Anda di halaman 1dari 9

Diet sebagai Faktor Resiko terhadap Atopi dan Asma

Devereux, G. & Seaton, A. (2004). Diet as a risk factor for atopy and asthma. American Academy of Allergy, Asthma, and Immunology, 12, 1109-1117

Pendahuluan Sejak sekitar 50 tahun terakhir, telah tercatat ada semacam peningkatan dalam penyakit asma dan penyakit atopik seperti alergi pada hidung (karena debu, bulu, atau serbuk sari), eksim, dan alergi makanan. Hal ini sangat mengkhawatirkan bila dilihat dari sudut pandang ekonomi dan kesehatan masyarakat, sehingga topik ini sudah melahirkan banyak spekulasi dan penelitian. Genetik juga memainkan peranan penting dalam penurunan penyakit ini, tetapi dalam perkembangan terakhir penyakit tersebut yang semakin merajalela, sepertinya lingkungan juga ikut berpengaruh, dan juga dengan perubahan yang terjadi dalam interaksi antara gen dengan lingkungan yang bisa meningkatkan ekspresi terhadap kerentanan genetik. Selain itu diet makanan yang berkiblat ke barat, juga berkemungkinan berkontribusi terhadap peningkatan penyakit asma dan atopik, seperti yang akan didiskusikan dalam makalah ini. Hipotesis Antioksidan dan Lemak Sebelumnya sudah ditolak kemungkinan bahwa peningkatan penyakit asma dan atopik disebabkan oleh semakin toksiknya udara yang dihirup. Karena sudah tercatat bahwa sebenarnya ada kecenderungan penurunan tingkat polusi atmosfer dan juga asap rokok, dan hanya ada sedikit bukti tentang peningkatan paparan terhadap alergen udara. Selain itu, alergi hidung juga tetap terjadi peningkatan walaupun tidak ada peningkatan serbuk sari. Oleh karena itu dihipotesiskan bahwa peningkatan penyakit tersebut disebabkan oleh adanya kerentanan di dalam populasi masyarakat. Dan peningkatan penyakit ini paralel terhadap perubahan dalam kebiasaan diet, terutama di UK. Ada penurunan dalam konsumsi sayuran, sehingga asupan antioksidan juga menurun, yang pada akhirnya menyebabkan penurunan pertahanan pada paru-paru, dan jalur pernapasan semakin rentan terhadap kerusakan oksidasi yang bisa menyebabkan inflamasi dan asma. Pada negara maju, ada perkembangan penurunan konsumsi lemak jenuh seperti butter dan lard karena adanya kesadaran masyarakat untuk mengurangi resiko terjadinya penyakit kardiovaskuler, tetapi konsumsi asam lemak tak jenuh -6 yang bersumber dari minyak sayur dan margarin meningkat. Dan juga ada penurunan konsumsi lemak tak jenuh ganda yang bersumber dari minyak ikan yang kaya akan asam lemak -3 (PUFA), asam eikosapentanoat (EPA), dan asam dokosaheksaenoat 2

(DHA). Black and Sharpe pada tahun 1997 memikirkan dan mengaitkan perubahan pola diet ini berkontribusi terhadap peningkatan penyakit asma dan atopik. Diajukan suatu mekanisme untuk mendukung hipotesis tersebut. Asam lemak PUFA yang paling banyak adalah dalam bentuk asam linoleat (-6 ) dan asam linolenat (-3), yang keduanya bisa diubah menjadi asam lemak yang lebih panjang dengan desaturasi tunggal dan jalur enzim elongasi. Asam linoleat (-6 ) diubah menjadi asam arakidonat yang kemudian dimetabolisme oleh COX dan lipoksigemase untuk memproduksi 2 seri prostaglandin, tromboksan, 4 seri leukotrien, dan lipoksin yang bisa menyebabkan penyakit asma dan atopik. Hal ini disebabkan karena 4 seri leukotrien mempunyai aktifitas yang pro terhadap inflamasi, dan 2 seri prostaglandin E2 (PGE2) mempunyai sifat sebagai imunomodulator yang bisa mempromosi fenotip TH2 yang dihubungkan dengan penyakit asma dan atopik. Konsumsi asam linolenat (-3) yang mengandung EPA dan DHA yang tinggi bisa menurunkan produksi asam arakidonat dan PGE2 karena asam linolenat secara aktif menghambat metabolisme asam linoleat, dan EPA-DHA bisa mengurangi ekspresi gen dari COX2 dan bisa menghambat aktifitas COX2. Akan tetapi sebenarnya konsekuensi dari tingginya konsumsi asam lemak linoleat dan rendahnya konsumsi asam lemak linolenat lebih rumit daripada yang diperkirakan. Pada akhirnya jalur lipoksigenase-COX akan memproduksi prostaglandin dan leukotrien dari EPA di dalam aktivitas biologi, walaupun memang metabolit asam arakidonat berkurang. Banyak 2 seri prostaglandin yang merupakan metabolit dari asam arakidonat menghambat aksi dari PGE2. Lebih jauh lagi, kedua asam lemak -3 dan -6 juga bisa mendukung fungsi dari sel T.

Gambar 1. Metabolisme asam lemak -3 dan -6 3

Penelitian dan Observasi Terhadap Berbagai Macam Antioksidan Vitamin C Vitamin C yang larut air mempunyai aktivitas antioksidan dengan cara menghilangkan oksigen radikal bebas dan menekan sekresi makrofag dan anion superoksida. Pada umumnya, banyak penelitian yang sudah menunjukkan bahwa vitamin C mempunyai pengaruh yang baik terhadap fungsi pernapasan dengan cara meningkatkan FEV1 (forced expiratory volume) dengan pertambahan sekitar 17-40 ml. Dalam suatu penelitian disebutkan juga asupan serum askorbat bisa mengurangi kemungkinan terjadinya asma sebanyak 19%. Dan asupan vitamin C berkontribusi negatif terhadap sesak napas pada orang dewasa, dengan cara bisa mengurangi sampai 40% terjadinya sesak napas. Asumsi vitamin C juga dilaprkan dapat menghambat reaktifitas metakolin pada jalur pernapasan pada orang dewasa. Vitamin E Vitamin E yang larut lemak adalah pertahanan utama terhadap cedera membran yang diinduksi oleh oksidan. Bedanya dengan vitamin C, vitamin E juga mempunyai efek yang nonantioksidan terhadap fungsi imun. Telah banyak penelitian yang melaporkan bahwa konsumsi vitamin E mempunyai efek yang baik terhadap fungsi pernapasan, dan beberapa diantaranya menyebutkan terhadap asma dan atopi. Asumsi vitamin E dapat mengurangi FEVdan juga berorelasi negatif terhadap asma dan sesak napas pada orang dewasa. Pada orang dewasa, negatif korelasi menunjukkan asumsi vitamin E dan serum IgE terhadap keumungkinan atopik. Vitamin A Vitamin A mengandung retinol dan lebih dari 600 macam karotenoid yang mempunyai aktivitas antioksidan yang kuat. Retinol, walaupun tidak dipertimbangkan sebagai antioksidan, tetapi retinol telah diimplikasi mempunyai peranan dalam pengembangan epitelial pada jalur pernapasan dan pengembangan paru-paru. Penelitian juga telah menunjukkan asosiasi yang menguntungkan antara konsumsi karotenoid dan fungsi pernapasan dan asma. Konsumsi -karoten -karoten bisa mereduksi terjadinya asma sebesar 13 dan 20% dan juga bisa mengurangi level FEV.

Selenium Selenium adalah antioksidan yang penting karena bekerja sama dengan glutation peroksidase, suatu enzim yang mempunyai peranan penting dalam melindungi sel dari kerusakan oksidatif. Dalam banyak penelitian telah disebutkan bahwa selenium berkorelasi negatif terhadap asma, dan penyakit pernapasan lainnya. Selain itu, selenium juga bisa mengurangi kejadian sesak napas dan mengurangi level FEV. Buah Beberapa manfaat untuk menginvestigasi konsumsi buah-buahan, adalah karena konsumsi buah bisa dengan mudah diingat, ukuran porsi yang cukup besar, dan buah kemungkinan mempunyai antioksidan penting yang belum dikuantifikasi. Telah dilaporkan efek yang baik antara konsumsi buah-buahan terhadap asma dan fungsi pernapasan terhadap orang dewasa dan anak-anak. Dalam suatu studi, level FEV dapat berkurang dengan mengkonsumsi buah dan jus segar pada musim dingin. Apel juga mempunyai asosiasi negatif terhadap asma pada studi terkontrol terhadap orang dewasa, dengan konsumsi apel yang berkelanjutan dapat mengurangi resiko terjadinya asma sebanyak 30% daripada tidak mengkonsumsi apel. Telah dipertimbangkan bahwa manfaat dari apel disebabkan karena adanya flavonoid (antosianin dan phloridzin). Studi Intervensi Antioksidan Studi epdemiologis di atas telah menyebutkan efek menguntungkan antara konsumsi antioksidan terhadap penyakit asma dan atopik. Selanjutnya juga sudah banyak penelitian tentang intervensi vitamin C dan baru sedikit penelitian tentang intervensi vitamin E dan selenium. Akan tetapi pada umumnya, hasil dari suplementasi ini mengecewakan, dengan banyak laporan yang menunjukkan hasil tidak sigifikan, beberapa studi menujukkan efek menguntungkan, dan efeknya kecil atau mungkin tidak signifikan. Penyakit asma, atopik, dan antioksdan: Kemungkinan Mekanisme Jalur pernapasan sangat rentan terhadap kerusakan oksidatif, dan untuk menanggulanginya diperlukan suatu mekanisme antioksidan baik yang enzimatis maupun nonenzimatis. Dalam suatu studi eksperimental, oksidan bisa menginduksi 5

asma dengan cara pelepasan mediator yang pro terhadap inflamasi, termasuk sitokin, kemokin, dan metabolit eikosanoat. Stres oksidasi juga bisa mengaktivasi ekspresi gen dari 2 pivotal regulator inflamasi, faktor nuklir KB dan juga protein aktifator. Salah satu alasan yang dipertimbangkan dari tidak efektifnya intervensi antioksidan dikarenakan bahwa suplemen antioksidan hanya efektif pada saat terjadi defisiensi, tetapi analisis lainnya menunjukkan bahwa alasan tersebut sepertinya tidak mungkin. Salah satu kritik juga diajukan bahwa waktu intervensi mungkin terlalu singkat dalam beberapa penelitian. Salah satu proposal alternatif adalah bahwa konsumsi antioksidan sangat penting pada masa pertumbuhan pada anak-anak, pada saat jalur pernapasan masih berkembang. Konsumsi antioksidan yang kurang pada saat fase peryumbuhan yang kritis ini bisa menyebabkan kerusakn oksidatif pada jalur pernapasan. Dalam suatu studi disebutkan bahwa fungsi paru-paru yang lemah pada saat masa kanak-kanak mempunyai kemungkinan yang besar untuk sesak napas, asma pada perkembangan selanjutnya dalam hidup. Oleh karena itu, bila suatu antioksidan mengeluarkan efek positif pada masa awal pertumbuhan, interensi pada saat dewasa kemungkinan besar tidak bisa efektif. Selain itu, konsumsi antioksidan selama periode kehamilan juga mungkin bisa memberikan efek yang penting. Asupan antioksidan yang kurang selama periode kehamilan bisa diasosiakan dengan perkembangan paru-paru yang kurang sempurna, asma, dan sesak napas. Asosiasi seperti itu juga bisa didemonstrasi dengan ibu hamil yang merokok. Antioksidan pada vitamin E, selenium, dan buah-buahan gagal untuk menjelaskan asosianya dengan IgE dan sensitifitas terhadap atopik. Diajukan saran bahwa karena antioksidan tersebut juga bisa bersifat sebagai nonantioksidan. Sifat nonantioksidan yang relevan terhadap penyakit asma dan atopik diberikan oleh diferensiasi sel TH yang mempunyai peranan penting dalam inisiasi proses inflamasi yang kronis. Konsumsi antioksidan tersebut bisa mempromosikan pengeluaran sitokin TH1 dan menghambat sekresi sitokin TH2 atau keduanya. Dimungkinkan bahwa konsumsi antioksidan yang rendah pada masa awal pertumbuhan meningkatkan pertemuan antara sel TH dengan alergen yang menyebabkan respon TH2 yang bias.

Studi observasi terhadap Lemak Beberapa penelitian telah melaporkan asosiasi menguntungkan antara konsumsi ikan dengan pencegahan terhadap penyakit asma dan atopik, terutama pada anak-anak yang mengkonsumsi minyak ikan segar. Akan tetapi konsumsi ikan pada orang dewasa tidak mempunyai asosiasi terhadap penyakit asma dan atopik. Margarin mengandung -6 20 kali lebih banyak daripada butter, dan konsumsi margarin yang tinggi telah diasosiakan terhadap tingginya kemungkinan terkena penyakit asma dan atopik. Berdasarkan suatu penelitian, diobservasi bahwa anak yang mempunyai atopik mengkonsumsi lebih banyak margarin, lebih sedikit butter dan ikan, daripada anak yang tidak punya penyakit atopik. Selain itu level serum EPA dan DHA pada anak yang menderita atopik juga lebih rendah. Konsumsi asam lemak jenuh telah dilaporkan mempunyai asosiasi yang positif terhadap hiper-responsif bronkus, asma, dan pada wanita, atopik dan alergi hidung. Sudah ada banyak literatur yang mengaitkan antara konsentrasi PUFA di dalam serum, eritrosit, dan jaringan adiposa terhadap penyakit atopik, terutama, dermatitis atopik. Pada suatu penelitian pada tahun 1930an sudah disebutkan bahwa kekurangan asupan asam lemak tidak jenuh dapat menyebabkan kulit bersisik seperti pada penyakit atopik. Selain itu juga telah disarankan bahwa PUfA selain dibutuhkan untuk perkembangan normal pada kulit, juga berperan sebagai mediator inflamasi dan diferensiasi sel TH. Atopik dermatitis kemungkinan disebabkan adanya abnormalitas dalam metabolisme PUFA. Penelitian terhadap level PUFA dalama jaringan adiposa, serum, eritrosit, dan leukosit menunjukkan bahwa atopik dermatitis diasosiakan terhadap rendahnya aktifitas enzim 6-desaturase yang berfungsi untuk mengubah asam linoleat menjadi asam linolenat. Jadi ada peningkatan level asam linoleat pada penderita atopik dan rendahnya metabolit asam linolenat, dihomo linolenat, dan asam arakidonat. Selain itu juga dilaporkan dalam penelitian lainnya bahwa peningkatan level EPA berasosiasi linear terhadap atopik asma dan serum IgE pada anak-anak. Studi Intervensi Lemak Berdasarkan alasan yang telah dikemukakan di atas, ada suatu emfasis untuk meningkatkan konsumsi -3 PUFA yang bersumber dari minyak ikan pada asma, sedangkan pada atopic dermatitis tujuannya adalah untuk meningkatkan asupan asam linoleat, -asam linolenat. 7

Beberapa penelitian yang meninjau tentang efek klinis suplemen -3 PUFA (minyak ikan, minyak primrose) pada penderita asma telah disimpulkan bahwa tidak berhubungan secara konsisten terhadap efek menguntungkan. Hal ini mungkin karena penderita asma bereaksi berbeda terhadap suplementasi asam lemak. Variasi ini terjadi karena suplementasi -3 PUFA merubah profil leukotrien dan kemungkinan bersifat atau bersumber genetis. Terjadi penurunan leukotrien C4 setelah konsumsi asam lemak tersebut pada beberapa penderita asma yang diuntungkan oleh suplementasi tersebut. Oleh karena itu penelitian lanjutan diperlukan terhadap perlakuan PUFA kepada individual-individual yang rentan. Suatu penelitian selama 30 tahun mendemonstrasikan bahwa suplementasi -6 PUFA menunjukkan efek baik terhadap atopik dermatitis. Suplementasi -6 PUFA dalam jumlah yang cukup diasosiakan dengan peningkatan klinis, pengurangan penggunaan antibiotik, kortokosteroid oral, dan kortikosteroid topikal. Sampai saat ini masih sedikit penelitian tentang intervensi -3 PUFA terhadap penderita atopik dermatitis. Tetapi telah disebutkan bahwa -3 PUFA juga seefektif -6 PUFA untuk mengurangi gejala atopik dermatitis. Hal ini dihubungkan dengan fungsi PUFA dalam menjaga fungsi dan struktur epidermis. Selain itu juga ada ketertarikan untuk memberikan asupan PUFA untuk mencegah pengembangan penyakit atopik. Walaupun dalam 2 penelitian tentang hal tersebut telah menunjukka hasil yang mengecewakan, tetapi ada satu penelitian yang memberikan kemungkinan efek menguntungkan tersebut. Di situ disebutkan bahwa suplemen minyak ikan dan pengurangan konsumsi -6 PUFA terhadap bayi yang rentan mengalami penyakit atopik, dapat mengurangi sesak napas pada 18 bulan pertama. Suplementasi minyak ikan yang mengandung -3 PUFA selama kehamilan terhadap penderita atopik telah dilaporkan bahwa tidak ada reduksi yang signifikan terhadap proliferasi tali pusar dan respon sitokin. Akan tetapi ada pengurangan signifikan terhadap respon IL-10 setelah distimulasi terhadap alergen kucing. Kesimpulan Studi epidemiologis telah melaporkan asosiasi antara antioksidan asupan lemak terhadap penyakit asma dan atopik. Dengan pengecualian suplemen -6 PUFA terhadap penderita atopik dermatitis, kritik terbesar terhadap hipotesis ini adalah hasil yang mengecewakan pada studi intervensi. Akan tetapi, dengan kesadaran bahwa 8

kebiasaan konsumsi pada pertumbuhan awal dan pada janin mempengaruhi pengembangan penyakit asma dan atopik, telah memindahkan fokus hipotesis diet ini kepada masa kehamilan dan kanak-kanak. Beberapa antioksidan mempunyai sifat sebagai imunomodulator yang kemungkinan relevan. Akan tetapi studi epidemiologis dan imunologis telah menyarankan bahwa efek lemak terhadap penyakit tersebut jauh lebih kompleks dan tidak bisa diprediksi. Oleh karena itu, sudah jelas bahwa penelitian lanjutan tentang topik ini perlu dijustifikasi dan sangat dibuthkan, terutama dalam peranan diet pada fetus dan juga masa awal pertumbuhan. Ringkasan 1. Adanya implikasi pola konsumsi makanan yang rendah antioksidan, dan konsumsi -6 PUFA (margarin, minyak sayur) yang tinggi, dan konsumsi -3 PUFA yang rendah. 2. Pada studi epidemiplogis telah disebutkan ada efek menguntungkan dari konsumsi vitamin C dan E, selenium, dan karotenoid, dan buah-buahan terhadap asma, sesak napas, dan fungsi pernapasan. 3. Kekurangan diet antioksidan mungkin bisa mempengaruhi penyakit tersebut melalui imunomodulator dan mekanisme antioksidan. 4. Pada studi epidemiologis telah didemonstrasikan asosiasi antara margarin, ikan, -3 PUFA, dan -6 PUFA terhadap asma dan atopik dermatitis. 5. Pemikiran bahwa peningkatan asupan -6 PUFA dan pengurangan asupan -3 PUFA bisa meningkatkan metabolit eikosanoid yang pro inflamasi, dan PGE2 yang menginduksi diferensiasi TH2 merupakan pemikiran yang terlalu sederhana. 6. Pada atopik dermatitis, hipotesis defisiensi enzim telah diajukan, yang menyebabkan berubahnya metabolisme PUFA yang bisa mempengaruhi fungsi dan struktur epitelial. 7. Dengan pengecualian suplementasi -6 PUFA terhadap atopic dermatitis, studi terhadap intervensi antioksidan dan lemak telah menunjukkan hasil yang mengecewakan. 8. Asupan antioksidan dan lemak mungkin penting selama masa kehamilan dan masa pertumbuhan awal pada anak-anak: area ini merupakan investigasi yang masih aktif. 9. Penelitian lanjutan diperlukan untuk membentuk kelayakan dan keampuhan dari modifikasi konsumsi. 9