetapi lebih merupakan sebuah proses yang berlangsung dalam rentang waktu tertentu. Ketidak puasan terhadap hasil era modern tidak terlalu menonjol sampai munculnya ancaman bagi umat manusia yang jelas diketahui bersama, misalnya perang nuklir. Sejak itulah modernitas lebih dianggap menghasilkan kecemasan daripada kesejahteraan. Dengan demikian, modernism jelas bukanlah sebuah idealisme yang dapat diterima secara utuh.

Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi ASIA Malang

107

Jurnal Ilmiah Bisnis dan Ekonomi ASIA

Vol. 5 No. 2. Juni 2011

Pemikiranpun bergeser kearah yang di anggap lebih baik, dan disinilah postmodernisme mengambil peran utama. Postmodernisme secara umum dapat berarti sensibilitas budaya tanpa nilai absolut. Hal ini kemudian membuat jalan bagi pluralism dan keragaman pemikiran. Pada intinya, postmodern, sebagaimana berulangkali dikemukakan oleh Grenz, merupakan reaksi menentang totalisasi pencerahan. Pada saat moderenisme berada pada titik krisis identitas ketika peradapan dengan banyak masalah, postmodern seakan memberikan sebuah studi pandang yang lebih realistis. Masyarakat yang sudah lelah dan putus asa pun segera berpaling untuk mendapatkan rekreasi dari tekanan dan kefrustasian yang ditimbulkan oleh modernitas. Dari sini, kita dapat segera menyimpulkan bahwa memang modernism dan postmodernisme menawarkan perbedaan yang berarti. BentukPostmodernis Pauline M. Rosenau, dalam bukunya Postmodernism and Social Sciences, membedakan postmodernisme menjadi dua bentuk. Pertama, postmodernisme sebagai paradigma pemikiran. Sebagai paradigma pemikiran, postmodernisme meliputi tiga aspek ontologi, epistemologi serta aksiologi. Ketiga aspek dasar ini menjadi kerangka berpikir dan bertindak penganut postmodernisme bentuk pertama Kedua, postmodernisme sebagai metode analisis kebudayaan. Dalam konteks ini, prinsip dan pemikiran postmodernisme digunakan sebagai lensa membaca realitas social budaya masyarakat kontemporer (Baudrillird, 2011) Dari arah yang agak berbeda, Frederic Jameson menyatakan bahwa postmodernisme tak lain adalah konsekuensi logis perkembangan kapitalisme lanjut. Melalui tulisannya Postmodernism or The Cultural Logic of Late Capitalism, Jameson meyakinkan resiko tak terelakkan dari dominasi kapitalisme lanjut yang telah menyempurnakan dirinya, yakni kapitalisme yang telah berubah watak karena telah banyak belajar dari berbagai rongrongan dan kritik. Kapitalisme yang titik beratnya bergeser dari industri manufaktur ke industri jasa dan informasi. Kapitalisme yang, demi kepentingan jangka panjang, secara cerdas mengakomodasikan tuntutan serikat pekerja, kelangsungan hidup lingkungan, dan daya Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi ASIA Malang 108

Jurnal Ilmiah Bisnis dan Ekonomi ASIA

Vol. 5 No. 2. Juni 2011

kreatif/kritis konsumen. Kapitalisme yang mengintegrasikan banyak unsur sosialisme ke dalam dirinya. Kapitalisme yang bekerja dengan prinsip desentralisasi dan deregulasi karena sistem terpusat tak sigap menghadapi perubahan cepat. Kapitalisme yang tidak menawarkan keseragaman gaya/citra kultural karena pasar dan tenaga kerja telah mengalami diversifikasi begitu jauh.(Muzairi, 2009) Bagaimana proses "dekonstruksi" postmodernisme telah mengubah mitos rasionalisme dan keteraturan kebudayaan modernisme. Dekonstruksi itu rasionalisme dan keteraturan kebudayaan modernisme. Dekonstruksi itu melahirkan sebuah wajah kebudayaan yang plural, dipenuhi oleh berbagai tanda-tanda yang saling tumpang-tindih, dan pemaknaannya berubah-ubah secara cepat.Konsep kebudayaan postmodern memiliki karakteristik khusus yaitu hilangnya keserbatunggalan, kepastian, dan ke-universalan. Sifat era postmodern itu tampak secara konseptual pada gagasan seperti intertekstualitas dan simulasi. Pada umumnya orang menyebut mitis-magis untuk hal-hal tradisional yang irasional. Karena itu secara radikal sering dikatakan bahwa dunia mitis-magis bukan merupakan realitas dalam pengertian modernisme. Berdasarkan idealisme Harvey (1996) yang menandai secara khas realitas modern bahwa yang riil adalah rasional, dan yang rasional adalah riil, maka irasionalitas bukan realitas hidup manusia yang sesungguhnya. Karena itu kepercayaan atau keyakinan akan hal-hal yang irasional adalah sia-sia Dalam pandangan modernisme irasionalitas secara radikal adalah musuh humanisme. Hal ini mula-mula bertolak dari kesuksesan manusia dalam memecahkan berbagai misteri dunia dan alam semesta. Kesuksesan itu ditopang oleh daya rasio manusia yang olehnya manusia mampu memahami fenomena-fenomena yang ada disekitarnya. Dengan begitu banyaknya fenomena (diri, dunia dan alam semesta) yang terpecahkan maka manusia modern membuat kesimpulan bahwa di dunia ini tidak ada lagi hal-hal yang tidak dapat dipahami oleh rasio. Karena itu nilai yang tertinggi dalam hidup manusia adalah rasionalitas, dan rasionalitas itu tidak berada di tempat lain selain pada diri manusia itu sendiri. Berdasarkan hal ini maka keyakinan dan minat pada hal-hal yang bersifat mitismagis merupakan penyangkalan terhadap nilai humanism yang tertinggi yakni rasionlaitas. Kritik utama postmodernisme atas modernisme adalah penekanan yang terlampau dominan atas peranan rasio. Kritik seperti ini nampak misalnya dalam padangan Nietzsche. Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi ASIA Malang 109

Jurnal Ilmiah Bisnis dan Ekonomi ASIA

Vol. 5 No. 2. Juni 2011

Menurutnya, manusia dalam pengertian modernisme pincang. Keutuhan manusia belum tercapai kalau manusia hanya mengandalkan rasionya. Justru dominasi peran rasio membuat hidup manusia itu pincang, karena dengan patokan rasionya manusia mengabaikan daya-daya manusiawinya yang lain, seperti naluri dan kehendaknya. Dengan menempatkan rasio sebagai patokan nilai-nilai hidup maka modernisme juga mengandung tendensi untuk merepresi daya-daya manusiawi yang lain. Dengan kata lain modernisme yang berwajah rasionalisme justru melahirkan pribadi-pribadi yang pincang, dengan demikian hal itu merupakan sebuah penyangkalan terhadap humanisme itu sendiri. Dalam karyanya The Will to Power, ia menunjukkan pandangan radikalnya yang anti-idealis. Sikap inilah yang secara khusus menarik perhatian para pemikir postmodern, (John Lechte, 50 Filsuf Kontemporer (Yogyakarta : Kanisius, 2001), hal. 330) dan mungkin menjadi salah satu alasan mengapa Nietzschedianggap sebagai bapak filsafat postmodern. Dengan pandangannya ini Nietzsche membuka kemungkinan bagi manusia untuk menerima dalam dirinya juga hal-hal irasional di samping hal-hal yang rasional. Selain kritik atas dominasi rasio, tema kritik postmodernisme atas modernisme juga ialah tentang metanarasi. Kritik atas metanarasi nampak dalam pemikiran Lyotard. Metanarasi merupakan cirikhas filsafat modern. Filsafat modern diwarnai oleh kecenderungan untuk mencari sebuah prinsip yang satu dan sama yang mendasari semua realitas di mana saja. Modernisme ditandai oleh munculnya sekian banyak pemikiran cenderung menampilkan dirinya sebagai prinsip yang olehnya sekalian umat manusia di muka bumi ini dapat memahami realitasnya. Dengan kata lain modernisme hendak membawa manusia kepada satu cara pemahaman yang sama terhadap seluruh realitas di mana saja. Namun apa yang dinamakan metanarasi dalam modernisme sebenarnya merupakan hasil refleksi atas realitas masyarakat Eropa. Di sinilah postmodernisme melihat bahwa justru dalam usaha penyatuan ini modernisme menyangkali realitas dunia yang plural. Yang lebih buruk lagi ialah bahwa dengan usaha penyatuan itu modernisme sebenarnya melakukan tindakan represif, karena prinsip (metanarasi) itu dipaksakan pada realitas-realitas di luar Eropa. Salah satu metanarasi yang paling umum ialah rasionalitas. Dengan metanarasi rasionalitas modernisme cenderung mengabaikan sejumlah realitas. Hal ini nampak misalnya pada pengeliminasian sejumlah budaya lokal dan tradisional karena dianggap irasional. Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi ASIA Malang 110

Jurnal Ilmiah Bisnis dan Ekonomi ASIA

Vol. 5 No. 2. Juni 2011

Bertolak dari pokok-pokok kritik postmodernisme atas modernisme di atas ditemukan fenomena dalam masyarakat dengan munculnya sinetron-sinteron bertema mitis-magis. Pada umumnya postmodernisme dipahami sebagai pengalaman akan pluralitas secara radikal. Pengalaman ini mengungkapkan nilai positivitas dalam postmodernisme, yaitu bahwa pluralitas realitas adalah sebuah kenyataan yang paling riil dan fundamental. Dengan demikian setiap usaha untuk menyatukan realitas dan menempatkannya dalam suatu sistem pemahaman yang sama adalah sebuah penyangkalan terhadap realitas itu sendiri. Selain itu setiap usaha penyatuan selalu mengandaikan sebuah prinsip atau metanarasi. Namun dalam kenyataan sebenarnya tidak ada metanarasi yang sungguh-sungguh riil. Dengan kata lain tidak ada sebuah metanarasi yang sesungguhnya, seperti halnya tidak ada roh absolut yang darinya segala realitas itu lahir dan berkembang (teleologi roh). Karena itu metanarasi sebetulnya adalah ciptaan manusia, khususnya kecenderungan mengabsolutkan hal-hal yang sebetulnya bersifat kontingen. Kecenderungan itu lahir karena dominasi satu tipe rasio atas tipe-tipe rasio yang lain. Adalah tidak layak menjadikan salah satu hal yang kontingen sebagai patokan untuk mengukur realitas kontingen lainnya. Menempatkan salah satu hal yang kontingen sebagai patokan untuk hal-hal kontingen yang lain cenderung bersifat represif karena untuk itu ia niscaya mengatasi yang lain. Dalam pembicaraan tentang kebudayaan, kenyataan yang paling fundamental adalah pluralitas kebudayaan. Pluralitas itu mesti dialami secara radikal untuk menghindari terjadinya setiap betuk represi terhadap suatu budaya oleh budaya tertentu. Setiap usaha untuk menyatukan semua kebudayaan adalah sebuah usaha yag tidak terpuji, karena hal itu selalu mengandaikan adanya sebuah metanarasi, dalam hal ini kita mengakui adanya suatu metabudaya yang mengatasi budaya-budaya yang saling berbeda. Menyatukan semua kebudayaan selalu dimulai dengan mengamati kebudayaan itu berdasarkan metabudaya, kemudian mengeliminasikan unsur-unsur yang berbeda demi kesatuan yang harmonis. Pengeliminasian adalah sebuah tindakan represi dan ketidakadilan. Dalam konteks pemahaman ini kita dapat mengatakan bahwa kehadiran tema-tema mitis-magis dan supranatural adalah sebuah bentuk perlawanan dan ketidakpercayaan terhadap metanarasi. Irasionalitas yang terkandung dalam sinetron-sinetron mitis-magis hendak menjatuhkan dominasi rasionalitas yang merupakan metanarasi yang paling besar Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi ASIA Malang 111

Jurnal Ilmiah Bisnis dan Ekonomi ASIA

Vol. 5 No. 2. Juni 2011

dalam modernisme. Dengan menjatuhkan dominasi rasionalitas sebagai metanarasi berarti postmodernisme berusaha untuk menempatkan kembali kebudayaan-kebudayaan tradisional sebagai kebudayaan-kebudayaan yang khas dan otonom, yang oleh modernisme tidak diakui sebagai kebudayaan karena dianggap irasional. Maka hadirnya tema mitismagis dalam dunia sinetron dapat disebut sebagai gejala postmodern sejauh pengangkatan tema itu bertujuan untuk kembali kepada pilihan-pilihan tradisional, pada nilai-nilai regional, serta pada subyektivitas. (Lyotard berbicara banyak tentang pluralitas tipe-tipe ratio. Dengan ini ia menunjukkan bahwa rasionalitas modernisme hanyalah salah satu dari tipe-tipe rasio. Rasionalitas modernisme adalah tipe rasio pada masyarakat atau kebudayaan Eropa. Karena itu sinetron-sinetron mitis-magis yang diangkat dari kisah-kisah dan realitas dalam kebudayaan-kebudayaan tradisional di Indonesia dapat dilihat dalam konteks tipe rasio masyarakat atau kebudayaan bersangkutan. Rasionalitas modern bukan merupakan patokan untuk menilai tipe-tipe rasio yang lain, karena dengan demikian ia bertindak represif atas tipe-tipe rasio yang lain. Selain itu kita juga dapat memahami gejala ini berdasarkan pemikiran Nietzsche. Perkembangan diri manusia yang melulu berpedoman pada rasio akan menghasilkan diri manusia yang pincang. Dengan menjadikan hukum-hukum rasionalitas sebagai patokan dan titik tolak untuk mengembangkan diri kita mengabaikan aspek-aspek diri manusia lainnya, misalnya naluri, emosi, kehendak, dan lain-lain. Aspek-aspek itu tidak selamanya dapat dipecahkan oleh daya akal budi dan seringkali sulit dikontrol oleh akal budi. Dengan ini sudah seharusnya dipahami bahwa hal ini merupakan tanda dari keterbatasan ruang berfungsinya rasio kita, bahwa rasio hanyalah salah satu dari sekian banyak aspek dalam diri kita. Dengan ini Nietzsche membuka kemungkinan untuk menyadari dan mengakui kembali daya-daya mausiawi kita yang dari segi rasio bersifaat irasional, tetapi dalam otonominya turut memberikan andil bagi pembentukan diri yang utuh. Ubermensch-nya Nietzschekemudian dimengerti sebagai suatu keadaan diri di mana segala dorongan yang muncul dari dalam diri, baik yang rasional maupun yang irasional, diakomodasikan dan diberi ruang perwujudannya. Berkaitan dengan hadirnya sinetron mitis-magis, kita dapat berbicara dari dua pihak yakni pada pihak pembuat sinetron dan pihak penikmat atau penonton. Pada pihak pembuat Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi ASIA Malang 112

Jurnal Ilmiah Bisnis dan Ekonomi ASIA

Vol. 5 No. 2. Juni 2011

sinetron gejala ini merupakan suatu tanda kemajuan dalam kesadaran mereka akan dayadaya yang ada dalam diri mereka sendiri. Menulis cerita-cerita dan merancang adeganadegan mitis-magis merupakan tanda pembebebasan dari kungkungan dan dominasi tipe rasio modern yang membatasi kreativitas mereka. Di sini daya-daya manusiawi mereka menemukan kanal untuk diekspresikan. Pada sisi penikmat kita dapat mengatakan bahwa sinetron-sinetron mitis-magis dapat menjawabi minat dan naluri-naluri akan hal-hal yang irasional. Bukan semata karena irasionalitas, tetapi karena dominasi rasionalitas membuat mereka terkekang dalam hukum-hukum rasional teknis. Di tengah dunia kerja yang serba teknis, terbatas pada cara-cara kerja yang ketat dengan penggunaan teknologi yang sarat perhitungan matematis yang ketat, manusia mengalami kelelahan dan kepenatan batin serta pikiran. Karena itu hal-hal yang irasionalitas akan sangat dibutuhkan untuk menyeimbangkan tekanan hukum-hukum rasionalitas di tempat kerjanya. Tayangan adegan-adegan mitis-magis akan dinikmati sebagai hiburan yang menyenangkan bagi orang-orang yang kelelahan. Dengan kata lain tayangan-tayangan sinetron yang bersifat mitis-magis menimbulkan suatu gaya hidup postmodern di mana orang menikmati sinetronsinetron itu sebagai hiburan untuk menyeimbangkan aktivitas kerja yang sangat sibuk. Postmodernisme pada dasarnya tidak meninggalkan sama sekali modernisme. Dalam hal kritiknya atas dominasi peran rasio, postmodernisme hanya mengeritik soal dominasi-nya rasio sambil menempatkan daya-daya lain di samping rasio. Dominasi rasio harus dikritik sebab rasionalisme modern-lah yang merupakan cikal bakal lahirnya berbagai praktek penindasan. Dominasi peran rasio menjadi dasar legitimasi superioritas suatu budaya atas budaya-budaya lain, dengan demikian melegitimasikan pula berbagai praktek penindasan terhadap budaya-budaya tertentu oleh suatu budaya. Pemahaman seperti ini akan membawa kita lebih dekat kepada realitas yang paling sejati dan fundamental yaitu pluralitas. Kita tidak hanya sekedar melihatnya, tetapi juga menghayatinya sebagai bagian dari realitas hidup kita sendiri. Di samping itu modernisme juga perlu dikritik supaya kita bisa memahami kembali hubungan yang benar antara rasio, kehendak, naluri, dan lain-lain, yaitu bahwa hubungan itu tidak bersifat subordinatif. Perkembangan manusia yang utuh mesti ditempuh dengan memperhatikan dan mengakomodasikan berbagai macam dorongan dari daya-daya Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi ASIA Malang 113

Jurnal Ilmiah Bisnis dan Ekonomi ASIA

Vol. 5 No. 2. Juni 2011

manusiawi kita. Demikian juga halnya kalau dorongan akan hal-hal yang irasional menjadi dominan. Yang mesti kita perhatikan ialah bahwa perkembangan manusia selalu mengandaikan suatu tujuan pemenuhan yang masih harus ditunda. Meski demikian kita dapat merasakan saat ini gangguan-gangguan yang dapat menghalangi kita untuk mencapai pemenuhan itu. Meretas Korupsi dari Kebudayaan Sejak jaman kerajaan hingga masa posmodern ini tantangan terbesar bagi pejabat negara adalah hidup bersih. Tidak hanya harta yang didapat, tetapi juga cara hidup dan pergaulan pejabat negara menjadi suatu titik teladan bagi rakyat yang dipimpin. sumpah Palapa yang di teguhkan oleh patih Gajahmada , diabadikan dalam prasasti peninggalan Majapahit, ataupun mantan Presiden Soekarno dengan pidato-pidatonya yang dikemudian hari banyak menginspirasi banyak pihak, mengerucutkan persepsi kita akan prilaku pejabat yang tidak hanya pemimpin tetapi merupakan sosok Bapak bagi rakyatnya. Prilaku korupsi pejabat tentu menorehkan luka mendalam bagi rakyat, apalagi bila seorang pejabat dipilih langsung oleh rakyat. Korupsi merupakan kutukan besar bangsa ini, tak pernah hilang dan ditengarai semakin menggila dengan fenomena gunung es. Korupsi menjadikan bangsa Indonesia tak kunjung lepas dari masalah-masalah ekonomi dan tentu saja- moral. Korupsi menjadi yang tak terbantahkan, bahkan proklamator RI bung Hatta berujar korupsi disini telah merupakan kebudayaan. Penggunaan istilah kebudayaan untuk menggambarkan korupsi yang telah mengakar tentu saja sangat ironi karena kebudayaan identik dengan keindahan dan kesenian. Ini bukanlah suatu pembenaran historis, meskipun korupsi memang telah dikenal sejak tahun 463 SM ketika Pericles menyeret rivalnya Kimon, seorang negarawan masyur Athena dengan cara menyuap hakim. Korupsi selalu gagal ditaklukkan karena ancaman hukuman lebih rendah dari hasil yang didapat. Dengan jaringan distribusi yang luas, korupsi memiliki batas yang tipis dengan hukum. Rakyatpun seolah mendukung dengan membiarkan pejabat-pejabat daerah, dan penegak hukum melakukan pungli di setiap sektor pelayanan, dengan dalih basi, biaya administrasi.Jatuh bangunnya lembaga pemberantasan korupsi, Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi ASIA Malang 114

Jurnal Ilmiah Bisnis dan Ekonomi ASIA

Vol. 5 No. 2. Juni 2011

sejak Orde Lama dengan operasi Budhi-nya, Tim Pemberantasan Korupsi (TPK) di masa Orde Baru, hingga Komisi Pengawas Kekayaan Pejabat Negara (KPKPN) yang akhirnya melebur dalam KPK dewasa ini menunjukkan parameter yang rendah demi keseriusan pemerintah memberantas korupsi. KPK pun masih dituding tebang pilih dalam menjalankan tugasnya. Sebuah jalan yang panjang bagi setiap masa pemerintahan untuk membersihkan lembaga pemerintah dari korupsi, dimana setiap pergantian pucuk pimpinan selalu berganti kebijakan.Indonesia memang telah memiliki berbagai payung hukum untuk pemberantasan korupsi, tetapi ini hanya akan menjadi mandul bila sistem kapitalisme tetap dijadikan patokan bagi prilaku politik para elitenya. Hukum dibuat oleh lembaga yang notabene terdeteksi sebagai lembaga dengan tingkat korupsi yang tinggi. Hukum menjadi bak istana kardus seperti di dalam kisah epos Mahabarata yang indah tetapi mudah terbakar. Dalam tulisan ini, solusi yang ditawarkan, merupakan suatu solusi akhir dari pemberantasan korupsi, atau yang menurut Soyomukti (2007) telah terdikotomi dalam dua tipe, Moral dan Radikal . Solusi yang tak tersentuh, adalah bagaimana meretas korupsi dari kebudayaan menjadi kejahatan bersama .Solusi moral, tidak akan pernah berhasil dengan gemilang di dalam sebuah negara dengan prinsip sekuler seperti Indonesia dewasa ini. Agama sebagai penjaga moral bangsa, hanya dikaji di dalam rumah ibadah, tetapi tak pernah di implementasikan dalam suatu kebijakan yang benar-benar bermoral. Bahkan terkesan, moral bukanlah hak negara, tetapi hak masing-masing individu. Meretas korupsi dari kebudayaan memang bukanlah perkara membalikkan telapak tangan. Karena kebudayaan tumbuh dari dinamika masyarakat dan berjalan dengan rentang waktu yang panjang. Individu-individu yang hidup sekarang, adalah individu yang lahir dengan kondisi yang carut-marut, dan telah tertanam dalam setiap kognitif individu akan kebiasaan masyarakat di lingkungannya. Budaya adalah warisan, dan di setiap sejarah dunia, budaya hanya akan berganti bila muncul seorang Pioneer yang mampu menjadi trend setter untuk mengubah pola prilaku masyarakat. Tentu saja terlalu sulit mencari sosok ini pada seorang individu saja, sebagaimana Nabi Muhammad SAW ataupun akan datangnya Imam Mahdi. Perilaku yang sehat, yang dimulai dari para eksekutif pusat mungkin akan memberikan Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi ASIA Malang 115

Jurnal Ilmiah Bisnis dan Ekonomi ASIA

Vol. 5 No. 2. Juni 2011

dampak yang signifikan terhadap perubahan cara pandang masyarakat terhadap korupsi. Selama ini masyarakat selalu yang terabaikan, dan kebijakan pemerintah selalu saja menekan rakyat bawah, dimana harapan masyarakat akan seorang Bapak yang bisa mengayomi dan memberi contoh menjadi suatu pepesan kosong. Perubahan paradigma feodalisme bukanlah yang utama, tetapi perubahan sikap dari orang-orang yang dianggap Bapak inilah yang bisa diharapkan. Dalamkultur Masyarakat Indonesia hingga kini masih berharap tetap ada sosok yang menjadi panutan, dimulai dari figure Presiden sebagai pemimpin sampai dengan tokoh kyai yang disanjung masyarakat tak lepas dari kritikan. Hal ini pun harus didukung oleh pencerdasan rakyat tentang calon-calon pemimpin yang akan dipilihnya, sehingga rakyat mampu memilih secara subyektif dan tidak hanya karena fanatik terhadap partai yang mengusungnya. Program-program yang digemborkan dalam kampanye baik pembangunan maupun pemberantasan korupsi harus ditulis dalam perjanjian dengan perkuatan kedua belah pihak, calon pemimpin dan rakyat (ataupun mahasiswa sebagai wakil rakyat, kaum intelektual dan pengusung idealisme kampus). Perubahan kebijakan, sikap politik, dan prilaku tidak serta merta meminimalkan korupsi, tetapi perubahan cara pandang masyarakat terhadap ketidak berdayaan mereka mengahadapi koruptor-koruptor akan menciptakan keberanian dalam mengusung program pemberantasan korupsi yang dicanangkan KPK, lihat lawan dan laporkan.Keberanian masyarakat dalam lihat lawan dan laporkan pun juga sangat tergantung bagaimana mentalitas eksekutif pusat dalam menyikapi laporan laporan dari masyarakat. Tanpa tindak lanjut yang konkret, sudah pasti pemberantasan korupsi hanya akan jalan di tempat saja. Kesimpulan Postmodernisme merupakan sebuah ikhtiar yang tidak pernah berhenti untuk mencari kebenaran, eksperimentasi dan revolusi kehidupan secara terus-menerus. Postmodernisme adalah sebuah gerakan global renaissance atas renaissance, pencerahan atas pencerahan. Dalam perspektif yang demikian, Postmodernisme diartikan sebagai ketidakpercayaan terhadap segala bentuk narasi besar, penolakan filsafat metasentris, filsafat sejarah dan segala bentuk pemikiran yang mentotalisasi, seperti Hegelianisme, Liberalisme, Marxisme atau apa pun. Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi ASIA Malang 116

Jurnal Ilmiah Bisnis dan Ekonomi ASIA

Vol. 5 No. 2. Juni 2011

Postmodernisme pertama kali muncul dalam wilayah seni, kemudian berkembang dalam segala bidang seperti halnya di bidang historiografi, bidang arsitektur, di bidang sosial ekonomi dan masih banyak lagi bidang-bidang yang lain. Sampai istilah postmodernisme dilembagakan dalam konstelasi pemikiran kefilsafatan oleh Francois Lyotard dalam bukunya The Postmodern Condition: A Report On Knowledge. Ketidakpuasan terhadap hasil era modern tiidak terlalu menonjol sampai munculnya ancaman bagi umat manusia yang jelas diketahui bersama. Sejak itulah modernitas dianggap lebih menghasilkan kecemasan dari pada kesejahteraan. Dengan demikian, modernisme jelas bukanlah sebuah idealism yang dapat diterima secara utuh. Pemikiran pun bergeser ke arah yang dianggap lebih baik, dan di sinilah postmodernisme mengambil peran utama. Yang perlu dicermati dalam pemikiran bangsa Indonesia adalah Perubahan pardigma dan pola pikir tentang budaya Pemimpin yang salah kaprah dalam rezim lama sampai saat ini. Sehingga kekuasaan yang terlalu besar akan sarat dengan penyalahgunaan wewenang ,sehingga bom waktu akan kehancuran moral dekadensinya tinggal menunggu waktu. DAFTAR PUSTAKA Ahmed,Akbar, Postmodernism and islam, (New York: Routledge,1992) Ahmad Sahal, 1994, Kemudian Dimanakah Emansipasi ? Tentang Teori Kritis, Genealogi dan Dekonstruksi, dalam Jurnal Kebudayaan Kalam Edisi 1, Jakarta. Ahmed, Akbar, S., 1992, Postmodernism and Islam, Routledge, New York. Baudrillard, Symbolic Exchange and Death, makalah tidak diterbitkan, 1993 Baudrillard, Jean, 1983, Simulations, Semiotext(e), New York Frederic Jameson, Postmodenism or The Cultural Logic of Late Capitalism, 1989 Harianto,GP, Postmodernisme dan Konsep Kekristenan, Jurnal Pelita Zaman.vol.1 nomor 15,2001 Harvey, David, 1996. The Condition of Postmodernity: An Enquiry into the Origins ofCultural Change. Cambridge: Blackwell Pub. Inc. Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi ASIA Malang 117

Jurnal Ilmiah Bisnis dan Ekonomi ASIA

Vol. 5 No. 2. Juni 2011

Harvey, David, 1996. The Conditions of Postmodernity dalam Joice Appleby et al., (eds.) Knowledge and Postmodernisme in Historical Perspective. New York:Routledge. Jencks,Charles, The Language of Post-Modern Architecture, 4th ed. ,London: Academy Editions, 1984 Jean Baudrillard, Birahi, diterjemahkan oleh Ribut Wahyudi, dari judul aslinya "Seduction", St Martins Press New York 1990, Bentang Yogyakarta, 2000 Jean Baudrillird, Kelahiran Postmodern, makalah tidak diterbitkan, 2011 Kant, Immanuel. 2005. Kritik Atas Akal Budi Praktis. Diterjemahkan dari judul Critique of Practical Reason (1956) oleh Nurhadi. Yogyakarta: Penerbit Pustaka Pelajar. Lyotard, Jean , The Postmodernisme and Condition, A Report on Knowledge, Oxford:Manchester University press,1984 Muzairi, Filsafat Umum,(Yogyakarta: Teras, 2009) Nurani Soyomukti, Moral dan Radikal (Jawa Pos 01/02/07). Lechte, John, 1994, Fifty Key Contemporary Thinkers, From Structuralism to Postmodernism, Routledge, London. Piliang, Yasraf, Amir, 1998, Sebuah Dunia Yang Dilipat: Realitas Kebudayaan Menjelang Milenium Ketiga dan Matinya Postmodernisme, Mizan, Bandung. Paulina M.Rosenau, Postmodernism and social Science,makalah tidak diterbitkan, 1992 Radhar Panca Dahana, Jejak Posmodernisme Yogyakarta : Bentang, 2004, hal. 30.) Rosenau, Pauline M., 1992, Postmodernism and Social Sciences: Insight, Inroads, and Intrusion, Princeton University Press, Princeton. Sugiarto,Bambang,Foucault dan Postmodernisme, Makalah tidak diterbitkan, 2011 Santoso,Listiyanto dkk,Epistimologi kiri(Jogjakarta; Teras, 2009)

Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi ASIA Malang

118