Anda di halaman 1dari 114

KALAMSIASI

Jurnal Ilmu Komunikasi dan Ilmu Administrasi Negara


Vol. 1, No. 2, September 2008

Daftar Isi
Model Kompetensi Dengan Menggunakan Analisis Pasar Tenaga Kerja dalam Mempersiapkan Tenaga Kerja Indonesia Berkualitas Isnaini Rodiyah Peranan Panitia Pemilihan Kepala Desa dalam Menyukseskan Pemilihan Kepala Desa Tahun 2007 : Studi Kasus di Desa Ketimang Kecamatan Wonoayu Kabupaten Sidoarjo M. Islam dan Churnia Harwati Pengaruh Komunikasi Keluarga terhadap Kekerasan pada Anak Ainur Rohmania & Didik Hariyanto Peran Elit Desa dalam Meningkatkan Partisipasi Swadaya Masyarakat Pada Pembangunan di Sidoarjo Totok Wahyu Abadi dan Endang Sofiyanti Uji Perspektif Pembelajaran & Pertumbuhan Balanced Scorecard Budaya Kerja untuk Melihat Kualitas Manusia Karya Isna Fitria Agustina Manajemen SDM Berbasis Kompetensi (MSDM-BK) Untuk Aparat di Dalam Birokrasi Jusuf Irianto Implementasi Program Pembangunan Desa Partisipatif di Kelurahan Mindi Kecamatan Porong Kabupaten Sidoarjo Andik Afandi & Dessy Dellina Penguatan Perilaku Aparatur Humas dalam Reformasi Pelayanan Publik di Kabupaten Karimun - Kepulauan Riau Nurdin Basirun dan Hadi Ismanto 101

113

127

137

151

163

175

189

KATA PENGANTAR
Assalamualaikum Wr.Wb. Pembaca yang budiman, Tanpa terasa tahun 2008 hampir terlewati dengan berbagai dinamika yang berkembang di dalamnya. Tentu menjelang berakhirnya tahun 2008 ini dinamika tersebut membawa suasana yang lebih baik untuk menyongsong tahun 2009 dengan lebih cemerlang. Dinamika yang yang terjadi di sekitar kehidupan manusia tidak terlepas dari fenomena globalisasi yang memberikan perubahan baru dalam segala aspek kehidupan. Dalam konteks yang demikian ini, globalisasi tidak sekadar memberi peluang namun juga berbagai macam tantangan. Perubahan yang secara alamiah menciptakan kondisi ketidakpastian (uncertainty) tentu saja harus dihadapi dengan respon yang tepat agar menghasilkan performance yang sesuai dengan harapan. Jurnal KALAMSIASI Edisi September 2008 yang sudah berada di tangan pembaca ini menyajikan beberapa topik menarik dan penting. Diharapkan sajian ini dapat digunakan untuk merespon berbagai macam tantangan sebagai buah dari fenomena perubahan yang ditinjau baik dari dari perspektif disiplin Ilmu Administrasi Negara maupun Ilmu Komunikasi. Sajian topik dalam edisi kali ini menjangkau berbagai topik. Dari disiplin Ilmu Administrasi Negara disajikan topik tentang pelayanan pemerintah terhadap TKI sebagaimana ditulis oleh Isnaini Rodiyah. Topik lainnya adalah tentang pembangunan di pedesaan serta proses pemilihan kepala desa yang masingmasing diuraikan oleh M. Islam dan Totok Wahyu Abadi. Fokus Ilmu Administrasi Negara juga mengarah pada aspek SDM aparat, oleh karena itu edisi kali ni juga menyajikan topik tentang kompetensi aparat birokrasi sebagaimana dideskripsikan oleh Jusuf Irianto. Adapun dari disiplin Ilmu Komunikasi mengangkat berbagai isu mulai dari komunikasi keluarga sebagaimana diuraikan oleh Ainur Rohmaniah. Untuk melengkapi sajian edisi ini juga disertakan tulisan Isna Fitri Agustina yang memfokuskan diri pada pengembangan konsep Balanced Scorecard yang dikaitkan dengan peningkatan kualitas manusia karya. Semoga sajian jurnal kali ini membawa manfaat yang sebesar-besarnya dan menjadi inspirasi bagi terciptanya karya-karya baru yang lebih kaya di tahuntahun mendatang. Selamat membaca dan berkarya. Wassalamualaikum wr.wb.

Penyunting

MODEL KOMPETENSI DENGAN MENGGUNAKAN ANALISIS PASAR TENAGA KERJA DALAM MEMPERSIAPKAN TENAGA KERJA INDONESIA BERKUALITAS

Isnaini Rodiyah
(Dosen Tetap Ilmu Administrasi Negara FISIP Umsida, Jln. Mojopahit No. 666 B Sidoarjo, Telp. 031-8945444, Fax. 031-8949333)

ABSTRACT Much of Indonesian labor problems that happening today make condition of labor market needs for more individual professional and quality. This condition is being homework for government, especially Labor Departement for rearrangement competence of Indonesian labor (Tenaga Kerja Indonesia or TKI). The competence of TKI may be improved by a competence model using situation labor market analysis. The researchs problem is how the model of competence using situation of labor market analysis in order to prepare TKIs quality in East Java. The aim of this research is make a model of competence that use situation labor market analysis in order to prepare the quality of Indonesian labor. This research method is descriptive qualitatif analysis with an approach of focus group discussion (FGD). Result of this research is a new model matching to labor market situation so as to improve TKIs competence. Keywords: Indonesian Labor (TKI), Competence Model, labor market

PENDAHULUAN
Sektor ketenagakerjaan merupakan salah satu masalah yang sangat rumit dan segera harus diselesaikan. Salah satu masalah yang paling menonjol adalah pengangguran. Hingga saat ini pengangguran di Indonesia mencapai lebih dari 10,25 juta atau 9,86 persen dari total
101

angkatan kerja yang mencapai angka 103,97 juta orang (Bappenas, 2005). Dengan demikian meskipun angka pertumbuhan nasional berada pada kisaran 4 persen, namum angka tersebut belum dapat mencukupi untuk mampu memberikan lapangan pekerjaan yang memadai bagi jutaan penganggur.

102

KALAMSIASI, Vol. I, No. 2, September 2008, 101 - 112

Salah satu cara yang dapat ditempuh untuk mengatasi pengangguran adalah dengan memenuhi permintaan tenaga kerja dari luar negeri. Terdapat banyak warga Indonesia yang kini telah bekerja dan akan terus bertambah jumlah tenaga yang akan dikirim guna memenuhi kebutuhan di luar negeri. Namun demikian hendaknya disadari bahwa terdapat berbagai masalah yang harus segera diselesaikan sehubungan dengan banyaknya warga Indonesia yang bekerja di luar negeri tersebut. Dari berbagai pemberitaan masalah tersebut sangat banyak yang bersentuhan dengan nilai kemanusiaan yaitu deportasi, tindak kekerasan, pelecehan seksual, sampai pada ketidak adilan dalam pemberian upah. Fenomena permasalahan tersebut memberi suatu pesan bahwa kebanyakan warga yang dikirim ke luar negeri memiliki kualitas yang belum memadai sehingga sektor pekerjaan terbatas pada pembantu rumah tangga (PRT) atau sektor lain yang tidak memerlukan ketrampilan tinggi sehingga rentan untuk dilecehkan. Masih rendahnya kualitas Tenaga Kerja Indonesia (TKI) tercermin pada mereka yang bekerja diluar negeri yakni sekitar 70 persen bekerja pada sektor informal (seperti PRT) dengan keterampilan yang rendah serta pengetahuan yang amat terbatas. Di samping itu banyak

diantara TKI yang memiliki penguasaan bahasa setempat yang rendah serta tidak dapat dengan cepat menyesuaikan diri dengan budaya serta adat istiadat negara tujuan. Masalah lainnya adalah rendahnya pendidikan serta cara kerja yang tidak profesional yang pada akhirnya mengakibatkan TKI kalah bersaing dengan tenaga kerja dari negara-negara lain. Fakta tersebut sangat ironis dengan peran TKI bagi perekonomian nasional. Fakta menunjukkan bahwa di akhir tahun 2006 para TKI mampu menyumbang devisa negara hingga mencapai 3,4 miliar dollar AS atau setara dengan Rp 30,6 triliun (Kompas, 9 Juni 2007). Hal menunjukkan bahwa kontribusi TKI terhadap perekonomian nasional sangatlah besar. Sementara itu dari berkembangnya pasar tenaga kerja internasional, permintaan terhadap TKI dari luar negeri masih terus meningkat. Situasi ini merupakan peluang yang harus direspon dengan mengingat kondisi perekonomian yang belum mampu menyerap tenaga kerja secara maksimal. Oleh karena itu pembenahan terhadap kondisi TKI harus terus diperhatikan utamanya dalam peningkatan kualitas. Persoalan pokok dari ketenagakerjaan Indonesia yang bekerja di luar negeri adalah kurangnya keterampilan, rendahnya pendidikan dan cara kerja yang tidak profesional yang

Isnaini Rodiyah, Model Kompetensi Menggunakan Analisis Pasar Tenaga Kerja

103

menunjukkan bahwa TKI belum mempunyai kompetensi dalam bekerja sesuai standar yang ditetapkan. Dari paparan di atas penelitian ini mencoba memberikan solusi bagi permasalahan dalam mempersiapkan TKI berkualitas dengan lebih menekankan pada pemberian bekal sebelum pemberangkatan. Dengan fokus penelitian ini pembuatan model kompetensi TKI dengan menggunakan analisis pasar tenaga kerja, rumusan masalah dalam penelitian ini adalah Bagaimana model kompetensi dengan menggunakan analisis pasar tenaga kerja dalam mempersiapkan Tenaga Kerja Indonesia yang berkualitas di Provinsi Jawa Timur?

kreativitas yang tidak dapat dilihat secara kasat mata (Sudarmanto, 2005 :11)

Kompetensi
Secara mendasar terdapat dua sudut pandang yang memiliki asumsi berbeda. Pandangan pertama meletakkan perilaku sebagai fokus pemahaman terhadap kompetensi. Asumsi yang mendasarinya adalah bahwa hanya perilaku yang dapat diamati dalam latihan-latihan simulasi sebagai metode utama dalam pengukuran kompetensi. Semen-tara itu, pandangan kedua melatakkan karakteristik fundamental individu sebagai titik berat konsep kompetensi. Asumsinya adalah bahwa perilaku manusia hanyalah ibarat sebagai pucuk permukaan dari sebuah gunung es (iceberg phenomenon). Aspek terpenting dalam kompetensi justru terletak pada aspek-aspek fundamental dalam diri manusia yang menjadi penentu perilaku (Prihadi,2004: 91-92). Berkenaan dengan hal itu, para pakar kompetensi yang tergabung ke dalam kelompok HaymcBer (dipelopori oleh David Mc Clelland, Boyatzis, serta Spencer & Spencer) mengemukakan adanya 5 (lima) jenis kompetensi, yakni: 1. Motives (motif), adalah sesuatu yang secara konsisten dipikirkan atau dikehendaki seseorang yang menimbulkan tindakan motif menggerakkan,

TINJAUAN TEORETIS
Model dalam penelitian ini diarahkan pada model pengembangan yang merupakan kesempatan belajar dalam membantu individu untuk berkembang. Pengembangan ini tidak terbatas hanya pada peningkatan kualitas saat ini. Fokus pengembangan adalah untuk masa depan dan membantu individu dalam mempersiapkan kompetensi sesuai standar pekerjaan. Model ini tidak hanya cenderung pada peningkatan skill semata yang dapat dicapai melalui pelatihan, namun juga dilakukan untuk menggali potensi kepribadian, motivasi, emosi, inovasi serta

104

KALAMSIASI, Vol. I, No. 2, September 2008, 101 - 112

mengarahkan, dan menyeleksi perilaku terhadap kegiatan atau tujuan. 2. Traits (watak), adalah karakteristik pribadi dan respon-respon konsistensi terhadap situasi atau informasi 3. Self-concept (konsep diri) adalah sikap, nilai dan citra diri seseorang. 4. Knowledge ( Pengetahuan) merujuk pada informasi yang dimiliki seseorang dalam bidang tertentu. Pengetahuan merupakan kompetensi yang kompleks dan sering gagal memprediksi kinerja karena tidak mampu mengukur keterampilan yang benar-benar dipergunakan pada suatu pekerjaan. 5. Skill (keterampilan) adalah kemampuan untuk melaksanakan tugas fisik atau mental (Spencer & Spencer, 1993:9-11) Dari kelima komponen tersebut, skil dan knowledge bersifat visible (dapat dilihat) dan mudah dikembangkan melalui program pelatihan. Sementara selfconcept, traits, dan motivies bersifat hidden (tidak tampak) sehingga sulit dikembangkan melalui pelatihan, namun demikian diupayakan untuk dapat dilakukan pengembangannya melalui pendekatan psikologis. Dari berbagai sudut pandang mengenai kompetensi tersebut, dapat dijadikan acuan bahwa konsep kompetensi lahir dari unsur knowledge (pengetahuan), skill (keterampilan) dan attitude

(sikap). Ketiga unsur inilah nantinya akan dipakai dalam mengukur kompetensi yang selanjutnya akan dikembangkan sebagai suatu model kompetensi.

Proses Terbentuknya Perilaku


Fieshbien (dalam Ajzen, 1991) menjelaskan bahwa perilaku terbentuk dari latar belakang, kondisi sosial dan informasi yang dimiliki individu yang selanjutnya berpengaruh terhadap keyakinan berperilaku, keyakinan normatif dan keyakinan pengontrol yang ada pada individu. Ketiga keyakinan tersebut mempunyai derajat yang berbeda pada setiap individu, tergantung pada seberapa kuat proses internalisasi masing-masing individu. Keyakinan dalam perilaku akan menghasilkan penilaian individu terhadap sikap berperilaku tertentu yang memiliki tiga kemungkinan yaitu hasil positif, negatif, atau netral. Keyakinan terhadap norma akan menghasilkan norma subyektif. Norma subyektif merupakan aturan dalam diri individu tentang apa yang pantas dilakukan atau tidak dilakukan. Sedangkan keyakinan terhadap kontrol akan menghasilkan kontrol terhadap perilaku individu yang didasarkan pada persepsi orang lain, dan individu mengalami sebuah proses dalam memutuskan perilakunya dengan mempertimbangkan persepsi orang lain sebagai pengontrol.

Isnaini Rodiyah, Model Kompetensi Menggunakan Analisis Pasar Tenaga Kerja

105

Ketiga proses yang terjadi dalam diri individu (sikap terhadap perilaku, norma subyektif, kontrol perilaku yang dipersepsikan) tersebut akan menghasilkan niat kuat untuk berperilaku yang tentunya didukung dengan kontrol perilaku nyata dari individu.

mengapa upah dan tenaga kerja terlihat tumbah naik atau turun dalam merespon kondisi ekonomi atau kejadian politik. Pasar tenaga kerja bekerja pada kejadiankejadian yang mengejutkan, upah dan tenaga kerja akan cenderung untuk bergerak naik atau turun membentuk level kesesimbangan baru. Sementara itu, tenaga kerja adalah salah satu faktor produksi yang sangat penting atau yang disebut sebagai faktor sumber daya manusia. Tenaga kerja adalah penduduk dalam suatu negara yang dapat memproduksi barang dan jasa jika ada permintaan terhadap tenaga mereka dan jika mereka mau berpartisipasi dalam aktivitas tersebut (Sisdjianto, 1995:193). Sedangkan Tenaga Kerja Indonesia (TKI) Menurut Keputusan Menteri Tenaga Kerja Indonesia Nomor Kep- 104 A/MEN/ 2002 pada Bab 1 Ketentuan umum pasal 1 menerangkan bahwa Tenaga Kerja Indonesia yang selanjutnya disebut TKI adalah pencari kerja yang telah terdaftar dan lulus seleksi pada PJTKI serta telah menandatangani penjanjian penempatan. Tenaga Kerja Indonesia bekulitas adalah tenaga kerja yang mempunyai pemahaman terhadap kondisi dan lingkungan pekerjaannya, mempunyai keterampilan yang bisa diandalkan serta mempunyai sikap lentur dalam menghadapi permasalahan. Akhirnya, dalam

Pasar Tenaga Kerja


Adanya pasar tenaga kerja memberikan jalan bagi terbentuknya sebuah keseimbangan (equilibrium) bagi perusahaan dan tenaga kerja. Melalui pasar tenaga kerja, para pekerja dapat terus mencari pekerjaan yang lebih baik dan lebih sesuai dengan kemampuannya, sedangkan perusahaan dapat memperoleh yang lebih baik dan sesuai dengan kebutuhannya. Keseimbangan para pekerja dan kebutuhan perusahaan tersebut menciptakan efisiensi (Borro & Xavier, 1991:107) Equilibrium pasar tenaga kerja diasumsikan terjadi pada persaingan sempurna pasar tenaga kerja yang dapat dengan mudah keluar masuk dalam perusahaan sampai pada tahap efisiensi total. Keseimbangan ini terjadi ketika kondisi tenaga kerja dalam taraf memiliki skill yang relatif sama dan bisa bersaing. Konsep equilibrium pasar tenaga kerja menyisakan banyak kegunaan karena hal tersebut membantu pemahaman kita

106

KALAMSIASI, Vol. I, No. 2, September 2008, 101 - 112

kondisi yang demikian terbentuklah karakter tenaga kerja handal dan mampu memberikan yang terbaik di tempat kerja sehingga dapat bersaing di pasar tenaga kerja internasional baik secara kompetensi dan penghasilan.

melalui wawancara yang dilakukan bersifat interaktif dan komunikatif secara verbal dalam konteks pembicaraan. Selnjutnya data yang terkumpul digunakan sebagai bahan diskusi guna merancang tahapantahapan lainnya sehigga akan ditemukan standar kompetensi sebagai bahan untuk membuat model kompetensi Analisis data dalam penelitian ini dilakukan dengan cara seluruh data yang masuk baik melalui wawancara ataupun bentuk intepretasi data dari tabel, diklasifikasi agar tercapai konsistensi, kemudian hasilnya didiskusikan dengan pihak-pihak yang berhubungan langsung dengan permasalahan penelitian (Dinas Tenaga Kerja). Diskusi ini dilakukan untuk memperoleh kualitas analisis yang selanjutnya dibuat dalam penyususnan Model kompetensi.

METODE PENELITIAN
Penelitian ini adalah sebuah penelitian diskriptif kualitatif dan membutuhkan informan untuk mencari fakta terhadap fenomena yang terjadi. Informan dalam penelitian ini adalah orang-dalam pada latar penelitian dan dimanfaatkan untuk memberikan informasi tentang situasi dan kondisi latar penelitian. Berdasarkan kriteria ini maka informan harus mempunyai banyak pengalaman tentang latar penelitian (Moleong, 1996:132) . Dalam penelitian ini informan yang ditunjuk adalah para pemimpin dan Staf Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Provinsi Jawa Timur. Terdapat dua jenis data yang diperoleh dalam penelitian ini yaitu data primer dan data skunder. Data primer diperoleh dari hasil wawancara terhadap informan dengan menggunakan kuesioner dan dilakukan secara in-depth interview (wawancara mendalam). Sementara data skunder diperoleh dari laporan penelitian, jurnal, artikel dan buletin yang diterbitkan oleh Dinas Tenaga Kerja Jawa Timur. Pengumpulan data primer dilakukan

HASIL DAN PEMBAHASAN


Beberapa temuan pokok hasil penelitian memfokuskan pada kondisi kompetensi TKI informal saat ini adalah: Pertama, knowledge TKI diperoleh dari informan bahwa dalam persyaratan Undang-undang yang mengatur tentang TKI yang berangkat ke luar negeri mempunyai pendidikan minimal lulus SMP dan berusia minimal 18 tahun, akan tetapi pada kenyataannya tidak ditemukan adanya data konkrit mengenai tingkat pendidikan

Isnaini Rodiyah, Model Kompetensi Menggunakan Analisis Pasar Tenaga Kerja

107

(minimal) calon TKI informal sehingga belum diketahui secara pasti TKI yang berangkat mempunyai tingkat pendidikan apa. Informasi adanya lowongan kerja ke luar negeri diperoleh TKI dari sumber informasi (Disnaker, PJTKI, Media, Internet, dan lain-lain). Dari informasi tersebut kemudian calon TKI mengikuti penyuluhan serta melakukan pendaftaran dan mengikuti seleksi. Calon TKI yang lulus seleksi menandatangani perjanjian penempatan dengan PJTKI dimana Disnaker mengesahkan perjanjian tersebut. Selanjutnya calon TKI mengikuti tes kesehatan, pelatihan dan ujian kompetensi. Selanjutnya mengurus paspor dan mengikuti program asuransi TKI dimana PJTKI memfasilitasi pelatihan tersebut. Calon TKI mengikuti pembekalan akhir pemberangkatan (PAP) di BP2TKI dan mengesahkan perjanjian kerja yang telah ditandatangani. TKI melalui PJTKI mengurus rekomendasi bebas fiskal dan BP2TKI meneliti kelengkapan dokumen serta memberikan surat rekomendasi pemberangkatan selanjutnya dengan difasilitasi PJTKI. Tahpa akhir adalah pemberangkatan ke negara tujuan sesuai dengan perjanjian kerja. Informasi tentang pembentukan pengetahuan awal yang berkenaan dengan gambaran umum negara tujuan, resiko serta suka duka bekerja di luar

negeri justru tidak diberikan diawal. Hal ini akan berpengaruh terhadap keputusan yang tidak matang dari calon TKI. Kenyataan memang terdapat TKI yang memiliki niat yang bulat, namun tidak sedikit ada TKI yang marasa bimbang. Melihat kondisi tersebut sebaiknya pihak Disnaker bekerja sama dengan PJTKI memberikan bekal pengetahuan yang relevan dalam pelatihan yakni tidak hanya pemahaman secara teknis namun juga diarahkan pada kesiapan mental sebagai bekal awal dan mendasar bagi calon TKI. Tjuannya tidak lain adalah agar calon TKI dapat mengambil keputusan secara tepat untuk memutuskan berangkat atau tidak berangkat. Dengan demikian pembentukan knowledge ini sebaiknya dimulai dari awal pemberian informasi sebelum TKI memutuskan Ya dan Tidak. Kedua, pelatihan untuk meningkatkan skill calon TKI sesuai dengan materi ketrampilan standar nasional yang diatur dalam standar kompetensi nasional (SKKNI) yang telah disosialisasikan ke PJTKI. Materi yang diberikan adalah keterampilan secara teknis dan bahasa. Kelulusan dalam pelatihan ini akan dibuktikan dengan pemberian sertifikat, dan banyaknya sertifikat yang dikeluarkan Disnaker menjadi bukti bahwa adanya peningkatan skill calon TKI dari tahun ke tahun, dengan demikian mengindikasikan

108

KALAMSIASI, Vol. I, No. 2, September 2008, 101 - 112

bahwa calon TKI sudah memiliki kompetensi serta skill. Namun yang selama ini berjalan adalah kenyataan bahwa pelatihan lebih diarahkan pada ketrampilan yang diberikan hanya bersifat teknis. Ketrampilan mental kurang mendapat perhatian. Ketiga, attitude terbentuk karena adanya motivasi. Bekal motivasi diberikan pada pembekalan akhir pemberangkatan (PAP) yang difasilitasi oleh Disnaker bekerja sama dengan MUI. Pemberian motivasi pada pemebkalan akhir pemberangkatan memang sangat diperlukan akan tetapi akan lebih mendalam dan lebih tertanam jiwa semangat pada calom TKI ketika motivasi itu diberikan pada saat pelatihan. Seiring dengan perjalanan waktu di asrama sebelum pemberangkatan seiring pula dengan terbentuknya sikap mental yang tangguh serta elegan dalam bekerja. Oleh karena itu sangat diharapkan dalam pelatihan ini Dsnaker selalu bekerjasama dengan PJTKI.

tujuan para TKI bekerja harus mengadakan penelitian terlebih dahulu yang tidak dapat dengan mudah dilakukan karena membutuhkan biaya yang sangat mahal. Karena itu kondisi situasi pasar tenaga kerja diperoleh informan yang juga tidak mengetahui secara detil dan dari rekap data permintaan tenaga kerja informal dari luar negeri. Kondisi situasi pasar tenaga kerja dapat digambarkan sebagai berikut: [1] Pasar tenaga kerja luar negeri membutuhkan banyak permintaan tenaga kerja informal; [2] Pekerjaan yang banyak diminati adalah pekerjaan sektor informal khususnya PLRT (Pelaksana Rumah Tangga); [3] Pasar tenaga kerja luar negeri membutuhkan calon TKI yang profesional; [4] Pasar tenaga kerja luar negeri meng-inginkan terpenuhinya standar kualifasi TKI

Model Kompetensi
Dengan melihat kondisi kompetensi TKI yang ada saat ini lalu dimodifikasi dari teori Fishbein dan kemudian dianalisis dengan situasi pasar tenaga kerja, maka terbentuk model kompetensi melalui:

Situasi Pasar Tenaga Kerja


Secara rinci pihak Disnaker tidak dapat dan belum memiliki data konkrit tentang kondisi riil pasar tenaga kerja luar negeri. Alasan utama belum dapat memberikan data tersebut karena untuk memperoleh data kondisi riil pasar tenaga kerja luar negeri khususnya negara-negara

1. Informasi
Informasi pasar tenaga kerja yang disediakan Disnaker tidak hanya memuat hal konkrit saja tetapi harus disediakan dalam bentuk layanan khusus sehingga

Isnaini Rodiyah, Model Kompetensi Menggunakan Analisis Pasar Tenaga Kerja

109

calon TKI akan memperoleh berbagai informasi yang dibutuhkan dengan lengkap. Informasi yang telah diperolah akan membentuk persepsi yang berbeda antara calon TKI yang satu dan lainnya karena pemahaman yang diterima tergantung dari tingkat pendidikan calon TKI. Oleh karena itu Disnaker sebaiknya mendata tingkat pendidikan calon TKI tersebut. Informasi pasar tenaga kerja seharusnya juga disosialisasikan melalui kerjasama dengan berbagai pihak termasuk di dalamnya adalah kabupaten, kecamatan, ataupun pemerintahan desa. Kerjasama tersebut yang diharapkan adalah Disnaker mempunyai perpanjangan tangan dalam mensosialisasikan informasi yang ada. Dengan demikian calon TKI tidak perlu merasa ragu dengan kebenaran informasi yang mereka peroleh karena informasi tersebut berasal dari pihak berwenang secara langsung.

sikap ini akan berpengaruh besar secara psikologis bagi calon TKI, karena itu pihak Disnaker seharusnya bekerjasama dengan ahli psikologi untuk mengetahui sejauh mana kesungguhan dan minat dari peserta calon TKI.

3. Calon TKI yang menguasai know dan know how


Calon TKI yang benar-benar berminatpun akan dibedakan menjadi dua, yakni TKI yang memiliki kategori know dan know how. Pembedaan ini didasarkan pada tingkat pemahaman calon dan hal ini sangat dipengaruhi oleh tingkat pendidikan. Pembedaan ini bertujuan untuk mempermudah membentuk kompetensi. Calon TKI yang hanya sekadar tahu, sementara calon TKI yang know how adalah mereka yang memahami dengan benar bagaimana dan apa yang selanjutnya harus diberbuat.

2. Proses pembentukan persepsi, sikap, minat, keinginan, dan motivasi


Proses ini dipengaruhi dari informasi awal yang diterima calon TKI, yang selanjutnya membentuk persepsi dan persepsi membentuk sikap, sikap bagaimana calon TKI menerima atau tidak menerima (berminat atau justru tidak berminat sama sekali). Proses pembentukan persepsi serta

4. Kebutuhan motivasi, sikap profesional, standar pasar, dan kompetensi


Kebutuhan ini adalah faktor terpenting yang bisa diukur dari pemahaman dari calon TKI (know/know how) untuk membentuk kebutuhan motivasi, sikap peofesional, dan kebutuhan informasi standar pasar tenaga kerja. Bagi calon TKI know how kebutuhan-kebutuhan tersebut

110

KALAMSIASI, Vol. I, No. 2, September 2008, 101 - 112

adalah keharusan yang mesti terpenuhi, namun bagi calon TKI yang hanya know masih manyimpan kata tanya akan kebutuhan-kebutuhan tersebut. Oleh karena itu pemahaman akan kebutuhan tersebut harus disamakan sehingga calon TKI know juga akan merasakan kebutuhan yang sama dengan calon TKI know how. Hal ini akan berpengaruh terhadap jalannya proses pelatihan yang akan diberikan pada seluruh calon TKI.

mental dan pembelajaran komunikatif. Pembelajaran insrtumental bertujuan memberi kepekaan terhadap pengontrol akan perubahan lingkungan kerja dan orang-orang yang dihadapi serta cara memecahkan masalah. Sedangkan pembelajaran komunikatif bertujuan untuk memberikan kepekaan pada perubahan nilai-nilai budaya dan kemampuan beradaptasi yang ditunjukkan dengan kemampuan berekspresi.

5. Pelatihan
Pelatihan diyakini sebagai proses perbaikan knowledge, skill dan attitude. Namun yang perlu diperhatikan adalah bahwa harus ada pendekatan khusus terhadap calon TKI know yang berfungsi sebagai media kontrol agar dapat dicapai hasil yang diharapkan. Pelatihan ini meliputi pelatihan teknis, membentuk ketrampilan kerja, pembentukan pengetahuan baik secara tacit (aturan, tata kerja) maupun implisit (pemahaman tentang cara berpikir, etika berbahasa lewat bahasa tubuh atau bahasa verbal) dan pengetahuan bahasa dan budaya, serta yang tidak ketinggalan adalah juga tentang pembentukan attitude yaitu sikap, motivasi, emosi, percaya diri dan persepsi diri dari calon TKI. Pelatihan seharusnya menggambarkan sebuah proses pembelajaran instru-

6. Pembentukan Kompetensi
Dari pelatihan yang dilakukan dengan prinsip pembelajaran instrumental dan komunikatif, maka akan membentuk kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan/situasi pasar tenaga kerja. Pasar membutuhkan tenaga kerja yang profesional dan memenuhi standar kualifikasi. Penilaian kompetensi ini hendaknya dilakukan oleh badan independen yang sekaligus berfungsi sebagai fasilitator antara Disnaker dan PJTKI. Dengan demikian unsur keberpihakan sangat kecil karena kehadiran badan independen tersebut secara tidak langsung juga menilai kinerja Disnaker dan PJTKI dalam mempersiapkan TKI berkualitas yang akan berangkat ke luar negeri.

Isnaini Rodiyah, Model Kompetensi Menggunakan Analisis Pasar Tenaga Kerja

111

Gambar: Model Kompetensi Menggunakan Analisis Situasi Pasar Tenaga Kerja

SIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian yang telah diuraikan dapat disimpulkan bahwa: Pertama: Kondisi kompetensi TKI saat ini masih belum memenuhi standar kulifikasi yang dibutuhkan pasar tenaga kerja. Kedua: Belum diketahui secara riil kondisi pasar tenaga kerja luar negeri dikarenakan belum adanya penelitihan tentang sitruasi pasar tenaga kerja. Ketiga: Kompetensi dipandang sebagai perilaku yang bisa dibentuk karena itu Model Kompetensi yang dibuat dimodifikasi dari teori pembentukan perilaku Fishbein yang selanjutnya dianalisis dengan menggunakan situasi pasar tenaga kerja dengan komponenkomponen sebagai berikut: a. Informasi b. Pembentukan persepsi, sikap, minat c. Pembedaan calon TKI know dan know how d. Kebutuhan motivasi, sikap profesional e. Pelatihan f. Pembentukan kompetensi sesuai dengan kebutuhan pasar tenaga kerja

112

KALAMSIASI, Vol. I, No. 2, September 2008, 101 - 112

DAFTAR PUSTAKA
Ajzen, I. 1991. The Theory of Planned Behavior and Human Decision Processes, 50, 179-211. Barro, Robert and Xavier. 1991. Convergence Across States and Regions. US Byham, W.C. and Moyer, R.P., 2006. Monograph. Using Competencies to Build a Successfull Organization. Development Dimensions International. Diakses dari Monograp kompetensi. Pdf. Irwan, Igantius. 2002. Competency Based Human Resources Management. Jakarta. HRD Club. 26 Desember 2002.

Kusumowidho, sisdjiatmo. 1992. DasarDasar Demografi. Lembaga Demografi. Jakarta. FE. UI. Moleong, Lexy. 1996. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung. PT. Remaja Rosda Karya. Mitrani, A. Daziel, M. And Fitt D. 1992. Competency Based Human Resource Management and Reward. London. Kogan Page Limited. Sudarmanto. 2005. Merancang Manajemen SDM Berbasis Kompetensi. Jurnal Kebijakan Administrasi Publik. Volume 9 Nomer 1 Edisi Mei 2005. Magister Administrasi Publik Universitas Gadjah Mada Kompas, 7 Juni 2007

PERANAN PANITIA PEMILIHAN KEPALA DESA DALAM MENSUKSESKAN PEMILIHAN KEPALA DESA TAHUN 2007 : Studi Kasus di Desa Ketimang Kecamatan Wonoayu Kabupaten Sidoarjo

M. Islam*, Churnia Harwati**


(* Staf Pengajar FISIP Umsida, ** Alumnus FISIP Umsida, Jln. Mojopahit No. 666 B Sidoarjo, Telp. 031-8945444, Fax. 031-8949333)

ABSTRACT The study aimed at identifying the roles of village leader election committee in Desa Ketimang Kecamatan Wonoayu Kabupaten Sidoarjo. The researchers employ descriptive qualitative research design. Besides, the investigators use domain analysis and taxonomy to analyze the data. The results of the study are: (1) the village leader election committee in Desa Ketimang has performed their responsibility, and it is well-matched with the determined rules of election; (2) there are a lot of invalid ballots for voting because of the failure of punching; (3) there are some committee members who do not have neutral behavior to accomplish their duty; (4) the election committee has lack of professionalism; (5) the rules of village leader election has incomplete contents; and (6) the committee have taken suitable approaches and strategies to solve the problems appear. The approaches are as follow: warning, directing, and recalling. Meanwhile, the strategies used are: problem comprehending strategy, coordination strategy, dialogue strategy, collecting the accurate data strategy, transparently strategy, socialization strategy, family atmosphere discussion strategy, and law strategy. At the end, law strategy is chosen when the problems are not able to be solved in village level. Key words: village leader election, committee work performance, invalid ballots for voting, unfair

PENDAHULUAN
Desa merupakan Organisasi Permerintah terendah yang terdiri dari beberapa dusun. Pemerintah Desa mempunyai hak
113

untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat desa setempat. Peraturan Pemerintah Nomor : 72 tahun 2005 tentang Desa menyebutkan:

114

KALAMSIASI, Vol. I, No. 2, September 2008, 113 - 125

Desa adalah satu kesatuan masyarakat Undang-undang yang memiliki batas-batas wilayah yang berupaya untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat, berdasarkan asal usul dan adat istiadat setempat yang diakui dan dihormati dalam sistem Pemerintah Negara kesatuan Republik Indonesia.

tahun sekali sebagai pesta demokrasi masyarakat desa. Menurut UndangUndang Nomor : 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintahan Daerah, Pasal 204 menyebutkan bahwa : Masa jabatan kepala desa adalah 6 (enam) tahun dan dapat dipilih kembali hanya untuk 1 (satu) kali masa jabatan berikutnya. Penyelenggaraan Pemilihan Kepala Desa dilaksanakan oleh panitia pemilihan kepala desa. Panitia pemilihan kepala desa dibentuk oleh BPD. BPD adalah Lembaga yang merupakan perwujudan demokrasi dalam penyelenggaraan Pemerintahan Desa. Panitia pemilihan mempunyai tugas dari mulai penjaringan Calon Kepala Desa, pelaksanaan Pemilihan Kepala Desa dan sampai terpilihnya Kepala Desa. Suksesnya pelaksanaan Pemilihan Kepala Desa di suatu desa mencerminkan bahwa, pesta demokrasi masyarakat desa dapat berjalan dengan baik, karena pelaksanaan Pemilihan Kepala Desa merupakan wujud dari pesta demokrasi bagi masyarakat desa meskipun desa adalah organisasi pemerintahan yang paling rendah dalam suatu negara. Untuk itu panitia pemilihan harus benar-benar siap dan sanggup untuk menjalankan tugasnya, karena apabila peranan itu tidak dijalankan dengan benar, akan berdampak pada pelaksanaan Pemilihan Kepala Desa di desa tersebut. Dalam pilkades tahun 2007, panita

Untuk bisa mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat, maka dalam Pemerintah Desa dibutuhkan seorang pemimpin yang disebut sebagai Kepala Desa. Kepala Desa tersebut dipilih oleh masyarakat desa setempat dengan mengadakan Pemilihan Kepala Desa (PILKADES). Pemilihan Kepala Desa merupakan masalah pokok yang sekarang ini menjadi pusat perhatian para pembuat kebijakan, walaupun sudah ada perundang-undangannya yang membahas masalah ini, akan tetapi permasalahannya adalah apakah undang-undang itu sudah sesuai dengan fenomena-fenomena yang ada tentang pelaksanaan Pemilihan Kepala Desa atau belum. Untuk itu kajian tentang Pemilihan Kepala Desa dan fenomenafenomena yang muncul perlu tetap dilakukan. Hal itu penting, karena arus dinamika masyarakat yang selalu berkembang seiring dan sejalan dengan tuntutan otonomi dalam penyelenggaraan pemerintahan yang baik (good governance). Pemilihan Kepala Desa merupakan agenda rutin bagi Pemerintah Kabupaten yang diselenggarakan setiap 6 (enam)

M. Islam & Churnia Herawati, Peranan Panitia Pemilihan Kepala Desa

115

pilkades Ketimang banyak mendapatkan permasalahan. Satu diantaranya adalah banyak diketemukannya surat suara yang tidak sah dalam penghitingan suara. Prosentase jumlah perolehan surat suara yang tidak sah hingga mencapai 29% (dua puluh sembilan persen). Sedangkan perolehan jumlah suara dari masing-masing calon kepala desa adalah sebagai berikut, calon kepala desa dengan nomor urut 1 (satu) mendapatkan suara sebanyak 7% (tujuh persen), calon kepala desa nomor urut 2 (dua) mendapatkan suara sebanyak 21% (dua puluh satu persen), calon kepala desa nomor urut 3 (tiga) mendapatkan suara sebanyak 10% (sepuluh persen) dan calon kepala desa nomor urut 4 (empat) mendapatkan suara sebanyak 33% (tiga pukuh tiga persen). Dari 1.857 jumlah pemilih yang terdaftar, terdapat 1.774 pemilih yang menggunakan hak pilih dan 83 pemilih yang tidak menggunakan hak pilihnya. Dan dari 1.774 hak pilih yang ada, terdapat 509 surat suara yang tidak sah. Banyaknya surat suara yang tidak sah tersebut dikarenakan banyak terdapat surat suara yang coblos tembus sehingga perolehan perhitungan surat suara tidak signifikan jika melihat dari jumlah hak pilih yang ada dengan jumlah surat suara yang tidak sah. Isu-isu yang berkembang menyebutkan bahwa banyaknya surat suara yang

coblos tembus itu disebabkan karena adanya kesalahan yang dilakukan oleh panitia pemilihan dalam pelipatan surat suara. Kesalahan pelipatan surat suara tersebut menyebabkan banyaknya surat suara yang coblos tembus. Hal ini menunjukan, bahwa panitia pemilihan adalah pemegang peran yang sangat penting dalam pelaksanaan Pemilihan Kepala Desa karena peran dari panitia pemilihan sangat menentukan kesuksesan pelaksanaan Pemilihan Kepala Desa. Berdasarkan tugas dan wewenang panitia pemilihan kepala desa yang tercantum dalam Peraturan Daerah Kabupaten Sidoarjo Nomor : 11 Tahun 2006 Tentang Tata Cara Pemilihan, Pencalonan, Pengangkatan, Pelantikan dan Pemberhentian Kepala Desa dapat dilihat bahwa peranan panitia pemilihan sangat penting dalam pelaksanaan Pemilihan Kepala Desa. Semua peranan yang dilaku-kan panitia pemilihan akan sangat berpengaruh dalam pelaksanaan Pemilihan Kepala Desa. Kurang optimalnya peran dari panitia pemilihan dalam pelaksanaan Pemilihan Kepala Desa akan sangat berpengaruh terhadap keberhasilan pelaksanaan Pemilihan Kepala Desa. Peran panitia pemilihan yang dibutuhkan dalam pelaksanaan Pemilihan Kepala Desa antara lain yaitu kinerja panitia pemilihan yang baik dan juga sifat

116

KALAMSIASI, Vol. I, No. 2, September 2008, 113 - 125

netral dari panitia pemilihan saat pelaksanaan Pemilihan Kepala Desa. Netralitas panitia pemilihan kepala desa akan dapat mewujudkan pesta demokrasi yang baik di tingkat desa. Tetapi pada kenyataannya saat pelaksanaan Pemilihan Kepala Desa masih banyak ditemukan panitia pemilihan yang tidak bisa bersifat netral. Untuk itu masalah-masalah yang ada dalam pelaksanaan Pemilihan Kepala Desa Ketimang merupakan fenomena yang perlu dikaji lebih mendalam, terutama tentang peranan panitia pemilihan kepala desa. Karenanya, rumusan masalah dalam penelitian ini adalah Bagaimana-kah Peranan Panitia Pemilihan Kepala Desa dalam menyukseskan Pemilihan Kepala Desa Tahun 2007 Kabupaten Sidoarjo? Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peranan panitia pemilihan kepala desa dalam menyukseskan Pemilihan Kepala Desa Tahun 2007 di Kabupaten Sidoarjo yang diselenggarakan pada tanggal 8 Juli tahun 2007.

han Kepala Desa di Ketimang hingga mencapi 29 % bila dihitung dari jumlah hak pilih yang ada, 2) adanya dua anggota panitia pemilihan desa Ketimang yang diberhentikan dari keanggotaan panitia pemilihan dikarena-kan anggota tersebut tidak bisa bersifat netral dalam menjalankan perannya. Informan penelitian ini sebanyak enam orang yang ditentukan dengan teknik purposive sampling. Informan tersebut antara lain Ketua Panitia Pemilihan, aparat desa, tokoh masyarakat (2 orang), calon kepala desa, dan BPD. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, kemudian data diolah dengan teknik penganalisisan domain dan taksonomis. Analisis domain dilakukan untuk memperoleh gambaran yang bersifat umum dan relatif menyeluruh tentang apa yang tercakup pada pokok permasalahan. Dari hasil analisis yang masih berupa kategori-kategori konseptual tersebut kemudian dilanjutkan dengan analisis taksonomi. Analisis taksonomi ini dipakai sebagai upaya untuk mendeskrip-sikan atau menjelaskan fenomena agar lebih fokus sesuai dengan sasaran penelitian.

METODE PENELITIAN
Penelitian deskriptif kualitatif ini, mengambil lokasi penelitian di Desa Ketimang Kecamatan Wonoayu Kabupaten Sidoarjo. Alasan pemilihan lokasi tersebut lebih banyak didasarkan pada pertimbangan 1) perolehan jumlah surat suara yang tidak sah dalam pelaksanaan Pemili-

HASIL PENELITIAN
Temuan penelitian yang dilakukan oleh peneliti, didapatkan hasil sebagai berikut :

M. Islam & Churnia Herawati, Peranan Panitia Pemilihan Kepala Desa

117

1. Dalam pelaksanaan Pemilihan Kepala Desa di Ketimang Kecamatan Wonoayu K abupaten Sidoarjo terdapat banyak sekali surat suara yang tidak sah akibat coblos tembus. 2. Adanya beberapa panitia pemilihan yang tidak bisa bersifat netral dalam menjalankan perannya sebagai panitia pemilihan. 3. Kinerja Panitia Pemilihan Yang Kurang Profesional pada saat pelaksanaan Pemilihan Kepala Desa. 4. Isi tata tertib tentang Pemilihan Kepala Desa yang kurang lengkap.

Sedangkan perolehan suara dari masingmasing calon kepala desa adalah sebagai berikut : calon kepala desa dengan nomor urut satu sebanyak 7% (tujuh persen), calon kepala desa dengan nomor urut dua sebanyak 21%, calon kepala desa dengan nomor urut tiga sebanyak 10%, calon kepala desa nomor urut empat sebanyak 33%. Banyaknya perolehan surat suara yang tidak sah inilah yang menimbulkan protes keras dari masing-masing calon kepala desa dan juga dari masyarakat Desa Ketimang. Mereka menuntut agar panitia pemilihan mengadakan perhitungan surat suara ulang. Adanya 509 surat suara yang tidak sah dianggap mereka tidak wajar karena selama ini belum pernah ada perolehan jumlah surat suara yang tidak sah sampai sebanyak itu. Mengingat dampak yang di timbulkan cukup besar maka panitia pemilihan mengambil langkah untuk mengatasi masalah tersebut. Langkah yang diambil yaitu panitia pemilihan mengambil keputusan untuk mengadakan perhitungan surat suara ulang dengan tujuan agar masyarakat puas dan percaya terhadap hasil perhitungan perolehan surat suara. Tindakan ini merupakan salah satu peran dari panitia pemilihan dalam menyelesaikan masalah. Peneliti menilai langkah ini semata-

Banyaknya Surat Suara Yang Tidak Sah


Banyaknya surat suara yang tidak sah dalam pelaksanaan Pemilihan Kepala Desa di Desa Ketimang disebabkan oleh kesalahan panitia pemilihan dalam pelipatan surat suara dan ketidaktahuan masyarakat akan tata cara pencoblosan, sehingga perolehan jumlah surat suara yang sah tidak signifikan jika dibandingkan dengan jumlah surat suara yang tidak sah. Dari 1.847 jumlah pemilih yang terdaftar dalam daftar pemilih tetap dan 10 (sepuluh) daftar pemilih tambahan yang menggunakan hak pilih sebanyak 1.774 dan 83 pemilih yang tidak menggunakan hak pilih. Dan dari 1774 jumlah hak pilih terdapat 509 surat suara yang tidak sah.

118

KALAMSIASI, Vol. I, No. 2, September 2008, 113 - 125

mata dilakukan karena banyaknya protes dari masyarakat. Meskipun sudah dilakukan perhitungan surat suara ulang tetapi masalah ini masih tetap berkepanjangan. Ini semua disebabkan masyarakat dan masing-masing Calon Kepala Desa tidak puas akan hasil yang mereka terima. Dengan demikian tindakan yang diambil panitia pemilihan masih kurang tepat. Apabila melihat penyebab masalah yang berasal dari panitia pemilihan maka, masyarakat beranggapan bahwa kesalahan itu dinilai ada unsur kesegajaaan yang dilakukan oleh salah satu panitia pemilihan. Unsur kesengajaan yang dimaksud adalah dalam pelipatan surat suara dimana bertujuan untuk dapat mensukseskan salah satu calon kepala desa. Peneliti menilai peran panitia pemilihan desa Ketimang belum sesuai dengan isi tata tertib Pemilihan Kepala Desa yang sudah disusun dan ditetapkan bersama. Peran-peran yang dilakukan panitia pemilihan dalam menyelesaikan masalah ini adalah musyawarah, melaporkan masalah kepada BPD, pengumpulan bukti-bukti yang akurat. Panitia segera meloparkan masalah kepada BPD. Kemudian panitia pemilihan mengumpulkan bukti-bukti yang akurat tentang permasalahan tersebut dan selanjutnya bukti-bukti yang sudah akan segera dimusyawarah sebelum mengambil suatu

tindakan. Tujuan dari pada musyawarah ini adalah untuk membahas masalah yang ada bersama BPD dan Aparat Desa, karena bagaimanapun panitia pemilihan harus bertanggung jawab kepada BPD. Peran yang dirasa kurang maksimal dikarenakan adanya beberapa hambatan yang harus dihadapi oleh panitia pemilihan Desa Ketimang. Hambatanhambatan panitia pemilihan Desa Ketimang dalam menyelesaikan masalah ini antara lain adalah tidak adanya kata mufakat dalam mencari penyelesaian masalah, kurang lengkapnya isi tata tertib Pemilihan Kepala Desa, masalah yang ada tidak bisa diselesaikan di tingkat desa dan banyaknya tuntutan dari warga yang merasa kurang puas akan hasil yang diperoleh dalam Pemilihan Kepala Desa. Kurang lengkap isi tata tertib Pemilihan Kepala Desa dirasa panitia pemilihan Desa Ketimang adalah hambatan cukup berat, dikarenakan tidak adanya pasal dalam tata tertib yang menjelaskan secara rinci tentang sah atau tidaknya surat suara yang coblos tembus. Dalam isi tata tertib itu hanya dijelaskan apabila dicoblos lebih dari satu calon dianggap tidak sah, sehingga panitia pemilihan, BPD, beserta aparat desa merasa sudah tidak mampu untuk mencari solusi dari pemecahan permasalahan tersebut. Masalah yang cukup berkepanjang-

M. Islam & Churnia Herawati, Peranan Panitia Pemilihan Kepala Desa

119

an dan ditambah banyaknya protes dari warga maka, panitia pemilihan memutuskan untuk mengambil beberapa strategi. Strategi itu antara lain adalah strategi pemahaman masalah, strategi musyawarah, strategi pengumpulan bukti-bukti yang akurat dan strategi hukum. Strategi hukum merupakan strategi terakhir yang di putuskan oleh ketua BPD Desa Ketimang. Ini merupakan salah satu strategi panitia pemilihan Desa Ketimang untuk menyelesaikan masalah. Permasalahan yang ada tidak dapat diselesaikan di tingkat desa sehingga menurut ketua BPD Desa Ketimang strategi hukum adalah salah satu strategi yang sangat tepat. Panitia pemilihan dan ketua BPD berharap strategi yang diambil ini dapat menyelesaikan masalah yang ada. Bagi peneliti strategi yang diambil oleh panitia pemilihan dan ketua BPD desa Ketimang sudah cukup tepat karena dengan menempuh jalur hukum tidak ada lagi saling curiga diantara salah satu pihak dan dapat mengungkap fakta-fakta yang ada meskipun prosesnya lama.

selain dituntut untuk bisa bertanggung jawab, panitia pemilihan juga harus bisa bersifat netral. Masalah muncul disebabkan adanya beberapa anggota yang terbukti menjabat sebagai tim sukses salah satu calon kepala desa sehingga peran yang mereka lakukan tidak bisa maksimal. Ketidaknetralan panitia pemilihan dalam pelaksanaan Pemilihan Kepala Desa dapat menimbulkan kecemburuaan bagi calon kepala desa. Dengan adanya masalah tersebut, panitia pemilihan memutuskan untuk memberhentikan anggota panitia pemilihan tersebut. Mereka beranggapan dengan adanya anggota panitia pemilihan yang tidak bisa bersifat netral akan dapat membawa pengaruh terhadap kesuksesan pelaksanaan Pemilihan Kepala Desa di Desa Ketimang dan juga citra buruk dari panitia pemilihan Desa Ketimang. Tindakan ini sudah tepat karena sifat ketidaknetralan panitia pemilihan akan dapat menimbulkan konflik yang dapat mempengaruhi kesuksesan pelaksanaan Pemilihan Kepala Desa. Jika panitia pemilihan tidak bisa bersifat netral, maka peran yang dijalankan tidak akan optimal sebagaimana mestinya. Ketidaknetralan dari panitia pemilihan juga dapat berpengaruh dalam pembuatan kebijakan Pelaksanaan Pemilihan Kepala Desa. Dalam hal ini ketua panitia pemilihan dengan anggota panitia pemilihannya

Panitia Pemilihan Tidak Bisa Bersifat Netral


Masalah ketidaknetralan panitia pemilihan adalah sebuah fakta yang memuat bahwa dalam menjalankan peran sebagai panitia pemilihan tidaklah mudah

120

KALAMSIASI, Vol. I, No. 2, September 2008, 113 - 125

segera mengambil tindakan tegas. Ketua panitia pemilihan segera mengambil langkah-langkah yang dianggap dapat segera menyelesaikan masalah yang ada, karena mereka menganggap masalah ini cukup berpengaruh besar terhadap kinerja panitia pemilihan desa Ketimang. Langkah yang diambil yaitu pemberian teguran, pengarahan, peringatan dan sanksi. Langkah-langkah ini bertujuan agar panitia pemilihan dapat lebih hati-hati dalam menjalankan perannya. Langkah pemberian teguran, berupa teguran secara langsung yang disampaikan oleh ketua panitia pemilihan kepada anggota panitia pemilihan yang benarbenar terbukti bersalah atau terbukti telah melanggar isi tata tertib pemilihan kepala desa tentang tugas dan tanggung jawab daripada panitia pemilihan. Ketua panitia pemilihan akan memberikan pengarahan apabila masih ditemukan ada anggota panitia pemilihan yang tidak bisa bersifat netral. Ini merupakan langkah panitia pemilihan dalam pemberian pengarahan. Langkah peringatan merupakan langkah yang dilakukan setelah langkah pengarahan. Ketua panitia pemilihan akan memberikan peringatan sampai 3 (tiga) kali kepada anggota panitia pemilihan yang tidak bisa bersifat netral. Namun apabila sudah diberikan teguran, pengarahan, peringatan oleh ketua panitia pemilihan akan tetapi

kenyataannya anggota panitia pemilihan masih tidak bisa bersifat netral, maka ketua panitia pemilihan beserta anggota panitia pemilihan yang lain me-mutuskan untuk memberhentikan anggota panitia pemilihan tersebut dengan persetu-juan dari BPD. Semua langkah itu dianggap penting untuk menumbuhkan sifat netral bagi panitia pemilihan dan juga dapat membangun kepercayaan kepada calon kepala desa dan masyarakat. Dari permasalahan ini dapat kita lihat bahwa, peran panitia pemilihan tidak hanya menyelesaikan masalah eksternal saja akan tetapi juga masalah internal yang ada dalam pelaksanaan Pemilihan Kepala Desa. Masalah eksternal disini maksudnya adalah masalah-masalah yang berkaitan diluar struktur organisasi panitia pemilihan. Misalnya seperti masalah pelanggaran tata tertib yang dilakukan oleh calon kepala desa. Sedangkan masalah internal adalah masalah yang berasal dari dalam struktur organisasi panitia pemilihan. Misal masa-lah ketidaknetralan panitia pemilihan dalam pelaksanaan Pemilihan Kepala Desa. Jenis peran yang dilakukan dalam menyelesaikan masalah ini adalah dengan melaporkan masalah kepada BPD, memberikan teguran dan sanksi yang tegas. Meskipun sama-sama menjadi anggota panitia pemilihan namun apabila terdapat pelanggaran yang dilakukan oleh salah

M. Islam & Churnia Herawati, Peranan Panitia Pemilihan Kepala Desa

121

satu anggota panitia pemilihan maka, anggota panitia pemilihan yang lain akan tetap melaporkan kepada ketua panitia pemilihan untuk segera diambil sebuah tindakan. Dengan melihat penyebab permasalahan yang berasal dari dalam struktur organisasi panitia pemilihan maka panitia pemilihan segera mengambil strategi untuk mengatasi permasalahan tersebut. Panitia pemilihan adalah harapan bagi kesuksesan pelaksanaan Pemilihan Kepala Desa. Namun apabila ternyata panitia pemilihan tidak bisa menjalankan perannya dengan baik maka, harapan hanyalah tinggal harapan semata. Apalagi pelaksanaan Pemilihan Kepala Desa merupakan cerminan wujud pesta demokrasi yang baik ditingkat desa. Olehkarena itu Panitia Pemilihan mengambil strategi koordinasi dan strategi transparan, jujur dan adil. Yang dimaksud strategi koordinasi ialah panitia pemilihan akan selalu meminta pertimbangan dari BPD, aparat desa dan tokoh masyarakat dalam menyelesaikan masalah. Dimana menurut panitia pemilihan mereka sangat tepat untuk diajak kerjasama dalam pelaksanaan Pemilihan Kepala Desa, dikarenakan mereka sangat dekat dengan masyarakat sehingga mereka dapat mengetahui bagaimana respon masyarakat terhadap pelaksanaan Pemilihan Kepala Desa, pe-

laksanaan yang bagaimana yang diinginkan oleh masyarakat dan juga bagaimana tanggapan masyarakat terhadap kinerja panitia pemilihan. Sedangkan strategi transparan, jujur dan adil diperlukan agar panitia pemilihan selalu bersikap terbuka jujur dan adil dalam menjalankan perannnya dan juga dalam pembuatan kebijakan harus selalu bertujuan untuk kepentingan bersama demi mewujudkan pelaksanaan Pemilihan Kepala Desa yang sukses. Strategi yang dilakukan oleh panitia pemilihan desa Ketimang sudah cukup tepat. Dengan adanya strategi koordinasi, akan tercipta kerjasama yang baik antara ketua panitia pemilihan dengan para anggotanya. Dan dengan adanya strategi transparan, jujur, adil panitia pemilihan akan selalu mempunyai pertimbangan dalam membuat suatu kebijakan-kebijakan, peran mereka akan lebih optimal dan kinerja mereka akan lebih bertanggung jawab karena bagaimanapun peran dari panitia pemilihan sangatlah dibutuhkan dalam pelaksanaan Pemilihan Kepala Desa. Tidak hanya itu saja, kinerja panitia pemilihan juga sangat diharapkan oleh masyarakat. Dengan terciptanya pelaksanaan Pemilihan Kepala Desa yang baik, maka masyarakat juga mempunyai kesempatan untuk dapat memilih calon pemimpin yang sesuai dengan harapan mereka.

122

KALAMSIASI, Vol. I, No. 2, September 2008, 113 - 125

Kinerja Panitia Pemilihan Yang kurang Professional


Kurang profesionalnya panitia pemilihan dalam pelaksanaan Pemilihan Kepala di sebabkan oleh beberapa faktor. Faktorfaktor tersebut antara lain yaitu faktor kesibukan mereka diluar struktur organisasi panitia pemilihan dan juga keadaan fisik mereka yang kurang fit akibat banyaknya aktivitas yang harus dilakukan oleh panitia pemilihan untuk mempersiapkan pelaksanaan Pemilihan Kepala Desa. Dengan adanya permasalahan ini, pelaksanaan Pemilihan Kepala Desa di desa Ketimang sedikit terbengkalai akibat adanya beberapa anggota panitia pemilihan yang kinerjanya kurang optimal. Tidak optimalnya panitia pemilihan tersebut disebabkan oleh kondisi fisik yang tidak sehat. Ini justru terjadi pada saat pelaksanaan Pemilihan Kepala Desa berlangsung sehingga panitia pemilihan kurang bisa memantau dan mengatasi masalahmasalah yang ada pada saat itu. Hasil penelitian dikuatkan dengan adanya pengakuan dari salah satu anggota panitia pemilihan yang menyatakan bahwa pada saat pelaksanaan Pemilihan Kepala Desa berlangsung banyak anggota panitia pemilihan yang kondisinya kurang fit.
Ketidakprofessionalan itu masih bisa dimaklumi karena kondisi setiap orang itu berbeda apalagi dengan banyaknya

tugas dan tanggung jawab yang harus dilakukan oleh panitia pemilihan. Wajar kalau mereka merasa kurang fit karena tenanganya sudah dihabiskan untuk mempersiapkan pelaksanaan Pemilihan Kepala Desa. (Wawancara tanggal, 18 februari 2008)

Mengingat dampak yang tidak terlalu signifikan, langkah-langkah yang diambil ketua panitia pemilihan hanya memberikan peringatan dan pengarahan. Peringatan di sini bertujuan untuk mengingatkan akan tugas dan tanggung jawabnya sebagai anggota panitia pemilihan. Sedangkan pengarahan bertujuan agar anggota panitia pemilihan dapat mengerti akan fungsinya dalam pelaksanaan Pemilihan Kepala Desa. Masalah ini tidak sempat membesar dan menghambat pelaksanaan Pemilihan Kepala Desa pada saat itu. Untuk mengatasi masalah tersebut, Ketua panitia pemilihan hanya mengambil dua strategi. Strategi pertama yang diambil adalah strategi pemahaman masa-lah yang bertujuan untuk mengetahui apa saja penyebab masalah, mengapa banyak terdapat anggota panitia pemilihan yang kurang professional dalam pelaksanaan Pemilihan Kepala Desa dengan begini maka, panitia pemilihan dapat mengatasi persoalan yang ada. Strategi yang kedua adalah strategi koordinasi yang bertujuan agar panitia pemilihan desa Ketimang tetap bekerjasama dengan baik meskipun, banyak terdapat anggota panitia pemilihan yang kurang profesional. Anggota panitia

M. Islam & Churnia Herawati, Peranan Panitia Pemilihan Kepala Desa

123

pemilihan dengan yang lain harus tetap bisa mempertahankan kekompakan. Kerjasama mereka harus tetap terjalin agar dapat menutupi kekurangan dari anggota panitia pemilihan yang lain.

bagian-bagian dalam isi tata tertib Pemilihan Kepala Desa sebelum mengambil suatu tindakan. Menurut peneliti, panitia pemilihan harus berusaha untuk lebih transparan, jujur dan adil dalam menyusun tata tertib Pemilihan Kepala Desa sehingga tidak salah langkah dalam mengambil suatu keputusan. Salah langkah dalam mengambil keputusan akan dapat membawa pengaruh yang cukup besar dalam pelaksanaan Pemilihan Kepala Desa. Semua ini dilakukan untuk memperbaiki kesalahan yang ada akibat tidak jelasnya isi tata tertib Pemilihan Kepala Desa. Dalam permasalahan ini panitia pemilihan Desa Ketimang sedikit menemukan hambatan dalam penyelesaian masalah dikarenakan tata tertib yang sudah disusun dan ditetapkan sulit untuk dirubah jika tanpa adanya persetujuan dari BPD. Akan tetapi permasalahan ini tidak terlalu meluas sehingga permasalahan cepat diselesaikan oleh Panitia Pemilihan Kepala Desa dengan mengambil beberapa strategi. Strategi yang diambil antara lain strategi musyawarah dan strategi transparan, jujur dan adil. Strategi musyawarah ini sangat membantu panitia pemilihan dalam menyelesaikan masalah yang ada. Masalah ini segera dapat diatasi oleh panitia pemilihan dikarenakan BPD menyetujui apabila isi tata tertib Pemilihan Kepala Desa diadakan perbaikan dan penambahan dalam isi tata tertib Pemilihan Kepala

Isi Tata Tertib Tentang Pemilihan Kepala Desa Yang kurang lengkap
Panitia pemilihan Desa Ketimang menganggap kurangnya tata tertib Pemilihan Kepala Desa cukup membawa pengaruh besar dalam pelaksanaan Pemilihan Kepala Desa di Desa Ketimang. Tata tertib Pemilihan Kepala Desa dijadikan pedoman yang paling kuat oleh panitia pemilihan desa Ketimang, dimana panitia pemilihan selalu menjalankan perannya sesuai dengan peraturan yang ada dalam tata tertib Pemilihan Kepala Desa. Tanpa adanya tata tertib Pemilihan Kepala Desa, maka panitia pemilihan akan sulit untuk menjalankan tugas dan tanggung jawabnya sebagai panitia pemilihan kepala desa. Mengingat dampak yang sangat signifikan, maka langkah-langkah yang diambil oleh panitia pemilihan desa Ketimang bersifat hati-hati dan juga penuh dengan pertimbangan. Langkah-langkah tersebut antara lain adalah panitia pemilihan memperbaiki kembali pasalpasal yang belum disebutkan dalam tata tertib Pemilihan Kepala Desa dan panitia pemilihan berusaha untuk memperjelas

124

KALAMSIASI, Vol. I, No. 2, September 2008, 113 - 125

Desa. Tujuan utama pengam-bilan strategi musyawarah adalah untuk membahas masalah-masalah yang belum diatur dalam isi tata tertib Pemilihan Kepala Desa. Dan strategi transparan, jujur dan adil bertujuan agar tidak ada salah paham antara calon kepala desa beserta pedukungnya dan juga masyarakat desa Ketimang. Semua strategi yang diambil oleh panitia pemilihan desa Ketimang diharapkan dapat menyelesaikan masalah yang ada dengan baik.

6. Dalam menyelesaikan masalah panitia pemilihan sudah menggunakan langkah-langkah dan strategi yang tepat. Langkah-langkah tersebut antara lain : pemberian teguran, pengarahan, peringatan. Sedangkan strategi yang digunakan antara lain: strategi pemahaman masalah, strategi koordinasi, strategi musyawarah, strategi pengumpulan data yang akurat, strategi transparan, strategi sosialisasi, strategi kekeluargaan dan strategi hukum. Strategi hukum digunakan apabila permasalahan yang ada sudah tidak dapat diselesaikan di tingkat desa.

SIMPULAN
1. Secara organisasi, panitia pemilihan Kepala Desa Ketimang sudah menjalankan perannya dengan baik dan sesuai dengan peraturan-peraturan yang digunakan dalam pelaksanaan Pemilihan Kepala Desa. 2. Panitia pemilihan kepala desa di Ketimang Kecamatan Wonoayu Kabupaten Sidoarjo mendapatkan banyak sekali surat suara yang tidak sah akibat coblos tembus. 3. Adanya beberapa panitia pemilihan yang tidak bisa bersifat netral dalam menjalankan perannya sebagai panitia pemilihan. 4. Kinerja panitia pemilihan yang kurang profesional pada saat pelaksanaan pemilihan kepala desa. 5. Isi tata tertib tentang Pemilihan Kepala Desa yang kurang lengkap.

SARAN
Dari hasil penelitian, masih dijumpai beberapa hal perlu diperbaiki : 1. Perlunya kesanggupan dan kesiapan untuk dijadikan sebagai panitia pemilihan kepala desa. 2. Sebelum pelaksanaan Pemilihan Kepala Desa para anggota panitia pemilihan kepala desa perlu diberikan pembekalan tentang tugas dan tanggung jawabnya terlebih dahulu. Seperti diadakan simulasi maupun pelatihan dengan didukung peraturan yang ada dan sarana lainnya. 3. Panitia pemilahan kepala desa Ketimang perlu menampung aspirasi masyarakat yang mungkin bisa

M. Islam & Churnia Herawati, Peranan Panitia Pemilihan Kepala Desa

125

dimasukkan ke dalam isi tata tertib Pemilihan Kepala Desa. 4. Panitia pemilihan kepala desa Ketimang untuk lebih mempertegas dan merinci tata ter tib tentang pelaksanaan Pemilihan Kepala Desa. Agar dalam menyelesaikan masalah tidak mengalami kesulitan.Disamping itu calon kepala desa beserta masyarakat dapat memahami dan mengerti tentang aturan yang ada dalam pelaksanaan Pemilihan Kepala Desa. 5. Dalam mensosialisasikan tata tertib Pemilihan Kepala Desa perlu lebih transparan terutama tentang tata cara pencoblosan surat suara. Agar dalam pelaksanaan Pemilihan Kepala Desa yang akan datang lebih baik dari sebelumnya.

Peraturan Pemerintah Daerah Kabupaten Sidoarjo Nomor : 9 Tahun 2006, Tentang Pedoman Penyusunan Organisasi Dan Tata Kerja Pemerintah Desa. Peraturan Pemerintah Daerah Kabupaten Sidoarjo Nomor : 11 Tahun 2006, Tentang Tata Cara Pemilihan, Pencalonan, Pengangkatan, Pelantikan dan Pemberhentian Kepala Desa. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor : 72 Tahun 2005, Tentang Desa. Poerwadarminto, W.J.S. 1986. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta : Penerbit Balai Pustaka. Saparin, Sumber. 1986. Tata Pemerintahan Dan Administrasi Pemerintah Desa. Jakarta : Ghalia Indonesia. Soekamto, Soerjono. 1980. Sosiologi Suatu Pengantar. Bandung : Armico. Suradji. 2000. Perilaku Politik Masyarakat Desa. Skripsi tidak diterbitkan. Sidoarjo : FISIP Umsida. Surbakti, Rajawali. 1992. Memahami Ilmu Politik. Jakarta : PT. Gramedia. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor: 5 Tahun 1979, Tentang Pokok-pokok Pemerintahan Desa. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor: 22 Tahun 1999, Tentang Pemerintah Daerah. Undang-Undang Repiblik Indonesia Nomor: 32 Tahun 2004, Tentang Pemerintah Daerah. Wasistiono dan Tahir. 2006. Prospek Pengembangan Desa. Bandung : CV. Fokusmedia.

DAFTAR PUSTAKA
Ali, Dawan. 2007. Pola Koordinasi Badan Permusyawaratan Desa Dengan Kepala Desa Dalam Penyelenggaraan Pemerintahan Desa. Skripsi. tidak diterbitkan. Sidoarjo : FISIP Umsida. Faisal, Sanapiah. 1990. Penelitian Kualitatif Dasar-Dasar Dan Aplikasi. Malang : Penerbit YPA 3. Cahyono, Heru. 2005. Konflik Elit Politik Pedesaan. Yogyakarta : Penerbit Pustaka Belajar. Kiswoyo, Bambang. 1999. Studi Tentang Pelaksanaan Pemilihan Kepala Desa Berdasarkan UU No.5 Tahun 1997. Skripsi. tidak diterbitkan. Sidoarjo : FISIP Umsida

126

KALAMSIASI, Vol. I, No. 1, Maret 2008

PENGARUH KOMUNIKASI KELUARGA TERHADAP KEKERASAN PADA ANAK

Ainur Rohmania & Didik Hariyanto


(Dosen Ilmu Komunikasi FISIP Umsida, Jln. Mojopahit No. 666 B Sidoarjo, Telp. 0318945444, Fax. 031-8949333)

ABSTRACT The quantitative study is aimed at describing (1) the effects of communication in the family toward child abuse, (2) the contributions of communication in the family concerning with child abuse, and (3) the communication types in the family that influence the child abuse. The results of the research, which apply the Product Moment Analysis show that the communication frequency in the family has lower impact to the child abuse. The coefficient value for the case is - 0.229. The negative value refers to the higher the communication frequency in the family, the lower the child abuse will be. Moreover, the results illustrate that the communication frequency in the family contributes to the child abuse for 8%. At last, the communication types that manipulate the child abuse is interpersonal communication the private communication occurs between father and mother, father and the first child, or mother and the first child. Key words: family communication, child abuse

PENDAHULUAN
Dalam sebuah keluarga, anak merupakan amanah Tuhan yang diciptakan dalam kondisi fitrah dan dibekali potensi yang mengarah ke hal baik atau sebaliknya. Kebaikan dan keburukan perilaku anak tergantung pada proses belajar dan berkembang dalam empat lingkungan sosial, yaitu keluarga, kelompok teman sebaya (peer Group), sekolah, dan badanbadan kemasyarakatan yang bergerak
127

dalam bidang politik, ekonomi, sosial, dan keagamaan. Dari keempat lingkungan sosial itu, anak belajar dalam tiga aspek, yaitu aspek kognitif (pengetahuan), aspek psikomotorik (keterampilan) dan aspek afektif (sikap dan nilai-nilai). Dalam keluarga, komunikasi antaranggota keluarga sangat diperlukan untuk mentransfer nilai-nilai yang telah digariskan orang tua. Seperti telah diketahui bahwa komunikasi meru-

128

KALAMSIASI, Vol. I, No. 2, September 2008, 127 - 135

pakan wahana utama dari kegiatan dan kehidupan sehari-hari dalam organisasi keluarga. Jenis komunikasi semacam ini disebut sebagai komunikasi antarpribadi (Interpersonal). Keluarga berkomunikasi dengan anggotanya karena mereka saling membutuhkan. Keluarga tidak dapat maju tanpa komunikasi dan informasi. Lewat komunikasi interpersona ini, orang tua dapat mendidik dan melatih anak-anak secara efektif dan efisien. Konflik dalam keluarga sering terjadi karena tersumbatnya aliran komunikasi antara orang tua dan anak. Orang tua yang sama - sama sibuk menyebabkan intensitas dan kualitas komunikasi menjadi sangat kurang. Dan tidak jarang pula yang menimbulkan perselisihan di antara mereka. Pergaulan antara orang tua dan anak dalam sebuah keluarga sangat memerlukan derajat keintiman, frekuensi pertemuan, serta mutu interaksi dari anggota keluarga. Banyak persoalan-persoalan keluarga terutama antara orang tua dan anak yang bisa diselesaikan dengan komunikasi yang baik diantara mereka Orang tua yang memiliki masalah berat dalam hubungannya dengan anakanak mereka adalah orang-orang yang memiliki konsep-konsep yang sangat kuat dan kaku mengenai norma yang benar dan yang salah. Penelitian yang dilakukan Unicef tentang kekerasan anak di NTB dan

NTT pada 2002 dan 2003 menyatakan bahwa dua pertiga dari anak laki-laki dan sepertiga anak perempuan yang menjadi responden pernah mengalami pemukulan. Lebih seperempat anak pernah mengalami pemerkosaan. Tahun 2003, survei yang dilakukan pada 1700 anak yang menjadi responden mengaku pernah dipukul, ditampar, atau dilempar sesuatu. Berawal dari fenomena seperti itu, permasalahan dalam penelitian bagaimanakah pengaruh komunikasi keluarga terhadap kekerasan pada anak? Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui pengaruh komunikasi keluarga terhadap kekerasan pada anak dan kontribusi yang diberikan komunikasi keluarga dalam kekerasan pada anak.

KERANGKA PEMIKIRAN
Ada dua konsep dasar dalam penelitian ini, yakni komunikasi keluarga dan kekerasan pada anak. Untuk menjelaskan tentang komunikasi keluarga, peneliti menggunakan teori komunikasi yang disampaikan oleh aliran Behavioristik. Komunikasi, menurut kelompok ini, adalah penyampaian pesan dari komunikator ke komunikan untuk mendapatkan respon. Respon tersebut dapat berwujud perubahan sikap. Ada tiga variabel penting yang mempengaruhi sikap komunikan sebelum memberikan respon, yakni perhatian,

Ainur Rochmaniah & Didik Hariyanto, Pengaruh Komunikasi Keluarga

129

pengertian, dan penerimaan. Teori komunikasi digunakan dalam kelompok behavioristik acapkali dimodelkan sebagai SOR (stimulus-organisme-respon). Shannon dan Weaver memberikan pengertian komunikasi sebagai bentuk interaksi manusia yang saling mempengaruhi satu sama lain, sengaja atau tidak sengaja baik menggunakan bahasa verbal maupun ekspresi muka (non-verbal). Keluarga dapat dipandang sebagai salah satu bentuk komunikasi. Dikatakan demikian karena dalam rumah tangga terdapat komunikator dan partisipan yang saling berinteraksi dan berkomunikasi satu sama lain. Prinsip yang harus dipegang dalam komunikasi keluarga adalah keharmonisan, saling memahami, saling mempengaruhi, dan memuaskan kedua belah pihak yang terlibat dalam komunikasi. Komunikasi keluarga adalah komunikasi antara suami dengan istri, ayah dengan anak, serta ibu dengan anak dengan diikuti seringnya mereka berinteraksi akan menciptakan rasa saling pengertian, saling mempengaruhi sehingga dapat memuaskan dan mewujudkan kebahagiaan dalam keluarga tersebut. Berkowitz (1975) mengatakan bahwa perilaku kekerasan dikategorikan sebagai bentuk perilaku agresi (agression behavior), yaitu suatu perilaku yang ditujukan untuk menyakiti orang lain.

Sedangkan anak menurut UndangUndang Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak (Bab I, Pasal 1) didefinisikan sebagai seseorang yang belum berusia 18 (delapan belas) tahun, termasuk anak yang masih dalam kandungan. Dari definisi Berkowitz tersebut, konsep kekerasan pada anak dapat diartikan sebagai perilaku agresi untuk menyakiti anak. Kekerasan pada anak dapat terjadi di mana saja tempatnya, setiap saat, dan oleh siapa pun termasuk kedua orang tua si anak. Tindakan kekerasan itu dapat berupa penelantaran, eksploitasi, perlakuan yang salah, diskriminasi, dan perlakuan tidak manusiawi. Tindakan itu dapat dikategorikan sebagai child abuse atau perlakuan kejam terhadap anak-anak. Perlakuan pahit tersebut oleh si anak akan terekam terus dalam bawah sadar mereka dan dibawa sampai ke masa dewasa, dan terus sepanjang hidupnya. Child abuse itu sendiri berkisar sejak pengabaian anak sampai kepada perkosaan dan pembunuhan. Terry E. Lawson, psikiater anak membagi child abuse menjadi 4 (empat) macam, yaitu emotional abuse, terjadi ketika si ibu setelah mengetahui anaknya meminta perhatian atau mengabaikan anak itu. Si Ibu membiarkan anak basah atau lapar karena ibu terlalu sibuk atau tidak ingin diganggu pada waktu itu. Si ibu boleh jadi

130

KALAMSIASI, Vol. I, No. 2, September 2008, 127 - 135

mengabaikan kebutuhan anak untuk dipeluk atau dilindungi. Anak akan mengingat semua kekerasan emosional jika kekerasan emosional tersebut berlangsung konsisten. Verbal abuse, terjadi ketika si ibu, setelah mengetahui anaknya meminta perhatian, menyuruh anak itu untuk diam atau jangan menangis. Jika si anak mulai berbicara, ibu terus-menerus menggunakan kekerasan verbal seperti, Awas........., Kamu bodoh, Kamu kurang ajar, dan seterusnya. Physical abuse, terjadi ketika si ibu memukul anak. Memukul anak dengan tangan atau kayu, kulit, atau logam akan diingat terus olrh anak itu. Sexual abuse, biasanya tidak terjadi selama delapan belas bulan pertama dalam kehidupan anak. Walaupun ada beberapa kasus ketika anak perempuan menderita kekerasan seksual dalam usia enam bulan. Tindakan kekerasan merupakan salah satu problem sosial besar pada masyarakat modern. Problem sosial tersebut merupakan pola perilaku masyarakat atau sejumlah besar anggota masyarakat yang secara meluas tidak dikehendaki masyarakat tetapi disebabkan oleh faktor-faktor sosial dan diperlukan tindakan sosial untuk menghadapinya. Tanpa disadari, child abuse sering terjadi di sekitar kehidupan individu.

METODE PENELITIAN
Penelitian kuantitatif ini berupaya untuk menentukan tingkat hubungan variabel-variabel yang berbeda dalam suatu populasi. Lokasi penelitian ini adalah Kecamatan Sidoarjo, Kabupaten Sidoarjo. Beberapa pertimbangan untuk memilih lokasi tersebut adalah a) data P3A, di Kecamatan Sidoarjo, terdapat 198 kasus kekerasan terhadap anak, khususnya pada anak perempuan; b) tingkat sosial ekonomi dan pendidikan masyarakat Sidoarjo cukup beragam, yang bisa mempengaruhi tingkat kekerasan terhadap anak; c) dengan melakukan penelitian di Kecamatan Sidoarjo, diharapkan variabelvariabel dapat dijadikan acuan untuk merencanakan pelaksanaan sosialisasi UU Perlindungan Anak dan UU Kekerasan Dalam Rumah Tangga Penentuan sampel penelitian ini, secara teoretis, menggunakan tabel sampel Taro Yamane (Rakhmat, 1989: 227). Dengan tingkat kepercayaan sebesar 90% dan presisi 10%, sampel penelitian berjumlah 100 responden. Setelah data terkumpul melalui teknik sampel random sampling dengan cara undian, data diolah sedemikianbaiknya lewat koding sheet ser ta dianalisis dengan teknik penganalisisan Product Moment.

Ainur Rochmaniah & Didik Hariyanto, Pengaruh Komunikasi Keluarga

131

HASIL PENELITIAN 1. Komunikasi Keluarga


Komunikasi dalam keluarga menjadi sangat penting untuk mendiskusikan berbagai permasalahan yang ada dalam keluarga baik yang dialami anak dalam keseharianya di sekolah, tempat bermain, ataupun di rumah. Dalam keluarga itulah semua rasa kasih sayang, saling perhatian, saling memahami/pengertian, serta saling menerima tertumpahkan demi keharmonisan. Frekuensi komunikasi untuk mendapatkan kehamonisan hubungan antara orang tua dan anak, antara orang tua itu sendiri menjadi lebih penting. Tolak ukur frekuensi komunikasi tersebut dapat diketahui dari jumlah komunikasi rata-rata dalam sehari. Tingkat keseringan itu dapat dikategorikan menjadi tiga, yakni sering atau lebih dari lima kali dalam sehari, sedang atau 3-4 kali sehari, dan jarang yang terjadi antara 1-2 kali sehari. Hasil penelitian menunjukkan

bahwa frekuensi komunikasi berkategori sering yang terjadi antara bapak dan ibu dalam rumah tangga sebesar 68% (lebih dari lima kali), antara bapak dengan anak sebesar 52%, antara ibu dan anak sebesar 68%. Sementara itu, tingkat keseringan dalam kategori sedang yang terjadi antara bapak dan ibu sebesar 28%, antara bapak dan anak sebesar 32%, dan antara ibu dengan anak sebesar 24%. Kategori jarang dalam komunikasi keluarga antara bapak-ibu sebesar 4%, bapak anak sebesar 16%, dan ibu-anak sebanyak 8%. Data itu menunjukkan bahwa umumnya keluarga harmonis paling tidak sering melakukan komunikasi di antara mereka baik vis to vis atauun lewat telepon atau handphone ketika mereka sedang sibuk di tempat pekerjaan masing-masing. Sebanyak 68% dari seratus responden yang menyatakan melakukan komunikasi antara bapak dan ibu sebanyak lebih dari 5 kali dalam sehari. Ini menunjukkan

Tabel 1: Frekuensi Komunikasi dalam keluarga Komunikasi No 1 2 3 Frekuensi Sering Sedang Jarang Jumlah bapak-ibu (%) 68 28 4 100 Komunikasi bapak-anak 52 32 16 100 Komunikasi ibu-anak 68 24 8 100

Sumber : Hasil pengolahan data Penelitian Dosen Muda Tahun 2007

132

KALAMSIASI, Vol. I, No. 2, September 2008, 127 - 135

Tabel 2: Lama Komunikasi Antara Bapak dengan Ibu Durasi No 1 2 3 4 komunikasi Sangat Lama Lama Cukup Sebentar Komunikasi bapak-ibu (%) 12 22 28 38 100 Komunikasi bapak-anak 44 28 16 12 100 Komunikasi ibu-anak 20 22 28 30 100

Jumlah

Sumber: hasil pengolahan data penelitian Dosen Muda Tahun 2007

bahwa responden telah berusaha meluangkan waktu untuk berkomunikasi atau berbicara dengan istrinya atau suaminya. Bahkan ada yang memberikan alasan bahwa semua masalah bisa dibicarakan tidak harus dengan kekerasan. Lamanya berkomunikasi di antara keluarga dalam rumah tangga dibedakan dalam 5 kategori, yaitu sangat lama atau 2 jam, lama atau 1 jam, cukup atau jam, dan sebentar atau kurang dari jam Dari 100 responden, 38% menyatakan bahwa durasi berkomunikasi antara bapak dan ibu kurang dari jam atau sebentar. Bila dikaitkan dengan frekuensi berkomunikasi antara bapak dan ibu, maka meskipun masuk dalam kategori sering atau lebih dari 5 kali sehari berkomunikasinya, tapi durasinya kurang dari jam. Cukup singkat, tapi mungkin padat dengan pesan-pesan. 44% responden menyatakan bahwa dalam berkomunikasi dengan anak

pertama durasinya sangat lama atau 2 jam, dan bila dikaitkan dengan frekuensi berkomunikasi bapak dan anak, maka dapat dijelaskan bahwa meskipun bapak jarang berkomunikasi atau hanya 1 - 2 kali dalam sehari, tapi bila sudah berkomunikasi, maka durasinya bisa mencapai 2 jam. Dan bila frekuensinya termasuk dalam kategori sering atau lebih dari 5 kali, bapak-bapak meluangkan waktu sangat lama untuk berkomunikasi dengan anaknya atau 2 jam. Sedangkan komunikasi antara ibu dan anak cenderung masuk dalam kategori sebentar. Tiga puluh persen responden menyatakan bahwa durasi komunikasi antara ibu dan anak masuk dalam kategori sebentar atau kurang dari jam. Dan 28% menyatakan cukup jam. Ar tinya, meskipun frekuensi komunikasinya lebih sering dari bapak, tapi durasinya lebih sedikit daripada bapak. Dengan frekuensi komunikasi lebih dari 5 kali, tapi waktunya

Ainur Rochmaniah & Didik Hariyanto, Pengaruh Komunikasi Keluarga

133

sebentar atau kurang dari jam. Hal ini bisa dikarenakan ibu berfungsi sebagai mediator antara bapak dan anak, anak merasa cukup sebentar saja berbicara dengan ibu, dan karena bapak adalah pengambil keputusan dalam keluarga. Dan bisa juga, karena anak biasanya lebih takut kepada bapak daripada ibu. Ibu juga punya kecenderungan untuk mengomel atau banyak bicara sehingga anak terkadang mengabaikan pesan ibu.

tidak terhadap kekerasan pada anak, yang meliputi emotional abuse, verbal abuse, dan physical abuse. Afektif verbal abuse, yaitu sikap setuju atau tidak pada kekerasan verbal, seperti bentakan, omelan, ancaman, dan penghinaan. Afektif emotional abuse, yaitu sikap setuju atau tidak setuju pada kekerasan psikis, seperti pengabaian pada anak. Afektif Physical Abuse yaitu kekerasan fisik, seperti cubitan, pemukulan, jeweran telinga. Dari 100 responen, 48% tidak mengetahui, perlu dan meyakini bahwa kekerasan dapat menyelesaikan masalah dengan anak. 40% responden kadangkadang mengetahui, perlu, dan meyakini kekerasan pada anak dapat menyelesaikan masalah. 12% responden mengetahui, memerlukan dan meyakini kekerasan pada anak dapat menyelesaikan masalah. Sementara itu, 72% responden tidak setuju dengan tindakan pengabaian anak. Sebesar 26% responden setuju dengan pengabaian terhadap anak dan 2% kadang-kadang setuju terhadap tindakan pengabaian anak. Tindakan semacam ini termasuk Afektif emotional abuse. Tentang sikap setuju atau tidak pada kekerasan verbal, seperti bentakan, omelan, ancaman, dan penghinaan; sebanyak 64% responden berkategori rendah artinya tidak setuju dengan tindakan kekerasan yang bersifat verbal,

2. Kekerasan Pada Anak


Kekerasan pada anak diartikan sebagai kekerasan yang dilakukan orang tua yang ditujukan untuk menyakiti anakanak. Tingkat kekerasan pada anak dapat dikategorikan menjadi 3 yaitu : Rendah artinya tidak atau jarang melakukan kekerasan pada anak Sedang artinya kadang-kadang melakukan kekerasan kalau memang diperlukan. Tinggi artinya sering melakukan kekerasan pada anak dengan alas analasan tertentu. Kekerasan pada anak dalam penelitian ini mencakup ranah kognitif, afektif, dan behavioral. Ranah kognitif meliputi pengetahuan adanya kekerasan pada anak dalam rumah tangga, perlunya kekerasan, dan keyakinan akan manfaat kekerasan pada anak. Afektif, yaitu sikap setuju atau

134

KALAMSIASI, Vol. I, No. 2, September 2008, 127 - 135

Tabel 3: tipe kekerasan pada anak Afektif No. Kategori Kognisi(%) Emotional Abuse 1. 2 3. Rendah Sedang Tinggi Total 48 40 12 100% 72% 2% 26% 100% Afektif Verbal Abuse 64% 24% 12% 100% Afektif Physical Abuse 66% 24% 10% 100%

Sumber: Hasil pengolahan data Penelitian Dosen Muda tahun 2007

yaitu bentakan, omelan, ancaman, dan penghinaan. Sebesar 24% responden berkategori sedang, artinya kadangkadang setuju dan tidak terhadap kekerasan verbal. Hanya 12% responden berkategori tinggi, artinya responden setuju dengan kekerasan verbal. Mengenai kekerasan secara fisik dapat berupa pemukulan, jeweran telinga, ataupun cubitan; sebesar 66% responden memberikan jawaban yang termasuk dalam kategori rendah, artinya responden tidak setuju dengan kekerasan fisik, seperti cubitan, pemukulan baik dengan tangan maupun alat, jeweran telinga, dan kekerasan seks. Yang berkategori sedang sebanyak 24%, artinya responden kadangkadang setuju atau tidak dengan kekerasan fisik. Dan 10% berkategori tinggi, artinya setuju melakukan kekerasan fisik.

Pengaruh Frekuensi Komunikasi Keluarga Terhadap Kekerasan Pada Anak


Setelah dilakukan penghitungan analisis korelasi Product Moment didapat angka koefisien korelasi sebesar -0.299. Nilai korelasi antara frekuensi komunikasi dengan kekerasan pada anak menunjukkan skor yang rendah dan negatif. Ini berarti bahwa semakin tinggi frekuensi komunikasi dalam keluarga semakin rendah kekerasan pada anak. Untuk melihat apakah variabel frekuensi komunikasi keluarga mempunyai kontribusi terhadap variabel kekerasan pada anak, maka dicari koefisien deter-minasi atau nilai PRE, didapat hasil nilai PRE sebesar 0, 089. Dengan demikian, variabel frekuensi komunikasi keluarga mempunyai kontribusi terhadap kekerasan pada anak sebesar 8,9%. Sedangkan 90,1% ditentukan oleh faktor lain di luar itu.

Ainur Rochmaniah & Didik Hariyanto, Pengaruh Komunikasi Keluarga

135

SIMPULAN
1. Hubungan antara variabel frekuensi komunikasi keluarga dengan variabel kekerasan pada anak, yaitu sebesar minus 0,299. Ini berarti bahwa ada hubungan yang negatif antara frekuensi komunikasi keluarga dengan kekerasan pada anak. Semakin tinggi frekuensi komunikasi keluarga, semakin rendah kekerasan pada anak. 2. Kontribusi frekuensi komunikasi keluarga terhadap kekerasan pada anak sebesar 8,9%. Sedangkan 90,1% dipengaruhi faktor lain komunikasi keluarga. 3. Bentuk kekerasan pada anak dapat berbentuk verbal seperti bentakan, omelan, dan hinaan. Sedangkan bentuk kekerasan non-verbal seperti jeweran telinga, pukulan, cubitan, dan menjambak rambut. di luar

Dalyono, M. 1997. Psikologi Pendidikan. Jakarta : PT. Rineka Cipta. Faisal, Sanapiah. 1999. Format-Format Penelitian Sosial. Jakarta: CV. Rajawali Gerungan. 1987. Psikologi Sosial. Bandung : PT. Erasco Ginott, Halim G. 2001. Between Parents and Child. Jakarta : PT. Gramedia Pustaka Utama Gunarsa, Singgih D. & Yulia Singgih Gunarsa. 1995. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. Jakarta: PT. BPK Gunung Mulia. Kompas, Edisi 26 Januari 2006. Marat. 1982. Sikap Manusia: Perubahan serta Pengukurannya. Jakarta: PT. Ghalia Indonesia. Moleong, Lexy. 1998. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. Rakhmat, Jalaludin. 1999. Metodologi Penelitian Komunikasi. Bandung : PT. Remaja Rosdakarya. Saifudin, Azwar. 1998. Sikap Manusia, Teori dan Pengukurannya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Spock, B. 1982. Membina Watak Anak. Terjemahan Wunan. JK. Jakarta: Penerbit Gunung Jati Warta Sosial. Edisi 27/th. VI/Juni. 2003 Warta Sosial. Edisi 19/th. IV/Juli. 2001 Wijaya, Hanna. 1986. Disertasi : Hubungan Antara Asuhan Anak dan Ketergantungan Kemandirian. Bandung: UNPAD

DAFTAR PUSTAKA
Bernard L. Harlow. 2003. Child Abuse Pengaruhi Pola Makan. Online http / /www. kapan lagi.com//, diakses 20 Januari 2006. Budiman, Melly . 1986. Makalah : Pengaruh Disharmoni Keluarga Terhadap Perkembangan Anak Semarang. Simposium Kesehatan Jiwa Keluarga

136

KALAMSIASI, Vol. I, No. 1, Maret 2008

PERAN ELIT DESA DALAM MENINGKATKAN PARTISIPASI SWADAYA MASYARAKAT PADA PEMBANGUNAN DI SIDOARJO

Totok Wahyu Abadi* dan Endang Sofiyanti**


( Dosen Ilmu Komunikasi FISIP- UMSIDA, Jln. Mojopahit No. 666 B Sidoarjo, Telp. 0318945444 Ext. 20, Fax. 031-8949333 ** Arsiparis Badan Arsip Provinsi Jawa Timur)
*

ABSTRACT The quantitative study is to aimed at describing the village elite roles, the condition of societies self-supporting participation level, and the village elite roles in increasing societies self-supporting in the development. The data is obtained non-proportionally randomized in Magersari village and the sample taken from 99 respondents. Meanwhile, the study apply Product Moment analysis. The result of the study shows: first, the most influential village elite according to the respondents are the leader of neighborhood association (RT) and administrative unit at the next-to-lowest level in a village (RW); second, the village elite roles in the development and societies participation level in the village indicate moderate significantly result. Third, the village elite roles in increasing societies self-supporting have low significantly level as 0.283. Keywords: village elite, self supporting society, development

PENDAHULUAN
Pembangunan merupakan keywords sekaligus jargon dan ideologi bagi semua bangsa yang ada di dunia ini. Tidak satu pun bangsa yang ada sekarang ini yang tidak melakukan pembangunan, baik secara material/fisik maupun spiritual. Pembangunan adalah sesuatu yang sangat berarti bagi kehidupan manusia. Bahkan derajat keberhasilan suatu bangsa di mana
137

pun berada dapat diukur dari sukses atau tidaknya pembangunan yang sedang dijalankan oleh pemerintah setempat. Pembangunan, dengan sederhana, dapat diartikan sebagai perubahan yang berguna menuju suatu sistem sosial dan ekonomi yang lebih baik, seperti yang dikehendaki oleh suatu bangsa. Untuk menuju perubahan yang lebih baik, diperlukan suatu proses dinamis, yaitu

138

KALAMSIASI, Vol. I, No. 2, September 2008, 137 - 149

melalui beberapa tahapan/syarat-syarat yang harus dipenuhi serta partisipasi aktif dari segenap masyarakat. Prinsip keselarasan, keserasian, dan keseimbangan harus tetap menjadi prioritas utama bagi pemerintah dan masyarakat dalam melaksanakan pembangunan. Tanpa prinsip tersebut pembangunan yang dilaksanakan akan berkemungkinan di dalamnya terdapat banyak kepincangan ataupun terjadinya kerusakan-kerusakan seperti kerusakan sosial dan lingkungan. Pembangunan harus tetap mengarah pada perubahan yang lebih baik untuk masyarakat di mana pun mereka berada serta manusiawi. Bahkan pembangunan harus merata sampai pada level yang paling bawah, yaitu masyarakat pedesaan yang tingkat kehidupannya masih rendah dengan tidak menanggalkan sifat-sifat religius, ketradisionalan, serta nilai-nilai luhur yang ada. Usaha membangun masyarakat bukan semata-mata mengintroduksi dan mengimplementasikan proyek-proyek fisik ataupun mengucurkan dana dan subsidi, tetapi juga gerakan mengubah serta memobilisasi lingkungan agar menjadi lebih kondusif bagi terciptanya masyarakat mandiri yang lepas dari berbagai bentuk belenggu eksploitasi. Itu berarti bahwa kegiatan pembangunan tidak hanya sekadar persoalan ekonomi dan teknologi,

tetapi lebih dari itu adalah persoalan harkat dan martabat manusia. Kegiatan pembangunan masyarakat berkaitan erat dengan people empowerment (pemberdayaan masyarakat). Dalam konteks itulah, masyarakat adalah obyek dan sekaligus sebagai subyek pembangunan. Sebagai obyek, masyarakat adalah sasaran dari pembangunan itu sendiri. Sedangkan sebagai subyek, masyarakat adalah pelaku dan pelaksana pembangunan. Agar masyarakat mampu menjalankan fungsinya sebagai subyek secara lebih aktif dan penuh inisiatif dalam pembangunan yang berkelanjutan, potensi dan kemampuan masyarakat perlu digali serta dikembangkan kesadarannya. Karenanya, dalam menggali dan mengembangkan kesadaran potensi, dan kemampuan serta merealisasikan harapan (ekspetasi) dan keinginan masyarakat dengan sebaik-baiknya, peran tokoh masyarakat atau elit desa tidak bisa ditanggalkan begitu saja. Elit masyarakat (baca: elit desa) ini memiliki andil yang cukup besar dalam mengakomodasikan berbagai keinginan masyarakat sesuai dengan situasi dan kondisi di desa. Pula, ia mampu memimpin, mengarahkan, serta membina masyarakat ke arah pembangunan yang lebih kondusif. Kecuali itu, ia masih kelihatan dominan dalam melontarkan usulan-usulan dalam forum desa serta

Totok Wahyu Abadi & Endang Sofiyati, Peran Elit Desa Dalam Meningkatkan Partisipasi

139

memiliki vertical linkage atau hubungan vertikal yang cukup kuat dengan lembagalembaga pemerintahan yang lebih tinggi. Namun demikian, tidak semua elit desa yang memiliki vertical linkage mampu menanggapi aspirasi-aspirasi ataupun kebutuhan-kebutuhan yang muncul dalam masyarakat. Hal ini terjadi karena elit desa memiliki hubungan yang lemah serta kurang berinteraksi dengan masyarakat sekitar. Kelompok elit desa yang memiliki vertical linkage yang semestinya harus mampu mengakomodasikan berbagai aspirasi dan kebutuhan masyarakat serta menjembatani ke lembaga di atas pemerintahan desa malah justru belum menunjukkan greget yang cukup signifikan. Berbeda halnya dengan elit desa yang memiliki horizontal linkage. Meski tidak memiliki hubungan dengan lembaga di atas lembaga desa, ia memiliki hubungan dengan masyarakat secara lebih akrab dan kondusif, sehingga ia mampu mengakomodasikan berbagai aspirasi dan menggerakkan swadaya masyarakat dalam pembangunan sesuai dengan kemampuannya. Bermula dari fenomena semacam itu, peneliti tertarik untuk mengakaji peran elit desa dalam meningkatkan swadaya masyarakat dalam pembangunan di Desa Magersari Sidoarjo. Adapun perumusan masalah dalam penelitian ini adalah

Bagaimanakah Peran Elit Desa dalam Meningkatkan Partisipasi Swadaya Masyarakat pada Pembangunan Desa di Sidoarjo? Sedangkan tujuan penelitian ini adalah memaparkan peran elit desa dalam pembangunan, kondisi tingkat keswadayaan masyarakat desa dalam pembangunan, dan peran elit desa dalam meningkatkan swadaya masyarakat dalam pembangunan.

LANDASAN TEORI
Pembangunan merupakan suatu proses yang menuntut sekaligus menghasilkan perubahan. Untuk dapat menghasilkan perubahan yang diharapkan masyarakat, diperlukan agen-agen perubahan (agent of change) yang mampu memelopori, menggerakkan, dan menyebarluaskan proses perubahan itu kepada masyarakat. Kenyataan menunjukkan bahwa dalam pembangunan desa terdapat kelompok-kelompok agen perubahan yang sangat dominan dalam masyarakat yaitu, elit desa. Elit desa merupakan kelompok orang-orang yang dalam situasi sosial tertentu menduduki posisi (ter)tinggi dan dianggap mempunyai kekuasaan besar serta hak-hak istimewa, atau karena faktor keturunan yang memiliki kedudukan tinggi di masyarakat. Sementara itu,

140

KALAMSIASI, Vol. I, No. 2, September 2008, 137 - 149

Wisadirana (1990: 6) menyatakan bahwa elit desa merupakan lapisan yang terdiri atas kepala desa beserta perangkatnya, pegawai-pegawai daerah dan pusat, guru, tokoh-tokoh politik maupun agama, petani kaya, pemuka masyarakat, dan golongan intelek desa. Lapisan-lapisan inilah yang sering mendominasi dan memegang jalannya pemerintahan desa dan melindungi kepentingan-kepentingan desa. Elit desa sebagai agen perubahan dituntut memahami secara sungguhsungguh situasi dan kondisi masyarakat serta memberikan motivasi secara inovatif kepada masyarakat. Terdapat tiga faktor, menurut Marat (1984:27) yang dapat mengubah sikap masyarakat tentang pembangunan, yaitu perhatian, pengertian, dan penerimaan. Gambar 1 menunjukkan bahwa perubahan sikap terletak pada masingmasing individu. Pesan yang disampaikan elit desa sebagai komunikator kepada masyarakat sebagai organisme, mungkin

dapat diterima atau ditolak. Jika elit desa dalam komunikasinya dapat membangkitkan perhatian masyarakat, komunikasi pun dapat berlangsung. Sebaliknya komunikasi tidak akan berlangsung jika tidak dapat membangkitkan perhatian masyarakat. Dengan berlangsungnya komunikasi tatap muka antara elit desa dengan warganya, warga masyarakat akan mengerti pesan yang disampaikan oleh elit desa setempat. Pengertian yang diperoleh akan berpengaruh terhadap kesediaan serta akan direspons melalui perubahan sikap, motivasi, dan perilaku. Untuk membangkitkan perhatian masyarakat tentang suatu pesan, seorang agen perubahan (baca: elit desa) harus memiliki kemampuan untuk mempersuasi komunikan melalui hubungan interpersona. Melalui hubungan interpersona inilah, agen perubahan akan teruji kemampuannya untuk dapat mengarahkan masyarakat atau tidak dalam hal pembangunan yang dilakukan secara

Totok Wahyu Abadi & Endang Sofiyati, Peran Elit Desa Dalam Meningkatkan Partisipasi

141

mandiri atau swadaya. Hubungan interpersona tersebut akan tercermin pada tingkat kepercayaan (trust), kejujuran, keteladanan, dan rasa empati yang dimiliki agen perubahan. Dengan keempat kualifikasi yang dimiliki agen perubahan (elit desa) tersebut, masyarakat akan lebih mudah menerima pesan-pesan yang disampaikan oleh elit desa sebagai komunikator. Mengenai persuasi, Ilardo (1981 dalam Herawati, 1993:) mendefinisikannya sebagai proses komunikasi yang dipakai untuk mengubah kepercayaan, sikap, tujuan, atau perilaku seseorang dengan menggunakan pesan-pesan verbal dan nonverbal yang dilakukan baik secara sengaja ataupun tidak. Sedangkan Effendy (1998: 68) menyatakan bahwa persuasi adalah proses komunikasi interpersona dimana komunikator dengan menggunakan lambang-lambang mempengaruhi kognisi penerima untuk mengubah sikap dan melakukan kegiatan seperti yang dikehendaki komunikator. Lebih lanjut, Anderson mengatakan bahwa komunikasi interpersona merupakan bentuk komunikasi yang berlangsung antara seseorang dengan seseorang lainnya dalam dua jalur secara timbal-balik, yaitu dalam bentuk face to face dan dialogis. Agar komunikasi persuasi yang bersifat interpersona dapat berjalan efektif, diperlukan proses pentahapan komunikasi

persuasif yang dimulai dari usaha membangkitkan Perhatian (attention) untuk kemudian berusaha menggerakkan seseorang atau banyak orang untuk melakukan Kegiatan (action) seperti yang diharapkan. Proses pentahapan tersebut sering disebut sebagai A-A procedure yang dalam rumus klasik dikenal dengan akronim AIDDA. AIDDA merupakan akronim dari: A attention (Perhatian), I Interest (Minat), D Desire (Hasrat), D Decision (Keputusan), A Action (Tindakan). Dengan demikian, elit desa sebagai komunikator dalam mendifusikan gagasan tentang pentingnya swadaya masyarakat dalam konteks pembangunan dimulai dengan membangkitkan perhatian (attention) komunikan. Apabila perhatian berhasil dibangkitkan, disusul dengan menumbuhkan minat (interest) yang pada gilirannya akan timbul pada diri komunikan sebuah hasrat (desire) untuk memenuhi sesuatu yang disampaikan persuader. Selanjutnya komunikan membuat keputusan (decision) untuk melakukan tindakan atau kegiatan (action) sebagaimana yang diinginkan komunikator, dalam hal ini memberikan sumbangan baik berupa tenaga maupun dana. Selain kemampuan komunikator dalam mempersuasi komunikannya, ada tiga komponen yang turut mempengaruhi keberhasilan dan efektifitas komunikasi

142

KALAMSIASI, Vol. I, No. 2, September 2008, 137 - 149

yakni karakteristik (sifat atau ciri-ciri) komunikator, yang meliputi kredibilitas, daya tarik pesan, dan kekuasaan. Namun, penelitian ini tidak akan membahas salah satu karakteristik komunikator yaitu tentang kekuasaan. Beberapa alasan yang dipertimbangkan yaitu: (1) bahwa efektifitas komunikator lebih bertumpu pada sumber kepercayaan daripada unsur kekuasaan yang berupa paksaan, dan (2) kredibilitas sumber yang kuat jauh lebih baik daripada kekuasaan sumber karena keahlian komunikator merupakan daya tarik tersendiri bagi komunikannya. Kredibilitas komunikator merupakan seperangkat persepsi komunikan tentang sifat-sifat komunikator. Kredibilitas sebenarnya tidak terletak pada komunikator, akan tetapi terletak pada persepsi komunikan. Kredibilitas merupakan salah satu unsur penyebab timbulnya pengaruh komunikator terhadap komunikan. Pengaruh dalam istilah komunikasi persuasif diartikan sebagai kemampuan untuk menimbulkan perubahan dalam sikap dan atau tindakan orang lain searah dengan yang diinginkan. Menurut deVito (1997:259-274), kredibilitas mempunyai lima dimensi yaitu: (1) competence, (2) character, (3) intention, (4) personality, (5) dynamism. Kompetensi, mengacu pada kemampuan inteligensi, pengetahuan yang dimiliki

seorang komunikator terhadap pesan yang disampaikannya untuk membangkitkan kepercayaan pada komunikan. Karakter mengacu kepada sifat tertentu yang dimiliki komunikator yang berkaitan dengan moralnya seperti kejujuran, keadilan, dan kebenaran sehingga dapat membuat komunikan mempercayainya. Intensi mengacu pada motif atau faktor yang mendorong seseorang menampilkan pesan-pesan dengan cara tertentu yang dapat meningkatkan kepercayaan komunikan. Kepribadian mengacu pada penampilan seorang komunikator yang memiliki sifat menyenangkan, persahabatan, keterbukaan, melihat masa depan dan sifat positif lainnya yang menunjukkan pribadi mereka. Dinamika mengacu pada penampilan seorang komunikator yang bersemangat agresif, ekstrovert, dan kekuatan dalam penampilan diri. Seorang komunikator akan berhasil dalam komunikasi jika mampu mengubah sikap, opini, dan perilaku komunikan melalui mekanisme daya tarik. Ada beberapa komponen yang menyebabkan komunikator mempunyai daya tari, yaitu: kesamaan, familiaritas, keakraban hubungan atau kedekatan, daya tarik fisik dan kemampuan umum yang dimiliki. Keefektifan komunikasi tidak saja ditentukan oleh diri komunikator, tetapi juga oleh pesan, khususnya daya tarik

Totok Wahyu Abadi & Endang Sofiyati, Peran Elit Desa Dalam Meningkatkan Partisipasi

143

pesan. Menurut Rachmat (1992: 63) suatu pesan dapat menarik perhatian tergantung dari variabel pesan itu sendiri, yaitu: struktur pesan, gaya pesan, dan imbauan pesan. Kalau pola-pola struktur, gaya, dan imbauan dari isi pesan elit desa dilaksanakan, maka pesan itu dengan sendirinya akan mempunyai daya tarik yang berarti. Selain faktor daya tarik tersebut, menurut Krech (1962: 20) suatu stimulus informasi dapat menarik persepsi kalau diperhatikan faktor-faktor sebagai berikut: 1. Frekuensi: suatu slogan hendaknya disebut berulang-ulang supaya menarik perhatian, daripada tidak disebut berulang-ulang; 2. Intensitas: suatu pekikan suara tertentu akan menarik daripada suara yang normal atau biasa. 3. Gerakan dan perubahan: gerak sinar lampu, misalnya yang dibuat dalam animasi akan jauh lebih menarik karena sinar yang dipancarkan itu bergerak dan berubah. 4. Jumlah: ada juga obyek yang jumlahnya atau banyaknya lain daripada yang lain. Pendapat Krech ini, sama dengan pendapat (Rahcmat, 1992: 58) bahwa suatu stimulus informasi diperhatikan karena sifat-sifat yang menonjol, antara lain: 1) gerakan: 2) intensitas stimuli, 3)

kebaruan (novelty), dan 4) perulangan. Untuk penelitian ini hanya akan diambil daya tarik pesan yang terdiri dari struktur pesan, gaya pesan, appeals pesan, frekuensi, dan jumlah. Berhubung dengan itu, usaha pembangunan desa yang merupakan tanggung jawab masyarakat itu sendiri dalam mencapai tujuan bersama harus dikomunikasikan secara efektif oleh elit desa. Misalnya, dengan membina dan mengembangkan keswadayaan masyarakat baik secara spontan maupun yang terorganisasi, yaitu: menggali, meninggikan, dan memberikan fungsi tertentu dalam pemecahan masalah sebagai usaha pembangunan masyarakat desa. Fungsi tertentu swadaya masyarakat tersebut adalah pengarahan potensi-potensi swadaya demi tujuan produktif dan menyangkut kepentingan hidup orang banyak yaitu masyarakat desa. Potensipotensi itu dapat berupa pemikiran, tenaga manusia, kekayaan alam (material), maupun dana.

METODE PENELITIAN
Penelitian eksplanatif dengan menggunakan metode survei ini memiliki jumlah populasi sebesar 8.614 jiwa. Lokasi penelitian ini berada di desa Magersari Kecamatan Kota Sidoarjo. Melalui teknik quota sampling, data diambil secara acak

144

KALAMSIASI, Vol. I, No. 2, September 2008, 137 - 149

non proporsional sebanyak 99 responden dengan selang kepercayaan 95% dan presisi sebesar 10%. Penentuan jumlah responden tersebut didasarkan pada tabel teoretis Yamane. Desain analisis penelitian yang digunakan untuk mencari peran variabel X (elit desa) dalam meningkatkan partisipasi/swadaya masyarakat (variabel Y) ini adalah analisis korelasi Product Moment. Sedangkan untuk menguji hipotesis deskriptif dalam penelitian ini adalah one sampel Smirnov-Kolmogorov tes. Tes ini digunakan untuk mengukur kesesuaian antara data yang diperoleh dengan kenyataan di lapangan. Untuk memudahkan peneliti dalam melakukan penghitungan, peneliti menggunakan bantuan program SPSS 11.

melindungi kepentingan-kepentingan desa. Dalam penelitian ini tokoh-tokoh atau elit desa yang paling berpengaruh menurut responden adalah ketua RW atau RT. Frekuensi RW dan RT adalah 48 atau 48,5%. Pilihan responden ini cukup beralasan karena elit desa yang paling berpengaruh dengan lingkungan sekitar warga adalah RW dan RT. Rating elit desa yang menduduki urutan kedua adalah pemuka masyarakat yaitu sebanyak 20%, sedangkan kepala desa dan tokoh agama menduduki rating ketiga dengan frekuensi sebesar 12%. Sementara elit desa menurut responden adalah dosen/gueru, pengusaha, para purnawirawan/pensiunan, anggota TNI/polisi, dan petani kaya (1%). Untuk lebih lengkapnya dapat dilihat pada Tabel 1. Sementara itu peran elit desa menurut data penelitian menunjukkan bahwa interval nilai terendah berada psosisi 80 89 dengan frekuensi 11 atau 11,1%. Sedangkan nilai tertinggi berada pada interval nilai 130139 dengan frekuensi 1%. Interval nilai rata-rata untuk peran elit desa sebanyak 34% adalah 100109. Dari Tabel 2 tentang distribusi frekuensi peran elit desa Magersari dalam meningkatkan partisipasi swadaya masyarakat cukup bervariasi. Skor tertinggi peran elit desa tiap orang adalah 139. Bila jumlah

HASIL PENELITIAN
Dalam konteks pembangunan, elit desa memiliki andil atau peran yang cukup penting. Elit desa, menurut Wisadirana (1990), adalah lapisan yang teridiri atas kepala desa beserta perangkatnya, pegawai-pegawai daerah dan pusat, guru, tokoh-tokoh politik maupun agama, petani kaya, pemuka masyarakat dan golongan intelektual desa. Kelompok-kelompok tersebut dapat dikatakan sebagai opinion leader serta memegang peranan dalam menjalankan pemerintahan desa dan

Totok Wahyu Abadi & Endang Sofiyati, Peran Elit Desa Dalam Meningkatkan Partisipasi

145

Tabel 1: Tokoh atau Elit Desa Magersari yang Berpengaruh NO 1. 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 Tokoh/elit desa Kepala Desa Pegawai Daerah Ketua RT/RW Petani Kaya Tokoh Agama Pengusaha Guru/Dosen Tokoh Partai Politik Pemuka Masyarakat Anggota TNI/Polisi Pensiunan Valid N (listwise)
Sumber: Hasil Pengolahan Angket 2005

N 12 1 48 1 12 4 2 2 20 1 4 99

% 12 1 48,5 1 12 4 2 2 20,5 1 4 100

responden 99, skor tertinggi yang merupakan skor kriterium adalah 99 x 139 = 13.761. Sedangkan jumlah skor variabel peran elit desa, variabel X, berdasarkan data yang terkumpul sebesar = 10.405. Dengan demikian peran elit desa Magersari sebesar 10.405 :13.761 = 0,76 atau 76% dari kriteria hipotesis deskripsi yang ditetapkan. Namun demikian skor kriterium tersebut (peran elit desa) hanya berlaku pada tataran sampel dan masih belum pada tingkat populasi. Hal ini terbukti dari hasil uji hipotesis yang menunjukkan besarnya nilai probabilitas (p=0,719 > 0,10) ketimbang taraf nyata. Kenyataan ini menunjukkan bahwa elit desa kurang memiliki kewibawaan

atau kredibilitas, kemampuan, familiaritas, daya tarik baik pesan maupun fisik, serta keakraban hubungan dengan masyarakat Magersari secara keseluruhan. Sementara interval nilai dalam frekuensi partisipasi swadaya masyarakat cukup bervariasi. Skor terendah untuk setiap orang adalah 20 dan skor tertingginya adalah 34. Oleh karena jumlah responden sebanyak 99, skor tertinggi yang merupakan skor kriterium adalah 34 x 99 = 3366 (34 adalah nilai tertinggi dalam interval nilai dan 99 adalah jumlah sampel yang digunakan dalam penelitian ini). Dengan demikian, partisipasi swadaya masyarakat dalam pembangunan desa sebesar 2749 : 3366 = 0,82 atau 82% dari

146

KALAMSIASI, Vol. I, No. 2, September 2008, 137 - 149

Tabel 2 : Distribusi Frekuensi Peran elit desa No. 1 2 3 4 5 6 Interval nilai 8089 9099 100109 110119 120129 130139 TOTAL
Sumber: Hasil Pengolahan Data 2005

F 11 17 34 30 6 1 99

% 11,1 17,2 34,3 30,3 6,1 1 100

kriteria yang ditetapkan dalam hipotesis deskriptif, yaitu partisipasi swadaya masyarakat dalam pembangunan sebesar 65%. Dilihat angka persentase yang cukup signifikan tersebut dapat dikatakan bahwa partisipasi swadaya masyarakat Desa Magersari relatif tinggi. Partisipasi swadaya masyarakat Desa Magersari dimaksud dapat berwujud sumbangan yang berupa pemikiran, material, tenaga, maupun dana.

Hasil uji hipotesis terhadap partisipasi swadaya masyarakat Desa Magersari menunjukkan nilai probabilitas sebesar p = 0,110. Jika dibandingkan dengan nilai distribusi frekuensi tersebut (82%) dapatlah disimpulkan bahwa tingginya partisipasi masyarakat dalam pembangunan secara swadaya tersebut hanya berlaku untuk sejumlah 99 responden sebagai sampel. Dan tidak berlaku untuk menggeneralisasikan seluruh populasi yang ada.

Tabel 3: Distribusi Frekuensi Partisipasi Swadaya Masyarakat No. 1 2 3 4 5 Interval Nilai 20 22 23 25 26 28 29 31 32 34 TOTAL
Sumber: Hasil Pengolahan Data 2005

F 13 12 30 23 21 99

% 13,2 12,1 30,3 23,2 21,2 100

Totok Wahyu Abadi & Endang Sofiyati, Peran Elit Desa Dalam Meningkatkan Partisipasi

147

Tabel 4: Pengaruh X terhadap Y variabel X Variabel X Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N Varaibel Y Pearson Correlation Sig. (2-tailed) N
** Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).

variabel Y .283 .005 99. 1 . 100

1. . 99. .283 .005 99.

Hasil pengujian peran elit desa (variabel X) dalam meningkatkan partisipasi secara swadaya masyarakat (variabel Y) dalam pembangunan yang dilakukan melalui hipotesis operasional: H0 ; = 0 dan H1; tidak sama dengan 0 diperoleh seperti dalam tabel 4 Dari analisis dengan SPSS 11 diperoleh nilai koefisien korelasi Pearson antara elit desa (variabel X) dengan partisipasi secara swadaya (variabel Y) sebesar 0,283 dengan probabilitas untuk uji dua pihak sebesar 0,005. Kemudian nilai koefisien korelasi tersebut dikonsultasikan pada r tabel dan diperoleh nilai 0,197. Karena r tabel sebesar 0,197 lebih kecil dari r hitung sebesar 0,283 dan atau nilai probabilitas dalam tabel korelasi sebesar 0,005 lebih kecil dari taraf nyata 0,10 maka disimpulkan untuk menerima hipotesis kerja dan menolak hipotesis nol. Ini berarti elit desa memiliki peran yang cukup

signifikan dalam meningkatkan partisipasi swadaya masyarakat. Meski demikian bila dikonsultasikan dengan tabel pedoman untuk memberikan interpretasi koesfisien korelasi (Sugiyono, 2001:149), peran elit desa dalam meningkatkan partisipasi swadaya masyarakat dapat dikategorikan rendah.

SIMPULAN DAN SARAN


Dari paparan hasil penelitian ini diperoleh simpulan sebagai berikut: 1. Dari sejumlah tokoh atau elit desa yang paling berpengaruh di Desa Magersari adalah ketua RW atau RT. Frekuensi ketokohan RW dan RT dalam masyarakat Desa Magersari adalah 48 atau 48,5%. Pilihan responden ini sangat beralasan karena ketua RW atau ketua RT-lah yang memiliki frekuensi komunikasi tatap muka lebih intens dengan warga

148

KALAMSIASI, Vol. I, No. 2, September 2008, 137 - 149

sekitarnya. Sedangkan elit desa berikutnya yang cukup berpengaruh adalah pemuka masyarakat yaitu sebanyak 20%, sementara kepala desa dan tokoh agama menduduki rating ketiga dengan frekuensi sebesar 12%. Sementara elit desa menurut responden adalah dosen/gueru, pengusaha, para purnawirawan/pensiunan, anggota TNI/polisi, dan petani kaya (1%). 2. Bahwa peran elit desa Magersari dalam pembangunan ternyata cukup signifikan. Sedangkan tingkat partisipasi masyarakat Desa Magersari dalam tataran sampel juga menunjukkan hasil yang cukup. 3. Peran elit desa dalam meningkatkan partisipasi swadaya masyarakat dapat dikategorikan rendah. Beberapa rekomendasi yang peneliti sampaikan kepada elit desa adalah sebagai berikut: 1. Elit desa perlu melakukan komunikasi secara lebih frekuentif atau intensif kepada masyarakat dengan jalan turba/ turun ke bawah di forum-forum arisan atau rapat di tingkat RT atau RW. 2. Elit desa harus mampu mengakomodasikan berbagai kepentingan masyarakat dalam pembangunan serta memberikan alternatif solusi terbaik dan bijaksana.

3. Elit desa harus mampu memberikan teladan bagi masyarakat setempat serta tidak hanya sekadar memberikan perintah tetapi turut langsung bekerja bersama-sama dengan masyarakat. 4. Elit desa harus meningkatkan pengetahuan dalam segala hal untuk menunjang kepemimpinannya di lingkungan masyarakatnya.

DAFTAR RUJUKAN
Adi, Isbandi Rukminto. 2002. PemikiranPemikiran Dalam Pembangunan Kesejahteraan Sosial. Jakarta: Lembaga Penerbit FE-UI. Arikunto, Suharsimi. 2002. Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktek. Yogyakarta: Rineka Cipta. Bryant, Coralie dan Louise G. White. 1987. Manajemen Pembangunan untuk Negara Berkembang. (terjemahan). Jakarta: LP3ES. Budiman, Arief. 2000. Teori Pembangunan Dunia Ketiga. Jakarta: Gramedia Pustaka Umum. deVito, Joseph A. 1997. Komunikasi Antarmanusia. (Terjemahan) Jakarta: Professional Books. Effendy, Onong Uchjana.1998. Komunikasi dan Modernisasi. Bandung: Alumni. Herawati, Yeyet. 1993. Pengaruh Komunikasi Tatap Muka terhadap Pengambulan Keputusan Penggunaan Metode Kontrasepsi Efektif Terpilih (MKET) Oleh PUS di

Totok Wahyu Abadi & Endang Sofiyati, Peran Elit Desa Dalam Meningkatkan Partisipasi

149

Kabupaten Bandung. Tesis. Bandung: Universitas Padjadjaran (tidak diterbitkan). Kaban, Ramon. 2004. Kontribusi Credibility Communicator Ditinjau dari Aspek Charismatic and Positional Power dalam Konteks Pembangunan di Indonesia. Jurnal Penelitian Media Massa. Surabaya: BP2I. Vol.8 No.13 Kappi, Abd. 1988. Kelompok Elit dan Hubungan Sosial di Pedesaan. Jakarta: Grafika Kita. Krech David, Crutchfield. 1962. Individual in Society. Tokyo: Mc Graw Hill Kogasuka.Ltd. Marat.1984. Sikap Manusia: Perubahan serta Pengukurannya. Jakar ta: Ghalia

Nasution, Zulkarimein. 1996. Komunikasi Pembangunan: Pengenalan Teori dan Penerapannya. Jakarta: RajaGrafindo Persada. Rogers, Everet M. 1985. Komunikasi dan Pembangunan: Perspektif Kritis. (Terjemahan). Jakarta: LP3ES Sudriamunawar, Haryono. 2002. Pengantar Studi Administrasi Pembangunan. Bandung: Mandar Maju. Sugiono. 2001. Metode Penelitian Administrasi Negara. Bandung: Alfabeta. Wisadirana, Darsono. 1990. Elit Baru Desa dan Ekonomi Pedesaan. Jawa Pos. 26 Februari.

150

KALAMSIASI, Vol. I, No. 2, September 2008

UJI PERSPEKTIF PEMBELAJARAN & PERTUMBUHAN BALANCED SCORECARD BUDAYA KERJA UNTUK MELIHAT KUALITAS MANUSIA KARYA

Isna Fitria Agustina


(Dosen Ilmu Administrasi Negara FISIP Umsida, Jln. Mojopahit No. 666 B Sidoarjo, Telp. 031-8945444, Fax. 031-8949333)

ABSTRACT The purpose of this study is to find out whether the Balanced Scorecards learning and growth perspective and the corporate culture influence the quality of the employee of Telkom Divre V East Java, tbk. in either simultaneous or partial way. This research uses the descriptive quantitative approach for the research and takes 60 people as the respondents. The hypotheses of the research are proved by applying multiple regression method to compute the data. The result of the research tells that: B SCs learn and growth perspective and the corporate culture significantly influence the quality of employee of Telkom Divre V East Java, tbk in simultaneous way. It is proved by F value : 12,527 in 0,000 < 0,05 level of significant. Employees satisfaction, employees retention employees productivity and, corporate culture toward the quality of employee is 0,477, the rest of which (0,533) is caused by other variables excluded from the model of the thesis. In addition, the correlation can be seen from the multiple correlation coefficient 0,690. It means that the correlation caused by the research variables is 0,690%. BSCs learn and growth perspective and the corporate culture significantly influence the quality of employee of Telkom Divre V East Java, tbk in partial way. It can be seen from t value : 2,054; 5,016; 2,110; 2,893 in 0,000 < 0,05 level of significant. Keyword : employees satisfaction, employees retention, employees productivity and corporate culture.

PENDAHULUAN
Manusia merupakan sumber daya utama di dalam perusahaan yang mem151

buat perusahaan memiliki jiwa serta kemampuan menjalankan aktivitas. Dalam rangka mencapai tujuan perusahaan,

152

KALAMSIASI, Vol. I, No. 2, September 2008, 151 - 162

manusia juga memotivasi manusia lainnya untuk menghasilkan karya yang berkualitas. Pengembangan dan peningkatan perusahaan memerlukan manusia yang berkualitas sebagai pendukung. Karenanya, pengembangan sumber daya manusia amat diperlukan dalam pencapaian tujuan perusahaan. Siagian (1984:28) berpendapat bahwa orientasi pengembangan sumber daya manusia sesungguhnya telah dimulai sejak seseorang memasuki organisasi atau menjadi karyawan dan berakhir apabila yang bersangkutan meninggalkan organisasi yaitu pindah, meninggal, pensiun ataupun alasan lain. Pengembangan sumber daya manusia dapat dicapai dengan meningkatkan kemampuan (ability) karyawan dengan pemberian pendidikan dan pelatihan kepada karyawan, memberikan penilaian prestasi kerja, memberikan kompensasi dan penghargaan, merencanakan pengembangan karier dan lain sebagainya. Selain itu, sikap karyawan sendiri terhadap pelaksanaan tugas juga merupakan faktor penting dalam pencapaian sukses. Tanpa keinginan dari yang bersangkutan (karyawan) akan sulit untuk meningkatkan kualitas karya seseorang. Hal ini erat kaitannya dengan pemberian motivasi (motivation). Bilamana seseorang mempunyai motivasi untuk meraih sesuatu, dia

akan berusaha mencapainya tanpa harus dipaksa oleh orang lain. Kecuali itu, dorongan seseorang untuk meningkatkan kualitas karyanya adalah adanya kesem-patan untuk maju (oportunity) secara, ber-sama. Setelah berbagai pengetahuan dan keterampilan diberikan, langkah berikut-nya adalah upaya. untuk mengembangkan diri seseorang dalam arti adanya kemungkinan meningkatnya jenjang karier. Secara individual setiap anggota organisasi harus, siap mengembangkan dirinya dalam rangka, penitian karier lebih lanjut. Prestasi kerja yang baik juga merupakan suatu hal penting dalam suatu perusahaan, baik ditinjau dari sudut individu maupun organisasi. Tanpa prestasi yang baik di semua tingkat organisasi, pencapaian tu-juan dan keberhasilan organisasi dalam hal ini perusahaan menjadi sesuatu yang sulit bahkan mustahil untuk dipenuhi. Bila organisasi tidak mampu mencapai sasarannya, peluang individu untuk mencapai tujuannya juga akan berkurang terutama untuk jangka panjang. Pengembangan sumber daya manusia berkaitan dengan tenaga kerja yang bermutu dengan meningkatkan kualitas manusia. Tenaga kerja yang bermutu adalah mereka yang mempunyai kecakapan, keterampilan, keahlian, kemampuan

Isna Fitria Agustina, Uji Perspektif Pembelajaran & Pertumbuhan Balance Scorecard

153

untuk menyelesaikan suatu pekerjaan yang dibebankan kepadanya dan mempunyai tanggung jawab, serta kemampuan dan motivasi yang tinggi. Selain itu harus disertai pula dengan kemampuan untuk memelihara dan meningkatkan kecakapan secara teratur dan pasti. Sebagai salah satu perusahaan publik yang bergerak dalam bidang telekomunikasi, PT. Telkom Divre V Jawa Timur menyadari bahwa karyawan memiliki arti penting. Upaya meningkatkan prestasi kerja tersebut, perusahaan telah memberikan perhatian penuh. Misalnya, dalam pendidikan dan pelatihan ataupun penambahan pengalaman kerja dalam bentuk rotasi, mutasi, dan penjenjangan karier dengan promosi, pemberian penghargaan, kompensasi, kesejahteraan, dan fasilitas. Peningkatan produktivitas sumber daya manusia dan efisiensi memerlukan dukungan penuh dan seluruh jajaran perusahaan. Dukungan ini akan berhasil hanya apabila seluruh jajaran di perusahaan menjadi kesatuan yang benar-benar terpadu dan saling memperkuat. Hal ini akan terjadi apabila seluruh jajaran perusahaan memiliki pandangan, pola pikir, dan pola bertindak yang sama dalam usaha memajukan perusahaan yang dikenal sebagai budaya perusahaan (corporate culture). Dalam hidupnya

manusia dipengaruhi oleh budaya di mana dia berada, seperti nilai, keyakinan dan perilaku sosial atau masyarakat. Hal yang sama juga akan terjadi bagi anggota organisasi yang kemudian menciptakan budaya organisasi. Budaya perusahaan pada dasarnya akan mewakili norma perilaku yang akan diikuti oleh anggota organisasi. Untuk mengetahui kualitas manusia karya dan budaya kerja dalam sebuah perusahaan dapat dilakukan melalui uji BSC (Balanced Scorecard). BSC digunakan untuk melakukan perbaikan yang berkesinambungan (continuous improvement) bukan hanya mencapai tujuan khusus seperti laba sekian milyar rupiah. BSC merupakan sekelompok tolok ukur kinerja yang teritegrasi yang berasal dari strategi perusahaan dan mendukung strategi tersebut di seluruh organisasi. Dalam pendekatan BSC, manajemen puncak menjabarkan strategi ke dalam tolok ukur kinerja sehingga karyawan memahami dan dapat melaksanakan sesuatu untuk mencapai strategi tersebut. Dengan demikian pertanyaan yang patut diajukan adalah apakah uji perspektif pembelajaran dan pertumbuhan BSC dan budaya kerja berpengaruh secara simultan maupun parsial terhadap kualitas manusia karya di PT. Telkom Divre V Jawa Timur ?

154

KALAMSIASI, Vol. I, No. 2, September 2008, 151 - 162

KERANGKA TEORI
Kualitas manusia karya dapat dilihat dari hasil serangkaian proses melalui konsep implementasi pembelajaran dan pertumbuhan balanced scorecard yang bertujuan : 1) meningkatkan kemampuan karyawan, 2) meningkatkan motivasi dan pengarahan karyawan, dan 3) meningkatkan kemampuan sistem informasi. Pembelajaran dan pertumbuhan dengan konsep BSC ini tercermin dalam budaya kerja suatu perusahaan. Perspektif pembelajaran dan pertumbuhan dalam kosep BSC ini merupakan seperangkat tolok ukur inti untuk mengetahui: 1) kepuasan karyawan, 2) retensi karyawan, dan 3) produktivitas pekerja. Sedangkan budaya kerja merupakan ciri khas organisasi (perusahaan) yang dapat dilihat melalui : 1. Keterlibatan 2. Konsistensi 3. Adaptabilitas, dan 4. Penghayatan misi Karakteristik manusia karya yang berkualitas adalah manusia yang 1) dapat memperkecil ketergantungan dan tingkat kepada

bekerja, 3) dapat menentukan cara terbaik dalam mengambil keputusan, 4) memiliki sifat berani mengambil resiko dalam situasi yang tidak pasti dan selalu inovatif di samping misi perusahaan, dan 5) masing masing karyawan harus mem-punyai wacana jangka panjang yang mencerminkan cara kerja pantang menyerah. Penelitian ini akan meneliti apakah ada hubungan yang bermakna (signifikan) antara perspektif pertumbuhan & pembelajaran BSC dan budaya kerja terhadap kualitas manusia karya. Penggunaan metode statistik dalam penelitian ini diharapkan dapat memperlihatkan hubungan yang terjadi secara kuantitatif. Penilaian terhadap masing masing variabel penelitian ini diperoleh melalui kuesioner. Secara ringkas, kerangka konseptual penelitian ini diperagakan dalam Gambar 1.

atasan, 2) selalu bekerjasama mementingkan Gambar 1: Kerangka Konseptual Penelitian kepentingan bersama dalam

Isna Fitria Agustina, Uji Perspektif Pembelajaran & Pertumbuhan Balance Scorecard

155

Sesuai dengan perumusan masalah, tujuan dan landasan teori yang digunakan, maka hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah: perspektif pembelajaran dan pertumbuhan Balance Score Card dan budaya kerja mempunyai pengaruh secara simultan maupun parsial terhadap kualitas manusia karya di PT. Telkom Divre V Jawa Timur.

yang diambil secara proporsional. Penghitungan ukuran sampel yang didasarkan pada tingkat kesalahan 5% dan tingkat kepercayaan terhadap populasi 95% ini, secara proporsional, penentuan jumlah sampelnya lihat Tabel 1. Variabel variabel penelitian ini dapat diklasifikasikan menjadi dua yakni variabel bebas yang terdiri dari kepuasan kerja (X1), retensi karyawan ( X 2), produktivitas Karyawan (X3), budaya kerja (X4) serta variabel terikat (Y) yaitu kualitas manusia kerja. Sedangkan teknik analisis yang digunakan adalah analisis statistik deskriptif, analisis regresi linier ganda (multiple regression), dan analisis regresi ganda,

METODE PENELITIAN
Penelitian kuantitatif ini menggunakan pendekatan ex post fact. Artinya, data yang diperoleh berdasarkan pada peristiwa yang sudah terjadi dan berhubungan dengan kondisi saat penelitian dilakukan. Lokasi penelitian ini adalah PT. Telkom Divre V Jawa Timur Jalan Ketintang No. 56 Surabaya , dengan populasi sebanyak 685. Melalui teknik stratified random sampling, sampel yang digunakan sebanyak 10% dari populasi yang ada, yakni 58 (digenapkan menjadi 60 responden)

HASIL PENELITIAN
Tentang kepuasan kerja (X1), hasil penelitian menunjukkan bahwa kepuasan karyawan dapat digolongkan dalam kategori sedang. Hal ini dapat terlihat pada

Tabel. 1. Penentuan Jumlah Sampel Golongan / Strata PT. Telkom Divre V Jawa Timur I. II. III. Manager Ass. Manager Karyawan Jumlah Ukuran sampel masing-masing strata Jumlah 15 124 446 585 Sampel 3 13 44 60

156

KALAMSIASI, Vol. I, No. 2, September 2008, 151 - 162

Tabel 2 : Skor Tanggapan terhadap Kepuasan Karyawan (X1) Jumlah Responden 12 39 9 60

Kategori Tinggi Sedang Rendah Jumlah

Skor 31 ke atas 24 30 23 ke bawah

Mean 20,00 65,00 15,00 100

Sumber : Pengolahan Data tahun 2004

tabel 2, yaitu: sebanyak 12 responden atau sebesar 20,00% tergolong tinggi, 39 responden atau sebesar 65,00% tergolong sedang, dan 9 responden atau sebesar 15,00% tergolong rendah.

karyawan dapat digolongkan dalam kategoiri sedang.

3. Produktivitas Karyawan (X3)


Sementara itu, tingkat produktivitas karyawan sebagaimana terpapar pada Tabel 4, menunjukkan bahwa sebanyak 11 responden atau sebesar 18,33% tergolong tinggi, 33 responden atau sebesar 55,00% tergolong sedang, dan 16 responden atau sebesar 26,67% tergolong rendah. Jadi produktivitas karyawan dapat digolongkan dalam kategori sedang.

2. Retensi Karyawan (X2)


Tabel 3 menunjukkan retensi karyawan PT. Telkom Divre V Jatim. Retensi karyawan terlihat sebanyak 8 responden atau sebesar 13,33% tergolong tinggi, 39 responden atau sebesar 65,00% tergolong sedang, dan 12 responden atau sebesar 21,67% tergolong rendah. Jadi, retensi

Tabel 3: Skor Tanggapan terhadap Retensi Karyawan (X2) Jumlah Responden 8 39 13 60

Kategori Tinggi Sedang Rendah Jumlah

Skor 17 keatas 13 16 12 kebawah

Mean 13,33 65,00 21,67 100

Sumber : Pengolahan Data Tahun 2004

Isna Fitria Agustina, Uji Perspektif Pembelajaran & Pertumbuhan Balance Scorecard

157

Tabel 4: Skor Tanggapan terhadap Produktivitas Karyawan (X3) Jumlah Responden 11 33 16 60

Kategori Tinggi Sedang Rendah Jumlah

Skor 14 keatas 11 13 10 kebawah

Mean 18,33 55,00 26,67 100

Sumber : Pengolahan Data tahun 2004

4. Budaya Kerja (X4)


Tabel 5 menunjukkan bahwa budaya kerja terlihat sebanyak 9 responden atau sebesar 15,00% tergolong tinggi, 41 responden atau sebesar 68,33% tergolong sedang, dan 10 responden atau sebesar 16,33 tergolong rendah. Jadi budaya kerja dapat digolongkan dalam kategori sedang.

tergolong sedang, dan 12 responden atau sebesar 20,00% tergolong rendah. Jadi responden dapat digolongkan memiliki kualitas yang sedang atau dapat dikatakan cukup baik. Dari Uji F yang dilakukan untuk menguji hipotesis per tama dengan membandingkan tingkat signifikansi hitung (sig = 0,000) dengan tingkat signifikansi penelitian (Pp = 0,05), diperoleh hasil seperti pada tabel 7 yakni nilai Fo = 12,527 dimana (sig < 0,05) maka disimpulkan untuk menolak Ho, dan Ha diterima.

5.

Kualitas Manusia Karya (Y)


Berdasarkan tabel 6 bahwa kualitas

manusia karya terlihat: sebanyak 5 responden atau sebesar 8,33% tergolong tinggi, 43 responden atau sebesar 71,67%

Tabel 5 : Skor Tanggapan terhadap Budaya Kerja (X4) Jumlah Responden 9 41 10 60

Kategori Tinggi Sedang Rendah Jumlah

Skor 45 keatas 36 44 35 kebawah

Mean 15,00 68,33 16,67 100

Sumber: Pengolahan Data Tahun 2004

158

KALAMSIASI, Vol. I, No. 2, September 2008, 151 - 162

Tabel 6: Skor Tanggapan terhadap Kualitas Manusia Karya (Y), Jumlah Responden 5 43 12 60

Kategori Tinggi Sedang Rendah Jumlah

Skor 16 keatas 12 15 11 kebawah

Mean 8,33 71,67 20,00 100

Jadi, hipotesis penelitian yang menyatakan diduga bahwa perspektif pertumbuhan dan pembelajaran BSC (terdiri dari: kepuasan karyawan, retensi karyawan, produktivitas karyawan) dan budaya verja mempunyai pengaruh yang bermakna secara bersama sama (simultan) terhadap kualitas manusia karya di PT. Telkom Divre V Jawa Timur terbukti kebenarannya. Untuk mengetahui tingkat hubungan atau besarnya pengaruh yang ditimbulkan oleh variabel bebas (X) terhadap variabel terikatnya (Y) berikut ini disajikan tabel output SPSS.90 mengenai koefesien

korelasi dan koefesien determinasinya. Besarnya koefesien korelasi ganda (R Multiple) = 0,690 hal ini menunjukkan adanya korelasi yang cukup kuat antara variabel bebas secara bersama sama terhadap variUntuk mengetahui pengaruh kepuasan karyawan, retensi karyawan, produktivitas karyawan menurut perspektif Pembelajaran dan Pertumbuhan BSC dan budaya kerja, baik secara parsial maupun serempak terhadap kualitas manusia karya di PT. Telkom Divre V Jawa Timur, penelitian ini menggunakan Analisis Regesi Linier Ganda dengan bantuan SPSS.90.

Tabel 7: Uji F ANOVAb Model 1 Regression Residual Total Sum of Squares 128.528 141.072 269.600 df 4 55 59 Mean Squares 320132 2.565 F 12.527 Sig. ,000a

a. Predictors: (Constant), X4, X2, X1, X3 b. Dependent Variabel: Y

Isna Fitria Agustina, Uji Perspektif Pembelajaran & Pertumbuhan Balance Scorecard

159

Tabel 8 : Output SPSS tentang koefesien korelasi dan koefesien determinasi. Adjusted R. Square ,439 Std. Error of the Estimate 1,60

Model 1
a.

R ,690a

R Square ,477

Predictors : (Constant), X4,X2,X1,X3

1. Pengujian hipotesis secara simultan


Pengujian hipotesis simultansi dalam penelitian ini menggunakan uji F. Uji F ini digunakan untuk membuktikan hipotesis penelitian yang menyatakan Diduga bahwa perspektif penumbuhan dan pembelajaran BSC (terdiri dari : kepuasan karyawan, retensi karyawan, produktivitas karyawan) dan budaya kerja mempunyai pengaruh yang bermakna secara bersama sama

(simultan) terhadap kualitas manusia karya di PT. Telkom Divre V Jawa Timur. Tabel terikatnya. Besarnya koefesien determinansi (R)= 0,477 menunjukkan bahwa variabel bebas secara bersama sama memberi pengaruh sebesar 47,70%. Sedangkan sisanya sebesar 53,30% menunjukkan besarnya pengaruh variabel bebas lain yang tidak dimasukkan dalam model atau tidak diamati dalam penelitian ini. Setelah diketahui ada pengaruh dari besarnya pengaruh yang ditimbulkan oleh

Tabel 9 : Koefisien Regresi dan Uji Parsial dengan menggunakan Uji t. Coefficiensa Unstandardized Coefficients Model 1 (Constant) X1 X2 X3 X4 B 4,570 ,140 -,517 ,285 ,138 Std. Error 2,416 ,068 ,103 ,135 ,048 t 3,547 2,054 -5,016 2,110 2,893 Sig. ,001 ,045 ,000 ,039 ,005 ,267 -,560 ,274 ,363

Correlation Partial

a. Dependent Variable : Y

160

KALAMSIASI, Vol. I, No. 2, September 2008, 151 - 162

variabel bebas (X) secara serempak terhadap variabel terikat (Y) selanjutnya disusun persamaan yang menggambarkan hubungan secara matematis dari kondisi di atas adalah berdasarkan tabel output SPSS.90 sebagaimana tersaji pada Tabel 8. Berdasarkan tabel 9 didapat persamaan regresi yang dihasilkan secara simultan adalah sebagai benkut: Y = 8,570 + 0,140X1 0,517X2 + 0,285X3 + 0,138X4 Persamaan ini menggambarkan bahwa apabila tidak terjadi perubahan kepuasan karyawan, retensi karyawan, produktivitas karyawan serta budaya kerja maka secara matematis perubahan kualitas manusia karya sebesar 8,570 satuan.

b. Uji t untuk retensi karyawan (X2) Uji parsial menggunakan uji t untuk variabel (X2) diperoleh nilai t hitung= 5,016 sedangkan sig.= 0,000 < 0,05. Artinya bila X1.-X3 dan X4 dianggap konstan atau sama dengan 0, maka retensi karyawan berpengaruh secara parsial terhadap kualitas manusia karya. c. Uji t untuk produktivitas karyawan (X3) Uji parsial menggunakan uji t untuk variabel (X3) diperoleh nilai t hitung= 2,110 sedangkan sig.= 0,039 < 0,05. artinya bila X1 ; X2 dan X4 dianggap konstan atau sama dengan 0, maka produktivitas karyawan berpengaruh secara parsial terhadap kualitas manusia karya. d. Uji t untuk budaya kerja (X4) Uji parsial menggunakan uji t untuk variabel (X4) diperoleh nilat t hitung= 2,893 sedangkan sig. = 0,005 < 0,05. artinya bila X1 ; X2 dan X3 dianggap konstan atau sama dengan 0, maka budaya kerja berpengaruh secara parsial terhadap kualitas manusia karya.

2. Pengujian hipotesis secara parsial


Dari persamaan matematis secara simultan di atas kemudian ditinjau secara parsial, sehingga dapat diuraikan sebagai berikut : a. Uji t untuk kepuasan karyawan (X1) Uji parsial menggunakan uji t untuk variabel (X1) diperoleh nilai t hitung= 2,054 sedangkan sig. = 0,045 < 0,05. Artinya bila X2 ; X3 dan X4 dianggap konstan atau sama dengan 0, maka kepuasan karyawan berpengaruh secara parsial terhadap kualitas manusia karya.

SIMPULAN
Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan dapat ditarik simpulan sebagai berikut : 1. Perspektif pertumbuhan dan pembelajaran Balanced Score Card dan

Isna Fitria Agustina, Uji Perspektif Pembelajaran & Pertumbuhan Balance Scorecard

161

budaya kerja mempunyai pengaruh secam bersama sama terhadap kualitas manusia karya di PT. Telkom Divre V Jatim. Hasilnya adalah tidak terbukti karena diperoleh perhitungan bahwa P= 0,000 < 0,05. Besarnya pengaruh yang ditimbulkan oleh kepuasan karyawan, retensi karyawan, produktivitas karyawan dan budaya kerja terhadap kualitas manusia karya adalah sebesar R2= 0,477 atau 47,70% berarti tidak mempunyai pengaruh yang bermakna. 2. Sedangkan koefesien determinasi sebesar 0,477 menunjukkan bahwa perubahan pada kualitas manusia karya dapat dijelaskan oleh kepuasan karyawan, retensi, produktivitas dan budaya kerja, sisanya sebesar 0,533% dipengaruhi oleh variabel lain yang tidak diikutkan dalam model penelitian ini. Sedangkan keeratan hubungan yang timbul dapat dilihat dari nilai koefesien korelasi multiple sebesar 0,690 artinya keeratan hubungan yang ditimbulkan oleh variabel variabel penelitian ini sebesar 69,00%.

BSC dalam berbagai kebijakan perlu dipertimbangkan lagi untuk ditingkatkan, karena dengan semakin karyawan dilibatkan dalam proses pembuatan kebijakan maka karyawan akan semakin memiliki rasa tanggung jawab dan mendorong mereka untuk mengembangkan dirinya sesuai dengan kebijakan yang dibuat bersama sama tersebut. 2) Retensi karyawan dalam konsep BSC perlu diminimalisasi, hal ini untuk menghindari kerancuan program kerja dan semangat kerja karyawan. Hal yang dapat dilakukan oleh manajemen puncak adalah dengan memberikan motivasi berupa insentif yang lebih memberikan rangsangan bagi karyawan untusrak tetap menjalankan tugasnya dengan baik. 3) Produktivitas karyawan dalam konsep BSC ditingkatkan dengan berbagai hal yaitu meningkatkan pemberian pengarahan moral serta keterampilan mereka, meningkatkan proses kerjasama yang kondusif sehingga suasana kerja saling koreksi yang dinamis dan konstruktif 4) Budaya kerja yang kondusif menciptakan peluang untuk karyawan berani dan selalu mengembangkan diri sesuai dengan tujuan organisasi.

SARAN
Dari hasil penelitian yang dilakukan ada beberapa saran yang perlu diipertimbangkan oleh manajemen PT. Telkom Divre V Jawa Timur, yakni: 1) Keterlibatan karyawan dalam konsep

162

KALAMSIASI, Vol. I, No. 2, September 2008, 151 - 162

DAFTAR PUSTAKA
Algifari, 2000, Analisis Regresi Teori, Kasus dan Solusi, Edisi Kedua, Cetakan Pertama, BPFE UGM, Yogyakarta. Amstrong, Michael. 1991. A Handbook of Personnel Management Practice, forth Edition, London : Kogan Page Limited. Arikunto, Suharsini, 1996. Prosedur Penelitian (Suatu Pendekatan Praktik). Jakarta : Bina Aksara. Asnawi, Sahlan. 1999. Aplikasi Psikologi dalam Manajemen Sumber Daya Manusia Perusahaan. Jakar ta: Pusgrafin. Gaspersz, Vincent, 2003. Sistem Manajemen Kinerja Terintegrasi Balanced Scorecard dengan Six Sigma untuk Organisasi Bisnis dan Pemerintah, Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama. Ghozali, Imam, 2002. Aplikasi Analisis Multivariate dengan Program SPSS, Semarang: Badan Penerbit Universitas Diponegoro. Hotstede, Greert, 1989, Culture and Organizational Softwere of the Mind. New York : Mc. Graw Hill. lchsan, Muhammad, dkk, 2004, Petunjuk Praktis Penyusunan Balanced Scorecard Menuju Organisasi yang Berfokus pada Strategi, Jakarta : PT. Gramedia Pustaka Utama. Martoyo, S. 1994. Manajemen Sumber Daya Manusia, Yogyakarta: BPFE. Mulyadi, 2001. Balanced Scorecard : Alat Manajemen Kontemporer untuk Pelipatganda Kinerja Keuangan Perusahaan, Jakarta : Penerbit Salemba Empat. Norton, David P & Kaplan, Robert S., ., 1996. Balanced Scorecard : Menerapkan Strategi Menjadi Aksi, Jakarta: Penerbit Erlangga.

Proceeding Temu Ilmiah I APIO. 2002 : Meretas Gagasan untuk Mengembangkan Kompetensi Individu & Daya Saing Organisasi di Indonesia. Tanggal 2 3 Agustus. Siagian, SP 1984. Pengembangan Sumber . Daya Insani, Jakarta : PT. Gunung Agung. Sjabadhyni, Bertina. Dkk (ed). 2001. Pengembangan Kualitas SDM dari Perspektif PIO. Jakarta: Bagian PIO Fakultas Psikologi UI. Steers, RM. 1985. Efektivitas Organisasi, terjemahan ed. 2, Jakarta: Erlangga. Sudijono, Anas. 1992. Pengantar Statistik Pendidikan, Cetakan Keempat, Jakarta CV. Rajawali. Sudjana. 1992. Metode Statistik, Ed. 5, Bandung: Tarsito Sumarsono. 2002. Metode Penelitian Akuntansi Beserta Contoh Interpretasi Hasil Pengolahan Data, Jakarta: Erlangga. Tjahjono, Kurnianto Heru., 2003, Budaya Organisasional Jan Balanced Scorecard, Dimensi Teori dan Praktek, Yokyakarta : Unit Fakultas Ekonomi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Tunggal, Amin. Widjaja, 2001. Pengukuran Kinerja dengan Balanced Scorecard, Jakarta: Harvarindo _________, 2002. Memahami Konsep Balanced Scorecard, Jakarta Harvarindo Turner, Charles Hampden., 1990. Corporate Culture From Virtuous Circles, Hutchinsin Business Books Limited, Random Centutry House, 20 Vauxhall Bridge Road, London SWIV 2SA. Ranupandojo, H. dan Husnan, S. 1995. Manajemen Personalia, Yogyakarta: BPFE.

MANAJEMEN SDM BERBASIS KOMPETENSI (MSDM-BK) UNTUK APARAT DI DALAM BIROKRASI

Jusuf Irianto
(Departemen Ilmu Administrasi FISIP Universitas Airlangga)

ABSTRACT The study is aimed at describing the development of Human Resources Officers in the context of bureaucratic development as the organization that provides public service. The explanation of the research is related with the quality of Human Resources Officers problems in performing the main functions and duties as the point of public service in Indonesia. The problems appear caused by the lack of Human Resources competencies in offering the service. In this case, the Human Resources Management using competency based (MSDMBK) becomes one of the alternative instruments in order to solve the problems. As a system, MSDM-BK covers the major problems of Human Resources utilization, especially the problems that related with recruitment and selection, staffing, and development and training. By applying MSDM-BK, it is hoped that the bureaucracy has evidently scheme in increasing the Human Resources Officers competencies. At the end, they are able to improve the officers quality in performing the public service. Key words: bureaucratic issues, Human Resources Officers quality, capacity, MSDM-BK

PENDAHULUAN
Manajemen Sumber Daya Manusia Berbasis Kompetensi (MSDM-BK) merupakan perkembangan format mutakhir dalam rangka utilisasi sumber daya manusia (SDM) oleh organisasi. Sama halnya dengan dengan sektor privat, sektor
163

publik juga tidak dapat melepaskan dirinya dari masalah-masalah yang berkaitan dengan efektifitas dan efisiensi utilisasi SDM aparatur. Terlebih lagi saat ini birokrasi sedang berusaha melakukan tranformasi atau reorientasi peran dengan lebih berpihak pada kepentingan publik.

164

KALAMSIASI, Vol. I, No. 2, September 2008, 163 - 174

Salah satu bentuk keberpihakan tersebut adalah dengan meningkatkan kualitas layanan sesuai dengan kebutuhan yang berkembang dalam kehidupan masyarakat. Tranformasi atau reorientasi birokrasi telah banyak didiskusikan para ahli. Munculnya pembahasan tersebut dilatarbelakangi oleh suatu realitas bahwa birokrasi akan senantiasa menghadapi lingkungan sosial yang secara terus menerus mengalami perubahan. Masyarakat menuntut peran birokrasi yang lebih lugas dan berorientasi pada pemenuhan kebutuhan publik (Boyne et al, 2004). Tuntutan tersebut mendorong birokrasi untuk lebih memiliki kadar kualitas yang lebih tinggi daripada masa-masa sebelumnya, lebih demokratis dalam upaya pelibatan dan pemberdayaan masyarakat, serta lebih bertanggungjawab (akuntabilitas) dalam menjalankan tugas pokok dan fungsinya yakni memberi pelayanan publik (Ospina et al, 2004 ). Dalam konteks yang demikian inilah, birokrasi harus memiliki tekad kuat untuk bersedia melakukan transformasi diri secara total (Holloway et al, 1999) melalui perbaikan kinerja organisasional dengan disertai oleh peningkatan kreatifitas dan inovasi individu menuju pada peningkatan kapasitas kelembagaan secara berkelanjutan (Farazmand, 2004) Fakta menunjukkan bahwa tuntutan

ideal birokrasi tersebut belum sepenuhnya dapat diwujudkan. Dengan belajar dari negara lain dapat dipetik suatu hikmah betapa sulitnya mengubah sosok birokrasi yang rigid, inflexibility, inefisien dan inefektif serta rendahnya outcomes menjadi lebih baik sebagaimana pernah diteliti di Australia oleh Parker & Bradley (2000). Fenomena ambivalensi birokrasi tersebut tampaknya juga dapat dilihat di Indonesia. Bahkan hingga saat ini masyarakat masih berada pada tahap merindukan tentang adanya sosok birokrasi Indonesia ideal yang efektif, enabling, serta selalu responsif dan mampu mengakomodir semua tuntutan masyarakat secara efisien. Stigma yang masih melekat pada birokrasi Indonesia adalah adanya anggapan masyarakat bahwa untuk berurusan dengan aparat harus mengeluarkan biaya tinggi, butuh waktu lama untuk penyelesaian suatu urusan, berbelitnya prosedur, serta aparat yang tidak berkompeten dan dengan tingkat kapasitas yang tidak memadai. Ujung jalan perbaikan birokrasi Indonesia yang harus ditempuh tampaknya memang masih terlampau panjang untuk segera dapat dicapai. Sementara itu harus disadari pula bahwa ternyata ada fakta lain yang menyiratkan adanya suatu optimisme untuk sesegera mungkin mewujudkan kondisi birokrasi Indonesia yang lebih baik dengan

Jusuf Irianto, Manajemen SDM Berbasis Kompetensi untuk Aparat Birokrasicard

165

mempelajari pengalaman bangsa-bangsa lain. Sebagai negara yang meng-alami pertumbuhan ekonomi yang sangat mengesankan, China misalnya, kini dapat membanggakan birokrasi dan aparat yang dimilikinya karena mereka telah mengalami transformasi birokrasi yang lebih public service-oriented (Knox & Qun, 2007) meskipun harus diakui bahwa masih tersisa sejumlah masalah klasik khususnya berupa tindak korupsi yang dilakukan oleh sebagian aparatnya. Namun demikian pemerintah China memiliki cukup kekuatan dan konsistensi untuk menindak dan menghukum pelaku korupsi serta mempelajari akar kejahatan korupsi dari berbagai perspektif termasuk perspektif organisasional (Luo, 2004). Tidak hanya di China, reorientasi dan perbaikan birokrasi terus berlangsung di belahan dunia lain yang merentang dari Eropa (Hegewisch & Larsen, 1996), hingga Malaysia (Ahmad, 2004) sampai Australia (Guthrie & English, 1997). Para ahli telah berusaha menemukan cara yang paling relevan untuk mendukung reorientasi birokrasi. Cara tersebut adalah dengan melihat interseksi antar komponen dalam organisasi terutama berkaitan dengan manajemen dan sumber daya manusia (SDM). Pokok persoalan memang terfokuskan pada adanya interseksi hubungan antara kedua komponen

organisasional tersebut yakni pengembangan SDM. Dalam konteks yang demikian ini Manajemen Sumber Daya Manusia Berbasis Kompetensi (MSDMBK) merupakan salah satu instrumen alternatif yang diyakini dapat mengatasi masalah kualitas SDM Aparatur. Sebagai suatu sistem, MSDM-BK mencakup persoalan-persoalan utama utilisasi SDM khususnya berkaitan dengan rekrutmen dan seleksi, penempatan jabatan, serta pelatihan dan pengembangan. Dengan MSDM-BK diharapkan birokrasi memiliki skema yang jelas dalam mengembangkan kompetensi SDM Aparatur sehingga dapat meningkatkan kulitas aparat dalam memberi layanan publik. Tulisan ini bertujuan untuk mengulas kualitas aparat, konsep peningkatan kapasitas yang dibutuhkan oleh aparat dalam rangka melakukan tugas-tugasnya sebagai abdi masyarakat. Uraian akan dilanjutkan transformasi dalam MSDM dari bentuk tradisional ke MSDM-BK sebelum diakhiri dengan kesimpulan.

KUALITAS SDM DALAM PELAYANAN


Gambaran tentang kualitas SDM sebagai aparat birokrasi dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat tampak bagai sebuah potret yang sangat buram. Sudah dapat dimaklumi kalau selama ini

166

KALAMSIASI, Vol. I, No. 2, September 2008, 163 - 174

masyarakat masih belum cukup puas mendapat layanan masyarakat. Berbagai keluhan masyarakat yang dipublikasikan oleh hampir seluruh media massa di Indonesia menunjukkan suatu realitas bahwa dalam melayani kebutuhan dan kepentingan masyarakat, aparat biurokrasi tidak memiliki kualitas yang memadai. Keluhan masyarakat tersebut dapat diidentifikasi mulai dari awal pelayanan sampai hasil yang diperoleh masyarakat dari layanan tersebut. Di awal pelayanan, masyarakat belum sepenuhnya dapat memahami prosedur layanan secara transparan dan cenderung berbelit. Pada saat masyarakat memperoleh layanan, keluhan muncul berupa waktu tunggu yang sangat lama serta adanya biaya tambahan yang tidak diduga sebelumnya. Ketika harus memperoleh hasil layanan, masyarakat tetap menunjukkan keluhan berupa hasil yang tidak cukup memuaskan untuk dapat dinikmati secara normal. Keluhankeluhan tersebut muncul dalam spektrum layanan publik mulai dari pendidikan, kesehatan, hingga ekonomi dalam bentuk pelayanan perijinan. Hasil akhir kinerja birokrasi dengan kualitas aparat yang rendah tentu sudah dapat diprediksikan yakni munculnya ketidakpuasan masyarakat dengan intensitas yang sangat tinggi. Jika masalah kualitas aparat tidak diatasi, maka bukan tidak

mungkin bangsa Indonesia akan semakin mengalami kemunduran. Aparat yang tidak berkualitas cenderung menjadi bagian kritis dalam pelayanan publik oleh birokrasi dengan melihat sejumlah fakta bahwa akahirnya Indonesia bukanlah tempat yang nyaman dan mudah untuk melakukan suatu usaha perekonomian (Kompas, 27/9/07), korupsi masih menjadi rutinitas yang menunjukkan rendahnya akuntabilitas pemerintah terhadap masyarakat yang dilayani (Kompas, 27/9/07). Reorientasi birokrasi memerlukan niat baik pemerintah untuk terus berupaya melakukan perubahan bentuk organisasi yang lebih baik tidak hanya secara politis namun juga secara teknis. Ikhtiar tersebut memang sudah dilakukan rintisan dengan mengajukan Rancangan Undang-undang (RUU) Administrasi Pemerintahan serta skema lainnya. Secara teknis, reformasi birokrasi harus mengedepankan nilai-nilai meritokrasi dalam menilai kinerja dan profesionalisme aparatur. Fenomena ini menyiratkan sebuah pesan bahwa tanpa reformasi kepegawaian, reformasi birokrasi akan kehilangan maknanya. Dengan reformasi kepegawaian akan tercipta birokrasi yang bersih dan berwibawa (Prasojo, Kompas, 17/10/07). Esensi reformasi kepegawaian mencakup persoalan tentang jangkauan tugas yang menuntut kebutuhan kapasitas tertentu yang harus

Jusuf Irianto, Manajemen SDM Berbasis Kompetensi untuk Aparat Birokrasicard

167

dimiliki aparat dalam menjalankan tugastugasnya.

dikelompokkan ke dalam 5 (lima) dimensi kapasitas (Broussine, 2000) yaitu: 1. Kapasitas untuk bekerja dalam dimensi politik 2. Kapasitas untuk dapat memimpin/mengarahkan, mengubah, dan mengembangkan organisasi 3. Kapasitas untuk memelihara perspektif personal dan self-knowledge 4. Kapasitas untuk mengembangan hubungan eksternal secara efektif 5. Kapasitas untuk tetap fokus pada isuisu strategis dan kepentingan jangka panjang Kapasitas yang dibutuhkan aparat untuk dapat bekerja secara efektif dalam dimensi politik menuntut adanya: (a) Kemampuan untuk dapat bekerja pada batas-batas yang melampaui aspek manajemen/administrasi dan politik. (b) Kemampuan untuk membangun strategi aliansi dengan semua kelompok kepentingan. (c) Kemampuan untuk menjaga hubungan yang efektif dengan semua anggota legislatif. (d) Kemampuan untuk membangun hubungan dan menjaga saling kepercayaan (trust). (e) Kemampuan berfokus pada masalah-masalah politik dan pemecahannya baik secara formal maupun informasi dengan semua anggota legistlatif dan kelompok kepentingan. Kapasitas untuk memimpin/meng-

JANGKAUAN TUGAS DAN KAPASITAS YANG DIBUTUHKAN APARAT


Birokrasi dan aparat memiliki jangkauan tugas (tasks scope) yang sangat luas. Aparat tidak hanya dituntut untuk menguasai masalah-masalah yang bersifat teknis, namun juga aktivitas yang bernilai taktis dan strategis. Peningkatan kapasitas merupakan pusat dari semua keberhasilan tugas aparat secara efektif (the effective exercise). Isu-isu yang dihadapi aparat selain berkaitan dengan dinamika internal juga dinamika eksternal. Dimensi internal meliputi persoalan-persoalan keorganisasian, pelaksanaan tugas, interaksi antar individu, serta identifikasi arah masa depan organisasi melalui keputusankeputusan strategis dan isu-isu jangka panjang. Sementara dari dinamika eksternal, isu yang paling menonjol terletak pada dimensi politik khususnya menjaga keseimbangan dengan legislatif dan kelompokkelompok kepentingan yang ada di dalam kehidupan masyarakat. Dengan memperhatikan jangkauan tugas birokrasi, kapasitas yang dibutuhkan aparat dalam melaksanakan tugas-tugas pokok dan fungsinya secara efektif dapat

168

KALAMSIASI, Vol. I, No. 2, September 2008, 163 - 174

arahkan, melakukan perubahan, dan mengembangkan organisasi yang dibutuhkan aparat menuntut adanya: (a) Konsistensi terhadap semua kesepakatan bersama dalam bentuk visi, misi, keinginan, tujuan, values, dan aspek-aspek yang diyakini sebagai suatu kebenaran. (b) Kemampuan untuk bekerja dalam situasi ketidakpastian (uncertainty), ambiguitas, dan perubahan yang tidak dapat dihindari. (c) Kemampuan mengembangkan appropriate power relationships dengan semua pimpinan, staf dan anggota organisasi lainnya. Kapasitas yang dibutuhkan untuk menjaga perspektif personal dan selfknowledge: (a) Memelihara self-knowledge (b) Memelihara keyakinan diri [self-belief/ faith], (c) Mengembangkan personal resilience. Kapasitas untuk mengembangan hubungan eksternal secara efektif: (a) Menjadi pelopor (kampiun) dalam setiap perubahan yang terjadi dalam masyarakat (b) Mampu bekerja dengan semua stakeholders. Kapasitas untuk tetap fokus pada isuisu strategis dan berdimensi jangka panjang: (a) Mampu mengembangkan cara pan-dang yang visioner dan bernilai strategis, (b) Mampu membangun kesadaran bagi upaya peningkatan kapasitas strategis organisasi

Dari lima jenis peningkatan kapasitas aparat tersebut, kapasitas untuk dapat bekerja dalam dimensi politik merupakan jenis yang paling menantang dan menjadi masalah bagi aparat. Hal ini dapat terjadi karena semua kelompok dalam masyarakat memiliki kepentingan yang berbeda. Dalam situasi seperti ini, birokrasi dan aparat harus mampu berperan untuk menjadi penyeimbang bagi setiap adanya konflik kepentingan. Bekerja dalam dimensi politik menuntut adanya energi, kemampuan, kesamaptaan, serta harus mengerahkan pikiran untuk mengatasi isu-isu yang bersifat paradoks (saling bertentangan), ambiguitas (artikulasi harapan masyarakat yang maknanya bersayap/mendua), serta munculnya resiko yang harus ditanggung aparat dalam setiap keputusan yang diambil. Dimensi politik juga acapkali bersifat dilematis dan kompleks dimana aparat menjadi tumpuan dalam setiap pemecahan masalah. Kapasitas yang dibutuhkan untuk berperan sebagai mediator dan fasilitator acapkali membutuhkan kekuatan (power) dan kemampuan serta karakter yang signifikan. Strong political control menjadi key performane indicator bagi penilaian prestasi aparat dalam dimensi politik.

Jusuf Irianto, Manajemen SDM Berbasis Kompetensi untuk Aparat Birokrasicard

169

TRANSFORMASI MANAJEMEN SDM


Salah satu penanda penting dalam era perubahan lingkungan seperti saat ini adalah munculnya kegiatan berbasis pengetahuan. Di bidang ekonomi misalnya, muncul suatu istilah yang disebut sebagai ekonomi berbasis pengetahuan atau knowledge economy. Dalam ekonomi berbasis pengetahuan semua pihak dituntut untuk dapat melakukan updating pengetahuan agar dapat melakukan adaptasi sebagai respon terhadap tuntutan perubahan. Dengan pengetahuan yang out of date, seseorang tidak akan dapat secara efektif menyesuaikan diri dengan perubahan sehingga potensi kinerja tidak dapat diaktualisasikan secara optimal. Fenomena ekonomi berbasis pengetahuan mengirim sinyal secara khusus kepada manajemen SDM untuk melakukan transformasi. Perubahan diperlukan karena dalam knowledge economy telah hadir sejumlah tantangan baru, peran baru, serta tuntutan kapabilitas baru yang harus dihadapi (Lengnick-Hall & Lengnick-Hall, 2003) untuk mencapai efektifitas dan efisiensi kinerja utilisasi SDM. Manajemen Sumber Daya Manusia (MSDM) sektor publik secara tradisional memainkan peran yang sangat strategis. Namun hendaknya disadari bahwa MSDM yang diaplikasikan untuk kepentingan

pemerintah cenderung bersifat teknis (Condrey, 1998) dengan spektrum fungsional mulai dari perencanaan sampai dengan terminasi dengan sedikit mengidentifikasi sejumlah faktor perubahan lingkungan eksternal dan internal sebagai determinan MSDM. Faktor-faktor determinan tersebut diantaranya adalah etika, pertimbangan hukum, serta globalisasi dan terdiversifikasikannya SDM dalam organisasi (Mondy & Noe, 2005). Model tradisional dalam MSDM memang hingga saat ini masih diperlukan untuk mengatasi masalah-masalah teknis dalam utilisasi SDM, namun belumlah dapat mencukupi (insufficient) untuk mengatasi masalah-masalah yang berkembang saat ini. MSDM tradisional belum cukup mampu untuk mendukung terwujudnya kapasitas aparat sesuai jangkauan tugas pokok dan fungsinya. Menurut Cakar et al (2003) MSDM haruslah dipandang dari suatu pendekatan proses bisnis agar semua pemangku kepentingan (stakeholders) baik internal maupun eksternal dapat dilayani secara memuaskan. Nilai kecukupan MSDM dalam rangka utilisasi SDM untuk menghadapi permasalahan mutakhir haruslah menempatkan kompetensi atau kapasitas individu sebagai fokus utama. Dalam situasi yang demikian inilah MSDM Berbasis Kompetensi (MSDM-BK) menjadi penting untuk dikedepankan.

170

KALAMSIASI, Vol. I, No. 2, September 2008, 163 - 174

MSDM-BK: PENGANTAR SINGKAT


MSDM-BK merupakan penggunaan sejumlah kompetensi untuk mengelola SDM dalam rangka mencapai kinerja superior dan hasil optimal yang relevan dengan kebutuhan. Titik tekan MSDM-BK terletak pada identifikasi terhadap keterkaitan antara kinerja yang diharapkan dengan hasil yang diperoleh organisasi serta memetakan strategi organisasi ke dalam serangkaian metode dan teknik pelaksanaan pekerjaan ke dalam tugas dan fungsi pegawai. Dengan pengertian yang demikian ini, MSDM-BK juga bermakna sebagai instrumen untuk memberikan pegawai suatu pendekatan proses sistematis untuk memperluas dan menggunakan kapasitasnya secara optimal. Istilah kompetensi dalam MSDMBK merujuk pada kombinasi pengetahuan (knowledge), ketrampilan (skills), perilaku (behaviors) dan sikap (attitudes) yang berperan dalam meningkatkan kinerja individu secara efektif. Dalam menjalankan tugas dan pekerjaannya, individu menghadapi sejumlah beberapa faktor yang mempengaruhi keberhasilan pencapaian kinerja. Kinerja individu secara teoritis setidaknya dipengaruhi oleh 5 (lima) faktor (Mwita, 2000) yaitu personal factor, leadership factor, team factor, organizational system factor, dan situational factor.

Faktor personal yang mempengaruhi kinerja berasal dari dalam individu yakni sifat-sifat yang melekat secara lahiriah seperti kekuatan fisik serta tambahan atribut lain misalnya pendidikan, pelatihan, pengalaman dan sebagainya. Adapun faktor kepemimpinan mengarah pada gaya kepemimpinan tertentu yang relevan dengan entitas organisasi. Kerjasama dan koordinasi merupakan beberapa contoh dimana faktor kelompok (team) dalam pelaksanaan pekerjaan dapat mempengaruhi kinerja seorang individu. Sedangkan faktor sistem keorganisasian yang mempengaruhi kinerja individu diantaranya adalah sistem penghargaan (rewarding) serta kejelasan jalur karir dalam organisasi. Faktor kelima, yakni, faktor situasional merupakan sejumlah determinan yang bersifat unpredictable, dimana organisasi atau individu mengalami kesulitan untuk dapat mengidentifikasikan serta mengantisipasinya. Kebijakan pemerintah, perubahan lingkungan, serta berkembangnya teknologi merupakan sejumlah contoh dalam faktor situasional (x factors) yang mempengaruhi kinerja individu. Dengan melihat banyaknya faktor yang mempengaruhi individu, MSDM-BK mengakomodir beberapa kompetensi manajerial (managerial competencies) yang oleh Slocum Jr. et al (2008) dikelom-

Jusuf Irianto, Manajemen SDM Berbasis Kompetensi untuk Aparat Birokrasicard

171

pokkan menjadi 6 (enam) kompetensi manajerial utama yaitu: komunikasi, perencanaan dan administrasi, teamwork, kegiatan strategis (strategic action), multikultutral, dan self-management. Kompetensi komunikasi (communication competency) meliputi kemampuan individu untuk dapat melakukan prosesproses penyampaian informasi baik secara informal (informal communication) maupun secara formal (formal communication) serta ditunjang dengan kemampuan negosiasi dengan semakin banyaknya pemangku kepentingan yang terlibat. Sementara kompetensi manajerial dalam bentuk kompetensi perencanaan dan administrasi (planning and administration competency) meliputi kemampuan individu untuk dapat mengelola informasi sebagai bahan dalam pengambilan keputusan, merencanakan dan mengorganisasikan kegiatan, time management, serta kemampuan penganggaran dan manajemen keuangan. Kompetensi manajerial ketiga adalah kerja tim (teamwork competency) yakni mencakup kemampuan individu untuk membuat perancangan tim, menciptakan lingkungan kerja yang dinamis dan suportif, serta mampu mengelola dinamika yang berkembang dalam tim. Selanjutnya adalah kompetensi tindakan strategis (strategic competency) merujuk pada

kemampuan individu untuk dapat memahami situasi lingkungan yang berkembang, memahami situasi organisasi, serta melakukan tindakan strategis bagi kepentingan organisasi dan semua stakeholders. Adapun kompetensi manajerial kelima yakni kompetensi multikultural (multicultural competency) meliputi sejumlah kemampuan individu untuk menguasai dan menerapkan pengetahuan dan pemahaman terhadap masalah-masalah budaya serta keterbukaan dan kepekaan terhadap aspek-aspek budaya. Sedangkan kompetensi keenam adalah kompetensi manajemen diri (self-management competency) meliputi kemampuan individu untuk melakukan semua tugas dengan penuh integritas dan menjunjung etika, ketangguhan diri, menyeimbangkan pekerjaan dan kehidupan sosial, serta pengembangan dan kesadaran terhadap posisi diri dalam pekerjaan. Ke-enam kompetensi manajerial inti tersebut bersifat terintegrasi (integrated) yang diyakini dapat mendukung penge-lolaan organisasi dan SDM secara efektif. Interaksi ke-enam kompetensi manajerial dalam fungsi yang terintegrasi sehingga dapat mendorong efektifitas manajemen digambarkan oleh Slocum Jr. et al (2008) sebagaimana dapat dilihat pada Gambar 1. MSDM-BK yang mengakomodasikan enam kompetensi manajerial tersebut

172

KALAMSIASI, Vol. I, No. 2, September 2008, 163 - 174

relevan dengan kebutuhan kapasitas aparat yang harus dipenuhi untuk dapat menjangkau tugas-tugas dan pekerjaannya dengan spektrum atau cakupan yang sangat luas. Dengan mengingat kembali bahwa kapasitas yang dibutuhkan aparat berupa kapasitas untuk bekerja dalam dimensi politik; kapasitas untuk dapat memimpin/mengarahkan, mengubah, dan mengembangkan organisasi; kapasitas untuk memelihara perspektif personal dan self-knowledge; kapasitas untuk mengembangan hubungan eksternal secara efektif; serta kapasitas untuk tetap fokus pada isuisu strategis dan kepentingan jangka panjang maka dapat dikembangkan model MSDM-BK dan kapasitas individu seperti dapat dilihat pada Gambar 2.

kebutuhan masyarakat akan kehilangan maknanya jika tanpa disertai dengan reformasi kepegawaian. Reformasi kepegawaian akan dapat meningkatkan citra bersih dan figur birokrasi yang berwibawa karena didukung oleh aparat yang memiliki kapasitas memadai. Kapasitas aparat sangat dibutuhkan karena jangkauan tugastugas yang diembannya mencakup spektrum yang sangat luas. MSDM tradisional sebagai instrumen utilisasi SDM belumlah mencukupi syarat untuk dapat membentuk dan mengembangkan aparat yang sesuai dengan tuntutan kebutuhan kapasitas. MSDM-BK sebagai metamorfosis MSDM tradisional mengandung unsur-unsur kunci kompetensi manajerial yang diyakini dapat mengakomodir semua kapasitas yang

SIMPULAN
Reorientasi birokrasi yang mengedepankan pada pelayanan dan pemenuhan

dibutuhkan aparat dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsinya sebagai pelayan masyarakat.

Jusuf Irianto, Manajemen SDM Berbasis Kompetensi untuk Aparat Birokrasicard

173

DAFTAR PUSTAKA
Ahmad, R., 2004. Performance appraisal decision in Malaysian public service. The International Journal of Public Sector Management. 17(1): 48-64. Boyne, G., Martin, S., & Walker, R., 2004. Explicit reforms, implicit theories and public service improvement. Public Management Review. 6(2): 189-210. Broussine, M., 2000. The capacities needed by local authority chief executives. The International Journal of Public Sector Management. 13(6): 498-507. Cakar, F., Bititci, U.S., & MacBryde, J., 2003. A business process approach to human resource management. Business Process Management Journal. 9(2): 190-207.

Condrey, S.E. (ed.), 1998. Handbook of Human Resource Management in Government. San Fransisco, JosseyBass Publishers. Farazmand, A., 2004. Innovation in strategic human resource management: building capacity in the age of globalization. Public Organization Review: A Global Journal. 4: 3-24. Guthrie, J., & English, L., 1997. Performance information and programme evaluation in Australian public sector. International Journal of Public Sector Management. 10(3): 154-164. Hegewisch, A., & Larsen, H.H., 1996. Performance management, decentralization and management development: local govenrment in Europe. Journal of Management Development. 15(2): 6-23.

174

KALAMSIASI, Vol. I, No. 2, September 2008, 163 - 174

Holloway, J., Francis, G., & Hinton, M., 1999. A vehicle for change? A case study of performance improvement in the new public sector. The International Journal of Public Sector Management. 12(4): 351-365. Knox, C., & Qun, Z., 2007. Building public service-oriented government in China. International Journal of Public Sector Management. 20(5): 449-464. Luo, Y., 2004. An organizational perspective of corruption. Management and Organization Review. 1(1): 119-154. Mondy, R.W., & Noe, R.M., 2005. Human Resource Management (9th ed.). New Jersey. Pearson Education Inc. Mwita, J.I., 2000. Performance management model: a systemsbased approach to public service quality. The International Journal of Public Sector Management. 13(1): 19-37.

Ospina, S., Grau, N.C., & Zaltsman, A., 2004. Performance evaluation, public management improvement and democratic accountability: some lessons from Latin America. Public Management Review. 6(2): 229-251. Parker, R., & Bradley, L., 2000. Organizational culture in the public sector: evidence from six organizations. The International Journal of Public Sector Management. 13(2): 125-141. Prasojo, E., Politik Reformasi Birokrasi, Kompas, 17/10/07 Slocum Jr., J.W., Jackson, S.E., & Hellriegel, D., (2008). Competencybased management. Mason-Ohio, Thomson Higher Education. Kemudahan Usaha: Indonesia masih tertinggal, Kompas, 27/9/2007 Peringkat Korupsi: Indonesia di posisi 143 dari 180 negara, Kompas, 27/9/2007

IMPLEMENTASI PROGRAM PEMBANGUNAN DESA PARTISIPATIF DI KELURAHAN MINDI KECAMATAN PORONG KABUPATEN SIDOARJO

Andik Afandi* & Dessy Dellina**


(*Dosen Ilmu Administrasi Negara FISIP-UMSIDA, **Alumnus Ilmu Administrasi Negara FISIP-UMSIDA, Jln. Mojopahit No. 666 B Sidoarjo, Telp. 031-8945444, Fax. 0318949333)

ABSTRACT This descriptive-qualitative study on the implementation of participative village development program policy in kelurahan Mindi Kecamatan Porong Kabupaten Sidoarjo shows that this policy design, that has been made and applied since 2002, is successfully implemented in field. This program involves all the stakeholders and its responsive toward the need of the society. Therefore, it has high acceptability. Furthermore, with transparent fund management, it also shows high accountability. High participation and enthusiasm of the society and develop the self fulfilling which is the heart of the idea of decentralization and autonomy. It the success of program policy implementation in Mindi is the typical results in every other village in Sidoarjo, physical infrastructure development is worth being followed up and develop; however we have to continuously monitor the usage impacts and the reserve of the results. The further development involves the quality and variety of the activities can be granted based on the needs and available capacities. Moreover, the broader result can be achieved when the development of the villages is more integrated with the regional development in every way. Keywords: participative developmental, (block) grant.

PENDAHULUAN
Sistem pemerintahan Indonesia pada perkembangan mutakhirnya menganut pola desentralisitis. Pada Undang-undang nomor 22 tahun 1999 (UU 22/1999) tentang Pemerintahan Daerah menentukan
175

hanya 6 bidang urusan pemerintahan, yaitu: (1) politik luar negeri; (2) pertahanan dan keamanan; (3) yustisi; (4) moneter dan fiskal nasional; dan (6) agama, yang menjadi kewenangan pemerintah pusat dan sisanya ditentukan sendiri oleh daerah.

176

KALAMSIASI, Vol. I, No. 2, September 2008, 175 - 188

Dalam revisinya, UU 32/2004 menyebutkan bahwa kewenangan yang dipegang oleh pemerintah pusat adalah kewenangan yang bersifat nasional, sedangkan kewenangan yang diserahkan pada daerah adalah kewenangan lokalitas. Ditentukan dengan jelas kewenangan pemerintah pusat dan menyerahkan sisanya pada daerah yang diklasifikasikan atas kewenangan wajib yang dan kewenangan pilihan yang diserahkan pada masingmasing daerah sesuai dengan kondisi riil daerahnya. Maka pemerintah pusat tidak lagi mencampuri urusan daerah, namun hanya memberi pedoman, arahan, bimbingan serta pengendalian agar penyelenggaraan otonomi tetap berada pada koridor peraturan perundang-undangan yang telah ditetapkan sebelumnya. Kewenangan pemerintah memang sedikit tetapi mendasar, sedangkan kewenangan daerah lebih besar. Sesuai dengan UU 32/2004 pemerintah daerah menganut asas dekonsentrasi sekaligus desentralisasi. Berdasarkan asas desentralisasi, maka propinsi menjadi daerah otonom. Daerah otonom adalah daerah yang diberi kewenangan untuk mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri. Dan pembangunan daerah adalah pembangunan yang dibiayai oleh dana dari pemerintah pusat, pemerintah daerah, swasta serta masyarakat, dengan rambu-rambu UU 32/

2004 tentang Pemerintahan Daerah dan UU 33/2004 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Daerah serta ketentuan-ketentuan lain yang terkait. Pelaksanaan program pembangunan harus memperhatikan lingkungan dan kebutuhan lokal, agar relevan dalam lingkungan yang berubah, terutama terkait dengan permasalahan kemasyarakatan. Selain itu keberhasilan pembangunan memerlukan dana yang cukup pada tiap tingkatan. Pada pemerintahan desa terdapat anggaran yang merupakan rencana kerja yang dituangkan dalam rencana keuangan, yang meliput program pembangunan yang berbeda-beda, sesuai dengan kebutuhan sesuatu desa. Maka kebutuhan anggarannya pun berbedabeda, yang berasal dari berbagai sumber. Terdapat kecenderungan berupa kebutuhan dan tuntutan masyarakat yang semakin besar dan beraneka ragam, berhadapan dengan sumber daya yang terbatas sehingga perlu disusun kebijakan dan prioritas yang bisa mengakomodasi kebutuhan dan tuntutan masyarakat tersebut. Pembangunan partisipatif menjadi rujukan utama dalam upaya mencapai pembangunan berkelanjutan dan percepatan pencapaian tujuan pembangunan daerah (dan desa), yang ditandai dengan adanya dukungan dari masyarakat sebagai

Andik Afandi, Implementasi Program Pembangian Desa Partisipatif

177

wujud rasa bertanggungjawab dan dapat memanfaatkan serta rasa memiliki dalam masyarakat. Pembangunan partisipatif merupakan pembangunan yang bertumpu pada masyarakat dengan melibatkan peran masyarakat dalam setiap proses tahapan pembangunan guna mewujudkan kesejahteraan masyarakat. Didasari dengan pemikiran perlunya pembangunan partisipatif hingga di tingkat desa itulah, maka di kabupaten Sidoarjo dilansir suatu skema program pembangunan partisipatif yang dikenal dengan sebutan program Block Grant yang dimaksudkan untuk menggali dan memancing partisipasi masyarakat dalam pembangunan. Dalam skema tersebut, dana Block Grant desa atau kelurahan diberikan secara langsung kepada desa atau kelurahan yang besarnya disesuaikan dengan kriteria yang ada, dengan arahan penggunaan untuk pembangunan dan pemeliharaan sarana dan prasarana seperti pembuatan jalan lingkungan, saluran drainase, pasar desa atau kelurahan, sesuai dengan kebutuhannya. Semenjak timbulnya bencana luapan lumpur Lapindo pada bulan Mei 2006 yang melanda sebagian wilayah kecamatan Porong kabupaten Sidoarjo, telah banyak desa yang tergenang lumpur yang salah satunya adalah Kelurahan Mindi Kecamatan Porong. Namun demikian

tidak keseluruhan wilayah Kelurahan Mindi tergenang lumpur, sehingga kelurahan tersebut masih menerima dana Block Grant. Dalam kondisi yang demikian, menjadi menarik untuk menyimak lebih jauh, bagaimanakah pelaksanaan dan implementasi program pembangunan partisipatif berupa dana Block Grant di Kelurahan Mindi Kecamatan Porong Kabupaten Sidoarjo?

KERANGKA KEBIJAKAN
Kebijaksanaan atau kebijakan merupakan proses politik dan administrasi (Grindle, 1980: 11 dalam Wahab, 1990: 12). Pembangunan partisipatif (block grant) merupakan salah satu kebijakan pemerintah kabupaten Sidoarjo yang bartumpu pada masyarakat dengan melibatkan sebesar mungkin peran masyarakat mulai dari perencanaan, pelaksanaan, pembiayaan, hingga monitoring dan pembiayaannya. Kebijakan tersebut dibuat utuk mengakomodasi berbagai kebutuhan dan tuntutan masyarakat yang semakin besar dan beraneka ragam, semantara sumberdayanya terbatas baik secara kualitas maupaun secara kuantitas. Asumsinya adalah, bahwa masyarakat sebagai pelaku utama dalam proses perencanaan pembangunan adalah pihak yang paling mengetahui kebutuhan di lingkungannya, khususnya yang bersifat fisik.

178

KALAMSIASI, Vol. I, No. 2, September 2008, 175 - 188

Pembangunan pada hakikatnya merupa-kan suatu proses dinamis yang senantiasa berkembang terus dalam menjawab kebutuhan serta kondisi perkembangan zaman begitu pula dengan konsep-konsep dan gagasan-gagasan yang makin disem-purnakan. Hal ini senada dengan makna pembangunan sebagai suatu usaha atau rangkaian usaha pertumbuhan dan perubahan yang beraneka yang dilakukan secara sadar oleh suatu bangsa dan Negara dan pemerintah menuju modernitas dalam rangka pembinaan bangsa (Siagian, 1985: 20). Dalam pada itu, Inayatullah (1967) memberikan pengertian pembangunan adalah perubahan menuju pola kemanusiaan yang memungkinkan suatu masyarakat, mempunyai kontrol yang lebih besar terhadap lingkungan dan ter-hadap tujuan politiknya dan memungkinkan warganya memperoleh kontrol yang lebih terhadap diri mereka sendiri. Dalam proses pembangunan terdapat target-target yang tertuang dalam program pembangunan. Targettarget pembangunan dibuat sesuai dengan kebutuhan dan disesuaikan antara waktu, anggaran, kebutuhan, dan lain-lain, yang mendukung kelancaran pembangunan. Pembangunan desa, di mana Desa atau nama lainnya yang setingkat merupakan kesatuan masyarakat hukum berdasarkan susunan suatu badan hukum

atau pula badan pemerintah yang merupakan bagian wilayah kecamatan yang melingkupinya; dengan demikian, menjadi penting sebagai upaya mewujudkan pembangunan yang merata, sehingga dapat dinyatakan bahwa pembangunan bisa dikatakan berhasil jika dapat membangun hingga ke (semua) pelosok desa. Untuk itu maka pembangunan partisipatif di tingkat desa sebagai kebijakan pemerintah Kabupaten Sidoarjo memberikan pengertian bahwa ia adalah pembangunan yang bertumpu kepada masyarakat dengan melibatkan sebesar mungkin peran masyarakat mulai dari perencanaan, pelaksanaan, pembiayaan hingga monitoring dan perkembangannya. (Pedoman Bantuan Pelaksanaan Pembangunan Partisipatif Kabupaten Sidoarjo 2002: 1). Dengan skema pembangunan partisipatif yang melibatkan masyarakat secara aktif dalam berbagai tahapan pembangunan, peran masyarakat benar-benar menjalankan perannya dalam upaya pembangunan Desa maka diharapkan peluang keberhasilan pembangunan Desa (dan Daerah) akan menjadi lebih besar. Pendekatan pembangunan partisipatif ini dimulai dengan keikutsertaan masyarakat sebagai pelaku utama pembangunan (stakeholders) dalam proses pelaksanaan pembangunan, yang didukung dengan pengalokasian sejumlah

Andik Afandi, Implementasi Program Pembangian Desa Partisipatif

179

dana (Block Grant) dengan prinsip pengelolaan merespon pengajuan proposal hibah dari pemohon (responsive); dengan prinsip penyelenggaraan: (1) pemilihan kegiatan, perencanaan anggaran hingga pelaksana kegiatan berdasarkan musyawarah dan beroleh dukungan masyarakat (acceptable); (2) penyelenggaraan kegiatan dilakukan bersama masyarakat secara terbuka (transparent); (3) penyelenggaraan kegiatan harus dapat dipertanggungjawabkan (accountable), tepat sasaran, tepat waktu, tepat pembiayaan, dan tepat mutu pekerjaan; (4) penyaluran dana Block Grant secara cepat dan langsung (quick disbursement); dan (5) hasil penyelengaraan kegiatan dapat dimanfaatkan, dilestarikan, dan dikembangkan oleh masyarakat sendiri (sustainability). Adapun pendekatannya adalah pendekatan pemberdayaan dan partisipasi masyarakat, yakni melalui: (1) otonomi dan desentralisasi, yang mana masyarakat memperoleh kepercayaan dan kesempatan yang luas dalam kegiatan pembangunan; (2) keswadayaan, yakni masyarakat menjadi faktor utama dalam menggerakkan kegiatan pembangunan partisipatif dan menentukan tingkat keberhasilannya; (3) keterpaduan pembangunan, yakni kegiatan yang dilaksanakan memiliki sinergi dengan kegiatan pembangunan yang lain (Pedoman Umum & Petunjuk

Pelaksanaan Hibah Dana Pembangunan Partisipatif (Block Grant Kabupaten Sidoarjo 2007: 6-7). Sebagai kebijakan publik, yang merupakan serangkaian tindakan yang dipilih dan dialokasikan secara sah oleh Pemerintah/Negara/Pejabat Pemerintah kepada seluruh anggota masyarakat yang memiliki tujuan tertentu demi kepentingan masyarakat, aktif atau pun pasif (Islamy, 1984: 20), yang untuk mengimplementasikannya dipengaruhi oleh 2 (dua) faktor yaitu content of policy (isi kebijakan) dan context of policy (konteks kebijakan). Isi kebijakan (content of policy atau policy content) adalah efek yang diakibatkan isi kebijakan publik dengan implemantasinya, yang dipengaruhi oleh: 1) kepentingan yang terpengaruh oleh kebijakan, 2) tipe manfaat yang dihasilkan, 3)tingkat perubahan yang diharapkan, 4) kedudukan pembuatan kebijakan, 5) implementasi program, dan 6) sumberdaya yang dikerahkan. Sedangkan yang dimaksud dengan context of policy atau policy context adalah bagaimana konteks politik dan aktivitas administrasi mempengaruhi kebijakan yang diimplementasikan, yang memiliki 3 faktor yang berpengaruh yaitu: 1) kekuasaan, kepentingan, strategi aktor yang terlibat, 2) karakteristik lembaga dan penguasa, dan 3) kepatuhan dan daya tanggap.

180

KALAMSIASI, Vol. I, No. 2, September 2008, 175 - 188

Kebijakan publik memiliki tiga tahapan besar dalam prosesnya yaitu pertama tahap perumusan kebijakan publik, yang kemudian dilanjutkan dengan pelaksanaan kebijakan publik (public policy implementation), dan yang terakhir evaluasi kebijakan publik. Implementasi dapat diartikan sebagai pelaksanaan. Pelaksanaan kebijakan publik merupakan serangkaian tindakan/kegiatan yang dilaksanakan setelah kebijakan publik dirumuskan. Selanjutnya ada tiga aktivitas utama yang paling penting dalam implementasi keputusan adalah: 1) interpretasi, yang merupakan aktivitas yang menterjemahkan makna program keadaan pengaturan yang dapat diterima dan dijalankan, 2) organisasi, yang merupakan unit atau wadah untuk menempatkan program ke dalam dampak, dan 3) aplikasi, yang berhubungan dengan perlengkapan rutin bagi pelayanan, upah, dan lain-lain. (Silalahi, 1989: 150). Dana pembangunan partisipatif yang selanjutnya disebut Block Grant pada dasarnya merupakan dana stimulan untuk mempercepat akselerasi pembangunan sarana dan prasarana di pedesaan dan pendidikan berstatus swasta, sebagai pancingan untuk menumbuhkan kontribusi masyarakat berupa dana materi atau tenaga serta pikiran yang nilai besaran partisipasinya sesuai dengan proposal

yang diajukan kepada Bupati Sidoarjo serta pertimbangan hasil monitoring dan evaluasi. Adapun ragam kegiatan yang termasuk dalam ruang lingkup infrastruktur perdesaan yang menjadi sasarannya, meliputi: (1) sarana dan program yang mendukung aksesbilitan transportasi pedesaan, yaitu jalan lingkungan/desa dan jembatan; (2) prasarana yang mendukung kegiatan perekonomian desa, yaitu irigasi dan kios-kios perdagangan; (3) prasarana untuk pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat perdesaan dan lingkungan, yaitu penyediaan air bersih, sanitasi dan saluran drainase; serta (4) prasarana pelayanan penyelenggaraan pemerintakan kepada masyarakat atau prasarana pendidikan.

METODE PENELITIAN
Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif yang mengambil lokasi di Kelurahan Mindi Kecamatan Porong Kabupaten Sidoarjo, dengan informan Kepala Kelurahan, Ketua Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Kelurahan (LPMK), Ketua Tim Pelaksana Kegiatan Kelurahan (TPKK) dan beberapa tokoh masyarakat yang dipandang memiliki keterlibatan intens dan signifikan terhadap implementasi program maupun pembangunan desa secara umum, sesuai dengan tujuan penelitian (Sugiono, 1997: 66).

Andik Afandi, Implementasi Program Pembangian Desa Partisipatif

181

Teknik pengumpulan datanya dilakukan melalui observasi di lapangan dengan melakukan pengamatan pada objek penelitian. Kemudian melakukan interview dengan informan penelitian guna mendapatkan informasi yang dibutuhkan. Selain itu, data diperoleh dengan studi kepustakaan/referensi, serta dokumentasi dari berbagai sumber yang relevan Data yang terkumpul selanjutnya dianalisis secara deskriptif kualitatif (Arikunto, 1992: 207), sehingga akan berisi kutipan-kutipan data untuk memberi gambaran penyajian laporan tersebut, bisa dari hasil wawancara, foto-foto, dokumen pribadi, dll. Dengan demikian penelitian tidak akan memandang bahwa sesuai itu sudah memang demikian keadaannya (Maleong, 1989: 6-7).

gabung dalam Lembaga Kemasyarakatan berbentuk berdasarkan atas prakarsa masyarakat melalui musyawarah mufakat berbentuk Lembaga Pembedayaan Masyarakat Kelurahan (LPMK), yang dibentuk untuk membantu kelancaran pelaksanaan tugas Lurah. Pengelolaan program dipayungi oleh sebuah Tim Koordinasi di tingkat kabupaten hingga kecamatan, dengan Bupati dan Wakil Bupati Sidoarjo selaku penanggungjawab, diketuai oleh Sekretaris Daerah dengan anggota dari Unsur Badan Perencanaan Pembangunan Kabupaten (Bappekab), Badan Keluarga Berencana Pemberdayaan Masyarakat dan Perempuan (BKBPMP), Badan Pengelola Keuangan dan Kekayaan Daerah (BPKKD), Bagian Pembangunan, Pemerintahan dan Hukum pada Sekretariat Daerah (Setda) Kabupaten Sidoarjo, Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Bumi Marga, DPU Cipta Karya, DPU Pengairan, Dinas Pendidikan, Kantor Departemen Agama, Camat, (perwakilan) Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dan perguruan tinggi. Selanjutnya di tingkat kelurahan, program dikelola oleh Tim Pelaksana Kegiatan Kelurahan (TPKK) selaku pelaksana dan penanggung jawab program di tingkat kelurahan yang dibentuk melalui musyawarah kelurahan. TPKK terdiri dari Unsur Lembaga Pemberdayaan Masya-

HASIL PENELITIAN
Sebagai salah satu dalam wilayah Kecamatan Porong Kabupaten Sidoarjo, luas wilayahnya adalah 63,410 Ha dengan topografi tergolong daerah dataran rendah sebagaimana umumnya wilayah kabupaten Sidoarjo. Kelurahan Mindi berpenduduk 4.477 jiwa, yang terdiri dari 1.216 kepala keluarga (KK) yang tersebar di 21 RT dan 3 RW (laki-laki 2.259 dan perempuan 2.216 jiwa), yang sebagian besar bermata pencaharian swasta/wirausaha. Komposisi penduduk tersebut ter-

182

KALAMSIASI, Vol. I, No. 2, September 2008, 175 - 188

rakat Kelurahan (LPMK), Perangkat Desa, tokoh masyarakat dan organisasi kemasyarakatan yang lain serta unsur organisasi/ tokoh perempuan (minimal 2 orang perempuan). Susunan kepengurusan TPKK meliputi Ketua, Sekretaris, Bendahara, Fasilitator, anggota dan seksi-seksi yang dibentuk sesuai dengan kebutuhan. Keanggotaan TPKK tersebut dipilih dengan memperhatikan kriteria mampu, jujur, dan bersedia mencurahkan waktu untuk kegiatan dan ditetapkan dengan keputusan Kepala Kelurahan. Adapun tugas Tim Pelaksana Kegiatan Kelurahan adalah sebagai berikut: (a) Bersama Pemerintah Kelurahan, Forum Musyawarah Kelurahan (FMK) dan LPMK melakukan sosialisasi rencana pengolokasian Block Grant dan pembayaran informasi; (b) Melaksanakan musyawarah kelurahan untuk menentukan prioritas pelaksanaan kegiatan proyek; (c) Mendorong partisipasi masyarakat dalam pelaksanaan dan pemerintahan; (d) Mengajukan usulan/proposal kegiatan pembangunan partisipatif sesuai dengan hasil musyawarah Kelurahan kepada Bupati mengetahui Camat; (e) Membuka rekening di Bank terdekat (Bank BRI Unit) atas nama Tim Pelaksana Kegiatan Kelurahan; (f) Bertanggungjawab atas penggunaan dana dan kelancaran pelaksanaan kegiatan; (g) Melaporkan perkembangan pelaksanaan

kegiatan secara periodik kepada Bupati melalui Camat; (h) Menangani pengaduan masyarakat yang timbul di tingkat Kelurahan; dan (i) Membuat papan nama proyek/kegiatan.

Implementasi Program
Tahap Persiapan dan Perencanaan. Tahap persiapan merupakan tahap awal pelaksanaan program. Tahap ini meliputi pembentukan organisasi pengelolaan proyek di tingkat Kabupaten dan sosialisasi program. Di tingkat Kelurahan juga diadakan sosialisasi pelaksanaan program. Wakil dari masing-masing desa atau kelurahan mengikuti musyawarah ditingkat kabupaten untuk membahas dana block grant yang akan dialokasikan. Pelaksanaan program pembangunan partisipatif atau yang juga dikenal dengan sebutan program Block Grant di Kabupaten Sidoarjo telah memasuki tahun ke enam di tahun 2007 dari tiga tahun pelaksanaannya. Pada awal pelaksanaannya yaitu tahun 2002 hingga sekarang banyak desa atau kelurahan yang telah mendapat bantuan dana melalui program Block Grant salah satunya adalah Kelurahan Mindi. Di tahun 2007 kelurahan Mindi sudah kali ke enam melaksanakan program Block Grant karena sejak awal Kelurahan Mindi senantiasa mendapatkan dana block grant yang tiap tahunnya berubah-ubah sesuai dengan

Andik Afandi, Implementasi Program Pembangian Desa Partisipatif

183

kebutuhan pembangunan kelurahan. Pada tahap perencanaan sebagai tahap selanjutnya setelah tahap persiapan yaitu dengan mengadakan musyawarah untuk mensosialisasikan program Block Grant. Sebagai tindak lanjut dari proses sosialisasi kemudian pada tahap perencanaan pihak Kelurahan bersama dengan FMK dan LPMK serta tokoh masyarakat kembali mengadakan sosialisasi program, sekaligus dibentuk Tim Pelaksana Kegiatan Kelurahan (TPKK) serta rencana penentuan lokasi kegiatan Pembangunan Partisipatif Kebupaten Sidoarjo tahun 2007. Dalam kegiatan masyarakat yang dilaksanakan di Kelurahan dibahas beberapa materi yang berhubungan dengan pelakasnaan Hibah Dana Pembangunan Partisipatif (Block Grant). Adapun materi yang dibahas dalam musyawarah Kelurahan saat itu adalah sebagai berikut: [a] Penyampaian usulan kegiatan/ pembangunan di RT/ RW; [b] Menentukan skala prioritas kegiatan Kelurahan (TPKK); [c] Mekasisme penarikan tema partisipasi masyarakat; [d] Persiapan penyusunan proposal Dana Bantuan Pembangunan Partisipatif Tahun 2007. Dalam pelaksanaan musyawarah tersebut masig-masing ketua RT/RW sebagai wakil dari daerahnya memgajukan usulan-usulan kegiatan pembangunan di wilayahnya masing-masing. Dari semua

usulan kegiatan yang telah dibuat maka tidak semua dapat direalisasikan. Untuk memaksimalkan penggunaan dana maka ditentukan skala prioritas kegiatan pembangunan. Hal ini dimaksudkan agar daerah yang benar-benar membutuhkan pembangunan dapat segera dibangun tentu dengan pertimbangan untuk kepentingan bersama masyarakat. Untuk periode tahun 2007 di desa mindi memfokuskan pembangunan pada pembangunan jalan paving dan pembangunan salurah air. Pembangunan jalan paving dilakukan skala prioritas maka dipilih jalan-jalan utama yang di kelurahan mindi terlebih dahulu. Saluran air yang dibangun mengacu pada pertimbangan ketika terjadi musim hujan maka dengan keadaan saluran air yang kurang lancar yang poten-sial mengakibatkan banjir sehingga pembangunan saluran air menjadi prioritas dalam usulan kegiatan yang akan direalisasikan. Berdasarkan musyawarah tersebut maka telah memutuskan beberapa perihal antara lain: [1] Usulan kegiatan atau pembangunan dari Rukun Tetangga (RT)/ Rukun Warga (RW) diputuskan; [2] Tim pelaksanaan Kegiatan Kelurahan dibentuk dari unsur LPMK, Sekretaris Kelurahan, Ketua RT/RW dan Tokoh Masyarakat; [3] Mekanisme pengumpulan dana partisipasi masyarakat adalah dengan mewajibkan setiap Kepala Keluarga (KK) di lingkungan

184

KALAMSIASI, Vol. I, No. 2, September 2008, 175 - 188

RT/RW yang menjadi lokasi pembangunan, yang besarnya dimusyawarahkan di tingkat RT/RW; [4] Penyusunan proposal diserahkan sepenuhnya kepada TPKK. Setelah mengadakan musyawarah sebelumnya kemudian dilanjutkan musyawarah II dengan agenda menentukan rencana anggaran kegiatan, yang membahas 1) penyusunan proposal usulan kegiatan, 2) rencana pembuatan gambar, dan 3) rencana (foto) lokasi proyek. Tahap Pelaksanaan. Setelah melakukan musyawarah Kelurahan I dan II, kemudian proposal usulan kegiatan diajukan kepada Bupati dengan tembusan kepada dan melalui Camat. Tim Teknik Tim Koordinasi melakukan asistensi usulan kegiatan menetapkan daftar penerima Hibah Program Block Grant dengan suatu keputusan Bupati Sidoarjo. Penerima Hibah menerima salinan keputusan Bupati Sidoarjo tentang penerapan alokasi dana Block Grant kabupaten Sidoarjo tahun 2007. Pencairan Dana Hibah dari Program Pembangunan Partisipatif (Block Grant) dilakukan melalui dua tahapan. Pada tahap pertama (I) dana Block Grant yang diberikan adalah sebesar 50% dari total dana hibah. Penggunaan dana sebesar 50% diperuntukkan bagi daerah-daerah yang telah masuk dalam usulan rencana kegiatan. Pembangunan yang dilaksanakan sesuai dengan program awal yang

telah dibuat. Selama pembangunan yang berlangsung dengan dana pembangunan tahap I yaitu sebasar 50% pelaksanaanya diawasi oleh pihak Kabupaten. Apabila penggunaan dana tahap pertama (I) untuk pelaksanaan kegiatan telah mencapai 90% maka penarikan dana tahap ke dua (II) sebesar 50% dari total dana hibah Block Grant dapat dilakukan. Setelah pencarian dana dilakukan maka dengan segera pembangunan yang telah direncanakan sebelumnya dilaksanakan. Masyarakat secara bergotong-royong membangun sesuai dengan rencana dan dana yang telah diperoleh. Tidak hanya swadaya masyarakat berupa uang yang di berikan melainkan tenaga, konsumsi juga diberikan sebagai wujud par tisipasi masyarakat yang tinggi terhadap pelaksanaan pembangunan (wawancara dengan Ketua TPKK, 20 Juli 2007). Wujud gotong-royong tidaklah murni seluruhnya dilakukan oleh masyarakat. Mengingat masyarakat bukanlah orangorang yang ahli di bidang pembangunan. Untuk mengatasi hal itu maka pelaksanaan pembangunan yang dilakukan bekerjasama dengan pemborong, dengan maksud agar kegiatan pelaksanaan bisa lebih efektif dan efisien. Dari pelaksanaan program pembangunan dapat dilihat bahwa Dana Block Grant yang diberikan oleh pemerintah

Andik Afandi, Implementasi Program Pembangian Desa Partisipatif

185

dapat meningkatkan peran serta masyarakat dibidang pembangunan hal itu diikuti dengan rasa tanggung jawab serta rasa memiliki. Adapun proyek yang dilaksanakan di kelurahan Mindi adalah: Lokasi Kegiatan: RT 03, RT 04, RT 06, RT 07, RT 12 dan RT 20. Jenis Kegiatan: Jalan paving dan saluran air Volume: Paving 720 M2 dan saluran panjang 182 M. Sumber Biaya: di dapat dari dana APBD sebesar 45.000.000 rupiah dan Swadaya Masyarakat sebesar 23.531.000 rupiah, total dana yang terkumpul sebesar 68.531.000 rupiah. Pasca Pelaksanaan. Tim Koordinasi melakukan monitoring dan evaluasi pelaksanaan di lapangan ke setiap kelurahan secara berkala serta mengadakan wawancara langsung kepada masyarakat, dengan tujuan mendapatkan feed back dari masyarakat. Monitoring juga dilakukan TPKK, agar diperoleh gambaran tentang kesesuaian tentang kesesuaian antara rencana yang telah dibuat dengan pelaksanaan program di lapangan. Evaluasi diadakan dengan maksud untuk mengetahui kegiatan yang telah dilakukan apakah telah sesuai dengan rencana dan apabila belum maka dicari jalan keluar agar pelaksanaan kegiatan

dapat berjalan dengan baik, evaluasi dilakukan secara berkala. Untuk tahap evaluasi ada beberapa hal yang dapat dilakukan yang pertama adalah pertemuan dengan pelaksana kegiatan dan pihak-pihak terkait. Yang ke dua adalah pengolahan dan analisa laporan. Laporan yang telah dibuat kemudian diolah dan dianalisa untuk kemudian dilaporkan kepada Tim Koordinasi. Yang ketiga adalah observasi di lapangan. Pengamatan secara langsung pada segala kegiatan yang dilakukan di lapangan sangat diperlukan sebab denagn demikian jelas bahwa masyarakat benar-benar melaksanakan pembangunan daerahnya. Yang ke empat adalah perhatian dalam penanganan atas segala pengaduan masyarakat. Pelaksanaan pembangunan di kelurahan Mindi telah terlaksana sesuai denagn program yang telah dibuat sebelumnya. Dalam rangka pengendalian dengan tujuan untuk mengetahui perkembangan proses pelaksanaan program yang dimulai dari tahap persiapan, perencanaan dan pelaksanaan maka diperlukan pelaporan. Setiap tahapan tentu memerlukan informasi dalam rangka pengendalian dan pengambilan keputusan, pelaporan dapat diartikan sebagai wujud pertanggungjawaban atas kegiatan yang telah dilaksanakan, yaitu kegiatan yang telah di rencanakan sebelumnya. Laporan

186

KALAMSIASI, Vol. I, No. 2, September 2008, 175 - 188

proyek ini dilaksanakan oleh penerima hibah yang dalam hal ini adalah Tim Pelaksana Kegiatan Kelurahan kepada Bupati Sidoarjo mengetahui Camat. Penerima hibah menyerahkan hasil pelaksanaan proyek setelah pekerjaan yang menjadi tanggungjawab penerima hibah selesai dilaksanakan, dengan suatu Berita Acara Penyelesaian Pekerjaan Proyek (BAP) sebagai pertanggungjawaban atas penggunaan dana sesuai dengan ketentuan. Selanjutnya untuk pelestarian dan pemeliharaan kegiatan fisik dan pembangunan dilakukan oleh masyarakat setempat.

dengan tahap persiapan yang merupakan tahap awal pelaksanaan program. Tahap ini meliputi pembentukan organisasi pengelolaan proyek ditingkat kabupaten dan sosialisasi program. Tahap berikutnya adalah tahap perencanaan, pada tahap ini dilakukan musyawarah guna mensosialisasikan Program Block Grant lebih lanjut, pembentukan Tim Pelaksana Kegiatan Kelurahan (TPKK) serta rencana pembangunan yang akan dilaksanakan masyarakat melalui wakil-wakilnya. Musyawarah kembali diadakan untuk penyusunan proposal. Pada tahap selanjutnya yaitu tahap pelaksanaan, proposal yang telah dibuat kemudian diajukan pada bupati dengan tembusan/melalui camat. Dana yang diberikan untuk pembangunan yang telah disetujui dan dicairkan dalam 2 tahap telah direalisasikan dengan baik, tanpa complain berarti, mengindikasikan transparansi dan akuntabilitas pengelolaannya. Pelaksanaan program pembangunan dalam hal ini pemavingan jalan dan pembuatan saluran air segera dilaksanakan setelah pencairan Dana Block Grant. Pelaksanaan pembangunan pemavingan jalan dan saluran air dilakukan secara bergotong-royong, baik dengan memberikan par tisipasinya berupa materi melainkan tenaga dan konsumsi bagi daerah yang tempatnya sedang dibangun.

PENUTUP
Berdasarkan penelitian dan penggalian dana yang dilakukan dikelurahan Mindi dapat disimpulkan bahwa implementasi Hibah Dana Pembangunan Partisifipatif (Block Grant) di Kelurahan Mindi telah dengan baik tanpa kendala yang berarti yang menghambat pelaksanaan pembangunan. Ini menunjukkan bahwa pelibatan stakeholders berlangsung baik dan proyek/kegiatan memiliki akseptabilitas yang tinggi, setelah diperolehnya bantuan yang sesuai dengan yang dikehendaki masyarakat setempat. Kelurahan Mindi telah melaksanakan tiap tahap pelaksanaan Program Block Grant dengan sebaik-baiknya. Dimulai

Andik Afandi, Implementasi Program Pembangian Desa Partisipatif

187

Setelah itu Tim Koordinasi sebagai penanggungjawab pelaksanaan Hibah Dana Pembangunan partisipatif (Block Grant) Kabupaten Sidoarjo melakukan monitoring dan evaluasi pelaksanaan kegiatan di lapangan ke kelurahan secara berkala serta mengadakan wawancara langsung pada masyarakat.

makin mengarah kepada pembangunan daerah yang makin desentralistik karena terbukti telah mampu menumbuhkan dan mengembangkan keswadayaan masyarakat. Sekarang tinggal bagaimana memastikan bahwa skema tersebut makin terintegrasi dengan pembangunan daerah kabupaten Sidoarjo secara umum. Untuk itu pemeliharaan dan pelestarian hasil-hasil pembangunan melalui skema dimaksud menjadi catatan tersendiri untuk direkam.

IMPLIKASI KEBIJAKAN
Sukses kelurahan Mindi -yang sebagian wilayahnya tergenang lumpur Lapindo- mengelola program pembangunan desa partisipatif dan melaksanakan kegiatan tersebut dengan baik tersebut merupakan tipikal kinerja kebijakan program pembangunan desa partisipatif yang dilansir Pemerintah Kabu-paten Sidoarjo, maka program dimaksud layak untuk dikembangkan lebih lanjut. Dengan catatan bahwa istilah Block Grant kiranya dapat dipertimbangkan untuk ditinjau kembali, mengingat substansinya sebenarnyalah adalah Specific Grant, yakni peruntukannya yang khusus untuk pembangunan prasarana fisik desa. Familieritas stakeholders terhadap prog-ram boleh jadi disebabkan antara lain oleh telah berjalannya kebijakan program selama lebih dari 5 (lima) tahun. Untuk itu, sudah seyogyanya Pemerintah Kabupaten Sidoarjo menindaklanjutinya dengan memperluas cakupan program untuk

DAFTAR PUSTAKA
Arikunto, M. Suharsimi. 1998. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: PT Rineka. Adisasmita, Rahardjo. 2006. Membangun Desa Partisipatif, Edisi Pertama. Yogyakarta: Graha Ilmu. Badan Pemberdayaan Masyarakat Kabupaten Sidoarjo, Pedoman Bantuan Pelaksanaan Pembangunan Partisipatif Kabupaten Sidoarjo 2002. Bagian Bina Pembangunan Secretariat Daerah Kabupaten Sidoarjo, Pedoman Umum dan Petunjuk Pelaksanaan Hibah Dana Pembangunan Partisipatif (Block Grant) Kabupaten Sidoarjo tahun 2007. Hartini, Leny. 2003. Partisipasi Masyarakat dalam Perencanaan Pembangunan (Studi Kasus Desa Jasem Kecamatan Ngoro Kabupaten Mojokerto. Skripsi. tidak diterbitkan. Sidoarjo: FISIP UMSIDA. Islamy, M. Irfan. 1984. Prinsip-Prinsip Perumusan Kebijakan Negara. Jakarta: Bina Aksara

188

KALAMSIASI, Vol. I, No. 2, September 2008, 175 - 188

Moleong, Lexy J. 1989. Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Karya. Nasution, Zulkarnaen. 1996. Komunikasi Pengembangan (Pengenalan Teori dan Penerapannya). Edisi Revisi. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada. Nurcholis, Hanif, 2007. Teori dan Praktik: Pemerintah dan Otonomi Daerah. Jakarta: PT Gramedia Widiasarana Indonesia. Peraturan Bupati Sidoarjo nomor 11 tahun 2007 tentang Pedoman Umum Dan Petunjuk Pelaksanaan Hibah Dana Pembangunan Partisipatif. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia nomor 73 tahun 2005 Tentang Kelurahan. Renaldi, Anton. 2003. Implementasi Program Bantuan Pelaksanaan Pembangunan Partisipatif dalam Meningkatkan Peran Serta Masyarakat di Bidang Pembangunan Fisik Desa Buduran Kecamatan Buduran Kabupaten. Skripsi. tidak diterbitkan. Sidoarjo: FISIP UMSIDA.

Saparin, Sumber. 1986. Tata Pemerintahan dan Administrasi Pemerintahan Desa. Jakarta: Ghalia Indonesia. Silalahi, Oberlin. 1989. Beberapa Praktek Kebijakan Negara. Yogyakarta: Liberty. Sumiati. 2005. Implementasi Kebijakan Pemerintah Terhadap Program Beras Untuk Keluarga Miskin di Kabupaten Sidoarjo. Skripsi. tidak diterbitkan. Sidoarjo: FISIP UMSIDA. Sugiono. 1997. Metode Penelitian Administrasi. Bandung: Alfabeta. Undang-undang Republik Indonesia nomor 32 tahun 2004 Tentang Pemerintahan Desa. Undang-undang Republik Indonesia nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pusat dan Daerah. Wasistiono, Sadu dan Irwan Tahir. 2006. Prospek Pengembangan Desa. Bandung: CV Fokus Media.

PENGUATAN PERILAKU APARATUR HUMAS DALAM REFORMASI PELAYANAN PUBLIK DI KABUPATEN KARIMUN - KEPULAUAN RIAU

Nurdin Basirun* Hadi Ismanto**


(*Bupati Karimun - Provinsi Kepulauan Riau dan Mahasiswa Program DIA Untag 1945 Surabaya; ** Dosen Tetap Ilmu Administrasi Negara FISIP Umsida, Jln. Mojopahit 666 B Sidoarjo)

ABSTRACT Public service is one of the main aspects that has strategic values in the local government of autonomy era. In order to perform and improve the qualified public service, it needs the refining aspects, such as: institutional, procedure and system, and infrastructure sides including the public relation officers behaviors. The reinforcing roles and functions of the public relation officers as the part of public service management becomes the important and strategic aspects to carry out the public service reformation in implementing the administrative decentralization in Karimun district. Key words: the reinforcing roles of the public relation officers, public service, bureaucratic reformation

PENDAHULUAN.
Kerangka desentralisasi sebagaimana telah diatur dalam paket UU No 22/ 1999 (Paska amandemen menjadi UU No 32/2004 tentang Pemerintahan Daerah) dan UU No 25/1999 tentang Perimbangan Keuangan Pusat-Daerah (di amandemen menjadi UU No 33 tahun 2004) memiliki dua dimensi dasar. Dimensi tersebut sekaligus menunjukkan konsepsi dan arah kebijakan desentralisasi yang diinginkan policy maker. Dimensi pertama sebagaimana
189

tercermin dalam UU No 32/2004 menitikberatkan pada apa yang sering disebut sebagai desentralisasi administratif (administrative decentralization), yang kemudian diikuti dengan perubahan struktur birokrasi pemerintah daerah, dan dimensi kedua adalah desentralisasi keuangan. Desentralisasi administratif dimaksudkan untuk mendistribusikan kewenangan, tanggungjawab dan sumber daya keuangan sebagai upaya menyediakan pelayanan umum kepada berbagai level

190

KALAMSIASI, Vol. I, No. 2, September 2008, 189 - 204

pemerintah. Delegasi tanggung jawab ini meliputi kegiatan perencanaan, pendanaan dan pengelolaan berbagai pelayanan umum dari pemerintah pusat dan lembaga pelaksananya kepada berbagai unit pemerintah di berbagai level (regional authorities). Pelaksanaan desentralisasi administratif didasarkan pada sebuah argumentasi bahwa pengelolaan oleh unit-unit pelayanan publik akan lebih efektif jika diserahkan kepada unit yang bersentuhan langsung dengan masyarakat. Asumsinya, semakin dekat hubungan antara pemerintah dengan masyarakat, semakin bisa dipahami kebutuhan masyarakat akan suatu pelayanan. Dengan kata lain, desentralisasi administratif dimaksudkan untuk menciptakan efisiensi dan efektifitas pelayanan umum. Dalam perspektif efisiensi dan efektitas pelayanan publik, maka pemerintah memiliki fungsi berbagai pelayanan publik yang diperlukan oleh masyarakat, mulai dari pelayanan dalam bentuk pengaturan ataupun pelayananpelayanan lain dalam rangka memenuhi kebutuhan masyarakat dalam bidang pendidikan, kesehatan, utilitas, dan lainlain. Penyediaan pelayanan pemerintah yang berkualitas, akan memicu potensi sosial ekonomi masyarakat yang merupakan bagian dari demokratisasi ekonomi.

Penyediaan pelayanan pemerintah yang bermutu merupakan salah satu alat untuk mengembalikan kepercayaan masyarakat kepada pemerintah yang semakin berkurang akibat krisis ekonomi yang terusmenerus berkelanjutan pada saat ini. Hal tersebut menjadikan pemberian pelayanan publik yang berkualitas kepada masyarakat menjadi semakin penting untuk dilaksanakan. Pada sisi lain, dinamisasi perubahan yang tengah terjadi pada masyarakat akibat kemajuan teknologi informasi menjadi bagian tak terpisahkan dari proses implementasi desentralisasi administratif yang menuntut pula perubahan kinerja aparatur birokrasi sehingga pemberian pelayanan publik yang berkualitas kepada masyarakat dapat tercapai. Dari perspektif ini, proses impenetasi desentralisasi administratif dibutuhkan kemampuan komunikasi yang cukup handal dari jajaran pemerintahan untuk menjelaskan kepada rakyat terhadap tiap kebijakan yang diambil pemerintah, sebab salah satu titik kelemahan yang dimiliki oleh pemerintahan dalam seluruh hierarkhi adalah ketiadaan pengelaborasian informasi serta komunikator komunikator yang menguasai dan mampu menjelaskan kepada khalayak mengapa sebuah kebijakan diambil dan diputuskan. Pada saat yang sama, era transparansi memiliki makna

Andik Afandi, Implementasi Program Pembangian Desa Partisipatif

191

bahwa seluruh aktifitas pemerintahan yang berhubungan dengan kebijakan publik seyogyanya dapat diuraikan secara cerdas kepada masyarakat, sehingga masyarakat memahami dan tidak apatis terhadap tumbuhnya partisipasi masyarakat dalam turut serta mengambil bagian dalam aktivitas pelayanan publik. Ini adalah bahagian atau domain dari tugas kehumasan Mencermati problematik peningkatan kualitas pelayanan publik tersebut di atas, maka sumber daya manusia (SDM) aparatur Humas berada pada posisi yang strategis. Meskipun infrastruktur telah disiapkan dengan baik seperti prosedur kerja, teknologi, fasilitas ruangan dan sebagainya tanpa memperhatikan aspek SDM maka sangat dimungkinkan terjadinya ketidakpuasan dalam pelayanan publik. Secara umum, pengembangan SDM aparatur meliputi tiga hal, yaitu kompetensi di bidang ilmu pengetahuan, ketrampilan dan sikap perilaku. Secara umum reformasi di bidang pemerintahan antara lain diarahkan pada peningkatan profesioanlisme birokrasi pemerintahan terutama dalam menyelenggarakan pelayanan publik yang adil, transparan, tidak diskriminatif dan dilaksanakan dengan prosedur yang sederhana. Dalam konsepsi manajemen, peningkatan pelayanan publik sangat tergantung pada penataan kelembagaan, sistem dan

prosedur, sarana dan prasarana, sumber daya aparatur dan teknologi. Tulisan ini difokuskan pada pembahasan dari sisi sumber daya aparatur, khususnya bagi para pelaksana di lapangan. Permasalahan yang diajukan adalah bagaimana perilaku yang semestinya diterapkan oleh para petugas di jajaran Humas sebagai garda terdepan dalam melayani masyarakat. Tulisan ini mencoba membahas sikap perilaku aparatur Humas yang dibutuhkan dalam meningkatkan kualitas pelayanan publik di Kabupaten Karimun, Provinsi Kepulauan Riau.

PERMASALAHAN PELAYANAN PUBLIK DI KAB. KARIMUN.


Dalam konteks desentralisasi administratif, pelayanan publik di Kabupaten Karimun diorientasikan menjadi lebih responsif terhadap kepentingan publik. Paradigma pelayanan publik di Kabupaten Karimun berkembang dari pelayanan yang sifatnya sentralistik ke pelayanan yang lebih memberikan fokus pada pengelolaan yang berorientasi kepuasan pelanggan dengan ciri-ciri: (a) lebih memfokuskan diri pada fungsi pengaturan melalui berbagai kebijakan yang memfasilitasi berkembangnya kondisi kondusif bagi kegiatan pelayanan kepada masyarakat, (b) lebih memfokuskan diri pada pemberdayaan masyarakat sehingga masyarakat mempu-

192

KALAMSIASI, Vol. I, No. 2, September 2008, 189 - 204

nyai rasa memiliki yang telah dibangun bersama, (c) menerapkan sistem kompetisi dalam hal penyediaan pelayanan publik tertentu sehingga masyarakat memperoleh pelayanan yang berkualitas, (d) terfokus pada pencapaian visi, misi, tujuan, dan sasaran yang berorientasi pada hasil (outcomes) sesuai dengan masukan yang digunakan, (e) lebih mengutamakan apa yang diinginkan oleh masyarakat, (f) pada hal tertentu pemerintah juga berperan untuk memperoleh pendapatan dari masyarakat dari pelayanan yang dilaksanakan. Permasalahan utama pelayanan publik di Kabupaten Karimun pada dasarnya adalah berkaitan dengan peningkatan kualitas pelayanan itu sendiri. Pelayanan yang berkualitas sangat tergantung pada berbagai aspek, yaitu bagaimana pola penyelenggaraannya (tata laksana), dukungan sumber daya manusia, dan kelembagaan. Dilihat dari sisi pola penyelenggaraannya, pelayanan publik masih memiliki berbagai kelemahan antara lain: Kurang responsif. Kondisi ini terjadi pada hampir semua tingkatan unsur pelayanan, mulai pada tingkatan petugas pelayanan (front line) sampai dnegan tingkatan penanggung jawab instansi. Respon terhadap berbagai keluhan, aspirasi, maupun harapan masyarakat seringkali lambat atau bahkan diabaikan sama sekali.

Kurang informatif. Berbagai unit pelaksana pelayanan terletak jauh dari jangkauan masyarakat, sehingga menyulitkan bagi mereka yang memerlukan pelayanan tersebut.

Kurang koordinasi. Berbagai unit pelayanan yang terikat satu dengan lainnya sangat kurang berkoordinasi, akibatnya sering terjadi tumpang tindih ataupun pertentangan kebijakan antara satu instansi pelayanan dengan instansi pelayanan lain yang terkait.

Birokrasi. Pelayanan (khususnya pelayanan perizinan) pada umumnya dilakukan dengan melalui proses yang terdiri dari berbagai level sehingga menyebabkan penyelesaian masalah pelayanan, kemungkinan staf pelayan (front line staff) untuk dapat menyelesaikan masalah sangat kecil, dan di lain pihak kemungkinan masyarakat untuk bertemu dengan penanggung jawab pelayanan, dalam rangka menyelesaikan masalah yang terjadi ketika pelayanan diberikan, juga sangat sulit. Akibatnya berbagai masalah pelayanan memerlukan waktu lama untuk diselesaikan.

Kurang mau mendengar keluhan/ saran ataupun aspirasi masyarakat. Inefisiensi. Sementara itu, tuntutan masyarakat

Kabupaten Karimun pada era desen-

Nurdin Basirun & Hadi Ismanto, Pengaturan Perilaku Aparatur Humas dalam Reformasi

193

tralisasi terhadap pelayanan yang berkualitas akan semakin menguat. Oleh karena itu, kredibilitas Pemerintah Kabupaten Karimun sangat ditentukan oleh kemampuannya mengatasi berbagai permasalahan di atas sehingga mampu menyediakan pelayanan publik yang memuaskan masyarakat sesuai dengan kapabilitas SDM aparatur yang dimilikinya.

harus memiliki standar pelayanan minimal, yang bisa diukur. Salah satu contohnya adalah penetapan batas waktu pengurusan pelayanan publik. Sehingga memudahkan pemerintah untuk mengukur kinerja pelayanan publik dan melakukan evaluasi secara periodik maupun insidentil. Ketiga, transparansi biaya. Selama ini, umumnya, masyarakat belum mengetahui berapa tarif resmi setiap pengurusan pelayanan publik. Ketidaktahuan masyarakat bisa dimanfaatkan oleh aparat pelayanan publik untuk melakukan pungutan liar. Sejalan dengan itu, mesti ada pemisahan antara petugas perijinan dengan petugas penerima pembayaran. Kebijakan transparansi biaya ini jelas memudahkan masyarakat mengetahui besaran tarif resmi. Pada akhirnya, menutup peluang aparat pelayanan publik melakukan pungutan liar kepada masyarakat. Keempat, menciptakan budaya pelayanan (service delivery culture). Budaya pelayanan adalah budaya yang berorientasi pada pelayanan masyarakat. Dulu aparat beranggapan, mereka tidak mengabdi pada masyarakat, tetapi pada atasan. Mereka tidak peduli kepentingan masyarakat, tujuannya adalah kepentingan individu dan kepentingan kelompoknya. Bagaimana mungkin orang akan memberikan pelayanan kepada masyarakat, kalau paradigmanya masih paradigma lama seperti itu. Paradigma lama yang

PENGUATAN PERAN HUMAS DALAM REFORMASI PELAYANAN PUBLIK DI KABUPATEN KARIMUN.


Reformasi pelayanan publik di Kabupaten Karimun diartikulasikan sebagai perbaikan integral pelayanan publik meliputi perbaikan orang, struktur, dan prosesnya. Beberapa gagasan reformatif di bawah sekiranya menjadi pertimbangan dalam upaya peningkatan kualitas pelayanan publik. Pertama, membentuk pemahaman masyarakat. Hal ini bertujuan agar masyarakat berkesadaran penuh bahwa korupsi telah merampas hak mereka untuk menda-patkan pelayanan publik yang memuaskan. Kedua, membuat standar dalam pelayanan publik. Ada standar pelayanan, biaya, kualitas, juga standar mekanisme pengaduan. Setiap pelayanan publik yang diterapkan di pusat maupun di daerah

194

KALAMSIASI, Vol. I, No. 2, September 2008, 189 - 204

menganggap masyarakat hanyalah obyek pelayanan publik, harus direkonstruksi. Aparat bukan sebagai orang yang dilayani, tetapi sebagai orang yang melayani kebutuhan masyarakat. Kelima, penerapan manajemen SDM berbasis kinerja. Prinsipnya, manajemen SDM berbasis kinerja memberikan kesempatan lebih luas bagi pegawai yang berprestasi. Pegawai yang bisa menunjukkan kinerjanya akan memperoleh apresiasi, dalam bentuk insentif atau peningkatan karir. Jadi, tidak semua orang dapat seenaknya naik pangkat, bila tidak bisa berkinerja baik. Keenam, mendesak pemerintah mempercepat pembentukan UU Pelayanan Publik. Undang-undang ini mengatur mengenai partisipasi, aspirasi, dan pengaduan masyarakat terhadap pelayanan publik. Sehingga, dari sisi peraturan, masyarakat punya payung hukum untuk mengadu, seandainya pelayanan yang diberikan tidak memuaskan. Beberapa negara sudah menerapkan, dan dikenal dengan nama citizen charter. Isi citizen charter adalah kesepakatan pemerintah dengan masyarakat mengenai kualitas pelayanan publik. Berkomitmen dari prinsip-prinsip dasar reformasi pelayanan publik tersebut di atas, maka fungsi kehumasan sebagai bagian dari manajemen pelayanan publik

menjadi sangat penting dan strategis sebagai komunikasi organisasi untuk ; (a) secara internal mendorong tumbuhnya kinerja aparatur yang dinamis sesuai dengan perubahan dan tuntutan masyarakat, dan (b) secara eksternal menjembatani pola hubungan antara Pemerintah Kabupaten Karimun dengan masyarakat secara luas. Hal ini didasarkan pada pemikiran bahwa Humas adalah tanggung jawab dan fungsi manajemen untuk (1) menganalisis kepentingan publik dan memahami sikap publik; (2) mengindentifikasi dan menafsirkan berbagai kebijakan dan program kerja dari organisasinya; serta (3) melaksanakan serangkaian program tindakan yang dapat diterima dan didasarkan pada niat baik. Satu hal yang perlu disadari adalah bahwa sebagaimana kondisi umum tidak semua daerah memiliki sumber daya aparatur yang betul betul memahami dan mengerti tentang kehumasan (termasuk di Kabupaten Karimun), menjadi sebuah problematika yang perlu mendapat perhatian yang tinggi, sehingga apa yang seharusnya dan menjadi tugas pokok dan fungsi kehumasan, terkadang mendapat kendala. Meskipun Bagian Humas menjalani fungsi yang heterogen, namun sesungguhnya menjadi sangat penting artinya dalam mengaplikasikan instrumeninstrumen setiap kebijakan pemerintahan.

Nurdin Basirun & Hadi Ismanto, Pengaturan Perilaku Aparatur Humas dalam Reformasi

195

Oleh karena itu, bagian humas di Kabupaten Karimun terus mengalami perubahan dan dinamika yang selalu berkembang yang dapat dilihat dari beberapa indikator sebagai akan dijelaskan di bawah ini. Pertama, bahwa sebagaimana tugas pokok dan fungsi kehumasan, maka Bagian Humas Kabupaten Karimun yang terdiri dari subbagan pemberitaan, distribusi dan dokumentasi selalu berupaya untuk memberikan dan menyediakan informasi yang dibutuhkan oleh semua komponen masyarakat termasuk masyarakat pers, maka fungsi fungsi yang melekat pada Bagian Humas Kabupaten Karimun pasca pemberlakuan otonomi terus menunjukkan kinerja yang cukup positif. Ini terbukti dengan semakin mudahnya mitra kerja Bagian Humas untum mengakses sebanyak mungkin informasi. Bagian Humas Kabupaten Karimun juga telah melakukan reposisi dan redefinisi dikalangan internal aparatur pemerintah yang ditugaskan di Bagian Humas, seraya melaksanakan berbagai bentuk interaksi dengan masyarakat pers. Selain itu, dukungan dari Kepala Daerah bersama dengan unit kerja dalam lingkup Pemerintah Kabupaten Karimun sangat tinggi, sehingga memudahkan Bagian Humas dalam memenuhi tuntutan kinerja sebagaimana diinginkan oleh pimpinan, ke empat, seperti pengamtsalan di atas,

bahwa Bagian Humas merupakan mata, telinga dan mulut pemerintah, maka setiap saat selalu mendampingi dan mengikuti perjalanan tugas kepala daerah dengan maksud tidak sesuatu pun langkah dan kebijakan pemerintah yang tidak terpantau oleh Bagian Humas. Dari penunjukan kinerja dan volume pekerjaan yang demikian berat, pembaharuan terus dilakukan. Bukan berarti Bagian Humas tidak boleh puas dengan kinerja yang ada atau tidak mengalami kendala maupun kekurangan, tetapi upaya untuk secara berkala melakukan studi komparasi dengan daerah yang diasumsikan sebagai daerah yang telah menjalankan fungsi kehumasan dengan baik sebagai motivasi dan proses pembelajaran serta pencerahan segenap aparat kehumasan untuk semakin meningkatkan penegetahuan dan keterampilannya terus terasah juga menjadi bagian dari usaha untuk meningkatkan performance Bagian Humas. Oleh karena itu ke depan, Bagian Humas Kabupaten Karimun dituntut pula melakukan berbagai modifikasi fungsi kehumasan, terutama dalam penyelenggaraan tugas tugas kehumasan yang dapat dilaksanakan secara profesional dan proporsional oleh aparat kehumasan, juga semakin meningkatkan kerjasama dengan masyarakat pers sebagai ujung tombak penyebarluasan informasi, karena bagai-

196

KALAMSIASI, Vol. I, No. 2, September 2008, 189 - 204

manapun juga selalu disadari Humas tidak memiliki makna apa apa ketika tidak terjalin pola kemitraan dengan pekerja pers.

termasuk distribusi dan penyampaiannya kepada konsumen langsung sebagai unit atau sebagai individual dalam satu sistem. Secara keseluruhan kegiatan tersebut menghasilkan produk akhir berwujud benda (berwujud fisik) atau yang dianggap benda yang memberikan nilai tambah secara langsung bagi penerimanya. Contoh jenis pelayanan ini adalah pelayanan listrik, pelayanan air bersih, pelayanan telepon. Ketiga, adalah jenis pelayanan jasa, yaitu jenis pelayanan yang diberikan oleh unit pelayanan berupa penyediaan sarana dan prasarana serta penunjangnya. Pengoperasiannya berdasarkan suatu sistem pengoperasian tertentu dan pasti, produk akhirnya berupa jasa yang mendatangkan manfaat bagi penerimanya secara langsung dan habis terpakai dalam jangka waktu tertentu. Contoh jenis pelayanan ini adalah pelayanan angkutan darat, laut dan udara, pelayanan kesehatan, pelayanan perbankan, pelayanan pos dan pelayanan pemadaman kebakaran. Pelayanan publik sebagaimana disebutkan tadi diberikan kepada masyarakat manakala memenuhi persyaratan tertentu. Persyaratan itu biasanya berbentuk dokumen-dokumen, formulirformulir, biaya. Pelayanan publik di Indonesia sebagian besar dilakukan melalui mekanisme tatap muka langsung. Operasionalisasi pelayanan publik

KONSEPSI HUMAS DALAM PELAYANAN PUBLIK.


Menurut Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara nomor 63/ KEP/M.PAN/7/2003 pelayanan publik dikelompokkan dalam beberapa jenis yang didasarkan pada ciri-ciri dan sifat-sifat kegiatan dalam proses pelayanan serta produk pelayanan yang dihasilkan. Jenisjenis pelayanan itu adalah sebagai berikut. Pertama adalah jenis pelayanan administratif, yaitu jenis pelayanan yang diberikan oleh unit pelayanan berupa kegiatan pencatatan, penelitian, pengambilan keputusan, dokumentasi dan kegiatan tata usaha lainnya yang secara keseluruhan menghasilkan produk akhir berupa dokumen, misalnya sertifikat, ijinijin, rekomendasi, keterangan tertulis, pembayaran pajak dan lain-lainnya. Contoh jenis pelayanan ini adalah pelayanan sertifikat tanah, pelayanan IMB, pelayanan administrasi kependudukan (KTP akta kelahiran/ kematian). , Kedua, jenis pelayanan barang, yaitu jenis pelayanan yang diberikan oleh unit pelayanan berupa kegiatan penyediaan dan atau pengolahan bahan berwujud fisik

Nurdin Basirun & Hadi Ismanto, Pengaturan Perilaku Aparatur Humas dalam Reformasi

197

pada umumnya dilaksanakan oleh jajaran birokrasi paling depan yang berhadapan langsung dengan masyarakat. Jumlah jajaran unit pelayanan ini dipastikan cukup banyak dan tersebar di berbagai lokasi. Dalam hal ini standarisasi pelayanan menjadi aspek penting agar pelayanan di satu tempat dengan tempat layanan lainnya tidak terlalu berbeda. Rahayu (1997) berpendapat ada 5 (lima) indikator kualitas pelayanan menurut konsumen, yaitu (1) Tangibles, yaitu fasilitas yang disiapkan pemerintah dalam bentuk sarana fisik kantor, komputerisasi administrasi, ruang tunggu, tempat informasi dan sebagainya yang menunjang kelancaran proses pelayanan dan kenyamanan bagi masyarakat yang dilayani. (2) Realibility, yaitu kemampuan dan keandalan dalam menyediakan pelayanan yang terpercaya. (3) Responsivness, yaitu kesanggupan pihak pemerintah untuk membantu dan menyediakan pelayanan secara cepat dan tepat serta tanggap terhadap keinginan konsumen. (4) Assurance yaitu kemampuan dan keramahan dan sopan santun dalam meyakinkan kepercayaan konsumen. (5) Emphaty: sikap tegas tetapi ramah dalam memberikan payanan kepada konsumen. Sementara itu standar pelayanan publik yang ditetapkan oleh Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara lebih banyak. Standar itu adalah: (a) Prosedur

pelayanan, yang mencakup variabel prosedur tetap/standar operasional pelayanan (SOP) secara terbuka, konsistensi pelaksanaan prosedur dan tingkat kemudahan serta kelan-caran pelayanan; (b) Keterbukaan informasi pelayanan, ter-utama keterbukaan informasi menge-nai prosedur, persyaratan dan biaya pelayanan dengan jelas dapat diketa-hui oleh masyarakat, ketersediaan media informasi termasuk petugas yang menangani untuk menunjang kelancaran pelayanan; (c) Kepastian pelaksanaan pelayanan, yang meliputi waktu pelaksanaan dan biayanya, termasuk konsistensi pelaksanaan; (d) Mutu produk pelayanan, yaitu kualitas pelayanan meliputi aspek cara kerja pelayanannya, apakah cepat/tepat, apakah hasil kerjanya baik/rapi/ benar/layak; (e) Tingkat profesional petugas, ialah tingkat kemampuan ketrampilan kerja petugas mengenai, sikap, perilaku dan kedisiplinan dalam memberikan pela-yanan, apakah ada kebijakan untuk memotivasi semangat kerja para petugas; (f) Tertib pengelolaan administrasi dan manajemen pelayanan, ialah bagai-mana kegiatan pencatatan adminis-trasi pelayanan, pengelolaan berkas apakah dilakukan dengan baik/ tertib, motto kerja, dan apakah pembagian tugas dilaksanakan dengan baik serta kebijakan setempat yang mendorong motivasi semangat kerja para petugas; (g)

198

KALAMSIASI, Vol. I, No. 2, September 2008, 189 - 204

Sarana dan fasilitas pelayanan, yaitu keberadaan sarana dan fasilitas pelayanan sesuai dengan fungsinya, Sarana itu tidak hanya dilihat dari aspek penampilannya tetapi sejauh-mana fungsi dan dayaguna dari sarana/fasilitas tersebut dalam menunjang kemudahan, kelancaran proses pelayanan dan memberikan kenya-manan pada pengguna pelayanan; (h) Prestasi lain yang dapat mendorong peningkatan kinerja pelayanan, yang memberikan kemanfaatan pada masyarakat. Dari konsep-konsep tersebut maka dapat disimpulkan ada tiga indikator dalam pelayanan publik, yaitu (1) fasilitasi kebutuhan fisik kantor yang mampu menciptakan kenyamanan dan kelancaran proses pelayanan; (2) komunikatif terhadap masyarakat yang dilayani, dalam memberi informasi prosedur pelayanan yang dibarengi dengan sikap perilaku dan ketrampilan yang cukup; (3) konsistensi proses pelayanan sesuai dengan ketentuan-ketentuan, prosedur dan normanorma etika birokrasi. Pelayanan publik pada umumnya berlangsung melalui tatap muka langsung antara masyarakat yang dilayani dengan petugas pelayanan. Petugas pelayanan yang ditunjuk biasanya staf operasional yang tidak memiliki kewenangan dalam proses pengambilan keputusan. Seringkali petugas pelayanan ini lepas dari kontrol pihak pimpinan. Pimpinan tidak jarang

kurang informasi terhadap kelemahankelemahan prosedur pelayanan yang diberikan. Maka dalam manajemen pelayanan publik diberlakukan simpulsimpul pengaduan yang memberi peluang bagi masyarakat menyampaikan ketidakpuasannya. Kotak pengaduan masyarakat ini juga dimaksudkan mengeliminasi ketidakpedulian, ketidakpekaan petugas pelayanan terhadap aspirasi dan keluhan masyarakat yang dilayani. Melihat kondisi pelayanan publik dan memperhatikan perilaku euforia keterbukaan seperti sekarang ini, dimungkinkan adanya laporan pengaduan yang melimpah. Ini berarti perlu dibentuk semacam tim atau bagian dalam struktur pemerintah daerah yang mempunyai tugas menangani pengaduan. Dengan cara ini pengaduan dapat diselesaikan dengan cepat dan tuntas, tidak diskriminatif melindungi petugas pelayanan dan memberi proteksi terhadap pihak pelapor. Hal ini tidak lain merupakan bagian dari konsep peran dan fungsi humas. Manfaat yang bisa diperoleh dengan cara ini, yakni memperkuat peran dan fungsi Humas adalah menumbuhkan tingkat kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah, menghindari gejolak sosial yang negatif, meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pembangunan, sebagai bahan evaluasi dan perbaikan manajemen pelayanan, membangun citra aparatur

Nurdin Basirun & Hadi Ismanto, Pengaturan Perilaku Aparatur Humas dalam Reformasi

199

yang bersih dan profesional. Humas adalah suatu lembaga yang sangat strategis untuk menjembatani hubungan pemerintah dengan masyarakat, swasta, serta elemen elemen kelembagaan masyarakat lainnya dengan mendorong tercapainya kesamaan (commoness) di public opinion dan terbangunnya kerja sama strategis. Mengintegrasikan humas kedalam keseluruhan strategi pelayanan publik, akan menciptakan tantangan peran humas. Karena diperlukan kemampuan untuk mengkaji bagaimana rumusan terbaik untuk mengkomunikasikan sebuah program pelayanan publik kepada masyarakat. Sekaranglah saatnya perlu memikirkan bagaimana optimalisasi fungsi humas yang bukan sekedar berhubungan dengan pers tetapi berhubungan dengan masyarakat agar nyata-nyata memiliki peran strategis. Dengan demikian pelaksanaan kehumasan di lingkungan Pemerintah Kabupaten Karimun merupakan salah satu bentuk pelayanan kepada masyarakat luas, yang harus dilakukan secara optimal. Hal itu akan membawa dampak terhadap legitimasi pemerintah sebagai penyelenggara pelayanan publik. Menjadi semakin tinggi, sejalan dengan semakin responsifnya dukungan masyarakat terhadap kebijakan dan program pembangunan sesuai dengan aspirasi dan kebutuhan masyarakat. Oleh karena informasi merupakan

hak setiap individu, maka pemerintah akan menjadi semakin terbuka guna memenuhi dan menjamin hak-hak publim terhadap informasi tesebut. Beberapa hak publik tersebut antara lain: (1) Hak untuk memantau perilaku pejabat publik dalam menjalankan peran publiknya (right to observe); (2) Hak untuk memperoleh informasi (right information); (3) Hak untuk berpartisipasi dalam proses pembentukan kebijakan publik (right to participate); (4) Hak untuk mendapatkan perlindungan sebagai saksi, dan pelopor dalam mengungkapkan fakta dan kebenaran (whiste blower protection); (5) Hak untuk berekspresi (freedom of Expression); (6) Hak untuk mengajukan keberatan terhadap penolakan atau dijaminnya kelima hak tersebut (right to appeal). Untuk mewujudkan dan menjamin hak-hak publik tersebut, maka perlu adanya jaminan akses informasi publik agar dapat menjawab tantangan ke depan dalam pengelolaan informasi publik tersebut.

PERUBAHAN PERILAKU APARATUR HUMAS DALAM MENDUKUNG KUALITAS PELAYANAN PUBLIK.


Tantangan yang dihadapi Pemerintah Kabupaten Karimun saat ini dalam meningkatkan pelayanan publik adalah mengubah perilaku para pelaksana dari paradigma lama sebagai birokrasi yang

200

KALAMSIASI, Vol. I, No. 2, September 2008, 189 - 204

berkuasa menjadi paradigma yang berorientasi pada pelayanan masyarakat. Dalam menentukan kompetensi pelaksana pelayanan publik ada baiknya membahas terlebih dahulu hal-hal yang berkaitan dengan karakteristik masyarakat dalam kedudukannya sebagai pelanggan. Pada dasarnya pelanggan dapat dikelompokkan menjadi 2 (dua), yaitu pelanggan internal dan eksternal. Pelanggan internal adalah pihak-pihak yang dilayani di lingkungan internal organisasi, seperti pimpinan vertikal dan horisontal, unit-unit kerja organisasi dan pejabat-pejabat fungsional horisontal. Pelayanan kepada pelanggan internal biasanya sudah berjalan dengan baik, karena secara emosional dan formal pelanggan ini mempunyai pengaruh yang cukup kuat kepada pelaksana. Penghargaan dan sanksi terhadap kualitas produk layanan berpengaruh pada prestasi kerja, penentuan posisi-posisi dan renumerasi yang langsung dapat diperoleh sebagai bagian dari fungsi pembinaan. Pelanggan eksternal adalah masyarakat langsung yang harus dilayani oleh organisasi. Pada umumnya pelanggan terutama masyarakat mempunyai keinginankeinginan untuk diperhatikan, ditolong, diberi solusi yang lebih baik. Pelanggan mengharapkan mendapat senyuman dan bukan kemarahan dari institusi pelayanan.

Mereka menyadari dan tahu bahwa ada institusi atau seseorang yang bekerja untuknya. Pertanyaan yang perlu dijawab kemudian adalah apakah pelaku pelayanan publik sudah sesuai dengan keinginankeinginan seperti itu. Dilihat dari karakteristiknya, ada beberapa pelanggan seperti: a. Pelanggan pria, dengan karakteristik mudah terpengaruh oleh bujukan, tidak sabaran, ada perasaan kurang enak jika memasuki tempat pelayanan tanpa melakukan transaksi, kurang begitu berminat untuk melihat-lihat sehingga sering terburu-buru dalam mengambil keputusan, mudah dipengaruhi oleh nasihat yang baik dan memiliki argumentasi yang objektif. b. Pelanggan wanita, pada umumnya tidak mudah terpengaruh oleh bujukan penyedia jasa layanan, lebih banyak tertarik kemasan, mementingkan status sosial, dalam hal ini wanita jauh lebih peka, mudah meminta pandangan, pendapat ataupun nasihat dari pelayan, kurang begitu tertarik pada hal-hal teknis, cepat beradaptasi dengan keadaan lingkungan; c. Pelanggan remaja mempunyai ciri mudah terpengaruh oleh perkataan aparat, lebih bersifat emosional, tidak berfikir hemat, kurang realistis, romantis dan impulsif; d. Pelanggan lanjut usia biasanya berpikir

Nurdin Basirun & Hadi Ismanto, Pengaturan Perilaku Aparatur Humas dalam Reformasi

201

kolot sesuai dengan pengalaman hidupnya. Perilakunya seolah-olah orang yang terpandai, tidak dapat mengikuti perputaran zaman, sehingga perilaku terkesan kolot, tidak terburu-buru bahkan senang berbincangbincang dulu, bertindak lamban dalam menentukan pilihan, sikapnya tenang dan ramah, terutama kaum wanitanya yang cenderung untuk menunjukkkan rasa keibuannya; e. Pelanggan pendiam, disebabkan adanya perasaan malu, tidak memiliki keberaniann untuk menyatakan permintaannya dengan jelas, pelanggan biasanya enggan untuk berbicara karena sedang memikirkan sesuatu, mungkin sedang berpikir tentang biaya. Pelanggan tipe ini umumnya adalah orang yang mengetahui benar keperluannya, kemampuan berbicara sangat kurang; f. Pelanggan suka bicara, mengetahui bagaimana cara yang baik untuk dapat memulai percakapan, sehingga pelayan kewalahan dan tidak mengetahui bagaimana cara menghentikannya. Pelanggan yang suka berbicara biasanya mudah membuat topik pembicaraan, bahkan seringkali berbicara tentang berbagai macam masalah tanpa menyinggung tujuannya untuk mendapatkan pelayanan. i.

Namun, seringkali objek pembicaraan melebar tanpa batas; g. Pelanggan penggugup, sering menengok kiri-kanan, bertanya pada orang yang tidak tepat, bersikap terburuburu. Dalam menghadapi tipe ini sebaiknya menunjukkan sikap yang tenang, ramah dan bersahabat. Menghindari hal-hal yang mengesankan keragu-raguan, karena itu akan membuat pelanggan semakin terburuburu dan semakin gugup; h. Pelanggan ragu-ragu, biasanya disebabkan pendidikan yang salah, yaitu sejak kecilnya seseorang tidak pernah dilatih untuk mencoba memutuskan sesuatu dan bertanggung jawab dengan segala resiko dari keputusan yang telah diambilnya, kondisi keuangan yang minim, sehingga pelanggan harus berpikir dua kali untuk memutuskannya. Mereka menilai bahwa proses layanan pemerintah sengaja disediakan untuk orang lain dan tidak cocok untuk pelanggan tersebut, sehingga ia khawatir akan salah mengurusnya; Pelanggan pembantah, menganggap dirinya orang yang pandai, sehingga tidak mau mendengarkan pendapat orang lain. Orang seperti ini senang berdebat kusir, sehingga membuat gaduh suasana, menganggu pelayan

202

KALAMSIASI, Vol. I, No. 2, September 2008, 189 - 204

dan lain sebagainya; j. Pelanggan sadar, memiliki kepercayaan yang tinggi karena sudah mengetahui dan merencanakan segala sesuatu yang dibutuhkan. Pelanggan yang sadar dalam melakukan transaksi hanya mengatakan keperluannya secara ringkas dengan jelas serta tidak akan membuang waktu dalam menentukan pilihan. Bergerak agak lambat, cerdas dalam berbicara, kalem tenang dan selalu perhatian; k. Pelanggan curiga, selalu mencari-cari kesalahan, seperti kesalahan pelayanan yang dibutuhkannya atau alasanalasan yang diungkapkan oleh aparat pelayanan umum. Bersikap tidak tenang dan selalu merasa curiga akan ditipu oleh aparat pelayanan. Kecurigaan tersebut muncul dari diri seorang pelanggan mungkin disebabkan ia pernah mengalami hal tersebut atau memang karakternya yang selalu curiga terhadap apa yang dijumpainya; l. Pelanggan angkuh, selalu ingin menjadi pusat perhatian, senang membual, merasa lebih unggul dan angkuh. Pelanggan yang angkuh umumnya mudah dikenal, sebab segala sesuatu yang dilakukannya serba berlebihan dan sombong. Karakteristik pelanggan seperti ini

harus menjadi fokus perhatian dalam menentukan kompetensi para pelaksana pelayanan publik. Secara umum pelaksana pelayanan publik memiliki kemampuan intelektual, keterampilan dan sikap perilaku yang sesuai dengan tuntutan tugasnya. Sedikitnya ada sebelas prinsip dalam menghadapi pelanggan (masyarakat pengguna jasa layanan): (1) Hadapi pelanggan dengan senyum yang tulus; (2) Tampilkan ekspresi wajah yang hangat dan bersemangat; (3) Perlakukan pelanggan sebagai orang penting; (4) Dengarkan dengan baik, untuk mengetahui kebutuhannya dan bagaimana menolongnya; (5) Usahakan menyebut namanya apabila memungkinkan; (7) Hindari bahasa tubuh yang tidak menyenangkan; (9) Bicarakan hal-hal yang diminati pelanggan dengan jelas dan tidak monoton; (10) Gunakan bahasa yang halus dan mengesankan; (11) Beritahu proses yang sudah dikerjakan, mintalah kesabarannya; (12) Kuasai product knowledge perusahaan anda; (13) Tampil dengan rapi dan senangilah pergaulan anda. Kemampuan berkomunikasi dengan orang lain menjadi sangat penting, lebihlebih jika didukung dengan pengetahuan, dan keterampilan yang berkaitan dengan produk pelayanan. Melayani pelanggan dengan baik merupakan harapan banyak orang.

Nurdin Basirun & Hadi Ismanto, Pengaturan Perilaku Aparatur Humas dalam Reformasi

203

Keluhan pelanggan (masyarakat pengguna jasa layanan) tidak dapat diabaikan karena kondisi positif bagi perkembangan organisasi dalam memberi pelayanan. Keluhan pelanggan mendorong organisasi untuk menyempurnakan aspek-aspek yang perlu diperbaiki, menunjukkan loyalitas organisasi kepada pelanggan, menghindari publikasi yang negatif, memperbaiki hubungan dengan pelanggan yang kecewa, mengubah pelanggan yang tidak puas menjadi puas. Apabila ini dilakukan semakin membuka peluang perbaikan-perbaikan pelayanan di masa mendatang.

pelayanan publik seperti kelembagaan, sistem dan prosedur, sarana dan prasarana termasuk diantaranya perilaku aparatur Humas guna pelaksana pelayanan publik; c. Kompetensi yang dibutuhkan bagi pelaksana pelayanan publik meliputi tiga hal, yaitu pengetahuan dasar yang berkaitan dengan produk layanan, ketrampilan mengoperasikan peralatan yang digunakan serta penampilan, sikap dan perilaku pelaksananya; d. Untuk melahirkan sikap dan perilaku yang mendukung produk layanan, pelaksana hendaknya didorong dengan suara hati yang murni, jernih dan positif. Sikap perilaku pelaksana diwujudkan dalam bentuk ekspresi tanpa prasangka buruk dan mengesampingkan kepentingan-kepentingan pribadi dan golongan.

SIMPULAN
Berdasarkan uraian di atas maka dapat disimpulkan bahwa : a. Di era reformasi, organisasi pemerintahan hendaknya mengubah paradigma lama menjadi organisasi yang menempatkan masyarakat sebagai pelanggan yang penting; b. Penguatan peran dan fungsi humas sebagai bagian dari manajemen pelayanan publik merupakan aspek penting dan strategis untuk melaksanakan reformasi pelayanan publik dalam implementasi desentralisasi administratif di Kabupaten Karimun. b. Ada beberapa aspek yang perlu disempurnakan dalam meningkatkan

DAFTAR PUSTAKA
Amy Y.S., Rahayu, 1997, Fenomena Sektor Publik dan Era Service Quality, dalam Jurnal Bisnis dan Birokrasi No. 1/Vol. III/April/1997. Boschi, R. R. (1999), Decentralisation, clientelism, and social capital in urban governing: Comparing Belo Horizonte and Salvador. Dados Revista De Ciencias Sociais 42 (4):655-690.

204

KALAMSIASI, Vol. I, No. 2, September 2008, 189 - 204

Chaskin, R. J. and Garg, S. (1997), The issue of governance in neighbourhood-based initiatives. Urban Affairs Review 32 (5): 631-661. Deni, Saiful, Konsep Dasar Dalam Pelayanan Publik, Jurnal Dinamika Birokrasi, Edisi Mei 2006, http:// saifuldeni.blogdrive.com/, 5 Juli 2006. De Souza, P R. (2000), Decentralisation . and Local Government: the second wind of democracy in India. Paper presented at the conference on Constitutional Ideas and Political Practices: Fifty Years of the Republic. UPIASI, New Delhi. Handi Irawan, D. 2002. 10 Prinsip Kepuasan Pelanggan. Jakarta: PT Elok Media Kaputindo

Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor : 63/KEP/ M.PAN/7/2003 Tentang Pedoman Umum Penyelenggaraan Pelayanan Publik. Ratnawati, P 2004, Mengukur Kepuasan ., Masyarakat Terhadap Pelayanan Pendidikan, Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan, Edisi 43, http:// www.depdiknas.go.id/Jurnal/43/pratnawati.htm, 5 Juli 2006. Nugroho D., Riant , 2000. Desentralisasi Tanpa Revolusi. Jakarta: Media Komputindo, Gramedia. Supranto, J. 2001. Pengukuran Tingkat Kepuasan Pelanggan. Jakar ta: Rineka Cipta.

INDEKS PENULIS
A Abadi, Totok Wahyu & Endang Sofiyanti Peran Elit Desa dalam Meningkatkan Partisipasi Swadaya Masyarakat pada Pembangunan di Sidoarjo, 137 - 149 Afandi, Andik & Dessy Dellina Implementasi Program Pembangunan Desa Partisipatif di Kelurahan Mindi Kecamatan Porong Kabupaten Sidoarjo, 175 - 188 Agustina, Isna Fitria Uji Perspektif Pembelajaran & Pertumbuhan Balanced Scorecard Budaya Kerja untuk Melihat Kualitas Manusia Karya, 151 - 162 B Basirun, Nurdin & Hadi Ismanto Penguatan Perilaku Aparatur Humas dalam Reformasi Pelayanan Publik di Kabupaten Karimun - Kepulauan Riau, 189 -204 I Irianto, Jusuf Manajemen SDM Berbasis Kompetensi (MSDM-BK) untuk Aparat di Dalam Birokrasi, 163 - 174 Islam, M. & Churnia Harwati Peranan Panitia Pemilihan Kepala Desa dalam Mensukseskan Pemilihan Kepala Desa Tahun 2007 : Studi Kasus di Desa Ketimang Kecamatan Wonoayu Kabupaten Sidoarjo , 113-125 R Rodiyah, Isnaini Model Kompetensi dengan Menggunakan Analisis Pasar Tenaga Kerja dalam Mempersiapkan Tenaga Kerja Indonesia Berkualitas, 101-112
(Resume hasil penelitian Dosen Muda tahun 2007. Sesuai dengan surat perjanjian pelaksanaan penelitian nomor: 007/SP2H/PP/DP2M/III/2007, tgl. 29 Maret 2007)

Rohmaniah, Ainur & Didik Hariyanto Pengaruh Komunikasi Keluarga terhadap Kekerasan pada Anak, 127-135
(Resume hasil penelitian Dosen Muda tahun 2007. Sesuai dengan surat perjanjian pelaksanaan penelitian nomor: 007/SP2H/PP/DP2M/III/2007, tgl. 29 Maret 2007)

INDEKS SUBYEK

B Block grant Bureaucratic issues Bureaucratic reformation C Capacity Child abuse Committee work performance Competence Model Corporate culture D Development E Employees productivity Employees retention Employees satisfaction F Family communication H Human Resources Officers quality I Indonesian Labor (TKI) Invalid ballots for voting

L Labor market M MSDM-BK P Participative developmental Public relation officers Public service R Reinforcing roles S Self supporting society U Unfair V Village elite Village leader election

Terima Kasih
Jurnal KALAMSIASI menyampaikan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada MITRA BESTARI sebagai berikut: 1. Syafiq A. Mughni (IAIN Sunan Ampel) 2. Dedy Mulyana (Fikom-UNPAD) 3. Zulkarimen Nasution (Ilmu Komunikasi-UI) 4. Sumartono (Ilmu Administrasi Negara, UNIBRAW) 5. Falih Suaedi (Ilmu Administrasi Negara, UNAIR)

Anda mungkin juga menyukai