Anda di halaman 1dari 102

KALAMSIASI

Jurnal Ilmu Komunikasi dan Ilmu Administrasi Negara


Vol. 3, No. 2, September 2010

Daftar Isi
POLA KOMUNIKASI PENYANDANG DISLEKSIA Dana Kusumaningtyas dan Agoeng Noegroho ....................................... 105 - 114 KONSTRUKSI SURAT KABAR HARIAN KOMPAS MENGENAI LINGKUNGAN HIDUP (Analisis Framing dalam Penyajian Berita Banjir Citarum) Arief Fajar ............................................................................................. 115 - 128 URGENITAS LAYANAN INFORMASI PUBLIK BERBASIS E-GOVERNMENT Totok Wahyu Abadi ............................................................................... 129 - 140 HAMBATAN SOSIAL BUDAYA DALAM PENGARUSUTAMAAN GENDER DI INDONESIA (Socio-Cultural Constraints on Gender Mainstreaming in Indonesia) Luluk Fauziah ....................................................................................... 141 - 152 PROFIL KEMISKINAN BERBASIS KOMUNITAS DI DESA BENGKULU REGIONAL DEVELOPMENT PROJECT (BRDP): Studi Kasus di Desa Muara Payang, Kecamatan Kota Manna, Kabupaten Bengkulu Selatan Achmad Aminudin ................................................................................ 153 - 164 PERAN PERS DALAM POLITIK DI INDONESIA DAN TANGGUNG JAWAB HUKUM ETIKA KOMUNIKASI PADA KARYA JURNALISTIK Sri Ayu Astutik ..................................................................................... 165 - 174 PEMBERDAYAAN DATA POTENSI WILAYAH BERBASIS INVESTASI MELALUI INTERNET TERHADAP PENINGKATAN PENDAPATAN DAERAH DI KANTOR BAPPEDA DAN PENANAMAN MODAL KABUPATEN KOLAKA Dewi Anggraini ..................................................................................... 175 - 183 KESENJANGAN GENDER DALAM PROGRAM PIDRA DI KABUPATEN PONOROGO Hapsari Sri Susanti .............................................................................. 185 - 201

KATA PENGANTAR
Assalamualaikum Wr.Wb. Pembaca yang budiman, Alhamdulillah, Puji Syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, akhirnya redaksi dapat menghadirkan Jurnal Kalamsiasi Vol. 3 No. 2 September 2010 ini ke tangan Anda semua, meskipun dengan banyak keterbatasan dan kekurangan di sana-sini. Edisi September 2010 kali ini Jurnal KALAMSIASI menyajikan berbagai macam isu yang cukup beragam. Ada Achmad Aminudin, yang membahas Profil Kemiskinan Berbasis Komunitas di Desa Bengkulu Regional Development Project (BRDP): Studi Kasus di Desa Muara Payang, Kecamatan Kota Manna, Kabupaten Bengkulu Selatan. Ada Dewi Anggraini, yang mencoba menelisik upaya Pemberdayaan Data Potensi Wilayah Berbasis Investasi melalui Internet terhadap Peningkatan Pendapatan Daerah di Kantor BAPPEDA dan Penanaman Modal Kabupaten Kolaka Dalam kaitannya dengan dunia Pers dan Komunikasi Jurnalistik, Sri Ayu Astutik, memaparkan Peran Pers dalam Politik di Indonesia dan Tanggung Jawab Hukum Etika Komunikasi pada Karya Jurnalistik. Sementara itu Arief Fajar, mencoba mendedah Konstruksi Surat Kabar Harian Kompas mengenai Lingkungan Hidup (Analisis Framing dalam Penyajian Berita Banjir Citarum) Dalam bidang Gender dan kajian Kewanitaan, Luluk Fauziah, mencoba memaparkan Hambatan-hambatan Sosial Budaya dalam Pengarusutamaan Gender di Indonesia, Sementara Hapsari Sri Susanti, mempermasalahkan Kesenjangan Gender dalam Program PIDRA di Kabupaten Ponorogo. Sementara dalam bidang Komunikasi Organisasi, Totok Wahyu Abadi, mencoba menelisik Urgenitas Layanan Informasi Publik Berbasis E-Government. Ada lagi bahasan Komunikasi Interpersonal tentang Pola Komunikasi Penyandang Disleksia hasil tulisan dari Dana Kusumaningtyas, dan Agoeng Noegroho Akhir kata, saran dan kritik selalu kami nantikan untuk kebaikan Jurnal yang kita cintai ini dimasa-masa yang akan datang. Selamat Membaca Wassalamualaikum wr.wb.

Penyunting

POLA KOMUNIKASI PENYANDANG DISLEKSIA


Dana Kusumaningtyas Agoeng Noegroho
(Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Jenderal Sudirman Purwokerto, email: noegroho_agoeng@yahoo.com)

ABSTRACT
This study aims to identify people with dyslexia communication patterns in each phase, from the kids, early teens, and early adult. This is a qualitative research method with a phenomenological approach to uncover human behavior, what they say, and what they do, is as a product of how people make their own interpretations of the world. The object is individual children disleksik phase, then the individual early adolescence. For this object, researchers took this category with a purposive sampling technique at Pantara elementary students (special for learning disability) who have dyslexia. For individuals disleksik the early adulthood of an individual researcher choose magister degree disleksik that graduate at The London School of Jakarta. The results showed that there are different communication patterns of people with dyslexia in every phase of its development. In the phase of child communication patterns much more done with objects or visual images, in the early adolescent phase of the communication pattern is mostly done with the form of verbal or oral, whereas in the early phase of the communication patterns dewasaa much done with the form of writing activities Keywords: communication patterns, disleksia, learning disability,

PENDAHULUAN
Setiap orang tua wajar bila mengharapkan anak-anaknya dapat tumbuh cerdas, sempurna, baik fisik, intelektual, mental, maupun emosinya, sekaligus mengharapkan sang anak kelak menjadi anak yang penuh prestasi di dalam kehidupannya kelak. Setiap orang tua akan melakukan apa saja yang terbaik untuk anaknya, paling tidak yang
105

dianggapnya baik, pendidikan yang terbaik apapun keadaanya. Setiap orang tua mempunyai kemampuan yang berbeda-beda karena itu selalu ada pilihan-pilihan yang tersedia. Semua memiliki satu tujuan yang sama yaitu demi kebaikan dan masa depan anaknya. Namun sering kali harapan mereka tidak sesuai dengan yang dihadapi. Ada

106

KALAMSIASI, Vol. 3, No. 2, September 2010, 105 - 114

beberapa anak yang memiliki hambatan dalam perkembangan akademiknya. Mungkin orangtua sangat berambisi anaknya pintar matematika namun untuk mengurutkan angka saja masih kesulitan. Orang tua menginginkan anaknya lancar membaca dan menulis sedari kecil, namun mengingat huruf pun sangat kesulitan bahkan sering kali terbalik-balik. Secara khusus mereka bisa disebut sebagai anak disleksia yang masuk dalam learning disability atau berkesulitan belajar. Kesulitan atau gangguan belajar merupakan keterbelakangan yang mempengaruhi kemampuan seseorang untuk menafsirkan apa yang mereka lihat dan dengar. Hal ini juga termasuk ketidakmampuan dalam menghubungkan berbagai informasi yang berasal dari berbagai bagian otak mereka. Kelemahan ini akan tampak kesulitan dalam berbicara, menuliskan sesuatu, koordinasi, dan pengendalian diri. Kesulitan-kesulitan ini tampak ketika mereka melakukan kegiatan-kegiatan sekolah dan menghambat proses belajar membaca, menulis, atau berhitung yang seharusnya mereka lakukan (Wood, Derek, 2007: 19). Pada tahun 1997, dalam penelitian yang dilakukan di Amerika Serikat dikatakan bahwa 1,8 persen dari anak usia sekolah mengalami kesulitan belajar, dengan kesulitan membaca sebagai kesulitan belajar yang utama. Duapuluh persen dari anak yang didiagnosis kesulitan belajar tersebut dinyatakan mengalami defisit neurologist (syaraf pusat otak) yang bervariasi dari ringan hingga berat sehingga membuat mereka merasa kesulitan dalam membaca dan menulis

(Wiguna, 2000 dalam simposium awam kesulitan belajar pada anak dan permasalahannya). Pada awalnya istilah learning disability merupakan sebuah istilah yang semena-mena dan berkonotasi negatif. Seolah-olah mereka adalah anak-anak yang tidak mampu belajar dengan baik dan tidak memiliki masa depan. Dalam perkembangannya di Amerika penggunaan learning disability menjadi tidak popular dan tidak pernah dipergunakan lagi. Penggunaan learning difference dinilai lebih manusiawi, jauh dari stigma negatif. Lalu berkembang dengan istilah children with special needs, anak dengan kebutuhan khusus (Suara Pantara, edisi seminar, 24-25 Mei 2008). Disleksia yang juga masuk dalam kategori Anak Berkebutuhan Khusus masih jarang didengar oleh sebagian orang. Selama ini mungkin autislah yang biasa dikenal dan dibahas di berbagai media, sedangkan disleksia sendiri banyak orang masih belum mengerti secara detail apa itu disleksia, kenapa bisa ada, dan datangnya dari mana, bahkan pertanyaan ekstrem yang pernah terlontar, bisa membuat orang matikah penyakit itu. Di Indonesia sendiri pada tahun 1996 Pusbang Kurrandik (Pusat Pengembangan Kurikulum dan Sarana Pendidikan) Balitbang Dikbud melakukan penelitian terhadap 4994 siswa sekolah dasar kelas I-VI di Provinsi Jawa Barat, Lampung, Kalimantan Barat, dan Jawa Timur, mendapatkan hasil bahwa 696 dari siswa SD (13,94 persen) tersebut mengalami kesulitan belajar umum dan 497 diantaranya mengalami kesulitan

Dana Kusumaningtyas & Agoeng Neogroho, Pola Komunikasi Penyandang Disleksia

107

membaca atau disleksia (Wiguna, 2000 dalam simposium awam kesulitan belajar pada anak dan permasalahannya). Ferliana seorang psikolog anak dan volunter di komisi nasional perlindungan anak, mengatakan bahwa disleksia sering dikenal dengan ketidakmampuan mengenal huruf dan suku kata dalam bentuk tertulis atau dengan kata lain ketidakmampuan dalam membaca (Weinstein, 2004: 1). Penyandang disleksia yang biasa disebut dengan disleksik sebenarnya mengalami kesulitan membedakan bunyi fonetik yang menyusun sebuah kata. Mereka bisa menangkap kata-kata tersebut dengan indera pendengarnya namun mereka kesulitan untuk menuliskannya dengan huruf-huruf yang mana saja. Dengan demikian mereka juga kesulitan menuliskan yang diinginkan ke dalam kalimat-kalimat yang panjang secara akurat. Individu disleksia mempunyai tingkat intelegensi rata-rata bahkan bisa di atas ratarata. Mereka akan kesulitan dalam memahami, mengingat, dan mengelompokan dalam menggunakan simbol verbal. Karena hal inilah maka kemampuan dasar dapat berefek khususnya membaca, menulis, mengeja dan berhitung (Bryan, James and Tanis, 2000: 45). Banyak dijumpai juga individu disleksik mempunyai kecerdasan superior, sebut saja Albert Einstein, T.A. Edison, Isaac Newton, Leonardo da Vinci, adalah sebagian contoh para penyandang disleksia (Nakita, No 526/TH.X/27 April-3 Mei 2009). Tak hanya itu, limapuluh persen pegawai NASA didiagnosis disleksia dan umumnya direkrut karena kemampuan problem-solving dan

kepekaan keruangan maupun tiga dimensi yang sangat baik, Davis dan Burn (dalam Lenggono, 2006: 45). Secara fisik atau berdasarkan penampilan anak disleksik terlihat normal seperti anak-anak pada umumnya tanpa cacat fisik sedikitpun namun akan kelihatan kekurangannya pada kemampuan dasarnya dalam membaca atau menulis. Gangguan ini kerap dijumpai di usia anak masuk ke Sekolah Dasar (SD), di mana dia susah mengikuti pelajaran dalam hal membaca dan menulis. Di sini perlu adanya pantauan yang cukup tajam dari orang tua akan keadaan sang anak disetiap perkembanganya. Kebanyakan dari orang tua tidak menyadari kenapa anaknya mengalami masalah (disleksia). Ironisnya lagi, ketidakpahaman inilah yang justru mendorong orang tua secara berlebihan menuntut anaknya untuk terus berprestasi dan tidak tertinggal jauh dari temannya (Nakita 488/th X/9 Agustus 2008). Upaya yang tepat dalam menyikapi sesuai karakteristik dari penyandang disleksia diperlukan pemahaman bagi orang tua dan guru sejak dini mengenai pola komunikasi disleksik. Oleh karena itu permasalahan yang dapat dirumuskan dalam penelitian ini adalah: bagaimana pola komunikasi seorang disleksik dari setiap fase perkembangan anak? Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pola komunikasi yang dilakukan seorang penyandang disleksia dari setiap fase perkembangan anak, yakni fase anak, fase remaja, dan fase dewasa awal.

108

KALAMSIASI, Vol. 3, No. 2, September 2010, 105 - 114

KERANGKA TEORI
1. Psikologi Komunikasi
Psikologi juga mencoba menganalisis seluruh komponen yang terlibat dalam proses komunikasi. Dalam aspek psikologi di sini memberikan karakteristik manusia komunikan serta faktor-faktor internal maupun eksternal yang mempengaruhi komunikasinya. Psikologi, meneliti kesadaran dan pengalaman manusia. Psikologi terutama mengarahkan perhatiannya pada perilaku manusia dan mencoba menyimpulkan proses kesadaran yang menyebabkan terjadinya perilaku itu. Fisher, (dalam Rakhmat, 1999: 8) menyebutkan empat ciri pendekatan psikologi pada komunikasi: penerimaan stimuli secara indrawi (sensory reception of stimuli), proses yang mengantarai stimuli dan respons (internal mediation of stimuli), prediksi respons (prediction of response), dan peneguhan respons (reinforcment of responses). Psikologi melihat komunikasi dimulai dengan masuknya kepada organ-organ pengindraan seseorang yang berupa data. Stimuli berbentuk orang, pesan, suara, warna, segala hal yang mempengaruhi seseorang. Stimuli ini kemudian diolah dalam jiwa inidividu dalam kotak hitam yang tidak pernah diketahui. Psikologi komunikasi juga melihat bagaimana respons yang terjadi pada masa lalu dapat meramalkan respons yang akan datang. Seseorang harus mengetahui sejarah respons sebelum meramalkan respons individu masa ini. Dari sini akan timbul perhatian pada gudang memori (memori storage) dan set (penghubung masa lalu dan masa sekarang).

Miller (dalam Rakhmat, 1999: 9) mendefinisikan psikologi komunikasi sebagai ilmu yang berusaha menguraikan, meramalkan, dan mengendalikan peristiwa mental dan behavioral dalam komunikasi. Peristiwa mental adalah apa yang disebut Fisher internal mediation of stimuli, sebagai akibat berlangsungnya komunikasi.

2. Learning Disabilities
Istilah kesulitan belajar (learning disabilities) baru dimunculkan pada tahun 1962 oleh Samuel Kirk pada salah satu konferensi orang tua di New York. Adapun kesulitan belajar yang diungkapkan oleh Kirk (dalam Hallahan dan Kauffman, 1994: 85) adalah guna menjawab kebingungan mengenai berbagai label yang digunakan untuk menggambarkan anak-anak dengan intelegensi normal dan memiliki permasalahan belajar. Konsep Kirk ini secara luas telah diadopsi oleh para ahli guna pengetahuan dan penanganan bagi anak-anak yang mengalami kesulitan belajar di berbagi negara. Adapun definisi dan batasan mengenai kesulitan belajar menurut beberapa ahli sebagai berikut: a. Dalam Mangunsong Pada umumnya, kesulitan belajar sering banyak dikaitkan dengan kesukaran yang ditemui siswa di dalam kelas. Dalam hal ini, terjadinya masalah dalam proses belajar mengajar individual. Kesulitan belajar pun mempunyai dimensi yang lebih luas yang bisa terjadi pada anak pra sekolah ataupun anak secara umum. b. Dalam Hallahan dan Kauffman (1994: 45), definisi kesulitan belajar dibagi

Dana Kusumaningtyas & Agoeng Neogroho, Pola Komunikasi Penyandang Disleksia

109

berdasarkan atas definisi pemerintah federal 1. The Federal Definition, first signed into law 1977 Kesulitan belajar khusus adalah suatu gangguan dalam satu atau proses psikologi dasar yang mencakup pemahaman dan penggunaan bahasa ujaran atau tulisan. Gangguan tersebut mungkin menampakan diri dalam bentuk kesulitan mendengarkan, membaca, menulis, dan mengeja ataupun berhitung. Batasanbatasan tersebut mencakup kondisi-kondisi seperti gangguan perceptual, disleksia, dan afasia perkembangan. Batasan tersebut tidak mencakup anak-anak yang memiliki problema belajar yang penyebab utamanya berasal dari adanya hambatan dalam penglihatan, pendengaran, motorik, hambatan karena tunagrahita, karena gangguan emosional, atau karena kemiskinan lingkungan budaya atau ekonomi. 2. The National Joint Commtee for Learning Disabilities Definition (NJCLD) Kesulitan belajar menunjuk pada sekelompok kesulitan yang dimanifestasikan dalam bentuk kesulitan yang nyata dalam kemahiran dalam penggunaan kemampuan mendengar, bercakap-cakap, membaca, menulis, manalar atau kemampuan bidang study matematika. Gangguan tersebut ins-

trisik dan diduga disebabkan oleh adanya disfungsi sistem saraf pusat. Meskipun suatu kesulitan belajar mungkin terjadi bersamaan dengan adanya kondisi lain yang mengganggu atau berbagai pengaruh lingkungan, berbagai hambatan tersebut bukan penyebab atau pengaruh langsung.

3. Disleksia
Disleksia merupakan bagian dari kesulitan belajar, di mana dalam pengklasifikasian digolongkan dalam Academic Learning Disabilities. Kesulitan belajar akademik menunjuk pada adanya prestasi akademik yang berada jauh di bawah ratarata kemampuan yang diharapkan. Kegagalan-kegagalan tersebut mencakup penguasaan ketrampilan dalam membaca (Disleksia), menulis (Dysgraphia), matematika (Dyscalculia). Di sini akan di bahas lebih mendalam mengenai disleksia. Selama ini mungkin orang masih dibingungkan akan apa itu disleksia karena seperti yang kita ketahui kata autis ataupun down sindrom lebih membahama dan lebih dibahas di media-media baik cetak maupun elektronik. Bahkan bila ada teman yang berbeda sedikit perangainya dengan teman-teman yang lainya sering dibilang sebagai anak autis, padahal seperti autis yang sebenarnya juga tidak banyak orang yang tahu. Hal itu karena autis lebih banyak dikenal orang meski terkadang mereka juga tidak mengerti apa dan seperti apa itu autis. Secara sederhana disleksia dapat diartikan sebagai suatu kesulitan dalam membaca, di mana bila dihadapkan dalam

110

KALAMSIASI, Vol. 3, No. 2, September 2010, 105 - 114

tulisan akan terbalik-balik. Disleksia sendiri dianggap suatu kelainan karena mainstrem masyarakat kita cenderung membaca huruf-huruf angka dan simbol. Pennington dan Smith dalam jurnal Child Development (1983: 272) disleksia dapat didefinisikan sebagai kesulitan dalam perkembangan membaca dan mengeja, bahwa kesulitan dalam daerah ini terjadi bukan karena rendahnya intelegensi, masalah sosial ekonomi yang rendah, gangguan emosi, kerusakan dokumen neurological (saraf pusat otak) ataupun kecacatan sekeliling sensori. Pertama kalinya Kerr and Morgan dalam jurnal Child Development (1983: 272) memberi sebutan disleksia sebagai congenintal word blindness atau buta kata sejak lahir. Secara lengkap yang diadopsi oleh organisasi disleksia yang bernama The International Disleksia Association 1994 bahwa disleksia adalah kelainan neurologist yang sering terjadi karena hubungan dengan keluarga, hal ini berhubungan dengan kemahiran dan proses bahasa, selain itu juga berhubungan dengan kesulitan dalam menerima dan mengekspresikan bahasa termasuk proses fonologi dalam membaca, menulis, mengeja, dan berhitung (Stowe, 2000:10). Stereoptype yang menyebar luas dan melekat pada penyandang disleksia adalah penyandang sering terbalik-balik dalam angka dan huruf, dan ada masalah pada visual yang merupakan dasar pada kesulitan belajar (Bryan, 2000: 23). Disleksia disebutkan bahwa suatu kesulitan tak terduga pada saat anak-anak belajar membaca atau mengeja, yang bukan disebabkan oleh pendidikan

sekolah yang buruk, cacat pada indra fisik, cedera otak bawaan, atau kecerdasan yang secara keseluruhan rendah atau status ekonomi yang buruk (Weinstein, 2008: 63). Penyebab disleksia bisa terjadi karena, pertama, pusat bahasa di otak penyandang ini termasuk dalam kategori asimetris. Kedua, terdapat gangguan syaraf otak yang berhubungan dengan kemampuan membaca, misalnya di daerah temporal dan parietal. Gangguan syaraf ini dapat terjadi sejak si kecil masih dalam kandungan (Adityaputri, 2007: 73). Lyons (dalam Weinstein, 2008: 64) yang mengungkapkan bahwa disleksia adalah suatu gangguan spesifik berbasis bahasa, yang bersifat bawaan dan ditandai dengan kesulitan mengartikan satu kata tunggal yang biasanya mencerminkan kemampuan pemrosesan fonologi yang tidak memadai. Kesulitan mengartikan satu kata tunggal ini sering kali tidak terduga jika dikaitkan dengan usia serta kemampuan kognitif dan akademis lainnya. Disleksia ditunjukan dengan kesulitan berbeda-beda dalam berbagai bentuk bahasa yang sering kali mencakup juga, selain masalah dalam membaca, suatu masalah mencolok dalam menguasai keterampilan menulis dan mengeja.

METODE PENELITIAN
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Fenomenologi memandang perilaku manusia, apa yang mereka katakan, dan apa yang mereka lakukan, adalah sebagai satu produk dari bagaimana orang melakukan tafsir terhadap dunia mereka

Dana Kusumaningtyas & Agoeng Neogroho, Pola Komunikasi Penyandang Disleksia

111

sendiri. Dengan kata lain, untuk menangkap makna perilaku seseorang, peneliti harus berusaha untuk melihat segalanya dari pandangan orang yang terlibat dalam situasi yang menjadi sasaran studinya tersebut (Sutopo, 2006: 27). Subjek penelitian adalah individu disleksik anak-anak SD, kemudian individu disleksia memasuki remaja awal dengan kisaran usia 10-14 tahun. Untuk kategori ini peneliti mengambil dengan teknik purposive sampling anak didik SD Pantara (SD berkebutuhan khusus) yang menyandang disleksia. Subjek penelitian lainnya adalah individu disleksik yang memasuki usia dewasa awal dengan kisaran usia 20-30 tahun, yaitu seorang disleksik lulusan S2 The London School Jakarta yang sekarang bekerja sebagai dosen pembimbing di almamaternya. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam kepada informan. Hasil wawancara tersebut kemudian diolah dan dianalisis dengan menggunakan analisis interaksi. Yaitu analisis yang mampu memberikan gambaran tentang tulisan, ucapan, dan perilaku objek yang diamati. Model analisis ini melibatkan tiga komponen pokok yaitu: reduksi data (reduction), penyajian data (data display), penarikan simpulan (Verification).

Pada fase anak-anak


Dari informan (Indra) menunjukan imajinasi dan hayalan yang tinggi tentang berbagai hal khususnya tentang hal yang disukai. Hal ini merupakan inspirasi Indra dalam melakukan kreativitas yang diwujudkan dalam menggambar dan juga bercerita, ketika Indra malas bercerita maka Indra membuat gambar bercerita atau komik. Dari hasil observasi yang dilakukan peneliti menunjukan bahwa pengalamanpengalaman masa lalu juga sering digambarkan dan ditunjukan ke orang lain sebagai ceritanya. Gambar pesawat yang ditunjukan ke peneliti menceritakan bahwa Indra pernah naik pesawat ke Padang tapi ketakutan dan sekarang tak takut lagi bila naik pesawat. Gambar berupa coretan seperti benang yang ruwet ternyata Indra mengartkan sebagi jalur rail coster, dan Indra pernah menaikinya. Ketika pelajaran komputer di mana setiap anak diinstruksikan untuk menggambar gunung. Teman-teman yang lainnya masih sibuk menghidupkan komputer dan juga mencari programnya tapi Indra sudah selesai menggambar tugasnya. Peneliti melihat bukan gambaran gunung yang biasa digambar anak pada umumnya, gunung yang biasa digambar anak-anak berupa dua segitiga tapi Indra memodivikasi dengan hanay satu gunung. Gambaran Indrapun juga detail, di pinggir-pinggir gunung ada deretan rumah yang lengkap dengan antenna TV, di pucuk gunung ada bunganya, sawah yang berwarna campuran hijau dan kuning, burung dan juga langit yang

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN


Data hasil penelitian menujukan beragam pola komunikasi antara setiap fase dari perkembangan anak mulai dari fase ana-anak, remaja awal dan dewasa awal.

112

KALAMSIASI, Vol. 3, No. 2, September 2010, 105 - 114

juga lengkap dengan matahari dan pelangi. Sementara teman yang lainnya menggambar dengan melihat contoh yang diberikan oleh guru komputer. Imajinasi dan daya khayal Indra memang tinggi, dalam Rakhmat (1999: 69) diungkapkan cara berpikir seseorang ada dua cara yaitu secara autistic dan juga secara realistic. Di sini Indra memadukan kedua cara ini secara autistic yang lebih tepatnya disebut melamun, fantasi, menghayal, ataupun wishful thingking sebagai contohnya. Dengan berpikir autistik orang akan lari dari kenyataan dan melihat hidup sebagai gambar-gambar fantastis. Seperti halnya Indra memodelkan dirinya seperti pak pos. Namun berpikir autistik ini diimbanginya dengan berpikir secara realistis yang disebut juga nalar (reasoning). Ialah yang berpikir dalam rangka menyesuaikan diri dengan dunia nyata.

ceritanya itu ditambahi pengetahuannya yang didapat dari tempat lain misalnya internet ataupun TV. Pengalaman atau komentar Wisnu tentang perjalannannya ke Ragunan diceritakan kepada peneliti:
aku sedih kemarin ke Ragunan, kasihan gorilanya gorilanya juga sedih, liat gak kemarin gorilanya mukanya kayak apa yah? Kayak cemberut gitu mana di pejara (dalam jeruji) lagi, sendirian lagi gak ada keluarganya. Kan seharunya rumahnya bukan di situ seharunya gorila itu di hutan kan enak tu bebas ke mana-mana gak dipenjara. Orang jahat sih pake pemburuan-pemburuan aja.

Fase Remaja Awal


Dari informan (Wisnu) menunjukan pola komunikasi lewat aktivitas yang tak membutuhkan baca tulis seperti permainan, olah raga, berbicara atau diskusi adalah lebih disukai, Wisnu benar-benar menunjukan kemampuannya dan menutupi kekurangannya akan kesulitna baca dan tulisnya. Berbicara atau diskusi yang menjadi salah satu hal yang menonjol dari Wisnu menuntut Wisnu untuk berpikir lebih dan menarik serta berpikir kritis dari teman-temannya, hal itu untuk mendapatkan ketertarikan dari temannya dan memperhatikan Wisnu. Hal tersebut terlihat dari aktifnya Wisnu maju di depan kelas untuk bercerita tentang pengalamannya yang sering ke luar negeri dan dari

Hal senada dikemukakan menurut Pollock and Waller, (1996: 1), dalam bercerita secara lisan lancar sekali disleksik melakukannya, tapi bila cerita lisannya itu diinstruksikan untuk ditulis di buku, akan merasa kesulitan dan susah sekali menuangkannya, kebutuhannya sering tidak terorganisir dan disleksik berpikir sedikit aneh, beberapa disleksik dianggap malas jika mereka dengan nyata cerdas secara oral, tetapi mereka biasa-biasa saja di atas kertas

Fase Dewasa Awal


Dari informan (Inaka) menunjukan bahwa pola komunikasi dengan menulis perasanya dalam sebuah buku harian dengan tak ada ketakutan akan salah tulis atau kurang huruf, ide-ide dan perasaan itu terus mengalir mengikuti emosinya yang ditambahi juga dengan cerita-cerita. Inna mengembangkan hayalan dan juga imajinasinya, tak hanya itu tulisan-tulisan

Dana Kusumaningtyas & Agoeng Neogroho, Pola Komunikasi Penyandang Disleksia

113

Subjek Fase anak-anak

Pola Komunikasi Dengan memahami akan kekurangan dan kelebihannya maka di fase anak-anak berusaha menutupi kekurangannya baca tulis dengan menggambar atau gambar bercerita bisa juga disebut komik. Di mana keterangannya bukan berupa tulisan tapi dijelaskan lewat lisan yang juga masih harus dibantu orang lain mengenai maksudnya karena komunikasinya masih loncat-loncat. Di fase remaja ini juga memahami akan kekurangan dan kelebihannya. Kekurangannaya dalam baca tulis ditutupi dengan menonjolakn oral atau lisannya. Akademik yang ditunjukan dengan tulisan tak begitu menonjol karena Ia aktif di kelas dengan menjawab secara lisan dan juga diskusi, hal ini juga ditunjang di fase ini kritis dalam berkomentar (pada suatu masalah). Di fase dewasa awal lebih matang dalam memahami dirinya berusaha menutupi kekurangannya (sulit beradaptasi atau komunikasi interpersonanya di lingkungan baru) serta kesulitan dalam mengungkapkan apa yang di otak secara oral di tutupinya dengan menulis. Dengan menulis di buku hariannya bisa lebih mengenal akan siapa dirinya dan lebih terbuka akan dirinya. Ketika menulis merasa tak ada beban jadi mengalir apa adanya tapi beda halnya bila tulisan itu untuk orang lain (perintah dari sesorang) maka kembali merasa kesulitan karena ketakutan-ketakuan akan kesalahan dan trauma masa kecilnya. Jalan cerita sudah tersusun dengan lengkap di otak siap di tuangkan tapi untuk memulai menulis dan menuangkan susah sekali, bila saat seperti ini yang dibutuhkan dorongan dalam diri untuk mengembalikan PD nya serta support positif dari orang terdekat.

Fase remaja awal

Fase dewasa awal

berupa atikel atau yang ilmiah sering dibuat Inna, tapi hanya untuk konsumsi pribadi atau teman dekatnya saja. Bila trauma masa kecil yang menyakitkan itu tiba-tiba muncul akan mempengaruhi percaya dirinya, dan Innapun akan kesulitan menuangkannya dan kesulitan sekali dalam menulis. Inna mengungkapkan :
Otakku penuh, penuh dengan katakata, penuh dengan kalimatkalimat..penutup, isi, dan pembuka, dan aku yakin bakal menarik untuk dibaca tapi aku bingung gimana ngawalinya aku nulis kalimat yang apa dulu. Aku suka nulis tapi aku bingung kalau disuruh kayak gini

Untuk lebih memudahkan, penulis membuat matrik hasil penelitian pola komunikasi berdasarkan setiap fase (seperti tertera pada tabel di atas).

SIMPULAN DAN SARAN


Dari hasil penelitian yang dilakukan menunjukan pola komunikasi yang berbeda pada penyandang disleksia disetiap fase perkembangan. Mulai dari fase anak-anak anak-anak pola komunikasi lebih dominan menggunakan gambar visual atau menceritakan obyek. Pada fase remaja awal pola komunikasi yang paling dominan adalah lisan atau berbicara dengan lancar. Kemudian pada fase

114

KALAMSIASI, Vol. 3, No. 2, September 2010, 105 - 114

dewasa awal pola komunikasi didominasi dengan kesukaannya akan menulis sebagai bentuk pengungkapan ideidenya. Hal ini menjadi sangat penting agar para orang tua dan guru mengetahui pola komunikasi pada anak disleksia sejak dini. Hasil penelitian ini menunjukan pola komunikasi para penyandang disleksia dapat terjadi pada setiap fase. Oleh karena itu kepada orang tua dan guru di sekolah dasar umum, hendaknya mengetahui lebih dini apabila terdapat siswa yang mengalami kesulitan dalam belajar atau terlihat berbeda dengan teman-temannya, maka disarankan untuk memberikan perhatian khusus dengan cara dipilihkan sekolah khusus, atau diberi metode pengajaran yang lebih banyak menggunakan media gambar dan mendorong anak untuk bercerita tentang suatu obyek dalam belajar.

Poewandari, E. Kristi. 1997. Pendekatan Kualitatif dan Penelitian Psikologi. Salemba: Falkultas Psikologi UI Pollack and Waller. 1996. Day-To-Day Dyslexia In The Classroom. New York Rakhmat, Jalaluddin. 2004. Psikologi Komunikasi. Bandung: PT Remaja Rosdakarya Stowe, Cynthia. 2000. How To Teach children and Teens With Dyslexia. Sanfrancisco: a wiiley imprint Sugiyono. 1995. Memahami Penelitian Kualitatif. Bandung: Alfabeta Sutopo. 2006. Penelitian Kualitatif. 2006. Surakarta: Universitas Sebelas Maret Weinstein, Lissa. 2003. Living With Dyslexia. Bandung: Mizan Wood, Derek, dkk. 2007. Kiat Mengatasi Gangguan Belajar. Jogjakarta: Katahati. Wood, Julia T. 2004. Communication Theories In Action An Introduction. Wadsworth

DAFTAR PUSTAKA
Adityaputri, Aesthetica. Empat Gangguan Perkembangan Anak. Parenting Indonesia, Agustus 2007. Jakarta Alsa, Asmadi. 2003. Pendekatan Kuantitatif dan Kualitatif Serta Kombinasinya Dalam Penelitian Psikologi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar Bryan, James and Tanis. 2000. Under Standing Learning Disabilities. America: Alfred Hallahan dan Kauffman. 1994. Exceptional Learners: Introduction to Special Education. Boston: Allyn dan Bacon Pennington and Smith. 1983. Genetic Influences On Learning Disabilities and Speech and Language Disorder. The University of Chicago Journal of Child Development

Sumber lain
Lenggono, Geni Putri. Skripsi 2006. Gambaran Potensi Sosial pada Siswa penyandang Disleksia yang Menempuh Pendidikan Di Sekolah Inklusif. Fakultas Psikologi UI Depok: tidak diterbitkan Wiguna. 2000. Makalah simposium awam Kesulitan Belajar Pada Anak dan Permasalahannya. Jakarta Selatan: Tidak diterbitkan Suara Pantara edisi seminar, 24-25 Mei 2008

KONSTRUKSI SURAT KABAR HARIAN KOMPAS MENGENAI LINGKUNGAN HIDUP (Analisis Framing dalam Penyajian Berita Banjir Citarum)
Arief Fajar
( Dosen Ilmu Komunikasi Fakultas Komunikasi & Informatika Universitas Muhammadiyah Surakarta, email: arf_manutd_2003@yahoo.co.id.)

ABSTRACT
Studies on research trying to explain how Kompas framing the text news environmental themes that are represented Citarum Flood event. The main consideration is the selection of the newspaper Kompas bravery featured news about the floods during the third edition of this Citarum; March 26,27, and 29, 2010 on the first page. As we all know, the preaching of the main themes in a newspaper located on the first page. From the construction of the newspaper Kompas in environmental reporting through the framing the presentation of the Citarum Flood News on the first page two conclusions can be drawn as follows: (1) Construction of Compass on environmental issues in the text of the Citarum Flood coverage is government policy in the management of related environmental management Watershed Citarum is right; (2) In framing the report text, the third report text that is on the first page shows the Citarum watershed area which is under threat of floods hit by food shortages but there is no discussion of space tucked into the development effort for the public to critically on the causes of environmental damage that occurs primarily related to the Citarum river basin management policies. Whereas the concept of journalism emphasis on a holistic assessment, including management or government policies in environmental management. Keywords: framing analysis and environmental news

PENDAHULUAN
Peran surat kabar sebagai katalis dalam pembangunan sudah lama berlangsung. Namun, penentuan informasi maupun besaran tema tertentu dalam surat kabar, tentu berpedoman pada kebijakan redaksi. Dalam hal ini menyangkut materi yang ditampilkan maupun komposisi isi
115

yang harus mewakili tujuan dari surat kabar tersebut. Lebih dari itu, penyampaian berita ternyata menyimpan misi tersembuyi (hidden mission). Bagi masyarakat biasa, pesan dari sebuah berita akan dinilai apa adanya. Berita dipandang sebagai teks

116

KALAMSIASI, Vol. 3, No. 2, September 2010, 115 - 128

suci yang penuh dengan objektivitas. Namun, berbeda dengan kalangan tertentu yang memahami betul gerak industri pers terutama surat kabar. Mereka akan menilai lebih dalam terhadap pemberitaan, yaitu setiap penulisan berita menyimpan ideologis atau latar belakang dari surat kabar. Seorang jurnalis dan redaktur pasti akan memasukkan ide-ide mereka dalam analisis terhadap data-data yang diperoleh di lapangan serta jumlah dan letak posisinya dalam setiap edisi terbitannya. Untuk mengetahui isi berita diperlukan sebuah analisis tersendiri. Lewat analisis berita tersebut akan diketahui kecenderungan posisi berita berdasarkan urgenitas isunya, khususnya hal ini berita pembangunan. Hal ini akan memberikan dampak positif terhadap pembaca itu sendiri. Pembaca lebih memahami mengapa seorang jurnalis atau institusi surat kabar seperti Kompas, Republika, Jawa Pos, dan lain-lain menulis berita dengan bingkai tertentu. Sehingga, seminimal mungkin menghindari terjadinya respon yang reaksional. Pembaca tidak akan fanatik terhadap salah satu institusi surat kabar dengan alasan ideologi. Artinya, masyarakat akan lebih dewasa terhadap surat kabar. Penelitian ini melihat pandangan Surat Kabar nasional, yaitu Kompas dalam membingkai sebuah tema pembangunan berkelanjutan. Salah satunya dalah tema lingkungan hidup. Mengapa hal ini menjadi penting? Sebab dalam 3 edisi terbitan Kompas berani memasang isuisu lingkungan hidup sebagai headline di halaman depan (26, 27, dan 29 Maret 2010) pada halaman pertama. Padahal dalam survei kecil (analisis isi kuantitaif) yang dilakukan peneliti pada dua surat

kabar mainstream nasional yang lainnya yaitu Jawa Pos dan Republika pada periode terbit yang sama, kedua surat kabar ini menunjukan tema politik dan hukum dengan presentasi 75 % dari total headline di halaman pertama. Bandingkan dengan Kompas yang menghadirkan pemberitaan tentang Banjir Citarum sebanyak 33.34 % (4 headline dan badan berita) pada halaman pertama selama 3 edisi. Namun kembali pada pertanyaan di atas, mengapa isu lingkungan hidup yang diwakili oleh Banjir Citarum yang dikemas? Pasti, ada hal yang bernilai berita (news value) dalam pandangan redaksional Kompas. Mengingat status Kompas sebagai Surat Kabar mainstream di tanah air, tentu ada bingkai (framing) tertentu untuk menjadikan tema tersebut sebagai tema pemberitaan utama. Kajian ini berupaya memaparkan bagaimana Kompas membingkai (framing) teks berita tema lingkungan hidup yang diwakili peristiwa Banjir Citarum. Pertimbangan utama pemilihan surat kabar Kompas adalah keberanian Surat Kabar ini menampilkan berita mengenai Banjir Citarum ini selama 3 edisi; 26, 27 dan 29 Maret 2010 pada halaman pertama. Seperti telah diketahui bersama, tema pemberitaan yang utama dalam sebuah surat kabar berada pada halaman pertama. Berdasarkan latar belakang tersebut, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana surat kabar Kompas mengkonstruksi pemberitaan lingkungan hidup melalui pembingkaian (framing) penyajian Berita Banjir Citarum pada halaman pertama? Tujuan dilakukan penelitian ini adalah untuk mengetahui konstruksi surat kabar Kompas dalam pemberitaan

Arief Fajar, Konstruksi Surat Kabar Harian Kompas Mengenai Lingkungan Hidup

117

lingkungan hidup melalui pembingkaian (framing) penyajian Berita Banjir Citarum pada halaman pertama.

KERANGKA TEORI
1. Berita sebagai Konstruksi Realitas oleh Surat Kabar.
Bagi Berger, realitas itu tidak dibentuk secara ilmiah, tidak juga sesuatu yang diturunkan oleh Tuhan. Tetapi sebaliknya, ia dibentuk dan dikonstruksi. Dengan pemahaman semacam ini, realitas berwajah ganda/plural. Setiap orang bisa mempunyai konstruksi yang berbeda-beda atas suatu realitas. Sehingga, konstruksi atas realitas dapat dipahami sebagai proses yang didalamnya ada penceritaan kembali sebuah fakta mengenai sesuatu keadaan atau peristiwa dengan mengaitkannya terhadap sesuatu yang jauh berbeda dengan subtansi peristiwa tersebut. Lalu bagaimana teori konstruksi atas realitas ini memetakan penyajian berita oleh media massa (termasuk surat kabar) ? Prinsipnya fungsi media massa adalah menceritakan kembali fakta (to inform) kepada masyarakat. Hal ini akan sangat berkaitan dengan bangunan konstruksi atas realitas. Media massa berdasarkan kebijakan redaksionalnya tentu menyusun realitas berbagai peristiwa menjadi sebuah teks berita yang bermakna. Konstruksi media atas realitas ini sangat sesuai dengan istilah media adalah agen konstruksi, bukan-dalam istilahnya Shoemaker and Reese-sebagai penyalur pesan yang netral. Sehingga, teks berita merupakan bentuk konstruksi realitas yang disajikan oleh media massa. Meneruskan pandangan konstruk-

sionis dan terlebih paradigma kritis, khalayak membutuhkan upaya untuk memahami teks berita. Hal ini diharapkan khalayak mampu melakukan critical review terhadap sesuatu isu yang dihembuskan, terutama misi rahasia (hidden mission) dari teks berita tersebut . Langkah awal untuk memahami teks berita termasuk surat kabar-, sangat ditentukan pemahaman bagaimana proses produksi sebuah teks berita. Dari hasil produksi teks berita inilah, media massa terkadang terlalu berlebihan dalam mengapresiasi tuntutan khalayak sebagai sumber informasi. Sehingga, seperti media massa lainnya, surat kabar sering kali menampilkan isuisu yang sebenarnya dangkal menjadi fakta yang menyangkut hajat hidup orang banyak atau dalam istilahnya sering disebut orientasi media massa (dalam hal penelitian ini surat kabar). Orientasi dari sebuah media massatermasuk surat kabar-dapat kita petakan dengan menilai news value (nilai berita) dari sebuah teks. Sebab, nilai berita merupakan ukuran (measurement) dari media massa sebagai lembaga dan wartawan sebagai penyaji berita dalam peliputan dan produksi teks berita. Sebuah fakta akan dinilai layak menjadi teks berita apabila memiliki paling tinggi. Untuk itu akan sangat memudahkan memulai sebuah penilaian terhadap teks berita ketika berupaya memahami ukuran serta elemen yang digunakan oleh media massa dalam menilai sebuah peristiwa. Dimana muaranya adalah sebuah konstruksi atas realitas tadi. Elemen ini berhubungan dengan orientasi media dengan khalayaknya. Menurut Shoemaker dan Reese, nilai berita

118

KALAMSIASI, Vol. 3, No. 2, September 2010, 115 - 128

adalah elemen yang ditujukan kepada khalayak yang merupakan prosedur standar peristiwa apa yang bisa disebarkan kepada khalayak. Selain itu, nilai berita adalah produk dari konstruksi wartawan yang dianggap ideologi profesional wartawan dimana memberi prosedur bagaimana peristiwa yang begitu banyak disaring dan ditampilkan. Secara umum, nilai berita dapat dipecah sebagai berikut: 1. Prominance, nilai berita diukur dari kebesaran peristiwanya atau arti pentingnya. Sebagai contoh; kecelakaan pesawat lebih dipandang berita dibandingkan dengan kecelakaan pengendara sepeda motor. 2. Human Interest, peristiwa lebih memungkinkan disebut berita kalau peristiwa itu lebih banyak mengandung unsur haru, sedih, dan menguras emosi khalayak. Contoh; Peristiwa abang becak yang mengayuh becak-nya dari Surabaya ke Jakarta lebih memungkin dipandang berita dibandingkan peristiwa abang becak yang mengayuh becaknya di Surabaya saja. 3. Conflict/Controversy, peristiwa yang mengandung konflik lebih potensial disebut berita dibandingkan dengan peristiwa biasa-biasa saja. Misalnya; kerusuhan antara penduduk pribumi dengan etnis Tionghoa lebih layak dibandingkan peristiwa sehari-hari. 4. Unusual, berita mengandung peristiwa yang tidak biasa, peristiwa yang jarang terjadi. Semisal; seorang ibu yang melahirkan 6 bayi dengan selamat lebih disebut berita dibandingkan dengan peristiwa kelahiran seorang bayi. 5. Proximity, peristiwa yang dekat lebih layak diberitakan dibandingkan dengan peristiwa yang jauh, baik dari fisik

maupun emosional dengan khalayak. Contoh; Peristiwa Pilkada Kota Surabaya akan lebih layak menjadi berita bagi surat kabar di Surabaya dibandingkan Pilkada Kota Banjarmasin. Dalam penelitian ini, nilai berita tersebut merupakan ukuran dari konstruksi atas realitas dari surat kabar Kompas dalam menyajikan pemberitaan bertema lingkungan hidup. Batasan dari nilai berita yang menjadikan peristiwa Banjir Citarum dan ornamen-ornamen didalamnya layak disajikan sebagai teks berita.

2. Framing: Bingkai Media Massa dalam Konstruksi Realitas


Pendekatan framing (bingkai) dan pendekatan wacana (discourse) merupakan untuk menganalisis teks media secara lebih komprehensif sebagai pengembangan dari pendekatan isi (content). Pendekatan dan analisis framing menggali sebuah bangunan (konstruksi) baik ideologi, politik, dan kepentingan yang kompleks dalam teks berita, agar teks berita tidak dipandang entitas yang bebas nilai. Sehingga, pada prinsipnya analisis framing melakukan pendekatan untuk mengetahui bagaimana perspektif yang berkembang dalam produksi teks berita. Faktanya, sering menemukan dua atau tiga media massa semisal surat kabar, meliput peristiwa yang sama tetapi menghasilkan teks beita yang gaya dan sudut pandang berbeda. Sebagai contoh berita mengenai peledakan bom di Bali, media massa yang tertentu melihat sebagai kejahatan atau bagian gerakan terorisme. Namun, adapula media massa yang lain mengganggapnya sebagai bagian gerakan pembelaan terhadap agama tertentu.

Arief Fajar, Konstruksi Surat Kabar Harian Kompas Mengenai Lingkungan Hidup

119

Sehingga, proses produksi teks berita pada media massa yang sangat menentukan frame dari teks berita yang diproduksinya. Hal ini tidak lepas dari latar belakang pengetahuan, dan ideologi wartawan sebagai peliput hingga ideologi, kepemilikan, politik, dan kepentingan institusi media massa. Disinilah kekuatan pendekatan dan analisis framing untuk menangkap cara-cara media massa mengkostruksi sebuah realitas dari sebuah peristiwa ke dalam teks berita. Hal ini dapat didukung dari pendapat beberapa pakar framing diantaranya; Robert N. Entman mendefinisikan framing sebagai proses seleksi dari berbagai aspek realitas sehingga bagian tertentu dari peristiwa itu lebih menonjol dibandingkan aspek lain. Sedangkan menurut Pan dan Kosicki, framing merupakan strategi konstruksi dan memproses berita. Perang kata kognisi yang digunakan dalam mengkode informasi, menafsirkan peristiwa dan dihubungkan dengan rutinitas dan konvensi pembentukan berita. Mengutip dari Redi Panuju, proses analisis framing dibagi dalam empat bagian (Panuju, 2003)

dap kreasi atau perubahan analisa dan penulisan yang diterapkan wartawan. Frame Building meliputi pertanyaan kunci; faktor struktur dan organisasi media seperti apa yang mempengaruhi sistem media atau karakteristik individu wartawan seperti apa yang mampu mempengaruhi penulisan sebuah berita terhadap peristiwa.

b. Frame Setting (Pengkondisian Bingkai)


Proses kedua dalam framing adalah frame setting. Frame setting didasarkan pada proses identifikasi yang sangat penting, dimana salah satu aspeknya yaitu pengkondisian agenda (agenda setting). Agenda setting lebih menitikberatkan membungkus isu-isu yang menonjol dalam hal ini dengan membingkai (framing). Sehingga, pada muaranya framing setting memilah isu-isu dalam dua level yaitu (1) pengkondisian bingkai dari objek yang penting (2) pengkondisian atribut yang penting.

c. Individual Level Effect of Framing (Tingkat Efek Bingkai Bagi Individu)


Tingkat pengaruh indvidual terhadap seseorang akan membentuk beberapa variabel perilaku, kebiasaan, dan variabel kognitif lainnya dengan menggunakan model kotak hitam (black box model). Sehingga, studi ini berfokus pada input dan output sebagai proses yang menghubungkan variabel kunci tersebut. Keluaran framing, sekalipun telah memberi kontribusi yang penting dalam menjelaskan efek penulisan berita. Namun, studi ini bukan dimaksudkan menjelaskan bagaimana dan mengapa dua variabel yang dihubungkan tadi.

a. Frame Building (Bangunan Bingkai)


Studi-studi ini mencakup tentang dampak faktor seperti pengendalian diri terhadap organisasi, nilai-nilai profesional wartawan atau harapan kepada audiens terhadap bentuk dan isi teks berita. Meskipun demikian, studi tersebut belum mampu menjawab bagaimana media dibentuk atau tipe pandangan/ analisis yang dibentuk dari proses ini. Oleh karena itu, diperlukan sebuah proses yang mampu memberikan pengaruhnya terha-

120

KALAMSIASI, Vol. 3, No. 2, September 2010, 115 - 128

d. Journalist as Audience (Wartawan Sebagai Pendengar)


Pengaruh tata mengulas berita pada isi yang sama dalam media lain adalah fungsi organisasi media massa dengan beragam faktor dimana wartawan lebih cenderung untuk melakukan pemilihan konteks. Disini, diharapkan wartawan dapat berperan sebagai orang yang mendengarkan analisa pembaca sehingga ada timbal balik ide. Jadi, analisa wartawan tidak serta merta dianggap paling benar dan tidak terdapat kelemahan. Model Framing Zhongdang Pan dan Gerald M. Kosicki Model framing yang diperkenalkan Pan dan Kosicki ini mengatakan bahwa teks berita mempunyai frame yang berfungsi sebagai pusat dari organisasi ide. Frame ini adalah suatu ide yang dihubungkan dengan elemen yang berbeda dalam teks berita (seperti kutipan sumber, latar informasi, pemakaian kata atau kalimat tertentu) ke dalam teks secara keseluruhan. Frame berhubungan dengan makna, bagaimana seseorang memaknai suatu peristiwa dapat dilihat dari perangkat tanda yang dimunculkan dalam teks. Dalam pendekatan ini, perangkat framing dapat dibagi kedalam empat struktur besar yaitu; sintaksis, skrip, tematik dan retoris. Keempat struktur tersebut merupakan suatu rangkaian yang dapat menunjukkan framing dari suatu media, sebagai berikut;

peristiwa (pernyataan, opini, kutipan, pengamatan atas peristiwa) ke dalam bentuk susunan umum teks berita. Bentuk susunan teks berita ini dapat dilihat biasanya dari headline, lead, latar informasi, kutipan sumber, pernyataan dan penutup yang umumnya berbentuk piramida terbalik.

b. Skrip
Skrip berhubungan dengan bagaimana wartawan mengisahkan atau menceritakan peristiwa ke dalam bentuk teks berita. Struktur ini melihat bagaimana strategi cara bercerita atau bertutur yang dipakai oleh wartawan dalam mengemas peristiwa. Bentuk umum dari struktur skrip adalah pola 5W + 1H (who, what, where, why, dan how). Meskipun pola ini tidak selalu dapat dijumpai dalam setiap berita yang ditampilkan, kategori informasi ini yang diharapkan diambil oleh wartawan untuk dilaporkan. Unsur kelengkapan berita ini dapat menjadi penanda framing yang penting.

c. Tematik
Tematik berhubungan dengan bagaimana wartawan mengungkapkan pandangannya atas peristiwa ke dalam proposisi, kalimat atau hubungan antar kalimat yang membentuk teks berita secara keseluruhan. Struktur ini akan melihat bagaimana pemahaman itu diwujudkan dalam bentuk yang lebih kecil. Bagi Pan dan Kosicki, berita mirip sebuah pengujian hipotesis. Pengujian hipotesis ini kita gunakan untuk menyebut struktur tematik dari berita. Struktur tematik dapat diamati dari bagaimana peristiwa itu diungkapkan atau dibuat oleh wartawan.

a. Sintaksis
Sintaksis berhubungan dengan bagaimana seorang wartawan menyusun

Arief Fajar, Konstruksi Surat Kabar Harian Kompas Mengenai Lingkungan Hidup

121

Perangkat dari struktur tematik diantaranya; detail, koherensi, bentuk kalimat, penggunaan kata ganti.

d. Retoris
Retoris berhubungan dengan bagaimana wartawan menekankan arti tertentu ke dalam teks berita. Struktur ini akan melihat bagaimana wartawan memakai pilihan kata, idiom, grafik dan gambar yang dipakai bukan hanya mendukung tulisan, melainkan juga menekankan arti tertentu kepada pembaca. Wartawan menggunakan perangkat retoris untuk membuat citra, meningkatkan kemenonjolan pada sisi tertentu dan meningkatkan gambaran yang diinginkan dari suatu berita. Struktur retoris dari wacana berita juga menunjukkan kecenderungan bahwa apa yang disampaikan tersebut adalah suatu kebenaran. Ada beberapa elemen dari struktur retoris, diantaranya: (1) Leksikon, pemilihan dan pemakaian kata-kata tertentu untuk menandai atau menggambarkan peristiwa; (2) Grafis, biasanya muncul lewat bagian tulisan yang dibuat lain dibandingkan tulisan lain; dan (3) Metafora. Dalam penelitian ini, model framing Pan dan Kosicki memang dipilih sebagai pisau analisis. Menurut peneliti model ini mampu memotret bangunan bingkai (frame) teks berita surat kabar Kompas dalam menyajikan pemberitaan lingkungan hidup secara komprehensif. Pewacanaan isu lingkungan hidup oleh surat kabar Kompas melalui penyajian berita Banjir Citarum mengindikasikan upaya pembentukan sebuah agenda diskusi dalam ruang publik dan menjadikan concern kebijakan serta politik pemerintah terkait pengelolaan lingkungan hidup.

Hal ini sejalan dengan tuntutan dari penggunaan model framing Pan dan Kosicki. Analisis framing dilihat sebagaimana wacana publik tentang suatu isu atau kebijakan dikonstruksikan. Seperti diakui oleh Pan dan Kosicki, framing adalah bagian dari proses besar bagaimana publik menafsirkan isu-isu atau kebijakan politik tertentu.

3. Jurnalisme Lingkungan Hidup.


Pada prinsipnya jurnalisme lingkungan hidup sama format jurnalisme yang lain. Namun, yang menjadi perbedaan adalah isu sentral dalam pemberitaan, jurnalisme lingkungan hidup menitiberatkan peliputan dan produksi teks berita pada realitas lingkungan hidup seperti; kerusakan lingkungan akibat olah tangan manusia (pencemaran, banjir, tanah longsor, penggundulan hutan), kearifan lokal, konservasi, limbah, penggunaaan sumber daya alam. Berkaca dari kategorisasi pemberitaan menurut Flournoy, batasan pemberitaan lingkungan hidup yaitu peristiwa yang ditampilkan dalam teks berita yang terkait dengan Bencana Alam, Perubahan Iklim, Global Warming, Penipisan Lapisan Ozon, dan lain-lainya seperti pengembangan teknologi serta kebijakan pemerintah terkait lingkungan. Sebagian besar masyarakat mengetahui kerusakan lingkungan hidup seperti penggundulan hutan, pencemaran sampah dan industri serta efek rumah kaca melalui surat kabar dan televisi. Tetapi sebagian besar ahli lingkungan hidup tidak puas dengan pemberitaan lingkungan hidup di surat kabar maupun di televisi. Mereka menyebutkan tiga kesalahan yang sering muncul dalam pemberitaan ling-

122

KALAMSIASI, Vol. 3, No. 2, September 2010, 115 - 128

Tabel 1: Objek Amatan Penelitian Pemberitaan Surat Kabar Kompas Mengenai Banjir Citarum Pada Halaman Pertama

Judul Berita Ketahanan Pangan Terancam, Alih Fungsi Hutan Jadi Penyebab Banjir Citarum, Puso Sudah Terjadi tapi Pemerintah Optimis Banjir Citarum Sulit Diatasi, Perlu Ketegasan untuk Pulihkan DAS Citarum Banjir Citarum, Dari Nadi Kehidupan Jadi Bencana Kehidupan

Tanggal Terbit Jumat, 26 Maret 2010 Sabtu, 27 Maret 2010 Senin, 29 Maret 2010 Senin, 29 Maret 2010

kungan hidup; seperti: tiadanya informasi yang relevan dengan latar belakang pemberitaan, judul berita yang sering menyesatkan dan tiadanya keinginan memikirkan dalam risiko pemberitaan. Hal ini yang menjadi bahasan utama dalam penelitian ini, terutama terkait proses produksi teks berita oleh surat kabar Kompas memotret peristiwa lingkungan hidup. Seperti diutarakan sebelumnya, bahwa media massa-termasuk surat kabarmempunyai kemampuan dalam merekonstruksi realitas, maka berita Banjir Citarum dalam pandangan peniliti merupakan bentuk konstruksi realitas atas jurnalisme lingkungan hidup melalui bingkai (frame) Kompas sebagai institusi media massa. Sehingga, secara berturut-turut penelitian ini menyandarkan pada tahapan kerangka berpikir sebagai berikut: (1) media massa merupakan agen konstruksi atas realitas; (2) frame teks berita merupakan bentuk bangunan konstruksi media massa atas realitas; (3) produksi teks berita jurnalisme lingkungan hidup yang dilaksanakan oleh media massa merupakan hasil konstruksi atas peristiwa atau isu lingkungan hidup; (4) Kompas sebagai

institusi media massa dalam bentuk surat kabar, menjalankan praktek jurnalisme lingkungan hidup; (5) Sehingga, penelitian ini menjabarkan konstruksi surat kabar Kompas dalam pemberitaan lingkungan hidup melalui pembingkaian (framing) penyajian Berita Banjir Citarum pada halaman pertama, dimana terdapat dua isu sentral yaitu; lemahnya kebijakan pemerintah dalam pengelolaan lingkungan terkait pengelolaan DAS (Daerah Aliran Sungai) dan isu Eksploitasi secara ekonomi oleh masyarakat di DAS Citarum.

METODE PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan pendekatan dan analisis framing Pan dan Konsicki. Pendekatan dan analisis Framing merupa-kan metode analisis teks media yang dalam paradigma konstruktivis. Sedangkan tipe dari penelitian ini adalah kualitatif interpretatif. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah dokumentasi berupa kliping teks berita utama pada halaman pertama tentang Banjir Citarum dalam surat kabar Kompas. Teks berita yang dimaksud dalam peride terbit 26, 27, dan

Arief Fajar, Konstruksi Surat Kabar Harian Kompas Mengenai Lingkungan Hidup

123

Tabel 2: Kerangka Model Framing Pan dan Kosicki Struktur Sintaksis Cara media massa menyusun fakta Skrip Cara media massa mengisahkan fakta Tematik Cara media massa menulis fakta Retoris Cara media massa menekankan fakta Perangkat Framing Skema Berita Unit Amatan Headline, lead, latar informasi, kutipan sumber, pernyataan, penutup 5W + 1H

Kelengkapan Berita

Detail Koherensi Bentuk Kalimat Kata Ganti Leksikon Grafis Metafora

Paragraf, proposisi, kalimat, hubungan antar kalimat

Kata, idiom, gambar atau foto, grafik

29 Maret 2010, berikut berita utama mengenai Banjir Citarum yang menjadi objek amatan dalam penelitian ini dapat dilihat dalam tabel 1. Analisis data penelitian ini menggunakan teknik analisis framing dengan model framing dari Pan dan Kosicki. Penelitian menggunakan teks berita sebagai unit analisis. Kerangka Model framing dari Pan dan Kosicki (bisa dilihat dalam Tabel 2); Unit analisis yang diamati adalah judul headline, lead, latar informasi, kutipan sumber, pernyataan, penutup, kelengkapan berita (5W + 1H), paragraf, proposisi, kalimat, hubungan antar kalimat, kata, idiom, gambar atau foto dan grafik dari teks berita Banjir Citarum dalam surat kabar Kompas peridoe terbit 26, 27, dan 29 Maret 2010. Berdasarkan kerangka model framing dari Pan dan Kosicki tersebut peneliti menentukan instrumen penelitian sebagai sebagaimana terlihat di Tabel 3.

HASIL PENELITIAN
1. Framing Teks Berita Banjir Citarum Surat Kabar Kompas
Dalam memberikan deskripsi dari framing Kompas dalam penyajian berita bertema lingkungan dengan teks berita Banjir Citarum selama tiga hari terbit (26, 27, dan 29 Maret 2010) mengangkat sebagai isu-isu kebijakan pemerintah dalam pengelolaan lingkungan terkait pengelolaan DAS (Daerah Aliran Sungai) Citarum sudah tepat sebanyak tiga teks berita. Perhatikan Tabel 4 di atas.

2. Framing Surat Kabar Kompas terhadap Isu Kebijakan Pemerintah Dalam Pengelolaan Lingkungan Terkait Pengelolaan DAS Citarum Sudah Tepat.
Surat kabar Kompas menyajikan tiga teks berita mengenai Banjir Citarum terkait isu-isu lemahnya kebijakan pemerintah

124

KALAMSIASI, Vol. 3, No. 2, September 2010, 115 - 128

Tabel 3: Instrumen Penelitian Pemberitaan Surat Kabar Kompas Mengenai Banjir Citarum Pada Halaman Pertama STRUKTUR Sintaksis Bagaimana cara surat kabar Kompas menyusun fakta dalam teks berita? Skrip Bagaimana cara surat kabar Kompas mengisahkan fakta dalam teks berita? Tematik Bagaimana cara surat kabar Kompas menulis fakta dalam teks berita? PERANGKAT FRAMING Bagaimana skema teks berita surat kabar Kompas? Bagaimana kelengkapan teks berita surat kabar Kompas? 1. 2. 3. 4. Retoris Bagaimana cara surat kabar Kompas menekankan fakta dalam teks berita? 1. 2. 3. Bagaimana detail teks berita surat kabar Kompas? Bagaimana koherensi teks berita surat kabar Kompas? Bagaimana bentuk kalimat teks berita surat kabar Kompas? Bagaimana pemakaian kata teks berita surat kabar Kompas? Bagaimana penggunaan leksikon teks berita surat kabar Kompas? Bagaimana penggunaan grafis teks berita surat kabar Kompas? Bagaimana penggunaan metafora teks berita surat kabar Kompas?

dalam pengelolaan lingkungan terkait pengelolaan DAS (Daerah Aliran Sungai) Citarum yaitu: (1) Ketahanan Pangan Terancam, Alih Fungsi Hutan Jadi Penyebab, terbit pada Jumat, 26 Maret 2010; (2) Banjir Citarum, Puso Sudah Terjadi tapi Pemerintah Optimis, terbit pada Sabtu, 27 Maret 2010; dan (3) Banjir Citarum Sulit Diatasi, Perlu Ketegasan untuk Pulihkan DAS Citarum, terbit pada Senin, 29 Maret 2010. Pada sisi penempatan teks berita, ketiga teks berita tersebut berada pada halaman pertama. Bahkan, dua teks berita diletakkan sebagai berita utama yaitu Ketahanan Pangan Terancam, Alih Fungsi Hutan Jadi Penyebab, terbit pada Jumat,

26 Maret 2010 dan Banjir Citarum Sulit Diatasi, Perlu Ketegasan untuk Pulihkan DAS Citarum, terbit pada Senin, 29 Maret 2010. Selain itu, dua teks berita yang dipasang sebagai berita utama diperkuat dengan grafis berupa data mengenai kondisi DAS Citarum, kerawanan serta kerugian akibat meluapnya sungai Citarum. Untuk teks berita Ketahanan Pangan Terancam, Alih Fungsi Hutan Jadi Penyebab, terbit pada Jumat, 26 Maret 2010 dilengkapi dengan foto beserta caption yang menampilkan pantauan dari udara Banjir dari Sungai Citarum di Kabupaten Karawang. Pada terbitan edisi 26 Maret 2010 Kompas memang menampilkan berita

Arief Fajar, Konstruksi Surat Kabar Harian Kompas Mengenai Lingkungan Hidup

125

Tabel 4 : Framing Isu dari Surat Kabar Kompas Dalam Penyajian Teks Berita Banjir Citarum Framing Isu Kebijakan Pemerintah Dalam Pengelolaan Lingkungan terkait Pengelolaan DAS (Daerah Aliran Sungai) Citarum sudah tepat. Judul Berita Ketahanan Pangan Terancam, Alih Fungsi Hutan Jadi Penyebab Banjir Citarum, Puso Sudah Terjadi tapi Pemerintah Optimis Banjir Citarum Sulit Diatasi, Perlu Ketegasan untuk Pulihkan DAS Citarum Tanggal Terbit Jumat, 26 Maret 2010 Sabtu, 27 Maret 2010 Senin, 29 Maret 2010

lingkungan dengan judul memberikan pentingnya atau ancaman dari kerusakan lingkungan tetapi juga memberikan sebuah tudingan penyebab kerusakan tersebut yaitu Ketahanan Pangan Terancam, Alih Fungsi Hutan Jadi Penyebab. Kompas dengan judul seperti ini, mengkonstruksi bahwa di wilayah DAS Citarum yang diterjang banjir sedang dalam ancaman kekurangan pangan tetapi tidak ada terselip upaya pembangunan ruang diskusi bagi masyarakat untuk kritis pada penyebab kerusakan lingkungan yang terjadi. Judul di atas memang bagus untuk mengajak masyarakat dan pemerintah untuk tetapi bagi peneliti ada upaya penyudutan sepihak bahwa kerusakan DAS Citarum akibat alih fungsi hutan, baik sebagai lahan permukiman, pertanian, maupun bisnis . Padahal dalam konsep jurnalisme menekankan pada kajian secara holistik terutama manajemen atau kebijakan pemerintah dalam pengelolaan lingkungan, hal ini yang tidak di-cover secara berimbang oleh Kompas. Sehingga, seakan Kompas menunjukan pemerintah tidak salah (bebas dari tanggung jawab) dalam kasus banjir ini. Seperti pada Judul teks berita Banjir Citarum, Puso Sudah

Terjadi tapi Pemerintah Optimis dan Banjir Citarum Sulit Diatasi, Perlu Ketegasan untuk Pulihkan DAS Citarum, penyajian beritanya hanya mengkhawatirkan masalah ketahanan pangan, belum membahas subtansi dari kerusakan DAS Sungai Citarum serta membangun kerangka diskusi bahwa DAS menjadi akibat ulah masyarakat semata.

SIMPULAN
Dari konstruksi surat kabar Kompas dalam pemberitaan lingkungan hidup melalui pembingkaian (framing) penyajian Berita Banjir Citarum pada halaman pertamadapat ditarik kesimpulan sebagai berikut: 1. Konstruksi Kompas mengenai isu lingkungan hidup dalam teks pemberitaan Banjir Citarum adalah kebijakan pemerintah dalam pengelolaan lingkungan terkait pengelolaan DAS (Daerah Aliran Sungai) Citarum sudah tepat. 2. Pada framing teks berita, ketiga teks berita yang berada pada halaman pertama menunjukan di wilayah DAS Citarum yang diterjang banjir sedang

126

KALAMSIASI, Vol. 3, No. 2, September 2010, 115 - 128

Tabel 5: Struktur Framing Pemberitaan Surat Kabar Kompas Mengenai Banjir Citarum

Struktur Framing

Judul Berita
Ketahanan Pangan Terancam, Alih Fungsi Hutan Jadi Penyebab Penyajian berita berusaha memberikan signal bahaya mengenai ketahanan pangan, bukan pada kerusakan lingkungan hal terlihat pada judul dan lead teks berita Banjir Citarum, Puso Sudah Terjadi tapi Pemerintah Optimis Penyajian berita masih mengupayakan mengarahkan signal bahaya ketahanan pangan, dengan mengangkat fakta adanya Puso. Namun, tetap memberikan posisi pemerintah yang sudah tepat dalam kebijakannya dimana ada komentar optimisme dari dua pejabat Departemen Pertanian. Menjadi agak rancu, masalah lingkungan hidup justru tidak tersentu sama sekali, padahal tema sentral teks ini adalah banjir Citarum Sebagai surat kabar besar Kompas memang sangat memperhatikan unsur 5 W+1H, tetapi pemilihan unsur-unsur kelengkapan teks berita di sini mendukung tema atau konstruksi dari Kompas sendiri. Dalam kasus banjir Citarum dengan mengaitkan masalah ketahanan pangan seolah-olah melupakan kebijakan pengelolaan lingkungan hidup. Sehingga tidak ada kelengkapan berita mengenai masalah lingkungan hidup, misalkan dimana posisi kementrian Lingkungan Hidup tidak di-cover dalam teks ini Tematis yang dibangun dalam teks ini masih dalam 2 kerangka pikir yaitu; (1) Urgenitas ketahanan pangan ketimbang kerusakan lingkungan, Banjir Citarum Sulit Diatasi, Perlu Ketegasan untuk Pulihkan DAS Citarum Sedikit berbeda dari teks berita sebelumnya. Pada bagian penutup berita Kompas menghadirkan komnetar yang ingin mengatakan ada lemahnya kebijakan pemerintah dalam pengelolaan lingkungan hidup terkait penegakan aturan alih fungi hutan. Tetapi secara keseluruhan, teks ini mencoba mengalihkan tanggungjawab dari pemerintah menjadi tanggung jawab masyarakat semata

Sintaksis

Skrip

Unsur 5 W+1 H secara manifes telah terpenuhi, tetapi sebagai isu kerusakan lingkungan serta keterkaitan dengan kebijakan pemerintah dalam pengelolaan lingkungan masih belum terjawab.

Kelengkapa berita dari Kompas semua sudah tercover secara baik, tetapi pemilihan dan penggunaan dari kelengkapan ini belum berimbang dalam kasus banjir Citarum terutama dari segi kebijakan pemerintah dalam menangani DAS Citarum

Tematik

Secara tematis, ada 2 kerangka pikir yang disuguhkan oleh Kompas: 1 Urgenitas keta-hanan pangan ketimbang kerusakan lingkungan,

Bingkai dari Kompas dalam struktur tematis teks berita ini dibagi dalam 2 kerangka; (1) Kebijakan pemerintah sudah tepat hanya perlu

Arief Fajar, Konstruksi Surat Kabar Harian Kompas Mengenai Lingkungan Hidup

127

Struktur Framing

Judul Berita
Ketahanan Pangan Terancam, Alih Fungsi Hutan Jadi Penyebab (2) kebijakan pengelolaan lingkungan sudah tepat dalam kasus banjir Citrarum, tetapi perlu memperhatikan masalah ketahanan pangan. Sedikit berbeda penggunaan grafis dan foto dalam teks berita ini memberikan gambaran mengenai kondisi banjir dan potensi meluapnya DAS Citarum Banjir Citarum, Puso Sudah Terjadi tapi Pemerintah Optimis (2) kebijakan pengelolaan lingkungan sudah tepat dalam kasus banjir Citrarum, tetapi perlu memperhatikan masalah ketahanan pangan. Dalam teks berita ini, Kompas tidak menyajikan ornamen-ornamen seperti grafis ataupun foto Banjir Citarum Sulit Diatasi, Perlu Ketegasan untuk Pulihkan DAS Citarum lebih intensif tetapi letak kesalahan ada pada masyarakat yang tdak korperatif, (2) kerugian sektor ekonomi warga akibat meluapnya DAS. Grafis hadir dalam teks ini untuk memperkuat bangunan struktur framing dari struktur yang lain.

Tematik

Retoris

dalam ancaman kekurangan pangan tetapi tidak ada terselip upaya pembangunan ruang diskusi bagi masyarakat untuk kritis pada penyebab kerusakan lingkungan yang terjadi terutama terkait kebijakan pengelolaan DAS Citarum. Padahal dalam konsep jurnalisme menekankan pada kajian secara holistik termasuk manajemen atau kebijakan pemerintah dalam pengelolaan lingkungan.

DAFTAR PUSTAKA
Abrar, Ana Nadhya. 1993. Mengenal Jurnalisme Lingkungan Hidup. Yogyakarta: UGM Press. Blake, Reed H. dan Edwin O. Haroldsen. 1979. A Taxonomy of Concepts in Communication. Penerjemah Hasan Bahanan. 2005. Taksonomi Konsep Komunikasi. Surabaya: Papyrus. Denzin Norman dan Yvona S Lincon. 2005. Handbook of Qualitative Researsch. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Eriyanto. 2002. Analisis Framing: Konstruksi, Ideologi dan Politik Media. Yogyakarta: LKiS. . 2001. Analisis Wacana, Pengantar Analisis Teks Media. Yogyakarta: LkiS. Flournoy, Don Michael. 1989. Analisis Isi Surat Kabar-Surat Kabar Indonesia. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Fowler, Roger. 1992. Language in the News (Discourse and Ideology in the Press). London; Routledge.

128

KALAMSIASI, Vol. 3, No. 2, September 2010, 115 - 128

Griffin, Emory. 2008. A First Look at Communication Theory, Seventh Edition. Boston: McGraw-Hill. Hamad, Ibnu. 2004. Konstruksi Realitas Politik di Media Massa; Sebuah Studi Critical Discourse Analysis terhadap Berita-Berita Politik. Jakarta: Granit. Hamidi. 2007. Metode Penelitian dan Teori Komunikasi. Malang: UMM Press. Ife, Jim dan Frank Tesiero. 2008. Community Development. Penerjemah Sastrawan Manulang. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Kriyantono, Rahmat. 2007. Teknik Praktis Riset Komunikasi. Jakarta: Kencana. Littlejohn, Stephen W dan Karen A. Foss. 2008. Theories of Human Communication. Penerjemah Mohammad Yusuf Hamdan. 2009. Teori Komunikasi. Jakarta: Salemba Humanika. Moleong, Lexy J. 2006. Metodologi Penelitian Kualitatif: Edisi Revisi, Bandung: PT Remaja Rosdakarya. Nurudin. 2004. Komunikasi Massa. Malang: Cespur. Panuju, Redi. 2003. Framing Analysis. Surabaya: UNITOMO. Pareno, Sam Abade. 2005. Manajemen Berita Antara Idealisame dan Realita. Surabaya: Papyrus.

Shoemaker, Pamela dan Stephen D.Reese. 1996. Mediating The Message: Theories of Influence on Mass Media Content. New York: Long Man Publishing Group. Silverman, David, 1993. Interpreting Qualitative Data (Methods for Analyzing Talk, Text, and Interaction. London: Sage Publications. Sobur, Alex. 2006. Analisis Teks Media, Suatu Pengantar Analisis Wacana, Analisis Semiotik, dan Analisis Framing. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. West, Turner dan Lynn H. Turner. 2007. Introduction Communication Theory: Analysis and Application, Third Edition. Penerjemah Maria Natalia Damayanti Maer. 2008. Pengantar Teori Komunikasi Analisis dan Aplikasi, Edisi 3, Buku 2. Jakarta: Salemba Humanika. Wijaya, Toni. 2008. Analisis Framing Pemberitaan Surat Kabar Lampung Post dan Radar Lampung dalam Pemilihan Gubernur Lampung Periode 2009-2014. Tesis S2 Program Studi Kajian Budaya dan Media Sekolah Pascasarjana UGM. Yogyakarta: Tidak Dipublikasikan.

URGENITAS LAYANAN INFORMASI PUBLIK BERBASIS E-GOVERNMENT


Totok Wahyu Abadi
(Dosen Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Jalan Majapahit 666 B Sidoarjo, e-mail: totokwahyu@gmail.com)

ABSTRACT
In modern democracy, every citizen has the right to know and obtain information about the activities of public agencies. The obligations of public agencies are to provide the society with good, fast, accurate, and transparent information. Rights and obligations between citizens and public agencies are set and guaranteed in legislative regulation. This paper attempts to explain the importance of public information service based e-government as one alternative to obtain the effective and efficient public information service than through street level bureaucratic service. Key words: public information, e-government, and street-level bureaucratic

PENDAHULUAN
Salah satu ciri era demokratisasi yang sudah maju adalah keterbukaan informasi. Keterbukaan tersebut telah menjadi tuntutan zaman dan kebutuhan masyarakat seiring dengan proses demokratisasi itu sendiri, transparansi, dan hak asasi manusia. Keterbukaan informasi ini pulalah yang menjadi penciri dari penyelenggaraan good governance yang diimpikan masyarakat Indonesia. Keterbukaan informasi memiliki sejarah yang cukup panjang dan berliku. Tahun 1946 PBB menyatakan bahwa kebebebasan informasi merupakan hak dasar, seperti yang tercantum dalam Resolusi PBB 59 (1): freedom of information is a fundamental human right
129

and the touchstone of all freedom which the UN is consecrated. Resolusi ini kemudian diadopsi oleh UN General Assembly pada 14 Desember 1946 dan dideklarasikan pada tahun 1948. Bagian dari deklarasi UDHR (Universal Declaration of Human Right) tersebut dikenal dengan Article 19. Isi dari artikel 19 tersebut kemudian menjadi azas bagi prinsip kebebasan informasi.
Everyone has the right to freedom of opinion and expression; this right includes freedom to hold opinions without interference and to seek, receive and import information and ideas through any media and regardless of frontiers

(setiap

orang

berhak

untuk

130

KALAMSIASI, Vol. 3, No. 2, September 2010, 129 - 140

mengeluarkan pendapat dan mengekspesikannya; hak ini termasuk kebebasan untuk memiliki pendapat tanpa interfensi serta hak untuk mencari, menerima, dan mengirim informasi dan ide melalui beberapa media dan tidak boleh dihalangi) Dalam hal keterbukaan informasi publik, negara pertama yang memberlakukannya adalah Swedia (Alamsyah Saragih:2009). Bahkan untuk mendukungnya, sejak tahun 2000, Swedia adalah negara pertama di dunia yang mengadopsi tata kelola pemerintahan secara elektronik atau yang dikenal dengan e-government. Kebijakan mengadopsi penggunaan teknologi informasi dan komunikasi tersebut digunakan untuk memperkuat demokrasi serta membantu Swedia ke arah masyarakat yang berbagi informasi secara elektronik (Scott M. Cutlip,2007). Melalui ICT terkini tersebut, masyarakat dapat saling berbagi informasi dan berkomunikasi dengan sesama warga dan dengan pemerintah. Hingga tahun 2006 negara-negara di dunia yang memiliki Undang-Undang Kebebasan Memperoleh Informasi Publik hampir 70 negara. Sementara beberapa negara lainnya, keberadaannya masih dalam pembahasan dan perdebatan. Penyebabnya adalah persaingan antarnegara, peperangan, dan rezim administrasi di masing-masing pemerintahan. Perkembangan keterbukaan informasi publik di Indonesia diawali sejak tahun 2000 dalam bentuk RUU KMIP (Kebebasan Memperoleh Informasi Publik).Perumusan dan penyusunan rancangannya melibatkan empat puluh organisasi masyarakat sipil. Hingga sembilan tahun pembahasan yang cukup panjang dan sempat mengalami stagnasi,

akhirnya 30 April 2008 rancangan tersebut disahkan oleh presiden menjadi Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2008 Tentang Keterbukaan Informasi Publik. Dalam rentang waktu yang sekian lama tersebut, di beberapa daerah telah mensahkan perda transparansi serta membentuk komisi transparansi sebagai upaya untuk mensupport kehadirannya. Dan setidaknya terdapat sebelas kabupaten / kota yang telah memiliki perda transparansi. Diantaranya adalah Kabupaten Lebak, 2006; Sragen, 2002; Kebumen; Solok-Sumatera Barat, 2004; Surabaya, 2003. Kehadiran dan disahkannya UU No.14/2008 banyak menimbulkan kehawatiran dan kepanikan sejumlah birokrasi di badan publik.Kekhawatiran itu cukup beralasan karena beberapa hal.Pertama, informasi yang apabila diberikan kepada publik dapat membahayakan negara, menimbulkan persaingan usaha yang tidak sehat, berkaitan dengan privasi seseorang, rahasia jabatan, serta belum dikuasainya atau didokumentasikannya informasi yang dibutuhkan masyarakat.Kedua, membludaknya masyarakat yang akan meminta informasi kepada instansi sesuai dengan kebutuhan masing-masing. Informasi apa saja. Mulai dari informasi yang remehtemeh seperti persyaratan pengurusan KTP hingga yang paling berat seperti penghilangan nyawa oleh aparat atau bahkan masalah korupsi.Karena itu perlu adanya pengembangan sistem layanan informasi publik yang baik, akurat, cepat, dan tepat. Untuk mewujudkan layanan informasi publik tersebut, perlu adanya sinergi di antara badan publik yang memiliki kewenangan serta standardisasi pelayanan. Tentu saja, prinsip penyeleng-

Totok Wahyu Abadi, Urgenitas Layanan Informasi Publik Berbasis E-Government

131

garaanya yang berkualitas harus tetap menjadi frame of referen dan framework.Kualitas tersebut tidak hanya berkaitan dengan masalah-masalah teknis tetapi juga berkaitan dengan kualitas informasi itu sendiri. Hal ini menjadi penting karena akan meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap kualitas kinerja layanan informasi yang diberikan setiap badan publik sebagai penyedia jasa informasi.

APA ITU INFORMASI PUBLIK?


Dalam ranah publik, informasi memiliki arti penting dan peran strategis terutama untuk menghadapi perubahan masyarakat yang serba cepat, situasi yang uncertainty (tidak pasti), serta mengurangi anxiety (kecemasan).Bagi seseorang atau organisasi, informasi dapat digunakan untuk meningkatkan kemampuan diri, memberikan added value, sertamembantu untuk mengambil keputusan dalam mengembangkan masyarakat dan lingkungan. Tanpa dukungan informasi, seseorang ataupun organisasi tidak akan mungkin mampu mencapai tujuan yang telah direncanakan. Informasi bukanlah sekedar keterangan yang diberikan seseorang ataupun badan publik. Informasi adalah data, fakta, berita-berita, atau keterangan-keterangan yang telah diolah sebaik-baiknya agar memiliki arti dan nilai penting bagi seseorang atau organisasi. Bruch dan Starter (Makhdum Priyatno,2001:18) menyatakan bahwa information is agregation or processing of data to provide knowladge or intelegence (informasi adalah pengumpulan atau pengolahan

data untuk memberikan pengetahuan dan kepandaian). George R. Terry menyatakan bahwa information is meaningful data that conveys usable knowladge (informasi adalah data yang mengandung arti dalam memberikan pengetahuan yang bermanfaat). Informasi berbeda dengan data. Umumnya kita sering menyamakan dan merancukan kedua istilah tersebut. Zulkifli Amsyah (2002:2) membedakan antara informasi dan data. informasi adalah data yang sudah diolah, dibentuk, atau dimanipulasi sesuai dengan keperluan tertentu. Data adalah fakta yang sudah ditulis dalam bentuk catatan atau direkam kedalam berbagai bentuk media (komputer). Sedangkan Indrajit (2002) mengungkapkan bahwa informasi adalah hasil dari pengolahan data yang secara prinsip memiliki nilai atau value yang lebih bila dibandingkan dengan data mentah. Data dapat dikatakan memiliki nilai informasi bila ia dapat mempengaruhi perilaku seseorang. Artinya, seseorang akan bergerak untuk berperilaku sesuai dengan maksud dan tujuan. Berguna tidaknya informasi bergantung pada beberapa hal. Yakni tujuan penerima; ketelitian penyampaian dan pengolahan data; waktu; ruang dan tempat; bentuk (efektivitas, hubungan yang diperlukan, kecenderungan) dan bidangbidang yang memerlukan perhatian manajemen); semantik (hubungan antara kata dan makna yang diinginkan); serta kejelasan, kesesuaian dengan tujuan, dan ketepatan sasaran (Makhdum, 2001: 19). Nilai manfaat informasi pun dapat diperhatikan kualitasnya.Salah satu kriterianya adalah ketersediaan informasi itu sendiri.Bila informasi yang dibutuhkan

132

KALAMSIASI, Vol. 3, No. 2, September 2010, 129 - 140

oleh masyarakat tersedia dengan lengkap dan mudah untuk diperoleh, informasi tersebut dapat terkategorikan sebagai available. Informasi pun harus mudah dipahami oleh siapapun, relevan dengan permasalahan yang hendak dipecahkan, dan bermanfaat bagi yang mengaksesnya.Informasi juga harus tersedia tepat waktu, terutama apabila yang membutuhkan ingin segera memecahkan permasalahan yang dihadapi. Sumber-sumber informasi harus dapat diandalkan (reliabilitas) kebenarannya serta akurat. Maksudnya bahwa informasi seyogyanya bersih dari kesalahan, harus jelas, dan secara tepat memiliki makna lugas dari data pendukungnya.Terakhir, informasi tidak boleh mengandung kontradiksi dalam penyajiannya atau konsisten. Ciri-ciri informasi sebagai sumber yang baik dan berkualitas tersebut dapat memberikan manfaat tidak hanya bagi seseorang, masyarakat, tetapi juga organisasi profit ataupun non-porift. Karenanya informasi tersebut harus dikelola dan disimpan dengan baik sehingga mudah ditelusuri jika diperlukan. Kualitas informasi tersebut tentu akan sangat membantu bagi pengakses dalam mengambil sebuah keputusan yang cepat, tepat, rasional, dan bijak. Pula, tidak lagi mendasarkan diri pada hal-hal yang bersifat intuitif ataupun berdasarkan pengalaman belaka.Meskipun yang kedua ini terkadang diperlukan sebagai dasar pijakan sebagai bahan pertimbangan. Begitu pentingnya informasi publik, setiap orang berhak untuk mengaksesnya. Terlebih lagi bahwa hak seseorang untuk memperoleh informasi publik tersebut telah dijamin dan diatur dalam UndangUndang Dasar 1945 hasil Amandemen II

pasal 28F serta Undang-Undang keterbukaan Informasi Publik No.14/2008. Bahwa hak memperoleh informasi publik merupakan hak asasi manusia. Informasi publik merupakan informasi yang dihimpun, dikelola, dihasilkan, dimiliki dan atau dikuasai oleh lembaga publik yang berkaitan dengan tugas, fungsi, dan wewenang yang melekat pada lembaga tersebut. Terlepas dari apakah informasi tersebut memiliki pengaruh secara langsung ataukah tidak kepada masyarakat luas. Informasi publik mengandung dua pengertian. Pertama, informasi publik mengacu pada kebijakan pemerintah yang mempunyai dampak luas dan pengaruh terhadap kehidupan bermasyarakat. Karenanya, informasi semacam ini perlu diketahui dan dipahami oleh masyarakat luas. Kedua, informasi yang dibutuhkan masyarakat sebagai penjelasan atas isu yang sedang berkembang dalam masyarakat. Namun demikian, tantangan sekaligus tuntutan yang harus dihadapi masyarakat adalah kemampuan mengolah serta memilahmilah informasi yang tepat dan benar sehingga menjadi informasi yang berkualitas dan memiliki nilai tambah. Masyarakat juga harus mampu membedakan antara informasi yang kadaluwarsa dengan yang mutakhir, antara yang benar dan sesat. UU KIP No. 14/2008 memberikan legalitas bagi masyarakat untuk memantau kinerja badan publik yang selama ini terkesan sulit untuk disentuh.Masyarakat berhak untuk mengontrol kinerja serta meminta informasi dan pertanggungjawaban badan publik dan pejabat publik.Bahkan masyarakat berhak untuk mendapatkan salinan tersebut dan menyebarluaskannya lewat media

Totok Wahyu Abadi, Urgenitas Layanan Informasi Publik Berbasis E-Government

133

apapun.Dengan legalitas tersebut masyarakat dapat mengontrol serta mengawasi badan dalam menyelenggarakan pemerintahan yang baik, yaitu transparan, efektif dan efisien, akuntabel, dan dapat dipetanggungjawabkan. Secara otomatis pula, masyarakat dapat berperan aktif dan berpartisipasi dalam proses pengambilan kebijakan. Prinsip utama informasi publik adalah terbuka dan dapat diakses oleh masyarakat sebagai pengguna. Konteks ini tampak sekali mengedepankan dibukanya seluruh kran informasi yang berkaitan dengan badan publik seluas-luasnya. Kewajiban badan publik adalah memberikan informasi yang akurat, cepat, tepat waktu, dan up to date.Kecuali informasi yang dirahasiakan. Jenis informasi ini tidak berarti tertutup sama sekali oleh publik atau atas permintaan publik. Tidak seperti itu.Publik bisa mengakses informasi tersebut selama pihak yang terkait bersedia memberikannya dan atau seseuai dengan ketentuan yang berlaku dalam perundangan. Sistem buka-tutup dalam penyampaian informasi ini dapat digunakan badan publik. Namun demikian bila badan publik yang dengan sengaja tidak menyediakan, tidak memberikan, dan atau tidak menerbitkan informasi yang wajib di disediakan dan diumumkan; badan publik yang bersangkutan dikenakan sanksi pidana kurungan sekurang-kurangnya satu tahun atau denda sebesar lima juta. Menurut ketentuan UU 14/2008, setidaknya terdapat lima kategori informasi publik yang wajib disediakan dan harus diumumkan oleh badan publik. Yaitu, 1) informasi berkala, 2) serta merta, 3) setiap saat, 4) yang dikecualikan, 5) dan terakhir informasi yang didasarkan pada permin-

taan. Informasi berakala yaitu informasi yang disampaikan secara rutin, teratur, dan dalam jangka waktu ter tentu.Yang termasuk dalam kategori ini adalah informasi yang berkaitan dengan keberadaan badan publik, kepengurusan, maksud dan tujuan, ruang lingkup kegiatan, dan informasi lainnya yang relevan dengan kinerja serta prestasi kerja yang dicapai selama itu. Informasi serta merta adalah informasi yang disampaikan secara spontan, pada saat itu juga.Yang termasuk jenis informasi ini adalah informasi yang dapat mengacam hajat hidup orang banyak dan ketertiban umum. Informasi setiap saat adalah infor-masi yang disampaikan setiap saat oleh badan publik. Jenis informasi ini adalah daftar seluruh informasi publik yang berada di bawah penguasaan institusi yang bersangkutan, tidak termasuk informasi yang dikecualikan; hasil keputusan badan publik dan pertimbangannya; seluruh kebijakan yang ada berikut dokumen pendukungnya; rencana kerja proyek termasuk di dalamnya perkiraan penge-luran tahunan badan publik; perjanjian badan publik dengan pihak ketiga; informasi dan kebijakan yang disampaikan pejabat publik dalam pertemuan yang terbuka untuk umum; prosedur kerja pegawai badan publik yang berkaitan dengan pelayanan masyarakat; dan laporan mengenai pelayanan akses informasi publik. Informasi yang dikecualikan adalah informasi yang apabila diberikan dapat menghambat proses penegakan hukum, mengganggu kepentingan perlindungan hak atas kekayaan intelektual dan persaingan tidak sehat. Selain itu, yang juga termasuk dalam kriteria perkecualian adalah informasi yang dapat membahaya-

134

KALAMSIASI, Vol. 3, No. 2, September 2010, 129 - 140

kan pertahanan dan keamanan negara, mengungkap kekayaan alam Indonesia, merugikan ketahanan ekonomi nasional, mengungkapkan isi akta otentik yang bersifat pribadi/wasiat seseorang, mengungkap rahasia pribadi seseorang, serta informasi lainnya yang didasarkan pada undang-undang. Sedangkan informasi yang didasarkan pada permintaan adalah informasi yang tidak tercantum dalam empat kategori informasi yang telah disampaikan.Keempat informasi yang dimaksudkan tersebut seperi informasi berkala, serta merta, setiap saat, dan informasi yang dikecualikan.

BADAN PUBLIK: PERAN DAN KOORDINASI


Pembicaraan masalah kualitas dalam konteks ini tidak hanya mengacu pada informasi itu sendiri tetapi juga hal pelayanan.Kemudian, siapakah sebenarnya yang berkepentingan dalam memberikan layanan informasi yang berkualitas kepada publik? Tentu, jawabnya adalah badan publik. Badan publik yang dimaksudkan adalah semua lembaga publik yang penyelenggaraannya mendapatkan dana yang bersumber dari sebagian atau seluruh APBN dan atau APBD, sumbangan masyarakat, dan atau luar negeri. Partai politik pun termasuk bagian dari badan publik. Ia juga berkewajiban untuk memberikan informasi yang berkaitan dengan kewenangannya. Mekanisme untuk mendapatkan layanan informasi, setiap badan publik haruslah tetap memprioritaskan kualitas informasi dan pelayanan. Dan secara teknik, kualitas pelayanan juga mengedepankan prinsip cepat, tepat waktu,

sederhana, dan biaya ringan. Untuk mewujudkan layanan yang berkualitas, ketentuan dalam pasal 13 UU KIP mengisyaratkan bahwa setiap badan publik menunjuk Pejabat Pengelola Informasi dan Dokumentasi (PPID) dengan tugas mengembangkan sistem penyediaan layanan yang terstandarisasikan secara nasional. Setiap badan publik dalam memberikan layanan informasi publik harus memiliki delapan prinsip. Kedelapan prinsip tersebut adalah 1) fokus kepada kepuasan pelanggan, 2) kepemimpinan untuk menyatukan pemahaman tentang peran dan arah pengembangan pelayanan informasi, 3) pendekatan proses dengan memperhatikan keterkaitan dengan pemasok informasi, 4) keterlibatan SDM di semua tingkatan organisasi, 5) penggunaan pendekatan sistem dalam manajemen, 6) penerapan perbaikan berkelanjutan, 7) pengambilan keputusan berbasis fakta, 8) hubungan saling menguntungkan dengan pemasok informasi (Imam Sudarwo, 2006). Selain memiliki prinsip tersebut, Lembaga Layanan Informasi juga harus mampu memenuhi persyaratan umum, yaitu 1) mengidentifikasikan proses sistem manajemen mutu yang diperlukan serta menerapkannya ke seluruh organisasi, 2) menentukan interaksi dan urutan dari proses tersebut, 3) menetapkan kriteria dan metode untuk menjamin efektivitas operasi dan pengendalian proses tersebut, 4) menjamin ketersediaan sumber daya dan informasi untuk mendukung operasi dan monitoring proses tersebut, 5) melaksanakan pemantauan, penilaian, dan analisis kinerja proses tersebut, dan 6) melaksanakan tindakan untuk menjamin pencapaian

Totok Wahyu Abadi, Urgenitas Layanan Informasi Publik Berbasis E-Government

135

rencana dan perbaikan berkelanjutan (ibid). Tolak ukur puas tidaknya warga terhadap layanan informasi bergantung kualitas layanan yang diberikan badan publik. Kualitas pelayanan tersebut dapat dilihat dari empat belas unsur yang relevan, valid, dan reliabel. Keempat belas unsur tersebut merupakan unsur minimal yang harus ada untuk dasar pengukuran kualitas dan kepuasan masyarakat, yakni pertama, kemudahan prosedur serta kesederhanaan alur pelayanan; kedua, kesesuaian persyaratan pelayanan dengan jenis layanan; ketiga, kejelasan petugas pelayanan baik nama, jabatan, maupun kewenangan dan tanggung jawabnya; keempat, kedisiplinan dan kesungguhan petugas dalam memberikan pelayanan. Kesungguhan ini bisa dilihat dari konsistensi waktu kerja dalam pelayanan. Unsur berikutnya adalah kejelasan wewenang dan tanggung jawab petugas dalam penyelenggaraan dan penyelesaian pelayanan. Keenam adalah kemampuan yang meliputi keahlian dan keterampilan petugas dalam memberikan pelayanan. Kecepatan pelayanan sebagai unsur ketujuh merupakan target waktu yang telah ditentukan untuk dapat memberikan dan menyelesaikan pelayanan. Kedelapan adalah memberikan rasa keadilan kepada masyarakat yang memiliki golongan dan status yang berbeda. Kesembilan, yakni kesopanan dan keramahan petugas dalam memberikan layanan. Kesopanan dan keramahan tersebut dapat dipantau dari sikap dan perilaku saling menghormati dengan sesama customer (baca: masyarakat). Yang tidak kalah pentingnya dalam pelayanan adalah masalah kewajaran dan

kepastian. Kewajaran yang dimaksudkan adalah keterjangkauan biaya pelayanan yang telah ditetapkan oleh unit pelayanan kepada masyarakat. Sedangkan kepastian dalam hal ini bisa berwujud biaya dan jadwal pelayanan. Kepastian biaya pelayanan adalah keseluruhan keseluruhan antara biaya yang dibayarkan dengan biaya yang telah ditetapkan. Dan yang dimaksudkan dengan kepastian jadwal pelayanan, yaitu pelaksanaan waktu pelayanan sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan. Kenyamanan lingkungan dalam memberikan layanan juga harus mendapatkan perhatian. Kondisi sarana dan prasarana pelayanan yang bersih rapi, dan teratur dapat memberikan rasa nyaman kepada penerima pelayanan. Begitu halnya dengan keamanan pelayanan. Keamanan pelayanan, yaitu terjaminnya tingkat keamanan lingkungan unit penyelenggara pelayanan ataupun sarana yang digunakan, sehingga masyarakat merasa tenang untuk mendapatkan pelayanan terhadap risiko-risiko yang diakibatkan dari pelaksanaan pelayanan. Tantangan terbesar dalam mewujudkan pelayanan informasi yang berkualitas adalah bagaimana pengemasan, pengolahan, dan penyampaian (diseminasi) informasi yang menarik, aktual, dan up to date. Dan secara kelembagaan, siapakah atau lembaga manakah sebenarnya yang memiliki wewenang dan tanggung jawab dalam meng-agregasikan dan mengelola informasi di masing-masing dinas terkait? Dalam UU No.14/2008 disebutkan bahwa untuk pengumpulan dan pengelolaan informasi diperlukan Pejabat Pengelola Informasi dan Dokumentasi di masing-masing dinas yang ada di wilayah

136

KALAMSIASI, Vol. 3, No. 2, September 2010, 129 - 140

tersebut. Bila di masing-masing dinas membentuk PPID dengan cara memfungsikan, mengaktifkan, dan mengefektifkan SKPD yang ada, dengan tanpa melakukan pemborosan sumber dana dan sumber daya manusia; ini berarti sebuah terobosan yang baik. Dalam konteks ini setiap badan publik perlu melakukan inovasi dengan tetap mengedepankan prinsip pelayanan yang lebih baik, meski layanan yang diberikan bersifat manual. Pertanyaan yang kemudian muncul lagi adalah apakah masyarakat yang membutuhkan informasi harus datang secara langsung di tiap-tiap dinas/ kecamatan yang memiliki kewenangan dengan informasi yang dibutuhkannya. Dalam peraturan perundangan memang menghendaki semacam itu, yaitu komunikasi langsung.Namun demikian apakah pelayanan terebut sudah efektif?Inilah tantangan yang dihadapi dan harus segera dicarikan solusi alernatifnya untuk mewujudkan tatanan pemerintahan yang lebih baik (good governance). Terdapat dua kutub yang saling bertentangan dalam layanan informasi namun saling melengkapi, yaitu kutub manual dan kutub elektronik. Berbeda dengan kutub layanan manual seperti yang telah dijelaskan, kutub elektronik lebih mengedepankan layanan informasi lewat media internet atau yang dikenal dengan egovernment. Lewat media e-government, semua informasi dapat diunduh masyarakat tanpa harus melakukan antrian panjang dan direpotkan oleh birokrasi yang berbelit-belit serta tidak tersekat oleh batasan ruang dan waktu. Fakta di lapangan menunjukkan bahwa layanan informasi publik di masingmasing dinas yang bersifat manual atau

komunikasi face to face memiliki kinerja atau kualitas layanan yang sangat jelek (Totok, 2009). Hal ini diperkuat dengan Indeks Kepuasan Masyarakat sebesar 54,65. Kondisi pelayanan publik dengan model face to face commnication tersebut, menurut Bovens (dalam Prawoto, 2007), termasuk dalam kategori birokrasi pelayanan street level, yaitu tingkatan birokrasi yang paling dasar.Sementara layanan informasi publik berbasis egovernment menunjukkan kualitas yang sedikit lebih baik ketimbang yang masih bersifat manual.Dikatakan sedikit lebih baik karena masih terdapat gap antara manajemen layanan dengan yang diharapkan oleh masyarakat.Terjadinya gap tersebut juga dikarenakan tidak maksimalnya koordinasi di antara institusi yang ada dalam melakukan kerjasama secara elektronik. Hal ini diperkuat dengan temuan fakta empiris yang membuktikan bahwa peran koordinasi di antara dinas-dinas terkait sangat lemah dan lambat (Kasiyanto,2009). Bahkan model kerja-sama jaringan informasi antarlembaga pemerintah tidak ada standarisasi. Kerja-sama yang dilakukan selama ini cenderung atas dasar permintaan untuk melaksanakan tugas. Mekanisme untuk memperoleh informasi yang dibutuhkan masyarakat dapat dilakukan secara tertulis dan tidak tertulis. Yang dilakukan secara tertulis bisa lewat surat, email, mailing list. Sementara yang tidak tertulis dapat dilakukan melalui komunikasi tatap muka alias datang langsung ke badan publik yang terkait, PPID, atau Komisi Informasi Publik. Hal penting yang harus diperhatikan dalam level street birokrasi adalah kualitas pelayanan, kerjasama, dan koordinasi di

Totok Wahyu Abadi, Urgenitas Layanan Informasi Publik Berbasis E-Government

137

antara institusi itu sendiri maupun institusiinstitusi lain yang terkait. Peran koordinasi di antara institusi menjadi lebih penting. Karena meningkatnya kualitas pelayanan yang diberikan pemerintah kepada masyarakat akan meningkatkan pula kepercayaan masyarakat kepada kredibilitas pemerintah itu sendiri. Karenanya efektivitas koordinasi diantara badan publik harus melihat tiga aspek. Yaitu proses, sumber, dan sasaran. Aspek proses menitikberatkan pada kegiatan dan proses internal itu sendiri. Aspek sumber mengacu pada sarana dan prasana yang dimiliki, teknologi informasi dan komunikasi. Aspek ketiga adalah kemudahan masyarakat untuk mengakses informasi secara langsung layanan pemerintah. Dalam konteks penyelenggaraan pemerintahan, aktivitas penyampaian informasi tersebut menjadi bagian yang sangat vital. Melalui informasi yang dikelola secara cermat dan akurat, publik akan memahami, bahkan memberikan dukungan, ketika suatu kebijakan pembangunan digulirkan. Demikian pula sebaliknya. Jika informasi yang disampaikan tidak dipahami dan kurang transparan, kekhawatiran akan timbulnya keresahan bahkan gejolak sangat dimungkinkan mengemuka.

LAYANAN INFORMASI PUBLIK BERBASIS E-GOV: PENTING DAN PERLU


Melalui konvergensi teknologi komunikasi, fasilitasi pelancaran arus informasi antarlembaga publik dapat membentuk sebuah jaringan dan koordinasi dalam penyediaan dan pelayanan informasi publik. Serta terciptanya

program-program komunikasi yang konvergen dan sirkuler antara lembaga publik dengan masyarakat. Tuntutan ideal semacam ini tentu dapat menciptakan pola komunikasi yang sirkuler dan konvergen yang tetap dan harus diperjuangkan serta dipenuhi oleh lembaga publik dalam rangka meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pembangunan serta sebagai upaya menciptkan atmosfir pelayanan publik yang berkualitas. Implikasinya, lembaga-lembaga publik harus lebih aktif, kreatif, dan inovatif dalam menyediakan, merumuskan, memformat, serta mendiseminasikan informasi publik kepada masyarakat. Tidak hanya itu, lembaga publik harus mampu mengelola respon publik secara lebih elegan, transparan, dialogis, serta akomodatif. Yang terpenting dalam layanan informasi publik adalah tidak hanya sekedar di-displaykan melalui media elektronik, e-government, ataupun lainnya tetapi juga harus bisa direspon jika ada konstituen (pengakses resmi) yang meminta jasa layanan informasi tersebut. Dalam konteks ini, ada semacam proses interaksi antara pihak pemberi dan penerima yang dapat dinikmati masyarakat pengguna jasa. Semua harus berjalan secara kontinum dan memiliki nilai plus yakni aman, mudah, dan murah. Mekanisme untuk mendapatkan informasi harus jelas jangka waktunya, cepat, sederhana, dan murah. Informasi yang disampaikan harus proaktif. Serta tidak tersekat-sekat oleh batasan organisasi dan kewenangan birokrasi. Dan tugas setiap badan publik dalam konteks pelayanan prima harus mampu memberikan kepuasan kepada costumer (publik) dalam memperoleh informasi.

138

KALAMSIASI, Vol. 3, No. 2, September 2010, 129 - 140

Untuk memenuhi tuntutan transparansi serta pelayanan publik yang cepat, mudah, murah, dan tidak berbelit-belit menuju good governance (pemerintahan yang bersih); pemerintah mengeluarkan INPRES Nomor 3 Tahun 2003 Tentang Kebijakan dan Strategi Nasional Pengembangan e-Government. INPRES tersebut antara lain menginstruksikan kepada gubernur dan bupati/walikota di seluruh Indonesia untuk mengambil langkahlangkah yang diperlukan sesuai tugas, fungsi, dan kewenangan masing-masing guna terlaksananya program pengembangan e-government secara nasional (Kasiyanto, 2004:62) Hadirnya konvergensi teknologi informasi dalam paradigma e-Government dapat memberikan kemudahan-kemudahan serta memampukan masyarakat untuk memperoleh informasi ataupun berkomunikasi secara interaktif. Dalam hal ini kualitas dan produktivitas menjadi sangat penting bagi masyarakat. Kemudahan aksesibilitas informasi yang tanpa batasan ruang dan waktu tersebut dapat mendorong masyarakat untuk berpartisipasi dalam meningkatkan pelayanan publik yang berkualitas serta mengatasi permasalahan pembangunan secara inovatif. Karenanya, segala aktivitas birokrasi harus dapat diketahui publik secara luas termasuk informasi yang tidak boleh dikuasai dan disembunyikan oleh badan publik. Badan publik harus mampu memberikan akses dan menyediakan informasi bagi masyarakat baik diminta ataupun tidak. Pemerintah sangat menyadari hal ini.Karena itu pemerintah menempuh berbagai upaya. Antara lain dengan menerapkan sistem elektronik government

(e-government) atau pemerintahan berbasis elektronik. Dengan pola ini, pemerintahan tradisional (traditional government) yang identik dengan paperbased administration maupun pengerjaan secara manual mulai di tinggalkan. Berdasarkan definisi dari World Bank, e-government adalah penggunaan teknologi informasi (seperti Wide Area Network, Internet dan mobile computing) oleh pemerintah untuk mentransformasikan hubungan dengan masyarakat, dunia bisnis dan pihak yang berkepentingan. Dalam prakteknya, e-government adalah penggunaan internet untuk melaksanakan urusan pemerintah dan penyediaan pelayanan publik yang lebih baik dan cara yang berorientasi pada pelayanan masyarakat. Setidaknya implementasi e-government dapat menciptakan pelayanan publik secara on line atau berbasis komputerisasi. Memberikan pelayanan tanpa adanya intervensi pegawai institusi public, dan memangkas sistem antrian yang panjang hanya untuk mendapatkan suatu pelayanan yang sederhana.Selain itu, e-government juga dimaksudkan untuk mendukung pemerintahan yang baik (good governance). Penggunaan teknologi yang mempermudah masyarakat untuk mengakses informasi dapat mengurangi korupsi dengan cara meningkatkan transparansi dan akuntabilitas lembaga publik. Layanan informasi publik berbasis Egovernmentjuga dapat memperluas partisipasi publik dimana masyarakat dimungkinkan untuk terlibat aktif dalam pengambilan keputusan maupun kebijakan oleh pemerintah, memperbaiki produktifitas dan efisiensi birokrasi serta

Totok Wahyu Abadi, Urgenitas Layanan Informasi Publik Berbasis E-Government

139

meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Di Indonesia, inisiatif e-government telah diperkenalkan melalui Instruksi Presiden Nomor 6 Tahun 2001 tentang Telematika (Telekomunikasi, Media dan Informatika). Dalam instruksi itu dinyatakan bahwa aparat pemerintah harus menggunakan teknologi telematika untuk mendukung good governance dan mempercepat proses demokrasi. E-government wajib diperkenalkan untuk tujuan yang berbeda di kantorkantor pemerintahan.Administrasi publik adalah salah satu area dimana internet dapat di gunakan untuk menyediakan akses bagi semua masyarakat berupa pelayanan yang mendasar dan mensimplifikasi hubungan antar masyarakat dan pemerintah. E-government dengan menyediakan pelayanan melalui internet dapat dibagi dalam beberapa tingkatan yaitu penyediaan informasi, interaksi satu arah, interaksi dua arah dan transaksi yang berarti pelayanan elektronik secara penuh. Interaksi satu arah bisa berupa fasilitas men-download formulir yang dibutuhkan.Pemrosesan atau pengumpulan formulir secara online merupakan contoh interaksi dua arah. Sedangkan pelayanan elektronik penuh berupa pengambilan keputusan dan delivery (pembayaran).

government tidaklah harus berupa CMC (communication mediated computer) tetapi dapat diawali dengan teknologi yang familiar dengan masyarakat, seperti telepon ataupun HP Yang terpenting lagi . adalah peran koordinasi dan kerjasama dalam agregasi, pengelolaan, dan diseminasi informasi yang dilakukan oleh badan publik. Pola koordinasi dan kerjasama tersebut tidak hanya sebatas pada hubungan kerja tetapi harus sebagai sebuah sistem yang holistik.

DAFTAR PUSTAKA
Abadi, Totok Wahyu. 2009. Model Pengembangan Layanan Informasi Publik Berbasis E-Government dalam Mendukung Penciptaan Efektivitas dan Peningkatan Quality Service Performance di Jawa Timur. Penelitian Hibah Bersaing DP2M Dikti. Sidoarjo: Umsida. Belum diterbitkan Amsyah, Zulkifli. 2000. Manajemen Sistem Informasi. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Dwiyanto, Agus. 2006. Mewujudkan Good governance Melalui Pelayanan Publik. Yogjakarta: GMU Press Indrajit, Richardus Eko. 2005. EGovernment in Action. Yogjakarta: Andi Offset. Kasiyanto. 2007. Pemanfaatan Teknologi Informasi Sebagai Upaya Terwujudnya Good Governance. Kommti . Jurnal Penelitian Komunikasi, Media Massa dan Teknologi Informasi. Terakreditasi. Surabaya: BP2KI Kasiyanto. 2009. Efektivitas Kerjasama Jaringan Informasi Antarlembaga Pemerintah di Provinsi Jawa Timur. Kommti. Jurnal Penelitian Komunikasi, Media Massa dan Teknologi

PENUTUP
Terdapat dua model layanan informasi publik yang dapat digunakan oleh setiap badan publik untuk memberikan layanan informasi.Yaitu model manual dan elektronik.Prinsip yang harus tetap dikedepankan adalah kualitas informasi itu sendiri dan pelayanan. Model elektronik

140

KALAMSIASI, Vol. 3, No. 2, September 2010, 129 - 140

Informasi. Terakreditasi. Surabaya: BP2KI Melitski, James. 2003. Capacity and EGovernment Performance: An Analysis Based on Early Adopters of Internet Technologies in New Jersey. Public Performance & Management Review.Vol. 26, No. 4 (Jun., 2003), pp. 376-390 Published by: M.E. Sharpe, Inc. Stable URL: http:// www.jstor.org/stable/3381113 Accessed: 21/02/2010 22:03 Prasetya, Eko Adi. 2006. E-government & perubahan sosial (studi deskriptif kualitatif mengenai perubahan struktural dan kultural yang terjadi di dalam birokrasi dan pelayanan publik yang berbasis e-government di kantor catatan sipil Kabupaten Cilacap. http://www.google.com diunduh Juni 2009 Priyatno, Makhdum & Anwar Sanusi. 2001. Teknologi Informasi Dalam Pemerintahan. Jakarta: LAN Saragih, Alamsyah. 2009. Keterbukaan Informasi Publik. Blog Alamsyah Saragih (Ketua Komisi Informasi Pusat Republik Indonesia). http:// www.google.com Sudarmayanti. 2003. Good Governance : Dalam Rangka Otonomi Daerah. Bandung: Mandar Maju Sudarwo, Imam. 2006. www.bsn.or.id / NEWS/ detail diakses 23 February 2007 Sudibyo, Agus & Bejo Untung, dkk. 2008. Panduan Sederhana Penerapan UU Keterbukaan Informasi Publik. Jakarta: Yayasan SET - USAID DRSP Suprawoto. 2007. Layanan Publik Melalui e-Government: Studi tentang Pelayanan KTP, e-Prrocurment dan PSB online di Kota Surabaya. Ringkasan Disertasi.

Suprawoto. 2010. Kredibilitas, Kecepatan, dan Netralitas Mengelola Keterbukaan Informasi Publik. Makalah Seminar dan Lokakarya Nasional Keterbukaan Informasi Publik di Surabaya. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2008 Tentang Keterbukaan Informasi Publik. West, Jonathan P dan Evan M. Berman . . 2001. The Impact of Revitalized Management Practices on the Adoption of Information Technology: A National Survey of Local Governments dalam Public Performance & Management Review. Vol. 24, No. 3 (Mar., 2001), pp. 233-253 Published by: M.E. Sharpe, Inc. Stable URL: http://www.jstor.org/stable/ 3381087 Accessed: 21/02/2010 22:23 Wijaya, Stefanus Wisnu. 2006. Kajian Teoritis: Model E-Government Readiness Pemerintah Kabupaten/ Kotamadya dan Keberhasilan EGovernment. Seminar Nasional Aplikasi Teknologi Informasi 2006 (SNATI 2006) ISBN: 979-756-061-6 Yogyakarta, 18 Juni 2005. Diunduh Berita: 2009. Kunjungan Kerja Kelembagaan di Jakarta. http:// kpp.jatimprov.go.id/index. php? option= com content& task =view &id=226&Itemid=1 diunduh 12 Mei 2010

2006. Komisi A Berinisiatif Godog Perda Transparansi Penyelenggaraan Pemerintahan Provinsi. http:// majalah.tempointeraktif.com/ diunduh 12 Mei 2010.

HAMBATAN SOSIAL BUDAYA DALAM PENGARUSUTAMAAN GENDER DI INDONESIA (Socio-Cultural Constraints on Gender Mainstreaming in Indonesia)
Luluk Fauziah
(Dosen Ilmu Administrasi Publik FISIP Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Jalan Majapahit 666 B Sidoarjo, email: lulukfauz@yahoo.co.id)

ABSTRACT
Women condition in Indonesia on various aspects of life relatively low. Therefore, gender understanding to improve women roles, both in the household and in the society is required. This paper aims to observe socio-cultural constraints, both internal and external. Research results convinced that women participation in planning and in decision making on development programs in fact lower than men. Even existing culture in certain community give less support and opportunity to women. Women roles between locations differ, similarly existing norms in the community. There are many socio-cultural factors that constraint gender mainstreaming. Women participation in the traditional institutions relatively high. Therefore, gender mainstreaming from the central to local government is very much needed. Keywords: women participation, gender mainstreaming, local government

PENDAHULUAN
Upaya peningkatan peranan perempuan dalam pembangunan tersirat dalam lima falsafah dasar bangsa Indonesia yaitu Pancasila, Undang-Undang dasar 1945 dengan tidak membuat perbedaan antara laki-laki dan perempuan, bahwa setiap warga negara mempunyai status, hak, dan kewajiban, serta kesempatan yang sama di dalam keluarga dan masyarakat. Namun sampai saat ini banyak perempuan yang masih terabaikan karena kurangnya informasi dan kurangnya menyadari hakhak mereka sebagai warga negara. Secara umum masih sedikit yang menyadari dan
141

memahami bahwa perempuan menghadapi persoalan gender spesifik, artinya persoalan yang muncul karena seseorang atau kelompok menyandang gender perempuan. Masih banyak yang tidak bisa mengerti mengapa persoalan perempuan harus dibahas dan diperhatikan secara khusus. Hal ini terjadi karena kentalnya nilai-nilai laki-laki dan perempuan. Nilainilai/norma di dalam masyarakat telah menetapkan bahwa sudah kodratnya perempuan merupakan ratu dan pengurus rumah tangga, sehingga pikiran-pikiran untuk memberi kesempatan kepada perempuan untuk beraktifitas di luar rumah tangga dianggap menyalahi kodrat dan

142

KALAMSIASI, Vol. 3, No. 2, September 2010, 141 - 152

mengada-ada (Tjandraningsih, 1996). Mereka juga belum menyadari adanya kepentingan kesetaraan berpartisipasi dalam kekuasaan dan pengambilan keputusan, yang disebabkan oleh perpanjangan keisolasian (Hubeis, 1998). Hal ini antara lain disebabkan karena lingkungan sosial budaya yang tidak mendukung, untuk membiarkan perempuan berpatisipasi dalam politik dan penentu keputusan nasional, dan adanya kelembagaan yang masih terus membatasi perempuan pada kekuasaan marginal. Di dalam masyarakat agraris paling tidak ditemukan dua pandangan mengenai hubungan laki-laki perempuan di dalam masyarakat agraris (White dan Hastuti. 1980), (1) kedudukan laki-laki perempuan itu berbeda tetapi setara. Di dalam pandangan ini peranan laki-laki dan perempuan adalah peran yang saling melengkapi untuk kepentingan bersama. Menurut pandangan ini, pemisahan peran dan pengaruh antar jenis kelamin mencerminkan sifat komplementer dalam upaya mencapai tujuan bersama yaitu kesejahteraan rumah tangga dan masyarakat. Pandangan ini masih banyak dianut oleh ahli-ahli ilmu sosial, anggota masyarakat, dan dibenarkan dalam programprogram pembangunan serta berbagai macam idiologi ataupun norma-norma masyarakat. Namun implementasinya jauh berbeda, karena setiap program pemerintah dianggap bermanfaat bagi keduanya, meskipun seringkali sebenarnya hanya bermanfaat bagi salah satu jenis kelamin saja. (2) Berbeda dan tidak setara, dua pandangan yang saling bertentangan, dimana kekuasaan perempuan nyata tapi tersembunyi, dan adanya penundukan perempuan nyata tapi tersembunyi. Padahal dalam era globalisasi yang

diiringi dengan daya saing ekonomi yang semakin rumit, kesulitan mencari pekerjaan, dampak rekayasa dan desiminasi inovasi alat kontrasepsi, bentuk-bentuk keluarga akan menjadi sangat kecil. Maka prospek dan pengembangan citra peran perempuan dalam abad XXI (Vitayala, 1995), akan berbentuk menjadi beberapa peran yaitu, 1. Peran tradisi, yang menempatkan perempuan dalam fungsi reproduksi. Hidupnya 100% untuk keluarga. Pembagian kerja jelas perempuan di rumah, laki-laki di luar rumah. 2. Peran transisi, mempolakan peran tradisi lebih utama dari yang lain. Pembagian tugas menuruti aspirasi gender, gender tetap eksis mempertahankan keharmonisan dan urusan rumah tangga tetap tanggung jawab perempuan. 3. Dwiperan, memposisikan perempuan dalam kehidupan dua dunia; peran domestik-publik sama penting. Dukungan moral suami pemicu ketegaran atau keresahan. 4. Peran egalitarian, menyita waktu dan perhatian perempuan untuk kegiatan di luar. Dukungan moral dan tingkat kepedulian laki-laki sangat hakiki untuk menghindari konflik kepentingan 5. Peran kontemporer, adalah dampak pilihan perempuan untuk mandiri dalam kesendirian. Meskipun jumlahnya belum banyak, tetapi benturan demi benturan dari dominasi pria yang belum terlalu peduli pada kepentingan perempuan akan meningkatkan populasinya. Peran transisi dan egalitarian menyongsong abad XXI dan era globalisasi diperkirakan akan menghasilkan tiga kemungkinan, yaitu : 1. Keajegan penajaman peran laki-laki dan perempuan memudar dan tidak jelas

Luluk Fauziah, Hambatan Sosial Budaya dalam Pengarusutamaan Gender di Indonesia

143

lagi pembedanya. Indikator penentu adalah potensi dan kemampuan. 2. Perempuan pekerja akan meningkat, sebaliknya jumlah laki-laki menganggur akan meningkat juga. 3. Mobilitas sosial dan geografis memisahkan tempat tinggal suami-istri, orang tua anak, sehingga keluarga menjadi tidak utuh. Meskipun kedudukan dan peran perempuan dan laki-laki yang sama di dalam hukum dan pemerintahan sudah dijamin di dalam Undang-Undang, namun dalam prakteknya masih mengalami hambatan. Keberadaannya di dalam kehidupan keluarga tetap dianggap sebagai menteri keuangan sedang lakilaki sebagai kepala rumah tangga pengambil keputusan utama, dan wanita hanyalah sebagai ibu rumah tangga (Harjanti,1991). Walaupun lebih dari separuh penduduk Indonesia adalah perempuan, namun kondisi ketertinggalan perempuan dapat menggambarkan adanya ketidak adilan dan ketidak-setaraan antara laki-laki dan perempuan di Indonesia (Soemartoyo, 2002). Hal ini dapat dilihat dari Gender related Development Index (GDI) yang berada pada peringkat ke 88 pada tahun 1995, kemudian menurun ke peringkat 90 pada tahun 1998 dari 174 negara dan menurun lagi menjadi 92 dari 146 negara pada tahun 1999. Di dalam peringkat dunia indeks tersebut masih lebih rendah dari negara-negara ASEAN, dan dengan adanya berbagai krisis di Indonesia indeksindeks tersebut peringkatnya akan semakin menurun. Oleh karena itu komitmen pemerintah semakin kuat untuk menjalankan upaya peningkatan status dan kedudukan perempuan dalam semua aspek pembangunan.

Di dalam Undang-Undang No.35/ 2000 tentang program Pembangunan Nasional, peningkatan satatus dan kondisi perempuan dicantumkan sebagai isu lintas bidang pembangunan. Lebih lanjut pemerintah telah menerbitkan INPRES No. 9/2000, tentang pengarus utamaan gender dalam pembangunan nasional yang merupakan salah satu upaya dalam rangka meningkatkan kondisi perempuan Indonesia. Paper ini bertujuan melihat berbagai faktor yang menghambat perempuan untuk berperan baik di dalam rumah tangga maupun di dalam masyarakat luas dan implikasi kebijakan.

PENDEKATAN MAINSTREAMING GENDER


Pengarusutamaan gender ditujukan agar semua program pembangunan dapat dilaksanakan dengan mempertimbangkan kesempatan dan akses perempuan terhadap program pembangunan, dengan adanya kendali dan manfaat untuk perempuan. Hal ini menjadi lebih penting karena dilaksanakannya otonomi daerah, maka tantangan dan peluangnya juga makin besar. Pembangunan di provinsi, kabupaten, dan kota pada umumnya belum menempatkan pemberdayaan perempuan, kesetaraan dan keadilan gender, serta kesejahteraan dan perlin-dungan anak sebagai prioritas (Soemartoyo, 2002). Untuk dapat lebih mengenai sasarannya dengan tepat diperlukan pendekatan pembangunan yang tepat pula. Gender mengidentifikasi hubungan sosial antara perempuan dan laki-laki, yang tidak ditetapkan oleh perbedaan biologis, tetapi lebih dipertajam oleh pembedaan pembelajaran dan nilai-nilai budaya Pembedaan biologis menetapkan apa yang dapat dan apa yang tidak dapat

144

KALAMSIASI, Vol. 3, No. 2, September 2010, 141 - 152

Tabel 1: Perbandingan Pendekatan JDP dan WDP dalam Pengarusutamaan Jender ASPEK Pendekatan Fokus Masalah JDP Model pembangunan yang menjadi sumber masalah Pola relasi pria-wanita Relasi kekuasaan yang timpang (kaya miskin, pria-wanita, negara-masyarakat) yang menyebabkan pembangunan tidak adil yang tidak mengikutsertakan wanita secara optimal Pembangunan yang adil dan berkesinambungan, dengan pria dan wanita sebagai pengambil keputusan Pemberdayaan wanita marginal. Mengubah pola relasi priawanita yang tidak seimbang. Mengidentifikasi kebutuhan praktis sesuai yang diformulasi kan pria dan wanita untuk meningkatkan kualitas hidup mereka. Menangani kepentingan strategis wanita. Menangani kepentingan strategis golongan miskin melalui pembangunan untuk manusia dan wanita secara terpisah. WDP Dalam pembangunan, wanita dianggap sebagai beban Wanita Proses pembangunan tidak mengikutsertakan wanita

Tujuan

Pembangunan yang lebih efektif dan merata

Solusi

Mengintegrasikan wanita dalam proses pembangunan dan memberdayakan wanita yang tersisih dari pembangun an Memasukkan unsur wanita dalam semua aspek perencanaan proyek. Berbagai proyek khusus untuk wanita. Meningkatkan produktivitas wanita. Peningkatan ketrampilan wanita dan melaksanakan peran tradisi (rumah tangga/ domestik) Mengurangi beban kerja tradisi wanita

Strategi

Sumber: Hastuti (2004), diimplementasi penulis dari berbagai literatur.

dilakukan oleh perempuan menurut kesepakatan masyarakat. Gender yang didasarkan pada pembedaan nilai-nilai menentukan peran perempuan dalam semua aspek kehidupan dan kesetaraan perempuan. Pendekatan JDP (Jender dan Pembangunan) mengacu pada desain program yang mengintegrasikan dan memainstreamkan aspirasi, kebutuhan, dan minat dari gender (laki-laki dan perempuan) dalam semua aspek pembangunan (Vitayala, 1995). Karena itu perencanaan dan implementasi program

dikembangkan lebih banyak untuk mencakup kebutuan strategis gender. Sedang pendekatan WDP (Perempuan dalam Pembangunan) didesain untuk menjembadani kesenjangan antara lakilaki dan perempuan dalam semua aspek pembangunan. Secara rinci perbedaan ke dua pendekatan tersebut dapat dilihat pada Tabel 1. Analisis gender adalah sebagai alat analisis konflik yang memusatkan perhatian pada ketidak adilan struktural yang disebabkan oleh gender. Gender berarti perbedaan jenis kelamin yang

Luluk Fauziah, Hambatan Sosial Budaya dalam Pengarusutamaan Gender di Indonesia

145

bukan disebabkan oleh perbedaan biologis dan bukan kodrat Tuhan, melainkan diciptakan baik oleh laki-laki maupun perempuan melalui proses sosial budaya yang panjang. Caplan (1978) menegaskan bahwa perbedaan perilaku antara pria dan wanita selain disebabkan faktor biologis, sebagian besar justru terbentuk melalui proses sosial dan kultural. Oleh karena itu gender dapat berubah dari tempat ke tempat, waktu ke waktu, bahkan antar kelas sosial ekonomi masyarakat. Sementara jenis kelamin (sex) tidak berubah (Fakih, 1996). Peran gender ternyata menimbulkan masalah yang perlu dipersoalkan, yakni ketidak adilan yang ditimbulkan oleh pembedaan gender tersebut. Dalam upaya penyeimbangan hak gender, upaya penyadaran gender meliputi pemahaman perbedaan peran biologis dan peran gender sekaligus memahami bahwa peran gender yang ditentukan melalui kontruksi sosial dan historis dapat berubah (Suradisastra,1998). Kesadaran gender berarti laki-laki dan perempuan bekerja bersama dalam suatu keharmonisan memiliki kesamaan dalam hak, tugas, posisi, peran dan kesempatan, dan menaruh perhatian terhadap kebutuhankebutuhan spesifik yang saling memperkuat dan melengkapi (Vitayala, 1995). Hal ini berarti bahwa laki-laki maupun perempuan dapat berperan sebagai pencari nafkah baik dibidang pertanian maupun non pertanian, pelaku kegiatan rumah tangga, maupun pelaku kegiatan masyarakat. Peran-peran tersebut dipengaruhi oleh berbagai nilai-nilai/norma masyarakat, lingkungan fisik dan sosial, programprogram pembangunan, dan kondisi sosila ekonomi keluara atau rumah tangga. Kondisi sosial ekonomi rumah tangga antara lain umur, tingkat pendidikan,

jumlah anggota rumah tangga, pendapatan rumah tangga, komposisi anggota rumah tangga (Hastuti, et.al., 1998).

KONDISI PEREMPUAN INDONESIA


Berdasarkan data yang ada menunjukkan bahwa kondisi perempuan di Indonesia masih banyak memerlukan perhatian. Di bidang pendidikan perempuan masih tertinggal dibandingkan dengan laki-laki. Sementara bahan ajar yang digunakan serta proses pengelolaan pendidikan masih bias gender, sebagai akibat dominasi laki-laki sebagai penentu kebijakan pendidikan (Soemartoyo, 2002). Di bidang ekonomi kemampuan perempuan untuk memperoleh peluang kerja dan berusaha masih rendah. Demikian pula akses terhadap sumberdaya ekonomi, seperti teknologi, informasi pasar, kredit, dan modal kerja. Tingkat pengangguran pada perempuan lebih tinggi dibanding laki-laki. Besarnya upah yang diterima perempuan lebih rendah dari pada laki-laki. Dengan tingkat pendidikan yang sama, pekerja perempuan hanya menerima sekitar 50 persen sampai 80 persen upah yang diterima lakilaki. Selain itu banyak perempuan bekerja pada pekerjaan marginal sebagai buruh lepas, atau pekerja keluarga tanpa memperoleh upah atau dengan upah rendah. Mereka tidak memperoleh perlindungan hukum dan kesejahteraan. Adanya krisis ekonomi yang berkepanjangan perempuan dan anak-anak merupakan kelompok yang paling rentan terkena dampak. Di bidang pengambilan keputusan dan poitik perempuan hanya diwakili oleh 8,8 % dari seluruh jumlah anggota DPR. Jumlah perempuan yang menjabat sebagai hakim agung di Mahka-

146

KALAMSIASI, Vol. 3, No. 2, September 2010, 141 - 152

mah Agung hanya 13 %. Jumlah PNS perempuan 36,9 % dari jumlah tesebut hanya 15 % yang menduduki jabatan struktural. Dengan kondisi yang demikian dapat dibayangkan bahwa peran perempuan sebagai pengambil kebijaksanaan relatif kecil dibanding dengan peran lakilaki.

SPESIFIKASI PERAN PEREMPUAN


1. Peran Gender di Bidang Ekonomi
Kenyataan bahwa budaya, tipe agriekosistem, dan status sosial ekonomi rumah tangga berpengaruh terhadap kontribusi perempuan pada kegiatan produksi pertanian (Hastuti, et.al., 1998). Selain itu masih banyak situasi yang menempatkan perempuan pada posisi pertukaran yang relatif lemah, baik ditinjau dari aktivitas ekonomi, sosial, maupun kekuasaan baik di lingkungan keluarga/ rumah tangga maupun masyarakat luas. Di dalam industri tanaman pangan perempuan pedesaan tetap berperan ganda sebagai penghasil pendapatan sekaligus penanggung jawab kegiatan rumah tangga, dan mampu memperbaiki kesejahteraan keluarga (Suratiyah, 1994). Oleh karena itu jika sistem pranata sosial budaya masih menempatkan perempuan pada kedudukan social ekonomi yang rendah, hal ini akan membatasi perannya pada kegiatan pengembangan pertanian (Pranaji, et.al., 2000). Sjaifudin (1992) menemukan kenyataan bahwa gender perempuan mengalami marginalisasi dalam tiga demensi, yaitu: (1) Perempuan ditemukan bekerja pada lapisan terbawah dari semua sub sektor, pekerjaan-pekerjaan tersegragasi oleh gender, dan menampilkan pekerjaan

yang tidak terampil dan dibayar termurah (2) Baik perempuan pengusaha maupun buruh keduanya kurang akses terhadap sumber daya dibanding laki-laki dan (3) Perempuan dalam keterlibatan di sektor non pertanian tidak dalam kategori yang homogen. Ternyata pula bahwa pada umumnya kegiatan fisik dalam produksi pertanian dibagi menurut garis gender, walaupun dalam berbagai kondisi terdapat keragaman yang berkaitan dengan normanorma lokal (Suradisastra, 1998). Koentjaraningrat (1967) mengemukakan bahwa dikalangan masyarakat Jawa, seorang suami adalah kepala keluarga, namun tidak berarti bahwa istri memiliki status lebih rendah karena ia bertanggung jawab terhadap kelangsungan hidup keluarga. Akan tetapi seorang anak laki-laki umumnya memiliki peran yang lebih kuat dan jelas sebagaimana yang ditunjukkan dalam pengalihan tanggung jawab dari ayah kepada anak laki-laki seperti yang dilaporkan oleh Sievers (1974) yang mengamati etnis Sunda, yang merupakan masyarakat patrilineal dengan hierarki kuat. Di daerah Bugis di Sulawesi Selatan, ternyata terdapat norma yang cukup kuat bahwa perempuan sama sekali tidak diperbolehkan bekerja di sawah, kecuali mengawasi pada saat panen. Sedang di daerah Sumatera barat yang menganut Budaya Matriarkat di mana perempuan sebagai penguasa dan kepala atas keluarga, ternyata terdapat norma laki-laki sebagai kepala keluarga dan pengurus rumah tangga, sedang perempuan sebagai pelaksana. Kenyataannya secara fisik perempuan di daerah ini melakukan hampir semua kegiatan usaha tani, bahkan banyak perempuan yang melakukan kegiatan mencangkul yang secara umum merupakan peran gender laki-laki.

Luluk Fauziah, Hambatan Sosial Budaya dalam Pengarusutamaan Gender di Indonesia

147

Selain itu terdapat norma tinggi lantai dari palupuah, yang berarti bahwa istri tidak dapat memerintah suami. Di daerah ini pada umumnya laki-laki menguasai tanaman utama, dan perempuan hanya mengontrol tanaman sampingan. Bahkan suami pulalah yang mengelola pendapatan rumah tangga, sehingga kalau istri memerlukan kebutuhan rumah tangga harus meminta ijin kepada suami. Di daerah istimewa Yogyakarta terdapat norma yang mengatakan ngono ya ngono, ning ojo ngono. Hal ini berarti perempuan boleh saja bekerja di bidang apapun, tapi jangan sampai melanggar batas-batas norma yang tidak pantas dilakukan (Hastuti, et.al., 1999). Misalnya kegiatan mencangkul, secara normatif bukan pekerjaan perempuan, dan kegiatan pemasaran hasil pertanian bukan pekerjaan laki-laki. Di daerah Boyolali laki-laki yang menjual hasil taninya disebut cupar, yang merupakan sindiran yang sangat memalukan. Di dalam kegiatan agribisnis pada umumnya perempuan mempunyai peran yang relatif besar pada bidang pemasaran dibanding laki-laki (Irwan, et.al., 2001). Namun akses dan kontrol perempuan dalam kelembagaan yang mendukung agribisnis relatif masih rendah. Hal ini antara lain disebabkan karena kentalnya budaya yang membatasinya. Meskipun demikian seringkali lingkungan fisik dan budaya ternyata sangat berpengaruh terhadap peran gender. Hal ini terbukti para transmigran yang berada di daerah Nusa Tenggara Barat yang berasal dari Jawa, pergi bersama-sama suami untuk mencangkul di lahan pertaniannya, dengan memakai celana panjang. Padahal perilaku yang demikian tidak pernah dilakukan di daerah asalnya di Pulau Jawa (Pranaji, et.al., 1999).

Seringkali peran gender tradisional perempuan dinilai lebih rendah dibanding peran gender laki-laki (Fakih,1996). Selain itu peran gender ternyata menimbulkan masalah yakni ketidakadilan yang ditimbulkan oleh peran dan perbedaan gender tersebut. Antara lain terjadi marginalisasi (pemiskinan ekonomi) terhadap perempuan. Banyak perempuan desa tersingkirkan dan menjadi miskin akibat program pertanian revolusi hijau yang hanya memfokuskan pada petani laki-laki. Begitu pula dengan program pembiayaan pertanian, training pertanian, dan seterusnya yang lebih ditujukan kepada petani laki-laki.

2. Peran Gender dalam Program Pembangunan


Konsep pembangunan yang diterapkan di seluruh dunia kini adalah konsep barat, pada intinya akan mengubah alam kehidupan tradisional menjadi modern yang diwujudkan dalam struktur ekonomi industri untuk menggantikan struktur ekonomi pertanian. Di dalam masyarakat seringkali perempuan menjadi warga kelas dua, dan menjadi obyek dari berbagai upaya perubahan yang disusun dalam kerangka berfikir yang mengacu pada asumsi yang sangat bias laki-laki. Hal inilah yang menjadi salah satu faktor yang menjelaskan mengapa perempuan tertinggal atau ditinggalkan dalam proses pembangunan. Pada umumnya di dalam program-program pembangunan di tingkat provinsi, kabupaten maupun desa baik laki-laki maupun perempuan tidak dilibatkan dalam perencanaan maupun pengambilan keputusan. Hampir semua program kebijaksanaan bersifat top down, sehingga masyarakat hanya tinggal sebagai pelaksana program tersebut. Norma-norma tradisional seringkali masih tetap dijadikan

148

KALAMSIASI, Vol. 3, No. 2, September 2010, 141 - 152

acuan di dalam menyusun program kebijaksanaan, dan terjadi penyeragaman kebijakan untuk pembangunan di pedesaan. Di tingkat desa akses laki-laki terhadap program pembangunan lebih besar di banding perempuan, Di dalam program penyuluhan pertanian (Sukesi, et.al., 1991) ditemukan kenyataan bahwa: 1. Akses perempuan ke penyuluhan pertanian, persepsi dan aspirasi perempuan perlu ditingkatkan 2. Pada komoditi tebu perempuan bayak berperan pada kegiatan usaha tani, sedang pada komoditi kedelai keterlibatan perempuan relatif kecil. Etnis memberikan variasi pada pembagian kerja gender pada liam komodity yang diteliti 3. Dalam penyuluhan pertanian sasaran utama adalah laki-laki Demikian pula di bidang peternakan perempuan mempunyai peran yang cukup penting, namun partisipasinya di dalam progrm penyuluhan relatif rendah (Homzah, 1987). Secara relatif program penyuluhan yang ditujukan kepada perempuan tani di pedesaan tidak didesain khusus untuk menjangkau kelompok perempuan tani sesuai dengan fungsi dan peranannya, serta belum menerapkan pendekatan yang paling tepat untuk kelompok didik yang dituju (Sulaiman, 1997). Faktor sosial budaya yang mengakibatkan ketidaksetaraan gender dan merupakan kendala bagi perempuan telah mengakar kuat pada kehidupan sosial ekonomi dan budaya selama berabad-abad menyebab kan kurangnya kesadaran dan pemahaman gender. Secara umum akses dan kontrol perempuan pada kelembagaan dan organisasi baik yang bersifat formal

maupun tradisional baru sebatas pada kelembagaan yang erat hubungannya dengan peran gender. Misalnya organisasi PKK, arisan, pengajian dan sebagainya. Bahkan terdapat kecenderungan bahwa organisasi-organisasi yang dibentuk dan diperkenalkan oleh pemerintah baru dapat dijangkau oleh golongan rumah tangga mampu. Di lain pihak kegiatan-kegiatan pembangunan pemerintah di dalam pelaksanaaanya di tingkat desa, dan mungkin juga dalam konsepsinya di tingkat nasional baik secara eksplisit maupun implicit membuat asumsi yaang menguatkan pemisahan peran laki-laki dan perempuan. Antara lain penyuluhan pertanian, program kredit, perkumpulanperkumpulan formal dan peranan pemimpin di dalamnya ditetapkan sebagai urusan laki-laki. Sedang urusan perempuan ditetapkan terbatas pada kegiatan-kegiatan yang menjurus ke bidang reproduksi seperti keluarga berencana, pendidikan gizi dan kesehatan, PKK, dan seterusnya (White dan Hastuti,1980). Hal ini menggambarkan bahwa kebijakan pemerintah belum peka gender, karena tidak sesuai dengan peran yang nyata di dalam masyarakat. Kebijakan yang sensitif gender adalah kebijakan yang mencerminkan kepentingan laki-laki dan perempuan secara setara (Syaifudin, 1996). Di dalam lingkup publik, sumberdaya dialokasikan melalui kebijakan publik. Alokasi sumberdaya dalam lingkup publikpun terbukti tidak memberikan kesempatan yang sama berdasarkan gender. Pilihan-pilihan dan partisipasi perempuan dalam proses kebijakan sangat terbatas akibat proses sosialisasi yang selama ini ada, menyebabkan perempuan harus melalui banyak rintangan ketika akan memasuki aena politik dan kebijakan.

Luluk Fauziah, Hambatan Sosial Budaya dalam Pengarusutamaan Gender di Indonesia

149

Politik dan kebijakan dipercaya sebagai dunia laki-laki. Bahkan memasuki dunia ini masih dianggap sebagai pelanggaran terhadap kodrat perempuan. Oleh karena itu berbagai program kebijakan dari pusat harus ditelaah apakah sesuai dengan kenyataan di dalam masyarakat. Norma yang selama ini sering digunakan sebagai acuan perlu ditinjau kembali, agar kebijakan yang yang diambil tepat sasaran. Penyeragaman kebijakan tidak dapat diterapkan karena peran gender berbeda baik antar tempat, waktu, dan kelas sosial ekonomi masyarakat.

2. Hambatan Memperoleh Pekerjaan


Peluang gender tertentu guna memperoleh pekerjaan sering dihubungkan denga norma tradisional. Pada umumnya pekerjaan gender perempuan dikaitkan dengan kegiatan rumah tangga. Pekerjaan gender perempuan juga sering dinilai berkarakter rendah, bersifat marginal, dan mudah disingkirkan. Selain itu gender perempuan menghadapi hambatan mobilitas relatif. Dalam hal ini perempuan seringkali enggan bekerja jauh secara fisik, karena mereka diharapkan selalu berada dekat dengan anak-anaknya.

HAMBATAN SOSIAL BUDAYA YANG MEMPENGARUHI PERAN GENDER PEREMPUAN


Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi peran gender perempuan baik di dalam kegiatan rumah tangga maupun dalam masyarakat yang lebih luas. Beberapa faktor pembatas menurut Licuanan (dalam Suradisastra,1998) adalah sebagai berikut:

3. Status Pekerjaan
Sering terjadi pembedaan posisi untuk gender yang berbeda. Perempuan sering memperoleh posisi yang lebih rendah dari rekannya laki-laki. Demikian juga sering terjadi imbalan yang berbeda untuk jenis pekerjaan yang sama. Dari segi teknologi, gender tertentu seringkali mengalami lebih banyak dampak negatif dari pada dampak positifnya.

1. Status Sosial
Status gender perempuan terutama yang berkaita dengan proses pendidikan, kesehatan, dan posisi dalam proses pengambilan keputusan umumnya memberikan dampak tertentu terhadap produktivitas mereka. Rumpang lebar yang terjadi antara pencapaian pendidikan lakilaki dan perempuan, disertai kenyataan bahwa perempuan secara umum kurang memperoleh akses yang sama terhadap sumber daya pendidikan dan pelatihan telah menciptakan konsekuensi kritis terhadap perempuan dalam peran produktif dan reproduktif mereka.

4. Beban Ganda
Kaum perempuan memiliki peran ganda yang jauh lebih banyak dibandingkan laki-laki. Masalah mempersatukan keluarga dengan pekerjaan bagi perempuan jauh lebih rumit dibandingkan dengan laki-laki, karena perempuan secara tradisional selalu diasumsikan untuk selalu berada dekat dengan anak-anaknya sepanjang hari, sekaligus mengerja kan pekerjaan rumah tangga. Akibatnya, perempuan pekerja mempunyai tuntutan peran simultan dari pekerjaan dan keluarga. Sementara laki-laki hanya mempunyai tuntutan peran sekuental. Di samping faktor-faktor sosial budaya yang

150

KALAMSIASI, Vol. 3, No. 2, September 2010, 141 - 152

bersifat normatif seperti tersebut di atas, terdapat faktor-faktor kondisi keluarga yang mempengaruhi peran gender perempuan (Hastuti, 1998). Di Indonesia Bagian Timur terdapat sejumlah masalah dalam pengembangan karier sarjana perempuan di bidang IPTEK (Wulur,1992) yaitu: 1. Anak laki-laki lebih diutamakan untuk bersekolah, masih ada anggapan bahwa laki-laki lebih memerlukan pendidikan dari pada perempuan. 2. Dalam pola pendidikan, anak laki-laki sampai besar lebih mendapat rangsangan untuk menekuni bidang IPTEK 3. Ada pendapat stereotip bahwa IPTEK tidak cocok untuk perempuan, tidak sesuai dengan bakat perempuan 4. Anak perempuan tidak ada panutan dalam bidang IPTEK, nama-nama yang menonjol biasanya laki-laki (perempuan kurang mempunyai role models) 5. Keluarga kurang mendukung pengembangan karier perempuan, pandangan masyarakat tidak menguntungkan 6. Ada angapan bahwa makin tinggi pendidikan perempuan, makin sulit mendapatkan jodoh 7. Perempuan lebih mengutamakan keluarga, dan pada umur produktif sering sibuk dengan urusan rumah tangga karena mengurus anak kecil, sehingga kurang waktu untuk studi atau pekerjaan 8. Dalam pembagian kerja di rumah tangga belum ada pemerataan tugas antara suami-istri. Hal ini terkait dengan konsep diri bahwa perempuan adalah di rumah, mengurus rumah tangga. Anak perlu mendapat pera-watan, maka tidak adanya pemerataan pembagian tugas antara suami-istri menjadi penghambat bagi ibu rumah tangga untuk berperan di luar rumah tangga.

Padahal berdasarkan berbagai penelitian oleh Kimbal (1981) dan sejumlah pakar lainnya disimpulkan bahwa perbedaan kemampuan alamiah kecil sekali. Hal ini sependapat dengan Suwarno (1995), bahwa seseorang dapat mengembangkan secara penuh baik sifat maskulin maupun sifat feminin pada dirinya, sehingga mampu mengembangkan potensi yang ada pada dirinya secara penuh (Lips dan Colwill, 1978). Seseorang yang tanpa memandang jenis kelamin mampu mengembang kan unsur maskulin disebut mempunyai perilaku androgini. Di daerah NTB meskipun terdapat perkembangan peningkatan peran perempuan dalam pembangunan yang bertujuan untuk mewujudkan kemitrasejajaran, namun dibanding daerah lain relatif lambat. Hal ini sebagai akibat dari hambatan faktor nilai-nilai budaya tradisional yang masih dianut masyarakat (Hanartani.1997). Oleh karena itu sedikit alasan untuk membatasi salah satu gender untuk menekuni bidang-bidang kegiatan yang ada di sektor publik di dalam masyarakat luas.

SIMPULAN DAN IMPLIKASI KEBIJAKAN


Ditinjau dari jumlah penduduk dan kondisi perempuan di Indonesia pengarusutamaan gender di dalam program pembangunan sangat diperlukan. Terlebih bila dilihat dari kondisi kritis yang terus berkepanjangan, dimana perempuan terkena dampak yang paling berat. Hal ini antara lain masih kuatnya budaya bahwa perempuan sebagai pengurus dan pengelola keluarga/rumah tangga. Dilihat dari kondisi perempuan Indonesia saat ini ternyata masih sangat memerlukan penanganan yang cukup serius terutama dari

Luluk Fauziah, Hambatan Sosial Budaya dalam Pengarusutamaan Gender di Indonesia

151

segi kebijakaan. Berbagai hasil penelitian membuktikan bahwa berbagai program pembangunan masih bias laki-laki. Akibatnya program pembangunan yang dilaksanakan tidak dapat memenuhi sasarannya dengan tepat. Masyarakat pada umumnya belum banyak dilibatkan baik di dalam perencanaan maupun pengambilan keputusan, dan hanya berperan sebagai pelaksana pembangunan. Partisipasi perempuan dalam kegiatan pembangunan relatif rendah dan masih terbatas pada aspek yang erat hubungannya dengan sector domestik atau reproduksi. Hal ini sangat jauh dengan peran gender perempuan yang nyata di dalam masyarakat. Bahkan perempuan masih dianggap menyalahi kodrat bila memasuki dunia kebijakan atau politik. Terdapat perbedaan peran gender antara norma yang berlaku di dalam masyarakat dengan kenyataan yang ada, dan peran gender berbeda berdasarkan spesifik lokasi. Masih banyak dijumpai faktor sosial budaya yang membatasi kebijakan pengarusutamaan gender di dalam pembangunan, baik yang berasal dari norma-norma yang terdapat di dalam masyarakat, maupun di dalam kondisi keluarga/rumah tangga. Peran perempuan berbeda baik antara lokasi, waktu, maupun kelas sosial ekonomi. Oleh karena itu kebijakan penyeragaman pembangunan merupakan suatu tindakan yang tidak efektif dan efisien. Partisipasi perempuan di dalam kelembagaan di tingkat lokal relatif tinggi. Hal ini antara lain disebabkan tidak terdapat perbedaan status sosial ekonomi diantara para anggota, dan pada umumnya kelembagaan lokal terbentuk secara otonom sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Oleh karena itu penyadaran dan pengarusutamaan gender dapat

dilakukan mulai dari pusat, dan di tingkat lokal dapat dilakukan di dalam kelembagaan tradisional yang ada di dalam masyarakat.

DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 1996. Mengidentifikasi Persoalan Perempuan. Editorial. Analisis Gender. Dalam Memahami Persoalan Perempuan. Jurnal Analisis Sosial. Edisi 4 November. Akatiga. Bandung. Caplan. 1978. The Cultural Construction of Sexuality. Dalam Fakih M. 1996. Gender dalam Analisis Sosial. Edisi 4 Nopember. Akatiga Bandung. Fakih, M. 1996. Gender Sebagai Alat Analisis Sosial. Dalam Analisis Gender Dalam Memahami Persoalan Perempuan. Jurnal Analisis Sosial. Edisi 4 November 1996. Hanartani. 1997. Profil Kedudukan dan Peranan Wanita di NTB. Warta Studi Perempuan, Vol.5, No. 1. Hastuti, E.L. 2004. Pemberdayaan petani dan kelembagaan Lokal Dalam Perspektif Gender. Working Paper. Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial Ekonomi Pertanian. Hastuti, et.al. 1998. Studi Peranan Wanita Dalam Pengembangan Usaha Pertanian Spesifik Lokasi. P/SE. Badan Litbang Pertanian. Departemen Pertanian. Homzah, S. Peranan Wanita dalam Usaha Tani Ternak Sapi. Seminar Nasional Fungsi Sosial Ekonomi Indonesia. Cibubur. Irawan, B., et.al. 2001. Studi Kebijaksanaan Pengembangan Agribisnis Komoditas Unggulan Hortikultura.

152

KALAMSIASI, Vol. 3, No. 2, September 2010, 141 - 152

Laporan Hasil Penelitian. Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial Ekonomi Pertanian. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Departemen Pertanian. Kimbal, Meredith. M. 1981. Women and Science: Acitique of Biological Theories, in International Journal of Womenns Studies. Vol 4 No.4. Koentjaraningrat. 1967. Villages in Indonesia. New York. Cornel University Press. Lips. H.M. and N.I. Colwil. 1978. The Psychology of Sex Different. Englewood Clifft, N.J. Prentise Hal. Pranadji, T., et.al. 2000. Perekayasaan Sosio Budaya Dalam Percepatan Transformasi Pertanian Berkelanjutan. Laporan hasil penelitian. P/SEARMP II. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Departemen Pertanian. S.R. Seomartoyo. 2002. Pemberdayaan Perempuan di Indonesia dan Peluang Untuk Pemberdayaan Ekonomi Perempuan. Disampaikan oleh Menteri Pemberdayaan Perempuan pada The ACT Seminar and Summit. Japan-Indonesia: Dinamic Relationship for Regional Development. Sjaifudin, H. 1996. Sensitifitas Gender Dalam Perumusan Kebijakan Publik. Jurnal Analisis Sosial. Edisi 4, November 1996. Sukesi, K., Rini Dwiastuti, dan Cicilia Susilo Retno. 1991. Penyuluhan Pertanian Bagi Wanita di Pedesaan Jawa Timur. Warta Studi Perempuan. Vol 2, No.2. Sulaiman, F 1997. Pendekatan Penyu. luhan Dalam Pemberdayaan Perempuan Melalui Pengembangan

Agribisnis di Pedesaan. Prosiding Lokakarya Pemberdayaan Sumberdaya Wanita Melalui Pengembangan Agribisnis di Pedesaan, Perhimpunan Agronomi Indonesia bekerjasama dengan Menteri Negara UPW dan Badan Agribisnis, Departemen Pertanian. Suradisastra, K. 1998. Perspektif Keterlibatan Wanita di Sektor Pertanian. Forum Penelitian Agro Ekonomi. FAE, Vol 16. No.2. Suwarno, B.1995. Perilaku Androgini di Kalangan Wanita: Fajar Menyingsing Bagi Masa Depan Wanita. Warta Studi Perempuan. Edisi Khusus. Tjandraningsih Indrasari. 1996. Mengidentifikasi Persoalan Perempuan. Jurnal Analisis Sosial. Edisi 4 November. AKATIGA. Vitayala, A., S. H. 1995. Gender Issues Report. Goverment of The Republic of Indonesia Ministry of Agricultural. Agency Agricultural Research and Development. Vitayala, A., S. H.1995. Posisi dan Peran Wanita Dalam Era Globalisasi. Makalah disampaikan pada seminar ilmiah Puslit Sosial Ekonomi Per tanian. Badan Litbang Pertanian. Departemen Pertanian. White dan Hastuti. E.L.1980. Pola Pengambilan Keputusan Dalam Rumah Tangga dan Masyarakat Luas di Dua Desa Penelitian di Jawa Barat. SDP/SAE. Bogor. Wulur, V. 1992. Program WIST Sebagai Upaya Meningkatkan Peran Perempuan dalam IPTEK. Warta Studi Perempuan. Vol.3. No.I.

PROFIL KEMISKINAN BERBASIS KOMUNITAS DI DESA BENGKULU REGIONAL EVELOPMENT PROJECT (BRDP): Studi Kasus di Desa Muara Payang, Kecamatan Kota Manna, Kabupaten Bengkulu Selatan
Achmad Aminudin
(Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Bengkulu)

ABSTRACT
This qualitative description research aims to find out how the poverty profile. The objective of this study emphasizes on the bottom-up approach based on the society within the community especially in rural recipients Village Financial Management Unit Program (UPKD) in Bengkulu Regional Development Project (BRDP) village, i.e. Payang Muara Village, District Seginim, South Bengkulu. The research sampling technique is done by using purposive sampling. Moreover, the results show that the poverty in the village of Muara Payang can be classified into poor form/buntuk nian (very poor), poor, semi-established, and well established. The poverty forms have their own characteristics. Key words: poverty, community, BRDP, and poor classification

PENDAHULUAN
Kemiskinan merupakan masalah yang selalu ada dan selalu menjadi pembahasan oleh berbagai kalangan dengan berbagai sudut pandang tentang apa itu kemiskinan dan bagaimana kemiskinan diatasi. Oleh karenanya tidak heran bila ternyata pengertian kemiskinan bermacam-macam. Walaupun demikian, dalam rangka penanggulangan kemiskinan yang komprehensif diperlukan kesepakatan pemahaman di antara semua pihak penyelenggara agar targetnya tepat sasaran.
153

Memahami kemiskinan tidaklah sederhana karena masing-masing orang atau lembaga memiliki pengertian yang berbeda. Masing-masing orang atau lembaga tersebut juga menggunakan tolok ukur dan sudut pandang yang berbedabeda sehingga dalam menganalisis masalah kemiskinan sering menjadi bias. Selain itu masing-masing komunitas dan wilayah memiliki kategori dan karakteristik kemiskinan yang berbeda pula. Perbedaan pengertian, tolok ukur dan sudut pandang tersebut berdampak sangat besar

154

KALAMSIASI, Vol. 3, No. 2, September 2010, 153 - 164

pada upaya pengentasan kemiskinan. Sering juga, masalah kemiskinan difahami secara sangat reduktif dengan menyebutnya sebagai suatu kekurangan uang dan tidak memiliki apa-apa yang berarti, sehingga hanya dengan memberikan apa yang kurang tersebut maka selesailah masalah kemiskinan. Sesungguhnya tidaklah sesederhana itu karena permasalahan kemiskinan begitu kompleks baik penyebab maupun dampak yang ditimbulkannya. Upaya penanggulangan kemiskinan telah banyak dilakukan oleh pemerintah baik pusat maupun daerah. Namun demikian, berbagai kebijakan dan program penanggulangan kemiskinan dirasa masih belum mampu menjawab permasalahan kemiskinan secara mendasar dan menyeluruh. Bahkan cenderung menambah permasalahan kemiskinan baru. Berbagai evaluasi menengarai bahwa kekurangberhasilan kebijakan dan program penanggulangan kemiskinan disebabkan oleh kebijakan dan program yang dibuat itu secara top down, tidak terpadu dan obyektif serta pelaksanaannya kurang tepat sasaran. Kebijakan dan program yang top down tersebut sering tidak sinkron antara kebutuhan pembangunan masyarakat (penanggulangan kemiskinan) dengan program dan pelaksanaannya oleh pemerintah. Kebijakan dan program yang tidak terpadu menyebabkan pelaksanaan yang parsial dan dangkal. Sedangkan kebijakan dan program yang tidak obyektif adalah program yang kamuflatif dan tidak tepat sasaran. Hal-hal inilah yang justru kemudian sering menimbulkan permasalahan baru. Salah satu program prestisius Bank Dunia dengan biaya yang sangat mahal

serta melibatkan banyak organisasi, baik dari dalam dan luar negeri adalah Bengkulu Regional Development Project (BRDP). BRDP adalah suatu proyek pembangunan perdesaan yang mempunyai karakteristik khusus. Kekhususan tersebut nampak pada penyusunan program yang berbasis pada kebutuhan dan permasalahan komunitas sasaran. Sifat program yang demikian diharapkan dapat mengakselerasi tingkat partisipasi komunitas sasaran sehingga mampu menjamin sustainabilitas program. Secara konseptual, tujuan utama BRDP adalah pertama, untuk memacu pertumbuhan ekonomi wilayah perdesaan yang berbasis pada kebutuhan masyarakat lokal. Kedua untuk membantu pengentasan kemiskinan. Program ini telah selesai dilaksanakan 2004, namun efektivitasnya kurang dirasakan manfaatnya oleh masyarakat sasaran. Sejak tahun 1999, kabupaten Bengkulu Selatan melaksanakan proyek BRDP dalam kerangka bantuan Bank Dunia. Komponen utama BRDP berupa kegiatan desa yang dilaksanakan melalui partisipasi masyarakat. Berpijak pada hal di atas maka diperlukan suatu kajian obyektif tentang Profil kemiskinan. Kajian obyektif ini lebih mengedepankan pada pendekatan bottom up berbasis pada masyarakat dalam komunitas khususnya di desa penerima Program Unit Pengelolaan Keuangan Desa (UPKD) Di Desa Bengkulu Regional Development Project (BRDP) Kabupaten Bengkulu Selatan dalam kajian ini akan difokuskan pada Desa Muara Payang, Kecamatan Seginim. Adapun permasalahan dalam penelitian ini adalah bagaimanakah profil kemiskinan berbasis komunitas di Desa

Achmad Aminudin, Profil Kemiskinan Berbasis Komunitas di Desa Bengkulu

155

Bengkulu Regional Development Project (BRDP). Sedangkan tujuan penelitian adalah memaparkan profil kemiskinan berbasis komunitas di Desa Bengkulu Regional Development Project (BRDP).

METODE PENELITIAN
Penelitian ini bersifat deskriptifkualitatif. Pendekatan ini digunakan untuk memperoleh pemahaman yang menyeluruh dan tuntas mengenai aspek-aspek yang relevan dengan tujuan penelitian. Penelitian ini dilakukan di desa Muara Payang, Kecamatan Seginim, kabupaten Bengkulu Selatan pelaksana Program BRDP yang mempunyai karakteristik dan prestasi desa dinyatakan berhasil dalam melaksanakan Program UPKD. Pemilihan

lokasi dan Populasi penelitian menggunakan teknik purposive sampling. Metode yang digunakan untuk mengumpulkan informasi yang dibutuhkan adalah dengan mengadaptasi beberapa teknik PRA. Antara lain dengan Analisa data sekunder, Observasi partisiasi, Kuesioner sederhana, Diskusi Kelompok, FGD, Wawancara mendalam dengan responden dan tokoh-tokoh kunci lainnya, dan Teknik-teknik PRA lainnya.

HASIL PENELITIAN
Berdasarkan hasil yang diperoleh dari Penerapan beberapa teknik Tools PRA di komunitas sasaran, kegiatan ini dapat menggambarkan Profil Kemiskinan Desa Muara Payang sebagai berikut:

1. Hasil Penerapan Matriks Rangking Pendapatan Desa Muara Payang Kec. Seginim Kab. Bengkulu Selatan
Sumber Pendapatan 1. Buruh tani/upahan harian Rangking I Masalah Tidak setiap hari ada tempat upahan Rentan masalah kesehatan dan keselamatan kerja Penghasilan rendah Bagi hasil Tidak bisa menentukan nasib sendiri terbatas pengetahuan, keterampilan dan modal Kurangnya jaminan untuk pinjam/ mendapatkan modal Biaya usaha tinggi Selisih biaya usaha dengan penghasilan sangat sedikit dapat dilihat dari analisis usahatani Alasan Tidak ada keterampilan lain Tidak membutuhkan biaya kerja Peluang sebagai busuk Tidak memiliki lahan Tidak punya modal Rendahnya kemampuan Ketidakberdayaan Kesempatan kerja lain tidak ada Tidak memerlukan keterampilan/kecakapan khusus kalau bertani sudah biasa turun menurun

2 Petani penggarap dengan bagi hasil (50 penggarap dengan biaya usahatani ditanggung, 50 pemilik lahan upah olah tanah/taktor ditanggung)

II

156

KALAMSIASI, Vol. 3, No. 2, September 2010, 153 - 164

2. Hasil Penerapan Matriks Rangking Pengeluaran Desa Muara Payang Kecamatan Seginim Kabupaten Bengkulu Selatan Pengeluaran Sandang Pangan Papan Kesehatan Biaya usaha Pendidikan Sosial Tagihan (kredit barang, pinjaman uang dan listrik) - Transportasi Rangking VI I VII IV III II VIII V Masalah Alasan

- Keluarga miskin tidak - Pangan pengeluaran mempunyai kemampuan untuk bertahan hidup memenuhi kebutuhan- Kemajuan untuk kebutuhan dasar terutama meningkatkan taraf pangan dan pendidikan hidup generasinya apalagi dapat hidup layak dengan mengutamakan - Pengeluaran pangan sudah biaya pendidikan anak diletak seminim mungkin tapi belum mencukupi - Serba kekurangan dan tidak dapat menabung

3. Hasil Penerapan Tools Klasifikasi Kemiskinan Desa Muara Payang Kec. Seginim Kab. Bengkulu Selatan
KRITERIA Miskin/ buntuk nian (sangat miskin) CIRI-CIRI KEMISKINAN ORANG - Pendidikan sangat minim, tidak tamat SD, wawasan berpikir terbatas - Mata pencaharian upahan/buruh harian, petani penggarap - Penampilan kumuh - Cenderung bersikap apatis, mempunyai perasaan ketakutan dan kecurigaan dan fatalistik - Jarang mengunjungi pelayanan umum dan berpartisipasi dalam kegiatan desa - Merasa mempunyai martabat & harga diri yang rendah - Sering belum bekerja, upah sudah duluan diambil - Tidak mempunyai keterampilan dan kreatifitas KELUARGA - Tidak memiliki lahan usaha, ada yang memiliki < Ha - Sulit memenuhi kebutuhan pokok keluarga - Serba kekurangan - Penghasilan antara Rp. 250.000 - Rp. 400.000,- per bulan - Kondisi tempat tinggal; dinding rumah bata/papan/ bambu, lantai semen/ tanah, atap seng/ daun rembi - Istri ikut mencari nafkah - Makan seadanya tidak memenuhi standar gizi - Sulit mendapatkan pinjaman modal - Hanya mampu membeli pakaian bekas/paling murah dan jarang bergantiganti KELOMPOK - Bermukim di pinggiran desa - Bekerja sebagai buruh tani/penggararp

Achmad Aminudin, Profil Kemiskinan Berbasis Komunitas di Desa Bengkulu

157

KRITERIA Miskin/ buntuk nian (sangat miskin)

CIRI-CIRI KEMISKINAN ORANG - Jika ada keramaian/ acara hajatan dapat kerja yang berat (cenderung mendapat perlakuan diskriminatif) - Tidak banyak tuntutan, mudah berpuas diri - Bekerja tidak memikirkan resiko, asal kebutuhan pokok (makan) terpenuhi - Kesempatan kerja terbatas - Tidak memanfaatkan waktu luang, cenderung malas (tidak ulet) - Pendidikan dasar selesai - Pemiiran sudah lebih maju dan berpikir resiko hidup - Enggan berpartisipasi dalam kegiatan pembangunan - Sulit mendapat kepercayaan pinjaman modal - Sikap hidup lebih maju dari warga sangat miskin - Pemerintahan, swasta dan berwiraswasta di rumah (warung manisan, foto copi, wartel dll) - Pendidikan memadai minimal SMP - Lebih mudah akses permodalan - Memiliki gaji tetap - Memiliki ragam usaha sumber penghasilan tidak hanya usahatani - Tidak bekerja upahan/ buruh dengan orang - Pakaian disesuaikan dengan situasi (sudah berganti-ganti) KELUARGA - Mengutamakan pemenuhan kebutuhan anak - Sering dapat sedekah dan bentuan sosial - Ukuran rumah 4 x 6 meter tidak ada WC - Pengobatan tradisional KELOMPOK

Miskin

- Memiliki lahan minimal Ha (lahan sawah) - Memiliki lahan daratan minimal Ha dan ternak - Penghasilan di atas Rp. 400.000 per bulan - Kebutuhan pokok makan terpenuhi tidak kekurangan meski belum memenuhi standar gizi - Rumah dinding semen, atap seng, lantai semen, ukuran 6 x 8 meter - Kebutuhan dasar keluarga (pangan, gizi, sandang, papan, pendidikan dan kesehatan) terpenuhi - Penghasilan sebulan di atas Rp. 1.000.000,- Fasilitas rumah memadai, lantai keramik, dinding semen, atap seng, ukuran 8 x 11 meter

- Merasa kelompok yang terpinggirkan - Kurang didengar pendapatnya dan jarang dimintai pendapat - Sulit mengembangkan usaha - Biaya pendidikan cenderung tidak cukup - Cuma bertahan untuk memenuhi kebutuhan

Setengah Mapan

- Lebih mudah menerima pembaharuan - Ikut berpartisipasi dalam kegiatan desa

158

KALAMSIASI, Vol. 3, No. 2, September 2010, 153 - 164

KRITERIA Setengah Mapan

CIRI-CIRI KEMISKINAN ORANG KELUARGA - Memiliki sarana hiburan, tv warna, VCD, digital dan tipe recorder - Memiliki WC dan sumur - Memiliki tabungan - Memiliki lahan sawah minimal 1 Ha dan lahan darat 1 Ha - Memiliki kendaraan minimal roda dua - Memiliki ternak ayam, itik, sapi dan kerbau - Jika ada pengeluaran tidak terduga, tidak mempengaruhi ekonomi keluarga (bangkrut) - Penghasilan tetap di atas Rp. 2 juta - Tidsk menjadi buruh, mampu mengembangkan/ mengelola usaha - Pemikiran dan pendidikan memadai - Mampu menentukan nasib sendiri - Sikap hidup optimis - Pekerja keras - Memiliki sawah minimal 3 Ha, tanah daratan produktif di atas 2 Ha - Ambil gadaian, jika toke desa meminjamkan uang - Ternak (sapi, kerbau) di atas 10 ekor - Fasilitas rumah tangga lengkap mulai dari penerangan, jet pam/mesin air, elektronik lengkap - Perabotan rumah tangga lengkap - Asset tidak bergerak di atas Rp. 50 juta - Memiliki kendaraan dan anak-anak diberi fasilitas yang memadai - Biaya pendidikan anak terjamin - Kebutuhan dasar keluarga terpenuhi - Menentukan/ mempengaruhi nasib orang lain KELOMPOK

Mapan

159
Achmad Aminudin, Profil Kemiskinan Berbasis Komunitas di Desa Bengkulu

4. Matrik Rangking Masalah Desa Muara Payang Kec. Seginim Kab. Bengkulu Selatan
ANALISIS GMP GAWAT 3 3 3 9 MENDESAK PENYEBAB JML I

NO. MASALAH Kurangnya kesempatan bekerja Terbatasnya peluang usaha Lemahnya nilai tukar produksi Rendahnya produktifitas usaha tani Kurang keterampilan/kecakapan kerja Terbatasnya modal yang dimiliki Rendahnya kualitas sumber daya manusia Pendampingan dalam berusaha 1 1 2 1 1 1 1 3 2 3 3 3 3 2 8 8 5 1.

RANKING

ALTERNATIF PEMECAHAN MASALAH

REKO MENDASI

Menumbuhkan peluang usaha/peluang kerja seperti PIR, pabrik dengan sumber daya lokal II II IV

Pemerintah swasta

2. 3. 4.

Mengoptimalkan lahan usahatani dan keanekaragaman usaha hasil pertanian

Depnaker

Standar penjualan, ada lembaga penampungan

Lahan usaha dikelola secara optimal, penyediaan saran/prasarana pendukung usahatani, tingkatkan teknologi usahatani 3 5 IV

BPTP , Pertanian dan Kimpraswil

5.

Adakan/mengikuti pelatihan-pelatihan dan kursus 1 1 2 1 1 3 3 4 VI VI V

Disnaker

6. 7. 8.

Kesempatan memperoleh modal usaha dengan persyaratan yang tidak sulit

Pelatihan, study banding, pengkajian teknologi, diberi petunjuk

Meningkatkan peran tenaga pendamping, tenaga tehnis (PPL, konsultan tehnis)

Instansi terkait (KIPP< BPP) dan yang bersangkutan 1 1 3 5 IV

9.

Etos kerja rendah

Dieri pandangan hidup optimis, wawasan luas, bisa melalui pelatihan, interaksi dengan kominitas lain 3 1 3 7 III

Masyarakat

10.

Lemahnya kesatuan kelompok (individua-lis)

Dapat diselesaikan sendiri dengan membangkitkan rasa keluarga, semangat gotong royong

5. Penerapan Tools Analisis Sosial Masyarakat Desa Muara Payang Kecamatan Seginim Kabupaten Bengkulu Selatan
AKIBAT YANG HARUS DILAKUKAN SIAPA YANG MELAKUKAN

160

MASALAH PENYEBAB

1. KENDALA SOSIAL Lemahnya semangat kerjasama dan saling tolong menolong terutama kesulitan keuangan

Ketika si miskin pinjam uang (meski dengan keluarga) membuat mereka terjerat hutang karena bunganya besar Kegiatan kelompok tidak ada yang berjalan

Menurunkan harga pinjaman dan membentuk lembaga keuangan memberi kesempatan mendapatkan permodalan Diberi peluang kemudahan untuk berusaha tani

Lingkungan kekerabatan dan warga desa Pemerintah dan swasta

2. sikap mental yang tidak mendukung kemajuan

kerjasama lingkungan masyarakat

sikap dan tingkah laku yang menerima keadaan yang seakan-akan tidak dapat diubah lemahnya kemauan untuk maju enggan menerima pembaharuan tercermin dari prinsip keras kepala, tidak mau mendengar pendapat orang lain dan sulit percaya dengan orang baru Program dengan Pola KSO (kerjasama operasional) dengan pertimbangan a. masyarakat dibimbing setiap saat b. masyarakat mengetahui resiko kegagalan c. masyarakat mengetahui apa yang harus dikerjakan dan pola KSO ini. Dibidang perkebunan, perikanan dan peternakan : a. Pembinaan terarah dan kontinu b. Setiap saat masyarakat dapat masyarakat dapat diberi masukan dan pembelajaran c. Lebih hati-hati karena masyarakat lebih mengetahui masalah keuangan, tenaga kerja (lebih transparan) d. Tanggung jawab moral lebih dominan

study banding adalah hal tepat agar dapat melihat dan belajar langsung ketimbang diberi penjelasan dari orang tidak berpengalaman langsung dengan kesulitan usaha masyarakat membebaskan masyarakat dari mental dan budaya miskin

KALAMSIASI, Vol. 3, No. 2, September 2010, 153 - 164

3. Program sosial yang tidak meningkatkan pemberdayaan masyarakat. Program/ proyek penanggulangan kemiskinan dari pemerintahan gagal

Masyarakat semakin terbiasa dengan prinsip menerima bantuan dan selalu menunggu bantuan dan tidak berusaha menumbuhkan kemampuannya

Lingkungan kekerabatan dan warga desa Pemerintah dan swasta

Achmad Aminudin, Profil Kemiskinan Berbasis Komunitas di Desa Bengkulu

161

POHON MASALAH
DESA MUARA PAYANG KEC. SEGINIM BENGKULU SELATAN

162

KALAMSIASI, Vol. 3, No. 2, September 2010, 153 - 164

POHON TUJUAN
DESA MUARA PAYANG KEC. SEGINIM BENGKULU SELATAN

Achmad Aminudin, Profil Kemiskinan Berbasis Komunitas di Desa Bengkulu

163

6. POHON MASALAH DESA MUARA PAYANG KECAMATAN SEGINIM BENGKULU SELATAN

164

KALAMSIASI, Vol. 3, No. 2, September 2010, 153 - 164

SIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan diperoleh gambaran tentang kemiskinan di Desa Muara Payang yang dapat klasifikasi: miskin/buntuk nian (sangat miskin), miskin, setengah mapan, dan mapan. Masing-masing memiliki karakteristik sendiri-sendiri.

Juklak BRDP 2000 . Mattulada.1989. Desentralisasi dalam Manajemen Pembangunan: Suatu Tinjauan dari Sudut Kodrat Kebudayaan dalam Sumitro (ed) Desentralisasi dalam Manajemen Pembangunan. Jakar ta: Sinar Harapan. Mubyarto. 1994. Keswadayaan Masyarakat Desa Tertinggal. Yogjakarta: P3PK UGM Pusat Pembinaan dan Pengembangan Koperasi dan Usaha Kecil. 2002. Study Beneficiary BRDP. Bengkulu: Universitas Bengkulu. Soetrisno, L. 1998. Negara dan Prasarananya dalam Menciptakan Pembangunan Desa yang Mandiri. Prisma. Jakarta: LP3ES

DAFTAR PUSTAKA
Chamber, R. 1991. Participatory Rural Appraisal: Past, Present, and Future. Forest,Ttrees, People. 15/16: 4-7 Ismawan, B & Kentjono. 1985. Kemandirian Kelompok Swadaya dan Perannya dalam Menciptakan Peluang Kerja dan Berusaha di Pedesaan. Dalam Mubyarto (ed). Peluang Kerja dan Berusaha di Pedesaan. Yogjakarta: BPFE.

PERAN PERS DALAM POLITIK DI INDONESIA DAN TANGGUNG JAWAB HUKUM ETIKA KOMUNIKASI PADA KARYA JURNALISTIK
Sri Ayu Astutik
(Dosen Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Jalan Majapahit 666 B Sidoarjo, Telp. 031-8945444)

ABSTRACT
In politics, press has a crucial role not only as a catalyst, but also play a role in political campaigns. As an exception as one of the pillars of democracy, press has power to oversee the way of the government wheels, to shape public opinion, to influence political decisions and law, and to responsible in communication ethics law on the work of an intelligent journalism. This paper seeks to explore and analyze how the actual role of press in these important roles. Key words: press role, press responsibility, communication ethics law

PENDAHULUAN
Pers lahir sebagai amanat konstitusi yang terdapat dalam Pasal 5 ayat (1), Pasal 20 (1) dan Pasal 27, Pasal 28 UndangUndang dasar 1945 serta Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Nomor XVII/MPR/1998 tentang Hak Asasi Manusia. Kebebasan untuk menyampaikan informasi (freedom of information) dibatasi oleh hak privasi (right to privacy), sebagaimana diungkapkan feintuck limitasi keberagaman (diversity) sendiri, seperti kekerasan dan pornografi merupakan hal yang tetap tidak dapat dieksploitasi atas nama keberagaman. Dalam perkembangannya aspek diversity, lebih banyak diafiliasikan sebagai aspek

politik dan ekonomi dalam konteks ideologi suatu negara. Salah satu fungsi klasik media massa ialah menjadi wacana pembentukan pendapat umum. Media memiliki kemampuan dalam membentuk pendapat umum, aktivitas politisi dan para pengambil kebijakan publik yang tidak dapat dipisahkan dari peran media dan media yang memiliki fungsi menyebarluaskan informasi dan ide serta sebagai penjaga (watch dog). Sedangkan pemerintah politikus memerlukan Media dan Pers untuk memperkenalkan gagasan mereka kepada anggota masyarakat. Hal di atas dapat kita lihat bagaimana fungsi media berjalan dalam aktivitas politik ketika secara rutin media melakukan jajak pendapat dari sekitar
165

166

KALAMSIASI, Vol. 3, No. 2, September 2010, 165 - 174

aktivitas para pelaku politik dan kebijakan pemerintahan dalam memberikan keputusan untuk menjalankan roda pemerintahan ke ruang publik (publik sphere). Media dan pers juga mempopulerkan Quick Count yg dikenal sebagai tabulasi suara parallel (parallel vote tabulation) sebagai metode perhitungan suara pada tahun 2004. Dalam hal ini Pers memiliki peran penting dalam membantu masyarakat dan publik memilah isu untuk berpartisipasi dalam proses politik sebagaimana sering disebut Pers sebagai kekuatan lembaga keempat (fourth estate) dalam pilar demokrasi proses penyelenggaraan pemerintahan. Dampak Liputan Pers dalam membentuk opini publik dalam ranah politik di ruang publik sangat kuat terhadap suatu peristiwa , ini disebabkan media memiliki agenda setting dalam framing liputannya. Karena liputan Pers bukan hanya menciptakan kesadaran publik tetapi juga sekaligus memicu pergeseran opini secara dramatis. Dalam kehidupan demokrasi, pers dapat mengekspos masing-masing kelompok publik dan dominan isu secara proporsional dalam bentuk penyajian yang tidak dibeda-bedakan sebagai tanggung jawab etika dalam isi program acara dan isi informasi yang disampaikan pada masyarakat publik. Tanggung jawab Pers dalam hal penegakkan aturan (law enforcement) sangatlah penting dalam penyajian berita sesuai prinsip etika yang harus ditaati pers yaitu pemberitaan yang berimbang (cover both side). Tanggung jawab etika komunikasi pada karya jurnalistik terletak pada isu yang diangkat dan menempati kedudukan

dalam isi media secara adil dan merata (diversity of content). Di dalam karya jurnalistik sumber berita harus jelas dan akurat dan memberikan hak jawab kepada publik dan Pers juga harus melakukan Hak Koreksi yang merasa diperlakukan tidak adil, sehingga bila ada konflik yang timbul dalam karya jurnalistik dan masyarakat atau pemerintah merasa dirugikan akibat pemberitaan sehingga menjadi korban, tidak langsung mengambil penyelesaian hukum di peradilan umum, tetapi menggunakan mekanisme penyelesaian perkara yang telah diatur dalam Undang-undang N0.40 tahun 1999 tentang Pers yang tercantum dalam Pasal 5 ayat (2 ) dan ayat (3) yang berbunyi : Pasal 5 ayat (2) Pers wajib melayani Hak Jawab. Pasal 5 ayat (3) Pers wajib melayani Hak Koreksi. Berawal dari pemikiran tersebut, permasalahan dalam penelitian ini adalah 1) bagaimana peran pers dalam kehidupan politik , 2) bagaimana peran pers dalam pembentukan opini publik, keputusan politik, hukum, dan penyelenggaraan pemerintahan, dan 3) bagaimana regulasi politik dan hukum dalam kebebasan berekspresi pers dan tanggung jawab etika hukum komunikasi pada karya jurnalistik.

PERS DALAM KEHIDUPAN POLITIK


Lasswell dalam teori komunikasi menunjukkan bahwa Pers telah memegang peranan penting sebagai katalisator dalam kehidupan politik. Laswell juga melihat Pers mampu mempengaruhi setiap bentuk kampanye politik, terutama yang berkaitan dengan suatu kegiatan kampanye pemilu .

Sri Ayu Astutik, Peran Pers dalam Politik di Indonesia dan Tanggung Jawab Hukum

167

Peran Pers dalam Politik, memang tidak terlepas dari ruang reformasi yang bergulir di Indonesia yang diberikan pemerintah kepada pelaku media. Keterbukaan Informasi dan komunikasi dalam ruang lingkup Pers itu merupakan amanah konstitusi terdapat dalam Pasal 28F Undang-Undang Dasar 1945 :
Setiap orang berhak untuk berkomunikasi dan memperoleh informasi untuk mengembangkan pribadi dan lingkungan sosialnya serta berhak untuk mencari, memperroleh, memiliki, menyimpan, mengolah dan menyampaikan informasi dengan menggunakan segala jenis saluran yang tersedia

Meski ruang keterbukaan kebebasan Pers telah luas tetapi sampai saat ini belum melahirkan civil society yang dicita-citakan. Kondisi ini dikarenakan berjalannya sistem Leberalisme yang dianut dalam ruang politik Indonesia sehingga kebebasan pers juga hidup dalam irama liberalism tersebut. Pers memainkan peranan yang sangat penting dalam proses politik, bahkan menurut lichtenberg (1991) media telah menjadi utama dalam bidang politik. Media massa dan pers memiliki kemampuan untuk membuat seseorang cemerlang dalam karier politiknya. Sebagaimana juga yang dikatakn Jackson and Beeck Mass media is the primary source of political information. Hubungan antara media dengan politisi, pemerintah sudah berjalan lama, hubungan tersebut saling mengisi antara nara sumber sedangkan Pers sebagai penyampai pikiran-pikirannya maupun kebijakan yang diambil untuk kepentigan orang banyak. Hubungan yang saling membutuhkan ini kadang menimbulkan

benturan yang kurang harmonis. Ketidak harmonisan tersebut yang sering timbul adalah miscommunication dan misinformation. Selanjutnya konsep yang terakhir muncul adalah kriteria penyimpangan (deviance) nilai berita yang menyimpang (Shoemaker). Contoh kasus hubungan yang kurang harmonis antara pers dengan pemerintah diantaranya adalah : a. Di Inggris, ada Code of Conduct yang dikeluarkan pada tanggal 19 Agustus 1997 tentang sanksi hukuman atas pelanggaran yang dilakukkan oleh wartawan, serta diberlakukannya kode etik jurnalistik yang paling keras dalam sejarah Inggeris sejak 1 januari 1998. Dalam kode etik jurnalistik itu wartawan dilarang mengambil foto seseorang di lobby hotel, kolam renang, restoran, taman dan gereja tanpa minta ijin terlebih dahulu kepada yang bersangkutan. b. Di Perancis, para wartawan tidak bisa melaksanakan investigative reporting karena takut pemerintah akan melakukan tindakan balasan untuk menekan media. Presiden Francois Mitterand yang mengungkapkan presiden memiliki anak di luar nikah, rakyat perancis marah dan tidak senang pada pers yang terlalu bebas dalam mengungkap hal-hal yang bersiat privasi pemimpin negara. c. Di Korea Selatan pada tahun 1957 ada 60 persen dari 42 Surat kabar harian anti pemerintah, danketika terjadi pembunuhan Presiden Park Chung Hee (Oktober 1979), tokoh yang mengantar Korea memasuki modernisasi, telah terjadi pengekangan pers dimana banyak sekali sura

168

KALAMSIASI, Vol. 3, No. 2, September 2010, 165 - 174

kabar ditutup, organisasi pers dilarang dan diperkirakan ada 600 orang wartawan dinyatakan hilang. Di Indonesia, mengenai hubungan hubungan antara pers,media dengan pemerintah di Indonesia, mengalami pasang surut, sebagaimana yang diuraikan oleh Edward C.Smith dalam bukunya Pembredelan Pers Indonesia (1986). Permusuhan antara pers dengan pemeritah menurut Merril dikarenakan media menjalankan fungsinya sebagai watchdog dalam mengontrol jalannya pemerintah. Seharusnya hubungan keduanya dibentuk saling membutuhkan, sebagaimana yang diungapkan Merril dalam Media and Politican can be the best friends. Dalam hal ini perlu dibangun hubungan yang saling menguntungkan antara Media, Pemerintah dan Masyarakat. Kedudukannya saling mengawasi, dan mempunyai kedudukan yang sama di depan hukum, karena ketiga elemen tersebut hidup dalam Negara Indonesia yang meletakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagai Negara Hukum sesuai Konstitusi Negara Pasal 1 Ayat (3) yang menyatakan Indonesia sebagai Negara Hukum. Pers dituntut untuk dapat bersikap professional dalam menjalankan tugasnya untuk itu Pers harus mampu meletakkan posisinya diantara kepentingan Politik yang berjalan. Pers hendaknya tidak menjadi corong politik dari politisi yang menjadikan Pers menjadi kuda tunggangan dalam mengejar ambisi politiknya. Kinerja pemerintah pun dapat berjalan sesuai pengawasan yang proporsional dari masyarakat, oleh pers sebagai pemenuhan kebutuhan

masyarakat akan hak untuk mengetahui, serta tumbuhnya partisipasi masyarakat dalam urusan pemerintahan, dan Politik. Tidak mudah memahami kebebasan pers dalam suatu negara dengan sistem politiknya yang berjalan. Sebab free fress can also lead to bad government, sebagaimana yang dikatakan Kishore Mahbubani (1993). Dikarenakan media selain berfungsi sebagai predictor of political change, juga berperan sebagai political actor dalam suatu negara. Media tidak hanya terlibat dalam proses pemilu tapi juga tugas rutin pemerintahan, pesan iklan dan program hiburan yang bernuansa politik. Konsfigurasi politik secara spesifik melalui penilaian berdasarkan tiga kriteria, yaitu kehidupan kepartaian dan peranan legislatif, kebebasan pers, dan peranan pemerintah. Sejak Demokrasi terpimpin, demokrasi liberal hingga demokrasi yang berjalan dalam masa pemerintahan orde baru hingga masa pemerintah dalam ruang reformasi, kebebasan pers itu ada, yang menjadi persoalan hanyalah berjalannya proses kebebasan pers itu berada dalam situasi yang tidak stabil. Pers dalam pilar demokrasi memberikan pengaruh terhadap terbentuknya opini publik.

PERS, OPINI PUBLIK, DAN REGULASI


Pers sebagai bagian dari rangkaian komunikasi massa, memiliki kekuatan dalam membentuk opini publik dari bergulirnya isu menjadi pilihan dalam ekspos objek yang dijadikan isu populis. Peran pers memiliki pengaruh yang begitu kuat dalam membentuk opini publik dari objek isu yang berkembang

Sri Ayu Astutik, Peran Pers dalam Politik di Indonesia dan Tanggung Jawab Hukum

169

dan dipublikasikan itu, melalui Komunikasi yang dibangun oleh pers turut melahirkan keputusan politik yang berimbas terhadap keputusan hukum bagi penyelengara kebijakan. Berkaitan dengan pers dan public opinion, ada sensor sebagai pembatas kebebasan , untuk meminimalisasi terjadinya alasan pembenaran dari opini yang berkembang yang terkadang berakhir dengan sikap yang tidak terpuji dengan tampilnya kekerasan dalam kehidupan masyarakat,politik dan arogansi hukum. Sensor pembatas kebebasan itu adalah hukum sebagai pemberi perlindungan hukum dari hak asasi manusia terhadap hak kebebasan berekspresi dan berpendapat, dalam wacana perkembangan opini yang bernuansa politis. Disini baru terlihat benang merah antara kedudukan pers, media ,politik dan hukum dalam bingkai suatu hubungan saling membangun dalam situasi dan kondisi membangun demokrasi. Dalam alam demokrasi diakui adanya hak asasi manusia untuk menyampaikan pendapat dan kebebasan berekspresi yang dijamin oleh konsitusi Negara. Indonesia sebagai negara hukum mengapresiasi akan hak asasi manusia mengenai kebebasan berpendapat dan berekspresi yang diatur dalam Bab XA ,Pasal 28 Undang-Undang Dasar 1945. Pers yang mengeluarkan kebebasan berpendapat dan berekspresi melalui karya jurnalistiknya akan mempengaruhi pula pola pikir pembaca,pendengar dan pemirsanya yang pada akhirnya dari kesimpulan itu akan membentuk opini, Baik opini itu benar ataupun salah yang memberikan keputusan. Darri kebijakan

itu tentunya ada yang diuntungkan dan dirugikan akibat dari terbentuknya opini publik tersebut, dan berdampak juga pada persoalan hukum. Kebijakan yang diambil dalam keputusan penyelenggaraan pemerintahan dalam ruang politik berkaitan dengan keputusan Peraturan Hukum sebagai salah satu dari kebijakan legislasi nasional, dan tidak terlepas dari pembentukan opini publik yang terbangun dari kekuatan informasi dari pers dan media massa dari produk isi media (media content) pemberitaannya. Akan tetapi peraturan hukum itu diharapkan dapat memberikan batasan kebebasan untuk pencapaian opini publik yang sehat. Peraturan Hukum sebagai pembatas kebebasan. Barker dalam Principle of Social and Political Theory ( 1963 ) yang dikutip Astrid mengemukakan bukan saja negara yang melanggar kebebasan anggota masyarakatnya dan menerjang kebebasan, yaitu dengan prinsip mayoritasnya maupun public opinion. Selanjutnya dikatakan ada perbedaan di dalam suatu Negara antara social society (ikatan sosial) dan legal society (ikatan hukum). Hal ini berarti Hukum tidak pernah mengartikan kebebasan mutlak untuk setiap individu, tapi selalu memerhatikan kebebasan anggota-anggota masyarakat lainnya. Kebebasan yang dijamin negara adalah kebebasan yang diertibkan dan kebebasan relative yang merupakan ukuran rata-rata yang dinikmati individu secara maksimum. Menurut Barker, dasar berpikir rule-of-rule adalah keseimbangan antara satu pihak kebebasan untuk menjalankan sesuatu (liberty) dan pada pihak lain pemikiran hak ini juga dimiliki oran lain sehingga

170

KALAMSIASI, Vol. 3, No. 2, September 2010, 165 - 174

tercapai prinsip hak yang sama. Prinsip hak yang sama itu adanya jaminan kepastian hukum yang dibentuk oleh pers dalam opini publik sekaligus membawa kepentingan publik pada legitasi. Dari peran pers tersebut keputusan hukum berkaitan dengan amandemen Undang-undang Dasar 1945 hingga terdapat ketentuan Pasal 28 dan Pasal 28f UUD 1945 itu merupakan realitas sistem Politik. Pasal 28 dan 28f UUD 1945 sebagai hasil dari amandemen tidak menyebut secara eksplisit tentang pentingnya perlindungan terhadap kemerdekaan pers, sebagai perwujudan hak asasi manusia, dan sebagai bagian dari pilar demokrasi. Berkaitan dengan Pers sebagai pilar keempat demokrasi dalam kehidupan Politik dan hukum kontekstualnya terhadap kebebasan berpendapat dan berekspresi, terdapat sebuah perdebatan mengenai proteksi yuridis dan politis terhadap kemerdekaan pers yang telah memiliki UU No. 40 tahun 1999 tentang Pers. Regulasi Politik dan Hukum dalam kebebasan pers berpendapat dan berekspresi yang tercantum dalam Undang-Undang No.40 tentang Pers Pasal 8,:
untuk menjamin kemerdekaan pers, pers nasional mempunyai hak mencari, memperoleh, dan menyampaikan gagasan dan informasi.

Pasal 4 ayat (3) :


untuk menjamin kemerdekaan pers, pers nasional mempunyai hak mencari, memperoleh dan menyampaikan gagasan dan informasi.

Media pada dasarnya adalah sub

sistem dari sistem besar politik, sehingga perannya mampu mempengaruhi perjalanan politik, tetapi kondisi tersebut hanya bisa dicapai bila ada kebebasan Pers . Pengaruh Pers yang begitu besar pada masyarakat dalam sebuah negara yang demokratis posisinya ditempatkan sebagai pilar keempat negara (the fourth estate). Di Amerika perjuangan kebebasan Regulasi politik berkaitan dengan kebebasan pers dimulai dari diajukannya Amandemen Pertama (First Amandemen) terhadap Konstitusi Amerika, yang disahkan tahun 1787 dengan ketetapan bahwa kongres tidak boleh membuat hukum yang menghalangi kebebasan berbicara atau penyampaian pendapat melalui media. Di Indonesia ditemui pada masa pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid, semula banyak mendukung perjuangan pers, termasuk menentang pencabutan Surat Izin Usaha Penerrbitan (SIUP). Tetapi ketika memegang kekuasaan mengeluhkan kritik pers terhadap dirinya bahkan menuduh pers banyak memelintir ucapannya. Hubungan antara media dengan politik dan hukum sangat menarik. Menarik ada ketergantungan antara sumber berita dengan pihak yang meberitakan. Tetapi hubungan tersebut disisi lain jika pekerja Pers tidak hati-hati menjalankan tugasnya secara professional dapat menimbulkan delik hukum. Efek ketidak profesionalan liputan pers sudah tentu akan membawa konsekuensi hukum dari hubungan politik dengan media. Politik berfungsi sebagai alat untuk mencapai tujuan sosial dan masyarakat yang menghendaki suatu tujuan tertentu akan menggunakan upaya-upaya politik. Sedangkan upaya politik harus mendapat

Sri Ayu Astutik, Peran Pers dalam Politik di Indonesia dan Tanggung Jawab Hukum

171

legitimasi untuk dapat direalisasi, dan kesepakatan yang disyahkan itu yang disebut hukum. Pengaruh kebijakan politik kepada lembaga pers dan jurnalis atau sebaliknya terhadap politik membawa konsekuensi logis yaitu melalui hukum yang diciptakan oleh sistem politik yakni hukum perundang-undangan yang merupakan bagian penting dari yang dihasilkan sistem politik. Sebagaimana yang dikemukakan pakar hukum Roscue Pond yang mengatakan bahwa hukum berfungsi untuk memenuhi tujuan tujuan sosial.Hukum disamping produk sosial tetapib juga merupakan kekuatan sosial. Dalam sistem politik yang demokratis peran hukum makin membesar. Masa Reformasi tahun 1998, Indonesia pada hakikatnya memasuki sistem demokrasi welfare state (negara kesejahteraan). Meskipun Indonesia belum sepenuhnya memenuhi kriteria sebuah negara demokrasi yang berdasarkan rule of law, tetapi beberapa elemen tersebut sudah memenuhi persyaratan. Sementara pandangan dari sudut Hukum Tata Negara secara jelas mengatur salah satu aspek utamanya adalah masalah Hak Asasi Manusia (HAM). Hukum Tata Negara melihat hak menyatakan pendapat adalah hak asasi manusia dan konkret salah satu bentuknya adalah hak menyatakan pendapat sebagai jaminan kebebasan menyatakan pendapat (freedom of expression) dan kebebasan pers (freedom of the press). Jaminan kebebasan pers tersebut memang telah dimuat dalam pasal 28 f UUD 1945, akan tetapi ada pandangan Jimly Asshiddiqie , ketika amandemen ke 2 (dua) yang mengatakan: dengan perubahan Pasal 28 UUD 1945 menjadi Pasal 28a sampai Pasal

28f itu, maka status naskah Pasal 28 UUD 1945 menjadi tidak jelas. Ini menunjukkan dalam hal yuridis kemerdekaan pers yang selama ini disandarkan pada Pasal 28 (teks asli), mengandung kebiasan, yang sekaligus mempengaruhi jaminan dan proteksi yuridis kemerdekaan pers di Indonesia pasca amandemen 1945. Dampak proteksi hukum yang tidak jelas ini akan berkaitan dengan penyelesaian kasus hukum yang timbul pada pekerja media kaitannya dengan pertanggung jawaban hukum dari kesalahan karya jurnalistik yang dibuat pekerja pers. Harkristuti Harkrisnowo (Unesco, 2002) rambu-rambu hukum yang bisa menjerat seorang wartawan, penerbit atau stasiun penyiaran, cukup banyak . Ini dikarenakan banyaknya pasal yang dapat menjerat wartawan dalam menjalankan profesinya. Kebebasan Pers yang selalu diperjuangkan boleh dikata hanya sebuah idealisme, sebagaimana dinyatakan Merril( 1983 ) bahwa di seluruh dunia, kebebasan per situ adalah suatu hal yang ideal, dan boleh dikaa tidak ada satu pun negara yang mencapainya, apalagi untuk negaranegara yang sedang berkembang. The free press in developing countries in particular is still more an ideal than reality. Lebih lanjut Merril menyatakan bahwa freedom does not simply mean bo be free from everything, free from other people, free from law, free from morality, free from thought, free from emotion. Perlakuan hukum kepada pers tidak berarti pengekangan terhadap kebebasan pers, melainkan untuk mendidik para wartawan agar lebih professional dan peka terhadap hal-hal sensitive yang bisa merugikan orang lain atau bangsa dalam arti luas.

172

KALAMSIASI, Vol. 3, No. 2, September 2010, 165 - 174

Di dalam penerapan hukum, pasal-pasal transisi mengenai delik pers eks- Wvs (Wet Van Boek Strafrecht), kitab hukum pidana yang digunakan sekarang ini masih sering dipakai oleh para penegak hukum Indonesia. Padahal telah ada Undang-Undang No.40 tahun 1999 tentang Pers sebagai Undang-Undang Lex Specialis, yaitu hukum khusus untuk penyelesaian perkara dibidang pers. Perangkat Hukum Undang-Undang No.40 tentang Pers masih belum memuaskan masyarakat yang merasa menjadi korban dari pemberitaan pers. Meskipun dewan Pers menghimbau agar masyrakat melaporkannya kepada Dewan Pers, tetapi penyelesaian nya hanya mengacu pada pelaksanaan Kode Etik Jurnalistik yang seringkali dilanggar oleh pekerja pers, isinilah pentingnya kesadaran pekerja pers untuk lebih cermat dalam menjalankan tugasnya. Pers memiliki tanggung jawab kepada kemanusiaan dan kepada demokrasi. Tidak ada demokrasi tanpa kebebasan berbicara dan tidak ada kebebasan berbicara tanpa demokrasi. If democracy fail, it is the fault of the press. Oleh karena itu, di negara hukum wartawan tidak ada bedanya dengan warga negara lain yang harus patuh pada ketentuan hukum yang berlaku sesuai amanah konstitusi Pasal 27 UndangUndang Dasar 1945. Bahkan dalam rancangan revisi KUHP yang disusun sejak tahun 1998, pasal-pasal represif untuk pers bukannya dihapus sifat pidananya, justru ditambah menjadi 42 pasal. Menjalankan tugas jurnalistik secara profesional dan terhindar dari ramburambu delik aduan seorang wartawan harus memiliki standar kompetensi

profesinya. Jurnalis dalam membuat karya jurnalistiknya harus cermat dan memiliki daya antisipasi terhadap efek dari apa yang ditulisnya, karena satu kata saja menimbulkan kesalahan arti akan berimplikasi hukum. Setiap sudut pemberitaan harus dicermati. Memberikan Informasi dalam karya jurnalistik secara sehat kepada masyarakat publik diperlukan kinerja profesionalisme Pers yang dapat berjalan secara parallel dengan kemajuan tekhnologi komunikasi dan informatika yang semakin pesat kemajuannya. Pers harus konsisten terhadap fungsi yang hakiki memberikan kontribusi terhadap pendidikan, memenuhi pengetahuan masyarakat publik untuk memenuhi rasa ingin tahu. Pers dapat dikatakan professional bila dalam menjalankan tugas jurnalistiknya disertai tanggung jawab dari kebebasan berekspresi yang dimiliki Pers sesuai dengan teori tanggung jawabb sosial yang berkembang dalam sistem negara liberal sebagi perkembangan dari teori libertarian.

SIMPULAN
1. Peran Pers sebagai kekuatan kekuasaan keempat dalam pilar demokrasi meletakkan perannya sebagai penyeimbang dalam mengawal sebuah kebenaran bagi berjalannya roda pemerintahan. Keberadan peran Pers harus konsisten dalam menjalankan fungsinya sebagai anjing penjaga (Watch Dog ). 2. Peran Pers dengan kekuatan komunikasi massanya berpengaruh dalam dialog politik dan dalam pemecahan konflik sosial secara politik dan hukum. Dari kesimpulan yang

Sri Ayu Astutik, Peran Pers dalam Politik di Indonesia dan Tanggung Jawab Hukum

173

diangkat dalam isu politik dan hukum memberikan publikasi dan pembentukan opini publik pada masyarakat publik, sehingga dapat mempengaruhi keputusan politik dan hukum dalam penyelenggaraan pemerintahan. 3. Pers harus melakukan pekerjaannya secara professional untuk selalu memperhatikan aturan main sebagai pelaku media dan pekerja pers dalam bingkai kode etik jurnalistik sebagai rambu-rambu yang digunakan untuk menyampaikan informasi yang sehat dan membentuk pers yang cerdas.

Helena Olii. 2007. Opini Publik. Jakarta : Indeks. Hinca IP Pandjaitan dan Amir Effendi Siregar. 2006. Undang-Undang Pers Memang Lex Specialis,Badan Bantuan Hukum dan Kemerdekaan Pers Serikat Penerbit Surat Kabar. Cetakan III. Idri Ahffat. 2008. Kebebasan Tanggung jawab dan Penyimpangan Pers, Jakarta : Prestasi Pustaka. Indriyanto Seno Adji. 2008. Hukum dan Kebebasan Pers. Jakarta : Diadit Media. Jhon Vivian, Teori Komunikasi Massa, Kencana Prenada Media,Jakarta,2008 Jimly Asshiddiqie. 2006. Konstitusi dan Konstitusionalisme Indonesia, Sekretariat Jenderal dan Kepaniteraan Mahkamah Konstitusi RI. Jakarta. Juniver Girsang. 2007. Penyelesaian Sengketa Pers. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama. Majda El-Muhtaj. 2009. Hak Asasi Manusia Dalam Konstitusi Indonesia. Jakarta : Kencana Prenada Media Group. Masduki. 2007. Regulasi Penyiaran . Yogyakarta : Lkis Muhamad Mufid. 2005. Komunikasi dan Regulasi Penyiaran. Jakar ta : Prenada Media. Munir Fuady. 2009. Teori Negara Hukum Modern. Bandung : Refika Aditama. Nurudin. 2007. Pengantar Komunikasi Massa. Jakarta : Raja Grafindo Persada. Onong Uchjana Effendy. 2006. Ilmu Komunikasi Teori dan Praktek. Bandung : Remaja Rosdakarya.

DAFTAR PUSTAKA
Abdul Mukhhtie Fadjar. 2006. Hukum Konstitusi dan Mahkamah Konstitusi,Konstitusi Jakarta : Press dan Citra Media Achmad Ali. 2009. Menguak Teori Hukum dan Teori Peradilan termasuk Interpretasi Undang Undang . Jakarta : Prenada Media Group Atmakusumah. 2009.Tuntutan Zaman Kebebasan Pers dan Ekspresi. Jakarta : Spasi dan VHR Book Departemen Komunikasi dan Informatika. 2007. Membangun Profesionalisme Pers Dengan Menegakkan Hukum dan Etika Per.Jakarta Hafied Cangara. 2009. Komunikasi Politik, Konsep,Teori, dan Strategi. Jakarta : Rajawali Pers. Hari Wiryawan. 2007. Dasar-Dasar Hukum Media. Yogyakarta : Pustaka Pelajar. Cetakan I

174

KALAMSIASI, Vol. 3, No. 2, September 2010, 165 - 174

RH.Siregar. 2005. Pergulatan Etika Pers, Dewan Kehormatan PWI. Jakarta : Kompas. Samsul Wahidin. 2006. Hukum Pers. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.

Wahyu Wibowo. 2009. Menuju Jurnalisme Beretika. Jakarta : Kompas Wikrama Iryans Abidin. 2005. Politik Hukum Pers Indonesia. Jakarta : Grasindo

PEMBERDAYAAN DATA POTENSI WILAYAH BERBASIS INVESTASI MELALUI INTERNET TERHADAP PENINGKATAN PENDAPATAN DAERAH DI KANTOR BAPPEDA DAN PENANAMAN MODAL KABUPATEN KOLAKA
Dewi Anggraini
(Dosen FISIP Universitas Haluoleo Kendari Sulawesi Tenggara)

ABSTRACT
The purpose of this study is to explain the empowerment of potensial areas data based investment over the Internet to increase lokal revenues and to describe the factors the affect it. The collecting data on the qualitative description research performed throught in depht interviews of five informants The result show that the empowerment of potential areas data based investment toward regional income increasing is at a high frequency. The significant increasing is included on the regional income in the sector levies, taxes, and export. In addition, the factors supporting the empowermwnt of potential areas data based investment to increase local revenue is coordination with the parties/agencies as well as the institutional. While the factors that impede is the lack of operational capability of human resources. Keywords: Empowerment Potential Data, Investment via Internet, Local Revenue

PENDAHULUAN
Pembangunan daerah bertujuan untuk meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan masyarakat di daerah melalui pembangunan yang serasi dan terpadu, baik antarsektoral maupun antarwilayah, dengan perencanaan pembangunan oleh daerah secara efektif dan efesien menuju kemandirian daerah sebagai bagian daripada upaya meratakan
175

hasil-hasil pembangunan di seluruh pelosok tanah air. Untuk mencapai cita-cita tersebut, pemerintah bersama aparaturnya melalui program-program pembangunan berupaya menggali dan memanfaatkan berbagai potensi dan sumber daya yang dianggap dapat mendukung dan menopang suksesnya program pembangunan nasional secara menyeluruh dan berkelanjutan. Namun dalam kenyataannya upaya

176

KALAMSIASI, Vol. 3, No. 2, September 2010, 175 - 184

tersebut dalam praktiknya telah terjadi ketimpangan dalam pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya yang ada. Pemanfaatan sumber daya alam yang tidak terkendali, pelaksanaan pembangunan tidak merata, peluang usaha lebih didominasi oleh pengusaha besar (konglomerat). Hal ini disebabkan oleh tekanan ekonomi bangsa/negara yang rapuh. Banyak wilayah-wilayah yang belum tersentuh oleh program-program pembangunan menyebabkan daerahdaerah yang mempunyai potensi investasi semakin termarginalkan, padahal hal ini akan berdampak positif apabila pemerintah daerah dalam hal ini Bappeda sebagai lembaga yang menangani masalah-masalah pembangunan memberdayakan wilayah-wilayah investasi melalui penyebarluasan informasi kepada pengusaha-pengusaha melalui internet. Hamelink (1993) mengatakan bahwa sumber informasi berasal dari mana tuntutan organisasi yang dapat memberikan masukan informasi bagi pemimpin dan pengelola organisasi tersebut, antara lain instansi pemerintah, organisasi kemasyarakatan, kelompok-kelompok sosial, keluarga, perorangan, media massa cetak dan media massa elektronik. Data-data potensi wilayah yang mempunyai sumber daya alam yang melimpah seharusnya lebih diberdayakan dan dikembangkan, tidak hanya untuk mencari keuntungan semata, akan tetapi harus memperhatikan kepentingan masyarakat. Pentingnya pemberdayaan potensi data wilayah investasi tidak akan diketahui oleh para investor untuk menanamkan modalnya apabila informasi mengenai wilayah-wilayah yang berpotensi untuk

pemberdayaan tidak disebarluaskan melalui media massa, khususnya internet. Kantor Bappeda dan Penanaman Modal Kabupaten Kolaka sebagai lembaga yang bertugas dalam melaksanakan perencanaan pembangunan, sangat penting dan urgen untuk menyebarluaskan informasi tentang wilayah yang mempunyai kekayaan Sumber Daya Alam (SDA) sehingga diharapkan akan tumbuh pembangunan industri yang membuka lapangan kerja baru bagi daerah tersebut yang secara tidak langsung berpengaruh pada Peningkatan Pendapatan Daerah (PD). Pendapatan daerah tersebut dapat saja bersumber pada hasil pajak daerah, retribusi daerah, hasil perusahaan milik daerah dan hasil pengolahan kekayan daerah lainnya yang dipisahkan, dan lainlain PAD yang sah. Jenis-jenis pajak daerah dan retribusi daerah disesuaikan dengan kewenangan yang diserahkan kepada daerah provinsi dan daerah kabupaten/ kota dan dipungut berdasarkan Perda (Anonim,1999). Pelaksanaan otonomi daerah bisa diwujudkan apabila disertai dengan otonomi keuangan dan ekonomi yang baik, karena penyelenggaraan otonomi daerah yang luas, nyata dan bertanggung jawab membutuhkan kemampuan daerah untuk menggali sumber keuangan sendiri yang didukung oleh perimbangan keuangan antara pemerintah pusat dan daerah serta antara provinsi dan pemerintah kota. Hal ini berarti secara finansial daerah tidak tergantung pada pemerintah pusat dan harus mampu menggali sebanyak mungkin sumber-sumber pendapatan asli daerah. Dhiratanaya kianant dalam Mudrajat Kuncoro (1997).

Dewi Anggraeni, Pemberdayaan Data Potensi Wilayah Berbasis Investasi melalui Internet

177

Suparmoko dalam Asri Umar (1999) menyatakan bahwa sentralisasi fiskal di Indonesia sangat tinggi dan distribusi bantuan antara provinsi atau kabupaten kota sangat tidak merata. Oleh sebab itu adanya asas desentralisasi pemerintahan dengan sendirinya setiap daerah harus dapat mengurus rumah tangga daerahnya secara mandiri serta diwajibkan untuk menggali segala kemungkinan sumber keuangan sendiri sesuai dengan batas-batas peraturan perundang-undangan yang berlaku. Keuangan daerah adalah segala hak dan kewajiban yang dapat dinilai dengan uang maupun barang yang dapat dijadikan milik daerah berdasarkan pelaksanaan hak dan kewajiban. Sumber-sumber pendapatan daerah dalam UU No. 25 Tahun 1999 tentang perimbangan keuangan antara pemerintah pusat dan daerah (UU-PKPD) sebagai berikut yaitu DAU, DAK, Pinjaman Daerah, Peneri-maan yang sah Melihat jumlah pendapatan daerah Kabupaten Kolaka selama 3 tahun terakhir yang terus mengalami peningkatan dengan jumlah 30 miliar setiap tahun dan diikuti oleh kenaikan sebesar 5 miliar per tahun yang terbagi dalam sumber-sumber pendapatan antara lain hasil perikanan, hasil perkebunan dan sektor jasa (Bappeda, 2008), maka Bappeda Kabupaten Kolaka diharapkan lebih meningkatkan fungsinya dalam memberdayakan seluruh data-data wilayah yang ada di kota kendari agar investor dapat menanamkan modalnya guna peningkatan pengelolaan sumber-sumber wilayah tersebut. Berdasarkan latar belakang di atas, fokus permasalahan dalam penelitian ini dalah 1) bagaimana pemberdayaan potensi data wilayah berbasis investasi melalui internet terhadap peningkatan

pendapatan daerah, 2) faktor-faktor apa yang mempengaruhi pemberdayaan potensi data wilayah berbasis investasi melalui internet terhadap peningkatan pendapatan daerah.

METODE PENELITIAN
Penelitian kualitatif ini dilaksanakan pada Kantor Bappeda dan Penanaman Modal Kabupaten Kolaka dengan pertimbangan bahwa kantor ini merupakan lembaga yang menangani perencanaan pembangunan khususnya yang berkaitan dengan pemberdayaan data potensi wilayah berbasis profil investasi. Informan penelitian yang ini ditetapkan sebanyak lima informan ini menggunakan teknik Purposive Sampling. Kelima informan tersebut adalah 1) kepala Bappeda, 2) kepala bidang ekonomi, 3) kasubbag penelitian dan perencanaan, 4) kasubbag pembangunan ekonomi kerakyatan, dan 5) kasubbid pengembangan investasi

HASIL PENELITIAN
1. Pemberdayaan Data Perkreditan, Koperasi UKM dan Usaha Informal Masyarakat
Pemberdayaan data perkreditan, koperasi UKM dan usaha informal masyarakat digunakan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dan peningkatan pendapatan daerah yang bertumpu pada usaha masyarakat. Selain itu pula data-data tersebut digunakan untuk mengetahui seberapa besar dana investor yang diinvestasikan di sektor tersebut. Data perkreditan, koperasi UKM dan usaha informal masyarakat mengalami

178

KALAMSIASI, Vol. 3, No. 2, September 2010, 175 - 184

peningkatan sebesar 23 koperasi dimana jumlah KUD sebesar 12 unit dan non KUD sebesar 449 yang sebelumnya hanya berjumlah 426 unit. Pemberdayaan data perkreditan, koperasi UKM, dan usaha informan masyarakat jarang diberdayakan karena kurangnya tenaga ahli dan keterbatasan biaya dalam memberikan informasi kepada para investor dimana untuk mengenalkan wilayah-wilayah yang termasuk kawasan untuk investasi bukan hanya melalui pertemuan-pertemuan tetapi harus juga dilakukan promosi melalui media cetak dan media elektronik. Sedangkan pemberdayaan yang sering dilakukan hanya sebatas pada iklan di media cetak dan elektronik. Untuk menarik investor agar menanamkan modalnya di wilayah-wilayah tersebut hanya sebatas mengadakan promosi secara langsung ke negara-negara yang mempunyai modal besar untuk mengembangkan usahanya.

dengan badan atau instansi terkait untuk memberikan bibit tanaman pertanian dan perkebunan untuk diberikan kepada masyarakat. Sedangkan informan yang mengatakan jarang mengemukakan dengan alasan bahwa data-data potensi wilayah pertanian, perkebunan, dan kehutanan telah dipromosikan kepada investor untuk menanamkan modalnya di sektor-sektor tersebut.

3. Pemberdayaan Data Usaha Peternakan dan Perikanan


Pemberdayaan data usaha peternakan dan perikanan pada umumnya hanya sebatas potensi-potensi yang dimiliki oleh sebuah wilayah usaha yang cocok untuk dikembangkan. Biasanya kawasan peternakan jauh dari pemukiman warga dan kawasan perikanan biasanya terletak pada wilayah yang dekat dengan laut seperti di wilayah kecamatan Watubanga. Wilayahwilayah yang memiliki potensi tersebut umumnya mudah mendapat bantuan dari para investor pada umumnya dan pemerintah kota pada khususnya melalui bantuan-bantuan kredit yang ditujukan untuk meningkatkan tingkat kesejahteraan masyarakat.

2. Pemberdayaan Data Usaha Pertanian, Perkebunan, dan Kehutanan


Pemberdayaan data usaha pertanian, perkebunan dan kehutanan di wilayah Kabupaten Kolaka perlu dilakukan untuk mendorong peningkatan pendapatan daerah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberdayaan data usaha pertanian, perkebunan, dan data kehutanan sering dilakukan untuk menopang tingkat kesejahteraan masyarakat dengan mengolah tanah milik mereka sendiri sehingga hasil-hasil bumi dapat meningkatkan hasil pendapatan daerah dan meningkatkan kesejahteraan mereka. Disamping itu pula Bappeda bekerja sama

4. Pemberdayaan Data Usaha Industri dan Perdagangan


Data-data wilayah pengembangan dan pemberdayaan usaha industri dan perdagangan biasanya diperkenalkan melalui sebuah pameran dan pertemuan dengan para investor dengan tujuan untuk menarik minat para investor agar mau dan bersedia menanamkan modalnya di sektor usaha industri dan perdagangan.
data usaha industri dan perdagang-

Dewi Anggraeni, Pemberdayaan Data Potensi Wilayah Berbasis Investasi melalui Internet

179

an tidak hanya melakukan promosi melalui media cetak dan elektronik, akan tetapi melalui pemberdayaan dengan cara membangun sarana dan fasilitas usaha industri dengan membuat pabrik sedangkan untuk usaha perdagangan mendirikan pasar. (sumber: wawancara Kepala Sub. Bidang Pengembangan Investasi, Ir. Syamsumarlin, MT: 4 November 2008)

Sedangkan pemberdayaan data usaha industri dan perdagangan jarang dilakukan karena wilayah-wilayah atau daerah-daerah yang berpotensi untuk pengembangan usaha industri mempunyai beberapa kekurangan seperti keterbatasan pengembangan usaha industri dimana pembangunan pabrik membutuhkan modal/biaya yang cukup besar, sedangkan untuk pengembangan usaha perdagangan harus dibangun pasar sebagai tempat jual beli barang dagangan. (Hasil wawancara dengan).

kelestarian lingkungan. Adapun cara pembinaan lingkungan hidup melalui cara koersif dengan menempuh upaya hukum apabila diketemukan oknum yang melakukan pembalakan atau penebangan liar. Sementara itu yang berkenaan dengan kerusakan hutan yang terjadi selama ini. Bappeda Kolaka hanya mampu melaporkan dan melaporkan data-data pembinaan lingkungan hidup. Sedangkan tindakan yang lebih keras terhadap masyarakat yang melakukan pengrusakan hutan dilakukan oleh pihak kehutanan dan kebersihan kota.
data pembinaan lingkungan hidup hanya diketahui oleh pihak-pihak tertentu saja bahkan bappeda sendiri sebagai lembaga perencanaan pembangunan hanya mampu melihat dan melaporkan data-data pembinaan lingkungan hidup saja dan untuk mengambil tindakan keras sangat tidak mungkin karena ada yang lebih berkompeten untuk menanganinya seperti pihak kehutanan dan kebersihan tata kota. (hasil wawancara dengan Kepala Bidang Ekonomi Abdul Amir, SE, M.Si: 4 Desember 2009).

5. Pemberdayaan Data Pembinaan Lingkungan Hidup


Data-data wilayah yang termasuk dalam pembinaan lingkungan hidup diberdayakan melalui cara-cara yang preventif dimana cara tersebut sangat efektif untuk mencegah terjadinya kerusakan lingkungan seperti terjadinya illegal logging, musibah tanah longsor dan banjir yang tidak lain diakibatkan oleh terjadinya kerusakan lingkungan baik yang disengaja maupun tidak disengaja. Pembinaan lingkungan hidup dilakukan dengan cara preventif dan koersif dimana untuk cara preventif dilakukan pencegahan dengan memberikan informasi dan penyuluhan kepada masyarakat agar senantiasa menjaga kebersihan dan

6. PAD Kabupaten Kolaka


Meningkatnya PAD di Kabupaten Kolaka selain dipacu oleh program pemberdayaan potensi daerah melalui internet juga ditopang oleh PAD yang lainnya seperti retribusi pelayanan, pajak, maupun impor. Retribusi sebagai salah satu sumber pendapatan daerah Kabupaten Kolaka selalu mengalami peningkatan. Terjadinya peningkatan di sektor retribusi dipacu oleh suasana yang kondusif dan kemauan

180

KALAMSIASI, Vol. 3, No. 2, September 2010, 175 - 184

petugas di lapangan dalam memberikan informasi mengenai pembayaran retribusi daerah di berbagai sektor dengan selalu memperhatikan hak dan kewajiban yang harus dipenuhi. Yang terpenting lagi adalah adanya kesadaran individu dalam membayar retribusi sebagai rasa tanggung jawab dan kewajiban warga negara yang baik. Begitu halnya dengan pajak. Di sektor pajak, pendapatan daerah yang paling dominan ini terus mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Pajak memiliki arti penting dalam pembunganan karena hampir 80% pendapatan asli daerah bersumber pada pajak. Ada dua hal yang menyebabkan peningkatan pajak di Kabupaten Kolaka, yaitu pertama, adanya dukungan petugas pajak dalam memberikan penyuluhan kepada masyarakat akan pentingnya membayar dan melunasi pajak mereka selain itu pula didukung oleh kinerja petugas di lapangan yang bekerja sesuai dengan target yang direncanakan sebelumnya. Kedua, peningkatan itu terjadi karena adanya pembayaran tunggakan pajakan yang setiap tahunnya mencapai 23,35%.
terjadinya peningkatan di sektor pajak disebabkan oleh pembayaran tunggakan pajak yang setiap tahunnya mencapai 23,35%. (Sumber: Kepala Sub. Bidang Pembangunan Infrastruktur Kabupaten Wardoyo, SE, M.Si: 7 Desember 2009).

7. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pemberdayaan Data Potensi Wilayah Berbasis Investasi Terhadap Peningkatan Pendapatan Daerah
Faktor yang mempengaruhi pemberdayaan data potensi wilayah berbasis investasi terhadap peningkatan pendapatan daerah tentunya tidak terlepas dari berbagai faktor pendukung dan faktor penghambat yang menyertainya, adapun faktor-faktor tersebut dapat dilihat sebagai berikut :

7.1

Faktor Pendukung

Faktor pendukung dimaksudkan adalah berbagai faktor yang strategi dan memungkinkan tumbuh dan berhasilnya pemberdayaan data potensi wilayah berbasis investasi terhadap peningkatan pendapatan daerah tergantung pada intensitas dan daya dukung dari berbagai faktor tersebut. Adapun faktor-faktor pendukung tersebut adalah :

a. Adanya Koordinasi Dengan Lembaga/Instansi Terkait


Hasil wawancara dengan Kepala Bappeda dan penanaman Modal Kabupaten Kolaka, Ir.H. Fachruddin Rahim, pada tanggal 9 Desember 2009 terungkap bahwa salah satu faktor pendukung dalam pemberdayaan data potensi wilayah berbasis investasi terhadap peningkatan pendapatan daerah adalah adanya kerja sama antara pihak/instansi terkait dalam memberikan informasi kepada para para investor untuk menanamkan modalnya dibeberapa sektor usaha tersebut.

Ekspor barang dan hasil bumi sejak tahun 2006-2007 juga mengalami peningkatan yang begitu berarti. Meningkatnya permintaan negara-negara tujuan ekspor dikarenakan potensi daerah yang kondusif dan iklim investasi yang sangat sehat.

Dewi Anggraeni, Pemberdayaan Data Potensi Wilayah Berbasis Investasi melalui Internet

181

b. Faktor Kelembagaan
Keberhasilan suatu organisasi kerja dalam mencapai tujuan dipengaruhi oleh kemantapan aspek kelembagaan yang mencakup perumusan tujuan, pembagian kerja, pelimpahan wewenang, kesatuan perintah, sistem metode dan prosedur yang kesemuanya tergambar jelas dan sistematis dalam struktur organisasi. Menurut Kepala Bappeda dan penanaman Modal Kabupaten Kolaka saat diwawancarai tanggal 10 Desember 2009 mengatakan bahwa selama ini kantor Bappeda telah membagi 2 bidang pekerjaan yaitu : bidang UPT dan Bagian Tata Usaha. Kedua bidang ini ternyata dapat memberdayakan semua pegawai sesuai dengan disiplin ilmu mereka masingmasing.

a. Terbatasnya Sumber Daya Manusia (SDM) yang berlatar belakang Manajemen Sistem Informasi Data, serta operator pengolah data, disamping itu peningkatan kualitas SDM melalui pelatihan, kursus dan bimbingan teknis masih terbatas serta dukungan alokasi dana yang belum memadai. b. Belum diterapkan manajemen pembinaan disiplin secara professional baik dalam hal perencanaan, pengorganisasian dan penggerakkan maupun dalam hal pengawasan. Untuk mencapai tujuan dan sasaran organisasi pada Kantor Bappeda dan Penanaman Modal Kabupaten Kolaka diperlukan suatu proses komitmen antara atasan dan bawahan untuk saling memberikan dan menerima (take and give). Dalam konteks tersebut diperlukan adanya suatu sistem/metode yang mengatur pelaksanaan tugas dan fungsi pokok secara teratur.

7.2

Faktor Penghambat

Faktor penghambat adalah berbagai faktor yang sifatnya menghambat proses pemberdayaan data potensi wilayah berbasis investasi terhadap peningkatan pendapatan daerah. Hasil analisis pemberdayaan data potensi wilayah disebabkan oleh berbagai faktor di bawah ini :

SIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian dapat diambil simpulan sebagai berikut: 1. Pemberdayaan data potensi wilayah berbasis investasi melalui internet terhadap peningkatan pendapatan daerah berada pada kategori sering dimana data-data usaha pengembangan investasi menunjukkan peningkatan pendapatan daerah di sektor retribusi, pajak, dan impor yang cukup siginifikan yaitu berada pada kategori meningkat Jadi secara tidak langsung pemberdayaan data potensi wilayah meningkatkan hasil penda-

1. Rendahnya Kemampuan Operasional


Hasil observasi penulis dan didukung dengan hasil wawancara dengan Kepala Sub. Bidang Pengembangan Investasi pada tanggal 10 Desember 2009 terungkap bahwa terhadap berbagai masalah yang muncul dalam pemberdayaan data potensi wilayah Sultra tidak terlepas dari rendahnya kemampuan professional pegawai antara lain dapat dilihat dari:

182

KALAMSIASI, Vol. 3, No. 2, September 2010, 175 - 184

patan daerah. 2. Adapun faktor pendukung terwujudnya pemberdayaan data potensi wilayah berbasis investasi terhadap peningkatan pendapatan daerah adalah adanya koordinasi dengan pihak/instansi terkait, adanya faktor kelembagaan. Adapun rendahnya kemampuan operasional merupakan faktor penghambat.

DAFTAR PUSTAKA
Anonim. Undang-Undang No. 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah. Anonim, Undang-Undang No. 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintahan Daerah _________________, Undang-Undang No. 25 tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Daerah. Budihardjo, Eko dan Hardjohubojo. 1993. Kota Berwawasan Lingkungan, Bandung: Alumni. Garcia, Manuel.B. 1985. Sociology of Development : Perspectives and Issues. Philippines: Publishers Metro Manila. Hamelink,Oemar.1993, Pengelolaan Sistem Informasi. Bandung: Triganda Karya. Kuncoro, Mudrajat 1997 Otonomi Daerah dalam Transisi, pada Seminar Nasional Manajemen Keuangan Daerah dalam Era Global, 12 April, Yogyakarta. Mc, Quail, Denis. 1984. Mass Communication Theory. New Delhi: Sage Publication.

SARAN
Berdasarkan uraian di atas, peneliti memberikan saran sebagai manifestasi dari hasil penelitian sebagai berikut : 1. Sebaiknya pemerintah Kabupaten Kolaka memberikan dana tambahan bagi pengembangan data potensi wilayah untuk dikembangkan agar seluruh wilayah yang mempunyai potensi usaha dapat dikembangkan. 2. Sebaiknya diadakan peningkatan kualitas sumber daya pegawai sehingga akan terwujud pegawai yang professionalisme dengan demikian perlu diadakan berbagai kegiatan pendidikan dan pelatihan baik melalui pendidikan formal maupun informal. 3. Bagi peneliti lain dapat mengkaji faktor-faktor lain seperti pemberdayaan wilayah-wilayah pesisir, pemberdayaan masyarakat melalui program Pengetasan kemiskinan

Moleong, J. Lexy, 2000. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosdakarya. Nasution, Zulkarimein, 1996. Komunikasi Pembangunan : Pengenalan Teori dan Penerapanya. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Dewi Anggraeni, Pemberdayaan Data Potensi Wilayah Berbasis Investasi melalui Internet

183

Philip, Lewis. 1980. Organizational Communication : The Essence of Effective Management. Colombus, Ohio: Grid Publishing Inc. Pusat Data Informasi Komunikasi dan Telekomunikasi. 2004. Kebijakan Pengembangan Basis Data di Departemen Dalam Negeri dan Pemerintah Derah. Jakarta. Siagian, Sondang. P 1983. Administrasi , Pembangunan. Jakarta: Gunung Agung.

Todaro, M.P, 1986. Perencanaan Pembangunan. (Diterjemahkan oleh Kusnadi). Intermedia, Jakarta. Umar, Asri . l999. Kerangka Strategis Perubahan Manajemen Keuangan Daerah Sebagai Implikasi UU RI No. 22 tahun 1999 dan UU RI No. 25 tahun 1999. PSPP. Jakarta. JuliDesember Usman Husaini dan Setiady Purnomo Akbar. 2003. Metodologi Penelitian Sosial. Jakarta : PT Bumi Aksara.

184

KALAMSIASI, Vol. 3, No. 2, September 2010, 175 - 184

KESENJANGAN GENDER DALAM PROGRAM PIDRA DI KABUPATEN PONOROGO


Hapsari Sri Susanti
(Program Studi Penyuluhan dan Komunikasi Pembangunan Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada Yogjakarta, Jalan Teknika Pogung Utara, Sleman, Yogjakarta)

ABSTRACT
This study examined whether, after PIDRA program activity had gender perspective in Phase I in Ponorogo District, there was still indication that gapsbetween males and females, being program group target, was associated with aspects of access, control, participation, and benefit to productive resources or not. The objectives of study were to (1) understand gender gap on access and control to productive resources and benefit, and participation in decision making of productive resources and benefit between males and females of Self-Help Groups (Kelompok Mandiri) members of PIDRA Program in Ponorogo District; (2) know causal factors of gender gap of PIDRA Program in Ponorogo District. The basic method used in this study was mixed method emphasized on a descriptive analytical method. The total of 60 respondents was selected from five KM of five targeted villages. The segregated data was analyses using T-test and multiple regression method. The results show that there was no significant gender gap on the respective aspects studied. However, the education level, land holding and the members perception on the women roles in the family significantly influenced their decision making process on the access, control, and participation. Both male and female beneficiaries have equal benefit from PIDRA Program. Keywords: gender gap, access, control, participation, and benefit.

PENDAHULUAN
Pendekatan pembangunan selama ini sangat menekankan pada pembangunan ekonomi dan belum secara khusus mempertimbangkan manfaat pembangunan secara adil terhadap laki-laki dan perempuan. Hal ini memberi kontribusi terhadap timbulnya kesenjangan gender yang pada gilirannya menimbulkan permasalahan gender (gender issues).
185

Sebagai usaha pemerintah untuk memperbaiki kehidupan perempuan dalam pembangunan yang bias gender hingga menimbulkan kesenjangan gender dan merugikan kaum perempuan tersebut, pemerintah menggunakan pendekatan Gender dan Pembangunan atau Gender and Development (GAD). Pada fase GAD ini pula telah berkembang pendekatan gender mainstreaming atau pengarus-

186

KALAMSIASI, Vol. 3, No. 2, September 2010, 185 - 201

utamaan gender yang lebih radikal dengan mementingkan transformasi agenda pembangunan melalui paradigma pembangunan dan prioritasnya yang harus dipikirkan ulang serta agenda sektoral yang perlu diubah. Salah satu program yang mengintegrasikan gender ke dalam komponen kegiatan sejak awal pelaksanaannya adalah Program PIDRA (Participatory Integrated Development in Rainfed Areas). Kegiatan utama Program PIDRA difokuskan kepada pengembangan masyarakat dan gender melalui pembentukan dan penumbuhan Kelompok Mandiri yang tergabung dalam Kelompok Mandiri Pria (KMP) dan Kelompok Mandiri Wanita (KMW). Kelompok Mandiri (KM) ini bertujuan untuk menumbuhkan usahausaha ekonomi dengan memanfaatkan sumber-sumber pendapatan baru yang menguntungkan dalam skala mikro. Khusus di Kabupaten Ponorogo, menurut data dari Program PIDRA, Badan Ketahanan Pangan, Departemen Pertanian (2006), beberapa KM di setiap kecamatan memiliki jumlah anggota KMW yang lebih besar dibandingkan jumlah anggota KMP . Tabel 1 di bawah ini memperlihatkan contoh desa di wilayah kecamatan binaan program yang memiliki jumlah anggota KMW lebih besar dibandingkan jumlah anggota KMP Hal ini menunjukkan bahwa . perempuan merupakan sumberdaya yang

potensial jika diberi akses berupa kesempatan atau peluang untuk berperan. Program PIDRA di Kabupaten Ponorog dilaksanakan selama 8 tahun (2001-2008) dan terbagi dalam dua fase, yaitu fase I (2001-2004) dan fase II (20052008). Permasalahan yang dihadapi program di awal kegiatan pada fase I terkait dengan gender berdasarkan hasil Laporan Tahunan Program PIDRA Kabupaten Ponorogo (2002) adalah masih ditemuinya pemahaman pada kegiatan program yang mengarah pada ketimpangan atau kesenjangan hubungan relasi antara berbagai pihak gender terutama antara laki-laki dan perempuan dalam memperoleh haknya. Padahal, kegiatan program yang mengacu pada prinsip pengarusutamaan gender berusaha untuk mengakomodasi kebutuhan, pengalaman, aspirasi laki-laki dan perempuan, yang masing-masing memiliki kebutuhan spesifik yang berbeda, sehingga kesenjangan dapat dikurangi. Berdasarkan hasil Laporan Tahunan Program PIDRA Kabupaten Ponorogo (2002), beberapa permasalahan atau isu gender terutama pada fase I yang menunjukkan kesenjangan antara laki-laki dan perempuan anggota program ditinjau dari aspek akses, kontrol, partisipasi, dan manfaat terhadap sumberdaya produktif dijelaskan pada tabel 2 di bawah ini:

Tabel 1: Contoh desa di wilayah kecamatan binaan PIDRA Ponorogo


No 1 2 3 4 5 Kesamatan Bungkal Balong Sawoo Sambit Ngrayun Desa Palem Pandak Kori Ngadisanan Temon Nama KMW Kenanga Sido Dadi Lancar Subur Makmur Sumber Makmur Mekar Jaya Jml. Anggota 24 20 24 25 19 Nama KMP Margo Mulyo Sido Dadi Makmur Jamur Ayu Pidra Tani Makmur Sido Rukun Jml. Anggota 16 18 21 18 15

Hapsari Sri Susanti, Kesenjangan Gender dalam Program PIDRA di Kabupaten Ponorogo

187

KERANGKA PEMIKIRAN
Pelaksanaan Program PIDRA (Participatory Integrated Development in Rainfed Areas) berperspektif gender membutuhkan pemahaman dan kesadaran akan konsep kesetaraan dan keadilan gender (KKG) untuk mempersempit atau bahkan meniadakan

kesenjangan gender. Komitmen Program PIDRA dalam melaksanakan komponen program bertujuan agar program lebih responsif gender dengan memberikan akses yang setara khususnya bagi laki laki dan perempuan anggota kelompok binaan program untuk memanfaatkan sumberdaya penting seperti kredit,

188

KALAMSIASI, Vol. 3, No. 2, September 2010, 185 - 201

pengelolaan lahan DAS mikro, serta pendidikan dan pelatihan. Akses, kontrol, dan partisipasi terhadap kredit dibutuhkan untuk mendukung kebutuhan modal laki-laki dan perempuan anggota KM Program PIDRA dalam pengembangan usaha mikro pedesaan. Sedangkan akses, kontrol, dan partisipasi terhadap pengelolaan DAS mikro diperlukan karena dapat meningkatkan taraf hidup masyarakat sasaran program, mendorong partisipasi laki-laki dan perempuan dalam peningkatan produktivitas lahan serta pelestarian sumberdaya tanah dan air. Akses, kontrol, serta partisipasi terhadap pendidikan dan pelatihan juga dibutuhkan laki-laki dan perempuan sebagai upaya untuk menambah pengetahuan, meningkatkan ketrampilan dan produktivitas terutama dalam pengelolaan dan pemasaran hasil kegiatan usaha mikro pedesaan. Kesenjangan gender atau perbedaanperbedaan antara laki-laki dan perempuan anggota KM Program PIDRA dalam akses, kontrol, dan partisipasi terhadap sumberdaya produktif dan manfaat dianalisis dengan menggunakan teknik analisis gender GAP yang secara sistematis membantu mengidentifikasi dan menemukenali isu gender maupun faktor-faktor penyebab kesenjangan yang antara lain melekat atau inherent dalam diri laki-laki dan perempuan anggota kelompok binaan program seperti tingkat pendidikan, pengusaan lahan, dan persepsi. Dalam penelitian ini, tingkat pendidikan, penguasaan lahan, dan persepsi laki-laki dan perempuan anggota KM dipertimbangkan akan mempengaruhi akses terhadap sumberdaya produktif dan manfaat, kontrol terhadap sumberdaya

produktif dan manfaat, dan partisipasi dalam pengambilan keputusan terhadap sumberdaya produktif dan manfaat yang meliputi kredit, pengelolaan DAS mikro, serta pendidikan dan pelatihan. Laki-laki dan perempuan anggota kelompok binaan program dalam penelitian ini diharapkan dapat memperoleh akses, kontrol, dan partisipasi yang sama atas sumberdaya produktif dan manfaat atas kredit, pengelolaan DAS mikro, serta pendidikan dan pelatihan sehingga kesenjangan gender tidak terjadi dalam Program PIDRA. Berdasarkan uraian di atas, maka dapat disusun kerangka pemikiran penelitian sebagai berikut:

Hapsari Sri Susanti, Kesenjangan Gender dalam Program PIDRA di Kabupaten Ponorogo

189

Gambar 1: Paradigma pemikiran penelitian

METODE PENELITIAN
Penelitian yang menggunakan pendekatan mix methode ini secara umum mengkaji apakah setelah kegiatan Program PIDRA berperspektif gender pada fase I di Kabupaten Ponorogo masih ditemukan adanya indikasi kesenjangan antara laki-

laki dan perempuan yang menjadi kelompok sasaran Program PIDRA terutama terkait dengan aspek akses dan kontrol terhadap sumberdaya-sumberdaya produktif. Permasalahan yang dihadapi program di awal kegiatan pada fase I terkait dengan gender adalah masih ditemuinya

190

KALAMSIASI, Vol. 3, No. 2, September 2010, 185 - 201

pemahaman pada kegiatan program yang mengarah pada ketimpangan atau kesenjangan hubungan relasi antara berbagai pihak gender terutama antara laki-laki dan perempuan dalam memperoleh haknya. Pemilihan lokasi yang dilakukan secara purposif ini terdiri dari lima kecamatan di Kabupaten Ponorogo, yakni Kecamatan Sawoo, Sambit, Balong, Bungkal, dan Ngrayun. Responden terdiri dari laki-laki anggota KMP dan perempuan anggota KMW Program PIDRA. Populasi penelitian adalah seluruh petani baik laki-laki maupun perempuan yang merupakan anggota yang tergabung dalam KMP dan KMW Program PIDRA. Penentuan sampel difokuskan pada 1 KMP dan 1 KMW yang dipilih secara sengaja (purposif) berdasarkan atas KMP maupun KMW dengan kategori baik. Selanjutnya setiap KMP dan KMW dipilih secara simple random sampling, 6 orang anggota laki-laki dan 6 orang anggota perempuan di setiap desa di 5 kecamatan sasaran program yaitu Sawoo, Sambit, Balong, Bungkal, dan Ngrayun, dengan total responden penelitian 60 orang anggota. Analisis data yang digunakan dalam pengujian hipotesis untuk mengetahui kesenjangan gender terhadap akses dan kontrol atas sumberdaya produktif dan manfaat, serta partisipasi dalam pengambilan keputusan terhadap sumberdaya produktif dan manfaat antara laki-laki dan perempuan anggota KM digunakan uji t (Two Independent Sample Test). Adapun metode analisis data terhadap pengujian hipotesis untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi kesenjangan gender menggunakan model regresi linear

berganda melalui penggunaan variabel dummy, yaitu dengan mengkuantifikasikan angka 1 untuk jenis kelamin lakilaki dan angka 0 untuk jenis kelamin perempuan sehingga didapatkan persamaan: Y = A+ b1X1+ b2X2+b3X3+ D+e. Dalam model persamaan ini Y adalah faktor-faktor yang mempengaruhi kesenjangan gender yang meliputi (i) Akses terhadap sumberdaya produktif; (ii) Akses terhadap manfaat atas sumberdaya produktif; (iii) Kontrol terhadap sumberdaya produktif; (iv) Kontrol terhadap manfaat atas sumberdaya produktif; (v) Partisipasi dalam pengambilan keputusan terhadap sumberdaya produktif dan manfaat; b adalah koefisien regresi; X1 adalah tingkat pendidikan; X 2 adalah penguasaan lahan; X3 adalah persepsi, A adalah bilangan konstanta; D adalah dummy variable, dan e adalah error. Adapun hipotesis dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Diduga ada kesenjangan antara lakilaki dan perempuan dalam memperoleh akses terhadap kredit, pengelolaan DAS mikro, serta pendidikan dan pelatihan, 2. Diduga ada kesenjangan antara lakilaki dan perempuan dalam akses terhadap manfaat atas kredit, pengelolaan DAS mikro, serta pendidikan dan pelatihan, 3. Diduga ada kesenjangan antara lakilaki dan perempuan dalam hal kontrol terhadap kredit, pengelolaan DAS mikro, serta pendidikan dan pelatihan; 4. Diduga ada kesenjangan antara lakilaki dan perempuan dalam kontrol

Hapsari Sri Susanti, Kesenjangan Gender dalam Program PIDRA di Kabupaten Ponorogo

191

terhadap manfaat atas kredit, pengelolaan DAS mikro, ser ta pendidikan dan pelatihan 5. Diduga ada kesenjangan partisipasi antara laki-laki dan perempuan dalam pengambilan keputusan atas kredit, pengelolaan DAS mikro, ser ta pendidikan dan pelatihan 6. a. Diduga akses laki-laki dan perempuan terhadap sumberdaya produktif dipengaruhi oleh faktorfaktor antara lain tingkat pendidikan (pddkn), penguasaan lahan (pslhn), dan persepsi (prspi), b. Diduga akses laki-laki dan perempuan terhadap manfaat atas sumberdaya produktif dipengaruhi oleh faktor-faktor antara lain tingkat pendidikan (pddkn), penguasaan lahan (pslhn), dan persepsi (prspi) c. Diduga kontrol laki-laki dan perempuan terhadap sumberdaya produktif dipengaruhi oleh faktorfaktor antara lain tingkat pendidikan (pddkn), penguasaan lahan (pslhn), dan persepsi (prspi) d. Diduga kontrol laki-laki dan perempuan terhadap manfaat atas sumberdaya produktif dipengaruhi oleh faktor-faktor antara lain tingkat pendidikan (pddkn), penguasaan lahan (pslhn), dan persepsi (prspi) e. Diduga partisipasi laki-laki dan perempuan dalam pengambilan keputusan terhadap sumberdaya produktif dan manfaat dipengaruhi oleh faktor-faktor antara lain tingkat pendidikan (pddkn), penguasaan lahan (pslhn), dan persepsi (prspi)

HASIL DAN PEMBAHASAN


1. Akses terhadap sumberdaya produktif
Akses terhadap sumberdaya produktif dalam penelitian ini adalah kesempatan bagi anggota KMP dan KMW untuk menggunakan kredit, pengelolaan lahan milik kelompok (DAS mikro), serta pendidikan dan pelatihan. Berdasarkan hasil analisis t-test dua sampel independen, diperoleh nilai t hitung sebesar 1,044 lebih kecil dari t tabel sebesar 2,002. Ini berarti tidak terdapat perbedaan atau kesenjangan antara lakilaki dan perempuan anggota KM dalam memperoleh akses terhadap kredit, pengelolaan DAS mikro, serta pendidikan dan pelatihan. Hasil analisis di atas didukung juga dengan pendekatan kualitatif melalui kegiatan FGD dalam hal akses terhadap kredit, pengelolaan DAS mikro, serta pendidikan dan pelatihan, sebagai berikut:
Laki-laki dan perempuan bisa mengajukan kredit melalui Kelompok Mandiri (KM) maupun Federasi serta tidak ada perbedaan dalam hal besarnya jumlah pinjaman dan persyaratan pinjaman. (Sumber: hasil wawancara dengan Ibu Katini, 25 Juni 2009). Penduduk pedesaan di lahan kering memiliki ketergantungan yang sangat tinggi pada lahan di kawasan DAS, oleh karena itu baik laki-laki maupun perempuan berkesempatan untuk mengelola lahan DAS diantaranya dengan menanam tanaman penguat teras di bibir-bibir teras seperti gliriside dan lamtoro.(Sumber: hasil wawancara dengan Bapak Jemadi,

192

KALAMSIASI, Vol. 3, No. 2, September 2010, 185 - 201

27 Juni 2009). ...Sejak memperoleh kesempatan mengikuti pendidikan dan pelatihan dari program, banyak anggota kelompok baik laki-laki dan perempuan yang merasakan wawasan pengetahuannya menjadi lebih terbuka. (Wawancara dengan Ibu Peny Maulifah, anggota KMW Anom Mekar Indah, Desa Wringinanom, Kecamatan Sambit, tanggal 29 Juni 2009).

Wawancara dengan Ibu Tumirah, Ketua KMW Sido Dadi Lancar, Desa Pandak, Kecamatan Balong, tanggal 28 Juni 2009). Pengelolaan lahan DAS yang sebagian ditanami oleh tanaman penguat teras seperti gliriside dan lamtoro, banyak dimanfaatkan oleh laki-laki dan perempuan anggota kelompok sebagai pakan ternak. (Wawancara dengan Bapak Jarno, Ketua KMP Tani Rahayu, Desa Kupuk, Kecamatan Bungkal, tanggal 2 Juli, 2009). Pendidikan dan pelatihan memberi bekal ketrampilan bagi semua anggota KM, baik laki-laki maupun perempuan terutama dalam pengolahan dan pemasaran hasil usaha mikro, seperti pembuatan jamu instan, selai pisang, telor asin, aneka roti, dan lain-lain serta dalam pembuatan pupuk bokashi, yaitu pupuk yang terbuat dari kotoran ternak untuk membantu mencukupi kebutuhan pupuk pada lahan usaha pertanian yang digarap oleh anggota kelompok. (Wawancara dengan Ibu Yayah, Ketua KMW Argo Subur, Desa Cepoko, Kecamatan Ngrayun, 2 Juli, 2009).

2. Akses terhadap manfaat


Akses terhadap manfaat dalam penelitian ini adalah kesempatan atau peluang bagi anggota KMP dan KMW untuk menggunakan manfaat yang diperoleh dari kredit, pengelolaan lahan milik kelompok (DAS mikro), serta pendidikan dan pelatihan. Berdasarkan hasil analisis t-test dua sampel independen, diperoleh nilai t hitung sebesar 0,911 lebih kecil dari t tabel sebesar 2,002, artinya tidak terdapat perbedaan atau kesenjangan antara laki-laki dan perempuan anggota KM dalam akses terhadap manfaat atas kredit, pengelolaan DAS mikro, serta pendidikan dan pelatihan. Hasil kegiatan FGD terhadap beberapa informan anggota KMP dan KMW juga memperkuat hasil analisis dalam hal akses terhadap manfaat atas kredit, pengelolaan DAS mikro, serta pendidikan dan pelatihan, sebagai berikut:
....jika laki-laki dan perempuan anggota KM membutuhkan uang yang sifatnya mendesak terutama untuk biaya pendidikan anak, biaya kesehatan, dan modal bagi usaha mikro, sewaktu-waktu bisa meminjam ke KM atau Federasi. (Sumber : Hasil

3. Kontrol terhadap sumberdaya produktif


Kontrol terhadap sumberdaya produktif dalam penelitian ini adalah kewenangan penuh bagi anggota KMP dan KMW dalam mengelola kredit, pengelolaan lahan milik kelompok (DAS mikro), serta pendidikan dan pelatihan. Hasil analisis uji t-test dua sampel diperoleh nilai t hitung sebesar 0,030 lebih kecil dari t tabel sebesar 2,002, artinya tidak terdapat perbedaan

Hapsari Sri Susanti, Kesenjangan Gender dalam Program PIDRA di Kabupaten Ponorogo

193

atau kesenjangan antara laki-laki dan perempuan anggota KM dalam kontrol terhadap kredit, pengelolaan DAS mikro, serta pendidikan dan pelatihan. Kegiatan FGD yang dilakukan dengan melibatkan beberapa informan KMP dan KMW mendukung hasil analisis dalam hal kontrol terhadap kredit, pengelolaan DAS mikro, serta pendidikan dan pelatihan, sebagai berikut:
Laki-laki dan perempuan dalam pengembalian pinjaman sebagian besar membayar tepat pada waktunya, sehingga jarang anggota yang terkena sanksi pinjaman. (Sumber: Hasil wawancara dengan Ibu Tumini, anggota KMW Anom Mekar Indah, Desa Wringinanom, Kecamatan Sambit, tanggal 1 Juli 2009). Sebagian anggota KM baik laki-laki maupun perempuan yang menggarap lahan di kawasan DAS dan lokasi rumah berada dekat DAS, umumnya sebagai pemilik sekaligus penggarap lahan. Sebaliknya bagi anggota KM lain yang lokasi rumah dan lahannya jauh dari DAS umumnya menggarap lahan terutama pada saat kegiatan gerakan vegetasi penanaman tanaman penguat teras. (Wawancara dengan Ibu Suprihatin, anggota KMW Tekat Maju, Desa Ngindeng, Kecamatan Sawoo, tanggal 2 Juli 2009). Khusus untuk pendidikan dan pelatihan di tahun pertama dan kedua bagi laki-laki dan perempuan anggota KM di 5 kecamatan sasaran mendapat materi yang sama atau sistem paket, namun di tahun-tahun berikutnya anggota KM di masingmasing kecamatan memiliki

kewenangan untuk menentukan jenis materi sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan yang dimiliki dan tidak menyimpang dari cita-cita yang dirumuskan dalam kelompok. (Sumber: hasil wawancara dengan Bapak Bonawan, Ketua KMP Ragil Manunggal, Desa Ngindeng, Kecamatan Sawoo, tanggal 5 Juli, 2009).

4. Kontrol terhadap manfaat


Kontrol terhadap manfaat dalam penelitian ini adalah kewenangan penuh bagi anggota KMP dan KMW untuk mengelola/ menikmati manfaat yang diperoleh dari kredit, pengelolaan lahan milik kelompok (DAS mikro), serta pendidikan dan pelatihan. Berdasarkan hasil analisis t-test dua sampel independen, diperoleh nilai t hitung sebesar 1,113 lebih kecil dari t tabel sebesar 2,002, artinya tidak terdapat perbedaan atau kesenjangan antara lakilaki dan perempuan anggota KM dalam kontrol terhadap manfaat atas kredit, pengelolaan DAS mikro, serta pendidikan dan pelatihan. Kegiatan FGD yang dilakukan dengan melibatkan beberapa informan lakilaki dan perempuan anggota KM mendukung hasil analisis dalam hal kontrol terhadap manfaat atas kredit, pengelolaan DAS mikro, serta pendidikan dan pelatihan sebagai berikut:
.....untuk pengajuan kredit atau pinjaman, laki-laki dan perempuan anggota KM terlebih dahulu meminta izin dan bermusyawarah dengan istri atau suami masing-masing untuk membuat kesepakatan tentang besarnya jumlah pinjaman serta kegunaan dari pinjaman tersebut. Selanjutnya anggota mengajukan

194

KALAMSIASI, Vol. 3, No. 2, September 2010, 185 - 201

surat permohonan pinjaman yang disampaikan pada saat pertemuan rutin. Dalam pertemuan rutin, kelompok akan bermusyawarah menentukan besarnya pinjaman sesuai kebutuhan anggota. (Wawancara dengan Ibu Mujiati, Ketua KMW Sido Dadi Lancar, Desa Pandak, Kecamatan Balong, tanggal 6 Juli 2009). Bagi sebagian laki-laki dan perempuan yang lokasi rumah dekat dengan DAS dan memiliki hak milik atas lahan atau anggota lain dengan status lahannya sakap (bagi hasil) memanfaatkan lahan dengan menanami tanaman jati merak, karena selain dapat melindungi sumber air juga bernilai ekonomi tinggi sehingga dapat membantu meningkatkan pendapatan anggota. Diantara pemilik dan penggarap lahan terdapat kesepakatan hasil produksi atas tanaman jati merak tersebut, yaitu sepertiga bagi pemilik lahan dan dua pertiga bagi penggarap lahan. (Wawancara dengan Bapak Jarno, ketua KMP Tani Rahayu, Desa Kupuk, Kecamatan Bungkal, tanggal 2 Juli 2009). Jenis materi pendidikan dan pelatihan yang disesuaikan dengan kebutuhan laki-laki dan perempuan anggota KM mempunyai manfaat yang banyak terhadap peningkatan pendapatan keluarga seperti pendidikan dan pelatihan budidaya ternak ayam buras dan kambing, karena sangat mendukung usaha sampingan anggota kelompok yang mayoritas adalah peternak ayam dan kambing. (Wawancara dengan Ibu Ipung Nurantika, anggota KMW Argo Subur, Desa Cepoko, Kecamatan Ngrayun, tanggal 2 Juli 2009).

5. Partisipasi
Partisipasi terhadap sumberdaya produktif dan manfaat dalam penelitian ini adalah frekuensi keterlibatan laki-laki dan perempuan anggota KM Program PIDRA dalam memberikan ide khususnya pada pengambilan keputusan terhadap kredit, pengelolaan lahan milik kelompok atau pengelolaan DAS mikro, serta pendidikan dan pelatihan. Berdasarkan hasil analisis t-test dua sampel independen, diperoleh nilai t hitung sebesar 0,253 lebih kecil dari t tabel sebesar 2,002, artinya tidak terdapat perbedaan atau kesenjangan partisipasi antara laki-laki dan perempuan anggota KM dalam pengambilan keputusan atas kredit, pengelolaan DAS mikro, serta pendidikan dan pelatihan. Kegiatan FGD yang dilakukan dengan melibatkan beberapa informan KMP dan KMW mendukung hasil analisis dalam hal dalam pengambilan keputusan atas kredit, pengelolaan DAS mikro, serta pendidikan dan pelatihan, sebagai berikut:
... jika pada saat pertemuan rutin semua anggota, laki-laki dan perempuan diperbolehkan untuk mengajukan pinjaman, namun jika ada salah satu anggota yang akan meminjam tidak hadir, maka anggota yang bersangkutan tidak diperkenankan untuk meminjam pada Federasi. (Wawancara dengan Bapak Parwoto, ketua KMP Sido Dadi Makmur, Desa Pandak, Kecamatan Balong, tanggal 4 Juli, 2009). ...bagi laki-laki dan perempuan anggota KM yang lokasi lahan dan rumahnya jauh atau dekat dari DAS berpartisipasi dan bekerjasama melalui kegiatan gerakan vegetasi dan sipil teknis. Kegiatan vegetasi

Hapsari Sri Susanti, Kesenjangan Gender dalam Program PIDRA di Kabupaten Ponorogo

195

meliputi penanaman tanaman penguat teras pada bibir-bibir jurang di sepanjang kawasan DAS dengan tanaman antara lain gliriside, lamtoro, dan kaliandra. Sedangkan kegiatan sipil teknis meliputi pembangunan sarana prasarana (infrastruktur) seperti dam, rorak, embung, drop, dan saluran pembuangan air. (Wawancara dengan Bapak Mesman, anggota KMP Ragil Manunggal, Desa Ngindeng, Kecamatan Sawoo, tanggal 6 Juli, 2009). Dalam proses penentuan kebutuhan pendidikan dan pelatihan, semua anggota kelompok ikut serta mengusulkan dan mengajukan jenis materi sesuai dengan kemampuan anggota. Disamping itu anggota juga ikut serta menentukan waktu dan lokasi pelaksanaan pendidikan dan pelatihan yang biasanya dilakukan bersamaan dengan kegiatan pertemuan rutin. (Wawancara dengan Bapak Boyono, ketua KMP Trijaya, Desa Wringinanom, Kecamatan Sambit, tanggal 1 Juli, 2009).

6.1 Akses terhadap sumberdaya produktif dipengaruhi oleh tingkat pendidikan, penguasaan lahan, dan persepsi Berdasarkan hasil pengujian regresi dengan menggunakan uji t menunjukkan bahwa semua variabel kecuali variabel persepsi, berpengaruh pada tingkat signifikansi 10% terhadap akses sumberdaya produktif. Hasil uji F diperoleh bahwa F hitung sebesar 1,173. Oleh karena F hitung lebih kecil dari F tabel = 1,994580 (df1= 11; df2 = 48; = 0,05), maka hipotesis nol ditolak atau hipotesis alternatif diterima, sehingga tingkat pendidikan, penguasaan lahan, persepsi, dan dummy secara bersamasama berpengaruh terhadap akses sumberdaya produktif. Dari hasil analisis data diperoleh persamaan regresi linier untuk akses terhadap sumberdaya produktif sebagai berikut: Y= 12,487 - 0,021X1 + 0,086X2 0,108X3 0,471. Dari nilai koefisien regresi menunjukkan bahwa variabel penguasaan lahan mempunyai nilai positif 0,086. Dengan demikian apabila penguasaan lahan meningkat, maka akses terhadap sumberdaya produktif juga akan semakin besar. Untuk nilai koefisien regresi variabel tingkat pendidikan dari persamaan regresi bernilai negatif 0,021 artinya tingkat pendidikan laki-laki dan perempuan anggota KM tidak mempunyai pengaruh terhadap akses atas sumberdaya produktif. Demikian juga dengan nilai koefisien regresi variabel persepsi yang bernilai negatif 0,108 artinya persepsi laki-laki dan perempuan anggota KM tidak berpengaruh terhadap akses atas sumberdaya produktif. Dari hasil analisis data diperoleh nilai

6. Kesenjangan gender
Kesenjangan gender dalam penelitian ini adalah perbedaan-perbedaan antara laki-laki dan perempuan anggota KM dalam akses terhadap sumberdaya produktif, akses terhadap manfaat sumberdaya produktif, kontrol terhadap sumberdaya produktif, kontrol terhadap manfaat sumberdaya produktif, serta partisipasi dalam pengambilan keputusan atas sumberdaya produktif dan manfaat. Untuk mempermudah dalam pembahasan penelitian berdasar hasil analisis data, peneliti membuat tabulasi untuk beberapa koefisien regresi akses, kontrol

196

KALAMSIASI, Vol. 3, No. 2, September 2010, 185 - 201

koefisien determinasi (R2) adalah 0,079. Hal ini berarti 7,9% akses terhadap sumberdaya produktif dapat dijelaskan oleh variabel tingkat pendidikan, penguasaan lahan, dan persepsi. Sisanya sebesar 99,21% dijelaskan atau dipengaruhi oleh faktor lain. 6.2. Akses terhadap manfaat atas sumberdaya produktif dipengaruhi oleh tingkat pendidikan, penguasaan lahan, dan persepsi. Berdasarkan hasil pengujian regresi dengan menggunakan uji t menunjukkan bahwa hanya variabel penguasaan lahan yang berpengaruh positif dan signifikan secara statistik pada tingkat signifikansi 5% (p< 0,05) terhadap akses atas manfaat sumberdaya produktif. dari hasil uji F diperoleh bahwa F hitung sebesar 3,738 dengan tingkat signifikansi F hitung sebesar 0,009 (p< 0,05). Berarti hipotesis nol ditolak atau hipotesis alternatif diterima, sehingga tingkat pendidikan, penguasaan lahan, persepsi, dan dummy secara bersama-sama berpengaruh terhadap akses atas manfaat sumberdaya produktif. Dari hasil analisis data diperoleh persamaan regresi linier untuk akses terhadap manfaat atas sumberdaya produktif sebagai berikut: Y= 20,243 0,021X1 + 0,380X2 + 0,036X3 0,632. Dari nilai koefisien regresi menunjukkan bahwa variabel penguasaan lahan mempunyai nilai positif 0,380. Dengan demikian apabila penguasaan lahan meningkat, maka akses terhadap manfaat atas sumberdaya produktif juga akan semakin besar. Untuk nilai koefisien regresi variabel tingkat pendidikan pada persamaan regresi bernilai negatif 0,021 artinya tingkat pendidikan laki-laki dan

perempuan anggota KM tidak mempunyai pengaruh terhadap akses atas manfaat sumberdaya produktif. Adapun nilai koefisien regresi variabel persepsi bernilai positif 0,036 artinya persepsi laki-laki dan perempuan anggota KM berpengaruh terhadap akses atas manfaat sumberdaya produktif. Dari hasil analisis data diperoleh nilai koefisien determinasi (R2) adalah 0,214. Hal ini berarti 21,4% akses terhadap manfaat atas sumberdaya produktif dapat dijelaskan oleh variabel tingkat pendidikan, penguasaan lahan, dan persepsi. Sisanya sebesar 78,6% dijelaskan atau dipengaruhi oleh faktor lain. 6.3.Kontrol terhadap sumberdaya produktif dipengaruhi oleh tingkat pendidikan, penguasaan lahan, dan persepsi. Berdasarkan hasil pengujian regresi dengan menggunakan uji t menunjukkan bahwa hanya variabel penguasaan lahan yang berpengaruh positif dan signifikan secara statistik pada tingkat signifikansi 5% (p< 0,05) terhadap kontrol atas sumberdaya produktif. Dari hasil uji F diperoleh bahwa F hitung sebesar 2,974 dengan tingkat signifikansi F hitung sebesar 0,027 (p< 0,05). Berarti hipotesis nol ditolak atau hipotesis alternatif diterima, sehingga tingkat pendidikan, penguasaan lahan, persepsi, dan dummy secara bersama-sama berpengaruh terhadap kontrol atas sumberdaya produktif. Dari hasil analisis data diperoleh persamaan regresi linier untuk kontrol terhadap sumberdaya produktif sebagai berikut: Y= 28,344 - 0,233X1 + 0,662X2 0,207X3 0,505. Dari nilai koefisien regresi menunjuk-

Hapsari Sri Susanti, Kesenjangan Gender dalam Program PIDRA di Kabupaten Ponorogo

197

kan bahwa variabel penguasaan lahan mempunyai nilai positif 0,662. Dengan demikian apabila penguasaan lahan meningkat, maka kontrol terhadap sumberdaya produktif juga akan semakin tinggi. Untuk nilai koefisien regresi variabel tingkat pendidikan pada persamaan regresi bernilai negatif 0,233 artinya tingkat pendidikan laki-laki dan perempuan anggota KM tidak mempunyai pengaruh terhadap kontrol atas sumberdaya produktif. Demikian juga dengan nilai koefisien regresi variabel persepsi yang bernilai negatif 0,207 artinya persepsi laki-laki dan perempuan anggota KM tidak berpengaruh terhadapn kontrol atas sumberdaya produktif. Dari hasil analisis data diperoleh nilai koefisien determinasi (R2) adalah 0,178. Hal ini berarti 17,8% kontrol terhadap sumberdaya produktif dapat dijelaskan oleh variabel tingkat pendidikan, penguasaan lahan, dan persepsi. Sisanya sebesar 82,2% dijelaskan atau dipengaruhi oleh faktor lain. 6.4. Kontrol terhadap manfaat atas sumberdaya produktif dipengaruhi oleh tingkat pendidikan, penguasaan lahan, dan persepsi Berdasarkan hasil pengujian regresi dengan menggunakan uji t menunjukkan bahwa variabel penguasaan lahan dan tingkat pendidikan berpengaruh positif dan signifikan secara statistik masingmasing pada tingkat signifikansi 5% (p< 0,05) dan 10% (p<0,1) terhadap kontrol atas manfaat sumberdaya produktif. Pada Tabel 16. dari hasil uji F diperoleh bahwa F hitung sebesar 2,360 dengan tingkat signifikansi F hitung sebesar 0,064 (p< 0,1). Berarti hipotesis nol ditolak atau

hipotesis alternatif diterima, sehingga tingkat pendidikan, penguasaan lahan, dan persepsi secara bersama-sama berpengaruh terhadap kontrol atas manfaat sumberdaya produktif. Dari hasil analisis data diperoleh persamaan regresi linier untuk kontrol terhadap manfaat atas sumberdaya produktif sebagai berikut: Y= 29,119 - 0,502X1 + 0,553X2 0,102X3 1,815. Dari nilai koefisien regresi menunjukkan bahwa variabel penguasaan lahan mempunyai nilai positif 0,553. Dengan demikian apabila penguasaan lahan meningkat, maka kontrol terhadap manfaat atas sumberdaya produktif juga akan semakin meningkat. Untuk nilai koefisien regresi variabel tingkat pendidikan pada persamaan regresi bernilai negatif 0,502 artinya tingkat pendidikan laki-laki dan perempuan anggota KM tidak mempunyai pengaruh terhadap kontrol atas manfaat sumberdaya produktif. Demikian juga dengan nilai koefisien regresi variabel persepsi yang bernilai negatif 0,102 artinya persepsi laki-laki dan perempuan anggota KM tidak berpengaruh terhadap kontrol atas manfaat sumberdaya produktif. Dari hasil analisis data diperoleh nilai koefisien determinasi (R2) adalah 0,147. Hal ini berarti 14,7% kontrol terhadap manfaat atas sumberdaya produktif dapat dijelaskan oleh variabel tingkat pendidikan, penguasaan lahan, dan persepsi. Sisanya sebesar 85,3% dijelaskan atau dipengaruhi oleh faktor lain. 6.5. Partisipasi dalam pengambilan keputusan terhadap sumberdaya produktif dan manfaat dipengaruhi oleh tingkat pendidikan, penguasaan lahan, dan persepsi

198

KALAMSIASI, Vol. 3, No. 2, September 2010, 185 - 201

Berdasarkan hasil pengujian regresi dengan menggunakan uji t menunjukkan bahwa semua variabel baik tingkat pendidikan, penguasaan lahan, maupun persepsi memiliki nilai signifikansi lebih besar dari = 0,05 sehingga tidak berpengaruh terhadap partisipasi atas sumberdaya produktif dan manfaat. Dari hasil uji F diperoleh bahwa F hitung sebesar 1,643. Oleh karena F hitung lebih kecil dari F tabel =1,900 (df1= 15; df2 = 44; = 0,05), maka hipotesis nol diterima atau hipotesis alternatif ditolak, sehingga tingkat pendidikan, penguasaan lahan, dan persepsi secara bersama-sama tidak berpengaruh terhadap partisipasi atas sumberdaya produktif dan manfaat. Dari hasil analisis data diperoleh persamaan regresi linier untuk partisipasi terhadap sumberdaya produktif dan manfaat sebagai berikut: Y= 15,808 0,135X1 + 0,173X2 + 0,241X3 + 0,053. Dari nilai koefisien regresi menunjukkan bahwa variabel penguasaan lahan mempunyai nilai positif 0,173. Dengan demikian apabila penguasaan lahan meningkat, maka partisipasi terhadap sumberdaya produktif dan manfaat juga akan semakin tinggi. Untuk nilai koefisien regresi variabel tingkat pendidikan pada persamaan regresi bernilai negatif 0,135 artinya tingkat pendidikan laki-laki dan perempuan anggota KM tidak mempunyai pengaruh terhadap partisipasi atas sumberdaya produktif dan manfaat. Adapun nilai koefisien regresi variabel persepsi bernilai positif 0,241 artinya persepsi laki-laki dan perempuan anggota KM berpengaruh terhadap partisipasi atas sumberdaya produktif dan manfaat. Dari hasil analisis data diperoleh nilai koefisien determinasi (R2) adalah

0,107. Hal ini berarti 10,7% partisipasi terhadap sumberdaya produktif dan manfaat dapat dijelaskan oleh variabel tingkat pendidikan, penguasaan lahan, dan persepsi. Sisanya sebesar 89,3% dijelaskan atau dipengaruhi oleh faktor lain. Berdasarkan beberapa persamaan regresi linear yang diperoleh dari hasil pengolahan data menunjukkan bahwa variabel penguasaan lahan mempunyai nilai positif terhadap variabel-variabel akses dan kontrol serta partisipasi atas sumberdaya produktif dan manfaat. Dengan demikian apabila penguasaan lahan meningkat, maka akan menyebabkan peningkatan terhadap akses dan kontrol serta partisipasi atas sumberdaya produktif dan manfaat. Hal ini selanjutnya akan membawa implikasi bagi petani gurem, baik laki-laki dan perempuan yang tidak secara formal menguasai lahan sebagai hak milik. Bagi petani berlahan sempit akan berdampak semakin memiliki keterbatasan akses dan kontrol serta partisipasi terhadap lahan dan manfaat lahan sebagai sumber pendapatan. Masalah penguasaan lahan ini berpeluang menyebabkan terjadinya kesenjangan gender. Kesenjangan gender bisa berakar dalam ketimpangan hubungan gender tradisional misalnya akses perempuan terhadap lahan. Kesenjangan peran gender merupakan konstruksi sosial yang secara sistematis terbentuk melalui budaya dan pendidikan, dan telah berjalan dalam waktu yang lama sehingga kesenjangan gender dianggap sebagai hal yang biasa saja. Handayani dan Sugiarti (2006) mengungkapkan bahwa manifestasi kesenjangan gender tersosialisasi kepada

Hapsari Sri Susanti, Kesenjangan Gender dalam Program PIDRA di Kabupaten Ponorogo

199

kaum laki-laki dan perempuan secara mantap, yang mengakibatkan kesenjangan tersebut sebagai kebiasaan dan akhirnya dipercaya bahwa peran gender itu seolaholah merupakan kodrat dan akhirnya diterima masyarakat secara umum. Hal ini disebabkan karena terdapat kesalahan dan kerancuan makna gender, apa yang sesungguhnya gender karena dasarnya kontruksi sosial, justru dianggap sebagai kodrat yang berarti ketentuan Tuhan. Pekerjaan domestik seperti merawat anak, merawat rumah tangga sangat melekat dengan tugas perempuan, yang akhirnya disebut kodrat. Padahal pekerjaan-pekerjaan tersebut adalah konstruksi sosial yang dibentuk, sehingga dapat dipertukarkan atau dapat dilakukan baik laki-laki maupun perempuan. Sementara itu Abdullah (1995) menyoroti penyebab-penyebab mengapa kesenjangan gender menjadi realitas sosial, yakni: akar sosial budaya dan adanya proses pemberian makna dan pemeliharaan kesenjangan gender secara terus menerus. Pertama, akar sosial budaya gender, mencakup kecenderungan lakilaki diorientasikan ke bidang publik dan perempuan di bidang domestik; mitosmitos yang dibangun untuk menyatakan bahwa tempat laki-laki adalah dunia kerja, sementara tempat perempuan di rumah tangga dan merawat anak, keluarga, sekolah, bacaan, dan televisi telah menjadi sumber pengetahuan tentang bagaimana menjadi perempuan yang ideal. Kedua, proses pemberian makna dan pemeliharaan kesenjangan gender secara terus-menerus, yang terlihat dari konstruksi sosial yang menempatkan perempuan dalam struktur subordinasi dalam berbagai

kegiatan ekonomi; proses identifikasi perempuan terhadap hal-hal yang sesuai dengan sifat kewanitaan; struktur sosial yang patriarkhal, laki-laki dan perempuan dimana perempuan cenderung mengalah pada suami (laki-laki) dalam suatu struktur hubungan. Tindakan ini merupakan tindakan pemeliharaan yang harmonis, yang sekali lagi menegaskan bahwa kegiatan ekonomi tidak dipandang sebagai kegiatan perempuan. Segala bentuk diskriminasi antara laki-laki dan perempuan yang berpotensi melahirkan kesenjangan gender akan menghambat terwujudnya keadilan gender. Dengan keadilan gender berarti tidak ada pembakuan peran, beban ganda, subordinasi, marginalisasi dan kekerasan terhadap laki-laki dan perempuan. Dengan demikian mereka memiliki akses, kesempatan berpartisipasi, dan kontrol serta memperoleh manfaat yang setara dan adil atas berbagai sumberdaya. Terkait dengan hal tersebut, maka sesuai dengan pemikiran John Rawls (1973) dalam teori keadilan (Theory of Justice) yang berupayamemposisikan adanya situasi yang sama dan setara antara tiaptiap orang di dalam masyarakat serta tidak ada pihak yang memiliki posisi lebih tinggi antara satu dengan yang lainnya, seperti kedudukan, status sosial, tingkat kecerdasan, kemampuan, dan kekuatan sehingga orang-orang tersebut dapat melakukan kesepakatan dengan pihak lainnya secara seimbang. Kondisi ini yang dimaksud Rawls sebagai original position yang didasari dengan ciri-ciri: rasionalitas, kebebasan, dan persamaan. Pihak-pihak yang berada pada original position tersebut akan mengadopsi prinsip keadilan utama bahwa

200

KALAMSIASI, Vol. 3, No. 2, September 2010, 185 - 201

setiap orang memiliki hak yang sama atas kebebasan dasar yang paling luas dan kompatibel dengan kebebasan sejenis bagi orang lain.

SIMPULAN
Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan dapat ditarik simpulan sebagai berikut: 1. PIDRA merupakan program pemberdayaan masyarakat di lahan kering yang telah berhasil menjembatani kesenjangan gender melalui upaya fasilitasi pembentukan Kelompok Mandiri Pria dan Kelompok Mandiri Wanita. 2. Penguasaan lahan oleh laki-laki maupun perempuan anggota KM merupakan faktor yang paling berpengaruh positif dan signifikan terhadap akses atas manfaat sumberdaya produktif dan kontrol terhadap sumberdaya produktif. Apabila penguasaan lahan meningkat, akan menyebabkan peningkatan bagi laki-laki dan perempuan anggota KM dalam hal akses dan kontrol serta partisipasi atas sumberdaya produktif dan manfaat. 3. Penguasaan lahan menyebabkan peningkatan terhadap akses, kontrol, dan partisipasi atas sumberdaya produktif serta manfaat, namun peningkatan ini secara umum masih belum berjalan normal dan kontinyu karena penguasaan lahan oleh anggota KM relatif sempit, lokasi pengelolaan DAS yang relatif jauh serta sistem penanaman yang tidak mengikuti pola tanam karena bersifat gerakan. 4. Program PIDRA telah berhasil menumbuhkan kepemilikan usaha

mikro yang mandiri baik oleh laki-laki dan perempuan anggota KM melalui berbagai jenis pendidikan dan pelatihan, yang terbagi dalam dua tahap. Pendidikan dan pelatihan pada tahap I diberikan oleh program dalam bentuk paket pendidikan dan pelatihan meliputi manajemen kelompok, motivasi berkelompok, penyadaran gender, kepemimpinan dan pola relasi kekuasaan. Selanjutnya pada tahap II dan seterusnya anggota KM berhak menentukan sendiri jenis pendidikan dan pelatihan disesuaikan dengan kebutuhan kelompok (need assessment) seperti pengembangan usaha ternak dengan materi budidaya ternak ayam buras dan budidaya kambing serta pembuatan pupuk bokashi; pengolahan hasil dengan materi pembuatan jamu instan, krupuk, permen tape, aneka roti, selai pisang, telor asin dan lain-lain. Pelatihan yang terstruktur berhasil meningkatkan kualitas kehidupan serta kecakapan dari anggota KM walaupun secara formal tingkat pendidikan masih tergolong rendah. 5. Program PIDRA juga berhasil membangun kesadaran dari masingmasing pihak gender (gender awareness) sehingga masing-masing pihak masih dapat menggunakan, mengelola, dan menikmati manfaat sumberdaya produktif seperti simpan pinjam, pengelolaan lahan DAS serta pendidikan dan pelatihan walaupun muncul berbagai persepsi yang tidak membangun.

Hapsari Sri Susanti, Kesenjangan Gender dalam Program PIDRA di Kabupaten Ponorogo

201

DAFTAR PUSTAKA
Abdullah, Irwan. 1995. Reproduksi Ketimpangan Gender: Partisipasi Wanita dalam Kegiatan Ekonomi, dalam Prisma No. 6 Juni Handayani, Trisakti dan Sugiarti. 2006. Kensep dan Teknik Penelitian Gender. Pusat Studi Wanita dan Kemasyarakatan. Universitas Muhammadiyah Malang. Indraswari dan Juni Thamrin. 1994. Potret Kerja Buruh Perempuan: Tinjauan pada Agroindustri Tembakau Ekspor di Jember. Yayasan Akatiga. Bandung Kementrian Negara Pemberdayaan Perempuan. 2007. Modul Pengarusutamaan Gender dalam Pembangunan Nasional di Indonesia. Teori dan Aplikasi. Jakarta. Program PIDRA. 2002. Laporan Tahunan Program PIDRA Kabupaten Ponorogo. Program PIDRA Kabupten Ponorogo. Badan Bimas Ketahanan Pangan. Rawls, John. 2006. A Theory of Justice. London: Oxford University press, 1973, Terjemahan oleh Uzair Fauzan dan Heru Prasetyo, Teori Keadilan. Pustaka Pelajar.Yogyakarta.

202

KALAMSIASI, Vol. 3, No. 2, September 2010

Indeks Penulis
A
Aminudin, Achmad Profil Kemiskinan Berbasis Komunitas di Desa Bengkulu Regional Development Project (BRDP): Studi Kasus di Desa Muara Payang, Kecamatan Kota Manna, Kabupaten Bengkulu Selatan, 153 - 164 Anggraini, Dewi Pemberdayaan Data Potensi Wilayah Berbasis Investasi melalui Internet terhadap Peningkatan Pendapatan Daerah di Kantor BAPPEDA dan Penanaman Modal Kabupaten Kolaka, 175 - 183 Ayu Astutik, Sri Peran Pers dalam Politik di Indonesia dan Tanggung Jawab Hukum Etika Komunikasi pada Karya Jurnalistik, 165 - 174

F
Fajar, Arief Konstruksi Surat Kabar Harian Kompas mengenai Lingkungan Hidup (Analisis Framing dalam Penyajian Berita Banjir Citarum), 115 - 128 Fauziah, Luluk Hambatan Sosial Budaya dalam Pengarusutamaan Gender di Indonesia, 141 - 152

K
Kusumaningtyas, Dana dan Agoeng Noegroho Pola Komunikasi Penyandang Disleksia, 105 - 114

S
Sri Susanti, Hapsari Kesenjangan Gender dalam Program PIDRA di Kabupaten Ponorogo, 185 - 202

W
Wahyu Abadi, Totok Urgenitas Layanan Informasi Publik Berbasis E-Government, 129 - 140

KALAMSIASI, Vol. 3, No. 2, September 2010

203

Indeks Subyek
A
Academic Learning Disabilities. 109 access 185 added value 131 agenda setting 119, 166 akurat 132 anxiety 131 available 132

F
face to face commnication 136 feminin 150 founding father 123 fourth estate 166 frame of referen 131 frame setting 119 framework 131 framing 116, 166 freedom of information 129 freedom of expression 171 freedom of information 165 freedom of the press 171

B
benefit 185 black box model 119 bokashi 200 bottom up 154

G
Gender and Development 185 gender awareness 200 gender gap 185 gender issues 185 gender mainstreaming 141, 185 gender spesifik 141 Genderrelated Development Index 143 Global Warming 121 good governance 129 Grafis 121

C
Child Development 110 Code of Conduct 167 communication ethics law 165 communication mediated computer 139 concern 121 Conflict/Controversy 118 congenintal word blindness 110 content 118 control 185 costumer 137 cover both side 166 critical review 117 cupar 147

H
headline 116 hidden mission 115 Human Interest 118

D
data display 111 delivery 139 deviance 167 discourse 118 display 137 diversity 165 diversity of conten 166 down sindrom 109 dummy variable 190 Dyscalculia 109 Dysgraphia 109

I
illegal logging 179 Informasi berakala 133 Informasi serta merta 133 inherent 188 internal mediation of stimuli 108 Investment via Internet 175

K
konsisten 132

E
e-government 136 Empowerment Potential Data 175 error 190

L
law enforcement 166 learning disabilities 108 Leksikon 121 liberty 169 local government 141 Local Revenue 175

204

KALAMSIASI, Vol. 3, No. 2, September 2010

M
mainstream 116 maskulin 150 measurement 117 media content 169 Metafora 121 mix methode 189 mobile computing 138

S
sensory reception of stimuli 108 simple random sampling 190 Sintaksis 126 Skrip 126 Stereoptype 110 stereotip 150 street level 136 support 130

N
need assessment 200 neurological 110 neurologist 110 news value 116

T
take and give 181 Tematik 126 the press responsibility 165 Theory of Justice 199 to inform 117 top down 147, 154 traditional government 138 Two Independent Sample Test 190

O
online 139 original position 199 output 119

P
parallel vote tabulation 166 participation 185 Participatory Integrated Development in Rainfed Ar 186 Pembredelan Pers 168 petani gurem 198 poor classified 153 positioning 123 poverty 153 predictor of political change 168 problem-solving 107 Prominance 118 Proximity 118 public opinion 169 publik sphere 166 purposif 190 Purposive Sampling 177 purposive sampling 111

U
uncertainty 131 Unusual 118 up to date 133

V
Verification 111 volunter 107

W
Watch Dog 172 watch dog 165 welfare state 171 Wide Area Network 138 women participation 141

R
reasoning 112 reduction 111 reinforcment of responses 108 relia-bilitas 132 Retoris 127 right to privacy 165 role of the press 165

Anda mungkin juga menyukai