Anda di halaman 1dari 23

BAB II T1NJAUAN PUSTAKA

2.1 Polusi Udara Permasalahan polusi udara sangat dipengaruhi dan berbeda oleh berbagai faktor yaitu tofografi, kependudukan, iklim, cuaca, serta tingkat perkembangan sosial ekonomi dan industrialisasi. Bertambahnya jumlah penduduk akan berbanding lurus dengan peningkatan jumlah limbah, terutama limbah padat. Permasalahan yang menjadi pertimbangan adalah karena limbah yang dibuang sifatnya kontiniu. Penanganan limbah padat dengan proses pembakaran masih merupakan salah satu cara yang efektif saat ini, tetapi akibat dari proses itu juga merupakan sumber utama dari pencemaran udara. Beberapa parameter pencemar udara yang sering digunakan didasarkan pada baku mutu udara ambien diantaranya Sulfur Oxides (SOx), Combustible, Nitrogen Oxides (NOx), Partikel , Hidro karbon (HC), serta Dioksin dan Furan. 1. Sulfur Oxides (SOx) Penggolongan dari Sulfur Oxides (SOx) diantaranya adalah SO, S2O, SO2, S3O, SO3, dan SO4. Untuk proses dengan temperatur tinggi SOx yang terbentuk dominan pada ikatan SO2, sedangkan pada temperatur rendah cendrung ke SO3. Mekanisme pembentukan SOx dapat dituliskan dalam dua tahap reaksi sebagai berikut (Lit.12, Hal 497) S + O2 2 SO2 + O2 2. Combustible Tergolong atas dua bagian yaitu Carbon Monoksida (CO) dan Volatile Organic Compounds (VOCs). Terbentuknya Carbon Monoksida karena proses SO2 2 SO3

Universitas Sumatera Utara

pembakaran tidak sempurna dari bahan bakar sehingga keseluruhan atom Carbon dan Hidrogen tidak habis terbakar. Sedangkan Volatile Organic Compounds (VOCs) dominan terbentuk akibat pemanasan dari material yang dibakar. Sumber dari VOCs banyak berasal dari golongan Hazarduos Waste yang penggolongannya meliputi Alcohols, Ketones, Esters, dan Aldehydes. Tipikal VOCs meliputi Benzene, Acetone, Acetaldehyde, Cloroform, Toluence, Methanol, dan Formaldehyde. 3. Nitrogen Oxides (NOx) NOx terbentuk akibat ikatan antara NO pada kandungan udara dengan kadar O2 yang lebih banyak, penggolongannya meliputi Nitrit Oxide (NO), Nitrogen Dioksida (NO2), Nitrous Oxide (N2O), dan Nitrogen Tetraoxide (N2O). Untuk proses pada temperatur tinggi NOx yang terbentuk dominan adalah NO2. 4. Partikel Banyak terbentuk akibat proses pembakaran material padat, biasa diistilahkan dengan Particulate Matter (PM) atau Fly Ash. untuk partikel yang dihasilkan dari proses pembakaran molekulnya merupakan kandungan HighMolecular-weight Polycyclic Hydrocarbons didefenisikan sebagai Char (arang). Kategorinya didasarkan atas ukuran dimulai dari >1 mikron sampai ukuran maksimum 500 mikron. ukuran partikel yang berbahaya bagi kesehatan adalah antara 0,1-10 mikron. 5. Hidrokarbon (HC) Struktur Hidrokarbon (HC) terdiri dari elemen Hidrogen dan Karbon, sifat fisik HC dipengaruhi oleh jumlah atom karbon yang menyusun molekul HC. HC adalah bahan pencemar udara yang dapat berbentuk gas, cairan maupun

Universitas Sumatera Utara

padatan. Semakin tinggi jumlah atom Karbon, unsur ini akan cenderung berbentuk padatan. Hidrokarbon dengan kandungan unsur C antara 1-4 atom Karbon akan berbentuk gas pada suhu kamar, sedangkan kandungan karbon diatas 5 akan berbentuk cairan dan padatan. HC yang berupa gas akan tercampur dengan gas-gas hasil buangan lainnya. Sedangkan bila berupa cair maka HC akan membentuk semacam kabut minyak, bila berbentuk padatan akan membentuk asap yang pekat dan akhirnya menggumpal menjadi debu. Untuk sifat fisis gas, Hidrokarbon lebih dominan pada ikatan Methane (CH4). 6. Dioksin dan Furan Adalah segala komponen Carbon-Hidrogen-Oksigen Halogen. Dioksin biasa terbentuk karena pembakaran tidak sempurna dari material yang beraneka ragam, yang tergolong pada bagian dioksin adalah Polyclorinated Dibenzo-pDioksin Compounds (PCDD), sedangkan Furan adalah keseluruhan dari Polyclorinated Dibenzofuran Compounds (PCDF). 2.2 Sumber Polusi Udara Sumber pencemaran udara dapat berasal dari berbagai kegiatan antara lain industri, transportasi, perkantoran, dan perumahan. Berbagai kegiatan tersebut merupakan kontribusi terbesar dari pencemar udara yang dibuang ke udara bebas. Sumber pencemaran udara juga dapat disebabkan oleh berbagai kegiatan alam, seperti kebakaran hutan, gunung meletus, gas alam beracun, dan sebagainya. Salah satu teknologi yang digunakan saat ini yang merupakan sumber pencemaran udara adalah instalasi Insinerator. Instalasi ini jika tidak terencana dengan baik akan bernilai negatif terhadap lingkungan, karena efek yang dihasilkan adalah produk-produk yang destruktif.

Universitas Sumatera Utara

Insinerator adalah instalasi yang digunakan untuk pengolahan limbah padat dengan proses pembakaran. Insenerator itu sendiri cukup banyak jenis dan tipenya, perencanaannya bergantung pada karakteristik limbah padat yang akan diinsinerasi. Salah satur gambaran dari instalasi Insinerator seperti diperlihatkan pada gambar berikut

Gambar 2.1 Instalasi Insinerator

2.3 Fasilitas Penanganan Gas Buang Untuk mengendalikan emisi yang dihasilkan dari proses insinerasi, pada insinerator dipasang fasilitas penanganan gas buang. Instalasi yang sering dijumpai adalah scrubber dan Hazard Particle Pervade.

2.3.1 Scrubber Scrubber merupakan salah satu dari beberapa alat pengendali polusi udara atau emisi pada suatu instalasi yang konstribusinya secara umum adalah untuk mengendalikan partikel-partikel berupa padatan dan ataupun gas yang sifatnya dapat

Universitas Sumatera Utara

larut pada air, sehingga pada instalasinya mungkin akan dijumpai beberapa alat pendukung lain yang berhubungan untuk mendistribusikan air.

2.3.2 Instalasi Scrubber Scrubber biasanya dipasang pada bagian lanjutan dari instalasi yang outlet-nya mengeluarkan emisi, dikarenakan instalasinya bertujuan untuk mengendalikan emisi yang keluar dari instalasi tersebut. skema pemasangan scrubber pada insinerator diperlihatkan pada gambar berikut ini

12

Cerobong

Secondary Burner

Secondary Fan

10

Hazard Particle Pervade

8 5 4 Secondary Chamber 6 7 Excess Air Blower Scrubber

9 3 1 Primary Chamber Primary Fan Primary Burner 2 11

Gambar 2.2 Skema Instalasi Insinerator

Universitas Sumatera Utara

Tipe ini merupakan tipe insinerator sekali bakar dalam satu kali proses dengan ruang bakar ganda. Skema yang terjadi pada proses ini diperlihatkan pada diagram berikut

GAS BERSIH

CEROBONG 12

HAZARD PARTICLE PERVADE 10

POMPA SPRAY

SCRUBBER

EXCESS AIR 9 BLOWER

SECONDARY 5 BURNER

SECONDARY 4 CHAMBER

SECONDARY FAN 6

PRIMARY 2 BURNER

PRIMARY 1 CHAMBER

PRIMARY FAN 3

LIMBAH

Gambar 2.3 Skema Proses Insinerasi Pada proses insinerasi limbah padat dimasukkan ke ruang bakar utama (1), disini limbah dibakar dengan burner pertama (2) dan kebutuhan udara pembakaran disuplay dari fan pertama (3). Kemampuan insinerator rata-rata mencapai 70% dalam

Universitas Sumatera Utara

proses reduksi massa, 30% dari massa yang tertinggal pada ruang bakar utama berupa material yang tidak habis terbakar serta abu endapan. Gas hasil pembakaran pada ruang bakar utama dibakar kembali pada ruang bakar kedua (4), sama halnya pada ruang bakar pertama, ruang bakar kedua juga dilengkapi dengan burner kedua (5) serta fan kedua (6) untuk proses pembakaran. Dengan proses dua kali bakar ini maka gas-gas karbonisasi yang dihasilkan dari ruang bakar pertama akan habis dibakar pada ruang bakar kedua. Gas hasil pembakaran dari ruang bakar kedua ini selanjutnya diproses ke scrubber (7). Pada scrubber didistribusikan air (8), dimana digunakan nozzle untuk menghasilkan spray. Fungsinya adalah untuk memfiltrasi partikel, serta sebagai katalis gas-gas emisi hasil pembakaran, juga untuk menurunkan temperatur gas. Partikel berukuran besar yang terikat oleh air akan terpisah dari gas akibat gaya berat atau melekat pada dinding scrubber akibat keadaannya yang menjadi lembab. Pada scrubber juga didisribusikan udara menggunakan blower (9), untuk menambahkan kadar Oksigen serta untuk menambah daya dorong gas agar sampai ke cerobong. Selanjutnya gas tersebut melintasi Hazard Particle Pervade (10) untuk mengabsorbsi gas yang sudah terkatalisir dengan air, juga sebagai absorber partikel yang tidak terfiltrasi pada scrubber. Untuk pengendali tekanan, digunakan cerobong (12) yang juga untuk mengendalikan jangkauan penyebaran gas akhir yang dikeluarkan dari instalasi. 2.3.3 Klasifikasi Scrubber Klasifikasi scrubber secara garis besar terbagi atas 2 bagian yaitu Dry Scrubber dan Wet Scrubber. Perbedaan antara kedua tipe ini adalah pada penggunaan fluida cair pada proses kerjanya, dimana pada Wet Scrubber terdapat penggunaan fluida cair yang kegunaannya sebagai pengikat partikel berupa fly ash, pelarut gas, serta untuk pengendali temperatur.

Universitas Sumatera Utara

2.3.3.1 Dry Scrubber Sesuai dengan sebutannya Dry Scrubber merupakan alat pengendali polusi yang dalam aplikasinya berlangsung dalam proses kering. aplikasi ini lebih dominan hanya untuk pengendali partikel-partikel dalam bentuk padat. Dikarenakan pada proses kerjanya hanya dapat mengendalikan emisi dalam bentuk padatan seperti fly ash (partikel padat). Beberapa tipe dari aplikasi ini diantaranya: 1. Cyclone Separator Cyclone Separator dikenal juga dengan beberapa sebutan, diantaranya Cyclone Collector, Centrifugal Separator, atau Inertial Separator. Berikut gambaran dari Cyclone Separator.

Gambar 2.4 Cyclone Separator

2. Knockout Box Perbedaan aplikasi ini dengan Cyclone Separator adalah penerapannya terhadap aliran gas seperti terlihat pada gambar berikut ini.

Gambar 2.5 Knockout Box

Universitas Sumatera Utara

3. Baghouse Baghouse merupakan aplikasi yang penerapannya berdasarkan pada sistem filtrasi dengan menempatkan komponen filtrasi yang desainnya dibuat pada beberapa tingkatan atau lapisan. Gambaran dari Baghouse dapat dilihat pada gambar dibawah ini.

Gambar 2.6 Baghouse

4. Electrostatic Precipitators (ESPs) ESPs menerapkan aplikasi elektrostatis untuk mengikat partikel dimana pada konsepnya memanfaatkan tenaga listrik yaitu dengan menghasilkan medan listrik untuk mengikat partikel. Gambaran dari ESPs dapat dilihat pada gambar berikut ini.

Gambar 2.7 Electrostatic Precipitators (ESPs)

Universitas Sumatera Utara

2.3.3.2 Wet Scrubber Perbedaan yang signifikan antara Wet Scrubber dengan Dry Scrubber adalah adanya fluida cair pada aplikasi kerjanya, fluida cair yang umum digunakan pada Wet Scrubber adalah air. Kelebihan khusus dari penambahan fluida ini adalah pengontrolannya terhadap gas dapat larut seperti SOx dan NOx, yang pada Dry Scrubber emisi ini tidak dapat dikontrol dengan baik oleh sistem tersebut. Kelebihan lainnya adalah sebagai pengendali temperatur, dikarenakan pada prosesnya terjadi penggabungan antara 2 jenis fluida dengan perbedaan temperatur yang signifikan. Klasifikasi dari tipe Wet Scrubber ini cukup banyak, beberapa dari pembagiannya diantaranya : 1. Spray Tower Tipe paling sederhana dari Wet Scrubber adalah Spray Tower, partikel yang ikut mengalir bersama aliran gas disemprot dengan air menggunakan nozzle. konstruksi tipe ini bisa ditempatkan secara horizontal atau vertikal. Berikut ini contoh dari Spray Tower dengan pemasangan secara vertikal.

Gambar 2.8 Spray Tower

Universitas Sumatera Utara

Efisiensi filtrasi partikel untuk tipe ini berdasarkan ukuran partikel yang ada pada aliran gas. Untuk ukuran partikel > 5m bisa mencapai 90%, 3 5m antara 60 80%, dan < 3m dibawah 50%. Sistem ini memiliki aplikasi L/G ratio sekitar 20 gal/ 1000 ft3 dengan aliran gas yang mengalir sekitar 1 47 m3/s atau (1500 100.000 cfm). 2. Cyclonic Spray Perbedaan antara Cyclonic Spray dengan Spray Tower adalah dari segi konstruksi pada bagian aliran udara masuk ke Scrubber. Cyclonic Spray memiliki konstruksi bagian inlet gas yang dibuat pada posisi tangensial terhadap silinder Scrubber sehingga gas yang masuk akan mengalami aliran turbulen sehingga alirannya akan bersinggungan dengan dinding silinder Scrubber. Hal ini mengakibatkan gas yang mengalir bertambah kecepatan alirannya. Sedangkan air yang disemprotkan berasal dari nozzle yang ditempatkan pada bagian tengah atas konstruksi inlet atau dari pipa yang ditempatkan ditengah sepanjang Scrubber. Berikut beberapa tipe dari Cyclonic Spray.

Gambar 2.9 Irrigate Cyclone Scrubber dan Cyclonic Spray Scrubber

Universitas Sumatera Utara

Efisiensi aplikasi untuk tipe ini lebih baik dibandingkan dengan Spray Tower. Efisiensinya mencapai 95% untuk ukuran partikel > 5m dan untuk ukuran sub mikron antara 60 75%. 3. Dynamic Srubber Dynamic Scrubber atau sering disebut dengan Mechanically-Aided Scrubber atau Disintegrator Scrubber memiliki rotor pada konstruksinya yang fungsinya untuk mengarahkan aliran gas serta partikel hasil filtrasi.

Gambar 2.10 Mechanically Induced Spray Scrubber

Gambar 2.11 Centrifugal-Fan Scrubber

Universitas Sumatera Utara

Rotor yang ada pada scrubber digerakkan oleh motor listrik dengan penempatan rotor bisa ditempatkan diluar atau didalam konstruksi. Tipe ini lebih effisien digunakan untuk filtrasi partikel berukuran < 1m dan penggunaannya untuk aliran gas 1.000 5.000 cfm. 4. Tray Tower Tray Tower Scrubber atau Plate Tower Scrubber merupakan scrubber vertikal yang dilengapi dengan beberapa pelat berlubang yang ditempatkan secara horizontal pada bagian dalamnya. Gas yang mengalir dari bagian bawah Scrubber akan melintas dari lubang-lubang yang ada pada setiap pelat yang digenangi oleh aliran air yang mengalir dari bagian atas scrubber. Berikut gambar dari Tray Tower.

Gambar 2.12 Tray Tower Tipe ini tidak efektif untuk ukuran partikel sub mikron tetapi tipe ini memiliki efisiensi tinggi untuk ukuran partikel > 5m dimana dengan ukuran tersebut efisiensi yang didapat mencapai 97%. Desain ini baik digunakan untuk aliran gas 1.000 75.000

Universitas Sumatera Utara

cfm dengan L/G ratio lebih kecil dibandingkan dengan Spray Tower dan Ventury Scrubber. 5. Ventury Scrubber Pada tipe ini konstruksinya mengalami pengecilan diameter lalu pembesaran kembali. Bagian yang memiliki diameter terkecil disebut throat, dengan adanya throat aliran gas akan mengalami proses pencekikan, sehingga akan terjadi tumpukan partikel pada bagian tersebut.. Aliran air ditempatkan untuk menggenangi dan mengalir melalui throat seperti diperlihatkan pada gambar berikut ini.

Gambar 2.13 Venturi Scrubber Kecepatan aliran gas dengan kondisi pencekikan pada bagian throat menghasilkan efisiensi tinggi pada tipe ini yaitu antara 70 99% untuk partikel berukuran > 1m tetapi hanya > 50% untuk ukuran partikel sub mikron.

6. Orifice Scrubber Pada Orifice Scrubber gas yang mengalir melewati genangan air, sehinngga

Universitas Sumatera Utara

partikel akan mengendap sedangkan untuk partikel berukuran lebih kecil pada kondisi basah partikel akan melekat dan jatuh pada pelat penghantar dan mengalir kembali ke genangan air. Beberapa tipe dirancang dengan pelat penghantar yang dapat disetel kemiringannya agar kecepatan aliran partikel dapat dikendalikan. Untuk membuang endapan sistem ini menggunakan proses mekanik yang dibuat pada bagian bawah genangan air. Endapan tersebut dibuang dengan penghantar yang aplikasinya seperti conveyor ke bagian luar scrubber. Tipe ini mampu menampung aliran gas diatas 50.000 cfm. Seperti terlihat pada gambar dibawah ini.

Gambar 2.14 Orifice Scrubber Klasifikasi yang lainnya adalah klasifikasi yang didapat dari hasil proses penggabungan dari Dry dan Wet Scrubber, aplikasi tipe ini dapat dilihat pada Wet Precipitators ataupun juga penambahan komponen pada instalasi Scrubber misalnya menambahkan jumlah instalasi Packet Bed sehingga proses filtrasi akan terjadi beberapa kali dalam 1 siklus. Dalam hal efisiensinya aplikasi gabungan ini akan lebih baik tetapi sejalan dengan itu proses perawatan serta investasi untuk aplikasi ini juga akan lebih rumit dan bertambah besar.

Universitas Sumatera Utara

2.3.4 Prinsip Kerja Scrubber Prinsip kerja Scrubber terbagi atas dua bagian penting yaitu proses yang terjadi terhadap parikel serta proses yang terjadi terhadap gas. Pada kondisi ini Dry Scrubber tidak memiliki dampak terhadap proses pengendalian gas dikarenakan karakteristiknya difokuskan hanya untuk pengendali partikel padatan. Pada Dry Scrubber prinsip kerja srubber adalah dengan mengendalikan aliran gas yang mengandung partikel padat atau langsung memfiltrasi aliran gas. Beberapa cara yang digunakan untuk mengendalikan aliran gas diantaranya dengan mengubah sifat aliran gas tersebut dari aliran laminar menjadi aliran turbular, hal ini akan berakibat terhadap kecepatan aliran partikel padat yang teoritisnya partikel padat yang terdapat pada gas akan mengalami dampak impacition atau bantingan lebih besar dibandingkan yang dialami gas itu sendiri. Cara lainnya yaitu dengan mematahkan aliran gas, partikel akan mengalami impaction berupa benturan secara langsung pada bagian bagian pembatas. Cara paling sederhana adalah dengan memfiltrasi langsung aliran gas, dimana partikel padat akan tertinggal pada media filtrasi. Untuk lebih jelasnya proses kerja pada Dry Scrubber diperlihatkan pada gambar berikut ini.

Gambar 2.15 Prinsip Kerja Dry Scrubber

Universitas Sumatera Utara

Efisiensi pengumpulan partikel pada Wet Scrubber lebih baik dibandingkan Dry Scrubber, karena Wet Scrubber mampu menangkap partikel dengan ukuran yang lebih kecil serta mampu mengikat emisi dalam bentuk gas. Pada Wet Scrubber prinsip kerjanya adalah dengan mengalirkan fluida cair pada aliran gas, sehingga gas yang mengalir akan difiltrasi oleh fluida cair tersebut. Beberapa cara yang ada pada Wet Scrubber untuk sistem distribusi fluida cair diantaranya adalah dengan proses atomizing, proses ini mengatomisasi fluida cair menjadi partikel-partikel yang didistribusikan dalam jumlah banyak sehingga sistem filtrasi terjadi secara merata. Terdapat 3 tipe berdasarkan arah aliran gas dan air yang bersiklus yaitu Countercurrent, Crosscurrent, dan Cocurrent. Cara lain adalah dengan mengalirkan gas melalui genangan fluida cair, dengan proses ini partikel akan melekat dan mengendap pada genangan air. Berikut gambaran dari proses kerja Wet Scrubber.

Gambar 2.16 Prinsip Kerja Wet Scrubber

Universitas Sumatera Utara

2.3.5 Komponen yang Berhubungan dengan Scrubber Dalam aplikasinya terhadap suatu instalasi banyak komponen lainnya yang terpasang untuk melengkapi sistem scrubber itu sendiri. Komponen-komponen itu dipasang dan disesuaikan dengan tipe scrubber yang ada pada instalasi tersebut. Pada dasarnya komponen yang berhubungan dengan Wet Scrubber lebih banyak dibandingkan pada Dry scrubber hal ini sejalan dengan jumlah jenis fluida yang ada pada sistem. 1. Fans (Kipas atau Blower) Tujuan pemasangan fans pada instalasi ini adalah untuk mendistribusikan gas. Tipe yang umum digunakan adalah sentrifugal fans dimana gas yang mengalir masuk
o dari bagian samping dan keluar pada sudut 90 sisi masuknya. Sentrifugal fans itu

sendiri memiliki beberapa klasifikasi diantaranya adalah Forward-curved, Backwardcurved, Radial, dan Airfoil dimana klasifikasi ini didasarkan pada bentuk sudu yang terpasang seperti diperlihatkan pada gambar dibawah ini

Gambar 2.17 Sentrifugal Fans

Universitas Sumatera Utara

Pemasangannya pada scrubber dapat diletakkan sebelum atau setelah scrubber, pemilihannya berdasarkan kondisi yang dibutuhkan, terhadap instalasi utama. Pada posisi sebelum scrubber gas yang didistribusikan oleh fans dominan bersifat kering tetapi dalam kondisi kotor dan bertemperatur relatif tinggi, umum dipasang karena gas memerlukan tekanan dorong ke bagian scrubber. Sedangkan pada posisi setelah Scrubber dominan beroperasi pada kondisi keadaan gas yang lebih lembab dikarenakan terdapat penambahan komponen fluida cair. Relatif digunakan untuk proses pengisapan gas dari scrubber ke instalasi berikutnya. Hal-hal diatas tersebut menjadi dasar untuk pemilihan jenis dan material dari fans yang akan digunakan. 2. Instalasi Saluran Gas (Duct) Instalasi duct disini adalah untuk saluran pendistribusian gas, dimana konstruksinya disesuaikan berdasarkan instalasi utama menuju dan dari scrubber. Ukurannya akan menentukan debit gas yang diproses serta kesesuaiannya terhadap scrubber baik itu untuk kondisi bagian inlet gas ataupun outlet gasnya. 3. Pompa dan Pemipaan Pompa yang terpasang disini adalah untuk mendistribusikan fluida cair menuju scrubber, aplikasinya dapat dilihat pada tipe Wet Scrubber dikarenakan pada umumnya fluida tersebut harus dalam kondisi bertekanan sebagai syarat atomisasi serta kondisi penempatan scrubber yang lebih tinggi dari pada bak penampung. 4. Atomzier/Nozzle Spray Atomizer berfungsi untuk proses atomisasi fluida cair seperti yang sudah dibahas sebelumnya untuk beberapa tipe aplikasi fluida cair ini perlu diubah kedalam bentuk

Universitas Sumatera Utara

partikel dalam jumlah cukup banyak. Beberapa jenis yang digunakan untuk scrubber ini diantaranya Rotary Atomizer, Two- fluid Nozzle, serta Impingment Spray-Nozzle, untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar dibawah ini

Gambar 2.18 Spray Nozzle

2.3.6 Performansi Wet Scrubber Pencapaian target performansi (unjuk kerja) merupakan hal utama dibuatnya suatu instalasi. Untuk mendapatkan nilai performansi pada aplikasi scrubber terdapat beberapa hal yang menjadi tinjauan utama, analisa tersebut meliputi : 1. Perbandingan Air dengan Gas Adalah perbandingan antara volume cairan yang diinjeksikan ke scrubber dengan volume gas yang mengalir pada Srubber. L/G ratio maksimum untuk tiap tipe beraneka ragam, sehingga komponen ini dapat digunakan untuk pemilihan tipe scrubber yang harus dipasang pada instalasi yang menggunakannya.

Universitas Sumatera Utara

2. Kecepatan dan Tekanan Kecepatan dan tekanan fluida, dengan meningkatkan kecepatan antara aliran gas dan tetesan cairan mengakibatkan pertambahan kecepatan terhadap gerakan partikel. Dikarenakan filtrasi terjadi secara impact, sehingga faktor tersebut akan menambah efisiensi persatuan waktu. Beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mempengaruhi kecepatan aliran diantaranya memperkecil dimensi penampang aliran atau

menginjeksikan fluida secara berlawanan arah. 3. Jumlah dan ukuran partikel yang didistribusikan Jumlah dan ukuran partikel yang didistribusikan pada gas menentukan kemampuan filtrasi dari scrubber. Kemampuan scrubber untuk mengurangi jumlah partikel pada bagian keluaran adalah dasar penentuan efisiensi dari scrubber. Jumlah partikel yang dimuat pada aliran gas akan menentukan L/G ratio, sebab semakin banyak partikel yang dimuat maka cairan yang harus didistribusikan juga harus ditambahkan volumenya. 4. Temperatur dan kelembaban Temperatur dan kelembaban pada proses selain untuk menentukan kondisi fluida juga untuk menentukan material serta konstruksi yang akan digunakan pada scrubber. 5. Waktu filtrasi Waktu yang dibutuhkan oleh cairan untuk memfiltrasi gas sangat menentukan dimana semakin lama waktu tersebut maka efisiensi filtrasi serta dampak lain yang terjadi seperti penurunan temperatur gas akan semakin tinggi. 6. Ukuran tetesan air distribusi Ukuran tetesan air distribusi yang berukuran kecil dengan laju yang sama akan sangat baik untuk sistem filtrasi dikarenakan dengan kondisi dimensi scrubber yang

Universitas Sumatera Utara

sama tetesan cairan yang berukuran lebih kecil dapat didistribusikan secara merata dan jumlahnya juga menjadi relatif lebih banyak. Ukuran tetesan ini ditentukan oleh nozzle yang digunakan serta fasilitas pendukung dari distribusi air itu sendiri.

Universitas Sumatera Utara

Universitas Sumatera Utara