Anda di halaman 1dari 116

Aplikasi Sistem Informasi Geografi untuk Pemodelan Spasial Kasus Tuberkulosis (TB) Paru BTA (+) di Wilayah Kota

Samarinda Triwulan I Tahun 2010

Oleh: PURIANINGSIH NIM: 06.55235.00401.10

FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT UNIVERSITAS MULAWARMAN SAMARINDA 2011

Aplikasi Sistem Informasi Geografi untuk Pemodelan Spasial Kasus Tuberkulosis (TB) Paru BTA (+) di Wilayah Kota Samarinda Triwulan I Tahun 2010

SKRIPSI Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh Gelar Sarjana Kesehatan Masyarakat Pada Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Mulawarman

OLEH: PURIANINGSIH NIM. 06.55235.00401.10

FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT UNIVERSITAS MULAWARMAN SAMARINDA 2011

HALAMAN PENGESAHAN

Nama NIM Program Studi Jurusan Judul

: Purianingsih : 06.55235.00401.10 : Ilmu Kesehatan Masyarakat : Ilmu Kesehatan Masyarakat : Aplikasi Sistem Informasi Geografi untuk Pemodelan Spasial Kasus Tuberkulosis (TB) Paru BTA (+) di Wilayah Kota Samarinda Triwulan I Tahun 2010

Telah Dipertahankan Dihadapan Dewan Penguji dan Dinyatakan Lulus Pada Tanggal 22 Maret 2011 Dewan Penguji Pembimbing I Pembimbing II

Ike Anggraeni, SKM, MKes NIP. 19781221 200604 2 001 Penguji I Penguji II

Risva, SKM, MKes NIP. 19780618 200501 1 001 Penguji III

Drs. Ismail, AB, MKes NIP. 19591231 198503 1 027

Siswanto, SPd, MKes NIP. 19740918 200501 1 002

Ali Suhardiman, SHut, MP NIP. 19760626 200501 1 001

Mengetahui, Dekan FKM Universitas Mulawarman

Dra. Hj. Sitti Badrah, MKes NIP.19600727 199203 2 002

FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT UNIVERSITAS MULAWARMAN SAMARINDA 2011 ABSTRAK PURIANINGSIH Aplikasi Sistem Informasi Geografi untuk Pemodelan Spasial Kejadian Tuberkulosis (TB) Paru BTA (+) di Wilayah Kota Samarinda Triwulan I Tahun 2010 Penyakit tuberculosis merupakan salah satu masalah kesehatan bagi bangsa Indonesia dan dunia. Pada tahun 2008 di Kota Samarinda terdapat 454 kasus baru dan di tahun 2009 menurun menjadi 433 kasus baru, namun pada triwulan I Tahun 2010 didapatkan data 218 kasus TB Paru BTA (+) dengan kasus baru berjumlah 104 kasus. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran sebaran kejadian TB Paru BTA (+), mengetahui hubungan kepadatan penduduk, kemiskinan, dan akses ke fasilitas pelayanan kesehatan dengan kejadian TB Paru BTA (+). Desain penelitian ini merupakan Geographical epidemiologi yaitu bentuk penelitian secara deskripsi menjelaskan mengenai penyebaran penyakit, tingkat kesakitan dan kematian dalam suatu wilayah. Pengambilan sampel menggunakan purposive sampel dengan mengacu pada kriteria inklusi dan eksklusi sehingga didapatkan 78 sampel dari total populasi 218 kasus. Jenis data yang dikumpulkan adalah data primer dan data sekunder. Pengolahan data dilakukan dengan menggunakan aplikasi pengolah data geografi. Hasil penelitian pada peta menunjukkan dari 6 kecamatan sebaran kasus TB Paru BTA (+) paling banyak di Kecamatan Samarinda Utara berjumlah 20 kasus dan paling sedikit di Kecamatan Samarinda Ulu berjumlah 7 kasus. Kecamatan Samarinda Ulu merupakan kecamatan dengan kepadatan penduduk tinggi, sehingga dapat dikatakan bahwa kepadatan tidak berkaitan dengan kasus TB Paru BTA (+), sedangkan Kecamatan Samarinda Utara merupakan kecamatan dengan angka kemiskinan paling tinggi banyak ditemukan kasus, sehingga dapat dikatakan bahwa kemiskinan berkaitan dengan TB Paru BTA (+). Akses ke fasilitas pelayanan kesehatan berkaitan dengan penemuan TB Paru BTA (+) sebab semakin jauh dari fasilitas pelayanan kesehatan maka sulit bagi petugas kesehatan dalam mencari orang-orang yang beresiko TB Paru maupun menjadi hambatan bagi penderita selama proses pengobatan. Penting bagi pelayanan kesehatan mengadakan promosi kesehatan kepada kelompok masyarakat, tidak hanya upaya kuratif pada individu saja yang dilakukan, agar mencegah dan memutus rantai penularan TB Paru Kata Kunci Kepustakaan : Sistem Informasi Geografi, TB Paru BTA (+) : 23, 1996-2010

PUBLIC HEALTH FACULTY UNIVERSITY OF MULAWARMAN SAMARINDA 2011 ABSTRACT PURIANINGSIH Aplication of Geographic Information System For Example Spacial Tuberculosis (TB) BTA (+) Cases in Samarinda City Region The One Quarterly Of 2010 Tuberculosis is one of health problem in the world especially in Indonesia. In 2008, Samarinda has 454 new cases and in 2009, it decline become 433 new cases, but in the one quarterly of 2010, there are 218 TB Paru BTA (+) cases with 104 new cases. This research is in tended to know a describing of the spread of TB Paru BTA (+) case, to know correlation of the population density, the poverty and the way to facilities of health service with TB Paru BTA (+) case. This design is Geographical Epidemiologi. It is descriptive research that to explain about the spread of disease, the sickness and death degree in a region. To determine sampling, the researcher employes purposive sample. It refers to inclusi and exclusi criteria until it is gotten 78 sample of 218 cases. Data collection is primer and secunder data. Tabulation data use geography tabulation data application. The result of this research shows 6 subsdistrict of spread of TB Paru BTA (+) case, there are 20 cases in the north Samarinda, it is most cases in Samarinda and there are 7 cases in the Samarinda Ulu. It is least cases in Samarinda , too. Samarinda Ulu is the talkest of population density of he all subsdistrict. So it can said, the population density not related to TB Paru BTA (+) case, while The North Samarinda is highest poverty of the all subsdistrict, it is related to TB Paru BTA (+). The way to facilities of health service relate to invention of TB Paru BTA (+). It is caused the farther of facilities of health service, it make difficult for health guard to look for peoples who suffer TB Paru. It also become inhibiting factor for a victim during medicinal treatment. It is important for health service to make a health promotion for societies, it is not only curative prevention to prevent and resolve a sprea of TB Paru. Keywords Literature : Geographic Information System, TB Paru BTA (+) : 23, 1996-2010

RIWAYAT HIDUP

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9.

Nama NIM Tempat, Tanggal Lahir Jenis Kelamin Agama Asal SLTA/ Akademi Status Perkawinan Alamat Asal Alamat Sekarang

: PURIANINGSIH : 06.55235.00401.10 : Bulungan, 20 Juli 1989 : Perempuan : Islam : SMA Negeri 1 Malinau : Belum Menikah : Jl. Handayani RT.V Malinau : Jl. Perjuangan 1 No.30 A Samarinda

10 .

Email

: alif_ya.puri@yahoo.com

KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah SWT atas petunjuk dan hidayah Nya, atas semua nikmat Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul Aplikasi Sistem Informasi Geografi untuk Pemodelan Spasial Kasus Tuberkulosis (TB) Paru BTA (+) di Wilayah Kota Samarinda Triwulan I Tahun 2010 pada Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas

Mulawarman. Pada kesempatan ini penulis ingin menyampaikan penghargaan dan ucapan terimakasih kepada: 1. Ibu Dra. Hj. Sitti Badrah, M.Kes selaku Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Mulawarman 2. Ibu Ike Anggraeni, SKM, M.Kes selaku dosen pembimbing I atas bimbingan, arahan, dan kesediaan waktu di tengah kesibukan yang selalu diberikan kepada penulis 3. Ibu Risva, SKM, M.Kes selaku dosen pembimbing II atas masukan, bantuan, dan kesediaan waktu di tengah kesibukan yang selalu diberikan kepada penulis 4. Bapak Drs. Ismail, AB., M.Kes, Bapak Siswanto, SPd, M.Kes dan Bapak Ali Suhardiman, SHut, MP selaku dosen penguji yang telah memberikan waktu disela - sela kesibukannya, memberikan arahan, saran kepada penulis demi penyempurnaan skripsi ini

5. Kedua orang tua penulis, Bapak Sukiran dan Ibu Tatik yang senantiasa memberikan dorongan moral dan material yang tak terhingga serta selalu mendoakan untuk kebaikan dan keberhasilan penulis 6. Teman-teman angkatan 2006 khususnya kelas A yang telah

membersamai selama ini 7. Seluruh pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu, terimakasih untuk semua bantuannya Semoga apa yang telah diberikan kepada penulis mendapat pahala dan balasan dari Allah SWT, amin. Penulis mengharapkan saran dan kritik guna kesempurnaan menuju arah yang lebih baik lagi dan semoga tulisan ini bermanfaat bagi almamater khususnya dan bagi pembaca serta masyarakat umumnya.

Penulis

DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL. ...................................................................... i ABSTRAK. ................................................................................... ii ABSTRACT. ................................................................................. iii RIWAYAT HIDUP. ....................................................................... iv KATA PENGANTAR ................................................................... v DAFTAR ISI ................................................................................. vii DAFTAR TABEL ......................................................................... ix DAFTAR GAMBAR ...................................................................... x DAFTAR LAMPIRAN ................................................................... xi BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang ........................................................................ B. Rumusan Masalah. .................................................................. C. Tujuan Penelitian..................................................................... D. Manfaat Penelitian. ..................................................................

1 7 7 8

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A.Tuberkulosis (TB) 1. Pengertian. .......................................................................... 9 2. Cara Penularan.................................................................... 9 3. Riwayat Terjadinya TB. ........................................................ 10 4. Diagnosis dan Gejala TB. .................................................... 11 5. Penderita TB. ....................................................................... 12 6. Faktor Resiko....................................................................... 15 7. Akses dan Pemanfaatan Pelayanan Kesehatan. ................. 21 8. Pencegahan dan Pengobatan. ............................................ 22 B. Sistem Informasi Geografi (SIG).............................................. 23 BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Jenis dan Desain Penelitian. .................................................. 39 B. Waktu dan Tempat Pelaksanaan Penelitian. ........................... 39 C. Populasi dan Sampel. ............................................................. 39 D. Kriteria Sampel. ....................................................................... 40 E. Kerangka Konsep. ................................................................... 41 F. Variabel.................................................................................... 41 G. Definisi Operasional. ............................................................... 41 H. Manajemen Data. .................................................................... 43 I. Keterbatasan Penelitian ........................................................... 45 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil 1. Gambaran Demografi Kota Samarinda. ............................... 47 2. Sebaran Kasus Penyakit TB Paru BTA (+) Kota Samarinda. .................................................................. 54 4. Kepadatan Penduduk. ......................................................... 57 5. Kemiskinan. ......................................................................... 60

6. Akses ke Fasilitas Pelayanan Kesehatan. ........................... 62 7. Hubungan Kepadatan Penduduk dengan Kasus TB Paru BTA (+). ...................................................... 65 8. Hubungan Kemiskinan Penduduk dengan Kasus TB Paru BTA (+). ...................................................... 68 9. Hubungan Akses ke Fasilitas Pelayanan Kesehatan dengan Kasus TB Paru BTA (+). ......................................... 69 10. Daerah Resiko Persebaran Kasus TB Paru BTA (+). ........ 74 B. Pembahasan 1. Sebaran Kasus TB Paru BTA (+) Kota Samarinda. ............. 75 2. Hubungan antara Kasus TB Paru BTA (+) dengan Kepadatan Penduduk. ........................................................ 81 3. Hubungan antara Kasus TB Paru BTA (+) dengan Kemiskinan. ............................................................ 84 4. Hubungan antara Kasus TB Paru BTA (+) dengan Akses ke Fasilitas Pelayanan Kesehatan. .............. 88 5. Daerah Transmisi Penyebaran TB Paru BTA (+). ................ 94 BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A.Kesimpulan. .............................................................................. 97 B. Saran. ...................................................................................... 98 DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN

DAFTAR TABEL

No.

Judul

Hal

Tabel 4.1

Luas wilayah, jumlah penduduk dan kepadatan per wilayah Kota Samarinda Tahun 2008 Keluarga miskin per kecamatan Kota Samarinda Tahun 2008

50

Tabel 4.2

60

DAFTAR GAMBAR

No.

Judul

Hal

Gambar 2.1 Gambar 2.2 Gambar 2.3 Gambar 2.4 Gambar 2.5 Gambar 2.6 Gambar 2.7 Gambar 2.8 Gambar 4.1 Gambar 4.2 Gambar 4.3

Overlay Layer Buffer Dot Garis Poligon Atribut GPS Peta Kota Samarinda Tahun 2010 Sebaran Kasus TB Paru BTA (+) Tahun 2010 Peta Kepadatan Penduduk Kota Samarinda Tahun 2009

28 29 30 31 32 33 34 36 49 55 58

Gambar 4.4

Peta Angka Kemiskinan Penduduk Kota Samarinda Tahun 2009

61

Gambar 4.5

Peta Sebaran Puskesmas dan Rumah Sakit Kota Samarinda Tahun 2010

63

Gambar 4.6

Peta Kepadatan Penduduk dan Kasus TB Paru BTA (+) Tahun 2010

65

Gambar 4.7

Kepadatan Penduduk dan Kasus TB Paru BTA (+) dilihat dari Aplikasi Google Earth

67

Gambar 4.8

Peta Angka Kemiskinan Penduduk dan Kasus TB Paru BTA (+) Tahun 2010

68

Gambar 4.9

Peta Jarak Cakupan Pelayanan Kesehatan dan Kasus TB Paru BTA (+) Tahun 2010

70

Gambar 4.10 Gambar 4.11

Grafik Penemuan Kasus Baru Tahun 2008-2010 Peta Transmisi Penyebaran Kasus TB Paru BTA (+)

72 74

DAFTAR LAMPIRAN

No.

Judul

Hal

Lampiran 1 Lampiran 2 Lampiran 3 Lampiran 4 Lampiran 5 Lampiran 6

Data Kasus TB Paru Form Survei Penderita TB di Samarinda Data Pokok Program TB Kota Samarinda Data Kependudukan Kota Samarinda Tahun 2009 Data Jumlah Kunjungan Tahun 2010 Data Jumlah Kunjungan Berdasarkan Jenis Pelayanan Tahun 2010

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Kesehatan adalah hak dasar manusia dan merupakan salah satu faktor yang menentukan kualitas sumber daya manusia. Kegiatan pelayanan kesehatan pada umumnya akan memberikan kontribusi positif dalam perbaikan dan peningkatan pelayanan kesehatan masyarakat. Peningkatan dari berbagai upaya pelayanan kesehatan sebagai konsekuensinya akan berdampak pada peningkatan derajat kesehatan masyarakat. Dalam rangka untuk mencapai kesehatan optimal, maka Negara Indonesia menerapkan Paradigma Sehat sebagai basis

pembangunan kesehatan. Paradigma sehat adalah cara pandang, pola pikir model pembangunan kesehatan yang bersifat menyeluruh. Untuk mewujudkan ini ditetapkan visi, yaitu gambaran, prediksi atau harapan tentang keadaan masyarakat indonesia di masa yang akan datang yaitu Indonesia Sehat 2010 (Depkes RI, 2007). Penyakit tuberculosis merupakan salah satu masalah kesehatan bagi bangsa Indonesia dan dunia. WHO menyatakan bahwa sekitar 1,9 milyar manusia, telah terinfeksi kuman tuberkulosis. Mycobacterium tuberculosis yang menjadi bakteri penyebab penyakit tuberkulosis atau TB telah menginfeksi sepertiga penduduk dunia. Tahun 1993, WHO mencanangkan kedaruratan global penyakit TB karena pada sebagian besar negara di dunia, penyakit TB ini tidak

terkendali. Kira-kira 95% dari kasus TB dan 98% kematian akibat TB di seluruh dunia terjadi pada negara-negara berkembang termasuk Indonesia TB masih merupakan masalah utama kesehatan masyarakat di Indonesia. Data WHO (2006) menyatakan bahwa Indonesia sebagai penyumbang TB terbesar nomor 3 di dunia setelah India dan Cina dengan jumlah kasus baru sekitar 539.000 kasus dan jumlah kematian sekitar 101.000 orang (http://www.hpmrc.ugm.ac.id). Hasil Survey Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 2001 menunjukkan bahwa tuberkulosis merupakan salah satu dari lima penyebab utama kematian di Indonesia. Sebagian besar pasien TB Paru berasal dari kelompok masyarakat usia produktif dan lapisan sosial ekonomi rendah. Hasil survei prevalensi tuberkulosis di Indonesia tahun 2004 menunjukan bahwa angka prevalensi tuberkulosis Basil Tahan Asam (BTA) positif secara nasional 110 per 100.000 penduduk (Depkes RI, 2007). Penyakit TB ini menyerang sebagian besar kelompok usia kerja produktif (http://ppmplp.depkes.go.id). Jumlah penderita TB yang tinggi juga ditemukan di Provinsi Kalimantan Timur pada tahun 2003 tercatat sebanyak 806 penderita TB (http://www.kaltimprov.go.id/ ). Berdasarkan penelitian Maulana (2007) dalam Ali (2008) penderita TB Paru di Kalimantan Timur tahun 2005 mengalami peningkatan yaitu sebanyak 1.648 dan pada tahun 2006 meningkat menjadi 2.040 kasus baru TB Paru. Dari jumlah itu, kasus terbanyak di wilayah Samarinda berjumlah 457 kasus baru BTA Positif. Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kota Samarinda Tahun 2010, pada

tahun 2007 kasus baru TB Paru BTA (+) berjumlah 329 kasus dan meningkat menjadi 454 kasus pada tahun 2008, kemudian menurun pada tahun 2009 menjadi 433 kasus, akan tetapi terjadi peningkatan kembali pada triwulan I Tahun 2010 didapatkan data 218 kasus TB Paru BTA (+) dengan kasus baru berjumlah 104 kasus. Kota Samarinda terletak didaerah katulistiwa. datar dan berbukit antara 10-200 meter diatas permukaan laut. Dengan luas wilayah 718 Km2. Wilayah administrasi Kota Samarinda terdiri dari 6 Kecamatan dan 53 Kelurahan. Penduduk Kota Samarinda tercatat sebanyak 588.135 jiwa. Dengan laju pertumbuhan 5-7% per tahun dan kepadatan penduduk 819 jiwa/km (http://bappedakotasamarinda.com) . Samarinda merupakan daerah yang penduduknya heterogen sebab selain penduduk asli yang mendiami daerah ini, juga masyarakat dari luar daerah yang datang silih berganti untuk jangka waktu yang cukup lama, baik itu untuk mencari nafkah, mengenyam pendidikan, maupun menjadi tempat persinggahan untuk menuju daerah lain. Dengan demikian mobilitas penduduk yang seperti itu turut mempengaruhi penyebaran penyakit TB, yang bisa saja penyakit tersebut dibawa dari daerah yang rawan TB. Selain itu, penambangan batu bara yang kini juga dilakukan di daerah kota, maka semakin menambah rawan terjadinya penyakit TB. Apalagi bagi masyarakat yang bermukim di

daerah pinggiran kota yang masih sulit mencapai pelayanan kesehatan, sehingga ketika terjadi penyakit TB tidak lekas teratasi dan tidak terdeteksi. Penanggulangan TB Paru di Kota Samarinda yang masih

menjadi masalah adalah rendahnya cakupan penemuan (case finding) penderita TB Paru BTA positif yang dikarenakan kurangnya aspek dukungan dari para pengambil kebijakan. Hal ini menyebabkan para petugas kesehatan dan pengelola program kurang termotivasi dalam melaksanakan kegiatannya dan sebagai dampaknya adalah target cakupan penemuan penderita tidak dapat terpenuhi. Selama ini penemuan kasus TB oleh Dinas Kesehatan Kota Samarinda adalah sistem pasif, yaitu menunggu masyarakat yang datang ke pelayanan kesehatan baru kemudian dicatat di register, sehingga bila penderita TB tidak memeriksakan dirinya maka tidak terdeteksi, padahal seharusnya dapat diterapkan sistem jemput bola, yaitu terjun langsung ke masyarakat untuk mencari tahu ada tidaknya penerita TB. Prediksi bahwa seorang penderita TB Paru dengan BTA Positif dapat menularkan kepada sepuluh orang di sekitarnya per tahun maka dikuatirkan bila tidak segera diatasi, penyakit ini akan semakin meningkat. Dalam rangka mempercepat memecahkan masalah kesehatan masyarakat oleh pengambilan keputusan, upaya penyampaian

informasi kesehatan sangat penting. Salah satu cara untuk memberikan gambaran informasi tersebut adalah dalam bentuk tabel, diagram dan alur. Informasi tersebut dapat dipindahkan pada peta geografi dengan bantuan suatu perangkat lunak yang dapat menyajikan informasi tersebut dalam bentuk spasial/ keruangan yaitu Sistem Informasi Geografi (SIG). Namun, Dinas Kesehatan Kota Samarinda belum

mengaplikasikan SIG, padahal aplikasi SIG diperlukan untuk membuat informasi epidemiologi mudah dipahami, diinterpretasikan dan diambil tindakan .(Hernita, 2003). Peningkatan jumlah kasus TB di berbagai tempat saat ini, diduga disebabkan oleh berbagai hal, yaitu (1) diagnosis yang tidak tepat (2) pengobatan yang tidak adekuat (3) program penanggulangan tidak dilaksanakan dengan tepat (4) infeksi endemik human immunodeficiency virus (HIV) (5) migrasi penduduk (6) mengobati sendiri (7) meningkatnya kemiskinan (8) pelayanan kesehatan yang kurang memadai (Direktorat Jenderal PP & PL, 2006) Masih banyaknya penderita TB selain karena faktor lingkungan yang kotor dan kumuh juga masih kurangnya kesadaran masyarakat penderita TB untuk berobat secara terus menerus. Selain kurangnya kesadaran masyarakat untuk berobat, sarana yang masih kurang, SDM petugas yang masih perlu ditingkatkan, dan faktor geografis, masalah biaya untuk penanggulangan TB juga perlu ditingkatkan.

(http://www.kaltimprov.go.id/ ) Pengobatan tuberkulosis terkendala oleh seringnya pasien tidak melanjutkan pengobatan hingga tuntas karena jenuh ataupun karena merasa lebih baik setelah minum obat di dua bulan pertama. Faktor lain yang menjadi penyebab penghambat pengobatan tuberkulosis menurut Jajat (2000) dalam Suherman (2002) adalah ketersediaan sumber daya kesehatan (meliputi fasilitas pelayanan kesehatan, petugas puskesmas, dan lain-lain), keterjangkauan sumber daya (biaya pengobatan, jarak

rumah ke sarana kesehatan, ketersediaan transportasi, dan lain-lain) dan komitmen masyarakat dan pemerintah. Menurut Johnson (2008) dalam Nurun (2009) banyak hal yang menjadi faktor resiko penyebab TB paru. Diantaranya adalah status ekonomi yang rendah, keadaan gizi yang kurang baik, pengetahuan kesehatan yang kurang sehingga keadaan kesehatan lingkungan pun menjadi buruk dan menyebabkan bakteri Tuberculosis berkembang biak. Publikasi WHO dalam rangka World TB Day 2002 yang mengambil tema Stop TB Fight Proverty menyebutkan beberapa alasan gagalnya pengobatan TB antara lain derajat kemiskinan penderita, sulitnya menjangkau fasilitas kesehatan, kurangnya petugas kesehatan, harga obat yang mahal, dan prosedur yang berbelit (Majalah Kedokteran Indonesia, 2005). Menurut Ahmadi dalam Putri (2008) analisis spasial sebagai bagian dari manajemen penyakit berbasis wilayah, merupakan suatu analisis dan uraian tentang data penyakit secara geografi berkenaan dengan kependudukan, persebaran, lingkungan, perilaku, sosial ekonomi, kasus kejadian penyakit, dan hubungan antar variabel tersebut. Oleh karena tingginya jumlah kasus TB Paru BTA Positif di Wilayah Samarinda serta adanya faktor resiko , maka dibutuhkan analisis

spasial penyakit TB Paru BTA Positif untuk mengetahui gambaran sebaran kasus TB serta hubungannya dengan faktor-faktor resiko yang

ada

sehingga

dapat

dibuat

kebijakan

penanggulangan

dan

pemberantasan TB.

B. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang di atas, dapat dirumuskan masalah penelitian yaitu Bagaimana gambaran serta hubungan kepadatan penduduk, kemiskinan dan akses ke fasilitas pelayanan kesehatan dengan pendekatan keruangan terhadap kasus Tuberkulosis (TB) Paru Basil Tahan Asam (BTA) Positif di Kota Samarinda tahun 2010?.

C. Tujuan Penelitian 1. Tujuan Umum Menerapkan aplikasi sistem informasi geografi untuk pemodelan spasial kejadian Tuberkulosis (TB) Paru Basil Tahan Asam (BTA) Positif di Kota Samarinda tahun 2010 yang bertujuan untuk mengetahui gambaran kejadian TB Paru BTA Positif serta hubungan kejadian TB Paru BTA positif dengan kepadatan penduduk, kemiskinan dan akses ke fasilitas pelayanan kesehatan. 2. Tujuan Khusus a. Mengetahui gambaran sebaran kasus TB Paru BTA Positif di Kota Samarinda tahun 2010 b. Mengetahui hubungan kepadatan penduduk dengan kasus TB Paru BTA Positif di Kota Samarinda tahun 2010

c. Mengetahui hubungan kemiskinan dengan kasus TB Paru BTA Positif di Kota Samarinda tahun 2010 d. Mengetahui adanya hubungan akses dengan kasus 2010 pelayanan kesehatan

TB Paru BTA Positif di Kota Samarinda tahun

D. Manfaat Penelitian 1. Manfaat Ilmiah a. Memperkaya khasanah ilmu pengetahuan di bidang Ilmu Kesehatan Masyarakat b. Mengaplikasikan Sistem Informasi Geografi dalam Bidang Kesehatan Masyarakat c. Sebagai dasar penelitian penelitian serupa di masa yang akan datang 2. Manfaat Bagi Peneliti Sebagai sarana penerapan ilmu-ilmu yang diperoleh dalam pendidikan dan mengembangkan wawasan peneliti tentang Sistem Informasi Geografi yang diaplikasikan dalam Ilmu Kesehatan Masyarakat 3. Manfaat Bagi Fakultas a. Menambah literatur tentang aplikasi Sistem Informasi Geografi dalam bidang Kesehatan Masyarakat b. Sebagai masukan untuk penyempurnaan kurikulum di masa yang akan datang.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Tuberkulosis 1. Pengertian Tuberkulosis atau yang biasa dikenal dengan TB adalah penyakit menular yang bersifat menahun, disebabkan oleh kuman

Mycobacterium tuberculosis, yang sering dihinggapi adalah paruparu. Kuman ini berbentuk batang, mempunyai sifat khusus yaitu tahan terhadap asam pada pewarnaan.Oleh karena itu disebut pula sebagai Basil Tahan Asam (BTA). Kuman tuberkulosis cepat mati dengan sinar matahari langsung, tetapi dapat bertahan hidup beberapa jam di tempat yang gelap dan lembab. Dalam jaringan tubuh kuman ini dapat dormant, tertidur lama selama beberapa tahun (Depkes RI, 2002). 2. Cara Penularan TB tersebar lewat udara bila orang yang mengidap TB di paruparu atau tenggorokan batuk, bersin atau berbicara dan

mengirimnya ke udara. Kalau kuman ini terhirup orang lain, maka bisa terkena infeksi. Mendapatkannya kebanyakan dari pergaulan yang sering dan lama, seperti dengan anggota keluarga atau teman. TB tidak tersebar dari alat rumah tangga, misalnya sendok garpu, piring mangkuk, gelas, seprai, pakaian atau telepon. Jadi tidak perlu

memakai alat rumah tangga masing-masing (http://www.health.nsw.gov.au/). Sumber penularan adalah penderita tuberkulosis BTA positif. Pada waktu batuk atau bersin, penderita menyebarkan kuman dalam bentuk droplet (percikan dahak). Droplet yang mengandung kuman dapat bertahan di udara pada suhu kamar selama beberapa jam. Orang dapat terinfeksi kalau droplet tersebut terhirup ke dalam saluran pernafasan. Daya penularan dari seseorang penderita ditentukan oleh banyaknya kuman yang dikeluarkan dari parunya. Makin tinggi derajat positif hasil pemeriksaan dahak, makin menular penderita tersebut. Bila hasil pemeriksaan dahak negatif (tidak terlihat kuman), maka penderita tersebut dianggap tidak menular. Kemungkinan seseorang terinfeksi TB Paru ditentukan oleh

konsentrasi droplet dalam udara dan lamanya menghirup udara tersebut (Depkes RI, 2002). 3. Riwayat Terjadinya TB a. Infeksi Primer Infeksi primer terjadi pada seseorang yang terpapar pertama kali dengan kuman tuberkulosis. Droplet yang terhisap sangat kecil ukurannya sehingga dapat melewati sistem pertahanan mukosiller bronkus dan terus berjalan sampai di alveolus terminalis dan menetap di sana. Infeksi dimulai saat kuman tuberkulosis berhasil berkembang biak dengan cara pembelahan diri di paru yang mengakibatkan peradangan di dalam paru.

Saluran limfe akan membawa kuman tuberkulosis ke kelenjar limfe di sekitar hilus paru dan ini disebut sebagai kompleks primer. Waktu antara terjadi infeksi sampai pembentukan kompleks primer adalah 4-6 minggu (http://www.ppmplp.depkes.go.id). b. Tuberkulosis Pasca Primer (Post Primary Tuberculosis) Tuberkulosis pasca primer biasanya terjadi setelah beberapa bulan atau tahun sesudah infeksi primer, misalnya karena daya tahan tubuh menurun akibat terinfeksi HIV atau status gizi yang buruk. Ciri khas dari tuberkulosis pasca primer adalah kerusakan paru yang luas dengan terjadinya kavitas atau efusi pleura (Depkes RI, 2002). 4. Diagnosis dan Gejala TB Diagnosis pada penderita TB dapat dilakukan melalui: a) Untuk yang di dalam paru-paru: Potret sinar X dapat menunjukkan apakah penyakit TB sudah mengenai paru-paru. Ujicoba dahak menunjukkan apakah ada kuman TB pada dahak yang keluar. Jika orangnya tidak dapat mengeluarkan dahak, ujicoba lain mungkin diperlukan. b) Untuk yang di luar paru-paru: Ujicoba seperti biopsi jarum halus, contoh dari luka, contoh dari pembedahan atau contoh air seni dini hari dapat membantu diagnosa TB.

TB memiliki beberapa gejala menurut Muherman, dkk (2002) dalam Retno (2007) gejala-gejala TB yaitu batuk, dahak, sering flu, batuk berdarah, berat badan turun, sakit dinding dada, demam dan berkeringat, nafas pendek, rasa lelah TB bisa menyerang bagian tubuh yang mana pun, tapi paru-paru yang paling sering. Pengidapnya mungkin mendapat aneka gejala sebagai berikut: batuk yang berlangsung lebih dari 3 minggu, demam, berat badan turun tanpa sebab, keringat malam, senantiasa lelah, nafsu makan berkurang, dahak bebercak darah, atau sakit dan bengkak di bagian yang terkena, bagi TB yang di luar paru-paru. Ada juga pengidap penyakit TB aktif yang hanya bergejala ringan ((http://www.health.nsw.gov.au/) 5. Penderita TB a) Penemuan Penderita TB (1) Penemuan Penderita TB Paru Pada Orang Dewasa Penemuan penderita TB dilakukan secara pasif, artinya penjaringan tersangka penderita dilaksanakan pada mereka yang datang berkunjung ke unit pelayanan kesehatan.

Penemuan secara pasif tersebut didukung dengan penyuluhan secara aktif, baik oleh petugas kesehatan maupun masyarakat untuk meningkatkan cakupan penemuan tersangka penderita. Selain itu semua kontak penderita TB paru BTA positif dengan gejala sama, harus diperiksa dahaknya. Semua tersangka

penderita diperiksa 3 spesimen dahak dalam waktu 2 hari berturut-berturut, yaitu SewaktuPagiSewaktu /SPS (Depkes RI, 2002). (2) Penemuan Penderita Pada Anak Penemuan penderita tuberkulosis pada anak merupakan hal yang sulit. Sebagian besar tuberkulosis anak didasarkan atas gambaran klinis, gambaran radiologis, dan uji tuberkulin (Depkes RI, 2002). Karena sulitnya mendiagnosis TB pada anak, sering terjadi overdiagnosis yang diikuti overtreatment. Di lain pihak, ditemukan juga underdiagnosis dan undertreatment. Hal tersebut terjadi karena sumber penyebaran TB umumnya adalah orang dewasa dengan sputum basil tahan asam positif, sehingga penanggulangan TB ditekankan pada pengobatan TB dewasa. Akibatnya, penanganan TB anak kurang diperhatikan (Direktorat Jenderal PP & PL, 2006) b) Klasifikasi Penyakit dan Tipe Penderita (1) Klasifikasi Penyakit Tuberkulosis paru adalah tuberkulosis yang menyerang jaringan paru, tidak termasuk pleura (selaput paru).

Berdasarkan hasil pemeriksaan dahak, TB Paru dibagi dalam : 1. Tuberkulosis Paru BTA Positif Sekurang-kurangnya 2 dari 3 spesimen dahak SPS hasilnya BTA positif atau 1 spesimen dahak SPS hasilnya

BTA positif dan foto rontgen dada menunjukkan gambaran tuberkulosis aktif. 2. Tuberkulosisi Paru BTA Negatif Pemeriksaan 3 spesimen dahak SPS hasilnya BTA negatif dan foto rontgen dada menunjukkan tuberkulosis aktif. TB Paru Negatif Rotgen Positif dibagi berdasarkan tingkat keparahan penyakitnya, yaitu berat dan ringan (Depkes RI, 2002). 3. Tuberkulosis Ekstra Paru Tuberkulosis ektra paru adalah tuberkulosis yang

menyerang organ tubuh lain selain paru, misalnya pleura, selaput otak, selaput jantung, kelenjar limfe, tulang, persendian, kulit, usus, ginjal, saluran kencing, alat kelamin, dan lain- lain. Tuberkulosis ekstra paru dibagi lagi pada tingkat keparahan penyakitnya, yaitu tuberkulosis ekstra paru ringan dan tuberkulosis ekstra paru berat (Depkes RI, 2002). (2) Tipe Penderita Tipe penderita ditentukan berdasarkan riwayat pengobatan sebelumnya, Depkes RI (2008) membaginya dalam beberapa tipe yaitu:

1. Kasus Baru Adalah pasien yang belum pernah diobati dengan OAT atau sudah pernah menelan OAT kurang dari satu bulan (4 minggu) 2. Kasus Kambuh (relaps) Adalah pasien TB yang sebelumnya pernah mendapat pengobatan TB dan telah dinyatakan sembuh atau pengobatan lengkap, didiagnosis kembali dengan BTA (+). 3. Pengobatan setelah putus berobat Adalah pasien yang telah berobat dan putus berobat 2 bulan atau lebih dengan BTA (+). 4. Gagal Adalah pasien BTA positif yang masih tetap positif atau kembali menjadi positif pada akhir bulan ke-5 (satu bulan sebelum akhir pengobatan) atau lebih. 5. Lain-lain Adalah semua kasus yang tidak memenuhi ketentuan di atas. Dalam kelompok ini termasuk Kasus Kronik, yaitu pasien yang BTA-nya tetap positif setelah mendapat pengobatan ulang lengkap yang disupervisi dengan baik. 6. Faktor Resiko Faktor risiko yaitu semua variabel yang berperan atas timbulnya kejadian penyakit. Pada dasarnya berbagai faktor risiko TB saling berkaitan satu sama lainnya (Saad, 2005)

a. Kondisi Sosial Ekonomi Menurut Beaglehole (1993) dalam Sugiarto (2004) TB Paru seringkali dikaitkan dengan kondisi ekonomi. Orang yang hidup dalam kemiskinan biasanya mempunyai kesehatan yang buruk. Ini diantaranya disebabkan oleh tingginya pemaparan infeksi akibat kepadatan penghuni, makanan yang tidak cukup ataupun

lingkungan kerja yang tidak sehat. Ekonomi rendah secara bersama-sama dengan faktor lainnya menjadi prasyarat timbulnya sakit akan tetapi tidak dapat berdiri sendiri-sendiri. WHO (2003) menyebutkan 90% penderita TB di dunia menyerang kelompok dengan sosial ekonomi lemah atau miskin. Hubungan antara kemiskinan dengan TB bersifat timbal balik, TB merupakan penyebab kemiskinan dan karena miskin maka manusia menderita TB. Kondisi sosial ekonomi itu sendiri, mungkin tidak hanya berhubungan secara langsung, namun dapat

merupakan penyebab tidak langsung seperti adanya kondisi gizi buruk, serta perumahan yang tidak sehat, dan akses terhadap pelayanan kesehatan juga menurun kemampuannya. Menurut perhitungan, rata-rata penderita TB kehilangan 3 sampai 4 bulan waktu kerja dalam setahun. Mereka juga kehilangan penghasilan setahun secara total mencapai 30% dari pendapatan rumah tangga. (Saad, 2005). Badan Pusat Statistik (BPS) memiliki 14 kriteria untuk

menentukan keluarga/ rumah tangga miskin yaitu:

1) Luas bangunan tempat tinggal kurang dari 8 m2 per orang. 2) Jenis lantai tempat tinggal terbuat dari tanah/ bambu/ kayu murahan. 3) Jenis dinding tempat tinggal dari bambu/ rumbia/ kayu berkualitas rendah/ tembok tanpa diplester. 4) Tidak memiliki fasilitas buang air besar/bersama-sama dengan rumah tangga lain. 5) Sumber penerangan rumah tangga tidak menggunakan listrik. 6) Sumber air minum berasal dari sumur/ mata air tidak terlindung/ sungai/ air hujan. 7) Bahan bakar untuk memasak sehari-hari adalah kayu bakar/ arang/ minyak tanah. 8) Hanya mengkonsumsi daging/ susu/ ayam satu kali dalam seminggu 9) Hanya membeli satu stel pakaian baru dalam setahun 10) Hanya sanggup makan hanya satu/ dua kali dalam sehari. 11) Tidak sanggup membayar biaya pengobatan di puskesmas/ poliklinik. 12) Sumber penghasilan kepala keluarga adalah petani dengan luas lahan 500 m2, buruh tani, nelayan, buruh bangunan, buruh perkebunan, dan atau pekerjaan lainnya dengan pendapatan di bawah Rp. 600.000,- (Enam Ratus Ribu) per bulan. 13) Pendidikan tertinggi kepala keluarga : tidak bersekolah/ tidak tamat SD/ hanya SD.

14) Tidak memiliki tabungan/ barang yang mudah dijual dengan nilai minimal Rp. 500.000,- (Lima Rus Ribu Rupiah), seperti sepeda motor kredit/ non-kredit, emas, ternak, kapal motor, atau barang modal lainnya (http://www.dinsos.pemda-

diy.go.id/). Dari 14 kriteria tersebut BPS mengklasifikasikan kemiskinan menjadi tiga kategori yaitu: a. Kategori sangat miskin, bila memiliki 12 kriteria, b. Kategori miskin bila memenuhi 6 - 10 kriteria, c. Mendekati miskin bila memenuhi 5 -6 kriteria. Penelitian Budiono (2003) di Jakarta Timur menunjukkan bahwa secara statistik tidak ada hubungan antara sosial ekonomi dengan kejadian TB Paru, namun dalam penelitian ini yang menjadi responden adalah yang memilki strata sosial ekonomi relatif hampir sama. Hal ini terbukti bahwa proporsi responden antara ekonomi rendah dan yang lebih tinggi hampir sama, kondisi inilah yang mungkin menyebabkan sosial ekonomi tidak berhubungan dengan kejadian TB Paru. Berbeda halnya dengan penelitian yang dilakukan oleh Sugiarto (2004) di Kabupaten Bengkulu Utara bahwa orang yang mempunyai penghasilan rendah berisiko 1,14 kali untuk mengalami kejadian TB Paru BTA (+) dibandingkan dengan orang yang mempunyai penghasilan lebih.

b. Kepadatan Kepadatan merupakan pre-requisite untuk proses penularan penyakit. Semakin padat, maka perpindahan penyakit, khususnya penyakit melalui udara, akan semakin mudah dan cepat. Oleh sebab itu, kepadatan dalam rumah maupun kepadatan hunian tempat tinggal merupakan variabel yang berperan dalam kejadian TB. Untuk itu Departemen Kesehatan telah membuat peraturan tentang rumah sehat, dengan rumus jumlah penghuni/luas bangunan. Syarat rumah dianggap sehat adalah 10m 2 per orang (Depkes, 2003). Sedangkan kepadatan penduduk dirumuskan jumlah jiwa/ . Menurut Undang-undang No.56 Tahun 1960 ada

empat klasifikasi kepadatan penduduk, yaitu: 1) Tidak padat (0-50 jiwa/ 2) Kurang padat (51-250 jiwa/ 3) Cukup padat (251-400 jiwa/ 4) Sangat padat (> 401 jiwa/ ) ) ) )

Penelitian Apriani (2001) di Sulawesi Tengah menunjukkan hubungan yang bermakna antara kepadatan hunian rumah dengan kejadian TB Paru. Orang yang tinggal dalam rumah yang padat penghuninya mempunyai risiko untuk tertular TB 1,55 kali pada kontrol 1 dan 1,79 kali pada kontrol dua. Sedangkan penelitian Budiono (2003) di Jakarta Timur kepadatan rumah terbukti tidak ada hubungan dengan kejadian TB Paru. Orang yang tinggal di dalam rumah yang padat penghuninya tidak ada bedanya dengan

yang tinggal di dalam rumah yang tidak pada penghuninya. Tidak adanya hubungan antara kepadatan rumah dengan kejadian TB Paru dalam penelitian ini mungkin angka prevalensi TB Paru di Indonesia tinggi, sehingga kesempatan untuk kontak dengan penderita TB bisa terjadi di luar rumah. Alasan lain mungkin karena responden dalam penelitian ini homogen, yaitu proporsi kepadatan rumah antara kelompok kasus dan kontrol relatif sama. c. Faktor Risiko Perilaku Faktor risiko perilaku adalah kebiasaan yang dilakukan seharihari yang dapat mempengaruhi terjadinya penularan/penyebaran penyakit. Yang termasuk factor risiko perilaku dalam terjadinya penularan TB adalah sebagai berikut: 1. Kebiasaan tidur penderita TB bersama-sama dengan anggota keluarga 2. Tidak menjemur kasur secara berkala (Saad, 2005) 3. Kebiasaan membuang ludah/dahak sembarangan 4. Kebiasaan tidak pernah membuka jendela rungan 5. Kebiasaan tidak pernah membuka jendela kamar tidur 6. Kebiasaan tidak pernah membersihkan lantai 7. Kebiasaan merokok (Saad, 2005) Menurut Johnson (2008) dalam Nurun (2009) banyak hal yang menjadi faktor resiko penyebab TB paru. Diantaranya adalah status ekonomi yang rendah, keadaan gizi yang kurang baik, pengetahuan kesehatan yang kurang sehingga keadaan kesehatan lingkungan pun

menjadi buruk dan menyebabkan bakteri Tuberculosis berkembang biak. Selain itu, pengobatan tuberkulosis terkendala oleh seringnya pasien tidak melanjutkan pengobatan hingga tuntas karena jenuh ataupun karena merasa lebih baik setelah minum obat di dua bulan pertama. Faktor lain yang menjadi penyebab penghambat pengobatan tuberkulosis menurut Jajat (2000) adalah ketersediaan sumber daya kesehatan (meliputi fasilitas pelayanan kesehatan, petugas

puskesmas, dan lain-lain), keterjangkauan sumber daya (biaya pengobatan, jarak rumah ke sarana kesehatan, ketersediaan

transportasi, dan lain-lain) dan komitmen masyarakat dan pemerintah. 7. Akses dan Pemanfaatan Pelayanan Kesehatan Perawatan di rumah sakit bukanlah suatu keharusan bagi penerita TB Paru untuk sembuh dari penyakitnya, kecuali terdapat komplikasi. Waktu pengobatan relatif lama yaitu sekurang-kurangnya 6 bulan dan bisa sembuh dengan kepatuhan menjalankan nasihat dokter atau petugas kesehatan untuk terlatih dan teratur meminum obat sesuai petunjuk. Tempat pelayanan akan memberikan pelayanan dengan tujuan membuat penderita sembuh, mencegah kematian penderita, agar tidak kambuh dan untuk menurunkan risiko penularan (Depkes, 2003). Kemudahan akses ke sarana pelayanan kesehatan berhubungan dengan berbagai faktor penentu, antara lain jarak tempat tinggal dan

waktu tempuh ke sarana kesehatan, serta status sosial ekonomi dan budaya (Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Timur, 2009) Dari segi jarak dapat diklasifikasikan menjadi: a. Dekat (<1 km) b. Jauh (1-5 km) c. Sangat jauh (>5 km) Sedangkan waktu tempuh ke fasilitas pelayanan kesehatan, diklasifikaskan menjadi: a. Sangat cepat (< 15 menit) b. Cepat (16-30 menit) c. Lama (31-60 menit) d. Sangat lama (>60 menit) Kondisi di Provinsi Kalimantan Timur, rumah tangga yang berjarak lebih dari 5 km berada di Kutai Timur, Malinau dan Kutai Barat. Demikian halnya dengan waktu tempuh, daerah waktu tempuh lebih dari 30 menit ke fasilitas pelayanan kesehatan tertinggi di Nunukan berikutnya Kutai Timur (Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Timur, 2009) 8. Pencegahan dan Pengobatan Pengidap TB di paru-paru diminta menutupi hidung dan mulutnya apabila mereka batuk atau bersin. Pengidap TB menular di paru-paru dipisahkan dari orang lain sampai tidak bisa menulari lagi. Beberapa orang yang diagnosanya Infeksi TB ditawarkan sederet pengobatan pencegahan. Bagi jenis TB yang menjadikan nyawa terancam,

vaksin BCG dapat melindungi anak-anak yang bepergian ke negara yang biasa kejangkitan TB. Diobati dengan gabungan antibiotika khusus setidaknya 6 bulan. Antibiotika TB ini diminum di bawah pengawasan perawat klinik guna memperhatikan dampak sampingnya dan meyakinkan

pengobatannya sudah selesai. Pengidap TB dapat sembuh jika menyelesaikan pengobatannya. Selama diobati, pengidap TB dapat kembali ke kegiatan seperti biasa jika sudah tidak menulari lagi. Jika tidak minum obat, pengidapnya bisa menjadi sakit parah, bahkan meninggal (http://www.health.nsw.gov.au/). B. Sistem Informasi Geografi (SIG) Sistem Informasi Geografis (SIG) merupakan komputer yang berbasis pada sistem informasi yang digunakan untuk memberikan bentuk digital dan analisa terhadap permukaan geografi bumi. Defenisi SIG selalu berubah karena SIG merupakan bidang kajian ilmu dan teknologi yang relatif masih baru. Beberapa definisi dari SIG adalah ( Rahayuningsih, 2007) 1. Purwadhi, 1994: a) SIG merupakan suatu sistem yang mengorganisir perangkat keras (hardware), perangkat lunak (software), dan data, serta dapat mendayagunakan sistem penyimpanan, pengolahan,

maupun analisis data07lisE59atc(sa)-3(3(p)-n)-3( )anlt0(im)-4(p)6(a)33(k)10ePu(i

Esri (1990) mendefinisikan SIG sebagai suatu kumpulan yang terorganisir dari perangkat keras komputer, perangkat lunak, data geografi dan personil yang dirancang secara efisien untuk memperoleh, menyimpan, mengupdate, memanipulasi, menganalisis dan

menampilkan semua bentuk informasi yang bereferensi geografi (Susilawati,2009) Berdasarkan definisi diatas , maka dapat dibagi sebagai berikut: 1. Input subsistem ini mengumpulkan data dan mempersiapkan data spasial dan atribut dari berbagai sumber. Data yang digunakan harus dikonversikan menjadi format digital yang sesuai. Salah satu teknik mengubah data analog menjadi data digital adalah dengan digitasi menggunakan digitizer 2. Manipulasi Penyesuaian terhadap data masukan untuk proses lebih lanjut, misalnya penyamaan skala, pengubahan sistem proyeksi,

generalisasi, dan lain-lain. 3. Managemen Data Digunakan database management sistem (DBMS) untuk

membantu, menyimpan, mengorganisasikan dan mengolah data 4. Query Penelusuran data menggunakan lebih dari satu layer dapat memberikan informasi untuk analisis dan memperoleh data yang diinginkan

5. Analisis Kemampuan untuk analisis data spasial untk memperoleh informasi baru. Salah satu fasilitas yang banyak digunakan adalah analisis tumpang susun peta (overlay) 6. Visualisasi Penyajian berupa informasi baru atau basis data yang ada baik dalam bentuk peta, tabel, grafik,dan lain-lain (Susilawati,2009) Komponen SIG merupakan suatu sistem komputer yang terintegrasi di tingkat fungsional dan jaringan yaitu: 1. Perangkat Keras (hardware) Komputer dan periperalnya merupakan komponen yang harus tersedia untuk mengoperasikan SIG berbasis komputer. Perangkat keras SIG meliputi perangkat keras : pemasukan data, pemrosesan daa dan penyajian data dan penyajian hasil serta penyimpanan (storage) 2. Perangkat Lunak (software) Perangkat lunak mempunyai fungsi di atas dan fasilitas untuk penyimpanan analisis dan penayangan informasi geografi. Persyaratan yang harus dipenuhi software GIS adalah a. Merupakan database Management Sistem (DBMS) b. Fasilitas untuk pemasukan dan manipulasi data geografis c. Fasilitas untuk query, analisis dan visualisasi d. Graphical User Interface (GUI) yang baik untuk mempermudah akses yang ada.

3. Data Data merupakan komponen yang penting dalam SIG. Data SIG dibedakan menjadi data grafis dan data atribut. Data grafis mempunyai tiga elemen yaitu titik, garis dan area. Adapun bentuk vektor atau raster yang mewakili geometri, ukuran, bentuk posisi dan arah 4. Sumberdaya Manusia Teknologi SIG menjadi sangat terbatas kemampuannya jika tidak ada sumberdaya yang mengelola sistem dan mengembangkan untuk aplikasi yang sesuai. Pengguna dari pembuat sistem harus saling bekerjasamauntuk mengembangkan teknologi (Susilawati,2009) 5. Metode Model dan teknik pemrosesan perlu dibuat untuk berbagai aplikasi SIG. Sistem komputer untuk SIG terdiri dari perangkat keras, perangkat lunak, dan prosedur untuk penyusunan pemasukan data, pengolahan, analisis, pemodelan dan penayangan data geospasial. Fungsi pengguna adalah untuk memilih informasi yang diperlukan, membuat standar, membuat jadwal pemutakhiran yang efisien menganalisis hasil yang dikeluarkan untuk kegunaan yang diinginkan dan merencanakan aplikasi (Susilawati,2009)

Hal-hal yang berkaitan dengan SIG dalam mengolah data adalah 1. Overlay Overlay (tumpang susun) adalah analisis spasial esensial yang mengombinasikan dua layer yang menjadi masukannya, sehingga menghasilkan layer baru.

Secara analisa membutuhkan lebih dari satu layer yang akan ditumpang susun secara fisik agar bisa dianalisa secara visual (http://www.docstoc.com/docs/27326834/Bab-2-Konsep-SistemInformasi-Geografi) Pada awalnya , data atau objek-objek geografi hanya disajikan di atas peta dengan menggunakan bentuk simbol, variasi ukuran, pola garis, dan kombinasi warna. Kemudian, elemen-elemen geometri ini dideskripsikan di dalam legendanya , misalnya garis hitam tebal untuk jalan utama, garis hitam tipis untuk jalan sekunder dan jalan-jalan yang berikutnya. Namun dengan adanya overlay maka sebuah peta dapat menjadi media yang sangat

efektif baik sebagai alat presentasi maupun sebagai bank tempat penyimpanan data atau objek grafis (Prahasta, 2009) 2. Layer Perangkat SIG dapat menghubungkan sekumpulan unsurunsur atau objek peta (yang diimplementasikan di dalam satuansatuan yang disebut layer) sehingga dapat dikatakan bahwa layer adalah tampilan dari peta pada lembar kerja dengan atributatributnya yang disimpan di dalam tabel-tabel basis data (atribut). Dengan demikian, sungai, bangunan, jalan, laut, batasbatas administrasi, perkebunan, dan hutan bisa merupakan contoh-contoh layer. Kumpulan layer-layer ini beserta tabel-tabel atribut terkait akan membentuk basis data SIG. Dengan demikian, proses perancangan basis data merupakan hal yang esensial di dalam SIG. Rancangan basis data akan menentukan efektivitas dan efisiensi proses-proses masukan, pengelolaan, dan keluaran SIG itu sendiri (Prahasta, 2009)

3. Buffer Buffer adalah analisis spasial yang akan menghasilkan unsurunsur spasial yang berupa poligon, membuat peta dengan jarak tertentu dari suatu obyek. Unsur-unsur ini merupakan area atau buffer yang berjarak (yang ditentukan) dari unsur-unsur spasial yang menjadi masukannya. Multiple Ring Buffer berfungsi untuk membuat lebih dari satu buffer dengan jarak interval tertentu dari suatu objek, misalnya jarak pertama 5 meter, kedua 10 meter, dan ketiga 15 meter. Dengan adanya buffer maka akan dapat

menghasilkan layer spasial baru yang berbentuk poligon dengan jarak tertentu dari unsur unsur spasial yang menjadi masukannya (Prahasta, 2009) Titik Garis Poligon

1) 2)
3)

4. Dot/ titik Dot/ titik adalah representasi grafis atau geometri yang paling sederhana bagi objek spasial. Representasi ini tidak memiliki dimensi, tetapi dapat diidentifikasikan di atas peta dan dapat ditampilkan pada layar monitor dengan menggunakan simbolsimbol tertentu. Perlu dipahami bahwa skala peta akan

menentukan apakah suatu objek akan ditampilkan sebagai titik atau poligon (area/ luasan ). Pada peta skala besar , unsur-unsur bangunan akan ditampilkan sebagai poligon/ area, sementara pada skala kecil akan ditampilkan sebagai unsur-unsur titik. (Prahasta, 2009)

5. Garis Garis adalah bentuk geometri linier yang akan menghubungkan paling sedikit dua titik dan digunakan untuk merepresentasikan objek-objek yang berdimensi satu. Batas-batas setiap sisi objek geometri poligon juga merupakan garis-garis, demikian pula dengan jaringan listrik, jaringan komunikasi dan utiliti lainnya dapat dipresentasikan sebagai objek dengan bentuk geometri garis. Meskipun demikian, dilain pihak, sebagai contoh entitas jalan dan sungai dapat dipresentasikan baik sebagai objek geometri garis maupun poligon. Hal ini bergantung pada skala peta yang menjadi sumbernya atau skala representasi akhirnya ( Prahasta, 2009)

6. Poligon Geometri poligon digunakan untuk mempresentasikan objekobjek ua dimensi. Unsur-unsur spasial danau, batas provinsi, batas kota adalah beberapa contoh tipe entenitas dunia nyata yang pada umunya direpresentasikan sebagai objek objek dengan geometri poligon. Meskipun demikian, representasi ini masih bergantung pada skala petanya atau sajian akhirnya. Suatu objek yang berbentuk poligon paling sedikit dibatasi oleh tiga garis yang saling terhubung di antara ketiga titik sudutnya

http://www.bappeda.samarinda.go.id/sig_10.php

7. Atribut Atribut memiliki fungsi untuk mendeskripsikan karakteristik suatu peta. Penentuan atribut pada umumnya didasarkan pada fakta-fakta yang ada. Dengan adanya atribut diharapkan dapat memberikan informasi terkait dengan obyek

Setiap entitas pasti memiliki sejumlah atribut yang akan mendeskripsikan karakteristiknya. Penentuan atau pemilihan atribut yang relevan bagi suatu entitas merupakan hal penting di dalam pembentukan suatu model data. Atribut berfungsi untuk mendeskripsikan featurs objek yang bersangkutan hingga mereka benar-benar dapat dianggap informasi. Pada implementasinya atribut ini disimpan di dalam tabel-tabel basis data (Prahasta, 2009) 8. Global Positioning System (GPS) Global Positioning System (GPS), adalah sistem satelit navigasi dan penentuan posisi global yang dimungkinkan dengan

beroperasinya satelit penentu posisi milik negara Amerika. Secara prinsip, GPS bekerja berdasarkan sinyal-sinyal yang dipancarkan oleh satelit-satelit tersebut Informasi mengenai posisi satelit

secara terus menerus dan simultan dikirimkan kepada penerima sinyal di bumi yang selanjutnya diolah menjadi informasi koordinat secara global dapat diketahui oleh setiap orang dengan satuan pengukuran dan sistem koordinat yang jelas. Data biasanya yang didownload adalah waypoint (titik). Data ini adalah koordinat titiktitik yang diukur (diambil koordinatnya ) dalam survey lapangan. Selain waypoint, data yang lebih penting untuk didownload adalah tracklog (jejak). Tracklog adalah kumpulan koordinat titik-titik yang diambil secara otomatis oleh GPS dalam interval waktu dan jarak tertentu (Prahasta, 2009). GPS memiliki beberapa tipe, salah satunya adalah Garmin GPS MAP 60 CSX, merupakan High Sensitivity GPS dengan fitur MAPPING mampu menghadirkan interest point ditambah lagi fitur baromatic altimeter dan kompas membuat GPSMAP 60 XSC menjadi tool survey yang lengkap. GPSMAP 60 CSX-pun waterproof dengan tampilan warna pada layar serta memiliki slot memory untuk MicroSD. Gambar Garmin GPS MAP 60 CSX

Salah satu manfaat SIG adalah kemudahan dalam melihat fenomena kebumian dengan perspektif yang lebih baik. SIG mampu

mengakomodasi penyimpanan, pemrosesan, dan penayangan data spasial digital bahkan integrasi data yang beragam, mulai dari citra satelit, foto udara, peta bahkan data statistik. Ketersediaan komputer dengan kecepatan dan kapasitas ruang penyimpanan besar seperti saat ini, SIG akan mampu memproses data dengan cepat dan akurat dan menampilkannya. SIG juga mengakomodasi dinamika data dan pemutakhiran data menjadi lebih mudah ( Rahayuningsih, 2007) Selain itu, menurut Barus dan Wiradisastra (2000) dalam anisah (2007) Sistem Informasi Geografis dapat dimanfaatkan untuk

mempermudah dalam mendapatkan data-data yang telah diolah dan tersimpan sebagai atribut suatu lokasi atau obyek. Data-data yang diolah dalam SIG pada dasarnya terdiri dari data spasial dan data atribut dalam bentuk dijital. Sistem ini merelasikan data spasial (lokasi geografis) dengan data non spasial, sehingga para penggunanya dapat membuat peta dan menganalisa informasinya dengan berbagai cara. SIG merupakan alat yang handal untuk menangani data spasial, dimana dalam SIG data dipelihara dalam bentuk digital sehingga data ini lebih padat dibanding dalam bentuk peta cetak, table, atau dalam bentuk konvensional lainya yang akhirnya akan mempercepat

pekerjaan dan meringankan biaya yang diperlukan.

Ada beberapa alasan yang mendasari mengapa perlu menggunakan SIG, menurut Anon (2003) alasan yang mendasarinya adalah: 1. SIG menggunakan data spasial maupun atribut secara terintergarsi 2. SIG dapat memisahkan antara bentuk presentasi dan basis data 3. SIG memiliki kemampuan menguraikan unsure-unsur yang ada dipermukaan bumi ke dalam beberapa layer atau coverage data spasial 4. SIG memiliki kemampuan yang sangat baik dalam menvisualisasikan 5. Data spasial berikut atributnya 5. Semua operasi SIG dapat dilakukan secara interaktif 6. SIG dengan mudah menghasilkan peta -peta tematik 7. SIG sangat membantu pekerjaan yang erat kaitanya dengan bidang spasial dan geoinformatika. Posisi SIG dengan segala kelebihannya, semakin lama semakin berkembang bertambah dan bervarian. Pemanfaatan SIG semakin meluas meliputi pelbagai disiplin ilmu, seperti ilmu kesehatan, ilmu ekonomi, ilmu lingkungan, ilmu pertanian, militer dan lain-lain (Aini, 2007). Aplikasi SIG diperlukan untuk membuat informasi epidemiologi mudah dipahami, diinterpretasikan dan diambil tindakan (Hernita, 2003). SIG memungkinkan untuk menggambarkan penyebaran kasus dan pemanfaatan pelayanan kesehatan, data kesehatan, dan

perencanaan penempatan lokasi pada fasilitas kesehatan. Dengan menggunakan SIG maka penyebaran informasi mengenai pelayanan

kesehatan dan juga data megenai angka-angka kesehatan akan lebih mudah dipahami. Menurut Achmadi (2005) analisis spasial sebagai bagian dari manajemen penyakit berbasis wilayah, merupakan suatu analisis dan uraian tentang data penyakit secara geografi berkenaan dengan kependudukan, persebaran, lingkungan, perilaku, sosial ekonomi, kasus kejadian penyakit, dan hubungan antar variabel tersebut. Dalam SIG, peta kondisi kesehatan masyarakat dapat di

tumpangsusunkan dengan peta kepadatan permukiman, peta sanitasi lingkungan, pola hidup masyarakat, tingkat ekonomi, dan pendidikan masyarakat sehingga terlihat tingkat korelasinya antar variabel yang mempengaruhi kesehatan masyarakat (http://file.upi.edu/Direktori/)

27

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

A. Jenis dan Desain Penelitian Desain penelitian ini merupakan Geographical epidemiologi yaitu bentuk penelitian secara deskripsi yang menjelaskan mengenai penyebaran penyakit, tingkat kesakitan dan kematian dalam suatu wilayah. Teknik dalam menganalisa secara spasial salah satunya adalah dengan teknik korelasi, yaitu membandingkan dua hal yang berbeda untuk melihat ada tidaknya hubungan sebab akibat

B. Waktu dan Tempat Pelaksanaan Waktu penelitian dilakukan pada Bulan Oktober Tahun 2010 yang bertempat di Kota Samarinda

C. Populasi dan Sampel 1. Populasi Populasi dalam penelitian ini adalah total kasus TB Paru BTA (+) triwulan I Tahun 2010 di Kota Samarinda sebanyak 218 kasus 2. Sampel Penelitian ini menggunakan purposive sampel dengan mengacu pada kriteria inklusi dan kriteria eksklusi TB Paru BTA (+) triwulan I Tahun 2010 di Kota Samarinda yang berjumlah 78 kasus

D. Kriteria Sampel 1. Kriteria Inklusi - Kasus TB Paru BTA (+) triwulan I Tahun 2010 yang tercatat di register penderita TB Paru BTA (+) Dinas Kesehatan Kota Samarinda secara lengkap - Kasus TB Paru BTA (+) triwulan I Tahun 2010 yang memanfaatkan pelayanan kesehatan ( Puskesmas, RSUD I.A

Moeis, RSUD A.W Syahranie, RS Dirgahayu, RS. Islam) 2. Kriteria Eksklusi - Kasus TB Paru BTA (+) triwulan I Tahun 2010 dengan register penderita TB Paru BTA (+) yang tidak lengkap.di Dinas Kesehatan Kota Samarinda - Kasus TB Paru BTA (+) triwulan I Tahun 2010 yang alamat tempat tinggalnya berada di luar wilayah kerja pusat pelayanan kesehatan yang menjadi obyek penelitian

E. Kerangka Konsep Mengenai faktor-faktor risiko yang berhubungan dengan kejadian penyakit TB Paru BTA (+) serta tujuan penelitian yang sudah ditetapkan, maka kerangka konsep penelitian sebagai berikut: Variabel Bebas FAKTOR DEMOGRAFI Kepadatan penduduk Variabel Terikat

FAKTOR SOSIAL Kemiskinan PELAYANAN KESEHATAN Akses ke fasilitas pelayanan kesehatan Kejadian TB Paru BTA (+)

F. Variabel Variabel-variabel dalam penelitian ini berupa variabel terikat yaitu kejadian TB Paru BTA Positif, untuk variabel bebas yaitu faktor demografi (kepadatan penduduk), faktor sosial (kemiskinan) dan pelayanan kesehatan ( akses ke fasilitas pelayanan kesehatan).

G. Definisi Operasional
No Definisi Operasional Individu pada Kejadian seluruh kelompok penyakit TB umur yang Paru BTA dinyatakan Positif menderita TB Paru BTA Positif Variabel Kriteria Objektif Alat Ukur Data Dinas Kesehata n Kota Skala Ukur

1.

Ordinal

sesuai hasil pemeriksaan medis yang tercatat di Dinas Kesehatan Kota, yang dalam peta SIG digambarkan dengan titik - Tidak padat (0-50 jiwa/ ) - Kurang padat (51-250 Jumlah jiwa/ ) penduduk pada - Cukup padat masing-masing (251-400 kelurahan jiwa/ ) (jiwa/ ) - Sangat padat (> 401 jiwa/ )
(Undang-undang No.56 Tahun 1960)

2.

Kepadatan Penduduk

Pendataa n dengan observasi Ordinal dokument asi dan kuesioner

- Sangat miskin (memenuhi 12 kriteria miskin) Ketidakmampuan - Miskin individu dalam (memenuhi 6 memenuhi 10 kriteria kebutuhan dasar miskin) minimal untuk hidup layak dilihat dari - Mendekati miskin pendapatan dan (memenuhi 5 jumlah 6 kriteria tanggungan miskin)
(http://www.dinso s.pemdadiy.go.id/)

3.

Kemiskinan

Pendataa n dengan observasi dokument Ordinal asi dari kelurahan dan kuesioner

- Dekat (<1 km) Jarak dan waktu tempuh yang Akses ke dibutuhkan fasilitas penderita untuk pelayanan mencapai kesehatan pelayanan kesehatan - Jauh (1-5 km) - Sangat (>5 km)
(Dinkes 2009)

4.

Jauh

Observasi dan kuesioner

Ordinal

Kaltim,

H. Manajemen Data 1. Pengumpulan Data Jenis data yang dikumpulkan dalam penelitian ini adalah data primer (yaitu dengan menggunakan alat GPS ke lokasi kasus TB dan lembar kuesioner ) serta data sekunder. Data sekunder diambil pada: a) Dinas Kesehatan Kota Samarinda b) Badan Pusat Statistik Kota Samarinda c) Kantor Kecamatan di Wilayah Kota Samarinda d) Pelayanan Kesehatan di Wilayah Kota Samarinda 2. Pengolahan dan Analisa Data a) Pengolahan data dilakukan dengan menggunakan Sistem

Informasi Geografi menggunakan aplikasi pengolah data geografi b) Variabel kemiskinan dan kepadatan penduduk diperoleh dari data primer yaitu dengan lembar kuesioner dan data sekunder pada Badan Pusat Statistik Kota Samarinda dan Kantor Kecamatan di Wilayah Kota Samarinda. Setelah didapatkannya data tersebut, selanjutnya diinput pada atribut Peta Samarinda dengan bantuan aplikasi pengolah data geografi, setelah keluar hasilnya,lalu disimpan pada aplikasi tersebut c) Berbeda halnya dengan variabel kemiskinan dan kepadatan penduduk, untuk variabel akses ke fasilitas pelayanan kesehatan, yang pertama dilakukan adalah mendatangi lokasi terjadinya kasus TB Paru BTA Positif untuk menentukan lokasi berupa titik yang akan dimasukkan pada peta Kota Samarinda dalam aplikasi

pengolah data geografi dengan bantuan alat Global Positioning System (GPS), setelah semua kasus sudah ditentukan lokasinya pada GPS, selanjutnya beralih ke pusat pelayanan kesehatan dalam hal ini adalah puskesmas dan rumah sakit. Selain itu, digunakan juga lembar kuesioner Langkah kedua adalah

menyimpan data yang telah terekam dari GPS tersebut yang kemudian di upload dalam komputer untuk dilihat hasilnya dan disinkronkan dengan peta yang ada. Langkah ketiga adalah membuat buffer (membuat peta dengan jarak tertentu dari suatu obyek) dengan interval < 1 km, 1-5 km dan >5 km, selanjutnya disimpan. d) Hasil peta dari ketiga variabel telah selesai, langkah terakhir adalah melakukan proses tumpang susun ketiga peta tersebut. e) Penyajian data dalam penelitian ini yaitu dalam bentuk peta. f)Analisa data dilakukan secara deskriptif dengan melihat hasil tampilan dari peta yang telah mengalami proses tumpang susun.

I. Keterbatasan Penelitian Ada beberapa hal yang menjadi keterbatasan dalam penelitian, yaitu: 1) Data a) Penelitian ini menggunakan data primer dan sekunder. Data primer adalah data yang didapat langsung di lapangan dalam hal ini berupa data kemiskinan dan lokasi tempat tinggal penderita maupun lokasi pusat pelayanan kesehatan, sedangkan data sekunder yaitu data yang tidak diambil secara langsung dan pada penelitian ini yang merupakan data sekunder adalah data kasus penyakit TB Paru BTA (+) yang pengambilan datanya dibatasi hanya pada Dinas Kesehatan Kota Samarinda yang meliputi data dari puskesmas, Rumah Sakit AW. Syahranie, RS. Islam, dan RS. Dirgahayu, dan untuk data kependudukan diambil dari data Badan Pusat Statistik Kota Samarinda, sehingga tidak dapat menunjukkan kondisi sesungguhnya di masyarakat b) Alamat kasus yang tidak lengkap sehingga menyulitkan untuk ditemui, walaupun dari data yang ada memang semua alamat sampai kepada nomor rumah, namun kondisi Kota Samarinda yang luas dan banyak jalan, gang dan RT maka jika dialamat yang ada hanya nama jalan dan nomor rumah, maka akan sulit ditemukan. c) Alamat yang tidak jelas dan tidak mengalami pembaruan dari pusat pelayanan kesehatan sehingga ada alamat-alamat yang RT maupun nomor rumahnya berubah

2) Peneliti a) Alamat kasus yang jauh dari pusat kota sedangkan peneliti tidak mengetahui lokasi tersebut. b) Keterbatasan waktu yang dimiliki untuk penelitian 3) Kasus a) Tidak semua sampel kasus bersedia untuk diteliti b) Ada kasus yang ketika ditemukan alamatnya namun tidak ada di tempat, misalnya sedang keluar kota untuk waktu yang lama maupun pindah c) Ada kasus yang berasal dari luar daerah dan ketika berobat menggunakan kartu pengenal milik keluarganya, sehingga nama yang tercantum pada fasilitas pelayanan kesehatan bukanlah namanya, dan ketika dia sembuh akan langsung kembali ke daerah asalnya

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil 1. Gambaran Demografi Kota Samarinda Kota Samarinda merupakan ibukota Propinsi Kalimantan Timur dan berbatasan langsung dengan Kabupaten Kutai Kertanegara. Luas wilayah Kota Samarinda adalah 718,00 km 2 dan terletak antara 117o0300 Bujur Timur dan 117o1814 Bujur Timur serta diantara 00o1902 Lintang Selatan dan 00o4234 Lintang Selatan. Wilayah administrasi Kota Samarinda berdasarkan PP No. 38 Tahun 1996 terbagi menjadi 6 kecamatan, yaitu: Kecamatan Sungai Kunjang, Kecamatan Samarinda Ulu, Kecamatan Samarinda Utara, Kecamatan Samarinda Ilir, Kecamatan Samarinda Seberang dan Kecamatan Palaran. Pemekaran kecamatan kembali dilakukan seiring dengan

pertumbuhan penduduk yang cukup pesat dan pelayanan masyarakat yang semakin meningkat. Kecamatan-kecamatan di Samarinda yang semula berjumlah 6, kini dimekarkan menjadi 10 kecamatan. 4 kecamatan hasil pemekaran tersebut antara lain: Kecamatan

Samarinda Kota, Kecamatan Loa Janan Ilir, Kecamatan Sambutan dan Kecamatan Sungai Pinang. Peresmian kecamatan tersebut dilaksanakan pada tanggal 28 Desember 2010. Jadi, secara administratif Kota Samarinda dibagi menjadi 10 kecamatan dan 53 kelurahan (http://id.wikipedia.org). Akan tetapi pada penelitian ini

dibatasi hanya pada 6 kecamatan. Berikut gambaran Kota Samarinda yang ada di peta

Gambar 4.1 Peta Kota Samarinda Tahun 2010

Dari 6 Kecamatan yang ada di Kota Samarinda, masing-masing memiliki luas wilayah yang berbeda-beda, di bawah ini tabel luas wilayah, jumlah penduduk dan kepadatan.

Tabel 4.1 Luas Wilayah, Jumlah Penduduk dan Kepadatan Per Kota Samarinda Tahun 2008
No .

Kecamatan Palaran Samarinda Ilir Samarinda Seberang Sungai Kunjang Samarinda Ulu Samarinda Utara

1. 2. 3. 4. 5. 6.

Luas Wilayah 2 (Km ) 182,53 89,70 40,48 69,23 58,26 277,80

Penduduk (Jiwa) 43.713 108.742 93.997 98.687 105.971 151.007

Kepadatan 2 (Jiwa/ Km ) 239 1.212 2.322 1.425 1.819 544

Jumlah Kelurahan

5 13 8 7 9 11

Sumber: BPS Kota Samarinda (2009)

Dari tabel di atas terlihat bahwa kecamatan terluas adalah Kecamatan Samarinda Utara yaitu 277,80 km2, sedangkan Palaran memiliki luas wilayah 182,53 km2, selanjutnya adalah Samarinda llir yang memiliki luas wilayah yaitu 89,70 km2, dan yang tidak terlalu berbeda jauh adalah Sungai Kunjang dengan luas wilayahnya yaitu 69,23 km2 dengan Samarinda Ulu yaitu 58,26 km2 dan yang paling sempit adalah Samarinda Seberang yaitu hanya 40,48 km2 Kecamatan Palaran memiliki jumlah penduduk paling sedikit diantara kecamatan lainnya yaitu berjumlah 43.713 jiwa dan kecamatan dengan jumlah penduduk terbanyak adalah Kecamatan Samarinda Utara yaitu 151.007 jiwa. Jika dibandingkan jumlah penduduk per wilayah, maka daerah yang memiliki tingkat kepadatan tertinggi adalah Kecamatan Samarinda Seberang yaitu 2.322 jiwa/ km2. Samarinda Ulu termasuk kecamatan yang kepadatan

penduduknya masuk dalam kategori sangat padat dan hal ini ditunjang juga oleh kondisi lingkungan tempat tinggal penderita yang memang berada di lingkungan padat rumah

Kecamatan Samarinda Ilir merupakan kecamatan yang memiliki kelurahan terbanyak jika dibandingkan dengan kelurahan lainnya yang ada di Kota Samarinda, berjumlah 13 kelurahan, sedangkan kecamatan yang memiliki kelurahan paling sedikit adalah Kecamatan Palaran. Samarinda merupakan salah satu kota sekaligus ibukota Provinsi Kalimantan Timur yang memiliki berbagai sarana prasarana untuk menunjang pembangunan kota ini. Dari segi pendidikan bila dibandingkan dengan daerah lain, di Samarinda terdapat 3 perguruan tinggi negeri dan 24 perguruan tinggi swasta yang menjadi tempat mengenyam pendidikan bagi putra putri daerah baik yang berasal dari Samarinda maupun dari luar kota. Selain itu di Samarinda juga

terdapat rumah sakit pemerintah tipe B yaitu Rumah Sakit AW. Syahranie adalah rumah sakit yang mampu memberikan pelayanan kedokteran spesialis dan subspesialis terbatas. Rumah sakit ini didirikan disetiap Ibukota propinsi yang menampung pelayanan rujukan dari rumah sakit kabupaten maupun kota. Pusat perbelanjaan yang ada di Kota Samarinda juga banyak mulai dari pasar tradisional yang berjumlah 8 lokasi hingga mall yang sampai tahun 2011 terdapat 5 mall besar, sehingga banyak orangorang dari luar kota yang berbelanja di kota ini untuk kemudian di jual kembali di daerahnya masing-masing.

Sebagai kota yang dibelah Sungai Mahakam, Samarinda memiliki transportasi air tradisional sejak dahulu, yakni Tambangan dan Ketinting. Tambangan biasa digunakan sebagai alat transportasi menyeberang sungai dari daerah Samarinda Seberang ke kawasan Pasar Pagi. Ketinting menjadi moda transportasi sungai utama untuk menyeberangi sungai maupun menuju wilayah tertentu yang hanya bisa dinaiki oleh manusia dan barang. Sedangkan untuk mengangkut kendaraan, kapal feri sempat beroperasi menyeberangi sungai dari pelabuhan Harapan Baru, Samarinda Seberang ke pelabuhan Samarinda Kota. Namun, sejak pembangunan dan beroperasinya Jembatan Mahakam pada tahun 1987, tambangan dan ketinting mulai berkurang penumpangnya meski tak signifikan. Tetapi, yang paling merasakan kerugian adalah kapal feri hingga akhirnya pelayaran ditutup. Sejak didirikannya transportasi utama Samarinda melalui Sungai Mahakam yang membelahnya ditengah-tengah, pada tahun 1987 baru dibangun Jembatan Mahakam yang menghubungkan Samarinda kota dengan Samarinda Seberang. Selain itu sudah dibangun dan diresmikan pada 2009 Jembatan Mahakam Ulu dan Jembatan Mahkota II (dalam tahap konstruksi). Terdapat pelabuhan peti kemas yang berada di Jalan Yos Sudarso dan sekarang sedang dibangun pelabuhan baru yang terletak di kecamatan Palaran untuk menggantikan pelabuhan yang sekarang sudah tidak sesuai dengan kondisi kota. Pada tanggal 26 Mei 2010,

pelabuhan baru tersebut selesai dibangun dan diresmikan dengan nama TPK Palaran dan saat ini dalam tahap uji coba. Terdapat jalan darat yang menghubungkan kota Samarinda dengan Balikpapan ke selatan, kemudian Bontang dan Sangatta ke utara, jalan baru ke Tenggarong di arah barat laut serta ke Sanga-Sanga, Kutai Kartanegara melalui jalan tenggara yang tembus sampai ke Muara Jawa, Samboja dan Balikpapan. Terdapat 3 terminal perhubungan darat yang menghubungkan kota Samarinda dengan daerah-daerah lain di Kalimantan, antara lain Terminal Sungai Kunjang, Terminal Lempake dan Terminal Bus Samarinda-Banjarmasin. Saat ini sedang dibangun jalan bebas hambatan sejenis jalan tol, yaitu freeway yang menghubungkan Samarinda dengan Balikpapan dengan waktu tempuh 1 jam. Bandar Udara Temindung merupakan bandar udara yang

menghubungkan Samarinda dengan kota-kota di pedalaman serta Balikpapan. Saat ini sedang dibangun Bandar Udara Sungai Siring yang nantinya dapat didarati oleh pesawat yang lebih besar. Kota Samarinda tidak hanya didiami oleh warga asli namun banyak warga dari luar daerah sehingga penduduknya sangat heterogen yang disebabkan oleh bermacam-macam suku, agama, latar belakang pendidikan dan lain-lain baik yang menetap untuk jangka waktu lama maupun yang hanya dalam rentang waktu tertentu seperti mahasiswa dari daerah-daerah yang mengenyam pendidikannya dikota ini.

Dengan adanya migrasi penduduk yang seperti itu maka tidak menutup kemungkinan adanya penularan penyakit yang dibawa dari luar daerah apalagi bila dari daerah yang endemis terhadap suatu penyakit tertentu. 2. Sebaran Kasus Penyakit TB Paru BTA (+) Kota Samarinda Data kasus penyakit TB Paru BTA (+) di Wilayah Kota Samarinda adalah hasil rekapitulasi tiap triwulan pada Unit Pelayanan Kesehatan (UPK) selama tahun 2005 - triwulan II tahun 2010. Namun yang menjadi sampel adalah kasus triwulan I dan II pada tahun 2010,

sebab dengan mengetahui kasus pada triwulan I, maka akan terlihat kecenderungan peningkatan di triwulan berikutnya, dan hal ini menjadi masalah yang serius bila tidak ditangani dengan baik. Dari peta

terlihat bahwa kasus penyakit pada suatu kecamatan ada yang berdekatan dengan kecamatan lain. Berikut peta sebaran kasus TB Paru BTA (+) di sejumlah Kecamatan yang ada di Kota Samarinda.

Gambar 4.2 Peta Sebaran Kasus TB Paru BTA (+) Kota Samarinda Tahun 2010

Dari gambar yang ada dapat diketahui bahwa sebaran kasus TB terbanyak terdapat di Kecamatan Samarinda Utara yaitu berjumlah 20 kasus, sedangkan di Kecamatan Samarinda Ilir dan Kecamatan Sungai Kunjang terdapat jumlah kasus yang sama yaitu masingmasing 8 kasus, dan di Kecamatan Samarinda Ulu berjumlah 7 kasus. Pada Kecamatan Samarinda Seberang dan Kecamatan Palaran tidak terlihat adanya kasus, hal ini disebabkan tidak adanya data yang tersedia di Unit Pelayanan Kesehatan sehingga menimbulkan keterbatasan dalam penelitian. Sebaran kasus terbanyak di Kecamatan Samarinda Utara dari hasil tanya jawab dengan kasus yang ada di daerah tersebut sebesar 80% tertular ketika bekerja dan ditunjang oleh kondisi rumah dengan sirkulasi udara yang kurang lancar, pencahayaan kurang dan kebiasaan hidup tidak sehat seperti perokok, mandi malam dan kebiasaan bergadang. Berbeda halnya dengan kasus yang berada pada Kecamatan Sungai Kunjang, dari hasil tanya jawab mereka tertular oleh rekan kerjanya di lokasi kerja. Pada penelitian ini sebesar 63% adalah kasus dengan usia produktif yaitu antara 15-50 tahun, bila dilihat dari gambar akan tampak bahwa kasus berkumpul dan tidak tersebar, sebab daerah di luar kasus tersebut merupakan daerah yang jarang penduduknya, jauh dari pusat kota dan bila ada yang sakit kemungkinan akan memeriksakan dirinya ke dokter praktek terdekat sehingga tidak

tercatat pada fasilitas pelayanan kesehatan yang menangani kasus TB. 3. Kepadatan Penduduk Kasus TB Paru tersebar di beberapa kecamatan, yaitu Kecamatan Samarinda Utara, Kecamatan Samarinda Ilir, Kecamatan Samarinda Ulu dan Kecamatan Sungai Kunjang. Pada kedua kecamatan lain yaitu Kecamatan Samarinda Seberang dan Kecamatan Palaran tidak tampak adanya kasus TB Paru BTA (+), hal ini bukan berarti kedua kecamatan tersebut bebas dari adanya penyakit ini, akan tetapi pada saat dilakukan penelitian, data kasus di kedua kecamatan ini kurang lengkap dan jauh dari jangkauan peneliti sehingga akan memakan waktu yang lama. Berikut gambar peta kepadatan penduduk kecamatan yang ada di Kota Samarinda

Gambar 4.3 Peta Kepadatan Penduduk Kota Samarinda Tahun 2008

Dari gambar yang ada dapat diketahui bahwa kecamatan yang memiliki tingkat kepadatan tertinggi adalah Kecamatan Samarinda Seberang, kemudian diikuti oleh Kecamatan Samarinda Ulu,

Kecamatan Sungai Kunjang, Kecamatan Samarinda Ilir, Kecamatan Samarinda Utara dan Kecamatan Palaran. Kepadatan penduduk selain diketahui berdasarkan data namun diamati juga ketika penelitian di lapangan yaitu bagaimana kondisi sekitar rumah penderita yang memang padat hunian rumah yang menyebabkan lingkungan tersebut menjadi lembab dan berdampak pada kondisi penderita sehingga kuman TB akan bertahan lebih lama dalam tubuh kasus. Kepadatan penduduk ini tidak tersebar merata pada setiap kecamatan, seperti pada Kecamatan Samarinda Ilir salah satu kelurahannya yaitu Pulau Atas memiliki luas wilayah yang luas yaitu 29,39 Km2 akan tetapi penduduknya hanya berjumlah 2.183 jiwa, sangat berbeda sekali dengan Kelurahan Sungai Pinang Luar dengan luas wilayah 0,89 Km2 didiami oleh 12.595 jiwa. Lain halnya dengan Kecamatan Samarinda Utara walaupun pada kecamatan ini terdapat perguruan tinggi negeri dan swasta yang tentunya banyak mahasiswa yang berkuliah disini namun karena memiliki luas wilayah terluas bila dibandingkan dengan kecamatan lain maka daerah ini bukan merupakan daerah padat karena masih banyak dijumpai lahan kosong di pinggir kota . Kecamatan Samarinda Ulu yang merupakan kecamatan terpadat kedua setelah Kecamatan Samarinda Seberang, adalah daerah perkotaan terdapat banyak fasilitas kesehatan seperti 2 rumah sakit

besar, 4

puskesmas

dan

adanya

Dinas

Kesehatan

Provinsi

Kalimantan Timur dan ditambah pula adanya Perpustakaan Daerah. 4. Kemiskinan Data jumlah keluarga miskin (gakin) di Kota Samarinda dapat dilihat pada tabel berikut Tabel 4.2 Keluarga Miskin Per Kecamatan Kota Samarinda Tahun 2008
No. Kecamatan Keluarga Miskin Jumlah 1. 2. 3. 4. 5. 6. Palaran Samarinda Ilir Samarinda Seberang Sungai Kunjang Samarinda Ulu Samarinda Utara 2,902 6,050 2,940 3,570 3,126 9,470 Persentase 10.34 21.56 10.48 12.72 11.14 33.75

Sumber: BPS Kota Samarinda (2009)

Jumlah keluarga miskin tahun 2009 dari 6 kecamatan di Kota Samarinda berjumlah 28,058 Rumah Tangga. Keluarga miskin tertinggi terdapat di Kecamatan Samarinda Utara berjumlah 9,470 Rumah Tangga sedangkan keluarga miskin terendah terdapat di Kecamatan Palaran berjumlah 2,902 Rumah Tangga

Gambar 4.4 Peta Angka Kemiskinan Penduduk Kota Samarinda Tahun 2008

Dari hasil penelitian diketahui bahwa Kecamatan Samarinda Utara memiliki angka kemiskinan tertinggi namun bila dilihat secara individu dari kasus yang diteliti hanya 35% yang masuk kategori miskin, selebihnya adalah sejahtera. Begitu pula dengan Kecamatan

Samarinda Ilir yang memiliki angka kemiskinan tertinggi kedua namun secara individu dari kasus yang diteliti hanya sebesar 37,5% saja yang masuk kategori miskin. Sebaliknya, Kecamatan Samarinda Ulu yang angka kemiskinannya rendah tapi ternyata secara individu dari kasus yang diteliti terdapat 71% yang kategorinya miskin. 5. Akses ke Fasilitas Pelayanan Kesehatan Fasilitas Pelayanan Kesehatan yang dimanfaatkan oleh masyarakat adalah Puskesmas dan Rumah Sakit, walaupun ada beberapa jenis jasa pengobatan lain seperti dokter praktek dan poliklinik. Namun pada penelitian ini dibatasi hanya pada Puskesmas dan Rumah Sakit tempat ditemukannya kasus. Berikut gambar cakupan pelayanan kesehatan Puskesmas dan Rumah Sakit berdasarkan jarak < 1 km, 15 km, dan > 5 km

Gambar 4.5 Peta Sebaran Puskesmas dan Rumah Sakit di Kota Samarinda Tahun 2010

Dari gambar yang ada terlihat bahwa terdapat daerah yang tidak tercakup oleh pelayanan kesehatan yaitu daerah yang memiliki jarak lebih dari 5 km dari fasilitas pelayanan kesehatan, namun di daerah-

daerah tersebut sebenarnya masih terdapat puskesmas, hanya saja karena pada penelitian ini dibatasi fasilitas kesehatan yang masuk adalah tempat ditemukannya kasus maka ada beberapa puskesmas yang tidak didata, seperti Puskesmas Loa Bakung Kecamatan Sungai Kunjang, Puskesmas Sungai Siring Kecamatan Samarinda Utara, Puskesmas Sambutan dan Puskesmas Sungai Kapih Kecamatan Samarinda Ilir, Puskesmas Kampung Baka, Puskesmas Mangkupalas dan Puskesmas Harapan Baru Kecamatan Samarinda Seberang serta Puskesmas Palaran Kecamatan Palaran. Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kota Samarinda (2011), jumlah kunjungan pasien yang memanfaatkan fasilitas pelayanan kesehatan seperti puskesmas pada tahun 2010, 3 terbanyak terdapat pada Puskesmas Sidomulyo berjumlah 73.741 kunjungan, kemudian Puskesmas Temindung berjumlah 71.422 kunjungan dan Puskesmas Karang Asam berjumlah 61.231 kunjungan. Tujuan pelayanan kesehatan adalah tercapainya derajat kesehatan masyarakat yang memuaskan harapan dan kebutuhan derajat masyarakat (Djojosugito, 2001). Salah satu sumber daya yang perlu diperhatikan dalam rangka pelayanan kesehatan yang memadai, baik kualitas maupun kuantitas adalah penyediaan fasilitas kesehatan yang berada sedekat mungkin dengan masyarakat sehingga upaya dan jangkauan pelayanan kesehatan dapat dilaksanakan dengan mudah dan sebaik mungkin.

6. Hubungan Kepadatan Penduduk dengan Kasus TB Paru BTA (+) Berikut adalah gambar peta kepadatan penduduk dengan sebaran kasus TB Gambar 4.6 Peta Kepadatan Penduduk dan Kasus TB Paru BTA (+) Kota Samarinda Tahun 2010

Dari gambar 4.6 terlihat bahwa Kecamatan Samarinda Utara yang merupakan daerah tidak padat memiliki jumlah kasus yang lebih

banyak yaitu berjumlah 20 kasus dibandingkan kecamatan lain dan daerah yang padat penduduknya seperti Kecamatan Samarinda Ulu dalam penelitian ini hanya terdapat 7 kasus saja. Selain itu, jika dilihat berdasarkan kasus pertriwulan, maka untuk daerah yang padat penduduknya seperti Kecamatan Samarinda Ulu, justru mengalami penurunan kasus yaitu pada triwulan I ditemukan 4 kasus dan triwulan II menjadi 3 kasus. Kepadatan penduduk dan kasus TB Paru BTA (+) juga dapat dilihat melalui gambar peta yang diakses menggunakan aplikasi Google Earth.

Gambar 4.7 Kepadatan Penduduk dan Kasus TB Paru BTA (+) dilihat dari Google Earth

Berdasarkan gambar 4.7 terlihat bahwa disekitar kasus TB Paru BTA (+) yang berada di wilayah Kecamatan Samarinda Utara ditemukan beberapa lokasi yang tidak padat, berbeda halnya dengan Kecamatan Samarinda Ulu yang mana terlihat bahwa daerah sekitar kasus merupakan daerah yang padat, demikian halnya dengan kasus yang berada di Kecamatan Samarinda Ilir, kasus yang ditemukan berkumpul pada suatu lokasi yang kepadatannya tinggi

8. Hubungan Kemiskinan Penduduk dengan Kasus TB Paru BTA (+) Tahun 2010 Kemiskinan menjadi salah satu faktor yang menyebabkan kasus TB, sebaran kasus TB Paru BTA (+) terlihat pada gambar berikut ini: Gambar 4.8 Peta Kemiskinan Penduduk dan Kasus TB Paru BTA (+) Tahun 2010

Dari gambar yang ada dapat diketahui bahwa kemiskinan terkait dengan kasus TB Paru BTA (+). Dapat dilihat daerah yang memiliki angka kemiskinan penduduk tertinggi yaitu Kecamatan Samarinda Utara memiliki sebaran TB Paru BTA (+) tertinggi pula yaitu 20 kasus. Demikian pula halnya dengan Kecamatan Samarinda Ilir yang merupakan kecamatan dengan angka kemiskinan tertinggi kedua setelah Kecamatan Samarinda Utara, angka sebaran kasus TB Paru BTA (+) juga tinggi dan meningkat yaitu triwulan I ditemukan 2 kasus dan triwulan II menjadi 6 kasus . Sedangkan Kecamatan Samarinda Ulu hanya terdapat 7 kasus. Jika dilihat berdasarkan kasus pertriwulan, maka pada triwulan I berjumlah 4 kasus dan menurun menjadi 3 kasus pada triwulan II.

7. Hubungan Akses ke Fasilitas Pelayanan Kesehatan dengan Kasus TB Paru BTA (+) Berikut adalah gambar cakupan pelayanan kesehatan puskesmas dan rumah sakit yang ada di Kota Samarinda tempat ditemukannya kasus TB Paru BTA (+).

Gambar 4.9 Peta Jarak Cakupan Pelayanan Kesehatan dan Kasus TB Paru BTA (+) Tahun 2010

Dari gambar terlihat bahwa adanya buffer untuk jarak-jarak tertentu, yaitu < 1 km berwarna abu-abu, 1-5 km berwarna kuning kehijauan, dan lebih dari 5 km adalah daerah yang berada di luar cakupan pelayanan kesehatan. Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Timur membagi wilayah cakupan ini dalam 3 kategori yaitu untuk jarak <1 km termasuk jarak dekat, 1-5 km jarak jauh dan >5 km jarak sangat jauh. Bila dilihat dari gambar terdapat 29 kasus yang berada dalam buffer <1 km, dan 14 kasus yang berada dalam buffer 1-5 km. Hal ini mengindikasikan bahwa fasilitas pelayanan kesehatan turut terkait dengan penemuan kasus TB Paru BTA (+), sebab terlihat bahwa banyaknya kasus berada pada buffer < 1 km berjumlah 29 kasus, dan 14 kasus berada pada buffer 1-5 km, hal ini adalah wajar bila kasus banyak ditemui disekitar fasilitas pelayanan kesehatan karena jarak yang tidak terlalu jauh, sehingga ketika ada keluhan pasien bisa segera memeriksakan dirinya, sedangkan yang berada lebih dari 1 km walaupun mereka merasakan adanya keluhan namun karena jarak yang jauh membuat enggan untuk memeriksakan diri, selain itu dengan jarak yang dekat lebih memudahkan masyarakat untuk mendapatkan informasi. Cakupan penemuan kasus Tuberkulosis Paru BTA (+) / Case Detection Rate (CDR) di Kota Samarinda dalam 5 tahun terakhir mengalami fluktuasi, tahun 2006 sebesar 354 kasus, tahun 2007 menurun menjadi 333 kasus, tahun 2008 meningkat secara signifikan menjadi 454 kasus, menurun kembali pada tahun 2009 sebesar 433

dan pada tahun 2010 meningkat kembali sebesar 437 kasus. Untuk lebih lengkapnya dapat dilihat pada gambar dibawah ini. Gambar 4.10 Penemuan Kasus Baru Tuberkulosis Paru BTA (+) di Kota Samarinda Tahun 2006-2010

Sumber: Dinkes Kota Samarinda (2011)

Terjadinya fluktuasi CDR bisa jadi disebabkan oleh petugas TB Paru yang belum cukup memberikan penyuluhan kesehatan di masyarakat sehingga dikhawatirkan berdampak pada tingkat pengetahuan dan kesadaran masyarakat tentang penyakit TB Paru juga akan rendah. Akibat lebih lanjut masyarakat kemungkinan menjadi enggan datang ke puskesmas untuk memeriksakan diri sehingga berdampak pada petugas TB Paru puskesmas akan kesulitan menemukan suspek dan penderita TB Paru. Disisi lain selama ini penjaringan suspek dan penemuan penderita TB Paru

terjadi hanya pada saat penderita datang ke Puskesmas atau pada saat penyuluhan kesehatan di masyarakat, sehingga penting dilakukan upaya aktif pencarian kasus TB Paru (Mantala,2003)

8. Daerah Resiko Persebaran Kasus TB Paru BTA (+) Berikut adalah gambar transmisi Kasus TB Paru BTA (+) . Gambar 4.11 Peta Transmisi Penyebaran Kasus TB Paru BTA (+)

Dari 43 kasus yang berhasil diteliti ada 29 kasus yang selama sakit melakukan aktivitas seperti biasa saat sebelum ia sakit, aktivitas yang dilakukan bermacam-macam diantaranya sekolah, kuliah, berdagang dan mengajar, ada 16% yang selama proses pengobatan melakukan aktivitas di luar yang sering dan berinteraksi dengan banyak orang, seperti mengajar, kuliah dan berdagang di pasar, sehingga berpotensi untuk menyebarkan kuman Mycobacterium Tuberculosis pada orang lain, sedangkan selebihnya tersebar diberbagai tempat. Daerahdaerah transmisi tersebut yaitu SDN.017 Loa Bahu, Pasar Kedondong Jalan Ulin dan Kampus Universitas Mulawarman.

B. Pembahasan Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilaksanakan sebelumnya, maka pembahasan selanjutnya mengenai persebaran kasus TB Paru BTA (+), dan keterkaitannya dengan kepadatan penduduk, kemiskinan dan akses ke fasilitas pelayanan kesehatan adalah sebagai berikut: 1. Sebaran Kasus TB Paru BTA (+) Kota Samarinda Berdasarkan gambar 4.2 Kasus TB Paru BTA (+) hanya terdapat pada 4 kecamatan yang ada di Kota Samarinda, dan terlihat pula bahwa kasus tersebut berkumpul dan tidak tersebar, bila dilihat pada gambar 4.7 berkumpulnya kasus karena daerah tersebut merupakan pemukiman penduduk dan memang tempat yang tidak ditemukannya kasus merupakan daerah yang masih sepi pemukiman, selain itu karena jauh dari pusat kota, maka bila ada orang yang terkena TB akan

memeriksakan dirinya ke dokter praktek yang lebih dekat dengan tempat tinggalnya sehingga tidak tercatat oleh pusat kesehatan yang menangani masalah TB. Dalam gambar juga terlihat kasus terbanyak berada di Kecamatan Samarinda Utara dengan jumlah 20 kasus. Hal ini bukan berarti di kecamatan lain tidak ada kasus TB Paru BTA (+) hanya saja data yang diperoleh peneliti terkait alamat kasus kurang lengkap, selain itu yang perlu dipikirkan adalah jarak yang jauh dan waktu yang diperlukan lebih banyak, sehingga dari 78 sampel kasus hanya 43 kasus berhasil diteliti, tidak dapat menunjukkan data sesungguhnya di lapangan. Tingginya kasus TB di Kecamatan Samarinda Utara dalam penelitian ini karena daerah tersebut merupakan kecamatan yang memiliki angka kemiskinan penduduk tertinggi jika dibandingkan dengan kecamatan lain, dan pada kecamatan ini kondisi masyarakatnya heterogen salah satu penyebabnya adalah banyak mahasiswa yang datang silih berganti karena disini terdapat sebuah universitas negeri dan swasta. Selain itu, hasil wawancara dengan kasus diketahui bahwa sebagian besar mereka tertular ketika bekerja, sebab bila dibandingkan dengan kasus di daerah lain, pada kecamatan ini banyak kasus yang bekerja di luar kota dengan mobilitas tinggi dan intens berhubungan langsung dengan orang lain yang menjadi rekan kerja dan orang-orang yang ditemui sepanjang perjalanan dari rumah ke tempat kerja, sehingga rentan untuk terinfeksi TB akibat dari kontak dengan sumber penyakit.

Sumber penyakit ini dapat berasal dari dahak para pengendara atau pemakai jalan yang menderita TB paru dan terhirup oleh orang lain. Akan tetapi tidak semua orang yang terpajan akan mengalami sakit TB ini, sebab tergantung pada imunitas tubuh seseorang, sehingga bila imunitas seseorang itu bagus kuman TB akan dormant dan sebaliknya bila saat seseorang terpajan dan imunitas tubuhnya lemah maka akan menjadi sakit. Imunitas tubuh pada awal kelahiran sangat lemah setelah masa pubertas imunitas tubuh lebih baik dalam mencegah penyebaran infeksi melalui darah tetapi lemah dalam mencegah penyebaran infeksi di paru. Kekuatan untuk melawan infeksi sangat dipengaruhi oleh umur,

selain dari segi imunitasnya juga karena umur berhubungan dengan lama paparan. Menurut Depkes (2002) diperkirakan 75% penderita TB Paru adalah usia produktif yaitu 15 hingga 50 tahun dan pada penelitian ini sebanyak 63% yang terkena TB Paru adalah kasus dengan umur produktif. Umur produktif merupakan saat-saat dimana seseorang aktif dalam bekerja, berusaha dan melakukan aktivitas lain yang sudah pasti banyak berhubungan dengan orang-orang disekitarnya sehingga potensi untuk tertular menjadi lebih tinggi dan paparannya jelas lebih besar bila dibandingkan dengan anak-anak yang umurnya masih balita ataupun orang lanjut usia yang rentan. Selain faktor umur, higiene personal juga turut mempengaruhi persebaran TB, yang mana perilaku seseorang sehari-hari yang kurang memperhatikan kebersihan, maka akan mempermudah penyebarannya

baik bagi orang yang sedang mengidap TB maupun orang-orang yang berada di sekitar kasus, misalnya saja bagi penderita TB yang ketika batuk tidak menutup mulutnya dan membuang dahak disembarang

tempat, maka akan menularkan pada orang lain yang melewati tempat itu. Kebiasaan sosial dan pribadi turut memainkan peranan dalam infeksi TB, sejak timbulnya ketidakpedulian dan kelalaian akan masalah kesehatan seperti perokok aktif maupun pasif maka hal ini akan melemahkan fungsi parunya, dan pada penelitian ini ditemukan bahwa sebanyak 56% adalah perokok aktif dan pasif. Kebiasaan ini tidak

terlepas dari tingkat pendidikannya, semakin tinggi tingkat pendidikan maka pengetahuan maupun pengalamannya akan baik pula, seperti bagaimana ia mengetahui bahaya merokok, pola makan yang sesuai, menjaga kebersihan diri, lingkungan dan pemanfaatan pelayanan kesehatan. Selain itu rendahnya kondisi ekonomi dari penjamu juga berperan dalam kasus TB ini. Keadaan sosial ekonomi merupakan hal penting pada kasus TB terdapat korelasi positif antara TB dengan kelas sosial yang mencakup pendapatan, perumahan, pelayanan kesehatan, lapangan pekerjaan dan tuntutan ekonomi terhadap biaya hidup. Selain itu, gaji rendah, eksploitasi tenaga fisik, penggangguran dan tidak adanya pengalaman sebelumnya tentang TB dapat juga menjadi pertimbangan pencetus peningkatan epidemi penyakit ini.

Agent dari TB adalah Mycobacterium Tuberculosis, karakteristik alami dari agen TB mampu bertahan hidup pada dahak yang kering untuk jangka waktu yang lama. Pada penjamu, infektivitas agent sangat tinggi, sedangkan kemampuan agent untuk mengakibatkan penyakit dan menghasilkan reaksi patologis pada tubuh penjamu tergantung pada kondisi penjamu. Umumnya sumber infeksinya berasal dari manusia yang terinfeksi. Untuk transmisinya bisa melalui kontak langsung dan tidak langsung, serta transmisi kongenital yang jarang terjadi. Selain penjamu dan agent, environment (lingkungan) turut serta dalam kejadian TB. Pada penelitian ini bila dilihat berdasarkan gambar 4.6 maka diketahui sekitar kasus yang berada pada Kecamatan Samarinda Ilir melingkupi daerah Sidomulyo, Sungai Pinang Luar dan Sungai Dama merupakan daerah yang padat rumah sehingga kasus TB meningkat dari triwulan I ke triwulan II, namun berbeda halnya dengan Kecamatan Samarinda Ulu walaupun terlihat padat namun jumlah kasusnya mengalami penurunan dari triwulan I ke triwulan II, sebab pada kecamatan ini banyak ditemukan fasilitas pelayanan kesehatan dan merupakan daerah perkotaan. Secara umum, lingkungan rumah kasus sebanyak 58% dengan kondisi sirkulasi udara kurang lancar dan pencahayaan yang kurang juga, pencahayaan yang tidak memenuhi syarat cenderung membuat ruangan menjadi lembab sehingga kuman TB akan bertahan lebih lama, namun bila dalam rumah pencahayaan itu cukup maka akan dapat membunuh kuman TB hal ini sesuai dengan

penelitian yang dilakukan oleh Sugiarto (2004) di Kabupaten Bengkulu Utara yang menyatakan bahwa orang yang tinggal di rumah kebun dengan pencahayaan yang tidak memenuhi syarat (<60 lux) beresiko 2,05 kali untuk menderita TB Paru BTA (+) dibandingkan dengan orang yang tinggal di rumah kebun dengan pencahayaan yang memenuhi syarat (>60 lux). Pada Sidomulyo, Sungai Pinang Luar dan Sungai Dama yang berada dalam satu kecamatan memiliki tingkat kepadatan yang berbeda yaitu Sidomulyo 9.639 Jiwa/Km 2, Sungai Pinang Luar 14.152 Jiwa/Km2, dan Sungai Dama 9.370 Jiwa/Km2. Walaupun tingkat kepadatannya berbeda, namun memiliki karakteristik yang hampir sama seperti banyaknya rumah penduduk yang berada dalam gang dan terlihat kumuh karena saling berhimpitan satu dengan yang lain, dekat dengan kawasan pasar yang sudah pasti terdapat banyak limbah pasar yang bila tidak dikelola dengan baik akan mempengaruhi kondisi lingkungan dan berdampak pada kesehatan manusia. Dari hasil penelitian terdapat kasus pada triwulan I dan triwulan II yang berada pada satu kecamatan yang memberikan penjelasan bahwa transmisi penyakit khususnya penyakit menular tidak terbatas pada wilayah administrasi (Soetojo, 2004). Selain itu dengan adanya kasus yang berbeda waktu namun satu wilayah menunjukkan bahwa terjadi peningkatan kasus TB Paru BTA (+) sebab Tuberculosis merupakan penyakit menular yang bersifat menahun, cara

penularannya lewat udara bila orang yang mengidap TB Paru BTA (+) batuk, bersin atau berbicara dan mengirimkannya ke udara (Depkes RI,

2002), sehingga perlu adanya penanganan khusus untuk penyakit TB Paru agar tidak terus meningkat sebab selama ini penanggulangannya masih menjadi masalah karena rendahnya cakupan penemuan (case finding) penderita TB Paru BTA (+) yang belum mendapat dukungan dari para pengambil kebijakan.

2. Hubungan antara Kasus TB Paru BTA (+) dengan Kepadatan Penduduk Menurut WHO dalam Ginting (2006) wilayah yang kepadatan penduduknya tinggi cenderung memiliki tempat tinggal yang kumuh, hygiene dan nutrisi yang buruk, sehingga bila ada warganya terkena penyakit TB akan mempercepat proses penyebarannya, apalagi dengan kemampuan agent untuk mengakibatkan infeksi dalam tubuh penjamu. Pada penelitian ini Kecamatan Samarinda Utara dengan dan bila dilihat

kepadatan rendah justru ditemui banyak kasus,

menggunakan aplikasi google earth diketahui juga bahwa daerah sekitar kasus bukanlah lingkungan yang padat hunian, hal ini terjadi karena kasus yang ditemui kebanyakan mereka adalah orang-orang yang memiliki pekerjaan dengan mobilitas tinggi di luar kota, jenis pekerjaan menentukan faktor resiko yang harus dihadapi setiap individu. Bila pekerja bekerja di lingkungan yang berdebu paparan partikel debu di daerah terpapar akan mempengaruhi terjadinya gangguan pada saluran pernafasan. Paparan kronis udara yang tercemar dapat meningkatkan morbiditas, terutama terjadinya gejala

penyakit saluran pernafasan dan umumnya TB Paru. Selain itu kondisi lingkunga kerja yang padat juga turut berperan dalam penyebaran TB, bila ada pekerja yang terkena maka akan berdampak pada yang lain juga apalagi bila tidak segera diobati resikonya lebih besar. Pada Kecamatan Samarinda Ulu yang merupakan kecamatan

dengan angka kepadatan tinggi dalam penelitian ini hanya terdapat 7 kasus. Selain itu, jika dilihat berdasarkan kasus pertriwulan mengalami penurunan kasus yaitu pada triwulan I ditemukan 4 kasus dan triwulan II menjadi 3 kasus. Penurunan kasus di kecamatan ini dapat dipicu karena terdapat beberapa fasilitas pelayanan kesehatan yang lebih banyak bila dibandingkan dengan kecamatan lain, terdiri dari 4 Puskesmas, 2 Rumah Sakit besar yang mudah dijangkau, dan adanya Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Timur di wilayah kecamatan ini. Selain itu, Kecamatan Samarinda Ulu merupakan daerah perkotaan yang bila ditinjau masyarakatnya adalah orang-orang yang dapat dengan mudah mengakses informasi melalui internet dan ditunjang dengan adanya Perpustakaan Daerah Kota Samarinda. adanya fasilitas pelayanan kesehatan tersebut Dengan lebih

maka

mempermudah dalam penemuan kasus, sehingga dapat segera diatasi sehingga tidak semakin menyebar penularannya. Sebagaimana penelitian yang dilakukan oleh Budiono (2003) di Jakarta Timur kepadatan rumah terbukti tidak ada hubungan dengan kasus TB Paru. Orang yang tinggal di dalam rumah yang padat penghuninya tidak ada bedanya dengan yang tinggal di dalam rumah

yang tidak padat penghuninya. Tidak adanya hubungan antara kepadatan rumah dengan kasus TB Paru dalam penelitian ini mungkin angka prevalensi TB Paru di Indonesia tinggi, sehingga kesempatan untuk kontak dengan penderita TB bisa terjadi di luar rumah. Alasan lain mungkin karena responden dalam penelitian ini homogen, yaitu proporsi kepadatan rumah antara kelompok kasus dan kontrol relatif sama. Berbeda halnya dengan kasus pada Kecamatan Samarinda Ilir tampak dari aplikasi google earth berkumpul pada lingkungan padat yaitu di daerah Sidomulyo, Sungai Dama, dan Sungai Pinang Luar, yang mana pada daerah-daerah tersebut terdapat pasar, rumah sakit, puskesmas dan banyak rumah penduduk yang saling berhimpitan khususnya yang berada dalam gang, walaupun secara umum Kecamatan Samarinda Ilir tidak termasuk daerah dengan kepadatan tinggi, hanya saja distribusi persebaran penduduk yang tidak merata, seperti pada Pulau Atas yang memiliki luas wilayah terluas kedua setelah Sambutan, justru jumlah penduduknya paling sedikit. Bila kepadatan ini dilihat berdasarkan kecamatan, maka

Kecamatan Samarinda Ulu lebih padat bila dibandingkan dengan Kecamatan Samarinda Ilir, namun pada kecamatan ini ada daerahdaerah yang juga tidak terlalu padat seperti Kelurahan Air Hitam dan Kelurahan Air Putih sedangkan yang terpadat adalah Kelurahan Bukit Pinang dan Kelurahan Teluk Lerong Ilir walaupun memang angka

kepadatannya lebih tinggi dibandingkan dengan daerah terpadat yang ada di Kecamatan Samarinda Ilir. Menurut teori Achmadi (2005) bahwa kesehatan lingkungan cenderung timbul pada daerah persatuan area. Suatu lingkungan yang padat penduduknya akan menimbulkan kesan kumuh, dan memang hal ini tidak dapat dipungkiri akan mengakibatkan sanitasi yang buruk dan memudahkan bagi penyakit menular untuk menyebar.

3. Hubungan antara Kasus TB Paru BTA (+) dengan Kemiskinan Dari gambar 4.8 diketahui bahwa ada keterkaitan antara kemiskinan dengan kasus TB Paru BTA (+), daerah yang memiliki angka kemiskinan penduduk tertinggi yaitu Kecamatan Samarinda Utara dengan jumlah kasus tertinggi pula yaitu 20 kasus. Namun, pada penelitian ini sampel yang berada di Kecamatan Samarinda Utara sebanyak 13 kasus adalah mereka yang berada dalam kondisi ekonomi sejahtera, mereka tertular ketika bekerja yang kemungkinan terpapar oleh rekannya, selain itu yang menjadi faktor penyebabnya adalah kebiasaan sehari-hari penderita misalnya perokok, sering mandi malam, kondisi rumah yang sirkulasi udaranya kurang lancar walaupun hal-hal tersebut bukan faktor utama namun akan menjadi faktor pendukung yang secara bersama-sama akan mempengaruhi fungsi paru dan memudahkan bagi kuman TB untuk menginfeksi. Hal ini menunjukkan bahwa TB Paru tidak hanya menyerang orang-orang

dengan kondisi ekonomi lemah, sehingga butuh perhatian khusus untuk penyakit TB. Kecamatan Samarinda Ilir juga merupakan kecamatan dengan angka kemiskinan tertinggi kedua setelah Kecamatan Samarinda Utara, kasus TB Paru mengalami peningkatan yang signifikan dari triwulan I yaitu 2 kasus menjadi 6 kasus pada triwulan II. Terjadinya peningkatan yang signifikan bisa disebabkan karena Kecamatan Samarinda Ilir dari kasus yang ada diketahui bahwa banyak penduduknya yang

berpendidikan rendah selain itu daerah ini merupakan daerah yang terdiri dari beragam suku sehingga memiliki kebiasaan yang berbedabeda. Selain itu dengan jumlah penduduk terbanyak kedua diantara kecamatan yang ada di Samarinda, namun tidak diimbangi dengan jumlah pelayanan kesehatan yang hanya terdapat 3 puskesmas dengan jumlah penduduk 108,742 jiwa, padahal idealnya setiap puskesmas melayani 30,000 jiwa (Profil Kesehatan Kota Samarinda) maka berdampak pada rendahnya penemuan kasus yang berakibat pada peningkatan kasus karena tidak segera diatasi. Jenis pekerjaan seseorang juga mempengaruhi terhadap

pendapatan keluarga yang akan mempunyai dampak terhadap pola hidup sehari-hari diantaranya konsumsi makanan, pemeliharaan kesehatan selain itu juga akan mempengaruhi terhadap kepemilikan rumah (konstruksi rumah). Kepala keluarga yang mempunyai pendapatan di bawah UMR akan mengkonsumsi makanan dengan kadar gizi yang tidak sesuai dengan kebutuhan gizi bagi setiap

anggota keluarganya sehingga mempunyai status gizi yang kurang dan akan memudahkan untuk terkena penyakit infeksi diantaranya TB Paru. Dalam jenis konstruksi rumah dengan mempunyai pendapatan yang kurang maka konstruksi rumah yang dimiliki tidak memenuhi syarat kesehatan sehingga akan mempermudah terjadinya penularan penyakit TB Paru. Pada penelitian yang dilakukan oleh Ibu Pertiwi (2004) di Jakarta Timur menunjukkan bahwa secara statistik ada hubungan yang bermakna antara penghasilan dengan kasus TB Paru BTA (+). Adanya hubungan yang bermakna ini mungkin disebabkan rata-rata bekerja sebagai tenaga kontrak (73%), daerah kumuh (15%) dengan jumlah KK 102.779 keadaan seperti ini menunjukkan jumlah penghasilan yang masih rendah dan kepadatan hunian yang masih tinggi sehingga merupakan tempat berkembangbiaknya kuman patogen. Jenis pekerjaan menentukan faktor resiko apa yang harus dihadapi setiap individu, untuk itu penyuluhan harus tetap diberikan kepada masyarakat tentang perilaku hidup bersih dan sehat dalam upaya pencegahan terhadap penyakit TB Paru. Ekonomi rendah secara bersama-sama dengan faktor lainnya menjadi prasyarat timbulnya sakit akan tetapi tidak dapat berdiri sendiri-sendiri (Sugiarto, 2004). Kemiskinan akan mempengaruhi berbagai aspek kehidupan baik dari segi kesehatan, pendidikan, kondisi rumah dan lain-lain. Bila seseorang miskin maka akan sulit baginya untuk dapat memanfaatkan fasilitas pelayanan kesehatan

karena

mungkin

ia

merasa

mahal

dan

tidak mampu

untuk

membayarnya, demikian juga halnya dengan pendidikan, orang yang tidak mampu maka pendidikan baginya seolah sesuatu yang sangat sulit untuk dijangkau, selain biaya pendidikan yang mahal, ia pun akan berpikir bahwa dana yang ia miliki akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan primer terutama pangan sehari-hari. Demikian juga dengan kondisi rumah, selain tak mampu untuk membangun rumah layak huni, merekapun tidak tahu syarat rumah yang sehat karena pendidikan yang rendah. Menurut Saad (2005) hubungan antara kemiskinan dengan TB bersifat timbal balik, TB merupakan penyebab kemiskinan dan karena miskin maka manusia menderita TB. Kondisi sosial ekonomi itu sendiri, mungkin tidak hanya berhubungan secara langsung, namun dapat merupakan penyebab tidak langsung seperti adanya kondisi gizi buruk, serta perumahan yang tidak sehat, dan akses terhadap pelayanan kesehatan juga menurun kemampuannya. Bila ditelaah kondisi gizi buruk mempengaruhi penularan TB, sebab gizi buruk akan mempengaruhi imunitas seseorang, dan bila imunitasnya menurun maka akan mudah baginya untuk terinfeksi ketika ia terpapar kuman TB. Selain itu, karena TB sangat mudah menular dan bakterinya hanya akan mati bila terkena sinar matahari langsung, maka dengan keadaan lingkungan perumahan yang tidak sehat, seperti berhimpitan dan sanitasi buruk akan menjadi lembab dan akibatnya kuman TB akan bertahan lebih lama.

4.Hubungan antara Kasus TB Paru BTA (+) dengan Akses ke Fasilitas Pelayanan Kesehatan Dari gambar 4.9 terlihat bahwa cakupan pelayanan kesehatan dengan jarak dekat <1 km meliputi 29 kasus dan selebihnya yaitu 14 kasus berada pada jarak jauh antara 1-5 km. Sehingga akses ke fasilitas pelayanan kesehatan mempunyai keterkaitan dengan

penemuan kasus TB Paru BTA (+) dalam hal ini yang berperan langsung adalah puskesmas sebagai ujung tombak pelayanan kesehatan pertama masyarakat, sebab semakin dekat dan mudah dijangkau fasilitas pelayanan kesehatan akan memudahkan

masyarakat untuk mendapatkan informasi melalui promosi kesehatan. Pelayanan kesehatan sendiri mempunyai syarat pokok pelayanan kesehatan yaitu tersedia dan berkesinambungan, dapat diterima dan wajar, mudah dicapai, mudah dijangkau dan bermutu (Azwar, 1996). Salah satu syarat pokok tersebut adalah mudah dicapai dalam hal ini adalah jarak, namun bila kita melihat jarak yang ada, maka sudah pasti hanya yang berjarak < 1km saja yang masuk dalam syarat pokok, sebab jarak yang jauh antara rumah penderita dengan fasilitas pelayanan kesehatan akan menyulitkan bagi penderita untuk

mendapatkan pelayanan kesehatan Pada Kecamatan Samarinda Ulu terdapat 4 puskesmas dan 2 rumah sakit besar sehingga memudahkan masyarakat dalam mengakses fasilitas pelayanan kesehatan, sehingga di kecamatan ini kasus TB Paru mengalami penurunan yang awalnya triwulan I berjumlah 4 kasus menjadi 3 kasus pada triwulan II. Berbeda dengan Kecamatan

Samarinda Ilir yang hanya terdapat 3 puskesmas dan tidak sebanding dengan jumlah penduduk yang ada, selain itu akses untuk menempuh ketiga puskesmas tersebut cukup sulit bila tidak memiliki kendaraan pribadi, sebab lokasi ketiga puskesmas tidak dilalui oleh transportasi umum sehingga mengakibatkan di Kecamatan Samarinda Ilir kasus TB Paru mengalami peningkatan dari 2 kasus pada triwulan I menjadi 6 kasus pada triwulan II. Pada penelitian ini terdapat data kasus yang alamatnya tidak lengkap bahkan ada yang menggunakan alamat orang lain, sehingga menyulitkan ketika dilakukan penelitian dan dari pihak penyedia pelayanan kesehatan pun tidak dilakukan upaya untuk memperbarui alamat kasus dan pengecekan tentang kebenaran alamat yang ada, bila ini tidak segera diatasi dan dicari solusi, maka akan menyulitkan untuk menentukan daerah yang rawan sebab bisa jadi kasus berpindah-pindah tempat dan kita tidak tahu dimana ia sering kontak untuk waktu yang lama Penyakit TB Paru BTA (+) sangat menular, sehingga perlu untuk segera disembuhkan dan salah satu faktor penghambat pengobatannya menurut Jajat (2000) dalam Suherman (2002) adalah ketersediaan sumber daya kesehatan meliputi fasilitas pelayanan kesehatan ,

petugas puskesmas dan jarak rumah ke sarana kesehatan, dan bila kita melihat dari gambar bahwa ternyata yang memanfaatkan fasilitas pelayanan kesehatan terbanyak adalah mereka yang memang jarak rumahnya termasuk dekat yakni < 1 km, walaupun memang bukan

hanya jarak yang menjadi tolak ukur dalam kemudahan mencapai pelayanan kesehatan, tetapi jika akses ke pelayanan kesehatan jauh maka cenderung masyarakat akan mencari pengobatan sendiri kecuali bagi mereka yang memang memahami pentingnya mencari

pengobatan di fasilitas pelayanan kesehatan. Menurut Notoatmojo (2003) bahwa rendahnya pemakaian fasilitas kesehatan seperti puskesmas, rumah sakit erat hubungannya dengan perilaku pencarian pengobatan dengan jarak yang terlalu jauh baik secara fisik maupun sosial sehingga pemanfaatan fasilitas kesehatan menjadi rendah sesuai juga dengan yang dikemukakan oleh Azwar (1996) jarak fasilitas kesehatan yang jauh akan menyebabkan pemanfaatan fasilitas sarana kesehatan menjadi rendah akan

mempengaruhi terhadap pencarian pengobatan. Pada penelitian ini, daerah yang berada pada buffer >5 km ada yang merupakan kawasan hutan yang tidak terdapat rumah penduduk, selain itu ada pula daerah yang bukan wilayah Kota Samarinda dan untuk yang berada di Kecamatan Samarinda Seberang dan Kecamatan Palaran tidak masuk dalam buffer ini, hanya saja sebenarnya pada kedua kecamatan tersebut terdapat puskesmas yang tidak dimasukkan dalam peta sebab pada penelitian dibatasi hanya puskesmas tempat ditemukannya kasus. Faktor lain seperti transportasi dan dana, bila fasilitas pelayanan kesehatan itu dekat dari rumah penduduk, maka merekapun akan mudah mendapat jasa kesehatan, tanpa perlu menggunakan

transportasi dan dana. Apabila fasilitas pelayanan kesehatan mudah

dijangkau maka akan meminimalisir waktu yang terbuang yang seharusnya bisa dimanfaatkan untuk bekerja ataupun beraktivitas lainnya. Agar masyarakat yang terkena TB dapat berobat ke Puskesmas, maka perlu dilakukan upaya promosi bahwa di puskesmas Obat Anti Tuberkulosis (OAT) diberikan secara cuma cuma dari awal pengobatan sampai penyembuhan, sehingga tidak menyulitkan mereka dari segi ekonomi, sebab bila mereka berobat ke dokter praktek maka biaya yang dibutuhkan cukup besar, dan bila selama pengobatan berlangsung mereka berhenti lantaran tidak sanggup untuk membeli obatnya lagi akan berakibat terjadinya kekebalan kuman TB terhadap Obat Anti Tuberkulosis (OAT) secara meluas atau Multi Drug Resistance (MDR) dan upaya penyembuhannya menjadi lebih sulit , sebab membutuhkan pengobatan dengan dosis lebih tinggi dan biayanya lebih mahal. Pada penelitian yang dilakukan Ambun Kadri di Kota Solok Sumatera Barat (2006) perilaku pencarian pengobatan tersangka penderita TB Paru dipengaruhi oleh salah satunya sikap, pada penelitian ini kelompok perilaku pencarian pengobatan tersangka penderita TB Paru perilaku 1 yang tidak melakukan tindakan apa-apa mempunyai sikap tidak setuju bahwa penyakit TB Paru adalah penyakit menular yang dapat disembuhkan apabila berobat ke puskesmas. Demikian juga pada kelompok perilaku 2 yang melakukan

pengobatan sendiri di rumah mempunyai sikap tidak setuju tentang

penyakit TB Paru adalah menular yang dapat disembuhkan bila berobat teratur ke puskesmas sehingga perilaku pencarian pengobatan sendiri di rumah. Sedangkan kelompok perilaku lainnya (berobat ke dukun, berobat dengan membeli obat warung, ke puskesmas dan ke dokter praktek) semua setuju penyakit TB Paru tersebut berbahaya sehingga mereka mempunyai sikap setuju bahwa penyakit TB Paru adalah penyakit menular yang dapat disembuhkan bila berobat teratur di puskesmas. Bila melihat angka CDR yang mengalami fluktuasi sejak tahun 2006, maka diketahui bahwa angka penemuan kasus masih rendah, walaupun dalam penemuan kasus ini tidak hanya melibatkan puskesmas tetapi ada beberapa rumah sakit seperti RSUD

AW.Syahrani, RS. Islam dan RS. Dirgahayu serta Lapas dan Rutan. Perlu suatu komitmen yang serius untuk mengatasi masalah ini, yang mana kerjasama lintas program dengan melibatkan semua staff puskesmas sehingga program TB bukan hanya milik petugas koordinator saja tapi sudah menyatu dengan program lain dan semua staf peduli dengan penyakit ini. Adanya pelatihan terhadap semua staf tentang penyakit TB Paru sehingga mereka mempunyai modal dalam menjaring sasaran dan ini juga akan meningkatkan kreativitas dan kinerja petugas yang akan berdampak pada hasil program. Selain itu, puskesmas perlu melibatkan masyarakat seperti kader yang dapat dimanfaatkan sebagai perpanjangan tangan di lapangan (Depkes, 2000).

Program upaya penanggulangan TB Paru pada awal tahun 1990-an WHO dan IUATLD telah mengembangkan strategi penanggulangan TB yang dikenal sebagai strategi DOTS (Directly Observed Treatment Short-course) dan telah terbukti sebagai strategi penanggulangan yang secara ekonomis paling efektif (cost-efective). Strategi ini

dikembangkan dari berbagi studi, uji coba klinik (clinical trials), pengalamanpengalaman terbaik (best practices), dan hasil

implementasi program penanggulangan TB selama lebih dari dua dekade. Penerapan strategi DOTS secara baik, disamping secara cepat menekan penularan, juga mencegah berkembangnya MDR-TB. Fokus utama DOTS adalah penemuan dan penyembuhan pasien, prioritas diberikan kepada pasien TB tipe menular. Strategi ini akan

memutuskan penularan TB dan dengan demkian menurunkan insidens TB di masyarakat. Menemukan dan menyembuhkan pasien merupakan cara terbaik dalam upaya pencegahan penularan TB. Pengobatan TB bertujuan untuk menyembuhkan pasien, mencegah kematian,

mencegah kekambuhan, memutuskan rantai penularan dan mencegah terjadinya resistensi kuman terhadap OAT (Depkes RI, 2008). Diantara ketiga variabel yang ada maka dapat diketahui yang paling berkaitan dengan kasus TB adalah kemiskinan dan akses ke fasilitas pelayanan kesehatan, sedangkan kepadatan tidak berkaitan dengan kasus TB. Seperti penelitian yang dilakukan oleh Sugiarto (2004) di Kabupaten Bengkulu bahwa orang yang mempunyai penghasilan rendah beresiko 1.14 kali untuk mengalami kasus TB Paru BTA (+)

dibandingkan dengan orang yang mempunyai penghasilan lebih. Menurut Depkes (2003) untuk kepadatan penduduk maka semakin padat, perpindahan penyakit, khususnya melalui udara akan semakin mudah dan cepat demikian pula dengan TB, akan tetapi fakta di lapangan menunjukkan daerah yang tidak padat justru banyak ditemukan penyakit TB.

5.Daerah Transmisi Penyebaran TB Paru BTA (+) Dari gambar 4.11 terlihat ada 3 tempat yang beresiko terhadap kasus TB, yaitu SDN.017 Loa Bahu, Pasar Kedondong Jalan Ulin dan Kampus Universitas Mulawarman. Daerah terpsebut menjadi beresiko sebab dari hasil tanya jawab terhadap kasus selama proses pengobatan ada yang terlibat aktif di beberapa tempat tersebut, dengan kondisi kasus belum sembuh dan berpotensi menularkan sehingga menjadi sangat rawan bagi orang-orang yang berada disekitarnya maupun orang-orang yang melakukan perjalanan dengan rute yang sama terhadap kasus, karena bisa jadi pada saat kasus membuang dahak disembarang tempat kuman-kumannya akan beterbangan dan menginfeksi siapa saja yang lewat dan semakin jauh jarak tempuh antara tempat tinggal maupun tujuan dari kasus maka akan semakin beresiko bagi yang lain. Penyakit TB Paru termasuk salah satu dari 14 penyakit lainnya yang termasuk dalam golongan DOMI (Diseases of The Most Improverish) yaitu penyakit yang memiskinkan. Penyakit TB Paru erat kaitannya

dengan masalah kemiskinan, gizi buruk, dan lingkungan, tetapi bukan berarti hanya orang miskin saja yang dapat terkena. Perilaku hidup yang tidak sehat seperti pola makan yang tidak tepat, kebiasaan merokok, membuang ludah sembarangan, rumah yang kurang sehat dapat mempermudah seseorang untuk terkena TB Paru. Jadi, setiap orang tidak ada yang bebas dari serangan kuman TB Paru. Program penanggulangan TB Paru yang lebih terfokus pada upaya kuratif terhadap individu, maka sebaiknya dilakukan upaya promotif seperti penyuluhan mengenai TB pada kelompok masyarakat,

konseling pada keluarga yang di dalamnya terdapat anggota keluarga penderita TB dan memberi banyak informasi mengenai TB melalui berbagai media, selain upaya promotif dilakukan juga upaya preventif seperti vaksin BCG, mengkonsumsi makanan bergizi agar dapat meningkatkan daya tahan tubuh, sedapat mungkin menghindari kerumunan orang banyak yang terlalu padat, memperhatikan kondisi lingkungan rumah, dan menerapkan gaya hidup sehat seperti tidak merokok dan minum-minuman keras, sebab bila hanya upaya kuratif yang dilakukan maka kasus bisa sembuh namun ia sudah

menyebarkan kuman TB dan menginfeksi banyak orang, selain itu mengingat biaya yang cukup mahal serta jangka waktu pengobatan yang panjang jika telah terkena. Bagi kasus untuk mencegah penularan maka dianjurkan menutup mulut dengan sapu tangan pada waktu batuk dan bersin. Penderita TB Paru dan Pengawasan Menelan Obat (PMO) serta keluarga perlu

diberikan konseling TB agar dapat mencegah penularan, mendeteksi awal jika ada yang mengalami gejala TB Paru serta mengawasi dan mendorong penderita agar berobat secara teratur sampai dinyatakan sembuh. Kesembuhan bukan hanya dengan obat saja, akan tetapi perubahan perilaku mutlak diperlukan baik bagi si penderita maupun orang-orang yang beresiko terhadap penyakit TB

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan 1. Sebaran kejadian Penyakit TB Paru BTA (+) di Wilayah Kota Samarinda dalam penelitian ini terbanyak pada Kecamatan Samarinda Utara dan yang paling sedikit pada Kecamatan Samarinda Ulu 2. Kecamatan Samarinda Ulu merupakan kecamatan yang

memiliki kepadatan penduduk tinggi, namun dalam penelitian ini kasus yang ada hanya sedikit, dan berbanding terbalik dengan Kecamatan Samarinda Utara yang tidak padat, banyak ditemukan kasus, selain itu pada Kecamatan Samarinda Ulu justru mengalami penurunan kasus dari triwulan I berjumlah 4 kasus menjadi 3 kasus pada triwulan II, sehingga dapat

dikatakan kepadatan tidak berkaitan dengan kasus TB Paru. 3. Angka kemiskinan tertinggi pada Kecamatan Samarinda Utara tempat ditemukan banyaknya kasus, dan juga terjadi

peningkatan kasus yang signifikan dari triwulan I ke triwulan II pada Kecamatan Samarinda Ilir, yang merupakan daerah

dengan angka kemiskinan tertinggi kedua setelah Kecamatan Samarinda Utara yaitu dari 2 kasus menjadi 6 kasus, sehingga dapat dikatakan bahwa kemiskinan berkaitan dengan kejadian TB Paru BTA (+)

4. Akses ke fasilitas pelayanan kesehatan berkaitan dengan penemuan kasus TB Paru BTA (+), ketersediaan fasilitas pelayanan kesehatan di suatu tempat yang mudah terjangkau akan memudahkan masyarakat dalam mencapai pelayanan kesehatan untuk dapat segera memperoleh pelayanan

kesehatan sehingga dapat segera ditangani jika ada ditemukan penyakit serius dan dapat dilakukan upaya preventif bagi sekitarnya agar tidak tersebar

B. Saran 1. Fasilitas Pelayanan Kesehatan tidak hanya melakukan upaya kuratif terhadap kasus TB Paru tetapi seyogyanya melakukan promosi kesehatan (penyuluhan mengenai TB pada kelompok masyarakat, konseling pada keluarga yang di dalamnya terdapat anggota keluarga penderita TB dan memberi banyak informasi mengenai TB melalui berbagai media ) dan tindakan preventif (vaksin BCG, mengkonsumsi makanan bergizi agar dapat meningkatkan daya tahan tubuh, sedapat mungkin menghindari kerumunan orang banyak yang terlalu padat, memperhatikan kondisi lingkungan rumah, dan menerapkan gaya hidup sehat seperti tidak merokok dan minum-minuman keras) 2. Kontrol lingkungan dengan membatasi penyebaran penyakit seperti disinfeksi pada dahak penderita.

3. Puskesmas sebagai pelayanan pertama kesehatan pada masyarakat dapat melakukan perapian data dan memonitoring rekam medis, sehingga tidak terjadi bias dan dapat dengan mudah mengetahui daerah rawan penyakit 4. Pada penelitian ini kasus banyak ditemukan pada kecamatan yang memiliki angka kemiskinan tertinggi, sedangkan

kemiskinan berpengaruh pada berbagai aspek seperti upaya pencarian pengobatan ke fasilitas pelayanan kesehatan, oleh karena itu perlu adanya penyampaian informasi kepada masyarakat bahwa pengobatan TB di puskesmas diberikan secara gratis sehingga dana dan jarak tak menjadi hambatan dalam pencarian pengobatan

DAFTAR PUSTAKA
Achmadi, UF.2005. Manajemen Penyakit Berbasis Wilayah. Jakarta: Penerbit Buku Kompas Aditama, T.Y. Tuberkulosis dan Kemiskinan. Dalam Majalah Kedokteran Indonesia Vol 55 No. 2 Pebruari 2005 Hal 49-51 Aini, Anisah. Sistem Informasi Geografis Pengertian Dan Aplikasinya Tahun 2007. Yogyakarta: STMIK AMIKOM. (diakses tanggal 28 April 2010) Apriani, Wayan.2001.Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Kejadian TB Paru di Kabupaten Donggala Provinsi Sulawesi Tengah Tahun 2000. Jakarta: Universitas Indonesia ( diakses tanggal 27 Juli 2010) Budiyono, Agus FX. 2003. Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Kejadian TB Paru BTA Positif di Kota Jakarta Timur Tahun 2003. Jakarta: Universitas Indonesia ( diakses tanggal 27 Juli 2010) Crofton, John, dkk. 2002. Tuberkulosis klinis Edisi 2. Jakarta: Widya Medika Departemen Kesehatan RI. Prosedur Tetap Pencegahan dan Pengobatan Tuberkulosis pada Orang dengan HIV/AIDS. Kelompok Kerja TB-HIV Tingkat Pusat 2002. Pedoman Nasional Penanggulangan TB . Jakarta: Departemen Kesehatan RI

. 2005. Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis Cetakan ke 9. Jakarta: Departemen Kesehatan RI. . 2008. Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis Cetakan Pertama. Jakarta: Departemen Kesehatan RI Direkorat Jenderal PP & PL. 2006. Diagnosis dan Tatalaksana Tuberkulosis Anak. Jakarta: Direktorat Jenderal PP & PL bekerjasama dengan Unit Kerja Koordinasi Respirologi PP Ikatan Dokter Anak Indonesia Warta Gerdunas TB Volume 15 . Juli 2009

Ginting, Elyanna. 2006. Analisis Spasial Penyakit Kusta Di Kabupaten Gresik Tahun 2004-2005. Skripsi Tidak Diterbitkan. Depok: Program Pasca Sarjana Program Studi Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia ( diakses tanggal 17 Januari 2011)

Hernita, Wiwin. 2003. Aplikasi Sistem Informasi Geografi Pada Kasus Pasti Demam Berdarah Dengue ( Confirm DHF) di Dinas Kesehatan Kabupaten Bandung Tahun 2003. Jakarta: Universitas Indonesia ( diakses tanggal 05 Juli 2010) http://www.bbkpmska.com ( diakses tanggal 03 Januari 2011) http://dinsos.pemda-diy.go.id ( diakses tanggal 28 Juli 2010)

Kadri, Ambun. 2006. Perilaku Pencarian Pengobatan Tersangka Penderita Tb Paru Di Wilayah Puskesmas Tanjung Paku Kota Solok Sumatera Barat (Studi Kualitatif Tahun 2005). Skripsi Tidak Diterbitkan. Jakarta: Program Pasca Sarjana Program Studi Ilmu Kesehatan Masyarakat FKM UI Pertiwi, Ibu. 2004. Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Kejadian TB Paru Pada Usia 0-14 Tahun Di Kotamadya Jakarta Timur Tahun 2004. Skripsi Tidak Diterbitkan. UI (diakses tanggal 17 Januari 2011) Prahasta, Eddy. 2009. Sistem Informasi Geografi. Bandung: Informatika Purbosari, Retno. 2007. Hubungan Karakteristik Petugas Laboratorium TB Paru Puskesmas dengan Error Rate Hasil Pemeriksaan Dahak Tersangka TB Paru di Kabupaten Kudus Tahun 2006. Skripsi Tidak Diterbitkan Fakultas Ilmu Keolahragaan Jurusan Ilmu Kesehatan Masyarakat .Semarang: Universitas Negeri Semarang. (diakses tanggal 28 April 2010) Putri, M.K. 2008. Analisis Spasial Penyakit Demam Berdarah Dengue Per Kecamatan di Kotamadya Jakarta Timur 2005-2007. Jakarta: Universitas Indonesia Rahayuningsih, Fitri . 2007. Sistem Informasi Geografis Negara-Negara Asia Berbasis Web . Program Studi Teknik Informatika Fakultas Teknik Universitas PGRI Yogyakarta (diakses tanggal 28 Maret 2010)

Ruswanto, Bambang. 2010. Analisis Spasial Sebaran Kasus Tuberkulosis Paru Ditinjau dari Faktor Lingkungan Dalam dan Luar Rumah Di kabupaten pekalongan. Skripsi Tidak Diterbitkan. Semarang: Program Pasca Sarjana Universitas diponegoro Suarni, Helda. 2009. Faktor Resiko yang Behubungan dengan Kejadian Penderita Penyakit TB Paru BTA Positfi Di Kecamatan Pancoran Mas Kota Depok Bulan Oktober Tahun 2008-April Tahun 2009. Skripsi Tidak Diterbitkan. Depok: Program Sarjana Fakultas Kesehatan Masyarakat UI

Supriyono, Didik. 2010. Lingkungan Fisik Rumah Sebagai Faktor Resiko Terjadinya Penyakit TB Paru BTA Positif Di Kecamatan Ciampea Kabupaten Bogor Tahun 2002. Skripsi Tidak Diterbitkan. Program Pasca Sarjana Program Studi Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia ( diakses tanggal 17 Januari 2011) Saad, dkk. Buku Tutor Problem Based-Learning Hemoptisis. Riau: Fakultas Kedokteran Universitas Riau ( diakses tanggal 12 Juli 2010) Setyawati, Eli. 2004. Analisis Spatial Kejadian Penyakit Filariasis Di Kabupaten Bekasi Tahun 2003. Skripsi Tidak Diterbitkan. Depok: Program Studi Ilmu Kesehatan Masyarakat Program Pasca Sarjana UI ( diakses tanggal 17 Januari 2011) Soetojo, D.W. 2004. Analisis Spasial Kejadian Demam Berdarah Dengue (DBD) di Wilayah Kota Madya Jakarta Pusat Tahun 20002003. Program Pasca Sarjana Program Studi Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia ( diakses tanggal 05 Juli 2010) Sugiarto, Agus. 2004. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kejadian TB Paru BTA Positif pada Penghuni Rumah Kebun di Kabupaten Bengkulu Utara Tahun 2004. Jakarta: Universitas Indonesia (diakses tanggal 27 Juli 2010) Suherman, Maman. 2002. Beberapa Faktor yang Berhubungan dengan Ketidakpatuhan Mengambil Obat Penderita TB Paru di Puskesmas Kota Tasikmalaya Tahun 1999-2000. Jakarta: Universitas Indonesia Working Paper Series No. 14 Januari 2009 Magister Kebijakan dan Manajemen Pelayanan Kesehatan UGM http://www.hpmrc.ugm.ac.id (diakses tanggal 28 April 2010)